Konbanwa minna~ (^o^)/

Oh ya, atas segala perundingan perusahaan, dan diperkuat oleh PM(s) + Reviews,
Mulai sekarang kami akan menggunakan sistem baru untuk kolom balasan reviews.
Atas perubahan ini mungkin kedepannya akan tetap dipakai, tapi bisa juga tidak, menyesuaikan kondisi yang terjadi. ^^

Atas kepartisipasian dalam pengambilan keputusan kali ini, terima kasih. ^o^

~Thx To My Readers~

Cherrytakumi08, HaruSaku Apriliya, Uzumaki Vita, Nikechaann,rikha-chan, Sakutira-chan, Uchiha Lady Haruno, Thasya Rafika Winata, Tiya-chan, Cherrylana24, hanazono yuri, dianarndraha, Azira Hiko-chan, Manda Vvidenarint, Annisa852, marlitayamato, Aoi Yukari, Cherryhime85, Gue, ayuniejung, Emiko Ryuuzaki-chan, trafalgar Rikha, Guest, Uchiha Della, Aiko Asari, rikusagi, Applessian, Berry Uchiha, SAAVro4th, Cherryma, Guest, Fiiyuki, Chika Kyuchan, Sachiko Kiyomi, Gaara Wife, Gilang ramadhan 129357, jey Sakura, memez pramezti, AngelDewi, MitsuoMiharu, El21, Sheryl Euphimia, Ryuhara Shanchi, YOktf, Sami Haruchi 2, juju, Sa bie, Kilua Akasuna, Jade Angel of Death Daniels, Dherisha Uchiha.

~Balasan Reviews~

Uzumaki Vita : pair nya masih sama kok, ga berubah. ^^

Nikechaann : lemon GaaSaku? duh, kayaknya ga ada deh. Ha ha

Sakutira-chan : Gaara dan Sara baikan? Wah, tergantung gimana kalian mendukung pair itu yaa.. :D

Azira Hiko-chan : yah kan buat apa mempertahankan orang yang ga mau dipertahanin? *EAKKK ha ha iia Sasu demam gara" kelelahan tuh.

Annisa852 : mohon maaf lahir batin juga dari kamiii~ ^^

Gue : mgkin Sasu bilang gtu setengah sadar (?), tapi itu kan suara hati terdalamnya. :D

Ayuniejung : okee, dirangkum begini bisa kan? ^^

Aiko Asari : Alasan Gaara suka Saku ya? bukannya dia suka karna Saku berusaha keras..? mungkin, ha ha

Applessian : wah, kamu benar. *ngecek* Karna udh terlanjut diposting susah buat di-reupdate ha ha lain kali kami akan berhati-hati. Makasih ya ^^

~Enjoy Reading~


Disclaimer Characters © Masashi Kishimoto

Disclaimer Story © Shera Liuzaki

.

.


A story with a girl being loved by lot of guys (May be)

WARNING! OOC, GAJE, ABAL, TYPO, DAN KAWAN-KAWANNYA.


.

.

Shera Liuzaki, present :

.

.


"LOVE RECIPE"


.

.

Recipe 10

.

.

Enjoy Reading

.

.

"Haahh~"

Entah sudah keberapa kalinya Sakura menghela nafas. Karin yang melihatnya saja sampai bosan. Meskipun tubuhnya terlihat sedang menyiapkan makanan di dapur, namun sepertinya itu hanyalah tubuh kosong tanpa isi. Pikiran Sakura pasti sedang tak berada di tempat.

Karin yang saat itu tengah libur kerja berniat untuk menghabiskan waktu bersantai di rumah. Tapi karena Karin merupakan tipe pekerja keras, tentu saja berdiam diri terlalu lama membuatnya bosan. Awalnya ia ingin membantu Sakura menyiapkan sarapan, tapi gadis merah muda itu melarangnya.

Aroma gurih dan kepulan asap menjadi tanda masakan Sakura sudah hampir selesai. Gadis itu terlihat mengambil beberapa piring dan mangkuk untuk disajikan. Tak lama meja makan pun dipenuhi oleh hidangan Sakura.

"Itadakimasu~"

Bahkan saat Karin mencoba untuk mencairkan suasana, nampaknya Sakura tetap tak tergubris. 15 menit mereka makan, Sakura hanya menjawab pertanyaan Karin seperlunya. Ia jadi seperti robot yang berbentuk manusia. Seluruh kegiatannya telah terprogram.

Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Sakura? Meskipun Karin pernah menanyakannya, namun Sakura hanya menjawabnya dengan 'urusan kerja'. Mungkin tekanan dari atasannya membuat Sakura stress, tapi tentu saja kalian tahu bukan itu alasannya, kan?

Tuk

Karin sampai cengo saat Sakura mulai membereskan meja makan padahal ia sendiri belum selesai menghabiskan sup di mangkoknya. Ini benar-benar tak bisa dibiarkan. Karin akan mengambil tindakan.

Greb

Tangan Sakura ditarik oleh Karin, untung saja ia tak sedang membawa barang pecah belah. Sakura menatap sang kakak dengan tatapan aneh. Sebenarnya ia tahu kenapa Karin mencemaskannya, ia juga tak ingin menyembunyikan alasannya dari Karin. Tapi ia sendiri tak tahu apa yang akan terjadi kalau Karin sampai mengetahui Sasuke bekerja di tempat yang sama dengannya.

"Kita pergi, Sakura."

"Pergi kemana?"

"Belanja."

-ooOoo-

Bukannya tak suka belanja, Sakura sangat menyukainya. Karin memang paham betul apa yang bisa membangkitkan mood adiknya itu. Mereka kini sedang melihat-lihat daging segar yang dipajang di etalase kaca. Sakura memang suka memasak, dan bahan di rumah pun sudah mulai menipis. Mungkin itu yang membuat moodnya berubah.

"Kau mau makan apa malam ini, Karin-nee?" sahut Sakura dengan dua buah daging di kedua tangannya.

"Aku…? Hmm… buatkan aku bentou saja, Sakura." Karin mengecek arlojinya. "Malam nanti aku akan kembali ke Rumah Sakit."

"Bukankah kau bilang hari ini kau libur?"

"Yah… memang benar. Ini jadwalku libur, tapi kau tahu kan… penyakit tak pernah libur."

Sakura mengangguk lemah. Melihat Sakura yang melemas, Karin mendekatinya dan mengelus rambut merah mudanya. Ia tahu Sakura pasti kesepian di rumah sendiri terus menerus, tapi mau bagaimana lagi. Sakura hanya bisa mendengus dan memarahi Karin untuk tak memperlakukannya seperti anak kecil.

Selesai memilih daging, Sakura dan Karin berganti haluan ke bagian sayur. Meski Karin bekerja di bidang kesehatan, tapi kalau Sakura tak memasakkan sayur untuknya, ia tak akan makan. Entah mengapa Karin nampaknya hanya menyukai masakan Sakura.

"Sakura?"

Sedang asyik berkutat dengan brokoli di tangannya, Sakura merasa dirinya dipanggil. Ia menoleh, mendapati seorang pemuda berdiri tak jauh di sampingnya. Menatapnya dengan tatapan menyapa, meskipun Sakura justru terkejut melihatnya.

"Chchef?"

Pemuda berambut merah darah itu mulai mendekat. Sakura terlihat memalingkan matanya, mencoba menghindari tatapan tajam sang Chef. Tak menyangka bisa bertemu dengan Gaara di sini. Meskipun itu bukanlah hal yang terlalu langka, berhubung supermartket itu kan untuk umum.

"Sedang berbelanja?"

Saat Gaara berada tepat di hadapannya, Sakura bisa melihat troli yang dibawa pemuda itu dipenuhi dengan kardus black chocolate.

"Iya, apakah kau juga sedang belanja, Chef?"

Gaara mengerutkan dahi, "Sakura, bukankah sudah kukatakan berkali-kali agar kau tak memanggilku seperti itu—setidaknya saat kita bertemu di luar jam kerja.."

"Su—sumimasen…." Sakura memberikan jeda pada kalimatnya. "Gaara-san."

"Jadi… apa kau sendirian?"

"Ah, tidak. Aku bersama kakakku." Sakura kini baru menyadari kalau Karin tak berada di sampingnya. "Setidaknya… beberapa saat yang lalu."

"Kau akan membeli itu?" Gaara melirik brokoli yang dipegang Sakura.

"Iya, kurasa. Aku ingin membuat daging dengan campuran sayur, karena kakakku sangat sulit sekali memakan sayur."

Gaara menatapnya dengan tatapan aneh, kemudian pemuda itu berbalik. "Dia lebih terdengar seperti adikmu."

"Ah, Ch—em… Gaara-san." Sakura menyamakan langkah di sebelah pemuda itu.

Sepertinya ia kepikiran dengan pernyataan cinta Chefnya itu. Meskipun mungkin Sakura belum memiliki jawabannya, namun ia tak ingin bersikap besar kepala hanya karena atasannya menyukainya. Sakura mencoba bersikap senormal mungkin.

"Anoo… kenapa kau membeli banyak sekali black chocolate? Apakah itu akan digunakan di dapur utama?"

"Oh ini… tidak, aku akan menggunakannya secara pribadi."

"Sebanyak itu?"

"Dibutuhkan banyak bahan untuk melakukan penemuan baru. Aku ingin mencoba menambah menu baru di daftar Konoha Grand, sepertinya sudah banyak pelanggan yang bosan dengan menu lama."

"Begitu~"

Lama berjalan dengan Gaara, nampaknya Sakura mulai melupakan masalahnya. Mungkinkah ia memang merasa nyaman di sisi pemuda itu? Atau mungkin ia sedang melarikan diri? Melarikan diri dari kenyataan bahwa Sasuke akan menyerah?

Dheg!

Tiba-tiba Sakura merasa sesuatu menyesak di dadanya. Langkahnya terhenti sejenak, membuatnya tertinggal dari Gaara. Kenapa ia harus mengingatnya? Mengingat ucapan Sasuke saat itu. Padahal itulah alasan mengapa Sakura kurang bersemangat seharian ini.

Gaara membalik tubuhnya menyadari Sakura tertinggal, ia bisa melihat raut wajah Sakura yang mengerut cemas. Saat pemuda itu hendak mendekat, seseorang telah lebih dulu menepuk pundak Sakura dari belakang.

"Sakura!" Karin—yang datang entah darimana—kini berdiri di sampingnya. "Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini."

"Karin-neechan."

Karin terlihat melirik Gaara yang saat itu berhadapan dengannya. Dengan sopan pemuda itu membungkukkan tubuh dan tersenyum ramah. Memang Gaara sadis ketika berada di lingkungan kerja, namun ia selalu menunjukkan sikap hormatnya ketika ia sudah berhadapan dengan orang lain.

Siapa yang tak terpikat saat melihat pemuda tampan memperlakukanmu dengan sopan bak putri raja? Tak terkecuali Karin. Wanita—yang memiliki rambut hampir senada dengannya—itu mendekatkan bibirnya ke telinga Sakura.

"Siapa pemuda tampan ini, Sakura? Apa dia pacarmu yang baru?"

"Eeehh?! Apa yang Neechan katakan!" bohong kalau Sakura mengatakan ucapan Karin tak membuatnya malu. "Dia ini Chef pembimbingku di KGR, Sabaku Gaara."

Gaara semakin mendekatkan langkahnya pada kakak-beradik itu. Karin mengulurkan tangan dan diterima dengan baik oleh Gaara. Sakura sudah bisa melihat dari mata sang kakak yang berbinar-binar itu, pasti akan ada sesuatu yang buruk nantinya.

"Saya adalah Chef di KGR, senang berkenalan dengan anda." ucapnya penuh dengan respek.

"Ah, tak perlu seformal itu, santai saja." Karin kini berbicara seperti tante-tante bertemu brondong saja.(!) "Aku tak menduga kalau ternyata atasan adikku adalah pemuda tampan sepertimu, dan kelihatannya kau masih sangat muda. Maaf ya, sepertinya Sakura sudah banyak merepotkan."

"Tidak sama sekali, dia sudah bekerja dengan baik."

'Wow~ hebat sekali ia sampai bisa berbohong seperti itu.' batin Sakura sambil melirik sang Chef.

"Benarkah? Syukurlah kalau begitu~" Karin melirik Sakura dan mengedipkan matanya. Ini membuat firasat Sakura semakin memburuk. "Mmm lalu… apakah secara tak langsung kalian… ehem, kau tahu kan?"

"Neechan! Apa yang sedang kau katakan?!" Sakura kini harus membungkam mulut Karin sambil menahan malu.

"Ah tidak… kami hanya rekan kerja." Gaara mengarahkan tatapannya kepada Sakura. "Setidaknya sampai saat ini." tambahnya.

Berterima kasihlah pada jawaban Gaara yang membuat Karin semakin menjadi. Pertemuan itu berlanjut dengan Karin yang mengajak makan siang bersama. Sakura hanya bisa pura-pura tak mengenal sang kakak ketika wanita itu menanyakan beberapa hal kepada Gaara.

Tentu saja Gaara menjawabnya dengan baik dan lugas, namun tak berarti pemuda itu merasa nyaman terus-terusan ditanyai masalah pribadinya. Sakura paham betul itu. Akhirnya 3 jam berlalu dengan sesi interview dan jalan-jalan tak jelas mereka.

"…Ah, benarkah? Iya, aku mengerti. Baiklah… iya."

Klik

Karin menutup ponselnya, Sakura bisa melihat perubahan raut wajah sang kakak. Gaara—yang duduk di sampingnya—nampak diam sambil menghabiskan minuman yang dipesannya.

"Ah maafkan aku, Gaara, Sakura." Karin mengatupkan kedua tangannya sebagai tanda penyesalan. "Sepertinya aku harus segera kembali ke Rumah Sakit sekarang."

"Lalu bagaimana dengan bentoumu?"

"Aku akan mengambilnya nanti." ucap Karin menjawab pertanyaan Sakura. "Gaara, apakah aku bisa minta tolong padamu untuk mengantarkan Sakura pulang? Karena aku akan membawa mobilnya ke Rumah Sakit."

"Eh?! Tapi… Neechan—"

"Tak masalah."

Sakura menatap Gaara yang langsung menerima permintaan Karin. Pemuda itu benar-benar tenang, apakah ia sudah biasa menghadapi orang seperti Karin? Sakura juga tak habis pikir, biasanya Karin tak secerewet itu, namun terkadang memang ia bisa melebihi keberisikan Sakura. Setelahnya Karin memakai jaket dan berlalu pergi.

-ooOoo-

Sakura berani bertaruh pasti itu bukan telepon dari Rumah Sakit. Itu pasti dari kekasihnya—yang anehnya sampai sekarang Sakura tak tahu siapa itu. Mudah sekali menebak pikiran Karin yang memang sudah merencanakan dari awal untuk membuat Sakura dan Gaara berduaan.

"Ano… Su—sumimasen."

"Hm? Untuk apa?"

"Semuanya. Tak hanya aku yang merepotkan, tapi sepertinya kakakku juga."

"Tak apa." Sakura menoleh, berharap Gaara bersungguh-sungguh atas ucapannya itu. "Aku akan membalasnya di tempat kerja besok."

Uhuk!

Sakura sampai tersedak minuman yang dinikmatinya.

"Ha ha ha, aku bercanda." Gaara terkekeh melihat wajah Sakura yang memerah karena kaget sekaligus tersedak. "Menurutku menyenangkan memiliki orang seperti itu disampingku."

"Hm?"

Mengerti akan aura bingung yang dipancarkan Sakura, Gaara menghela nafasnya. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju kediaman Sakura. Berhubung ini bukan kali pertamanya seorang lelaki mengantar Sakura pulang.

Ngomong-ngomong mengenai mengantar pulang, Sakura jadi ingat sosok yang selalu memaksanya untuk pulang bareng. Meskipun minggu lalu mereka menghabiskan waktu di Suna, dan tak ada kesempatan untuk mendengar paksaan dari pangeran raven yang egois itu.

Sakura jadi terdiam, ia memikirkan Sasuke sekarang. Pikirannya membawa kembali memori akan ucapan Sasuke di apartemennya.

"Aku salah… aku telah meninggalkanmu…"

"Aku… menyukaimu… Selalu… akan menyukaimu."

"Tapi… kalau kau… memang sudah memutuskan tak akan kembali padaku…"

Memang Sasuke selalu menyebalkan. Ia selalu memaksakan kehendaknya. Seenaknya sendiri dan tak ingin kalah. Sakura membencinya, itu sudah pasti. Masalahnya adalah… Benci dalam arti apa? Mungkinkah [BEN]ar-benar [CI]nta?

"Aku akan menyerah."

DHEG!

Sakura menunduk. Dadanya mendapat serangan mendadak ketika kalimat itu terngiang di kepalanya. Tangannya terangkat meremas ujung roknya, mencoba menahan diri dari rasa sakit yang menjalarinya.

Gaara menyadari hal itu. Ia sudah menyadarinya sejak mereka bersama siang tadi. Sebenarnya pemuda itu ingin bertanya, namun saat ini ia belum memiliki hak khusus untuk hal itu. Tak lama mobil Gaara terparkir tepat di depan rumah Sakura.

Sesaat sebelum Sakura sadar dan hendak keluar dari mobil, Gaara menahannya.

"Aku… biasanya tak buru-buru." Gaara berucap lirih, kemudian tatapannya terpusat pada Sakura. "Tapi aku ingin mendengar jawabanmu."

Bohong kalau Sakura mengatakan tak mengerti maksud Gaara. Sampai ditatap seperti itu, tentu saja artinya Gaara sudah sampai pada puncak kesabarannya. Setiap manusia tak ada seorang pun yang ingin perasaannya digantung. Seperti Sasuke yang ingin mendapatkan kepastiannya dari Sakura.

Kalau saat ini gadis itu memutuskan untuk bersama Gaara, maka dengan sendirinya ia telah menutup kesempatan bagi Sasuke. Itu juga berarti bahwa Sasuke tak akan mengganggunya lagi. Bukankah itu adalah sesuatu yang kau inginkan, Sakura? Lalu kenapa kau malah bimbang sekarang.

Mungkinkah… kau berubah pikiran?

"Sakura?" merasa tak dijawab, Gaara memanggilnya.

Namun saat wajah Sakura menoleh, emerald-nya berkaca-kaca. Gaara membulatkan mata, ia tak pernah menginginkan permata hijau itu untuk basah. Apakah ia telah mengatakan sesuatu yang menyinggungnya? Namun saat Sakura menundukkan kepala, entah mengapa Gaara merasa ia sudah mendapatkan jawabannya.

Sakura mengusap pipinya, mencoba menghapus bekas air mata yang jatuh tanpa seizinnya. Gadis merah muda itu dengan sesenggukan mencoba berucap, namun sesuatu mengganjal di tenggorokannya.

Gaara telah mengetahui mengenai hubungan Sakura dan Sasuke, ia pun tahu kalau Sasuke masih menaruh hati pada gadis itu—siapapun akan tahu kalau melihat sikap Sasuke selama ini kepada Sakura. Yang menjadi pertanyaan adalah… bagaimana perasaan Sakura? Apakah gadis itu akan menerima cinta masa lalunya?

Kalaupun keputusan Sakura sudah bulat, Gaara hanya bisa menerimanya. Ia tak ingin membuat Sakura menangis seperti itu karena perasaannya. Ia tahu, Sakura tak bisa dengan tegas menentukan siapa yang akan dipilihnya. Karena ia tak ingin menyakiti pihak yang tak terpilih. Dan itu adalah dirinya.

Tepat saat Gaara melepaskan genggamannya dari tangan Sakura, gadis itu mengucapkan kata yang mempertegas asumsinya.

"Sumimasen."

-ooOoo-

Langkah kaki itu begitu cepat, tubuh yang oleng dan nafas yang terengah. Sebenarnya kemana Sakura hendak pergi? Ini bukanlah rumahnya, ini juga bukan tempat kerjanya. Kemana malam-malam begini seorang gadis sepertinya hendak pergi?

Hatinya sesak, dipenuhi oleh berbagai perasaan. Setelah diombang-ambingkan oleh ombak dan diterbangkan angin, dimana ia terdampar sekarang? Siapa orang yang ia inginkan untuk menolongnya? Perasaan itu begitu meluap, ia ingin menyalurkannya. Kepada siapa?

CKLEK!

Pintu itu terbuka dengan keras—cukup keras untuk membuat penghuninya kaget. Tanpa pikir panjang, gadis merah muda itu menerjang masuk. Mengedarkan matanya untuk mencari si pemilik kamar. Saat sosok raven itu muncul dari arah dapur, ia terkejut melihat siapa yang malam-malam tengah mengunjungi apartemennya secara gaduh.

"Sakura?"

Suara berat itu disambut dengan pelukan Sakura yang tiba-tiba.

Greb, Klang!

Sasuke hanya bisa menahan tubuhnya yang terjatuh karna dorongan yang tiba-tiba itu. Salahkan tubuh mungil di atasnya yang memeluknya dengan erat. Sasuke tak tahu apa yang terjadi, yang jelas, sekarang mereka tengah dipenuhi oleh krim vanilla yang Sasuke buat.

"Apa yang terjadi, Sakura?"

Pemuda itu masih berusaha menjaga emosinya saat melihat dapurnya berantakan. Sasuke paling tak suka melihat dapurnya hancur seperti kapal pecah, tapi… ia lebih tak suka melihat gadis yang dicintainya menangis.

Tangan Sasuke meraih pipi Sakura, mengusap bekas air mata yang membasahi pipi merahnya itu. Sakura menahan tangisnya, tangannya menggenggam tangan Sasuke. Pemuda itu semakin tak tahu dengan situasi yang dihadapinya, namun diam-diam ia senang bisa menjadi tempat Sakura berlari ketika gadis itu membutuhkan pertolongan.

"Tak apa kalau kau tak ingin bicara, tenangkan dirimu saja." Sasuke mencoba membenarkan posisinya. "Sebaiknya kau mandi du—"

"Aku ingin bersamamu."

Ucapan Sakura memotong kalimat Sasuke. Pemuda itu terdiam, apakah Sakura sudah salah minum obat? Atau seseorang telah meracuninya? Mungkinkah gadis itu sedang mabuk? Oh, Sasuke hanya mencoba mencari alasan yang akan menahannya untuk tak berharap lebih.

Namun pelukan itu mengerat. Tangan Sakura melingkar di pundak dan leher Sasuke. Meskipun wajahnya tertunduk, namun Sasuke masih dapat melihat guratan merah muda di pipinya yang lembab.

Ia sadar, pemuda itu menyadarinya. Akhirnya atas semua perjuangan dan kesabarannya, Sasuke mendapatkan apa yang diinginkannya. Hadiah terindah yang tak bisa digantikan oleh apapun, Haruno Sakura.

"Kau yakin?"

Awalnya gadis itu terdiam, ia paham sekali kebiasaan Sasuke yang suka membelai pipi dan rambutnya. Itu kode tersendiri, dimana hanya mereka berdua yang bisa membacanya. Sakura mengangguk, menjawab pertanyaan itu.

Set

Tubuh Sakura diangkat, bridal style. Gadis itu semakin mempererat pelukannya, wajahnya memerah membayangkan kejadian selanjutnya. Sasuke menggendongnya dan membawanya ke sofa. Entah mengapa sepertinya Sasuke sangat menyukai foreplay—meskipun ia juga sering melakukannya secara hardcore.

Ditatapnya pemilik mata emerald itu, onyxnya menembus pertahanan Sakura. Membuat sang gadis mencoba mengalihkan wajahnya—meski ditahan oleh tangan Sasuke.

"Kuperingatkan kau lebih dulu." ucapnya diselingi jeda. Dagu Sakura ditarik, membuat gadis itu menatap sang onyx secara langsung. "Aku tak akan melepaskanmu, tak akan pernah—apapun yang terjadi. Apa kau siap dengan hal itu?"

Emerald itu menemukan keyakinan di sana. Belaian Sasuke menenangkannya, gadis itu pun perlahan menganggukkan kepala.

Tanpa pikir panjang Sasuke langsung menyelisipkan tangannya ke belakang tengkuk Sakura, menarik kepala gadis itu dan mendaratkan ciumannya di sana. Tangan Sakura mengepal, merasakan sensasi basah dari lidah Sasuke yang menggelitik indra pengecapnya.

Ciuman itu dimulai dari gigitan-gigitan kecil memberikan isyarat bagi Sakura membuka mulutnya. Perlahan dengan pasti lidah Sasuke memasuki rongga mulut Sakura. Tubuh Sakura semakin dihimpit oleh Sasuke, pemuda itu mempersempit ruang gerak Sakura.

"Emngh… Sasu…mm.."

Lumatan itu menjadi semakin ganas ketika Sasuke mendominasinya. Sakura hanya bisa menerima perlakuan Sasuke yang semakin dipenuhi nafsu. Desahan nafas dan saliva yang menetes dari ujung mulut Sakura tak membuat pemuda itu berhenti sampai di sana.

Saat puas membuat bibir Sakura merona kemerahan dan nafasnya terengah, inilah kesempatan Sasuke. Gadis itu sudah tak berdaya, ia kehilangan tenaga dan niat untuk kabur darinya. Itulah cara Sasuke memburu mangsanya.

"Ahh… Sasu!"

Sakura bisa merasakan pakaiannya ditanggalkan satu persatu. Pemuda itu bergerak cepat, namun ia berusaha tak memberikan tekanan berlebih pada Sakura. Tak butuh waktu lama untuk membuat Sakura menjadi setengah telanjang. Gundukan kenyal yang menggantung di sana pun tak dibiarkannya menganggur.

"Uhh~ Sasuke-kun~ aahhh~"

Sudah lama sekali, sejak terkahir kali Sakura memanggilnya dengan embel-embel 'kun'. Pemuda itu diam-diam tersenyum, hatinya merasakan kehangatan yang sudah lama diinginkannya. Tubuh Sakura diangkatnya, ia membenarkan posisi Sakura yang terduduk.

"Eng?"

Melihat Sasuke yang turun dari sofa, Sakura menatapnya dengan bingung. Pemuda itu membelai pipi Sakura, ia menemukan krim vanilla di sana. Benar saja, inilah alasan mengapa ia mengecap rasa manis yang dikenalnya saat mencium Sakura. Tentu saja karena gadis itu telah bermandikan krim vanilla buatannya.

Sasuke menenggelamkan kepalanya di sudut leher Sakura, menjilati sisa krim yang menempel di sana. Membuat sang empunya melenguh dan mengangkat sedikit bahunya. Sakura menolehkan kepalanya, memberikan ruang lebih luas untuk Sasuke menjelajah.

"Aang… mm…"

Sakura meremas pundak Sasuke, gadis itu tetap memberikan dorongan-dorongan ringan meskipun hanya sebagai isyarat bahwa ia tak ingin dianggap terlalu menimkatinya. Sasuke tak hanya membersihkan tubuh Sakura dari krim itu, tapi ia juga meninggalkan bekas gigitanya di sana.

Sampai keseluruh tubuh Sakura, bahkan kedua dadanya pun tak terlewatkan. Dihisapnya ujung kemerahan itu, mengenyutnya seperti bayi yang sedang kehausan. Sebelah tangannya memijat lembut dada kiri Sakura.

"Uuh.. eum~ engh… ah ah~"

Ciuman Sasuke menurun hingga ke perut dan pinggangnya. Sakura menunduk untuk dapat melihat wajah sang pangeran pujaannya. Jujur saja, ia sendiri tak habis pikir dapat kembali sedekat ini dengan Sasuke. Sumpahnya 8 tahun yang lalu untuk balas dendam dengan Sasuke menjadi sia-sia. Keraguan dalam hatinya digantikan oleh rasa cinta yang manis, semanis krim vanila yang sedang diambil Sasuke.

Sakura mengerutkan dahinya, "Apa yang akan kau lakukan, Sasuke?"

Bukannya menjawab, Sasuke justru memamerkan seringainya. Ia memposisikan diri di sela kedua kaki Sakura, hal yang membuat Sakura membulatkan mata adalah saat Sasuke membubuhi krim vanila itu ke daerah sensitifnya. Tangan Sakura mencoba mencegahnya, meskipun itu tak cukup untuk menghentikan Sasuke.

Selesai dengan itu, Sasuke meletakkan kembali mangkok berisikan krim vanila yang dibuatnya. Sepertinya selain tak ingin membuang krim itu, ia jadi memiliki ide bagus cara menghabiskannya. Dengan seringainya Sasuke berhasil membuat Sakura merinding.

"Ittadakimasu, Sakura."

"Aaaahhhh~!"

-ooOoo-

Berkali-kali Naruto mengedarkan pandangannya ke arah dua orang yang saat ini terlihat memancarkan aura berbeda, siapa lagi kalau bukan Sasuke dan Sakura. Sasuke yang biasanya fokus pada bukunya dan tak memedulikan sekitar, kini—meskipun masih bersama bukunya—namun nampaknya Naruto mendapati Sasuke sering menarik sudut bibirnya membentuk senyuman.

Sedangkan di sisi Sakura sendiri memang tak jauh berbeda, wanita itu sudah sering sekali senyum-senyum tanpa alasan yang jelas. Hanya saja kali ini ditambah dengan sikap Sakura yang mencuri-curi pandangan untuk menatap Sasuke.

"Ada yang tidak beres."

Mendengar gumaman Naruto, Hinata yang sedang merapikan pakaian chef-nya menoleh. "Apanya yang tak beres, Naruto-kun?"

"Entahlah, sesuatu pasti terjadi diantara mereka."

Belum sempat Hinata bertanya maksudnya, Temari nampak datang dan membuka pintu. Kedatangannya tentu saja menjadi pertanda bahwa mereka akan memulai pekerjaan hari ini. Semua trainee nampak bersiap akan menuju dapur utama.

Sasuke ingin sekali berjalan di samping Sakura, namun ia mengurungkan niatnya. Saat sedang berada di lingkungan dan jam kerja, setidaknya ia ingin memposisikan diri sebagai profesional. Lain halnya kalau Sakura sudah berada di ruang apartemennya, saat itulah Sasuke akan 'memakan'nya.

Sampai di dapur utama, Gaara terlihat telah menunggu. Melihat Gaara, membuat Sakura mengingat kejadian kemarin. Gadis itu menundukkan kepalanya, wajah seperti apa yang harus ditunjukkannya kepada Chef itu? Sasuke yang menyadari hal itu hanya terdiam dan memasang wajah seriusnya kepada Gaara.

"Apa semua sudah berkumpul?" pertanyaan itu dijawab dengan anggukan. "Kalau begitu aku akan mengumumkan sesuatu. Seperti yang telah kita ketahui, bulan depan Konoha Grand Restaurant mendapatkan order berupa pesta perayaan seorang pebisnis. Aku telah membagi tugas kalian dan mendaftar apa saja yang harus kalian lakukan. Sejauh ini ada pertanyaan?"

Ino mengangkat tangannya, "Sumimasen, Chef. Tapi bolehkah kami mengetahui siapa pebisnis itu?"

"Tidak." Gaara menggeleng lemah. "Ia tak ingin menyebutkan identitasnya, aku sendiri pun tak tahu siapa dan mengapa."

Entah mengapa sepertinya Sakura memiliki firasat buruk akan hal ini. Ia pun menggelengkan kepala mencoba membuyarkan pikiran negatif itu. Setelah beberapa saat terdiam, Gaara meneruskan instruksinya.

"Aku akan bacakan pembagian tugasnya. Yang pertama adalah Yamanaka dan Hyuuga, kalian akan menghandle tentang dekorasi ruangan. Segala hal yang berhubungan dengan hias-menghias kalian yang mengaturnya. Paham?"

"Tunggu, Chef." Ino kembali mengangkat tangannya. "Apa itu termasuk mendekorasi hidangannya?"

"Ya." tegas Gaara. "Karena itu kalian harus tetap bekerja sama dengan yang lainnya. Selanjutnya Uchiha..." mendengar nama Sasuke diucap, baik sang empunya nama dan Sakura sendiri jadi berdebar. Karena mereka bertiga lah yang mengetahui konflik sebenarnya.

"..dengan Uzumaki, kalian akan mengurus hidangan utama. Karena makanan utama kurasa paling berat, kalian kupercayakan untuk menghandlenya." lanjut Gaara. "Ada pertanyaan?"

"Tidak, Chef." jawab Sasuke tegas. Naruto sampai cengo, padahal sepertinya ia ingin menanyakan sesuatu, kalau sudah begini mana mungkin ia melakukannya.

"Sisanya adalah Haruno dan Sabaku." pandangan Gaara mengarah pada Sakura, ia terdiam untuk beberapa saat, membuat gadis merah muda itu semakin gugup. "Kalian bertugas mengurusi bagian dessert. Apa ada pertanyaan?"

Sasori yang kebetulan berada di samping Sakura melirik gadis itu, Sakura membalas tatapannya. Sepertinya mereka tak memiliki pertanyaan lagi. Sasori pun menggelengkan kepala menjawabnya.

"Baiklah ini adalah daftar pekerjaan yang harus kalian selesaikan." Gaara memberikan isyarat pada Temari, wanita itu pun membagikan kertas kepada para trainee. Masing-masing memiliki tugas yang berbeda-beda.

"Tapi ingat, kalian juga harus bekerja di dapur utama seperti biasanya. Kalau ada masalah, diskusikan di luar jam kerja. Paham?"

"Paham, Chef."

Setelah itu pun mereka bubar, masing-masing dari mereka langsung menempatkan diri di dapur utama. Naruto masih mencoba menyimpan berbagai pertanyaan yang menghantuinya dan belum sempat ia tanyakan kepada Gaara, sementara Hinata dan Sasori sudah bersiap memulai pekerjaan mereka.

Saat itu secara tak sengaja pandangan Sasuke dan Sakura bertemu. Mata emerald Sakura mematung, seakan waktu di sekitar mereka terhenti begitu saja. Siapa sangka, sosok yang selama 8 tahun ini tak pernah dilihatnya, kini berada sedekat ini dengannya. Bahkan hubungan yang ia pikir telah berakhir, mendadak menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Melihat ekspresi Sakura, Sasuke menarik sudut bibirnya membentuk seringai.

Blush

Gadis itu terkejut dan segera mengalihkan pandangannya, namun ia berani bertaruh bahwa Sasuke sedang terkekeh di belakang sana.

-ooOoo-

Senja memang sangat indah, ditambah dengan warna kemerahan yang khas dan kuning yang menyilaukan. Seorang pemuda berambut merah nampak menikmati suasana itu di balkon ruang kerjanya di Konoha Grand Restaurant. Pakaian traineenya masih melekat di tubuh yang dipenuhi oleh aroma asap dapur.

Tak lama ia meraih ponsel di dalam sakunya, ditekannya nomor panggilan cepat. Tak butuh waktu lama hingga ia mendapatkan jawaban dari panggilannya di ujung sana.

"Sasori...?"

Suara wanita di ujung sana membuat pemuda itu tersenyum. "Hy, apa aku mengganggumu?"

"Ada apa? Tumben sekali kau menelponku jam segini? Apa ada masalah di tempat kerja?"

"Tidak juga, meski memang sepertinya aku akan sangat sibuk akhir-akhir ini." Sasori menegadah menatap langit yang semakin di dominasi warna merah gelap itu. "Oh ya, pagi ini Gaara mengatakan bahwa KGR mendapatkan tawaran party dari seorang pebisnis misterius."

". . ." wanita itu terdiam sesaat, sepertinya mencoba mencerna ucapan Sasori. "Kau mencurigaiku?"

"Kenapa tidak? Bisa saja kau mencoba memata-mataiku di sini." ucapnya dengan nada becanda.

"Ayolah Sasori~ Kau tahu seperti apa diriku, bukan? Aku tak memiliki waktu sebanyak itu hanya untuk memata-mataimu. Lagipula kau pun tahu aku bukanlah pebisnis."

Sasori terdiam sesaat, ia melihat sepasang pemudi-pemuda di bawah sana. Ia mengenalnya, seorang gadis berambut merah muda yang bergerai nampak menghampiri seorang pemuda dengan rambut pantat ayamnya yang mencuat. Mereka sepertinya membicarakan sesuatu, Sakura nampak tersenyum. Dalam diam Sasori sepertinya memikirkan sesuatu, pancaran matanya berubah. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.

"Kau benar. Lalu aku penasaran..." Sasori masih mengamati sampai Sakura masuk ke dalam mobil Sasuke dan mereka pun melaju. "Siapa pebisnis yang dimaksud itu."

-ooOoo-

"Tadaimaaa~"

Sakura melepaskan sepatunya dan menaruhnya kembali ke rak. Perlahan ia memasuki rumah, sepertinya sang kakak belum kembali dari Rumah Sakit. Namun ia mengatakan akan pulang malam ini, karena itulah Sakura membeli beberapa bahan untuk membuat makan malam.

Suasana sepi dan suara-suara khas yang ia ciptakan selagi memasak ini membuatnya kembali bernostalgia. Saat-saat dimana ia mengamati Sasuke memasak makanan kesukaannya. Sakura menyukai wajah serius Sasuke, keringat yang menetes melewati pelipisnya membuatnya nampak sexy. Lalu saat Sakura memuji masakannya, Sasuke akan tersenyum puas.

"Secara tak sadar... kita jatuh cinta dengan alasan yang sama." gumam Sakura.

Dan 8 tahun berlalu sejak mereka tak jujur dengan perasaan masing-masing. Benarkah perpisahan itu membuat mereka menjadi lebih baik sekarang? Namun berkat itu Sakura jadi seperti ini, ia berusaha keras memerbaiki kekurangannya hingga tak akan ada lagi yang meremehkannya.

Sejak itulah ia bertemu dengan berbagai macam orang. Naruto, Hinata, Ino, Sasori, Sara, dan... Gaara.

Dheg

"Aku… biasanya tak buru-buru." Gaara berucap lirih, kemudian tatapannya terpusat pada Sakura. "Tapi aku ingin mendengar jawabanmu."

Lelaki itu telah memberikannya banyak pelajaran hidup, ia telah banyak menolong Sakura di saat yang kritis. Ia juga yang menjadi panutan bagi Sakura untuk dapat berjuang keras. Atas semua yang telah Gaara berikan kepada Sakura, gadis itu menolaknya.

Sakura menghentikan kegiatannya, ia terdiam dengan sebelah tangannya memegang pisau dan sebelahnya lagi memegang wortel yang telah terpotong-potong setengah. Sesaat ketika Sakura menjawab ungkapan perasaan Gaara dengan kata 'Sumimasen', ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut hancur.

"Jadi ini... rasanya mematahkan hati seseorang."

Sambil mengucapkan kata itu, Sakura menunduk. Potongan wortel di hadapannya terlihat seperti bongkahan kebahagiaan yang ia potong-potong dengan tangannya sendiri. Ia sadar, bahwa dengan bersama Gaara, ia akan mendapatkan jaminan kejadian 8 tahun yang lalu tak akan ia rasakan lagi. Bahwa pemuda itu akan menjamin kebahagiannya.

Namun satu sisi dalam dirinya mengatakan bahwa ia masih ingin bersama Sasuke, rasa itu begitu besar hingga menyakiti dirinya sendiri. Ia tahu bahwa bersama Sasuke tak bisa menjamin kebahagiaannya. Tapi apa yang harus dilakukannya kalau saat ini hatinya sedang dipegang oleh pemuda itu? Sakura yang saat ini, sedang jatuh cinta pada sosok Sasuke.

Bersama Sasuke, Sakura harus bersiap memiliki hati yang kuat. Dengan tidak adanya jaminan, Sakura hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Karena ketika Sasuke akan meninggalkannya nanti, itu semua sudah terlambat.

"Sakura?"

"Ah!" kaget akan suara yang tiba-tiba memanggilnya membuat lamunan Sakura buyar. "Karin-neechan, kau sudah pulang?"

"Aku memanggilmu dari tadi, kau tak mendengar?" Sakura menjawabnya dengan gelengan. Karin melepaskan jaketnya dan menempatkan diri duduk di kursi. "Apa terjadi sesuatu di KGR? Oh ya, kudengar KGR mendapatkan tawaran party?"

Sakura meneruskan memasaknya. "Ya, kami mendapatkan tawaran itu dari seorang pebisnis."

"Siapa pebisnis itu?"

"Entahlah, Gaara-chef tak memberitahukannya kepada kami, namun sepertinya ia sendiri pun tak tahu siapa."

"Hmm..." Karin mengangguk-angguk. "Ngomong-ngomong... bagaimana hubunganmu dengan Chef tampan itu?"

"Eh?!" mendengar sang kakak menanyakan hal seperti itu membuat Sakura terkejut. "Apa yang Neechan katakan! Aku sudah menegaskannya dari awal kalau kami tak ada hubungan lebih selain rekan kerja kan?"

"Ah sayang sekali~" Karin nampak merajuk, sepertinya ia senang sekali mengoda Sakura. "Padahal kalau kau menikah dengannya aku yakin kau bisa makan masakan enak tiap harinya. Bukankah menikah dengan pria yang dapat memasak itu impian semua gadis?"

"Itu mimpimu, Neechan!"

Dengan itu pun suasana mencari seketika, meskipun Sakura harus mendengar ocehan Karin mengenai impian itu. Sakura benar-benar bersyukur Karin ada untuknya selama masa-masa sulitnya. Ia pun berjanji akan terus menjaga sang kakak. Namun ia jadi teringat, bahwa Karin tak menyukai Sasuke sejak pemuda itu meninggalkannya 8 tahun yang lalu.

Lalu cara apakah yang harus mereka lakukan untuk mendapatkan restu dari Karin? Mungkinkah Sakura harus berpisah lagi dari Sasuke karna Karin tak menyetujui hubungan mereka? Entahlah.

-ooOoo-

Sasuke nampak sibuk mengolah adonan di loyang yang ada di hadapannya. Dapat terlihat sekitarnya dipenuhi bahan-bahan seperti tepung, sayur-sayuran, dan beberapa potongan daging segar. Sepertinya Sasuke sedang bereksperimen menemukan menu yang bagus untuk Party nanti.

"Aaaahhhh~" Sasuke menghela nafas, sepertinya 3 jam waktu yang ia gunakan berkutat di dapur cukup untuk membuatnya merasa bosan.

Ia meletakkan loyang dan merenggangkan otot-ototnya. Ia melirik ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja. Diraihnya ponsel itu. Seketika matanya menunjukkan ekspresi keterkejutan melihat sebuah pesan singkat di sana.

From : Sakura

Sasuke, apakah kau senggang? Aku ingin mengajakmu berbelanja bahan untuk membuat Dessert, kau mau ikut?
Aku akan menunggumu di taman dekat apartemenmu.

-End-

Segera Sasuke menengok jam dindingnya, ini sudah lewat 45 menit dari waktu yang ditunjukkan oleh pesan Sakura. Tanpa pikir panjang Sasuke segera meraih jaketnya dan bergegas pergi. Ia mencoba menghubungi ponsel Sakura, namun tak ada jawaban di sana.

Inilah orang yang baru kasmaran, baru saja telat 45 menit sudah seperti dunia mau runtuh saja. Tapi kalian tahu kan bagaimana perasaan Sasuke, ia tentu saja tak ingin sesuatu terjadi pada Sakura selama ia menunggu di sana. Bagaimanapun Sasuke sudah berjanji untuk menjaga gadis itu.

Nafasnya terengah ketika sampai di sana, ia mencari-cari sosok merah muda itu.

"Kyaa, apa yang kau lakukan?!"

Mendengar sebuah teriakan yang dikenalnya, Sasuke menoleh. Benar saja, tak jauh dari sana terlihat Sakura yang dikerubuti oleh beberapa pemuda asing. Sakura nampaknya merasa risih dengan hal itu. Melihat gadisnya digoda tentu saja Sasuke tak akan tinggal diam, ia segera berlari menghampiri Sskura.

"Hey apa yang—"

"Sudah kubilang lepaskan!"

BHUAAAGG

Betapa terkejutnya Sasuke ketika melihat kejadian selanjutnya. Tak butuh waktu lama untuk melihat pemandangan para pemuda yang mengganggu Sakura kini terkapar tak berdaya dan dengan gadis merah muda itu yang membersihkan pakaiannya. Padahal Sasuke berniat membantunya, tapi sepertinya gadisnya ini tak selemah pikirnya.

Melihat para pemuda itu mengumpat dan berlari pergi, Sasuke meneruskan langkahnya mendekat. Sakura yang melihat sosok Sasuke langsung kalang kabut, ia berusaha berdandan sefeminime mungkin untuk dapat bertemu Sasuke, tapi malah pemuda itu melihat adegan yang sangat maskulin.

Sasuke terkekeh melihat ekspresi malu Sakura, wajahnya benar-benar memerah padam dan tangannya menggenggam erat tas jinjingnya.

"Aku tak menyangka kau se-macho itu, Sakura." sindir Sasuke sambil mengusap lembut rambut Sakura. "Kau benar-benar berbeda sekali saat sedang di atas ranjang."

"Sasuke!"

Kembali pemuda itu terkekeh, "Tapi sebaiknya kau tetap berhati-hati, kalau kau memang membutuhkan bantuan kau harus memintanya." perlahan Sasuke mengusap pipi Sakura. "Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu."

Blush

Mendengar seorang Sasuke mengucapkan kata-kata manis seperti itu merupakan kejadian langka. Tapi Sasuke yang sekarang dapat dengan mudah mengatakannya, sepertinya pemuda itu juga berubah. Mereka pun berjalan bersama, sepanjang perjalanan hanya pembicaraan kecil memang, tapi nampaknya keduanya terlihat bahagia.

Sementara itu seseorang tak sengaja melihat mereka dari kejauhan. Dari pakaian yang dikenakannya, sepertinya pemuda dengan rambut merah itu memiliki niat yang sama yaitu berbelanja bahan. Ia masih memperhatikan kedua pasangan baru itu, siapapun yang melihatnya—meski hanya sekilas—tentu saja tahu kalau mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar rekan kerja.

Masalahnya, baik Sasuke maupun Sakura masih merahasiakan hubungannya ini dari beberapa orang terdekatnya. Mungkin mereka pun sedang mencari saat yang tepat untuk mengatakannya. Semoga saja sosok itu tak membocorkan hubungan mereka.


-TBC-


~Behind The Scene~

Naruto : Ciee yang akhirnya balikan cieeee~
PB dong PB, Pajak Balikan~ Ke Ramen Ichiraku saja!

Sakura : Apa yang kau katakan? *blush*

Hinata : Selamat ya Sasuke-kun, akhirnya perasaanmu terbalas juga~

Sasuke : Hmm... arigatou. *blush* *buang muka*

Sasori : Akhirnya kelar juga tsundere-tsundere mereka, pusing memikirkan cara menyatukan keduanya. *menghela nafas*

Ino : tapi bukankah masih banyak hal yang belum terungkap?
Seperti hubungan mereka yang belum go public, restu dari Karin, dan masih banyak lagi.

Sasori : benar juga, perjalanan mereka masih panjang ternyata. *sigh*

Author : selamat buat SasuSaku ya atas balikannya~ \\(^o^)/
Kami ikut senang kok, akhirnya kalian menemukan titik terang (?)

Wah, sepertinya readers harus bersiap menikmati masa lovey dovey nya SasuSaku nih mulai recipes depan. Ha ha
Konfil utama udah kelar, tapi masih banyak lho yang belom terpecahkan,
kira-kira gimana ya kelanjutan hubungan mereka? apa bakal lancar aja? Atau kejadian 8 tahun lalu bakal keulang lagi?
Check next recipe ya!

Leave A Mark (Review) Please?

Keep Trying My Best!

Shera Liuzaki.