Pagi yang cerah selalu tak akan bisa digambarkan pada keluarga Min. suasana di meja makan menjadi semakin sepi dengan berkurangnya Yoongi yang biasa duduk disamping Jinyoung.

"Kapan kau akan memberitahu Yoongi?!"

Jinyoung yang sedang asik makan, tiba-tiba hilang selera. Ia meletakan sendok yang ia pegang ke atas meja lalu menyandar pada sandaran kursi. Wajahnya terlihat kesal.

"Entahlah. Mungkin nanti malam setelah Yoongi pulang kuliah"

"Itu bisa memperburuk moodnya."

"Lalu kapan? Sekarang? Dipagi hari yang akan membuat dunia sekelilingnya menjadi beku?! kapanpun itu, moodnya akan hancur."

"Ah. Molla. Bagaimanapun aku harus beritahu dia. Entah dia suka atau tidak."

...

"Kenapa ini sulit sekali?!"

Yoseob mengeluh, karena sedikit kerepotan di dapur. Ia bangun sedikit telat karena tidur terlambat kemarin malam. Sekarang, Ia sedang memasak masakan dengan menu daging dan sayur lengkap tanpa minyak. Ia memasak semua makanan sehat itu untuk puterinya. Ibu mana yang tak khawatir?! Puterinya kalah dengan lomba yang sudah menghabiskan darah dan keringatnya, lalu dia terjebak di dalam ruangan kosong selama berjam-jam. Memikirkannya saja membuat ulu hatinya sakit. Maka dari itu makanan ini, ia harap bisa mengisi energi puteri tercintanya. Ketiaka semua hidangan siap, ia menatanya rapi di meja. Tetapi agak aneh melihat hanya ada dua lelaki yang duduk di meja makan. Hanya ada suami dan puteranya, dimana dua anggota lagi?

"Mana Jimin dan Yoongi?"

Woozi dan Doojoon menatap ke atas dan pintu kamar Yoongi bergantian. Benar. Biasanya Jimin itu paling rajin bangun pagi. Merasa khawatir mereka akan terlambat berangkat Doojoon berinisiatif memanggil mereka. Saat Doojoon berdiri dari kursinya, Yoseob memegang lengan suaminya.

"Biar aku bangunkan mereka."

"Ani. Kau makan dulu saja. Biar aku yang bangunkan mereka."

"Ok."

Yoseob memilih ke kamar Yoongi lebih dulu karena kamar pria itu yang paling dekat. Ia langsung mengetuk pintu dan memanggil nama Yoongi cukup keras, sampai tiga kali ia masih tak mendengar jawaban apapun. Karena khawatir terjadi sesuatu, ia menempelkan kupingnya pada lubang kunci. Mencari tanda-tanda kehidupan yang bisa ia tangkap lewat suara.

Cklek. Suara itu samar terdengar dari dalam kamar. Itu suara pintu kamar mandi. Yoseob yakin Yoongi tadi dari kamar mandi hingga tak mendengarnya mengetuk pintu. Sekarang, karena sudah tau Yoongi di kamarnya. Ia mengetuk pintu dan menyuruh Yoongi sarapan. Yoongi yang sedang memakai pakaiannya hanya menjawab iya dari balik pintu. Begitu selesai memberitahu Yoongi, Yoseob naik ke atas menuju kamar puterinya. Ia berjalan dengan riang dan mengetuk pintu kamar puterinya dengan ketukan yang cukup lama, hingga menciptakan kebisingan. Sama seperti Yoongi, pemilik kamar yang satu ini juga tak menjawab. Mungkin Jimin juga di kamar mandi, fikirnya. Tapi, Jiminkan puterinya, jadi ia tak perlu izin masuk ke kamar puterinya sendiri, jika memang perlu. Yoseob tersenyum melihat puteri manisnya tertidur begitu lelap. Yah, Jimin kemarin mengalami kejadian buruk, jadi mungkin gadis itu kelelahan hingga belum juga bangun. Yoseob mendekat, duduk di samping puterinya. Hal yang biasa ia lakukan untuk membangunkan tidur anak-ankanya adalah dengan membelai kepalanya sambil meminta anaknya bangun. Tapi kali ini jantungnya berdetak kencang saat merasakan panas luar biasa dari kening puterunya. Diperhatikan juga, Jimin terlihat bernafas pendek. Tanpa fikir panjang ia mengambil termometer yang selalu sedia di setiap kamar putera puterinya. Ia meletakannya pada celah ketiak puterinya.

Bip biiip

Suara thermometer berbunyi. Itu tanda alat itu sudah bisa memperlihatkan hasil suhu yang dideteksinya. Yoseob kembali terserang jantung karena melihat angka yang ditunjukan alat tersebut. 40,9, Seumur ia memeriksa demam anak-anaknya belum pernah ia mendapati suhu setinggi itu. Seketika, Yoseob langsung panik. Ia menyibak selimut puterunya, dan langsung menariknya dalam gendongannya.

"Yeobo!"

Panggil Yoseob dari atas ketika ia menuruni tangga sambil menggendong Jimin. "Eoma!" Jimin memanggilnya lirih.

"Iya sayang. Kita akan ke rumah sakit."

Sedangkan para lelaki yang duduk di meja langsung lari mendekati Yoseob dan Jimin. Doojoon dan Yoongi yang sama-sama panik menarik Jimin bersamaan hingga gadis itu meringis, merasa sakit karena tangan kiri dan kanannya di tarik bersamaan.

"Yack. Apa yang kalian lakukan?"

Teriak Woozi marah karena kakaknya merasa kesakitan gara-gara kecerobohan dua lelaki yang sama-sama ingin menggendong Jimin. Mereka sama-sama minta maaf, kemudian Yoongi mempersilahkan Doojoon yang memiliki hak lebih untuk khawatir. Doojoon menggendong Jimin, dan mereka semua lari menuju mobil yang sudah siap di depan rumah mereka. Woozi yang juga mau ikut dicegah ibunya.

"Kau tak boleh terlambat ke sekolah, biar appa dan eoma yang ke rumah sakit. Kau juga Yoongi. Kau harus kuliah bukan?"

Woozi dan Yoongi diam dalam dilema mereka. Mereka ingin ke rumah sakit bersama Jimin untuk memastikan gadis itu baik-baik saja atau tidak, tapi Yoseob ada benarnya. Mereka harus pergi belajar. Ada ibu dan ayah Jimin yang jelas bisa menjaga Jimin daripada siapapun. Akhirnya mereka pasrah dan menuruti apa kata Yoseob. Mereka kembali ke dalam rumah untuk membawa tas mereka. Tak ada yang peduli dengan makanan karena mereka sudah tak selera lagi. Yoongi hanya merapikan saja, sementara Woozi berangkat duluan. Yoongi menghela nafas berat karena ulu hatinya merasa tak enak. Siapa yang tak khawatir jika kekasihnya sakit?!. Rasanya dunia jadi kacau terasa. Otaknya bahkan tak bisa digunakan selain memikirkan Jimin yang sedang sakit. Yoongi benci menjadi bodoh.

...

Jimin sakit, sekelas tau dari wali kelas mereka. Hanya Taehyung dan Jungkook yang tau kejadian hilangnya Jimin. Ia sedikit kehilangan Jimin di kelas. Pasalnya sekarang ada PR dan dia lupa karena semalam ia chatting dengan kenalan barunya, Jung Hoseok. Mereka bukan orang bodoh yang tak bisa mengerti kalau mereka saling tertarik satu sama lain. Tentu saja, Tae sedang sangat ingin kekasih seseorang yang lebih dewasa dan siapa sangka ia menemukannya dengan mudah. Ia terlalu senang memikirkan Jung Hoseok hingga lupa bahwa makan siangnya ia biarkan utuh karena serius dengan ponselnya. Ia terlalu terlena hingga ia tak melihat bagaimana teman-teman team cheernya memandang satu kelompok club yang sedang muram di meja pojok.

"Taetae!"

Panggil temannya sambil mencolek ponsel yang sejak tadi dimainkan gadis itu. Membuat si pemilik marah karena merasa terganggu.

"Weo?!~"

"Aku mendengar team temanmu kalah dalam lomba mewakili sekolah. Dipermpat final?!"

"Aku tak melihat peringkat terbawah club chart. Tapi aku yakin club dance menjadi loser sekarang."

Taehyung terdiam, ia bahkan lupa kalau group Jimin itu kalah dan itu memalukan bukan?!

"Aku juga sering melihat kau berpacaran dengan seorang nerd."

"WHAT?! NO!" Kali ini ia menampiknya. Demi apapun, itu tak akan mungkin terjadi. Bagaimana bisa ia berpacaran dengan nerd jika dekat dengan seorang nerd saja ia alergi. "Berita macam apa itu? Kim Taehyung dan nerd? Ini gossip paling murahan yang pernah aku dengar."

"Benarkah?! Kau sangat sering berdua kemana-mana bersama nerd pindahan dari sopa itu, kami fikir gosip itu benar."

"Dia hanya budak. Tentu saja budak akan selalu mengikuti dan mematuhi perintah tuannya."

"Benarkah?!"

"Tunggu! Kenapa aku merasa, kalian sedang mencurigaiku?! Apa kalian benar-benar berfikir aku berteman dengan dia?"

"Ania. Hanya saja, kami takut jika nama cheer akan ternoda gara-gara gosip yang mungkin bisa membuat popularitas kita menurun. Maksudku, Jika salah satu dari kita berteman dengan loser atau nerd itu bisa mengancam popularitas. Orang-orang akan berfikir kalau kita sama dengan mereka"

"Eewww" sebagian team cheer merinding mendengarnya.

"Jadi Kim Taehyung, apa kau benar-benar tak berteman dengan mereka?"

"Tentu saja tidak. Aku butuh nilai ok?! Itulah kenapa aku sering bersama Jimin, dan pria idiot berkacamata itu. Semua orang tau kalau dia budakku. Jadi kalau kalian ingin tau kebenaran, carilah gosip yang benar! Argh. Kalian merusak moodku dengan gosip murahan. Sekarang biarkan aku fokus dengan ponselku!"

"Apa ponselmu begitu penting daripada membahas tentang popularitas?!"

Taehyung menghela nafas kesal dan menatap teman-temannya jengah. "Aku sedang melakukan pendekatan dengan salah satu pria populer di kampus SIA. Dia mahasiswa baru kaya raya. Apa kalian baru saja membahas popularitas? Aku disini tidak membahasnya karena aku sedang mengejarnya."

"Kau berteman dengan anak kampus?"

"Daebak. Bagaimana kau bisa kenal mereka?"

"Apa kalian tau? Jimin anak club dance itu adalah kekasih dari mahasiswa disana. Dari sana aku mendapatkan kenalan dan kalian tau siapa pria yang aku dekati?"

"Siapa?"

"Dia adalah homematte Kim Namjoon. Putera sulung produser IBigHit. Management artis boyband yang belakangan ini menendang exo dari chart musik. Silahkan kalian buka google jika kalian belum tau seberapa popular management bernama IBigHit."

"Apa kau serius?"

"Apa kau baru saja meragukan Kim Taehyung?"

Syukur ia bisa berdalih. Beruntung Jimin tak seloser itu, hingga Tae bisa menemukan popularitas lain dari Jimin. Kalau Jimin benar-benar menjadi loser, ia akan dibuat malu dan akan kehilangan kepercayaan dari timnya. Lebih buruk lagi, ia akan dibully teamnya karena berteman dengan siswa kelas bawah. Mungkin ia akan sulit jika harus mengorbankan pertemanannya dengan Jimin. Karena ia dan Jimin berteman sejak lama, ia belum berani memusuhi Jimin.

...

'Apa kau fikir dengan menjadi nerd kau bisa mendapat gadis populer sepertiku? Apa kau fikir cinta naifmu itu nyata pada anak popular seperti kita? Kim Jungkook! Kau benar-benar naif.'

Itu adalah Kata-kata menyakitkan dari mantan kekasihnya. Ketika mereka putus dulu. Mendengar bagaimana ucapan Taehyung barusan, kini ia merasa mantan kekasihnya itu benar. Sangat benar, ia naif. Tapi entah kenapa Jungkook menjadi muak karenanya. Apa yang bisa anak-anak bodoh itu dapatkan dari popularitas? Mereka bahkan tak sekolah di sopa dimana popularitas adalah nafas mereka. Sayangnya, Jungkook bukanlah salah satu murid yang memiliki pemikiran yang sama. Ia tak butuh omong kosong itu semua. Ia memiliki ambisi yang bisa ia capai dengan cara lain. Jungkook fikir, mengembangkan talenta itu lebih penting daripada memikirkan cara instan menjadi popular lalu surut hanya karena tidak memiliki bakat. Jungkook hanya berfikir tentang idealisme, tentang bagaimana memiliki kualitas dalam setiap bakatnya. Itu yang ayahnya ajarkan. Jungkook tau popularitas itu penting, tapi yang lebih penting adalah image yang kau perlihatkan untuk popularitasmu. Kau bisa saja popular tapi bukan karena bakat dan kerja kerasmu melainkan karena sensasi yang kau buat. Maksunya adalah ia tak ingin menjadi bagian dari orang yang menyia-nyiakan bakat untuk sebuah omong kosong.

...

Jin menatap sebal salah satu artis yang muncul dengan lagu ballad di tv. Dia sedang mencuat. Kemunculanya menjadi viral karena wajah innocentnya. Salah satu host menyebutnya si lugu dan polos seperti bayi. Lalu cibiran reflek muncul dari bibir tebalnya.

"Cih lugu apanya. Tunggu sampai kebusukannya muncul di media. Apa kau akan menyebutnya polos lagi?!"

Ken melirik Jin dan melihat kemana arah Jin memandang. Ken kembali fokus dengan agendanya tanpa peduli sang wakil malah asik nonton tv bukannya membantunya.

"Berapa lama seorang pendatang baru bisa bertahan karena sikap sombongnya?"

Jin melirik Ken lalu mendekati sahabatnya itu. Ken memiliki mata yang bagus dalam melihat seorang public figur, dia memiliki mata tajam dan sangat sensitive terhadap popularitas. Sebuah mata yang biasanya dimiliki oleh seorang produser. Ken memiliki bakat itu, setiap artis yang diramalkannya selalu jadi nyata, entah bagaimana tapi Seokjin selalu dibuat takjub dengan keakuratan intuisi sahabatnya.

"Berapa lama dia akan bertahan?!"

"Entah. Tergantung seberapa pintar dia memanipulasi orang lain."

"Lalu bagaimana denganku? Aku sudah lama menjadi trainee tapi dia malah debut lebih dulu. Ck!"

"Salahmu fokus mengejar lelaki. Jin! Jika kau memang ingin debut. Cobalah menampakan dirimu dan cari muka di depan produser. Lalu fokus pada suaramu."

"Memangnya selama ini aku tak fokus melatih vocal huh?"

"Entahlah. Suaramu terdengar buruk belakangan."

"Apa kau mengatai aku?! Apa kau melihat aku tidak akan pernah debut?"

"Keluar saja dari manajementmu yang sekarang karena kau tak memenuhi kualitas artis mereka. Carilah management yang memiliki standar yang bisa membuatmu lebih terlihat berbakat."

"Apa kau fikir aku tak berbakah huh? Aku pernah mendapat pont tinggi di Imortal song dan kau bilang aku tak memiliki bakat?!"

"Jin! Kau berbakat tapi kau tak muda lagi. Banyak sekarang trainee baru yang memiliki bakat lebih. Maksudku kau harus pintar melihat peluang sebelum para trainee baru menginjak bakatmu."

"Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Kaukan punya Kim Namjoon. Kau juga pernah bernyanyi dibawah managementnya. Mungkin jika kali ini kau bisa lebih pintar dia bisa menjadikanmu visual gruop."

Sekelibat ide itu muncul. Kunci IBigHit paling dekat dengannya adalah Kim Namjoon. Ken benar, ia harus memanfaatkannya. Jin kembali membantu Ken sambil tersenyum evil memikirkan ide untuk membuat Namjoon tunduk padanya.

"Lunch!, benar! Aku harus mengajaknya makan siang bersama."

"Jangan menjadi nakal Seokjin. Dia bukan lawanmu."

"Kau yang bilang aku punya Namjoon yang bisa aku manfaatkan."

"Maksudnya hanya memperkenalkanmu pada ayahnya saja. Bukan mengencaninya."

"Bukankah jika aku jadi pacarnya akan lebih bagus?"

"Jin. Aku mohon. Aku berkata ini, karena aku menyayangimu."

"Arra! Aku tak akan mengencaninya."

"Ingat. Jaga jarak dan jangan sampai kau jatuh cinta padanya."

Jin sedikit takut dengan ucapan Ken yang terlihat serius. Pasalnya bagi Jin Ken selalu benar. Jika Ken sudah bicara serius maka itu pasti bisa menjadi hal yang benar. Tapi ia Kim Seokjin, lelakilah yang tergila-gila padanya. Bukan sebaliknya.

...

Dosen filsafat sedang menerangkan teorinya tentang keindahan dan Yoongi menyimak meski sedikit tak fokus. Jantungnya terus berdetak tak karuan karena rasa khawatir. Kekasihnya demam, sangat tinggi untuk ukuran demam biasa. Itu sangat menggangu fikirannya. Ia takut akan terjadi sesuatu hal yang buruk dan hatinya selalu menyangkal bahwa Jimin akan baik-baik saja. Itu salahnya karena tak menjaga Jimin dengan baik. Fikiran itu muncul lagi. Dimana ia menyalahkan dirinya sendiri. Tak seperti junior school dulu dimana Yoongi bisa menjaga Jimin bahkan dengan nyawanya, kali ini ia merasa payah. Harusnya ia selalu mengawasi Jimin, meskipun dari jauh. Harusnya ia datang ke backstage dan berkata padanya kalau tak apa teamnya kalah, Jimin sudah bekerja dengan baik. Tapi ia malah diam di dekat soundsistem dan menunggu makanan. Ia malah memikirkan perut laparnya daripada harus menemui gadis itu. Mungkin jika ia menghibur Jimin, gadis itu tak akan ke toilet sendirian dan mungkin itu semua tak akan terjadi.

", baiklah! Kita bertemu lagi minggu depan di waktu dan tempat yang sama."

Ucap sang dosen merapikan buku-buku dan laptopnya di podium dosen. Yoongi tadi masih melamun, tapi ia bisa sadar ketika ada mahasiswa yang bercanda dan terjatuh di dekat Yoongi. Orang itu meminta maaf tapi Yoongi tak menghiraukannya. Membuat si pembuat onar merasa tertersinggung. Mahasiswa yang tadi jatuh menggerutu membicarakan sikap dingin Min Yoongi. Tapi satu orang dari mereka diam, menatap pria pucat yang keluar dari kelas dengan kerutan di keningnya.

'Sepertinya aku pernah melihatnya.'

...

Filsafat adalah kelas terakhir Yoongi, jadi ia segera mengambil sepedanya lalu pergi menuju rumah sakit. Ketika ia melepas kunci sepedanya, panggilan telfon muncul dari ibunya. Ia mengangkaynya lalu menyambungkan bluetooth pada earphonenya, agat ia bisa mengayun sepeda sambil menelfon. Itu lebih efisien.

"Ne eoma!"

"Yoongi kau sudah pulang?"

"Ne!"

"Yoongi-ah!"

"Ne!"

"Eoma ingin bicara sesuatu denganmu."

"Apa itu? Katakan saja!" Yoongi mulai geram, ia tak pernah suka pembicaraan yang bertele-tele. Yoongi rasa ibunya sangat memahami sifatnya dan kali ini ia jadi kesal sendiri karena ibunya.

"Apa kau tau alat kontrasepsi?"

Yoongi sedikit berfikir dalam posisinya mengendarai sepeda. Bukan memikirkan apa itu alat kontrasepsi. Meski Yoongi belum memiliki isteri tapi Yoongi tau itu dari percakapan ibu dan ayahnya yang sering ia dengar. Itu alat atau obat untuk mencegah kehamilan. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, Kenapa orang tuanya menanyakan itu padanya?.

"Ne."

"Kau taukan alat itu berguna untuk mencegah kehamilan. Alat itu harus diganti secara berkala. Tapi namanya alat pasti terkadang ada kesalahan. Saat eoma menggantinya,"

Bak kekuatan cahaya, otaknya langsung bisa menyambungkan kalimat ibunya dari kata kunci kalimat sebelumnya. Alat pencegah kehamilan, alat ada kesalahan, ketika eoma dan semua jelas. Jika terjadi kesalahan maka eomanya bisa hamil. Seketika Yoongi berbelok ke kiri untuk memarkirkan sepedanya.

"Eoma berhenti bicara!"

"Sayang. Ini di luar kehendak kami."

"Eoma tidakkah ini gila?!"

Jinyoung yang mendengar respon puteranya hanya bisa diam. "Eoma aku tak pernah ingin memiliki adik dan bukankah kau juga bermasalah saat melahirkanku?"

"Eoma arra. Hajiman,"

"Eoma aku, ck bagaimana mungkin ini terjadi?!"

Melihat Jinyoung yang terpojok, Mark mengambil alih panggilan. "Kau tak bisa menyalahkan eomamu untuk ini. Ini murni kesalahan medis."

"Aku tak menyalahkannya, tapi apa yang akan terjadi jika eoma hamil lagi?! Apa yang akan terjadi pada eoma?! Dan jangan fikir meski aku sekarang sudah bersama Jimin lagi, luka yang kalian dulu berikan sudah sembuh."

"Yoongiah!"

"Gugurkan saja!"

"Jaga bicaramu!"

Yoongi menutup panggilan dan seketika kakinya lemas. Yoongi duduk di trotoar dan lupa akan Jimin yang sakit. Kabar macam apa yang datang dikala Yoongi resah seharian. Masalah adik, itu terjadi lagi. Membuat Yoongi kembali teringat masa depresinya. Yoongi selalu mendengar cerita buruk kakeknya tentang berapa sulit ibunya melahirkan Yoongi, belum lagi masa dimana ia dan Jimin berpisah. Yoongi depresi, bukan hanya karena dipisahkan dari Jimin. Tetapi karena ia merasa dihianati orang tuanya sendiri. Bagaimana tidak? Dulu mereka bohong padanya. Maksudnya, ia mungkin akan kecewa jika ia dipisahkan tapi yang lebih membuatnya kecewa adalah bagaimana cara orang tuanya memisahkan mereka. Membodohi mereka dengan taman hiburan dan memisahkan mereka. Membuat Yoongi tak memiliki kesempatan mengucapkan selamat tinggal walau sebentar. Itu terlalu kejam untuk anak kecil seperti Yoongi. Bahkan Yoongi tak bisa menghubungi Jimin. Bahkan Jimin juga tak pernah menelfonnya, Membuatnya berfikir bahwa kini mereka benar-benar berpisah. Membuat Yoongi kacau dan merasa dunia menghianatinya. Lalu kemunculan bayi Woozi yang membuat jarak diantara mereka merenggang. Ia dulu sangat membenci bayi yang sering disamakan dengannya. Bayi yang merebut perhatian Jimin darinya. Bayi yang membuatnya benci dengan yang namanya adik. Ia selalu takut, jika Yoongi memiliki adik, semua perhatian akan tertuju pada adiknya, seperti woozi yang dicintai semua orang. Itu memang masa lalu, kini ia sudah dewasa. Tetapi rasa sakit itu selalu ada, dimana ia takut cinta semua orang berpaling darinya, dimana ibunya mungkin bisa meninggalkannya jauh ke surga. Realistis saja, ibunya pernah hampir keguguran dan ia tak percaya mereka lupa. Atau mungkin mereka menjadi egois karena mereka ingin sekali memiliki anak lagi hingga lupa kondisi. Yoongi melihat panggilan di ponselnya, itu dari ibunya lagi. Tapi Yoongi mengabaikannya. Sampai sebuah pesan muncul.

"Eomma tau kau marah. Tapi kita tak akan tau kalau kita tak mencobanya dahulu."

Lihat itu, dugaan Yoongi benar. Mereka sudah sangat ingin memiliki bayi. Sebenarnya Yoongi tak peduli tentang rasa takutnya. Ia sudah dewasa dan bisa mencari uang sendiri jika orang tua mereka mulai fokus pada adiknya. Tapi bagaimana bisa mereka ambil resiko. Yoongi kali ini ingin bicara lalu menelfon mereka balik.

"Jika kalian masih tetap akan mempertahankannya. Maka jangan pernah ikut campur dengan hubunganku dengan Jimin."

"Apa maksudmu Yoon?"

"Aku dan Jimin pacaran. Kalian harus terima mau tak mau."

"Yoongi-ah jangan bercanda."

"Apa kau juga bercanda saat mengatakan bayimu?"

"Perhatikan bahasamu Min Yoongi."

Yoongi memutus sambungan lagi lalu ia kembali mengayun sepedanya dengan kesal. Sedangkan Jinyoung sudah melempar ponselnya ke meja.

"Anak macam apa dia?! Aaaarrggggghhhhh! Bahkan bicara dengan batu itu lebih baik. Menyebalkan sekali dia."

"Sayang kau sedang hamil. Jangan marah!"

"Dia menggunakan banmal padaku. Itu lebih dari kurang ajar. Siapa yang mengajarinya begitu?'

Mark melengos, tentu saja Jinyoung. Isterinya juga selalu tak sadar mengucapkan banmal ketika marah. Bukan hanya pada orang tua Jinyoung tapi pada orang tua Mark juga pernah. Sekarang anaknya menggunakan banmal, Jinyoung bertanya dari mana anaknya belajar. Yang benar saja.

...

DBD

Sepertinya, studio tari kemarin memang tempat yang jarang ditempati. Begitu laporan masuk dan khasus Jimin diselidiki. DBD bukan penyakit main-main di negara mereka. Petugas faksin langsung menuju tempat itu dan melakukan pembersihan area. SIA memiliki latar belakang hutan, tentu saja nyamuk akan lebih cepat berkembang di daerah lembab.

"Appo~!"

Suara rintihan lemah itu terdengar lagi. Gadis itu masih terbaring dengan suhu tubuh yang masih tinggi. Ini sudah kali kedua sang perawat mengecek keadaan Jimin. Pihak rumah sakit sangat serius menangani khasus puterinya. Memang DBD bukanlah penyakit main-main, mereka harus terus memantau kondisi Jimin untuk mencegah fase yang lebih buruk.

Yoongi masuk ke dalam dan melihat suster sedang memaksa Jimin minum air. Jimin terlihat malas dan menangis berusaha menolak meski sang perawat sudah membujuknya. Bahkan Yoseob tak bosan membujuk Jimin. Sebenarnya Yoongi tak tega melihat Jimin dipaksa seperti itu, tapi jika memang demi kesembuhan Jimin. Itu artinya harus. Perlahan Yoongi mendekat dan menggenggam tangan gadis itu.

"Jimin!"

Jimin masih bisa mendengar suara Yoongi. Ia ingin melihat oppanya tapi kepala dan matanya sakit. Ia hanya bisa memejamkan mata lagi. Seumur hidup Jimin, baru kali ini ia sakit hinga tak seenak ini. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan panas. Bahkan bicara saja susah, sekarang ia dipaksa minum padahal ia sangat sulit menelan. Ia hanya ingin tidur, tapi perawat terus membangunkannya.

"Sekali lagi ya sayang!"

Suara asing itu terdengar lagi, terdengar lembut namun menuntut. Jimin hendak meolak sebelum tangannya terasa terangkat dan dicium. Itu bukan eomanya, Jimin tau eomanya di sampingnya, mengelus kepalanya. Maka satu-satunya orang yang mencium tangannya adalah orang yang tadi memanggil namanya dengan suara yang berat. Itu Min Yoongi, kekasihnya.

"Hanya sedikit lagi. Kau bisa Jimin-ah!"

Seolah sihir, keegoisan Jimin untuk tidur hilang. Ia akhirnya menyedot air putih dari sedotan yang ada di dekat mulutnya. Ia meneguknya dengan baik, sedikit lebih banyak dari permintaan sang perawat. Entah kenapa Jimin sangat merasa nyaman ketika tangannya di kecup seperti yang Yoongi lakukan. Itu sedikit mengurangi rasa sakitnya. Orang tua Jimin yang melihat itu hanya bisa terpaku. Adengan macam apa tadi. Yoongi mencium tangan puterinya dengan lembut seolah memberi kekuatan pada puterinya. Mereka tau Yoongi dan Jimin sangat akrab tapi melihat mereka yang sudah tumbuh dewasa. Itu terlihat sedikit, beda. Bukan beda yang buruk, tapi perbedaan yang bagus. Dari dulu juga otak mereka sudah teratur mengenai Jimin dan Yoongi. Kedua anak itu seperti dua kubu magnet yang saling melekat. Seolah mereka itu di takdirkan bersama. Jika mereka bisa memilih, memang Yoongilah pria yang paling tepat untuk puterinya. Yoongi sangat mengerti puteri mereka dan Jimin begitu membutuhkan Yoongi. Hubungan yang sangat intim itu, terkadang membuat mereka iri. Sebagai orang tua, harusnya Jimin lebih bergantung pada mereka, menyebut namanya ketika sakit. Tapi bagaimana puterinya menganggap Yoongi nafasnya. Dulu Jimin lebih sering memanggil oppa daripada eoma. Tentu mereka tau oppa mana yang Jimin maksud.

Riiing riiiing riiing

Suara dering telfon sedikit mengganggu Jimin yang hendak tidur. Itu ponsel Yoseob, ia segera keluar kamar Jimin agar tak menggangu puterinya.

"Jinyoung-ah!"

"Eoni! Apakah itu benar?!"

"Maksudmu Jimin? Ya dia sakit. Dia terkena DBD."

"Mwo?! Bagaimana bisa?"

Jinyoung yang kaget, sampai lupa dengan masalah yang awalnya ingin ia tanyakan. Jimin DBD dan itu buruk. Ia mendengar seksama keterangan Yoseob mengenai kejadian Jimin yang terkunci dalam ruang dance dan Yoongi menyelamatkan puterinya. Seperti hero, seperi dulu saat Yoongi melindungi Jimin karena dibully. Melihat bagaimana Yoongi melindungi Jimin. Ibu mana yang tak ingin punya menantu seperti itu?! Yoseob yang terlena bahkan mengeluarkan kata menantu pada putera Jinyoung begitu saja.

"Jadi kau sudah tau kalau mereka pacaran dan kau menyetujuinya? Kau juga tak memberitahu kami?"

"Apa? Tunggu. Apa maksudmu? Aku aku tak mengerti."

"Mereka Jadian dan eoni yang tau tak memberitahuku."

"Yach siapa yang tau dan siapa yang tak memberi tahu? Apa kau serius? Darimana kau tau mereka pacaran?"

"Yoongi! Tunggu, kenapa malah eoni yang bertanya?"

"AAAAAA!," Yoseob membekap mulutnya untuk meredam teriakannya ", aku tak tau mereka jadian. Bagaimana aku bisa tak menyadarinya. Omo omo ini kabar baik."

"Apa kau tak khawtir? Jimin masih di bawah umur."

"Eeeeyyyy! Mereka itu pacaran bukan menikah. Kau ini hidup dijaman apa Min Jinyoung? Ini 2017 dimana pacaran itu sah bagi anak sekolah. Kau khawatir seperti mau menikah saja."

"Bukan itu, aku hanya khawatir puteraku akan, kau tau dia itu kuliah dan usianya sebentar lagi 20."

Seketika Yoseob diam. Benar! Yoongi akan melewati masa pendewasaan dan Jimin masih dibawah umur. Jika mereka pacaran, maka Jiminlah yang harus membantu Yoongi dalam fasenya. Tapi, apa Yoongi akan melakukannya pada Jimin? Sebenarnya ia akan rela puterinya ia serahkan pada Yoongi. Hanya saja, usia Jiminlah masalahnya. Jimin belum legal. Dia baru memiliki kartu penduduk kemarin. Bagaimana mungkin itu terjadi.

"Apa kau tak percaya pada puteramu sendiri?!"

Splash! Kata-kata Yoseob membuat Jinyoung merasa ada yang menyiram air pada wajahnya. "Eoni!"

"Aku ada disini mengawasi mereka. Lagipula Yoongi anak yang baik dan pintar. Aku percaya dia tidak akan melakukannya pada Jimin. Untuk Yoongi, aku akan memintanya bersabar untuk puteriku. Aku yakin dia mengerti."

Jinyoung menundukan kepala. Merasa gagal sebagai orang tua. Ia malu pada Yoseob yang begitu percaya pada Yoongi dan mengerti Yoongi. Padahal ialah orang tuanya. Ialah yang seharusnya percaya pada puteranya sendiri. Jika Yoongi mendengar ini, Jinyoung yakin puteranya itu akan kecewa padanya.

"Maafkan aku eoni. Kau benar. Sebagi orang tua harusnya aku percaya pada puteraku."

"Berhentilah mencintai puteramu dengan sifat kerasmu. Dia jadi mewarisi sikap dingin kalian padahal dulu dia anak yang cerewet."

"Maaf! Ah! Satu lagi!"

"Weo?"

"Aku sedang mengandung"

"Apa?" Lagi lagi Yoseob berteriak bahagia. Entah Yoseob itu terbuat dari apa, ia selalu mampu memandang segalanya dengan positif.

"Entah ini baik atau buruk. Yoongi membencinya. Itu membuatku ragu."

"Yah. Bagaimana bisa kau meragukan anugerah yang Tuhan berikan?"

"Mark juga bilang begitu. Tapi, Yoongi bersikeras. Dia takut aku akan kesulitan seperti saat aku melahirkannya."

"Itu karena dia mencintaimu. Dia takut dan khawatir padamu."

"Aku tau. Tapi ini membuatku jengkel. Dia bahkan meneriakiku dengan banmal."

"Benarkah?"

"Apa eoni percaya itu?!"

"Aku percaya."

"Sepertinya eoni lebih mengerti sifat puteraku. Aku bahkan tak percaya dia bicara banmal padaku."

"Seperti aku tau sifatmu dan Mark. Tentu saja mudah bagiku mengenali sifat Yoongi. Kau fikir darimana anak meniru kalau bukan dari perilaku orang tua mereka?!"

"Apa eoni sedang menyinggungku? Hey!"

"Lihat! Kau tanpa sadar marah dan meneriakiku? Kau juga sering marah dan menggunakan banmal pada orang tua bahkan mertuamu. Jadi jika Yoongi meneriakimu. Bukankah itu wajar."

"Jadi ini semua salahku?"

"Ha ha ha entahlah, hanya saja beri dia waktu. Lambat laun, jika diberi pengertian. Anak itu akan menerima semuanya."

Lagi lagi sahabatnya itu memberinya nasehat yang benar. Jinyoung memang tak sabaran hingga selalu bicara tanpa berfikir, bahkan Markpun sama buruknya. Dia hanya akan diam dan memaksakan kehendak. Kadang heran bagaimana orang keras kepala dan dingin bisa menjalani hubungan yang bertahan lama.

.

.

.

Tbc

.

.

pas liat BTS Run 19. Saat main bowling. aku melihat hal yang tidak biasanya.

Yoongi itu kalau ada yang bikin teamnya kalah dalam permainan selalu kecewa. kaya Jungkook yang dia tendang karena gx becud main bola, lalu tae yang ia cuekin karena payah main bola di bts yg lupa eps berapa. kemarin-kemarin Yoongi dan Jimin aura permusuhannya juga kental banget.

Tapi

kemarin, saat Jimin gx bisa kasih poin, suga ngasih suport dan bilang dia udah melakukannya dengan baik. lalu saat Jimin masukin bola bowling dan nambah rekor. ini viral banget. ada hobi yang lebih dekat ama chim tapi chim, matanya tertuju pada Yoongi dan bersandar di pelukan hyungnya.

rasanya, aku kembali bernafas. mereka macam CLBK. atau saling rindu dan ingin berpelukan lagi setelah sekian lama.

T-T aku sampai terharu.

.

Btw Yoo juga lagi kepanasan menunggu bst Japanese ver. semoga ada adegan Yoonmin yg lebih kinky.

maksudku IBigHit gx mungkin kecewain Yoonmin shipper setelah mereka terang terangan bikin Yoonmin jadi official couple setelah vhope, iyakan?