Chapter 6k+ words ini spesial Aya publish untuk kalian yang setia menodong update via review kemarin, sms, bahkan di Twitter juga *ditebas* dan Aya sempat melting ketika melihat jumlah review yang menyentuh poin 50 dan kalian sempat menangis sedih karena ditipu author jengkelin satu ini di chapter kemarin u,u *peluukk* tenang saja, Sasuke masih hidup ko *munculin Sasu-beib*

Ini balasan review untuk kalian yang tidak login:

Kireyreikha: sip, ini sudah update.

INAI CHAN: phew, lemon? Hn, Aya juga suka bagian itu (?)

Aoi Ciel: *menganga baca review panjang dirimu* kekekkeke, iyaiya ga FIN ko, kemaren itu cuma lelucon kacangan Aya saja pengen ngagetin readers yahaha selamat kamu masuk super trap :D ngomong-ngomong Sai, dia akan muncul lagi di chapter 11. Silakan ditunggu!

Sasu4Saku: A-Aku jahat...? Yah begitulah, maklumi saja aku ini titisan dari Hueco Mundo *apadeh* Sasu masih hidup ko, dan di chapter ini akan kujelaskan siapa yang membawa Sakura ke hotel malam itu.

SuntQ: lanjut? Ini sudah, say :) epilog? Bikin ga yaaa? Hmmm *ngeselin mode on*

Chiaki Katsumata ga login: khhhh ahaha korban penipuan Aya lagi, nih xD gomen ne, aku akan menghidupkan kembali Sasuke dengan rinnegan Pein di chapter ini!

Javanese Konoha: Yosh, sudah di update. Happy reading n review :3

SakuraBELONGtoSASUKE: iya Sasu emang ngerjain Saku, bukan aku kan yang ngerjain reader? ^o^ nih update

4everAY: terima kasih sudah baca fic ini *hug* idemu akan kupertimbangkan untuk kumasukkan dalam sekuel :) thanks for double reviewnya hehe

Jean: ini udah update, cepet ngga sih?

ihiy: apa? SANGAT suka? Cetar membahana badai sekali dirimu, ahahaha. Yosh, happy reading again ya...

Oke, buat yang login silakan cek PM-nya. Daripada gue kebanyakan cingcong juga, langsung aja dibaca chapter 10 ini. Warning: anak kecil diharap segera pencet back!

.

.

.

.


Previous Chapter :

Sakura merasa sangat konyol, jadi dia dibawa oleh Polisi semalam? Oh, ini sangat sangat sangat memalukan. Akhirnya ia menyingkirkan piring sarapan dari pangkuannya karena jengkel, tapi pada saat itulah… Sakura merasakan déjà vu. Terdapat secarik kertas kecil di bawah piring tersebut.

DEG!

Yang seperti ini… tentu pelakunya hanya satu orang. Ragu-ragu ia melihatnya, dan Oh Tuhan… demi Hatake Kakashi yang menyatakan kalau Sasuke sudah meninggal, kata-kata yang tertulis di atas kertas itu nyatanya sukses membuat mata Sakura membelalak kaget setengah mati.

Apa-apaan ini?!

.

.

.

'Selamat pagi matahariku. Sudah puas mengigaukan namaku semalaman?'

.

.

.

.


"Apapun akan kulakukan untuk menebus kesalahanku padamu sekalipun tubuhku harus menahan sakit. Karena kau adalah satu-satunya yang tidak ingin kukecewakan di dunia ini."


.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

The One and Only

A Naruto Fanfiction by Asakura Ayaka

Chapter 10 : Uchiha Sasuke's Orders

.

.

.

.

Delapan jam sebelumnya…

.

.

.

.

Bruk!

Sasuke menutup pintu mobil Kakashi rapat namun tidak terlalu bertenaga. Bukannya lemah atau apa, ia hanya tidak ingin mengganggu tidur wanita dalam lengannya ini.

Haruno Sakura, baru saja diselamatkan Uchiha Sasuke dari jeratan sanksi yang akan diberikan New York City Police Department (NYPD) terkait pelanggaran yang ia lakukan; mabuk berat di tempat hiburan tengah malam dan tidak membawa kartu identitas lengkap. Sasuke membuka jaket hitamnya dan menyelimuti Sakura agar tak menjadi bahan tontonan Kakashi di depan. Karena pria itu terus saja melirik spion atasnya guna melihat Sakura yang terduduk di jok belakang.

"Berhenti melihatnya." Sasuke mengusapkan telapaknya pada wajah Sakura yang tertutup helaian rambut acak-acakannya.

"Heh, lucu sekali kau ini...," Kakashi mengembuskan tawanya pelan, "kau yang memintaku berbohong padanya. Sekarang apa? Setelah berpura-pura mati kau akan membawanya ke hotel? Tugasmu belum selesai, Agent SS-1. Kita masih punya urusan di Washington D.C."

"Akan kuurus besok pagi. Dia lebih penting." Kini dagu hasil perpaduan bentuk rahang tegas itu berlabuh dengan halusnya di kening Sakura. Sasuke mengeratkan apitan lengannya pada bahu kekasihnya, dan insting bawah sadar gadis itu meresponnya dengan begitu kuat—ia pun semakin melingkarkan lengannya di perut Sasuke.

Kakashi yang merasa sebagai orang ketiga pun terus menggeleng konyol atas semua ini, ia menghentikan mobilnya tepat di depan hotel yang sebelumnya Sasuke sebutkan namanya. Tanpa mengucapkan terima kasih ataupun pamit pada atasannya, Sasuke segera membawa masuk Sakura dan memesankannya kamar. Sebenarnya bisa saja Sasuke membawa Sakura pulang ke rumah orang tuanya tapi mengenal sifat Jiraiya yang kelewat protektif, pastilah nanti Sasuke bakal terkena caci makinya di depan pagar jika mengantar Sakura pulang tengah malam dalam keadaan sedemikian rupa.

"Kau benar-benar merepotkan."

Srrukk!

Dua kaki Sakura tidak bisa lagi diseret Sasuke untuk berjalan. Tubuh mungil itu ambruk total tepat di samping lelaki pujaannya yang lagi dan lagi harus berdecak kesal melihatnya seperti ini. "Aku baru saja sembuh, Nona Pemabuk. Dan kau memaksaku menggendongmu sampai kamar?" Secara kata-kata Sasuke memang merutukinya kasar, namun ia tetap menggendong gadis itu hingga memasuki kamarnya a la bridal style, seperti biasa.

Lampu kamar itu menyala otomatis saat langkah berat Sasuke mulai menapaki lantai dinginnya. Dengan penuh kehati-hatian lengannya membaringkan tubuh Sakura di kasur yang dihiasi kelambu berwarna lavender ini. Mata onyx-nya tak bisa berhenti menatap wajah Sakura yang memerah karena pengaruh alkohol, ia sadar kali ini gadisnya sudah kelewat batas. Sebegitu tersiksanya kah dia dengan berita kematian Sasuke? Padahal Sasuke menganggap ini akan menjadi kejutan menyenangkan, tapi ternyata selera bercandaannya itu sama sekali tak berkualitas.

"Maaf… kau terlalu lama menungguku." Sasuke memainkan telunjuknya pada wajah Sakura yang sedang berbaring sejajar dengannya. Dan tiba-tiba saja, namanya terpanggil dengan begitu serak.

"Sasuke-kun…"

Sudut bibir pemuda Uchiha itu melebar sesaat, lalu beralih ekspresi menjadi terkejut saat iris emerald di depannya terbuka beberapa millimeter. Entah saat itu Sakura sedang bermimpi atau apa, ia langsung menerjang Sasuke di sampingnya dengan pelukan.

"Hei… tidurlah." titah Sasuke berusaha menenangkan gerakannya yang tiba-tiba.

"Sasuke-kuuun…" erang Sakura lagi. Sekarang gantian Sasuke yang dibuat tak berkutik. Sakura perlahan merayap naik ke atas tubuh pasangannya yang pernah merengkuhnya di atas ranjang itu. Sasuke masih tak bertindak apa-apa saat Sakura membuka lilitan ikat pinggang diluar dress-nya sendiri yang dengan cepat dilemparnya asal ke belakang.

'Mau apa dia?'

Trak!

Sasuke melirik, ikat pinggang itu jatuh menggantung di atas LCD Plasma TV yang berada di depan kasur mereka. "Sakura, turunlah... fisikku masih terlalu kaku untuk digerakkan, apalagi untuk memangkumu seperti ini." Sakura tak menggubrisnya, atau bahkan tak mendengar ucapannya sama sekali. Ia justru menyerang Sasuke mendadak dengan ciumannya yang intens. Ah ya… sekalipun ciuman ini tergolong panas, Sasuke tahu betapa sedihnya gadis ini merindukan sentuhannya.

Hatinya serasa berdesir dengan perlakuan Sakura yang sarat akan rasa terluka, karena ia bisa merasakan hangatnya air mata sang kekasih yang turut membaur di pipinya. Dan lagi, Sasuke merasa tersiksa dengan bau alkohol yang menguar hebat dari rongga mulut manusia di atasnya ini.

"Sakura, hentikan. Aku—mmh…" lagi-lagi bibir ranum itu mengeksploitasi apa yang tersuguh di depannya. Baik, tidak ada salahnya memberikan apa yang Sakura inginkan sekalipun gadis itu melakukannya diluar batas kesadaran. Sasuke mengeratkan pelukannya pada punggung dan perpotongan pinggul Sakura, memberikan sentuhan khasnya yang selalu dirindukan gadisnya selama ini. Sepasang bibir itu kini saling memagut dan melumat dalam-dalam, melampiaskan hasrat mereka yang terpendam jauh.

'Kenapa dia jadi seagresif ini?' Sasuke membatin dalam kegiatannya. Baru kali ini Sakura menciumnya dengan begitu nikmat, Sasuke harus mengakui itu. Bibir yang biasanya tenggelam dalam permainan Sasuke itu kini sukses mengimbangi aduan mulut lawan mainnya. Suara-suara decapan lidah mereka tak lagi terhindari dengan baik, tangan Sasuke bahkan sudah bergerilya kemana-mana meraba bagian tubuh Sakura yang halus. Untuk Sakura sendiri, jangan ditanya. Dia terus memperdalam ciumannya sambil sesekali mengacak rambut-rambut kepala Sasuke diiringi isakan tangisnya yang pedih.

'Sial! Dia benar-benar ingin aku memberinya lebih.' Dengan sedikit paksaan, Sasuke menjauhkan kepala Sakura darinya. Ia bisa mati kehabisan oksigen jika terus seperti ini. Sakura menundukkan kepalanya tak memandang Sasuke, selang beberapa detik kemudian ia kembali ambruk dan melanjutkan tidurnya dalam posisi yang belum berubah, masih di atas dada bidang kekasihnya.

"Hahh…" Sasuke bersyukur Sakura bisa kembali terlelap. Ia membelai surai lembut merah muda itu penuh sayang, lalu kembali membenarkan posisinya seperti awal. Bibir Sakura terus meracaukan nama Sasuke di sela-sela tidurnya yang gelisah, bahkan ia masih meneteskan air matanya—pemandangan yang paling Sasuke benci seumur hidup. Sasuke tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menenangkannya, ia hanya bisa memeluk, mengusap, dan menjadikan dirinya pelampiasan kegusaran tangan Sakura malam ini.

"Aishiteru, Sasuke-kun…"

.

.

#####

.

.

Keesokan pagi harinya, Sasuke terpaksa bangun karena dering ponselnya sendiri yang hampir saja mengganggu tidur Sakura. Pagi-pagi begini dia harus mengurus laporan akhir misinya ke markas pusat di Washington. Sasuke melihat sosok wanita di sampingnya, dia masih saja tertidur pulas. Punggung telunjuknya menyempatkan diri untuk menelusuri garis rahang Sakura sebelum menciumnya singkat.

"Selamat pagi, tukang tidur…" bisiknya sepelan mungkin.

Sasuke mencoba bangkit dari kasur dan memutuskan untuk pergi saat ini juga. Namun begitu melewati cermin lemari di sampingnya, ia tersenyum geli melihat penampilannya sendiri yang sangat acak-acakan. Bajunya kusut akibat remasan tangan Sakura sepanjang malam, rambut raven-nya kian mencuat kesana kemari tatkala Sakura senang menjambaknya saat berciuman.

Setelah mandi dan merapikan dirinya sendiri akhirnya Sasuke kembali memakai jaket hitamnya dan mengambil kotak memo yang berada di atas buffet kamarnya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan pada Sakura, ia menuliskan beberapa diantaranya lewat memo-memo tersebut. Dengan cekatan ia menempelkan kertas-kertas mini tadi, dan sekali lagi memberikan Sakura morning kiss hangatnya sebelum benar-benar pergi keluar.

.

.

#####

.

.

SAKURA POV

Aku… tidak bermimpi, 'kan?

Tanganku bergetar memegang kertas memo di tanganku ini. Sasuke-kun, benarkah kau yang menuliskan ini di bawah piring sarapanku? Kalau iya, apakah itu berarti kau masih... masih hidup? Apa kau menganggap semua ini leluconmu?

"….."

Kurang ajar! Berani sekali kau hilang dan muncul seenaknya tanpa sepengetahuanku!

'Selamat pagi matahariku. Sudah puas mengigaukan namaku semalaman?'

Mataku masih terpaku pada deretan delapan kata dalam kertas itu. Kuteliti semuanya, mulai dari tulisan hingga bentuk memo kecil ini. Meskipun sudah berbulan-bulan aku tidak melihatnya menulis, tapi aku masih ingat tulisan tangan Sasuke-kun seperti apa. Sasuke-kun adalah tipe yang hobi menulis dengan huruf kanji rumit dibandingkan memakai huruf hiragana. Masih percaya-tidak percaya, aku membalik kertas itu dan... ada tulisan lagi.

'Sekarang bukalah jendelamu.'

Aku melirik pada jendela kamar hotel ini yang masih setia tertutup gorden berwarna merah bata. Mungkinkah Sasuke-kun bersembunyi dibalik gorden? Hey, itu terlalu kekanakan!

Sret!

Ouch! Cerahnya matahari sangat menusuk mataku saat ku membuka gorden ini tanpa sabaran. Alis-alisku berusaha menyatu menahan silau. Di jendela besar itu, tertempel satu memo lagi. Apa lagi sekarang?

'Jika kau menatap lurus ke depan, kau akan menemukan Central Park Manhattan yang hijau. Aku akan menunggumu di sana.'

Kuturuti petunjuknya, menatap lurus ke depan. Astaga… sebenarnya ini dimana? Aku baru sadar view dari jendela kamarku ini begitu tinggi dan aku bisa melihat hamparan metropolitan se-New York dengan gedung-gedungnya yang saling berbalapan menggapai langit. Dari sini aku melihat jelas Central Park Manhattan yang luas. Tunggu, butuh berapa lama waktu untuk menyusul Sasuke-kun ke sana? Bagaimana kalau dia sudah menungguku daritadi?!

Aku berbalik cepat dan mencari-cari jam dinding, itu dia! Pukul 08.45. Dan asal kalian tahu, ada… errrrr—secarik memo lagi di kaca jam itu. Sasuke-kun, apa kau punya indera keenam? Bagaimana bisa kau memprediksi setiap gerakanku dengan akurat?! Apa ini salah satu hasil pelatihan FBI-mu juga? Oh nanti saja kutanyakan, karena sekarang aku sedang melompat-lompat dengan bodohnya berusaha mencabut memo di jam itu. Gotcha!

'Tidak perlu buru-buru, Nona. Saat kau membaca ini aku pasti sedang berada di Washington D.C. Nikmatilah dulu seluruh layanan kamar hotel termewah di New York ini. Jangan sia-siakan uangku.'

Ap-Apa?! Kamar hotel termmmewah? Aku sampai melotot membacanya. Masih tidak percaya, aku segera menyambar kalender hotel yang tersedia di atas buffet. "The Plaza Hotel…" gumamku membacanya. Lalu kamar yang saat ini kutempati adalah … "R-Royal Plaza... Ssssuite?"

Tidak mungkin—ini bahkan kamar termahal di seluruh Amerika.

"Kau pasti sudah gila, Sasuke-kun!"

.

.

#####

.

.

Dag dig dug...

Dag dig dug...

Detak jantungku masih tetap berirama tak karuan, dan sedikit kaget ketika tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku langsung berdiri dan membukanya, ada wanita pirang cantik di sana yang mengatakan "Room Service" lengkap dengan meja dorongnya. Aku masih juga ternganga saat wanita itu menawarkan berbagai macam layanan dalam bahasa Inggris, termasuk memandikanku dengan berbagai pilihan aromatherapy. Hm, aku menolaknya. Aku bisa mandi sendiri.

"Someone asks me to give this to You, Miss Uchiha."

What?! M-Miss Uchiha? Astaga, rasanya wajahku menghangat seketika mendengarnya. Ragu-ragu tapi mau jariku meraih kertas yang diberikan wanita itu. Lagi-lagi, itu tulisan Sasuke-kun.

'Gunakan aromaterapi yang enak karena aku ingin menciumnya langsung dari tubuhmu nanti. Jangan lupa bersihkan dirimu dengan benar, terutama daerah selangkangan.'

Bluussshhh!

Dasar frontal messsuuuum! Untunglah si bule pirang ini tidak mengerti kanji! Bagaimana kalau ada orang lain yang baca, heh?!

Tanpa babibu lagi aku mulai memilah-milih wewangian aromatherapy yang pas. Kalau dilihat dari kalimat Sasuke-kun barusan, pastinya dia ingin wangi yang seksi, bukan? Jadi tidak mungkin aku memilih aromatherapy rasa black pepper untuknya. Nona housekeeper itu tampaknya mengerti kebingunganku, dia menawarkan pilihan wangi rose, patchouli, dan jasmine yang—katanya—aromanya bisa membangkitkan gairah dan menambah nilai sensualitasku sebagai wanita. Benarkah?

Pilihanku lalu jatuh pada aromaterapi yang kedua. Aromanya kuat dan menenangkan, persis seperti kepribadian Sasuke-kun...

Hey! Kau berhutang banyak penjelasan padaku setelah ini, Uchiha! Kuulaskan senyum ramahku pada housekeeper tadi dan dia langsung keluar kamar setelah selesai menyiapkan air mandiku. Tidak kusangka... Sasuke-kun akan memberiku special service pagi ini, dan jangan bilang dia juga mengharapkan balasan special service dariku nanti malam!

Kakiku melangkah masuk ke kamar mandi super mewah itu. Ukurannya besar dan hampir semuanya bernuansa golden, termasuk bathtub Jacuzzi yang dipenuhi apungan kelopak bunga mawar ini. Jari-jariku mulai membuka resleting belakang dress yang masih kugunakan sejak semalam, aku melepaskan semua pakaianku dan melangkah masuk ke bathtub untuk berendam di dalamnya. Ah… tidak ada hal yang lebih menenangkan wanita selain berendam seperti ini.

'Hmm... apa itu?'

Tanganku menjulur ke pinggiran bathtub bermaksud mengambil sesuatu yang terlihat menempel di sana. Hampir saja kertas itu jatuh ke dalam air jika aku tidak menangkapnya cepat. Aku pun membacanya, "Tenang saja, aku menyewa kamar ini untuk dua malam. Kau masih punya kesempatan untuk berendam bersamaku. Ngomong-ngomong… kita belum pernah melakukannya di dalam air, bukan?"

Cih... dasar, senang sekali dia menggodaku seperti ini! Melakukan apa? Mandi? Bercinta? Atau sekaligus keduanya? Aku tidak takut denganmu, Sasuke-kun!

Srak srak srak srak!

Kurobek-robek tanpa ampun kertas mini itu—masih kesal—akibat kebohongan besarnya. Begitu helaian kecil-kecil itu jatuh ke permukaan air, aku langsung menginjaknya sekuat tenaga hingga air dalam bathub ini bermuncratan ke atas. Masa bodoh mau menganggapku gila atau apa. Apa maksud dia pura-pura mati? Ingin melihatku menangis, eh? Akan kubalas dia, lihat saja, Uchiha! Kau akan menyesali perbuatanmu sendiri. Sedikit-sedikit aku menampilkan seringaian nakalku, kejutan apa yang harus kuberikan pada si pantat ayam itu nanti, hm?

.

.

#####

.

.

Setelah mandi mewahku selesai mataku lagi-lagi menemukan surprise. Di kasurku saat ini terdapat selembar pakaian baru yang cantik dan berukuran pas dengan tubuhku. Pasti Sasuke-kun yang mengirimkan blouse chiffon berwarna cyan gelap ini. Well, kuakui dia memang punya selera yang tinggi dalam urusan pakaian. Aku mencoba memakainya, model terusan selutut begini adalah satu yang menjadi favoritku. Tidak terlalu terbuka tapi masih meninggalkan kesan feminim. Aku tersenyum sendiri melihat pantulan bayanganku di kaca. Ah tidak, lebih tepatnya lagi karena dia juga menempelkan secarik memonya di cermin ini.

'Kau hanya boleh pergi dari sini jika sudah benar-benar cantik. Jangan kecewakan aku.'

"Siap, Mr. Uchiha. Tunggu aku dan jangan banyak bicara."

Entah kenapa jantungku berdebar kencang saat aku mulai memoles wajahku dengan make-up seadanya yang kubawa di tas. Rasanya seperti kencan pertama dengan pacar pertama, aku merasakan ketegangan dan spekulasi aneh-aneh seputar dirinya yang berputar di otakku. Yap, selesai, terakhir tinggal memakai parfum saja.

Ah tidak-tidak, tidak perlu. Kulitku masih cukup wangi berkat berendam dengan minyak aromaterapi barusan.

Dua tanganku segera membereskan semua barang-barangku dan memakai sepatu sebelum keluar dari kamar ini. Di sepatuku pun, laki-laki satu itu sempat menempelkan memonya lagi. Selamat, Sasuke-kun. Kau berhasil membaca seluruh gerakanku pagi ini.

'Hati-hati di jalan.'

.

END SAKURA POV

.

.

#####

.

.

Bermodalkan tumpangan taksi yang lewat, kini Sakura sudah sampai di tempat yang dijanjikan Sasuke untuk bertemu. Sakura menilik jam tangannya sendiri, ini sudah pukul sepuluh lewat. Central Park Manhattan merupakan tempat yang jauh dari kata sepi di jam-jam segini. Sakura berkali-kali celingukan mencari Sasuke, dimana si pembual itu?

"Sasuke-kun baka! Taman kota ini terlalu luas untuk bermain petak umpet!" Sakura meracau sendiri dengan bahasa jepangnya. Ia berjalan kemana-mana menelusuri padang rumput, jembatan, danau, arena ice-skating, picnic area, hingga sekarang dirinya terduduk pasrah dibawah pohon rindang. Capek berkeliling.

Drrrt drrrrt drrrrt

Ponsel dalam tas jinjingnya bergetar, Sakura langsung membaca cepat pesan yang baru masuk itu. Nomor tak dikenal?

'Aku tahu kau sudah sampai. Kau tidak perlu mencariku, karena aku akan selalu menemukanmu.'

Telat, Sasuke. Gadis ini bahkan sudah kelelahan mencarimu kesana-kemari. Sakura nampak makin celingak-celinguk ke kanan kiri demi menemukan keberadaan Sasuke. Namun gerakan kepalanya terpaksa berubah haluan saat satu pesan masuk lagi dalam ponselnya.

'Mau sesuatu yang manis? Kau bisa menemukannya di salah satu picnic table di dekatmu.'

Ehm… Sakura penasaran dengan kejutan satu ini. Ia beranjak mendekati picnic table kosong di depannya, di meja itu terdapat sebuah keranjang piknik yang isinya lengkap dengan taplak meja, cemilan, permen, sandwich, dan air minum—khas orang berpiknik. Dahi Sakura refleks mengernyit heran, 'yakin keranjang ini bukan punya orang lain?' dan tak lama ia merasakan getaran di ponselnya lagi, itu pasti Sasuke.

'Bukan yang itu, bodoh. Meja sebelahnya.'

Oh… sial maha sial, Sakura memang dipermainkan. Giginya sudah menggeratak tak sabaran dan menghampiri picnic table sebelahnya lagi. Tapi... ia tidak jadi marah, sebaliknya rona wajahnya langsung bersemu merah saat melihat apa yang ada di atas meja itu. Terdapat setangkai bunga mawar yang dibalut plastik transparan beserta greeting card-nya. Sakura membaca tulisan dalam greeting card itu.

'Let's have a great sex tonight, baby.'

Jegeeeeerrrr!

"Tch, hentaaaai!" Sakura menggebrak keras meja itu dan memutuskan untuk duduk di bangkunya saja. Ia benar-benar seperti orang bodoh disini sendirian. Kembali dilihatnya greeting card tadi. Ternyata ada sebuah ralat di bawahnya, 'Just kidding. But if you want it seriously, it's my pleasure.'

Cih! Ternyata intinya sama saja. Buat apa diralat kalau begitu? Kesal dengan permainan teka-teki ini, Sakura segera membalas pesan Sasuke menggebu-gebu.

'Jangan mempermainkan aku lagi. Cepat kesini atau aku akan pulang sekarang!'

Tak perlu menunggu lama lagi, kurang dari satu menit pun balasannya sudah masuk.

'Arah jam empat, sayang.'

Sakura segera memutar lehernya ke kanan belakang. Itu… Uchiha Sasuke sedang berdiri menatapnya dengan senyum kemenangan. Sakura tak bisa menyembuyikan perasaan bahagianya lagi begitu melihat orang yang dicintainya hadir di depan mata meski jarak mereka saat ini terpaut beberapa meter. Keduanya terus saling menatap, sesekali mereka tertawa kecil dan terlihat salah tingkah. Sakura yang tidak tahan lagi akhirnya segera berlari menghambur ke pelukan tubuh kekasihnya itu.

Grebb!

"Hei… masih saja agresif. Kau tidak mabuk lagi 'kan?" goda Sasuke padanya.

"Aitakatta, Sasuke-kun…" Sakura semakin menempel manja padanya, niatnya di awal tadi yang ingin memarahi Sasuke jadi musnah begitu saja setelah lelaki ini memandangnya dengan jeratan onyx kelam miliknya. Sasuke mengusap pipi yang masih merona itu dan menciumnya tepat di dahi lebarnya. Sejurus kemudian ia membimbing tubuh Sakura untuk turut duduk di rerumputan bersamanya, sama seperti yang dilakukan beratus-ratus orang di taman ini.

"Aku selalu ingin merasakan yang seperti ini. Duduk di atas hamparan rumput hijau bersama orang yang kucintai seperti kehidupan manusia normal pada umumnya." Sasuke mulai membuka pembicaraan.

"Kau bisa mengajakku piknik kapanpun, Sasuke-kun. Aku pasti menemanimu." Senyum hangat itu terus tertuju pada Sasuke, semakin membuat onyx itu kehilangan kuasanya. "Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padamu?! Kupikir kau benar-benar mati!"

"Hn? Seperti yang kau lihat. Aku sudah bisa beraktivitas seperti biasa." Sasuke menjawabnya enteng, namun begitu melirik raut ketidakpuasan Sakura ia pun menjelaskannya lebih detail. "Baiklah baiklah… intinya saja, oke? Kemarin pagi aku bangun dari tidur panjangku dan awalnya memang terasa lemas bukan main. Aku sempat jatuh dan tak sadarkan diri saat itu, beberapa jam kemudian aku kembali sadar dan semua rasa lemas itu hilang saat aku meminta dokter menyuntikkan hormon adrenalin. Cuma itu."

"CUMA? CUMA ITU?! Astaga, Sasuke-kun...! Itu sangat berbahaya! Jangan paksakan fisikmu untuk bergerak jika belum saatnya...," Sakura mulai khawatir setelah mendengar penjelasan singkat jelas padat Sasuke, "bagaimana jika kau masih belum sembuh total? Aku takut kau akan—"

"Aku tidak bisa membiarkanmu menunggu lebih lama lagi." potong Sasuke cepat. "Aku sudah melihatnya... buku catatan mini-ku yang kau tulis kalimat-kalimat aneh itu. Aku tahu kau pasti merindukanku, karena aku juga merasakan hal yang sama." Sasuke mengacak pucuk rambut Sakura dan tersenyum singkat sebelum ia melanjutkan kalimatnya...

"Cium aku, Sakura."

Deg!

"HEH?! Tat-Tapi ini tempat umum, Sasuke-kun! Jangan bodoh." Sakura berusaha menolaknya tapi Sasuke justru makin mengarahkan wajah Sakura ke hadapannya.

"Ayolah, NYPD tidak akan menangkapmu lagi hanya karena berciuman denganku." Sakura lagi-lagi menghindari tatapan memelas Sasuke dan menyingkirkan jari-jari pria itu dari dagunya sebelum ia jatuh dalam permintaan sesatnya. Kenapa harus ciuman? Apa tidak ada permintaan lain?

"Jangan aneh-aneh ya, Sasuke-kun. Bagaimana kalau disini ada polisi betulan? Itu akan sangat memalukan." Cukup sudah. Momen temu kangen ini segera berakhir dengan cepat berkat request Sasuke yang kelewat merusak suasana.

"Bicara apa kau… kenapa kau harus takut pada polisi sementara di sampingmu ada agen federal yang jelas-jelas lebih disegani setiap penjahat, hah? Kau pikir siapa yang membebaskanmu dari tahanan polisi NYPD semalam? Sudah jangan banyak alasan. Apa susahnya men—"

Cupp…

Belum sempat Sasuke menyelesaikan omelannya, kata-kata sarkastiknya sudah teredam bibir Sakura yang terkesan ragu-ragu tapi mau menciumnya. Selang lima detik kemudian kecupan singkat itu pun selesai dengan kakunya. Sakura benar-benar berharap tidak ada yang melihat mereka—konyol memang, ini jelas tempat umum—dia hanya takut dicap sebagai gadis penggoda lelaki tampan di sampingnya.

Baru sekali menarik napas lega, mata emerald-nya pun langsung dibuat membelalak lagi saat merasakan kini dua pahanya menjadi bantalan empuk untuk kepala Sasuke. "Neee... Sasuke-kun, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau jadi begini manja padaku, hm?" jemari tangan Sakura meraih anak-anak rambut Sasuke yang dipangkunya kini.

"Aku, manja? Hah... ini belum seberapa dibanding yang kau lakukan semalam."

'Semalam…?' satu kata itu terus terputar di benak Sakura. Ia bahkan tidak mengingat apapun tentang semalam. Hanya ada bayang-bayang dirinya sedang meminum belasan gelas tequila hingga mabuk.

"Kau tidak ingat? Kau benar-benar liar, Sakura. Aku bahkan tidak tahu darimana kau belajar cara menyerang yang baik dan benar seperti itu." Sasuke memejamkan matanya sejenak dan tersenyum sendiri, sedang mengingat betapa agresifnya sang kekasih disaat mabuk. Kembali diperlihatkannya manik obsidian itu pada sosok yang menatapnya curiga, Sasuke mendongak dan menunjuk bagian lehernya sendiri agar Sakura bisa melihat jelas bukti kejadian semalam—sebuah kissmark. "Kau lihat ini? Ini hasil buatanmu sendiri."

'Tidak mungkin!'

"Terserah kalau kau tidak percaya." imbuhnya lagi.

Sakura tidak tahu mengapa hari ini Sasuke sangat banyak bicara walaupun tidak ditanya. Dan rata-rata ujung dari ucapannya adalah ledekan-ledekan pedas untuk gadisnya satu itu yang tentu saja berhasil mendapat hadiah pukulan dan cubitan tak berarti. Sasuke lantas tak percaya pada cerita Sakura yang menderita kala kehilangan dirinya dan terus menunggunya kembali selama kurang lebih tiga bulan. "Selama itukah...? Tapi bagiku... rasanya baru kemarin aku melihatmu terbaring di rumah sakit Tokyo. Kau yang dengan bodohnya melindungiku hingga kepalamu sendiri tertembak, lalu mengacaukan segala emosiku dengan segala peluang kegagalan hasil operasimu. Jangan lakukan itu lagi, kau hampir saja membuatku gila."

"Kau juga bodoh, Sasuke-kun. Kenapa kau membeli cincin disaat aku tidak sadarkan diri? Padahal aku sangat ingin melihat ekspresimu saat memberikan benda ini padaku..." Sakura mengangkat jari-jarinya dan menerawang cincin berlian yang melingkari jari manisnya, ia tersenyum sesaat menatap Sasuke di pangkuannya. "Sudah banyak waktu yang kita lewati tanpa saling tahu keadaan masing-masing... kuharap kau sangat mengerti penderitaanku ini."

Sasuke mengulum senyum mirisnya. Mungkin dia bukanlah tipe yang cukup peka untuk mengerti betapa menderitanya Sakura selama ini, namun bagaimanapun ia akan tetap mencoba memahami hal itu. Dan bicara soal penderitaan, Sasuke tiba-tiba saja jadi teringat suatu hal penting. "Ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Apa? Jangan yang aneh-aneh lagi, Sasuke-kun." telisik Sakura curiga.

"Kalau aku... waktu itu tidak membunuh Akasuna Sasori dan membiarkannya hidup, lalu dia bertobat dari jalan kejahatan seperti Shimura Sai, apa kau akan kembali ke sisinya disaat aku tidak ada?"

Deg!

Iris viridian Sakura menegang mendengar pertanyaan Sasuke yang dilontarkannya dengan tatapan tak terdefinisi. Apakah Sasuke meragukan cintanya? Atau dia justru tahu sesuatu tentang Sasori? "Sudah kubilang… jangan bertanya yang aneh-aneh."

"Jawab saja. Aku hanya ingin tahu."

"Aku tidak tahu, Sasuke-kun. Aku pun tidak menyangka kita masih bisa bersama saat ini. Jujur saja, saat aku mulai tersiksa dengan kesendirianku aku terus berusaha melupakanmu, menghilangkan perasaanku padamu. Karena aku merasa tidak berguna hidup seperti itu terus-terusan. Aku tahu kau pasti tidak ingin aku menderita, aku harus mencari kebahagiaanku sendiri." Sakura menerawang dalam onyx Sasuke dan tersenyum getir. "Tapi pada akhirnya… aku tetap tidak bisa melupakanmu, otak dan hatiku tidak mau bekerja sama lagi. Kenapa pula kau harus menanyakan Sasori? Kalian selalu punya tempat masing-masing di hatiku, dan selamanya dia hanya akan menjadi masa laluku. Tidak seperti dirimu."

Lelaki itu tersenyum lega. Walaupun jawaban Sakura tidak sepenuhnya memuaskan tapi ia tetap menerima keputusan kekasihnya yang pernah mencoba melupakan dirinya itu. "Kalau suatu saat nanti aku benar-benar pergi, jangan ragu untuk—"

"Aku tidak mau dengar yang seperti itu. Sampai kapanpun kau tidak boleh meninggalkanku, kau sudah berjanji, Sasuke-kun. Kau lupa?!" Sakura menggertaknya dengan pelototan tajam dan Sasuke pun hanya bisa mendesahkan nafasnya pasrah. Yah… dia memang tidak bisa menang jika berdebat seputar hubungannya dengan Sakura.

"Ya ya ya baiklah Nona Haruno—ah maksudku… Nyonya Uchiha. Kau bebas meminta apapun dariku asalkan kau senang."

"Benarkah?! Kalau aku minta kau berhenti dari FBI?"

"Aa… itu pengecualian." ralat Sasuke mantap.

"Tadi kau bilang bebas meminta apapun! Dasar pembohong." Sakura menunjukkan raut ngambeknya lagi. Permintaannya barusan memang bukan main-main karena ia tidak mau Sasuke terus-terusan menyabung nyawa hanya demi sebuah misi.

"Aku akan berhenti, tapi bukan sekarang. Aku sudah menentukan timing yang tepat."

"Kapan?"

"Kau tidak perlu tahu lebih lanjut, Nyonya. Ini top secret." Sasuke menyunggingkan seringaian mautnya dan bangun dari posisinya. Ia lalu membawa Sakura pergi dari taman itu. Baru kali ini Sasuke berjalan menggandengnya di tempat umum, Sakura tahu Sasuke pastilah saat ini sedang mendiskon harga dirinya habis-habisan semata-mata hanya untuk melepas rindu.

"Kita mau kemana, Agent SS-1?"

Sasuke spontan tertohok mendengar sebutan agent-nya yang entah bagaimana bisa diketahui Sakura. Mungkin Sakura tidak tahu, yang boleh menyebut Sasuke seperti itu hanyalah atasannya alias Hatake Kakashi. Diam-diam ia pun terkekeh dan menggeleng pelan. Biar sajalah, suatu saat juga Sakura akan menjadi atasan pribadinya. "Kita ke bioskop saja. Aku sedang ingin nonton film."

"Naik apa, Agent SS-1?"

"Kereta bawah tanah."

"Tumben sekali, Agent SS-1. Biasanya kau bawa mobil."

"Bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan itu? Aku bahkan sedang ingin mengambil cuti." gerutu Sasuke kesal.

"Peduli apa tentang dirimu, Agent SS-1? Aku bebas memanggilmu apapun yang ku mau." Sakura melepaskan genggamannya dan berlari dengan tawa riangnya. Benar-benar seperti anak kecil tingkah mereka sekarang. Well, cinta memang bisa membutakan usia dan sifat, bukan?

.

.

#####

.

.

Seharian mengisi kegiatan dengan menghabiskan uang, akhirnya pasangan satu ini mengakhiri harinya dengan kembali menginap di kamar hotel yang Sasuke pesan kemarin. Entah sudah berapa kali pria itu menggesekkan credit card-nya hanya untuk membelanjakan keinginan Sakura tour keliling New York, dan sebagai bayarannya Sakura harus berdiri di depan cermin sekarang dengan Sasuke yang menyeringai puas di belakangnya.

"Kau memang paling tahu cara menghabiskan uangku, Nona. Kau harus menebusnya dengan memakai ini semalaman."

"Tapi kenapa harus begini?! Aku jadi terlihat seperti perempuan-perempuan dalam video di laptopmu!" Sakura menghentak kakinya kesal menatap bayangan dirinya sendiri di depan cermin.

"Kau menontonnya? Kenapa tidak mengajakku, hm?" tangan nakal Sasuke mulai meraba paha mulus Sakura, semakin keatas hingga berhasil menyingkap lingerie model babydoll nightgown berwarna peach itu. "K-Kau mau apa?!" Sakura mulai gelagapan tatkala tangan Sasuke menarik turun celana dalam pink-nya. Ia benar-benar tidak memakai pakaian dalam apapun sekarang, tanpa bra maupun underwear, tubuhnya hanya dilapisi lingerie transparan yang berenda manis. Oh ayolah, jika Sasuke memang ingin menelanjanginya kenapa tidak dari tadi saja sekalian?

Sakura melangkahkan kakinya takut-takut saat Sasuke menariknya ke kasur. Lelaki itu berbaring tenang di sampingnya dengan selimut yang membungkus setengah dari tubuhnya. Iris kelamnya terus menatap Sakura yang berpenampilan eksotis, kontras dengan dirinya yang masih memakai lengkap kaos beserta celana boxer hitamnya. Tidak melakukan apa-apa, mereka tetap seperti itu hingga sepuluh menit kedepan.

"Kenapa kau tidak tidur?" tanya Sasuke, "jangan menatapku terus, cepat tutup matamu." perintahnya lagi. Sakura tidak tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran Sasuke karena si tampan ini justru menyuruhnya tidur. Mata emerald itu pun akhirnya menuruti ucapan tuannya, sedikit-sedikit Sakura merasakan tangan Sasuke yang membawanya dalam pelukan. Awalnya memang nyaman dan damai, tapi lama kelamaan Sakura risih juga dengan tingkah kekasihnya yang mulai meremas-remas bongkahan kenyal belakang tubuhnya.

Puas meremas bagian pantat, jari-jari itu kemudian berpindah ke depan mengusap daerah kewanitaan Sakura yang tak terlindungi apapun. "Sasuke-kun… Bagaimana aku bisa tidur kalau kau seper—AAKH! Pelan-pelan, baka!" Sakura tersentak kaget saat ibu jari Sasuke menekan paksa clit-nya.

"Mungkin sedikit permainan pengantar tidur akan membuatmu semakin nyenyak, Sakura." Sasuke menyibak selimutnya dan menarik tangan Sakura membimbingnya merubah posisi untuk duduk, lebih tepatnya duduk berhadapan di atas pangkuan Sasuke seperti ini. "Kau cantik dan wangi sekali... boleh aku menyentuhmu?" tanpa menunggu jawaban, Sasuke segera mengarahkan kepalanya untuk lebih dekat dengan Sakura. Sekilas ia mengecup bibir pink itu, lalu menjilat permukaannya berkali-kali dengan lidah hangatnya.

"Mmmh Sasuke-kun…" Sakura bergerak gelisah tatkala Sasuke semakin menggodanya. Sasuke tak lekas menciumnya seperti yang Sakura harapkan, lelaki itu terus saja membasahi bibir kekasihnya dengan saliva dan sesekali meninggalkan gigitan yang semakin membuat Sakura mengejar gerak bibirnya. Sasuke dengan senang hati membiarkan Sakura terus mendesahkan namanya—ia sangat merindukan sapaan hangat yang satu itu.

Panas darah Sakura terasa makin menaik saat Sasuke kian menyentuh titik-titik sensitif tubuhnya. Tak lupa jemari tangan kanan pria itu pun masih setia mengelus miss V wanitanya.

"Ennhh Sasuke-kuun… Sebenarnya kau mau ap—aahhh!" Sibuk menggoda, Sasuke mengabaikan setiap kalimat Sakura padanya. Sukses membuat bibir Sakura banjir dengan liurnya sendiri, ia memindahkan daerah kecupannya ke leher jenjang di depannya. Sakura terus menatap langit-langit merasakan gesitnya Sasuke membuat kissmark di lehernya yang semakin basah. "Ummmh ahh… hsss… hh," tanpa sadar ia semakin melebarkan pahanya menyambut dua jari Sasuke untuk masuk dalam lorong lembabnya.

"A-Aaahh! Hmmh, jangan disitu Sasuke-kun, aku tidak tahan!" protesnya munafik. Bibirnya berkata jangan namun dua lengannya semakin memeluk erat leher Sasuke yang sedang menghisap kuat puncak dadanya.

'Cih, dia masih saja malu-malu.'

"Kenapa?" tanya Sasuke polos disela-sela gerakan in-out jarinya.

"Ahhh ah ah aah! Emmh a-aku... nnggghhh!" Sakura sekuat tenaga menahan desahannya dan malah berubah menjadi pekikan tertahan.

"Kau tidak perlu menahannya, keluarkan saja semaumu. Aku pasti mendengarkanmu, Sakura." Sasuke mempercepat gerakan jarinya dan mengecup telinga kiri Sakura. Sontak membuat wanita dalam rengkuhannya ini makin menggila akan sensasi rangsangan yang ia terima. "Kyaaaah—aah! Sasuke-kun, terusss... hah..."

Sakura makin melengkungkan badannya menahan nikmat, tangan kiri Sasuke pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menangkup dada Sakura yang membusung.

Hei… walaupun terbalut lingerie tipis, Sasuke bisa merasakan puncak dada wanitanya ini sudah mengeras seperti minta diservis. Dengan senang hati ia pun memilin nipple yang menegang itu membuat Sakura makin berteriak puas mendapat serangan combo Sasuke di leher, dada dan kewanitaannya. Sasuke menyeringai lebar dalam aktivitas menghisapnya, jari-jari tangannya merasakan jepitan kuat dinding kewanitaan Sakura. Ia pun semakin mempercepat gesekannya di bawah sana.

"Ouuhh Sasukeeehh, aahhhn… sedikit lagih!"

Entah kenapa, mendengar desahan-desahan liar Sakura justru membuat naluri kenakalan Sasuke meningkat. Ia memainkan clit Sakura-nya beriringan dengan gerakan dua jarinya lagi. Jepitan dinding kewanitaan Sakura semakin kuat saja, Sasuke tahu sebentar lagi Sakura akan mengeluarkan klimaksnya.

"Aaah…! Akh… hyaaa cep—ath, nggghhhh…! Sasuke-kunh…"

Di detik-detik terakhir menuju puncak kenikmatan Sakura, Sasuke justru membatalkan seluruh aksi bejatnya itu. Ia menjauhkan tubuhnya yang semula menempel erat mendekap Sakura menjadi sama sekali tak mau menyentuh wanita itu lagi. "Tidurlah. Ini sudah malam."

"Sasuke-kun!" Sakura benar-benar merasa dipermainkan. Ia melayangkan tatapan protes pada kekasihnya yang tersenyum remeh itu. Seluruh ketegangan tubuhnya serasa tanggung di ujung, padahal tadi itu benar-benar sedikit lagi. Sedikit merasa bersalah, Sasuke memberikan hiburan ciuman lembut pada Sakura yang masih di pangkuannya. Tanpa dia sangka Sakura justru merespon kuat ciumannya yang semula ringan menjadi benar-benar bernafsu. Bahkan tangan wanita itu mulai berani menjamahi boxer Sasuke dan meremas juniornya pelan.

"Jangan main-main dengannya." Sasuke memperingati.

"Ini serangan balik, Agent SS-1. Apakah adikmu tidak merindukanku?" Sakura berkata dengan nada genitnya merayu Sasuke. Sebenarnya bisa saja Sasuke menyerang Sakura sekarang, namun stamina tubuhnya berkata lain karena belum sepenuhnya pulih setelah bangun dari komanya.

"Maaf, Sakura… lain kali saja. Aku belum terbiasa menggerakkan otot-ototku." kilahnya kecewa. Sakura mengerti apa arti tatapan Sasuke padanya, ia pun tak ragu untuk menyelinapkan tangannya masuk merogoh celana Sasuke, mengeluarkan junior yang sudah berdiri tegang itu dan mengusap-usap ujungnya pelan.

Sengaja memperlambat waktu, Sakura terus mengelus permukaan kulit adik Sasuke itu hingga sedikit-sedikit uratnya mulai bermunculan dan semakin memerah. Ia terkekeh usil saat melihat mulut Sasuke terus megap-megap menahan desisannya sendiri. Disaat seperti ini Uchiha itu masih saja memasang harga dirinya yang tinggi.

"Hsshh... Sakuraah..." Sasuke memejamkan matanya merasakan pijatan telapak tangan Sakura yang lihai dan mengusap lembut cairan precum-nya.

"Kau tidak perlu menahannya, keluarkan saja semaumu. Aku pasti mendengarkanmu, Sa-su-ke-kun." Sasuke segera membuka matanya begitu Sakura membalikkan kata-katanya penuh bangga. Ia langsung menerjang bibir yang baru saja mengejeknya itu dalam-dalam, memeluknya erat dan semakin mengangkat tubuh Sakura untuk lebih maju ke arahnya. Sakura merasakan benda dalam genggamannya kini semakin memanas dan ia mulai menggerakkan tangannya naik turun memberi pemanasan.

"Ouhh… Sa-Sakura, jangan langsung cepat begitu… aghh…!" bantah Sasuke dengan ringisan ngilunya. Tak dihiraukan, Sakura makin mempercepat kocokannya dan sesekali meremas kantung Sasuke di bawah sana berulang kali. Tangan nakal itu telah sukses membuat harga diri Uchiha di depannya luluh dalam permainannya, keduanya saling menatap penuh gairah. Sakura sudah siap melumuri kejantanan Sasuke dengan cairan pelumasnya sendiri demi memastikan kemudahan akses penetrasinya nanti.

"Sasuke-kun, bantu aku..." pinta Sakura setelah berkali-kali gagal memasukkan kejantanan Sasuke itu dalam liangnya.

"Kau yakin dengan posisi ini?" Sasuke kembali memastikan niatnya. Setelah mendapat anggukan setuju dari Sakura ia pun membantu melebarkan liang wanitanya dengan dua jari tangannya yang nganggur. Sakura memposisikan milik Sasuke di depan labianya yang terbuka dan sedikit-sedikit mulai menenggelamkan junior Sasuke ke dalamnya.

"Ahhn, sa...kkit..."

"Pelan-pelan saja Sakura, jangan buru-bur—ummhh…!" Sasuke mengerang nikmat saat kejantanannya tenggelam seluruhnya dalam liang hangat milik Sakura. Ia pun menggenggam jemari wanitanya erat, mengusap cincin pemberiannya sebelum akhirnya mendaratkan kecupan di punggung tangan seputih porselen itu.

"Kau merindukanku...?" tanya Sasuke yang hanya dibalas anggukan dan lumatan Sakura di bibirnya. Sekilas Sasuke tersenyum menantang pada wanita di atasnya dan segera membisikkan hal seduktif selanjutnya. "Kalau begitu puaskan dirimu."

Bungsu Uchiha itu kemudian bersandar pada bantal di belakangnya dan membiarkan manusia di atasnya untuk bergerak bebas. Sakura memulai genjotannya pelan, masih membiasakan junior Sasuke dalam posisi cowboy seperti ini. Sensasinya terasa lebih berbeda dibanding saat mereka melakukannya dengan posisi lain.

"Ahh aah... aahh hah!" gerakan naik turun Sakura semakin teratur dan kulit mulus itu mulai mengeluarkan peluh yang membuatnya semakin indah di mata Sasuke. Dengan lingerie longgar dan tipis itu Sakura telah berhasil menyuguhkan pemandangan erotis untuk pria di bawahnya. Rambut panjangnya yang tergerai terus bergerak seirama dengan tempo in-out-nya yang liar.

"Akkhh sempit sekali, Sakuraa..." Sasuke serta merta turut melenguh memprotes keadaan kejantanannya yang terjepit hebat di dalam sana. Ia memejamkan dua mata jelaganya meresapi nikmat yang Sakura berikan.

Sakura meneruskan kegiatan bunny-nya dan semakin bergerak cepat, ia meracau tak karuan merasakan setiap kenikmatan yang dibuatnya sendiri dengan kejantanan Sasuke yang memenuhi liangnya.

"Mmmmhh...! Sasuke-kunh... hahhh..." ia terus meremas jemari Sasuke yang mulai memijat dadanya ganas. Sakura memejamkan manik gioknya kala gerakannya semakin tak teratur, sementara Sasuke dengan perhatian terus menyeka keringat yang mengalir di pelipis kekasihnya.

Desahan leganya meluncur kuat begitu ia mencapai puncaknya tiga puluh menit kemudian. Hampir saja ia terambruk tetapi dua lengan Sasuke sempat menahan tubuhnya untuk tidak jatuh. Lelaki satu itu juga butuh menyelesaikan hasratnya yang belum menyentuh klimaks. "Tahan sebentar, Sakura." Sasuke melebarkan lagi paha Sakura dan mencengkeram pinggul wanitanya. Digerakannya naik-turun lagi juniornya yang tetap menegang itu mengguncang liar tubuh Sakura di atasnya.

"AAAHH! Sas—nggghhh! Aah ah haah Sasuke-kun, pelan-pelan!" Sakura terus memohon pada Sasuke untuk mengurangi temponya. Tapi bagai sudah kesetanan, Sasuke makin menghentak kuat pinggulnya menuju titik terdalam Sakura. Tanpa peduli tubuh Sakura yang menggelinjang tak menentu dibuatnya, dua gundukan bukit Sakura pun terus meloncat indah dan lama-kelamaan berhasil mengintip keluar dari lingerie-nya yang longgar dan acak-acakan.

'Shit, pemandangan macam apalagi ini!' Sasuke menjadi semakin gila dengan apa yang tersaji di depan matanya.

"Hhhh, Sakura—agghh aku...," Sasuke tak bisa lagi mengontrol serangannya yang kian keras dan kasar. Ya, inilah saat-saat yang dinantikan Sakura. Saat dimana Sasuke hampir gila hanya karenanya, mendengar geraman suaranya yang berat, dan menyaksikan ekspresi nikmatnya yang menggairahkan. Sakura meringis menahan sakit di selangkangannya kala kejantanan Sasuke semakin menegang di dalamnya, dan cengkeraman tangan Sasuke juga terus menguat di bokongnya yang sintal. Bisa dipastikan ia akan kesulitan berjalan besok.

"Ggahh! Argh... hhh, Sakura...!" erangnya lagi saat Sakura makin menjepit miliknya lebih kuat. Nafas mereka makin bersahutan keras mengiringi kegiatan sensual tersebut.

"Akhh, hahh... lebih cepat, Sasuke-kuunnhh... nggghhh jangan berhenti!" mohon Sakura disela-sela sentakan kuat tubuhnya.

"Ssshh... agh, sedikit lagi...! Ugh!" Sasuke kian bercucuran keringat di ujung penyelesaian permainannya, dirasakannya liang Sakura lagi-lagi mengeluarkan cairan klimaksnya yang kesekian kali. Sakura sudah dibuat lemas habis-habisan olehnya, sebentar lagi, Sasuke juga akan…

"Aaghh!" dua anak manusia itu melesakkan kepalanya ke atas setelah mencapai kepuasan duniawi yang tiada tara. Sasuke melepaskan pegangannya dan mendaratkan Sakura di atas pinggulnya. Kekasihnya itu benar-benar letih, ia masih terlalu lemas untuk sekedar mengangkat tubuhnya dan melepas kejantanan Sasuke yang senantiasa tertanam. Yang bisa ia lakukan hanya menjatuhkan tubuhnya ke dada Sasuke yang naik turun memburu oksigen. "Sasuke-kun, maaf… harusnya aku tidak—"

"Sshhh... biarkanlah... tetap seperti ini..." Sasuke berbisik seraya menyelipkan jari-jarinya di helaian merah muda wanita kesayangannya. Ia merasa puas, senang, bahagia dan apapun itu emosi gembira yang sulit diekspresikannya saat ini. Kalau saja sedang fit, mungkin Sasuke bisa memulai ronde selanjutnya setelah ini.

Rasa kantuk nan lelah segera menyerang keduanya setelah apa yang sudah mereka lakukan di kamar mewah tersebut. Tidak peduli dengan sprei yang acak-acakan dan peluhnya yang mengalir deras, pelan tapi pasti mereka mulai mengatupkan dua matanya menuju alam mimpi.

"Aku mencintaimu... sangat... mencintaimu..."

.

.

.

To be Continued

.

.

.

Kipas angin, mana kipas angin! Geraaahhh euy jari-jari Aya gemeteran ngetik hard lemon o,o edaasshh chapter ini spesial kubuat panjang karena chapter depan adalah Final Chap. Terima kasih banyak atas reviewnya kemarin:

Lia Viper, Tsukiyomi Aori Hotori, FairyLucyka, Sami haruchi 2, Nina 317Elf, Kireyreikha, dwinakwonjiyong, Chiachan-18, akasuna no ei-chan, FuRaHeart, Hinamori Miko Koyuki, Hikari 'ShiChi' ndychan, Jang Yue Ri, INAI CHAN, Retno UchiHaruno, Ran Murasaki SS, hima sakusa-chan, Mizuira Kumiko, hasnistareels, SSasuke 23, Kim Na Na Princess Aegyo, Hime Hime Chan, Magician cherry, Trancy Anafeloz, Redsans Mangekyou,

Aden L Kazt, Kithara Blue, Tsurugi De Lelouch, Baka Iya SS, Zenka-chan ReiIsha, Aoi Ciel, Karasu Uchiha, Sasu4Saku, shawol21bangs, SuntQ, Uciha Tiffany, Jihand Setyani, Snow's Flower, Javanese Konoha, sakuraBELONGtoSASUKE, 4everAY, Hinagiku-chan 'cumasatu1nya, YashiUchiHatake, adlina charming, Carine Vavo, jean, ihiy, dan para Guest dan silent readers kuharap masih setia mengikuti Fic hampir tamat ini ^o^

Sampai jumpa di Final Chapter!

.

Happy New Year 2013

.

.

Review?