Summary : Setelah dua hari beristirahat, kau kembali ke sekolah. Terjadi beberapa kehebohan di kelas. Lalu, member Kiseki no sedai menceritakan banyak hal untuk mengembalikan ingatan Sang Kapten dan membuatmu mendapatkan sebuah informasi penting mengenai seorang Akashi Seijuuro. Di sisi lain, Shinigami dan Kuroko?

Chapter 10‼ YEY! Ini kebanyakan ngaconya sih. WARNING : BANYAK OBROLAN NGACO, HATI-HATI KENA SAKIT MATA! Maaf jika mengecewakan.*bows*

Bagi yg udah follow, fave, review dan PM, gw ucapan makasiiiiiiiiih banyak *tebar flying kiss* /ditampar

Warning : Gaje, abal, OOC akut, typo(s), judulnya gak nyambung, banyak hal ngaco terjadi.

Pairing : Akashi x Reader x Kuroko

Rate : T

Genre : Supranatural, romance and friendship.


Body x Soul

Kuroko no Basuke Milik Fujimaki Tadatoshi-san

Body x Soul adalah khayalan bejad sang author saat banjir


Chapter 10


.

.

.

Dua hari kemudian.

Seorang gadis tengah duduk di bangku kelasnya—walaupun sebelumnya itu bukanlah tempat duduknya. Hari ini, gadis itu datang pagi sekali tidak seperti biasa karena pola hidupnya mendadak berubah—tidak, mungkin bukan pola hidupnya yang berubah tetapi jiwa yang ada dalam tubuhnya sudah punya pola hidup baik, bangun pagi dan berolahraga sebentar. Mungkin, teman-temannya agak merasa aneh dengan kelakukan gadis itu yang mendadak tenang dan kalem, tetapi mereka berpikir mungkin saja seseorang telah merubahnya jadi begitu.

"Nee, bagaimana hubunganmu dengan Akashi-kun?"

Kira-kira ada tiga orang mengelilinginya sambil bicara berbisik. Tiga pasang mata berbinar mereka menatap gadis itu. Bisa terlihat bahwa itu adalah tatapan-tatapan penuh rasa penasaran. Gadis itu sedikit kebingungan dengan pertanyaan tersebut. 'Hubunganku? Dengan Akashi-kun? Tapi, aku ini Akashi yang kalian tanyakan itu. Kenapa mereka tanya hubunganku dengan diriku sendiri?', katanya dalam hati. Sepertinya, pikirannya sedikit rusak.

Kenyataan bahwa teman perempuan—tentunya, tidak hanya teman perempuan—di kelasnya, tidak mengetahui identitas yang sebenarnya, membuatnya bingung harus menjawab apa. Harus jawab apa, lalu sebenarnya apa yang ingin diketahui mereka, semua itu membuatnya bingung. Salah sedikit saja bisa menimbulkan masalah, namun untungnya, ia orang yang pintar walaupun tadi sempat menunjukkan kerusakan.

"Apa maksud kalian?" ucapnya sembari meneguk susu kotak yang dibekali ibunya saat berangkat tadi—sepertinya, ia terpaksa meminumnya karena jika tidak, ibunya dirumah akan mengomelinya sepulang sekolah.

"Tidak usah pura-pura, kau pacaran dengannya 'kan?"

GLUK.

Gadis itu tersedak susu yang sedang diminumnya bahkan rasanya sedotan yang ia gunakan hampir masuk ke dalam mulutnya. Ia menjauhkan susu kotak itu segera dari mulutnya. Teman-teman yang ada dihadapannya tidak menyadari kalau ia tersedak sebab ia masih bisa mengendalikan karakternya—karena sesungguhnya, ia adalah Akashi Seijuuro yang sedang dibicarakan.

"Apa?"

"Iya, waktu itu kau menyeretnya keluar kelas dan menyatakan perasaan 'kan?"

"Ha?"

"Benar, Fuji-kun melihat kalian berdua bicara di halaman belakang sekolah waktu itu, romantis sekali~"

Akashi berusaha mengingat kejadian yang dimaksud. Pagi-pagi, kau bersikap aneh dengan Shiori, lalu Akashi marah dan menyeretmu keluar kelas, kemudian mengancammu dengan gunting yang dibawanya untuk membotaki bapak-bapak mesum di bus, selain itu, kalian juga membahas soal mandi. Setelah itu, kalian kembali ke kelas disambut jabat tangan massal dan ucapan 'Selamat ya kalian berdua!' oleh semua teman kelas kalian. Begitulah kira-kira.

'ROMANTIS, KATANYA? Lagipula, sejak kapan aku pacaran dengannya?'

"Kalian.." ucapnya lirih. Belum sempat meneruskan kata-kata,

"Apa? Apa? Setelah itu, kalian melakukan apa?"

"Ha?"

"Iya, iya, iya, iya itu loh. Baru jadian kan biasanya ya ituuuu.." kata salah satu dari mereka dengan pipi memerah tak jelas, sedangkan sisa dua orangnya mengangguk-angguk tanpa lupa wajah mereka yang juga ikut-ikutan seperti kepiting rebus.

"Itu apa?" Akashi menyernyikan dahi. Makin bingung saja.

Salah satu dari mereka yang berambut panjang sebaru mendekati Akashi dan berbisik di telinga, "Itu loh, CI-U-MAN."

Akashi membatu mendengarnya.

Melihat reaksi Akashi, mereka berteriak "Kyaaaaa—" sampai-sampai semua siswa yang sudah datang menoleh pada mereka.

"Akashi-kun memang menakutkan, tapi dia tampan, pintar dan juga kaya. Siapa yang tidak mau? Kyaaa.. Kau beruntung sekali~"

"Membayangkan kalian berdua melakukan itu, aku jadi deg-degan. Bagaimana rasanya ya? Kyaaa…"

Akashi bengong melihat aksi teman sekelasnya. Lalu, seseorang baru saja datang memasuki kelas. Selama dua hari ini, orang itu tidak datang ke sekolah karena harus mengistirahatkan tangan dan juga kakinya yang terkilir saat latihan stamina di gunung, ya, si rambut merah nyentrik—kau.

Siswi kelasmu yang mengelilingi Akashi makin berteriak kencang saat kau datang. Kau hanya memasang wajah heran dan beranjak menuju tempat dudukmu—lebih tepatnya, tempat duduk Akashi yang asli. Setelah kau menaruh tas, kau menghampiri Akashi dan membuat para wanita makin histeris.

"Aka—ah, hei, bisa kita bicara sebentar?" katamu pada Akashi. Akashi mengangguk pelan dan mengikuti menuju luar kelas. Dipastikan, sekarang, para siswi di kelasmu sedang heboh minta ampun.

Kalian berjalan menyusuri koridor kelas.

"Bagaimana keadaan tangan dan juga kakiku?" tanya Akashi padamu, kau menoleh dan tersenyum padanya.

"Sudah baik-baik saja, Akashi-kun."

"Hmm.."

Terjadi keheningan beberapa saat antara kalian berdua, seperti tidak ada topik yang ingin dibicarakan. Sebenarnya, kau dan Akashi saling menelepon sejak kau tidak masuk sekolah—mungkin topik pembicaraan kalian habis karena itu. Eh, mana mungkin ya? Ternyata kalian kurang kreatif.

"E—to, Akashi-kun," kau memanggilnya agak ragu. Ada apa?

"Apa?"

"Kau ingat, kata-kata Shinigami-san? Kalau ada yang tau.."

"Ya, tentu saja ingat. Apa ada masalah dengan itu?"

Akashi tetap berjalan tanpa menoleh padamu. Pandangannya tetap lurus ke depan.

"—apa kita…"

"Tenanglah, semua akan baik-baik saja."

Lagi-lagi, kata-kata 'semua akan baik-baik saja' itu. walaupun bisa membuatmu sedikit lega, namun kekhawatiran tetap saja hadir mengganggu pikiranmu. Apalagi masalah orang itu.

"Ah."

Kalian bertemu dengan seseorang di persimpangan koridor, ya orang itu—Kuroko. Kau kaget sedangkan Akashi masih diam dan berhenti berjalan. Sejenak, kau dan Kuroko saling bertukar pandangan—sukses membuat wajah Akashi merona lagi. Setelah itu, Kuroko memandang Akashi—Akashi menajamkan pandangan mata perlahan.

"Doumo," sapa Kuroko pada kalian yang malah sejak tadi diam saja.

Akashi hanya mengangguk pelan dan memejamkan mata sesaat. Sedangkan kau?

"O-O-Oha—you, Kuro—" sedang gugup. Kau menoleh ke sekelilingmu, ah, masih banyak orang, "—Tetsuya."

"Ohayou," balasnya.

Senyuman tipis terlihat di wajah Kuroko, kemudian ia pergi begitu saja. Kau masih dalam posisi yang sama—memaku karena memandang sosok Kuroko yang menjauh. Jika diperhatikan, saat memperhatikan Kuroko, kau hampir saja mengeluarkan air liur. Tidak, tidak boleh, image Akashi akan makin rusak—Bayangkan! Wajah bodoh Akashi yang seperti apa yang akan tercipta jika kau berliur? Tentu saja, itu tidak boleh terjadi.

"Sejak kapan kau kenal dengan Tetsuya?" Akashi memandangmu dan bertanya dengan nada dingin.

"Ah, itu. Kuroko-kun pernah membantuku mencarikan buku di perpustakaan. Kami tidak sengaja bertemu dan ya…begitulah," jawabmu malu-malu.

"Begitulah? Apanya yang 'begitulah'?" ucap Akashi agak ditekankan. Kau makin malu-malu. Bodoh sekali sih dikau. Sadarlah.

"Ya… pokoknya begitulah, Akashi-kun, hehe.." balasmu sembari menggaruk-garuk pipi dengan telunjuk.

"Huh..ya sudahlah."

Akashi pergi meninggalkanmu. Sebenarnya, apa yang ingin kalian bicarakan sih?

.

.

.

.

Lapangan basket.

Suara decitan sepatu dan pantulan bola basket menggema di seluruh gedung. Sepertinya, semua anggota klub basket sedang latihan.

Selesai pelajaran, kau dan Akashi pergi menuju lapangan basket. Selama dua hari belakangan ini, kau tidak datang ke sana karena terpaksa beristirahat. Kaki Akashi yang terkilir sudah mulai membaik sehingga kau sudah bisa berjalan dengan normal, sedangkan tangan kanan Akashi masih dibalut perban dan luka terbukanya sudah dijahit lagi.

"Ah, Akashi. Kau sudah datang? Bagaimana keadaanmu?" Aomine melempar bola ke pemain lain dan menghampirimu.

"Aku sudah membaik, Daiki."

Member kisedai yang lain pun ikutan menghampirimu. Mereka menunda latihan dan berkumpul di sekelilingmu dan Akashi.

"Sepertinya, kakimu sudah kembali normal. Baguslah," lanjut Aomine sambil menatap kedua kaki Akashi.

"Akashicchi~ akhirnya kau datang!" ucap Kise sambil manyun, "—setidaknya, kita terbebas dari neraka-ssu."

"Apa maksudmu, Ryouta?"

"Dia!", Kise menunjuk Akashi, "—dia penyebabnya. Aku capek. Dia lebih kejam dari Akashicchi yang dulu."

"Ha? Kau bilang apa, KISE-KUN~?!" kata Akashi sembari memasang senyum yandere yang mengerikan dari biasanya.

"Hah, kalian bagaimana. Dia sudah membantu kita mengatur latihan nanodayo, setidaknya berterima kasihlah."

"Tapi, Midorimacchi‼ Dia kejam! Mou~" sekarang Kise menggembungkan pipinya, jadi terlihat seperti ikan laut tampan yang sedang menahan nafas.

"Benar, tidak hanya Kisechin yang merasa begitu. Lihat saja tanganku sekarang!" jerit histeris Murasakibara sambil menunjukkan kedua tangannya.

Semua melongo. Apa maksud Murasakibara menunjukkan kedua telapak tangannya?

"Maksudnya?"

"Lihat! Aku tidak pegang apa-apa!"

"HAH? Lalu, kenapa?" Mereka makin tidak mengerti.

"—semua cemilanku disita! Tanganku jadi kosong melompong begini, jadi tidak ada kerjaan."

DUAG!

Akashi memukul pundak Murasakibara, awalnya mau pukul kepala tapi apa daya tubuh tak sampai—karena tubuhmu menyaingi Kuroko. Mau pakai tubuhmu ataupun tubuhnya, Akashi tetap saja tidak mungkin bisa memukul kepala Murasakibara kalau dia sedang berdiri. Nasib Sang Emperor selalu sama—dipandang rendah—maksudnya, ehem, kurang tinggi.

"Aku menyitanya karena kau makan terus. Lagipula, latihan basket adalah hal yang bisa kau sebut dengan kerjaan. Kerjaanmu bukan hanya mengunyah saja, kau harus latihan! Disiplinkan dirimu,"

Murasakibara mengelus pundaknya yang disenggol Akashi. Murasakibara merasa seperti baru saja digigit nyamuk di pundak.

"Baiklah."

Ya, selama dua hari ini, kau tidak masuk sekolah. Akhirnya Akashi lah yang mengatur dan mengawasi latihan mereka. Bagaimanapun juga, Akashi adalah kapten mereka—itu sudah seharusnya. Dia lebih banyak tau segala hal tentang basket. Jadi, untuk menyakinkan mereka, kau mengatakan pada mereka bahwa Akashi mengerti tentang basket sehingga mereka mau menerima Akashi—ya, wajar saja awalnya mereka menolak, mereka mengira Akashi adalah kau, gadis aneh tak dikenal dan berbahaya.

Namun, hal itu menjadi bencana bagi mereka. Orang yang mereka kira dirimu adalah pengatur dan pengawas latihan basket terkejam yang pernah mereka jumpai. Apa yang sebenarnya berbeda? Tetap saja, yang mengawasi mereka adalah Akashi sendiri, apakah ada perbedaan dengan cara mengawasinya?

Selama kau masih ada, kau lah yang mengawasi mereka. Sepertinya, mereka mulai terbiasa dengan caramu mengawas yang cukup baik hati bagi mereka—walaupun mereka sempat bingung Sang Kapten berubah, tetapi sekarang mereka tau fakta—fakta yang lebih tepatnya adalah khayalan mereka—bahwa Sang Kapten sedang amnesia sesuai dengan prediksi gila mereka. Saat Akashi yang mengawasi, mereka kembali syok dengan caranya, mungkin mengingatkan mereka pada Sang Kapten di jaman dahulu.

"Sudah, lanjutkan latihan kalian. Maaf aku tidak bisa ikut berlatih, aku akan mengawasi dari bench," ucapmu pelan. Mereka mengangguk dan kembali berlatih. Kau dan Akashi menuju bench dan duduk disana.

Mereka melakukan Three on Three. Kise, Kuroko dan Murasakibara melawan Aomine, Midorima dan Nijimura. Akashi memperhatikan pertandingan seru antara mereka. Sejujurnya, kau tidak mengerti apa-apa soal basket jadi tidak tau apa senangnya bermain basket. Tetapi, kau tau satu hal.

"Apa kau main basket juga, Akashi-kun?" tanyamu pelan pada Akashi, sedangkan yang diajak bicara tidak mengalihkan pandangan ke arahmu, masih saja memandangi teman-temannya yang sedang bertanding. Setidaknya, Akashi masih mendengarmu dan merespon,

"Ya, tapi, tidak usah khawatir. Saat kita kembali seperti semula, aku bisa bermain lagi," balasnya tegas. Kembali seperti semula, katanya? Apa hal itu mungkin? Namun, kau ragu untuk mengatakannya. Identitasmu dan Akashi sudah diketahui oleh Kuroko. Jadi, apa jalan keluar dari masalah ini benar ada?

"Tidak perlu menunggu sampai kembali seperti semula, jika kau ingin, main saja."

"Ha?" Akashi menoleh padamu. Kau melanjutkan, "—refleks tubuhku cukup bagus kok. Kau bisa mencobanya."

Akashi menatapmu dalam diam. Pandangannya tidak berubah, masih saja tajam. Kemudian, ia memejamkan mata dan menghela nafas.

"Tidak usah mengasihaniku. Aku tidak suka, hentikan itu. Aku tidak perlu rasa kasihan darimu, jika aku ingin maka akan aku lakukan. Segalanya bukan tidak mungkin,"

Akashi masih saja bersikap ala pangeran mutlak. Harga diri dan kebanggaannya sangat tinggi, jadi sepertinya hal percuma jika kau mengkhawatirkannya. Tetapi, apa salahnya sedikit memberikan sebuah perhatian?

"Bukan begitu, Akashi-kun. Hanya saja—aku minta maaf," Kau menundukkan kepala.

"Tidak perlu."

.

.

.

.

Semenjak beberapa hari setelah kembalinya kau ke sekolah, member Kisedai entah kenapa selalu saja mengajakmu makan siang bersama. Mereka mengaku ingin banyak bicara denganmu dan menceritakan segala macam cerita—cerita manis, khusus untuk Kise—antara kau dan mereka agar kau bisa kembali mengingat semuanya. Mereka juga bilang akan membantu mengingat segala tentang diri Akashi.

Dalam hati, sesungguhnya, mereka juga tidak ingin Sang Kapten sepenuhnya mengingat karena bencana mungkin saja datang. Jika Sang Kapten tidak lagi amnesia maka Sang Kapten yang baik hati yang ada sekarang akan menghilang dan latihan menuju neraka akan kembali di mulai. Ya, begitulah.

Hari ini, kalian makan di dekat lapangan basket. Disana luas, jadi kalian bisa leluasa mau melakukan apapun, bahkan makan sambil berguling-guling di lantai. Semua sudah menyelesaikan makan siang masing-masing kecuali Murasakibara—dia masih sibuk dengan makanan penutupnya, Maiubo dkk.

Selama makan, mereka menceritakan banyak hal seperti bagaimana mereka pertama kali bertemu, Aomine yang suka membaca majalah parno Horikita Mai, Kise si model tampan nan ceria yang suka dikejar dan diteriaki fans—bahkan diteriaki dengan menggunakan mikrofon—yang membuat seisi gedung mendadak tuli, lalu Midorima suka membawa barang ajaib yang diklaimnya sebagai sebuah Lucky Item disebabkan pemujaan berlebihan pada acara ramalan pagi Oha-Asa.

Tidak hanya itu, ada juga Melancholy of Murasakibara Atsushi yang berisi teriakan mengerikan saat cemilannya habis dan suara khas 'kraus kraus nyam nyam' yang mengganas. Tak lupa, Kuroko yang selalu muncul dan menghilang secara misterius seperti hantu membuat semua orang hampir saja dikirim ke rumah sakit terdekat dengan diagnosa terserang penyakit jantung.

Ya, semua hal aneh dan mengerikan tentang mereka sudah dibuka blak-blakan. Kau hanya bisa tertawa membayangkan betapa bodohnya mereka, sedangkan Akashi hanya tersenyum tipis.

"Hampir saja aku lupa nanodayo. Tadi pagi, kita tidak bertemu," kata Midorima sambil merogoh sesuatu di kantong celananya. Sesuatu yang dirogohnya, dia sodorkan padamu, "—ini untukmu, Akashi."

"Ha?"

Kau memandangi benda yang diberikan Midorima. Semua sweatdrop. Untuk apa benda seperti itu? ya, sekarang di tanganmu ada sebuah pita besar berwarna pink dengan motif polkadot dan juga hati. Akashi mengerutkan wajah, sepertinya kesal.

"—eto, untuk apa ya, Shintarou?"

"Bukankah aku sudah janji? Aku akan membawakanmu lucky item tiap hari. Itu lucky item Sagittarius untuk hari ini," ucap Midorima dengan nada bicara penuh kebanggaan sambil membetulkan kacamatanya yang buram belum dibersihkan.

'Ha? Lucky item? Memangnya aku percaya hal seperti itu apa? Lagipula, aku bukan Sagittarius!', katamu dalam hati.

"Aku juga akan mengajarimu tentang ramalan yang kau sukai. Tak usah segan bertanya padaku," lanjutnya sambil menaikkan posisi kacamatanya lagi. Wajahnya penuh kebanggaan bisa menjadi pengajar untuk Sang Emperor dengan materi kuliah 'Belajar mengenal zodiakmu bersama Profesor Shintarou'.

Akashi berusaha menahan diri. Oke, tahan Akashi. Kau tidak perlu meladeni teman gilamu yang satu itu.

"Akashicchi, coba lihat ke sini," Kise berlari mengambil bola basket yang berada tak jauh dari mereka berkumpul, "—aku akan memberitahukanmu sesuatu-ssu."

Kau dan juga yang lain ikut memperhatikan Kise. Kise mengambil bolanya dan memantulkannya ke lantai beberapa kali, lalu,

DUK DUK DUK.

"Ini namanya men-dribble bola loh, Akashicchi~!"

DUAK!—sebuah botol minum sukses menghantam wajah tampan berseri Kise.

"ADUH!"

Ya, Akashi baru saja melempar botol minum milik Aomine yang baru saja dihabiskan isinya. Untung saja, isinya sudah habis kalau tidak bagaimana nasib teman kuning kita ini?

'SIALAN KAU, RYOUTA! KAU MEMPERMAINKANKU!'

Kau hanya bisa tertawa garing melihat kejadian itu, sedangkan yang lain menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa kau melempari wajahku-ssu?" omel Kise pada Akashi sambil mengusap-usap wajahnya yang merah karena lemparan tadi.

"Kau BODOH! Jangan memberitahukannya hal tidak penting. Kalau itu dia juga tau!"

Berakhir dengan Kise dan Akashi yang berdebat. Hal ini sangat jarang terjadi, seorang Akashi mau berdebat hal tidak penting seperti itu.

"Oh, iya, kami sudah cerita tentang diri kami. Sekarang giliran tentang Akachin…nyam nyam.." ujar Murasakibara sambil mengunyah Maiubonya yang ketiga.

"Ah, benar juga," kata Aomine, kemudian melanjutkannya, "—kau tau, kau benci anjing."

Kise dan Akashi yang sudah selesai berdebat akhirnya kembali duduk dan mendengarkan. Entah kenapa Akashi mulai merasakan firasat buruk tentang apa yang akan diceritakan oleh mereka tentang dirinya.

"Aku benci anjing?" katamu pelan sembari menoleh ke arah Akashi. Akashi pura-pura tidak menyadarimu. "—kenapa aku benci anjing?" kau agak heran, mahluk seperti Akashi tidak suka anjing?

Sebenarnya, Akashi agak was-was dengan lanjutan kalimat Aomine. Dan ternyata,

"Karena kau takut dengan mereka, kau pernah berlari kencang sampai terguling di pinggir sungai gara-gara dikejar anjing, lalu bajumu basah kuyup karena tercebur, AHAHAHAHA," lanjut Aomine tanpa lupa tertawa terbahak.

'KAPAN ITU TERJADI, HUH, DAIKI?! JANGAN MEMBERITAHUKANNYA HAL YANG TIDAK PENTING!'

Kau melihat aura hitam disekeliling Akashi bahkan dia tersenyum mengerikan, akhirnya, kau berusaha menahan Akashi yang hampir meledak lagi. Sudah berapa kali Akashi kesal melihat teman-temannya yang mulai mempermalukannya. Walaupun sebagian informasinya benar namun tidak ada yang tepat sasaran.

"Ah, ya, kau tidak suka Oyakodon nanodayo. Lalu, kau pernah bilang padaku kalau makanan kesukaanmu adalah sup Tofu buatan Ibumu—" Midorima menambahkan informasi lagi. Akashi sudah terlihat tenang, info kali ini benar adanya.

Kau mengingat kata-kata Midorima waktu di penginapan mengenai Oyakodon—Akashi benci karena baginya 'Oya' dan 'Ko' tidak mungkin ada di dalam satu mangkuk. Kau tau hal itu, tapi sup Tofu adalah berita baru bagimu.

"—ah, maksudku, Ibu kandungmu," lanjut Midorima membuat Akashi benar-benar diam. Kau sedikit bingung dengan kata 'Ibu Kandungmu', terasa agak janggal jika harus ditambah 'kandung'.

"Ibu kandungku? Mak—sudnya?"

Semua menatapmu heran. Akashi diam saja.

"Jadi, kau benar-benar tidak ingat? Apa Nakano-san tidak cerita padamu?" Kau menggelengkan kepala.

"Ibu kandung Akachin sudah meninggal kira-kira sepuluh tahun yang lalu," ujar Murasakibara—berhenti makan.

Hah? Kau agak bingung. Bukankan mereka sedang di luar negeri? Bahkan Nakano bilang 'mereka jarang pulang'? itu artinya, keduanya memang ada diluar negeri.

"Meninggal? Bukannya—"

"—Ibu Akashi-kun yang sekarang bukanlah ibu kandung," lanjut Kuroko yang sejak tadi diam saja. Kau menoleh pada Kuroko kemudian dia menyunggingkan sebuah senyuman lembut.

"Oh.." Kau agak murung, lalu mengalihkan pandangan ke Akashi. Akashi hanya melirik sejenak padamu.

Kuroko mendekatimu. Dia berbisik agar tidak terdengar yang lain, "Tidak usah khawatir, Akashi-kun bukan orang lemah," lalu, dia kembali tersenyum padamu membuatmu sedikit lega. Kau mengangguk dan membalas senyuman Kuroko.

Kise kembali mengusap kedua kelopak mata dengan punggung tangannya. Hal itu, lagi-lagi, menarik perhatian Murasakibara yang sedang membuka bungkus Maiubonya yang keenam.

"Ada apa lagi, Kisechin?"

"Iya, sepertinya, aku melihat aura pink itu lagi di sekitar mereka," lanjut Kise pelan dan masih mengusap mata. Sisanya mendekat pada Kise lalu bersamaan—termasuk Akashi— menatapmu dan Kuroko yang sedang sibuk dengan dunia kalian sendiri bahkan sampai tidak sadar kalau dipandangi heran.

Murasakibara mengangkat Maiubo yang sudah dibuka ujung bungkusnya dan siap memasukkannya ke mulut, namun lagi-lagi, ya, lagi-lagi, Akashi merebutnya dan,

KREESSS!—meremasnya hingga hancur.

"AAAAAAHHHH…MAIUBO-KU YANG TERAKHIR‼"

"Ini aku kembalikan. Terima kasih atas pinjamannya," Akashi mengembalikannya lagi pada Murasakibara dalam keadaan sudah menjadi remah-remah dan berkumpul di ujung bawah bungkusnya. Sepertinya, Murasakibara harus lebih bersabar, karena mungkin saja dia akan terus menjadi korban keganasan gadis mengerikan. Lalu, Akashi bangun dan pergi dari lapangan basket itu.

Setelah terbangun dari dunia indah bersama Kuroko, kau menyadari Akashi pergi, "Hee? Dia mau kemana?"

"Entahlah," jawab mereka bersamaan. Kau berpikir sejenak dan berlari mengejar Akashi, sedangkan Kuroko menatapmu yang mulai beranjak pergi dari sana dan,

"Kenapa aku selalu melihatmu menjauh?" kata Kuroko dengan suara pelan jadi tidak terdengar jelas.

"Kau bicara apa, Tetsu?" tanya Aomine. Kuroko hanya menggeleng dan tersenyum canggung.

Semenjak kau dan Akashi pergi dari sana, mereka masih berkumpul di lapangan. Katanya sih, mau disana sampai bel masuk berbunyi dan ngobrol banyak topik.

"Yo, teman-teman," terdengar suara yang sepertinya pernah mereka dengar, lalu mereka menoleh ke arah datangnya suara itu dan mendapati sosok berambut putih dengan senyuman menawan seakan bersinar. Mereka bengong melihat sosok itu kemudian kembali saling menatap dan mengabaikan sosok itu.

"He?"

Tiba-tiba saja, ada angin aneh bertiup entah dari mana membuat suasana makin menyesakkan bagi sosok itu seakan ada background badai salju di belakangnya. Sungguh dingin sekali perlakuan mereka.

"A-Aku dicuekin…" katanya sambil jongkok dan memutar-mutar jari telunjuknya di lantai.

"Yukicchi/Yuki/Shinigami/Shinigami-san/Shin-chin?! "

Semua menoleh lagi padanya—Shinigami Yuki—sambil berteriak kaget kecuali Kuroko. Sepertinya, mereka baru menyadari siapa yang datang. Shinigami mulai berbinar-binar karena namanya disebut.

"Kupikir tadi siapa sok akrab sekali, ternyata kau?" kata Aomine.

"Sedang apa kau disini, Yukicchi?"

"—sekarang kan masih jam makan siang, kau tidak sekolah? Jangan bilang kau juga bersekolah di sini nanodayo? Tapi, kau tidak pakai seragam."

Shinigami terkekeh senang dengan dugaan mereka.

"Tidak, aku tidak sekolah."

"APA?" Semua terkejut. Lalu, Kise dan Aomine menghampiri Shinigami dan menepuk pundaknya.

"Jangan bilang kau tidak sekolah karena keluargamu tidak sanggup membiayainya? Huaaaa, kasihan sekali, Yukicchi~"

"Sungguh tragis nasibmu," lanjut Aomine mulai mengkhayal tidak jelas.

"BUKAAAN! BUKAN ITU!" Shinigami menepis kedua tangan Kise dan Aomine yang ada di pundaknya. "—aku memang tidak perlu sekolah."

"Ha?"

"Lalu, nyam…kau datang ke sini…nyam… untuk apa, Shin-chin~?" ucap Murasakibara sambil mengemut remahan Maiubo yang diremukkan Akashi tadi.

Shinigami tersenyum lagi. Senyumannya kali ini agak mengerikan. Sikap Shinigami yang mendadak berubah membuat mereka mengerutkan wajah. Tak disadari mereka sedikit bergidik ngeri. Mereka merasa Shinigami makin mirip saja dengan seseorang. Kemudian, dia menghampiri Kuroko dan berdiri dihadapannya dengan tatapan intimidasi.

"Aku datang kesini untuk menyapa kalian dan juga—" Shinigami menunda ucapannya dan menatap Kuroko intens, "—bertemu dengan Kuroko Tetsuya."

Shinigami dan Kuroko saling berpandangan. Suasana diantara mereka tidak terlihat baik.

"Untuk apa kau ingin bertemu dengan Kuroko nanodayo?"

"Ya, aku hanya ada keperluan. Lalu," Shinigami mengalihkan pandangan ke empat mahluk warni-warni sisanya, "—sepertinya, aku akan sering datang ke sini, jadi mohon bantuannya," Dia menundukkan kepala memberi hormat dan tersenyum.

.

.

.

.

Akashi berjalan menyusuri koridor luar. Kau berlari menghampirinya, namun Akashi berjalan cepat sekali, kau belum berhasil menyamai posisinya.

"Akashi-kun!"

Akashi berhenti dan menoleh ke belakang, "Jangan memanggil namaku begitu, jika ada yang mendengar bagaimana?"

"Maaf," kau mendekati Akashi. Kau menggaruk-garuk kepala Akashi yang tidak gatal sambil memikirkan sesuatu. Ada hal yang ingin kau tanyakan padanya, namun ragu takut Akashi akan marah.

"—maaf, Akashi-kun. Aku tidak tau kalau Ibu kandungmu sudah meninggal. Nakano-san hanya bilang mereka ada di luar negeri, jadi aku pikir—"

"—tidak apa-apa. Itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan."

Hening. Kau bingung harus beraksi apalagi. Tetapi, akhirnya, kau bertanya juga.

"Ibu kandungmu meninggal karena apa? Apa dia sakit?"

Akashi mengalihkan pandangan ke lapangan tenis yang berada tak jauh dari hadapan kalian. Dia memincingkan mata, terlihat siratan aneh dalam pandangannya. Kau tidak mengerti. Apa sebaiknya tidak kau tanyakan?

"—ah, kalau kau tidak mau mengatakannya juga tidak apa-apa. Aku—"

"—kecelakaan."

"Ha?"

Memori itu terngiang di benak Akashi. Ekspresi wajah tidak berubah. Dia mengigit ujung bibir. Tanganmu mengepal. Akashi kembali menatapmu dalam. Tatapannya sangat dingin seakan membuatmu membeku.

"Ibuku meninggal karena kecelakaan mobil bersamaku 10 tahun yang lalu."

Tanpa disadari kalian diperhatikan oleh sesosok mahluk. Mahluk itu menyeringai.

.

.

.

.

TBC..


Hai, minna-san. Akhirnya update. Makin banyak aja obrolan gajeh, gw sengaja jg sih. Kalau gak suka, maafkan saya. Setidaknya, ini yang bisa gw lakuin selama puasa. Obrolannya emg gaje, tapi jangan salah, kadang gw menyelipkan info penting disana. Jadi, jangan menganggapnya enteng *APA SIH GAYA DEH*

Kok TBC nya lagi-lagi ada mahluk menyeringai yak? Udah berapa kali gw pake juga? Ya sabodo mamatlah. Oia, btw, nijimura gw sebut2 diatas. Apa gw munculin aja dia? Untuk momoi, tdnya mau gw munculin tp entah lah masih ragu, kalo muncul pun aneh jg sih, terlambat. Daaan pokoknya apapun adegan yg pernah gw tulis tidak ada yg percuma walopun ngaco semua, karena itu ada maksudnya. AHAHAHA. *jangan boong ah, lg puasa*

btw, nanya deh, kisah Kuroko dan Reader, apa perlu gw ungkapkan?

Pengumuman bagi yg belum tau, fic gw yg boyfriend dan butler dihiatuskan sampai lebaran. Yang masih jalan ya fic ini dan fic baru gw judulnya against time. Sisanya, ragu2 untuk hiatus. Ahahaha. *dilemparin sayur*/eh,puasa woy.

Ayo, kita bahas review. Untuk yg punya akun udah gw bls lewat PM.

Nisa Piko-san : wahahaha..itu emg banyak adegan absurd di chapter 9. Tp klo gendong orang yg lebih gede gw pernah sih, cm emg ya itu, capeeeek gilaaa. Ahaha. Ringtone midorima tdnya mau gw bikin pake suaranya sendiri, tp krn dia tsundere jd gak mungkin. Ahaha. Pasti lebih kocak ya. Gpp kok kuroko tau mereka ketuker, hehehe. Pasti bingung?*SIAPA?* Masalah apakah ada death chara dan happy ending dgn Akashi, tidak bisa gw jawab nanti gak seru dong. Tenang, daku tidak pernah tersinggung dgn review CETAAAR-mu. Klo ada yg mu diungkapkan sekalian saja di kotak review AHAHAHA

Siapakahsaya : eh, siape lu? Ahahah, penname yg aneh, masa nanya diri sendiri. Ahaha. Thx ya buat reviewnya. Entah gmn tanggapan anda dgn chapter ancur ini. Fic ini dibilang rumit2 asik? UUUUH makasiiiiih…iya, gw gt yg bikin /DOR/ sebenernya, ini fic emg rumit, gak jelas dan byk misteri yg blm terungkap *APA SIH, JGN SOK BISA DEH* paling rumit adalah bikin romance antara Akashi, reader, kuroko, ditambah bumbu Yuki. itu percintaanya sungguh aneh. tp yaaa gitu dah, kenapa malah byk obrolan ngaconya ya? Ahaha. Setiap obrolan selalu ada hint tertentu kok, gak percuma. Kyk chapter ini juga.

Sip, kritik dan saran diterima dengan lapang dada *kali ini tidak ada paha dan sayap, udah abis /HEH*

REVIEW, PLEASEEEE?