HUNHAN | DEPRESSED | CHAPTER 10

Tittle : Depressed

Author : Larasafrilia1771

Genre : Tragedy, Romance, Yaoi

Cast : Oh Sehun

Lu Han

Wu Yifan

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Kim Jinhwan ( Ikon )

A/N :Disini saya Cuma memperjelas ya kalo couplenya ada Hunhan, Chanbaek, ama Binhwan tapi saya fokuskan sama Hunhan ada unsur menjelek - jelekkan tokoh saya ciptakan ff ini (?) Juga luhan punya keluarganya semua member juga kecuali sehun yang mutlak punya saya bhaqq ^o^

.

.

Summary

Sehun terpaksa dijodohkan dengan putra dari kerabat orangtuanya bernama luhan. Hal pertaman yang membuat sehun aneh kepada orangtuanya adalah kenapa ia bisa dijodohkan dengan namja yang mengidap depresi seperti luhan?

.

.

.

.

_Sebelumnya_

Luhan menatap banyak kerumunan yang memadati ke arah sisi trotoar. Dan ia baru ingat jika ada mobil yang menabraknya barusan. Tanpa tunggu lama Luhan menghampiri kerumunan itu, mencoba untuk melihat kondisi mobil yang nampak cukup parah dihadapannya. Ia merasa bersalah saat melihat kondisi mobil tersebut dan juga seorang namja yang berusaha dikeluarkan dari dalam mobil.

Polisi yang berada disana dengan sigap menangani kecelakaan ini. memerintah untuk semuanya menjauh dari tempat kejadian.

Luhan menatap lekat namja yang kini tengah di bawa ke dalam ambulance oleh para petugas yang baru saja datang. Mobil tersebut hancur dengan kondisi namja yang berada didalamnya sudah tak bisa dikatakan baik – baik saja. Ia menatapnya lekat dan sontak melebarkan matanya saat melihat siapa yang kini tengah dibawa oleh para petugas kedalam mobil ambulance.

"Jinhwan"

.

.

_Jinhwan POV _

Pagi itu Jinhwan akan pergi ke kampusnya setalah sudah lama absen dari mata kuliahnya. Jinhwan mengambil kunci mobil yang sedari tergeletak di meja nakasnya. Sedikit berlari saat langkah itu ia tuntun ke arah tangga untuk turun dari sana. Ia takut terlambat mengikuti mata kuliah hari ini juga berkonsultasi dengan dosen yang mengajarnya dan ia pun harus mengunjungi suatu tempat terlebih dahulu.

"Wufan hyung mana?" tanyanya pada maid yang tak sengaja lewat dihadapannya.

"Tuan sudah berangkat ke kantor pagi tadi" ujar sang maid membuat Jinhwan mengangguk paham dan kembali melanjutkan langkahnya.

.

Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Untuk mengejar keterlambatan karena sekarang ia harus mengunjungi suatu tempat dulu, mengantarkan beberapa barang yang sudah di siapkan untuk ia kirimkan ke sebuah panti asuhan. Berbicara tentang panti asuhan, Jinhwan sudah menjadi donatur tetap untuk panti asuhan tersebut selama kurang lebih satu tahun belakangan ini. Selain uang yang diberikan, ia pun sering memberikan barang – barang yang menurutnya berguna bagi para anak – anak seperti buku dan sebagainya.

"Nak Jinan kau datang" Ujar sang ibu panti- Sungmin- saat dirinya baru turun dari mobil. Mereka memeluk satu sama lain, karena sudah agak lama ia tak mengunjungi tempat ini.

"-Ayo masuk, anak – anak pasti senang jika kau datang. Dan..Aigoo kau semakin cantik saja" Jinhwan merengut meski ia tersipu malu karena ucapan tersebut. Mencoba mengajak Jinhwan masuk kedalam hingga matanya melebar saat banyak anak – anak yang menyambut kedatangannya, berlari kearah Jinhwan untuk memeluk namja mungil tersebut.

"Hyung kau datang, aku senang sekali. Hyung tahu Chanwoo selalu menggangguku" Celoteh anak bernama Donghyuk, umurnya sekitar tujuh tahun. Jinhwan tersenyum, mengusak rambut bocah tersebut.

"Bilang pada Chanwoo jika terus nakal ibu panti dan hyung akan marah" Donghyuk mengangguk, melepaskan pelukan itu dan berlari entah kemana. Selalu seperti itu, dasar anak kecil.

Kardus yang sedari tadi siapkan telah diturunkan oleh beberapa petugas di panti tersebut. Jinhwan sengaja membeli berbagai macam mainan, agar mereka merasa senang dan tak terlalu merasakan sedih meski tanpa orangtua.

"Semoga ini bermanfaat" Sungmin mengelus bahu Jinhwan kala itu. Terasa terharu dengan apa yang dilakukan Jinhwan untuk panti asuhan ini, jika saja tidak seperti ini mungkin panti asuhan akan ditutup karena kurangnya donatur yang memberi.

"Kau terlalu baik Jinan, aku berharap kau selalu bahagia"

Jinhwan tersenyum pada Sungmin. Ia pun berharap seperti itu, namun rasanya kebahagiaan belum berbalik ke arahnya. Namja mungil itu hanya bisa membatin saat ada yang memujinya, ia bukanlah orang baik yang dikatakan Sungmin. Ia adalah sosok yang sangat jahat karena seseorang yang telah membuatnya seperti ini.

.

"Aku pamit dulu ya anak - anak, besok jika ada kesempatan aku akan mampir lagi. Jadilah anak baik OK" Pamitnya pada anak – anak "-Eomma aku pamit dulu" Sungmin mengangguk sebelum ia memperingati namja mungil yang sudah dianggap olehnya sebagai anak "Hati – hati di jalan".

Jinhwan berpamitan kepada seluruh anak panti disana sebelum pergi. Sudah hampir dua jam ia bermain disini dan sekarang waktunya untuk pergi ke kampus.

Ia mengendarai mobilnya cukup kencang, alasannya hanya satu yaitu takut terlambat. Mobil itu terus melaju hingga kini ia berada di pusat perbelanjaan Seoul. Kawasan yang cukup padat, meski tak ada kemacetan. Jinhwan kembali melaju dengan kecepatan yang lumaya tinggi, hingga matanya menatap anak kecil yang berlari ke tengah jalan sedangkan lampu masih berwarna hijau. Merasa kehilangan kendalinya, ia mencoba membelokkan mobilnya ke kanan dan sebelumnya ia menatap seseorang yang mencoba menyelamatkan bocah itu.

Jinhwan tak bisa untuk sekedar menahan laju mobilnya karena suara dentuman yang cukup keras menyapu indra pendengarannya. Itu mobilnya sendiri yang menabrak trotoar di pinggir jalan, membuatnya mati rasa karena terjepit diantara itu.

Kepalanya terbentur cukup keras membuat darah mengucur dari pelipisnya cukup banyak. Ia masih tersadar kala itu sebelum suara – suara bising menyapu gendang telinganya. Semakin pusing, hingga membuatnya tak sadarkan diri ditempat.

.

.

_Depressed_

Luhan terdiam di tengah kerumunan orang banyak, menatap mobil ambulance yang telah membawa Jinhwan ke rumah sakit. Ia bingung harus melaukan apa, lalu lintas di sekitar kawasan ini menjadi tak terkendali membuat kepalanya terasa sangat pening, apalagi dengan suara klakson mobil yang berbunyi dari mana – mana. Namja cantik itu terus saja memegangi kepalnya, ia tak pusing hanya saja sesuatu memaksanya untuk memutar kembali memory lama beberapa tahun silam.

Luhan meringis saat mengingat kejadian yang terputar dikepalanya.

"Luhan Hyung, aku menyayangimu"

"Jinan jangan lari nanti jatuh"

Terus terpikirkan, meski ia tak ingin untuk melakukan ini. Memorynya terasa tak terkontrol, membuka lembaran demi lembaran lama yang membuat kepalanya semakin pening.

"Luhan hyung cantik, pantas menjadi princess OK"

"Hyung ini namja Jinan, berhenti mengucapkan itu karena kau lebih cantik daripada hyung"

"Tidak, lebih baik aku jadi penyihir, Wufan hyung menjadi pangeran dan Luhan hyung menjadi princess"

"Aishhh, kemarilah biar aku pukul"

"Andweeeeeee~~~"

Tubuhnya merosot ke tanah. Luhan sudah tak kuat untuk berjalan lagi. Semua persendiannya terasa lemas akibat ingatan itu. Dimana pada dasarnya keluarga mereka tercipta untuk saling menyayangi, namun entah kenapa semua berubah semenjak orangtua mereka meninggal tepat dihadapan matanya beberapa tahun yang lalu.

"Jinan..hiks"

.

.

Namja tampan itu berlari ke arah pintu bernomer 22 di ujung sana. Jantungnya berpacu tak beraturan bersama dengan katakutan yang melandanya sekarang. Tadi saat dirinya telah sampai ke rumah, ia tak mendapati suami cantiknya disana dan sontak membuatnya kebingungan hingga beberapa saat ponselnya berdering, seseorang berbicara jika Luhan berada di rumah sakit sekarang, padahal ia baru saja berada di tempat bekerjanya tersebut. Panggilan itu dari pihak kepolisian. Sehun terus berpikir negatif karena ini menyangkut Luhan suami cantiknya, apalagi pihak kepolisisan berbicara jika Luhan menjadi korban tabrakan di pusat kota siang ini.

Sehun membuka pintu itu cukup keras, membuat beberapa orang didalam sana terkejut. Ia tak menghiraukan itu, mengatur napasnya yang putus – putus lalu menghampiri ranjang dimana suaminya tengah terduduk disana.

"Lu, kau baik – baik saja kan?Ya Tuhan, aku sangat khawatir" Sehun memeluk Luhan dengan erat, jujur ia ketakutan saat ini. Namja cantik yang kini berada di pelukannya membalas itu tak kalah erat. Menangis didalam dekapannya membuat Sehun bertanya akan hal itu.

"Hikss..Jinan"

Sehun melepas pelukan itu sesaat, menatap sekejap ke arah Luhan sebelum kembali ia peluk pemuda cantik tersebut. Luhan manangis cukup lama, membuat kemejanya menjadi basah. Hingga pihak kepolisian yang sebelumnya telah meminta penjelasan padanya keluar dari ruangan, menyisakan mereka berdua saja karena atas hasil yang didapatkan polisi tak menjadikan Luhan sebagai tersangka karena namja cantik itu hanya mencoba menyelamatkan seorang anak kecil.

"Jinhwan? Memangnya ia kenapa?"

"Ia kecelakaan Sehun..hikss dan semua itu karena aku, kumohon jangan marah hikss" Luhan berujar sambil terisak dan Sehun hanya bisa terdiam saat mendengar apa yang diucapkan oleh Luhan. Jinhwan kecelakaan dan Luhan berada di tempat kejadian, jadi sebenarnya bagaimana.

"Tidak sayang, kau tak salah buktinya polisi tak menahanmu" Sehun belum mengerti kronologis dari kecelakaan ini. Ia sudah memperingatkan Luhan untuk tak keluar rumah namun apa yang ia perintah tak di lakukan oleh Luhan. Sebenarnya ia tak mau untuk mengekang Luhan namun jika seperti ini Sehun harus lebih hati – hati.

"-Lu, aku benar – benar tak tahu kejadian yang sebenarnya. Jadi kumohon kau cerita padaku, aku tak akan marah. Aku janji"

Luhan menatap mata sang suami lekat. Ia sangat takut untuk bercerita kejadian ini, namun Sehun menyuruhnya untuk melakukan itu dan ia tak mau Sehun marah padanya. Hingga pada akhirnya ia menceritakan kejadian yang sebenarnya bersamaan dengan Sehun yang terus berpikir di setiap ucapan Luhan. Sehun sempat berpikiran negatif terhadap Jinhwan namun disisi lain ia berpikir kecelakaan ini adalah murni ketidaksengajaan.

.

.

.

Wufan hanya bisa terdiam di kursi ruang emergency rumah sakit ini. Atas kecelakaan yang menimpa sang dongsaeng, namja tampan itu hanya bisa berusaha untuk tegar menerima keadaan ini. Ini adalah cobaan yang harus mereka jalani, untuk keluarga yang sangat ia cintai.

Siang itu saat dirinya berada di kantor, ia menerima panggilan dari pihak kepolisian bahwa Jinhwan mengalami kecelakaan. Polisi segera menghubunginya karena ponsel juga kartu tanda pengenal yang lengkap berada di saku milik Jinhwan. Wufan pada saat itu tak bisa berkata – kata lagi dan langsung pergi menuju rumah sakit yang kebetulan menjadi tempat Chanyeol bekerja.

Ia terus berdoa dalam hati menunggu kepastian kondisi Jinhwan. Chanyeol tengah menangani Jinhwan didalam dan ia mempercayakan semuanya kepada namja yang sangat ia kenal tersebut. Membuang napas berat sebelum ia benar – benar berusaha untuk tegar dengan ini.

.

Tak pernah terbanyangkan sebelumnya jika ia harus menangani Jinhwan yang tengah dalam kondisi parah seperti ini. Kecelakaan lalu lintas siang tadi telah membuat Jinhwan seperti sekarang.

Chanyeol menghela napasnya perlahan sebelum ia benar – benar untuk menangani pasien kritisnya sekarang. Beradu dengan rasa ketidak percayaan akan kondisi ini, ia mencoba fokus dengan tugasnya. Kondisi Jinhwan saat ini tidak bisa dikatakan baik – baik saja, ini sudah parah dan Chanyeol menjadi gemetar saat tangan itu perlahan mencoba memegang luka di daerah kepalanya. Hatinya bergemuruh untuk pertama kalinya terhadap Jinhwan

Dalam hati ia hanya bisa berdoa kepada sang pencipta untuk dimudahkan atas segala kondisi yang terjadi. Ia akan berusaha sebisa mungkin untuk Jinhwan.

.

.

.

"Ini murni ketidak sengajaan, kau tidak tahu jika Jinhwan ada di dalam mobil bukan"

"Maafkan aku Sehun..hikkss..aku tak mendengarkan ucapanmu dan keluar dari rumah saat itu hiks. Maaf Sehun"

Luhan terus menangis di dekapan Sehun cukup lama. Ia hanya bisa menenangkan Luhan, mengelus punggungnya yang terbalut baju rumah sakit itu.

"Akhh" Luhan meringis tak kala tangan Sehun yang memegang punggungnya. Saat kecelakaan terjadi, Luhan terpental cukup jauh dan membuat punggungnya berbenturan dengan aspal hingga menimbulkan memar di sekitar punggung akibat menahan bocah diatasnya.

Sehun menatap Luhan dan kemudian mulai menyibak sedikit bajunya. Luka di punggung suaminya memang tak terlalu parah, namun ini cukup membuat Sehun merasa gagal untuk menjaga Luhan.

"Ya Tuhan, punggungmu memar seperti ini. Apakah sakit sekali?" Luhan tak merespon ucapan tersebut. Meski cukup sakit, Luhan masih mengatakan ini baik – baik saja. Dibandingkan dengan kondisi Jinhwan jelas itu berbeda sekali.

"Tidak, ini tak seberapa. Dokter bilang ini akan sembuh dengan cepat"

"Kumohon untuk kedepanya kau harus menuruti semua ucapanku Lu"

"Ne, maafkan aku Sehun"

Sehun tersenyum samar, menatap lekat wajah cantik suaminya yang membius Sehun untuk terus melihatnya. Perlahan Sehun mendekatkan wajahnya ke arah Luhan, menempelkan dahi mereka untuk menatap satu sama lain lebih dekat. Luhan tersipu malu tak kala namja tampan tersebut mengucapkan kata – kata cinta yang membuat Luhan merasa tenang. Hingga dengan cepat Sehun menempelkan bibir itu, melumat perlahan dan itu dibalas oleh Luhan. Tangan kekarnya, mengusap helaian rambut belakang namja cantik tersebut. Membuat Luhan mendesah karena tangan Sehun yang mulai nakal menggerayangi sekitar lehernya yang sangat sensitif.

Mereka masih melakukan ciumannya dan malah Sehun semakin gencar mencumbui bibir itu. Membuat Luhan terkekeh didalam ciuman tersebut hingga tak menyadari ada seseorang yang lain tengah menatap mereka sebari menggeleng melihat adegan tak senonoh ini.

Luhan yang tersadar sontak mecoba untuk menjauhkan tubuh Sehun yang terlalu rapat terhadapnya. Sehun awalnya tak terima, namun suara seseorang membuatnya segera menyudahi ciuman panas tersebut.

"Kalian bisa melakukannya jika Luhan sudah diperbolehkan pulang"

Sehun memutar bola matanya sebal. Meruntuki kedatangan dokter yang sangat ia kenal.

"-Sekarang aku periksa dulu Luhan, minggir"

Huang Zi Tao, seorang dokter yang dulu sempat dekat dengannya. Hanya dekat dan itu hanya sebatas pertemanan saja. Namja yang memiliki mata bak panda itu mulai memeriksa Luhan. Wajahnya memang agak menyeramkan, namun sebelumnya Luhan menampik itu karena dokter ini sangat ramah juga baik terhadap pasien.

"Luka memarmu akan sembuh dengan cepat, asalkan jangan ada benturan pada punggung lagi" ujar Tao dan Luhan mengangguk untuk itu.

Sehun menatap setiap pergerakan Tao maupun Luhan. Ia takut si namja panda itu akan mencoba merayu Luhan dengan tidak sopannya, karena semasa kuliah Sehun sangat tahu jika Tao adalah penggoda yang ulung.

"-Kau harus hati – hati ya lain kali, apalagi kandunganmu masih sangat muda harus dijaga baik – baik" Luhan mengangguk sebari tersenyum, membuat orang yang berada di sebrang sana mencoba mencerna perkataan yang diucapkan Tao barusan.

"-Hey Sehun, kau harus menjaganya dengan baik. Dia sedang hamil sekarang, untung saja kondisi kandungannya kuat"

Luhan terkikik saat melihat ekspresi sang suami yang nampak terkejut disana. Membuat Sehun menatap Luhan dengan senyuman samar yang membuat Luhan bergidik ngeri. Itu memang senyuman tapi baginya Sehun hanya sedang mengancamnya.

"-Yasudah aku pergi, besok kau boleh pulang ya"

"Ne, terimakasih dokter" Ujarnya dan Tao melenggang pergi dari sana.

Setelah Tao benar – benar pergi dari ruangan. Sehun segera mendekap Luhan erat. Atas semua yang telah ia ketahui Sehun tak akan banyak bertanya dan ia sangat bahagia karena ini.

"Kenapa kau tak memberitahuku" Ucap Sehun masih mendekap tubuh yang lebih kecil. Luhan membalas pelukan itu erat, ia juga tak menyangka atas semua ini. Ia namja yang beruntung dan harus menjaga karunia yang diberi tuhan dengan baik.

"Aku ingin memberi kejutan kepadamu"

Untuk kesekian kalinya Sehun bersyukur atas semua yang terjadi. Mereka tengah berbahagia sekarang melupakan sejenak peristiwa yang telah terjadi beberapa waktu kebelakang, dan ingin seterusnya seperti ini. Meski pada awalnya Sehun khawatir akan kondisi Luhan yang belum dijamin sembuh total, namun dengan kehamilan ini mungkin Luhan bisa mengatur emosinya dengan baik. Sehun mendoakan yang terbaik untuk mereka dan calon bayi yang ada di dalam kandungan Luhan.

.

.

_Depressed_

Pintu ruang emergency telah dibuka, membuat Wufan segera berdiri saat ranjang itu mulai dipindahkan ke ruang rawat. Rasa lega membuat Wufan bersyukur karena Jinhwan masih bisa selamat meski kondisinya masih lemah. Jinhwan disana terbaring tak sadarkan diri akibat obat bius yang diberikan. Wufan menatap sendu Jinhwan yang nampak tertidur tenang.

Chanyeol, dokter yang menangani Jinhwan menghampirinya, menyuruh dirinya untuk ikut ke ruangan, mereka butuh berbicara mengenai kondisi Jinhwan juga operasi yang akan berlansung nanti karena operasi ini membutuhkan persetuan dari pihak keluarga.

.

.

"Kepalanya terbentur cukup keras juga tulang dadanya yang retak akibat tekanan kuat akibat kecelakaan. Kami akan berusaha untuk melakukan operasi untuk bagian kepalan dahulu, karena jika tak ditangani secara cepat akan memicu resiko pendarahan pada otaknya" ujar sang dokter -Chanyeol-.

"Kumohon selamatkan Jinhwan, lakukan yang terbaik untuknya"

"-Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Operasi akan dilakukan jika pasien telah sadar, bisa dibilang pasien sedang koma karena fisiknya saat itu sedang lemah. Jadi bersabarlah"

Wufan hanya merenung akan hal itu, ia tahu operasi yang dikatakan Chanyeol merupakan operasi besar. Ia menghela napas berat sebelum benar – benar pergi ke ruang rawat. Chanyeol yang setia duduk di kursi pribadinya seketika bangkit. Mereka berdua berjalan bersama untuk pergi ke ruang rawat Jinhwan. Kedua namja tinggi itu hanya terdiam selama perjalanan. Wufan merasa terpukul dengan kejadian ini membuat setiap langkahnya terasa sangat berat. Kakinya merasa lemas hanya untuk sekedar menapak pada lantai dingin ini. Mendengar ucapan Chanyeol barusan membuat hatinya terpukul cukup kuat, Wufan merenung bersamaan dengan langkahnya yang ia bawa menuju tempat tujuan. Mereka sedang dicoba oleh tuhan atas kejadian ini dan mereka harus menjalaninya.

.

.

Saat ia membuka pintu, hal pertama yang ia lihat adalah Jinhwan yang tengah tertidur damai di ranjang. Wufan tersenyum samar dan mulai menghampiri ranjang diikuti dengan Chanyeol dibelakang. Wufan masih bersyukur jika sang dongsaeng masih bisa diselamatkan meski kondisinya cukup parah.

"Apakah dia akan sadar dengan cepat?" tanya Wufan seraya menatap Jinhwan yang masih setia terlelap dalam tidurnya.

"Setelah obat biusnya habis. Mungkin beberapa hari kedepan, bersabarlah hyung"

Chanyeol tak dapat memastikan itu semua, karena dengan kondisi Jinhwan sekarang ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya. Entah kenapa melihat namja mungil itu seperti ini, hati Chanyeol merasa sakit. Jujur ia tak terlalu menyukai Jinhwan karena sikapnya yang terlalu buruk untuk seorang adik pada hyungnya. Namun entah kenapa hatinya seolah terbagi untuk beberapa namja yang mengisi hatinya. Luhan, Baekhyun dan Jinhwan, ketiga namja itulah yang membuatnya berdetak setiap kali berada di dekatnya apalagi Luhan. Ya, Luhan belum pernah sedikitpun terhapus dalam hatinya sampai sekarang meski ia menimbang untuk itu, karena seiring berjalannya waktu obsesi pada Luhan sedikit memudar tergantikan dengan kedua sosok namja mungil dengan kepribadian yang berbeda, Baekhyun dan Jinhwan.

.

.

.

Pagi hari sekitar pukul delapan Jinhwan akhirnya siuman dari perkiraan dokter yang menargetkan satu sampai dua hari. Jinhwan telah sadar bersamaan dengan Wufan yang mulai terbangun dari tidurnya di sofa ruang rawat. Mengerjap beberapa kali hingga pandangannya mulai jelas dari sebelumnya. Wufan menghampiri ranjang, tersenyum hangat kala sang dongsaeng telah benar – benar membuka mata.

"Syukurlah kau sudah sadar, apa yang sakit bilang pada hyung" Jinhwan tersenyum samar dengan ucapan tersebut. Tubuhnya terasa sangat sulit digerakan dengan rasa nyeri yang menjalar di sekitar dada hingga kepalanya. Banyak perban yang terpasang di sekitar wajah namja mungil tersebut, akibat kecelakaan membuat banyak goresan luka yang tercipta disana.

"Aku benci rumah sakit hyung" ujarnya lirih pada Wufan. Sifatnya tak akan pernah berubah meski ia sudah tak tersadar hampir duapuluh empat jam. Jinhwan membenci kondisi dimana ia harus dirawat bersamaan dengan obat pahit tersebut.

"Kau tak berubah ya. Hanya beberapa hari saja OK setelah operasi dan kita akan pulang"

"Memangnya aku kenapa harus dioperasi, aku baik – baik saja" protes Jinhwan, menatap kesekitar hingga kepalanya tiba – tiba terasa sakit.

"Jangan banyak bergerak OK, kau masih sakit jika butuh apa – apa bilang pada hyung" Wufan mengelus pipi Jinhwan lembut, melihatnya telah sadar dan kembali cerewet membuat pikiran negatifnya sedikit menghilang. Ia yakin Jinhwan kuat untuk menjalani operasi nanti.

Hingga beberapa detik kemudian pintu dibuka oleh seseorang menampilkan tiga orang disana. Jinhwan menatap ketiga orang tersebut, membuat ingatannya kembali memutar kejadian lalu. Disana ada Chanyeol dan kedua orang yang sebelumnya pernah berurusan dengannya. Baekhyun dan satu namja yang pernah membuatnya naik pitam di pinggir jalan.

Chanyeol menghampiri ranjang, tersenyum hangat saat tatapan mereka bertemu.

"Sudah baikan?" tanyanya dan Jinhwan hanya bergumamam lirih. Menatap sebentar ke sebelah Chanyeol disana.

"-Ahh aku lupa, ini Baekhyun juga Hanbin kau pasti pernah bertemu dengannya"

Jinhwan mengangguk pelan, sebenarnya ia ingin marah sekarang karena kenapa Chanyeol bisa membawa kedua namja menyebalkan itu kehadapannya. Apakah Chanyeol ingin dirinya untuk cepat mati. "-Aku kebetulan bertemu mereka, Baekhyun baru saja memeriksakan kondisinya setelah dirawat disini karena ia pun mengalami kecelakaan sebelumnya sepertimu" Jinhwan hanya bisa terdiam dengan segala ucapan Chanyeol, menatap lekat sosok namja yang ia ketahui bernama Hanbin disana. Ada rasa menyesal telah marah dan mengata – ngatainya di pinggir jalan waktu itu, dan juga ponselnya yang rusak. Setelah Chanyeol berbicara tentang Baekhyun, dirinya malah dengan setia memperhatikan sosok Hanbin disana. Jinhwan bingung sendiri, merasa bersalah pada namja tersebut.

Dengan seluruh keberanian yang ia punya Jinhwan mencoba untuk bertanya pada Hanbin. Meski ia sedikit kesal, namun ia merasa bersalah atas kejadian waktu itu.

"Maaf atas kejadian waktu itu"

Itu suara Jinhwan, mencoba meminta maaf pada Hanbin yang kini berada disebelah ranjangnya. Hanbin menatap kaget Jinhwan yang tiba – tiba meminta maaf kepadanya, namun ia merasa senang akan hal tersebut.

"Ahh, masalah itu sudah kumaafkan" Balas Hanbin seraya memegang belakang lehernya, gugup.

Jinhwan tak sengaja tersenyum ke arah Hanbin. Membuat hatinya merasa lega saat ini begitu juga Hanbin.

Setelah itu mereka semua berbincang cukup panjang, membuat Jinhwan tak henti – hentinya tertawa akibat cerita – cerita yang ia dengar dari mulut namja – namja disana. Baekhyun disini yang nampak sangat antusias, ngomong – ngomong tentang Baekhyun mereka sudah memutuskan untuk saling memaafkan atas segala kejadian dulu. Intinya mereka semua sudah saling menjalin hubungan pertemanan, membuat Jinhwan merasa nyaman di situasi seperti ini.

"Kau harus sering berkunjung ke sini ya, mengunjungiku" Jinhwan tersenyum pada Baekhyun, hingga matanya melirik kesebelah tepatnya Hanbin disana "-Dan juga Hanbin, aku senang bertemu denganmu" Wufan disana bisa melihat senyum malu – malu Hanbin yang membuatnya menjadi ikut tersenyum.

Chanyeol disana merasakan hal yang mustahil di hidup Jinhwan. Ia berpikir namja mungil ini tak sekalipun berpikir untuk memiliki teman ataupun sebagainya, namun pemikirannya ikut meleset dan inilah yang ia lihat sekarang.

"Kami pulang dulu ya Jinan cepat sembuh , sampai jumpa"

Mereka berpamitan dan Chanyeol memutuskan untuk tetap disini dulu untuk menemani Jinhwan. Wufan nampak sedang mengangkat panggilan dari seseorang, Chanyeol bisa melihat raut Wufan yang nampak serius, mungkin masalah perusahaan.

"Kau senang?"

"..Emmm.., Baekhyun dan Hanbin ternyata orang yang baik"

"Mereka memang sangat baik. Tidurlah sudah larut, aku akan menemanimu" Chanyeol mengelus pipi Jinhwan disana, hingga seseorang yang tak lain Wufan menghampirinya dengan terburu – buru.

"Yeol kau bisa jaga Jinhwan dulu, aku ada urusan mendadak dan harus pergi ke Kanada, hanya beberapa hari sebelum operasi dilakukan. Apa kau tak keberatan?"

"Jauh sekali hyung, tapi aku akan menjaganya tenang saja hyung" Tanpa berpikir namja tinggi tersebut menyetujui itu, ia akan menjaga Jinhwan hingga bernar – benar sembuh. Wufan merasa sangat sungkan sebelumnya, namun keduanya sama – sama penting dan tak mungkin ia menitipkan Jinhwan pada Luhan.

"Aku percayakan ini padamu OK"

"Ne hyung"

Sebelum berpamitan Wufan mencium kedua pipi Jinhwan terlebih dahulu, berujar menenagkaan sang dongsaeng yang nampak tak ingin untuk dirinya pergi.

"Aku hanya pergi sebentar, hyung akan mendampingimu selama operasi tenang saja"

Namja mungil itu menatap Wufan yang nampak sangat kelelahan, menjaganya juga urusan perusahaan semuanya diberikan pada sang hyung.

Setelah Wufan benar – benar pergi dari ruangan, kini hanya mereka berdua yang ada disana. Chanyeol terus menatap paras Jinhwan yang terlihat pucat, karena sebelumnya namja mungil ini sempat kehabisan darah. Mereka masih terdiam dikala salju turun malam ini, Jinhwan menatap ke arah jendela sana. Memandangi salju yang turun perlahan dari luar jendela besar tersebut.

"Salju turun malam ini, pasti diluar dingin sekali" Ucap Chanyeol, mengusap lengan Jinhwan disana. "Mereka pasti tengah berbahagia" celetuk Jinhwan seraya menunjukan wajah sendunya, Chanyeol bertanya tentang apa yang maksud oleh Jinhwan.

"Siapa?" tanyannya.

"Sehun juga Luhan. Mereka pasti senang melihatku seperti ini sekarang. Apa dia sudah tahu ini?"

"Berhenti berbicara seperti itu, aku tak suka mendengarnya" Chanyeol berucap penuh penekanan karena ia kesal pada Jinhwan. Disituasi yang seperti ini ia masih saja memikirkan kedua orang yang mustahil memikirkannya.

CKLEKK

Pintu ruangan dibuka oleh seseorang, membuat Chanyeol maupun Jinhwan menoleh ke arah sana. Diambang pintu Chanyeol dapat melihat ada dua orang disana, hingga namja tinggi tersebut melebarkan matanya merasa tak yakin dengan apa yang ia lihat. Disana Sehun dan Luhan tengah berdiri di ambang pintu lalu mulai menghampiri keduanya.

"Jinan"

Waktu terasa berhenti, membuat Jinhwan tak bisa untuk sekedar berucap sepatah katapun. Ia hanya fokus menatap kedua namja disana, dadanya merasakan sakit saat pandangannya menatap tangan Sehun yang menggenggam erat jemari Luhan.

Namja cantik tersebut perlahan mendekat ke arah ranjang sedikit berlari dan memeluk Jinhwan yang terbaring. Luhan memeluknya tak terlalu erat namun itu semua sudah mendeskripsikan semuanya. Rasa rindu seorang hyung kepada dongsaengnya. Jinhwan dapat merasakannya, namun rasa itu masih tertimbun dalam lubuk hatinya membuat ia hanya bisa terdiam saat dirasa isakan terdengar di telingannya.

Luhan menangis di bahu, meminta maaf padanya untuk semua yang telah terjadi. Seakan memutar kembali kejadian kecelakaan itu, ia sempat melihat seorang namja yang berusaha menyelamatkan seseorang. Awalnya ia sangat tidak mengetahui orang tersebut, namun sekarang ia tahu siapa orangnya, Luhan.

"Hyung, jangan menangis"

Sehun dan Chanyeol menatap kedua saudara kandung itu aneh. Pasalnya Sehun akan menduka jika Luhan memeluk Jinhwan, namja mungil itu akan menolaknya. Sebelum memelukpun Sehun berpikir jika mereka terlihat dihadapannya, Jinhwan akan segera mengusir dan tak ingin menatap sedikitpun Luhan. Namun semua salah, Jinhwan menerima Luhan bahkan membalas pelukannya meski ia tak tahu isi hati Jinhwan yang sebenarnya.

"Kau baik – baik saja kan?" tanya Luhan.

"Seperti yang hyung lihat sekarang, aku baik – baik saja tenanglah"

Bohong Jinhwan pada Luhan dan Chanyeol yang mendengarnya segera mendekat ke arah ranjang. Menatap sekilas Luhan sebelum pertanyaan yang sudah ia ingin tanyakan terucap olehnya.

"Punggungmu baik – baik saja?"

"Ne, aku tak apa – apa"

"Baguslah" Ucapnya sedikit gugup.

Chanyeol meruntuk dalam hatinya. Disaat ia mulai mencoba mengubur perasaannya terhadap Luhan, disitulah pertemuan tak terduga datang. Ia butuh untuk lebih lama tak bertemu dengan Luhan, namun rasanya cukup susah mengingat Luhanlah cinta pertama yang telah membuatnya bahagia dahulu meski berakhir dengan luka sakit yang membekas.

Sehun yang masih terdiam disana mulai mendekat, merangkul pinggal Luhan yang masih setia berdiri disisi ranjang.

"Sehun bolehkah aku menginap disini, aku ingin menjaga Jinhwan" mohonya pada Sehun.

"Tidak untuk sekarang Lu, kau baru sembuh dan ingat kandunganmu juga"

Luhan hanya menghembuskan napas berat, mengelus jemari Jinhwan disana dengan lembut.

Chanyeol maupun Jinhwan hanya bisa saling menatap tak percaya. Mendengar penuturan Sehun barusan membuat kedua merasakan perasaan sesak karenanya. Jinhwan hanya bisa memasang senyum palsunya pada mereka, meski didalam hati ia menangis begitu juga dengan Chanyeol.

Setelah lama mereka berbincang masalah kondisi Jinhwan, akhinya Luhan maupun Sehun berpamitan untuk pulang. Luhan masih dirawat di rumah sakit ini namun infusnya telah dicabut karena Luhan memaksa dan dokter tak mempermasalahkannnya.

"Kita pergi hyung, jaga Jinhwan dengan baik" Ucap Sehun pada Chanyeol sebari mengajak Luhan pergi dari ruangan tersebut.

Setelah mereka benar – benar pergi dari ruangan ini. Jinhwan hanya bisa terdiam, perkataan Sehun tadi terus berputar dalam pikirannya. Dimana mantan kekasihnya tersebut berbicara jika hyungnya -Luhan- tengah hamil sekarang. Ribuan jarum menancap tepat dijantunganya, seakan beberapa saat lagi jantung itu tak akan berdetak lagi karena sangking terkejutnya.

Chanyeol disana hanya bisa merenung atas apa yang telah ia dengar dari mulut Sehun. Menatap ke arah luar jendela besar disana, menahan sesuatu kekesalan dan sakit hati dalam dadanya. Chanyeol berusaha menahan meski ia rasa tak sanggup untuk itu. Ia butuh pelapiasan.

"Aku benar – benar munafik"

Chanyeol hanya bisa terdiam tak berniat untuk membalas ucapan tersebut.

"Hanya bisa tersenyum dihadapannya dan menangis saat mereka telah pergi. Aku nampak sangat menyedihkan" Lagi Jinhwan terua mengutarakan semua ucapannya sekarang.

Chanyeol mendekat kearah ranjang, membantu Jinhwan yang ingin mengubah posisi baringnya untuk terduduk. Mencari posisi paling nyaman dan hanya bisa menyandar pada kepala ranjang.

Chanyeol menggenggam salah satu tangan namja mungil itu, menatap Jinhwan yang sudah menangis dihadapannya.

"Kita sama Jinhwan, sama – sama munafik"

"Aku tak bisa untuk melupakan Sehun begitu saja ..hiks. Aku..aku tak bisa meski beberapa kali aku mencoba untuk itu..hikkss..hikss. Aku harus bagaimana Yeol, aku sudah terlalu egois untuk terus menginginkan Sehun kembali padaku. Aku benci semua ini"

Chanyeol mencoba memeluk Jinhwan yang masih menangis. Mencoba menenangkan sosok mungil itu dengan mengelus punggungnya perlahan. Ia tahu bagaimana perasaan Jinhwan apalagi mendengar jika Luhan sedang hamil anak Sehun sekarang.

"Luhan telah mengandung anak Sehun, dan aku bisa apa Yeol.. hikss"

Jinhwan terus menangis di pelukan Chanyeol. Pikirannya terus saja memutar semua ucapan Sehun beberapa saat tadi. Membuat Jinhwan terus menangis cukup keras karena sangking kesalnya. Chanyeol tak bisa berbuat apa – apa, hanya bisa menenangkan Jinhwan sebisanya, karena ia pun terpukul akan kenyataan ini.

Kepalanya terasa sangat sakit saat kembali ia memikirkan semua itu. Membuat ia meringis akan rasa sakit yang dirasakan. Chanyeol sedikit melirik ke arah Jinhwan yang nampak memegangi kepalanya, hingga dirasakan sesuatu basah mengenai bajunnya tepat di dada. Chanyeol berpikir jika itu adalah air mata milik Jinhwan yang mengotori bajunya. Tangisan Jinhwan telah mereda namun sesuatu yang basah dirasa terus merembes cukup banyak pada baju. Ia mencoba untuk melepas pelukan tersebut, menatap Jinhwan yang tak melakukan pergerakan sedikitpun saat dirinya tengah memegang kedua bahunya.

"Jinhwan, hey bangun"

Chanyeol sedikit menepuk – nepuk kedua pipi namja mungil di pangkuannya. Menyadari jika bukan air mata yang mengotori bajunya, melainkan darah yang keluar cukup banyak dari luka di kepalanya tersebut. Jinhwan mengalami pendarahan pada kepalanya dan itu membuat Chanyeol dengan sigap membaringkan kembali Jinhwan dan memencet tombol darurat untuk memanggil beberapa perawat untuk segera melakukan operasi sekarang.

"Bertahanlah Jinan"

.

.

.

TUBIKONTINYUEEEEEEEEEE~~~~~~~

Tuh Luhannya hamil anak Sehun, pada seneng gak hehe.

Maaf ya gak bisa bls pm satu satu hehe tapi jangan marah ya aku gak mau dianggep author yang sombong, aku ramah dehh beneran #prett

Untuk yang nyangka Jinhwan tuh jahat banget, kalian tuh salah besar. Jinhwan itu baik kayak ibu peri hehehe.

Saya orangnya gak banyak omong deh, yang udah baca review jangan lupa ya. Yang baru baca sok mangga follow sama favs ini ff OK jangan lupa review juga, tenang saya ma ramah kalo ditanya macem – macem #Apaanbanget~~

.

.

REVIEW PLEASEEE~~