Title : Ohshin High School
Author : Thewi Choi
Main Cast: Kaisoo. Chansoo.
Genre : FriendShip, Romance, little humor
Warning : YAOI!
Rating : Teen
POV: author
"Ohshin High School"© 2013 by Thewi Choi
Summary : Ini adalah kisah kehidupan sekolah biasa seorang siswa bernama Do Kyungsoo. Bersama teman-temannya yang begitu berwarna./ Orang tua adalah omong kosong bagi Baekhyun. Jongin yang mulai meruntuh dinding tak kasat mata dengan ibunya. Kejahilan Chanyeol dengan sang ibu. Kyungsoo yang yatim piatu sejak 10 tahun yang lalu. Ch.9: Parent/ YAOI. KAISOO-CHANSOO.
.
Baekhyun menatap bingung Kyungsoo yang terlihat dingin. Tidak biasanya Kyungsoo berwajah seperti itu.
"Mau ap– "
.
PLAAAK!
.
#Chapter 9 : Parent.
.
.
.
Sebuah tamparan keras menarat dipipi kanan Baekhyun. Membuat sang namja mungil itu terdiam kaku.
Kyungsoo sendiri tetap bertahan dengan wajah dinginnya. Seakan samasekali tidak merasa bersalah dengan tamparan keras yang dilayangkannya.
Jongin dan Chanyeol nampak tak kalah kaget. Mata Chanyeol bahkan membulat seakan akan keluar dari tempatnya.
"Kyungie.."lirihnya. Hampir saja chanyeol akan menghampiri Kyungsoo, namun segera ditahan oleh Jongin.
"Biarkan mereka berdua dulu"
.
"Apa yang kau lakukan?" Bentak Baekhyun marah. Kyungsoo mendesis.
"Harusnya aku yang berkata seperti itu. Kau pikir apa yang kau lakukan tadi heoh?!" pekik Kyungsoo tak kalah keras. Baekhyun membuang wajahnya kesamping, enggan menatap namja yang merupakan sunbaenya itu.
"Apa? Itu bukan urusanmu!" gumamnya lemah.
"Kau anak durhaka, Byun Baekhyun!" tuding Kyungsoo membuat Baekhyun menoleh cepat.
"Durhaka? Aku? Keeh, adakah istilah orang tua yang durhaka? Mereka yang menelentarkan aku! Mereka yang salah. Mereka yang jahat. Mereka yang –"
"Cukup!" Tangan Kyungsoo sudah mengambang, hampir saja dia menampar Baekhyun lagi. Namun dia ingat Baekhyun juga sedang tidak dalam keadaan sehat.
Baekhyun sedikit gentar dengan Kyungsoo. Terbukti setetes air mata mengalir dari matanya.
"Aku benci mereka... Aku benci" lirih Baekhyun sambil menunduk. Kyungsoo menghela nafasnya dalam. Mencoba menenangkan dirinya yang dikuasai emosi. Dimatanya Baekhyun memang masih labil.
"Minta maaflah sebelum kau menyesal" nasehat Kyungso. Namja bertubuh mungil itu duduk disamping Baekhyun, mencoba mendekati Baekhyun dengan cara lembut.
"Tau apa kau?! Kau bahkan tak pernah merasakan bagaimana ditelantarkan sepertiku" balas Baekhyun sambil mengusap air matanya. Kembali menghadirkan dirinya yang angkuh. Kyungsoo tersenyum getir.
"Aku sudah 10 tahun tidak melihat orang tuaku. Apa itu sudah cukup?" lirih Kyungsoo. Baekhyun tercengang. Chanyeol hanya menatap sendu Kyungsoo diambang pintu.
"Mereka sudah meninggal saat umurku tujuh tahun" ujar Kyungsoo sambil tersenyum tipis. Baekhyun menatap wajah Kyungsoo dalam-dalam. Mencoba mencermati senyuman tipis yang terukir diwajahnya. Orang tuanya mati kenapa dia malah tersenyum.
"Aku sedang bermain sendirian dikamarku ketika aku dikabari Ayah dan ibuku menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat. Pertemuan terakhir kami sejujurnya tidak bisa dikatakan kenangan yang indah juga. Karena saat itu aku sedang ngambek pada mereka. Aku berusaha tidak mengerti dengan apapun alasan yang diberikan ibu dan ayahku karena tak bisa menemaniku bermain hari itu. Aku marah dan kesal. Aku menangis dan mengunci diriku dikamar" Kyungsoo menerawang keatas langit-langit kamar itu. Mencoba mengumpulkan kepingan kenangan terakhir bersama ibu dan ayahnya dulu.
Jongin memandang kosong Kyungsoo. Tersirat kepedihan diwajahnya.
"Hingga kabar itu datang, akhirnya aku sadar. Aku takkan bisa lagi melihat mereka. Hari itu adalah pertemuan terakhir kami. Seharusnya aku mendengar perkataan ayahku, mengerti apa yang dikatakan ibuku. Aku menangis lebih keras lagi. Menangis sejadinya. Hingga aku tak bisa berbicara sampai beberapa hari karena tenggorokan terluka akibat aku meraung-raung berjam-jam" Chanyeol menyandarkan tubuhnya disamping pintu. Dia ingat kejadian itu. Tetangga mungilnya itu benar-benar tersiksa karena kehilangan orang tuanya.
"Aku menyesal setengah mati karena sempat merasa jengkel pada mereka disaat terakhirnya" lanjut Kyungsoo. Baekhyun menunduk dalam saat merasakan sebuah belaian lembut dirambutnya. Entah, dia merasa egonya sedikit runtuh sekarang.
"Mereka mengacuhkanku... bahkan saat aku seperti ini mereka tak ada waktu untuk sekedar menjengukku. Aku bisa apa?" ujar Baekhyun lemah.
"Bagaimana pun buruknya, mereka tetaplah orang tuamu. Orang yang bersusah payah merawatmu. Bahkan ibumu berjuang keras dengan mempertaruhkan hidupnya agar dapat membuatmu melihat dunia. Cobalah mengerti, agar kau takkan menyesal nanti" kata Kyungsoo lembut.
"Aku selalu mencobanya. Tapi aku tak pernah bisa benar-benar menerimanya. Semuanya terasa kosong. Aku frustasi dengan mereka. Kenapa aku? Kenapa harus aku?!"
"Jangan bersikap seolah kau adalah orang yang paling menderita. Kau masih bisa bertemu mereka, Baekhyun. Sedang aku, aku tak pernah lagi bisa bertemu mereka. Begitu banyak orang-orang didunia ini yang tak pernah bisa bertemu lagi dengan orang tua mereka. Tidakkah kau harusnya merasa bersyukur?"
Jongin tersenyum tipis. Merasa sedikit tersentuh dengan apa yang dikatakan Kyungsoo.
"Kau orang baik, Baeki. Kau sudah menyelamatkanku meski itu beresiko. Aku tahu itu" sejenak ruangan itu hening.
"tampar aku..." gumam Baekhyun membuat Kyungsoo mengernyit bingung.
"apa?"
"tampar aku!" dengan ragu Kyungsoo mengangkat tangannya dan melayangkannya kepipi Baekhyun. Meski tak sekeras tadi, namun itu cukup membuat Baekhyun oleng.
Baekhyun terdiam dan tertunduk. Jongin mendekati Baekhyun dan memeluknya dari samping.
"Hiiiks...huhuhuuu... Kau memukulku lagi. It –itu sakit sekali. Hiks.. aku jadi tak bisa berhenti menangis..huhuhu...~ eomaa..appaa... Huu..Ot –otoke?"
Kyungsoo mendesah lemah lalu sebuah senyum tipis terukir disana. Anak ini bahkan gengsi untuk menangis didepannya, hingga mencari alasan yang tak masuk akal.
Kyungsoo ikut mendekat lalu ikut memeluk Baekhyun dari sisi lainnya. Entahlah, dia merasa melihat dirinya yang dulu. Seandainya dulu ada seseorang yang menyadarkannya seperti yang dilakukannya sekarang. Mungkin dia takkan menyesal seperti ini.
"Hiikss..." dan sebuah isakan keras menyadarkan Kyungsoo pada seseorang namja bertubuh tinggi yang ada didekat pintu. Sedang menangis dengan ingus yang menjuntai dramatis.
"Chan, kau sedang apa?-_-" tanya Kyungsoo malas pada Chanyeol yang terisak aneh bagai anak kecil.
"Aku terharu. Huweeee... tapi pagi aku mengerjai ibuku lagi. Bagaimana ini?"
.
.
.
Kyungsoo sudah menyandang tas ranselnya bersiap pulang bersama Chanyeol. Xiumin dan Chen sudah datang beberapa menit yang lalu. Tepat setelah Baekhyun dapat menenangkan emosinya, hingga tak ada yang tahu Baekhyun habis menangis tadi.
Kyungsoo tersenyum lembut pada Baekhyun yang masih merengut ditempat tidurnya. Mungkin kesal dan malu karena telah menangis dihadapan orang dianggapnya rival.
"Tidak usah merengut. Aku takkan bilang pada Tao kok" ujar Kyungsoo lalu segera menghilang dibalik pintu sebelum Baekhyun mengamuk lagi.
"Daaah, Baekiie...Chuu~" Chanyeol melemparkan fly kissnya dengan gaya norak. Membuat Baekhyun mual sendiri.
"Ada telepon. Aku keluar sebentar" pamit Jongin sambil mengikuti dua orang tadi keluar dari ruangan itu.
Meninggalkan Baekhyun sendirian bersama Chen dan Xiumin dalam keheningan. Mereka bertiga saling berpandangan.
Malam ini adalah giliran Chen dan Xiumin untuk menjaga Baekhyun. Meskipun Baekhyun sendiri agak ngeri terhadap namja berwajah kotak memiliki kepribadian ganda yang dipanggil Chen. Masih jelas diingatannya saat Chen mengamuk ketika melihat anak idamannya –Kyungsoo- dijahati. Itu cukup mengerikan jika tidak ada Xiumin sebagai pawangnya disana.
Saat Chen akan membuka mulutnya, Baekhyun segera mengambil bantal dan melindungi wajahnya.
Waspada terhadap sisi lain Chen yang mengerikan. Sedang chen sendiri hanya memasang wajah malasnya.
"Kenapa kau?"
.
.
.
"Ahhha... Uri Kyungsoo memang yang terbaik!" cetus Chanyeol sambil bergelayutan dileher Kyungsoo. Memeluk leher itu dari belakang sambil terus berjalan. Untung saja koridor rumah sakit itu sudah sepi, jadi takkan ada tatapan aneh untuk tingkah absurd Chanyeol. Kyungsoo mendengus lalu menerawang kearah langit-langit.
"Aku seperti melihat diriku disana. Dia orang baik sebenarnya" ujar Kyungsoo. Chanyeol tersenyum sambil mengeratkan pelukannya pada namja yang jauh lebih pendek itu.
"Kalau dia tidak baik untuk apa dia menolongmu sampai rela masuk rumah sakit begitu. Aku bangga padamu, baby. Sini ku ciuuum..." ujar Chanyeol sambil memonyongkan bibirnya kearah pipi Kyungsoo. Kyungsoo menggeram sambil mencengkram wajah Chanyeol dengan telapak tangannya. Mendorong-dorongnya dengan ganas.
"Uggh... maniaakk~..."
Mereka seakan hanyut dalam dunianya sendiri tanpa mengadari seseorang dari ujung koridor memandangnya bingung. Chanyeollah yang pertama kali menyadari ada seseorang diujung koridor.
"Eoh? Joomyeon?" panggilnya masih dengan posisi absurdnya. Namja berkulit putih itu tersenyum canggung saat melihat Chanyeol masih tetap memeluk mesra Kyungsoo dari belakang. Kyungsoo tersadar dan segera menggigit lengan besar Chanyeol, hingga namja bertubuh tinggi itu berjengit dan menarik tangannya cepat.
"Apa sih? Kau masih seperti waktu TK. Masih suka mengigit orang!" Chanyeol merengut sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang kebas karena gigitan sadis Kyungsoo.
Sedang Kyungsoo sendiri nampak tak acuh dan malah sibuk tersenyum pada orang yang dipanggil 'Joomyeon' tadi. Joomyeon membalas senyum Kyungsoo dengan tak kalah manis.
Dan Chanyeol pun merasakan aura kecocokan disekelilingnya.
"Joomyeon-ah, kau sedang apa disini?" tanya Chanyeol. Joomyeon hanya tersenyum lalu menggeleng.
"Tidak, hanya berkunjung. Mungkin..." jawabnya sambil menggaruk kepalanya. Belum sempat Chanyeol membalas, seorang suster sudah memanggil Joomyeon. Joomyeon tersenyum tipis pada dua teman sekolahnya itu lalu segera mengikuti suster itu memasuki sebuah ruangan.
"Dia irit bicara, tapi murah senyum" gumam Kyungsoo sambil menatap kepergian Joomyeon. Chanyeol mengangguk mengiyakan.
"Tidak seperti temanmu itu. Siapa? Sehan? Thehun? Hmm... Se-"
"Sehun" potong Kyungsoo malas.
"Teman sekelasmu aneh semua. Untung teman sekelasku tidak seperti teman-temanmu. Jumyeon dan Jongin terlihat normal. hehee"
"Iya, sayang ternyata kau yang tidak normal" Kyungsoo pun berlalu acuh meninggalkan Chanyeol yang mencibir omongan terakhir Kyungsoo.
.
.
.
"Yeoboseyo?" balas Jongin pada seseorang yang ada diseberang line telepon. Tubuh tinggi itu bersandar didinding dingin rumah sakit. Matanya memandang kosong kearah langit-langit.
"Jongin-ah, dimana kau nak?" Jongin tetap pada wajah datarnya. Dia tahu ibunya sangat mengkhawatirkannya karena belum pulang hingga sekarang
"Masih dirumah sakit. Sebentar lagi aku pulang Omonim" sahut Jongin formal. Terdengar desahan lega disana.
"Sudah makan?" Jongin menggeleng meski dia tahu ibunya tak dapat melihatnya sekarang.
"Belum" jawabnya singkat.
"Ini sudah jam berapa? Kenapa tidak makan? Cepat pulang ne? Ibu akan buatkan makanan untukmu"Jongin tersenyum tipis, bahkan hampir tak terlihat.
"Ne"
"Jangan terlalu lelah. Kau sudah beraktifitas seharian ini"
"Ne Omonim" dan sejenak mereka berdua terdiam. Aura canggung menguar disana. Jongin menghembuskan nafasnya lemah. Sedang Yuri sendiri masih terdiam, begitu banyak yang ingin dia katakan pada anaknya itu. Namun dia tak dapat mengeluarkan barang sepatah pun jika berhadapan dengan Jongin langsung.
"Omonim?" panggil Jongin ragu.
"Ne?"
"S –Sudah makan?" Sepatah pertanyaan singkat Jongin membuat Yuri tercengang. Tangan Yuri bergetar hebat, Matanya sedikit berkilat tak percaya.
"..."
"Omonim?" panggil Jongin lagi. Terdengar suara kekehan kecil.
"I –Ibu menunggumu, kita makan bersama ne? Cepat pulang" sahut Yuri sebelum menutup panggilan teleponnya. Yuri meletakkan ganggang teleponnya dengan sebuah senyuman tulus penuh haru.
Jongin menatap ipadnya dalam. Teringat apa yang dikatakan Kyungsoo pada Baekhyun tadi. Dia sadar Kyungsoo benar. Dia harus menghancurkan tembok yang dibangunnya sendiri dengan perlahan-lahan. Dia tak ingin terus-terusan membatasi dirinya dengan orang tuanya. Dia sudah lelah. Dia akan belajar, meskipun terasa sulit. Kyungsoo sudah membuka matanya.
.
.
.
"Tao!" panggil Xiumin ketika Tao keluar dari antrian makan siang dengan baki berisi makanan. Tao menggangkuk lalu segera duduk disamping Kyungsoo yang berhadapan dengan Chen dan Xiumin.
"Porsi makanmu kenapa? Kau diet? Mau jadi tulang?" cerocos Tao sambil menatap remeh makan siang Kyungsoo. Kyungsoo memutar bola matanya.
"Tidak. Tidak. Aku lagi malas makan saja" Kyungsoo menggigit rotinya malas. Tao menoleh lalu menumpukan wajahnya sambil cemberut.
"Ah ya Chen, tadi Yesung Saemnim memanggilmu kenapa?" tanya Kyungsoo mengalihkan pembicaraan.
"Ada murid baru besok. Aku disuruh menyiapkan bangku tambahan"Jawab Chen seadanya. Xiumin segera menghentikan suapan sendoknya.
"Eoh? Yang dari Cina itu? Yesung saemnim pernah cerita sih beberapa hari yang lalu" sahut Xiumin dengan mulut penuh. Kyungsoo mendelik jijik saat beberapa butir nasi meloncat indah dari mulut Xiumin.
"Yesung Saemnim ember ya? Cerita kemana-kemana, nanti tidak surprize lagi" cibir Tao. Lalu keempat orang itu pun melanjutkan acara makan siang mereka dengan damai.
Tak jauh dari sana seseorang berwajah imut dengan tangan yang masih diperban memandang meja yang berisi siswa dari XI-B itu. Tiba-tiba saja namja bertumbuh mungil tersenyum dan berlari kecil kearah meja itu.
Syuuut~
.
Bruuuk..!
.
Greep!
.
"Hyyuuuung~~" rengeknya manja setelah berhasil memeluk Kyungsoo yang sedang lengah. Sampai-sampai Kyungsoo memekik dan hampir terjengkang karena kaget dengan sang penubruk.
Tao, Chen dan Xiumin melotot hebat ketika menemukan sang penubruk yang tengah merengek dan bermanja-manja pada Kyungsoo saat ini adalah Byun Baekhyun, orang yang selalu mencari masalah dengan Kyungsoo. Tao bahkan tersedak dan menyemburkan susu dari hidungnya sangking shocknya.
Kyungsoo sendiri tak tahu harus bagaimana menghadapi si manja ini. Mimpi apa dia si Baekhyun yang selalu menganggap dirinya rival kini malah asyik bermanja-manja padanya. Bahkan Kyungsoo bisa melihat telinga kucing muncul dipuncak kepala Baekhyun saat dia asyik mengelus-ngeluskan kepalanya kearah Kyungsoo. Kucing manja. Yaah, dia cocok.
"ya. YAA! Ada apa denganmu?!" pekik Tao sambil berdiri dan menunjuk Baekhyun emosi. Baekhyun mendelik dan menatap Tao jengkel tanpa melepaskan pelukan posesifnya pada Kyungsoo. Gumaman-gumaman pedas meluncur pelan dari Baekhyun membuat kepala Tao mendidih dan akhirnya Xiuminlah yang lagi-lagi harus memegangi si ahli Wushu itu agar tidak mengamuk dikantin sekolah.
Benar-benar kacau.
"Bae –Baekhyun? Kau salah makan apa?" tanya Kyungsoo ragu. Baaekhyun hanya menggeleng sambil memasang puppyeyes lalu kembali mengelus-eluskan kepalanya kearah Kyungsoo. Kyungsoo memasang wajah malasnya.
'satu lagi makluk aneh' itulah yang ada dipikirannya. Setelah Chanyeol, Tao, Chen, Xiumin –yang untungnya masih terlihat waras- Sekarang Baekhyun menambah daftar panjang teman-teman abstraknya.
Chen hanya menatap datar kumpulannya yang terlihat ribut karena teriakan tidak terima Tao dan Xiumin yang menenangkannya dengan ikut berteriak. Juga Baekhyun yang terus-terus bermanja-manja tanpa mempedulikan umpatan Tao. Bahkan Kyungsoo juga ikut-ikutan terpekik-pekik karena mencoba melepaskan diri dari pelukan maut baekhyun.
Chen mendengus malas.
"Anak-anak aneh" gumamnya tidak sadar bahwa dia juga tak kalah aneh beberapa hari yang lalu.
Dan sejak hari itulah Baekhyun menjadi salah-satu bagian dari teman-teman aneh Kyungsoo. Siapa sangka. Itulah kehidupan, tak ada yang tahu jalan hidup. Roda berputar, kadang kau diatas lalu dibawah. Dulu musuh sekarang berteman.
TBC
Next : Chapt 10
"Baekhyun itu... siapamu?"
.
"Maaf, ini kelas XI-B? Aku murid pindahan..."
.
"Sehun dan Lay semeja...uwoooh Daebak!"
.
"Kau menyukainya heoh? "
.
"Ah, itu Sehun! Tapi siapa gadis itu, dia bukan dari sekolah kita kan?"
.
Selamat bertemu lagi sama saia. :D
Maaf ini udah hampir kadaluarsa banget ya. Terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, laptop saia ilang beberapa bulan yang lalu. Naas banget disitu ada file lanjutan ff ini. Padahal ff ini udah sampai chapter 11. Sayang banget deh ih. Saia bukan tipe orang yang suka ngulang kerjaan dua kali, saia sempet down dan ga mau buka ffn karena keinget ama file yang ilang.
Mana di fd udah dihapus jauh-jauh hari sebelumnya. Kemudian saia inget kalo ada aplikasi yang bisa balikin data yang udah dihapus di fd. Setelah dapet lappy baru akhirnya saia nyoba aplikasi itu, and it's work! Meski Chapter 11 dan file yang berisi alur keseluruhan cerita ga ditemuin it's ok laah, semua ff saia sebagian besar kembali.
Cuma itu yang saia jadiin alasan keterlambatan update ini.
MAAAF... #sungkeeem
Thanks To:
Abusesarnikelodeon, INSPIRITEELF, abuseLeeEunin, SooSweet, abusemamik, RzkAmlia, t.a , flowerdyo, .18ᄃ, gingerbread124, Des Parfaitsᄃ, dokiya, PandaCherryᄃ, Jung Eunhee , Salsabila Byun, alexander. ᄃ , 12 , zyeLna VIPELFᄃ, Choi Min Gi, Love Coupleᄃ, The Flame Parkᄃ, ArraHyeri2,Cho Rai Saᄃ , Insooie baby , Jenny, andini taoris, chindrella cindyᄃ , OhSooYeol , megajewels2312, Kim Chan Soo, savEarthᄃ , beberapa guest dan silent reader.
Terima kasih sudah mensupport saia. :*
