Disclaimer plot © kimsangraa

Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, etc~

Note : Hanya diedit sekali. typo(s), weird, strange, etc.

Happy reading!

.

.

Bibir Kyungsoo bergetar, matanya hampir berair ketika mendengar lelaki itu terus berbicara. Untaian kata mengalir dari mulutnya tanpa henti, tanpa memberi kesempatan bagi Kyungsoo untuk menyela. Kyungsoo menahan air matanya, dan perlahan tangannya memegang pergelangan lelaki berambut blonde itu.

"Lalu?" tanyanya, perlahan. Harapan mendominasi dalam suara lembutnya yang berpadu dengan getar ketidakpercayaan.

"… lalu… S—sehun menciumku! Tunggu, maksudku, mencium keningku!"

"Ya ampuuuun, itu adalah cerita paling manis sepanjang tahun ini, Luhan-hyung! Aku ingin menangis!" teriak Kyungsoo, lalu mengusap air mata imajinernya dengan gerakan dramatis. Sementara Luhan berguling-guling di kasur Kyungsoo sambil menahan rasa malu yang seolah menekan sampai otak.

"Benar, 'kan? Apa Sehun di sekolah juga seperti itu?" tanya Luhan seraya menarik selimut untuk menutupi setengah wajah rupawannya.

"Seperti itu bagaimana maksudmu?" tanya Kyungsoo. Ia mengikuti jejak Luhan yang berbaring di kasur.

"Yaa… Sering melontarkan pandangan seksi, berbicara dengan suara rendah, tidak banyak bicara tapi perilakunya bisa membuatmu tercengang malu…" kata Luhan pelan. Selimutnya diturunkan lagi sampai leher. Kyungsoo memandangnya datar.

"Aku tak pernah melihat Sehun berperilaku seperti itu, karena ia tak pernah dekat dengan satu orang spesial di sekolah. Tapi, ya, saat dance, Sehun sungguh kelihatan seksi." jawab Kyungsoo, matanya menari-nari tanda berpikir. Luhan mengerang.

"Lama-lama aku bisa mati disetiap kencan dengannya. Kau tahu pandangannya begitu seksi dan—"

"Oke, Hyung, kau tadi sudah menceritakan semuanya. Kau tidak mau 'kan aku jadi tertarik dengan Sehun dan meninggalkanmu berdua dengan Kai?" tanya Kyungsoo. Luhan menggeleng-geleng kuat. Dicekalnya pergelangan Kyungsoo sampai pemiliknya merintih kecil.

"Aku menyukai Sehun duluan."

"Tapi Sehun mengenalku lebih dulu." sela Kyungsoo. Luhan menghempaskan tangan Kyungsoo.

"Tapi aku adalah cinta pertamanya saat ia berumur delapan tahun!"

Kyungsoo tertawa melihat reaksi sepupunya yang memiliki rambut ikal itu. Tapi kejadian ia tertarik pada Sehun tidak akan terjadi, ia berjanji. Kalaupun ia tertarik pada Sehun, maka ia akan diam saja. Tapi ia sudah punya Kai, dan itu sudah lebih dari cukup. Benar-benar lebih dari cukup.

.

.

Tak!

Gelas plastik berisi bubble tea itu ditaruh dengan keras di atas meja. Lalu pemiliknya duduk begitu saja, mengabaikan rambutnya yang berdesir digoda angin. Kyungsoo yang duduk di depan Sehun tertawa kecil melihat sikap dramatisnya.

"Wajahmu kenapa, Sehun?" tanya Baekhyun, yang duduk di sebelah Kyungsoo, sembari mengayunkan lollipop rasa stroberi yang dibelikan Chanyeol, yang sedang membeli makanan untuk dirinya sendiri, berjubelan di antara siswa sekolah menengah lainnya yang ingin mengisi perut juga.

"Hasil pemungutan suara sudah keluar." jawab Sehun, wajahnya makin tertekuk. "Aku tidak terima, ada banyak siswi memilih 'Sehun and me'. Mereka tidak tahu aku sudah punya Luhan. Aku juga tidak mau bersama mereka, Luhan jauh lebih cantik bahkan dari Yoona,"

Baekhyun tertawa, sementara Kyungsoo tersenyum kecil, masih belum paham apa yang mereka bicarakan.

"Lalu? Pemenangnya siapa, Hun?" tanya Baekhyun.

"Pemenangnya… Kai dan Kyungsoo! Yeaaayy, chukhae~" jawab Sehun, dan ia bersorak diikuti Baekhyun juga bersorak.

Kyungsoo menganga. "Hah? Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?"

"Begini, lho, Kyung, 'kan setiap pesta ulang tahun sekolah juga diadakan festival. Nah, pasangan yang terbaik akan membintangi drama yang akan ditampilkan. Sebenarnya ini sudah menjadi tradisi, nah yang tahun kemarin, Myungsoo dan Sungjong dari kelas sebelah menampilkan drama tentang dewa Yunani," jelas Baekhyun, lalu ia mengemut lolipopnya lagi.

"…?"

"Baek, sepertinya ia belum menangkap maksudmu," kata Sehun, yang menyadari ekspresi Kyungsoo masih tampak bingung dengan mata yang membelalak.

"Intinya kau akan menampilkan drama bersama Kai," kata Baekhyun, datar.

"MWOOO—"

"Sssst, kau akan membuat orang lain melihat pada kita, Kyungsoo!" desis Baekhyun, agak sebal dengan reaksi Kyungsoo yang berlebihan—sebenarnya tidak berlebihan juga, bayangkan saja kau diikutkan sebuah casting tanpa kau tahu dan tiba-tiba seolah besoknya sutradara mengatakan yak-adegan-satu-action dan kau hanya bisa terbengong.

Tiba-tiba Chanyeol datang dan mengambil tempat di sebelah Sehun, sambil menaruh tray yang berisi nasi, lauk, dan jelly seraya bertanya, "Aku mendengar teriakan. Apa Kyungsoo sudah tahu ia diikutkan drama sekolah?"

"Hah—bahkan Chanyeol saja tahu! Jadi, aku akan menampilkan drama bersama Kai? Menampilkan? Di muka umum? Am I supposed to be a girl and wear a wig and dresses and heels?" tanya Kyungsoo, suaranya seperti tercekik—abaikan fakta bahwa ia memang ingin mencekik Baekhyun.

"Kyuuuung, itu bukan ideku! Itu semua ide organisasi sekolah, siapa yang bisa menolak? Lagipula ini juga semacam untung-untungan, kau dan Kai juga akan mendapat bayaran karena ini bukanlah sukarela tapi disuruh," jelas Baekhyun.

"Dan, ya, kau harus mengenakan wig, gaun, sepatu hak, lalu menjadi seorang gadis," tambah Sehun.

"Lalu berakting dengan baik. Sekali kau terlihat tidak antusias, bayaranmu akan dikurangi." tambah Chanyeol.

"Uuuuugh—mereka menyebalkan sekali, sih." geram Kyungsoo, dan semuanya tertawa.

"Tidak ada yang bilang mereka menyenangkan, Kyung." sahut Chanyeol.

.

.

Ia berjalan melewati lorong yang akan mengantarnya ke atap. Ini jam keenam, harusnya ia ada di kelas dan memperhatikan guru yang sedang menerangkan tentang logaritma lalu menurut ketika ia disuruh membuka buku dan mengerjakan latihan, alih-alih ia malah berjalan santai di antara suara ramai yang teredam tembok kelas.

Ia membuka pintu atap dan melihat sesosok lelaki sedang menyandarkan kedua lengannya pada besi pembatas, tengah mengamati sesuatu nun jauh karena matanya seperti kosong. Kyungsoo menepuk bahunya dan berkata dengan suara ringan.

"Jongin."

Sosok itu menoleh, mendapati Kyungsoo berdiri tak jauh darinya. Senyum mengembang, menghiasi wajahnya yang rupawan. Ia menurunkan tangan dari besi, lalu membuka lengannya dan menuju Kyungsoo, memeluk tubuh kecil itu dan menenggelamkan wajahnya pada bahu sempit Kyungsoo.

"Apa yang terjadi? Jangan katakan ada masalah lagi," sahut Kyungsoo, tangannya membelai punggung Kai.

"Tidak, tidak ada. Aku baik-baik saja, hanya lelah." jawab Kai.

"Lelah? Apa kau barusan mengerjakan sesuatu? Kulihat dari jam pertama, wajahmu terus menempel pada meja, Kai." goda Kyungsoo. Kai terdiam sejenak, sembari mengeratkan pelukannya seolah Kyungsoo akan jatuh jika lengannya lengah.

"Aku lelah karena diriku sendiri. Aku berpikir tentang hubungan kita. Dan rasanya setiap aku menyadari seorang Do Kyungsoo masih ada di sisiku dan tersenyum manis. Lega luar biasa." jawab Kai, mengacuhkan wajah panas Kyungsoo yang dipuji. Tapi ia menetralkan debarannya dan berbicara dengan nada menenangkan.

"Kita sudah melaluinya, dan kita menjadi lebih kuat karena itu, bukan? Kau tidak perlu khawatir, misalnya masalah itu adalah ombak, pegang tanganku yang kuat. Agar walaupun kita hanyut, ini tidak terpisah," kata Kyungsoo, menggenggam tangan Kai dengan erat.

"Aku akan mencobanya. Walaupun ketika ombak itu datang, aku menganggapnya sebagai sesuatu yang mengerikan, tapi kita harus bertahan," ujar Kai, menatap mata Kyungsoo dengan sorot yakin dan senyum tipis.

"Begitulah, Jongin. Kita harus bertahan apapun jenis ombaknya," balas Kyungsoo, ia menepuk puncak kepala Kai dan lelaki yang lebih tinggi mengaduh manja.

"Kau tahu, aku suka sekali ketika kau memanggilku dengan 'Jongin' dan bukan 'Kai'. Seperti kau menganggapku benar-benar sebagai Jongin." beritahu Kai. Kyungsoo mengangkat alis.

"Apa bedanya?" kata Kyungsoo.

"'Jongin' adalah seorang anak lelaki yang pemalu dan tidak mungkin berani menentang. Tapi 'Kai' kuanggap sebagai reinkarnasi, yaitu seorang lelaki yang kuat. Berani, walaupun harus mementingkan diri sendiri." jawab Kai.

"Aku lebih suka lelaki pemalu daripada lelaki yang memakai piercing saat aku pertama kali bertemu dengannya." sahut Kyungsoo, dan mereka tertawa bersama. "Tapi, ya, aku benar-benar suka Jongin maupun Kai. Mereka punya kelebihan sendiri-sendiri dan ketika disatukan, aku melihat refleksi yang bagus."

"Kau memujiku terlalu banyak, Kyungsoo-ya," kata Kai, tersenyum. Lalu memberikan sebuah kecupan ringan di kening Kyungsoo.

"Ah, iya, kau sudah tahu kita main di drama sekolah?" tanya Kyungsoo, dan hal yang mengejutkannya adalah Kai mengangguk.

"Iya, sudah dari tadi pagi."

"Darimana kau tahu?"

"Panitianya memberitahuku. Siapa itu—yang dari kelas senior—kalau tidak salah Yura-sunbae." jawab Kai, dan Kyungsoo merasa ingin meledak.

"Uh—"

"Hahaha, tidak apa, Kyung. Kita main bersama, dan tidak akan ada hal jelek yang akan terjadi. Kau percaya padaku?"

Sebenarnya Kyungsoo ingin mengomel, tapi senyum tipis alih-alih yakin yang tertera jelas di wajah Kai membuatnya tak bisa berkata—lelaki itu sangat tampan.

.

.

Malam itu, Sehun datang ke rumah Kyungsoo karena didengarnya Luhan menginap lagi. Ia disambut oleh ibu dari Kyungsoo yang tersenyum ramah dan agak terkejut karena Sehun mencari Luhan, bukan Kyungsoo—karena Kyungsoo juga katanya sedang kencan.

Maka Sehun menggandeng tangan Luhan dan bermaksud membawanya ke taman terdekat. Jalan mereka penuh diam dan canggung, tapi genggaman tangannya terasa hangat dan Sehun ingin tersenyum hanya karena hal kecil seperti itu.

Mereka sampai dan duduk bersebelahan di ayunan, tetap dengan bahasa tubuh yang canggung. Sehun tidak tahan karena dari tadi Luhan terus menunduk—itu membuatnya sangat gemas, jadi ia menahan dagu Luhan secara tiba-tiba dan membuat pemiliknya membelalakkan mata.

"A-ada apa, Sehun?"

"Aku gemas, Hyung. Dari tadi menunduk terus, jadi aku tidak bisa melihat wajahmu. Padahal aku datang 'kan karena kangen." jujur Sehun dan Luhan terasa seperti api dibuatnya—panas.

"A-aku juga kangen…"

"Hyung canggung ya, setelah aku mengutarakan perasaanku?" tebak Sehun. Luhan tidak menjawab, hanya menepis tangan Sehun dari dagunya secara lembut dan menunduk lagi. Itu bukan jawaban tapi Sehun tahu itu benar. "Biasa saja, Hyung. Anggap aku tidak mengatakan apa-apa, tapi aku menyukaimu."

Sehun bodoh, itu namanya mengatakan apa-apa! Luhan menggerutu dalam hati untuk menetralkan debaran jantungnya yang justru makin cepat karena ucapan Sehun. "Sehun-a, berhenti mengucapkan hal seperti itu. Aku sangat lemah dalam menghadapinya," ucapnya, nyaris seperti bisikan, tapi masih bisa didengar karena mereka dilingkupi sepi.

Sehun hanya tersenyum. "Hyung lucu sekali, sih." katanya, sembari berdiri dari ayunannya dan menarik Luhan berdiri dari ayunan sebelah, lalu memeluknya erat. Sehun baru sadar, suhu tubuh Luhan sedikit lebih panas. Ia mengecupi kening Luhan, pipi Luhan, mata Luhan yang terpejam, berkali-kali, untuk mengekspresikan rasa sayangnya yang tak bisa dibendung lagi.

Luhan sendiri bingung, Sehun itu lebih muda empat tahun tapi perlakuannya begitu maskulin. Ia pikir, wajahnya sudah seperti kepiting rebus, merah dan beruap. Sehun hanya begitu saja ia sudah menyerah, lalu ada pertanyaan yang melewati otaknya secara tidak sengaja—

—bagaimana jika Sehun melamarnya?

Astaga, Luhan tidak akan memikirkannya karena jika dipikir, ia akan semakin depresi. Depresi karena bingung bagaimana cara menahan malu yang seolah sampai menekan otakmu.

"Oh, iya, Hyung…" kata Sehun, intonasinya menggantung di akhir.

"…ya?" tanya Luhan.

"Kemarin jawabanmu terlalu pelan. Karena sekarang aku akan bisa mendengarnya, bisa kita ulangi lagi yang kemarin?" tanya Sehun. Luhan menahan nafas, memikirkannya saja sudah membuatku asdfghjkl, Sehun-a, bagaimana kau bisa memintaku mengulanginya lagi, batin Luhan.

Tapi batin dan mulutnya berkata beda. Ia hanya mengangguk kecil dan berbisik. "Boleh…"

"Nan neol joahaeyo."

Dan orbs itu menjadi magnet tatapan Luhan lagi. Tangan mereka sudah sejak kapan tertaut manis tanpa disadari. Luhan masih membutuhkan waktu untuk menjawab karena—astaga, ekspresi Sehun begitu seksi—dan suaranya begitu dalam.

Save me, batin Luhan.

Tapi anehnya, ia tersenyum manis. Mata banjjak-banjjak-nya membalas tatapan teduh dari Sehun. "Na ddo joahae, Sehun." jawabnya, dengan suara agak bergetar tapi Sehun bisa mendengar keyakinannya dengan sangat jelas.

Ia mendekatkan wajahnya pada Luhan, lalu menempelkan bibirnya pada bibir lembab Luhan yang hangat. Sedikit menyesapnya, lalu ia melepasnya. Sehun tidak mau Luhan berpikir dirinya menyukai Luhan hanya karena fisik. Jadi ia kembali menatap Luhan dengan sayang dan memeluknya, erat.

First kiss was taken by first love.

.

.

Drama

.

.

"Catch the Shadow"

.

Ia hidup dalam kesendirian. Gelap selalu menemani, tak bisa ia menemukan seseorang yang mengerti dirinya. Bahkan kelinci berhamburan ketika ia datang ingin memberi wortel yang berbau menggoda. Tak ada yang menemani tapi bayangan menyukainya.

Gadis itu berlari namun langkahnya terhenti di ujung. Kaki menginjak di ujung gaunnya dan ia sudah sangat berantakan, ketika bayangan itu datang dan tersenyum. "Nonaku yang indah."

Sang gadis mengerang, menjerit ketika semuanya menjadi gelap dan hanya dua sumber cahaya menyorotnya dan menyorot setengah tubuh dari sang bayangan yang memakai mantel kehitaman dan pakaian ala pangeran kematian. Senyum memikat dari bentuk bibirnya membuat gadis itu diam sejenak dengan nafas terengah. Ia tak bisa mengenali bentuk wajah bayangan ini karena ia memakai topeng di matanya yang berujung runcing.

"Jauhi aku! Aku tidak berguna, carilah orang lain dan jauhi aku!"

Suaranya tak jauh dari bergetar hebat tapi ia berusaha menelan ketakutan. Bayangan itu mendekat, menundukkan tubuhnya sampai ia ada dalam jarak belaian tangannya di wajah sang gadis. "Kesepian adalah zat yang paling berguna. Aku tidak bisa menjauhimu karena aroma ketakutan membuatku semakin kuat."

Lalu… Hitam.

Rantai menggulung di sebelah kakinya dan berujung pada bola besi yang beratnya setengah dari tubuhnya sendiri. Ia menangis, di mulutnya terlilit kain agar jeritannya teredam, sementara tangannya dililit oleh kain lain. Kemerahan yang merefleksikan lelah dan marah sudah mewarnai wajahnya.

Dan ketika ia hampir putus asa, bayangan mendekatinya lagi. Cahaya yang menyorot itu mengecil dari yang tadi, kali ini hanya bagian tubuh atasnya yang sebelah kanan, gadis itu menjerit, ingin menendang tapi ketika hanya sebelah kaki yang bebas, itu membuatnya semakin lelah. "Aku—akhu ingh—in ma—mati…"

Bayangan itu menggelengkan kepalanya, tidak terima. Tapi anehnya gadis itu bisa melihat senyuman sedih yang membayangi ekspresinya, walaupun matanya masih ditutupi topeng dengan runcing di ujung. Tiba-tiba bayangan itu melepas ikatan di tangannya dan gadis itu langsung menarik mantelnya; memeluknya.

"Aku tahu… Kau tidak sejahat itu… Senyuman sedih itu ekspresi yang sama ketika kelinci menjauhiku…"

Bayangan itu terdiam. Tidak memberikan reaksi apapun, hanya mendengarkan isakan perih dari gadis yang memeluknya. Sudah berabad-abad lamanya ia tidak merasakan hangat—dan detik ini, kehangatan merajai tubuhnya. Ia ingin balas memeluk tapi bayangan lain datang mengganggunya.

"Phantom! Apa yang kau lakukan dengan sandera kita? King akan marah!"

Bayangan lain itu menutupi wajahnya lebih dari 'Phantom'. Hanya sebelah matanya yang tajam kelihatan lalu ia memakai masker hitam dan rambutnya yang coklat muda tampak berkilau disorot cahaya. 'Phantom' diam saja, melepas tubuh gadis itu dan sang gadis langsung terjatuh rapuh, rambut ikal panjangnya tergerai kusut.

"Keluarlah, Shade. Aku akan menyusulmu. Aku perlu tahu sebentar tentang gadis ini."

Yang dipanggil 'Shade' menggerutu, lalu keluar tanpa 'menyapa' sang gadis. 'Phantom' menepuk kepala gadis yang kelelahan dengan kaki dirantai itu, lalu melepas mantelnya dan meninggalkan pakaian seperti kemeja tapi jauh lebih mewah. Ia menaruh mantel itu mengelilingi bahu sang gadis dan berbisik. "Pakailah."

'Phantom' keluar dari ruangan dan gadis itu bersyukur setengah mati karena udara seperti lima belas derajat dan ia segera memakai mantel itu, lamat-lamat menghirup aroma seperti melati dari mantel.

Lalu… Hitam.

'Phantom' mengkhianati King dan Queen. Ia membebaskan sandera yang paling ketakutan dan lari bersamanya. 'Shade' dan 'Lunar' ditugaskan mencari, tapi mereka tidak bisa menemukannya dimanapun.

Mereka ada dalam lingkupan kekuatan magis dari 'Phantom'. Bayangan sejenisnya mampu mengeluarkan kekuatan yang membuat mereka tidak kelihatan dari bayangan lain yang mencari maupun tidak. Maka dari itu, jika 'Phantom' ditemukan, ganjaran yang diterimanya akan sangat berat—atau bahkan sampai dikucilkan tapi ia tak boleh berteman dengan makhluk lain.

Sang gadis menangis ketakutan ketika mendengar jika 'Phantom' menggunakan kekuatan itu, ia akan kehilangan setengah dari hidupnya sebagai bayangan. Tapi efeknya juga sebanding, mereka akan dilindungi sepanjang waktu tapi bayangan itu akan berubah bentuk sesuai ketentuan. Jika ia sedang melindungi suatu makhluk, maka ia akan berubah menjadi makhluk itu.

Ada satu ketentuan lagi, jika makhluk yang membuat 'Phantom' berubah bentuk itu mati, maka 'Phantom' juga akan mati akhirnya.

Metamorfosanya membutuhkan waktu seharian dalam kesakitan, dan gadis itu terus menyembunyikan dirinya dalam mantel—tidak berani melihat—tapi tetap menggenggam tangan 'Phantom' yang sedingin batuan salju. Ketika hari esoknya sudah datang dan gadis itu bangun dari tidurnya yang penuh keburukan, ia melihat seorang lelaki rupawan. Ia tercengang dan bertanya apakah itu 'Phantom'. Ya, jawab 'Phantom'. Sang gadis begitu senang sampai air matanya bercucuran.

Lalu… Hitam.

King meminta bantuan 'Devil', yang berbeda makhluk, untuk mencari 'Phantom'. Dengan akal bulusnya, 'Devil' dapat menemukannya dan sang gadis. Mereka berdua berlari menghindar dan diakhir hutan, gadis itu menyerah. Jantungnya melemah dan ia terbatuk mengeluarkan cairan merah pekat.

"Kita akan mati." gadis itu mencabik gaun dengan tangannya yang penuh darah dan menemukan semacam pisau yang disiapkannya dari awal jika 'Shade' dan pasukannya datang.

"Jika kita harus mati, kita mati bersama." 'Phantom' membunyikan janji mereka dari awal. Gadis itu mengangguk dan mencium 'Phantom' untuk pertama dan terakhir kalinya. Ketika mereka terlepas, gadis itu sudah menangis. Tapi tatapan pada wajah lelaki tampan tampak yakin, jadi setelahnya tanpa ampun ia mengiris tangannya dan untuk tebasan terakhir, ia menjerit.

Ia mati; 'Phantom' juga kehilangan detak kehidupannya. Mereka berdua berubah menjadi serbuk keemasan disaat 'Shade' dan 'Lunar' datang.

Lalu… Hitam.

.

.

.

.

.

"Kenapa banyak sekali hitamnya?!"

Teriakan seorang lelaki terdengar cukup memekakkan telinga. Sehun yang berada di sebelahnya menghela nafas sambil menatap satu lelaki lain yang hanya menyengir sambil merangkul manja kekasihnya.

"Bahkan peranku sebagai 'Shade' saja tidak direkamnya secara maksimal." celetuk Sehun, membenarkan perkataan—lebih tepatnya, teriakan—dari Luhan. Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu.

"Ternyata memori handy-cam-ku tidak cukup, tahu. Ada video-video saat aku dan Chanyeol berlibur di Gwangju dan itu tidak mungkin kuhapus kalau belum kupindah ke laptop," bela Baekhyun. Luhan menghela nafas dan ketika melihatnya, Baekhyun menyengir lagi. "Maaf, ya, Luhan-hyung."

"Tapi aku puas, akting Kyungsoo sebagai gadis bagus sekali. Apalagi rambutnya dibentuk seperti itu dan suaranya juga tidak berat, jadi… oke—aku speechless." Luhan menepuk bahu Kyungsoo yang sedang memakan keripik dengan wajah datar.

"Menurutku lebih bagus peran Kai sebagai 'Phantom'. Ia benar-benar menghayati dan mau tak mau aku juga ikut menghayati," kata Kyungsoo sambil menunjuk Kai yang tertidur.

"Tapi kita untung, lho. Aku sudah bilang kalau dramanya tidak bagus, uang akan dikembalikan. Nyatanya banyak yang standing applause, jadi para pemain bisa makan-makan malam ini! Aku sudah membaginya pada cameo lain dan untuk kita saja masih sebanyak ini." kata Chanyeol, mengacungkan sebuah tempat pensil yang digunakan sebagai tempat uang hasil drama mereka.

Sorakan terdengar dan Sehun memutar bola mata. "Yah, setiap anak hanya disuruh membayar tujuh ratus won, bukanlah perkara sulit,"

Luhan tertawa. "Ayo, jalan-jalan sekarang! Aku bawa mobil!" katanya sambil menepuk keras kaki Kai agar lelaki itu bangun.

Dan perkataannya membuat yang lain tercengang dan bersorak, bertanya-tanya sejak kapan Luhan bisa menyetir mobil, tapi mereka tak ambil pusing dan mengabiskan malam itu berjalan-jalan dan karaoke.

.

.

.

.

"Kyung, apa kau pikir kita akan bertahan sampai waktu yang lama?"

"Sudah kubilang, jika ada ombak pegang tanganku erat-erat. Kita mungkin hanyut, tapi hanyut bersama lebih baik."

"Hmm… Kau benar. Kyungsoo-ya, saranghae."

"Nado, Jongin-a, nado saranghae."

.

.

.

.

-END-

Author's babbling :

Akhirnya selesai juga! Gimana endingnya? Maaf ya, part ini kalau boleh sebenernya bisa disebut sequel, soalnya yang part 9 kemaren udah happy-end semua hehe. Maaf kalo gaje, ya. Dan gimana tentang dramanya kaisoo di ff ini? Itu juga ide saya sendiri. Menurut kalian apa saya tetep aja pada genre biasanya atau nyoba fantasy? Kayanya asyik juga.

Dan nggak kerasa udah #2yearWithEXO, ya. Baru dua tahun tapi sudah banyak memori. Keep supporting them, ok?

Dan sebentar lagi UN ;-; doakan semoga sukses ya, amin. Bagi kalian yang juga mau UN, ayo kita sukses bersama. Fighting!

end : 8 April 2014 (EXO 2nd Anniversary)
at 19:05 pm