©SYEnt present:

Innocent Bride
by Shii & Cchi

Length: 9 of 16

Cast: EXO's member, Others

Pairing: Main!HunHan, KaiSoo, KrisTao, Chanbaek, Others

Rating: T

Genre: Drama, Romance, Shonen-ai, Slice of Life

Disclaimer: Cuma ceritanya doang yang milik saya.

Warning: AU. FLUFF. BoyxBoy. OOC.


Masih terngiang dalam otaknya itu tentang pesan yang Sehun kirimkan padanya pagi empat hari yang lalu. Ingin sekali rasanya ia bercerita pada Tao, tapi merasa bahwa ia sudah mengeksploitasi Panda itu dari Naga pemiliknya sejak Sehun menitipkannya pada pemuda itu, ia mengurungkan niatnya. Diraih kembali ponsel di sampingnya dan dipandangi pesan dari suaminya. Meski selama ini mereka terus berkirim pesan, tapi tetap saja pagi empat hari yang lalu itu menurutnya adalah yang paling membahagiakan untuknya.

Dengan senyum yang masih merekah, ia menuju tempat di mana Sehun bekerja dan duduk di sana. Membungkukkan badan untuk tiduran di atas meja itu. Ah, masih ada satu hari lagi sebelum Sehun kembali. Rasanya ia sudah menunggu sangat lama. Ia tersentak ketika ponselnya dengan tiba-tiba bergetar dan nama Chanyeol muncul pada layar ponselnya.

"Halo," sapanya sembari menegakkan tubuhnya kembali. Merasa sedikit heran mengapa teman Sehun meneleponnya siang-siang seperti inidi samping kenyataan bahwa mereka tidak terlalu dekatdan menelepon ke nomor ponsel, bukan ke telepon rumahnya.

"Hyuuuuungg!" Suara cempreng yang diyakini milik Baekhyun tertangkap pendengarannya. "Yha! Berikan pada" Itu baru suara sang pemilik nomor. Ah, jadi begitu. Pantas saja.

"Ssshhh! Aku sedang menelepon Luhan hyung!" Didengarnya Baekhyun berseru pada seseorang—atau mungkin beberapa orang yang ada di baliknya karena gaduh sekali di seberang sana.

"Hyung! Hyung! Aku punya kabar gembira!" ujar Baekhyun menggebu. Rasanya terlalu bersemangat hingga Luhan sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. Namun begitu, ia tersenyum dan merasa penasaran.

"Apa yang akan kau kabarkan padaku dengan nomor Chanyeol, Baek?" tanyanya. Ia sedikit mengecilkan volume ponselnya.

"Kau pasti tidak akan memercayai ini! Tapi mungkin kau juga tidak akan kaget sih mengingat kau sudah bersamanya sebulan lebih. Tapi mungkin juga kau akan kaget, tapi menurutku tidak sih, eh tapi mungkin iya"

Menggeleng, cukup tidak ingin mendengar celotehan Baekhyun di pagi hari, Luhan menyela, "Kau terlalu lama. Siapa yang kau maksud?"

"Yah, mungkin kau juga sudah mengetahui tapi tidak apa deh" Baekhyun masih sibuk mengatakan apa yang ada dipikirannya dan sekali lagi Luhan harus memotongnya. Ia benar-benar tidak ingin mendengar suara cempreng Baekhyun pagi-pagi seperti ini meskipun mood-nya sedang baik.

"Katakan langsung padaku, Baek, atau kumatikan," Luhan menjawab dengan tidak sabar. Beginilah Baekhyun jika mendapat sebuah kabar yang menurutnya sangat amat menarik untuk diumbar kepada siapapun.

"Sehun baru saja mengirimi pesan pada Chanyeol, memintanya memberi saran untuk membeli kado untukmu, Hyung!" Sebelum Luhan menjawab, erangan Chanyeol kembali menyela dan kali ini Baekhyun dan Chanyeol terlibat dalam sebuah perdebatan di mana mereka meninggalkan Luhan yang masih dengan setia menempelkan ponselnya di telinga.

"Yha! Kenapa kau bilang padanya? Itu akan merusak seluruh rencananya. Aisshh!"

"Memangnya dia tidak boleh tau? Ujung-ujungnya juga dia tahu dan akan menerimanya kan?"

"Tapi kan"

"Sama saja, Giant. Lagi pula Sehun juga tidak menyuruhmu merahasiakannya dari Luhan hyung, kok!" Baekhyun membela diri dan terdengar lagi olehnya Chanyeol mengalah, menyerukan 'Baiklah, sesukamu saja,' dengan tidak semangat. Luhan tertawa sejenak. Ia bisa membayangkan Baekhyun yang tersenyum sumringah mendapati dirinya menang. Well, meskipun Chanyeol tidak bisa membujuk Baekhyun yang begitu cerewet dan tidak bisa tutup mulut atas apapun yang menurutnya menarik untuk disiarkan, nyatanya Chanyeol tetap mencintainya. Luhan bisa melihat betapa si Giant itu menyayangi Baekhyun, meskipun ia baru mengenal pemuda itu sejak acara pernikahannya. A/N*

"Dan kau tahu apa yang Chanyeol usulkan?" Lamunan Luhan tersadar kala Baekhyun kembali mengajaknya mengobrol dengan masih menggebu seperti sebelumnya. Ia kembali mengulum senyum, bersyukur bahwa ia memiliki teman seperti Baekhyun yang meskipun cerewet dan kadang menyebalkan, namun bisa membuatnya tersenyum senang karena ulahnya.

"Hm? Apa itu sesuatu yang sangat tidak terduga olehku?" tanya Luhan. Mendapati Baekhyun hingga dengan segera dan amat sangat riang memberitahu dirinya tentang sesuatu seperti ini, pasti ini adalah sesuatu yang luar biasa. Namun, Luhan tidak yakin jika itu adalah Sehun, meskipun Chanyeol mengusulkan sesuatu, tetap saja akan aneh untuk Sehun melakukan hal-hal aneh apapun yang sepasang sejoli itu usulkan, bagaimanapun Sehun adalah orang yang cukup serius.

"Cincin! Yeaaay!" seru Baekhyun kemudian. Luhan bisa mendengar suara tepuk tangan Baekhyun dan protesan pasrah Chanyeol.

"Cincin? Tapi aku kan sudah punya, Baek," jawab Luhan. Diliriknya platinum sederhana yang melingkar di jari manisnya itu, ada inisial namanya dan nama Sehun di dalam lingkaran itu dan ukiran sederhana kecil di masing-masing sisi inisialnya. Sekilas tidak terlihat berharga ataupun mahal sama sekali, namun bagi Luhan itu adalah barang paling berharga dan mahal miliknya. Meski putih polos tapi maknanya sangat dalam, apalagi kini ia mulai menyadari betapa si pemberi juga merupakan orang penting dalam hidupnya.

"Ah, iya! Ish dasar Chanyeol bodoh! Kenapa kau mengusulkan cincin jika mereka sudah menikah?! Dasar pabo kau!" seru Baekhyun lebih kepada Chanyeol di sana daripada untuknya. Chanyeol tidak menjawab, Luhan rasa dia ngambek. Ah, lucu sekali mereka.

"Hyung kau harus bersikap seolah-olah kau tidak peduli dengan itu semua, oke? Juga ketika Sehun memberimu cincin itu bersikaplah seperti biasa, jangan terlalu senang dan jangan tunjukkan senyum mautmu itu!" Luhan mengerutkan keningnya. "Mengapa aku harus bersikap seperti itu?" Luhan menjawabi dengan iringan suara Chanyeol dari seberang, "Kau terlalu ikut campur urusan mereka," yang sama sekali tidak ditanggapi Baekhyun.

"Kau harus menuntut lebih padanya. Akui saja memang kau sudah menyukainya tapi kau belum tahu kan apa dia sudah menyukaimu atau belum jadi kau harus mengujinya." Baekhyun menyerocos.

Eh?

Apa?

Tunggu.

Seingatnya ia memang telah menyukai pemuda itu, tapi ia tidak pernah bercerita pada siapapun bahwa ia telah menyukainya bukan? Ia bahkan tidak berkata pada Tao bahwa ia menyukai suaminya itu.

"Jangan mengelak, Hyung, aku bisa melihatmu. Tentu saja karena dia adalah suamimu jadi itu hal yang wajar jika kau menyukainya." Seolah bisa membaca pikirannya, Baekhyun melanjutkan ocehannya. "Pokoknya kau tidak boleh terlihat sangat senang dan berpura-puralah tidak tahu bahwa ia membelikanmu kado. Jam makan siangku sudah selesai, aku harus kembali bekerja, sampai jumpa besok malam, Hyung!" Dengan itupun Baekhyun memutuskan sambungan teleponnya, bahkan Luhan belum sempat menanggapi saran yang diberikan untuknya.

Oh, sudahlah. Luhan menggelengkan kepalanya dan mengulum senyum bahagia mengingat kabar barusan. Jika benar Sehun akan memberinya kado dari perjalanan bisnisnya—terlebih jika itu adalah cincin seperti yang Chanyeol usulkan—ia mungkin tidak bisa bersikap seperti yang Baekhyun sarankan padanya, yah tapi ia memang harus berpura-pura tidak mengetahui tentang hal itu. Luhan berdiri dan segera menuju dapur, moodnya sangat baik hari ini. Semoga Sehun cepat pulang, batinnya.


Sehun melepaskan jas dan melonggarkan dasinya begitu ia memasuki kamar hotel yang dipesankan perusahaan untuknya. Masih satu hari lagi ia harus berada di sini. Sejujurnya ia tidak merasa terlalu lelah, hanya saja ada suatu rasa di mana ketika ia sedang mengistirahatkan pikirannya dari semua dokumen-dokumen yang dibawanya, ia teringat rumahnya. Ya, rumahnya bersama Luhan. Ia merindukan suasana kompleks rumahnya yang tenang itu. Atau mungkin juga ada sebersit rasa rindu terhadap pemuda yang menjadi 'istri'nya itu.

Sehun menghela napasnya sembari merebahkan diri di kasur hotel yang begitu empuk. Ini baru pukul dua siang, dan harusnya ia pergi untuk makan siang terlebih dahulu karena nanti malam ia pasti tidak akan memiliki waktu untuk makan. Sebenarnya jika dipikir lagi, rapat dengan para pemegang saham ini tidak terlalu banyak memakan waktu. Namun, karena kali ini yang dibahas bukan hanya perusahaannya, tapi juga perusahaan Luhan hal ini menjadi lebih rumit. Maksudnya, kenapa ayahnya lebih memilih untuk menutup dan menggabungkan perusahaannya dengan perusahaan Luhan yang sedang dalam masa kritis itu? Bukannya ia berpikir untuk membiarkan perusahaan Luhan bangkrut atau bagaimana, tapi kalau dipikir lagi bukankah lebih cepat dan lebih mudah untuk menggabungkan perusahaan Luhan ke perusahaan milik mereka? Tapi ayahnya malah berpikir sebaliknya. Dan lihatlah kini sudah berapa persen saham perusahaan mereka turun begitu saja, meski tidak terlalu besar, sih.

Ia mungkin akan jatuh tertidur jika saja ponselnya tidak berbunyi dengan tiba-tiba. Sehun mendudukkan tubuhnya dan mengambil ponsel di saku jasnya, itu adalah nomor baru yang sebelumnya tidak ia ketahui. Ia mengangkat panggilan itu dan terdengar suara perempuan dari seberang sana.

"Saya Im Yoona dari perusahaan SJM Ent. Apakah benar ini nomor Tuan Oh Sehun?" tanya perempuan itu. Sehun membenarkan posisinya dan memasang suara bisnisnya saat itu juga.

"Ya benar. Ada yang bisa saya bantu?"

"Direktur kami ingin bertemu dengan Anda malam ini berhubung beliau tidak bisa datang pada rapat Anda sebelumnya. Sekiranya Anda punya waktu?"

"Oh, tentu saja."

"Baik, akan saya sampaikan. Tempat dan waktu akan saya kirimkan secepatnya jika Anda tidak keberatan?"

"Ya, saya tunggu."

"Baik, Pak." Dengan itu panggilan terputus.

Sehun mengingat lagi rapat tadi pagi. SJM Ent adalah salah satu perusahaan yang cukup besar di industri hiburan dan mereka adalah salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan Luhan. Sehun pikir perusahaan besar seperti itu tidak akan tertarik untuk mempertahankan sahamnya melihat perusahaan Luhan yang benar-benar sangat kritis itu. Ia mengambil tas kerja miliknya dan mengecek kembali dokumen-dokumen yang dibawanya saat rapat tadi. Dirasanya untuk kembali meninjau dan menambahkan beberapa materi untuk meyakinkan direktur perusahaan itu. Sehun membuka laptop dan kembali dalam mode bekerjanya, mengabaikan deringan telepon dari Chanyeol.

.

Sehun tengah menunggu di restoran yang dipesankan untuknya dan direktur SJM Ent bertemu. Ia merasa sedikit gugup mengingat ini adalah satu perusahaan besar yang dulu juga pernah bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Luhan. Tentunya mereka pasti juga sudah mencari informasi tentang masalah perusahaan Luhan itu.

Ia membenarkan letak dasinya beberapa kali dan mengecek dokumen-dokumen yang ada di tasnya sebelum kemudian pintu ruangan mereka terbuka dan sosok direktur SJM Ent yang dinanti Sehun itu tersenyum padanya. Sehun tertegun sejenak untuk kemudian berdiri dengan tergesa.

"Donghae Hyung?" Suaranya terdengar begitu terkejut. Direktur SJM Ent itu berjalan menujunya dan memeluknya. "Sehun-ah!" Ia tersenyum lebar, tampak sekali kebahagiaan di wajahnya. Sehun masih terkejut, tapi tetap membalas pelukannya. Ia tidak menyangka bahwa ia mengenal akrab direktur dari perusahaan hiburan itu.

"Donghae hyung? Bagaimana bisa?" tanya Sehun ketika Donghae melepaskan pelukannya. Donghae masih tersenyum dengan lebar, membiarkan Sehun bertanya-tanya dalam otaknya. "Ya, kau tahu, ini dan itu. Hahaha," jawab Donghae, mendudukkan tubuhnya. "Aku akan menceritakan kisahku, tapi untuk saat ini kita harus membicarakan perusahaanmu itu dahulu," ujar Donghae kemudian. Sehun pun segera mengeluarkan dokumen-dokumen yang sudah disiapkannya.

.

"Sebenarnya aku tidak menyangka bahwa yang akan mengambil alih perusahaan itu adalah kau, Hun," Donghae memulai obrolan bebas mereka seketika rapat pribadi dengan Sehun telah selesai. Sehun mengulum senyum sambil mengangguk. "Aku juga tidak menyangka bahwa direktur dari perusahaan SJM Ent yang terkenal itu adalah kau, Hyung."

"Jujur saja, aku melakukan beberapa pengecekan terkait perusahaan ini dan kurasa ada seseorang di dalam perusahaan yang menyebabkan masalah itu. Pertamanya aku tidak terlalu mempedulikan ini, tapi untungnya Yoona sangat keras kepala, sehingga aku akhirnya juga ikut memperhatikan masalah yang ada. Tak kusangka ternyata kau juga menjadi salah satu pewaris perusahaan itu." Donghae menjelaskan panjang lebar. Ia mengisi gelas wine-nya yang sudah habis. Menawarkannya pada Sehun, namun ditolaknya dengan gelengan kepala.

"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Menyesap wine, Donghae melirik pada Sehun dari sudut gelasnya dan diiyakan oleh Sehun. "Apa kau benar-benar menikah dengan putra pewaris perusahaan itu?" Tak ayal pertanyaan itu cukup mengagetkan Sehun. Sejujurnya Sehun bisa saja langsung mengatakan kebenarannya, tapi ia menimbang, sejarahnya dulu dengan Donghae terkait masalah hubungan sesama jenis tidak cukup baik.

Sehun memang terkenal sebagai salah satu murid tertampan dan cukup cerdas di sekolahnya dulu. Ia masih kelas satu SMP ketika Donghae pindah ke sekolahnya. Jelas itu menjadi berita besar karena Donghae pindah dari Taiwan dan masuk ke kelas 3 SMA saat semester dua mulai. Mereka berdua menjadi dua murid paling terkenal se-sekolah itu, tak ayal membuat mereka sering dipanggil guru untuk berbagai acara. Di salah satu kesempatan itu lah keduanya bertemu dan Donghae, yang menyadari bahwa seksual orientasinya menyimpang, langsung tertarik dengan Sehun. Mereka menjadi teman dan tak lama langsung akrab begitu saja. Pada kelulusan Sehun dari SMA yang juga bertepatan dengan kelulusan Donghae di universitas, Donghae datang ke sekolahan itu untuk mengucapinya selamat. Itu kembali menjadi berita besar lagi. Hingga saat Sehun memasuki tahun kuliahnya yang pertama, Donghae memberanikan diri menyatakan perasaannya pada Sehun. Sehun tentu saja kaget. Ia tidak menolak, juga tidak mengatakan apapun terhadap pernyataan Donghae itu. Tapi, hal itu membuat Donghae merasa ia ditolak dan menjauh dari Sehun. Setahun berlalu tanpa mereka saling berkomunikasi. Sehun ingin memperbaiki hubungan mereka yang renggang, ia datang ke rumah Donghae, sayangnya keluarga Donghae sudah pindah kembali ke Taiwan hingga akhirnya mereka sama sekali tidak bertemu atau berkomunikasi lagi.

Sehun kembali tersadar ketika Donghae memanggilnya lagi. Ia masih belum menjawab pertanyaan yang diajukannya itu.

"Hei, kau bisa berkata jujur padaku. Aku tidak akan mengatakan apa-apa jika itu benar," kata Donghae, menyendok dessert yang disajikan di meja itu. Sehun dengan menundukkan matanya mengangguk pelan dan Donghae menyadarinya.

"Hyung, aku belum mengatakan ini padamu, aku minta maaf atas sikapku dahulu," ujar Sehun. Donghae mengerutkan alisnya, bingung. Sehun meletakkan sendok yang dipegangnya sejak tadi. "Kau dulu pernah menyatakan perasaanmu, tapi aku malah sama sekali tidak merespon-"

"Ah, soal itu. Aku sudah melupakannya sejak lama. Maksudku, aku tahu kau pasti kaget mendengarnya, dan lagi kau juga bukan tipe seperti itu jadi kurasa itu adalah salahku," Donghae memotong ucapan Sehun. Sejujurnya ia tidak ingin mengingat luka hatinya kala itu.

"Tidak, Hyung. Kau tidak salah," Sehun kembali akan berargumen ketika Donghae memegang tangannya yang berada di meja dan berkata, "Hei, itu sudah berlalu begitu lama dan aku juga sudah melupakannya, jadi kau tidak usah memikirkannya lagi."

Sehun mengangguk sambil menghela napas yang tidak disadarinya, rasanya beban bersalah kepada temannya itu sudah terangkat begitu saja. Donghae tersenyum, melepaskan genggamannya dan kembali menyendok dessert di depannya. "Jadi, bersedia bercerita bagaimana kau bisa menikah dengannya?" goda Donghae dan senyum malu kembali terlukis di wajah Sehun.

TBC

A/N: Donghae dan Sehun di sini beda lima tahun, jadi Donghae seumuran dengan Kyuhyun, bossnya Kris. Kami masih bingung untuk memutuskan akan ada berapa bab hingga selesai, tapi untuk kerangka yang sudah kami rencakan akan memakan sedikitnya 14 hingga 16 bab. Tapi jika satu bab terlalu panjang atau terlalu pendek, mungkin bisa lebih sedikit atau lebih banyak.
Oh ya kami akan menulis dan tetap memasukkan dalam hitungan chapter spesial untuk KaiSoo dan ChanBaek. -Shii-
Kurasa chapter depan akan mulai konfliknya, tapi tenang saja itu bukan konflik besar. Aku tidak suka konflik besar, aku hanya ingin mereka saling ber-lovey-dovey-ria dengan segala ke-fluffy-an hubungan mereka, lol.
Well, nantikan chapter-chapter selanjutnya yang akan diupdate dwimingguan! ^^ -Cchi

OH YA TERIMA KASIH KEPADA KALIAN YANG MENYEMPATKAN MEREVIEW DAN MEMBERI KAMI SEMANGAT. MUMUMU GUYS ^3^