A/N: Hitsuzen nggak mengambil keuntungan apapun dari fic ini. Terutama juga nggak ikut punya SNK, apalagi para tokohnya.

Terima kasih untuk teman-teman yang mau meninggalkan Review di chapter sebelumnya; Kikyuu, GIRLSHEWOMAN, amai no egao, berrypies, Ryuusuke583, Mei Kyoyama, macaroon Waffle, Chiel, Yitao, rani1311, FayRin Setsuna D Fluorite, JOYable, Daisy Faustian Panthomhive, Ryuuki760, Namize Ichilaw, Shigeyuki Zero, 120cha dan adinchii, Daisy Faustian P,Oto Ichiiyan, Anon, Namikaze Ichilaw, Ariellin, Hikaru, Amai no Egao, Hitsugi, yulimizan2 dan Guests. Juga semua silent readers dan Visitors yang menyempatkan berkunjung tapi belum sempat meninggalkan jejak.

Maaf sudah delay lama. Karena kesibukan, sejak chapter ini dan mungkin chapter ke depan tidak sepanjang biasanya. Tapi aku usahakan bisa tetap update. Semoga beberapa pertanyaan readers bisa dijawab lewat chapter ini.

Enjoy it, my dears!


Chapter 9 : Old Love

Mikasa POV

Suara nyanyian sayup-sayup mengalir di udara, sementara angin membawa harum bunga Cyclamens yang ditaburkan ke atas badan Rivaille. Merah muda kelopaknya berjatuhan di jalanan berbatu, saluran air dan remuk di bawah telapak kuda. Cyclamens, bunga yang menjadi simbol pelepasan jiwa menuju dunia selanjutnya; adat pemakaman dari masa-masa di luar dinding, membuat iring-iringan macam ini adalah hal yang mewah dan istimewa. Terlebih saat biasanya jasad para prajurit di bakar jadi satu, tanpa sisa dan tidak bisa dibedakan.

Kepercayaan diri menggelar pemakaman megah macam ini karena kesempatan tanpa batas yang kini kami miliki untuk mengeksplorasi dunia di luar dinding. Dinding yang kini hanya dipertahankan sebagai pengingat tentang perjuangan umat manusia.

Baru dua kali dalam masa hidupku aku mengikuti upacara macam ini; saat ini dan pemakaman Eren. Ketika pemakaman Eren pun tidak semegah ini.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Rivaille seandainya ia tahu kematiannya akan dibuat iring-iringan. Kurcaci itu pasti protes karena tubuhnya harus ditutupi oleh bunga-bunga tidak higienis atau merasa hanya buang-buang anggaran, termasuk penghinaan atas kemaskulinan-nya. Pemikiran itu menyusupkan senyum dibalik syal merahku.

Dimana iring-iringan pemakaman biasanya hanya membawa rasa duka dan kesedihan, tidak untuk pemakaman Rivaille. Seakan Hange dan Irvine berusaha mengingatkan semua orang atas masa jaya sang kapten; bendera-bendera dengan simbol sayap kembar dikibarkan di udara, sementara para prajurit dari berbagai wilayah, bermacam tingkat dan jabatan, berdiri di pinggir jalan atau mengiring parade duka itu menuju ke atas bukit; menuju tanah berlubang tepat disisi makam Eren. Bahkan Ratu Krista—Historia, ikut merundukkan tubuhnya saat iring-iringan kami lewat. Tapi kepala sang ratu tetap tegak, menunjukkan mata birunya yang basah akibat duka kehilangan seorang teman dan pemimpin, tapi tetap memancarkan harapan atas kemerdekaan umat manusia.

Aku pernah melihat tatapan itu, pada mata Rivaille saat pemakaman Eren.

Hari dimana aku tahu jika Rivaille sama berdukanya denganku. Hari dimana aku tahu ia bisa mencintai hingga rela kehilangan nyawa. Cintanya pada Eren tidak pernah terucap, tidak pernah tergambar dan tidak pernah ingin mendominasi atau memaksa untuk memiliki. Rasa cintanya pada Eren hanya membuatnya hidup, hanya membuatnya mampu melindungi, hanya membuatnya bisa terus berjuang. Karena rasa cinta Rivaille pada Eren membuatnya tahu tidak ada yang lebih berharga bagi Eren kecuali kemerdekaan umat manusia. Tapi aku tidak pernah tahu, tidak sampai detik ini, bahwa dengan keyakinannya, Rivaille juga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya begitu mimpi mereka terwujud.

Ia sudah mendapatkan kemerdekaan umat manusia bagi Eren. Tapi ia sudah kehilangan kemerdekaannya sendiri ketika Eren mati. Membuatnya memilih satu-satunya jalan yang tersisa untuk bersatu dengan Eren dalam alam keabadian.

Tak terasa air mata meleleh di mataku. Aku tidak pernah menyangka akan menangis di atas kuburan pria ini. Tapi apa daya, setelah aku melihatnya dingin, tak bernyawa di atas makam Eren dengan darah kering menjejak dari pergelangan tangannya dan senyum yang membeku di wajahnya.

Sungguh ironis dan tragis. Karena siapa yang membayangkan orang sedingin dan prajurit tak berperasaan macam Rivaille menyimpan cinta yang tidak lantang dan tidak menuntut pengakuan.

Aku menunggu dalam barisan di depan peti terbuka untuk memberikan perpisahan terakhir sebelum kotak kayu itu dikuburkan. Saat tiba giliranku, aku mengamati sejenak wajah pucat sang kapten; tidak menyangka kulitnya bisa lebih pucat dari biasanya. Aku menyibak penutup keranjang anyaman kayu-ku dan mengeluarkan rangkaian bunga; gladiolus, seperti nama latinnya yang berarti pedang, bunga ungu muda ini berarti kehormatan. Nasturtium, bunga orange hampir merah ini menandakan kemenangan. Blubell; rasa terima kasih dan keteguhan dan yang terakhir, bunga kuning mungil yang menghiasi tengahnya; Laurel yang bermakna keagungan. Jika bukan karena Armin mendukungku untuk mencari bunga-bunga itu berdasarkan literatur yang kami baca, aku tidak akan mendapatkan bunga-bunga yang tumbuh di luar dinding ini. Aku meletakkannya di atas dada Rivaille, sebelum membiarkan langkahku meninggalkan iring-iringan itu.

Aku berhenti di monumen batu dengan ukiran nama Eren Yegar yang masih menyisakan jejak merah dan bau anyir darah di hangatnya udara musim semi, sekeras apapun kami berusaha membersihkannya.

"Kisah mereka akan dikenang seagung nama mereka," yakin Armin yang rupanya sudah berdiri di belakangku. "Aku akan memastikan hal itu."

Aku mengangguk. Dibandingkan aku, Armin lebih banyak tahu apa yang ada di hati Eren. Pasti bukan rahasia lagi buatnya jika Eren punya perasaan lebih dari bawahan pada Rivaille. Walau aku tidak yakin Eren tahu banyak soal perasaan Rivaille. Siapa yang melihatnya mati di atas batu dingin ini pasti akan membayangkan kisah cinta tragis mereka berdua.

"Irvin mengusulkan mengganti patung Eren dengan patung mereka berdua, beserta semua miniaturnya."

"Baguslah," kataku. Aku tidak menyukai patung sebelumnya, penggambarannya seakan Eren adalah monster.

"Dan Hange menyuruhku mendesain rancangannya." Belum berakhirnya kalimat itu aku sudah berputar menghadap Armin dan menatapnya dengan muka tidak percaya. "Mau melihat rancangannya?" katanya sambil menarik lipatan kertas dari saku.

Ia memberikan lipatan itu padaku yang kubuka dengan tangan bergetar. Digambarkan mereka berdua berdiri bersisian sambil memandang ke arah berlawanan. Simbol sayap kebebasan berkibar di sekeliling mereka. Tapi jika diperhatikan, salah satu tangan mereka saling bertaut. Aku menatap Armin dan ia tersenyum lebar melihat ekspresiku. "Ini sudah dipastikan jadi patung mereka dan akan ada perintah untuk tidak pernah memisahkan mereka berdua. Setelah buku ku terbit, semua orang tidak hanya akan mengenal mereka sebagai Harapan Terakhir Umat Manusia dan Prajurit manusia Terkuat, tapi Eren Yegar dan Rivaille Ackerman." Aku membenamkan diriku dalam pelukan Armin sementara merasakan tangannya di punggungku dengan usapan menenangkan. "Suatu saat orang-orang tidak hanya akan menggambarkan mereka sebagai seorang monster. Suatu saat nama mereka pasti akan disenandungkan dalam kidung dan sajak-sajak."

Kalimat dan suara menenangkan Armin itulah hal yang terakhir kali kudengar saat aku bangun. Mungkin ingatanku tidak lengkap, tapi bisa kupastikan ingatan itu salah satu yang paling menyakitkan. Sejak hari itu, Armin berjuang mewujudkan mimpinya melihat lautan dan rombongannya membawa semakin banyak orang keluar dinding. Nama Eren dan Rivaille tidak hanya diingat sebagai pahlawan tapi juga dinobatkan menjadi nama banyak gedung penting dalam pemerintahan, bahkan nama jalan. Rumah kami di Shingashina di rekonstruksi ulang dan disana banyak peninggalan Eren ketika masih hidup disimpan, disamping milik Rivaille karena tidak ada orang yang bisa memutuskan dimana ia berasal. Sewaktu-waktu banyak teman yang berkumpul disana untuk memperingatan hari ulang tahun dan hari kematian mereka. Terlebih karena hari ulang tahun Rivaille yang rupanya jatuh pada 25 Desember, membuat kami memutuskan untuk selalu merayakan hari titik balik matahari musim dingin disana. Walau aku tidak akan pernah bisa kembali tinggal di rumah itu. Terlalu banyak kenangan yang membuat sesak, tapi aku mencari kehidupan baru dalam perjalananku keluar dinding bersama anggota pasukan ke-104 yang tersisa.

"Mikasa?" Hanji menatapku dengan muka cemas. Aku baru tersadar jika kami sudah sampai di depan kastil megah Ackerman. "Mimpi buruk?" tanya wanita itu sambil membuka pintu mobil untukku. Aku hanya mendengus. Kami, orang-orang yang terikat dengan masa lalu dikutuk tidak akan pernah terlepas dari mimpi buruk. Seindah apapun mimpi yang dilihat, selalu ada bayangan teror dibaliknya.

"Aku hanya tidak yakin apa yang akan Eren rasakan saat ia kembali ingat."

Hanji tersenyum, "Marah mungkin, dan sedikit sakit hati? Tapi tidak lebih buruk dibanding terjebak dalam kegelapan." Kami berjalan membelah taman megah yang terkenal, tempat diselenggarakannya banyak pesta berabad-abad dan menjadi saksi banyak perjanjian penting ditanda-tangani oleh sesama bangsawan. Pada masa-masa terburuknya, seperti wabah hitam pada 1347-1351 yang membunuh dua pertiga populasi Eropa, tempat ini menjadi pusat pengungsian dan perlindungan bagi mereka yang terkena wabah tikus rumah itu. Menunjukkan rasa dermawan keluarga Ackerman pada rakyatnya, walau juga menjadi noda kelam karena kematian separuh keluarga Ackerman pada pandemi yang tidak tanggung-tanggung itu.

"Kupikir ia akan jauh lebih bahagia jika tidak pernah mengingatnya," cetusku, kembali pada percakapan awal kami.

"Eren lebih bahagia jika tidak mengingat Levi?" sahutnya dengan nada tak percaya. "Sudah saatnya mereka mendapat kesempatan untuk bahagia bersama. Bukankah kau pikir saat ini waktu yang tepat?"

"Di dunia yang kacau ini..."

"Tidak lebih kacau dari pada dulu," Hanji meringis.

Kami disambut oleh pelayan di pintu depan yang mengantar kami pada Levi. Mikasa menaikkan alis saat melihat Erwin bersedekap di depan pintu ruang kerja kepala keluarga Ackerman. Pria itu menaruh jari di bibir memberi isyarat diam saat melihat kami, sementara dia diam menguping.

Sayup-sayup kudengar suara Levi, "Aku menolak."

"Levi—"

"Sudah berapa kali aku bilang kalian tidak bisa mengatur pertunangan untukku."

"Aku tidak akan masalah seandainya kau membawa wanita untuk diperkenalkan. Kau sudah memasuki umur untuk menikah, Levi. Dan dengan semua kesibukan dan properti yang harus kau urus, sangat ideal untuk memiliki istri yang bisa menyambutmu setiap pulang dan mengurusmu."

"Aku tidak pernah mengharapkan kehidupan macam itu."

"Jadi kau ingin kehidupan macam Kenny Ackerman?" seru pria itu yang membuat pelipisku berkedut saat ia menyebut nama pamanku.

"Apa salahnya dengan Kenny—"

"Dan bahkan dengan semua petualangannya, pada akhirnya ia berakhir menjadi kepala keluarga Magnolia! Paling tidak cobalah bertemu terlebih dahulu dengan Petra Ral. Dia gadis dari keluarga terpandang dan berpendidikan tinggi. Aku sudah menyeleksi sendiri setiap gadis yang pantas untukmu. Kalau kau tidak suka dengannya, kau bisa menolak pertunangan itu."

Petra, batinku. Mendengar nama Petra disebut memberiku sengatan tajam pada tulang belakangku. Kembali terdengar suara ayah Levi berkata, "Atau kau bisa memasang punggung dingin seperti biasanya dan menunggu gadis malang itu sendiri yang menjauh darimu."

Aku mengerjap pelan. Bersikap dingin? Bagaimana Levi bisa bersikap dingin dengan Petra. Ingatan tentang ayah petra yang datang menemui Levi begitu kami kembali ke dalam dinding dengan kekalahan total dan hanya membawa emblem Petra berkelebat dalam benakku. Ucapan pria malang yang kehilangan putri semata wayangnya yang mengaku tidak hanya mengidolakan Rivaille, tapi juga mencintainya.

Aku menangkap tatapan simpati Erwin diarahkan padaku.

Ada jeda lama sebelum kudengar suara Levi pelan, tapi tegas, "Aku tidak akan menikahi wanita hanya karena kau merasa pantas."

"Levi—"

Pintu terbuka dan aku bersitatap dengan mata kelabu yang tajam.

"Kita pasti menemukan cara. Kau harus menemukan cara untuk menolak pertunangan itu," kataku.

"Aku tahu."

Erwin menghela napas. "Mari kita hadapi yang pasti lebih dulu. Sementara kita pesta pora disini, Grisha dan The Wall sedang bergerak di Underground."