Disclaimer : Semua karakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama

Rate : T

Genre : Romance, Humor

Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please

DON'T LIKE DON'T READ

CAST : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Kim Siwon, Go Changmin, Go Ahra

Cast lain menyusul

.

Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!

.

.

.

.

SUMMARY

Jung Yunho terpaksa menyandera Kim Jaejoong, namja cantik dan manja anak pengusaha terkaya di Seoul. Bagaimana Jung Yunho menghadapi tingkah manja Kim Jaejoong saat ia menjadi tawanannya?

.

.

Previous Chap

Diberitahukan kepada seluruh penumpang pesawat dengan nomor penerbangan KE 9095 tujuan Beijing, pesawat akan segera lepas landas dalam waktu 10 menit lagi, diharapkan seluruh penumpang telah menempati tempatnya masing-masing.

"Ahh...Joongie mianhe, umma pergi, jaga appa dan noonadeul, katakan jika umma menyayangi kalian semua, hiks...mianhe"

"UMMA! umma...ahjussi hentikan umma, hentikan umma...hiks, Joongie ikut umma, ummaa...huuuu"

Heechul akhirnya melepaskan tautannya, ia tak berani menoleh sedikitpun, melihat keadaan Jaejoong putra kesayangannya yang menagis meraung-raung meratapi kepergiannya yang sangat mendadak, bagai mimpi disiang bolong.

Dengan langkah mantap Heechul memasuki pesawat yang sudah dipenuhi penumpangnya, tampaknya ia adalah penumpang terakhir sebelum pesawat tinggal landas.

Sementara diluar sana Jaejoong menatap nanar pesawat yang baru saja membawa ummanya pergi tanpa tahu maksud dan tujuan sang namja cantik berhati bersih itu.

"Beijing? wae?" gumam Jaejoong tanpa terdengar oleh siapa-pun

Tubuh mungil itu melangkah lesu kembali memasuki mobil mewahnya bersama Han ahjussi.

.

.

.

LOVE ME?

.

.

.

.

.

"Ahjussi, ottokhe? Kalau begini Joongie takut pulang, appa pasti marah besar, hiks…" Jaejoong menarik-narik baju Han ahjussi, masih terisak sedih.

"Tidak ada yang bisa kita perbuat selain pulang dan menceritakan yang sebenarnya kepada tuan besar, bukankah nyonya tadi menitipkan sebuah surat untuk tuan besar?"

"Ahh ne, dimana suratnya Joongie letakkan ya?" Jaejoong merogoh-rogoh kantong celananya mencari keberadaan sebuah amplop surat yang diberikan Heechul sebelum ia meninggalkan Jaejoong tadi .

"Ini tuan suratnya, tadi saya memungutnya karena terjatuh sewaktu tuan mengejar nyonya tadi" Han ahjussi menyerahkan amplop surat berwarna putih yang sedikit bernoda lantaran terjatuh tadi.

"Arraso, kajja kita pulang dan menyerahkan surat ini kepada appa, Joongie juga penasaran apa isinya"

Jaejoong melangkah gontai mendahuli langkah Han ahjuusi dibelakangnya menuju tempat supir keluarganya itu memarkirkan mobil.

Setelah beberapa lama perjalanan, kini perlahan roda mobil mewah yang membawa Jaejoong memasuki halaman luas dan panjang mansion Kim hingga keempat roda tersebut terhenti tepat didepan pintu gerbang utama mansion luas tersebut.

Hari sudah hampir gelap, Jaejoong hanya bisa berharap appa-nya belum pulang dari kantor sehingga ia bisa sedikit mempunyai waktu untuk mempersiapkan jawaban yang tepat apabila appa-nya mempertanyakan keberadaan umma yang sangat dicintainya.

Keringat dingin membanjiri wajah cantik Kim Jaejoong, raut pucat pasi terpancar jelas pada wajah barbie itu. Hingga Han ahjussi telah keluar dari dalam mobil dan menutup pintu depan mobil tersebut Jaejoong belum juga beranjak sedikitpun dari posisinya.

"Tuan Joongie, kajja masuklah, hari sudah semakin gelap" Han ahjussi sedikit menyentakkan Jaejoong dari lamunannya akan wajah garang appa-nya, Siwon.

"A-Ahjussi, J-Joongie takut…hiks" kembali kekhawatiran yang teramat besar dirasakan namja berusia 17 tahun itu. Kepergian umma-nya yang begitu mendadak, bertepatan dengan hubungannya dengan appa-nya yang kurang harmonis membuat jiwa labilnya kian terguncang.

"Tuan harus menjelaskan semua-nya kepada tuan besar, dan ingat surat yang tadi, yang diberikan nyonya, siapa tahu setelah membacanya tuan besar akan mengerti" Han ahjussi berusaha meyakinkan Jaejoong agar sicantik nan manja itu tidak terlalu merasa khawatir.

"Baiklah, ahh…hwaiting Joongie! Semoga appa tidak semakin membenci Joongie" Jaejoong beranjak keluar dan membuka pintu mobil, saat yang bertepatan dengan terbukanya pintu besar mansion keluarganya.

"Joongie!"

"Noonadeul"

Tubuh kurus Jaejoong sedikit terhuyung saat kedua noona-nya yang keluar dari pintu mansion mereka langsung menghambur menubruk tubuhnya dan memeluknya sampai-sampai ia tak bisa bernafas.

"Bagaimana acara minggat-nya? Ihh Joongie enak sekali, noona deul sangat iri, Joongie yang bisa berduaan saja dengan umma selama beberapa hari, pasti umma memberikan semua yang Joongie inginkan, eoh?"

"Mana hasil belanjaan kalian? Aigoo…lihatlah rambut itu, yah Joongie ternyata kalian sempat-sempatnya kesalon…daebak! Noona suka dengan warna rambut Joongie yang baru, uri maknae tambah mirip boneka barbie, aigoo yeppo"

"Ne, umma dan Joongie sama-sama mempunyai penyakit hobby belanja, kajja tunjukkan semua belanjaan kalian, wah pasti habis semua isi toko jika kedua ratu belanja ini berbelanja"

"Hahaha, Sun Hee eonnie benar sekali"

Jaejoong hanya dapat tersenyum kecut mendapati kedua noona-nya yang begitu bersemangat dan antusias menyambut kedatangan dirinya dan umma-nya tentu saja. Baik Sun Hee maupun Soo Young belum sama sekali menyadari kepulangannya yang hanya seorang diri itu.

Jaejoong hanya berdiri dalam diam sementara kedua noona-nya masih 'heboh' berceloteh riang menyambut kedatangan Jaejoong.

"Ehemm…Joongie ya"

"A-Appa…"

Tubuh Jaejoong mengeras saat mendengar deheman berat dari arah pintu mansion mereka, rasanya ingin berlari saja saat sudut matanya mendapati sosok tinggi besar penuh wibawa itu telah berdiri diambang pintu sana.

"Ne Joongie ya, umma eodie?" Sun Hee dan Soo Young kompak mengeluarkan pertanyaan yang sama saat mereka baru tersadar jika Jaejoong pulang hanyalah seorang diri.

Jaejoong tertunduk dan menggigit keras bibir bawahnya, terlihat jelas bahunya bergetar pertanda ia tengah berusaha menahan isakannya, hal itu cukup memancing keheranan dari ketiga anggota keluarganya, terutama sang appa yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik aneh putra kandungnya.

"Joongie ya, jawab appa, umma eodie?" Siwon mengulangi lagi kalimatnya, kali ini terlihat sedikit menyeramkan.

"Hiks…ummaa…"

"Umma wae, Joongie ya? Mengapa tidak pulang bersama?" Sun Hee yang merasakan kejanggalan dari sikap Jaejoong ikut memberikan pertanyaan.

Namun tanpa diduga tubuh lemah Jaejoong malah bergegas menuju kearah dimana sang appa berada dan langsung menghambur terduduk bersimpu dihadapan Siwon yang memasang wajah terkejut bukan kepalang-nya.

"Appaa, mianhe…hiks, mianhe Joongie tidak bisa menghentikan umma, hiks"

Jaejoong terisak hebat memeluk kedua kaki Siwon yang semakin tak mengerti saja, segera Siwon menarik tubuh kecil Jaejoong hingga menjadi dalam posisi berdiri dihadapannya, kemudian namja tampan dengan wajah tegas itu meraih dagu Jaejoong agar Jaejoong dapat melihat wajahnya.

"Jelaskan" ujar Siwon dingin

"U-Umma…pergi, hiks…"

Wajah Siwon mengeras, tentu saja ia mengerti maksud perkataan Jaejoong, apalagi saat ini ia sama sekali tak mendapati wajah cantik istri tercintanya yang kepulangannya sudah sangat dinanti-nantikannya.

Jaejoong terus menangis terisak, ia begitu takut hingga tubuhnya bergetar hebat. Melihat keadaan sang dongsaeng, Sun Hee dan Soo Young dengan cepat memeluk tubuh Jaejoong dan berusaha menenangkan Jaejoong agar dapat secepatnya menceritakan perihal umma-nya.

Namun melihat keadaan Jaejoong yang sedemikian rupa membuat Siwon bertambah tak sabar, wajahnya semakin menunjukkan emosinya.

"YAH JAEJOONG AH, KATAKAN CEPAT APA YANG TERJADI KEPADA ISTRIKU, SEKARANG JUGA!"

"Hiks…noona Juseyo"

Bentakan keras Siwon membuat Jaejoong semakin menyembunyikan tubuhnya didalam pelukan kedua noona-nya, saat ini hanya noona-deul-nya saja tempatnya berlindung dari amukan sang 'kuda', appa kandungnya sendiri.

"Appa, bisakah appa tenang sedikit? Kasihan uri Joongie, appa bukannya membuat tenang malah semakin membuat Joongie ketakutan"

Siwon menjambak rambutnya kasar saat mendapat teguran dari putri sulungnya Sun Hee yang teramat kesal dengan sifat tak sabaran sang appa. Siwon memang dikenal berwatak keras dan tidak sabaran, sifat itulah yang selalu membuat Heechul merasa makan hati.

"Joongie baby, sekarang bisakah Joongie menceritakan kepada appa dan noona-deul kejadian yang sebenarnya? Kami ingin mendengarnya langsung dari mulut Joongie, mengapa umma tidak pulang bersama Joongie" seakan tahu betapa takutnya Jaejoong saat itu, Sun Hee berusaha membujuk adiknya dengan lemah lembut, begitu juga dengan Soo Young yang terus mengelus punggung Jaejoong agar tenang.

Jaejoong yang terus terisak karena begitu takut dengan Siwon yang terus memberinya tatapan tajam berusaha mulai menjawab mngucapkan kalimatnya dengan terbata-bata.

"J-Joongie b-benar-benar tidak menyangka jika umma akan pergi begitu saja, noona…hiks, jebbal jangan salahkan Joongie, Joongie sudah berusaha mencegah umma, t-tapi umma, hiks…hiks"

"Tapi umma mengapa? AYO KATAKAN CEPAT!" Siwon tampak semakin tidak sabar.

"APPA! Kalau appa selalu membentak uri joongie, kapan dia bisa bercerita, apa appa tidak mendengar suaranya yang beergetar karena takut?" Soo Young menjadi emosi melihat sikap Siwon terhadap anak kandungnya sendiri, ia bertambah tidak tega melihat wajah Jaejoong yang pucat pasi.

"Ssshh, tenanglah Joongie ah, appa hanya terlalu khawatir dengan keadaan umma, sekarang Joongie cerita sebenarnya uri umma eodi?" Sun Hee kembali membujuk Jaejoong.

"Umma…ke Beijing noona, hiks"

"BEIJING KATAMU?"

"N-Ne appa, hiks, umma minta Han ahjussi mengantar kami ke bandara, umma pergi dengan tujuan pesawatnya ke Beijing, hiks…mianhe appa, Joongie sudah berusaha mengejar umma, tapi umma s-sepertinya tidak ingin membatalkan kepergiannya, hiks"

Siwon mendadak lemas, tubuh tegapnya merosot jatuh terduduk dilantai mansion mewahnya, sementara keributan keluarga mereka telah menjadi perhatian para maid yang hanya membisu sambil terus bekerja menyaksikan kericuhan yang layaknya seperti adegan didalam drama saja.

"Beijing…bajingan kau Hangeng!" Siwon menggeram dan mengepalkan tangannya, memukul lantai keras dengan kepalan tangannya berulang-ulang membuat anak-anaknya menjerit khawatir, beberapa maid dengan cepat menahan kedua tangan Siwon agar tidak melakukan tindakan mengerikan itu lagi.

Siwon dibawa menuju kamarnya dengan keadaannya yang meronta-ronta, ia mengamuk sejadi-jadinya saat mengetahui Heechul istri yang amat dicintainya meninggalkannya, bahkan Heechul tak mengucapkan sepatah katapun untuk berpamitan kepadanya.

Masih diingat Siwon, barulah beberapa jam yang lalu tepatnya pagi-pagi sekali ia dan Heechul masih berbincang dari line ponsel mereka. Selama Heechul dan Jaejoong 'minggat' Siwon tak pernah absen menlpon istri cantiknya itu, hanya untuk sekedar mengecek keberadaan mereka dan keadaan kesehatan Heechul.

Bahkan Siwon rutin menelpon istrinya itu satu jam sekali, terkadang membuat Jaejoong sebal karena umma-nya tak berhenti selalu menempelkan ponsel ditelinga-nya setiap waktu. Siwon benar-benar suami yang possesif. Namun sifat possesif itu ternyata tak mampu mencegah Heechul untuk pergi meninggalkan dirinya.

Masih teringat kata-kata terakhir Heechul sebelum mereka mengakhiri perbincangan diponselnya pagi hari tadi.

"Wonnie ya, aku mencintai-mu, jagalah uri Joongie jika aku tak ada disampingmu, ia harta kita satu-satunya, jika kau merindukanku kau bisa memandangi-nya dan memeluknya bila perlu"

Kalimat Heechul tersebut hanya dibalas decakan sebal bibir Siwon yang tak pernah menyangka jika Heechul benar-benar akan meninggalkannya.

AARRGHHHHHH!

PRAANGGG!

PRAANGGG!

"BANGSAT KALIAN HEECHULIE, HANGENG, AKAN KUBUNUH KALIAN BERDUA!"

ARRRGHHH…

Siwon terus mengamuk didalam kamarnya tanpa ada yang berani menghentikannya, dari mulutnya kerap keluar ucapan sumpah serapah dengan tak henti menyebutkan nama istri dan nama seorang asing yang belum pernah didengar oleh anak-anaknya, Sun Hee, Soo Young dan Jaejoong sama sekali tak mengetahui nama asing yang kerap disebut Siwon untuk dibunuhnya.

Siwon benar-benar terpuruk.

Hingga hari telah beranjak larut, sang kepala keluarga itu sudah tak memecahkan dan melempar barang-barang yang berada didalam kamar mereka, tubuh tegapnya dibiarkannya duduk tersandar disudut dinding kamarnya yang berbagi dengan istri tercintanya. Disudut mata tajam itu tampak sisa dari genangan airmatanya yang sudah mengering.

Sementara ketiga Kim bersaudara hanya dapat duduk termenung memandang pintu kamar appanya yang untung saja pintu tersebut terlalu kuat menahan amukan Siwon sedari siang tadi. Sampai saat ini tak seorangpun yang berani masuk kedalam kamar tersebut, walaupun hanya sekedar mengantarkan makanan untuk Siwon saja

Malam ini mereka telah melewatkan makan malam mereka, terlarut dalam kesedihan karena sosok yang sangat mereka sayangi, ratu dalam keluarga mereka telah pergi tanpa diketahui sebab dan tujuannya.

Jaejoong, sicantik yang mewarisi 99 persen garis kecantikan sang umma hanya dapat merenungi dan menyesali kepergian Heechul bersama kedua noona-nya, mereka bertiga duduk berjajar disofa panjang berhadapan kira-kira beberapa meter dari ambang pintu kamar tempat Siwon appa mereka melampiaskan amarahnya.

Tentu saja mereka tak dapat mempersalahkan Jaejoong atas kejadian ini, hilangnya Heechul murni bukan karena salah Jaejoong, Jaejoong hanyalah korban, korban pelampiasan amarah appa-nya yang entah mengapa tiba-tiba malah membenci sang umma. Apakah itu semua ada hubungannya dengan nama seorang asing yang kerap diteriakkan appa mereka dengan penuh amarah? entahlah, Jaejoong dan noona-nya terlalu lelah untuk memikirkan itu semua, mengharapkan Heechul segera menghubungi mereka meski kenyataannya ponsel Heechul sedari siang tadi masih tidak aktif, padahal jarak tempuh Seoul -Beijing tak kurang dari 2 jam dengan perjalanan udara. (mian kalo ngaco)

Sun Hee dan Soo Young tak hentinya mengelus punggung sang adik yang matanya telah membengkak merah karena terus-terusan menangis. Kedua noona-nya Jaejoong hanya dapat mengasihani adik mereka yang paling terpukul saat ini. Jaejoong adalah anak kesayangan Heechul.

Masih teringat jelas dibenak kedua noona Jaejoong saat Heechul hampir meregang nyawa-nya saat menjalani operasi 'kelahiran' adik mereka itu dan saat mengetahui Jaejoong telah diculik.

Hhhhh…

Sun Hee dan Soo Young mendesah berat secara bersamaan, menatap daun pintu kamar Siwon yang sudah tidak terdengar lagi amukan dan makian kerasnya, hanya terdengar racauan-racauan kecil dari bibirnya, tampaknya Siwon terlalu banyak minum alkohol dan mabuk.

"Noona ya!"

Tiba-tiba suara tinggi Jaejoong mengagetkan kedua noona-nya yang spontan menegakkan kepalanya menoleh kearah Jaejoong yang seakan baru menemukan peti harta karun.

"Wae Joongie ya?" Soo Young tampak malas-malasan menjawab seruan Jaejoong yang amat sangat bersemangat.

"Noona ya, Joongie melupakan sesuatu…chakkaman"

Kedua noona Jaejoong hanya dapat mengangakan mulutnya dan mata mengantuk mereka melihat Jaejoong yang berjalan melewati mereka menuju ke kamarnya berada.

Tak berapa lama Jaejoong keluar kamarnya dan berjalan kembali menuju kedua kakaknya. Tampak jelas dari sofa tempat Sun Hee dan Soo Young berada Jaejoong membawa sesuatu dalam genggamannya, seperti sebuah amplop.

"Apa itu joongie?" Sun Hee tampak penasaran dengan apa yag dibawa Jaejoong yang sudah mendudukkan dirinya ditengah-tengah kedua kakaknya.

"Lihat ini, betapa bodohnya Joongie, bisa-bisa melupakan surat ini" ujar Jaejoong sambil mengipas-ngipaskan amplop yang berada digenggamannya.

"Surat?" heran Sun Hee saat bentuk benda berupa amplop digenggaman tangan Jaejoong.

"Ne noona, ini surat, dari umma tepatnya"

"Mwoya? Umma sempat memberi surat, eoh? Mengapa uri Joongie tidak mengatakannya?"

Kedua noona Jaejoong kaget setengah mati saat mengetahui jika surat yang berada ditangan Jaejoong berasal dari umma mereka.

"Joongie lupa noona" mata bulat bening Jaejoong mengerjap-ngerjap polos membuat kedua noona-nya ingin mencubit kedua pipi putihnya dengan gemas.

"Yahh kau ini, kajja sekarang cepat berikan kepada appa, sebelum appa melakukan yang tidak-tidak" ujar Soo Young menyerahkan kembali surat tersebut kepada Jaejoong yang malah seperti ketakutan menerimanya.

"Ani noona, noona saja yang memberikannya" wajah barbie itu terlihat kembali pucat, Jaejoong tampak sangat ketakutan.

"Joongie ya, waeyo?" Sun Hee berkata lembut.

"J-Joongie takut noona, hiks…" airmata itu kembali turun membasahi kedua pipi Jaejoong, masih teringat jelas wajah murka Siwon sore tadi saat mengetahui ummanya tidak pulang bersamanya.

"Gwaenchana, akan lebih baik jika Joongie sendiri yang memberikannya kepada appa, bukankah umma menitipkannya kepada Joongie? Noona yakin didalam surat itu umma mengancam appa jika appa kembali memarahi Joongie.

Jaejoong menghentikan tangisannya, raut wajahnya terlihat ragu dan gelisah, kalimat bijaksana Sun Hee barusan sedikit banyak 'termakan' juga oleh pikiran polosnya.

Jaejoong memperlihatkan wajah berpikirnya yang lucu dan menggemaskan, bola mata bulat besarnya tampak berputar-putar kekanan dan kekiri membuat kedua noonanya tersenyum geli.

"Umm, tapi noona harus menjaga Joongie da tetap disini, eoh?" Jaejoong berusaha membuat kesepakatan yang dibalas anggukan enteng dari kedua noona-nya.

"Arraso, Joongie akan masuk sekarang, noonadeul doakan Joongie semoga kuda umma tidak mengamuk lagi didalam, hehehe"

"Arraso Joongie ya, Hwaiting!"

Kedua noona Jaejoong memberikan semangat kepada adik centil mereka yang berlagak seperti hendak pergi berperang saja, kedua yeoja cantik itu mengepalkan kedua tangan mereka keudara memberi semangat kepada jaejoong yang sudah melangkah perlahan menuju pintu kamar Siwon.

'Joongie hwating…Siwon appa tak akan memakanmu, ingat ia adalah appa kandung Joongie, ia pasti menyayangi Joongie' suara hati Jaejoong ikut menyemangatinya menghapus rasa takutnya yang amat besar.

.

.

.

Krieeettt~

Jaejoong mendorong pintu besar yang rupanya tidak tertutup rapat itu. Perlahan Jaejoong melangkahkan kakinya memasuki kamar umma dan appanya. Mata Jaejoong membelalak kaget saat mendapati isi kamar yang amat sangat berantakan, hancur lebur tepatnya.

Semua barang-barang yang tadinya terletak diatas meja rias ummanya, seperti botol-botol kaca kosmetik milik ummanya dan pernak-pernik lainnya telah pecah berhamburan dilantai beralas permadani lembut berwarna merah marun yang terbentang seluas kamar tersebut.

Jaejoong sedikit meringis saat mendapati sosok appanya yang terduduk disusut kamar dengan wajah dan tubuhnya yang berantakan, kemeja yang beberapa kancingnya telah terbuka sementara sebotol whisky masih berada digenggamannya, sedari tadi Jaejoong sudah mengetahui jika Siwon tengah mabuk.

Jaejoong mengarahkan langkahnya ketempat dimana Siwon berada, sedikit berhati-hati mengingat banyaknya pecahan kaca kosmetik yang dilempar Siwon saat mengamuk tadi, bibir chery itu sesekali meringis sakit saat tak sengaja menginjak pecahan benda dilantai.

"A-Appa"

Jaejoong mulai memanggil Siwon yang sama sekali belum menyadari kehadirannya.

"Appaa" kembali terdengar panggilan halus Jaejoong yang masih belum disadari namja tampan paruh baya dihadapannya.

"Appaaa"

Kali ini bibir cherry itu memanggil dengan nada manja yang sangat khas hanya milik Kim Jaejoong seorang lengkap dengan aksi mengerucutnya karena kesal sang appa sedari tadi tidak menyadari kehadirannya.

Namun sepertinya usaha Jaejoong kali ini berhasil, wajah tertunduk Siwon perlahan terangkat memandangi wajah cantik anaknya.

"Chulie ya"

Siwon tampak terkejut dan mengerjap-ngerjapkan matanya melihat sosok cantik yang berdiri dihadapannya. Dengan keadaannya yang mabuk berat ditambah halusinasinya yang sangat merindukan istrinya maka hadirnya wajah cantik Jaejoong yang mewarisi garis wajah sang umma membuat Jaejoong benar-benar menjelma bagai seorang Heechul dihadapan Siwon saat ini.

Dan Siwon beranjak dari posisinya, melangkah perlahan mendekati Jaejoong yang menatap appanya horror, karena Jaejoong menyadari jika tatapan appanya sangatlah berbeda kali ini. Jaejoong bergerak mundur perlahan.

"Chulie ya, kau kembali? Mengapa kau meninggalkanku dan pergi bersama namja Cina itu, hmm?"

Siwon terus melangkah dengan sedikit sempoyongan karena mabuk dan mulutnya meracau tak jelas. Jaejoong tak sadar tubuhnya sudah terpojok kedinding yang berada dibelakangnya.

"A-Appa, ini J-Joongie appa, b-bukan umma" Jaejoong mulai merasa takut, ia yakin jika Siwon saat ini tengah berhalusinasi jika dirinya adalah Heechul.

"Chulie ya, kau tidak dapat membohongi-ku, kau mencoba mengkhianatiku bersama orang Cina itu kan? JAWAB AKU KIM HEECHUL!"

"A-Appa ini Joongie, hiks…appo, lepaskan jebbal"

"Tidak akan kulepaskan, Kau mengkhiatiku Chulie ya, kau namja murahan!"

"Appa…J-Joongie t-tidak b-bisa berna-fashh…Argghhh"

Jaejoong berusaha meronta sekuat tenaga saat tangan besar Siwon bergerak mencengkeram leher-nya, semakin lama cengkeraman tangan Siwon semakin kuat menyebabkan Jaejoong kehabisan nafasnya, tercekik.

"NOONA YAAA…To-looonghh"

Jaejoong berusaha menjerit memanggil noona-nya yang berada tak jauh dari kamar tersebut, mirisnya lagi, surat yang akan diberikan Jaejoong kepada appa-nya masih berada digenggaman Jaejoong, ia sama sekali belum sempat memberikan surat tersebut.

"JOONGIE! Youngie cepat panggilkan penjaga diluar, kasihan uri Joongie"

Sun Hee memerintahkan Soo Young untuk mencari bantuan secepatnya melihat keadaan Jaejoong yang tengah kesusahan bernafas karena Siwon terus mencekik lehernya. Siwon benar-benar mabuk.

Soo Young kembali dengan beberapa petugas keamanan dan bodyguard yang biasa mengawal appa mereka, secepatnya namja-namja berbada kekar itu memisahkan Siwon dari tubuh Jaejoong yang sudah hampir kehabisan nafas dibuatnya, sedang Siwon masih saja meracau dan berusaha memberontak.

Kehilangan Heechul benar-benar membuat Siwon tak mengingat lagi dunia-nya, ia terlihat sangat terpuruk dan hancur.

Setelah beberapa lama Siwon berhasil 'dijinakkan', akhirnya ia tertidur pulas terbaring tak berdaya diranjangnya yang biasa ditempatinya berdua dengan Heechul. Beberapa maid bergotong royong membersihkan dan merapikan kamar tidur yang sudah porak poranda hingga terlihat kembali seperti sedia kala.

Jaejoong menatap sendu sang appa yang terbaring tenang, hanya dengkuran halus yang terdengar pertanda Siwon sudah tertidur pulas, musibah yang menimpa keluarganya cukup menguras tenaganya.

Perlahan Jaejoong mendekati tubuh terlelap namja tampan paruh baya yang merupakan ayah kandungnya itu. Perlahan didudukkan tubuhnya disamping tubuh Siwon, diperhatikan wajah appa-nya yang tengah bernafas pelan, gurat tampan masih sangat jelas tampak diwajah Siwon, hanya sayang Siwon sama sekali tak menurunkan gennya secara fisik kepada anak kandungnya itu, kulit tan-nya, mata sipitnya, tubuh tinggi dan tegap-nya, dan kedua lesung pipinya. Hanya rambut hitamnya saja yang menurun kepada Jaejoong, selebihnya Jaejoong benar-benar merupakan fotocopy umma-nya yang luar biasa cantiknya.

"Appa Joongie mohon kuatlah, umma tidak mungkin mengkhianati kita, Joongie yakin umma memiliki tujuan untuk apa yang sudah dilakukannya" telapak tangan halus Jaejoong menjelajahi permukaan wajah tampan Siwon, mengelusnya dengan penuh sayang.

Jaejoong sangatlah menyayangi appa-nya, terkadang ia sangat ingin memenuhi keinginan appa-nya dengan menjadi 'lelaki' seutuhnya, namun sifat alamnya benar-benar tak dapat ditentangnya, sifat lahirnya yang manja dan centil hingga pengaruh kedua noona-nya sejak lahir membuatnya lebih membutuhkan perlindungan daripada memberikan perlindungan kepada orang lain.

Bahkan sejak balita Jaejoong telah terpengaruh kedua noona-nya dengan kebiasaan buang air kecil dengan posisi berjongkok khas yeoja, dan itu pada awalnya sempat membuat Siwon mengamuk hebat dan memarahi kedua noona-nya, untunglah semenjak sekolah Jaejoong sudah terbiasa buang air kecil dengan posisi berdiri. -_-

Hhhhh…

Stelah menghela nafas panjang Jaejoong menarik selimut tebal yang membalut tubuh Siwon hingga sebatas dagunya agar Siwon tidak kedinginan. Jaejoong kemudian beranjak dari tempatnya duduk bersiap meninggalkan kamar tersebut, namun sebelumnya ia meletakkan sebuah amplop surat yang sedari tadi ingin diberikannya kepada appa-nya.

Jaejoong meletakkan surat yang berisi tulisan tangan Heechul itu dimeja nakas yang berada persis disebelah ranjang appa-nya berharap setelah bangun appa-nya akan segera menemukan dan membaca surat tersebut.

Jaejoong meninggalkan Siwon yang masih terlelap tidur, tidak lupa setelah mencium kening namja tampan itu dengan sayang dan berharap semoga Siwon tebangun dengan pikiran yang tenang.

"Jaljayo appa, Joongie sangat menyayangi appa"

Jaejoong menutup pintu kamar Siwon dengan rapat dan berlalu menuju kamarnya, ia pun berharap jika besok pagi terbangun dengan keadaan yang lebih baik lagi.

Sementara itu…

Beijing China

Cuaca Beijing tampak tidak terlalu bagus, langit terlihat mendung dan angin sedikit kencang. Disebuah restoran yang masih berada disekitar bandara yang berlokasi di kota Chaoyang yang berjarak beberapa kilometer dari pusat kota Beijing tampak duduk berhadapan dua orang namja yang tengah menyesap rasa khas teh herbal yang berasal dari kota Guangdong yang sangat terkenal khasiatnya untuk kesehatan.

Heechul, yang merupakan salah satu dari namja tersebut baru beberapa menit yang lalu tiba di negara yang terkenal dengan 'The Great Wall'nya dan berpenduduk sangatlah padat. Setelah pesawat landing, seseorang telah menunggu kedatangan namja cantik yang kepergiannya ke negara tersebut tanpa mendapat restu sama sekali oleh segenap anggota keluarganya.

Namja berperawakan tinggi kurus berwajah manis, dengan bentuk mata kecil dan senyumnya yang menawan tak hentinya menatap wajah cantik dihadapannya yang tampak sedikit pucat. Yah, semenjak penyait itu bersemayam ditubuhnya, Heechul tak pernah merasa benar-benar sehat, meski ia kerap bersandiwara didepan suami dan anak-anaknya agar mereka tak selalu mengkhawatirkannya.

"Apa kau siap, Chulie ya?"

Namja tampan dihadapan Heechul akhirnya mengeluarkan suaranya, berbahasa Korea namun dengan aksen Cina yang sangat kental, terdengar sedikit lucu.

Heechul menyesap sebentar teh yang masih hangat digenggaman tangannya, meletakkan cangkir keramik tersebut kembali ketatakannya, wajah pucatnya sedikit mendongak menatap lurus manik mata Hangeng, pria yang kerap di sumpah serapahi oleh Siwon saat mengetahui kapergian Heechul menuju Beijing.

"Apa aku ada pilihan lain, Han gege?" jawab Heechul datar.

Hhhhh...

Hangeng mendesah pelan, menghempaskan punggungnya kesandaran kursi empuk belakangnya.

"Akan kulakukan apapun jika ini bisa sedikit memanjangkan waktuku, tidak peduli apakah itu hanya satu bulan, satu minggu, atau bahkan satu hari, mungkin? aku tidak peduli...aku hanya tak menginginkan melihat wajah terluka orang-orang yang kucintai saat melepas kepergianku, setidaknya aku ingin pergi tanpa ada jerit tangis mereka, aku tidak sanggup dan aku tidak siap dengan semua itu, hiks..." Heechul mulai terisak

"Dan itulah alasan yang membuatmu pergi tanpa memberitahu satu-pun dari mereka? jangan terlalu egois Chulie ya, aku yakin Siwon akan sangat merasa terpukul saat ini"

Heechul tertunduk tak kuasa membendung tetesan airmatanya, sedikit banyak ia membenarkan ucapan namja yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri karena Hangeng pernah merawat dirinya selama beberapa tahun yang lalu sebelum ia terpaksa 'mengungsi' ke negara asalnya akibat rasa cemburu Siwon kepadanya.

Kejadian beberapa tahun yang lalu, Hangeng tak menyangkal jika ia memang pernah jatuh cinta kepada pasien cantiknya yang terbaring koma hingga sekian lamanya, itu terjadi saat Hangeng masih bekerja di Seoul Hospital tempat Heechul dirawat.

Sibuknya pekerjaan dikantornya dan mengurus ketiga buah hatinya membuat Siwon jarang menengok keadaan heechul yang semakin hari semakin membaik namun masih harus menjalani terapi secara rutin. Hingga saat itu, Siwon mendapati istri-nya yang lagi menjalani terapi tengah digendong dengan brydal style oleh seorang dokter tampan yang selama ini menangani Heechul.

Hangeng yang menggendong Heechul bermaksud mendudukkannya dikursi rodanya setelah menjalani terapi sama sekali tak menyangka akan mendapat pukulan telak diwajahnya dari orang yang mengaku sebagai suami pasiennya. Semenjak kejadian itu Siwon semakin intens mengawasi dan mengunjungi Heechul hingga akhirnya Hangeng mengundurkan diri dari pekerjaannya dan kembali ke negara asalnya, China.

Kepergian Hangeng tanpa adanya penyelesaian masalah antara mereka bertiga membuat Siwon selalu menganggap Hangeng adalah orang ketiga didalam rumah tangganya.

Namun niat tulus Hangeng dan rasa cintanya kepada Heechul yang memang pernah ada membuat namja asli Cina yang sudah menikah dengan seorang dokter wanita satu negara-nya itu berusaha mencari donor jantung yang cocok dengan jantung milik Heechul yang sudah 70 persen mengalami kerusakan. Hanya saja Heechul meminta Hangeng merahasiakan niat baiknya itu hingga benar-benar menemukan donor jantung yang cocok untuknya, hingga ia berada dihadapan namja tampan itu sekarang.

Biarlah Siwon bergelut dengan rasa cemburu yang nyaris membakar tubuhnya saat ini.

"Berapa persen kemungkinannya untukku Han gege?" suara Heechul memecah keheningan diantara mereka kemudian.

"Berapa besar kemungkinannya tidak perlu kau pikirkan, yang penting kau harus menjalani-nya dulu Chulie ya"

"Katakan saja, berapapun itu, aku tidak akan takut dan mundur" lirih Heechul.

"Baiklah, 70:30"

Hhhhh...

Heechul mendesah panjang mendengar jawaban Hangeng.

"30 untukku kan?" tanya Heechul datar.

"Untukmu atau bukan, kau harus tetap optimis, operasi pencangkokan akan kita lakukan sesegera mungkin, aku yakin kau kuat, kau itu tangguh Chulie ya"

Heechul terkekeh, "Kau curang Han gege, kau berjanji akan memperkenalkan-ku kepada istri dan anakmu" bibir Heechul mengerucut persisi yang kerap dilakukan Jaejoong jika tengah kesal.

"Setelah kau mendapatkan jantungmu dan membuka matamu dengan jantung yang baru, aku berjanji akan memperkenalkan mereka"

"Yah, curang!"

"Kajja, kuantar kau ke hotel, hari semakin gelap dan kau harus istirahat yang cukup, otte"

"Bahasa Korea-mu payah Han gege, hahaha"

"Yah, untung saja aku masih mengingatnya, bagaimana jika kau harus selalu mengajak penerjemah kalau berbicara denganku? hahaha"

Wajah tampan Hangeng tampak sedikit memerah mendengar ejekan Heechul mengenai logat berbicaranya yang lucu. Setelah membayar minumannya kedua namja itu langsung bergegas keluar restoran guna mencari penginapan di kota Beijing.


Pagi harinya...

Mansion Kim

Ting tong...

Bunyi bel pintu utama kediaman keluarga Kim membuyarkan lamunan Jaejoong yang tengah menyantap sarapannya seorang diri, kedua noona-nya sudah berangkat bekerja sejak jam 7 tadi. Siwon masih belum beranjak dari tidur lelapnya. Dengan langkah malas tubuh mungil Jaejoong melangkah menuju pintu utama mansion luas keluarganya mencoba membuka dengan susah payah pintu yag terbuat dari kayu jati kokoh itu.

Sekuat tenaga Jaejoong membukakan pintu mewah itu, namun setelah pintu terbuka rasanya Jaejoong ingin menelan bulat-bulat daun pintu yang baru saja dibukanya itu saat mendapati seseorang tengah berdiri dengan manisnya diepan pintu tersebut.

"Anneyong Kim Jaejoong..."

"Ah-Ahjussi? cari a-pa?"

Jaejoong terperangah bukan kepalang saat sosok tegap diambang pintunya mengucapkan salam dengan segala ketampanannya. Jaejoong membatu dalam posisinya.

"Jaejoong, Jaejoongie, Joongie yaa" kembali sosok itu menyapa Jaejoong, dan Jaejoong tidak sedang bermimpi sekarang, sosok tegap seorang Jung Yunho, mantan penculiknya.

"Ah-Ah-jussi, apa yang ahjussi lakukan disini? ahjussi m-mencari siapa?" Jaejoong tak kuasa membendung rasa penasarannya atas kehadiran 'kekasih' barunya itu.

Bibir hati dihadapan Jaejoong-pun mengerucut demi mendengar panggilan yang keluar dari bibir cherry dihadapannya.

"Ahjussi...tsk" desis sitampan dihadapan Jaejoong.

"Yunnie, hehehe mianhe...jadi Yunnie, apa yang Yunnie lakukan saat ini disini? apa yunnie kangen joongie? ups..." Jaejoong spontan menutup mulutnya dengan dengan punggung tangannya, ia takut jika suaranya akan terdengar orang-orang didalam mansionnya.

Bibir hati dihadapan Jaejoong seolah tersentak dan segera membungkukkan badannya dengan hormat dihadapan Jaejoong yang semakin terbengong-bengong saja.

"Perkenalkan, Jung Yunho imnida, saya adalah sopir yang baru keluarga Kim, khusus menemani tuan Joongie kemanapun ia akan pergi"

"Mwo? sopir" ottokhe?"

Jaejoong begitu terperanjat mendengar Yunho, sitampan yang sedari tadi berada didepan ambang pintu masuk memperkenalkan dirinya lengkap dengan profesinya.

"Jinjja?" mata indah Jaejoong masih melotot.

"Ne, mulai sekarang aku resmi menjadi sopir dan penagwal pribadimu, Joongie ah" jawab yunho memamerkan senyum manisnya.

"sejak kapan?"

"Sejak aku mendatangi appa-mu dan menyatakan jika aku mencintaimu, beberapa hari yang lalu" jawab Yunho enteng.

"Sopir? pengawal?" Jaejoong semakin heran, keluar rumah saja ia tak pernah boleh, bagaimana mau menggunakan jasa sopir.

"Tuan Kim berpesan kepadaku jika ia telah menyetop home schooling tuan dan mendaftarkan kembali tuan ke sekolah Tuan yang terdahulu, jadi kajja sekarang tuan harus segera bersiap-siap, kita akan berangkat kesekolah" Jaejoong menunduk malu mendengar kata sanjungan dari bibir hati dihadapannya.

"Aish, berhenti memangil Joongie tuan, eoh?" Joongie mendeath galre Yunho yang tengah menggaruk tengkuknya tak gatal.

"Arraso tuan joongie, hehehe"

Yah!"

"Hehehe"

Yunho hanya dapat cengengesan melihat wajah kesal nan ayu yang dimiliki Jaejoong, tak lama Jaejoong beranjak masuk guna bersiap-siap hendak kembali kesekolah, tak terkatakan lagi betapa girang hatinya meski ia masih menuntut penjelasan dari Yunho tentang betapa mudahnya ia berbaikan dengan appa-nya yang terkenal dngin dan galak.

.

.

Sementara itu dikamar...

Arrghh...

Siwon menggeliat memegang kepalanya yang berdenyut sakit, mencoba membuka kedua kelopak matanya perlahan membiasakan sinar pagi yang minim lantaran masih terhalang gorden didalam kamarnya.

Setelah berhasil membuka kelopak matanya, pandangan Siwon menjelajahi tiap sudut kamarnya yang untunglah telah rapi tanpa ada sisa-sisa dari amukannya semalam. Siwon memicingkan kedua matanya, memaksa otaknya memikirkan apa yang telah terjadi sebelum dirinya mabuk semalam.

"Chulie ya"

Gumaman yang lebih berupa geraman pelan itu akhirnya keluar dari bibirnya setelah mengingat apa yang telah terjadi kemarin, secepat itu memori otaknya merekam peristiwa minggatnya istri yang sangat dicintainya itu.

Mata Siwon tertumbuk pada sebuah benda tipis diatas meja nakasnya, dahinya mengerenyit heran saat diingatnya ia tak pernah meletakkan apa-apa diatas meja nakas tersebut. Sebelah tangan Siwon menggapai benda yang ternyata adalah sebuah amplop surat.

Sreett~

Siwon merobek ujung dari amplop surat itu dan mengeluarkan isinya yang berisi tulisan tangan yang amat sangat dikenalnya, Heechul. Surat itu memuat tulisan tangan Heechul.

Siwon menyandarkan punggungya dikepala ranjang king size miliknya dan mulai membaca satu persatu kata yang tercetak dengan tinta hitam tersebut.

Siwon ah,

Pertama-tama aku mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kepergianku ini sangatlah mendadak dan tanpa sepengetahuan-mu sama sekali, aku hanya tak ingin membuatmu mencegah kepergianku karena rasa cemburu-mu yang teramat besar kepada Han gege. Masih ingatkah, kau hampir membunuhnya saat terakhir kali ia memeriksa keadaanku waktu itu.

Wonnie ah, aku tahu kau sangat mencintaiku, meski terkadang kau buta karena cintamu yang terlalu besar kepada-ku.

Kau tahu, Han gege sudah memiliki istri dan 2 anak sekarang...berita bagus bukan? untuk itu tak ada alasan bagi mu untuk cemburu kepadanya lagi.

Hhhhh...

Siwon menarik nafas panjang sejenak, seolah ada kelegaan dihatinya saat ini, perlahan-lahan rasa amarahnya kepada istrinya itu berkurang sedikit demi sedikit. Kembali Siwon melanjutkan membaca isi surat tersebut.

Kepergianku ini bukanlah tanpa tujuan, dan akupun memiliki alasan mengapa aku tak memberitahu kalian mengenai kepergianku yang sudah kurencanakan semenjak beberapa tahun yang lalu.

Suamiku yang sangat kucintai, tahukah kau jika organ terpenting ditubuhku ini hanya dapat bekerja 30 persennya saja? dan tahukah kau jika semakin hari tubuhku merasa sangat lelah? aku bertahan karena banyaknya cinta yang kudapatkan dari orang-orang yang kucintai, kau bersama ketiga anak-anak kita, terutama dirimu, bisa dikatakan, untukmu aku bertahan.

Dua hari yang lalu Han gege menghubungiku jika ia telah menemukan donor jantung yang cocok dengan-ku, aku tak tahu apakah harus bahagia ataukah berduka mendengar kabar tersebut, karena yang aku ketahui, kemungkinannya untukku hanya 30 persen saja, dan aku harus siap akan kemungkinan yang terburuk sekalipun.

Wonnie ah, mengertilah, karena salah satu alasan mengapa aku tak ingin seorangpun dari kalian yang mengetahui ini karena aku tak ingin memandang wajah terluka kalian jika aku harus...ahh, aku harus meninggalkan kalian. Sampaikan kepada kedua putri kita Sun Hee dan Soo Young, aku menyayangi mereka, aku tak pernah menganggap mereka sebagai anak angkat, mereka anak-anakku.

Berjanjilah kalian akan ikhlas dan berbesar hati menerima kepulangan-ku dengan apa-pun kondisiku, bernyawa atau tidak bernyawa. Satu hal yang harus kau ketahui, aku mencintaimu sepanjang hidupku, demi Tuhan...sayangilah buah hati kita, jangan terlalu membencinya karena seutuhnya diriku ada didalam dirinya, Kim Jaejoong darah dagingmu, buah cinta kita berdua.

Aku tenang telah menitipkannya kepada Yunho, ia sangat bertanggung jawab. Kuharap kau merestui mereka.

Woonie ah, berdoalah untukku, aku akan pulang dalam kondisi apapun...aku pasti akan pulang.

With love,

Kim Heechul

Siwon mengusap airmata yang menggenang dipelupuk matanya dengan kasar, ia merasa begitu bodoh disaat-saat istrinya membutuhkan kehadirannya untuk memberinya semangat hidup ia malah dihantui oleh rasa cemburunya yang besar. Ia merasa sangat tidak berguna sekarang.

Siwon bangun dari posisinya, menyambar handuk yang terlipat rapi diatas meja rias Heechul, sebelum masuk kedalam kamar mandinya ia meraih ponselnya dan mendial nomor milik seseorang. Terdengar nada tunggu sebelum sambungan diterima di line seberang.

"Han ahjussi, siapkan mobil antar aku kebandara pagi ini juga"

.

.

.

tbc

review as always

.

.

Twitt : peya_ok

fb : mano shinki

Ig : Peya_mano

.

Thank a million to all readers~bow~