Sepasang iris hazel menatap muram iring-iringan prajurit berkuda yang berpacu cepat melintasi gerbang istana. Baru saja beberapa saat yang lalu Siti melaporkan tentang kepergian Yaya pada Sang Raja, dan kini sang penguasa Gaileta itu langsung menyuruh para prajuritnya untuk mencari sang putri. Entah apakah mereka bisa menemukan Yaya —dan juga Ying—, tapi Siti jelas berharap mereka berdua baik-baik saja.
Pandangan Siti beralih ke arah langit kelabu di atasnya. Hari sudah menjelang senja, dan hujan juga sepertinya akan turun, sehingga menciptakan suasana temaram yang membuat hatinya semakin gundah. Ia berharap bisa menyusul Ying untuk mencari Yaya. Bagaimana pun juga, sang Putri adalah orang yang ia sayangi, sama seperti ia menyayangi Ying. Mereka sudah bersama-sama cukup lama, dan ditinggalkan seorang diri tanpa tahu harus melakukan apa membuat Siti merasa sedikit putus asa. Ia tidak setangguh Ying maupun Yaya. Dirinya hanya seorang pelayan istana, tak pernah memegang —apalagi menyentuh— pedang. Bagaimana bisa ia pergi menyusul kedua sahabatnya? Yang bisa dilakukan Siti hanyalah menunggu, sembari tak henti berdoa semoga tak terjadi apa-apa pada Ying dan Yaya.
Tak tahan terus berdiri di halaman istana, Siti memutuskan untuk kembali masuk ke dalam. Mungkin ia bisa menyibukkan diri di dapur membantu ibunya, agar pikiran gundahnya bisa sedikit terusir. Namun kemudian Siti teringat sesuatu. Ada seseorang yang mungkin bisa dijadikan tempatnya mencurahkan perasaannya saat ini. Walau sedikit ragu, tapi Siti akhirnya bisa membulatkan tekad. Gadis itu bergegas pergi ke arah kamarnya untuk mengambil sepucuk perkamen dan juga sebotol tinta. Ia akan mengirim surat untuk seseorang yang jauh disana, yang belakangan ini sering menjadi tempat Siti mencurahkan isi hatinya.
Siti akan mengirim surat untuk Gopal.
.
.
.
It's You, Chapter 10
By Fanlady
Disclaimer : Boboiboy © Animonsta Studio
Warning : BoboiboyxYaya Kingdom!AU, all human!characters, OOC, typo(s)
.
.
.
Malam telah larut saat seorang pria berjubah hitam melompat turun dari kuda hitamnya. Ia berjalan sedikit tergesa menghampiri sebuah bangunan tak terawat yang terlihat tak berpenghuni. Namun saat langkahnya semakin mendekat, ia bisa melihat dua pria bertubuh besar berjaga di bagian depan, masing-masing memegang sebilah belati di tangan mereka. Pria itu menurunkan tudungnya, sehingga memperlihatkan helaian rambut ungu cerah yang menaungi iris ruby-nya.
"Probe." Salah seorang penajga mengangguk singkat begitu melihat wajah si pendatang baru. "Mau bertemu dengan bos?" tanyanya.
"Ya. Ejo Jo ada di dalam, kan?" tanya Probe.
"Ya. Masuk saja ke dalam."
Probe mengangguk dan bergegas melangkah melewati pintu yang sedikit reyot. Langkahnya bergema di dalam pondok yang gelap. Sedikit cahaya dari ruangan di ujung koridor membuat Probe tahu ke mana harus melangkah. Dengan sedikit gugup, ia pun membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan berpenerangan remang-remang.
"Rajin sekali kau datang berkunjung malam-malam begini, Probe," ujar Ejo Jo tanpa menoleh sedikit pun.
"Aku 'kan harus memastikan apa kau sudah melaksanakan tugasmu atau belum," Probe sedikit menggerutu. Bukan maunya juga datang ke tempat seperti ini di tengah malam buta. Tapi mau bagaimana lagi, tuannya sudah hampir murka karena belum menerima kabar baik apa pun dari Ejo Jo.
"Tuan Adu Du mulai kesal dengan sikap bermain-mainmu, Ejo Jo. Lebih baik kau segera menyelesaikan tugasmu sebelum ia benar-benar mengamuk," lanjut Probe sedikit mengancam.
"Kau pikir aku takut dengan ancaman tuanmu itu? Aku ini jauh lebih kuat darinya, dan aku tidak suka diatur oleh si pendek seperti dia. Bilang padanya, kalau ingin urusannya cepat selesai, lebih baik ia tidak mengganggu permainanku," kata Ejo Jo angkuh.
"Kau ini..." Probe mendesah putus asa. Ia menyesal karena memilih Ejo Jo untuk melaksanakan tugas penting ini. Kalau tahu begini, lebih baik ia mencari pembunuh bayaran yang lain saja.
Pandangan Probe teralih ke arah sosok yang tergantung di dekat dinding tak jauh darinya. Matanya menyipit di tengah cahaya temaram dari lampu minyak, mencoba menelusuri keadaan sosok yang terlihat cukup menggenaskan itu.
"Apa dia ... sudah mati?" tanya Probe ragu. Ia terus mengawasi sosok sang pangeran lekat, mencari tanda pergerakan apa pun yang menunjukkan apa ia masih hidup. Tapi tak ada tanda apa-apa. Sosok itu diam tak bergerak.
"Mungkin," ujar Ejo Jo tak peduli. Ia ikut mengawasi sosok yang selama beberapa hari ini dijadikan mainannya. "Aku tidak melihatnya bergerak lagi sejak kemarin."
"Kau sudah mengeceknya?" tanya Probe lagi.
"Kenapa tidak kau saja yang mengeceknya sendiri?" balas Ejo Jo malas.
Probe bergidik. Berada di bangunan mengerikan ini di tengah malam buta saja sudah cukup mengerikan, apalagi kalau ia sampai harus mengecek seseorang yang (mungkin) sudah mati.
"Kalau begitu aku akan melapor pada tuan bos. Aku akan memberitahunya bahwa sang pangeran sudah mati," kata Probe sambil mengalihkan pandangan dari sosok yang terantai itu.
"Ya, ya, terserah kau saja," kata Ejo Jo tak acuh. Ia merentangkan tangan dan menguap lebar. "Kau mau pulang, kan? Sekalian panggilkan Petai di depan, suruh dia masuk menemuiku."
Probe menggerutu sebal karena Ejo Jo memerintahnya seenaknya. Tapi ia tahu lebih baik tidak membantah, maka Probe pun berbalik dan melangkah cepat meninggalkan pondok itu untuk kembali ke kudanya.
Petai melangkah masuk ke ruangan tempat Ejo Jo berada beberapa saat setelah Probe pergi. Ia berdiri tegap di belakang sang tuan dan berdeham pelan.
"Anda memanggilku, tuan?"
"Oh, ya," ucap Ejo Jo tenang. Ia memain-mainkan pisau perak di tangannya dengan santai. "Besok pagi-pagi, carikan peti mati terbaik yang bisa kau dapatkan di desa." Iris semerah darahnya menatap sossok sang pengeran yang tergantung tak berdaya di hadapannya. Bibirnya membentuk sebuah seringai lebar. "Kita akan mengirimkan hadiah terindah untuk Kerajaan Scelerisque."
.
.
.
Fang membuka tutup botol minumnya dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Ia mendongak ke atas sambil menggunakan sebelah tangannya untuk menghalau cahaya matahari. Sudah lewat tengah hari. Desa Fritura tempat tujuan mereka masih beberapa puluh mil jauhnya dari sini. Fang ragu mereka akan bisa tiba di sana sebelum hari berakhir.
Seseorang menepuk bahunya dari belakang. Fang menoleh dan melihat Stanley tengah berdiri menatapnya.
"Kita lanjutkan perjalanan sekarang?" ucapnya. "Aku takut kita akan kehabisan waktu kalau terlalu lama. Kita tak ingin terlambat menyelamatkan pangeran, 'kan?"
Fang mendelik jengkel. Memangnya siapa yang minta istirahat padahal mereka baru saja berjalan beberapa jam? Bukan ia yang meminta agar mereka beristirahat setiap beberapa jam sekali. Fang bisa menempuh perjalanan sejauh apa pun tanpa istirahat, tapi teman-temannya sepertinya mulai kelelahan setelah hampir empat hari berturut-turut terus mengembara tanpa henti mencari sang pangeran.
"Ya, kita berangkat sekarang," ujar Fang akhirnya. Ia melangkah mengikuti Stanley ke tempat kuda mereka ditambatkan. Beberapa prajurit terlihat masih sibuk mengemasi barang mereka dan menaikkannya ke kuda masing-masing.
Suara derap kuda tiba-tiba terdengar dari balik pepohonan. Fang dan yang lainnya langsung mengangkat senjata masing-masing dengan sikap waspada. Seharusnya tak ada orang lain di sini selain mereka. Tapi suara itu terdengar semakin mendekat.
Fang menyiagakan pedangnya dan memicingkan mata untuk melihat lebih jelas di antara pohon-pohon yang mengitari tempat istirahat mereka. Sampai ia mendengar suara seorang gadis berteriak minta tolong.
Seekor kuda cokelat melaju cepat tak jauh dari tempat para prajurit Scelerisque berdiri. Seorang gadis duduk terlonjak-lonjak di punggungnya dengan jubah yang berkibar ke belakang tertiup angin. Mata Fang membelalak begitu mengenali sosok gadis berkuncir dua itu. Ia bergegas melompat ke atas kudanya dan berderap menyusul gadis itu.
Tak butuh waktu lama saat Fang akhirnya berjasil mengejar. Ia menjejeri kuda bersurai cokelat itu dan dengan sigap berusaha menenangkannya. Perlahan laju kuda itu melambat sebelum akhirnya benar-benar berhenti. Fang meluncur turun dari kudanya dan membantu gadis itu turun.
Gadis berkuncir dua itu jatuh berlutut di atas rumput dengan tubuh gemetaran.
"Syukurlah ... kupikir aku akan terlempar jatuh dan mati ..." gumamnya lemah.
"Kau tidak apa-apa, Ying?" tanya Fang hati-hati. Ia memeriksa kondisi Ying, tapi kelihatannya gadis itu tidak terluka.
"Untunglah aku bertemu denganmu, Fang ... Aku tadi takut sekali ..." Suara Ying bergetar, menandakan gadis itu hendak menangis. Fang dengan canggung membelai punggung Ying untuk menenangkannya.
"Tidak apa-apa ... kau aman sekarang," ucap pemuda itu pelan. Setelah merasa Ying cukup tenang, barulah Fang kembali bertanya. "Apa yang terjadi? Kenapa kau ada di sini, Ying?"
Ying tak langsung menjawab. Ia berusaha menenangkan kembali napasnya yang masih memburu. Saat tubuhnya telah berhenti gemetar, barulah Ying mendongak untuk menatap Fang.
"Aku ke sini untuk mengejar Yaya ..." katanya.
"Yaya? Apa yang terjadi pada Putri Yaya?" tanay Fang tajam.
"Dia mendengar kabar menghilangnya Pangeran Boboiboy dan memutuskan untuk pergi mencarinya sendiri."
"Apa? Kau serius?!"
"Tentu saja! Buat apa aku bercanda?" tukas Ying kesal. Setelah ketakutannya hilang, ia kembali ke sikap galaknya yang biasa. "Aku berusaha mengejarnya, tapi aku kehilangan jejak. Lalu kudaku tiba-tiba saja hilang kendali dan aku terbawa sampai ke sini."
Fang memijit pangkal hidungnya. Kepalanya terasa sakit. Masalahnya lagi-lagi bertambah. Ia masih harus menemukan Boboiboy, dan sekarang ia harus mencari sang putri Gaileta juga? Fang benar-benar menyesali keputusannya untuk menjadi pengawal pribadi sang putra mahkota Scelerisque.
"Baiklah, aku mengerti," Fang mendesah pelan. Ia bangkit dari rumput dan juga membantu Ying berdiri. "Aku akan membantu mencari Putri Yaya."
"Sungguh?" ucap Ying gembira.
"Ya. Karena itu, sekarang sebaiknya kau kembali ke Gaileta. Aku akan meminta salah satu temanku untuk mengantarmu pulang."
"Tidak. Aku akan ikut mencari Yaya."
"Ying ... kami masih harus menemukan Boboiboy. Dia diculik oleh para penjahat kejam. Akan sangat berbahaya kalau kau ikut," ujar Fang lelah.
"Tapi Yaya kemungkinan juga menuju ke tempat Pangeran Boboiboy! Jadi aku harus menyusulnya untuk memastikan ia baik-baik saja," balas Ying keras kepala.
"Aku janji akan menemukan Putri Yaya dan membawanya kembali dengan selamat. Jadi kau pulanglah."
"Tidak mau! Aku mau ikut!"
"Ying! Ini berbahaya!" bentak Fang kasar, akhirnya kehilangan kesabaran.
"Aku tau!" Ying meninggikan suaranya melebihi Fang. "Tapi mungkin kau sudah lupa, aku juga sama jago bertarungnya denganmu. Kemampuan berpedang kita setara, ingat?"
Mana mungkin Fang lupa. Mereka hampir setiap saat berduel saat Ying berada di Scelerisque.
"Kau bahkan tak bisa naik kuda, bagaimana mau ikut?"
"Aku bisa naik kuda dengan salah satu dari kalian. Kalau perlu akan akan jalan kaki. Jangan remehkan kemampuan berlariku yang bisa menyaingi kuda tercepat sekali pun."
Fang menghembuskan nafas kasar. "Baiklah kalau itu maumu."
"Eh? Kau mengizinkanku ikut?" tanya Ying penuh harap.
"Ya, asal kau tidak menyusahkan."
"Tenang saja. Aku tidak akan membuatmu repot. Kau pasti akan bersyukur nantinya karena telah mengajakku ikut serta."
"Yah, terserah kau mau bilang apa," balas Fang malas. Ia melompat naik kembali ke atas kudanya dan mengulurkan tangan pada Ying. "Ayo cepat naik. Kita harus bergegas."
Ying terlihat ragu, namun akhirnya ia menyambut uluran tangan Fang. Dengan sedikit kikuk, Ying pun duduk di belakang Fang.
"Pegangan yang erat. Jangan sampai jatuh," kata Fang lagi. Ying menggenggam ujung baju Fang erat dan memejamkan mata takut. Fang melirik Ying dan tersenyum kecil. Ia kemudian menarik tali kekang kuda Ying dan menuntunnya untuk berjalan di sebelah kudanya. Mereka pun berderap kembali ke tempat para prajurit Scelerisque telah menunggu.
.
.
.
Yaya terus memacu kudanya semalam suntuk melintasi hutan dan juga padang rumput yang disinari cahaya bulan. Sepasang iris karamelnya menatap lurus ke depan, sama sekali tak terlihat adanya kantuk di sana. Walau tubuhnya sedikit letih karena terus terguncang-guncang di atas kuda, tapi Yaya menolak untuk beristirahat. Ia tahu setiap menit yang dilaluinya akan semakin mendekatkannya pada tempat Boboiboy berada, dan Yaya tak ingin menyiakan setiap waktu berharga itu.
Ternyata perkiraan Yaya sedikit meleset. Desa Fritura tak sedekat yang semula dipikirkannya. Tadinya Yaya berharap bisa tiba di sana saat pagi datang, namun baru saat hari menjelang senja keesokan harinya, barulah Orion akhirnya berderap menaiki bukit yang tepat di baliknya desa Fritura berada. Yaya menepuk punggung kuda putihnya pelan, menyuruhnya berhenti. Ia kemudian melompat turun dan membiarkan Orion beristirahat sementara ia mendaki ke puncak untuk melihat lebih jelas.
Desa kecil itu terbentang sejauh beberapa mil tak jauh di bawah bukit. Rumah-rumah penduduk tersebar di banyak tempat, dengan atap-atap merah tua dan juga cokelat dengan cerobong asap besar yang bertengger di atasnya. Deretan tipis pohon membatasi rumah-rumah itu dari ladang jagung yang membentang hingga ke tepi hutan gelap yang terhampar sampai ke cakrawala.
Yaya berdiri termenung di puncak bukit menyaksikan pemandangan indah di bawahnya. Angin yang bertiup cukup kencang membuat tudung jubahnya terbuka, membuat kerudung merah mudanya berkibar dan memperlihatkan wajahnya yang kini tersiram cahaya matahari sore.
Walau telah berkendara selama lebih dari satu hari penuh tanpa beristirahat, Yaya tak terlihat terlalu lelah. Namun kegelisahan jelas terpancar di wajahnya, dan juga mungkin rasa takut yang sedari tadi terus berusaha ditekannya.
Tanpa sadar Yaya mengelus permukaan cincin yang melingkar di jari manis kirinya. Ia memejamkan mata dan mengeratkan genggaman di sekeliling logam dingin itu, seolah menggantungkan harapannya di sana.
"Bertahanlah sedikit lagi, Boboiboy ... " bisik Yaya lirih. Angin dingin menciptakan sedikti rona merah di pipinya yang pucat. Manik karamelnya kembali terbuka dan menatap jauh ke hamparan desa tak jauh darinya. "Aku pasti akan datang menolongmu.
.
.
.
Untuk ke-sejuta kalinya, Boboiboy terbangun oleh sentakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa rasa sakit itu masih ada, padahal seluruh tubuhnya terasa mati rasa. Mata Boboiboy bahkan belum sepenuhnya terbuka saat ia terbatuk-batuk dan kembali memuntahkan darah dari mulutnya.
"Kau masih hidup rupanya. Ternyata kau keras kepala juga ya, pangeran." Sebuah suara menyeruak masuk ke telinganya, tapi Boboiboy tak sanggup mendongak untuk melihat siapa yang bicara. Lagipula ia sudah mengenali suara itu.
"Aku jadi bertanya-tanya ... bukankah kau selalu memohon-mohon untuk mati, pangeran? Lalu kenapa kau tidak menyerah saja dan kabur ke alam sana untuk bertemu kedua orangtuamu?" Suara itu berujar dengan nada sarkastis.
Seandainya bisa, aku pasti sudah melakukannya sejak awal, sialan!
Boboiboy ingin berteriak membalas perkataan orang itu, namun bahkan untuk membuka matanya saja ia hampir tak sanggup lagi.
"Kau tau, aku sudah mempersiapkan peti mati yang bagus untukmu. Tadinya aku ingin langsung memasukkanmu ke dalamnya dan mengirimmu pulang ke Kerajaan Scelerisque. Tapi sayang sekali kau masih hidup. Aku jadi merasa sedikit kasihan padamu ..."
Boboiboy membiarkan pria itu terus mengoceh tanpa berniat membalasnya. Untuk bernapas saja ia sudah kesulitan, apalagi untuk menanggapi celotehan penjahat itu.
"Aku tau kau sudah lelah. Pasti kau menderita sekali,'kan? Karena itu, jika kau ingin mati sekarang, silakan saja. Aku tidak akan menahanmu lagi."
Kepala Boboiboy sedikit terangkat, namun ia hanya bisa melihat ujung sepatu dari pria yang sedang berbicara padanya. Dalam hatinya Boboiboy merasakan sentakan perasaan lega. Mungkinkah penderitaannya akan benar-benar berakhir sebentar lagi?
"Yah, aku mungkin akan merasa sedikit kehilangan. Sudah lama aku tidak punya mainan sebagus dirimu, kau tau ... Tapi, waktu bermain kita sudah selesai, pangeran ..."
Tarikan paksa di rambutnya membuat wajah Boboiboy mendongak. Susah payah ia membuka sebelah matanya yang membengkak untuk menatap netra semerah darah di atasnya.
"Memohonlah sekali lagi, dan kali ini aku akan mengabulkan permintaanmu untuk mati," ujar pria berambut hijau itu dengan seringai lebar.
Boboiboy tak perlu mempertimbangkannya lama-lama. Ia akan dengan senang hati memohon, jika itu memang berarti dirinya terlepas dari semua siksaan ini. Boboiboy sudah tak peduli lagi dengan harga dirinya sebagai seorang pangeran, putra penerus kerajaan Scelerisque.
Darah mengalir dari sudut bibirnya saat Boboiboy membuka mulut untuk berbicara. Sepasang iris ruby menatapnya dengan seringai puas, tahu bahwa sejak awal sang pangeran memang sudah kalah. Boboiboy tersekap tak berdaya di sini, tanpa ada seorang pun yang datang untuk menolongnya ...
Pintu ruangan tiba-tiba menjeblak terbuka, membuat Boboiboy maupun laki-laki berambut hijau itu tersentak kaget.
"Bos, ada yang datang!" Seorang pria bertubuh besar dan berkulit gelap menerobos masuk dan berseru terengah-engah.
"Siapa? Prajurit Scelerisque?" tanya si laki-laki hijau. Ia melepaskan tangannya dari rambut Boboiboy, membuat kepala sang pangeran kembali terkulai tak berdaya. Namun kini ada sedikit sinar harapan di sepasang manik karamel yang setengah terpejam itu. Mungkinkah akhirnya ada yang datang menyelamatkannya?
"Bukan, bos ... " Si pria bertubuh besar menjawab. "Seorang gadis ..."
Orang yang dipanggil bos itu jelas terkejut. "Seorang gadis?" tanyanya tak percaya.
Pikiran Boboiboy bereaksi sedikit lebih lambat. Saat kata itu akhirnya berhasil dicernanya, kepalanya otomatis mendongak. Matanya sedikit melebar, antara ngeri dan juga tak percaya. Rasa dingin terasa menekan jari manis kirinya, tempat sebuah cincin perak melingkar.
Tidak mungkin ...
Seorang pria lain berlari masuk. Tubuhnya nyaris sama besarnya dengan yang pertama.
"Bo-bos ... gadis itu ... dia Putri Gaileta!"
"Apa?!" Bos mereka kini terlihat benar-benar kaget.
"Ya, bos. Saya yakin itu itu memang Tuan Putri dari Gaileta. Ia datang seorang diri dan para penjaga kini tengah berusaha menanganinya."
Mendengar itu, Boboiboy langsung bereaksi. Ia berteriak dan memberontak berusaha membebaskan diri dari rantai yang mengikatnya. Darah segar mengalir dari pergelangan tangannya yang bergesekan keras dengan rantai besi yang keras. Boboiboy bahkan taklagi merasakan sakitnya, ia hanya meraung frustasi karen atangannya sama sekali tak bisa terbebas dari belenggu besi itu.
Sang pria berambut hijau menoleh pada Boboiboy, sebelum kembali berpaling pada anak buahnya. "Bereskan gadis itu," ujarnya tenang. Ia kemudian merendahkan suaranya agar tidak terdengar oleh Boboiboy. "Tapi kalian tidak boleh membunuhnya. Mengerti, kan?" Kedua anak buahnya mengangguk. Pria itu tersenyum puas dan mengisyaratkan mereka untuk pergi.
Boboiboy memberontak semakin keras, tapi tetap saja usahanya sia-sia. Ia sama sekali tak bisa membebaskan diri dari sini untuk membantu Yaya. Kalau begini, bisa-bisa Yaya ...
"Wah, wah, pangeran ... Kau jadi bersemangat lagi karena tunanganmu datang, ya? Romantis sekali, dia datang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan pangerannya tercinta ..." Sang pria berambut hijau tersenyum mengejek ke arah Boboiboy, dan ia membalasnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Kalau kau sampai berani macam-macam padanya ..."
"Apa? Kau akan meneriakiku sampai suaramu habis? Kau bahkan tak bisa menolong dirimu sendiri, pangeran. Jangan bermimpi untuk menyelamatkan gadismu itu."
Seandainya tatapannya bisa membunuh, pasti pria itu sudah mati sekarang. Tapi sayang sekali Boboiboy tak memiliki kekuatan supranatural seperti itu. Maka ia memilih meneruskan usaha sia-sianya untuk menarik putus rantai yang menahannya.
"Kau pasti sangat merindukan Tuan Putrimu itu, kan? Kau mau bertemu dengannya?"
Boboiboy tidak mau repot-repot menjawab. Kali ini ia berusaha melepaskan rantai yang juga membelenggu kedua kakinya. Namun itu lebih sulir karena posisinya yang tengah berlutut dengan kedua kaki terikat di belakang tubuhnya. Boboiboy lagi-lagi mengerang frustasi karena ketidakberdayaannya.
"Sayang sekali, ya. Padahal tunanganmu sudah bersusah payah datang, tapi kau tak bisa bertemu dengannya," pria itu melanjutkan dengan tenang sambil mengawasi usaha sia-sia Boboiboy untuk melepaskan diri. "Tapi jangan khawatir, aku akan membiarkanmu melihat mayatnya nanti saat anak buahku selesai membereskannya., lalu setelah itu kau juga bisa pergi menyusulnya ke alam baka. Menurutmu berapa lama gadis itu bisa bertahan? Satu menit? Dua menit?"
Boboiboy menggertakkan giginya keras. "Jangan remehkan calon ratuku," geramnya. "Yaya pasti bisa menghabisi semua anak buahmu walau seorang diri. Dia tidak akan kalah dari pecundang seperti kalian."
"Oooh, kepercayaan diri yang bagus. Kalau begitu kau tidak perlu cemas, kan, Pangeran? Tuan Putrimu akan baik-baik saja —mungkin— jadi bagaimana kalau sekarang kau tidur saja dengan tenang?"
Boboiboy tak sempat mengelak saat pria itu mencengkram erat wajahnya dan memaksa mulutnya membuka. Sebotol kecil cairan aneh —kali ini berwarna hitam pekat— dituangkan ke dalam mulutnya. Walau Boboiboy berusaha meludahkannya kembali, tapi laki-laki itu memaksanya menelan semua cairan yang terasa dingin di kerongkongannya.
Butuh beberapa detik sebelum efek racun itu mulai bekerja. Rasa sakitnya jauh melampaui semua rasa sakit yang pernah dirasakan Boboiboy. Mulutnya terbuka dalam jeritan tanpa suara. Tubuhnya menggelepar seperti ikan yang dikeluarkan dari air. Ia tak bisa melihat, mendengar, atau merasakan apa pun selain rasa sakit itu.
Namun di tengah kesadarannya yang semakin menipis, Boboiboy justru mendapatkan kembali tekadnya untuk bertahan hidup. Ia tahu dirinya tak boleh mati sekarang. Tidak saat Yaya mempertaruhkan nyawa untuk datang menyelamatkannya. Boboiboy harus melindungi Yaya dari para penjahat ini, sebelum mereka melakukan sesuatu pada gadisnya itu.
Jantung Boboiboy berdenyut keras dalam rongga dadanya, mati-matian menjaganya agar tetap hidup. Walau begitu, tubuh Boboiboy lagi-lagi mengkhianatinya. Saat ia ingin mati, tubuhnya menolak menyerah, dan kini saat ia berusaha keras untuk bertahan tubuhnya justru memilih untuk berhenti berjuang.
Rasa sakitnya perlahan memudar, begitu juga semua hal di sekitarnya. Napasnya terputus-putus dan kepalanya mulai terasa ringan. Suatu kekuatan aneh menariknya agar tertidur, tapi Boboiboy berusaha untuk tetap terjaga karena ia tahu itu penting. Walau Boboiboy mulai tak mengerti kenapa ia merasa begitu penting untuk tetap terjaga. Pikirannya terasa berkabut, ia tak bisa berpikir apa-apa lagi.
Tarikan itu semakin keras, membuat tubuh Boboiboy terpuruk dengan kedua lengan yang terhantung lemas di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Boboiboy merasa dirinya perlahan tenggelam. Bibirnya bergetar perlahan, seolah ingin mengucapkan sesuatu. Tapi sebelum sepatah kata pun keluar dari mulutnya, kegelapan itu akhirnya menelan Boboiboy seutuhnya.
Satu denyut terakhir terdengar, dan jantung Boboiboy pun akhirnya berhenti berdetak.
.
.
.
Yaya menyuruh kudanya berhenti tak jauh dari sebuah bangunan kumuh yang berdiri di pinggir hutan. Bangunan itu terletak jauh dari rumah penduduk yang lain di desa itu, bahkan cukup jauh dari ladang para petani, jadi Yaya sama sekali tidak ragu bahwa tempat itulah yang dicarinya. Ia mengawasi dari jauh dan melihat beberapa orang pria bertubuh besar berjaga di depan pintu.
Malam sudah turun sehingga memudahkan Yaya untuk mengintai tanpa ketahuan. Suasana yang gelap membantu menyembunyikannya dari pandangan para penjaga yang terus mondar-mandir di depan bangunan itu.
Yaya melompat turun dari kudanya. Tanpa suara ia berjalan mengendap-endap dari balik deretan pepohonan ek tipis yang melindungi tempat itu seperti pagar. Kedua pedangnya teracung di masing-masing tangan, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Saat dirasa para penjaga tengah lengah, Yaya pun beranjak keluar dari persembunyiannya dan mulai menyerang.
Teriakan-teriakan terdengar membelah suasana malam yang sunyi. Yaya telah berhasil menumbangkan dua orang penjaga sebelum mereka bahkan sempat melihat siapa penyerang mereka. Beberapa yang lain berlari masuk untuk memanggil bantuan, dan Yaya tanpa ampun membereskan oang-orang yang tersisa di luar.
Ada lebih banyak lagi yang datang. Semuanya pria dengan tubuh dua —bahkan tiga—kali lebih besar dari Yaya. Namun ia sama sekali tak merasa gentar. Pedangnya terayun ke sana-ke mari dengan anggun, seolah ia tengah menari bukannya bertarung. Segera saja bagian depan bangunan tua itu telah dipenuhi tubuh-tubuh yang tergeletak tak berdaya. Yaya tidak membunuh mereka, hanya membuat para penjaga itu terluka cukup parah sampai tak bisa bangkit lagi.
Setelah cukup lama bertarung seorang diri di bawah cahaya bulan, akhirnya tak ada lagi penjaga yang datang. Semuanya kini tergeletak bersimbah darah di tanah. Beberapa masih terjaga dan mengerang kesakitan, tapi sebagian besar sudah tak sadarkan diri.
Tanpa membuang waktu, Yaya melangkah melewati mereka dan melangkah masuk ke dalam bangunan —yang lebih tepat disebut pondok— itu. Suasana di dalam terasa mencekam. Suara-suara dari luar langsung teredam begitu Yaya menutup kembali pintu kayunya. Kesunyian seolah menekannya dari segala arah, membuat Yaya sedikit bergidik. Ia sedikit menyesal sudah menutup pintu, tapi tak ada waktu untuk memikirkan itu. Yaya harus segera menemukan Boboiboy dan membawanya pergi dari sini.
Yaya berhenti tepat di depan pintu ruangan terakhir di bangunan itu. Napasnya tetap teratur walau ia baru saja melawan belasan laki-laki yang jauh lebih besar darinya. Ia sama sekali tidak merasa lelah, namun kemarahan terasa mendidih di dalam kepalanya. Ia sudah mengecek semua ruangan —aneh sekali betapa bangunan sekecil ini bisa punya begitu banyak ruangan— dan juga bertanya pada setiap penjaga yang tadi dikalahkannya, tapi tak ada yang memberitahunya di mana Boboiboy disekap. Tapi ini ruangan terakhir. Yaya yakin seratus persen Boboiboy pasti ada di dalam sana.
Namun hati Yaya justru bimbang untuk menerobos masuk. Apa yang akan ditemuinya di dalam nanti? Benarkah Boboiboy ada di sini? Bagaimana kalau dia sudah ...
Yaya menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran buruknya. Tak ada gunanya merasa ragu sekarang. Ia sudah di depan mata. Boboiboy pasti ada di dalam, dan Yaya akan menyelamatkannya.
Yaya tak merasa perlu bersopan-santun dengan mengetuk pintu terlebih dahulu, maka tanpa ragu ia menendang pintu itu sekuat tenaga hingga engselnya terlepas dan pintu kayu itu terbang ke seberang ruangan.
Debu berterbangan di depan matanya, sehingga untuk sesaat Yaya tak melihat apa pun. Barulah saat debu mulai menipis, Yaya bisa melihat dengan jelas.
Ruangan itu tidak terlalu luas dan juga tak memiliki jendela sama sekali, sehingga membuat suasanya sedikit gelap. Hanya ada sebuah lampu minyak yang tergantung di langit-langit di tengah ruangan. Cahayanya tak sampai menjangkau ke setiap sudut sehingga Yaya harus memicingkan mata agar bisa melihat.
Suara gerutuan pelan membuat Yaya mengangkat kedua pedangnya dengan waspada. Matanya menyipit menatap sosok yang bangkit dari balik daun pintu yang hancur sambil mengusap kepalanya yang tertutup helaian rambut hijau gelap.
"... Adu Du?" ucap Yaya ragu. Sosok itu menggerutu lagi.
"Jangan samakan aku dengan si bodoh Adu Du itu," katanya.
Setelah memperhatikan lebih jelas di bawah cahaya seadanya, Yaya menyadari sosok itu memang bukan Adu Du, penasihat terpercaya ayahnya, walau mereka memang memiliki rambut hijau aneh yang nyaris serupa. Laki-laki yang berdiri di depannya ini jauh lebih tinggi. Ada guratan aneh di sisi kiri wajahnya, dan setelah meneliti lebih jauh, Yaya bisa melihat warna matanya yang merah, berbeda dari Adu Du yang memiliki manik cokelat.
"Kau ... bukan Adu Du?" tanya Yaya masih tak yakin.
"Tentu saja bukan. Dilihat juga jelas, 'kan?" Pria itu berkata ketus.
"Jadi kau siapa? Kau kenal Adu Du? Apa hubunganmu dengannya? Jawab!" perintah Yaya tegas sambil mengacungkan pedang.
"Oh, kau tak akan percaya kalau aku memberitahumu, tuan putri," ujar pria itu menyeringai.
Yaya mengernyit. "Apa maksud ..."
Kedua iris hazel Yaya sontak melebar saat ia menyadari kehadiran sosok lain di ruangan itu. Kedua tangannya terentang lebar dan terikat rantai, begitu juga kedua kakinya yang menekuk dalam posisi berlutut.
"BOBOIBOY!" Yaya menghambur ke arah pemuda itu dan berlutu di depannya. Jantungnya mencelos melihat separah apa kondisi tunangannya itu. Boboiboy terlihat sangat menggenaskan dengan pakaian kotor penuh noda darah. Sudut bibirnya yang sedikit terbuka juga masih meneteskan darah segar. Namun kedua matanya terpejam rapat.
"Bo-Boboiboy?" panggil Yaya dengan suara tercekat. Tangannya bergerak menyentuh wajah Boboiboy yang seputih kertas. Dingin. Yaya meletakkan satu jarinya di atas bibir Boboiboy, berharap dapat merasakan hembusan napasnya yang hangat. Tapi tak ada apa-apa di sana.
"Kau terlambat beberapa menit, tuan putri. Seandainya kau datang sedikiiiit lebih cepat, kau dan pangeranmu mungkin bisa saling mengucapkan selamat tinggal," kata sosok pria di belakang Yaya.
"Tidak ..." bisik Yaya lirih. "Boboiboy, tidak ..." Yaya mencengkram erat pakaian Boboiboy yang berlumuran darah kering. Jari-jarinya kembali bergerak menyusuri dada kiri pemuda itu, di mana Yayayakin akan mendengar degup jantung Boboiboy yang kuat dan mantap. Tapi lagi-lagi hanya ada keheningan.
"Tidak, tidak, tidak ..." Yaya terus mengulang satu kata itu, seolah dengan mengulangnya ia bisa mengubah kenyataan yang ada di hadapannya.
Namun Yaya tak lantas berputus asa. Ia menangkup wajah Boboiboy yang dingin dengan kedua tangannya dan memejamkan mata. Yaya mulai menggumamkan lagunya di dalam hati, mati-matian berharap ia masih bisa menyelamatkan Boboiboy. Tapi setelah mengulang lagunya hingga tiga kali, Yaya sadar usahanya ini sia-sia. Kekuatannya hanya bisa digunakan untuk menyembuhkan orang sakit dan terluka, bukan untuk menghidupkan yang sudah mati. Dan itu berarti, ia sudah terlambat menyelamatkan Boboiboy.
Air mata Yaya mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah. Padahal ia sudah berhasil menemukan Boboiboy, tapi ia justru gagal menyelamatkan tunangannya itu. Seandainya ia datang lebih cepat, pasti Boboiboy tidak akan bernasib seperti ini.
"Maafkan aku, maafkan aku, Boboiboy ..." Yaya terisak tak terkendali. Pedangnya tergeletak begitu saja di lantai sementara ia memeluk tubuh Boboiboy yang semakin dingin. Air matanya turun membasahi baju Boboiboy yang penuh noda.
"Oh ... aku turut berduka cita atas kehilanganmu, tuan putri." Suara lain menginterupsi tangisan Yaya. Sang pria berambut hijau berdiri santai tak jauh di belakang Yaya, memandangnya dengan mulut menyeringai. "Sayang sekali, padahal kau sudah susah payah datang sendirian untuk menyelamatkannya. Ah, aku punya ide. Bagaimana kalau kau pergi saja menyusul pangeranmu ke alam sana? Lalu kau bisa memohon maaf karena terlambat datang untuk menolongnya." Laki-laki itu tertawa dingin.
Isakan Yaya terhenti, walau air mata masih terus mengalir dari kedua sudut matanya. Yaya melepaskan pelukannya dari Boboiboy dan mengambil kembali kedua pedangnya. Ia bangkit dan berbalik menghadapi pria itu dengan pedang terangkat. Wajahnya dipenuhi ekspresi murka.
"Kau sudah membunuh tunanganku ..." Suara Yaya bergetar —bukan karena tangis, tapi karena amarah. Ia melangkah maju tanpa ragu, mengacungkan pedangnya lurus ke depan. Yaya pernah berjanji dalam hatinya untuk tidak pernah membunuh orang, lagipula selama ini ia memang tak memiliki alasan untuk melakukannya. Tapi sekarang ia punya. Yaya bersumpah akan membunuh orang itu yang telah membuat tunangannya menderita.
Suara Yaya tak pernah terdengar lebih dingin saat ia akhirnya menyuarakan isi pikirannya. "Dan sekarang aku akan membunuhmu. Bersiaplah untuk mati."
.
.
.
A/N :
Yosh, akhirnya bisa update lagi~ Maafkan kalau chapter ini banyak typonya, saya sudah terlalu lelah untuk ngecek ulang :'' /ditabok
Ada yang bingung sama alur di chapter ini?
Sebenarnya aku nulis ini terpisah-pisah, jadi waktu mau diketik bingung sendiri urutannya harus gimana. Tapi aku udah menyesuaikan sama waktunya. Ingat aja siang, malam, atau sorenya, pasti nggak terlalu bingung lagi.
Kalau ada yang mau ditanyakan, silakan lewat kotak review. Kritik dan saran juga diterima kok~
Makasih yang udah menyempatkan diri membaca! Sampai jumpa di chapter berikutnya~~
