Prince's Prince

Cast :

Jeon Jungkook

Kim Taehyung

Kim Seokjin as Jeon Seokjin (aka Jungkook's little brother)

Park Jimin as Jungkook's manager

Genre : Romance, Drama

Rating : T+


InfinitelyLove

.

.

.

프린스의 왕자 / Prince's Prince

.

.

.


Jungkook melangkah dengan pelan, lalu berhenti saat seseorang terlihat berlari di ruang check in counter ke arah dirinya.

.

.

.

"JUNGKOOK!"

.

.

.

Suara Taehyung dengan suara ledakan pistol menggema dengan kuat di dekat security check point.

.

.

.

"Argh!" Geraman Jungkook terdengar seperti mantera pencabut nyawa bagi Taehyung.

Pemuda asli Daegu itu berlari, diikuti ke-lima orang di dekatnya.

Ia melewati Jungkook yang kini meringis memegangi kakinya yang terkena peluru panas.

"Tolong bawa Jungkook ke rumah sakit!" Teriaknya.

Taehyung berlari ke arah orang yang tak dikenalnya, yang menembak Jungkook tepat di kaki kanannya.

Orang itu panik dan berlari, melupakan fakta bahwa ia sedang membawa senjata yang bisa saja digunakan untuk melindungi dirinya dari kejaran Taehyung.

Sekuriti yang berada di bandara itu turut berlari, mengejar pemuda pendek berhoodie hitam yang kini hampir terpojok di sudut ruangan.

Dengan keberanian yang tinggi, Taehyung menarik hoodie orang itu. Mengunci tangannya yang memegang pistol, dan membanting tubuh itu kelantai dengan mudah.

"ARGH!"

Sekuriti di sana segera merampas pistol yang berada di tangan pemuda itu.

Taehyung mengeluarkan aura membunuhnya, menatap lelaki asing di depannya seakan-akan ia bisa memisahkan daging dan tulang orang itu sekarang juga.

"Siapa kau?" Desis Taehyung bahaya.

Ia menarik kasar hoodie pemuda itu hingga kini terduduk di atas lantai bandara.

"A-aku..." Pemuda itu tercekat dengan tatapan tajam Taehyung.

"D-Do Kyungsoo..." Cicitnya takut karena tatapan Taehyung yang membuat nyalinya hilang seketika.

"Punya alasan apa kau menembak Jungkook?" Gumam Taehyung tajam.

Pemuda itu tetap terdiam, enggan menjawab pertanyaan Taehyung yang amat jelas itu.

"Apa alasannya?!" Bentak Taehyung dengan suara beratnya yang terdengar mengerikan di telinga pemuda itu, dan beberapa sekuriti di sana.

"Maaf, mari kita bawa terdahulu orang ini ke kantor polisi. Agar kasus ini dapat ditindak lanjuti. Saya minta nomor yang bisa dihubungi, tuan?" Ucap salah satu sekuriti di sana.

Taehyung menatap tajam sekuriti itu, bibirnya membentuk seringai mengerikan. Dengan kasar, ia menghempaskan cengkramannya dan melempar orang itu ke tubuh beberapa sekuriti di sana.

"Kalian bodoh? Dungu? Atau buta? Dia bisa melewati SCP dengan mudah? Dengan senjata yang dibawanya?!"

Taehyung mendecak kesal lalu melempar kartu namanya ke arah salah satu sekuriti yang menatapnya kosong.

"Kau yang akan membuat dirimu sendiri masuk ke dalam bui. Bodoh." Desis Taehyung ke arah Kyungsoo.

Pemuda bermarga Do itu menghembuskan nafasnya dengan panjang saat Taehyung meninggalkannya.

Sekuriti kini mulai memapah tubuh Kyungsoo yang lemas untuk dibawa ke kantor polisi.

.

.

.

Taehyung kini sedang mengendarai mobilnya, keluar dari bandara dengan kecepatan yang cukup luar biasa untuk menghampiri Jungkook yang sudah berada di rumah sakit.

Jin, Jimin, Namjoon, Yoongi dan Hoseok menunggu dengan khawatir di depan ruang operasi.

Kaki kanan Jungkook tertancap oleh peluru 22LR yang cukup ramping dan tumpul, sehingga menggesek tulang keringnya yang kini retak.

Dokter sedang menjalankan operasi untuk mengambil peluru dan menutup luka Jungkook dengan beberapa jahitan.

Taehyung tergesa-gesa berlari ke arah 5 orang di depan ruang operasi itu.

Jin, Jimin dan Hoseok terlihat menangis kecil.

Dan Taehyung dengan tidak sabar, dan nafas yang bergemuruh, langsung menghujani mereka dengan pertanyaan.

"Bagaimana Jungkook? Apa kata dokter? Kenapa sampai harus dioperasi?" Ucapnya terengah.

Namjoon merangkul tubuh berkeringat Taehyung dengan pelan, mendudukkan tubuh Taehyung di kursi dan memberi minuman kepada pemuda itu.

"Jungkook pingsan karena syok. Tulang keringnya retak karena bergesekan dengan peluru, dan lukanya cukup dalam." Ucap Namjoon tenang.

Taehyung menghembuskan nafasnya emosi, tekanan amarahnya sudah mencapai titik puncak di mana ia mengingat wajah pemuda bermarga Do tadi.

"Sial. Harusnya Jungkook tidak boleh begini." Gumamnya frustasi.

Seokjin menatap iba pada Taehyung yang terlihat kalut, menghampiri pemuda itu dan menggenggam tangan Taehyung dengan pelan.

"Hyung... Aku tau persis Do Kyungsoo. Orang tadi." Ucap Jin lirih.

Taehyung mendelikkan matanya ke arah Seokjin, menatap pemuda itu dengan pandangan tajam miliknya.

"Apa maksudmu?" Dingin. Intonasi dingin yang begitu tajam yang diterima Seokjin.

Seokjin menghapus air matanya dengan kasar. Membulatkan tekadnya untuk menerima segala amarah Taehyung jika ia memberi tahu alasannya.

"Do Kyungsoo. Teman sekolahku yang waktu itu bertengkar denganku. Jungkook hyung tidak suka dengan hal itu, dan di hadapanku ia membuat perusahaan milik keluarga Kyungsoo bangkrut." Ucap Jin.

Taehyung membulatkan matanya, meremas botol air mineral yang tadi diberi Namjoon padanya dengan kuat.

Taehyung berdiri, membuang botol minuman itu ke tempat sampah di sana dan berlalu begitu saja saat Namjoon dan Yoongi memanggil namanya.

.

.

.

Tidak lama, Taehyung kembali.

Mendudukkan dirinya sedikit jauh dari beberapa pemuda yang dikenalnya, terdiam saat orang-orang memanggil namanya.

Kini Jungkook-lah yang berada di dalam pikirannya.

Hingga perasaan kalutnya berubah menjadi kepanikan yang berlebih di saat ia mendengar teriakkan Jungkook di dalam sana.

"Sial! Apa yang mereka lakukan?!"

Taehyung berdiri dan mendekati pintu kamar operasi yang berada beberapa langkah di depannya.

"Taehyung!" Namjoon dan Yoongi berdiri, menahan tubuh Taehyung yang kini sudah berada di depan pintu.

"Kalian gila?! Jungkook kesakitan di sana! Apa dia saat operasi tidak dibius dahulu?! Sh*t aku benci dengan rumah sakit!"

Taehyung menendang kursi tunggu di depan kamar operasi, mencoba untuk menahan emosi dan kekhawatirannya yang berlebihan.

Namjoon dan Yoongi memegangi tubuh Taehyung yang masih berdiri dan bisa saja mengamuk kembali.

Sisi gelap Taehyung benar-benar terlihat sekarang.

Seokjin terisak melihat amukan Taehyung. Perasaannya tercampur aduk, sedih; menyesal; dan takut.

Taehyung mendudukkan dirinya di kursi dengan cara yang tidak bisa disebut pelan. Keringat menetes banyak dari pelipisnya, emosinya tidak bisa dikontrol sekarang. Ia menghelas nafas dengan gusar, mengacak rambut basahnya dengan frustasi.

10 menit kemudian, dokter membuka pintu ruang operasi. Lengkap dengan sebuah senyuman lega yang terpatri di wajah tampan sang dokter.

Jimin langsung berdiri dan menghampiri dokter ber name-tag 'Lee Seokmin' itu.

Taehyung hanya berdiam diri tak tau ingin berbuat apa, dirinya sudah terlalu panik dengan semua keadaan ini.

"Bagaimana, dok?" Tanya Jimin.

Seokjin hanya bisa terisak dan memeluk lengan Hoseok yang duduk di sampingnya. Namjoon dan Yoongi menatap dokter itu dengan seksama.

"Jungkook mengalami retak di tulang kering kaki kanannya. Diperkirakan selama 6 bulan ini ia hanya boleh menjalankan aktivitas ringan. Ia mengalami tekanan pada emosinya yang kini sangat tidak stabil. Saya takut kalau ia akan mengalami trauma jika tidak diberi perhatian yang lebih lagi. Tadi ia berteriak saat selesai operasi. Jungkook syok, dan kemungkinan besar ia mengingat kejadian saat penembakan terjadi. Ia sudah diberi obat tidur, agar bisa menenangkan emosinya. Saya harap tuan-tuan sekalian bisa menjaga Jungkook dengan baik. Perawat kami akan memindahkannya ke kamar pasien." Ucap sang dokter.

Jimin menganggukkan kepalanya dan bergumam terima kasih kepada sang dokter.

Taehyung yang sudah cukup tenang karena penjelasan sang dokter, berdiri dan menghampiri dokter tersebut.

"Terima kasih, Seokmin-ah." Ucapnya akrab.

Dokter itu membulatkan matanya, menatap lelaki bersuara berat yang tak asing di matanya.

"Taehyung?!" Pekiknya kaget.

Taehyung tersenyum kecil lalu menepuk pundak Seokmin dengan pelan.

Ia tersenyum, bertemu kawan lama adalah hal yang jarang ia rasakan.

"Terima kasih, kau sudah mengobati Jungkook." Ucap Taehyung pelan.

Seokmin tersenyum manis kearahnya, meninju lengan pemuda yang lebih tua darinya itu dengan pelan.

"Itu sudah menjadi pekerjaanku Tuan Kim." Ucap Seokmin sembari tersenyum.

Pintu kamar operasi terbuka, bersamaan dengan tubuh Jungkook yang terkulai lemas yang kini sedang di dorong oleh beberapa perawat ke kamar pasien.

Taehyung segera mengikuti perawat-perawat itu dan mengusap dengan lembut peluh di dahi Jungkook yang kini tertidur.

Seokjin menatap Taehyung dengan senyuman terpatri di wajahnya. Jemari Hoseok kini menghapus air mata pada pipinya.

'Kau tak perlu menanyakan Tae-hyung cinta padamu atau tidak. Aku bisa melihatnya dengan baik, Jungkookie hyung.'

.

.

.

Sudah 12 jam Jungkook tertidur, ke enam lelaki yang setia menemaninya kini terlelap kelelahan di ruang rawatnya yang cukup-sangat- besar itu.

Pemuda berparas manis itu kini membuka matanya, menahan erangan saat merasa nyeri di kaki kanannya.

"Jin." Gumamnya.

Tak ada jawaban.

Telapak tangan kirinya merasakan sesuatu yang berat. Dengan perlahan, ia menolehkan kepalanya.

Senyuman kini terlihat jelas di wajah pucat Jungkook. Taehyung, tertidur dengan kening yang bertumpu pada telapak tangannya.

"Hyung?" Jungkook bergumam sembari menggerakkan jari yang berada pada kening Taehyung.

Pemuda 23 tahun itu mengerjapkan matanya, terduduk tegap saat mendengar suara Jungkook bergumam.

"Jungkook?" Panggilnya. Taehyung menggenggam telapak tangan Jungkook dengan erat, menyibak poni hitam milik pemuda yang lebih muda dengan lembut.

Jungkook tersenyum lemah, dahinya mengerut nyeri saat ia mencoba menggerakkan kaki kanannya.

"Hey, jangan bergerak... Kakimu masih sakit." Ucap Taehyung pelan. Lelaki itu tersenyum lega melihat tatapan memelas Jungkook.

"Hyung, apa Jin baik-baik saja?" Gumam Jungkook.

Taehyung tersenyum tipis, mengangguk dengan pelan dan tangan kiri-nya bergerak untuk menyentuh pipi milik Jungkook yang hangat.

Pemuda berumur 21 tahun itu tersenyum lemah saat merasakan elusan lembut dari ibu jari milik Taehyung.

"Apa masih ada yang lainnya yang sakit?" Tanya Taehyung lalu menatap sendu wajah Jungkook.

Jungkook menggeleng lemah, tangan kanan-nya terangkat untuk menggenggam jemari Taehyung.

"Kakiku sepertinya tidak bisa digerakkan, hyung." Ucapnya.

Taehyung mengangguk pelan, ia menatap Jungkook dengan lembut, lalu mengusap rambut hitam milik pemuda itu dengan pelan.

"Kau pasti cepat sembuh, Jungkook-ah."

Jungkook tersenyum, tanpa disadari air matanya jatuh dan genggaman tangannya mengerat pada jemari Taehyung.

"Tolong aku hyung. Aku takut." Gumam Jungkook.

Taehyung menghapus air mata Jungkook, mengelus pelan pipi milik pemuda di depannya.

"Aku akan menolong dan menjagamu. Tenang Jungkook, sekarang istirahatlah lagi." Ucap Taehyung.

Jungkook mengangguk kecil. Menarik-narik kemeja abu-abu Taehyung dengan pelan dan membuat perhatian lelaki bergolongan darah AB itu berpusat padanya.

Jungkook menggigit bibir bawahnya dan membuka-tutup mulutnya dengan ragu.

"Ada apa?" Tanya Taehyung lembut.

"A-aku... Aku ingin kau tidur di sampingku, hyung." Ucap Jungkook.

Taehyung membulatkan matanya. Sebelah alisnya terangkat saat melihat rona tipis di wajah Jungkook.

"Maksudku! Kau lihat, tidak ada lahanmu untuk tidur lagi. Semua sofa sudah penuh, kau mau tidur di mana? Di lantai? Nanti badanmu sakit. Dan kau pasti merepotkan orang lain lagi kalau sakit. Jangan tidur duduk nanti punggungmu bisa bungkuk, hyung. Jadi, sebenarnya bukannnya aku mau tidur di samping-"

"Sssshhh... Bawel." Potong Taehyung.

"Ya ya... Aku mengerti dan sangat berterima kasih dengan kebaikanmu." Ucap Taehyung lalu membaringkan tubuhnya di ranjang rumah sakit yang cukup sempit itu.

Iya menghadap kanan, ke arah Jungkook yang kini memanyunkan bibirnya karena kesal.

"Jangan manyun, jelek tahu." Ucap Taehyung lalu terkekeh.

"Sialan." Umpat Jungkook.

"Jangan bicara kasar, sayang." Gumam Taehyung sebelum merapatkan diri dengan Jungkook dan melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Jungkook.

"Sayang-sayang, apa-apaan itu?" Gerutu Jungkook.

"Hey, lovebirds! Kalian berisik sekali, daritadi aku terbangun, tahu!" Umpat Yoongi yang kini duduk-setengah sadar- di atas sofa.

"Maaf, hyung." Cicit Jungkook.

"Jangan dengarkan kakek-kakek itu. Dia suka mengigau." Bisik Taehyung lalu mereka berdua tertawa kecil.

Taehyung mengangkat tangan kirinya, mengelus rambut Jungkook dari samping dan tersenyum kecil.

"Jaljayo, Jungkook-ah."

Jungkook membulatkan matanya saat Taehyung mengecup pipi kirinya dengan cepat.

Tak lama, dengkuran halus milik Taehyung terdengar di telinganya. Wajahnya memanas mengingat kejadian tadi.

"Jaljayo, hyung."

.

.

.

"Tae... Bangun. Taehyung." Yoongi mencubit-cubit lengan Taehyung.

Pemuda itu tetap tertidur pulas dengan wajah yang terbenam pada ceruk leher Jungkook.

"Sudah... tidak apa, aku hanya ingin menyuntikkan obat pada Jungkook." Ucap Seokmin.

Yoongi mengangguk paham, lalu menepuk pelan bahu Jungkook.

"Jungkook... Bangun."

Seokmin menoleh ke arah Yoongi.

"Memangnya dia sudah sadar?" Tanyanya.

"Sudah, tadi malam." Ucap Yoongi mengingat-ingat kejadian yang mengganggu tidurnya tadi malam.

Seokmin mengangguk paham, dan menatap Jungkook yang membuka matanya perlahan.

"Jungkook-ssi. Aku harus menyuntikkan antibiotik dahulu agar luka-mu tidak infeksi." Ucap Seokmin dengan senyuman terpatri di wajahnya.

"O-oh... iya." Jawabnya.

Jungkook menoleh ke kiri tubuhnya, ia mendorong wajah Taehyung dengan tangannya dengan pelan. Namun, Taehyung semakin memeluk Jungkook dan menyerukkan wajahnya.

Jungkook merengut, dengan tenaga penuh, ia mendorong tubuh Taehyung hingga terjatuh.

"Bangun, bodoh!" Umpatnya.

"Aduh!" Taehyung segera membuka matanya, dan mengelus bokongnya.

"Ya Tuhan... Kasar sekali anak ini." Umpat Taehyung.

Yoongi menyeringai senang melihat Taehyung terjatuh, dan ia melanjutkan rencananya untuk mandi, meninggalkan 3 pemuda di depannya. Seokmin hanya menatap mereka penuh kebingungan.

"Ah iya, dokter. Silahkan." Ucap Jungkook dengan senyumnya.

Seokmin tersenyum kikuk dan menyuntikkan antibiotik pada lengan kanan Jungkook.

"Sehabis ini, perawat kami akan memberimu sarapan." Ucap Seokmin.

"Ooh.. baiklah. Tapi apakah makanku juga harus dikontrol? Aku kurang suka makanan rumah sakit. Hehe." Ucap Jungkook ramah.

Seokmin tersenyum, lalu mengangguk dengan semangat.

"Aku juga tidak suka makanan rumah sakit Jungkook-ssi. Dan kau bebas memakan apapun. Aku tidak akan melarang." Ucap Seokmin.

Jungkook tersenyum manis mendengarnya.

"Terima kasih, dok." Ucapnya.

"Panggil aku Seokmin hyung, aku rasa umur kita tidak beda jauh." Ucap Seokmin.

"Eoh? Umur-mu berapa, hyung?" Ucap Jungkook.

"Dua puluh tiga. Bagaimana denganmu, Jungkook?" Ucap Seokmin, tak lupa dengan eyesmile-nya yang manis terpatri di wajah tampannya.

"Dua puluh satu." Ucap Jungkook ramah.

"Sudah berkenalannya?" Ucapan malas keluar dari bibir Taehyung yang duduk di bangku sebelah kasur Jungkook.

"Eh, maaf Jungkook. Aku rasa kekasihmu cemburu." Ucap Seokmin jenaka.

"Dia bukan kekasihku." Ucap Jungkook sambil memutar bola matanya.

"Hahaha. Tapi kalian terlihat cocok, wajah kalian mirip." Ucap Seokmin.

"Memang. Kan kita jodoh." Ucap Taehyung lalu menyengir lebar.

Seokmin terbahak mendengarnya. Jungkook hanya mendengus sembari menahan dirinya untuk tidak tersenyum.

.

.

.

Setengah jam kemudian, semua pemuda di kamar itu sudah terbangun. Seokjin tak henti-hentinya menangis karena bahagia melihat kakaknya sudah bangun.

Jimin pun begitu. Dan tanpa sengaja, lelaki berambut merah itu menyenderkan dirinya di bahu Yoongi. Terharu melihat adegan saling memeluk Jungkook dan Seokjin.

"Ehm... Park Jimin-ssi. Kau tidak apa-apa?" Tanya Yoongi pelan.

"Ah! Mian, hyung. Aku tidak bermaksud menyender denganmu." Ucap Jimin malu.

"O-oh... tidak apa-apa, aku hanya... ya, kau tahu? Aku kira kau sedang menangis. Ternyata benar." Ucap Yoongi salah tingkah.

Jimin tersenyum manis, menghapus air matanya dengan pelan.

'Sial. Anak ini manis juga.' Umpat Yoongi dalam hati.

"Hyung?"

"Ah iya?"

"Kau melamun?"

Dan setelah ini jangan lupa mengingatkan Yoongi untuk menampar dirinya sendiri karena sudah berbuat memalukan. Ketahuan terpesona dengan Jimin? Oh, tidak.

.

.

.

"Hyung! Aku berangkat sekolah dulu! Aku lupa ini masih hari Rabu." Ucap Seokjin yang terlihat buru-buru.

"Ya Tuhan, Jeon Seokjin. Aku lupa kau sekolah hari ini."

Seokjin memutar bola matanya malas, dia tahu kakaknya akan ceramah panjang habis ini.

"Cepat kau berangkat sekolah! Jangan lupa sampai sekolah beli susu dan roti untuk sarapanmu. Bilang ke Choi seonsaeng kau terlambat karena menjengukku di rumah sakit. Dan jangan lupa surat izinmu karena kemarin tidak masuk untuk mengantarku ke bandara. Kemarin kulihat kau hari Rabu memakai blazer biru nanti akan kutugaskan Hwang ahjuss-"

"Stop bawel. Kau membuat adikmu mual di pagi hari." Ucap Taehyung sambil melirik ke arah Jin yang terlihat malas mendengarkan kakaknya.

Seokjin hanya mengangguk-ngangguk, setuju dengan perkataan Taehyung.

"Baiklah aku berangkat hyung! Cepat sembuh!" Ujar Seokjin lalu berlari diikuti Jimin di belakangnya.

"Hati-hati di jalan! Jimin hyung, pelan-pelan mengendarai mobilnya!" Ucap Jungkook.

"Waah waah... Kau sudah sehat Jungkook-ah?" Ucap Namjoon yang baru saja keluar dari toilet.

Jungkook tersenyum tipis mendengarnya. Lalu pandangannya beralih ke Hoseok yang baru datang dari luar kamarnya.

"Jungkook! Aku membawakanmu jjajjangmyeon!" Ucap Hoseok dengan ceria.

Jungkook tersenyum senang.

"Terima kasih banyak, hyung!" Jungkook menggeserkan tubuhnya dengan susah payah, meringis nyeri saat kakinya terasa sakit.

Taehyung, yang sedari tadi diam di kursinya langsung menopang tubuh Jungkook. Tangan kirinya ia selipkan di bawah lutut Jungkook, dan tangan kanannya memeluk punggung pemuda yang lebih muda itu.

Taehyung menggeser tubuh Jungkook dengan perlahan, membetulkan letak tubuh lelaki yang ia cintai dengan hati-hati dan mengatur kasurnya untuk mode duduk.

"Kau bisa minta bantuanku, Kook-ah." Gumam Taehyung.

Jungkook mengangguk kecil untuk menjawabnya, jantungnya sedikit berdebar mendengar hal itu.

"Cih. Hey, lovebirds. Apa drama romansa picisan kalian belum sampai ending? Mau jam berapa kita ke kantor?" Ketus Yoongi.

"Ah! Benar! Aku harus memasukkan semua chapter baru di aplikasi dan blog!" Ucap Hoseok.

"HYUNG! Aku masih harus membuat sketsa chapter minggu depan!" Taehyung menatap horror jam di dinding kamar pasien tersebut.

10.45 am

"Guys. Ini sudah terlalu siang." Ucap Namjoon dengan datar.

"Ah, baiklah. Jungkook-ah, aku akan ke kantor untuk mengambil alat kerjaku dan segera kembali ke sini. Kau tidak apa-apa kutinggal sendiri?" Tanya Taehyung.

Jungkook mengangguk paham, lalu mengambil ponselnya.

"Aku akan meminta Hwang ahjussi untuk membawa baju ganti dan menemaniku sampai kau tiba di sini, hyung." Ucap Jungkook.

"Baiklah. Aku dan yang lain pergi dulu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi kami berempat, dan kalau butuh bantuan dokter, pencet tombol putih yang ada di nakas sampingmu." Ucap Taehyung.

Jungkook mengangguk paham. Taehyung tersenyum kecil, membelai rambut hitam Jungkook sebelum ia memberi kecupan kecil pada pelipis pemuda itu.

"Jaga dirimu baik-baik. Aku tidak akan lama. Makan jjajjangmyeon-mu sampai habis. Saat aku kembali kau sudah harus kenyang." Lanjut Taehyung.

Jungkook hanya mengedip-ngedipkan matanya, masih mencerna kejadian yang baru saja terlewati.

Ia menatap kosong 4 orang yang melambaikan tangan ke arahnya, berjalan keluar meninggalkan ruangan pasiennya.

"A-aku... Taehyung..."

Jungkook menunduk bingung sembari menatap jjajjangmyeon-nya.

"Dia mencium-ku di depan orang lain..."

'Bodoh.' Umpat Jungkook dalam hati.

Jungkook berusaha melupakan kejadian itu. Ia memakan jjajjangmyeon-nya sembari menahan senyuman-nya.

'Well. Mungkin itu bukan masalah besar.' Batinnya.

.

.

.

"Kau sudah pacaran dengannya?" Namjoon memecah keheningan di dalam mobil Taehyung.

Taehyung yang tersenyum semenjak meninggalkan rumah sakit itu menggeleng. Menyetir mobilnya dengan sedikit santai dan siulan yang menandakan bahwa ia sedang bahagia.

"Kalian sangat mesra... Ya, kan? Yoongi hyung?" Tanya Hoseok.

Yoongi yang sedang melamun, menolehkan wajahnya kearah Hoseok dan mengangguk kecil.

Setelah sampai di kantor, mereka berempat segera bekerja di tempat masing-masing. Taehyung memasuki ruangannya dan mengambil alat-alat untuk ia bekerja.

"Hyung-deul. Apa tidak masalah kalau kantor aku tinggal?" Tanya Taehyung.

"Tidak apa-apa Tae. Aku akan mengurus semuanya kalau terjadi sesuatu." Ucap Yoongi.

Taehyung tersenyum mendengar ucapan Yoongi dan melihat anggukkan Hoseok serta Namjoon.

"Baiklah, maafkan aku hyung-deul tapi aku harus kembali lagi ke rumah sakit." Ucap Taehyung.

"Iya tidak masalah." Jawab Hoseok.

Taehyung tersenyum ke arah 3 hyung-nya itu dan bergegas meninggalkan kantor.

.

.

.

Jungkook melamun, menunggu Taehyung yang sudah hampir 2 jam meninggalkannya. Perjalanan dari kantor ke Wooridul Hospital itu cukup jauh, karena rumah sakit ini dekat Gimpo International Airport.

"Aduh... aku ingin pipis lagi." Jungkook bergumam pada dirinya sendiri.

Ia menyesal menyuruh Hwang ahjussi untuk pulang dari 30 menit yang lalu. Ia pikir Taehyung tidak akan lama pergi ke kantornya.

Jungkook menoleh kearah pintu saat ia merasa ada orang di sana.

"Jungkook!"

Pintu terbuka, dan menampilkan Taehyung yang sedang membawa alat kantornya.

Pemuda bermarga Kim itu tersenyum lebar, ia duduk di karpet sebelah kasur pasien Jungkook. Dan membuka meja kecil yang ia bawa, menaruh laptop dan pen tab-nya di sana.

Jungkook memperhatikan Taehyung yang sibuk mempersiapkan alat kerjanya.

"Hyung." Jungkook memanggil Taehyung dengan pelan.

Yang dipanggil menoleh dan bergumam untuk menjawabnya.

Taehyung merengutkan wajahnya, melihat tingkah aneh Jungkook. Lihatlah pemuda di depannya, meremat selimut dengan kencang dan menekuk jemari kakinya.

"Kau kenapa?" Tanya Taehyung.

"Aku kebelet pipis, hyung." Ucap Jungkook.

"Ya Tuhan. Kukira kenapa. Ayo sini." Taehyung berdiri dan menyelipkan salah satu tangannya di bawah lutut Jungkook dan memeluk punggung pemuda itu.

Dan saat ingin mengangkatnya, Taehyung tersenyum lebar. Menampilkan kedua mata sipitnya kearah Jungkook yang bingung menatapnya.

"Kenapa hyung?" Tanya Jungkook.

"Hm... Bukannya aku tidak kuat atau bagaimana. Tapi sepertinya kau bertambah berat, jadi aku susah untuk menggendongmu dari samping seperti ini." Ucap Taehyung lalu menyengir lebar.

"Jadi kau sebenarnya mau membantuku atau mengejek sih?!" Kesal Jungkook. Ia menjewer telinga kiri Taehyung dengan keras.

"Aduh. Bukan begitu Kookie~" Ucap Taehyung sambil mengusap telinganya yang memerah.

Jungkook terdiam mendengar panggilan barunya dari Taehyung.

'Kookie?'

"Ya! Jadi pipis tidak?" Tanya Taehyung.

"Kau bertanya hal yang sudah tau jawabannya, hyung! Jadi bagaimana ini? Aku sudah kebelet pipis..." Rengek Jungkook.

Dan Taehyung yang mendengar rengekkan pertama Jungkook itu justru bersemangat untuk menggendong-nya.

"Baiklah! Kau bisa naik ke punggungku, Jungkook-ah!" Ucap Taehyung lalu membantu Jungkook untuk duduk di pinggir kasur dan berjongkok sambil membelakangi Jungkook.

"Hyung. Bukannya kalau begitu kau harus memegang tungkai kaki-ku ya? Kau lupa tulang keringku retak?" Ucap Jungkook datar.

"Ah! Aku lupa! Kita harus bagaimana?" Taehyung yang masih berjongkok mengacak rambutnya frustasi.

"Berbalik, hyung." Gumam Jungkook.

Taehyung membalikkan tubuhnya dan terkejut saat Jungkook melingkarkan kedua lengan di lehernya dan menggerakkan kaki kiri untuk memeluk punggungnya. Kaki kanannya ia biarkan terkulai lemas.

"Hyung, aku tak punya pilihan lain! Karena aku sudah tidak kuat, tolong peluk punggungku dan tarik lutut kaki kiriku." Ucap Jungkook dengan kesan terburu dan memerintah.

Taehyung langsung terkesiap dan memeluk punggung Jungkook dengan erat, menarik lutut kaki Jungkook sehingga yang lebih muda dapat melingkarkan kaki kiri di pinggangnya.

Taehyung mengangkat tubuh Jungkook dengan pelan, dan sang maknae di kantor mereka itu segera memeluk kencang leher - serta menaruh dagunya di bahu Taehyung.

Taehyung membuka pintu toilet dan mendudukkan Jungkook di atas toilet.

"Nah, sekarang kau pipis." Ucapnya.

"Keluar dulu, alien hyung. Kau ingin melihatku pipis memangnya?" Ucap Jungkook sinis.

"Ah! Aku lupa." Ucap Taehyung lalu cengengesan.

Jungkook mendengus lalu melanjutkan keperluannya saat Taehyung sudah keluar dari toilet.

Setelahnya, ia akan kembali memanggil Taehyung. Well, sebenarnya dia sedikit malu meminta bantuan dari Taehyung. Tapi mau bagaimana? Saat ini memang dia butuh bantuan pemuda itu.

"Hyuuung..." Teriaknya.

Taehyung segera membuka pintu dan menyembulkan kepalanya dari sana.

"Kau sudah selesai?" Tanya-nya.

Jungkook mengangguk sebagai jawaban. Taehyung tersenyum, dan kembali masuk ke dalam toilet.

Seolah mengerti dengan dengan tatapan Jungkook, Taehyung tersenyum maklum dan menjongkokkan tubuhnya di depan Jungkook.

Pemuda berambut hitam itu kembali melingkarkan kedua tangan ke leher yang lebih tua, memeluk pinggang Taehyung dengan kaki kirinya.

Taehyung dengan perlahan mengangkat Jungkook, memeluknya erat seperti menggendong bayi.

Jungkook dapat merasakan debaran jantung Taehyung yang sangat cepat, tanpa diketahui ia tersenyum kecil saat Taehyung membawanya keluar.

.

.

.

"Jungkook?!"

Suara seorang wanita menggema di kamar pasien Jungkook. Sedangkan Taehyung dan Jungkook menoleh kaget ke arah suara, mereka mematung di tempat dengan posisi yang agak intim itu.

.

.

.

"Eomma?!"

.

.

.

TBC


Hi!

Akhirnya aku udah ngetik ulang chapter 10 ini. Sungguh aku baper sama FFN gara-gara suka bikin acak-acakan file sama gabisa di buka lewat Simp***ati dan First Med**ia :")

Terima kasih sudah sabar menunggu FF ini ;-;

Sincerely,

InfinitelyLove