Jika Malam Tiba By Call Me Shi Chan

Sasori, Deidara dan semua chara yang muncul disini bukan punya Shi-chan, mereka milik Om Masashi.

Genre: Romance, Fantasy.

Pairing: Sasori X Deidara.

Warning: OOC, AU, TYPO, gaje and abal fic.

X x X x X x X

Tiga hari sebelum hari itu tiba. Hari dimana Sasori akan mencium Deidara untuk menghilangkan kutukan tersebut...

Sasori dan Deidara sedang berdua'an dibangku dekat tempat karnaval. Sasori sedang duduk disebelah Deidara sambil celingukan melihat keadaan sekitarnya.

"Sas, lo lagi nyari apa'an sih?" tanya Deidara girl version yang merasa sedang diacuhkan.

"Enggak ada," jawab Sasori singkat.

Gaya pacaran keduanya memang tidak jauh berbeda dengan muda-mudi yang lainnya. Hanya saja, Deidara agak kesall pada Sasori yang memang nggak ada romantis-romantisnya. Tapi, bagaimana pun sifat dan sikap Sasori, dia selalu menyayangi pemuda itu.

"Sa, gue punya satu permintaan buat lo...".

Sasori menoleh ke arah gadis itu dan berkata, "Sory, gue ini bukan jin, meski cuma satu gue nggak akan bisa ngabulin permintaan lo," balasnya.

"Sasori... gue serius..." Deidara merengek-rengek manja.

"Iya... apa pemintaan lo?" ucap Sasori sambil mengusek-usek rambut gadis disebelahnya dengan manja.

Deidara nyengir kuda, "Bentar lagi gue ultah...".

"Lalu?".

"Lo, bakal kasih gue hadiah apa?" tanya gadis itu dengan wajah malu-malu.

"Ow, jadi permintaan yang lo maksud itu kado ya? Kalau itu sih, nggak lo minta pun pasti gue kasih," kata Sasori.

"Lo... mau kasih gue apa?".

"Gue kasih bocorannya ya, yang jelas saat 5 Mei nanti gue bakal cium lo sebagai kado pertama. Kado yang kedua itu... ra-ha-sia," ucap Sasori sambil menggenggam jemari lentik Deidara.

"Lo mau cium gue?" Deidara pura-pura kaget. Padahal, dalam hati ia sangat yakin Sasori mau melakukan hal itu deminya.

"Iya, memangnya kenapa? Lo sendiri juga bilangkan, yang bisa ngelepasin lo dari kutukan itu cuma ciuman seorang pria yang tulus mencintai elo, dan itulah gue..." kata Sasori.

Deidara kembali tersenyum, lalu, "Sebenarnya gue cuma pengen, setelah kita berciuman, kita nggak ketemu dulu," katanya dengan raut muka serius.

"Maksud lo?".

"Kita sama-sama belum tau, apa gue bakal jadi cowok atau cewek, makanya gue pengen elo jangan temui gue sampai gue sendiri yang nemuin lo," pinta Deidara pada Sasori yang sepertinya tidak sependapat dengan kata-kata Deidara barusan.

"Gue nggak mau kayak gitu," kata Sasori.

"Please, gue mohon... Soalnya, gue juga butuh waktu buat nyiapin mental," pinta anak itu sambil mendekap kedua tangan Sasori.

"Tapi Deidara-" Sasori langsung berhenti bicara ketika melihat dog-eyes Deidara.

"Anggap saja ini sebagai kejutan buat lo sebagai penolong gue, gue mohon Sas...".

Sasori menghela nafas berat, "Terserah lo aja deh, asal jangan lama-lama ya!" kata Sasori kemudian.

Deidara mengangguk mantab, lalu gadis itu bilang, "Gue janji!" balas Deidara sambil mengaitkan kelingkingnya pada keligking Sasori.

X x X x X x X

Malam Kedua sebelum hari itu tiba... Ditaman tempat Deidara pingsan waktu itu...

Deidara sedang asyik menikmati pemandangan disekitarnya. Kedua bola matanya tepat tertuju pada anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran. Namun, tiba-tiba saja seseorang muncul dan menutup kedua matanya dari belakang.

"Siapa?" Deidara meraba-raba telapak tangan orang itu. Tentu saja yang ditanya hanya diam.

"Sasori ya?" tebak Deidara yang masih dalam wujut cowok.

"Haha, tau aja sih lo," kata Sasori mengambil tempat duduk disamping cowok pirang bermata biru itu.

"Lo apa'an sih Sas? Malu 'kan dilihatin ama anak-anak itu," nunjuk-nunjuk beberapa anak yang sedang bermain.

"GR amat sih? Mana ada anak kecil yang mau ngeliatin dua anak cowok yang sedang ngobrol,".

"Uuh, dasar," desah Deidara dengan hati agak dongkol.

Hening cukup lama, sampai akhirnya Deidara mulai buka suara, "Nggak kerasa ya, besok hari itu tiba..." katanya sambil mendongak ke hamparan langit luas.

Sasori hanya mendengarkan saja.

"Janji ya Sas, lo nggak akan nemuin gue sebelum gue sendiri yang nemuin lo!".

"Iya... gue janji, nggak percayaan amat sih," balas Sasori.

"Tapi Sas, lo bakal tetep nerima gue apa adanya 'kan? Maksud gue, seandainya gue jadi cowok dan hubungan kita berakhir, kita bakal tetep jadi teman 'kan?" tanya Deidara.

Sasori diam sejenak, "Tentu aja gue nerima lo apa adanya. Tapi kalau seandainya lo jadi cewek, lo tetep jadi milik gue, pacar gue!" Sasori menegaskan. Deidara cuma tersenyum.

X x X x X x X

Malam dimana hari itu tiba...

Di halaman depan rumah Deidara. Gadis itu sedang gundah menunggu kedatangan Sasori.

"Ck, Sasori mana ya? Padahal 10 menit lagi tengah malam?" Deidara mondar-mandir.

"Sasori pasti datang," Konan mencoba menenangkan hati anaknya yang sedang gusar.

"Tapi, bisa jadi kalau Sasori lupa, dan sekarang dia sedang tidur?" ucap Deidara yang sedang memakai sweater dan celana panjang. Tidak ada persiapan khusus untuk melalui malam yang sangat ia nantikan selama 16 tahun hidupnya.

"Sasori pasti datang, tunggu dia sebentar lagi," kata Pein.

Deidara mencoba percaya pada ucapan sang ayah. Dan benar saja, tak berapa lama kemudian, Sasori pun muncul...

"Deidara, maaf gue telat!" katanya setelah memarkirkan motornya.

Deidara menyambut pemuda itu dengan pelukan, "Gue pikir lo nggak bakal datang?".

Sasori mengusap pipi gadis dihadapannya, "Mana mungkin gue ngelakuin hal itu,".

Pein dan Konan yang melihat dua pasang muda-mudi itu meninggalkan tempat mereka berdiri, untuk membiarkan Sasori Deidara berdua saja.

X x X x X x X

Pukul 23.54...

Deidara masih mendekap Sasori dalam keheningan, lalu ia berbisik, "Sasori, jangan lupain janji kita ya!".

"Gue nggak bakalan lupa!" mengelus kepala Deidara dengan penuh kelembutan. "Deidara... apapun yang terjadi, mau jadi cowok atau cewek, gue cinta ama lo. Gue sayang banget ama lo," bisik Sasori di telinga Deidara.

"Gue... juga sayang ama lo Sas..." balas Deidara sebelum menenggelamkan wajahnya dalam dekapan kekasihnya.

Beberapa menit sebelum pukul 12 tepat... Sasori dan Deidara saling melempar pandangan. Wajah keduanya mulai saling berdekatan. "I love you Deidara..." ujar Sasori dengan suara yang terdengar dalam dan serak. "I love you to, Sasori..." balas Deidara.

Kini, keduanya dapat merasakan helaan nafas masing-masing. Hangat... dan mendebarkan. Keduanya seakan dihipnotis oleh suasana yang mendukung. Dan, tepat saat lonceng pertama berbunyi, keduanya pun penuh cinta yang dapat melepaskan kutukan yang membelenggu kehidupan Deidara. Sasori mengecup lembut bibir mungil itu sebelum melumatnya, Deidara pun memberi kesempatan lidah Sasori untuk masuk menyapu langit-langit mulutnya. Dalam keheningan, kedua lidah itu saling beradu. Dan baru berhenti setelah suara lonceng gereja juga, berakhir. Dengan nafas yang masih memburu, Deidara merengkuh tubuh Sasori, dan pemuda itupun juga melakukan hal yang sama.

"Selamat ulang tahun, Dei... Gue sayang ama lo," ucap Sasori.

Deidara makin mempererat dekapannya terhadap Sasori.

"Apa yang lo rasain?" tanya Sasori yang masih memeluk tubuh kekasihnya yang menjadi wanita.

Deidara bergumam, "Gue... nggak ngerasain apa-apa...".

Benar juga, sekarang waktu sudah lewat 10 menit sejak mereka berciuman. Tapi, tidak ada perubahan dan reaksi apa-apa. Tapi, beberapa saat kemudian, penglihatan Deidara mulai memburam. Kepalanya mendadak juga seperti berputar. Tau jika ada yang tidak beres dengan pacarnya itu, Sasori langsung sigap memegangi pundak Deidara. Berusaha agar tubuh kekasihnya tidak terjungkal ke depan. Meski mulai merasakan lemas disekujur tubuhnya, Deidara sempat memandang Sasori dan tersenyum kearahnya.

"Ma..kasih... Saso...ri..." gumam gadis itu sebelum pingsan.

Sasori membiarkan gadis itu pingsan dalam dekapannya.

Sampai kedua orang tua Deidara datang dan mengambil alih tubuh Deidara yang sudah diluar alam bawah sadarnya.

X x X x X x X

"Makasih untuk semuanya Sasori," kata Pein.

Sasori membalasnya dengan senyuman.

"Lebih baik kamu segera pulang, lagipula besok kamu harus sekolah 'kan?" kata Pein lagi

"Saya mengerti, kalau begitu, saya permisi dulu," kata Sasori.

Walau masih sangat mencemaskan keadaan Deidara, Sasori tetap harus pulang dan melakukan kegiatan normalnya seperti biasa. Meski rasa kantuk menyerangnya sejak tadi, Sasori tetap serius menyimak pelajaran sejarah yang diterangkan Kakashi-sensei. Tak jarang, ia melirik ke arah kursi kosong milik Deidara. Sesekali pemuda itu menghela nafas berat, sambil mengumamkan nama Deidara. Berharap agar anak itu baik-baik saja. Bahkan sampai malam kembali menjelang, Sasori belum bisa berhenti memikirkan Deidara. Sebenarnya, ingin sekali ia menemui Deidara untuk mencari tau seperti apa keadaanya, tapi dia sudah terlanjur janji pada orang itu untuk tidak menemuinya sebelum Deidara sendiri yang datang padanya.

X x X x X x X

Hari kedua setelah malam itu...

Deidara belum juga menghubungi Sasori. Itu makin membuat hati kecil Sasori makin penasaran. Sambil rebahan dibawah pohon dihalaman belakang sekolah Sasori memejamkan matanya untuk mengingat semua hal yang ia lakukan dengan Deidara saat di sekolah atau saat malam tiba. Tapi, setiap mengingat itu semua, ia jadi semakin rindu pada orang itu.

"Dei... bagaimana keadaan lo sekarang? Apa lo sudah berubah seutuhnya jadi cowok? Atau lo bakal jadi cewek yang manis? Gue, kangen banget ama lo! Gue penasaran ama keadaan lo?" gumam cowok itu.

Hari ketiga...

Rasa rindu dan penasaran dihati Sasori terhadap Deidara makin berkecamuk. Itu membuatnya jadi tidak konsentrasi pada pelajaran. Dia jadi sering malamun. Bahkan sering mendapat hukuman dari guru karena tidak memperhatikan pelajaran. Saat jam istirahat, Sasori lebih memilih tetap dibangkunya sambil menatap nanar ke bangku Deidara.

"Gue kangen ama lo," pikir Sasori.

Tap. Tap. Tap.

"Hai Sas!" sapa Kiba dan beberapa anak lain. Sasori langsung mengangkat kepalanya yang sedang terlungkup di meja.

"Ada apa?" tanyanya dengan nada yang datar-datar saja.

"Kita cuma mau minta maaf karena udah jauhin lo dan Deidara beberapa waktu yang lalu," ucap Chouji penuh sesal.

"Iya Sas... maafin kita ya," yang lain mengiyakan.

Sasori hanya tersenyum tipis, "Aah, nggak masalah kok, gue juga nggak begitu peduli ama hal itu," jawabnya tak bersemangat.

"Oh ya, Deidara kemana? Kok, dia nggak masuk?" tanya Karin.

Sasori malah berkilah, "Bisa nggak kalian ninggalin gue sendiri?" kata Sasori.

Kiba dan yang lain saling melempar pandang heran. "Oke, tapi kalau lo butuh bantuan, bilang aja!" kata Lee sebelum meninggalkan tempat itu bersama yang lain. Sasori tak membalas.

Sampai hari kelima, Deidara belum juga muncul. Meski Sasori beberapa kali ke rumah Deidara, dia hanya memandangi keadaan rumah Deidara dari jauh. Seperti hari ini, dari seberang jalan, dia memperhatikan rumah Deidara tanpa ada niat masuk ke dalam. Meski Pein dan Konan sadar jika pemuda itu sering datang, keduanya juga tidak berniat mengajak Sasori masuk, karena ini semua adalah kemauan Deidara.

"Deidara... Deidara..." gumam Sasori. Tidak disangka sudah lewat 10 hari Sasori tidak bertemu dengan Deidara. Kini, pemuda itu sedang duduk sendirian di bawah pohon rindang belakang sekolah, dimana biasanya ia menghabiskan waktu istirahat dengan tidur dibawahnya dengan Deidara, orang yang sekarang ini sangat dikhawatirkannya. Sambil bersandar dibawahnya, Sasori memejamkan matanya, beberapa kali ia membenturkan kepalanya pelan ke dahan pohon seperti orang yang sedang depresi berat. Sesekali ia merasakan angin hangat berhembus diwajahnya.

"Lo pasti kangen banget ama gue?".

Hah? Sasori langsung membuka matanya dan mencari tau suara yang sangat dikenalnya ke seluruh penjuru arah. Tapi saat ia tidak dapat menemukan suara gadis yang sangat disayanginya itu, Sasori hanya dapat menggigit bibir bawahnya sambil mencengkram rumput hijau kuat-kuat.

"Deidara..." desisnya.

X x X x X x X

TBC

X x X x X x X

Yai, nih fanfic pendek banget sih... Thanks buat yang udah review, gomen updete-nya telat... Oya, jangan lupa baca fanfic Neji X Sasuke ya, kalo suka review juga... ARIGATOU...