Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata

Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.

Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?

Terima kasih. Selamat membaca!

.

.

.

{{Part 9}}

.

.

.

Jongin baru bangun tidur ketika ponselnya berbunyi. Sambil menggerutu, tangannya menggapai-gapai ponsel yang terletak di meja di sebelah ranjangnya. Suara Minhyun langsung terdengar ketika Jongin mengucapkan sapaan pertamanya di ponsel,

"Pasti gara-gara Baekhyun bukan, kau meninggalkanku?"

Jongin langsung mengerutkan keningnya. Suara Minhyun tampak aneh... sepertinya uke itu sedang mabuk. Apakah karena dirinya? Yah memang ada berbagai macam reaksi uke-uke yang dihancurkan hatinya oleh Jongin. Ada yang menangis terus menerus, ada yang marah dan mencaci maki, bahkan ada yang mengancam bunuh diri –yang akhirnya hanyalah berupa ancaman kosong. Minhyun sendiri kelihatannya berbeda, uke itu tampaknya depresi. Yah dari semua uke yang pernah dipacarinya, Minhyun memang yang paling tampak tergila-gila dan sangat posesif kepadanya... mungkin karena dia memang uke culas yang tamak.

"Bukanlah sudah kubilang tidak ada hubungannya dengan Baekhyun, Minhyun? Dan kau mabuk di pagi hari, sungguh memalukan, seperti tidak ada kegiatan lain saja."

"Memalukan?" Minhyun tertawa histeris, "Kaulah yang membuatku seperti ini. Hari-hariku selalu dipenuhi penantian untuk saat aku berjumpa denganmu, dan sekarang kau mencampakkan aku begitu saja seperti sampah!"

"Seharusnya kau tahu bahwa itu akan terjadi kepadamu ketika kau memutuskan mengambil resiko untuk memacariku." Jongin bergumam dengan suara dingin, "Perbaiki dirimu dan enyahlah dari hidupku!" Setelah dengan sengaja mengucapkan kata-kata yang cukup kasar tersebut, Jongin memutuskan pembicaraan mereka.

...

Minhyun menatap ponsel di tangannya dengan tatapan mata nanar. Ini bukan Jonginnya. Kenapa Jongin bersikap begitu kejam kepadanya? Kenapa Jongin berubah begitu cepat? Mencampakkan dan menyakitinya?

Ditenggaknya minuman berwarna keemasan dari botol kaca di meja riasnya. Minum adalah salah satu pelampiasannya untuk mempertahankan dirinya, kalau tidak mungkin dia sudah gila.

Mata Minhyun yang kuyu setengah mabuk menatap dirinya sendiri di cermin. Meskipun penampilannya berantakan, tidak mengenakan riasan dan masih mengenakan pakaian tidurnya, Minhyun tahu dia tetap cantik.

Minhyun memang dilahirkan cantik jelita meskipun dia merasa dirinya kurang beruntung karena dilahirkan di keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah, ibunya yang memimpikan anaknya yang cantik bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik, sengaja membanting tulang untuk memasukkannya ke sekolah elite dengan harapan Minhyun bisa menggaet salah satu lelaki kaya yang bersekolah di sana dan menjadikannya suaminya. Dan memang kecantikan Minhyun membuat para lelaki tertarik kepadanya, sampai akhirnya Minhyun memilih mangsa yang paling besar, seorang lelaki yang dua puluh tahun lebih tua darinya dan dijadikannya suaminya. Suaminya benar-benar membawa Minhyun naik dalam kelas sosialnya, karena suaminya sangat kaya dan mempunyai pengaruh yang sangat besar di bidang musik.

Tetapi rupanya pernikahan mereka tidak bertahan lama, kelakuan Minhyun yang suka mencari lelaki-lelaki muda untuk memuaskan sikap manjanya rupanya membuat suaminya muak dan menceraikannya. Untungnya Minhyun punya pengacara yang cukup handal sehingga bisa menghasilkan banyak uang dari perceraiannya, toh suaminya masih saja kaya meskipun harus membayarnya dengan begitu besar. Saat ini Minhyun hidup bermewah-mewah dengan harta bagian dari perceraiannya, bergonta-ganti pacar sesukanya dan menikmati masa menjandanya... sampai kemudian dia bertemu dengan Jongin.

Jongin... ah lelaki itu begitu mempesona, dengan sikap sopan dan senyumnya yang menawan... dan wajahnya itu.. kesempurnaan wajahnya mungkin bahkan telah membuat dewa dan dewi menangis karena iri...

Reputasi Jongin sudah terkenal, Minhyun bahkan mengenal salah satu dari uke yang dicampakkan Jongin. Tetapi sikap Jongin kepadanya sangat baik dan penuh kelembutan, membuat Minhyun percaya bahwa Jongin telah berubah, bahwa Jongin telah membuka hati untuknya dan bahwa Jongin benar-benar mencintainya, dan kemudian setelah sekian lama bersama Jongin, Minhyun terperosok semakin dalam mencintai lelaki itu, menyerahkan seluruh hatinya tanpa perlindungan sama sekali.

Matanya masih nanar menatap bayangannya di cermin... disentuhnya pipinya, dirasakannya kelembutan di sana. Pipinya masih halus bukan? Biasanya Minhyun selalu memeriksa setiap inci kulit wajahnya dengan teliti... di usianya yang sudah berkepala tiga, dia sadar bahwa dia harus benar-benar menjaga kecantikannya... makanya setiap dia menemukan sedikit saja keriput, Minhyun langsung panik dan menghubungi dokter ahli kecantikan langganannya untuk menyuntikkan botox ataupun melakukan apapun untuk menghilangkan keriput itu.

Dia ingin tampak muda, cantik dan menarik, apalagi ketika berjalan berdampingan dengan Jongin yang luar biasa tampan. Dia ingin mereka tampak sebagai pasangan yang serasi.

Dan sebenarnya dia sudah berhasil selama ini... sampai kemudian anak uke ingusan itu muncul.

Anak itu tidak cantik menurut Minhyun, masih lebih cantik dirinya. Tetapi kemudaan dan kesegaran Baekhyun terasa mengancamnya, membuatnya merasa seperti uke tua yang sudah layu... apalagi kulit Baekhyun begitu mulus dan halus, memancarkan keranuman masa mudanya, membuat Minhyun memendam rasa iri luar biasa.

Jongin pasti berpaling kepada Baekhyun karena kemudaan dan keranuman Baekhyun. Uke ingusan itu mungkin membuat Jongin tertarik karena berbeda dengan uke-uke yang pernah dipacari Jongin sebelumnya, dan Minhyun yakin kalau Jongin meninggalkan dirinya karena Baekhyun.

Dia tidak boleh membiarkan Baekhyun memiliki Jongin. Dia akan menghancurkan Baekhyun sebelum itu terjadi.

...

Jadi apa yang akan dilakukannya hari ini?

Hari ini masih libur panjang dan dengan menyedihkan dia hampir menggunakan seluruh waktunya untuk merenung sendirian di kamar, mempelajari literatur musik klasik yang sebenarnya sudah sangat dikuasainya.

Jongin menatap dirinya di cermin dan menggerutu dalam hati. Baru kali ini dia sadar bahwa dirinya hampir tidak punya teman untuk sekedar menghabiskan hari libur bersama. Teman-temannya sudah berlabuh dan menemukan belahan jiwanya masing-masing sehingga memutuskan menghabiskan hari liburnya bersama pasangannya.

Tinggal Jongin sendirian tanpa pasangan dan tanpa cinta dalam hidupnya. Bagaimanapun juga ini adalah jalan yang dipilihnya, jalan yang penuh dengan dendam dan kebencian masa lalu, melampiaskannya kepada semua uke yang dirasa pantas.

Tetapi entah kenapa hatinya tidak pernah bisa puas? Semakin dia menyakiti uke, semakin hatinya haus untuk menyakiti lagi dan lagi. Ternyata pembalasan dendam itu tidak selalu berujung memuaskan, yang ada, jiwanya malahan terasa semakin hampa dan kosong.

Tiba-tiba saja Jongin merasa amat sangat kesepian... amat sangat kesepian.

Lelaki itu menghela napas panjang dan kemudian duduk di sofa sambil memilah-milah surat-surat yang masuk untuknya, beberapa hanyalah ucapan selamat atas kesuksesan konsernya di Austria, beberapa surat-surat penting dan kemudian dia menemukan sebuah undangan pesta perjamuan makan malam untuk nanti malam, yang akan dilaksanakan di rumah salah seorang komposer terkenal yang merupakan sahabatnya.

Jongin langsung mendapatkan ide.

...

"Kenapa kau tidak pergi bersama Kyungsoo?" Meskipun sakit, Baekhyun tetap bertanya kepada Chanyeol. Lelaki itu pagi-pagi sudah datang ke rumahnya dan sarapan bersama, ini sudah hampir jam sepuluh siang dan tidak ada tanda-tanda lelaki itu akan ini mereka sedang duduk bersama di bagian belakang rumah Baekhyun, duduk di sofa nyaman dengan bantal-bantal empuk dan membaca buku. Mama Baekhyun menyiapkan berbagai makanan kecil di piring dan sepoci limun dingin untuk mereka. Rasanya sudah lama sekali Baekhyun tidak menghabiskan hari dengan bersantai seperti ini bersama Chanyeol.

Oh, tentu saja Baekhyun berharap Chanyeol akan tinggal sampai penghujung hari, seperti yang selalu mereka lakukan bersama ketika libur panjang seperti ini. Tetapi hati kecilnya menyuruhnya bertanya. Baekhyun sudah terlalu sering terbanting harapannya atas Chanyeol, dan dia tidak mau mengalaminya lagi. Kyungsoo sepertinya semakin sering menyita waktu Chanyeol akhir-akhir ini hingga Chanyeol jarang punya waktu untuk Baekhyun. Yah, tetapi Baekhyun tidak bisa menyalahkan Chanyeol, Kyungsoo sangat cantik, feminim dan merupakan impian setiap lelaki akan uke idamannya, jauh bertolak belakang dengan Baekhyun yang tomboy dan seperti seme.

Chanyeol mencomot biskuit keju hangat buatan mama Baekhyun dan tersenyum,

"Aku akan berada di sini sampai sore." Gumamnya, lalu mengangkat bahunya, "Kyungsoo harus mengantarkan ayahnya ke acara resmi sampai sore, rencananya kami baru akan bertemu malam ini."

Jantung Baekhyun serasa diremas, jadi Chanyeol menghabiskan waktu bersamanya hanya karena dia tidak bisa menghabiskan waktu bersama Kyungsoo?

Chanyeol sendiri tampaknya melihat ekspresi Baekhyun yang murung, lelaki itu tertawa, kemudian merangkul Baekhyun ke dalam pelukannya,

"Hei maafkan aku ya, akhir-akhir ini aku tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersamamu, tapi kuharap kau mau mengerti ya Baekhyun, Kyungsoo tidak lama berada di Korea, dia akan kembali ke sekolahnya akhir bulan nanti, dan kami terpaksa menjalin hubungan percintaan jarak jauh."

"Percintaan?" satu kata itu langsung menempel di telinga Baekhyun, bagaikan belati yang ditusukkan di sana.

Chanyeol menganggukkan kepalanya, matanya tampak berbinar. "Sebenarnya aku mau menceritakan kepadamu nanti, tapi aku sudah tidak sabar membagi kebahagiaanku bersamamu." Lelaki itu menggosok-gosokkan kedua jemarinya dengan penuh semangat, "Kemarin aku menyatakan perasaanku kepada Kyungsoo, dan dia menerimanya."

Kalau saat itu ada petir menyambar di depan mereka, mungkin Baekhyun tidak akan seterkejut sekarang, mulutnya menganga dan wajahnya pucat pasi.

"Jadi kalian sekarang...?"

"Yap." Chanyeol tertawa, "Akhirnya setelah penantian panjangku sejak dulu, perasaanku berbalas juga. Kyungsoo bilang sebenarnya sejak dulu dia sudah tertarik kepadaku, tetapi dia berpikir ulang karena dia akan segera bersekolah di luar negeri. Kemarin ketika pulang ke Korea, dia bertekad akan menemuiku dan menelaah perasaannya sendiri dan ternyata perasaan itu masih sama kuatnya. Kami akhirnya bertekad mencoba menjalani hubungan ini meskipun harus hubungan jarak jauh nantinya... "

"Bukankah Kyungsoo dan papanya sudah menetap di luar negeri? Mereka kan hanya pulang kemari jika ada liburan panjang dan acara penting menyangkut pekerjaan papanya? Akana seperti apa hubungan kalian nanti? Kalian hanya bisa bertemu minimal enam bulan sekali." Setelah menelan ludah dan menguatkan diri, Baekhyun mencoba memberikan pendapat layaknya seorang sahabat.

"Kan sekarang teknologi informasi sudah semakin maju, hubungan jarak jauh semakin dimudahkan, mungkin nkami akan chatting setiap malam, mengobrol lewat web camera, itu sama saja kami bertemu setiap hari bukan? Lagipula kami bertahan seperti ini tidak akan lama.."

"Maksudmu?" jantung Baekhyun berdesir, selalu begitu ketika dia merasa akan menerima sebuah kabar buruk.

Chanyeol tidak memperhatikan ekspresi Baekhyun yang semakin pucat, matanya bersinar penuh tekad, memandang ke kejauhan,

"Aku sudah bilang pada papa, aku akan menyusul Kyungsoo melanjutkan pendidikanku di luar negeri."

Seketika itu juga, seluruh harapan sesedikit apapun yang masih tersisa di benak Baekhyun, tercabut paksa seluruhnya hingga bersih, sampai ke akar-akarnya.

...

Lelaki itu tertidur.

Baekhyun mengamati dengan sayang Chanyeol yang tengah tertidur pulas di sofa. Dia sendiri duduk condong di depan Chanyeol, memuaskan diri untuk memandangi lelaki yang dicintainya itu selagi ada kesempatan.

Chanyeol begitu pulasnya sehingga tatatapan memuja Baekhyun ke arahnya tidak akan mengganggu tidurnya. Baekhyun mengamati wajah Chanyeol yang tampan, alis matanya yang tebal, bibirnya yang indah yang selalu digunakannya untuk tersenyum, menceriakan hari-hari Baekhyun...

Sejak dia pindah ke Korea, Chanyeol selalu ada untuknya, menjaganya sejak kecil sampai sekarang. Chanyeol adalah pusat dunia Baekhyun. Dan sekarang, Chanyeol bilang dia akan pergi ke belahan dunia lain untuk mengejar uke yang dipujanya, mengejar uke beruntung itu.

Ah, betapa inginnya Baekhyun mengungkapkan perasaannya kepada Chanyeol, mengungkapkan kepada lelaki itu bahwa dia ada di sini, menunggu untuk dilihat, menunggu Chanyeol untuk menyadari cintanya. Tetapi di sisi lain Baekhyun merasa takut, Chanyeol begitu dekat dengannya dan sikapnya seperti menganggap Baekhyun sebagai adiknya sendiri, Baekhyun takut kalau dia mengungkapkan perasaannya, Chanyeol akan berubah sikap dan menjauhinya, apalagi jika Chanyeol memang tidak bisa membalas perasaannya, hubungan mereka pasti akan berubah menjadi kaku dan canggung...

Akan sanggupkah Baekhyun tanpa kehadiran Chanyeol di dekatnya?

Tiba-tiba saja dada Baekhyun terasa sesak. Matanya terasa panas... dan kemudian, dengan nekad dan putus asa, Baekhyun menundukkan kepalanya, lalu mengecup dahi Chanyeol dengan lembut.

Detik yang sama sekilas sinar blitz menerpanya, membuatnya mengernyitkan kening, menolehkan kepalanya ke arah sinar itu, lalu membelalakkan matanya kaget.

Jongin tengah berdiri di pintu penghubung ruang belakang dengan ruang tengah, lelaki itu bersandar santai di ambang pintu, tersenyum mengejek kepada Baekhyun dan dijemarinya tengah memegang ponsel, ponsel yang tadi dipakainya memotret Baekhyun yang diam-diam sedang mencuri mencium dahi Chanyeol yang tengah tertidur pulas!

Baekhyun langsung berdiri dengan defensif, sebelumnya dia sempat melirik cemas ke arah Chanyeol, dan bersyukur dalam hati karena lelaki itu masih tertidur pulas. Kemudian dengan langkah lebar, Baekhyun mendatangi Jongin dengan marah,

"Apa yang kau lakukan di sini dan kenapa kau mengambil fotoku?"

Senyum miring muncul di bibir Jongin, "Mamamu menyuruhku masuk ke belakang dan mencarimu." Matanya sengaja melirik ke arah ponselnya, "Wah sungguh foto yang menyedihkan, kau dengan penuh cinta mencium diam-diam sahabatmu... cinta bertepuk sebelah tangan, eh?"

Kata-kata Jongin langsung menyulut amarah Baekhyun, dia langsung menyerang Jongin, mencoba mengambil ponsel itu dari tangan Jongin,

"Kemarikan ponsel itu!" Baekhyun mendesis, setengah terangah berusaha menggapai Jongin yang dengan sengaja mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan ekspresi menahan tawa. Baekhyun melihat ekspresi Jongin dan merasa jengkel luar biasa, lelaki itu pasti menertawakannya karena tubuhnya pendek seperti anak kecil, dan Jongin bertubuh tinggi, merebut ponsel itu akan percuma bagi Baekhyun, apalagi kalau Jongin mengangkat tangannya tinggi-tinggi seperti itu,

"Kau jahat! Kemarikan ponsel itu!"

"Percuma Baekhyun, kau tidak akan bisa mengambil ponsel itu dariku." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya menggoda, "Mungkin aku akan menghapusnya kalau kau mau melakukan sesuatu untukku."

Baekhyun membelalakkan matanya, terkejut akan sikap tidak terpuji Jongin, "Kau memerasku?"

"Bisa dibilang begitu." Jongin sama sekali tidak tampak malu, matanya sengaja melirik ke arah sofa tempat Chanyeol masih tertidur pulas, "Dan aku rasa kau tidak ingin Chanyeol melihat foto ini bukan? Disini wajahmu benar-benar penuh cinta, sungguh menyedihkan, mungkin Chanyeol akan kaget karena kau menyimpan perasaan lebih kepadanya, dan mungkin dia akan menjauhimu..."

"Oke." Baekhyun tidak tahan lagi mendengarnya, dia tahu apa yang dikatakan Jongin benar, dan dia takut itu akan terjadi, dijauhi Chanyeol karena perasaan canggung adalah hal terakhir yang diinginkannya, dia butuh bisa dekat dengan Chanyeol, dan kalau satu-satunya jalan adalah dalam posisi seperti saudara atau sahabatnya, maka Baekhyun tidak akan merusaknya. "Kau ingin aku melakukan apa?" Baekhyun menggertakkan giginya menahan marah, tetapi dia mencoba bersabar. Dia tidak bisa melawan Jongin sekarang, lelaki itu memegang kartu AS untuk mengancam Baekhyun dan sekarang sedang berada di atas angin.

"Aku ingin kau menemaniku datang ke jamuan makan malam yang akan diadakan nanti malam, sebagai pasanganku. Aku akan memperkenalkanmu sebagai murid khususku dan mungkin kita akan berduet sedikit di sana." Jongin tersenyum, "Sebenarnya aku sudah mendapatkan izin ibumu, tetapi aku tahu kau akan menggunakan segala cara untuk menolak ajakanku, jadi menyenangkan sekali aku bisa memaksamu melakukan apa yang kumau mulai sekarang." Tatapannya berubah sedikit menakutkan, "Lakukan apa yang aku mau, Baekhyun, dan mungkin aku akan berbaik hati menghapus foto ini dari ponselku."

.

.

.

Bersambung ke Part 10