Rivalovey

By: Hyelaflaf

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Hyelaflaf

Main Cast: Shikamaru x Temari

WARNING!

OOC, Banjir Typo, Abal, Gaje, Bikin mual, mules(?), Author amatir, DLDR.

Happy reading~

13 Maret. Hari kelulusan.

Temari mematu penampilannya di cermin. Ia tetap memakai seragam sekolah; kemeja sailor dan rok, rambutnya masih dikuncir empat seperti biasa, dan jangan harap ia mau memakai make-up.

Tapi hari ini ada yang berbeda.

Ini bukan hari kelulusan biasa, dan Temari tidak bisa menahan senyumnya sejak semalam.

"Sudah cantik, kok, Kak."

Suara datar dari ambang pintu kamarnya yang terbuka membuat Temari menoleh, ia nyengir lebar saat melihat adiknya sudah rapi. "Kakakmu ini mau bagaimanapun selalu cantik, ya kan?"

"Hn."

Gaara hanya merespon dengan deheman, tapi sudah cukup untuk membuat cengiran Temari makin lebar. Bukan, ia bukannya maso, hanya saja ia sudah lama tidak mengobrol santai dengan adiknya seperti ini.

"Ya, ya, ayo kita turun dan segera sarapan. Aku tidak mau sampai terlambat di hari kelulusanku." Temari mengamit lengan adiknya lalu menyeret anak itu ke ruang makan dengan semangat.

"Kak, aku bisa jatuh."

Ups, terlalu semangat.

Di ruang makan Temari disambut dengan pemandangan ayahnya yang sedang membaca Koran. Hal biasa. Tapi bedanya kali ini ia tidak memakai jas kantor, melainkan kemeja biasa—tapi mahal.

Tak ada ucapan selamat pagi. Temari hanya melempar senyum pada sang ayah, yang dibalas dengan anggukan. Bukan sesuatu yang diharapkan, tapi gadis itu mengerti ayahnya hanya terlalu kaku. Sejak dulu juga begitu.

Ting tong

Belum juga kakak beradik itu duduk, bel rumah berbunyi. Rasa menurunkan koran yang sedang dibacanya. "Temari, coba kau lihat siapa yang datang."

Temari mengerutkan kening. Tidak biasanya sang ayah menyuruh ia membukakan pintu, tapi ia menurut juga.

Saat pintu terbuka, gadis itu akhirnya mengerti alasan tersembunyi dibalik titah ayahnya.

"Hey, kudengar hari ini ada yang lulus SMU?"

Berdiri di depannya, seorang pemuda berusia kisaran 20 tahun, dengan rambut coklat model spike, mata sipit, dan senyum kekanakan yang khas.

"KAKAK!"

Temari tidak bisa menahan diri untuk tidak melompat dan memeluk sosok itu. Kakaknya.

"Wow, kau jadi makin berat," Kankurou tertawa saat tubuhnya terhuyung ke belakang akibat pelukan ekstrem adiknya.

Temari membalasnya dengan tinjuan mematikan di dada.

Kankurou terbatuk.

Tuhan, anak ini bisa membunuhku ….

"Kankurou."

Suara berat di belakang mereka membuat Temari melepaskan pelukannya. Ia menoleh dan mendapati ayah dan adiknya mendekat.

"Ayah, etto …," Kankurou menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Aku sudah terima email darimu, kupikir aku mungkin bisa—err … ikut ke acara kelulusan Temari?"

Sabaku Rasa hanya menatapnya tanpa ekspresi. Sukses membuat waktu berjalan lambat dan atmosfer terasa berat.

"Baiklah." Semua hampir bernapas lega. "Tapi—" dan napas mereka kembali tertahan.

"Tak ada yang naik motor. Semua naik mobil, dan aku yang menyetir." Rasa tersenyum segaris. "Kau mengerti, Nak?"

Kankurou mengerjapkan mata, agak takjub, tapi detik berikutnya ia nyengir lebar. "Dimengerti!"

"Bagus. Sekarang ayo kita sarapan." Setelahnya pria itu pun berbalik menuju ruang makan.

Sementara ketiga anaknya masih berdiri dan saling bertukar tatap. "Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi tampaknya ayah mendapat semacam …," Kankurou berhenti sejenak, mencoba mencari kata yang tepat.

"Pencerahan?"

"Ah, ya! itu dia—tunggu dulu, Gaara? Hey, kau sudah bertambah tinggi sejak terakhir kali aku melihatmu."

Gaara mengernyit samar, agak sakit hati karena sebenarnya ia punya masalah dengan tinggi badan. "Kau melewatkan banyak hal, Kak."

"Aku tahu, aku tahu, maafkan aku," Kankurou tersenyum. "Karena itu kuharap kalian tidak keberatan untuk menceritakan apa saja yang kulewatkan."

"Ya, ya, cukup dengan opera ini," Temari menggaet lengan kedua saudaranya. "Ayo kita makan." Dan menarik mereka dengan tenaga kudanya.

Yang ditarik hanya bisa pasrah mengikuti.

"Ngomong-ngomong, kalian sudah punya pacar?"

"Tidak—"

"Temari-nee menyimpan foto seorang laki-laki di dompetnya."

"…"

"…"

"G-Gaara, kau—!"

"Ya ampun, adikku sudah besar …."

"AKU TIDAK BEGITU!"

.

.

.

Tepat pukul setengah sembilan, acara kelulusan dimulai.

"Psst, Temari!" Ino menyikut lengan si kuncir empat. "Kau bawa pasukan, ya?" gadis itu menunjuk trio Sabaku yang duduk di barisan yang terpisah.

Temari mengangkat bahunya sok acuh. "Begitulah."

"Adikmu tampan sekali~" Sakura mulai fangirling.

Temari melayangkan death glare. "Urus saja pacarmu, Jidat!"

Hinata tertawa kecil melihat pertengkaran dua temannya. "Tapi adiknya Temari-chan memang benar tampan, kok."

Tenten tersedak air.

Temari membeo.

Sakura dan Ino ternganga.

Bahkan seorang Hyuuga Hinata pun mengakui ketampanan Gaara! Sasuga!

Di seberang sana, seorang berambut kuning jabrik mendadak mendapat firasat buruk.

.

Sekitar satu jam habis untuk serangkaian acara pembukaan yang didominasi sambutan tak penting dan beberapa penampilan.

Temari menguap, lalu terkesiap saat menyadari kelakuannya sudah hampir menyamai seonggok nanas pemalas.

Gadis berkuncir empat itu melirik deret di sebelah kanannya, dan mendapati objek yang ia pikirkan tengah tidur.

Yep, seperti yang diharapkan dari seorang pemalas.

"Ada yang curi-curi pandang~" sebuah suara menyebalkan terdengar.

"Paham, deh, yang calon pasangan baru."

"Duh, tanda-tanda bakal ada traktir, nih."

Twich!

Temari mendelik sebal pada trio setan yang suka cari perkara. "Siapa juga yang mau memandangi nanas jelek itu."

"Loh, memangnya kita bilang kau memandang Shikamaru?"

Syit. Syitsyitsyit.

"Aku tahu maksud kalian dia." Temari masih memperjuangkan harga dirinya.

Hinata tersenyum manis. "Sebenarnya perasaanmu kelihatan jelas, Temari-chan."

Tuhan, kenapa Hinata juga?!

Temari mati kutu. Gadis itu akhirnya memilih bungkam daripada salah bicara lagi dan mengundang gossip sial. Sayangnya tak ada yang bisa dilakukan dengan rona merah menyebalkan di pipinya.

Jadi tidak heran kalau teman-temannya terus mendendangkan lagu menggoda yang membuat telinganya panas, bahkan sampai acara inti selesai.

Sakura menyenggol lengannya iseng setelah ia turun dari panggung untuk menerima piagam kelulusan. "Tuan Puteri tidak jatuh ke pelukan pangerannya lagi?"

Sialan memang.

Sekarang berkat Sakura, Temari jadi keringat dingin sendiri saat MC mulai membacakan nama siswa berprestasi satu persatu.

Terima kasih telah mengingatkan Temari akan kejadian nista itu. Terima kasih. Sakura memang teman yang luar biasa. Izinkan Temari untuk memberinya hadiah spesial setelah semua ini usai.

"Berada di peringkat kedua … Sabaku Temari!"

Temari merasa baru ditimpa batu seberat 10 ton.

Gadis kuncir empat itu menempel seakan hampir menyatu dengan kursi, berharap dalam hati ada meteor jatuh atau UFO lewat agar semua ini cepat berakhir.

Tapi kenyataan tak sesuai harapan.

Temari bisa merasakan tarikan pada tangannya, juga dorongan pada punggungnya, kemudian ia berakhir berjalan menuju panggung dengan wajah linglung.

Gadis itu menoleh ke belakang, lalu mendapati Ino dan Tenten mengedipinya sambil berkata 'fighting!' tanpa suara. Kemudian menoleh ke depan, dan melihat Sakura—yang mendapat peringkat tiga, nyengir lebar sambil menaikturunkan alisnya.

Apa maksudnya itu, hah?!

Podium yang berdiri kokoh di panggung tampak memanggil-manggil untuk ia lemparkan.

Temari tak mampu berpikir lagi, batinnya sibuk berkomat-kamit merapal mantera penolak bala saat nama Shikamaru disebut.

Ia juga hanya bisa tersenyum hampa saat kepala sekolah mengalungkan medali ke lehernya sambil memberi selamat.

Iris teal-nya bergerak liar ke deretan bangku orang tua murid. Ada ayah, kakak, dan adiknya tersenyum padanya di sana. Kemudian ia menangkap juga sosok Nara Shikaku dan Yoshino yang sempat mengirimkan senyum padanya.

Jika kejadian tiga tahun lalu terulang, lima orang itulah yang akan menjadi saksinya. Dan Temari yakin ia tidak akan sanggup hidup tenang saat itu terjadi.

Hebat.

Temari ingin menangis frustasi.

Tiba-tiba ia merasakan tepukan di bahunya. "Jangan melamun, nanti seperti waktu itu loh~" Sakura tersenyum sok tahu.

Temari melotot. "Tidak akan!"

Gadis berkuncir empat itu cepat-cepat berjalan menyusul orang di depannya saat menyadari kalau acara sudah selesai.

Begitu sampai di anak tangga paling atas, ia berhenti sambil meneguk ludah, menatap tangga itu dan kabel yang melintang di bawahnya bergantian. Kemudian ia menarik napas dan memantapkan hati. Perlahan tapi pasti, kakinya mulai menuruni tangga itu, dan ….

TADA!

Ternyata ia mengkhawatirkan sesuatu yang sia-sia.

Temari tersenyum lega. Ia menoleh ke belakang lalu menjulurkan lidah pada wajah kecewa teman-teman isengnya.

Haha, makan itu!

Bruk!

Agaknya Temari terlalu excited sampai tak menyadari kalau ia berjalan terlalu cepat dan menabrak punggung orang di depannya.

"Ugh …." Gadis itu merengut, mengusap dahinya.

"Kalau jalan lihat-lihat, dasar merepotkan."

Sudut mata Temari berkedut. Ia tahu betul suara itu dan hanya satu orang yang punya trademark suka berkata segala hal merepotkan.

Nara Shikamaru.

Temari menatapnya sengit dengan wajah merah—aneh. "Diam kau."

Kata 'maaf' sepertinya tersembunyi jauh dalam kamus kosa kata Temari, sehingga agak sulit mencarinya. Tapi Shikamaru sudah maklum, lagipula ia malas cari perkara lagi dengan tukang jagal satu ini, jadi pemuda itu hanya angkat bahu acuh dan berbalik untuk kembali ke tempatnya.

"Tunggu."

Tapi Temari mencegatnya. Shikamaru berbalik dan mendapati gadis itu menggaruk pipinya dengan telunjuk sambil melirik ke arah lain.

Sekilas melirik Shikamaru, lalu kembali mengalihkan pandangannya. "Itu—selamat, ya …."

Shikamaru mengangkat sebelah alis. "Hah?" sepertinya ia perlu membersihkan telinga, karena ia sekarang mendengar Temari memberinya selamat. Seorang Temari! Dunia pasti sudah gila.

"Selamat, uhm … karena mendapat juara satu."

Oh, sepertinya ia tidak butuh mengorek telinga dan dunia kelihatannya memang sudah gila sejak lama.

"Terima kasih, kau juga." ia tersenyum tipis.

"Jangan percaya diri dulu, ya," Temari mendadak kembali menjadi si tsundere. "Aku melakukan ini bukan karena ada apa-apa."

Shikamaru menghela napas jengah. "Terserah, deh." Kenapa pula harus ada apa-apa?

Sumpah, kelakuan gadis ini bahkan lebih rumit dari rumus kimia, hukum fisika, dan hitungan matematika paling rumit.

Tapi yang lebih rumit adalah: kenyataan bahwa dirinya hanya bisa jadi raga tanpa nyawa tiap kali dihadapkan pada senyum Temari. Seperti sekarang ini.

Karena bahkan di bawah sinar lampu paling terang pun, senyum gadis itu tetaplah yang paling bersinar.

Ah, dunia memang sudah gila.

.

Makan malam di kediaman Sabaku malam itu agak sedikit berbeda. Menu makanan kali itu adalah menu istimewa yang terakhir kali disajikan bertahun-tahun lalu. Menu yang dulu selalu disajikan oleh mendiang Sabaku Karura semasa hidupnya. Nostalgik memang.

Kadang Sabaku Rasa juga bisa menjadi Raja Drama.

Perubahan mood yang terjadi dalam keluarganya, kembalinya putra sulungnya, sekarang yang ia inginkan hanyalah mengenang istrinya.

"Temari, sudah kau siapkan barang-barang yang akan kau bawa nanti?"

Temari yang sedang berebut kudapan dengan Kankurou langsung membeku. Ia menyelipkan rambutnya dengan gugup ke belakang telinga. "Uhm … sudah."

"Ada apa?" gerak-gerik sejelas itu tidak mungkin luput dari pengamatan seorang Sabaku Rasa. "berubah pikiran?"

"Bukan," Temari beringsut tidak nyaman. "hanya saja aku belum memberitahu teman-temanku, tadi kelupaan."

Ayahnya mengangguk paham. "Kita masih bisa membatalkannya kalau kau mau, kau tahu 'kan?"

"Un. Aku tidak berubah pikiran, Yah."

Temari mengulas senyum lalu kembali beralih pada kudapan di piringnya—tidak lagi berebut dengan kakaknya. Mendadak hilang mood. Dapat dirasakannya tatapan penasaran tiga pasang mata di sekelilingnya, tapi gadis itu pura-pura tak tahu saja.

Minggu depan ia akan terbang ke Perancis, melanjutkan studi di sana.

Hal ini sudah diputuskan sejak jauh hari, sejak awal tahun ajaran baru ayahnya sudah mengatakan soal ini. Temari tidak keberatan, sebagai seorang yang ambisius, ia malah menganggap ini sebagai kesempatan emas.

Namun sekarang, belum lama keluarganya membaik, dan ia bahkan baru pagi tadi melihat kakaknya lagi setelah sekian tahun. Belum juga teman-temannya, entah apa reaksi mereka kalau ia memberitahu mereka soal ini. Dan yang lebih penting lagi, ada satu orang spesial yang akan ia tinggalkan.

Temari menyuap potongan lava cake terakhirnya.

Rasanya pahit.

Gadis itu tersenyum kecut.

Sial, masa aku benaran jatuh cinta pada si nanas?

.

"Sedang apa kau?"

Temari terkesiap, buru-buru menutup pintu di belakangnya. Gadis kuncir empat itu pucat pasi bagai maling yang tertangkap basah.

"Aku—salah masuk kamar! Ya, begitu!"

Shikamaru menyipitkan matanya—yang memang sudah sipit. Sementara Temari memasang wajah datar, meski bulir keringat dingin kini menuruni pelipisnya.

Jangan sampai dia curiga. Jangan sampai dia curiga. Jangan sampai dia curiga. Jangan sampai. Jangan sam—

"Kau ini pikunan, ya? masa sudah sering kesini masih saja lupa."

Twich!

"Apa katamu?!"

Iya, sih, tidak curiga. Tapi mulut nanas jelek ini minta dihajar sampai jontor.

"Ck, sudah sana minggir, jangan menghalangi pintu."

Shikmaru cari mati rupanya.

Sudahlah mengejek, sekarang dengan seenak iler dia menggeser Temari dan nyelonong masuk kamar—yang memang kamar Shikamaru sendiri, sih.

Tapi tetap, si nanas tidak tahu etika terhadap wanita.

Huh, kalau tidak sayang, sih, sudah Temari hajar sampai—tunggu, apa? Apa dia baru saja bilang kalau dia sayang pada nanas ini? Sabaku Temari yang tersohor sayang pada seonggok nanas pemalas?

Sayangnya, iya.

Dan Temari merasa dirinya amat hina atas kenyataan itu.

Aku ini gadis menyedihkan. Ini kutukan! Aku sudah kena karma. Aku tak punya muka lagi. Aku tidak pantas hidup—

"Loh? Kenapa kau masih di sini?"

"Whaa—!"

Shikamaru yang baru saja selesai ganti baju menatap heran Temari. Sementara Temari sendiri terkejut sampai hampir terlompat karena objek yang ia pikirkan mendadak sudah ada di sampingnya.

Beruntung gadis pemilik marga Sabaku itu mewarisi ketenangan yang luar biasa dari ayahnya, jadi dalam sekejap ia sudah kembali pada mode normal. "Ini aku mau kembali ke dapur."

Temari langsung melengos, dan Shikamaru mengekor. "Kenapa kau mendadak datang kesini?" tanya pemuda itu. Ia memang agak heran, karena Temari biasanya datang akhir minggu saja. Bahkan pada hari libur sekalipun tetap begitu.

Temari menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada anak tangga yang ia turuni. "Aku mau pamit," jeda. "besok aku berangkat ke Perancis."

Butuh waktu beberapa detik bagi Shikamaru untuk mencerna kalimat itu.

"… berapa lama?"

"Entah." Temari angkat bahu, memijak undakan tangga terakhir. "Mungkin lima tahun, atau lebih, bisa saja aku melanjutkan S2 ke negara lain."

Shikamaru mengangguk. "Apa kata teman-teman soal ini?"

"Rata-rata mengingatkan aku supaya segera kembali," Temari terkekeh pelan. "tentu saja aku akan kembali setelah studiku selesai. Mereka itu terlalu banyak khawatir."

"Itu artinya mereka peduli."

Temari terdiam. Kalau begitu, Shikamaru yang tak menyuruhnya segera kembali dan bahkan hanya merespon malas-malasan, artinya tidak peduli padanya?

Ya, lagipula kenapa juga dia harus peduli, ya.

Ugh, bikin Temari kesal saja.

Dasar nanas jelek tidak peka, kubunuh tahu rasa.

.

"TEMARIIIII!"

Suara lengkingan tinggi dari seorang gadis pirang kuncir kuda yang memimpin rombongan remaja berambut pelangi kini jadi pusat perhatian kerumunan orang di sekitar gerbang keberangkatan Bandara Narita.

Temari ingin sekali menutup wajahnya, malu. "Pelankan suaramu, Ino Gendut!" desis gadis itu saat si pirang sudah berada di depannya.

"Apa-apaan kau, hah?! Tahu-tahu memberi kabar kalau besoknya akan pergi, kau pikir kami ini apa?!" Ino menatap Temari bengis.

Yang ditatap membalas sengit. "Lalu kalian maunya apa? Aku pergi diam-diam tanpa kabar?"

"Setidaknya beritahu sejak awal!" Sakura berdiri di pihak Ino.

"Diberitahu sejak awal ataupun sekarang juga tidak ada bedanya 'kan?"

"Kuncir norak payah! Kau tak mengerti juga, ya?" Tenten juga memeranginya. Wow, apa ini? Perang saudara jelang keberangkatan? Hebat sekali. Temari merasa hidupnya sangat luar biasa.

Temari berkecak pinggang. "Kalian ini kenapa 'sih? Sebenarnya niat mengantarku tidak?"

"Ugh, kau ini pintar tapi tolol! Kami tidak mau berteman denganmu lagi!" Ino melipat tangan, memunggungi Temari, diikuti dua teman setannya.

Temari poker face. Serius, ini kenapa dia serasa kembali ke TK, ya?

"Teman-teman … jangan begini, Temari-chan akan pergi masa kalian malah bertengkar …." Hinata bersuara pelan, agak terbata karena air mata kini sudah membanjiri pipinya.

"Hinata-chan …." Temari terperangah, belum pernah selama ini ada orang yang menangisi perpisahan dengannya. Gadis itu tersenyum, lalu memeluk teman indigonya. "Aku pasti akan merindukanmu."

Temari melepas pelukannya lalu menilik tiga temannya yang masih memunggunginya, punggung mereka bergetar. Gadis itu tersenyum jahil. "Kalau ingin menangis, menangis saja, kali ini aku pura-pura tidak lihat, deh."

Tak ada yang bergeming.

"Terserah, deh. Tapi asal kalian tahu saja, biarpun kalian menyebalkan dan suka membawa kesialan dalam hidupku, kalian tetap temanku," jeda. Temari memalingkan wajahnya yang memerah, lalu menambahkan dengan suara kecil, "aku sayang kalian."

Aquamarine, emerald, dan onyx saling tatap penuh arti. Ketiganya akhirnya berbalik, dan Temari bisa melihat mata teman-temannya merah, wajah mereka dibanjiri air mata, ia juga hampir menertawakan ingus yang meleleh itu.

Tapi Temari hanya menunjukkan cengiran khasnya lalu merentangkan tangan. Yang disambut oleh keempat temannya.

"Temari payah! Kau harus mengganti kuncir empat payahmu itu kalau tidak mau ditertawakan orang sana." –Ino.

"Tahan emosimu, aku yakin kau tidak bisa lancer marah-marah dalam bahasa mereka 'kan?" –Tenten.

"Jangan terlalu tsundere, kalau kau tersesat jangan malu bertanya." –Sakura.

"Kami juga sayang padamu, Temari-chan. Jangan lupakan kami, ya." –Hinata.

Temari tak bisa menahan air matanya, senyumnya merekah dengan rona bahagia di pipi. "Aku tak mungkin lupa kalian, kok." Gadis itu tertawa, mengusap air matanya. "lagipula zaman sekarang 'kan komunikasi tidak sulit, kalian bisa menghubungiku kalau rindu."

"Benar juga, aku tidak kepikiran soal itu." Ujar Ino.

Sakura terkekeh. "Ya ampun, kau tadi norak sekali, pig."

"Hei, kau juga!"

Mereka berlima tertawa bersama.

.

"Gaara, jangan terlalu banyak belajar, sesekali main lah, makan yang teratur, harus makanan yang sehat, dan jangan terus menerus pasang wajah datar begitu, kau bisa kesulitan dapat pacar nanti, lalu jangan—"

"Kak, kau bisa ketinggalan pesawat."

Temari menghentikan wejangannya, lalu tertawa mengacak rambut merah sang adik, kemudian memeluknya. "Aku akan merindukanmu."

Gadis itu kemudian beralih memeluk kakaknya. "Cepatlah cari jodoh dan menikah, Kak. Jangan kencan dengan motor dan boneka terus." Ucapnya jahil, membuat sudut mata kakaknya berkedut.

Ia tertawa, lalu berpindah memeluk ayahnya. "Ayah, aku pasti akan membuatmu bangga sepulang dari sana."

Sabaku Rasa mengusap punggung puterinya. "Kau sudah melakukannya."

Temari tersenyum lebar. Ia lalu kembali memeluk temannya satu-persatu, sesekali memberi mereka pesan ngaco.

Sakura membalasnya dengan berkata: "Pria Perancis memang tampan-tampan, tapi jangan sampai kau menyelingkuhi Shikamaru, ya."

Diiringi dengan deheman dan senyum tidak jelas dari teman-temannya. Kakaknya ikutan bertanya iseng apakah itu pacarnya, dan Gaara mengirimnya senyum penuh arti, bahkan ayahnya juga ikutan iseng; "jadi putriku berpacaran dengan bocah Nara itu, ya? hm, tidak heran, tidak heran."

Akibatnya Temari tak bisa menahan rona merah di wajahnya, bahkan hingga pesawatnya berangkat.

.

Dear Nanas,

Baik, ini menjijikan. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku sampai terpikir untuk menulis surat padamu, mungkin karena kalau kita bicara langsung aku bisa menghajar wajahmu sebelum selesai mengatakan apa yang ingin kukatakan. Mungkin.

Jadi pertama, aku ingin minta maaf. Dengan menurunkan segala harga diriku, aku minta maaf karena telah banyak berbuat dosa padamu—meski sebagian besar karena salahmu duluan, pokoknya aku minta maaf.

Kedua, aku ingin berterima kasih. Aku tahu kau yang berbicara pada ayahku, entah apa yang kalian bicarakan, tapi berkat itu keluargaku kembali seperti dulu. Dan jujur saja, itu adalah mimpi terbesarku yang kupikir hanya angan belaka. Terima kasih. Aku sungguh berterima kasih.

Dan yang terakhir, kupikir mungkin ini akibat guna-guna—katakan kalau memang begitu, sulit diakui, tapi kurasa aku menycoret menyukacoret menyukaimu. (Agak sulit menuliskannya, jadi maklum saja kalau jadi banyak coretan begitu). Aku juga tidak tahu kenapa dan bagaimana ini bisa terjadi, tapi tahu-tahu saja aku sudah terjebak dalam perasaan nista ini. Mungkin ini karma. Karena kau tahu, dulu aku sangat membencimu, terlalu benci malah.

Kau patut berbangga diri, tapi dulu kau punya semua hal yang selalu aku impikan, otak jenius, keluarga bahagia, hidupmu seakan tanpa beban. Singkatnya aku iri padamu. Ya, ya, ejek aku setelah ini, tapi itu benar. Sulit dipercaya memang.

Tapi kau tenang saja, setelah aku kembali dari negeri sebrang, kupastikan kau yang iri padaku. Kujamin itu, nanas.

Rivalmu,

Temari.

p.s: musnahkan surat ini segera setelah kau membacanya.

Shikamaru tersenyum samar usai membaca surat di tangannya. Pemuda itu sudah menduga bahwa alasan salah kamar itu hanya akal-akalan Temari saja, tapi ia tidak menduga kalau yang gadis itu lakukan adalah menyelipkan surat ini di bawah bantalnya.

Mengingat kesadisan Temari, akan lebih masuk akal kalau dia menyeludupkan bom atau semacamnya. Tak disangka ternyata dia bisa juga jadi gadis manis dan memberinya surat—uhm, bisakah ini disebut surat cinta?

Terdengar suara mesin pesawat melintas di lazuardi sana.

Shikamaru tersenyum lalu memejamkan mata. "Dasar gadis merepotkan itu …."

(almost) End.


Move on ke chapter terakhir untuk balasan review non-login dan A/N lengkap XD