Story By : Anave Tjandra

Chapter 9

Kris

.

.

Rate T

.

.

Ajaib ! itu yang ada dalam pikiran pertama Baekyun saat ia membuka matanya. Ia menolehkan kepalanya ke sisi sebelah ranjang dan melihat bagian itu kosong, tidak ada tanda-tanda bahwa ada seseorang yang sempat menidurinya semalam. Lalu Baekhyun berjalan keluar dari kamarnya dan mengintip ke ruang tamu, dimana ia tidak meihat sosok orang lain diatas sofanya.

Ajaib. Sekali lagi ia berpikir demikian. Ajaib karena Chanyeol mengantarnya pulang semalam dan tidak mencoba untuk masuk ke apartementnya. Pria itu meninggalkan Baekhyun di depan pintu dengan sebuah belaian singkat di pipinya dan sebuah kecupan ringan di bibirnya.

Baekhyun berdiri di posisi yang sama dengan tatapan skeptis selama beberapa saat sebelum akhirnya sadar bahwa pria itu sungguh-sungguh meninggalkannya dan membiarkan ia mendapatkan ketenangannya kembali. Membuat Baekhyun sedikit...kecewa? ia tidak mengerti kenapa ia harus merasakan hal tersebut.

Baekhyun melakukan aktivitas nya seperti biasa. Ia kemudian bersiap-siap dan mengenakan setelan olahraganya yang paling nyaman yang dapat ditemukannya. Menyalakan pemutar lagu, Baekhyun keluar dari kediamannya dan mulai berlari.

Ia selau menyempatkan diri untuk berlari pagi sesering mungkin di sela kesibukannya, meskipun yang sering terjadi adalah satu minggu berlalu sebelum akhirnya ia bisa berlari setiap minggu pagi. Seperti minggu ini. Bukan salahnya, pikir Baekhyun. Itu karena terlalu banyak hal yang memakan pikirannya seperti Chanyeol dan mamanya.

Mencegah dirinya untuk berpikir tentang kedua orang itu, meski karena alasan yang berbeda, Baekhyun berlari mengelilingi area tempat tinggalnya selama satu jam sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali.

Ia berjaan dengan napas terengah memasuki lobi gedung, tidak menyadari seorang pria yang berdiri dari posisi duduknya saat melihat Baekhyun melenggang dihadapannya.

"Baekhyun!" seru pria itu menghentikan langkah Baekhyun.

Baekhyun menolehkan wajahnya dan melihat siapa yang memanggilnya. Ada sedikit perasaan menyesal setelah ia melihat siapa yang memanggilnya. Seharusnya, ia pura-pura tidak mendengar.

"James," sapa Baekhyun sambil memaksakan sebuah senyuman. "Apa yang membawamu kesini?"

James tersenyum dan berjalan mendekatinya, terlalu dekat dalam pendapat Baekhyun sehingga ia mundur satu langkah dari pria itu.

"Kita memiliki janji sarapan, bukan?" tanya James.

Baekhyun mengerutkan keningnya bingung. Janji? Sarapan?

"Sonya berkata bahwa ia sudah memberitahumu dan kau setuju," ucap pria itu lagi.

Baekhyun diam-diam mengumpat. Penyesalan keduanya hari ini adalah tidak mengangkat panggian mamanya ataupun membaca pesan yang dikirimkan oleh ibunda tercintanya itu semalam.

Baekhyun berdeham dan berkata dengan sehalus mungkin. "Aku khawatir bahwa aku lupa, James. Aku butuh waktu yang sangat lama untuk bersiap-siap . lain kali, mungkin?"

"Ah tidak masalah," jawab James. "Sonya sudah memberitahuku bahwa kau mungkin akan lupa dan memintaku untuk membiarkanmu mengambi waktumu untuk bersiap-siap."

Way to go Bee! Pikir Baekhyun dalam hati. Ia jelas salah memilih kata-kata dan james sepertinya adalah tipe pria yang tidak mengerti penolakan halus. Ia harus mengubah strateginya.

"Maaf, James. Aku tidak yakin kalau aku mengerti apa yang sedang dilakukan oleh ibuku," ucap Baekhyun.

James juga sedikit mengerutkan keningnya, namun masih tersenyum kepada Baekhyun. Pria itu jelas tidak mengerti maksud Baekhyun.

"Apa yang sebenarnya ibuku katakan kepadamu?" Tanya Baekhyun.

Pengertian mulai tersirat dalam wajah James. "Ah, Sonya mengisyaratkan bahwa aku boleh mendekati putrinya. Apakah aku salah menangkap isyarat yang dikatakannya?"

"Tidak," Jawab Baekhyun. "Kau tidak salah menangkap maksud ibuku."

"Jadi, tidak ada masalah, bukan?"

Baekhyun mendengus kecil dan tersenyum. "Tentu saja ada. Masalahnya adalah, aku dan ibuku tidak pernah sepaham."

"Maksudmu kau tidak menginginkan hubungan denganku?"

"Ya, dan tidak dengan siapapun." Baekhyun berkata. Ia kemudian langsung melanjutkan ucapannya. "Kuharap kau bisa menyampaikan kepada rekanmu yang lain, seperti Frans misalnya. Karena aku yakin kau bukan pria satu-satunya yang menerima isyarat ibuku."

Senyum ramah James menghilang, digantikan dengan senyum tertahan. "Dengan senang hati aku akan menyampaikannya."

"Terima kasih."

"Tapi bukan berarti ini selesai sampai disini," ucap James yang membunuh kelegaan yang muncul kelegaan di hati Baekhyun. "Aku mengerti kau tidak pernah memiliki hubungan dengan siapapun selama ini dan bahwa Sonya dengan jelas mengatakan bahwa kau dingin dan kaku. Lebih tepatnya, tidak memiliki perasaan. Her words, not mine."

Baekhyun merasakan sesuatu yang tajam mnembus hatinya setelah mendengar ucapan James.

James meneruskan, "Dan dengan begitu, sebenarnya tidak pernah ada pikiran bahwa aku akan memulai sesuatu yang romantis denganmu."

"Jadi, apa yang kau inginkan?" Tanya Baekhyun dengan nada dingin.

"Kau cerdas, jadi aku akan mengatakan ini dengan gamblang. Kurasa kita akan cocok untuk bekerja sama dan berteman," jawab James.

"Teman?"

"Kau dan aku, kita akan memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Jika kau menikah denganku, aku akan mendanai penelitian orang tuamu. Aku tahu itu adalah tujuan mereka yang begitu gencar menyodorkanmu ke dalam pelukanku. Dan lagi, dengan uangku, kau tidak perlu bersusah payah membuat nama bagi dirimu sendiri dan terpenjara di balik tembok universitas tempatmu berada sekarang. Sedangkan aku, aku hanya membutuhkan istri di atas kertas, untuk alasannya kau tak perlu tahu. It's a win-win solution."

Baekhyun menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia merasa marah mendengar ucapan James yang sungguh merendahkan dirinya. Ada apa dengan kemarin dan hari ini? Dalam kurun waktu 24 jam, ia mendapat pengakuan dari dua pria berbeda. Tapi tentu saja, perasaan yang dirasakannya sekarang berbeda dengan kemarin.

Baekhyun menghitung sampai sepuluh sebelum membuka mulutnya dan berkata, "Kau terdengar sangat cocok dengan ibuku, James. Kalian sungguh memiliki pemikiran yang luar biasa."

"Thanks."

"However, aku rasa kau kurang cerdas karena tidak mengerti ucapanku," lanjut Baekhyun. "Aku berkata bahwa aku tidak sepaham dengan ibuku. Jadi, kau bisa bawa semua idemu dan Sonya, lalu pergi dari tempat ini sekarang juga karena aku tidak tertarik. Have a good day, sir."

Baekhyun memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkan James. Ia dapat merasakan amarah memenuhi setiap rongga tubuhnya, membuatnya ingin memaki ibunya sendiri. Apa sebenarnya yang ibunya inginkan? Tidak cukupkan ia menyusahkannya selama 25 tahun hidupnya? Ibunya gila jika berpikir ia akan bisa memaksakan kehendaknya kali ini.

Baekhyun sudah cukup bersabar menuruti keinginan ibunya, tapi tidak kali ini. Baekhyun bertekad.

..

.

Senin pagi, Baekhyun tidak memiliki tenaga untuk bangun dari tempat tidur. Ini pertama kalinya ia merasa ingin kembali bergelung dibalik selimut dan tidak bertemu dengan siapa pun selama satu minggu kedepan.

Tahu bahwa itu hal yang mustahil, baekhyun keluar dari balik selimut dan kekamar mandi. Ia melihat pantulan wajahnya di kaca dan menyadari bayangan hitam yang mengisi bawah matanya. Bukan pemandangan yang asing baginya, namun sepertinya ia harus berhenti melakukan kebiasaan menangis pada malam hari.

Berbicara dengan Sonya tidak pernah membuatnya tidur nyenyak. Selalu saja berakhir dengan tenggorokan sakit karena terlalu sering menaikkan suaranya agar Sonya mau mendengarkan ucapannya dan mata sembab karena jatuh tertidur sambil menangis.

Dan semalam ceritanya tidak jauh berbeda.

Ia menghubungi Sonya untuk mengatakan kepada ibunya bahwa ia tidak tertarik untuk terlibat dengan apa pun yang ada dalam rencana Ibunya. Baekhyun berusaha membuat ibunya mengerti, namun sia-sia. Sonya tidak mau mendengarkannya dan itu membuat Baekhyun kesal.

Melirik jam tangannya, Baekhyun melihat bahwa ia tidak memiliki banyak waktu. Ia bersiap dengan secepat kilat dan dalam waktu kurang dari 15 menit, Baekhyun sudah siap dengan busana kerjanya lalu berangkat.

Mr. Johnson mengirimkan pesan kepadanya dan mengatakan bahwa pria itu mengharapkan kehadirannya pagi ini dan itu artinya Baekhyun harus datang lebih awal dari biasanya.

Suara tumit sepatu Baekhyun mengetuk lantai kosong universitas yang sudah ramai dipenuhi mahasiswa. Ia sesekali mengangguk kecil menerima sapaan sopan dari beberapa mahasiswa dan tersenyum, bukan hal yang biasa dilakukannya namun terasa mudah untuk dilakukan.

Saat dirinya sampai di depan pintu ruangan rektor, Baekhyun mengetuk dan kemudian melangkah masuk. Ia langsung di sambut dengan senyum ramah Mia, asisten muda yang di pekerjakan oleh Mr. Johnson.

"Selamat pagi, Mia."

"Selamat pagi, Bee!" balas Mia menyapanya dengan antusias. "Mister Johnson sudah menunggumu."

Mia bangkit dari posisinya dan berjalan melewati tubuh Baekhyun. Wanita muda itu mengetuk pintu ruangan Mr. Johnson sekali dan membukanya. "Miss Byun sudah datang, Mister Johnson," ucapnya pada pria yang sedang duduk di balik mejanya.

Mr. Johnson hanya melambaikan tangannya tanpa sekalipun memalingkan wajahnya yang tertunduk membaca beberapa kertas di atas meja.

"Thanks," ucap Baekhyun pada Mia yang memberikannya jalan.

Setelah itu Mia menutup pintu dan meninggalkannya berdua dengan Mr. Johnson.

"Anda memintaku untuk datang, sir," ucap Baekhyun.

"Duduklah, Miss Byun," Mr Johnson mempersilahkan.

Baekhyun menarik bangku yang ada di depan Mr. Johnson dan duduk, sementara pria itu menutup berkas yang ada di hadapannya.

"Jadi, aku sudah mengirimkan email kepada Kris dan ia setuju," ucap Mr Johnson secara langsung. "Kapan kau akan memulai penelitianmu?"

Bibir Baekhyun terbuka karena terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Mr Johnson akan secepat ini menghubungi Kris Wu atau bahwa siapa pun pria itu akan menanggapi tawaran yang diberikan dengan begitu cepat.

"Well, kapan pria itu bisa memulainya?" Tanya Baekhyun.

Mr. Johnson tersenyum lebar. "Kapan pun. In fact, aku sudah memintanya untuk datang pagi ini. Ia akan tiba beberapa saat lagi.

Tepat setelah Mr. Johnson berkata demikian, ketukan halus terdengar di pintu dan Baekhyun kembali mendapati Mia berdiri di sana. Kali ini, ada seorang pria berambut coklat yang berdiri di belakangnya. Pria itu kurus dan tinggi dengan ukuran tubuh berukuran sedang yang keras.

"Ah, Kris!" seru Mr. Johnson sambil berdiri.

Mia langsung mempersilahkan pria yang bernama Kris tersebut untuk masuk ketika Mr. Johnson mendekat dan memeluk Kris sekilas. Ia menepuk punggung Kris beberapa kali sambil menggiringnya untuk masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.

Baekhyun secara otomatis berdiri saat Mr. Johnson berhenti di sampingnya dan mengayunkan tangannya ke arah Baekhyun.

"Kenalkan Miss Byun, Kris Wu. Kris, ini Professor Byun Baekhyun," ucap Mr Johnson.

"Mister Wu," sapa Baekhyun sambil mengulurkan tangannya. "Senang berkenalan denganmu."

"My pleasure," jawabnya sambil menyambut uluran tangan Baekhyun dan menyalaminya. Baekhyun sedikit terkejut mendapati genggaman tangan yang kuat, berlawanan dengan kesan yang diberikan oleh pria itu. "Cukup panggil aku Kris saja karena kita akan bekerja sama untuk jangka waktu yang lama. Aku akan memanggilmu Baekhyun jika kau tidak keberatan."

Baekhyun tersenyum simpul, Kris Wu adalah seorang yang percaya diri dan itu terlihat dari bahasa tubuh dan ucapannya. Baekhyun hanya berharap pria itu tidak keras kepala karena itu akan menjadi masalah diantara mereka.

"Tentu, Kris," Jawab Baekhyun.

"Kalau begitu semoga kita cocok, Baekhyun," ucap Kris sambil tersenyum lebar dan mengencangkan genggaman tangannya sekali sebelum melepaskan tangan Baekhyun.

..

.

Tersenyum! Baekhyun sedang tersenyum dan Chanyeol terpana. Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya dapat merasakan hal seperti ini, bahagia dan senang melihat wanita itu tersenyum. Tidak dipungkiri lagi bahwa Baekhyun cantik dan semakin cantik saat tersenyum meskipun bibir wanita itu hanya melengkung sedikit.

Ia dapat menyadari bahwa beberapa murid lainnya sedikit terkejut melihat dosen killer mereka tersenyum. Wanita itu bahkan membalas sapaan beberapa mahasiswa yang melewatinya. Chanyeol boleh merasa bangga karna ia tahu bahwa ini adalah berkat peranannya yang cukup besar.

Mata Chanyeol masih mengikuti langkah Baekhyun yang menuju ruangan Mr. Johnson, kemudian menghilang di balik pintu. Ia tidak memiliki banyak waktu pagi ini dan ada kelas yang harus diikutinya. Jika tidak, Chanyeol yakin dirinya akan berdiri di sini dan menunggu wanita itu keluar.

"Ada apa?" Tanya Chanyeol.

"Kau menghilang sejak jumat malam," ucap Sehun, seolah-olah ucapan pria itu cukup mendetail bagi Chanyeol.

"Jadi?"

"Jadi, keberatan mengatakan padaku ke mana saja kau pergi? Kau seharusnya datang ke tempatku hari sabtu. Aku dan Luhan mencoba menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif."

Chanyeol mengerang menyesal mendengar ucapan Sehun. Ia lupa bahwa ia memiliki janji dengan Sehun dan Luhan, dan ia mematikan ponselnya karena tidak ingin siapa pun mengganggu kencannya dengan Baekhyun.

"Kau lupa," ucap Sehun saat melihat ekspresi Chanyeol. Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan. "Kupikir ada sesuatu yang penting terjadi kepadamu, tapi ternyata kau lupa."

"Maaf," gumam Chanyeol. "Aku pergi ke suatu tempat dan lupa membatalkan janji kita."

"Suatu tempat?" Sehun tidak menutupi perasaan herannya. Pria itu memutar tubuhnya menghadap Chanyeol dan menyipitkan mata. "Kau tidak pernah menggunakan istilah 'suatu tempat' denganku. Biasanya itu adalah 'kampus' atau 'rumah' atau 'club', tapi tidak pernah 'suatu tempat'. Apa yang kau sembunyaikan man?"

Chanyeol menelan ludahnya. "Tidak ada."

Sehun menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring. "Alright. Apakah kau juga pergi ke 'suatu tempat' pada hari minggu?"

"Tidak, aku pulang ke rumah. Ibuku memintaku untuk pulang."

Sehun menjentikkan tangannya dan kembali duduk menghadap depan sambil bergumam, "Jadi, 'suatu tempat' ini jauh lebih penting dari rumahmu. Aku penasaran di manakah 'suatu tempat' ini."

"Sehun," geram Chanyeol memperingatkan. Ia tidak ingin Sehun berusaha untuk mencari tahu.

Sehun hanya menyilangkan tangannya di depan dada dan mengangkat dagunya menunjuk pintu masuk, mengisyaratkan Chanyeol untuk diam karena dosen mereka sudah masuk ke dalam kelas. Chanyeol hanya menghela napas.

Mereka memfokuskan pikiran pada pelajaran dan Chanyeol hanya berharap bahwa Sehun lupa tentang hal itu setelah kelas selesai. Namun sial karena sepertinya daya ingat Sehun jauh lebih kuat dari harapannya.

Sehun terus bertanya di sela pelajaran mereka, selama istirahat, dan selama pelajaran kedua berlangsung. Chanyeol bahkan berusaha menulikan telinganya selama makan siang Karena temannya tidak berhenti bertanya.

"Jadi, kau tidak mau memberitahuku?" Tanya Sehun sambil mengiringi langkah Chanyeol yang berjalan keluar dari kantin.

"Tidak, berhentilah bertanya," jawab Chanyeol.

Sehun mengangguk dan masih mengikuti Chanyeol yang kemudian berhenti di depan pintu kamar mandi. Chanyeol membalikkan tubuh, membuat Sehun berhenti mendadak.

"Sehun."

"Apa? Aku sudah berhenti bertanya, bukan?" Tanya Sehun dengan polos.

Sehun adalah sahabat terbaiknya, namun Chanyeol tahu baha kadang kala pria itu bisa menjadi sedikit menyebalkan.

"Kau langsung pulang?" Tanya Sehun.

Chanyeol tidak menjawab. Ia sebenarnya masih ingin berada di sini sambil menunggui Baekhyun. Tapi sepertinya Sehun memiliki pikirannya sendiri. Ia tahu bahwa Sehun akan menempel padanya untuk sisa hari ini hanya untuk membuat Chanyeol menyerah dan memberitahu ke mana ia pergi pada hari sabtu.

"Ya, aku akan langsung pulang," jawab Chanyeol akhirnya.

"Bagus. Aku butuh tumpangan."

Cengiran pada wajah Sehun membuat Chanyeol ingin menceburkannya ke kolam terdekat. Kenyataannya, Chanyeol hanya bisa mengangkat bahu pasrah dan kembali memutar tubuhnya untuk berjalan keluar dari gedung.

Saat mereka berjalan ke arah area parkir, telinga Chanyeol menangkap suara tawa seorang pria namun tidak memedulikannya dan malah mempercepat langkah kakinya. Lain halnya dengan Sehun yang menoleh dan melihata Baekhyun sedang berjalan santai dengan seorang pria.

"Wow," gumam Sehun. "Kurasa dunia akan kiamat. Ice Queen berjalan dengan seorang pria."

Chanyeol menghentikan langkahnya secara mendadak, membuat Sehun yang berjalan di belakangnya menabrak punggung Chanyeol dan hampir terjatuh.

"Auch!" seru Sehun sambil mengerang hidungnya karena menabrak tubuh Chanyeol, "Kenapa berhenti?"

Chanyeol menoleh pada Sehun kemudian mengalihkan pandangannya ke sekeliling mereka. Ia mencari sosok Baekhyun yang tadi terlihat oleh Sehun dan ternyata benar adanya, bahwa seorang pria sedang berjalan bersama dengan Baekhyun .

Siapa pria itu?

Chanyeol tidak tahu dan tidak ingin tahu.

Dadanya terasa panas melihat kedekatan tubuh diantara keduanya dan bagaimana pria itu menunduk memandang Baekhyun dengan tatapan memuja. Baekhyun sendiri terlihat santai di samping pria itu dan tersenyum kepadanya.

Chanyeol tidak menyukainya. Ia tidak bisa menerima bahwa wanita itu tersenyum begitu mudahnya kepada pria lain sedangkan ia harus bersusah bersikap payah meruntuhkan sikap dingin dosennya. Tidak, Chanyeol tidak akan membiarkan jerih payahnya dituai oleh pria lain.

Chanyeol mulai melangkah untuk menghampiri dua orang tersebut namun Sehun menarik lengannya.

"Kau mau kemana?" Tanya Sehun.

Sial, Chanyeol lupa tentang Sehun. Ia memandang ke arah Sehun kemudian kembali melihat Baekhyun dan si pria tinggi yang berjalan menuju sebuah kendaraan SUV yang terparkir tidak jauh dari sana.

Persetan dengan Sehun! Ia tidak akan perduli jika sahabatnya tahu sekarang. Dengan tergesa-gersa Chanyeol mengeluarkan kunci motornya dan mendorongnya ke dalam genggaman Sehun.

"Ini, kau pulanglah lebih dulu, aku masih ada urusan," ucap Chanyeol.

"Apa?"

Sehun tidak menerima jawabannya Karena Chanyeol langsung melesat berlari ke arah Baekhyun sambil memanggil dosennya itu. Chanyeol dapat merasakan tatapan heran Sehun yang mengiringinya. Ia hanya bersyukur bahwa sepertinya sahabatnya cukup bijak untuk tidak mengejarnya.

"Professor!" seru Chanyeol.

Kali ini Baekhyun membalik tubuhnya dan melihat ke arah Chanyeol yang berlari kencang, begitu juga dengan pria yang berada di samping Baekhyun. Keduanya baru saja mencapai kendaraan SUV berwarna putih dan membuka pintu penumpang.

"Mister Park," ucap Baekhyun ragu saat Chanyeol sudah mencapai keduanya.

Chanyeol melirik pria yang masih berdiri dekat di samping Bekhyun. Ia sedikit kesal karena harus mendongakkan kepalanya karena ternyata pria ini jauh lebih tinggi darinya.

"Ada apa, Mister Park?" Tanya Baekhyun.

Chanyeol mengembalikkan pandangannya kepada Baekhyun dan tersenyum. "Maaf, professor, tapi aku memiliki beberapa pertanyaan tentang bab yang kau bawakan minggu lalu."

Baekhyun mengerutkan keningnya tanda tidak percaya. "Kau bisa datang nanti sore ke ruanganku, Mister Park, aku tidak memiliki waktu sekarang."

"Tapi-"

"Nanti sore, Mister Park," potong Baekhyun.

Chanyeol mengeraskan rahangnya. Ia mencoba untuk mencegah dirinya menarik tangan wanita itu dan membawanya pergi dari tempat ini sekarang juga. Bagaimanapun, mereka memiliki penonton saat ini.

"Kau bisa mengajaknya bergabung untuk makan siang dengan kita, Baek," ucap si pria secara tiba-tiba.

Baekhyun mendongakkan kepalanya memandan sosok di sampingnya. "Oh?"

Pria itu langsung memutar kepalanya ke arah Chanyeol dan berkata, "Kami akan makan siang dan kau bisa bergabung …. Mister Park, bukan?"

Chanyeol mengulurkan lengannya dan tersenyum ramah kepada pria itu meskipun ia tidak menyukai sosok tersebut. "Park Chanyeol, salah satu murid Professor Byun," ucapnya memperkenalkan diri.

"Kris Wu, partner Baekhyun," balasnya dengan ramah.

Chanyeol mengeraskan genggaman tangannya saat mendengar pria itu memperkenalkan dirinya sebagai partner Baekhyun. Partner apa? Sial! Pria itu bahkan menyebutkan nama kecil Baekhyun.

"Senang bertemu dengan anda, Sir. Tapi aku khawatir bahwa aku memiliki beberapa hal pribadi yang harus ku diskusikan dengan Miss Byun," ucap Chanyeol memberikan penekanan pada ucapannya.

Kris menaikkan sebelah alisnya memandang Chanyeol kemudian Baekhyun. Sedetik kemudian, pria itu tersenyum dan melepaskan jabat tangan mereka.

"Tentu, kalau begitu lain kali saja, Baek," ujarnya.

Baekhyun ingin membantah, namun ia dapat menangkap tatapan tajam Chanyeol yang diberikan kepadanya. Jadi, ia hanya megangguk dan tesenyum kepada Kris.

"Baiklah, Kris, lain kali," ucapnya.

Kris menutup pintu penumpang yang masih terbuka dan berjalan memutari kendaraan tersebut. Pria itu lalu masuk ke dalam balik kemudi dan melambaikan tangannya sebelum menjalankan mobilnya pergi meninggalkan area parker.

"Kris?" Tanya Chanyeol dengan tatapan mencela setelah mereka hanya tinggal berdua di sana. "Kau memanggil nama kecilnya?"

Baekhyun menggelengkan kepala dan memutar tubuh berjalan menuju sedannya yang terparkir tidak jauh dari sana.

"Siapa dia?" Tanya Chanyeol mengikuti Baekhyun.

"Bukan urusanmu, Mister Park!"

Chanyeol menarik tubuh Baekhyun kemudian mendorong punggung wanita itu bersandar pada sedannya dan memenjara wanita itu dengan kedua lengannya.

"Panggil aku Chanyeol, Brengsek!" geramnya sambil memukul atap mobil Baekhyun, membuat Baekhyun melompat karena terkejut.

Mata Chanyeol diliputi oleh emosi membara karena merasa kesal. Wanita itu dengan mudahnya memanggil pria lain dengan nama kecilnya namun menolak untuk menyebut nama Chanyeol meski mereka hanya berdua saja.

"Kau adalah mahasiswaku," ucap Baekhyun lirih. Wanita itu memandang Chanyeol dengan tatapan yang terlihat sedih. "Bagaimana mungkin aku memanggil nama depanmu?"

"Di mata orang lain, ya. Tapi tidak di antara kita. Aku bukan muridmu saat kita hanya berdua, Bee," bantah Chanyeol .

Baekhyun terdiam. Ia ingin membantah ucapan Chanyeol namun tahu bahwa itu memang benar. Apa yang Chanyeol lakukan kepadanya saat mereka hanya berdua saja tidak dapat dikatakan sebagai hubungan antara guru dengan murid.

"Kris adalah partner penelitianku," ucap Baekhyun akhirnya. Ia tidak tahu kenapa ia harus menjelaskan kepada Chanyeol. Tapi, dengan memberi tahu hal ini kepada Chanyeol akan dapat membuat emosi Chanyeol sedikit mereda.

"Hanya itu?"

Baekhyun mengangguk. "sekarang, boleh kau lepaskan aku?"

Chanyeol menyengir dan mengambil kunci mobil Baekhyun dari tangannya. "Aku yang akan menyetir," jawabnya sambil mundur selangkah.

Baekhyun tidak berusaha untuk protes dan naik ke dalam sedannya. Pria itu kemudian membawanya keluar dari area universitas dan pulang menuju apartemen mereka.

.

.

to be continued

.

.

.

aww aww cembulu buta...

see you next chap...

would you mind to review...