WARNING: Fantasy, romance, adventure, politic, and many other :DD. Rating bisa BERUBAH sewaktu-waktu.
Terinspirasi dari DEVIL MAY CRY 4, Game XBOX tahun 2009 yang saya tamatkan DENGAN WAKTU 22 JAM (^-^), diramu dengan ide GILA saya diantara sibuknya mahasiswa yang diteror dosen dan juga jualan pulsa :DD
SUMMARY:
Namikaze Naruto, pangeran yang terdampar karena insiden keji yang menghancurkan negaranya. Bersama dua jenderal dan adik perempuannya, Naruto harus bertempur guna merebut kembali kerajaannya,tahta mahkotanya, juga hati gadis impiannya.
DISCLAIMER:
Masashi Kishimoto-1999
AUTHOR:
Alp Arslan no Namikaze-2012
HAPPY READING!
V
V
V
.
.
.
FLASHBACK ON
"Tuan Muda Namikaze dan Jendral Uchiha telah kembali!"
Kalimat itu terdengar lantang, keras membahana di kuping seorang Pangeran Pirang. Dia melempar sejenak pandangannya sekeliling, memperhatikan sosok-sosok manusia yang berdiri di kanan dan kiri jembatan seperti pembatas garis. Pagar betis manusia ini dengan sepakat menundukkan kepalanya serendah 45 senti tatkala kakinya melangkah. Berurutan sejak dirinya tiba di wilayah istana hingga kini, seperti domino. Mata sewarna langit itu kini beralih pada gerbang tinggi berlapis logam putih mengkilat berukiran khas ornamen daerah Timur, berkesinambung dengan seni pahat halus ala Negara Tanah Hitam. Gerbang mewah itu terbuka dengan derit perlahan, berbeda dengan dugaan orang yang berujung pada kesimpulan betapa suara gerbang tinggi lebar ini sedemikian kasar. Sang Pangeran Pirang menapakkan kakinya melewati garis gerbang, seiring dengan kepala-kepala yang kentara turut tunduk dalam diam. Pemuda ini memastikan kalau dirinya sudah kembali ke Negara Nerv dengan menghirup perlahan berjuta liter oksigen yang terombang-ambing sempurna di udara.
Ya, aku sudah kembali.
Benakknya berkata, membuktikan sebuah hipotesa yang telah bangkit ke ranah teori. Dirinya melirik seorang Jenderal yang telah menemaninya selama 2 minggu di negara tetangga, Salomo guna membasmi Lusinan Demon yang telah membuat rakyat kerajaannya trauma sempurna. Sang Jenderal tersenyum tipis, turut gembira melihat kegembiraan sang sahabat yang juga merupakan seorang putra mahkota.
Namikaze Naruto, telah kembali.
BAB X
"LAW"
"Onii-Chan!"
Kalimat manis itu menginterupsi langsung gendang telinga Naruto sedetik saat sepatunya menginjak lantai marmer istana yang berpola matahari. Naruto Menoleh ke kanan, mendapati gadis pirang berponi yang tengah berlari kearahnya. Gaunnya panjang keunguan, melekat sempurna hingga memamerkan sedikit banyak bentuk badan. Naruto sadar cepat melihat sosok bidadari yang datang, melompat menerjang dengan penuh semangat, memeluk dirinya.
"W-Woi..! I-Ino..."
Namun sepertinya adik perempuannya ini tak mendengarkan protes kakaknya. Ia malah tertawa-tawa seraya mendekap Naruto lebih erat, dengan uups...
Sentuhan kenyal di dada sebelah bawah Naruto membuat pangeran bujang ini sesak nafas.
"Aku rindu kakak..."
Sesak nafas Naruto menjadi, bertambah parah dengan detak jantung yang sedemikian terpacu. Ino mendongakkan kepalanya pada Naruto. Iris biru langitnya bertemu dengan pupil sewarna sang kakak. Aah... Naruto jadi bertambah sadar betapa telah dewasa adik perempuan satu-satunya ini, betapapun urakan dan centilnya Ino, Naruto paham betul bahwa waktu yang berjalan telah menggariskan semuanya. Takdir dirinya, juga takdir adiknya telah tercontreng sesuai absen kehadiran skenario kehidupan Tuhan.
Tuhan baru saja mengabsen adiknya tepat di depan mata, tepat di umur Tuan Putri 20 tahun.
Namikaze Ino, sudah dewasa. Tumbuh menjadi gadis kerajaan yang cantik luar biasa.
"Aku juga merindukanmu, Ino."
Jawaban singkat penuh keyakinan ini membuat Sang Putri Pirang mengangguk riang, memamerkan raut tipis kemerahan di kedua pipinya. Aah...
Naruto meyakinkan dirinya bahwa adiknya telah tumbuh menjadi gadis muda yang luar biasa cantik...
... Ya, meskipun tak secantik seorang adinda bidadari dambaan-
"Ah, So ka...
...Sakura-Chan wa doko da?"
Ino mengangkat sebelah alisnya, menaruh telunjuk di dagu sebelum akhirnya terkekeh. Ino mencabut dirinya dari dada bidang Naruto lalu menari berputar-putar.
"H-Hei... I-Ino-"
"Himitsu."
Dan gelak tawa Ino membuat Naruto tiba-tiba menekuk wajahnya. Tsk! Anak ini...
"Pangeran baru saja pulang, Tuan Putri. Alangkah baiknya jika anda-"
Eh?
Naruto melihat siapa yang datang. Sosok berkacamata itu, oh...
"-Tsk! Aku tahu itu, K-A-B-U-T-O! "
Ya, jelas saja Naruto teramat mengenalnya. Karena Kabuto adalah pelayan pribadi Ino.
Amat pribadi malah.
Ino melepaskan rangkulannya dari Naruto, mereka berdua kini menatap seorang ajudan yang –entah sejak kapan- tengah berdiri di seberang mereka. Kabuto membenarkan letak kacamata minusnya,
"Tapi Tuan Muda haruslah beristirahat, Tuan Putri. Bukankah anda sendiri tahu benar apa yang telah diberitahukan oleh Baginda Ratu?" Tukasnya santai tanpa sedikitpun mengurangi rasa hormat. Naruto mengangkat alisnya spontan.
Apa? Coba ulangi lagi?
"Lalu apa urusanmu, Kabuto no Baka?" Sentak Ino, nada bicaranya jengah. Ia berdiri berkacak pinggang seraya menunjuk-nunjuk Kabuto. Sedetik kemudian Kabuto memperlihatkan aliran keringat dingin di dahinya, ketakutannya kian terlihat tatkala kedua tangannya terangkat ke depan dada.
"A-Eh..S-Saya tidak bermaksud untuk mem-"
PRAAAK!
Hak sepatu mendarat sempurna di wajah Kabuto, menghasilkan aliran darah yang terpancar ke udara selama sedetik sebelum tangan bersarung putih si empunya hidung menyentuh perlahan sumber aliran darahnya. Oh, mata hitam di balik kacamata minus itu membulat luar biasa.
"A-ADUDUUH... H-Hidung sayaaa-"
"APA? MASIH MAU PROTES?"
Ino memaki, nada suaranya melonjak menjadi 5 oktaf. Kabuto mengeluarkan sapu tangan, menyentuhkannya ke hidung sebelum menggeleng luar biasa cepat.
Naruto bergidik ngeri,
Oh, ya... adikku sudah benar-benar dewasa...
Naruto bergidik lagi.
"M-Maafkan saya... Tuan Put-"
"Aku bilang D-I-A-M!"
Dan pelayan itu menggelengkan kepalanya lagi. Kali ini 4 kali lebih cepat dari yang tadi.
"Kau tidak boleh melakukan hal seperti itu pada Kabuto, Ino-Chan..."
Naruto kenal betul suara ini. Ia menoleh pada arah dimana sepasang langkah mendekati posisinya sekarang.
"O-Okaa-chan..."
Mulutnya tanpa sadar bereaksi, menyambut sosok perempuan yang muncul gemulai, badan rampingnya tertutup gaun putih semburat oranye berkilau dengan mahkota delima di kepalanya, sempurna sudah dengan rambut merah panjang sepinggang yang bergulai lemah di balik punggung.
"Hadeeeeh... Salah dia sendiri, Ibu." Sambar Ino. Tangannya terlipat di dada, "Aku kan sudah bilang padanya untuk diam. Tapi nyatanya dia begitu urakan dan cerewet sekali."
"Sumimas-"
Sekali deathglare, dan Kabuto terdiam. Tetap dengan posisi sapu tangan bertengger di hidungnya.
"Hmph! Sudahlah," Kushina menahan tawanya, "Okaerinasai, Naruto-Kun."
Naruto cengo. Sekali lagi dia ingin memeriksa kupingnya sendiri.
Apa aku tidak salah dengar?
"Hei, apa jawaban yang pantas diucapkan seorang putra mahkota pada seorang ibu jikalau dia pulang ke rumah?"
Hei, Naruto sungguh-sungguh heran. Dia tak lantas menjawab,
"Ne, Naruto-Kun?"
Oh, sial. Nervousnya nyaris terbaca,
"O-E-eeh... I-
...Itadaima..."
Ok, Naruto memang sedang kikuk. Namun dia tidak terlalu bodoh untuk sekedar mengucapkan 'aku pulang' pada ibunda. Namun pengalaman pagi ini sungguh aneh, bahkan terlalu aneh jikalau dikatakan ini sebuah pengalaman.
Karena ini pertama kalinya Kushina menyambutnya, seusai invasi. Naruto setiap kali pulang bertugas menginvasi negara-negara dan wilayah yang diserang demon, dijamin hanya Ino dan Kabuto saja yang menyambutnya. Sedangkan Baginda Raja dan Ratu...
Kedua orang tuanya tak pernah menyambutnya, sekalipun tidak.
Maka dari ini Naruto merasa ada sesuatu yang terjadi. Perasaannya tidak pernah salah. Dan apapun sesuatu itu, Naruto merasakan hal itu adalah hal yang tak beres.
Kushina benar-benar menyambutnya, sebagaimana seorang ibu menyambut anak.
"Kabuto, bagaimana persiapan malam ini?"
Kabuto menggosok-gosokkan sapu tangannya di hidung, mengeringkan darah yang terbercak di sana."Semua dalam proses pengerjaan, aula utama sudah dipersiapkan untuk itu. Pesta penyambutan ini kami jamin akan berjalan sebagaimana mestinya, Baginda ratu."
Eh? Menyambut apa?
Naruto tak bisa menahan dirinya untuk bertanya, " Hei, a- ada apa ini? Pesta apa? Penyambutan untuk siapa? Ada ap-"
"Pesta penyambutan untukmu, Naruto-Kun." Kushina bergumam cepat. "Kau baru saja sukses invasi ke Salomo membasi demon, dan hal ini patutlah dirayakan. Apa yang salah?"
Ya, ada yang salah!
" T-Tapi apa itu tidak terlalu berlebihan, maksudku... ya..."
Oh, sialan! Kenapa aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya!
"Tidak akan berlebihan selama itu demi seorang putra mahkota, bukankah begitu, Ino-Chan?"
Putri pirang ini mengangguk menanggapi arah pandang ibunya. "Benar sekali, kakak. Malam ini kita akan berpesta untuk menyambut keberhasilanmu!" kedua tangannya meraih sebelah tangan Naruto. Menggenggamnya tepat di depan dada.
Naruto menarik nafas emosinya perlahan.
Jangan-jangan, jangan pernah meledak di depan Ibumu, Naruto.
Pangeran pirang ini membenarkan letak kalungnya dengan sebelah tangan yang kosong, menahan degup jantung yang semakin menderu bertalu. Otaknya memikirkan sesuatu, Seraya menurunkan kedua tangan Ino,
"Begitukah, lalu dimana a-"
"Minato sedang menunggu di singgasana, sekarang. Dia ingin bertemu denganmu."
O, BRENGSEK!
Pertanyaan yang baru saja terpikirkan itu sudah muncul lebih dahulu jawabannya.
-ALP-
"Orang dalam? Membuka portal?" Minato menggelengkan kepalanya. " Apa-apaan itu? Kau yakin itu benar-benar terjadi?"
Naruto mengangguk mantap, " Itu yang dapat kami simpulkan, Ayah. Raja dan Ratu Salomo sudah tewas terbunuh. Pasukan yang tersisa dijadikan budak, pemerintahan kerajaan diambil alih oleh Demon. Dan rakyatnya..."
Naruto diam sejenak,
"...Dianggap tak ada. Jelas sudah persediaan logistik habis, dan mereka mati perlahan-lahan. Ada informasi yang menunjukkan beberapa yang melawan, namun nyatanya mereka malah mati sia-sia."
Minato mengerutkan kening, "Berapa Demon yang tercatat?"
"Tiga puluh lima ribu, dengan seekor yang sepertinya memimpin mereka. Demon jenis api dengan wujud mirip centaur dengan pedang raksasa. BERIAL, Si Raja Neraka. Masih ada sekian ribu lagi, namun mereka semua musnah kembali ke portal tatkala aku membunuh Berial."
"Berapa jumlah korban jiwa dari pasukan kita?"
Naruto terdiam sejenak,
"Ti-..."
"Ya?" Minato tak sabar.
Naruto menelan ludah, sikapnya terkesan ragu.
"Tidak ada korban jiwa, Ayah.
Kerut itu menebal, "Kau serius?"
Naruto sedetik menganga, lalu kembali pada pose tegapnya. Naruto mengangguk mantap memastikan. Minato tersenyum simpul,
"Hm, Yokatta." Gumamnya. Dia bangkit dari singgasananya lalu berjalan mendekat."Aku harap kau menyadari benar-benar apa arti sebuah pengorbanan. Dan tak perlu membuang satupun nyawa untuk mendapatkan pelajaran itu, kau paham? Naruto?"
Giliran Naruto yang mengerutkan kening. Minato menyembunyikan senyumnya,
"Sudah banyak nyawa yang terbuang, tak usah melihat bagaimana generasi kita sekarang. Namun sejak awal kebocoran portal dari kakek moyangmu, sudah ditakdirtkan menjadi tugas kita semua untuk memberantasnya. ..
...Dan hari ini kau sudah berhasil untuk sebuah invasi besar, Naruto. Menyelamatkan sebuah negara bukanlah prestasi yang harus disembunyikan."
Naruto sejenak menghela nafasnya, Minato berbalik badan hingga Naruto mampu melihat punggung ayahnya yang lebar. Membuatnya bergidik sendiri.
Naruto menelan ludahnya,
"Apa tidak ada cara untuk membuang portal untuk selamanya, Ayah?"
"Maksudmu?"
Sejenak sang Pangeran berpikir, lalu meneruskan kalimatnya hati-hati,
"Aku tak pernah tidak berhenti membayangkan dunia yang penuh dengan kedamaian. Dimana demon tak pernah mengusik. Kehidupan manusia pun sejajar, tak perlu ada nyawa tersambut. Aku..."
"... Hanya bosan melihat kematian."
Kepala pemuda pirang itu mendongak, menatap azure yang tajam itu kian melembut, "Kematian bagi demon memanglah sebuah akhir, dan membunuh adalah cara kita untuk membuat akhir itu. Kematian demon adalah kelahiran bagi manusia. Kau pasti paham itu."
"..." Naruto diam mendengarkan. Dahinya kian berkerut.
"...Sedangkan bagi manusia, kematian bukanlah akhir dari segalanya, hanya awal dari sebuah kehidupan yang nyata. Kau tak perlu takut untuk bagaimana agar akhir kematian kita ingin sebagaimana kita skenariokan, dengan satu cara..."
"Tunggu! Ayah! Aku tidak-!"
TEP!
Sepasang tangan kekar itu dengan segera menangkap bahu sang anak. Sentuhan itu spontan menghentikan kalimat Naruto "...Hiduplah dengan mulia di dunia, maka manusia akan mati dengan penuh damai senyum di wajahnya. Manusia hidup pasti mati, bukan tercipta untuk hidup selamanya. Pertanyaan bagaimana kita mati?"
Minato meletakkan sebelah telunjukknya di dada bagian atas putra mahkotanya.
"..Tanyakan pada ini."
Naruto sedetik gagap, lantas seuntai senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Wakatta'ttebayou!"
"Bagus, itu anakku." Minato menjauh dari Naruto, mengisyaratkannya untuk kembali. Naruto berbalik patuh, namun berselang dua langkah saat dia berhenti. Lantas menoleh kembali padaSang Baginda Raja.
"Otoo-Chan?"
"Nani?"
Naruto menatap punggung kokoh yang belum berbalik penuh itu,
"Untuk semunya, termasuk malam ini. Arigatou."
Sosok dewasa ini memamerkan jempolnya, sekali lagi tanpa berbalik.
-TBC-
POJOK REVIEW (0-0)b
Ore no Nee-sama: Oke teh, ni dah update. Nuhun pisan dah mampir :DD
nona fergie: Hahaha.. ni makanya ane ganti genre, romancenya malah beneran cuma nyempil XD Fergie bikin fict baru, ya? Nanti ane sempatkan untuk review, okey? YAKUSOKU SO! ^^b Jangan lupa tagi kapan-kapan :DD
ikki: Eer... kalau dengan kiro-kirologi ane, Ini Fiki bukan? XD Ane bingung sih, jujur. Kalau salah maafin, ya. BWAHAHAHA! Adegan panas nanti deh, sambil jalan. Tunggu aja XDD, en makasih dah ripiuw :DD
Ryuu: Hehehe... ane maunya juga lebih panjang, tapi masih sibuk bed XD. Ini utang ane buat nte, okey? :))
Felis Temmincki: Hehehe... makasih koreksinya, dik XD. Ane ingat-ingat betul itu. Di sini masih ada typo, nggak? ^^
xXx: Wkwkwkwk... Mksh banyak, gan. Dah mampir. Satu ripiuw dari nte sudah menunjukkan banyak orang yang menunggu dan menyukai karya ini. Arigato sekali lagi dah mampir.
gui gui M.I.T : Hehehehe... mksh, Ran. Gimana kabar grup? Ane jarang OL. salam ya buat mereka :DD
AUTHOR NOTE:
Ganti GENRE? BWAHAHAHAHA!
Ahahahaha... sepertinya saya terlambat lagi XD Saya masih sibuk sana-sini, jadi bahkan tidak hanya fict, untuk sekedar FB-an pun mungkin bisa dibilang jarang. Maaf buat yang sudah menunggu. (^_^)
.
Saya lihat dalam kurun dua minggu ini banyak karya baru yang muncul, baik itu update dari multichap ataupun sekedar oneshoot. Jujur, deh. Ane belum menyempatkan diri untuk sekedar membaca sama sekali. Bahkan, karya milik Elven Lady18 yang judulnya Kembalinya Klan Peri Klan Uzumaki yang sudah saya tunggu-tunggu pun, baru saya baca dengan kecepatan penuh, dan nggak habis. Hehehe..
.
Ane mau bilang terima kasih sekali untuk segenap reader dan reviewer yang turut hadir. Meskipun sedang sibuk-sibuknya, ane akan usahakan update tepat waktu. Apapun itu, nanti kedepannya mohon mafhum, ya :D
Terakhir, untuk segenap orang yang sudah mampir, dan punya uneg-uneg ataupun saran, silahkan pencet nih tombol. Okay?
I Always Waiting,
ALP ARSLAN
