Summary : Byun Baekhyun. Seorang gadis liar penggila seks yang tidak peduli dengan komitmen. Namun suatu kejadian membuatnya harus terjebak dalam suatu ikatan yang disebut pernikahan. Sanggupkah dia menjalankannya?


"Accidentally Married"

2016©Byun Min Hwa

Main Cast :

Byun Baekhyun ― Park Chanyeol

Genre : Romance ― Drama

Rated : M

Category : Genderswitch

Length : Chaptered

Warning : Mature Content ― Typo(s) ― AU ― OOC


DON'T LIKE ― DON'T READ ― DON'T BASH


Chapter 9 : Terrible Day

Suara derekan roda koper yang bergesekan dengan lantai marmer menggema di sepanjang lorong apartemen yang dilalui oleh sepasang suami istri yang baru saja tiba dari negeri ginseng itu. Chanyeol terus menarik kopernya tanpa menghiraukan sang istri yang masih menggerutu sebal dengan air muka yang bisa dibilang lebih keruh daripada air comberan oleh sebab lelaki itu tak membantu membawakan kopernya, menoleh pun tidak.

Benar. Setelah menjinakkan cacing-cacing liar yang memberontak pada organ pencernaan masing-masing, mereka berdua memutuskan untuk langsung meluncur ke apartemen yang telah disewa jauh-jauh hari atas nama Chanyeol melalui bantuan karyawannya.

Lelah pun letih, tentu saja. Perjalanan udara yang harus ditempuh dari Incheon menuju Brajas memang tidak memakan waktu yang terlalu lama. Namun tetap saja hal itu berhasil membuat persendian yang menyusun kerangka pinggang Chanyeol maupun Baekhyun menjadi kebas oleh karena terus menempelkan bokongnya pada kursi pesawat yang minim ruang gerak.

Belum lagi dengan kepala yang berputar-putar tak tentu arah hingga dahi si lelaki jangkung acap kali harus berkerut dalam efek dari jet lag yang menimbulkan rasa pening tak main-main. Jika ditanya hal utama apa yang paling ia inginkan saat ini tentu saja jawabannya adalah kasur empuk nan nyaman untuk merebahkan tubuh bongsornya. Tidak ada yang lain.

Kembali lagi pada kondisi kedua orang itu. Untunglah kamar yang ditempati oleh mereka terletak tidak jauh dari lift, hingga tidak membuat Baekhyun lebih tersiksa lagi karena harus menarik kopernya yang terasa berat.

Ketika memasuki ruang apartemen itu, kesan pertama yang didapatkan adalah minimalis, namun tetap elegant. Terdapat satu ruang tamu yang diisi oleh beberapa perlengkapan seperti meja beserta sofanya. Dari ruang tamu itu jika ditelusuri ke belakang maka akan langsung sampai pada dapur yang dihiasi oleh counter atau mini bar sebagai pembatas.

Namun, ada satu hal yang membuat kening Baekhyun berkerut. Ketika Chanyeol mulai membuka pintu kamar di ruang apartemen itu. Disini… hanya ada satu kamar? Yang berarti ia harus satu kamar dengan pria itu?

"Aku tidak mau satu kamar denganmu." Kata demi kata itu lolos begitu saja dari mulut Baekhyun tanpa beban sedikit pun.

Selain disebabkan sampai sekarang ia masih merasa canggung bila berdekat-dekatan dengan pria itu, hal yang membuat Baekhyun enggan untuk berada di dalam satu kamar―lebih tepatnya ranjang yang sama―dengan Chanyeol adalah untuk antisipasi semata.

Oke, biar ku jelaskan. Baekhyun merasa was-was jika suatu saat nanti Chanyeol akan lepas kontrol dan bisa menerkamnya kapan saja. Bagaimanapun juga Chanyeol adalah lelaki dewasa yang normal nihil cacat, dan hormon seorang pria yang akan menginjak usia tiga puluh sedang dalam level tinggi-tingginya.

Siapa yang akan bertanggung jawab bila suatu saat nanti lelaki itu tidak tahan dalam menahan gejolak hormonnya? Baekhyun takut jika hal itu akan berdampak pada sebuah janin yang tertanam di dalam kandungannya.

Bekhyun pun bergidik ngeri.

Tidak. Tidak. Tidak. Pokoknya Baekhyun tidak mau.

Salah satu alis Chanyeol hanya berjingkat tinggi, dengan memasang ekspresi acuh tak acuh seolah ucapan Baekhyun barusan adalah lelucon belaka. Oh, bukan lagi seolah. Chanyeol memang menganggap kalimat yang keluar dari mulut Baekhyun sebagai kelakar.

Tolong katakan, orang mana yang akan mempermasalahkan hal sepele semacam ini selain wanita bermarga Byun itu? Jawabannya adalah tidak ada. Sepanjang sejarah 29 tahun eksistensinya menghirup napas di Bumi, Chanyeol tidak pernah bertemu dengan wanita seribet dan secerewet Baekhyun. Itulah mengapa selama ini Chanyeol membatasi pergaulannya dengan kaum hawa. Mereka begitu merepotkan.

Di samping cerewet dan menyebalkan, ada alasan tertentu pula yang membuatnya selama beberapa tahun terakhir tak pernah menjalin hubungan khusus dengan wanita manapun. Yeah, itu sebelum 'kecelakaan' yang ia perbuat bersama Baekhyun beberapa waktu silam.

Dan jika Baekhyun berniat memainkan emosi Chanyeol disaat kedua kelopak mata pria itu sudah berteriak meminta untuk dipejamkan, maka saat ini bukanlah waktu yang tepat.

Ia biarkan Baekhyun yang masih berdiri bersidekap di ambang pintu dengan muka bersungut-sungut sementara ia merangsek maju memasuki kamar tersebut dengan koper yang belum lepas dari telapaknya. Ia acuhkan pula mata Baekhyun yang kini membola dengan sempurna akibat ulahnya yang melewati wanita itu tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Ya! Chanyeol! Aku sedang bicara denganmu!"

Langkah Chanyeol terhenti setelahnya. Namun ia masih mempertahankan posisinya dalam memamerkan punggung, nihil niatan untuk berbalik menghadap wanita itu. Ia pura-pura tak mendengar semua teriakan dan ocehan Baekhyun yang justru membuat istrinya itu kian terbakar oleh api amarah.

"Kita harus pindah!"

Baekhyun pun kekeuh menyuarakan keinginannya. Walau kemungkinan besar Chanyeol tidak akan menggubrisnya lagi setidaknya ia sudah mencoba.

Maka ia ayunkan telapak kaki berbalut high heels itu langkah demi langkah untuk kemudian berhenti tepat di hadapan Chanyeol. Ekspresi kesalnya belum terhapuskan, ditambah dengan berkacak pinggang untuk menyempurnakan aksi demonya.

Kedua bola mata itu saling bersitatap. Beradu pandang melempar ketajaman untuk melumpuhkan lawannya. Selama beberapa saat belum ada bunyi yang tercipta. Hingga akhirnya hembusan napas berat dari sang suami menjadi awal pemecah kesenyapan diantara keduanya.

"Kita tidak bisa pindah, Baek." Jawab Chanyeol dengan suara yang lirih.

Bahkan untuk mengeluarkan sebait kalimat saja ia sudah tak memiliki cukup tenaga. Kembali ia langkahkan kakinya melewati tubuh Bekhyun dan meletakkan kopernya secara asal di sebelah kanan meja nakas yang tersedia di kamar itu.

Baekhyun pun berbalik, menatap seluruh pergerakan pria itu tanpa jeda. Yang dipandang pun tetap cuek, kemudian menjatuhkan bokongnya pada ranjang berisi kasur empuk dilanjutkan merebahkan punggungnya pada tempat tidur itu hingga kini hanya kakinya saja yang terjuntai di lantai.

"Aku tidak mau tahu, pokoknya kita harus pindah." Baekhyun masih bersikeras untuk menentang Chanyeol. Ucapannya memang terkesan datar dan dingin, namun sarat akan ancaman yang membahayakan jika Chanyeol tak menuruti keinginannya.

"Ck." Sebuah decakan keras terlontar dari bibir si suami. Ia hirup napas dalam-dalam pasokan gas tak berwarna yang ada di sekelilingnya, kemudian ia hembuskan mol demi mol karbondioksida itu melalui lubang hidungnya.

Dalam sekejap punggung itu telah terangkat hingga kini Chanyeol bisa melihat Baekhyun kembali dalam posisi duduknya. Seolah tak ingin kalah dari si istri, Chanyeol melipat kedua lengan di depan dada untuk menunjukkan sisi angkuhnya.

"Aku bilang tidak bisa, ya tidak bisa," Chanyeol mulai mencicit, "Lagipula apartemen ini sangat nyaman bagiku. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan mengenai fasilitasnya." Kemudian mengangkat kedua bahu acuh.

Baekhyun memutar bola mata penuh kejengahan. "Oh, dan sejak kapan aku bilang mempermasalahkan fasilitas yang disediakan oleh pemilik apartemen ini? Aku setuju denganmu jika apartemen ini memang sangat nyaman."

Chanyeol mengangkat sebelah alis, gagal paham. Bukankah Baekhyun terlalu bertele-tele dan membuang waktu hanya untuk berdebat masalah yang begitu sepele? Lalu apa lagi yang membuatnya terus berteriak layaknya ia sedang tersesat di tengah-tengah hutan belantara seperti sekarang?

Seakan paham dengan ketidakmengertian Chanyeol oleh kalimatnya, Baekhyun kembali menimpali.

"Yang aku permasalahkan sejak awal adalah tentang ide satu kamar denganmu dalam apartemen ini!" Suaranya kian melengking, hingga membuat dadanya kembang kempis tak beraturan.

Chanyeol mengusak-usak surai arangnya dengan rasa gemas dan frustasi. Rasa kantuk yang menggelayut pada kelopak matanya sejak tiba di bandara pun telah menguap entah kemana. Demi Tuhan, wanita di depannya ini lebih kekeuh dan keras kepala daripada seorang sales yang yang pernah ia temui ketika sales itu menawarkan produk kecantikan di sebuah pusat perbelanjaan.

"Hanya kamar ini yang tersisa. Karyawanku memesannya ketika aku masih hidup membujang." Jawab Chanyeol sambil lalu.

Merasa tidak tahan dengan pemandangan ekpresi Baekhyun yang kecut seperti itu akhirnya Chanyeol memutuskan untuk berdiri tegak. Ia tatap Baekhyun sejenak, sebelum meloloskan diri keluar dari kamar itu dan berjalan menuju dapur untuk sekedar mengambil segelas air putih. Ketahuilah, berdebat dengan Baekhyun benar-benar membuat kerongkorangannya terasa gersang.

Tak mau menyerah, Baekhyun membuntuti langkah-langkah panjang suaminya itu dengan susah payah. Langkahnya terhenti ketika pria itu mengobrak-abrik isi rak kaca yang tersedia untuk mengambil dua buah gelas. Hanya sebuah counter setinggi pingganglah yang kini menjadi pembatas antara Chanyeol dan Baekhyun.

"Kau bilang karyawanmu memesankan kamar apartemen ini ketika kau masih bujangan?" Baekhyun bertanya, dengan menyelipkan nada ejekan dibalik kalimatnya.

"Sudah jelas jawabannya." Chanyeol menyahut enggan seraya membuka lemari pendingin untuk mengambil air putih dari dalam benda itu.

"Tapi sekarang statusmu bukan lagi bujangan. Kau sudah menikah, kalau kau tidak lupa," sindir Baekhyun. "Seharusnya mereka memberikan apartemen yang lebih luas dari yang kita tempati."

Chanyeol hanya bungkam, sembari mengisi dua gelas kosong―yang tadi ia ambil dari rak kaca―dengan air putih dingin.

"Jangan katakan, kau belum memberitahu mereka jika kau sudah menikah?" cecar Baekhyun penuh rasa penasaran.

Lelaki itu tak langsung menjawab. Ia loloskan teguk demi teguk buliran liquid dingin itu untuk membasahi kerongkongannya yang mengering. Masih dengan gelas yang berada di genggaman, Chanyeol pun menatap tepat pada kedua iris hazel Baekhyun.

'Ctek'

Chanyeol menjentikkan kedua jari dari tangan kirinya sebelum kemudian menjawab pertanyaan Baekhyun.

"Bingo." Hanya satu kata yang terdengar amat menyebalkan.

Chanyeol kembali meneguk air dingin yang tersisa sembari mengedipkan sebelah matanya―genit―pada Baekhyun yang kini raut mukanya semakin tak berbentuk. Memang lelaki itu hanya berniat menggoda, tapi hal itu benar-benar menyulut amarah Baekhyun.

Wanita itu pun menghentak-hentakkan ujung high heels yang terpasang di kakinya pada lantai dengan gemas sebagai pelampiasan. Rasanya percuma pula berdebat dengan Chanyeol, hanya membuang waktu dan tenaga saja. Ia pun memutuskan untuk melenyapkan diri dari dapur, menjauhi Chanyeol.

Chanyeol merasa geli sekaligus terhibur sendiri ketika melihat sikap keras kepala Baekhyun yang begitu kekeuh ingin memiliki kamar yang terpisah dari dirinya. Omong-omong, memangnya apa yang dipikirkan oleh wanita itu tentangnya? Menerkamnya ketika ia terbuai dalam mimpinya, begitu? Chanyeol mendengus ketika memikirkan hal itu.

Ketahuilah, seorang Park Chanyeol tidak sebejad itu kawan-kawan. Hanya terkadang sedikit mesum. Ya, hanya. Lagipula, jika memang dia menginginkan hubungan badan dengan Baekhyun demi menuruti hormon dan memenuhi kebutuhan jasmaninya, maka ia akan meminta kepada wanita itu secara baik-baik. Ya, walaupun presentasi keberhasilannya amat sangat kecil―jika dilihat dari hubungan mereka yang selalu dihiasi pertengkaran layaknya anjing dan kucing.

Istrinya itu terlalu berharap, pikir Chanyeol naif. Chanyeol tahu, Baekhyun tahu, mereka berdua sama-sama tahu dan sadar sepenuhnya bahwa pernikahan yang mereka jalani tercipta berdasarkan pada rasa tanggung jawab yang diemban oleh masing-masing pundak. Bukan karena suatu hal klise yang disebut cinta.

Jadi, tidak akan mungkin terjadi acara sentuh menyentuh―berhubungan intim―dalam pernikahan mereka seperti yang sudah dibayangkan oleh Baekhyun. Yeah, itu karena kau terlalu bodoh dan munafik untuk mengakui perasaanmu sendiri Park Chanyeol.

"Chanyeol!" Kembali indra pendengarannya dikejutkan oleh teriakan Baekhyun dari arah ruang tamu. "Kalau kau tak mau pindah dari apartemen ini, maka aku akan mencari apartemen sendiri!" Ancam Baekhyun tak main-main.

Baiklah, Chanyeol tidak ingin ikut terbawa arus emosi yang sudah menguasai jiwa dan raga istrinya itu. Berjalan santai menuju ruang tamu, Chanyeol menjatuhkan salah satu beban pundaknya condong ke kiri―untuk bersandar pada tembok―seraya mengamati Baekhyun yang tengah menatapnya tajam.

Tarik nafas… Hembuskan pelan-pelan. Maka ia memulai dengan nada yang sesantai mungkin.

"Silahkan saja," Tiada keraguan sedikitpun di setiap ucapannya. "Aku tidak akan melarangmu." Timpal Chanyeol cuek.

Respon Baekhyun dapat ditebak dengan mudah. Kedua bola matanya kini melotot sempurna―menatap dengan rasa tak percaya―kepada Chanyeol yang sekarang memamerkan senyum idiot seakan pria itu terang-terangan mengejeknya.

Yang berstatus sebagai istri pun menggeram marah. Kemudian ia melangkah menuju pintu depan untuk keluar dari ruang apartemen itu. Jangan lupakan dengan setiap hentakkan yang mengiringi kepergiannya.

"Baekhyun!"

Baru saja tubuh Baekhyun akan benar-benar keluar dari apartemen itu, suara berat dan dalam yang diketahui milik Chanyeol telah menginterupsi langkah kaki mungilnya.

Baekhyun bertahan dalam geming. Tubuhnya beralih pada mode freeze di ambang pintu dengan kening berkerut. Sedikit ini Baekhyun sudah tersenyum dalam hati. Ia yakin sejak tadi Chanyeol hanya berniat menggoda, dan setelah ini pria itu akan mencegah kepergiannya, kemudian menuruti semua keinginannya.

Kendati demikian, Baekhyun tak ingin menunjukkan ekspresi―sedikit―bahagianya di hadapan lelaki itu. Masih dengan posisi tubuh yang membelakangi Chanyeol, Baekhyun berdeham pelan sebelum menjawab panggilan lelaki itu.

"Apa?!" Suaranya dibuat segahar dan sekasar yang ia bisa. Berusaha untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar kesal dengan pria itu.

Ekor mata Baekhyun tergoda untuk melirik ke belakang, setelah ia mendengar derap langkah kaki yang kian mendekat padanya. Siapa lagi kalau bukan Chanyeol.

Baekhyun pun memutar posisi tubuh untuk menghadap lelaki itu, ketika ia rasa langkah kaki yang ia dengar telah berhenti tepat di belakangnya.

Chanyeol masih nampak santai, tanpa melepas senyum idiot yang terus terpatri di bibirnya.

"Aku sarankan kau membeli sebuah kamus sebelum melakukan 'wisata'mu. Kita berada di Madrid, bukan di Seoul atau pun Bucheon." Kelakar pria itu. Chanyeol kembali mengedipkan sebelah mata, menggoda istrinya yang sejak tadi marah-marah tidak keruan kepadanya.

Ha.

Rahang Baekhyun sukses jatuh secara tidak elit. Ia pikir lelaki itu akan mencegahnya, atau paling tidak menghentikan segala aksinya yang dapat memancing emosi Baekhyun. Nyatanya pria itu justru semakin membuat tubuhnya dikelilingi oleh aura kelam.

"Che." Baekhyun berdecih kemudian mempoutkan bibir yang justru terlihat lucu dan menggemaskan di mata Chanyeol.

Wanita itu benar-benar melaksanakan niatnya keluar dari ruang apartemen untuk sekedar menghirup udara segar yang tidak terkontaminasi dengan seonggok makhluk yang bernama Chanyeol.

Sepanjang lorong apartemen yang ia lalui tutur dari wanita itu terus melancarkan gerutuan. Chanyeol yang mengamatinya dari ambang pintu ruang apartemen yang ia tempati hanya terkekeh geli. Sedikit ini rasa penatnya telah menghilang dikarenakan melihat tingkah Baekhyun yang sedang marah-marah seperti itu terkadang jatuhnya menjadi menggemaskan.

"Selamat mencari, Baekhyun!" teriak Chanyeol ketika matanya masih bisa menangkap keberadaan punggung wanita itu.

"Ndeeee." Sahut Baekhyun―dengan teriakan pula―seraya mengibas-ngibaskan tangannya dan terus berjalan menjauh.

"Ah, Baekhyun," Dua buah gelengan tercipta dari kepala Chanyeol. "Kenapa lucu sekali jika marah-marah seperti itu ," tanpa sadar Chanyeol tersenyum malu.

"Dasar nona keras kepala. Lihat saja seberapa lama dia akan bertahan diluar sana. Aku berani bertaruh dia akan kembali kemari dalam kurun waktu kurang dari dua jam." Ujarnya setelah masuk ke dalam dan menutup pintu kamar apartemennya.

-ooOoo-

Terhitung sudah hampir enam puluh menit Baekhyun berjalan mondar-mandir penuh kegelisahan―bagai setrika yang menggilas baju kusut―di lobby apartemen itu. Ia jengkel, atau lebih tepatnya kini di dominasi oleh rasa bingung yang membuatnya tampak seperti keledai dungu di tengah kerumunan. Ya, Baekhyun benar-benar merasa asing dengan negara yang baru di datanginya ini.

Telinganya benar-benar terasa pengang ketika menangkap gelombang suara orang-orang di sekitarnya yang bercuap-cuap tidak jelas mengalahkan burung beo. Dalam arti mereka semua bercakap satu sama lain menggunakan bahasa asing―Spanyol―yang sama sekali tidak masuk ke dalam penguasaannya.

Tak jarang pula beberapa makhluk Adam yang bertubuh gempal dan memiliki warna kulit gelap mencoba untuk menyapa Baekhyun. Baekhyun yang saat itu tengah dilanda rasa panik dan kebingungan pun justru semakin takut dan berusaha menghindari orang-orang itu.

Ia heran. Sebenarnya orang-orang itu diberi asupan makanan seperti apa saat kecil sehingga membuat mereka tumbuh bagaikan algojo yang menyeramkan. Heol, tubuhnya yang kecil nan mungil ini tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka semua.

"Puedo ayudarle, senorita?"

Di tengah acara melamunnya Baekhyun dikejutkan dengan suara orang―yang entah sejak kapan―sudah berdiri di depannya hingga membuat wanita itu nyaris terjungkal ke belakang jika saja dia tidak memiliki keseimbangan tubuh yang baik.

Baekhyun pun menggaruk-garuk tengkuk, seraya menatap ngeri pada orang yang baru saja menyapanya.

"Ye? No no… Hush hush, menjauhlah." Baekhyun mengusir orang itu layaknya seekor ayam.

Yang diajak berbicara pun mengerutkan alis dalam. Sama-sama tidak mengerti apa yang barusan diucapkan oleh Baekhyun. Dan tampangnya yang sedang berpikir keras seperti saat ini justru membuat Baekhyun kian ketakutan.

Maka dari itu Baekhyun segera mengambil langkah seribu untuk menjauh dari orang asing yang menakutkan itu. Siapa sangka, orang asing itu justru membuntuti Baekhyun dari belakang. Tak tanggung-tanggung, Baekhyun yang didera rasa panik dan jengkel sekaligus terpaksa harus berlari menggunakan sepatu tingginya untuk meloloskan diri dari orang itu.

Di tengah kegiatan kejar-mengejarnya, Baekhyun tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah khusus untuk Chanyeol sebagai penyebab semua kesialan yang ia alami hari ini.

"Terkutuklah kau, Park Chanyeol."

-ooOoo-

Setelah membereskan segala tetek bengek perlengkapan yang ia bawa dan menuntaskan kegiatan mandinya untuk menyegarkan badan, Chanyeol bergegas merebahkan tubuh pada kasur berukuran king size yang disediakan pihak apartemen.

Tubuhnya kini telah terbungkus dengan kaos oblong polos berwarna hitam dipadu padankan dengan celana pendek berbahan poly cotton yang membungkus kakinya hingga sebatas lutut. Chanyeol menyamankan posisi tubuhnya dengan bersandar pada kepala ranjang―yang sebelumnya sudah ia lengkapi dengan bantal―untuk tempat menaruh kepala.

Jika kalian sempat berpikir bahwa Chanyeol akan tidur, maka tebakan kalian salah. Sebab di tangannya kini tergenggam sebuah macbook berwarna putih yang ia gunakan khusus untuk mengelola masalah pekerjaan. Tak lupa sebelumnya ia telah mengenakan kacamata baca yang ia gunakan sehari-hari dalam menunjang segala aktivitasnya.

Setelah Chanyeol menghidupkan macbook itu ia segera login pada aplikasi email yang tertera pada layar utama. Terdapat beberapa email yang terkirim pada kotak masuknya baik dari kalangan karyawan maupun koleganya dalam berbisinis. Selebihnya hanyalah email dari akun sosial media untuk verifikasi akun dan situs toko online yang tidak begitu penting.

BRAK!

Jantung Chanyeol hampir melompat keluar dari sangkarnya ketika ia mendengar suara gebrakan yang bisa dibilang cukup nyaring dari arah depan. Apalagi kalau bukan suara pintu yang dibanting.

Tak cukup sampai disitu. Indra pendengarannya kembali dibuat pengang dengan suara berisik yang tercipta dari ketukan high heels Baekhyun yang sepertinya sengaja dihentak-hentakkan oleh pemiliknya dari arah dapur.

BRAK!

Lagi, suara gaduh kembali terdengar. Chanyeol hanya bisa geleng-geleng kepala menaggapi sikap brutal istrinya itu. Bisa Chanyeol tebak, benda yang baru saja menjadi korban keganasan istrinya adalah sebuah gelas yang dihempas keras jika mendengar dari suaranya yang terkesan berdenting.

Baekhyun sendiri kini masih berusaha menetralkan deru napasnya yang memburu. Pada dagunya masih tersisa buliran-buliran air bening yang barusan ia minum secara asal. Mukanya merah padam, dahinya pun berhiaskan peluh yang hampir meleleh di pipinya.

Tak perlu berlari terlalu jauh, untung saja ia bisa mencari lift terdekat, dan tombol dari lift itu ia tekan segesit yang ia bisa sebelum pria yang mengejarnya berhasil memasuki lift tersebut.

Tapi tetap saja, berlari dengan jarak sependek apapun jika kau tengah 'mengantongi' sebuah nyawa lain yang ada di perutmu tetap menyebabkan rasa lelah yang tak main-main.

Dengan wajah bersungut-sungut, Baekhyun memasuki kamar satu-satunya yang ada di ruang apartemen itu.

"Oh, kau kembali?" tanya Chanyeol sarkastis dengan alis yang terangkat sebelah ketika Baekhyun muncul di ambang pintu.

Baekhyun tak menanggapi ocehan pria itu. Ia bergegas melepas sepatunya dan melemparnya secara sembarangan sebelum kemudian mengobrak-abrik isi kopernya untuk mengambil beberapa potong pakaian.

Masih dalam mode marahnya, Baekhyun segera masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan tatapan aneh yang dilayangkan oleh Chanyeol padanya.

Si suami pun tak ambil pusing. Ia mengangkat kedua bahu acuh kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.

-ooOoo-

Beberapa menit kemudian, Baekhyun telah menyelesaikan aktivitas mandinya dan keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang masih basah. Sialnya, Baekhyun lupa untuk memasukkan sebuah hairdyer ke dalam koper. Maka dengan terpaksa ia mengusak-usak rambutnya menggunakan handuk supaya cepat kering.

Atensi Chanyeol sukses teralihkan dari macbook yang ia genggam kepada makhluk―ehem―seksi yang ada di depannya. Walaupun sudah menikah, ternyata kebiasaan Baekhyun dalam berpakaian masih belum berubah seperti saat ia masih menjadi 'primadona'.

Bayangkan saja, wanita itu hanya mengenakan sebuah t-shirt longgar berwarna navy―yang acap kali melorot memamerkan bahu mulusnya. Panjang dari t-shirt itu pun hanya mencapai batas paha, hingga Chanyeol yang entah kebetulan atau memang sedang beruntung bisa mendapat pemandangan berupa celana dalam renda berwarna merah yang mengintip dari balik t-shirtnya ketika wanita itu berjalan atau pun mengangkat tangan.

'Oh, sayang. Jika kau ingin menjauh dari mara bahaya yang mengancam sebaiknya kau memakai baju perang yang lebih sopan.' Ucap Chanyeol dalam hati.

Sekali lagi ku tekankan, Chanyeol itu tidak bejad. Ia hanya sedikit mesum. Lelaki mana yang tidak akan ereksi ketika dipamerkan sebuah pemandangan indah secara langsung tepat di hadapan mata?

Baekhyun pun melangkah ragu-ragu mendekati kasur yang kini ditempati oleh Chanyeol.

"Ehem." Chanyeol berdeham, dan bergerak-gerak gelisah dalam duduknya.

Entah kenapa, atmosfer yang ada di sekitarnya mendadak terasa panas, hingga membuatnya harus meneguk ludah secara susah payah.

Karena di dalam kamar itu hanya tersedia satu ranjang, dan tidak ada sofa yang tersedia, maka mau tidak mau Baekhyun kali ini memang harus tidur satu ranjang bersama Chanyeol. Baekhyun pun sebenarnya merasakan gugup yang sama, karena ini pertama kalinya ia tidur satu ranjang dengan pria itu―yang entah kenapa terasa sangat berbeda dengan para pria yang pernah tidur bersamanya. Well, Baekhyun menganggap ini sebagai pertama kalinya karena Baekhyun tidak menyadari saat itu Chanyeol pernah menemaninya tidur ketika ia pingsan.

"Jangan sekalipun kau berpikir kau bisa menyentuhku." Ucap Baekhyun seraya masih asik dengan kegiatan mengusak rambutnya.

Chanyeol mendelik, kemudian pura-pura menatap macbooknya kembali.

"Kau terlalu berharap." Sahut Chanyeol santai tanpa sekalipun melepaskan pandangannya dari macbook yang ia genggam. Padahal sejujurnya ia berusaha susah payah untuk tidak melirik pada wanita yang kini berdiri di tepi ranjang.

Merasa ditolak, harga diri Baekhyun seperti diinjak-injak jika dilihat dari kalimat Chanyeol barusan. Seumur-umur belum pernah ada pria yang berani menolaknya secara terang-terangan seperti apa yang dilakukan oleh Chanyeol kepadanya.

Baekhyun kembali menggeram, "Kau harus tetap berada di posisimu. Atau aku akan memotong kedua bola kembarmu. Kau paham?!" gertak Baekhyun seraya melempar pandangan menghunus pada area vital Chanyeol yang tertutupi celana.

Baekhyun berkacak pinggang, raut wajahnya pun menggambarkan sebuah ancaman yang teramat jelas.

Sedangkan Chanyeol sendiri melotot horror, kemudian bergidik ngeri ketika membayangkan jika Baekhyun benar-benar melakukan tindakan kriminal pada 'bola' kembarnya. Tidak ingin memperpanjang masalah, akhirnya Chanyeol menjawab,

"Ye, algeseumnida." Ucapnya seakan Baekhyun adalah atasannya.

Setelah melempar handuk yang ia pakai secara asal ke dalam keranjang pakaian kotor, Baekhyun segera merangkak menaiki ranjang, kemudian menenggelamkan tubuh mungilnya ke dalam selimut hingga menyisakan kepalanya yang menyembul di luar benda hangat itu.

Tubuhnya ia putar menghadap kanan. Membelakangi Chanyeol yang kini tanpa segan memandang ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Lagi, ia meneguk ludah secara kasar.

Apakah makhluk yang tengah berbaring di sebelahnya ini adalah manusia? Sebab Chanyeol merasa kini ia seperti memelihara seekor kucing liar, yang sedang gencar-gencarnya hobby menunjukkan cakar berikut taringnya untuk menarik perhatian lawan.

PLAK

Chanyeol menepuk keningnya sendiri, karena otaknya yang korslet memikirkan hal yang tidak-tidak.

"Ah, apa yang sudah aku pikirkan. Konsentrasi Yeol, konsentrasi." Monolognya seraya geleng-geleng kepala kemudian kembali memusatkan perhatian pada macbooknya.

-ooOoo-

"Daddy!"

Sesosok bayi raksasa―yang entah berasal dari mana―dengan sebuah popok yang menggantung di pinggulnya berlari ke arah Chanyeol yang kini tengah panik melarikan diri. Napas lelaki dewasa itu terengah-engah, sesekali menengok ke belakang merasa heran bagaimana bisa ia dikejar oleh sosok bayi raksasa itu.

Seluruh benda-benda yang ada di sekitarnya pun nampak berguncang. Yang disebabkan oleh setiap kali kaki-kaki dari bayi raksasa itu menginjak bumi dengan hentakan-hentakan yang keras.

"Kau… Hhh… Hhh.." napas Chanyeol kian memburu, pada dahinya telah dibanjiri oleh beberapa bulir peluh yang membuat tubuhnya gerah dan kepanasan.

"Kau! Menjauh sana…. Hush… Hush.." Chanyeol berteriak sembari mengibas-ngibaskan tangan untuk mengusir bayi raksasa itu. Tungkainya yang panjang melancarkan langkah seribu untuk menghindari terkaman sosok bayi raksasa yang tak henti mengejarnya.

Chanyeol kelabakan, hampir putus asa. Entah kenapa jalan yang ia lalui tak berujung, seolah ia tak pernah memindahkan kakinya satu jangkah pun. Ia terus berlari dan berlari menghindari kejaran bayi raksasa yang kini meneteskan air liur dari mulutnya itu.

Mata pria dewasa itu melotot lebar, ketika sosok bayi yang mengejarnya semakin mempersempit jarak diantara mereka hingga ia hampir tertangkap. Tidak ada hal lain yang bisa dipikirkan oleh Chanyeol selain meloloskan diri dari kejaran bayi raksasa itu.

HAP

"Aku mendapatkanmu, Daddy." Ujar si bayi raksasa sembari cekikikan khas anak kecil dengan posisi melilit tubuh Chanyeol di dalam kungkungan tangan besarnya.

Chanyeol bergerak-gerak gelisah. Mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa bebas dari kungkungan bayi itu. Namun apalah daya yang terjadi kini cengkraman si bayi justru begitu kuat hingga membuatnya benar-benar putus asa.

"Hei, turunkan aku. Aku janji selepas kau membebabaskanku kita akan bermain." Pujuk Chanyeol dengan raut wajah semelas mungkin.

Si bayi mengeleng-gelengkan kepalanya kelewat bersemangat yang membuat air liurnya berhamburan ke segala penjuru―dan bahkan juga menyiprati sebagian wajah Chanyeol.

Sebuah perempatan imajiner tercipta di dahi Chanyeol ketika ia melihat kepala si bayi yang tiba-tiba saja berubah menjadi kepala―Baekhyun?!

Chanyeol tercengang, tentu saja. Ia tak mengerti sebenarnya makhluk apa yang kini tengah di hadapinya.

Sosok bayi berkepala Baekhyun itu menyeringai, kemudian berujar,

"Saatnya memotong bola kembarmu, idiot."

Chanyeol membelalak kemudian terkejut bukan main ketika di tangan bayi itu telah tergenggam sebuah gunting yang kini diarahkan pada organ vitalnya. Dan ketika Chanyeol memejamkan mata tiba-tiba―

"Ti… Tidak tidak! TIDAAAK!"

-ooOoo-

Chanyeol terbangun dari mimpi buruknya yang baru saja ia alami. Matanya mengerjap beberapa kali, menebar pandangan pada seluruh objek yang kini berada di kamar barunya.

Napasnya masih terlihat jelas memburu, bulir-bulir peluh yang berjatuhan dari dahinya mulai meleleh hingga menggantung pada dagu lancip pria tampan itu. Sial, Chanyeol mengumpat dalam hati. Ternyata kegiatan kejar-mengejarnya di dalam mimpi juga memberikan efek yang begitu terasa di dunia nyatanya.

Chanyeol bingung, sibuk berpikir keras apa maksud dari mimpi yang ia alami barusan. Apakah… bayi di dalam mimpinya itu adalah anaknya? Tapi… kenapa sangat mengerikan ketika bayi itu mengejarnya?

Yeah, barangkali Chanyeol terkena karma karena beberapa saat yang lalu ia juga telah membuat Baekhyun berlari kepanikan ketika dikejar oleh seseorang asing yang tidak dikenal.

Sedikit ini napas Chanyeol sudah mulai teratur, tidak lagi megap-megap seperti ketika ia baru saja membuka mata. Dan ketika ia hendak menggerakkan tubuhnya untuk berpindah posisi, barulah Chanyeol menyadari sesuatu yang ganjil. Tubuhnya terasa kaku seakan terbelenggu.

Dan benar saja. Sebab saat ini Baekhyun yang tidur di sampingnya tengah memeluknya erat atau lebih tepatnya membelit tubuh Chanyeol menggunakan tangan berikut kakinya seakan Chanyeol adalah sebuah guling yang nyaman untuk dipeluk.

Wanita itu nampak lelap dalam tidurnya. Wajahnya yang damai dengan napas yang berhembus teratur menandakan jika Baekhyun sama sekali tidak terusik oleh jeritan Chanyeol beberapa saat yang lalu karena mimpi buruknya.

Dan―hell. Maka tak heran jika Chanyeol mengalami mimpi buruk seperti tadi, jika posisinya seperti ini. Karena merasa pengap dan sesak, Chanyeol pun berusaha untuk melepaskan tangannya dari lilitan Baekhyun. Namun kungkungan Baekhyun benar-benar memenjarakannya, hingga hanya jarinya saja yang bisa ia gerakkan.

Chanyeol masih belum 'angkat tangan'. Lelaki itu kembali mencoba menggerakkan tangannya supaya bisa terlepas dari pelukan Baekhyun. Ditengah kegiatannya yang sibuk untuk melepaskan diri, tiba-tiba tangannya mendarat pada suatu bongkahan permukaan yang lembut.

'Hem? Apa ini?' batinnya.

Kelima jari besar Chanyeol kini terbenam ke dalam sesuatu yang amat lembut dan kenyal. Tak bisa dihindari tangan Chanyeol benar-benar gatal untuk meremas permukaan yang lembut tersebut.

'Bulat, kenyal, lembut dan halus. Hemm sempurna'

Chanyeol terus meneruskan kegiatannya hingga tanpa sadar ia sudah membangunkan seekor singa yang tengah terlelap di sampingnya.

"Ehem!" Tepat sekali. Siapa lagi kalau bukan suara Bekhyun.

Wanita itu kini mendelik tajam kepada Chanyeol yang menampilkan raut muka syok sekaligus kelimpungan akibat menyadari apa yang baru saja ia perbuat. Dengan buru-buru Chanyeol menjauhkan tangannya dari bokong Baekhyun yang barusan menjadi korban remasan tangannya.

"A―aku tidak! A―aku ti―tidak melakukan apa-apa!" Kilah lelaki itu dengan pelafalan yang tersendat-sendat.

Kemudian Chanyeol cepat-cepat menjauh dari Baekhyun ketika ia rasa aura dari wanita itu sungguh tidak bersahabat.

Baekhyun hanya bergeming, tak berniat mengeluarkan suara sedikitpun. Delikan tajamnya berpindah dari mata Chanyeol menuju area vital lelaki itu yang masih tertutupi celana. Chanyeol yang menyadari sinyal bahaya yang terpancar kuat dari istrinya itu, buru-buru menggiring tangannya untuk melindungi 'benda pusaka'nya yang sedari tadi sudah menjadi incaran mata tajam Baekhyun.

"A―apa yang kau lihat?!"

Tangan Baekhyun sudah bergerak terangkat, Chanyeol semakin menutupi area vitalnya supaya terhindar dari serangan Baekhyun. Dan akhirnya―

PLAK!

Oh, sial. Chanyeol salah perkiraan. Ia melupakan pipinya yang kini sudah memerah panas sebab menjadi korban tamparan Baekhyun barusan.

-ooOoo-

Chanyeol dan Baekhyun masih sama-sama terdiam setelah kejadian insiden yang terjadi di antara mereka. Suasana berubah menjadi luar biasa awkward karena tak ada satu pun dari mereka yang mau membuka mulut terlebih dahulu.

Chanyeol masih sibuk mengelus-elus pipinya yang terasa panas. Sedangkan Baekhyun duduk bersandar pada kepala ranjang dengan bersidekap dan pandangan yang lurus ke depan. Sesekali Chanyeol menoleh pada wanita itu namun tetap saja tidak ada pergerakan apapun dari istrinya.

Hanya suara detakan detik demi detik dari jarum panjang jam dinding yang terpasang di ruangan itulah yang menjadi melodi pengiring kebisuan yang menyiksa.

Di luar pun masih nampak gelap, karena waktu setempat masih menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit pagi hari.

"Hhh… baiklah," Chanyeol mulai membuka suara. "Kau tau, Baek? Yang menjadi korban disini bukan hanya dirimu. Aku pun juga seperti itu." Keluh Chanyeol yang sukses membuat kepala wanita itu menoleh secepat kilat tanpa takut kalau-kalau lehernya akan patah.

"Kau? Menjadi korban? Yang benar saja!" Baekhyun memprotes. "Kalaupun kau memang benar-benar telah merasa menjadi korban atas tindakanku, setidaknya aku tidak menggerayangi tubuhmu dan melakukan gerakan asusila kepadamu." Timpalnya.

Mata Chanyeol melotot lebar. "Asusila? Apa kau bercanda? Aku hanya mencolek pantatmu sedikit saja, tanpa gerakan tambahan apapun!" Bohong.

Baekhyun menghembuskan napas kasar. "Dengar, aku bisa mengambil foto tentang cetakan tanganmu pada pantatku," Ada jeda sesaat. "Dan bisa ku pastikan, itu bukanlah hanya sebuah colekan seperti yang kau bilang, tapi sudah nyaris menuju sebuah remasan."

"Huh?" Chanyeol mengangkat sebelah alis. "Kalau begitu kau juga telah melakukan sebuah tindakan asusila padaku." Ujarnya membela diri.

"Aku?" Baekhyun mengarahkan jari telunjuknya pada dirinya sendiri. "Omong kosong. Kau bahkan tidak memiliki bukti yang cukup kuat atas tuduhanmu kepadaku."

Chanyeol meringis, dengan tangan yang masih mengusap-usap pipi. "Kau ingin bukti?" tanyanya yang membuat Baekhyun menganggukkan kepala mantap. "Aku bisa menunjukkan kepada dokter lebam yang tercetak pada lengan dan pahaku saat tangan dan kakimu melilitku untuk dijadikan visum!" Chanyeol ikut mendelik, "Terdapat indikasi disana yang menyatakan bahwa itu adalah sebuah perbuatan asusila karena aku tidak pernah menyuruhmu untuk memelukku."

Chanyeol menyilangkan lengannya di depan dada, memasang tampang sebal sekaligus melas, berusaha menunjukkan sekuat mungkin bahwa dia adalah pihak yang teraniaya. Belum lagi pipinya yang masih berdenyut ngilu akibat tamparan dari Baekhyun yang bisa dibilang tidaklah pelan.

"Ck," Baekhyun berdecak. "Kau itu banya―emph!" Baekhyun membekap mulutnya menggunakan kedua tangan. Ia sempat menatap nyalang pada Chanyeol sebelum menggiring tubuhnya terburu-buru menuju kamar mandi.

"Hey! Kau kenapa?" Chanyeol yang kebingungan pun ikut beranjak dari ranjang kemudian berjalan tergesa menyusul Baekhyun yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.

"Hoeekk!" Baekhyun terduduk lemas di depan closet. Berusaha mengeluarkan seluruh isi dari perutnya yang terasa bergejolak.

Chanyeol yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi pun merasa tidak tega, kemudian berniat menghampiri wanita itu dan mendekat padanya.

Tanpa diperintahkan oleh siapapun, inisiatif Chanyeol menarik rambut panjang Baekhyun yang kusut dan menjuntai di dekat wajahnya, kemudian ia gulung helaian-helaian rambut itu ke atas suapaya Baekhyun bisa lebih leluasa.

Satu tangan Chanyeol yang masih menganggur pun dimanfaatkan oleh pemiliknya untuk mengusap-ngusap punggung Baekhyun―bermaksud untuk meradakan rasa sakit yang didera oleh Baekhyun.

"Kita harus ke rumah sakit, Baek." Saran Chanyeol pada istrinya.

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya keras. Ekspresinya terlihat tersiksa dengan muka yang mengkerut dalam. Beberapa detik kemudian wanita itu kembali memuntahkan isi perutnya.

"Hoeekk!" Kali ini lebih banyak daripada yang tadi.

"Tapi kau terus muntah, Baek." Chanyeol belum menyerah. Ia masih memberikan sugesti pada Baekhyun supaya wanita itu mau dibawa ke rumah sakit.

Karena Chanyeol terlalu banyak omong, Baekhyun mendorong kuat pria itu untuk menjauh dan ia kembali mendekatkan kepalanya pada mulut closet.

"Hoekk!"

Chanyeol terhenyak. Kenapa Baekhyun malah menghindarinya?

"Hey, kenapa kau mendorongku? Aku hanya mencoba untuk membantumu disini. Kalau kau memang tak setuju dengan usulku kau cukup mengatakannya baik-baik."

Rasanya Baekhyun ingin menyumpal mulut Chanyeol dengan muntahannya barusan. Wanita itu mendelik sesaat kemudian kembali menghindari tatapan Chanyeol.

"Aku sedang sibuk mengeluarkan isi perutku disini! Bisakah kau membantuku dalam diam saja?"

Untunglah sekarang Baekhyun sudah berhenti muntah. Ia berusaha untuk berdiri tegak dan berjalan dengan gontai menuju wastafel. Tak ayal langkah gontai itu hampir saja membuat Baekhyun terjatuh.

"Maaf." Dengan sigap Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun dan menggiring wanita itu menuju wastafel untuk mencuci mulutnya.

Dengan telaten Chanyeol juga ikut membersihkan mulut Baekhyun yang kotor bekas muntahan.

"Bawa aku ke tempat tidur." Pinta Baekhyun setelah menyelesaikan kegiatannya mencuci mulut.

"Apa kau yakin tidak ingin aku antar ke rumah sakit?" Tanya Chanyeol sekali lagi.

Baekhyun sudah merasa lemas, maka ia hanya menjawab. "Please, Yeol. Aku hanya minta kau membawaku ke tempat tidur."

Chanyeol menghembuskan napas pelan, kemudian ia menggendong tubuh Baekhyun ala bridal style menuju tempat tidur. Direbahkannya tubuh mungil itu diatas ranjang kemudian Chanyeol menyelimuti tubuh istrinya hingga menutupi sebatas dagu wanita itu.

Dengan penuh kelembutan Chanyeol mengusap dahi Baekhyun yang sudah bersimbah peluh menggunakan punggung tangannya dan merapikan beberapa helai rambut anak Baekhyun yang tampak berserakan di dahi wanita itu.

"Apa kau selalu mengalami ini setiap pagi?" tanya Chanyeol sembari terus mengelap keringat yang membasahi wajah Baekhyun.

"Hemm." Baekhyun bergumam seraya membuat perutnya untuk serileks mungkin yang masih terasa bergejolak tak keruan.

Mendengar suara Baekhyun yang begitu lemah memunculkan sebuah rasa bersalah pada diri Chanyeol. Yang ada di pikirannya, pastilah Baekhyun setiap pagi harus mengalami penderitaan seperti ini tanpa ada siapapun yang mendampinginya. Terlebih ketika wanita itu belum menikah dengannya. Chanyeol meringis ketika memikirkan hal itu.

"Maaf. Aku tidak bisa sering berada di dekatmu ketika kau mengalami ini." Chanyeol dengan tulus meminta maaf kepada Baekhyun.

Lelaki itu merangkak naik ke atas kasur, kemudian memeluk tubuh Baekhyun yang terasa lembab oleh keringat.

"Maaf atas ketakutan yang kau alami ketika pertama kali mengetahui hal ini."

Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun.

"Maaf karena telah membiarkanmu mengalami hal ini sendirian. Aku minta maaf."

Baekhyun menangis di dada Chanyeol. Jika ia mengingat tentang dirinya yang kini sudah sebatang kara semenjak ditinggalkan oleh neneknya, maka hal itu pasti akan membuatnya mengeluarkan air mata. Rasa takut dan sakit yang dialaminya begitu mencekam. Tak ada tempat berbagi untuk melepas ketakutannya selama ini.

Karena ia sebatang kara, berpijak dengan kedua kakinya tanpa ada siapapun yang menopangnya. Semua itu ia pikul di pundaknya sendiri.

Baekhyun menangis tersedu sedan. Inilah sisi lain dari Baekhyun yang tidak disukai oleh Chanyeol. Bukan tidak suka dalam artian negatif. Walaupun wanita itu memang sering marah dan terkadang menunjukkan sikap angkuhnya, sebenarnya ia mempunyai hati yang amat rapuh. Ada satu titik terdalam di hati Chanyeol, yang juga akan terasa pilu jika melihat wanita itu menangis seperti sekarang. Sayangnya, Chanyeol sama sekali belum menyadari hal itu.

Chanyeol kembali mengusap-usap punggung Baekhyun dengan lembut, mencoba untuk menenangkan istrinya itu supaya berhenti menangis.

Karena Baekhyun tak henti menangis, Chanyeol pun melepas pelukannya dan tangannya bergerak untuk menangkup pipi wanita itu.

Baekhyun menengadahkan wajahnya yang basah oleh air mata untuk menatap Chanyeol. Chanyeol tersenyum lembut, kemudian mengecup sepasang kelopak mata Baekhyun yang tertutup, dan berlanjut turun mencium pipinya yang basah.

"Sshh… Uljima… Uljima…" Chanyeol mengarahkan telunjuknya pada mulut Baekhyun. "Jangan menangis lagi, hm? Karena sekarang kau tidak sendirian lagi, Baek."

Baekhyun mengerjap-ngerjapkan mata, menyimak setiap pergerakan mulut Chanyeol yang bergerak dengan hikmad.

Chanyeol kecup bibir mungil Baekhyun beberapa detik hingga tanpa sadar kedua orang itu sama-sama memejamkan mata. Menikmati momen manis yang terjadi secara naluriah tanpa gangguan dari siapapun.

Sedikit demi sedikit Chanyeol menggerakkan mulutnya untuk menyecap belahan daging kenyal nan lembut itu. Baekhyun sendiri hanya menjadi pihak pasif yang menerima segala perlakuan Chanyeol pada bibirnya. Menikmati setiap inci bibir tebal yang menyapu setiap sisi bibir mungilnya.

Sebagai penutupan Chanyeol mengakhiri ciuman itu dengan kecupan panjang. Memang tak sepanas jika beperang lidah, namun rasanya ciuman itu tetap membuat jiwanya melayang entah kemana.

Ketika ia membuka mata, hal yang sama pun dilakukan oleh Baekhyun. Chanyeol bisa melihat rona merah jambu yang menghiasi pipi tembam wanita yang ada di depannya ini. Dan itu terlihat menggemaskan, membuat Chanyeol mati-matian harus menahan hasratnya untuk tidak memakan Baekhyun sekarang.

"Kau tidak perlu takut lagi. Karena sekarang ada aku, dan anak kita," Chanyeol tersenyum seraya mengusap-usap lembut perut Baekhyun. "Kami selalu ada di sisimu, sampai kapanpun." Ujarnya mengakhiri kalimat penenang itu.

Baekhyun pun menganggukkan kepalanya pelan, yang mengundang senyum bahagia di sudut bibir Chanyeol. Chanyeol kembali merengkuh Baekhyun ke dalam pelukannya, dan mengecup kening wanita itu sekali lagi dengan kasih sayang hingga Baekhyun kembali memejamkan mata.

.

To Be Continue


[A/N] :

Dumb dumb dumb-_- So, udah berapa lama aku nggak update ni FF? Hampir satu bulan! /dilempar granat/ dan sekalinya update aku malah ngasih chap nggak mutu kaya gini behahaha! /dibom beneran/

Awalnya aku udah janjian mau update jamaah bareng author-author lain―siapa-siapa saja authornya pasti kalian udah tau―malam minggu yang lalu. Tapi karena waktu sorenya aku mendadak dapet kabar duka dari salah satu kerabat, dengan terpaksa FF ini updatenya ditunda dulu :'( Maapin aim ya '-'

Yang request NC silahkan koprol karena suatu saat bakal aing kabulin. Tapi di chap berapanya masih belom tau. Ngalir aja ya kan, sambil nungguin otak mesum gue dapet ilham wqwqwq /dicekek/

Dan, demi kenyamanan mulai sekarang panggil aku 'Mut, Muti atau Cimut' aja terserah deh bebas pilih. Asalkan jangan 'thor' please. Muti a.k.a Cimut ini gak jonthor oy ._.

Sekian cuap-cuap Mut yg sama sekali nggak penting ini. Palingan juga nggak ada yg baca /mbatin: syaland gue dicuekin/

P.S : Special update with SilvieVienoy, Pupuputri, Myka Reien, Park Ayoung, Aeri Channie, Baekhyeol jangan lupa serbu lapaknya juga ya!^^~


Spesial thanks to reviewer:

choi96 ǁ parkchanchan ǁ ohh ahh umh oh ah yeh ǁ lee ana ki ǁ elfvilkyu ǁ Kimkimkim ǁ azurradeva ǁ Meli Channie ǁ acc94 ǁ rere ǁ itsxoxodiyo ǁ yousee ǁ parkobyunxo ǁ PeppermintSugar ǁ NaomiRB ǁ LittleJasmine2 ǁ bbhyun92 ǁ raeheepark9204 ǁ aizahputri ǁ Shengmin137 ǁ narsih. hamdan ǁ ssuhoshnet ǁ hunnaxxx ǁ chanbaekus ǁ DBSJYJ ǁ chanhyun0506 ǁ Ao no Yuri ǁ mrsbunnybyun ǁ TKsit ǁ Magnae Loop ǁ nina ǁ fvirliani614 ǁ Guest(1) ǁ RufEXO DICKtator ǁ sehunshit94 ǁ Fairoza husnia adiba ǁ Baeks06 ǁ AsMul ǁ asdfghjkyu ǁ Chanbaekhunlove ǁ LQ ǁ ByunJaehyunee ǁ yyawda ǁ Byun Sehyun ǁ Tak Secantik Baekhyun ǁ ChanBMine ǁ ieznha. azmaulhaq ǁ EXOLovEXO ǁ Tiffany363 ǁ parkbyunCBKHKHnHS ǁ BabyByunie ǁ sshinerlight ǁ pcyyeoja ǁ rly ǁ wac00g ǁ rizkaa ǁ GHanChan ǁ Yeolisbaek ǁ Guest(2) ǁ yeolshiii ǁ Natania ǁ fairylovess ǁ princesslavender22 ǁ yeolbee61 ǁ FearlessDelight614 ǁ okkiaines ǁ selepy ǁ Hufflesiy ǁ kimgyu ǁ park byun sung ǁ tamu ǁ anaknyachanbaek ǁ Exchan ǁ Guest(3) ǁ rere ǁ Guest(4) ǁ bunny0506 ǁ ravinaseptia2 ǁ sanmayy88

You da real MVP guys!^^