Hola Minna. Ini fic request yang saya buat. Masih gaje sih.

.

DISCLAIMER : TITE KUBO

.

RATE : M (For Save)

.

Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan.

.

Attention : Fic ini adalah request dari Oda Kurosaki(nama yang saya tahu nih...) Fic ini adalah fiksi belaka. apabila ada kesamaan atau kemiripan di dalam fic atau cerita lain dalam bentuk apapun itu adalah tidak disengaja sama sekali .

.

.

.

"Ganti bajumu. Aku tunggu tiga menit!"

Karena diancam dengan pisau yang mengarahnya ke lehernya itu, Rukia tak punya pilihan lain. Orang mencurigakan, dengan pakaian serba hitam, kacamata hitam dan topi hitam ini sama sekali tidak dikenal Rukia. Dia terus menodongkan pisau itu dan memastikan Rukia tidak melakukan hal yang mencurigakan. Bahkan, Rukia disuruh untuk berganti di ruangan itu dengan ditutup oleh pembatas ruangan itu. Pria menyeramkan itu bahkan menyuruh Rukia melemparkan gaun pengantinnya ke arah pria itu. Rukia gak mengerti kenapa.

Setelah Rukia melepaskan semua aksesorisnya dan memakai kemeja kebesaran di tubuh mungilnya itu, Rukia terbelalak kaget.

"Apa yang kau lakukan!" bentak Rukia kesal.

"Diamlah! Aku tidak ingin kasar padamu! Tapi kalau kau mau aku kasar, aku sangat bersedia!" ancamnya lagi.

Kini, Rukia hanya bisa meratapi gaun pengantinya di robek sedemikian kasar oleh pria gila ini. Gaun itu sudah tak berbentuk utuh lagi. Ini hari pernikahannya, hari yang sangat ditunggunya. Tapi kenapa jadi begini?

Pria sadis ini kembali menodongkan pisaunya dan menyuruh Rukia keluar melalui pintu belakang ruangan ini. sialnya keadaan sangat sepi. Mereka melewati pintu belakang dan keluar dari pintu darurat. Sepertinya orang ini tahu seluk beluk hall ini dengan jelas.

Mereka tiba di belakang gedung hall ini. sebuah motor besar berwarna biru metalik terparkir di sana. Sebisa mungkin Rukia mencari kesempatan untuk kabur, tapi pria ini terus menggenggam erat tangan Rukia hingga dirinya terus meringis kesakitan. Pria itu tak peduli kalau tangan Rukia kesakitan digenggam begitu erat. Setiap kali Rukia akan mengeluarkan suaranya, pria itu akan mengacungkan pisaunya dan tak segan-segan menekan mata pisau tajam itu ke lehernya. Tapi, hanya luka gores yang Rukia dapatkan.

Kini, Rukia pasrah dibawa pergi oleh pria tak dikenal ini. Kata-kata bahwa pria gila ini akan menyakiti kekasihnya kalau tidak menurutinya masih terngiang jelas. Bagaimana kalau benar orang ini mau menyakiti Ichigo?

Siapa dia ini?

.

.

*KIN*

.

.

"Sial! Aku terlambat! Pasti Kurosaki bodoh itu akan marah!"

Ishida menggerutu kesal sambil mengemudi menuju hall itu. Ichigo sempat marah padanya karena Ishida tidak bisa datang di hari pertunangannya. Sebenarnya itu juga bukan sengaja. Ishida punya pekerjaan, tentu saja dia harus mengutamakan pekerjaannya dulu. Baru orang lain. Jadi bagaimana bisa Ishida mengabaikannya?

Ketika lampu persimpangan menuju hall itu berubah merah, Ishida menggerutu kesal. Dia sudah terlambat pakai acara dihambat pula! Karena tak mau kena omel pria labu itu―karena biasanya Ishida yang mengomelinya―Ishida mencuri-curi kesempatan untuk memotong lampu merah itu. Lagipula tidak ada polisi. Walaupun ingin jadi warga negara yang baik, tapi kalau kepepet juga pasti melanggar juga kan?

"Kumohon maafkan aku Tuhan, hanya sekali saja," mohon Ishida penuh khidmat. Setelah memastikan keadaan aman, Ishida segera menggeser mobilnya untuk menerobos lampu merah. Tapi sayangnya, ketika mobilnya akan bergeser, dari arah berlawanan muncul motor besar berwarna biru metalik yang berlari kencang. Mobil Ishida nyaris diserempet mobil besar itu. Ishida sudah was-was kalau-kalau motor sialan itu mau menggores mobilnya yang baru dipakainya tiga bulan ini. tapi anehnya, pandangan Ishida malah berfokus pada penumpang yang dibawa pengendara motor itu.

Dia seorang gadis. Yang nyaris terjungkal karena mengerem tiba-tiba itu. Gadis mungil dengan postur yang mirip dengan seseorang yang akan menikah hari ini.

Tapi karena terlalu aneh, Ishida jadi memperhatikannya sampai motor itu benar-benar menghilang. Dan sialnya, lampu lalu lintas itu nyaris berubah jadi kuning!

Setelah mengebut dengan susah payah, akhirnya Ishida sampai juga.

Tapi malangnya, beberapa orang berduyun-duyun keluar dari pintu utama hall itu. Ishida mengangakan mulutnya selebar mungkin. Jangan sampai Ishida kali ini benar-benar terlambat!

"Pengantinnya dibawa kabur? Malang sekali pengantin prianya."

"Kudengar sepertinya diculik."

"Apa ada dendam dengan Direktur Kurosaki itu?"

"Persaingan bisnis? Tapi mana mungkin ya."

Ishida bisa mencium ada yang aneh di sini. Sekilas saat tanpa sengaja mendengar dua pria paruh baya itu lewat dan membicarakan masalah pengantin, Ishida jadi terdiam.

Direktur Kurosaki?

Apa seseorang dengan nama Kurosaki yang juga seorang Direktur ada banyak di Tokyo ini? atau... dia adalah Kurosaki yang dikenal Ishida?

Terlalu bingung, Ishida segera masuk ke dalam hall itu. Dan benar saja. Suasananya sudah berangsur sepi. Tamu undangan satu persatu mulai meninggalkan hall. Bahkan beberapa penjaga gedung juga sibuk ke sana kemari dengan walkie talkie mereka. Hei... apa ini sedang syuting film action begitu?

"Permisi, apa terjadi sesuatu di sini? Bukankah Kurosaki Ichigo dan pasangannya akan melangsungkan pernikahan di sini?" tanya Ishida pada salah satu penjaga itu. Ishida bahkan beberapa kali mencegat penjaga itu agar mendengarkannya.

"Ya, tapi maaf pernikahan sepertinya akan ditunda. Pengantin wanitanya diculik oleh orang tak dikenal."

Diculik? Maksudnya, wanita mungil itu diculik orang? Hah?

Ishida berlari menuju ruang ganti dimana pria labu itu berdiam. Ishida tak habis pikir, bagaimana bisa jadi begini?

Dan untungnya, Ishida berhasil menemukan seorang pria berambut orange yang tampak depresi di ruangan itu sambil meratapi gaun pengantin yang horror itu. Gaun itu sudah hancur karena dirobek sedemikian kasar.

"Kurosaki! Ada apa ini?" Ishida menghampiri pria putus asa itu.

"Grimmjow."

Tanpa mengalihkan pandangannya dari gaun pengantin itu, Ichigo tampak menggumamkan kata itu. Sebuah nama. Nama yang dikenal juga oleh Ishida.

"Grimmjow? Apa maksudmu?"

"Grimmjow, Ishida! Satu-satunya pria gila yang berani menculik Rukia! Orang itu dendam padaku dan dia ingin menyakitiku dengan membawa Rukia! Dia ingin aku menderita karena kehilangan Rukia! Aku harus membunuh orang itu!"

Ichigo bergerak cepat untuk keluar dari ruangan itu. Tak lama kemudian, Ishida teringat dengan sosok gadis yang dia temui di jalan saat itu. Gadis yang mirip dengan... Kuchiki Rukia?

Menyadari hal itu, Ishida segera menghampiri Ichigo.

"Kurosaki! Kurosaki! Dengarkan aku!"

Ishida menjelaskan situasi itu pada Ichigo. Pria itu langsung kalap mendengar penjelasan Rukia. Apalagi saat Ishida mengatakan soal motor. Rukia tidak pernah naik motor! Beraninya pria sialan itu membawa Rukia!

Kini benar-benar tidak ada maaf untuk orang sinting yang berani membangunkan amarah Kurosaki Ichigo. Apalagi sampai menyentuh miliknya yang paling berharga!

"Grimmjow. Kau pasti menyesal telah melakukan ini!" desis Ichigo yang mulai bergerak mencari Rukia ke seluruh Tokyo!

.

.

*KIN*

.

.

Mata Rukia membelalak takut saat pria asing ini membawanya ke sebuah tempat kumuh yang berada di luar kota Tokyo. Rukia ditarik menuju flat sederhana itu. Naik melalui tangga yang kotor itu. Rukia tak pernah tahu ada tempat begini mengerikan di sini. Apalagi dengan flat yang begitu sederhana dan... mengerikan ini. apa benar flat ini layak ditinggali? Bahkan dindingnya hampir keropos seperti ini.

Mereka tiba di lantai tiga. Di pintu flat paling ujung.

Suasana gelap mencengkeram di sini. Karena gedung yang minim cahaya matahari ini, Rukia jadi semakin merinding. Dia seperti berada di dunia lain yang tak dia kenal!

Akhirnya setelah membuka kunci flat itu, Rukia didorong paksa masuk ke sana. Sekali lagi suasana gelap menghantui tempat ini. Rukia benci gelap. Sangat benci!

Pria asing itu mengunci pintu flatnya dan membiarkan Rukia berdiri di sudut ruangan. Lalu dia membukakan jendela dengan teralis besi yang menutupi jendela itu. Kalau begini, dimana Rukia bisa kabur? Samar-samar cahaya matahari mulai masuk menyinari tempat ini.

Dan Rukia semakin ternganga melihat siapa pria yang membawanya ini.

"Ka-kau?" suara Rukia tercekat di kerongkongannya.

"Terkejut? Kuharap begitu," ujarnya datar sambil melepaskan topi dan kacamata hitamnya. Suasana flat ini sangat berantakan. Satu sofa dan TV. Meja rendah. Dapur yang kacau balau. Satu pintu toilet dan satu pintu, kamar sepertinya. Rukia baru sadar udara di flat ini menyiksa pernafasannya. Tempat sempit dan pengap begini dan ditambah dengan bau rokok.

Air mata Rukia mengalir deras. Dia sudah tak sanggup bernafas.

"Pu-pulangkan aku!" ujar Rukia dengan nafas tersengalnya. Rukia memegangi dadanya yang mendadak sesak tak terkendali itu. Kakinya terasa gemetar.

"Pulangkan? Tch! Kalau kau pikir aku membawamu untuk memulangkanmu, kenapa aku harus repot-repot membawamu hah?" kata pria itu cuek.

"A-aku... aku, per-percaya kau b-bukan orang j-jahat. Jadi... pu-pulang-kan... aku..."

Kata-kata Rukia terpecah-pecah karena nafasnya yang tak beraturan ini. sesak sekali. Rukia bisa saja pingsan kapanpun. Tapi dia harus keluar dari sini.

Melihat pria itu lengah, Rukia bergerak cepat menuju pintu keluar itu dan berusaha memutar kunci itu dengan cepat. Rukia bisa keluar dari tempat menyeramkan ini!

BRAAK!

Punggung Rukia terhantam dinding dingin flat ini. Setelah mendorong Rukia dengan kasar, pria berambut biru itu mengunci apartemennya lagi dan memasukkan kuncinya ke dalam saku celananya. Sekali lagi, pria itu mendorong kasar tubuh mungil Rukia dan menekan kedua pergelangan tangan mungilnya di sisi kepalanya. Sekali lagi kaki Rukia berasa lemas sekali. Nafasnya masih terasa putus-putus.

"Dengan Nona! Aku sudah katakan padamu. Aku tidak ingin kasar padamu. Tapi kalau kau memaksaku berbuat kasar, aku akan sangat bersedia. Jadi, kalau kau mau selamat, dengarkan aku! Kau mengerti, bocah!" nafas pria itu menerpa wajah mungilnya. Bau rokok dari mulut pria itu benar-benar terasa di hidung Rukia. Akhirnya, karena tak sanggup lagi, tubuh Rukia merosot. Tapi entah mengapa spontan pria berambut biru ini malah menangkap tubuh mungilnya.

Mata Rukia perlahan memberat. Dia tak sanggup lagi bernafas. Sesak.

"I-Ichi... Ichi-goh..."

Sesaat setelah menggumamkan nama itu, Rukia benar-benar tak sadarkan diri.

"Tch! Kau benar-benar berharga gadis kecil!"

.

.

*KIN*

.

.

Byakuya lebih bersikap tenang dalam menangani masalah adiknya ini. sebisa mungkin bersabar menunggu kabar dari berbagai bantuan yang dikerahkan untuk mencari Kuchiki Rukia di pelosok Tokyo ini. Bahkan sampai media massa pun menyiarkan penculikan calon isteri dari Direktur muda yang tampan ini. Byakuya hanya berharap dengan tersiarnya berita ini di seluruh negeri, orang-orang yang melihatnya bisa membantu menemukan dimana adiknya itu. Padahal, jeda waktu antara kedua adik Kurosaki itu meninggalkan Rukia dan timing Byakuya datang untuk menjemput adiknya itu hanya 10 menit. Begitu cepat orang gila itu membawa adiknya. Dengan kata lain, penculik itu tahu benar seluk beluk gedung itu dan sudah merencanakan penculikan ini dengan rapi.

Dan sekarang, tinggal pria berambut orange yang tampak depresi itu.

"Kurosaki, apa kau tahu kenapa ini bisa terjadi?"

Ishida masih menemani Ichigo yang berada di kediaman Kuchiki untuk menunggu kabar dari berbagai pihak yang diminta bantuan itu. Walau berwajah dingin dan cuek, tapi tak bisa dipungkiri kalau bangsawan Kuchiki ini sangat mengkhawatirkan adik kesayangannya itu. Sama halnya dengan Ichigo.

"Ini... memang salahku. Aku... mengenal siapa yang menculik Rukia," kata Ichigo pelan.

"Makanya aku dari awal tidak ingin menyetujui hubungan kalian. Kau terlalu berbahaya untuk Rukia," tembak bangsawan itu.

"Maafkan aku," jawab Ichigo pelan.

"Sampai keadaan Rukia belum pasti seperti ini sebaiknya kau bertanggungjawab atas perbuatanmu Kurosaki."

Byakuya pergi meninggalkan pria depresi itu untuk memulai penyelidikan lebih lanjut lagi.

"Kurosaki..."

"Aku tahu Ishida. Aku memang berbahaya untuk Rukia."

"Bukan salahmu. Ini perbuatan si gila Grimmjow itu. Seharusnya dia sadar kalau bukan kau yang menyebabkan kematian gadis itu!"

"Sudah... sudah cukup. Jangan dibahas lagi."

Ishida kemudian diam setelah mendengar Direktur ini memintanya berhenti. Tentu saja. Pasti menyakitkan sekali rasanya mengingat apa yang tidak ingin kita ingin sama sekali. Pasti... menyakitkan.

.

.

*KIN*

.

.

Grimmjow duduk di bar langganannya malam ini. setelah memastikan gadis itu tak sadarkan diri, Grimmjow mulai mengunci semua akses keluar. Untung jendela flatnya adalah teralis. Dan jendela di kamarnya hanyalah jendela kecil yang bahkan sulit dimasuki anak kecil. Grimmjow setelah mengunci kamarnya juga mengunci kamarnya. Dia tak peduli apa yang mau dilakukan gadis itu. Menjauhkan gadis kecil itu dari pasangannya saja sudah membuat pria berambut orange itu kalang kabut, apalagi membuat gadis itu menderita. Pasti menyenangkan melihat pria itu menderita. Sama seperti dirinya selama 11 tahun ini.

Grimmjow tahu, semua ini berawal karena dia menyukai gadis polos itu. Dia tahu semua tentang gadis itu diam-diam. Tapi sayang... semua tak semulus keinginannya. Itu semua karena pria berambut orange itu. Kalau namanya teman berkelahi tentu saja tidak akan pernah akur mau bagaimanapun!

Grimmjow ingin orang itu merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Grimmjow.

Ketika akan meninggalkan meja bar itu, dari TV kecil di sana, disiarkan tentang kasus penculikan gadis bangsawan dan calon isteri dari Direktur muda yang tengah terkenal mirip artis itu. Dengan seringaian liciknya, Grimmjow bergerak meninggalkan bar itu. Mereka tidak akan pernah menemukan gadis itu. Kecuali Ichigo yang datang langsung padanya menyerahkan nyawa. Mungkin Grimmjow akan berpikir dua kali untuk membuat gadis mungil dan cantik itu menderita. Jujur saja, Grimmjow sempat tergoda dengan gadis itu. Tapi tenang... ini belum saatnya.

Grimmjow tiba di flatnya. Begitu membuka pintunya, dia tak mendengar tanda-tanda gadis itu. Apa dia kabur?

Setelah mengunci pintu depan flatnya, Grimmjow berbalik membuka kunci kamarnya. Grimmjow sempat terbelalak melihat gadis itu terduduk bersandar di dinding kamarnya. Setelah menyalakan lampu, Grimmjow semakin terkejut. Tangan gadis kecil itu memerah. Wajahnya juga pucat. Apa Grimmjow mengurungnya keterlaluan begini?

"Hei! Bangun! Cepat bangun!" bentak Grimmjow sambil mengguncang tubuh mungil gadis itu.

Terdengar nafas tersengal dari gadis ini.

Tak lama kemudian Grimmjow ingat waktu di pesta pertunangan yang dikacaukan olehnya itu. Gadis ini juga tampak kesulitan bernafas dan langsung terlihat lemah dan lemas. Dia bahkan nyaris pingsan. Apa... apa yang membuatnya begini aneh?

"Hei! Kau kenapa! Kenapa nafasmu begitu!" bentak Grimmjow lagi.

Perlahan kelopak gadis itu terbuka. Menatap sayu pada Grimmjow dengan nafas yang sesak dan wajah yang memucat.

"Se-sak... ro-rokokmuh..."

Grimmjow mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya. Memang kamarnya bau rokok. Pantas saja gadis ini sedari tadi merasa sesak dan sulit bernafas. Apalagi Grimmjow mengurungnya seharian di dalam kamar ini. untung sekali gadis ini tidak kehabisan nafas karena sesak.

Grimmjow menggendong gadis ini keluar dari kamarnya dan membaringkannya di sofa miliknya. Membuka kaca jendela ruangannya dan menyalakan kipas angin yang entah sudah berapa lama tidak pernah dihidupkannya itu. Akhirnya udara bertukar juga. Berkat bantuan kipas angin itu, udara rokok yang memenuhi ruangan ini jadi hilang perlahan keluar dari jendelanya.

Grimmjow akhirnya membuka jendela kecil juga di kamarnya. Mengganti seprai kasurnya dan membuang semua barang yang bisa menyebabkan bau yang membuat gadis ini sesak lagi. Ketika membersihkan kamarnya itu, Grimmjow jadi terpaku bingung.

Kenapa dia jadi begini aneh?

Apa yang dilakukannya ini?

Setelah semuanya beres, Grimmjow kembali beralih ke sofa itu. Gadis itu kemudian terlelap. Nafasnya sudah lumayan teratur. Tapi wajahnya masih pucat. Tampaknya dia tak bohong soal rokok dan nafas sesaknya itu. Karena Grimmjow sempat mengira gadis ini akan menipunya. Tapi berpikir lagi ketika melihat wajahnya yang pucat itu.

Kenapa gadis cantik ini bertemu dengan pria itu? Kenapa harus Ichigo?

Kalau gadis ini tidak ada hubungannya dengan Ichigo, pasti Grimmjow tidak akan menyakitinya begini jauh. Padahal dia sempat lupa tentang pertemuan tidak sengaja mereka ini. karena Grimmjow sempat terpesona pada gadis ini. Gadis yang mengatakan tidak takut padanya. Menganggapnya pahlawan dan biasa saja. Karena itulah Grimmjow cepat-cepat ingin melupakannya. Tapi tak disangka dia malah dipertemukan dengan takdir yang begini.

"Kuchiki Rukia, kalau kau mau menyalahkan orang, salahkan kekasihmu yang menyimpan dosa sebesar itu!"

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo sudah tidak tidur semalaman. Dia begitu takut tidur dan membayangkan apa yang akan dilakukan Grimmjow pada kekasihnya itu. Rukia sudah menghilang selama satu hari. Ini yang membuat Ichigo panik. Pihak kepolisian, dan segala macam relasinya sudah diminta untuk mencari keberadaan kekasihnya itu.

Setelah acara mengagetkan ini, Ichigo meminta Karin dan Yuzu segera pulang ke Karakura. Dia tidak ingin Grimmjow ikut menyakiti adiknya. Isshin sebenarnya ingin membantu Ichigo, tapi Ichigo menolaknya. Selagi bisa dia selesaikan sendiri, Ichigo ingin menyelesaikannya sendiri. Sekaligus membuat perhitungan dengan pria sialan yang berani menyentuh Rukia-nya.

"Rukia... semoga baik-baik saja."

.

.

*KIN*

.

.

"Cepat makan! Jangan banyak memilih. Setidaknya kau harus ingat kalau aku sedang menculikmu!"

Rukia duduk sambil memeluk lututnya di lantai itu. Pria ini menyodorkan semangkuk mie instan untuknya. Sebenarnya Rukia juga lapar. Karena seharian tidak makan kemarin. Tapi yang benar saja. Masa dia harus menelan sesuatu yang bisa membuatnya kambuh?

"Aku tidak lapar," ujarnya dingin.

Rukia tahu kesabaran pria itu sudah hampir habis. Tapi setidaknya dia bertanya kenapa Rukia tak mau makan. Bukan memaksanya begini.

"Jadi kau ingin aku memaksa memasukkan makanan ini ke dalam mulutmu, begitu? Aku ini kasar sekali. Kalau kau ingat aku ini juga orang jahat!"

Rukia bergidik ngeri saat pria ini memasang wajah sangar dan perlahan mendekatinya. Walau Rukia yakin dia bukan orang jahat, tapi tetap saja Rukia takut melihat ekspresi mengerikan orang ini.

Setelah meneguk ludahnya dengan susah payah, tangan mungil Rukia perlahan meraih mangkuk mie instan itu. Tangannya gemetar saat mencoba memasukkan mie itu ke dalam mulutnya. Bagaimana kalau dia...

Sebisa mungkin Rukia berharap dia tidak akan kambuh itu saja. Setelah memasukkan beberapa helai mie itu ke dalam mulutnya, dengan paksa Rukia menelannya. Berkali-kali rasa mual menjalar di mulutnya. Karena makanan inilah yang menyebabkannya seperti ini sampai sekarang.

Setelah menelan mie itu, lagi-lagi nafas Rukia sesak. Rukia mencengkeram dadanya kencang lagi. Astaga! Dia kambuh!

"Kau kenapa lagi! Tidak ada asap rokok bukan!" keluh pria sangar ini. dia benar-benar kewalahan menghadapi gadis ini yang selalu sesak nafas setiap saat. Bagaimana kalau dibunuh saja?

Begitu Grimmjow akan mengabaikan gadis ini, dia terus merasa sesak dan terbatuk-batuk. Ruam-ruam merah juga muncul di tangan dan lehernya.

"Hei kau kenapa!" ujar Grimmjow histeris menyadari gadis ini tidak main-main. Dia nyaris seperti orang sekarat.

"A-aku... alergi... hh... tepung," ujar Rukia susah payah.

"Kenapa kau tidak katakan tadi sialan!"

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo terus menunggu kabar dari berbagai pihak itu. Tapi belum ada satupun kabar baik. Kenapa mereka begitu lambat!

Ichigo bahkan sampai berteriak histeris di kantornya dan mengacak-acak ruangannya sendiri. Apa yang terjadi pada wanita-nya!

Walau Grimmjow ingin membalas dendam padanya, kenapa tidak ada panggilan apapun dari pria itu? Seharusnya dia mengancam Ichigo dan melakukan sesuatu. Kenapa tidak ada kabar sama sekali.

Ichigo bisa gila kalau begini! Jujur dia benar-benar bisa gila!

.

.

*KIN*

.

.

Grimmjow sebisa mungkin menyamarkan penampilan gadis ini. memberikannya penutup kepala dari rajutan itu dan masker wajah. Setelah dari klinik dekat flatnya, sekali lagi Grimmjow menerima fakta baru tentang gadis ini.

Dia alergi tepung. Jadi sebisa mungkin hindarkan makanan yang mengandung tepung. Kalau dibiarkan, bisa berbahaya untuk kesehatannya. Apalagi gadis ini gampang lelah. Sepertinya Grimmjow benar-benar memilih sandera yang salah! Justru dia yang repot setiap kali harus memastikan kesehatan gadis ini terus menerus.

Tidak ada jalan lain selain membunuhnya!

Setelah membelikannya sushi dan obat yang harus dia minum, Grimmjow kembali membawa gadis ini ke flatnya. Untung saja dia tidak bertingkah macam-macam saat makan sushi tadi!

Ketika akan meninggalkan gadis ini sendirian lagi, Grimmjow terdiam sejenak di pintu masuknya.

"Apa yang kau inginkan dariku?"

"Apa?" Grimmjow menoleh dan memandang datar pada gadis kecil ini.

"Kenapa kau menculikku? Apa yang kau inginkan dariku?"

"Membuat Kurosaki Ichigo menderita sampai mati. Kau sangat berharga dan bernilai untuknya. Aku suka melihatnya menderita karena kehilangan dirimu."

"Kenapa kau sangat membenci Ichigo! Apa yang dilakukannya padamu sampai kau begitu membencinya?"

Grimmjow membanting pintu apartemennya dan menatap tajam ke arah Rukia.

Dengan cepat mencengkeram wajah Rukia. Gadis itu langsung gemetar ketakutan di atas sofa itu.

"Dengar Nona. Kau yang salah. Kenapa kau berurusan dengan pria brengsek seperti itu. Ah ya... bukankah aku pernah bilang kau pasti menyesal mengenalku. Jadi kau juga pasti menyesal mengenal kekasih yang kau cintai itu bukan?"

"Tidak! Aku tidak menyesal mengenal orang yang kucintai!"

Mendengar suara lantang Rukia, Grimmjow semakin kesal dan mengeratkan cengkeramannya di wajah mungil Rukia. Gadis cantik ini meringis kesakitan saat tangan kasar Grimmjow mencengkeram wajahnya.

"Kita lihat sejauh mana kau masih lantang mengatakan hal itu. Kuchiki Rukia!"

Grimmjow tahu gadis itu menangis. Makanya dia langsung keluar dari flatnya.

Setelah mengunci pintunya dari luar, Grimmjow bersandar di sana.

"Nel... apa menurutmu aku jahat?" lirih pria itu.

.

.

*KIN*

.

.

Ingatan Ichigo berputar ke masa 11 tahun lalu. Saat itu, dia masih sama seperti Ichigo yang sekarang. tidak menyukai gadis manapun.

Karena itu, semasa SMA dia dikenal sebagai preman berandalan yang suka berkelahi dan keluar masuk ruang guru. Ichigo tidak sendiri. Grimmjow Jeaggerjaquez salah satu partner-nya berkelahi itu.

Karena sama-sama selalu berkelahi di tempat yang sama, mereka jadi sedikit akrab. Tapi sebagai teman berkelahi. Akrab memang.

Sampai akhirnya, satu gadis yang populer di sekolah itu muncul.

Grimmjow sempat berkata pada Ichigo bahwa gadis itu adalah teman semasa kecilnya. Grimmjow menyukai gadis cantik berambut hijau tosca itu. Ichigo awalnya sama sekali tidak peduli soal itu.

Sampai akhirnya, enam bulan sebelum mereka lulus SMA, tiba-tiba gadis itu menyatakan perasaannya pada Ichigo di depan Grimmjow. Padahal... yang Ichigo tahu, gadis itu juga menyukai Grimmjow dan mereka tengah berada dalam satu hubungan serius. Tapi entah apa yang dipikirkan gadis itu saat menyatakan cinta untuk Ichigo. Kontan saja Grimmjow marah dan menantang Ichigo. Awalnya juga Ichigo menolak. Sangat menolak. Dia tidak ingin berkelahi karena seorang gadis. itu bukan gayanya. Tapi karena Grimmjow sangat mencintai gadis itu, dia tidak rela melepaskannya.

Ichigo juga menolak menolong gadis itu. Menolaknya dengan tegas.

Tapi dia tak menyangka bahwa gadis itu tidak berumur panjang. Satu-satunya hal yang dia sesalkan karena Grimmjow tak tahu alasan gadis itu mati.

"Nel... seharusnya kau bertanggungjawab atas perbuatanmu dulu!" gumam Ichigo.

.

.

*KIN*

.

.

Tidak ada yang bisa Rukia lakukan di sini. Setelah, kambuhnya berangsur membaik, Rukia jadi sedikit heran. Padahal, kemarin, pria itu masih begitu sering menghisap rokok sampai memenuhi satu flat ini. Tapi semenjak kemarin, pria ini sama sekali tidak pernah merokok lagi. Setidaknya di dalam flat ini.

Rukia terlonjak kaget ketika dengan kasar pintu flat itu dibuka.

Grimmjow masuk dengan wajah lebam dan luka memar di wajahnya. Apa benar pria ini suka sekali berkelahi? Rukia bergerak mencari-cari handuk bersih dan air hangat.

Tapi semua itu tidak ada di flat ini.

Akhirnya setelah pria sangar berambut biru ini menghempaskan dirinya di sofa, Rukia pelan-pelan beringsut mendekatinya dan melepaskan kemejanya. Saat ini, Rukia hanya memakai terusan selutut berwarna putih tanpa lengan. Lengan mulus dan putihnya terekpose begitu sempurna.

"Apa yang kau lakukan brengsek!" bentak Grimmjow sambil memegangi lengan Rukia yang memegang kemejanya itu.

"Ke-kepalamu... berdarah. Harus segera diobati..." lirih Rukia ketakutan.

"Dengar ya, jangan mengira karena aku tidak mengikat tangan dan kakimu kau bisa seenaknya! Kau tetap sanderaku! Kau paham!"

Mata Rukia basah. Pria itu menyentakkan tangan kecil Rukia hingga gadis itu berlari ketakutan masuk ke dalam kamar. Grimmjow bisa mendengar isakan tangis gadis itu.

Dengan sekali pukul, sofanya hampir hancur seketika!

Dia tidak pernah ingin membuat seorang gadis menangis. Tapi apa yang bisa dilakukannya sekarang?

Dia harus melakukan ini. Harus. Dan mau tak mau.

.

.

*KIN*

.

.

Matahari sudah tinggi. Dengan erangan kesalnya, Grimmjow membuka matanya.

Astaga! Dia ketiduran. Kunci! Kunci flatnya!

Kuncinya masih ada di saku celananya. Dia kemudian berlari menuju kamarnya.

Nafasnya terdengar lega. Sekali lagi gadis itu duduk bersandar di bawah lantai sambil memeluk kakinya. Kepalanya dia sandarkan di sela lututnya.

Perlahan Grimmjow mendekati gadis itu. Melihat sekilas wajahnya yang terhalang oleh rambut hitamnya. Matanya sembab. Sepertinya dia benar-benar menangis semalaman.

"I-Ichi... hiks... Ichi-go... Ichigo..."

Amarah mendidih di atas kepala Grimmjow. Bahkan gadis ini dalam tidurpun mengigau nama pria itu!

Grimmjow ingin tahu, bagaimana rasanya seorang Kuchiki Rukia ini? Kenapa Kurosaki Ichigo begitu sulit melepaskan gadis ini? padahal, dia hanyalah gadis kecil biasa yang cengeng dan tidak punya apapun yang bisa dilihat. Bahkan Grimmjow saja tidak bernafsu melihat gadis ini. Selain kecantikan polosnya, tidak ada yang enak dilihat.

Tubuh mungil, dada rata, bahkan tubuh kecil mirip anak SMP ini apa yang bisa membuatnya begitu menarik?

Tapi soal wajah, Grimmjow memang tidak membantahnya. Gadis ini memang cantik. Cantik yang tak terbantah. Apalagi mata besarnya itu yang mampu mencuri perhatian siapa saja. Tentu membuat semua orang mengagumi kecantikannya.

Tangan Grimmjow mendekati wajah gadis itu. Mengelusnya pelan. Lalu menangkupnya dengan kedua tangannya. Rukia masih tak sadar. Dia masih terlelap.

Tapi sayangnya, karena terlalu lama memandangi wajah Rukia, gadis ini mulai tersadar. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Hingga akhirnya matanya yang cantik itu membulat lebar mendapati Grimmjow yang duduk begitu dekat dengannya. Bahkan tangan kasar pria ini masih menangkup wajahnya.

"K-kau mau apa?" ujar Rukia gugup.

Beberapa detik kemudian dengan gerak cepat, Grimmjow menempelkan bibirnya ke bibir Rukia. Mata birunya memejam rapat dan tidak menghiraukan reaksi kaget dari gadis ini. bahkan ketika mata bulat dan besarnya membelalak bertambah kaget, Grimmjow tak peduli.

Bibir mungil gadis ini begitu lembut. Bahkan saat menikmatinya, melumatnya begitu kasar pun masih nikmat. Benar-benar membuat orang kecanduan setengah mati. Pantas saja Ichgio begitu tergoda dan tidak ingin melepaskannya. Mengingat apa yang pernah dilakukan pria orange itu pada gadis yang dicintainya dulu, Grimmjow rasa, mengambil gadis ini sebagai ganti balas dendamnya, itu bukan masalah.

"Mmngghh! Hmmpp!"

Tangan gadis itu mendorong-dorong dada Grimmjow dan berusaha melepaskan tangan Grimmjow di sisi wajahnya. Karena posisi tidak menguntungkan ini membuat Rukia tidak bisa bergerak sama sekali.

Grimmjow terus menjelajah bibir mungil yang begini candu itu. Rasanya berkali lipat lebih memabukkan daripada bir yang diminumnya setiap malam itu. Ingin lagi. Kalau bisa, Grimmjow ingin lebih jauh lagi!

Kenapa hanya mencium gadis ini membuat seluruh syaraf di otak Grimmjow gagal berfungsi dengan baik?

Ciuman penuh gairah dan memabukkan.

Akhirnya Grimmjow ingat kalau dia ingin oksigen juga. Setelah sedetik tak rela melepas ciuman itu, Grimmjow menyeringai licik. Gadis itu menangis. Matanya basah dengan wajah memerah dan bibir yang membengkak. Tapi kilatan amarah di matanya tak bisa menutupinya.

"Hmp... ternyata begini rasa bibirmu. Pantas pria brengsek itu kecanduan padamu. Aku juga mulai―"

"KAU BENAR-BENAR BRENGSEK! DASAR PRIA JAHAT!" jerit Rukia kesal. Dia sangat kesal karena direndahkan pria seperti ini.

"Kenapa? Ichigo boleh sedangkan aku tidak boleh? Padahal dia jauh lebih jahat dan lebih brengsek daripada aku. Kenapa kau jatuh cinta pada orang seperti itu!"

PLAAAK!

Tangan mungil Rukia menampar pipi pria sialan itu. Tangisannya semakin menjadi.

"KAU BENAR-BENAR JAHAT! KEMBALIKAN AKU PADA ICHIGO! PULANGKAN AKU PADANYA! AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU!" pekik Rukia lagi.

"Dari awal aku sudah katakan kalau aku orang jahat. Jadi terima takdirmu. Karena aku... mulai tidak ingin mengembalikanmu pada pria brengsek itu!"

Grimmjow mengunci pintu kamarnya. Dia tidak ingin membiarkan gadis ini kembali pada orang itu. Tidak akan!

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Hola...

heheheh... tetep saya ngerasa bersalah sebenernya update chap yang begini hancur... tapi memang ini sih alurnya. Grimm udah mulai menampakkan diri dan mulai eksis. ada yang cinta sama peran Grimm di sini? wkwkwk bawa kabur calon orang, eh malah main cium aja! kalo Ichi tahu beneran si Grimm bakal di gantung di pohon semangka loh! chap ini emang lebih difokusin sama interaksi GrimmRuki heheheh

ok deh, saya gak tahu sebenernya nih fic gimana nasib. saya sih pengennya tiga atau empat chap lagi tamat, tapi yang lain sama yang tukang rikues bilang panjangin lagi. well sebenernya saja sih mau aja manjanginnya. tapi itu... saya takut kalo udah kepanjangan senpai bosan dan gak nemu titik masalah fic ini. jadi gimana? saya sih ok ok aja mau panjang,. tapi resikonya juga gede. hehehe...

balas review dulu...

Aii Sakuraii : makasih udah review Aii... heheeh iya nih emang sengaja ngebut lagi gak ada kerjaan sebenernya heheheh

ichiruki : makasih udah review senpai... mmm ada spoilernya dikit di chap ini... ngerti gak heheheh

Anemone Jie : makasih udah review senpai... mau sih panjang, tapi ternyata daya imajinasi saya masih kurang... hehehhe aduh nih kilat gak yaa? heheh nyawa saya beneran terancam...

Naruzhea AiChi : makasih udah review eva... wah gimana ya? cetakannya sih emang udah gitu. mau gimana lagi wkwkwkwk

mkys : makasih udah review senpai... sebenernya mau sih saya update tapi banyak tekanan batinnya. saya lagi ngembara nyari ide kalo aja bisa nyangkut heheheh

oda : kepanjangan oda... saya yang tepar kalo sebanyak itu cin...

lolaDony : makasih udah review senpai... heheh kan mereka udah 'kawin' wkwkwk aduh gimana ya, si Grimm sih gegaranya nafsu amat nyulik anak orang...

Graaze : makasih udah review senpai... noooooooo jangan panggil saya dengan kata tabuu itu Kin aja gak papa hehehe yah saya sih sering kesalahan kalo misstypo gitu suka nggak sadar sih heheh makasih advisenya hehehe

Mikyo : makasih udah review senpai... hehehe emang sih makanya cocok dia jadi peran antagonis, emm belum, saya lagi fokus buat nyelesain fic terlantar ini hehehe, OOP gak selamanya dis, saya cuma lagi pengen nyari ide lain aja buat fic itu hehhe

Luna Haruno : makasih udah review senpai... ya sih saya emang kurang neken feelnya kemarin. hehehe kayaknya yang ini juga gak ada feelnya ya? hikss maafkan saya... loh tadi minta Grimm ngerbut Ruki, tapi jgn pisahin Ichi Ruki... agak galau ya? hehehe ya nanti diusahain...

OYO LECHLIEZ : makasih udah review senpai... heheh apa ini masih termasuk hari minggu ya?

My Zone : makasih udah review senpai... makasih, saya terharu banget ficnya dibilang bagus hehehe

Cerry Uchiha : makasih udah review senpai... wah tepar dong saya sampe 20 chap...

Sakura uchiha : makasih udah review senpai... nooo jangan panggil saya dengan kata tabuu itu, Kin aja gak papa kok... gawat, bisa tepar saya kalo sampe 20 chap...

Piyocco : makasih udah review Piyocco... hehhe naa apa yang ini juga termasuk cepet? semoga gak jantungan yaa heheheh

meyrin kyuchan : makasih udah review senpai... heheh emang Grimm suka bikin rusuh sih, tampang kriminalnya kentel banget hehhehe

Nyia : makasih udah review senpai... ya diusahain cepet selesai hehehe

D-N-D Mozaik : makasih udah review senpai... heheheh di chap ini ada spoilernya ya? hehehe nih udah updateee

zetta hikaru : makasih udah review senpai... ya nih udah dilanjut kok heheheh

Mey Hanazaki : makasih udah review Mey... hehehe iya nih udah diupdate jangan bunuh sya yaa belum kawin nii hehhe

Voidy : makasih udah review neechan... iya kalo misalnya dilambetin takutnya malah molor panjang banget lagian, yang persiapan itu emang bisa dibikin satu chap sih hehehe saya juga horror sih ngebayangin gaun itu hehehe

RK-Hime : makasih udah review rika... nah apa yang ini udah kilat? wah pengen sih nontonnya, tapi di daerah saya ini susah banget nyari DVD Jepang, adanya Koreaaaa semuaa...

cece kurosaki : makasih udah review senpai... yah dilanjut kok hehehe apa ini udah kilat banget? hehehe

Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru... ehhehe apa nih udah update kilat? hehehehe

AkiHisa Pyon : makasih udah review senpai... nih udah lanjut hehhehe

Seo Shin Young : makasih udah review Seo... hahaha iya masalah cewe kesian banget tuh orang hehhehe nih udah updateee

Yukio Hisa : makasih udah review Yuki... nih ada spoilernya dikit... ngerti gak heheheh

cherry kuchiki : makasih udah review senpai... nih udah update heheheh

Dewi Anggara Manis : makasih udah review senpai... sama lama juga gak jumpa nih hehehe iyaa nih udah updatee

ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... iyaa nih udah update...hehehe Last Rose... bentar lagi tamat kok heheheh

Aki : makasih udah review senpai... heheh makasih pujiannya jadi terharu iyaa nih udah update kok hehehhe

Suzuhara yamami : makasih udah review Zuha... heheh iya nih udah update saya juga mau sih punya cowok kayak Ichi wkwkkw

ok deh, makasih yang udah berpartisipasi sama fic ini beneran makasih banyak yaa hehehe jadi kalo mau segera update saya sih gak minta yang aneh-aneh... cuma review aja... supayaa saya tahu layak lanjut gak fic ini hehehe

Jaa Nee!