"A Romantic Story About Baekhyun"

Remake Story by Santhy Agatha

A Romantic Story About Serena

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Others

[Chanbaek]

.

.

.

.

.

.

"Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur."

Kata-kata Chanyeol yang diucapkan dengan nada dingin dan ketenangan menakutkan itu seolah-olah bergaung di ruangan yang hening itu.

Lelaki itu sudah melepaskan kemejanya, dan membuka ikat pinggangnya lalu meletakkannya di ujung ranjang. Matanya begitu dingin, ekspresi wajahnya tenang, terlalu tenang, hingga membuat Baekhyun gemetar cemas.

"Kau...Harus...Mendengarkan." Baekhyun masih mencoba, meskipun melihat ekspresi wajah Chanyeol, ia tahu ia tidak akan berhasil.

Chanyeol terlalu marah, dia terlalu dibutakan oleh kemurkaannya.

"Lepaskan kemejamu Byun Baekhyun." gumam Chanyeol datar.

"Chanyeol..." wajah Baekhyun langsung pucat pasi mendengar perintah yang diucapkan tanpa ekspresi.

"Lepaskan."

Nada suara Chanyeol begitu menakutkan. Mungkin Baekhyun akan lebih berani menghadapi jika Chanyeol berteriak-teriak marah dan membentaknya. Tetapi lelaki ini begitu tenang hingga menakutkan.

Dengan gemetar Baekhyun melepas kancing demi kancing kemejanya. Menatap Chanyeol dengan wajah memohon, tetapi lelaki itu tidak terpengaruh.

Setelah seluruh kancing kemeja Baekhyun terlepas, dia berdiri sambil menggenggam kemejanya yang terbuka dengan kedua tangannya erat-erat, berlutut di ranjang itu, memohon belas kasihan kepada lelaki yang berdiri di tepi ranjang dan tampak kejam.

"Aku bilang lepaskan kemejamu, Byun Baekhyun," suara Chanyeol tetap lembut dan terkendali, tapi entah kenapa Baekhyun makin gemetar mendengarnya, dengan sudah payah dia melepaskan kemejanya dan menjatuhkannya ke kasur, menatap Chanyeol tanpa daya.

"Sekarang roknya." sambung Chanyeol setelah mengamati tubuh Baekhyun tanpa malu-malu, membuat seluruh wajah dan tubuh Baekhyun merah padam.

"Tidak...!" Baekhyun berusaha membantah, dia tidak mau dilecehkan seperti ini, dipaksa membuka baju dihadapan laki-laki yang sama sekali tidak menghargainya.

"Aku bilang roknya!" suara Chanyeol sedikit naik, tetapi tetap tenang. Matanya menatap tajam tak terbantahkan, hingga mau tak mau Baekhyun bergerak melepaskan roknya, air mata mulai mengalir di mata Baekhyun.

Hening cukup lama, Chanyeol terdiam sambil menatap Baekhyun tajam. Dan Baekhyun berlutut di ranjang itu dengan tubuh gemetaran, berusaha memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya yang kecil.

"Lepas pakaian dalammu."

"Tidak!" dengan was-was Baekhyun berseru, tanpa sadar tubuhnya beringsut ke ujung ranjang, ketakutan.

Sikapnya itu malah menyalakan api kemarahan di wajah Chanyeol, lelaki itu sudah tidak setenang tadi.

"Kenapa tidak Baekhyun? Pelacur cilikku? sudah tak terhitung berapa kali aku melihatmu telanjang, dan kau melakukan semuanya dengan sukarela kan? Demi uang tiga ratus juta...", Suara Chanyeol terdengar jijik, dia melangkah maju mendekati ranjang dan secara otomatis Baekhyun langsung beringsut mundur menjauh.

"Aku membeli tubuhmu seharga tiga ratus juta, seharusnya tubuhmu itu bisa kupergunakan semauku, tetapi aku terlalu baik padamu, memberimu kemewahan, tidak menyentuhmu di saat kau sakit, merawatmu...itu semua terlalu baik untukmu," Mata Chanyeol tampak menyala, "Dan kau dasar pelacur cilik tak bermoral! bukannya mensyukuri kebaikan hatiku, kau malah merayu sahabatku...!"

"Kau salah paham Chanyeol." Baekhyun mulai menangis terisak.

Tetapi Chanyeol tetap mengeraskan hatinya.

"Aku tidak mungkin salah paham dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri."

Dengan gerakan secepat kilat Chanyeol meraih kedua lengan Baekhyun, sebelum Baekhyun sempat menghindar dan menempelkan tubuh Baekhyun ke tubuhnya sendiri.

"Kalian berciuman! kau membiarkan dia menciummu! menjijikkan sekali dimataku."

Napas Chanyeol mulai terengah-engah, lalu mendorong Baekhyun ke bantal membuatnya terbanting kasar disana.

Baekhyun berusaha menghindar, berusaha melepaskan diri dari tindihan badan Chanyeol yang keras dan berat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Chanyeol yang kuat dan tanpa ampun.

Tetapi lelaki itu terlalu kuat, terlalu marah, bahkan tidak menyadari kalau kekasarannya melukai tubuh Baekhyun yang rapuh.

Lelaki itu seperti kerasukan setan. Matanya menyala penuh kebencian ketika dia menatap Baekhyun. Dengan ketakutan yang amat sangat, Baekhyun berusaha memberontak dan turun dari ranjang, tetapi Chanyeol menangkapnya, membantingnya di ranjang lagi dengan kasar, lalu menindihnya.

Baekhyun mengernyit merasakan cengkeraman tangan Chanyeol yang kasar di tangannya.

"Sakit Chanyeol...kumohon..."

"Diam!" seru Chanyeol marah, dan ketika Baekhyun meronta ketakutan, hal itu makin mendorong kemarahan Chanyeol, lelaki itu merobek baju Baekhyun dan mencoba membuka pahanya.

Baekhyun berteriak ketakutan, dia tidak siap dan Chanyeol pasti akan melukainya. Tetapi Chanyeol tidak peduli. Ketika merasakan Baekhyun tidak basah dan tidak siap, lelaki itu tetap menyatukan dirinya.

Bagi Baekhyun itu adalah kesakitan yang luar biasa, sakit di tubuhnya dan sakit di hatinya, diperlakukan seperti pelacur rendahan yang tak ada harganya.

Seluruh tubuhnya terasa tersobek-sobek oleh gesekan tubuh Chanyeol, tapi Baekhyun menahan diri, digigitnya bibirnya hingga hamper berdarah, di tahankannya air matanya meskipun matanya terasa begitu perih. Dan di tekannya hatinya dalam dalam yang mulai hancur menjadi serpihan berkeping-keping.

.

.

.

.

.

Baekhyun berbaring memunggungi Chanyeol, matanya nanar, penuh airmata. Napasnya sesak karena isakan yang ditahannya.

Setelah semua usai, Chanyeol menjauh dari tubuhnya dan berbaring hening di sebelahnya, sampai napas yang terengah berubah menjadi tenang dan hening. Baekhyun tahu Chanyeol tidak tidur, lelaki itu masih berbaring nyalang di sebelahnya, terlentang menatap langit-langit kamar. Tetapi Baekhyun langsung membalikkan badan dan berpura-pura tertidur.

Dirasakannya Chanyeol bolak-balik menghadap ke arahnya, seperti ingin mengajaknya bicara tetapi kemudian ragu dan mengehentikan dirinya di detik terakhir.

Saat-saat hening itu terasa menyiksa. Tubuh Baekhyun tegang meskipun dia berakting sudah tidur dengan baik, dijaganya agar nafasnya teratur, dijaganya agar tubuhnya tidak bergerak sama sekali.

Lama-lama dia merasakan tubuh Chanyeol berangsur-angsur santai dan lelaki itu tertidur. Baekhyun menanti menit demi menit, menyakinkan diri kalau Chanyeol sudah terlelap, dan setelah cukup yakin, pelan-pelan dia bergerak.

Tubuhnya terasa sakit. Itu tadi benar-benar perkosaan, dan Chanyeol sama sekali tidak mau repot-repot bersikap lembut. Bibir Baekhyun memar akibat ciuman yang terlalu kasar, lengannya sedikit lebam karena genggaman yang terlalu keras, dan masih ada kesakitan-kesakitan lainnya. Di seluruh tubuhnya, di dalam tubuhnya.

Tetapi yang paling sakit adalah hatiku.

Air mata mengalir tanpa suara dari pipi Baekhyun, tapi dia menahan isakan dengan menggigir bibirnya yang sakit. Dengan hati-hati Baekhyun duduk di tepi ranjang, mengamati pakaiannya yang berserakan di lantai, dan pakaiann dalamnya yang setengah dirobek oleh Chanyeol saat lelaki itu melepaskannya dengan marah tadi.

Pelan-pelan, agar tidak menimbulkan gerakan di ranjang tempat Chanyeol berbaring miring dan tertidur pulas, Baekhyun bangkir berdiri dan memungut pakaiannya satu persatu. Langkahnya goyah, dan tubuhnya gemetar, tapi Baekhyun menguatkan diri.

Dipakainya pakaiannya pelan-pelan sambil menatap ranjang dengan was-was, bersiap-siap jika ada satu gerakan sesedikit apapun dari Chanyeol.

Tetapi lelaki itu tidur dengan tenang sampai Baekhyun selesai berpakaian. Baekhyun lalu mengambil tas kerjanya dan melangkah keluar, tetapi di pintu dia ragu-ragu, menoleh dan menatap Chanyeol yang masih tertidur pulas.

Chanyeol pasti akan maklum jika dia pergi begitu saja. Setelah perkosaan brutal dan kejam itu, Chanyeol pasti maklum jika Baekhyun menjauh darinya. Tapi kemudian Baekhyun mengernyit, teringat kemarahan Chanyeol ketika Baekhyun menghilang tanpa pamit untuk menunggui Jongin di rumah sakit hari minggu lalu.

Kalau aku pergi tanpa pamit, apa yang akan dilakukan Chanyeol? Apalagi dengan perjanjian tiga ratus juta itu...

Ketakutan mewarnai perasaan Baekhyun, menahan langkahnya.

Lalu Baekhyun mengeluarkan kertas dan menulis.

Maaf Chanyeol, aku harus pergi sementara. Butuh waktu sendirian.

Tapi kau bisa tenang, aku tidak akan melarikan diri dari hutang-hutangku.

Aku tidak serendah itu kau tahu.

Sampai jumpa di kantor besok pagi

Byun Baekhyun.

.

.

.

.

.

Pagi itu Chanyeol duduk di kantornya dengan muram. Hari masih pagi, para karyawan belum datang ke kantor, tapi Chanyeol sudah ada di situ. Dia tak tahan berada di kamar apartement itu sendirian.

Tanpa Baekhyun.

Dia terbangun pagi-pagi sekali, karena terbiasa mencari Baekhyun untuk dipeluk, tetapi yang ditemukannya hanya bantal kosong. Dengan marah Chanyeol langsung bangun dan murka.

Berani-beraninya pelacur itu meninggalkannya?

Tetapi kemudian, kertas yang diletakkan di bantal Baekhyun itu agak meredakan kemarahannya. Sebuah pesan singkat sederhana yang ditulis dengan huruf yang sangat rapi.

Baekhyun bilang "Sampai jumpa di kantor besok pagi" jadi Chanyeol menahan diri dari kemarahannya dan memutuskan bersiap-siap dan berangkat ke kantor saat itu juga.

Sekarang dia duduk sendirian di ruangannya, memikirkan perbuatannya semalam dan mulai merasa cemas. Ia terlalu kasar. Ia tahu itu. Ia terlalu kuat dan Baekhyun terlalu rapuh untuk menahan kemarahannya.

Tapi tidak tahukan Baekhyun kalau pemandangan Baekhyun yang sedang dipeluk dan dicium oleh Sehun itu benar-benar membuatnya marah? Seharusnya hanya dia yang boleh memeluk Baekhyun ! Seharusnya hanya dia yang boleh mencium Baekhyun!

Saat itulah pintu diketuk dengan pelan. Chanyeol terdiam penuh antisipasi, dia sudah menunggu. Siapa lagi yang datang sepagi ini kalau bukan Baekhyun?

"Masuk."

Pintu itu terbuka pelan, dan Baekhyun muncul disana. Hati Chanyeol langsung bagaikan dihantam oleh palu ketika melihat keadaan Baekhyun.

Gadis itu masih memakai pakaiannya yang semalam meskipun kelihatan segar setelah mandi. Tapi wajahnya kelihatan pucat dan rapuh. Dan bibirnya sedikit lebam akibat ciuman-ciuman kasarnya kemarin.

Kenapa kau pucat sekali sayang?

Chanyeol berdehem, menahan perasaannya.

Detik itu juga Chanyeol memutuskan dia akan memaafkan Baekhyun. Dia tidak bisa menyalahkan Baekhyun karena merayu Sehun, tidak ada yang bisa melarangnya kan? Tidak ada tertulis dalam perjanjian mereka bahwa Baekhyun tidak boleh menjalin hubungan dengan lelaki lain, disitu hanya tertulis bahwa Chanyeol berhak memiliki Baekhyun sesuka hatinya.

Oleh karena itu dia akan segera memastikan adanya klausul tambahan dalam perjanjian itu, bahwa Baekhyun tidak boleh disentuh lelaki lain, bahwa tubuh Baekhyun adalah hak eksklusifnya miliknya.

Untuk sekarang, Chanyeol yakin Baekhyun akan memohon maaf padanya, dan itu bukan masalah, Chanyeol siap memaafkan Baekhyun atas pengkhianatannya semalam. Dia siap menerima Baekhyun lagi. Dia belum mau melepaskan Baekhyun.

"Duduk." perintahnya, berusaha sedatar mungkin.

Dengan patuh Baekhyun duduk, tapi gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya meremas tangannya dengan gelisah.

"Sebenarnya kau ingin bicara apa hingga harus menunggu sampai di kantor?"

Dimana kau tidur semalam? apakah kau baik-baik saja ? apakah aku menyakitimu? pertanyaan-pertanyaan itu yang bermunculan di benak Chanyeol, tetapi lelaki itu menahankannya.

Baekhyun mendongakkan kepalanya, matanya tampak penuh tekad ketika menatap Chanyeol. Takut, tapi penuh tekad.

"Aku...ingin melunasi semua hutangku dan mengakhiri perjanjian kontrak kita."

Chanyeol tertegun.

Rasanya seperti seluruh aliran darahnya dihentikan seketika. Ini adalah jawaban yang sama sekali tidak disangkanya. Chanyeol begitu terkejut hingga membatu seperti patung.

Tetapi ketika keterkejutannya usai. Kemarahan langsung merayapinya. Seperti api yang membakar pelan-pelan, makin lama makin berbahaya.

"Apa?" desis Chanyeol di antara giginya, tangannya terkepal.

Dengan sedikit gemetar, Baekhyun meletakkan sebuah kertas di meja Chanyeol.

"Ini cek sebesar tiga ratur empat puluh juta, untuk melunasi hutangku sebesar tiga ratus juta, dan hutang ke perusahaan sebesar empat puluh juta, dan ini..."

Baekhyun meletakkan sebuah amplop di meja, "Surat pengunduran diriku dari perusahaan ini."

Hening cukup lama. Chanyeol hanya duduk di situ, mengamati Baekhyun dengan mata yang menyala-nyala.

Kemudian lelaki itu memajukan tubuhnya dan menatap Baekhyun sambil tersenyum dingin.

"Lunas sepenuhnya? Jadi malam-malam selama kau melayaniku itu kau anggap service gratis untukku?"

Wajah Baekhyun pucat pasi mendengar hinaan tersirat itu.

"Aku...Aku hanya ingin melepaskan diri dari perjanjian itu..."

Chanyeol mendesis gusar, lalu mengambil cek itu dan mengamatinya, alisnya terangkat, kemarahan tampak semakin membakarnya.

"Kau bisa memperoleh uang sebanyak ini dalam semalam, apakah kau menemukan korban lain yang bisa memberimu uang untuk melepaskan diri dariku?"

Baekhyun membelalakkan matanya tak percaya akan kesimpulan negatif yang di ambil Chanyeol,

"Jangan menuduhku serendah itu! Aku...aku bukan pelacur seperti yang kau kira!"

"Kau pernah dengan sukarela menjadi pelacurku demi uang tiga ratus juta! Bagaimana bisa aku tidak berpikir kau bersedia melacurkan diri pada orang lain demi melepaskan diri dariku hah?!" Chanyeol menggebrak meja dengan begitu kerasnya, hingga Baekhyun terlonjak kaget dari tempat duduknya.

Lalu tanpa di duganya. Chanyeol mengambil surat pengunduran dirinya di meja. Dan merobek-robeknya bersama dengan cek yang diberikannya.

Baekhyun hanya ternganga, kaget dengan tindakan tak terduga Chanyeol itu. Sementara lelaki itu berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan mengancam sambil merobek-robek surat dan cek itu menjadi serpihan-serpihan kecil.

Ketika Chanyeol mulai mendekati Baekhyun, Baekhyun langsung berdiri menjauh, waspada.

"Kenapa kau merobek cek dan surat itu?" tanya Baekhyun gugup, takut akan suasana hati Chanyeol yang begitu muram.

Chanyeol makin mendekat. Lalu berhenti dan tersenyum sinis ketika melihat Baekhyun mundur lagi menjauhinya.

"Aku tidak akan melepaskanmu begitu mudah Baekhyun, kau pikir aku akan diam saja kau bodohi? Aku akan membuatmu menerima balasan setimpal sebelum akhirnya melepaskanmu..."

Tiba-tiba Chanyeol bergerak cepat meraih Baekhyun sebelum dia bisa menghindar. Baekhyun mencoba meronta, tapi ia sadar dari pengalamannya bahwa percuma saja dia melawan kekuatan dan kemarahan Chanyeol, jadi dia hanya diam dengan wajah pucat pasi ketakutan.

"Katakan padaku Baekhyun...Pria yang membayari hutangmu itu...Apakah dia sudah menidurimu?" mata Chanyeol menggelap penuh kemurkaan, "Apakah dia sudah menyentuhmu?" napas Chanyeol mulai memburu, "Apakah ciumannya sebaik ciumanku? Atau dia hanya pria bodoh yang tertipu oleh kepolosan palsumu yang..."

"Lepaskan aku!" entah darimana Baekhyun seperti mendapatkan kekuatan untuk mendorong Chanyeol dan melangkah menjauh. "Aku sudah membayar hutangku. Aku sudah tidak terikat denganmu! Kau tidak berhak melecehkanku lagi!"

"Melecehkan katamu? Kau bilang itu pelecehan? Kau menyambutku dengan hangat setiap aku mendatangimu dan kau bilang itu pelecehan?"

PLAK!

Tangan Baekhyun tanpa disadari melayang sendiri menampar pipi Chanyeol sekeras mungkin, kata-kata Chanyeol yang luar biasa menghina itu sangat menyakiti hatinya.

Chanyeol berdiri disana mengusap pipinya lalu tersenyum jahat.

"Kenapa menamparku? Apakah kau merasa malu karena kekotoran moralmu terungkap disini?" gumamnya sinis.

Dengan bergegas Baekhyun melangkah ke pintu, sedikit lega karena Chanyeol tidak mengikutinya.

"Aku akan mengirimkan lagi cek yang baru, berikut surat pengunduran diriku...Bagiku semua sudah lunas di antara kita" gumamnya lirih.

"Bagiku belum," desis Chanyeol tenang, "Kau boleh kabur kemanapun Baekhyun, dan aku bersumpah akan mendapatkanmu. Dan ketika itu terjadi aku tidak akan main-main lagi, aku bahkan akan merantaimu di kamar jika perlu. Dan tak usah repot-repot mengirimkan cek ataupun surat apapun, aku akan merobek-robeknya lagi."

Tangan Baekhyun yang memegang gagang pintu gemetaran.

"Kenapa kau begitu kejam padaku...?" Rintihnya putus asa, matanya berkacakaca.

Sejenak Chanyeol terpaku. Baekhyun tampak begitu hancur, begitu luluh, hingga seketika itu juga Chanyeol ingin memeluk Baekhyun dan menghiburnya, meminta maaf atas kata-kata kasarnya. Tapi akal sehatnya segera mengambil alih. Itu akting, teriaknya pada diri sendiri, jangan tertipu, gadis ini pandai memanipulasi orang dengan berpura-pura rapuh. Kau sendiri sudah merasakannya bukan?

"A...Aku tetap akan pergi..." Baekhyun bergumam ketika Chanyeol hanya berdiam diri, "Kau boleh memaksaku semaumu, tapi aku akan melawanmu sekuat tenaga."

Dengan cepat Baekhyun membuka handel pintu. Lalu menolehkan kepalanya untuk menatap Chanyeol, mungkin untuk yang terakhir kalinya.

Diserapnya sosok itu baik-baik, sosok dingin yang berdiri kaku, menatap Baekhyun dengan penuh kebencian. Disimpannya sosok itu baik baik, dan tiba-tiba saja hatinya terasa teriris. Air mata mulai menetes dari sudut matanya, dan dengan segera Baekhyun melangkah keluar dari ruangan itu.

Setengah berlari dia memasuki lift tanpa mempedulikan tatapan bingung sekertaris Chanyeol.

Di lobby, suster Zhang yang menunggu dengan gelisah dari tadi langsung berdiri begitu melihat Baekhyun muncul di lift.

"Bagaimana...?"

Pertanyaannya tak terjawab karena Baekhyun langsung mengajaknya keluar dari lobby menuju parkiran, menaiki mobil jemputan rumah sakit yang diminta suster Zhang mengantar mereka ke sini tadi.

Di mobil air mata Baekhyun tak terbendung lagi dan suster Zhang langsung memeluknya untuk menenangkannya.

"Ssshhh...Semuanya tak berjalan baik ya?"

"Dia...Dia tidak mau menerima uang itu..." Baekhyun tersedak oleh tangisan yang dalam, "Dia...Dia menuduhku menjual diriku kepada lelaki lain demi mendapatkan uang itu..." tangis Baekhyun meledak lagi dengan kuatnya.

Dan suster Zhang langsung memeluknya. Matanya sendiri berkaca-kaca melihat penderitaan Baekhyun.

"Apakah...kau mencintainya, Baekhyun?" tanya suster Zhang hati-hati.

Baekhyun langsung tersentak, menatap Suster Zhang dengan pandangan nanar.

"Apa...? Itu...Itu tidak mungkin..."

"Baekhyun, mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kebersamaan kalian selama ini mungkin saja menumbuhkan sesuatu yang dalam di antara kalian..." suster Zhang menatap Baekhyun lembut, "Dan kau...Tidak mungkin menangis semenderita ini jika kau tidak punya perasaan apa-apa kepada Chanyeol, sayang."

Baekhyun hanya termangu. Air matanya masih mengalir, hatinya sakit sekali. Dan memang benar, penghinaan dan perlakuan kasar Chanyeol telah menyakitinya lebih daripada yang seharusnya. Tapi Baekhyun tidak mau memikirkan kemungkinan apapun. Dia tidak mau, dan tidak bisa. Ada Jongin di sisinya bukan?

Suster Zhang mendesah melihat kediaman Baekhyun.

"Yah, setidaknya, suatu saat ketika Chanyeol menyadari kesalahannya, dia akan menyesal dan kuharap aku ada di sana ketika dia memohon maaf padamu."

.

.

.

.

.

Suster Zhang benar, Chanyeol memang menyesal. Tidak perlu waktu lama, hanya selang satu jam dari kepergian Baekhyun.

"Aku menerima kalian di sini hanya demi Luhan," gumam Chanyeol dingin, suasana hatinya benar-benar buruk saat itu.

Ketika sekertarisnya menelepon dan memberitahu bahwa Luhan dan Sehun ada di ruangan depan, ingin bertemu dengannya, Chanyeol hampir saja mengamuk seketika itu juga. Dia sudah menegaskan pada sekertarisnya bahwa dia sedang tidak ingin diganggu. Tetapi Luhan memaksa, dan seperti biasanya, paksaannya berhasil.

"Kami harus memberitahumu sesuatu yang penting." gumam Luhan penuh tekad, tidak peduli akan tatapan membunuh yang berkali-kali dihujamkan Chanyeol kepada Sehun yang hanya duduk diam tanpa suara di belakangnya.

"Chanyeol," Luhan mencoba menarik perhatian Chanyeol yang terus menerus mempelototi Sehun. "Ada suatu fakta penting tentang Baekhyun yang harus kau ketahui."

Chanyeol langsung tertarik. Fakta apa lagi? Sebuah kebohongan lagi yang belum diceritakan kepadanya? Sebuah kepalsuan lagi yang akan menyulut kemarahannya?

Dia diam dan menunggu, bersiap-siap untuk meledak lagi, kepalanya terasa berdenyut dan mulai nyeri.

"Chanyeol..." Luhan mengernyit cemas ketika melihat Chanyeol tampak kesakitan, "Kau tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa! Cepat selesaikan yang ingin kau katakan, dan bawa dia pergi dari ruangan ini!" Chanyeol bahkan tidak mau repot-repot menyebut nama Sehun.

Luhan menarik napas panjang.

"Kau...Kita...Mengambil kesimpulan yang salah tentang Baekhyun." dengan cepat Luhan membentangkan artikel itu di meja Chanyeol, "Baca ini."

Chanyeol melirik artikel itu, semuala tidak tertarik, tetapi kemudian mengenali gambar di artikel itu sebagai Baekhyun, lebih muda beberapa tahun, tapi dia tak mungkin salah.

"Apa yang...Oh Tuhan!" baru separuh artikel yang dibacanya, tetapi dia pucat pasi. Dengan gemetar dia membaca artikel itu. Membacanya berulang-ulang kemudian, mencoba mencari kesalahan. Tapi kebenaran yang tertulis di sana tak terbantahkan lagi.

"Benar Chanyeol, keluarga Baekhyun, kedua orangtuanya terenggut pada kecelakaan yang sama di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan Yifan", mata Luhan berkaca-kaca ketika kenangan itu kembali.

"Ya Tuhan!" Chanyeol berpegangan pada meja untuk menopang tubuhnya, Ini sebabnya Baekhyun selama ini sebatang kara dan sendirian?

"Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia, saya hidup sendirian" itu jawaban Baekhyun waktu gadis itu terpaksa menumpang mobilnya di pagi yang hujan.

Lalu uang tiga ratus juta dan hutang puluhan jutanya di perusahaan itu... Sekali lagi Chanyeol mengernyit.

"Tunangannya, Kim Jongin, masih terbaring koma sejak kecelakaan itu. Baekhyun berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Hutang-hutangnya di rumah sakit mungkin untuk membiayai biaya perawatan Jongin, dan hutangnya kepadamu tiga ratus juta mungkin karena gadis itu putus asa," Luhan memandang Chanyeol, dan tiba-tiba merasa kasihan, Chanyeol tampak hancur berkeping-keping, "Aku menelepon rumah sakit tempat Jongin dirawat Chanyeol, Jongin saat itu harus menjalani operasi pengangkatan ginjal karena salah satu ginjalnya rusak akibat obat-obatan yang terus menerus...biaya operasi itu sangat mahal, hampir mencapai tiga ratus juta rupiah...Mungkin itu alasan Baekhyun menjual dirinya padamu, gadis itu putus asa."

Chanyeol memejamkan matanya, mengingat hari berhujan dimana Baekhyun membuat penawaran gila itu padanya. Bagaimana mungkin dia dulu tak menyadarinya? Waktu itu Baekhyun memang terlihat panik dan putus asa.

"Sehun bercerita bahwa Baekhyun hilang seharian di hari minggu dan kalian mencarinya kemana-mana," Luhan mengedikkan bahunya pada Sehun yang hanya diam dan menundukkan kepalanya, "Itu hari di mana operasi Jongin dilaksanakan."

Sebuah hantaman lagi yang menerjang Chanyeol. Dia mengernyit, rasanya berat sekali ketika dia sudah berpegang teguh pada suatu keyakinan bergitu lama tapi kemudian dihancurkan begitu saja.

Baekhyun gadis baik-baik. Dia bukan gadis bermoral rendah seperti dugaannya selama ini. Pantas saja waktu itu dia masih perawan. Keperawanan yang seharusnya untuk tunangan yang dicintainya dikorbankannya. Chanyeol langsung disengat rasa cemburu yang tajam. Baekhyun pasti begitu mencintai tunangannya kalau sampai berjuang mati-matian seperti itu.

"Kecelakaan itu terjadi hanya beberapa hari sebelum pernikahan mereka Chanyeol," Luhan menoleh secara terang-terangan kepada Sehun, "Biarkan Sehun yang menjelaskan sisanya kepadamu."

Chanyeol menoleh kepada Sehun dengan muram, masih terbayang adegan ciuman waktu itu di matanya. Dan kemarahannya langsung membara, kalau begitu kenapa Baekhyun ada di pelukan Sehun dan Sehun bilang Baekhyun rela menjual diri padanya?

"Waktu itu semua sudah kurencanakan, Chanyeol," gumam Sehun pelan seolah bisa membaca pikiran Chanyeol, lalu mengernyit ketika menerima tatapan menusuk itu lagi, "Aku... Waktu aku mendampingimu mencari Baekhyun yang menghilang waktu itu, aku melihat betapa emosionalnya dirimu, itu menggangguku karena kau berubah, tidak seperti biasanya, aku berpikir Baekhyun telah menimbulkan pengaruh buruk padamu...Jadi aku mengambil keputusan...aku merekayasa semuanya...Ciuman itu adalah paksaan dariku...Baekhyun sama sekali tidak sukarela, dia menolakku sekuat tenaga. Dia memanggil namamu..."

Chanyeol langsung merangsek maju dengan marah, tanpa diduga. Langsung meraih kerah kemeja Sehun. Tak peduli tubuh Sehun yang memar dan lebam akan kesakitan menerima sentuhan seringan apapun.

"Brengsek kau Oh Sehun! Brengsek kau! Aku mempercayaimu!" Chanyeol menggeram di antara ke dua giginya, "Kau tahu malam itu aku memperlakukannya sebagi pelacur rendahan?! Aku memperkosanya!"

"Chanyeol, tenanglah dulu", gumam Luhan hati-hati, berusaha membuat Chanyeol melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Sehun, "Kau menyakiti Sehun, tidakkah kau sadar kau sudah cukup menyakitinya kemarin? Lepaskan dia Chanyeol", bujuknya lembut.

Chanyeol bergeming, sejenak seolah-olah akan menghajar Sehun, tapi kemudian dia melepaskan lelaki itu dengan kasar.

"Harusnya kubunuh saja kau sekalian!", desisnya geram sambil mengacak rambutnya,

Lalu sebuah pertanyaan merasuk di benaknya.

"Kenapa harus Baekhyun yang menanggung seluruh biaya perawatan Jongin? Kenapa bukan keluarga Jongin?"

"Jongin tidak punya keluarga." Sehun yang menyahut setelah berhasil meredakan napasnya yang terengah karena perlakuan kasar Chanyeol tadi, "Dia pengacara juga, kebetulan aku mengenalnya", suaranya tertelan melihat tatapan bermusuhan Chanyeol, tapi dia bertekad melanjutkan, " Sebenarnya aku tidak begitu mengenalnya, tetapi Jongin cukup terkenal di kalangan profesi kami karena reputasi baiknya, aku... Eh... Melakukan penyelidikan singkat tadi dan mendapati bahwa Jongin dibesarkan di panti asuhan, dia sebatang kara...karena itulah kabar setelah kecelakaan yang menimpanya menjadi simpang siur, dia menghilang begitu saja dan gosip yang beredar mengatakan Jongin sudah meninggal, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Jongin masih hidup dan ada dalam kondisi koma", Sehun menatap Chanyeol sungguh-sungguh, "Aku menyesal dan aku meminta maaf Chanyeol. Aku memang bodoh dan gegabah, aku juga menyesal setengah mati"

Chanyeol tercenung. Lama tidak mengatakan apa-apa. Sejenak ruangan itu begitu hening.

"Chanyeol, mungkin lebih baik kita melepaskan Baekhyun, sudah cukup berat beban yang dia tanggung," gumam Luhan pelan memecah keheningan. Lalu dia berubah ragu-ragu dan berhati-hati dengan reaksi Chanyeol, "Mengenai hutang-hutang Baekhyun baik kepadamu dan kepada perusahaan, aku bersedia menggantinya."

"Tidak."

"Tidak?" Luhan mengernyit mendengar gumaman pelan Chanyeol itu.

"Tidak akan kulepaskan. Aku tidak peduli dengan uang itu. Baekhyun tidak akan kulepaskan."

"Park Chanyeol!", Luhan mengernyit jengkel. "Hentikan! Kau tidak tahu betapa banyak penderitaan yang ditanggung Baekhyun selama ini! tidak bisakah kita biarkan dia tenang bersama tunangannya? Lagipula kau bisa mencari wanita lain untuk memuaskanmu bukan? Kau bisa mendapatkan pengganti Baekhyun dalam beberapa menit!"

Chanyeol mengusap wajahnya, tampak begitu menderita,

"Tidak, aku tidak bisa Luhan." erangnya parau.

Mata Luhan melebar melihat ekspresi Chanyeol, tidak pernah sebelumnya Luhan melihat Chanyeol begitu penuh emosi. Apakah ini berarti Chanyeol benar-benar mencintai Baekhyun?

"Dia punya tunangan Chanyeol, jangan lupa, semua yang dilakukannya adalah demi menyelamatkan Jongin."

Kebenaran itu menyakiti hati Chanyeol, sengatan cemburu itu kembali melukainya. "Kalau begitu aku akan membuatnya memilihku," mata Chanyeol penuh tekad,

"Dimana alamat rumah sakitnya?"

.

.

.

.

.

.

TBC

READ , REVIEW , FAV PLEASE?

Thanks to :

devrina , B-Lady , septhaca , exindira , LDK , Chan Banana , khamyauchiha23 , Debby Jongong , parkbaekyoda , bellasung21 , SaraswatiNinuk , JJ

PS : HOREEE AKU LAGI BAIK NGEPOST 2 CHAPTER SEHARI WKWKKW. Btw berhubung udah ada yang bakal ngeremake Sleep with the devil akhirnya aku gak jadi meremake kwkwkw dan malah ngeremake Embrace the chord , udah aku post sih tapi kalau peminatnya sedikit aku hapus deh hehe, karna aku masih bingung enaknya meremake novel apa , kasih saran dong? Tapi yang kira-kira peminatnya banyak hmmm butuh banget saran wkwk. Oh ya kenapa review nya makin hari makin sedikit ya:( semangat jadi berkurang nih:((. Chapter 11 aku post kalau reviewnya pesat.

Oke thanks mwah!