The Princess

Disclaimer : Masashi Kishimoto


Halo semuanya!

Terimakasih banyak atas review-review-nya!

Silahkan menikmati (^w^)

Warning: Miss-typo, OOC, alur kecepetan, dll


Step 10


.

.

Hinata menatap ponselnya setelah melakukan pemotretan yang berjalan mulus dua jam lalu. Entah mengapa rasanya Hinata ingin berbicara dengan Sasuke setelah melakukan pemotretan dengan Gaara barusan. Ada perasaan janggal di hatinya selama pemotretan berlangsung. Terlebih bisik-bisbriefing dengan seluruh staff. ng Hinata dengar tidak membuatnya senang di studio tadi. Dengan perasaan gelisah, Hinata tekan tombol hijau di layarnya dan menghela nafas panjang.

"Angkatlah─'' bisik Hinata penuh harap. Ia dengar suara dari balik telepon, masih berusaha tersambung dengan nomor Sasuke yang tak kunjung mengangkatnya. Menyerah, akhirnya Hinata menutup telepon-nya dan menatap Kakashi yang kini menyetir dengan mulus di sebelahnya menuju apartemen. "Kakashi-san, apa kau tahu jadwal Sasuke-kun hari ini?''

"Hah─? Mana kutahu, Aku bukan manajernya.'' Kakashi mendengus dan buru-buru menyalakan musik di mobilnya. "Lagipula, dia bukan tipe yang memegang ponsel saat bekerja. Pasti dia akan memasukkannya di tas saat bekerja dan melihatnya lagi saat benar-benar sudah selesai.''

"Be-begitu..'' Hinata menunduk lemas.

"Kenapa? Kau merasa cemas karena berciuman dengan Gaara?''

"Eh─?! Ka-kami tidak berciuman!'' seru Hinata histeris.

"Ah, iya. Maksudku karena Gaara mencium pundakmu.'' Kakashi terkekeh pelan menikmati guyonan untuk membuat Hinata gelagapan. "Tenang saja, kau 'kan hanya bekerja.''

"Be-benar juga,'' Hinata menghela nafasnya lagi. Ia benar-benar ingin segera memberitahu Sasuke. Ia tak ingin Sasuke mengetahui hal ini selain dari mulut Hinata sendiri.

.

.


"Sasuke-kun! Kau baru selesai?'' Sakura yang baru saja selesai berganti pakaian dari acaranya menghampiri Sasuke cepat.

"Ya, tinggal berpamitan dengan staff.''

"Hee─oya, minggu depan semua pemain Saiken akan promosi bersama. Kuharap kau bersikap akur dengan Naruto demi rating filmnya juga ya.'' Sakura tertawa pelan membuat wajah Sasuke langsung masam.

"Dunia entertain inilah yang kubenci. Melakukan apapun demi rating yang baik.'' bisik Sasuke seraya meninggalkan Sakura yang hanya bisa tersenyum pasrah melihat tanggapan dingin Sasuke. Ia sudah tidak aneh melihat sikap Sasuke yang sejak awal memasuki dunia entertain sedari kecil itu bersikap angkuh. Sakura paham betul bahwa aktor seni lebih mulia dibandingkan para artis pencari sensasi jaman sekarang. Karena itulah Sasuke kesal jika setiap perilakunya di hubungkan dengan rating.

Sasuke yang baru saja memasuki ruang tunggunya, mengambil ponsel dan langsung melihat nama Hinata tertera di layar. Baru kali ini Hinata menelepon semalam ini melihat waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam. Takut ada hal penting, Sasuke buru-buru menelepon Hinata yang dengan segera langsung dijawab tanpa perlu menunggu lama.

"S-Sasuke-kun?!''

"Hei, kau bahkan tidak bilang 'halo'.'' Sasuke tersenyum tipis dan duduk di bangku yang berada di ruangan tersebut. "Bagaimana? Aku lihat majalah kemarin, pihak dari Gaara sudah mengklarifikasinya. Kau berhasil bicara dengan mereka?''

"Eh? I-iya. Mereka setuju mengklarifikasi berita itu.'' jawab Hinata perlahan mulai ragu untuk mengatakan hal sebenarnya.

"Lalu? Kenapa kau meneleponku? Apa kau sedang kerja?''

"Eh─itu, u-uhm─'' Hinata menelan ludahnya dan menatap Kakashi yang memberi kode agar Hinata berterus terang pada Sasuke. "Ano, Sasuke-kun.''

"Hn?''

"Aku berfoto bersama Gaara untuk pemotretan!'' seru Hinata pelan dengan sekuat tenaga. Ia benar-benar yakin Sasuke akan memberikan omelan panjang padanya kali ini.

"Hmm─ Bagaimana? Berjalan lancar?'' balas Sasuke datar.

"Eh─i-iya. Cukup lancar,'' Hinata menjawab pelan. Ia tak menyangka reaksi Sasuke berbeda dari yang Ia pikirkan. Tak ada emosi dalam nada Sasuke di telinganya. "Sa-sasuke-kun, kau tidak marah?''

"Hm? Kenapa marah? Itu pekerjaanmu, aku tidak berhak melarangmu.'' jawab Sasuke santai. "Lagipula, dia juga model jadi aku tak merasa hal aneh.''

"Be-begitu..'' Hinata tersenyum senang. "Benar, tidak ada yang aneh. Walau ini untuk pemotretan majalah dewasa, tapi kami benar-benar melakukannya seperti majalah katalog!''

Hinata dengan riang mengucapkan kalimat polos itu membuat Kakashi bahkan menepuk kepala dengan telapak tangannya. Bingung mengapa Hinata bisa sepolos ini. Rasanya Kakashi ingin sekali mencubit Hinata, gemas dengan tingkah gadis yang kini tersenyum-senyum di belakangnya.

"Majalah... Dewasa?'' Sasuke berbisik dengan suara beratnya.

"Ah? Aku belum bilang?''

"..."

"Sa-sasuke-kun?"

"Ada apa?'' ujar Sasuke tanpa intonasi.

"Kau marah?'' tanya Hinata memelas.

"Tidak. Tenang saja, aku percaya padamu.'' ujar Sasuke dengan penekanan dalam dan segera berbisik pelan. "Jadi, jangan sampai kepercayaanku ini kau hancurkan.''

"...'' Hinata sedikit bergidik mendengarnya. Entah mengapa Hinata merasa Ia benar-benar tak boleh membuat Sasuke cemas seperti ini lagi. "Baiklah, sampai jumpa.''

"Sampai jumpa.'' balas Sasuke lembut dan segera mematikan panggilannya. Sasuke yang awalnya tersenyum tipis kembali menurunkan lesung bibirnya. Ia kembali serius dan menatap lurus dengan mata tajamnya.

"Sasuke! Ada tawaran menarik untuknu!'' Anko yang tiba tiba datang menyadarkan Sasuke dari lamunannya, menyeruduk masuk dan menunjukkan Sasuke kertas ditangannya. "Aah, aku benar-benar tak sabar dengan ini. Kau tahu, ceri-"

BRAAKK!

Meja kayu yang awalnya berada di depan Sasuke kini terbang jauh berkat tendangan sang Uchiha yang melemparnya kencang hanya dengan kaki kanannya. Anko yang baru saja masuk langsung membeku. Ia tak peduli lagi dengan meja kayu yang sudah hancur tersebut dan menatap Sasuke dengan sekuat tenaganya.

"Sa, Sasuke.. A-ada apa?"

"Minggir, moodku sedang tak bagus.'' Sasuke menepis tangan Anko yang mencoba memegangnya dan berdiri dari duduknya. Hanya dalam beberapa detik setelah Ia berdiri, kaki Sasuke lagi-lagi dengan kencang menutup pintu setelah Ia keluar membuat Anko tercengang melihatnya.

"B-baru kali ini aku lihat dia semarah itu.."

.

.

.


Sudah dua minggu ini Sasuke dan Hinata tak bertemu. Saat promosi Saiken-pun keduanya tak sempat berbicara saking sibuknya. Sasuke sendiri lebih sering menghabiskan waktu di teater dan dojo. Ia tak ada niatan bertemu dengan Hinata meski waktu bisa Ia cari untuk menemuinya.

"Sasuke, ini majalah yang kau minta. Tumben sekali kau minta majalah dewasa seperti ini." Anko yang baru datang ke arah dojo tempat Sasuke latihan segera memberikan majalah di tangannya dengan senyuman jahil. Tanpa menggubris ucapan Anko, dengan cepat Sasuke menarik majalah tersebut dan membuka plastik majalahnya kasar.

"..." Sasuke terdiam saat melihat lembaran kelima majalah tersebut. Terpampang wajah Hinata satu halaman besar-besar dengan kimono yang memperlihatkan pundaknya. Kulit mulus Hinata tampak terekspos dengan manisnya di majalah tersebut. Wajah malu-malunya yang biasa Sasuke lihat kini tertangkap kamera.

Membuka lembaran berikutnya, mata Sasuke langsung menyipit dengan alis yang saling bertautan. Entah mengapa emosi Sasuke campur aduk melihat lembaran di depannya. Sekarang di depan matanya terpampang gadis miliknya bersemu merah dengan pundak terbuka yang dicium lembut oleh lelaki yang bahkan tak ingin Sasuke ingat namanya. Ia terlalu marah pada dirinya sendiri karena tak bisa menghentikkan Hinata melakukan pemotretan seperti ini.

"Eh? Bukankah itu Hyuuga Hinata?!" seorang pemain Kabuki yang sedang berlatih tanpa sengaja melihat majalah yang Sasuke pegang dan menatap majalah tersebut senang. "Aku baru tahu kalau Hinata adalah model majalah dewasa! Memang kalau Hinata punya dada yang─"

BRAK!

Belum sempat lelaki berambut cokelat tersebut menyelesaikan ucapannya, kini setengah wajahnyatertutupi oleh tangan Sasuke yang mencengkram wajahnya kencang ke arah tembok. Para pemain Kabuki lainnya langsung menyingkir melihat wajah Sasuke yang dingin. Tidak, bukan dingin.. Ia seperti binatang yang menemukan mangsanya kali ini. Anko yang melihatnya juga hanya bisa mati kutu di samping Sasuke.

"U..Uchiha..san," ujar lelaki tersebut ketakutan.

"Jangan sekali-kali kau sebut namanya dengan mulutmu." Sasuke melepas cengkraman tangannya dan segera meninju tembok di samping lelaki tersebut kencang hingga retak. "Wanitaku bukan seperti itu,"

"B..ba..baik─" dengan suara gemetar lelaki yang langsung terduduk lemas menatap Sasuke yang kini berjalan ke arah luar dojo. Semua pemain tahu bahwa mood Sasuke sudah di batas maksimalnya, main-main sedikit nyawa bisa jadi taruhan dengannya.

"..Sial," bisik Sasuke sembari melempar majalah di tangannya.


Hinata yang kini sedang menuju lokasi meeting untuk drama terbarunya mulai menahan nafas dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia benar-benar gugup sekarang. Ini adalah film pertamanya sebagai peran utama dan drama ini adalah dorama yang diproduksi oleh Yamato. Seorang produser ternama dimana dorama yang Ia produksi selalu menjadi deretan teratas, apalagi dorama ini nantinya akan tayang menjadi dorama sore dimana acara televisi hanya menayangkan dorama terbaik untuk menempati dorama sore. Hinata benar- benar takut kalau dirinya tak seauai harapan Yamato nanti.

"Hinata, nanti kita akan mulai latihan dialog terlebih dahulu dan briefing terlebih dahulu dengan seluruh staff. Buatlah kesan pertama yang baik dengan mereka.''

"E-eh, ba-baik. Aku akan berusaha─'' ujar Hinata semangat meski hatinya masih berdegup kencang.

Dengan persiapan hati yang matang, Hinata dan Kakashi memasuki ruangan yang sudah disiapkan tak jauh dari pintu gedung dan mencoba membuka kenop pintu. Setelah pintu terbuka, mata Hinata langsung terbuka lebar melihat siapa saja yang sedang duduk di tempat meeting tersebut. Sebuah meja panjang dengan bangku disekelilingnya kini sudah hampir terisi penuh dengan orang-orang yang menatap Hinata tajam. Hinata kenal beberapa diantara mereka. Ada Karin, artis yang sedang disorot media berkat popularitasnya yang sebanding dengan skandalnya, serta Inuzuka Kiba, aktor yang namanya melejit berkat dorama-dorama yang ia mainkan selalu menempati rating tinggi. Melihat keduanya, Hinata yakin dorama ini bukanlah hanya main-main belaka untuk memilih Hinata sebagai peran utama.

"Aah, tak kusangka gadis ini mengalahkanku dalam menjadi peran utama.'' Karin yang mulai membuka mulutnya menatap Hinata serius dan mengambil script di atas mejanya. "Bahkan dialogku bisa dihitung dengan jari. Padahal anak ini anak baru 'kan?!''

"Hoi, sopanlah sedikit!'' Kiba yang melihat kelakuan Karin mendelik ke arah gadis berambut merah tersebut dan buru-buru berdiri. "Hyuuga Hinata, 'kan? Namaku Inuzuka Kiba. Kita akan menjadi teman sekelas di dorama nanti.''

"Ah, salam kenal.'' Hinata meraih tangan Kiba yang tersenyum lebar untuk bersalaman. Ia benar-benar merasa canggung terlebih Kakashi harus meniggalkannya dan duduk di bangku bersama para staff yang berseberangan dengannya.

"Biarkan saja gadis itu. Dia sangat berbeda dengan di layar kaca, mulutnya memang seperti itu.'' Bisik Kiba jahil meski Hinata hanya menatapnya tak percaya. ''Kau ini, aku berkata yang sesungguhnya!"

"A-ah, terimakasih.'' Hinata tersenyum senang. Setidaknya ada satu orang yang terlihat bersahabat disini.

"O,ya.. kau pemain Saiken juga 'kan?'' tanya Kiba lagi membuat Hinata mengerutkan keningnya bigung.

"Ju-juga?''

"Eh? Kau tidak tahu? Salah satu pemain Saiken juga main dorama ini. Uchiha Sasuke, kau ingat?''

"E-eeh?!'' Hinata buru-buru menutup mulutnya menyadari suaranya terlalu kencang saat itu. Ia belum pernah dengar hal ini, bahkan dari mulut Sasuke sendiri. Hinata ingat betul Ia sudah memberitahu Sasuke bahwa Ia akan main di dorama ini, entah apa yang Sasuke pikirkan hingga merahasiakannya dari Hinata.

"Kau ini, masa lawan mainmu saja tidak tahu.'' Kiba tertawa pelan. ''Yah, walaupun dia hanya pemeran pendamping juga.''

"Eh? Sa.. U-uchiha-san bukan pemeran utama?''

"Tidak juga, tapi peran utamanya dipegang oleh Gaara. Kau kenal? Model yang sedang naik daun itu.''

Wajah Hinata sudah tak bisa dirangkaikan apapun. Entah apa yang harus Hinata sebut kondisi ini. Takdir? Keajaiban? Ketidaksengajaan? Entah apa itu Hinata hanya bisa pasrahkan dirinya. Kenapa bisa Sasuke dan Gaara dipertemukan di saat ini. Terlebih kedua laki-laki itu belum pernah ditemukan dengan baik sebelumnya.

''Kau mau tahu kenapa Gaara yang terpilih?'' Karin yang mengambil kursi di sebelah Hinata menatapnya jahil. "Bukankah karena gosip denganmu?''

"E-eh?''

"Yamato-san memang selalu memproduksi dorama-dorama yang melejit. Tapi apa kau sadar bahwa dia mengenakan aktor yang sedang terlibat skandal ataupun rumor-rumor sehingga rating doramanya selalu terangkat selain dari cerita yang bagus?'' Karin menunjukkan telunjukknya ke wajah Hinata. "Dan posisimu sebagai karkter utama dengan lawan main yang dirumorkan adalah kekasihnya sangat membuat masyarakat tertarik nantinya. Untung besar untuk Yamato-san, bukan?''

"A-aku tidak memiliki hubungan dengan Gaara-san. "

"Hmm.. benarkah?'' Karin tersenyum simpul. Saat pintu terbuka, matanya langsung menuju ke arah pintu dan melonjak kaget.''Ah! Sasuke-san!''

Hati hinata langsung lompat saat mendengar Karin memanggil nama Sasuke disampingnya. Hinata lirikkan matanya dan benar saja, Ia melihat sosok Sasuke dengan Anko dibelakangnya berjalan menuju meja dengan wajah dingingnnya.

"Oh, Sasuke! Sudah lama!" Kiba tersenyum lebar dan menjabat tangan Sasuke semangat. "Tak kusangka kau menerima tawaran main dorama.''

"Yah, karena ada hal yang harus kuawasi di dorama ini.'' jawab Sasuke sembari menatap Hinata tajam meski Kiba yang di sampingnya terlihat kebingungan. "Lama tak bertemu, Hyuuga-san.''

"A-ah, i-iya..'' Hinata tertunduk dalam. Ia tak berani menatap wajah Sasuke yang kini duduk di samping Kiba.

"Sasuke-san! Lama tak bertemu─!'' Karin yang langsung pindah dengan duduk disebelah Sasuke buru-buru mendekatinya dan menatapnya lekat. "Aku lihat pertunjukkan kabukimu di televisi. Kau benar-benar tampan!''

"─.Apa kau benar-benar menontonnya? Aku selalu menjadi perempuan, bagaimana bisa aku menjadi tampan.'' balas Sasuke dingin membuat Karin mati kutu. Suasana di antara mereka berempat tiba-tiba menjadi hening. Para staff dan produser yang duduk berseberangan dengan mereka pun hanya bisa terdiam melihat kondisi para pemainnya.

''Permisi,'' tiba-tiba suara berat memecah suara pemain lain dan membuat orang-orang serta staff menatapnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Gaara.

"Gaara! Kemari!'' lambai Kiba ke arah Gaara. Tampaknya Kiba benar-benar orang yang mudah bergaul hingga mengenal siapapun disini.

Gaara lalu berjalan ke arah meja diikuti tatapan para artis lain hingga staff yang sedang bersiap-siap. Mereka seakan penasaran bagaimana percakapan antara Gaara dan Hinata yang dilihat langsung dengan mata kepala mereka sendiri. Terlebih berkat Karin yang pindah di sebelah Sasuke, Gaara mau tak mau duduk di samping Hinata karena hanya bangku itulah yang satu-satunya kosong. Tampaknya Hinata benar-benar tidak beruntung kali ini.

"Baiklah, karena semua pemain sudah berkumpul aku akan menjelaskan cerita dari dorama ini. Kalian pasti sudah baca scriptnya, bukan? Kuharap kalian mendalami peran masing-masing." Yamato yang berdiri sembari melihat ke arah scriptnya berseru pelan.

Hinata yang baru memegang script di tangannya melihat isi lembaran putih tersebut dengan seksama. Ia sudah membaca cerita dari dorama yang akan dibuat menjadi 9 episode ini. Ceritanya diangkat dari novel best seller pada tahun lalu dimana bercerita mengenai gadis bernama Aoi yang dimainkan oleh Hinata memiliki kekasih yang akan dimainkan Sasuke nantinya. Tetapi karena kondisi Aoi lambat laun melemah, Ia harus tinggal di RS tanpa memberitahu sang kekasih. Saat itu Aoi bertemu seorang pasien yang dimainkan oleh Gaara dan seiring berjalannya waktu keduanya jatuh cinta. Di sinilah Aoi harus memberitahu sang kekasih bahwa Ia mencintai laki-laki lain, tetapi hatinya tak bisa menerima hal tersebut karena sang kekasih tetap memberikan kebaikan terus-menerus padanya. Pada akhir cerita, penyakit Aoi semakin parah dan akhirnya Ia meminta maaf pada sang kekasih karena mencintai lelaki lain sebelum akhirnya menutup mata selamanya. Pada seluruh cerita memang lebih difokuskan mengenai bagaimana Aoi mencintai sang pasien di RS yang sama dengannya, tetapi hatinya tetap bertautan dengan sang kekasih. Meski berakhir sedih, tetapi entah mengapa cerita ini sangat disukai oleh para masyarakat sehingga banyak ekspetasi tinggi saat berita bahwa novel ini akan dijadikan dorama muncul.

"Indah," bisik Hinata saat sang produser menceritakan cerita dari dorama tersebut. Ia tersenyum lembut sembari memandangi script di tangannya dan berbisik pelan. "Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga."

"Baiklah, kita akan mulai berlatih dialog. Kita mulai dari Episode 1."

Para pemain lalu mulai saling berdialog dengan seluruh kemampuan masing-masing. Para staff yang melihatnya sangat puas mendengar dialog yang terucap. Meski belum berakting, hanya dengan suara mereka saja bisa dilihat bahwa dorama ini akan suskes nantinya.

.

.

"Otsukare! Apa kau ada acara lagi nanti?" Kiba yang keluar dari ruangan meeting bersama dengan pemain lain menghampiri Hinata santai.

"Ti-tidak, aku akan langsung pulang." jawab Hinata pelan.

"Baiklah, aku duluan, ya! Sampai bertemu minggu depan!" Kiba tersenyum lebar mengingat jadwal syuting akan dimulai minggu depan. Ia lalu berlari pelan seraya melambai ke arah Hinata yang juga membalasnya. Ia benar-benar sangat baik pada Hinata membuat sang gadis bermata lavender ini nyaman.

"..Hyuuga-san," tiba-tiba suara dari belakang membuat Hinata bergidik dan menoleh ke belakangnya.

"Ga..Gaara-san,"

"─Scriptmu, tertinggal." Gaara menyerahkan gulungan kertas putih dengan nama Hinata di atasnya dan menatapnya datar. "Mohon bantuannya untuk drama kali ini."

"Eh, u-uhm, mohon ban─"

"Ah, Gaara-san." seorang suara tiba-tiba memotong percakapan keduanya dan menatap Gaara bersahabat. "Salam kenal, ini kali pertama kita bertemu."

"..Uchiha-san─" Gaar terdiam dan kembali menatap wajah Sasuke. "Tidak juga, seingatku kita pernah bertemu saat kau menjemput Hyuuga-san di studio tempo lalu."

Hanya dengan kalimat Gaara, Hinata langsung kelabakan. Ia baru ingat Hinata berpapasan dengan Gaara saat Sasuke menjemputnya dulu. Entah apa yang akan dikatakan orang jika tahu keduanya menjalin hubungan.

"Oh, kau ingat." Sasuke menyeringai tipis. "Kalau begitu aku tidak perlu repot-repot memberitahumu untuk tidak mendekati gadisku."

"..." Gaara terdiam mendengar perkataan Sasuke. Ia lirik dari sudut matanya wajah Sasuke yang juga semakin menajam di sampingnya dan buru-buru mengalihkan pandangannya. Belum sempat Gaara membuka mulutnya, sang manajer tiba-tiba memanggilnya di ujung lorong membuat dirinya langsung menatap manajernya tersebut sebelum akhirnya pergi dari tempatnya. "Aku permisi dulu."

Hinata dan Sasuke yang tinggal berdua di lorong tersebut hanya bisa diam hingga Gaara benar-benar pergi. Para staff yang masih berada di sana tampak penasaran dengan sesekali melirik ke arah keduanya lekat-lekat.

"Sa-sasuke-kun, kau tidak perlu bicara seperti itu padanya!" seru Hinata berbisik agar orang disekitar mereka tak mendengarnya.

"..Aku hanya ingin dia tahu bahwa kau milikku." ujar Sasuke santai sembari berjalan menuju keluar gedung diikuti Hinata yang juga menuju mobil Kakashi di luar. Sasuke tampaknya terlihat suram dari caranya berbicara. Tidak pernah Ia bicara sedingin ini pada Hinata sebelumnya. Sesampainya di tempat parkir gedung, Sasuke menarik Hinata masuk ke dalam mobilnya paksa tak peduli Hinata yang kaget akan perilakunya.

"Sa-sasuke-kun! Aku harus menuju ke mobil Kakashi-san, jika tidak dia─"

"Diam." potong Sasuke cepat. "Tadi itu aku benar-benar menahan emosi saat melihat laki-laki itu. Memuakkan."

"Sa-sasuke-kun,"

"Aku lebih menguasai drama dibanding dirinya." ujar Sasuke tiba-tiba. "Aku sudah memasuki dunia ini dari kecil, penghasilanku pasti lebih besar dari laki-laki itu, sikapku juga akan lebih dewasa dibanding dia, Aku lebih memperhatikan dirimu darpiada laki-laki itu, Aku juga─"

"..Eh? Sasuke-kun?" Hinata yang bingung dengan Sasuke yang tiba-tiba bicara ngawur menatapnya lekat dan menyadari wajah Sasuke beda dari yang biasa Ia lihat. Entah apa, tapi Hinata merasa pedih melihat raut wajah Sasuke yang kini bersandar di pundaknya, poni Sasuke yang turun menutupi wajahnya kini. "Nee, Sasu─"

"Jangan putuskan aku."

"Eh?"

"Kumohon, apa kau akan meninggalkanku?"

.

.

"Sa-Sasuke-kun!" Hinata mendorong pundak bidang Sasuke untuk bangun dan menatap wajah pemilik raven tersebut dalam dengan wajah seriusnya. "Kenapa kau berkata begitu?!"

"...Kupikir kau merasa dia lebih baik dariku."

"E-eh?" Hinata menautkan kedua alisnya dan menghela nafas panjang. "Bagaimana mungkin.."

"Maaf, mungkin pikiranku juga kacau," Sasuke mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. "Kau benar-benar gadis baik."

Hinata yang melihat wajah Sasuke terdiam. Ia baru kali ini melihat seorang Sasuke yang angkuh itu menatapnya penuh kekosongan. Dengan pelan Hinata usapkan tangannya di wajah Sasuke lembut sembari tersenyum simpul.

"Aku baru kali ini melihat Sasuke merajuk seperti ini.''

"...apa buruk?''

"Eh?''

"Kakakku bilang aku tidak boleh bersikap seperti ini.'' Hinata yang mendengar Sasuke mengungkit sang kakak tak percaya mendegarnya. Baru kali ini Sasuke sendirilah yang bicara tentang lelaki yang bahkan Hinata tidak tahu rupanya.

"Sasuke-kun, siapapun boleh menunjukkan kelemahannya.'' Hinata menggenggam erat tangan Sasuke. "Itu bukan hal yang buruk.''

"..begitu,'' Sasuke dengan segera menghela nafasnya lega dan dengan spontan memeluk Hinata erat, sangat erat hingga Hinata merasa sedikit sesak karenanya.

"Sa-sasuke-kun! Kau terlalu kencang memelukku.'' ujar Hinata dengan wajahnya yang bersandar di pundak Sasuke.

"Bagaimana ini..'' ucap Sasuke tertahan. "Aku benar-benar mencintaimu.''

Sasuke yang memeluk Hinata gemas, seakan tak ingin melepaskan rangkulannya di tubuh Hinata yang hangat. Sebaliknya, Hinata yang merasa kehangatan tubuh Sasuke merasa nyaman berada di pelukan Sasuke yang mulai melonggarkannya.

''Ng-ngomong-ngomong, ke-kenapa Kakakmu berkata begitu?'' tanya Hinata hati-hati saat Sasuke melepas pelukannya dan menatap Hinata lurus. Beda dari yang Hinata bayangkan, kali ini Sasuke tidak terlihat marah saat Hinata mengungkit hal tersebut, wajahnya hanya datar tanpa ada emosi di wajahnya.

"Karena dia tahu dia akan pergi dari keluargaku.''

"Eh?"

"Kau tahu kan seorang pemain Kabuki biasanya adalah turunan dari pemain Kabuki tersebut? Begitu pula dengan Uchiha, dari jaman ke jaman pemain Kabuki di Uchiha sudah terbebani akan ekspetasi yang besar. Kakakku juga tahu bahwa suatu hari Ia harus menggantikan posisi Ayah sewaktu-waktu.''

"U-uhmm..'' Hinata mengaggukkan kepalanya pelan. Ia benar-benar tak menyangka Sasuke bercerita seperti ini padanya.

"Lalu, saat aku lahir Kakakku sangat senang. Bukan karena apa, tapi karena aku adalah lai-laki yang berarti aku juga akan mengikuti jalur Kabuki nantinya. Maka dari itu, sejak aku kecil dialah yang mengajariku Kabuki hingga aku menyukai Kabuki begitu dalam. Tapi,''

Sasuke mengerutkan keningnya dan menunduk dalam. Kepalan tangannya tampak bergetar menahan emosi yang Ia tahan sebelumnya.

"Kakakku pergi dan membuang Kabuki. Dia mengajariku agar dia bisa pergi dari dunia Kabuki ini. Mengorbankan aku demi kebebasannya.''

"Sa-sasuke-kun..''

"Padahal dia sendiri tahu bahwa dirinya lebih hebat daripada aku. Dia seakan menginjak diriku begitu saja.''

"Ku-kupikir tindakan Kakakmu bukan untuk melepasnya dari dunia Kabuki.'' ujar Hinata tiba-tiba. "Dia pasti punya alasan..''

"Tidak, dia hanyalah orang asing semenjak keluar dari rumah. Aku tidak akan bertanya apapun lagi padanya.''

"...''

"Ah! Disini kau ternyata!'' suara Anko dari luar mobil membuat Sasuke dan Hinata yang berada di bangku belakang terlonjak kaget dan buru-buru melihat dari jendela wajah Anko dan juga Kakashi di belakangnya. "Kupikir kalian kemana. Kakashi sampai datang kepadaku karena kalian!''

"Ma-maafkan aku,'' Hinata yang baru keluar dari mobil segera membungkuk dalam.

"Haah, setidaknya hubungi aku jika kau bertemu dia.'' Kakashi menghela nafas panjang. "Baiklah, Anko. Sesuai dengan rencana yang tadi.''

"Baiklah, aku mengerti.''

"Eh? Ada apa?'' tanya Hinata bingung.

"Aku ada rapat mendadak. Anko bilang Ia mau mengantarmu dulu karena kebetulan dia juga membawa mobil sendiri, jadi pergilah bersama Anko.''

"Ah, maaf merepotkan!''

"Tenang saja,''

"Kakashi-san,'' potong Sasuke kencang. "Apa Hinata ada jadwal besok?''

"Hm? Tidak, dia dapat libur 2 hari.''

"Baguslah. Aku akan meminjamnya dulu.'' Sasuke segera duduk di bangku pengemudi dan menarik Hinata cepat. ''Anko, aku yang akan mengantarnya.''

"Eh?! Tu-tunggu, Sasuke!'' teriak Anko meski mobil sport milik Sasuke kini sudah melesat keluar dari parkiran membuat Anko langsung mengomel bertubi-tubi bersamaan dengan Kakashi yang hanya bisa pasrah melihat kelakuan mantan artisnya tersebut.

.

.

"Sa-sasuke-kun! Kenapa kau tiba-tiba...''

"Menginaplah dirumahku. Jika di apartemenmu, bisa gawat jika ada wartawan melihat kau turun nanti.'' ujar Sasuke mengingat apartemen Hinata adalah apartemen yang terkenal karena ditinggali orang dari kalangan artis di dalamnya. Sudah pasti ada satu atau dua paparazzi yang tiap hari berada di sana mencari berita.

"Eh?! Ta-tapi..''

"Tenang saja, ada satu kamar bekas kakakku yang kosong. Kau bisa tidur disana.''

"U-uhm.. baiklah.'' ujar Hinata pasrah. Jika sudah begini, tampaknya akan percuma menolak Sasuke.

"Lalu, di drama tadi.. Maaf, aku sengaja memberi kejutan padamu, kalau aku juga ikut audisi drama itu." ujar Sasuke datar.

"Ah, a-aku sangat kaget melihat nama Sasuke-kun di daftar pemain."

"Ya, aku langsung audisi saat tahu bahwa pemeran utama laki-lakinya adalah orang itu. Harusnya aku juga mengincar peran utama."

"Sa-sasuke-kun," Hinata tertawa kecil. "Tapi meski begitu, di drama itu kita adalah sepasang kekasih. Aku senang─"

"Ya, walau kau akan jatuh cinta pada laki-laki itu."

"Sasuke-kun!" seru Hinata pelan melihat rajukkan Sasuke yang tetap fokus ke jalanan. "Ano, Ga-gaara-san tidaklah buruk. Dia mengajari beberapa hal dalam dunia model, jadi.."

"Ya, aku tahu." Sasuke tersenyum tipis ke arah Hinata. "Aku percaya padamu."

"...Uhm." Hinata mengangguk pelan. Ia yakin sudah tak bisa lagi dihitung dengan jari betapa seringnya Sasuke berkata bahwa Ia mempercayai dirinya, Hinata semakin merasa bahwa Ia benar-benar membuat Sasuke khawatir belakangan ini. "Ano, Sasuke-kun─"

CIIITT!

Belum selesai Hinata berbicara, tiba-tiba tangan kiri Sasuke menarik tubuh Hinata ke pelukannya erat sementara tangan kanannya memegang setir. Decitan rem membuat suara yang begitu nyaring di telinga Hinata yang bisa melihat kini Sasuke melempar setirnya ke pinggir jalan dan mengerem begitu tiba-tiba. Bunyi klakson mobil Sasuke berderu kencang seiring mobilnya yang memutar ke luar jalanan. Mobil yang awalnya berada di jalanan kini terhempas ke pinggir jalan di sebuah rerumputan. Jika saja mobil Sasuke tak berhenti lebih cepat, pasti mobilnya kini menabrak pohon di depannya tadi.

"Kau baik-baik saja!?" seru Sasuke kencang ke arah Hinata yang masih di dalam dekapannya.

"Ah, u-uhm.. Aku baik-baik saja." jawab Hinata lemas dengan keringat dingin. Lima detik tadi merupakan waktu paling mencekam dalam hidupnya selama ini.

"Sialan! Mobil tadi sengaja berusaha menabrakkan mobilnya." umpat Sasuke melihat mobil putih di depannya yang ikut berhenti. Mobil yang berjalan di arah sebaliknya dari Sasuke tadi tampak berusaha menabrakkan mobilnya ke arah mobil Sasuke tanpa ragu barusan. "Aku akan turun,"

"Tu-tunggu, Sasuke-kun! Jangan perpanjang urusan─"

"Tidak, jika refleksku tidak bagus tadi kau bisa saja terluka!" Sasuke lepaskan tangan Hinata yang menahan tubuhnya dan keluar dari mobil. Hinata yang melihatnya dari dalam mobil hanya bisa berdoa tidak terjadi hal yang buruk pada Sasuke nantinya.

"Hei, buka kacamu!" seru Sasuke kencang ke arah bangku pengemudi yang masih menutup kacanya. Sasuke bisa tahu bahwa pemilik mobil ini bukan sembarangan dilihat dari betapa mewahnya mobil yang kini di depannya. "Hoi─!"

"Jangan berteriak seperti itu. Apa kau tak punya sopan santun sebagai seorang Uchiha?" kaca mobil belakang yang terbuka menunjukkan seorang lelaki berambut hitam dengan mata onyx yang menyala di dalamnya.

"...Itachi─" geram Sasuke melihat siapa yang duduk di bangku belakang dengan setelan jasnya rapih. "Kau mau membunuhku barusan?!"

"..Hn." Itachi menyeringai tipis dan segera keluar dari mobil, berdiri di hadapan Sasuke yang tampak begitu kaget melihat siapa yang kini berada di depan matanya. "Sudah lama tak bertemu, adikku─"

"Orang itu," bisik Hinata yang melihat situasi di depannya semakin mencekam. Ia lihat dari balik kaca wajah Sasuke yang baru kali ini Ia lihat, penuh kemarahan seakan Sasuke bisa membunuh orang kapan saja. Dari sekali lihat Hinata bisa tahu bahwa orang di depan Sasuke adalah sang Kakak yang baru saja dibicarakan. "Sasuke-kun.."

"Pergi, jangan tunjukkan mukamu lagi." tukas Sasuke dingin.

"Kenapa? Aku kakakmu,"

"Menjijikan. Aku tidak ingat punya Kakak sepertimu."

.

.

.


TBC

Akhirnya Sasuke face to face ketemu Itachi. Hime juga bisa jadi ketemu dengan Itachi /woi

Haha maaf ya kalau updatenya lama, aku lagi UTS T^T

Semoga saat libur nanti aku bisa lebih cepat udpate /nangis

Makasih banyak sudah review huhuuhuhu seneng banget ;;;

Sampai ketemu di next chapter! Ditunggu reviewnya X""(