"Nijimura-san mau pulang?"
Yang dipanggil tersentak kaget. Entah sejak kapan Akashi bisa menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Nijimura mengangguk mantap meski tak rela melewatkan penampilan perdana para kouhai-nya malam ini.
"Ya mau gimana lagi, orang udah terlanjur beli." Lembaran kertas yang dikenal sebagai tiket pesawat ditunjukkan sebagai barang bukti. Pemuda bersurai merah di hadapannya menatap nanar ke objek tersebut—dan Nijimura pun tidak bisa menahan godaan untuk menepuk puncak kepala Akashi setelah melihat makna tersirat di iris rubinya.
'Seharusnya jangan pulang, kita semua masih kangen'.
"Udah udah," Pemuda pelangi itu mengacak pelan surai juniornya. "Toh ya nanti bakal pula—"
"NIJIMURACCHI JANGAN PULAAANG!"
Gubrak!
Sesosok kuning ngambang menerjang tanpa peringatan dan sukses menginterupsi momen perpisahan mengharukan seorang senpai dari manta—kouhainya. Kise sang perusak suasana menangis sesenggukan sambil memeluk Nijimura yang ditindihnya tanpa ampun.
"Nijimuracchi nggak boleh pulang-ssu!" rengeknya. "Segalak-galaknya Nijimuracchi sama kita, kita tetap sayang-ssu!" Di satu sisi Akashi hanya memandang prihatin, sementara yang disebut bingung apa seharusnya ia terhina atau tidak. Aomine pun dengan semangat empat-lima menyingkirkan si kuning agar Nijimura tidak mati muda.
"Ini lucky item Nijimura-san hari ini-nodayo." Midorima dengan wajah merona dan kacamata retak menyodorkan kantung kertas mirip cewek SMA yang malu-malu menyerahkan hadiah Valentine. "S-Semoga selamat sampai tujuan."
Nijimura tanpa ragu mengintip isi objek coklat tersebut—dan nyaris melemparnya keluar jendela kamar kalau bukan karena menyadari niat baik kouhai-nya.
"Mura-chin, ini ada snack buat di jalan~" Murasakibara memberi satu kresek penuh maiubou, keripik kentang dan sekotak ichigo daifuku. Bagusnya, bisa untuk mendiamkan orkestra perut. Buruknya, Nijimura merasa kuota bagasinya akan bertambah mengingat jumlah bombastis snack dalam kresek tersebut.
"Ini untuk Nijimura-san, Shuuko-chan dan Shizou-kun," Kuroko menyodorkan bingkisan sederhana berbalut kertas kado merah garis-garis biru. "Maaf jika kurang membantu. Yang bantu membuatkan Kagami-kun dan Takao-kun lho."
Di belakangnya, Kagami nyengir kuda dan ada silaunya cahaya senyum lima jari Takao. "Nijimura-san, kita belum lama kenal tapi aku yakin kita bakalan akrab!" Takao mengancungkan jempol. "Nijimura-senpai, semoga kita akrab... er, desu." Kagami menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Beberapa jarinya terbungkus plester.
"Aku titip salam untuk orang tuamu." Ujar Himuro sambil tersenyum. "Katakan aku dan keluarga baik-baik saja—dan oh, kalau ada Mike beri salamku juga, Shuu."
Nijimura mengangguk tanda konfirmasi—dan tunggu, ke mana perginya orang yang setia menyapa setiap kali dirinya hendak pulang?
"... Aku dari tadi disini, bego."
"ANJIIIIIIR!" Nijimura melompat mundur. Semua hadirin kaget, termasuk Kuroko yang hobi nge-troll orang dengan sifat transparannya. Mayuzumi duduk dengan pewe, menyilangkan kaki dengan tangan dilipat di dada di atas kasur yang sebelumnya ditiduri si pemilik kamar.
"Dibilangin kalo muncul jangan dadakan, Mayu!" bentak Nijimura geregetan begitu badannya berhenti kejang-kejang trauma. "Maaf." Level tensinya meningkat drastis mendengar jawaban datar tak bermakna dari pemuda tertua yang hadir.
Di barisan belakang para orang pinggiran, Kise mulai menyebar gosip dengan penuh semangat. "Aku punya feeling Nijimuracchi sama Mayuzumi-senpai pacaran-ssu!" ujarnya, yang mendapat anggukan setuju dari semuanya. Akashi mendesah lega karena senpai pelangi tercinta lulus dari periode gamon.
"Kayaknya beneran deh." Aomine melirik duo hitam-kelabu yang tengah mengobrolkan sesuatu. "Setelah kulihat, Mayuzumi-senpai terlihat lebih hidup ketika berbicara dengan Nijimura-senpai." Timpal Kuroko dengan anggukan singkat.
Semuanya memandang horor ke arah sang ahli pengamatan. Nak, selama ini versi kedua dirimu kau anggap apa?
Kembali ke dua sejoli yang merasa dalam dunia sendiri, padahal kenyataannya ada penonton drama picisan keduanya. "Kutunggu musim dingin tahun ini." Mayuzumi berkata datar—meski ada sedikit perasaan tak rela berpisah. Andai ia tahu, perkataannya barusan (di telinga penonton) terdengar mirip istri yang akan ditinggal dinas suaminya.
"Iya iya," Nijimura memutar bola matanya dengan nada bosan, tapi jauh di lubuk kokoro terdalam tak rela berpisah. "Stay jomblo ya, kalo nggak gua hajar pas balik."
(Perkataan barusan membuat tanda tanya imajiner bertebaran di antara para penonton. 'Pasti efek hukuman hari kedua,' batin Akashi yang paham betul apa maksudnya.)
Mayuzumi mengangguk singkat tanpa pesan lanjut. Sebelah tangan diangkat sebagai isyarat high-five yang biasanya mereka lakukan setiap kali berpisah. Nijimura ikut mengangkat—
Sakitnya tuh disini, di dalam hatiku~ Sakitnya tuh—
Piip. Tombol accept ponsel ditekan. "Halo?"
Sementara Nijimura berbincang di telepon dengan seseorang, sepuluh manusia warna-warni terkapar tragis di lantai karena kram perut.
.
.
Ini Apartemen, Bukan Balai Reuni! by Pink Crystalline Roses
Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi-sensei
Semua lagu yang muncul di bab ini milik pencipta masing-masing.
Warning: Humor gagal, garing, bahasa, potensi timbulnya OOC, geje. Mungkin ada sho-ai nyempil disini. Author tidak bertanggung jawab atas penyakit mata apapun atau serangan jantung setelah membaca fic ini.
Disclaimer: Persamaan karakter, suasana dan lain-lain hanya kebetulan semata.
(EXTRA WARNING: BAB INI ADALAH BAB YANG SANGAT-SANGAT-SANGAT PANJANG DAN DAPAT MENYEBABKAN MOOD WHIPLASH (PERUBAHAN MOOD) DRASTIS BAGI READER. ANDA SUDAH DIPERINGATKAN, NANODAYO!)
.
.
Setelah insiden ringtone tidak jelas nan melambai ponsel milik Nijimura, sepuluh orang korban masih tergeletak lemas dengan napas terengah-engah dan memegangi perut masing-masing.
'Demi tuhan itu kerjaannya adik gua', mungkin itulah yang akan diutarakan perihal ringtone tersebut.
"Nijimura-san, ada apa?" Akashi sebagai anak teladan langsung mengubah suasana begitu Nijimura selesai berbincang ria dengan entah-siapa-itu. Ekspresi horor nampak jelas di wajah di kepala stroberi yang mundur selangkah melihat cengiran penuh makna di wajah senpainya.
"Ada kabar gembira buat kalian semua," Cengiran masih setia terpampang di wajah. "Kulit manggis udah—MAYU SIALAN, JANGAN NGELEMPAR HAPE SEGALA!"
.
"Beneran nih?! Ciyus?!"
Suasana kamar mendadak ricuh mengikuti pimpinan Aomine yang histeris. Nijimura mengangguk singkat, dan di background Kise berlari keliling sambil menangis terhura. Aura pink bunga-bunga memancar dari Kuroko dan kawan-kawan seperjuangan.
"Iya. Katanya gua gak usah pulang—tunggu." Nijimura melirik tiket di genggaman. Setelah sekian detik lembaran kertas tersebut dilempar frustasi. "SIALAN GUA RUGI BERAPA YEN ITU!"
"Niji kebanyakan dosa," ujar Mayuzumi datar melihat Nijimura yang sujud memohon pengampunan di lantai. "Niji harus tabah. Hashtag koin untuk Niji."
"Betewe," Kagami menyeletuk. "Kostumnya kapan dateng?"
"Iya ya," Akashi mengeluarkan ponsel marunnya. Beberapa tombol ditekan sebelum mendekatkan objek tersebut ke telinganya. "Harusnya Momoi datang sebentar lagi."
Perjuangan quartet nista Momoi-Riko-Mibuchi-Moriyama plus Izuki tidak sia-sia. Setelah empat hari berkeliling Jepang untuk mencari anime shop yang bagus, setumpuk kostum kece siap pakai berhasil dikumpulkan. Uang saku dipinjam dari celengan Mibuchi yang tajir dan akan diganti rugi oleh Akashi, semantara pesawat VIP disediakan untuk mereka berlima spesial dari Akashi Corps.
Lumayan lah, sekalian liburan.
"Tidak dijawab." ujar Akashi singkat setelah beberapa detik nada sambung terdengar. Ponselnya dipulangkan he habitat asal. "Kurang sekitar tujuh jam—"
"A~KA~SHI-KU~N!"
Suara kelewat ceria menggema di koridor depan kamar Nijimura. Semuanya langsung siap siaga dan Kuroko disembunyikan di balik badan Murasakibara yang dijadikan tembok pelindung.
"Akashi-kun, kostumnya~!" sesosok gadis bersurai pink membuka pintu—di belakangnya, ada banci jejadian yang kewalahan membawa kardus-kardus besar. Setelah diidentifikasi, orang tersebut tak lain adalah Mibuchi Reo.
"Oh, Momoi." Akashi tersenyum tipis. "Terima kasih atas kerja kerasnya."
Momoi ber-he-he-he. Dipuji seorang Akashi Seijuurou serasa diterbangkan ke langit ketujuh. "Semuanya ngumpul! Kagamin, Kazu-kun, Himuro-senpai!" senyuman riangnya dibalas cengiran lima jari dan lambaian.
"Lha, Momoi masa lupa gua nih?" Nijimura menunjuk dirinya sendiri tanpa menghiraukan Mayuzumi.
"Ooh, Nijimura-senpai! Eh, ada Mayuzumi-senpai juga!"
Sementara Momoi sibuk mengobrol dengan yang lainnya, Akashi membantu Mibuchi menurunkan kardus-kardus yang tidak bisa dibilang ringan. "Ciee, Sei-chan perannya unyu!"
Andai yang ada di sini adalah setan gunting, mungkin tak sampai satu menit berlalu Mibuchi akan tewas mengenaskan dengan puluhan gunting tertancap di kepala. Akashi memutuskan untuk sabar dan tabah menghadapi cobaan.
"Jadi, Reo-chan dan aku akan membantu riasan kalian!" Momoi mengumumkan. Semuanya sweatdrop. Siapa yang tak tahu bahwa meski nampak feminin, gadis bernuansa pink tersebut tidak bisa melakukan pekerjaan halus? Jangankan merias wajah, memasak saja dijamin dapur hangus. Para cast merinding disko membayangkan hasilnya. Di sisi lain, Nijimura membuat Tuit agar alumni tim basket yang pernah dihinggapi para makhluk pelangi tahu kabar pentasnya.
Para cast berdoa dengan khusyuk—semoga roh mereka masih tetap di tempat hingga nanti malam.
.
.
(Dua jam menuju pementasan.)
"Ini... berlebihan."
Komentar Kuroko sambil memandangi bayangannya di cermin. Bukannya ia narsis sih (diketahui Akashi adalah raja narsis), tapi betul kata Aomine—selera baju 'Satsuki' berlebihan.
"Kyaa, Tet-chan unyu!" Mibuchi memekik fanboying sambil membenahi seutas pita biru muda yang tersimpul di bawah kerah. Kuroko heran mengapa kain kemeja yang dipakainya begitu tipis—jika dibasahi pasti langsung you can see. Untungnya, kemeja tersebut longgar dan berbalut rompi abu-abu bergaris hitam sehingga resiko pelecehan menurun.
"Pakai ini, pakai ini!" Mibuchi menyodorkan baret hitam berhias bulu putih dan permata berbahan plastik yang senada dengan celana dan sepatu botnya. Dengan penuh kesabaran dipakainya baret itu dan menutupi puncak kepalanya. "Eng... begini?" Kuroko bertanya malu-malu.
Mibuchi pun tak kuasa menahan darah yang mengucur deras dari hidung.
"JANGAN KHAWATIR, TETSUYA! AKAN KUSELAMATKAN KAU!" Kagami mondar mandir sambil berlatih. Kostumnya—kemeja dan bot hitam dengan celana putih dan tambahan coat merah menyala beraksen emas dan sabuk—benar-benar memberi kesan regal meski orangnya urakan.
Tangan dicengkeram di dada dengan puitis. "TUNGGU DISANA, SAYANGKU, AKU PASTI DATANG! SEGALANYA UNTUKMU!" Kagami berteriak lantang, membuat semua yang disana pendarahan di telinga. Nijimura langsung menyabetnya.
"Kau berisik-nanodayo." alis Midorima berkedut kesal. Takao saat ini tengah membantu merapikan kostumnya. Keduanya nampak semakin mirip pasutri dengan istri yang membenahi dasi suaminya sebelum berangkat kerja.
Sejauh ini, yang nampak paling royal dengan kostumnya adalah Midorima. Coat panjang berwarna hijau dengan kerah tinggi, kemeja putih, rompi dan bot hitam dilengkapi dengan cravat putih serta sebagian poninya yang disisir ke belakang—prince charming yang sempurna untuk Takao. Kacamatanya masih tetap di tempat berhubung Midorima sama saja buta tanpa aksesoris tersebut.
"Atsushi, diam dulu." Himuro dengan susah payah berusaha menguncir rambut titan ungu yang duduk dengan punggung menghadap dirinya. Pasalnya, Murasakibara kerap kali menolak didandani. Namun dengan rambutnya yang panjang pasti akan tidak sedap dipandang—berantakan, sederhananya.
"Enggak mauu~" Murasakibara merengek, sekali lagi menyingkirkan tangan Himuro dari kepalanya dengan wajah cemberut. Menurut Mibuchi, kostum untuk Murasakibara dipesan karena tidak ada ukuran yang pas. Untungnya data ukuran badan mereka semua ada di Momoi.
Murasakibara, sama halnya dengan kebanyakan cast lainnya memakai coat panjang ungu dengan aksen perak, kemeja dan celana hitam, rompi putih lengkap dengan bot yang senada. Seutas pita ungu tersimpul rapi di bawah kerahnya—tinggal urusan menguncir rambutnya dengan pita hitam yang dibawa Mibuchi, semuanya beres.
"Momocchi, eyeshadow-nya mana-ssu?" Kise mengobrak-abrik kotak riasan milik Momoi. Karena sudah terbiasa dengan dunia modelling si kuning dibiarkan merias dirinya sendiri. Di sisi lain, Momoi mengejar Aomine yang berontak karena tidak mau didandani.
"Dai-chan, diem dulu ah! Biar gak kelihatan dakian tuh!" teriak Momoi sambil berlari keliling ruangan, foundation di tangan. "Kii-chan enggak usah pakai eyeshadow!"
"IH! JANGAN DEKET-DEKET, SATSUKI!" Aomine balas berteriak, menghindari menabrak cast lainnya yang tengah bersiap-siap. Coat yang belum sepenuhnya terpakai menggantung di bahu kiri.
"Oh iya deng!" Kise pun baru mendapat ilham. Sejak disuruh berdandan mirip ondel-ondel ketika photoshoot minggu lalu, eyeshadow sudah menjadi kebiasaan.
"DAI-CHAN, JANGAN KABUR!"
"GYAAAAAAAA—!"
"Berisik amat ah," gumam Mayuzumi di pojokan. Karena 'bekal'-nya yang disita Nijimura, tembok berjalan yang satu ini hanya bisa duduk diam menonton prahara ruang ganti. Dirinya yang selesai pertama—Mibuchi benar-benar paham sifat tidak sabarannya ketika dipaksa melakukan sesuatu.
Saat ini ia memakai baju berlengan hingga siku senada dengan rambutnya yang benar-benar longgar, celana panjang dan sepatu hitam, syal putih yang membuatnya gerah—karena terlalu panjang dan harus dililitkan tiga kali—dan perban di sisi kiri wajahnya dan sepanjang lengan mengikuti tren Midorima. Jujur saja agak perban di wajahnya agak mengganggu, namun demi tidak dihajar Nijimura badai pun diterjang.
"Akashi kemana sih? Lama banget gantinya," ujar Aomine yang akhirnya pasrah sementara Momoi merapikan coat navy blue miliknya. Di baliknya ada kemeja hitam yang dikancing dengan tidak rapi dan dasi sewarna yang disimpul longgar. Celana panjangnya berwarna gelap coklat dengan sepatu bot hitam. Karena tokoh yang diperankan Aomine urakan, tidak perlu dandanan berlebih selain sedikit foundation ajaib milik Momoi.
"Nggak tau-ssu, ya dimaklumin aja deh." Sahut Kise yang sudah selesai berdandan. Poninya yang disisir rapi ke belakang memberi kesan berbeda meski suara cemprengnya masih mengingatkan orang akan mbak-mbak SMA. Coatnya berwarna keemasan dan di baliknya kemeja putih dengan dasi pita menghiasi. Sama halnya dengan Aomine, celananya coklat gelap dengan sepatu bot senada.
"AKU DATANG, TETSUYAAAA!" Kagami masih asyik berteriak meski badan penuh bekas sabetan penggaris sakti Nijimura. Akashi sendiri tak habis pikir mengapa ia sama sekali tidak woles. "MENYINGKIRLAH, SETAN GUNTING SIALAN!"
"BERISIK-NODAYO!" Midorima yang sudah tidak kuat melempar guci antik terdekat dengan three-pointer yang indah.
(Sementara itu di jejeran penonton, "Emangnya mereka gitu ya?" "Nggak tau, Shin-chan memang gak bisa akur sama Kagami.")
"Ini sudah dua jam lho~" celetuk Murasakibara di tengah-tengah acara tawuran antara Midorima dan Kagami. Semuanya refleks melihat jam tangan masing-masing.
"Tau tuh, lama amat."
"Kemana sih—"
Cklak. Cklak. Cklak—
"Baiklah. Ayo kita latihan sekali lagi."
Pucuk dicinta, Akashi pun tiba—tangan dilipat di dada, coat merah berkibar di bahu. Namun karena suatu alasan spesifik, kemunculannya nampak sangat tidak elit di mata para cast, Takao dan Nijimura. Semuanya menganga kagum menyaksikan tekadnya untuk bersabar melalui prosesi pemakaian kostum.
Tanpa banyak mulut para cast langsung hormat gerak. "SIAP, KORPORAL!"
.
.
"Push up, shuttle run, eng... apa lagi ya—eh?"
Sambil bertopang dagu, pensil diketuk-ketukkan ke permukaan kertas untuk mencari inspirasi. Aida Riko yang tengah menyusun menu latihan klub basket Seirin terinterupsi ketika ponselnya berdering.
apartemen_pelangi
Kabar gembira untuk kita semua~
Datanglah ke perayaan pendirian Apartemen Pelangi yang ke XX-tahun! Drama tahunan diperankan oleh penghuni baru kamar 130 dan 135, jam tujuh malam ini!
P. S.: Bagi yang mengenal nama Kuroko, Kise, Aomine, Midorima, Murasakibara, Akashi, Kagami, Takao, Himuro dan Mayuzumi, dijamin gak rugi.
~ Niji
Setelah melihat tuit tersebut, Riko langsung melompat dari kursi, membuang kacamata secara asal dan menyabet mantel terdekat—tak lupa ponsel tercinta untuk menghubungi alumni Seirin.
"PAPAH, AKU MAU JALAN-JALAN YA!"
"RIKO-TAN, JANGAN KELUAR MALAM-MALAM!"
.
.
(Lima belas menit menuju penampilan.)
"Beneran tuh gak apa-apa?" Kagami menaikkan satu alis dengan penuh keraguan melihat Akashi yang banjir keringat dingin sehabis mengintip dari balik tirai panggung.
"Sebenarnya Akashi demam panggung-nanodayo." Sahut Midorima dengan apatis sambil melepas lilitan perban di jari-jarinya. Sama sekali tidak ada niatan untuk membantu sang sutradara—benar kata orang, karma akan selalu menemukan jalan. "Kau juga belum pernah melihat kesaktian Kuroko-nodayo."
Tanda tanya imajiner muncul di sekeliling Kagami. "Hah?"
"Kurokocchi itu sakti banget-ssu!" Kise yang nganggur menjawab dengan penuh semangat sementara Aomine keturutan tidur-tiduran dengan berbantalkan paha perawannya. "Saking saktinya, kita semua kewalahan—"
"Pokoknya Tetsu itu biang kerok hancurnya drama kita pas itu." Aomine menyambung.
Andai bukan karena menghargai kerja keras Momoi dan Mibuchi yang membantu riasan (khususnya Aomine), novel enam ratus halaman di tangan Kuroko pasti sudah melesat bak peluru kendali.
"Kuro-chin sabar ya~ Nyem nyem~" Murasakibara beralih profesi menjadi mediator sambil asyik melahap sekantung choco chip cookie. Di sebelahnya Himuro tertawa pelan, "Ya, kita hanya bisa mendoakan kelancaran drama ini." Di pojokan, Mayuzumi tertidur pulas seperti biasanya ketika nganggur. Kurang istirahat karena begadang maraton anime keluaran baru.
"Dukunganku selalu datang dari balik panggung!" Takao mengacungkan jempol ditemani senyum lima jari miliknya, naskah di genggaman. Semuanya sweatdrop. 'Justru yang paling mengkhawatirkan itu kau, Takao/Takaocchi/Taka-chin/Takao-kun'—pikiran mereka yang sekali lagi sinkron.
Sementara itu, Akashi memeluk tiang terdekat dengan kondisi mengenaskan—gonjang-ganjing tak terkontrol sambil banjir keringat dingin dan merapal doa—"Kalau aku gagal, aku bunuh diri. Kalau aku gagal, aku bunuh—tunggu, kalau aku bunuh diri nasib Kuroko bagaimana..."
"Kembali dengan gu—saya, Nijimura Shuuzou!"
"Udah mulai lagi tuh." Komentar Aomine yang ogah-ogahan. Himuro bergegas membangunkan putri tidur di pojokan meski tahu persentase keberhasilannya rendah.
"Siap-siap!" Takao mengomando, merapikan barisan cast sesuai urutan tampil di atas panggung. Kagami merasa gatal ingin menarik Kuroko untuk menjauh dari sesosok setan merah yang masih bermesraan dengan tiang.
"Kuroko, cepetan!" Kagami menepuk bahu si baby blue yang teguh pendirian untuk membantu Akashi berdiri. Kuroko membuka mulut untuk protes, "Nanti Akashi-kun—"
Berharaplah Kagami akan menggunakan alasan dirinya cemburu karena sang pujaan hati tengah dekat dengan rivalnya supaya BL dalam fic ini semakin kental. Yap, teruslah bermimpi.
"Hus! Nanti kalo Akashi gak tampil, dramanya batal!"
"... Iya ya."
'Kalian berdua sama-sama gak peka! Kalo gitu caranya, gimana elo mau pedekate, Kagami!' batin Takao dan kawan-kawan sambil mengigiti tembok yang malang. Satu kesempatan telah terbuang percuma bagi Kagami untuk membebaskan diri dari jeratan kejonesan.
"Sampailah kita di saat yang sudah ditunggu-tunggu—acara yang sudah menjadi tradisi—drama tahunan Apartemen Pelangi, yang diperankan oleh; Kuroko Tetsuya, Kise Ryouta, Aomine Daiki, Midorima Shintarou, Murasakibara Atsushi, Akashi Seijuurou, Kagami Taiga, Takao Kazunari, Himuro Tatsuya dan Mayuzumi Chihiro!"
"Nijimura-san bakat MC-nya kebangetan ya," Takao menyumbang komentar. Semuanya mengangguk setuju.
"Penasaran dengan ceritanya? Waduh, saya tidak bisa memberitahu sinopsisnya. Langsung saja—kepada uhukkouhaikampretdankawan-kawanuhuk Saudara-Saudara yang akan tampil, mohon bersiap-siap."
"..." Semuanya diam seribu bahasa mendengar pembukaan nista yang dibawakan Nijimura.
.
.
"Minggir! Minggir! Eike mau lewat~!"
Banyak orang otomatis menyingkir ketika sesosok pria cantik nan melambai dengan penuh semangat menerjang kerumunan—dan kebanyakan diantara mereka yang kaum Adam sempat berhenti sejenak untuk memandangi gadis bersurai permen kapas yang mengekor di belakang banci tersebut.
"Tempat untuk kita sudah di-booking sama Nijimura-senpai kan, Reo-chan?" Momoi memegangi lengan blazer Mibuchi agar tidak terpisah di tengah lautan manusia.
Mibuchi membuat gestur 'oke' dengan cengiran penuh rasa percaya diri. "Semuanya beres, Satsu-chan! Tinggal cari tempatnya aja!"
Auditorium yang asalnya nampak luas kini telah terpotong sepertiganya untuk panggung dan sisanya kursi penonton. Jika dihitung, auditorium ini cukup untuk menampung sekitar lima ratus orang. Lumayan kan buat bunker pertahanan—bukannya sebentar lagi ada Perang Dunia III sih.
Saking sibuknya Mibuchi fokus ke perkiraan lokasi tempat duduk untuk mereka berdua, ia tak sengaja menabrak seseorang.
"Aduh!" keduanya memekik bersamaan dan terkapar mengenaskan di lantai. Momoi segera membantu teman seper-fangirling-annya berdiri sebelum dijadikan injakan bagi orang lewat.
"Are? Riko-chan!" Mibuchi yang berdirinya baru setengah jalan kembali dijatuhkan ketika Momoi melesat memeluk Riko yang berdiri di belakang orang yang barusan bertabrakan. "Riko-chan ikut yeeey~!"
Sementara Riko terjangkit asma dadakan karena dicekik aset Momoi, Hyuuga yang bertabrakan dengan Mibuchi terkena masalah yang lebih serius dari datangnya alien pembelah bulan.
"Junpei-chan, pertemuan kita kali ini pasti takdir~!" Mibuchi seketika bangkit dengan aura bunga-bunga yang memancar di sekitarnya. "JIJIK! OGAH! JANGAN DEKET-DEKET!" Hyuuga langsung ambil langkah seribu dan bersembunyi di belakang punggung seseorang. Lebih baik bumi dihancurkan Koro-sensei daripada dikejar spesies banci taman lawang. "Oi Kiyoshi, ngapain gitu kek!"
Kiyoshi yang dijadikan tembok pelindung malah tertawa pelan, "Are—Mibuchi? Kau datang untuk bersenang-senang?"
"Salfok, bego!" Hyuuga yang emosi balas berteriak.
"Lho? Bukannya kalau bertemu teman harus disapa ya?"
"... Mereka berdua benar-benar tidak berubah." Riko berkomentar setelah dinding terdekat penyok disertai asap mengepul bekas penganiayaan kepala Hyuuga. "Riko-chan, cari tempat duduknya yuk!" Momoi tanpa mempermasalahkan Mibuchi yang asyik mengejar-ngejar Hyuuga keliling langsung menyeret gadis yang lebih tua darinya.
"Riko, aku ikut~" Kiyoshi dengan polos dan tanpa belas kasihan ikut-ikutan.
.
"Iyaah, lumayan juga."
Cengiran mencurigakan mengembang di wajah Imayoshi yang sukses membuat sebiji jamur merinding ketakutan. "Tidak disangka juga, si Aomine itu bisa main drama."
"Ano... Imayoshi-san, bukannya Aomine-san korban pemaksaaan ya?" Sakurai dengan ragu-ragu duduk di sebelah pria berkacamata yang hobi nge-troll orang tersebut. Dirinya sendiri korban pemaksaan karena dipaksa ikut meski sempat menolak.
"Iya sih," Imayoshi memasang wajah berpikir. "Dengar-dengar, Momoi masuk barisan staff lho."
Di sisi lain, sekelompok mahasiswa yang terdiri dari senpai tsundere, casanova wannabe, pelawak garing dan penggemar nanas mengambil tempat duduk di baris tengah sebelah timur auditorium.
"Kenapa gua harus ikut kalian..." geram Miyaji yang merasa dirinya out-of-place. Semua orang tahu kelemahannya yang tidak akan pernah tega menyakiti nanas-chan sehingga dieksploitasi oleh Kasamatsu dalam bentuk ancaman bahwa nanas-chan akan dilempar ke lubang titan.
"Panas-panas enaknya beli nanas di Monas. Kitakore!" Izuki sekali lagi mendapat ilham. Lawakan garingnya hari ini bertemakan nanas-chan.
"Sayang, kamu banyak miripnya sama nanas lho." Moriyama jahil memilih korban berikutnya yaitu Kasamatsu. Yang ditarget pura-pura tidak kenal, akhirnya ia melanjut, "Soalnya nanas warna kuning. Aku suka kuning."
"Berisik!" Kasamatsu langsung salto dan sukses mendaratkan kaki di kepala Moriyama sang korban iklan, sementara Miyaji yang kebetulan memakai kaos kuning sempat salah tangkap.
.
.
"Baiklah, ini dia penampilan perdana malam ini—mari kita sambut, tim teater Pelangi dengan drama berjudul 'Kegilaan Sang Guntingmania'!"
Penonton bersorak sorai meski beberapa di antaranya memasang tampang 'judul apaan tuh'. Sang pembawa acara langsung turun panggung dan digantikan oleh sang narator. Takao Kazunari menarik napas dalam-dalam. Berdehem pelan, para penonton terdiam seketika. "Alkisah, di sebuah negara nun jauh terdapat sebuah kerajaan bernama Kerajaan Heterochrome."
Nijimura di sisi kiri panggung mengangguk—tidak salah ia memilih Takao sebagai narator.
"Kerajaan Heterochrome melalui masa-masa sejahtera di bawah kekuasaan keluarga Guntingmania. Hingga suatu hari, para penduduk kerajaan yang anti-heteroseksual mendirikan banyak biro jodoh dadakan untuk Sang Pewaris, Seijuurou Guntingmania—yang notabene orientasi seksualnya adalah guntingseksual~" Takao mundur ke balik panggung sambil ber-yes karena berhasil membalaskan dendam mereka yang tersiksa. Alis Nijimura naik satu mendengar narasi yang mendadak ngawur. Penonton yang mayoritas ibu-ibu menggiring anak-anak mereka keluar auditorium. Pemeran figuran berlarian ke atas panggung.
Cklak. Cklak. Cklak. Suara langkah kaki sang emperor—
"Guntingmania-sama, notice meh!" semua karakter mob berteriak bergiliran, sementara sesosok regal berjalan dengan pancaran aura superioritas melewati mereka semua. Helaian merah dan coat senada berkibar dengan bebas—
—dan tepat saat itu, beberapa orang spontan tersedak.
Siapa yang tidak shock ketika melihat Akashi—iya, Akashi yang itu—tengah melenggang cantik bak peserta fashion show di atas panggung, mengenakan dress putih selutut, stockings dan hak lima senti.
"Tentunya, banyak orang tertarik dengan kecantikan dan keseksehan Guntingmania—mulai dari pedobear, lolicon setempat hingga om-om belok yang mengaku lurus."
"Ditolak." Jawab tu—nona muda Seijuurou Guntingmania dengan dingin, menyibakkan rambut(palsu)nya yang sepanjang pinggang. Para fanboy (yang tidak kenal) jejeritan. "Enyah kalian dari hadapanku."
Meski nampak cool, sebenarnya Akashi tengah kejang-kejang ketakutan sambil berteriak memanggil mamah tercinta (dalam hati). Kurang sabar apa dirinya sampai rela menahan hasrat untuk melempar gunting ke narator yang dengan seenak jidat mengubah narasi.
"Namun karena masalah standar Kanjeng Calon Ratu Guntingmania-sama yang terlalu tinggi, banyak pecahan kokoro berserakan di jalanan dan toilet umum Kerajaan Heterochrome." Takao cekikikan meski jauh di dalam sana ngakak gegulingan. "Kenapa di toilet umum, saya juga tidak tahu~"
Jauh di barisan penonton, Momoi menyikut Mibuchi. "Reo-chan, perasaan naskahnya Nijimura-senpai nggak gitu deh." Komentar gadis bernuansa pink itu—peka juga ternyata. "Jujur aja, karena naratornya Kazu-chan aku agak ragu dia bakalan serius..." gumam Mibuchi prihatin.
Di sisi lain, Miyaji garuk-garuk kepala heran. "Si Takao itu maunya apa sih?"
"Kalian keterlaluan!" di panggung Akashi membentak para karakter mob yang otomatis menciut di hadapannya. "Kenapa kalian pakai bangun biro jodoh segala?! Kalian bilang saya jones, tidak laku, perawan tua gitu hah?!"
(Perhatian penonton sekalian, dialog di atas adalah hasil improvisasi amatir. Terima kasih dan selamat menikmati.)
"Ya ampun..." Akashi menepuk jidat dengan satu tangan di pinggang. "... Memangnya aku benar-benar tidak laku—"
Sesosok pria melambai dengan semangat di jejeran penonton—baiklah, mungkin 'melambai' disini penuh makna konotasi. "SEI-CHAN CEPETAN CARI JODOH YAAA~!" Orang tersebut berteriak, berniat mulia untuk memberi motivasi. Sepersekian detik kemudian, orang yang sama tewas dengan jepit rambut tertancap di dahi.
Akashi melempar pandangan maut ke arah penonton. "Problem, hm?"
Para hadirin langsung menggeleng ketakutan.
.
.
"Ya, inilah yang terjadi jika tokoh utamanya Akashi-nanodayo."
Kilauan muncul di sebelah Midorima yang (lagi-lagi) memasang pose 'sudah kuduga'. Semenjak improvisasi 'perawan tua' atau apalah itu dari sang tokoh utama, para cast di belakang panggung pasrah pada nasib.
"Guntingmania-sama yang merasa dirinya semakin hari semakin jones pun memutuskan untuk segera mencari pendamping hidup. Karena biro jodoh dadakan Kerajaan Heterochrome tidak mutu, Guntingmania langsung capcus ke negara tetangga yang juga merupakan sekutu kerajaannya."
"Itu lho, Midorima. Giliran lo," Kagami mengingatkan. Kacamata Midorima melorot lima senti. Lucky item—boneka anjing laut yang unyu digenggam erat.
"Aku belum mau mati-nanodayo."
.
.
Latar panggung berganti menjadi taman sebuah istana yang kata orang Jawa ijo royo-royo. Midorima melangkah ke panggung—dan disambut dengan teriakan fangirling dari barisan penonton, khususnya dari para mahasiswi.
"Sementara itu di negeri serba hijau—Negeri Kolor Ijo, kata saya—seorang pangeran kece nan lumutan yang dituduh pemilik akun Tuiter berlabel meganedanshi_nanodayo tengah berjones ria ditemani lucky item tertjintah."Takao agak memberi keringanan meski mengumbar informasi pribadi. Sejak kapan seorang Midorima Shintarou punya Tuiter adalah rahasia ilahi.
"Putra mahkota Negeri Kolor Ijo, Shintarou Octo namanya. Sama lumutannya dengan penduduk negeri ini pada umumnya—dan diduga ke-tsundere-annya sudah turun temurun."
Para fangirl sekali lagi menjerit kegirangan—tsundere cakep memang bikin termehek-mehek.
"Oh, betapa jonesnya diriku," Midorima dengan tangan dikepalkan di dada memandang maut ke sang narator. "Meski Sei adalah belahan jiwaku, aku tak bisa menahan kejonesan ini-nano—"
Sebuah gunting menancap dengan cantiknya di pilar belakang Midorima yang langsung merinding. Entah kena karma macam apa lagi hari ini, adegan pelemparan senjata yang tidak ditulis dalam naskah mungkin bertujuan menghentikan logat khasnya.
"Shintaroooou~! Aku datang untuk menemuimu~!" Akashi muncul dari sisi panggung dengan senyum ceria dan melambai penuh semangat—'melambai' di sini adalah arti sebenarnya—yang sungguh out of character. Midorima semakin merinding melihat makna tersirat dibalik cerahnya manik hetero sang mantan kapten.
'Tertawa, mati kau.'
Demi keselamatan bokongnya, meganedanshi kita tercinta mengikuti alur. Midorima menelan ludah dan mencoba untuk memasang wajah paling bahagia yang pernah ia tunjukkan. "Sei, tak tahukah kau betapa linunya kokoroku menunggu kedatanganmu?" senyuman terpaksa muncul—Takao sekarat di belakang tirai panggung.
"Aku juga merindukanmu, Shintarou~"
Dengan tidak ikhlasnya, Akashi menghamburkan diri ke pelukan Midorima—para penonton, di antaranya Momoi, Riko dan seorang banci jejadian menjerit melihat akting gemilang dua sejoli yang sebenarnya penuh ketegangan. Apalagi di pihak Midorima, yang merasa dirinya akan mati sewaktu-waktu.
Nijimura di sisi panggung terbatuk-batuk menyaksikan pertanda kembalinya sang mantan.
"Sebenarnya, ada hal yang ingin kukatakan sejak dulu, Sei." Midorima akhirnya memecah kegaduhan para penonton. Lampu panggung diredupkan seraya ia berlutut sambil menggenggam tangan Akashi (yang menahan nafsu untuk melempar linggis) dengan romantis.
"KYAAAAAAAAAA!" Para penonton kembali menjerit. Beberapa tewas bersimbah darah.
Sementara adegan pelamaran lawak terjadi, Miyaji memutuskan untuk bertanya, "Sebenernya orang gila mana sih yang ngeship MidoAka?"
"Aku." Moriyama mengangkat tangan.
"NGGAK BOLEEEEH! MIDOTAKA FOREVER!" Momoi menjerit tidak terima. "AKASHI-KUN HANYA MILIK TETSU-KUN SEORANG!"
"SETUJU! LESTARIKAN AKAKURO! MUSNAHKAN MIDOAKA DAN KAGAKURO!" Mibuchi yang tak mau ketinggalan mengibar bendera pelayaran kapal AkaKuro. Peperangan atas nama OTP memang sering terjadi. "IH! KUROKO-KUN COCOKAN SAMA KAGAMI-KUN! MIDOAKA UNYU TAU GAK!" Riko membalas.
"AKAKURO SELAMANYA, RIKO-CHAN!"
"GAK BAKAL, MIDOAKA POKOKNYA!"
Di atas panggung, Midorima dan Akashi menjadi saksi bisu perang ideologi antara dua calon politikus muda. "Sejujurnya mau sampai kiamat pun aku tak akan ikhlas punya peran semacam ini." Akashi berbisik, kedua bahu tegang karena penuh tekanan. Midorima (masih dengan posisi berlutut) hanya mengangguk dengan keringat bercucuran.
"Jadi, apa kau mau menerima seme-mu ini apa adanya, Sei?" satu pertanyaan yang dilontarkan Midorima langsung membuat penonton hening karena tegang. Akankah diterima? Atau ditolak?
Akashi menunduk. Helaian merah menghalangi pandangan. Penonton semakin tegang—
"KYAAAAAAAAA!" Penonton seketika menjerit ketika Akashi dengan semena-mena memeluk Midorima yang bulu kuduknya langsung berdiri. 'Krak', suara kacamata yang retak.
"Tentu saja," Akashi tersenyum, membuat banyak orang mati klepek-klepek karenanya. "Aku akan selalu berada di sisimu, melalui kebahagiaan dan kesedihan bersama until death do us part, Shi~n-chan~"
"KYAAAAAAAA SO SWEEEET!" adalah jeritan terheboh malam ini.
"OHOKOHOKK—!" Nijimura masih terbatuk.
Sandal jepit melayang dari belakang panggung—entah siapa pelemparnya, namun Akashi sukses menghindari projektil yang meluncur ke arah kepala.
(Di belakang panggung, sesuai dugaan semua orang kericuhan terjadi. "TAKAO, SABAR NAK! BERTAUBATLAH!" "LEPASIIIIIN! LEPASIN IH!" "Takao-kun, minum dulu.")
.
.
"Kebetulan, Guntingmania yang tengah bejo dan butuh asupan seme dilamar oleh... jodohnya yaitu Shintarou Octo—hiks." Takao dengan terhura menyeka air mata yang gagal ditahan. NTR memang sakit meski akting sekalipun.
"Setelah mendapat restu dari kedua belah pihak, pasangan lumut-iblis dinikahkan secara resmi di hadapan Yang Maha Kuasa dan mantri nikah tetangga sebelah dengan harapan mempererat persatuan nusa-bangsa Kerajaan Heterochrome dan Negeri Kolor Ijo. Namun di uhukmalampertamauhuk, Shintarou merasa ada yang janggal dengan 'istrinya'."
Narator mundur dan lampu panggung kembali dinyalakan—latar berubah menjadi kamar mansion Octo yang sebesar istana negara. Akashi tengah duduk santai menghadap jendela dengan efek sinar dewa menghiasi.
"Sei," Midorima muncul dari sisi panggung seraya memeluk 'istrinya' dari belakang, membuat penonton menahan pekikan bahagia. Jika ini drama romansa dua muda-mudi, mungkin keduanya sudah nekat berciuman di hadapan para jones.
"Mengapa dari tadi kau terdiam, love? Apa ada yang mengganggu?" Kekhawatiran yang saat ini di wajah Midorima benar-benar tidak ikhlas.
Hening. Akashi terkekeh—pelan, kemudian meledak menjadi tawa khas seorang maniak. Penonton terdiam, beberapa merinding saking takutnya mendengar suara pengundang mimpi buruk perwujudan iblis di atas panggung.
Midorima mundur beberapa langkah dengan wajah bingung. "Hahaha! Kau terlalu lugu, Shintarou!" Akashi bangkit, menghadap si ijo lumut dengan seringaian lebar terpampang. Wajah ke-yandere-annya begitu nyata sampai-sampai Midorima lupa cara bernapas.
"Kau pikir aku ini apa?" Maju selangkah. Lawan bicara mundur. "Tidak bisakah kau melihatnya?"
Maju. Mundur. Maju. Midorima terjebak. 'Maju tatu, mundur ajur' kata orang Jawa—maju terluka, mundur hancur. Di depan ada singa kelaparan, di belakang ada dinding. "Kau... Istriku? Seijuurou Guntingmania, Emperor dari Kerajaan Heterochrome?" ia menjawab penuh keraguan.
"Ha! Lihatlah kebenarannya, Shintarou Octo!" seringaian Akashi yang semakin melebar membuat beberapa pasangan di baris penonton memeluk satu sama lain tak terkecuali Momoi-Riko dan Mibuchi yang gagal memeluk Hyuuga.
"Aku adalah—" sambil memasang pose ala Sailor Moon, Akashi melepas wig-nya dan mengibas poni agar kece. "SEIJUUROU GUNTINGMANIA, TUAN MUDA KERAJAAN HETEROCHROME! JRENG JRENG JRENG JREEENG—SAKSIKANLAH KEKECEANKU!"
"DIA LAKI-LAKI?!" Penonton berteriak kompak. Nijimura menepuk jidat. Pihak yang bertanggung jawab nyengir kuda melihat mahakarya mereka.
"JEBREEET SAUDARA-SAUDARA! GUNTINGMANIA TERNYATA ADALAH SESOSOK CROSSDRESSER NISTA!" Takao mengumumkan, membuat kericuhan di antara para hadirin semakin parah. "SHINTAROU YANG MENGETAHUI DIRINYA MENIKAHI SESAMA JENIS ALIAS HOMO TIDAK DISENGAJA LANGSUNG DEPRESI! BAGAIMANA KELANJUTANNYAAA?!"
Nijimura berisyarat agar penonton diam. Suasana pun kembali tertib, sementara di atas panggung Midorima pundung di pojokan dan Akashi masih tertawa nista.
"S-Seijuurou..." Midorima masih pundung. Tak lama kemudian ia bangkit dan mengacungkan jari—tenang saja, jari telunjuk kok—ke arah pengkhianat perasaannya. "KAAAU! BERANI-BERANINYA KAU MENGKHIANATI KOKORO INI, SEIJUUROU! KAU MEMPERMAINKAN PERASAANKU, SIALAN!"
Penonton terhenyak. Beberapa orang kagum terkait dua hal—satu, ke-OOC-an Midorima dan dua, Midorima yang berani mengumpat di muka Akashi.
"Hee? Cepat atau lambat kau akan jatuh hati padaku, Shintarou~" Akashi tersenyum penuh makna yang menjanjikan siksaan pedih. "Mau tidak mau, kau harus menurutiku. Tatap aku." Tangannya membelai lembut pipi Midorima (yang semakin tegang). Karena dari sananya ia paham seluruh bahasa isyarat Akashi, yang ini bisa diartikan sebagai 'setelah ini kuajak tur ke neraka, Shin-chan~'.
Dipaksa menatap iris dwiwarna pemuda yang lebih mungil darinya, jantungnya serasa berdegup dengan ribut di dalam sana. Midorima hanya bisa memandang penuh horor.
'Tamatlah riwayatku-nanodayo,' batin Midorima nelangsa.
.
.
"Doakan agar aku bisa beristirahat dengan damai-nodayo."
—Midorima Shintarou, korban penganiayaan batin
.
.
"Esok paginya, keduanya menghilang secara misterius. Tidak ada yang tahu kemana perginya pasangan baru jadi tersebut. Tak hanya itu, banyak narasumber yang ketika diwawancarai menyatakan bahwa mereka tidak kenal nama 'Seijuurou Guntingmania'."
"Minum. Aku butuh air putih-nanodayo."
Midorima langsung ambruk begitu skenario ternista seumur hidupnya selesai. Sepertinya butuh beberapa hari dan Takao untuk menyusun satu persatu pecahan kokoronya bak menyusun puzzle.
Kuroko yang dari sananya anak penurut langsung mengambilkan segelas air putih. Sementara itu, Akashi juga tewas di pojokan sambil menunggu narasi selesai dengan wig merah yang tadi dilepasnya telah terpakai lagi. Kise membantu menyisir agar cepat selesai.
"Kerajaan Heterochrome yang mendengar kabar hilangnya Shintarou Octo ikut gonjang-ganjing. Pasalnya, kerajaan ini dan Negeri Kolor Ijo telah menjalin persekutuan sejak zaman Edo." Takao di atas panggung kembali berulah. "Lantas, bagaimana kabar Guntingmania? Kita saksikan setelah yang satu ini~"
"Aka-chin, ayo berdiri~" Murasakibara menarik-narik lengan Akashi. "Kuro-chin, maju ke panggung~"
Kuroko merapikan baretnya. "Aku tidak akan mengacau lagi, minna-san." Ujarnya datar sambil mengacungkan jempol dengan niat meyakinkan. Semuanya sweatdrop seketika.
.
.
"Meski sempat ada keributan, hari ini masih hari yang cerah untuk penduduk Kerajaan Heterochrome." Takao memulai, sementara penonton mendengarkan dengan antusias. Nijimura segera mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan buruk.
"Untuk Tetsuya Turner, hari ini bisa jadi adalah hari tersibuk seumur hidup. Karena sang ayah yang tengah berkelana keliling dunia, toko oleh-oleh bertemakan telur yang sudah diwariskan turun-temurun sementara dijaga dirinya. Usut punya usut, toko keluarga Turner adalah yang paling populer sejagat lho!"
"Lha? Aktornya mana?" celetuk seseorang.
Takao celingak-celinguk. Kuroko yang sudah ada di atas panggung sambil berakting melayani karakter mob mengangkat bahu. Nijimura yang paham langsung menyalakan lampu sorot untuk menerangi jalan.
"OALAAAAH!" Penonton yang perhatiannya sudah terpusat di sesosok pemuda baby blue mengelus dada masing-masing—syukurlah pemerannya bukan makhluk jejadian yang numpang lewat.
"Ketenaran toko ini rupanya telah menarik perhatian Guntingmania yang tengah jalan-jalan berkeliling kota."
"Permisi," sesuai naskah, Akashi masuk dari sisi panggung. "Are, Guntingmania-sama. Ada apa gerangan?" senyuman terpampang di wajah Kuroko. Seorang fangirl memekik girang melihat ekspresi langka tembok berjalan.
"Ngabuburit. Sejujurnya aku penasaran dengan ketenaran toko ini." jawab Akashi santai. Kuroko menahan godaan setan untuk berteriak 'bulan puasa sudah lewat'.
"Aka—Guntingmania-sama, apa anda mau mencicipi telur rebus buatan kami?" Kuroko menawarkan dengan senyuman—makhluk laknat di hadapannya nyaris mati klepek-klepek. "Oleh-oleh khas Kerajaan Heterochrome lho~"
Di balik tirai panggung, cast lainnya menepuk jidat. Mayuzumi masih tidur.
"Boleh. Kebetulan, aku mulai lapar." Akashi dengan senyum malaikatnya membuat beberapa fangirl tewas seketika. Beberapa fanboy yang kecewa atas gender sang tokoh utama keluar ruangan dan yang tersisa hanya populasi fudanshi dan fujoshi.
"Guntingmania-sama lapar? Ambil Sneakers." Kuroko menyodorkan obyek tersebut dengan acungan jempol penuh percaya diri. "Soalnya Guntingmania-sama resek kalau lagi lapar."
("Semuanya sudah berakhir-ssu..." Kise pasrah sambil memeluk tiang terdekat. Yang lainnya mengangguk setuju, bahkan Kagami dan Himuro yang baru tahu 'kesaktian' Kuroko geleng-geleng kepala. "Kokoro ini sudah lelaaah." Semuanya berujar kompak.)
Alih-alih headbang, Akashi berusaha mengembalikan Kuroko dan alur cerita ke jalan yang benar. Tak sampai empat gigitan, butir putih mulus di genggamannya beberapa detik lalu telah menghilang. Berbagai flora mengapung di sekitarnya sekian detik kemudian.
"KYAAAAAAA!" Para fangirl menjerit melihat wajah kelewat bahagia Akashi yang sudah disorot sinar dewa oleh Lembaga Sensor Film. "Sesuai dugaanku. Rasanya begitu khas, top markotop deh~" Akashi mengacungkan jempol, tertular ke-OOT-an Kuroko rupanya.
PET!
Seluruh pencahayaan mendadak mati. Banyak penonton menjerit kaget karena minimnya pencerahan. Tiba-tiba, ilham sinar lampu sorot dijatuhkan ke Akashi dengan tangan di dada dan senyuman iblis tertoreh di wajahnya yang ganteng maksimum.
"Aku tahu sebenarnya hatiku milik Shintarou seorang," ia bermonolog. Beberapa orang merinding melihat senyum kripinya. "Tapi aku tidak bisa menahan godaan ini. Tetsuya harus menjadi milikku—tanda kepemilikanku harus ada padanya~"
Banyak yang heran mendengar suara orang tersedak di sisi panggung.
"Lihatlah! Malaikat yang sempurna, bidadari surga ada di hadapanku! Uke idaman semua orang—ups, meski tidak ada yang boleh menyentuhnya selain aku! Pemuda yang halus dan manis, dia sangat... KYAAAA~!" Akashi menjerit dengan suara melengking horor.
("MODUS GEMBEL, AKASHI!" seseorang berteriak dari belakang panggung. Setelah sound effect gunting menancap, tak ada yang berani berkomentar lebih lanjut.)
"Dan Guntingmania pun ber-fanboy ria setelah menyaksikan secara live bidadari yang jatuh dari surga. Mulailah kegilaannya jika bertemu cowok imut-imut beraura uke!" Takao memberi narasi dengan penuh semangat. "Apa langkah Guntingmania dalam mengklaim Tetsuya? Akankah ia menggunakan cheat engine? Saksikanlah setelah yang satu ini!"
Lampu kembali dinyalakan—kembali ke latar Toko Oleh-Oleh Turner. "Nee, Tetsuya~" Akashi masih tersenyum. Kali ini ikhlas karena dibantu keberadaan Kuroko yang notabene membawa aura ketenangan. "Apa kau ada pekerjaan setelah ini?"
"Hm... aku harus menjaga toko. Tapi sore nanti aku menganggur, Guntingmania-sama." Kuroko menjawab sopan. Aura bling-bling memancar dari Akashi. "Yosh! Kalau begitu, datanglah ke mansion-ku. Aku ingin bicara denganmu."
Kedipan menggoda ala Akashi membuat para fangirl dan penggemar gender hideyoshi menjerit.
Kuroko yang diberkati dengan kekebalan dari segala kemodusan Akashi (motto kedua sang emperor adalah 'bermoduslah setiap ada kesempatan') tidak mempedulikan niatan udang-di-balik-bakwan. "Baiklah, aku akan ke sana."
Akashi hampir ber-yes ketika terinterupsi. "Dengan syarat Guntingmania-sama menyediakan satu liter vanilla shake premium." Kuroko membuat wajah memelas.
Akashi menganga. Tak disangka pemuda baby blue ini sama modusnya dengan dirinya.
.
.
"Baiklah, mari kita abaikan Tetsuya yang sering ngidam hal-hal berbau vanilla." Takao mengembalikan suasana. "Di sisi lain, Tainyess Crim, perdana menteri Kerajaan Boker—kata saya—tengah membuat rencana-rencana spesial khusus untuk Guntingmania."
"Hyuuga-kun, Teppei, itu Kagami-kun maju!" Riko bertepuk tangan. Keduanya dan Momoi speechless membayangkan bagaimana kemampuan akting sang mantan ace Seirin.
"GUNTINGMANIA LAGI, GUNTINGMANIA LAGI!" Kagami berteriak. Atau mungkin lebih tepatnya ia tidak bisa woles di atas panggung. "EMPEROR SIALAN ITU, BISANYA HANYA BERULAH! SHINTAROU OCTO MENGHILANG, KITA SEMUA PANIK BUKAN KEPALANG DAN DIA MASIH BISA BERSANTAI?!"
"Tainyess yang sejak lahir sudah punya dendam kesumat dengan Guntingmania tak pernah berhenti memikirkan cara untuk menyingkirkan sang Emperor. Kabar hilangnya Shintarou telah sampai ke seluruh penjuru negeri—tak terkecuali Kerajaan Boker—dan naasnya, tak ada yang ingat bahwa semuanya salah Guntingmania."
"MUNGKIN AKU AKAN BERTATAP MUKA DENGANNYA SECARA PRIVAT! YA! ITU YANG AKAN KULAKUKAN!" Kagami dengan semangat pejuang kemerdekaan langsung angkat kaki.
Meski adegan di atas sangatlah pendek, Kagami yang baru saja turun panggung berpulang dengan kondisi nyali terkuras habis. Salahkan paksaan dari Nijimura untuk menjadi pemeran.
"Sore harinya, Tainyess sukses kawin lari—eng, melarikan diri untuk sementara dari Kerajaan Boker tercinta. Sementara itu di Kerajaan Heterochrome, Guntingmania terlalu antusias mengantisipasi kedatangan sang calon uke!"
"Sei, kemana saja kau?" Midorima yang kembali muncul menghampiri Akashi yang tengah tidur-tiduran. "Apa ada masalah?"
Nijimura berusaha menenangkan penonton ketika Midorima duduk di sisi Akashi dan mengusap pelan wajah sang emperor dengan tidak ikhlasnya. "Tidak sama sekali, Shintarou." Akashi hanya tersenyum yang mengisyaratkan 'berhenti menyentuhku'. Pangeran kodok otomatis menurut.
"Terkadang aku heran mengapa mansion ini begitu sepi." Midorima mulai terbawa suasana. "Hanya ada diriku, menjones ditemani piano di ruang musik. Tanpa adanya dirimu, kokoro ini terasa hampa."
Akashi menahan tawa mendengar betapa puitisnya seorang Midorima. "Ah, bisa saja." gombalan dianggap angin. "Seandainya aku mau mungkin kita berdua berakhir *piip* di *piip* dan kau akan mem-*pipipiiiiip* diriku. Sayangnya, adegan R-18 dilarang berhubung masih banyak yang dibawah umur~"
"*piip*nya itu apaan sih?" Moriyama garuk-garuk kepala. "Iya tuh, *piip*nya geje." sahut Miyaji. Izuki sekali lagi mendapat inspirasi, "*pipiiip* kok jadi *piip*? *piip* amat sih—kitakore!"
"Ngomong-ngomong Shintarou, tadi kau bilang rumah ini begitu sepi." Midorima sebagai bagian akting mengangguk. "Hari ini ada tamu. Aku akan turun menyambutnya dulu."
Penonton menjerit tertahan karena Akashi yang (berpura-pura) mengecup pipi Midorima meski sebenarnya ia hanya memberi bisikan setan, 'tertawa, gunting melayang' ke telinga megane lumutan.
Latar berubah ke ruang tamu mansion Guntingmania. Disana, Kuroko celingak-celinguk sambil menganga kagum—penonton terpesona dengan ke-moe-annya. Ada yang mulai mengklaimnya sebagai waifu.
"Tetsuya," panggil Akashi dengan senyum bisnis. "Akhirnya kau datang juga—aku sudah menunggumu sedari tadi."
"Guntingmania-sama." Kuroko membungkuk hormat. "Ada urusan apa dengan saya? Apa Guntingmania-sama terpikat dengan keunyuan saya sampai ingin mencalonkan saya menjadi waifu berikutnya?"
Akashi bingung ingin protes karena pemuda baby blue ini melantur atau menjerit 'dari dulu adinda di daftar calon waifu kakanda' sambil melompat-lompat tidak jelas. Jalur aman seperti biasanya dipilih. "Bukan itu, Tetsuya. Sebenarnya aku ada penawaran khusus untukmu."
Kepala dimiringkan sekian derajat. Penonton menjerit tertahan melihat keunyuan Kuroko. "Keluargamu sejak dulu berpenghasilan pas-pasan bukan?" Akashi bertanya—masih dengan wajah ganteng maksimum—dan Kuroko pun mengangguk. "Bagaimana kalau mulai besok kau bekerja di sini sebagai koki? Jam delapan hingga jam enam sore."
"AAAH DIA SELINGKUUUUUH!" penonton menjerit kompak melihat Akashi yang mengangkat dagu Kuroko dengan sebelah tangan, memandang seduktif ke sepasang iris aqua—'Mama, hentikan adegan ini sebelum aku dianuin Akashi-kun', batin Kuroko penuh horor.
"Kau tahu, kau manis sekali... Tetsuya." Suara yang diberat-beratkan sukses membunuh beberapa orang dan batuk Nijimura semakin menjadi-jadi, "Ingin rasanya aku berlama-lama denganmu, namun sayang sekali—gadis manis tidak boleh keluyuran malam-malam. Berbahaya."
"Aku bukan perempuan, Guntingmania-sama." Kuroko cemberut dengan moe. Akashi menahan hasrat untuk kawin lari dengannya.
"Laki-laki maupun perempuan tak ada bedanya jika mereka sama manisnya." Setelah detik-detik penuh godaan mental dan penyiksaan kokoro Kuroko menghela napas lega. Tangan mesum akhirnya dilepaskan dari wajahnya yang masih suci. "Kutunggu jawabanmu besok pagi, Te-tsu-ya." Kedipan menggoda Akashi sekali lagi membunuh para fangirl.
Sementara Akashi melangkah menjauh dari pusat panggung, ia berbisik pelan, "Sayang sekali Tetsuya, kau tak akan pernah pulang dari mansion ini."
"Bisikan seta—Guntingmania yang mencurigakan membuat alis Tetsuya naik satu." Lampu panggung dimatikan dan cahaya yang tersisa disorotkan ke arah Takao. "Ia labil ingin menerima atau tidak—namun ia juga heran akan perasaan apa yang mendadak singgah di kokoronya."
"Aneh," Kuroko bermonolog. Kain di dada dicengkeram erat sambil mendesah panjang. "Sejak kapan aku... ngh, dadaku sesak. Ada apa dengan Guntingmania-sama?"
Pemadaman dadakan pun terulang kembali di auditorium Apartemen Pelangi.
.
.
"Psst, modusnya Aka-chin nggak ketulungan~" Murasakibara memulai sesi gosip malam itu dengan Kise, Aomine dan Kagami ikut-ikutan. Seperti biasanya Midorima tidak mau campur tangan terhadap masalah mereka terkait Akashi meski batinnya juga teraniaya.
"Akashi temeee," Kagami menggigit kemejanya. "Sialan, modus melulu kerjaannya. Kesini modus, kesana modus. Apa gak kasian sama Kuroko tuh?"
Semuanya melirik ke arah Kuroko yang trauma di pojokan. Himuro-sensei mem-puk-puk anak kesayangannya yang kedua. "Akashicchi kejam banget-ssu, masa Kurokocchi dibikin trauma terus?" Kise mulai merasa prihatin. "Bakashicchi mesum itu harus dihukum mati-ssu."
"Gue mah setuju-setuju aja." Aomine manggut-manggut.
Ketika aura-aura aneh yang tidak mengenakkan memancar dari sang raja iblis, semuanya langsung membubarkan sesi gosip. Takut dilempar gunting.
.
.
"Keesokan paginya, Tainyess menapakkan kaki di wilayah Kerajaan Heterochrome dengan selamat dan sehat walafiat. Karena tengah berada di teritori musuh—sekedar info, Kerajaan Boker adalah musuh bebuyutan negeri sang guntinglovers—penyamaran bak film-film Hollywood menjadi suatu kewajiban baginya."
"BANZAAAAAI AKHIRNYA NYAMPE JUGA!" Kagami fist-pump penuh energi yang meluap-luap. Seseorang di jejeran penonton mulai berkeliling menjajakan sumbat telinga untuk mencegah kerusakan indra pendengaran masing-masing. "PENYAMARAN SIAAAAP!" Kagami mengeluarkan kacamata berbingkai bulat nan lebar dan memakainya tanpa ragu sehingga ia nampak culun.
"Maklumilah kebebalan Tainyess dan ketidak-efektifan penyamarannya." Takao facepalm. "Niatan suci untuk melabrak Guntingmania yang tengah asyik bersantai di mansionnya mendadak bertukar prioritas dengan mengunjungi toko oleh-oleh setempat—CIEEE YANG MODUS CIEEE! NGACA DULU DOOONG!"
Penonton seketika ngakak berjamaah mendengar narasi awur-awuran dari Takao. Kagami pun sweatdrop melihat reaksi penonton terhadap kegaringan si mata rajawali. Setelah keributan mereda, Takao melanjut. "Dan tanpa ba-bi-bu lagi, Tainyess melesat dengan kecepatan Mach 20 menuju Toko Oleh-Oleh Turner."
Latar berganti menjadi toko oleh-oleh bertemakan telur kesayangan rakyat Kerajaan Heterochrome. Kuroko tengah sibuk berkemas, baju-baju yang belum dirapikan berserakan dimana-mana.
"TETSUYAAAAA!" Kagami menerobos tanpa sopan santun. Seandainya ini film bertema sama dengan Mission Not Possible pasti ia dengan dramatis masuk lewat jendela bak Robin Hood kesasar. "Kebetulan sekali anda datang kemari, Tainyess-sama." Kuroko menyikapi dengan kalem seperti biasanya.
"Eto... mau pergi kemana kau?" Kagami membalas. Nijimura menaikkan satu alis heran akan seberapa bagusnya keberadaan pemuda moe itu untuk menenangkan para cast.
"Aku mau pergi ke mansion Guntingmania-sama." Kuroko melirik kumpulan barangnya yang seakan habis diterjang angin puting beliung. "Sebenarnya Guntingmania-sama menyuruhku untuk pulang, tapi karena jam kerja yang ditawarkannya aku memutuskan untuk minta izin tinggal di sana."
"APA?!" Kagami heboh dengan gaya mbak-mbak tipikal sinetron. "GUNTINGMANIA MENYURUHMU BEKERJA UNTUKNYA?! PEKERJAAN APA ITU?! JANGAN-JANGAN YANG MESUM!"
"Tainyess-sama, berhenti mengata-ngatai Guntingmania-sama." Kuroko mendesah sambil mengelus dada. "Guntingmania-sama bukan orang mesum yang biasanya mencari hiburan."
Namun Kuroko sudah terlalu terbiasa dengan Akashi dan segala kemesumannya. 'Semua tentang Akashi-kun itu mesum,' batinnya memprotes meski tampang masih sebelas-duabelas dengan jalan tol.
Uke durhaka kau nak.
"LALU PEKERJAAN APA ITU?!" Kedua bahu Kuroko dipegang dan diguncang-guncang oleh Kagami dengan energi berlebih. Reaksinya mirip dengan bapak yang tak merestui hubungan anak gadisnya dengan orang lain. "MESKI ITU HANYA MENJADI TUKANG LEDENG, AKU TAK AKAN MEMBIARKANMU BEKERJA UNTUK IBLIS MANIAK GUNTING ITU! KATAKAN PADAKU!"
("H-Hii Akashicchi serem-ssu!" Kise yang banjir keringat dingin bersembunyi di belakang Aomine yang menggunakan Midorima sebagai perisai. Akashi memancarkan aura kegelapan sambil mengasah linggis ketika melihat Kuroko nyaris divonis epilepsi akibat ulah Kagami.)
"Aku hanya disuruh menjadi koki. Tainyess-sama tidak perlu sekhawatir itu." Kuroko menyingkirkan tangan Kagami dari kedua bahunya. "TAPI MESKI BEGITU, KAU TAK BOLEH PERCAYA DENGAN ORANG ASING! KAU TAHU KAN, GUNTINGMANIA ITU ORANGNYA BAGAIMANA?!" Kagami masih mengotot.
"Rupanya telah terjadi pertentangan antara Tetsuya dan Tainyess, saudara-saudara!" Takao mulai memanas-manasi suasana. "Ada apa dengan Tainyess? Mengapa ia melarang Tetsuya untuk bertemu Guntingmania? Waduh, saya mendeteksi bahwa Tainyess telah disulut api kecemburuan!"
"Sudahlah, Tainyess-sama tidak perlu khawatir." Kuroko menghela napas untuk mengontrol diri. "Meski aku tinggal bersama Guntingmania-sama, aku akan selalu menjaga janji kita untuk menikah dua tahun lalu."
Meski senyum malaikat Kuroko melelehkan kokoro Kagami dan para penonton, Nijimura selaku perancang naskah menepuk jidat. Kouhainya telah tercemar sinetron percintaan remaja.
"Ba-Baiklah kalau begitu." Kagami sudah mulai kalem kembali meski jantung berdetak tak karuan dengan wajah semerah kepiting rebus. "Pokoknya jangan sampai dinodai Guntingmania sialan itu. Kalau dia mulai berulah, melaporlah padaku."
"Terima kasih atas tawarannya, Tainyess-sama." Kuroko membungkuk empat puluh lima derajat. Tasnya yang sudah dikemasi dijinjing. "Aku pergi dulu, Tainyess-sama. Semoga hari anda menyenangkan."
Kepergian Kuroko menyisakan seorang Kagami di atas panggung. Pencahayaan diredupkan untuk mendukung suasana. Entah mengapa ada yang menangis sesenggukan karena terbawa suasana tipikal anime feels. "Apa hanya aku yang salah lihat..." ia mulai bermonolog. "... tapi mengapa mata Tetsuya nampak begitu kosong?"
Tirai ditutup sementara Takao melangkah ke panggung. "Tainyess yang biasanya tidak peka menyadari ada sesuatu yang aneh dengan Tetsuya. Biasanya Tetsuya memang irit ekspresi, namun kali ini berbeda. Ada apa gerangan?"
"Sementara itu, Guntingmania tengah mencorat-coret lembaran kertas mencurigakan dengan tidak jelasnya."
Tirai dibuka kembali. Di atas panggung, sesuai narasi Akashi tengah memegang pena bulu dengan setumpuk kertas rapi di atas meja perpustakaan. "Selesai~" kertas dilipat dengan rapi dan dimasukkan ke dalam amplop. Tak lupa dibubuhi cap berbentuk sepasang gunting bersilang yang merupakan emblem Kerajaan Heterochrome.
"Apa yang kau lakukan, Sei?" Midorima di sisinya bertanya penasaran. "Aku tengah menulis undangan untuk para tamu berikutnya. Kau bilang mansion ini begitu sepi, aku tak bisa menahan diri untuk mengundang para pewaris lainnya untuk datang ke sini." Jawab Akashi panjang lebar.
Midorima mengambil satu dan membacanya dengan lantang.
Dengan hormat,
Sehubungan saya sudah terlalu lama menjones, bagi Para Pewaris yang menerima surat ini diharapkan untuk datang ke:
Hari: Minggu, 29 Februari 2013
Waktu: 10:00 a.m. s/d selesai
Tempat: Mansion Guntingmania, Distrik 69 Kerajaan Heterochrome.
Dresscode: Rapi, tidak melanggar norma kepercayaan, kesusilaan, kesopanan dan hukum. Dilarang memakai celana jins obralan dan kaos oblong karena tidak elit.
Karena ini perintah, alasan apapun untuk tidak datang akan ditolak mentah-mentah. Harap datang sendiri tanpa membawa pacar, calon istri, mantri nikah, preman sewaan, tukang ojek, pelayan, abdi dalem dan teman masa kecil.
Diharap para tamu undangan membawakan selusin gunting bertema pelangi untuk buah tangan khusus saya. Yang tidak membawa gunting, blablabla pipipiiip (tulisan Akashi semakin mirip ceker ayam, Midorima memutuskan untuk tidak membacanya).
Semoga hari anda menyenangkan.
(coretan tidak jelas)
Seijuurou Guntingmania
"Oh, kau akan mengundang mereka untuk minum teh sore dan merumpi?" Midorima bergidik ngeri setelah membaca kertas laknat tersebut. Akashi tersenyum penuh makna, "Habisnya, aku tidak ingin Shintarou kesepian, jadi aku akan memanggil mereka semua."
"Begitu, ya." Gumam Midorima.
Pemadaman PLN terjadi lagi dan lampu sorot diarahkan ke Akashi. Wajahnya nampak begitu serius dengan pandangan menusuk tepat ke kokoro (dan masih ganteng maksimum). "Semuanya tahu bahwa Shintarou telah menghilang dari Negeri Kolor Ijo. Aku harus mencari cara agar mereka tak tahu ini dia." Gumam Akashi.
"Permisi, apa Guntingmania-sama disini?" sebuah suara memanggil.
"Shintarou, aku ada urusan dengan seseorang. Tunggu sebentar ya," Akashi segera bangkit dan ngibrit turun panggung. Midorima menaikkan satu alis penuh keheranan.
.
.
"Tetsuya telah sampai dengan selamat di mansion Guntingmania. Namun ia heran karena sedari tadi ia dag-dig-dug geje sejak melangkahkan kaki di istana negara versi Kerajaan Heterochrome. Ia juga heran karena ketika pertama menemui Guntingmania, ia tidak segugup ini."
"Haa... haa... haa..." Kuroko terengah-engah sambil melonggarkan kerah kemejanya. Beberapa orang sudah mulai berpikir kesana-kemari saking ambigunya efek suara tersebut. Jika tidak karena Nijimura yang berpetuah 'jaga rating, dilarang nganu di atas panggung', mungkin adegan ini sudah dicap tidak senonoh.
"Aah... mengapa aku merasa seperti ini..." Kuroko mendesah—bukan dalam konteks anuanu—sambil menggunakan dinding sebagai penyangga. "Apa ini... ada hubungannya dengan perasaanku terhadap Guntingmania-sama? Ah, tidak mungkin. Guntingmania-sama adalah seorang pewaris, dan aku hanya rakyat jelata. Lagipula, Guntingmania-sama lebih tua dariku..."
"Tetsuya." Akashi masuk dengan penuh kewibawaan di setiap langkahnya. "Kau datang juga."
"Guntingmania-sama." Kuroko membungkuk sopan. "Aku ingin menanyakan sesuatu pada Guntingmania-sama."
"Apa itu, Tetsuya sayang?"
Kuroko nyaris tersedak OOC. Akashi sekali lagi bermodus. "Karena jam kerjanya... ano, agak mepet, bolehkah Tecchan yang unyu-unyu ini tinggal di mansion Guntingmania-sama? Aku juga sudah direstui oleh mama dan papa kok."
Akashi menjerit fanboying dalam hati. "Boleh, malah aku lebih bahagia jika ada yang menemani di mansion sepi ini~" ia tersenyum—jujur saja lebih mirip nyengir kuda setelah sesi ngefly atau bahasa elitnya mumbul. "Karena aku sudah terlalu lama sendiri~"
"Sudah terlalu lama aku asyik sendiri~" Kuroko ikut-ikut menyanyi.
"Lama tak ada yang menemani, rasanya~ Sudah terlalu asyik sendiri~" keduanya pun paduan suara dan membuat beberapa fangirl mati klepek-klepek mendengar gabungan suara unyu dan vibrato khas Akashi. "Sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri~ Lama tak ada yang menemani, rasanyaa~"
"OH YEAAAAAAH!" Kuroko berteriak mirip ketika perekaman FANTASTIC TUNE di masa kejayaan musim kedua anime originalnya. Nijimura menepuk jidat.
"Ehem. Apa benar-benar tak apa jika aku tinggal di sini, Guntingmania-sama?" Kuroko berdehem untuk mengembalikan suasana. "Tak apa. Mau kau tinggal selamanya di sini, aku juga tidak peduli. Aku sudah mengatakannya, bukan? Mansion ini terlalu sepi." Akashi tersenyum menawan. Para fangirl kembali mati untuk kesekian kalinya.
"Ada apa ribut-ribut, Sei?"
Perusak hubu—er, Midorima masuk panggung. Raut mukanya nampak tidak senang melihat kehadiran Kuroko di hadapan waifu tercinta. "Saya Tetsuya Turner." Kuroko membungkuk sembilan puluh derajat penuh kesopanan. "Saya datang ke sini sebagai pelayan baru di mansion Guntingmania-sama."
"Anda sendiri siapa, ya? Saya tidak pernah melihat anda di sekitar sini. Apakah anda termasuk spesies wortel berjalan yang statusnya akan punah itu?" komentar tersebut membuat alis Midorima berkedut kesal. Ia heran dosa apa yang telah dilakukannya terhadap kami-sama sampai ia sering disangka semacam wortel raksasa.
"Tetsuya mulai menemukan hal-hal mencurigakan tentang 'wortel berjalan' yang baru ditemuinya di mansion Guntingmania!" mode komentator Takao kembali diaktifkan. "Mengapa wortel ini nampak seperti manusia? Tetsuya harus segera menemukan identitas wortel ini!"
Midorima hendak membuka mulut namun Akashi menahannya. Kuroko mengernyitkan dahi sebagai perumpamaan rasa heran ketika bertemu orang yang nampak familier. "Sepertinya saya pernah melihat anda di suatu tempat, tuan wortel raksasa."
"Jangan asal bicara," Midorima mulai nyolot. "Aku adalah—ADUH!"
"Dia suamiku, Shintarou Octo~" Akashi menyela dengan tidak sopan, masih dengan senyuman polos sementara Midorima mengerang kesakitan. Kaki yang dianiaya hak lima senti itu punya sensasi tersendiri. "Maa, kau pasti tahu ia siapa~"
Orb aqua Kuroko membulat horor. "Dia... ternyata... aku tidak percaya Guntingmania-sama..."
"YAK SAUDARA-SAUDARA, JEDA DRAMATIS YANG TERULANG SEKALI LAGI!" Takao memulai kericuhan di antara para penonton. "TETSUYA TELAH MENEMUKAN TITIK TERANG! TERNYATA YANG DI HADAPANNYA ADALAH SHINTAROU OCTO! APA YANG AKAN DILAKUKANNYA?!"
"Ternyata Guntingmania-sama seleranya rendah sekali." Kuroko berkomentar polos. "Shintarou Octo itu bukannya tukang kebun kelewat puitis yang biasanya mondar-mandir di depan istana Negeri Kolor Ijo itu ya?"
Akashi dan Midorima ambruk dengan tidak elitnya.
.
.
"Bukan, Tetsuya." Akashi menepuk jidat, lelah dengan kegeblekan sementara Kuroko. "Shintarou itu satu dari lima Pewaris yang ada di negara Evillicious kita tercinta."
"Ooh, jadi tuan wortel raksasa yang disana itu golongan Pewaris—" jeda dramatis menyelingi Kuroko, sebelum ia berteriak dramatis mirip tante-tante narsis di dunia perfilman tanah air. "APAAAAAH?! OCTO-SAMA ITU PEWARIIIIS?!"
"Iya, Tetsuya. Dan dia sekarang suamiku~" Akashi dengan 'bangga' memeluk lengan Midorima yang mati berdiri.
"D-Dan... bukannya Octo-sama menghilang beberapa hari lalu?" Kuroko kembali ke jalan yang benar sambil merinding dan mundur selangkah. "Bukannya tidak ada yang bisa menemukan Octo-sama?" Akashi memasang pose super narsis dengan tanda 'peace' di sisi wajah. "Yap~ Shintarou selama ini tinggal di mansion Guntingmania!"
"T-Ternyata ini semua perbuatan Guntingmania-sama!" Kuroko menatap penuh horor dan hendak berlari menuju pintu imajiner mansion Guntingmania. "Se-Seharusnya aku tidak disini—!"
"Mau kemana kau, Tetsuya sayang?" Akashi tersenyum licik. "Kau tak akan bisa kabur dari Seijuurou Guntingmania-sama yang hebat dan kece ini~"
"AH!" Kuroko jatuh tersungkur satu meter menuju kebebasan. Penonton heboh—kesengsaraan tipikal yang dialami seorang tokoh ketika menyelamatkan diri dari sang antihero. "TIDAK! JANGAN MENDEKAT! GUNTINGMANIA-SAMA NAJIS! JIJIK! HUMU!" ia menjerit, merapat ke dinding bak gadis yang diancam tidak perawan lagi.
—Diam-diam, Akashi menangis pelangi. Linunya hati ini.
"Te-tsu-ya, ada pekerjaan yang lebih bagus untukmu." Akashi tersenyum angker sebagai pembalasan. Bulu kuduk Kuroko menegang. "Nee, bagaimana kalau kau menjadi istriku saja?"
Gombal. Modus. Licik. Air mata mereka yang tersiksa di balik tirai merah tumpah berderai. Siapa cepat dia dapat, memang. Sedihnya, doi sudah jatuh ke tangan orang lain sebelum kami-sama berbaik hati dan memberi kesempatan untuk men-dor calon istri idaman.
"Tidak mau! Harusnya kan laki-laki yang melamar, bukan dilamar!" Kuroko memprotes, ingin mengajukan permintaan 'hentikan kemodusan Akashi Seijuurou' ke DPRD setempat. "Lagipula, Guntingmania-sama itu lebih tua dariku, dan aku belum siap menikah! Dan aku tidak punya pengalaman nganu!"
Midorima dan Takao yang terpukau mendengar pernyataan tersebut kehabisan kata-kata.
Akashi pantang menyerah. Ambil segala langkah ekstrim untuk bermodus. "Tak apa, cinta tidak mengenal umur~" dengan usaha untuk membuat Kuroko merasa semakin terpojok, dijebaknya pemuda imut-imut minta digigit itu di antara kedua lengan dan dinding. Penonton menahan napas.
Kedipan menggoda membuat Kuroko makin mirip hantu—darah terkuras hingga tetes terakhir dari wajahnya. "Dan, setidaknya—bukan, aku akan memberimu banyak pengalaman nganu, Tetsuya~"
Habislah sudah.
"Aku takkan berhenti membuatmu terpikat padaku." Mayoritas penonton yang kaum Hawa memekik tertahan. Kuroko merinding penuh kengerian. "Tatap aku."
"Kau akan jatuh hati padaku, Tetsuya Turner, dan kau tak akan pernah bisa meloloskan diri dariku." Akashi menjatuhkan ultimatum, seringai kripi menghiasi wajah rupawannya. Sementara mengelus lembut pipi makhluk unyu di hadapannya membuat banyak fangirl mati anemia, tampang yandere yang sebelas-duabelas dengan Gasai Yuno memberi trauma berat pada para penonton.
Kuroko terdiam, bahunya merosot. Bibir yang membuka tipis dan sepasang iris azure separuh terpejam memaksa Akashi untuk menggunakan kamehameha demi menahan nafsu menyelenggarakan live show di atas panggung.
"Guntingmania-sama..." Kuroko berbisik pelan, hampir tak terdengar. "Aku—"
Terulanglah pemadaman PLN untuk ke-sekian kalinya malam ini.
.
.
"Akashicchi, beruntungnya dirimu-ssu..." Kise banjir air mata sambil mengusut ingus. "Beruntungnya dirimu, bisa bermodus ria di atas panggung-ssu..."
Pejuang cinta yang malang—sebaiknya ia diberi waktu untuk mengheningkan cipta.
"Gue terhura." Ujar Kagami singkat, senasib dengan teman seperjuangan satu skema warna. "Kapan ya gue bisa modus kayak gitu. Gue salut sama teknik modusnya Akashi jelek tukang gombal kampret itu." Sebelah tangannya menyeka air mata.
"Tetsu, gue ngaku gugur di perang demi dapetin dirimu." Aomine memeluk tiang. Air matanya mengalir hingga samudra kesedihan berwujud genangan penuh unsur kenelangsaan dan haru. "Tetsu, satu aja pesan terakhir sahabat lo ini. Jadi istri yang baik ya."
Midorima duduk diam menemani Kuroko yang membaca untaian doa di pojokan.
.
.
"Berita panas saat ini adalah hilangnya Tetsuya Turner, putra dari tuan dan nona Turner yang hobi merebus telur dan sering ngidam hal-hal berbau vanilla." Takao melanjutkan alur agar tidak melenceng. "Ia tidak diketahui keberadaannya, sama halnya dengan ketika Shintarou ditelan bumi. Sementara itu, Tainyess tengah depresi dan merenungi nasib atas hilangnya sang calon istri."
"TETSUYAAA MENGAPA INI TERJADI PADAMUUUH?!" Kagami menangis meraung-raung, memanfaatkan suasana kebatinannya saat ini untuk pelampiasan. Penonton terpesona akan lebar mulutnya.
"Cup cup, Tainyess." Himuro mem-puk-puk Kagami yang menjelma menjadi PDAM dadakan. "Aku turut berduka atas hilangnya Tetsuya—aku yakin dia akan ditemukan. Jadi bersabarlah."
"TATSUYA, BANTU DAKUH MENCARI TETSUYA!" Kagami masih menangis. Penonton dibuat heran karena kalimat yang nampaknya berisi variasi baru dari lawakan garing ala Izuki Shun. "GUNTINGMANIA SIALAN ITU HARUS DIBUANG KE LUBANG TITAN, TATSUYAAA!"
"Tapi Guntingmania memiliki kekuasaan yang kuat," komentar Himuro sambil memiringkan kepala. "Kau tidak bisa melemparnya ke lubang titan begitu saja, Tainyess. Tapi mungkin aku bisa membantumu dalam hal ini. Aku akan segera ke Kerajaan Heterochrome untuk mencari informasi."
"DAKUH AKAN MENDUKUNGMU DARI BELAKANG, TATSUYAA!" Kagami mulai bersemangat meski sama tidak wolesnya dengan beberapa menit lalu. "DAKUH TIDAK AKAN MEMBIARKAN DIRIMU DICURI GUNTINGMANIA KAMPRET ITU!"
"Tatsuya Shields sebagai pelayan yang baik mengulurkan bantuan bertajuk Koin untuk Tainyess Crim. Namun tanpa disadari, tindakannya telah membawa malapetaka untuk dirinya sendiri dan Kerajaan Boker." Takao menambahkan plot twist favorit semua penggemar genre misteri.
Dan voila, jadilah alur cerita yang semakin berbelit lagi tidak jelas.
"Di sisi lain, Kerajaan Toket, kata saya, yang dihuni sesosok makhluk ngam—Pewaris bernama Ryouta Yellonio mendapat undangan aneh nan geje dari Seijuurou Guntingmania."
Latar belakang panggung berganti menjadi sebuah kamar berwarna kuning stabilo bertabur glitter yang sungguh menyilaukan mata—kata anak TK, glitter memperindah segalanya.
Kesan pertama: Wow, aktornya ganteng.
Banyak fangirl memekik girang menyaksikan betapa kecenya Kise (meski tidak sekece Akashi yang hobi kibas poni). Beberapa diantaranya mati kehabisan darah setelah diguyur begitu banyak fanservice.
"ASYIIIK HAYATI DIUNDANG MINUM TEH SAMA GUNTINGMANIACCHI-SSU!" Kise melompat-lompat penuh kegembiraan dan menebar aura ceria. "HAYATI AKHIRNYA DAPET KESEMPATAN JADIIN GUNTINGMANIACCHI WAIFU YANG BARU-SSU!"
Kesan kedua: Aktornya kok cabe banget sih?
"Ehemehem. Sesuai prinsip hayati sejak balita—" Jari telunjuk terangkat, "—Waifu saya moe. Moe waifu saya. Kalau bukan moe, bukan waifu saya."
Para fangirl segera mengecek ke-moe-an masing-masing.
"Ryouta adalah makhluk kuning hiperaktif yang terobsesi dengan hal-hal berbau moe dengan ekstra creampuff dan cinnamon roll. Oleh sebab itu, Guntingmania yang terkenal moe-moe mematikan menjadi kandidat waifu berikutnya untuk Ryouta Yellonio."
"Guntingmaniacchi pasti sudah terpikat kekecean hayati-ssu!" Kise mulai narsis. "Kalo nggak gitu, Guntingmaniacchi pasti gak bakalan ngundang hayati buat minum teh sambil ngerumpi-ssu! Semoga aja yang diundang cuma hayati aja biar nggak ada PHO-ssu!"
("Kalau aku punya istri semacam Ryouta, kubuang dia ke TPU terdekat." Akashi mengacungkan jempol dengan penuh percaya diri.)
"Hayati harus cepet-cepet ke sana-ssu!" Kise menyambar coatnya yang tergeletak dengan sembarangan dan segera capcus.
"Lain Ryouta, lain pula Daiki Glassblue. Pewaris Negeri Butiran Daki—kata saya—ini nampak ogah-ogahan untuk memenuhi undangan Guntingmania. Karena sama halnya dengan Kerajaan Boker, negeri Daiki punya hubungan tidak sehat dengan Kerajaan Heterochrome."
"Apaan sih? Males ah." Aomine gelundungan di atas kasur (sebagai bagian dari properti). "Lagian ya ngapain si maniak gunting kampret itu ngajak ngerumpi. Emangnya gue orang kurang kerjaan semacem Ryouta gitu?"
Seberapapun remangnya Aomine, masih ada saja fangirl yang bahagia melihat kekeceannya (meski tidak sekece Akashi yang setiap hari mandi susu). Tinggal menunggu saja apakah mereka benar-benar mau menerima spesies makhluk mesum semacam dirinya.
"Gue sih mending digampar gegara grepe-grepe Ryouta." Aomine tertular kebiasaan melantur Midorima. "Ato mungkin gue mending dibuang ke comberan gegara meluk-meluk dia pas tidur."
Wah, ternyata Aomine diam-diam berpikiran mesum tentang Kise!
Di jejeran penonton, Sakurai berdiri dengan penuh semangat. "A-A-A-AoKi detected! Aomine-san dan Kise-san itu... kyaaaa!" ia memekik OOC. Rupanya ia fudanshi terselubung yang sudah lama melayarkan kapal biru-kuning.
Imayoshi ikut bangkit dan memulai debat di mimbar terbuka. "Aomine itu lebih cocok sama Kagami! AoKaga itu lebih canon dari AoKi!"
"Pokoknya AoKi, Imayoshi-san!"
"Gak boleh, AoKaga!"
"Ada yang lebih baik dari AoKaga dan AoKi!" Bola lampu imajiner muncul di atas kepala si jamur. Dan dengan semangat berkobar seorang fudanshi ia berkata lantang, "THREESOME AOKAGAKI ITU FANSERVICENYA SEGUDANG, IMAYOSHI-SAN!"
"SIP, SAKURAI!" Senpai dan kouhai ber-tos tanda dicapainya mufakat.
"Guntingmania sialaaan," Aomine pasrah, menyampirkan coat navy-nya dengan asal ke bahu. "Ke sana-sini bacot 'aku absolut' terus. Bosen ah."
("A-Akashi, tenang dulu-nodayo!" Midorima mulai panik melihat Akashi yang sibuk mengasah linggis dan berbagai jenis senjata tajam. Tak lupa juga wajan sakti kesayangan yang sudah siap dilemparkan ke wajah dakian Aomine. "Setelah ini, ingatkan aku untuk memotong kontrak hidup Daiki." Iris hetero Akashi berkilat berbahaya.)
"Setelah catatan hati Daiki, mari kita berpindah ke negara tetangga yang diisi manusia setengah titan—atau lebih tepatnya apa yang kita sebut 'lubang titan' sedari tadi." Takao memutuskan untuk melanjut agar alur tidak kepanjangan. "Yak, mari kita sambut—"
"ATSUSHI-SAMA, BERHENTI TIDUR DAN SEGERA SELESAIKAN TUGAS ANDA!" seorang karakter mob berteriak frustasi. Penonton terpesona melihat miniatur colossal titan yang tengah guling-guling di kasur emperor size (?).
"Nggak mauuu~" Murasakibara menguap malas. "Aku mau tidur~ Jangan ganggu atau kuhancurkan kau~"
"Inilah Atsushi Mayzenia, Pewaris dari Kerajaan Maizena—kata saya—yang hobinya makan, tidur, makan, mandi dan tidur lagi. Abdi dalem yang sudah lelah ditimpuki tugas kerajaan yang seharusnya ia selesaikan sekali lagi menyerah atas kemalasannya!"
"Tapi Atsushi-sama, anda harus—" pemeran figuran tersebut dibuat ciut nyalinya dengan tatapan kesal super nyata (karena saat ini Murasakibara benar-benar mager alias malas gerak) dari si titan ungu. "Kau bukan Sei-chin jadi kau tidak boleh memerintahku. Sekarang pergi, aku mau tidur."
"Ba-baik." Merinding ketakutan dan dengan wajah pucat, orang tak penting itu turun panggung sambil menelan ludah.
Pesan moral satu: Jangan macam-macam dengan jam malas Murasakibara.
"Tapi bagaimana ini, aku bosaan~" Murasakibara kembali normal sambil berguling-guling dengan asyik hingga nyaris terjatuh dan merusak lantai panggung (ingat berat badannya yang nyaris mencapai tiga digit). Dikeluarkannya kertas undangan tidak jelas dari saku kemejanya.
"Sei-chin mengundangku minum teh~" gumam Murasakibara. "Aku malas bangun, tapi mungkin aku akan kesana~ Eh, jangan-jangan Sei-chin juga mengundang Ryou-chin dan Dai-chin—dijamin rame~"
Kasur properti tersebut berderit miris menahan beban seorang titan ketika ia memutuskan untuk duduk—meski ia masih tergoda untuk berguling-guling. Sambil menguap malas (sungguh, Nijimura tidak menyangka kouhainya bersikap seperti biasa di atas panggung), Murasakibara mengangkat bokong dan bergeser ke kanan—
Krieeeeet—KRAK! BRUAK!
"Are~?" Murasakibara celingak-celinguk di tengah reruntuhan gabungan matras dan serpihan kayu jati yang dulunya material dipan. "Mura-chin, ininya rusak~"
Nijimura segera headbang. Penonton sweatdrop.
.
.
"Ehem. Maafkan kesalahan teknis yang barusan." Takao membungkuk sungkan. Teriakan-teriakan penuh emosi terdengar dari balik tirai panggung ("ITU KASUR NYICIL! BELUM LUNAS! UDAH GITU YANG JADI TUMBAL DUIT BULANAN GUA—"). "Kembali dengan Guntingmania. Tak ada angin tak ada hujan, ia mendadak merombak ulang mansionnya sambil menunggu para tamu!"
"Yak, maju. Terus, terus, terus—" Akashi yang duduk di kedua bahu Midorima memerintah dengan seenak jidat, sebuah lukisan berukuran jumbo di genggaman. "Stop. Ke kiri sedikit—"
"Sei, kita sudah berputar-putar keliling ruangan ini sejak satu jam lalu." Midorima berusaha untuk tidak melemparkan makhluk halus yang menghinggapinya keluar jendela. Bahunya serasa akan patah—rasanya seperti menanggung beban kehidupan.
Akashi memajang lukisan tersebut di dinding utara. "Mundur sedikit Shintarou, aku ingin melihat bagaimana jadinya." Mata kucingnya memancarkan gemerlap kebahagiaan (derita tidak pernah tahu rasanya digendong punggung), sekalian modus main kuda-kudaan.
Bukan kuda-kudaan yang itu.
Dasar masa kecil kurang bahagia.
Midorima pasti akan mengurut dada jika ia lupa Akashi bisa jatuh, dan mari kita katakan hasilnya tidak akan bagus baik lahir maupun batin. Ia mundur tiga langkah. "Bagaimana?"
"Ng... kurang pas rasanya." Akashi menepuk puncak kepala orang yang didudukinya dengan tidak sopan. Midorima maju tiga langkah agar Akashi dapat mengambil kembali lukisan tersebut. "Baiklah, kalau begitu ke kanan. Terus, terus—"
'Mas Midor masih tabah kok,' batin Midorima nelangsa.
Selain ditunggangi dan disuruh berputar-putar, ternyata bagian bawah dress suci yang dikenakan Akashi tersingkap hingga nyaris mempertontonkan aurat. Dan untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, Midorima Shintarou mendapat ilham. Pahanya Akashi itu—
"Shintarou," aura-aura tidak mengenakkan memancar dari Akashi. "Jangan pegang-pegang punya orang atau tanganmu kupotong."
Midorima refleks menyingkirkan tangannya yang tanpa sengaja mengrepe-grepe paha aduhai idaman semua orang tersebut.
.
.
"Guntingmania-sama, semuanya sudah siap!"
Kuroko Tetsuya, dengan langkah ceria dan senyuman yang tak kalah ceria memasuki panggung. Sebuah kotak kayu berwarna merah ngejreng berpindah dari tangan ke meja kaca di tengah setting.
Entah mengapa, sungai merah mini mengalir dari belakang tirai panggung.
"Mmph. K-Kerja bagus, Tetsuya." Akashi mengelap hidungnya dengan punggung tangan. Midorima duduk di sofa dengan pancaran aura gelap. Kuroko menengok ke arah lukisan abstrak mahakarya Himuro dan Kagami beberapa hari lalu yang terpasang cantik di dinding utara. "Are, sepertinya Guntingmania-sama membeli lukisan baru."
"Bagus, bukan?" Akashi bertepuk tangan antusias. "Shintarou membantuku memasangnya. Nee, Shintarou?"
"Iya." Jawab Midorima singkat, padat dan jelas.
"Sebentar lagi tamunya akan segera datang, Guntingmania-sama." Kuroko menata tea set berwarna pink bertabur bunga-bunga dan glitter (diketahui Nijimura kehabisan ide, jadilah ia membeli di toko mainan anak terdekat) dengan rapi di atas meja. "Kita harus segera bersiap."
"Jangan paksakan dirimu, Tetsuya." Akashi mengibas tangan, gestur agar Kuroko mendekat. "Sebaiknya kau istirahat sebentar, nee?"
Kuroko bingung apa ia harus mendekati tukang modus di hadapannya atau menyelamatkan diri, namun demi keselamatan cerita ia mendekat—
—Dan Akashi (dengan liciknya) melingkarkan lengannya di pinggang ramping Kuroko, otomatis menarik tubuh mungilnya ke pangkuan.
"KYAAAAAA KECEEEEEE!" Jeritan para fangirl memenuhi auditorium Apartemen Pelangi.
'Modus modus modus!' batin Kuroko teraniaya, meronta agar dilepaskan dari cengkraman tiran sang emperor. Namun apa daya, pendirian Akashi terlampau kuat untuk dilawan. "Nah, kalau begini kan kau bisa beristirahat. Tak baik jika kau terus bekerja dan sakit. Meski kau pelayan disini, sayangku padamu lebih dari—"
"MODUS GEMBEL, AKA—"
SYUUUUT—
"HIIIIIII! AKASHICCHI SEREM-SSU!" pekikan horor menggema dari balik tirai merah menyambut suara gunting tertancap di permukaan kayu. Penonton yang terbawa suasana ikut merinding ngeri.
"—Maaf, maksudku tadi adalah sayangku padamu lebih dari kecintaanku terhadap gunting dan Shintarou." Akashi melanjut. Midorima merasa ia telah menjadi korban pilih kasih seorang ibu tiri.
"G-Guntingmania-sama, masih ada yang harus kulakukan, jadi—"
"Tidak usah segan-segan untuk nganu, Tetsuya."
"... Bisakah kalian berdua pacaran di tempat lain?"
"Kalau mau kita bisa nganu bertiga kok, Shintarou~"
Midorima kalah satu-kosong, mulutnya membuka-menutup mirip ikan koi kehabisan oksigen.
"PERMISI!" seseorang berteriak dengan tidak sopan. Sepertinya itu suara berat-berat seksi khas Aomine yang cari mati (karena telah mengganggu jam berduaan—ehem, modus-modusan—Akashi).
"Ya, siapa disana?" Akashi tersenyum penuh makna.
"INI GUE, AO—DAIKI."
"Pulanglah Daiki, aku tak jadi mengundangmu."
"APAAN SIH?!"
"Yak, ini tamu perdana kita malam ini. Mari kita beri sambutan meriah untuk DAIKI 'AHO' GLASSBLUE!" Takao menyambut disusul tepukan meriah dari para fans sambil menghindari bakiak melayang.
Aomine yang melangkah ke atas panggung cengo melihat Akashi yang (memaksa) duduk di pangkuan Midorima sementara diatasnya ada Kuroko yang (terpaksa) duduk di pangkuannya. Mirip hijau-biru-merah es krim Pedel Pop berbungkus biru cerah.
Aomine dibuat ngiler karenanya. Haruskah ini menjadi foursome AoMidoAkaKuro, multipair terbaik sepanjang sejarah—
—Emak, hentikan imajinasi liar Aomine sekarang juga.
Aomine menelan ludah. "Er, kalian ngapain?"
Akashi memeluk Kuroko, menyandarkan kepala di bahu si baby blue yang masih berjuang melepaskan diri. Bergaya like a boss, ia berkedip menggoda, "Seperti yang kau lihat. Mau ikut?"
'Najis,' batin Aomine, tanpa sadar menyuarakan pikirannya keras-keras. "Emoh, entar gue disuruh pangku dia." telunjuk diacungkan ke arah Midorima. Digencet wortel raksasa berkacamata adalah salah satu cara mati yang tidak elit.
"Tapi Daiki, lebih ramai lebih nikmat~" Akashi tersenyum—Aomine bergidik horor.
"GUNTINGMANIACCHI!"
Suara cempreng yang memekakkan telinga menggema, membuat semua orang refleks menutup milik masing-masing. Kise dengan ceria melambai—entah bagaimana ia muncul dari barisan penonton—disertai senyum satu juta yen yang membuat para fangirl menjerit.
"GUNTINGMANIACCHI, HAYATI DATANG MENEMUIMU-SSU!" Kise langsung menerjang Akashi tanpa ragu dan menciptakan pemandangan lapis legit pelangi di atas sofa (sekalian modus memeluk Kuroko). Midorima tewas tertindih.
"Ryouta, lepaskan tanganmu atau kupotong keduanya." Akashi kalem meski gunting siap memulai adegan berdarah. Takut karirnya dihancurkan, Kise langsung melepaskan pelukan mautnya.
"Baiklah, ini tamu spesial kita yang kedua untuk malam ini!" Takao mengumumkan, membuat para fangirl ricuh. "TEPUK TANGAN YANG MERIAH UNTUK RYOUTA 'NGAMBANG' YELLONIO!"
"HUWEEE NARATORCCHI JAHAT-SSU!"
.
.
"Dan akhirnya, sampailah kita pada momen yang ditunggu-tunggu! Perkumpulan cogan pelangi telah dimulai—eits, namun ini tidak akan lengkap tanpa maling makanan kita tercinta!" Lampu sorot diarahkan ke tangga panggung. "MARI KITA SAMBUT, MINIATUR COLOSSAL TITAN, ATSUSHI MAYZENIA!"
Murasakibara sambil menenteng tas cucian berisi makanan ringan tidak bermanfaat melangkah mantap. Penonton masih terperangah dengan ukuran badannya yang diluar batas kewajaran—dan akan naik ke atas panggung—
"ATSUSHI, AWAS ADA—"
JDUK.
Murasakibara terjungkal ke belakang dan gempa dahsyat mengguncang dunia.
.
.
"Nah, sudah selesai."
Akashi mengelus kepala ungu di hadapannya selesai memasang plester. "Sakit~" isak Murasakibara sambil memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri, efek berciuman langsung dengan dinding yang tak bisa dibilang pelan.
"Betewe," Aomine memulai sesi merumpi. "Guntingmania, lo kok gak bilang-bilang kalo ada cewek unyu di mansion lo?"
Semua kepala menengok ke arah Kuroko. "Daiki-sama, aku bukan perempuan." Ujarnya dengan bibir yang dikerucutkan. Meter kyun-kyun moe semua orang meningkat hingga titik puncaknya.
Aomine kehilangan waktu untuk nge-fly ketika Kise melesat untuk memeluk Kuroko dengan kecepatan cahaya. "KYAAA, TETSUYACCHI MOE BANGET! MAU HAYATI BAWA PULANG-SSU!" ia mulai mencubit-cubit pipi Kuroko gemas.
Gyuuuut. Wajah Kuroko membiru. Ia tengah meregang nyawa.
Midorima menyeruput tehnya anggun (ngomong-ngomong, makanan yang digunakan sebagai properti bisa dimakan, bukan mainan plastik semata). "Ryouta, kalau kau terus memperlakukan Tetsuya seperti itu kau akan mati."
Kise yang ingat ajal langsung mundur.
"Iya kan? Tidak ada ruginya Tetsuya tinggal disini." Akashi memainkan gunting sambil mencekris udara dengan gestur berbahaya, tanda peringatan untuk tidak menyentuh miliknya. "Lagipula, Tetsuya adalah anak yang... baik, jadi aku suka padanya."
'Ini sih modus,' batin empat kepala pelangi lainnya.
"Tetsu-chin terlalu manis, aku ingin menggigitnya~" komentar Murasakibara kalem sambil memanfaatkan lengan panjangnya untuk menyabet snack orang lain.
Aomine merinding karena trauma, "Kepala orang itu bukan buat digigit."
"Tapi, seunyu-unyunya Tetsuyacchi, Guntingmaniacchi lebih unyu menurut hayati-ssu!" Kise semena-mena memeluk Akashi. "Guntingmaniacchi, hayati request fanservice-ssu!"
Akashi mensejajarkan kedua tangan dengan telinga, memasang pose seolah akan mencakar. "Bermainlah denganku, nyan~!"
Para lolicon tewas mimisan. Sudahkah kita menjelaskan bahwa lengan coat Akashi terlalu besar hingga hanya ujung jari yang terlihat? Silahkan bayangkan sendiri dan sediakan sekotak tissue untuk mencegah anemia.
.
.
"Dan semuanya berjalan sesuai rencana Guntingmania." Ketika Takao membacakan narasi, lampu panggung diredupkan untuk memberi kesan mistis. "Guntingmania akan melancarkan aksi bermodus kepada trio maca—ketiga tamu spesial kita!"
"Nee, Daiki~" Akashi memulai teknik modus perfect-nya terhadap kelinci percobaan pertama. Ia dengan keputusan sepihak mendadak duduk di pangkuan Aomine yang memasang wajah horor. "Kau ini jones kan?"
Aomine menyeka air mata. "Ja-jangan ingetin gue soal itu."
"Seandainya jika aku mengajukan diri untuk menikah denganmu, apa yang akan kau lakukan?" Akashi menantang sementara empat orang lainnya menahan napas penuh ketegangan.
'Gue buang lo ke kali' adalah ide awal Aomine, namun demi perdamaian dunia ia menjawab, "Ya gue terima lah! Orang semacem lo mah gaada yang nolak!"
Akashi menyeringai dengan Emperor Eye yang bersinar terang mirip seseorang dari anime tentang sindrom kelas 8, "Will you marry me?"
Aomine mati seketika.
"Tipikal om-om jones yang kebelet nikah, Daiki tak kuasa menolak Guntingmania! Namun, perasaan aneh dalam kokoronya memaksa dirinya untuk menganu—ups, maafkan narator yang khilaf ini. Daiki merasa dirinya HARUS mendapatkan Guntingmania sebelum doi diembat orang!"
"Sei, kau ini tante-tante hobi poliandri?" Midorima meletakkan cangkir tehnya dengan pandangan tajam untuk Aomine—wah, persaingan dimulai.
"Tenang saja, cintaku akan kubagi rata untuk kalian semua." Akashi menjawab enteng.
"Mou, Daikicchi nggak adil-ssu!" Kise memprotes, berdiri dengan dramatisnya. Telunjuk menuding Aomine yang diam-diam tersiksa karena ditindih makhluk gaib, "Hayati juga mau sama Guntingmaniacchi-ssu! Pokoknya Guntingmaniacchi itu waifu hayati-ssu!"
"Ryou-chin, diamlah atau kugencet sampai gepeng." Murasakibara memancarkan aura horor sebagai peserta keempat perebutan seorang Akashi Seijuurou. "Sei-chin itu milikku, tidak boleh ada yang menyentuhnya."
"Waduh, bagaimana ini?! Guntingmania diperebutkan oleh para makhluk pelangi!" Takao sekali lagi memanas-manasi suasana. "Situasi semakin panas! SIAPA YANG AKAN DIPILIH GUNTINGMANIA—"
"Kalian semua."
Semuanya berjengit melihat sesosok bayangan yang terlupakan mendadak memancarkan aura iblis. "Guntingmania-sama itu milikku seorang. Jadi tolong lepaskan tangan-tangan kotor kalian darinya."
Tak disangka, Kuroko adalah yang terjahat dari mereka semua.
"Ara, rupanya Tetsuya cemburu~" Akashi merasa semakin termotivasi untuk memperparah suasana. "Tak apa Tetsuya, mari kita berenam nganu. Sudah kubilang bukan? Semakin ramai, semakin nikmat rasanya. Jadi kalian semua sama-sama milikku."
"TAPI GUE GAK MAU SAMA ANAK PANUAN KAYAK DIA!" Aomine menunjuk-nunjuk Kise dengan tidak sopan, "UDAH NARSIS, CABE-CABEAN LAGI! POKOKNYA GUE GAK MAU!"
"HAYATI JUGA GAK MAU SAMA ANAK DEKIL KAYAK DIA-SSU!" Kise balas mengacungkan jari tengah biar greget. "UDAH DAKIAN, ITEM, MESUM, IDUP PULA! NAJIS TAU!"
Aomine yang (katanya) mandi sehari lima kali dengan bonus luluran tidak terima dibilang dakian. Sama halnya dengan Kise yang mencoba teknik mandi susu Akashi agar semakin kece, namun tidak efektif karena belakangan diketahui resep rahasianya adalah susu kental manis berlabel bendera negeri antah berantah.
"LO BILANG GUE DAKIAN?! MAJU SINI!" Aomine berseru dengan background ombak berdebum.
"OKE FIX, HAYATI PANUAN! TAWURAN MULAI-SSU!" Kise balas berteriak dengan api imajiner yang berkobar penuh penghayatan.
Keduanya mulai cakar-cakaran hingga adu piting sementara Kuroko, Midorima dan Murasakibara adu pandang maut dengan percikan imajiner diantara ketiganya.
"Guntingmania-sama milikku seorang," Kuroko memancarkan aura dunia lain.
"Sei tidak akan kubiarkan jatuh ke tangan orang lain," lensa kacamata Midorima berkilat berbahaya.
"Sei-chin sama mahalnya kayak maiubou keluaran baru," Murasakibara salah fokus.
Untuk mengisi kengangguran dan melengkapi suasana, Takao memulai voting best OTP. "Persaingan antar makhluk pelangi pun dimulai! Nampaknya tak ada yang akan menyerahkan hak milik atas Guntingmania, saudara-saudara! YANG TEAM SHIN-CHAN-NANODAYO ANGKAT TANGAAAAN!"
Mereka yang mengangkat tangan rata-rata adalah para kutu buku, penggemar cowok megane tipikal anime shoujo dan pecinta makhluk tsundere. Dan jangan lupakan para maniak wortel.
"YANG TEAM MOE-MOE TETSUYA ANGKAT TANGAAAAN!"
Kali ini giliran para shotacon, pengasup doujinshi berisi cowok-cowok uke dan penggemar gender hideyoshi mengangkat tangan (menurut mereka, Kuroko terlalu imut). Momoi dan Mibuchi sebagai fangirl setia dan penumpang kapal merah-hitam ikut terbawa suasana.
Dan begitu seterusnya. Niatnya sih, mengumpulkan pendukung untuk AkaKuro karena shipper pasangan tersebut mengasup MidoTaka—ada udang dibalik bakwan.
.
.
Hingga titik ini, para penonton sekarat. Entah karena kram perut atau divonis anemia, banyak insan malang yang tengah meregang nyawa.
Sementara itu di atas panggung enam kepala warna-warni duduk melingkar dengan beberapa lembar kartu di genggaman, menguras otak demi memenangkan kokoro sang pujaan hati. Akashi duduk anteng, berperan sebagai bandar judi ilegal.
"Oha-Asa hari ini menyatakan Cancer jatuh di peringkat pertama dan Libra terakhir. Selamat menikmati-nodayo." Midorima nyengir (?!) bangga.
"Harus menang... Biar dapet Guntingmaniacchi-ssu!" Kise dengan keringat bercucuran meremas-remas set kartunya.
"Sudahlah, Guntingmania-sama milikku. Maaf, ya." komentar Kuroko datar sambil menyerahkan satu kartu ke Aomine dan mengambil satu dari dek di tengah lingkaran. Dengan bangga ia meletakkan setnya agar dapat dilihat dunia.
10, J, Q, K, Ace. Telak 41.
"TETSU TEMEEEEEE!" Aomine lelah, melempar setnya dengan frustasi ke tengah lingkaran pelangi. Totalnya 39, miris sekali.
Midorima melongo tidak percaya. Murasakibara cuek, sementara air mata Kise sudah tumveh-tumveh. Akashi bertepuk tangan.
Nijimura yang merasa alurnya semakin melenceng dari tujuan seharusnya memberi isyarat pada Takao untuk melanjut cerita. "Yak, sepertinya hak milik atas Kanjeng Ratu Seijuurou Guntingmania telah jatuh ke tangan Tetsuya! Namun tiba-tiba, sesosok misterius datang tak diundang!"
"Permisi? Ada orang di dalam?"
Keenam kepala warna-warni menoleh ke sumber suara—berdirilah karakter dengan wajah tertutup jubah hitam. Alunan musik misterius mendukung suasana. "Adakah yang bernama Seijuurou Guntingmania-sama disini?"
Midorima dengan gagah berdiri dan sigap melindungi Akashi yang bersembunyi di balik punggungnya. "Ada urusan apa kau dengannya, orang asing?"
Orang itu tersenyum misterius, memancarkan hawa dingin tidak mengenakkan yang sebelas-duabelas dengan Kuroko ketika badmood di malam Jumat kliwon. "Aku datang untuk mengurus masalah pribadi Kerajaan Boker dengan Seijuurou Guntingmania."
Gulungan kertas terikat pita merah dilemparkan ke arah Akashi. Ia perlahan melepas ikatannya dengan penuh penghayatan, dan—
"Disitu tertulis sekian pasal perjanjian yang akan anda tandatangani," pria berjubah melanjut kalem meski enam kepala lainnya sweatdrop melihat kertas perjanjian yang tidak ada ujungnya. "Agar anda tak perlu repot membaca hingga akhir, akan saya bacakan secara singkat."
"Pertama, batalkan seluruh perjanjian yang anda buat dengan Tetsuya Turner dan pulangkan yang bersangkutan ke pihak keluarganya."
Apa ini. Pembatalan pernikahan kah? Raut muka Akashi meredup tak senang.
"Kedua, Seijuurou Guntingmania tak diperbolehkan tinggal dalam satu bangunan apalagi satu kamar dengan Shintarou Octo."
Oh, bagus. Nyawanya akan selamat, Midorima bisa mengelus dada lega.
"Tiga, putuskan segala hubungan dengan kerajaan lainnya selain Negeri Kolor Ijo."
Tiga orang lainnya diam-diam menarik napas lega.
"Empat, semenjak ditandatanganinya surat perjanjian ini anda dan Kerajaan Heterochrome akan selamanya terikat dengan Kerajaan Boker."
Senyum mistis terukir di wajah sang pria yang separuh tertutup kain hitam.
"Dan kelima, pelanggaran terutama terhadap keempat pasal yang saya sebutkan sebelumnya akan diberi sanksi berupa... Ehem, diungkapkannya gender anda yang sebenarnya pada seluruh rakyat Hetero—tidak, seluruh Evillicious."
Dramatis. Akashi syok. Kelima makhluk warna-warni lainnya syok. Penonton dan Nijimura syok. Semua orang dalam auditorium menahan napas, menunggu reaksi sang tokoh utama.
Tak seperti yang diharapkan, Akashi tetap kalem. Seringai terpatri di wajahnya. Pria berjubah mundur beberapa langkah, awas dengan sang tuan muda yang memainkan gunting di tangan.
"Silahkan lakukan apa yang kau mau dengan aku atau negaraku," Akashi maju dengan gagah berani dan seringaian over-pede yang menyebalkan. "Satu, Tetsuya Turner telah terikat kontrak denganku dan aku tak akan melepaskannya meski dipaksa sampai ia berhasil memenuhi kontraknya."
Kuroko menatap prihatin. 'Kejombloan Akashi-kun menuntutnya untuk menerapkan metode nikah kontrak', batinnya miris.
"Kedua, aku tak peduli mau aku tidur serumah, sekamar atau seranjang dengan Shintarou. Karena toh sejak awal aku tak ada ketertarikan apapun untuknya." Akashi melirik Midorima yang nampak tersinggung. "Karena Shintarou sudah ditakdirkan menjomblo."
'Kau pikir siapa yang paling jomblo disini, nanodayo.' Midorima menggigit jari, geregetan.
"Ketiga, untuk apa aku memutus hubungan dengan negara-negara lainnya?" Kise, Aomine dan Murasakibara sempat terharu, rupanya masih ada sedikit rasa setia kawan dalam hati Akashi yang lebih gelap dari Aomine Daiki. "Bukankah sejak awal Kerajaan Heterochrome hanya menjalin aliansi dengan Negeri Kolor Ijo?"
'Gue tarik omongan gue,' ketiga makhluk buangan itu menjerit sepenuh hati.
"Keempat dan kelima, aku tak khawatir jika aibku diumbar atau negaraku terikat dengan negaramu. Aku bisa dengan mudah menghapus ingatan kalian semua—tentunya kau sudah tahu kenyataannya, Tatsuya Shields."
Semua mata tertuju pada si pria berjubah yang sudah kehilangan aura cool-nya. Baik pihak penonton, host maupun narator saking terpananya tidak mampu mengomentari adegan berikutnya, ketika Himuro melepas tudung hitamnya dan tersenyum kecut.
"Ketahuan, ya? Subarashi. Sesuai dugaanku anda cermat sekali, Guntingmania-sama." Jubahnya dilepas dengan dramatis, memperlihatkan setelan bartender yang ia pakai—rupanya setelan semacam ini resmi menjadi pilihan bodyguard zaman sekarang. Sepertinya tertular preman yang katanya pelindung bayaran debt collector dari fandom seberang.
"Datang karena diutus Tainyess-san ya, Tatsuya-san?" Akashi berjalan mengitari ruangan dengan langkah penuh wibawa. "Tumben sekali, ini pertama kalinya ada utusan dari negara lain. Aku jarang menerima tamu selain mereka-mereka yang sekarang berdiri di depanmu, Tatsuya-san."
"Aku kesini untuk mengurus masalah adikku, Perdana Menteri Tainyess Crim denganmu yang katanya musuhnya sampai mati, Guntingmania-sama." Himuro tersenyum licik, sukses membuat kelima kepala pelangi lainnya bergidik ngeri.
('Pertandingan antar drama queen akan dimulai!', mereka saling pandang dengan gugup ke arah satu sama lain, dalam hati berdoa berkomat-kamit, semoga kami-sama masih baik hati dan mereka masih bisa melihat mentari esok pagi.)
"Pasalnya, aku yakin bukan itu saja yang ingin anda urus disini, Tatsuya-san."
"Tentu saja, aku juga datang karena urusan pribadi."
Semuanya dapat membayangkan kilatan dan api imajiner yang terpercik di antara keduanya, melirik ke arah narator untuk memberi isyarat agar segera mengendalikan jalannya cerita.
"Rupanya Tatsuya dan Guntingmania terjebak dalam suatu persaingan terselubung. Apakah akan muncul konflik baru yang melibat salah satu Pewaris?" komentar Takao ketika suasana mulai menegang. "Atau jangan-jangan masalah ini lain dari yang lain—"
"Aku datang kesini untuk—" Himuro mengacungkan telunjuk ke arah orang tertinggi yang saat ini berdiri cengo setelah yakin dirinya terlibat dalam hal tidak penting, "—membawa pulang Atsushi-ku yang sudah berani anda jamah dengan kurang ajarnya, Guntingmania-sama."
Amazing. Super sekali. Penonton tertegun, para aktor lebih tertegun lagi. Entah sudah berapa cinta belok-membelok bermotif bidang segitiga yang terbentuk di antara para cast dengan pusat makhluk laknat bernama Akashi Seijuurou, tak ada yang tahu dan mau tahu.
"Kurang ajar?" raut muka Akashi semakin meredup, gunting di tangan mencekris-cekris udara dengan kilatan berbahaya. "Mungkin yang anda maksud adalah Atsushi-ku, Tatsuya-san. Atau jangan-jangan Tatsuya-san menjalani hubungan ilegal antar dua negara yang tidak bersekutu?"
Perempatan siku-siku imajiner muncul. Himuro meremas-remas kain celananya gemas. "Atsushi-ku ya Atsushi-ku, Guntingmania-sama, dan anda tidak berhak mengkritik urusan hubungan orang lain."
"Lagipula Guntingmania-sama juga sudah mencoreng harkat-martabat diri anda sendiri karena telah berusaha menjalin hubungan dengan rakyat jelata. Apalagi rakyat jelata yang dimaksud disini adalah perjaka polos yang jauh lebih muda dari anda, dasar pedofil jomblo."
"Wao, konflik Tatsuya Shields dengan Seijuurou Guntingmania ternyata berlandas politik luar negeri ilegal dan ke-pedo-an! Apa yang akan Atsushi lakukan agar dapat menuntaskan masalah ini tanpa solusi?!"
"Sudahlah, aku tak punya urusan apapun selain ini. Semua ini membuang waktuku." Himuro meraih pergelangan Murasakibara dan menariknya menjauh dari Akashi. "Ayo kita pulang, Atsushi."
Bukannya menurut, Murasakibara tak bergeming dari posisi awalnya. Ia tampak bimbang memilih calon yang lebih baik, Akashi atau Himuro. Kemudian ia menarik tangannya lepas dari genggaman Himuro dan menggeleng lemah.
"Tat-chin, karena aku sayang Sei-chin, aku belum mau pulang kecuali Sei-chin mengusirku dengan sadis dari sini." Ujarnya dengan sungguh tidak mutu.
JDEEEEEER.
Petir imajiner menyambar kokoro Himuro. Meski hanya akting, disandingkan dengan seseorang lebih sakit daripada dibandingkan dengan maiubou atau cemilan lainnya.
Alisnya berkedut kesal. Iris yang tidak terhalang tirai surai hitam memancarkan emosi yang meluap-luap hingga membuat lima adik kelasnya mengambil beberapa langkah mundur. "Dengar ya, aku tidak mau tahu apa yang telah kau lakukan pada isi kepalanya, tapi setahuku yang berputar-putar dalam kepala Atsushi Mayzenia itu hanya tidur, makan, tidur lagi, cemilan dan aku."
"Bukankah ini suatu keanehan jika kau berhasil merenggut hati lima orang keras kepala yang kelimanya entah bego atau tidak peka ini?" Himuro makin geregetan. Kenapa urusan hubungan mereka di dunia nyata juga ikut dibawa-bawa.
Kelima orang yang dimaksud mulai mempertimbangkan ketidakpekaan masing-masing.
"Aku tidak bermain curang, Tatsuya-san. Sudah natural bagi mereka untuk melirik orang terhormat—sepertiku—dan mengabaikan yang lebih rendah dari mereka." Cengiran pede Akashi membuat semua orang yang menonton adu mulut keduanya makin tersulut emosinya.
"Tunggu saja, makhluk jomblo." Himuro mulai mengacungkan jari telunjuk ke wajah Akashi dengan kurang ajarnya. Ia berbalik badan dan hendak berjalan turun panggung. "Aku akan kembali dan membawa Atsushi pulang, lalu kita akan kembali seperti sedia kala—"
Tak disangka makhluk unyu bernama Kuroko Tetsuya menghadang secercah cahaya harapan yang dimiliki Himuro Tatsuya untuk segera enyah dari setting menyebalkan yang melibat dirinya.
"Tunggu sebentar, Tatsuya-san. Tidak ada yang bilang kau bisa pulang setelah menyampaikan pesan yang barusan kepadaku." Seringai jahat maksimum terpatri di paras Akashi. Himuro bergidik ngeri—bukan akting, yang barusan benar-benar menohok kokoro.
"Ternyata Guntingmania memiliki niatan udang di balik bakwan—lagi! Apa yang akan ia lakukan?! Apa Guntingmania akan menambahkan manusia baru dalam haremnya?!" narasi Takao membuat Himuro makin merinding membayangkan kemungkinan buruk apa yang akan menimpanya.
"Setelah kuperhatikan, ternyata Tatsuya-san menarik juga." Akashi mengambil langkah mendekati Himuro dengan efek kripi. "Bukan hanya di dalam, di luarnya pun Tatsuya-san juga cantik."
Oh, tidak. Hell no. Himuro tahu dirinya sering dibilang cantik, tapi yang sukses membuatnya mati kepanasan hanya Murasakibara Atsushi seorang.
"Bagaimana kalau kita membuat perjanjian, Tatsuya-san?" Adegan maju-mundur cantik kembali diulang—giliran Akashi yang dengan elit memojokkan Himuro. "Tentunya Tatsuya-san tidak ingin hal-hal tidak mengenakkan terjadi pada Atsushi atau Tainyess-san, bukan?"
"Guntingmania-sama—"
"Iya kan?"
Himuro berjengit, merasakan hawa-hawa tidak enak di sekitar iblis seperempat manusia di hadapannya. Kedua manik belangnya—seingatnya beberapa hari lalu irisnya masih sewarna—mengumbar tatapan penuh intimidasi, sedikit melebar dengan kesan yan.
"Kau tak akan bisa melawanku, Seijuurou Guntingmania—the one and only—dan seluruh duniamu akan selamanya berputar dalam genggamanku—"
Nijimura buru-buru melesat ke operator (apa namanya ya?) yang mengatur pencahayaan dan dengan sok tahunya mematikan seluruh lampu sebelum adegan tidak senonoh terjadi.
.
.
"WOI MAYU SIALAN, BANGUN."
Karena riasan, Nijimura gagal menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk menyiram air ke muka datar kalem Mayuzumi yang minta ditabok itu.
"Apaan sih nyong, berisik tau." Bukannya beranjak dari posisi nyamannya di atas sofa, Mayuzumi malah berguling ke samping, memalingkan wajahnya dari Nijimura.
Gemas, Nijimura mencubit kedua pipi pemuda bertampang madesu itu. Hadiahnya adalah tamparan yang telak mengenai bibir monyong fabulousnya, pertanda si empunya pipi ogah diganggu. Sambil meringis menahan sakit, Nijimura yang masih teguh pendirian melancarkan serangan ke pinggang Mayuzumi—
—bukan, bukan 'serangan' yang semacam itu.
Sesuai dugaan. Tubuh Mayuzumi menegang, tertekuk ke depan dengan tangan menutup mulut. "Haha, ahn—njir jangan pegang-pegang situ woi—Niji. Njir, stop. Monyong, denger gak—"
Nijimura khawatir ia akan diabetes mendengar tawa datar—yang di telinganya cukup, sekali lagi cukup merdu karena faktor kelangkaan—jadilah ia berhenti melayangkan ujung jarinya. Mayuzumi akhirnya duduk, merapikan puncak kepalanya yang sedikit acak-acakan.
Jangan-jangan dia beneran kerabat jauh sesosok hantu imut berkepala biru.
Tapi ada suatu hal yang lebih serius dari itu.
"Ternyata lo gelian, May. Pinggang lo sensitif ya—"
"Diem, nyong."
.
.
"Isi kepala Tainyess semakin awut-awutan. Pasca masalah nasional Evillicious yang setiap negaranya mendadak kehilangan pemimpin masing-masing, Tatsuya tak kunjung kembali. Ia sudah kehabisan akal untuk mengurus problemanya dengan Guntingmania."
Tunggu, ini cuma perasaan Takao atau alurnya memang berubah dari gula-gula pelangi bertabur humu menuju dunia kegelapan ya?
Saat ini ia akan mengikuti naskah saja. Daripada dijitak dengan cinta oleh Nijimura-senpai.
"Ia sudah tidak mungkin menggunakan cara damai. Bendera perang akan dikibarkan!" Takao melayangkan tinjunya ke udara dengan semangat sumpah pemuda. Penonton otomatis bersorak pertanda dimulainya bagian seru.
"SI SETAN GUNTING SIALAN ITU, AAAGH!" Kagami makin berapi-api, masih memanfaatkan pendapat sepenuh hatinya terhadap Akashi. "AKU NGGAK MAU TAU. POKOKNYA KAU HARUS DATANG KE SANA DAN MENGHABISINYA DENGAN SEGALA CARA! SEMUA RENCANYANYA KUSERAHKAN PADAMU—"
Kagami menunjuk manusia dengan hawa keberadaan minim di seberangnya, yang mukanya tertutup hoodie abu-abu kaosnya mirip seseorang dari Ass*ssin's Cr**d.
"MAYUMAYU MAYUYU!"
Mayuzumi mulai mengutuk ketidakberuntungan yang bermula dari nama plesetan yang dibuat oleh para cast, dimana mereka saat itu kehabisan inspirasi.
"Mayumayu Mayuyu, sesosok figur misterius yang ogah memberitahu identitas aslinya meski nama aliasnya butuh diberi spoiler alert! Melayani segala permintaan kliennya dengan separuh hati, mulai dari pembunuh bayaran, preman sewaan hingga tukang sedot WC tetangga sebelah. Untuk pemesanan jasa hubungi delivery 500505."
Pada akhirnya, niat mulia Takao untuk tetap di jalan yang benar terkalahkan oleh hasrat pribadi. Izinkan Mayuzumi untuk mem-pass bakiak terdekat ke narator sableng di seberang sana.
Kembali ke laptop.
Berhubung sifat karakter yang diperankannya tidak jauh beda dari dirinya sendiri—pendiam, misterius, datar ingin dihajar, kitakore—ia hanya mengangguk dengan wajah masih tersembunyi di balik hoodie-nya.
Debut Mayuzumi yang hanya sebentar itu diakhiri dengan dirinya yang tanpa mengucapkan sepatah kata pun menuruni panggung, sementara spotlight diarahkan ke Kagami yang memasang wajah penuh pengharapan.
"Kau harapan terakhirku. Segera bawa 'mereka berdua' kembali dengan selamat."
Sementara itu, Mayuzumi sudah menapakkan kaki di wilayah mansion Guntingmania yang sebesar istana negara. Ia mengeluarkan catatan kecil (yang sebenarnya hanya kertas kosong, ia malas membuang waktunya) dan mengangguk.
"Disinilah target yang akan kuurus." Gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Latar berubah menjadi ruang tengah mansion yang begitu sepi dengan pencahayaan redup. Mayuzumi mengambil tiap langkahnya dengan hati-hati. Perlahan, ia mengeluarkan pisau—bohongan—dari sakunya (meski kenyataannya ia memang geregetan dengan kouhai iblisnya). Semua orang terkejut.
"Ada apa gerangan yang membawamu kesini—"
Akashi, dengan wig nistanya yang sudah dilepas—efek gerah—muncul dari sisi panggung satunya, kini telah mengenakan pakaian yang lebih santai. Kemeja putih dengan dua kancing teratas yang dibuka, dasi yang disimpul longgar dan celana panjang hitam.
Dengan senyum menawan, ia berdiri tepat di depan wajah Mayuzumi.
"—Mayu-san?"
Dari balik hoodie kelabunya, Mayuzumi mendelik ketika menginspeksi Akashi dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas. 'Bocah ini minta diserang ya...' batinnya ketika menyadari betapa menggoda imannya Akashi saat ini.
"... Seijuurou."
Akashi menyingkapkan hoodienya, masih mengumbar senyum menyebalkan itu, menunjukkan muka yang katanya ganteng tapi seekspresif ubin kamar mandi-nya kepada dunia.
"UOOOOOOH!" Takao heboh sendiri, mendadak bersemangat. OTP dimana seorang Akashi Seijuurou diukein adalah suatu berkah dunia yang tak ternilai. "Rupanya Guntingmania mengenal Mayuyu! Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka?! Atau jangan-jangan mereka LDR-an atau yang terpenting... jeng jeng, mungkinkah Guntingmania adalah 'sang mantan'?!"
Seseorang di sisi lain mendadak memajukan bibir secara tidak terkontrol ketika mendengar kata 'mantan' disebutkan.
Untuk melampiaskan kekesalan, genggamannya pada pisau bohongan yang dibawanya semakin mengerat. "Kupikir siapa. Rupanya kau, Seijuurou." Ujarnya dengan nada mengejek. "Boleh aku tahu apa alasan Tainyess Crim-sama untuk menyuruhku 'membunuhmu'?"
"Tidak ada alasan spesial," Akashi memasukkan tangannya dalam saku celana, berusaha tetap cool padahal tengah merogoh gunting yang diselundupkan dengan teknik rahasia. Gunting-chan kali ini sudah diasah dengan baik hingga tajam mengkilat.
"Mungkin aku sudah membuatnya putus asa." Senyum yandere mengembang di wajah Akashi. Mayuzumi sempat merasa bulu kuduknya berdiri. Was-was, ia bersiap untuk—uhuk—menusukkan senjatanya kapanpun. "Mungkin aku sudah mengambil apa yang berharga baginya."
"Mungkin aku sudah menjerumuskan seluruh Evillicious kita dalam kekacauan,"
"Mungkin aku sudah membuatnya terpaksa menggunakan cara kotor untuk menyingkirkanku,"
"Mungkin ia butuh pelampiasan tentang dendamnya padaku,"
"Dan mungkin..."
Akashi maju selangkah lebih dekat, mengangkat dagu Mayuzumi dengan telunjuknya.
"... Aku sudah membuatnya mempertemukan kita lagi, Mayu-san." Senyum lebar, kedip menggoda.
("Sialan, Akashi tambah jago godain orang." Aomine mengintip dari belakang tirai. "Si Akashi itu mantannya kok banyak banget ya." Kagami ikut-ikutan. Kise di sebelahnya nyempil di bawah kepala kedua makhluk setipe itu, "Udah gitu mantannya pada mutu semua! Aku iri-ssu!"
Tiga orang bersin-bersin di tempat dan satu orang menahan bersin.)
Merasa Akashi yang semakin sering bergaul dengan kepala-kepala pelangi itu menjadi semakin belok, Mayuzumi membuat keputusan tepat untuk mencegah kouhainya semakin nafsu menghumu dengan orang lain.
"Seperti yang kau ketahui, aku sudah tidak tertarik padamu, Seijuurou." Mayuzumi menampar kasar tangan Akashi yang membelalakkan matanya, terkejut. Dengan pisau terhunus, senyum yang sungguh mengerikan terpampang di wajah yang biasanya datar.
"Jadi, jika kau tidak ada masalah, sebaiknya kau bersiap untuk mati saat ini juga, Sei—"
Di luar dugaan, Akashi malah mendekapnya erat, menyandarkan kepalanya pada bahu kanannya. Masih menggenggam pisau, Mayuzumi sama sekali tidak protes meski dirinya terpaksa berdiam pada posisi tak nyaman dengan badan agak membungkuk.
"Bunuh saja aku dengan belatimu itu, Mayu-san."
Mayuzumi membatu. Kenapa ini mirip lagu dangdut dari suatu negara ya.
"Ragu kah, Mayu-san?" Akashi masih dengan satu tangan dalam saku. "Atau jangan-jangan Mayu-san gagal move on dariku?" ia berbisik, menyeringai.
"Ha-ha, lucu sekali." Mayuzumi tersenyum (?!) tipis setipis rambut dibelah tujuh, menekankan ujung pisaunya pada punggung Akashi. "Siapa bilang aku gagal move on, dasar setan jomblo."
Perutnya sedikit mual ketika mengucapkan kalimat selanjutnya (Niji sialan...);
"Kenyataannya sedikit lebih manis. Aku membunuhmu karena aku mencintaimu."
"Benar juga, perasaanku padamu juga mutual."
Akashi mengangkat guntingnya tinggi.
"Karenanya, lebih baik kita mati bersama."
.
.
.
.
"TUNGGU TUNGGU TUNGGUUUU!"
Tak terduga, dua anak manusia bernama Aomine dan Kise muncul, menyerang secara mendadak dari kedua sisi panggung. Aomine sedikit sweatdrop memegang sepotong gabus yang tertancap gunting Akashi sementara Kise mengamankan pisau bohongan Mayuzumi.
"Enggak. Hayati nggak terima kalo endingnya gini-ssu!" Kise melempar secara asal properti tersebut dan melayang mengenai jidat Takao di sisi lain sana, disusul pekikan seindah kebun binatang dari sang narator. Monyong Nijimura semakin menjadi-jadi.
"Endingnya klise banget, duh." Aomine membalas, tangannya masih gemetaran menyingkirkan tameng darurat untuk menghalau serangan asli dari Akashi. "Mendingan kita cari yang gak suram-suram amat!"
"Aku tahu," Kuroko dan Midorima muncul dari satu sisi panggung, sementara Murasakibara dan Himuro dari sisi satunya. "Lebih baik kita menyanyi bersama saja, bagaimana?"
"NAH ITU! SIP DAH, TETSU!" Aomine yang terlalu bersemangat menyahut.
Akashi dan Mayuzumi yang masih berdiri di tengah panggung dengan sorotan spotlight cengo.
"Penonton juga ikut ya!" Himuro dengan senyum sejuta watt-nya mengangkat sebelah tangan di udara, disusul Murasakibara yang antusias dan Midorima yang sedikit tengsin. "Mulai dari... one! Two! Three!"
Kuroko tiba-tiba nyempil di tengah Akashi dan Mayuzumi lalu mendorong keduanya dengan elit ke sisi kanan dan kiri panggung. Ia menarik napas dalam-dalam.
"GO!"
"Wow wow ooh (yeah) oh ooh~"
Musik mulai mengalun. Seluruh Kisedai minus Akashi langsung menyanyi kompak, Kuroko dengan suara yang diberat-beratkan dan Kise dimacho-machokan.
"Aa mou hontou uttoushii naa
Kowarete yuku nichijou memai
Sono hyoujou ga shisen ga koe ga fukai na no
Aah, daikirai na no~"
Midorima, Aomine dan Kise bernyanyi bergiliran. Midorima dengan satu tangan di dada dan satunya diulurkan ke arah penonton, Aomine dengan seringaian khasnya dan Kise mengedipkan satu mata dengan mengacungkan tanda peace.
"Unmei? Kiseki? Aru wake nai deshou?
Kitai suru no wa mou yametanda."
Kuroko melipat tangan di dada dan memiringkan kepalanya dengan unyu.
"Ichiban ja nakute ii dou datte ii kara~"
Himuro dan Murasakibara kompak menekankan telunjuk ke bibir dengan senyuman menawan.
"Dakishimete~"
Suasana panggung mendadak meriah, penonton bersorak heboh mendapat asupan cowok-cowok kece dan imut yang tengah menyanyi dengan suara sekseh mereka. Tiba-tiba Akashi menyerobot barisan dan merangkul pinggang Kuroko dengan semena-mena. Keduanya langsung sinkron.
"Ai nante irannai tamannai
Shitsuyou ni kasaneteitte yo
Me o tojite kokyuu motomete
Dareka no yume demo miteite yo!"
"Soushitsukan nante tsumannai
Doko e demo tsuretette yo
Kantan o haite choudai
Itai hodo kimi o kanjisasete yo nee~"
Masih dengan mode prince charming dan dengan backing vocal dari Aomine dan Midorima, mereka semua menyanyi berjamaah. Kali ini spotlight diarahkan pada Akashi yang menggandeng lengan Midorima dan Aomine.
"Aa mou hontou mendokusai naa
Yugande yuku genjitsu sekai
Ooki na senaka ga hosoi yubi ga
Atashi no mono naranakute mo ii~"
Sekarang pada Himuro dan Kuroko yang bergandengan tangan dan membelakangi satu sama lain.
"Retsujou? Shitto? Aru wake nai desho?
Atashi wa ano ko ni wa narenai~"
Lalu pada Kise dan Murasakibara yang juga membelakangi satu sama lain dan melambai dengan semangat.
"Sonna koto wakatteru kara
Sonna me de atashi o mitsumenaide~"
"Ai nante irannai tamannai
Hitsuyou ni hodoiteiite yo
Me o tojite kokyuu motomete
Dareka no yume demo miteite yo."
Para Kisedai dan Himuro pasang poker face. Takao cengo. Nijimura pingsan dengan mulut berbusa. Penonton begitu terkejut melihat sesosok manusia madesu, tak lain adalah Mayuzumi, yang biasanya malas angkat bicara mendadak melantunkan lagu menjurus nan ambigu dengan merdu meski setengah datar.
"Zaiakukan nante wakannai
Doko e demo tsuretette yo."
Mayuzumi terbawa suasana. Kali ini Akashi muncul di sisinya. Yang satu tersenyum menawan hingga menohok kokoro fangirl, dan satunya tersenyum tipis namun tetap ganteng.
"Kantan o haite choudai
Kegareru hodo atashi o kanjiteite nee—"
"STOP STOP STOOOOOP!"
Musik mendadak berhenti. Semuanya melirik ke atas Kagami yang tiba-tiba muncul, berhenti untuk membungkuk memegangi kedua lutut dengan napas terengah-engah. Penonton terdiam, suasana kembali tegang ketika si macan dengan segaris cahaya merah memancar dari kedua scarletnya memandang tajam ke arah Akashi.
"GUNTINGMANIA! AKU DATANG UNTUK MENGHENTIKAN SEMUA KEGILAAN INI!" Kagami dalam mode Zone berteriak, sukses membuat semua orang terkejut.
"Akhirnya kau berani juga untuk datang, Tainyess." Akashi yang ikut terseret arus ke-Zone-an membalas dengan seringaian cool. Entah mengapa semua manusia di sana ikut-ikutan masuk Zone, tak terkecuali Himuro, Kuroko dan Midorima.
"KAU TELAH MEMBUAT BANYAK MASALAH MENIMPA EVILLICIOUS!" Rasanya Kagami hampir menyentuh Direct Drive Zone, sementara Akashi nampak mendribble bola (imajiner). Di mata cast mereka tengah mengadakan eight-on-one kece, di mata penonton mereka bertransisi dari cogan-cogan kece menjadi bocah-bocah chuunibyou tapi tetap kece.
"DAN KAU TELAH MENGAMBIL APA YANG BERHARGA BAGIKU!" Kagami, dengan energi meluap-luap dan kecepatan tidak manusiawi mendadak drifting ke arah Akashi. Ancang-ancang melompat dengan tangan diangkat, "KAU HARUS MEMBAYAR SEMUANYA, GUNTINGMANIA TEME—"
Akashi dengan Emperor Eye-nya refleks meng-Ankle Break (imajiner). Kagami terjatuh bokong duluan ke lantai panggung dengan tidak elit.
"Seharusnya kau tahu betapa bedanya kekuatan kita, Tainyess." Akashi, keluar dari Zone, berkata dengan suara tegas penuh wibawa. Dagunya terangkat dengan pandangan dan senyum meremehkan. "Aku heran, mengapa kau tidak pernah belajar dari kesalahanmu dahulu."
"Itulah mengapa ayah menyingkirkan statusmu sebagai seorang Guntingmania, Taiga."
"APAAAAAAAAAA?!" semua orang kompak berteriak, adegan zoom-in zoom-out seperti di sinetron-sinetron tanah air.
"PLOT TWIST BRUUH! RUPANYA TAINYESS ADALAH KERABAT DARI SEIJUUROU!" Takao sekali lagi menciptakan kericuhan di antara para penonton. "BUSET DAH, SEMUANYA MAKIN KACAU! TAINYESS MENYIMPAN RAHASIA HUBUNGANNYA DENGAN KELUARGA GUNTINGMANIA! ALASAN DENDAMNYA PADA SEIJUUROU AKAN SEGERA TERUNGKAP!"
"Ya, memang aku yang salah."
Semuanya terdiam mendengar dongeng kakek Kagami.
"... Saat itu aku hampir menjatuhkan Kerajaan Heterochrome pada tangan yang salah." Mukanya tertutup surai merahnya hingga tidak terlihat, "Oleh karena itu aku akan menyingkirkan Shintarou darimu, karena ialah yang dulu memanfaatkanmu."
"Aku mengirim Tatsuya untuk membuatmu memutuskan hubungan Kerajaan Heterochrome dengan negara lainnya selain Negeri Kolor apalah itu karena mereka juga akan memanfaatkanmu, sama seperti Shintarou—dan karena aku ingin mengurusnya secara pribadi dengan si wortel itu."
"Aku ingin kau menjauh dari Tetsuya, karena dengan kau yang sekarang, kau hanya akan menggunakannya sebagai alat untuk menghadapi negara-negara lainnya—kau akan membuat kesalahan yang sama denganku, Seijuurou."
"Aku ingin mengikat negaramu sepenuhnya dengan negaraku, agar kau tidak bisa bertindak apapun dan kau selamanya dalam genggamanku, untuk menghindarkanmu dari mereka yang akan menghancurkanmu,"
"Dan aku mengirim Mayu-san untuk membunuhmu, karena aku tahu kau akan mati bersama yang benar-benar kau cintai, bukan karena nafsu seperti halnya Tetsuya—" Kagami nyengir bangga meski tersirat sedikit kekecewaan di sana. "—karena aku, sebagai saudaramu, masih peduli padamu."
"AAAAWWWW! SO SWEET!"
Seketika itu banyak yang terharu. Dari pihak narator, host, staff hingga para pemain reguler dan kawan-kawan yang saat ini menyempatkan diri untuk menonton.
"Tapi yang kulakukan saat ini telah membuat dampak yang lebih besar."
"A-APA?!" Kagami berteriak tak percaya, ketika makhluk-makhluk di belakang Akashi satu persatu tumbang ke lantai. Samar-samar terdengar suara Aomine yang berteriak kesakitan karena tertiban Murasakibara tanpa ampun.
"Melalui dunia palsu yang telah kuciptakan, aku berhasil mengikat mereka semua agar mengikuti apa yang kuinginkan." Seringai Akashi melebar. "Dengan tipu dayaku, mereka dengan mudah jatuh ke dalam genggamanku."
"Dosa kita tak akan pernah hilang dari sejarah, Taiga." Ia mengulurkan tangan kepada Kagami yang masih berlutut di hadapannya. "Oleh karena itu, maukah kau bergabung denganku, Seijuurou Guntingmania, dan bersama-sama kita akan menguasai dunia ini—menghancurkan mereka yang dulunya akan menghancurkan kita?"
Kagami menatap senyum yandere Akashi, lalu tangannya, lalu tangan Akashi. Terima atau tidak. Sedikit demi sedikit tangannya terulur. Pilihannya akan menentukan takdir mereka.
"Aku—"
Seluruh lampu mendadak mati.
"OH YEAH, CLIFFHANGAAAAH!" Takao berteriak dengan sok Inggris. Penonton langsung ribut, teriakan-teriakan kecewa memenuhi auditorium Apartemen Pelangi—
"WOI OPERATOR SABLENG, JANGAN DIMATIIN DULU!"
Lampu panggung kembali menyala, menunjukkan para cast yang secara misterius telah kompak menggunakan setelan butler dengan kemeja warna-warni sesuai kepala mereka dan set vest, celana panjang, dasi dan pantofel hitam. Di tengah mereka semua berdiri Aomine yang berapi-api.
"LAGUNYA TADI BELOM SELESE GARA-GARA DI BAKA-TAIGA YANG NYELONONG SEENAK JIDAT!" ia meng-karate chop kepala Kagami dengan perempatan siku-siku di kepalanya. "HARUS DILANJUT DULU, KALO GAK GITU NANGGUNG!"
"Daiki-kun benar, kita harus menyelesaikan apa yang belum kita selesaikan." Kuroko tersenyum tipis, menyahut dari sisi Kagami yang memulai tawuran dengan Aomine.
"Ayo, kita mulai lagi!" Takao yang sudah menjatuhkan micnya melesat ke sisi Midorima, melengkapi keluarga kecil para cast yang terkumpul di panggung. "ONE, TWO, THREE! MUSIC ON!"
"AHAAAAAY TARIK MANG!" Kise mulai joget ketika musik kembali mengalun, disusul dengan teriakan 'TAREEEEEEEK!' dari Aomine dan Kagami yang sudah berhenti tawuran.
Spotlight mengarah ke Kagami, dengan Mayuzumi dan Kuroko yang di barisan belakang beralih menjadi backing vocal. Keduanya tanpa persiapan langsung nge-rap dengan nada datar. Kagami mengacungkan jari tengah—eh, telunjuknya ke arah penonton.
"Ai nante irannai tamannai
Shitsuyou ni kasaneteitte yo
Me o tojite kokyuu motomete
Dareka no yume demo miteite yo!"
Dengan senyum penuh semangat, Kisedai, trio tetangga dan Mayuzumi langsung menyanyi kompak.
"Sabishisa ni kamakete shisen
Sorashita kimi o seme shinai yo
Motto furete zenshin de katatte yo
Kono yume kara mou samenaide ite yo nee~!"
"WHOOOP! PENAMPILAN YANG BAGUS, SEI-CHAN, MAYUZUMI-SAN!" Mibuchi bersorak dari barisan penonton, Hyuuga dan Kiyoshi sama-sama bersorak untuk para cast diikuti Riko dan Momoi yang menyemangati, "GO-GO KAGAMI-KUN/KAGAMIN, KUROKO-KUN/TETSU-KUN, KISEDAI! KALIAN KEREN!"
"MUKE GILE TERNYATA SI KISE ITU KECE JUGA!" Moriyama dan Kasamatsu di sisi lain berteriak tidak percaya, disusul Miyaji yang juga tidak terima. "ANJAAAAY MIDORIMA SAMA TAKAO ITU KOK JAGO AKTING YA?!" ia berteriak, Izuki tiba-tiba mendapat banyak inspirasi.
"AOMINE-SAN, SUMIMASEN AKU HANYA BISA MENDUKUNGMU DARI SINI! SUMIMASEN!" Sakurai membungkuk meminta maaf. "Ah, ternyata si Aomine itu jago!" Imayoshi nyengir mencurigakan sambil bertepuk tangan.
Kembali ke panggung, para cast dan Takao melambai menyambut teriakan meriah para penonton. "Begitulah penampilan kami malam ini! Saya, Takao Kazunari—" Takao memulai salam perpisahan, mereka semua bergandengan tangan.
"Akashi Seijuurou—" Akashi mengangkat dagunya dengan senyum menawan,
"Kuroko Tetsuya—" Kuroko tersenyum bahagia,
"Midorima Shintarou—" Midorima tersenyum langka tapi masih stay cool,
"Kagami Taiga, Kise Ryouta, Aomine Daiki—" ketiga kepala merah-biru-kuning nyengir pede,
"Murasakibara Atsushi~" Murasakibara tersenyum dengan sedikit mengantuk,
"Himuro Tatsuya—" Himuro tersenyum lembut,
"dan Mayuzumi Chihiro—" Mayuzumi kembali seperti sedia kala,
"PAMIT UNDUR DIRI! TERIMA KASIH KARENA TELAH MENYAKSIKAN PENAMPILAN KAMI!" mereka semua membungkuk dan tirai merah terjatuh, masih diiringi tepukan dan sorakan meriah dari para penonton. Nijimura melangkah ke atas panggung, tersenyum puas dan membungkuk mohon diri.
(Dengan ini, penampilan perdana kami resmi selesai!)
.
.
.
Nijimura berjalan dengan langkah terburu-buru, khawatir akan kondisi para cast yang sejak tadi sudah sibuk selama satu jam lebih di atas panggung. Sesampainya di backstage, ia langsung melangkah masuk.
"Oi kalian, segera ganti baju dan—"
Manik gelapnya membulat sesaat sebelum sebuah senyum mengembang. Senpai mana yang tidak terharu melihat junior-junior dan kawannya yang tertidur pulas di backstage, berkumpul menjadi satu bak anak-anak pinguin yang kedinginan.
Ditelitinya satu persatu kepala warna-warni yang di sana.
Kuroko Tetsuya tergeletak lemas di sofa, menggenggam tangan seseorang bersurai merah gradasi dengan kepala bersandar di lengan sofa—dan diduga tengah ngiler saking nyenyaknya. Sementara tangan satunya terjulur ke bawah dengan mendarat di puncak kepala junior kesayangannya yang sering dibilang orang titisan iblis.
Junior merah kesayangannya itu meringkuk dengan imut, nampak sangat tenang seakan tahu dirinya dibawah naungan pemuda biru yang hawanya membawa kedamaian.
Di sudut ruangan, Midorima Shintarou tertidur dengan posisi duduk dan kaki diluruskan. Kepalanya tertunduk ke arah si mata rajawali di pangkuannya. Tangan berbalut perban diistirahatkan di sisi wajah pemuda bersurai gagak itu.
Di sudut satunya Himuro Tatsuya menyandarkan kepalanya di bahu juniornya yang mirip titan bersurai ungu, sementara 'titan' yang dimaksud balas menyandarkan kepalanya di puncak kepala kawannya semasa di Amerika itu.
Dan yang terakhir, di tengah mereka semua Aomine Daiki terlentang asal-asalan, samar-samar seperti mendengkur sementara Kise Ryouta berbaring di sisi tubuhnya sambil memonopoli lengan Aomine, sama sekali tidak terganggu dengan musik pengantar tidur non-stop di sisinya.
Tanpa sadar darah mulai menetes dari hidung Nijimura. Kenapa bocah-bocah pelangi itu harus semanis ini?
"Ternyata kau punya fetish terhadap kouhaimu."
Mayuzumi dan muka datarnya yang diam-diam mengajak berantem itu menyeletuk di belakangnya. Nijimura refleks memutar badan dengan bibir maju maksimum.
"Kata si hantu uban yang ngaku pernah jadi mantannya Akashi."
"Aku bukan mantan alien mata belang itu, bibir maju."
Masih memajukan monyongnya, Nijimura memperhatikan Mayuzumi yang nampak tidak mengantuk sama sekali (padahal muka membosankan itu biasanya nampak setengah tidur), dan entah mengapa ada hawa-hawa bertabur bunga dan pink pastel yang memancar darinya.
Satu kesimpulan; hantu uban bermuka tembok ini sedang bersemangat.
Cengiran menghiasi muka Nijimura dia klaim di atas standar nasional itu. "May, gua ikut ke kamar lo ya." Ujarnya, sungguh udang di balik bakwan.
Tanpa menengok kembali Mayuzumi membalas datar. "Ogah. Mau malmingan sama Gear-chan." (1)
"Besok gua temenin jalan-jalan ke event *piiiip* itu deh. Sekalian gua traktir makan gimana?"
Mayuzumi seketika berbalik dengan tatapan mengharap—dalam bayangan Nijimura, karena nyatanya tetap datar triplek—"Kok tahu. Kebetulan aku sedang tanggal tua." Pemuda kelabu itu hampir menambah 'dan butuh teman' di akhir kalimatnya, tapi terkesan OOC sehingga rencana tersebut dibatalkan dan tidak ingin harga dirinya dibuang ke TPU karena, uhuk, kejombloannya.
"Iya dong, gini-gini gua tau apa yang di balik muka teflon lo."
"Iya deh, iya."
"Dasar jomblo."
"Ngaca dulu, monyong."
Keduanya pun meninggalkan remaja-remaja pelangi itu untuk menghabiskan sisa malam yang masih panjang.
.
TBC
.
(1) Waifu idaman (menurut saya) dari serial Neptunia.
.
Pojok Curhatan Author:
HAI HAI HAIII SAYA AUTHOR NISTA TELAH KEMBALI DARI ALAM KUBUR—Oke stop.
Saya tahu saya khilaf. Mangapkan saya yang apdetnya kayak siput cacat kaki. /sujud sungkem/ DAN JUGA MANGAPKAN JIKA LODV SEMAKIN NISTA GEGARA BAB INI.
Bab ini collab sama Protozoan Meganedanshi aka mbak Pronto. Iya, mbak Pronto yang itu, yang sering dibilang hobi ngehumuin saya—eh, orang lain sama kouhainya. /kibar bendera/
Bagi yang belum tahu, plot dramanya itu parodi dari Lunacy of Duke Venomania (Vocaloid, bagian dari serial Seven Deadly Sins). Seharusnya endingnya itu Kachess Crim (di bab ini Kagami) ngebunuh Venomania (di bab ini Akashi), tapi saya ganti endingnya biar unyu. #author kejam detected
Dan demi apa, plesetan nama-nama karakter nista sekali. Favorit saya itu Tainyess sama Guntingmania (omong-omong ini idenya Pronto). Benernya saya pingin Nijimura ikutan main, tapi nanti alurnya tambah mbulet (?) makannya saya buat dia jadi MC. Dan untuk narasi nista di atas, terima kasih untuk Takao.
Dan sebenarnya yang kena demam panggung bukan Akashi, tapi Nijimura. Saya ganti biar unyu hahaha. Dan kenapa bab ini berubah jadi Harem!Akashi.
TERUS TERUS ENDINGNYA ITU LHO AGH SAYA BAYANGIN MEREKA TIDUR BARENG NJIR UNYUNYAAA NO SAYA MULAI MIMISAN SELAMATKAN KOKORO DAN STOK DARAH SAYA—
#ceritanya author fangirling
Eng, mari kita mup on ke segmen selanjutnya dari bacotan author.
.
Catatan Tambahan:
Tentang parodi nama, saya akan mendaftar plesetan nama dan karakter aslinya. Format bold adalah karakter asli LODV dan format italic adalah buah plesetannya (?).
Sateriasis Venomania = Seijuurou Guntingmania
Lukana Octo = Shintarou Octo
Mikulia Greeonio = Ryouta Yellonio
Gumina Glassred = Daiki Glassblue
Maylis Beelzenia = Atsushi Mayzenia
Kachess Crim = Tainyess Crim
Lilien Turner = Tetsuya Turner
Carol Shields = Tatsuya Shields
Neruneru Nerune = Mayumayu Mayuyu
Oke, saya tahu parodi namanya nggak mutu. Apalagi yang buat Mayuyu itu. Atau yang Mukkun. Demi apa, maizena?
.
Beberapa balasan review:
AkaKuroForever: Iya, memang saya agak kurangi sedikit. Soalnya masih banyak reader di sana yang req pairing lain dibanyakin (apalagi yang KagaKuro). Saya sendiri juga masih beradaptasi kok (?), tenang aja nanti kapan-kapan saya banyakin lagi.
blackeyes947: Ah. Saya juga baru sadar scenenya trio tetangga sama Mayuzumi pada minim. Saya akan berusaha menyorot mereka semua! /kibar bendera lagi/
VaniVL: HAI SESAMA DUTA ANTI NISTA INTERNASIONAL #apaan sih Mari kita bersama-sama mengerjakan tugas dengan semangat '45. Sedih :"v
deidara: Nah kan. Kebayang kan. Unyu kan. /mimisan lagi/ Saya kali ini membalas dengan crossdress Akashi hahaha. Mungkin waktu ada Harem!Kuroko saya buat dia crossdress lagi, jadi dinanti yaa~
hmmyaoi: AH SAYA BARU SADAR ITU JUGA—saya juga akan mensorot AoKi lebih dalam (?), dan SAYA SETUJU BANGET. AoKi is stupid but sells. Pasangan tergeblek kecintaan saya :v Terima kasih sarannyA!
Ngeh, mungkin saya bakal mulai lempar-lempar Mantan!MidoAka, atau Mantan!NijiAka dan Mantan!MayuAka (tenang aja, semuanya cuma running gag kok). Saya bahkan merencanakan bab penuh Harem!Kuroko nyahahaha :3
Soal Kang Jaki masih saya pertimbangkan. Saya mulai kepikiran untuk coba munculin Kang Jaki biar tambah rame. Biar jadinya NijiHaiMayu. #no
Yang terakhir; hayo siapa yang bisa tebak lagu apa yang dinyanyikan para cast di akhir drama?
.
Uhuk. Sekian bacotan saya (yang kepanjangan).
(Terima kasih untuk Indah605, macaroon waffle, bakaSky, AkaKuroForever, momonpoi, Kurotori Rei, Kise Kairi, Akari Kareina, blackeyes947, fajrikyoya, VaniVL, RinRiku, deidara dan untuk reviewnya! Terima kasih juga untuk para author yang sudah mem-fav/follow fic ini dan para reader di luar sana!)
.
Midorima Shintarou namanya.
Akhir-akhir ini keranjingan sesuatu yang bukan Oha-Asa.
Calon dokter, berubah menjadi calon pujangga sekaligus calon pembunuh.
Biarlah dituduh terlalu lama jomblo atau dibilang melankolis.
.
Himuro kembali menuai tragedi dan air mata.
Tapi tak apa. Demi Muro-chin, Murasakibara rela bermaso ria.
Biarlah dituduh terlalu cinta hingga obsesi.
Selama itu Muro-chin, ia rela sekarat.
.
Aomine sekali lagi datang menyelamatkan hari.
Kise berbunga-bunga sementara manusia lain memandang iri.
Tapi yang namanya Aomine pasti tidak bermodal.
Selama itu berkesan, sedikit modus penghematan tak apa lah.
.
Akashi dan Seijuurou, dua insan berbeda yang juga diperlakukan berbeda.
Begitulah nasib Seijuurou yang menjadi korban perasaan.
Tapi di balik itu semua, masih ada suatu hikmah tersembunyi.
Suatu saat ia yakin mereka akan sepenuhnya sama.
.
Kagami Taiga sudah terbiasa dengan yang namanya PHP.
Perasaannya dilambungkan lalu dibanting mengenaskan.
Namun hari itu berbeda.
Di balik kesadisan terhadap hati perawannya, Kuroko Tetsuya manis juga.
.
(Chapter 9 END.)
