luigi torelli
Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan. perhatian: ini adalah fiksi penggemar historikal; meski mengandung unsur sejarah, tetap ada aspek-aspek bersifat rekaan di dalamnya
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; OC!Roma, Norway, Hungary, Czech, . Genre: Adventure/Family/Romance. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.
(Lovino seharusnya menuju Bahama, tetapi kekacauan kadang melampaui batas. Erika menemukan teman baru; berikut pula pertanyaan baru.)
Dua Februari, dan Lovino melambaikan tangan pada daratan Martinique. Entah pada siapa. Seolah ada yang menerima pamitannya di seberang sana, berambut pendek pirang dan bermata hijau. Dia baru masuk ke ruangannya sendiri ketika kapal bersiap menyelam dan daratan semakin menyusut di pandangan.
"Kau menemukan perempuan di pulau?"
Dari seluruh orang yang bisa saja melontarkan pertanyaan menyindir, Lukas adalah orang terakhir. Sempat dia kira dia salah dengar suara Lukas menjadi suara Francisco, tetapi kemungkinan suara pemuda itu menjadi tenang dan datar adalah ketika bunga-bunga bermekaran di tengah Desember.
"Kau melihatku melambaikan tangan?" Lovino sedikit sinis.
Lukas hanya memandang. Enggan sekali.
"Tidak." Lovino menarik bangkunya sendiri dan menaruh headset di lehernya. Menaikkan salah satu kaki ke kaki yang lain. "Mana mungkin." Ia melirik pekerjaan Lukas. Selembar peta lautan besar dan coretan-coretan abstrak di atas kertas yang menguning. Sepertinya dia membuat coretan dalam bahasa Norwegia. Seberapa banyak bahasa yang dia bisa, sebenarnya?
"Para lajang biasanya yang paling bersenang-senang setiap kali mendarat." Lukas menyimpulkan sesuatu dengan melingkari bagian tengah kertas. "Bukan berarti pria beristri juga tidak butuh."
"Tidak, aku tidak perlu." Lovino mendongak dan menjadikan lengannya sebagai bantalan. "Aku sedang menunggu dan ditunggu seseorang jadi kurasa aku tidak perlu mengikat diriku pada hal yang tak perlu."
Lukas mengunci bibir. Seharusnya Lovino tahu Lukas bukan tempat bercerita yang cukup baik untuk menanggapinya.
"Istrimu kerja apa?" Lovino juga tak tahan dengan kesunyian. Baru ia pasang headset setelah sadar dia harus melaporkan sesuatu, sebelum terlalu jauh dari daratan dan sinyal tersadap kapal lain yang berpatroli. Sambil menunggu dia mengatur-atur frekuensi dan menyesuaikan suara yang diterimanya.
"Menjual roti. Kadang-kadang mengajar."
"Luigi Torelli, masuk." Lovino mendengar rembetan suara getaran. Ia mendelik, sepertinya Lukas menunggu tanggapan darinya dengan tatapan mata yang sedikit mengharap itu. Lelaki itu cuek saja dan mengulangi panggilan radionya. Aksi balas dendam yang cukup.
Lovino kembali mengingat-ingat mimpi masa kecilnya ketika Luigi Torelli memasuki Atlantik. Sungguhlah Atlantik terlalu jauh untuk dijangkau, untuk anak kecil pemimpi tetapi pesimis seperti dirinya. Kakek bukanlah orang yang membakar mimpinya, dan dia selalu membakar semangat Lovino seolah dunia tak akan berakhir hingga mimpinya tercapai.
Lovino sedikit banyak belajar bahwa memang untuk meraih suatu hal, kadang bayarannya tak terduga dan begitu besar.
Untuk menyesal pun sudah terlalu terlambat.
Maka setelah mendengar komando bahwa hari itu, dua puluh Februari, mereka akan menghadapi sebuah kapal Skotlandia lagi, Lovino tak mau memikirkan apapun selain duduk di barisan terbelakang dan hanya bersiaga tanpa persiapan apa-apa. Dia tak ingin menghancurkan harapan Kakek sendiri yang menginginkan dia untuk jadi petualang, bukan pembunuh.
"British SS Scottish Star. Dibuat tahun 1917 dengan nama Millais, tapi diubah namanya pada tahun 1938." Francisco menurunkan buku dari wajahnya. "Bagaimana, Nak Lovino, ingin menangisi mereka lagi kali ini?" godanya, penuh rasa kemenangan. Ia tertawa saat Lovino mendengus dan buang muka darinya.
Lovino duduk di kursi kerja kesayangannya yang semakin berderit saja. "Itu bukan urusanmu lagi. Bukan pula hal yang seharusnya kupikirkan."
"Apa kau sudah lebih kuat?" Francisco duduk di tempat Lukas seharusnya berada. "Kita masih punya perjalanan yang panjang, perang ini entah kapan akan berakhir."
"Sudahlah, tidak usah membahasnya lagi." Lovino benar-benar enggan untuk berdebat. Dia memandangi lautan dari jendela kecil kotor dan memikirkan orang-orang Skotlandia yang tengah berjuang hidup dan mati di kapal mereka yang karam, di antara serpihan-serpihan sisa ledakan torpedo kapal musuh. Mungkin ada yang sedang berusaha memanjat puncak kapal untuk menembakkan bom warna sebagai tanda darurat, atau mungkin bertopang pada potongan dinding yang tajam ... dan lainnya.
Bukan tidak mungkin dia akan seperti itu suatu saat nanti. Atlantik terlalu luas, perang terlalu besar, untuk dirinya yang sangat kecil.
Terkadang, ada masa lalu yang tersisa dan melekat sambil menggantungkan tanda tanya di kepala.
"Hei, Fran."
"Ha?" Francisco menoleh dan menemukan Lovino yang berjongkok di bawah jendela. Ruangan yang sangat gelap menelan sosoknya, Francisco harus memicingkan mata. "Apa?"
"Tidakkah kau pikir ini agak aneh," dia berjalan, masih dengan posisi yang sama. Suaranya sangat rendah. "Soal Lukas."
Lalu Lovino terpikir kembali soal bahasa Italia yang digunakan di ruang medis waktu itu. Ada sesuatu di sini.
"Oh."
"Dengan mudahnya dia diterima di sini—padahal dia 'kan lawan. Dia dari luar, dari pihak lawan, dan dia seharusnya mendapat perlakuan sama dengan tahanan lainnya. Kenapa dia tidak ikut dibuang dengan perahu seperti yang lain?"
Francisco berhenti menuliskan jurnalnya untuk memandang pada udara kosong dan menarik napas panjang. "Kurasa kau berhak tahu."
Tiba-tiba Lovino berdiri. "Oh, jadi ada rahasia di sini." Dia langsung menuju bangkunya. Ditariknya agar lebih dekat pada Francisco.
"Jangan beritahukan ini pada siapapun."
"Serahasia itukah?"
Francisco mendelik pada pintu yang tertutup. Gumamannya cepat untuk mengantisipasi kedatangan mengejutkan, "Dia mata-mata yang ditempatkan di Ida Knudsen. Kemampuannya menarik dan dia juga bisa membuat rencana yang bagus."
"Untuk apa Italia menaruh mata-mata di kapal Norwegia?" Lovino mengerutkan hidungnya. "Apa keuntungannya? Norwegia bukan musuh utama, lagipula Skandinavia sudah takluk di bawah kaki sekutu kita."
"Peran awal dia hanyalah mata-mata biasa, memperhatikan gerak-gerik negara di utara dan kekuatan angkatan lautnya, dan melaporkan pada Italia. Tetapi semakin ke sini, tugas dia lebih kepada masalah mekanis. Armada Italia, terlebih kita, dirancang untuk laut yang hangat seperti Mediterania, sementara itu kita pada akhirnya menjalankan misi semakin ke utara ... dan kautahu sendiri seberapa sering masalah mekanis terjadi. Pipa yang membeku—"
"—masalah di bahan bakar, pompa yang rusak ... ha, aku tidak bisa membayangkan jika aku tinggal utara. Aku cinta daratan Italia sampai ubun-ubun."
"Nah. Dia berasal dari utara dan dia memberi kita informasi."
"... Kenapa aku yang bagian radio baru mengetahui?"
"Karena dia tidak langsung berhubungan denganmu." Francisco seolah ingin tersenyum, tetapi ditahannya karena kerutan kasar di atas alis Lovino. "Komunikasi dilakukan dengan ketat saat kita berlabuh dan atas otoritas kapten. Menghindari penyadapan."
"Baiklah." Lovino berdiri dan menghampiri jendela, satu-satunya tempat rekreasinya. "Pegawai rendahan sepertiku memangnya tahu apa?"
"Lukas bukan orang berbahaya," tekan Francisco. "Dia baik dan loyal. Dia ahli teknik perkapalan, sekadar info."
Tak seperti biasanya, Lovino tak berhasrat untuk menjawab. Peperangan memang penuh senjata baik yang terlihat, juga yang tersembunyi. Bisa jadi Francisco adalah orang lain, bisa jadi pula ada sepuluh rahasia lain di dalam kapal ini yang membuat dirinya semakin merasa terasingkan.
Untuk apa memusingkan, ketika yang paling bisa diandalkan hanya diri sendiri, ketika yang paling bisa dipercaya hanya dirinya? Masih lebih beruntung dia bisa percaya pada dirinya sendiri.
"Lovi. Kau takut?"
"Takut kenapa?"
"Atas sesuatu."
"Tidak." Lovino menoleh. "Aku punya seseorang yang kupercayai. Diriku sendiri."
Dua. Erika Zwingli.
Malam itu, Francisco telah tidur tetapi Lovino dan Lukas masih membuka mata. Lovino menulis selembar surat, dan Lukas sibuk dengan sebuah jurnal. Lovino sesekali melirik pada kawan baru yang terkadang masih terasa asing tersebut, mencari menit-menit yang pas.
"Ehi."
Lukas mengangkat kepala.
Lovino tersenyum miring; puas. "Kau benar-benar bisa berbahasa Italia."
Cukup lama ia berpandangan dengan Lukas hingga Lovino pun tertawa kecil, masih merasa menang.
"Seharusnya kita melakukan ini dari awal," Lukas menanggapi sangat datar, kembali menulis.
"Ha?"
"Francisco sudah bercerita bahwa kau mengetahui rahasiaku."
Lovino memutar bola mata. "Yah, seandainya dia bukan sepupuku, aku mungkin juga tak tahu tentang dirimu."
Lukas lantas menutup jurnalnya dan berbaring. Benda itu diselipkannya di balik bantalnya yang tipis. "Tidak masalah. Temanku di dalam sini hanya Francisco—lalu kau."
"Sulit sekali menemukan teman?"
Lukas memandang dari sudut mata. "Tidak ada yang berani bicara denganku selain dengan bahasa Jerman yang patah-patah karena tidak tahu."
Lovino mendengus lantas tertawa.
Namun semua terasa seperti Lukas-lah yang memilihnya dari awal. Siapa yang pertama kali mengujarkan bahasa Inggris di tengah kesunyian kamar?
Pemuda itu merasa lebih tenang hanya karena alasan-alasan yang sangat sepele.
Saat Lovino sudah mulai berfirasat tentang musim semi yang barangkali sudah mulai menghujani Eropa dengan warna-warna, Luigi Torelli berlabuh di Bordeaux untuk menemui para kru perbaikan rutin.
Dia naik ke darat hanya untuk mencari kantor pos sebagai tujuan utama. Dia menggelar kertasnya di meja pojok sebuah pos kantong-kantong surat sederhana, dan memainkan ujung penanya untuk baris-baris yang tanpa pemikiran dua kali. Tertulis dengan lancar dan tenang, hingga tiga kertas penuh dengan cerita basa-basi berbau garam dan tersisip air laut.
Sudahlah, Prancis memang beraroma cinta.
"Apa kau pernah terpikir sesuatu tentang Bahama?" Lovino menggeser kursinya agar ia bisa bersandar di dinding. Tak banyak perubahan yang ia bisa lihat, tak ada penyegaran yang ia dapat dari berpindah tempat sekadar beberapa inci, tetapi ini lebih baik dan lebih mudah daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Francisco melirik pada pintu sebelum menjawab. Lovino juga turut teralihkan.
"Lukas? Bukankah sudah ada tempat di ruang kendali?" Tetapi Francisco tetap menggeser kursinya untuk memberi ruang. "Tidak betah?"
"Tanyakan hal itu pada dirimu sendiri," balas Lukas datar, sedikit menusuk, tanpa memandang. Sebuah bangku rendah berkaki penuh debu yang melengket pada karat dibawanya ke meja Lovino.
"Kau juga seharusnya berada di sana, bedebah," Lovino menyilangkan tangan di dada. "Aku tahu kau lebih betah di sini. Dan Lukas, ya, aku tahu tempat bobrok ini memang lebih cocok untukmu."
Lukas tak menggubris. Sebuah jurnal dibukanya dan dia mulai memainkan pikiran memandanginya. Penanya bergerak-gerak kemudian, membuat Lovino hanya mengangkat bahu dan kembali pada Francisco; pada pertanyaan mereka yang masih menggantung di udara.
"Sebuah tempat tujuan. Itu saja." Francisco menaikkan salah satu kakinya ke atas kaki yang lain. "Aku hampir-hampir tak pernah mendengar nama tempat itu sebelumnya."
"Aku juga." Lovino sedikit memberengut saat menatap jendela. Hal-hal yang tak ia tahu gambarannya seperti apa seolah bermain di sana, di permukaannya, membuatnya berdecak sekali lagi. Semakin hari dia menemukan sifat lain tumbuh di dalam dadanya, tentang keingintahuan dan kesukaran untuk mengabaikan hal-hal kecil. Membuatnya semakin gamang dan menggerogoti hatinya sendiri—terutama jika kedua jamur pengganggu itu mengaitkan diri mereka dengan Erika.
"—Vino. Lovino."
"Hah?"
"Sial, melamun dia. Lukas, betapa menyebalkannya orang yang jatuh cinta, ya."
Lukas cuma menggumamkan sesuatu yang tertahan. Diam-diam Francisco memutar bola mata.
"Apa yang kautanyakan?"
"Sudah berapa hari kita berada di laut untuk menuju ke Bahama?"
Tak ada pemikiran panjang, "Empat."
Francisco kembali pada buku yang ia bawa, tetapi ia hanya menatapnya sebentar. Dia tersenyum miring yang membuat alis Lovino berkedut curiga.
"Bagus. Setidaknya orang yang jatuh cinta masih bisa menghitung dengan baik."
"Sialan—"
"Memangnya siapa yang tiga malam berturut-turut, dan sekian malam sebelumnya, yang entah sudah berapa kali memanggil nama seorang perempuan terus?"
Lovino duduk tegak dengan panik, "Bohong besar—"
"Ya, 'kan, Lukas?"
"Hm."
Lovino yang sudah berdiri menghempaskan kembali dirinya ke bangku ketika kalah suara. Ia, untuk sesaat, lupa bahwa Lukas termasuk teman sekamar mereka, lelaki itu lebih memilih untuk tidur di lantai meski mereka kru setara. Ada kasur tambahan dari ruang medis, dan setidaknya 'tawanan' itu tak juga begitu menyedihkan.
Lovino berdecak keras ketika Francisco tertawa kencang.
Namun tawa itu mendadak terhenti ketika terdengar peringatan darurat dari ruang di luar—yang segera disusul oleh perintah-perintah keras dan komando antarprajurit yang panik.
"Pesawat Sekutu!"
Tidak banyak yang sempat dilakukan ketiga orang yang berada di ruang komunikasi, sebab bunyi ledakan terdengar sangat keras di detik-detik mereka menyadari teriakan tersebut. Lovino berlari keluar di posisi paling belakang, dan alarm kebakaran berbunyi di samping Francisco saat pemuda itu berlari menaiki tangga. Dia menutup telinganya dan merintih saat lanjut dengan langkah seribunya.
"Jangan panik!" Lukas meninggikan suaranya, sambil menoleh pula pada Lovino. Mereka bertemu kru lain yang juga menuju suatu tempat. Lovino mengusir semua ketakutan dengan bergumam-gumam mengucapkan doa. Tenggelam, tenggelam, tenggelam, dia lantas merasa dihantui.
Bagaimana jika dia tidak bisa selamat—
"—Tetap tenang," suara Lukas mengoyak mimpi buruknya perlahan. Lukas berhenti dan dia nyaris tertabrak. Bagaimanapun juga, Lukas pernah mengalami hal serupa saat Ida Knudsen ditembak torpedo Luigi Torelli. Dan dia selamat dengan metodenya.
"Ruang amunisinya!"
"Usahakan jangan timbul ke permukaan jika memungkinkan!" perintah dari ruang lain. "Tetap berada di tempat! Jangan menimbulkan kericuhan!"
Lovino ingin membantah saat itu juga. Berada di bawah laut akan membuat mereka makin cepat tenggelam—tetapi dia ditampar logikanya saat itu juga. Ke mana otakmu, sinting? Jika Sekutu melihat mereka secara utuh maka tentu saja mereka akan mati ditembak, atau minimal terjebak dalam hitung mundur ledakan seluruh kapal, dan semuanya akan sia-sia. Lovino mendorong dirinya untuk mengikuti suruhan Lukas kembali. Tenang, tenang. Bersembunyi di bawah arus setidaknya akan menyulitkan sekutu.
Lukas melirik kiri dan kanan, tetapi Francisco telah menghilang. Sejenak Lovino mematung. Kakinya mulai melemas, memikirkan lantai yang mulai miring dan kapal yang oleng, kemudian gelombang yang menghanyutkan, dan—
—tetapi semuanya hanya terjadi di pikirannya.
"Tembakan mungkin berasal dari pesawat yang terbang tinggi." Lukas masih mencermati posisi kapal yang tidak banyak berubah. "Sehingga tembakannya tak begitu akurat. Paling-paling mengenai cangkang kapal dan bukan bagian yang penting. Kita periksa bagian-bagian lain," dia mengomando tegas, berjalan ke arah yang berbalik, turun kembali, dan memasuki ruang kendali.
Lovino terpaksa mengekor ke beberapa tempat. Dia masih waspada jika saja kapal ini menjadi miring atau tiba-tiba saja ada ledakan lain yang mengguncang.
Tidak ada hal yang begitu parah di tempat-tempat lain, hingga mereka kembali lagi ke dekat tempat mereka sebelumnya, dan bertemu dengan kelasi yang naik ke atas, mengabarkan ruang amunisi yang terkena dampak kebakaran.
"Kendali, naik ke permukaan sekarang!" Lovino mendengar komando sebelum kelasi itu selesai dengan beritanya—dia pun belum bisa mengatur napasnya dengan baik saat ini.
"Komunikasi, hubungi Aviles! Kita butuh bantuan tugboat untuk menarik!"
Lovino tak peduli lagi pada tugas. Ini demi nyawaku. Demi nyawa yang lain. Ia tergopoh-gopoh, nyaris menabrak yang lain dan bahkan dinding belokan koridor sempit, juga hampir terjerembab kaki meja radionya sendiri.
"SOS, SOS, Luigi Torelli masuk!" Dan ia sedikit banyak masih bisa berlega hati, piranti yang menjadi separuh nyawanya di sini masih berfungsi dengan baik. Bisa membantu menyelamatkan nyawa satu kapal, setidaknya, dan ia tertegun tiba-tiba.
Sudahkah ia menjadi pahlawan jika begini caranya?
Kakek, sudahkah?
Ketika tugboat dari Spanyol datang membantu mereka yang timbul di permukaan namun tertatih-tatih membelah lautan dangkal, Lovino mengkhayalkan Kakek berbisik di telinganya dengan jawaban yang paling dia harapkan,
"Sudah, Lovi. Bahkan hal kecil pun bisa membuatmu jadi pahlawan."
Kau pahlawan kecil Kakek.
Lovino menahan mati-matian airmatanya yang nyaris merebak. Francisco akan mempermalukannya.
Di Aviles, Spanyol, Lovino dan Francisco hanya bisa membantu sekadarnya. Kapal itu benar-benar mengalami kerusakan yang fatal hingga air masuk ke dalam. Sistem navigasi pun rusak. Perbaikan di atas pesisi berpasir itu menghabiskan waktu empat hari dari malam ketika mereka diserang.
Lukas jarang bersama mereka berdua. Seperti yang diduga dari seorang teknik perkapalan dan memahami struktur bebek penyelam besi itu.
Enam Juni, perintah untuk kembali ke pangkalan di Bordeaux dilaksanakan.
Hanya untuk mengalami kiamat untuk kedua kalinya, di hari berikutnya.
Lovino baru saja masuk ke dalam bilik kerjanya, untuk mencari Lukas, ketika suara ledakan kembali mengguncangkan Luigi Torelli.
"Sunderland di udara!"
Lovino berlari keluar dan bertubrukan dengan Francisco. "Sunderland," ucap pemuda itu yang lantas juga mencari tempat untuk melindungi diri. Sementara mereka mencari tempat, berondongan ledakan bom yang dijatuhkan dan mengenai sekitar kapal semakin membuat Luigi Torelli kehilangan arah.
"Aku tidak peduli apakah mereka akan menyebutku pengecut. Di saat-saat inilah seharusnya kau menyayangi nyawamu sendiri. Kau bukan kapten apalagi mayor yang harus bertanggung jawab untuk anak-anak buahmu," tukas Francisco di tengah kepanikan, suaranya tak pelan, dan Lovino mendengarnya dengan sangat jelas.
Karena suara yang sama juga bergaung di kepalanya!
"Sersan!"
Mereka berdua berhenti ketika ledakan itu terjadi di sayap kiri agak ke depan dari tempat mereka berada. Seorang sersan terlempar dari ruangan yang berada di dekat torpedo.
Francisco menuju ruangan di atas tangga, tepat di bawah lantai lambung teratas tempat mereka sering berdiri mengawasi lautan saat sedang timbul. Lovino melihat Francisco yang bersandar waspada pada tembok baja dengan napas yang terengah-engah. Lelaki sengak ini .... gumamnya, sambil membungkuk melindungi dirinya yang juga tak karuan menarik napas. Bahkan Francisco pun terlihat sangat manusiawi. Dia yang biasanya kelihatan bangga dengan segala tugas dan hasil kemampuannya, sekarang benar-benar bisa dikatakan sebagai anak kecil yang memohon kehidupan.
"Lukas di mana?"
Francisco menggeleng. "Entahlah."
Ledakan masih terdengar. Lovino merasa aman, tetapi tiba-tiba gamang.
Kau masih pahlawan Kakek, 'kan?
Matanya membelalak, kemudian dia berlari keluar kembali.
"Hei!"
Lovino tak peduli pada bagian depan sana yang terbakar. Ketika Lovino melihat sang kapten sedang berlalu cepat di hadapannya, tiba-tiba saja suara menggemuruh semakin dekat ke atas kepalanya.
"Kapten, awas!" Tetapi Lovino tak bergerak, dia merasa tak bisa berbuat banyak. Dia juga berlari menjauh namun masih menoleh ke arah Kapten yang juga melompat ke arah lain. Pengecut, pengecut kau—tetapi siapa yang akan menyelamatkan kapal dengan kabar radio kelak?! Perang batin masih sempat mengambil tempat di dalam kepalanya.
Ledakan menyasar hidung depan kapal selam, berada cukup jauh dari mereka, tetapi Kapten terlempar karena ledakan itu. Lovino memutuskan untuk tidak lari lagi dan mendekati Kapten lalu memboyongnya keluar dari sana. Separuh tubuh Kapten itu lumpuh sesaat karena luka yang terbuka di sebagian kaki dan tangan kanannya.
Deru pesawat menjauh. Lovino mendudukkan Kapten di ruang medis dan segera keluar. "Lukas! Francisco!"
Yang ia temukan adalah kekacauan.
"Lovino."
Kapten itu masih duduk, belum berbaring seperti yang diminta Lovino barusan.
"Ya, Kapten?"
"Kabari Santander, kita aka berlabuh di sana. Kita harus melakukan sesuatu."
Kapten itu, memerintah masih dengan wajah tegasnya, meski luka terbuka dengan segarnya. Lovino gentar. Bisakah dia seperti Kapten?
Lovino mengayunkan langkah menuju ruangannya sendiri. Yang ajaibnya, masih mampu membantunya mengabarkan tentang parahnya keadaan mereka.
"Bagaimanapun juga, kita tidak bisa lama-lama di sini." Lukas sesekali melirik Lovino yang termenung memandangi gerakan permukaan air yang sangat pelan.
"Berapa lama batas maksimal bersandar di pelabuhan netral?" Lovino mengusap matanya. Masih terbayang wajah seorang sersan rekannya, yang ternyata tak bisa diselamatkan lagi dari serangan Inggris kemarin. Yang paling membuatnya terpukul adalah karena kematian itu terjadi tepat di depan matanya dan Francisco. Barangkali hal itu juga yang membuat Francisco tak begitu ingin mengungkit sedikit pun kisah tentang kejadian sepersekian menit tersebut.
Lama, ketika Lovino pun nyaris lupa dengan pertanyaannya sendiri, barulah Lukas menanggapi, "Sekitar tiga puluh tujuh hari. Satu bulan ditambah satu minggu."
"Menurutmu, kauyakin semua kerusakannya bisa ditambal dalam waktu sesingkat itu, di pelabuhan kecil dan berpasir ini?"
Lukas beranjak untuk membantu kru-kru setelah istirahatnya yang sangat singkat. "Tidak akan mungkin."
Lovino memejamkan mata sesaat dan membayangkan langit Bordeaux. Sepertinya akan ada hari-hari yang panjang yang akan ia lalui di daratan di depan sana.
"Tapi Luigi Torelli benar-benar tangguh." Lukas menoleh sebelum benar-benar pergi. "Penyintas yang luar biasa."
Lukas, menurut Lovino yang baru mengenalnya sekian bulan, bukan orang yang akan memuji dengan mudahnya. Ketika dia melakukannya, maka dia mengatakannya dengan kesungguhan yang sebenarnya.
Banyak kerusakan yang terjadi, tetapi Lovino tersenyum. Setidaknya masih ada hal yang tersisa. Dirinya, dan masa depannya. Juga Lukas dan Francisco.
Dan di depan sana, Erika.
Erika bertaruh pada ketukan ketiga. Yang kali ini bahkan ia coba panjangkan. Pakaiannya tertiup angin pagi yang berdesir tak karuan, dia mulai tak sabar.
Dia tak memutus ketukannya dan tiba-tiba saja terdengar langkah kaki seribu di atas papan kayu yang merobek keheningan pagi Sudetenland.
Kunci dibuka dengan terburu-buru dan engsel berdecit keras, "Irenaaa! Akhirnya kau—"
Erika tersentak mundur dan mengepalkan tangannya di depan dada.
"Eh?" Lalu hening lagi. Lelaki muda itu kagok dan menelan ludah.
"Ma-maaf, aku—"
"Maafkan aku juga, kukira kau temanku—"
"A-aku hanya ingin bertanya soal ..." Erika melirik pada susunan huruf di atas kaca yang tertutup tirai hijau dari dalam. "Apa Anda bisa memberikan saya obat-obatan?"
"Ooh, tentu saja!" Pemuda itu, rambutnya masih acak-acakan, pun melebarkan pintu. "Ada sesuatu yang darurat, kah?" Sambil menggaruk kepalanya ia melirik jam dinding. "Masih pukul setengah enam begini." Tetapi ia mengulangi lirikannya. "Enam kurang empat, maksudku." Dia menggelengkan kepala seperti orang pengar yang sedang menyembuhkan diri, tetapi Erika tak menemukan jejak bau alkohol.
Lelaki itu membuka tirai jendela besar di bagian depan bangunan. Istilah 'toko obat' dalam bahasa Jerman ditulis dalam huruf balok mendatar, dan miring dalam bahasa Ceko, keduanya berwarna merah terpampang jelas di kaca.
"Siang atau sore ini aku harus berangkat. Jadi ... daripada aku tidak sempat ke sini, maka aku mengetuk duluan saja. Tempat ini selalu sangat ramai, aku takut tidak mendapat kesempatan. Mohon maaf sekali karena aku mengganggumu ..."
"Biasanya aku sudah mulai membukanya di jam-jam seperti ini." Dia mendekati lemari-lemari yang berisi tumpukan obat yang miring di sana-sini. "Tetapi aku benar-benar lelah sejak kemarin. Irena tak kunjung pulang dari misinya, jadi aku hanya sendirian melayani orang-orang dan—ups ..."
"Misi?" Erika tak tahan untuk tak mengulanginya.
"Lupakan saja, lupakan! Maaf sudah salah bicara—aku sudah membuatmu bingung, maaf, maaf—" Pemuda itu menggaruk lagi kepalanya, rambutnya semakin bertambah kacau dan seperti duri yang mencuat sana-sini. "Omong-omong, obat apa yang kaubutuhkan?"
Erika berdiri dan meletakkan secarik kertas ke atas meja kayu di antara mereka. "Tolong, ini, ya."
"Baiklah, akan kucari!"
Erika membiarkan pemuda itu grasak-grusuk memulai pencariannya. Tak lagi Erika kembali ke kursi kayu bercat biru tua yang bersandar di tembok toko tersebut, dan mencoba mencermati sekitar.
Ada ukiran dari kayu, susunan huruf yang dibuat melengkung di dinding koridor yang berujung pada pintu kayu yang setengah terbuka. Daniel – Irena. Matanya lantas memandangi ruangan yang terlihat melalui celah pintu. Tidak ada apapun kecuali tangga kayu yang sempit dan petak anak-anak tangganya sangat jarang-jarang. Ruko ini sama persis dengan yang terlihat dari luar, kecil meski berlantai dua. Mengingatkannya pada suatu rumah di pedesaan Italia sana, yang membuatnya tersenyum tanpa ia sadari sepenuhnya.
Hanya ada satu foto yang dipajang, di koridor kecil tersebut. Barangkali diambil baru-baru ini saja, sebab rupa dan tubuh pemuda itu tak terlihat jauh berbeda dengan yang berada di sini. Dan perempuan yang berada di sampingnya, kurang lebih sama mungilnya dengan si pemuda.
"Kaubekerja sebagai perawat, kah?"
Erika berhenti menyelidiki. Ia kembali ke dekat meja. "Sebenarnya aku anggota Palang Merah. Ini hari terakhirku di Cekoslowakia, karena harus bertugas ke Polandia ..."
Daniel berhenti mencari, menoleh pada Erika. Baru ada dua jenis obat di atas meja. "Berarti kau sudah sering keluar-masuk kamp?"
Mereka bertatapan sebelum Erika menjawab.
"Oh, maaf—"
"Pernyataan itu bukan sesuatu yang salah." Erika mencoba untuk tersenyum. Daniel, belum apa-apa, sudah menunjukkan suatu sifat yang ia rasa cukup lucu. "Ya, sering."
"Berarti ..." Ia termenung sejenak. "Tidak jadi, he he. Maaf."
Erika membiarkan Daniel kembali berjongkok-berdiri-duduk bahkan menaiki tangga kecil untuk mengambil kotak-kotak yang ada di bagian teratas.
Saat gadis itu sedang melihat-lihat isi lemari yang paling besar, yang ada di sebelah lemari yang sedang diobrak-abrik Daniel, derap langkah yang terburu-buru menaiki toko.
"Daniel, cepat, kasa! Sekarang juga!"
Daniel nyaris jatuh di anak tangga, dan refleks dia berteriak, "Irena!"
"Cepat!" gadis yang baru datang itu duduk di bangku yang ada di belakang Erika. "Aku tidak mengganti kain ini selama dua hari, selama di perjalanan."
"Dan astaga, apa itu?!" Daniel cepat-cepat keluar dari sela-sela dua meja tinggi yang menyekat dia dan Erika. "Kakimu! Lenganmu yang lain—siapa yang mencambukmu?!"
"Jangan memekik seperti gadis kecil!" Irena memukul lengan Daniel yang berjongkok di sampingnya, yang mencoba melepaskan kain sobekan yang menutup luka di lengan atas. Kain itu begitu kotor dan terkena bercak darah, membuat Erika spontan tergerak dan berbalik.
"Biar kubantu. Kau, tolong carikan kasa dan kita bersihkan luka-luka di kaki juga tangannya."
"Baiklah!"
Erika menghindari tatapan heran, bingung, sekaligus ingin tahu dan menyelidik dari Irena.
"Kau siapa?"
Erika sudah menduganya. "Aku sedang membeli beberapa barang untuk kubawa nanti siang."
Erika memandang sekilas. Irena masih mencari tahu banyak hal di wajahnya. Ia segera teralih dengan mudahnya saat mencoba melepas kain yang melekat lengket pada luka yang masih basah dan terbuka. Sedikit menjijikkan karena basahnya. Erika mulai merasa tak nyaman; dan itu bukan karena luka.
"Kau perawat? Atau mungkin ... Palang Merah?"
"Ya, benar."
"Palang Merah?"
Erika hanya mengangguk. Namun matanya tak tahan untuk tak mencari tahu. Ketika dia mendongak sedikit sekali lagi, Irena masih menatapnya seperti tadi—tetapi mendadak berubah menjadi lebih tenang.
"Bertugas di mana?"
"Baru saja selesai mendatangi Theresienstadt."
"Ah, begitu. Salam kenal. Aku Irena. Dan yang tadi Daniel."
Erika mengulum bibir bawahnya sesaat, sebelum berdiri tegak dan mengangguk dengan lebih meyakinkan. "Aku Erika."
"Mm, Erika, ya. Terima kasih sudah melepaskannya. Aaah," ringisnya, mendapati lukanya sendiri masih menganga. "Apa kau akan berangkat ke kamp? Di sekitar mana?"
Erika tak langsung menjawab. Mata Irena memberikan lebih banyak jawaban tentang kepercayaan. Erika mulai sedikit banyak mengerti tentang keingintahuan Irena, maka ia mulai buka suara. "Ke Polandia. Aku aku tidak tahu persisnya."
"Apa ke Auschwitz?"
Erika mengerutkan kening.
"Birkenau, Birkenau. Tahu, 'kan?"
Pelan-pelan, Erika mengangguk. "Pernah, aku pernah mendengarnya. Apa itu kamp yang besar? Kemungkinan kami akan pergi ke sana."
Tak peduli luka-lukanya, Irena langsung bangkit berdiri. "Ke sanalah tujuanku! Apa aku boleh bergabung?!"
Erika terlalu kaget hingga macet bicaranya. Daniel datang dan mendorong Irena agar kembali duduk. Barang-barang pengobatan diletakakannya di samping rekannya tersebut. "Kau ini. Masih luka-luka malah memarahi orang. Duduk dan diam!" Mukanya kelihatan sebal, bibir mencibir dan ia lantas mendengus sambil mengacak rambutnya sesaat. Erika sedikit heran karena cara Daniel menumpahkan rasa khawatirnya yang sedikit aneh.
"Aku tidak memarahinya, Dan! Anak ini akan pergi ke Auschwitz dan itu artinya aku harus ikut!"
"Ke Auschwitz? Tempat yang begitu berisiko itu?! Ke Flossenbürg saja kau jadi seperti ini! Apa yang SS lakukan padamu?"
"Ssssh!" Mata Irena begitu mengancam—Erika tak bisa membedakannya apakah karena gemas atau memang ketakutan. "Jangan keras-keras!"
"Orang-orang juga belum bangun," Daniel mencoba membela diri. Mencibir lagi. "Eh iya, Erika!" Ia menoleh mendadak. Erika lagi-lagi tersentak.
"Y-ya?"
"Maaf sekali , aku harus mengurus anak ini. Kau boleh mencari obat-obatan yang kaubutuhkan. Buka saja lemari-lemari itu. Tidak apa-apa, ya?"
"Ya, ya, silakan, Erika! Lakukan saja sendiri. Anak ini memang kurang becus mencari-cari barang. Pasti toko selama kutinggal menjadi penuh komplain orang-orang karena dia terlalu ribet."
"Irenaaa!"
Erika mundur teratur. Orang-orang ini ...
Namun sembari mencari barang-barang di daftarnya, dia menguping. Dua orang itu cukup berisik cara bicaranya untuk diabaikan begitu saja.
"Satu petugas mencurigaiku lalu mencambukku. Setelahnya dia menembakku—pelurunya meleset, untung sekali, kupikir dia mabuk, Dan! Dasar tentara stres tak tahu diri. Lalu ia mengusirku. Dia benar-benar curiga pada gerak-gerikku yang sering keluar dari dapur di tengah malam untuk mencari tahu. Dia mengataiku bocah tak tahu diri, aku sudah diberi makan, eh malah melakukan hal-hal yang bodoh. Mereka yang bodoh! Aku 'kan membantu dapur dan bersih-bersih! Meski baru tiga hari, sih ..."
Daniel menggeleng-geleng. "Tapi aku setuju satu hal dengan mereka."
"Apa?! Heh—"
"Kau memang bocah."
"Daniel!"
Daniel menghindar dari libasan tangan Irena. Lucunya, lelaki itu tertawa dan tentu saja Irena semakin gemas dan mencoba menendangnya.
Erika tercengang. Irena baru saja tertembak dan tangannya masih terluka parah seperti itu—tetapi mereka berdua seolah lupa segalanya, seperti dua bocah yang tidak pernah tahu jahatnya dunia. Dia memandangi mereka berdua lama-lama—yang mana Irena sudah berhenti namun Daniel masih tertawa-tawa. Perlahan ia mengerti.
"Baguslah kau masih Irena yang sebelumnya," suara Daniel melembut. "Kau harus tahu betapa leganya aku menemukan kau kembali pulang dan memarahiku."
Erika semakin mengerti.
"Tapi aku belajar teknik baru untuk menghindari pukulanmu! Lihat, tadi tak sedikit pun pukulanmu kena, 'kan?"
Sekarang Erika terlalu mengerti sehingga ia memutuskan untuk kembali pada urusannya sendiri. Hanya tinggal tiga macam benda dan dia akan bisa segera pergi dari sini.
Walau sesuatu masih mengganjal di hatinya. Seharusnya ia mengajak Erzsi ke sini. Erzsi lebih bisa diandalkan untuk bertanya dan mengorek informasi. Irena tak sepolos yang ia perkirakan lewat foto beberapa menit yang lalu.
"Um ..." Erika memandang Daniel dan Irena bergantian. "Aku sudah selesai. Berapa harga semua ini?" Ditunjuknya barang-barang yang ia taruh hingga meja nyaris penuh.
"Kau boleh mengambil semuanya." Irena langsung berdiri, menyingkirkan Daniel hingga terhuyung-huyung dan mengaduh keras. "Asalkan ... perbolehkan aku turut serta ke Auschwitz!"
"Kali ini aku ikut, Irena!" hardik Daniel. "Aku tidak bisa terus-terusan membiarkanmu pergi sendiri. Siapa yang akan melindungimu di sana?!"
"Siapa yang mencari uang kalau kau juga ikut pergi?" Irena pun mendesah kesal. "Aku bisa melindungi diriku sendiri, Dan! Tubuhku memang kecil tapi inilah alasan kenapa orang-orang seringkali mengurungkan diri dari berbuat kasar padaku."
"Memangnya kau tidak mengerti bahwa ada orang-orang yang dengan sintingnya berani membantai anak kecil begitu saja? Apalagi jika mereka tahu darah Gipsi yang mengalir di tubuhmu!"
"Ssssshhh, Daniel bodoooh!" Irena membekap mulut Daniel hingga pemuda itu nyaris terjatuh ke belakang jika meja tidak menghalanginya. "Kapan mulutmu itu bisa lebih normal dari mulut perempuan—"
"E-eh, hei, teman-teman ..." Erika termenung sendiri merasakan penyebutan yang tiba-tiba terasa sangat familiar tersebut. "Jadi ... bagaimana?"
"Aku ikut!"
"Aku juga!"
Irena memutar bola mata.
"Aku ... tidak bisa memutuskan sendiri. Tapi kurasa ketua tim kami tidak menolak relawan karena banyak di antara kami yang sudah pulang karena terlalu lama bekerja berkeliling Eropa. Jumlah tim kami sendiri ... dalam keadaan darurat. Jadi ..."
"Siapa ketua timmu? Boleh kami menemuinya sekarang?"
"Namanya ... Erzsi. Apa kalian akan ikut sekarang?"
"Aku siap-siap dulu!" Bahkan gerakan Irena lebih tangkas daripada Daniel meski bekas-bekas cambukan di tubuhnya masih segar. Daniel hanya bisa menutup muka mencoba memaklumi segalanya. Lantas dia menggumamkan nama Irena sambil menggerutu dan berlalu.
"Sampai kapan kita di sana?"
"Sampai aku menemukan jejak tentang pamanku dan mengungkap pemusnahan itu!"
"Sekarang suara siapa yang keras, Irena? Dasar kau ini."
"Eh, tasku mana?"
"Tas apa?"
"Yang kubawa saat berangkat ke Flossenbürg."
"Kau tidak membawanya saat datang tadi. Kau langsung duduk sambil mengaduh-aduh dan mengomel, aku sama sekali tidak melihat tasmu."
"... Jangan-jangan ketinggalan di dapur kamp ..." Hening sebentar. "Hei, siapa yang mengaduh-aduh dan mengomel?!" Lalu bunyi pukulan di lengan.
"Sakiiit! Memangnya kau naik apa saat pulang ke sini?"
"Aku menumpang truk. Atau tertinggal di truk? Oh Tuhaaaan, di dalamnya ada buku kesayanganku!"
"Jangan berisik. Aku tidak bisa beres-beres dengan tenang," dengus Daniel, kemudian terdengar pekikan kesal dari mulut Irena, barangkali ada lemparan sesuatu yang membuat rantai pertengkaran itu tak bisa berhenti.
Erika teringat suatu hari saat Lovino baru pulang bekerja, dan dia mencolekkan tepung ke pipi Erika, lantas mereka bermain-main di dapur sampai lupa tentang roti dan waktu. Mereka sama-sama duduk di lantai setelah perang tepung dan air, hingga tepungnya tak lagi cukup untuk membuat makan malam. Tak mengapa, aku membawa ini, kata Lovino kemudian, mengeluarkan sebuah roti dan dua buah apel, Paman memberikan aku ini sebagai ganti bayaran yang baru bisa diberikan minggu depan.
Ia menyunggingkan senyuman.
"Kami tidak punya pilihan," Erzsi memberi keputusan. Dia menoleh sebentar ke balik punggungnya, kepada ruangan yang kecil, diisi kesibukan oleh tujuh orang perawat relawan yang mengepak barang-barang. "Separuh dari kami meminta izin pada Pak Joachim karena sudah terlalu lama tidak pulang. Kami tidak bisa lagi menahan mereka."
"Tidak perlu prosedur apapun lagi? Kami sudah bisa bergabung?"
"Tidak bisa di saat-saat seperti ini. Malah, kami berasa diuntungkan. Lagipula, kita semua sukarelawan, 'kan? Tidak boleh ada yang menghalangi pekerjaan mulia terlebih di waktu perang begini. Bergabunglah. Irena, Daniel, selamat datang." Erzsi tersenyum, lalu mengulurkan tangan secara bergantian pada mereka.
"Terima kasih." Irena lalu menunjukkan sebuah tas besar yang digendongnya di punggung. "Kami mengambil banyak stok dari toko obat kami untuk suplai tambahan Palang Merah. Silakan, Erzsi."
"Astaga, banyak sekali. Terima kasih!" Erzsi lalu mengambilnya. "Erika, tolong, ya."
Erika mengambilnya dan membawanya ke tengah-tengah kamar untuk disatukan dengan kotak-kotak lain. Irena dan Erzsi terlibat pembicaraan santai, Erika memutuskan untuk tidak kembali lagi dan membereskan barang-barangnya yang baru separuh dikemas.
Tak sadar dirinya ketika Irena menghampirinya, dan ia terlonjak saat Irena berdiri di balik punggungnya dan tersenyum tipis.
"Terima kasih sudah datang pagi-pagi ke rumah kami. Ini benar-benar pertemuan yang ditakdirkan. Aku berhutang padamu."
"Aku ... tidak melakukan apa-apa ..."
"Tetapi karena kedatanganmu, aku jadi menemukan jalan untuk pencarianku. Mari bekerja sama mulai dari sekarang, Erika." Irena mengulurkan tangan.
Erika menyambutnya dengan bersahabat. Meski mereka sama-sama diam setelah berjabat tangan, dia tahu dia tak salah ambil jalan. Rasa ingin tahu semakin menggelitik bagian dalam dirinya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Erika membantu Erzsi mengemas barang-barang dan meminimalisir wadah-wadah yang dipakai. Kotak-kotak obat, bungkusan selimut, satu peti makanan kaleng dan rokok untuk diberikan pada tentara di garda depan saat di perjalanan nanti, serta beberapa pakaian ala kadarnya untuk di kamp, diusahakan untuk dimuat serapat mungkin di dalam karung-karung yang disediakan.
Irena dan Daniel datang membantu. Namun mereka mengambil tempat agak jauh dari Erzsi dan Erika, mengobrol sendiri sambil berbisik.
Tetapi bukan Erika namanya jika dia tak berhasil menjaring satu-dua kalimat.
"Barangkali kita bisa bertemu Natalya di sana, dan menemukan jalan untuk menyelidiki lebih jauh."
Erika berhenti melirik mereka saat sadar Erzsi sedang memandangnya. Tegas dan mencari tahu. Tanpa kata, mereka sama-sama menganggukkan kepala.
Ia tidak sendirian.
Baru saja kereta melaju siang itu, Irena sudah tertidur dengan bersandar ke jendela yang bergetar. Rel berkarat di bawah mereka sudah semakin aus.
"Dia pasti lebih dari seharian tidak tidur. Rasa ingin tahu dan bersemangat membuatnya lupa dia datang dalam keadaan tertembak dan dicambuk sana-sini."
Erzsi dan Erika di hadapan Daniel saling melirik.
"Rasa ingin tahu?" Erzsi bertanya dengan nada curiga, namun dia sedikit tersenyum.
"Y-ya ... rasa ingin tahu ... begitulah ..." Daniel menghindari tatapan, tetapi gagal setelah kalah jumlah. Intimidasi halus dari keduanya masih lebih mendominasi. "Ah, haruskah ..."
"Kalian berhak masuk ke kelompok kami, kami juga berhak tahu tentang kalian." Erzsi mencoba diplomatis.
"Sebenarnya ... begini ..."
Irena menguap. Ia mengerjapkan mata dan memandang lawan bicaranya. "Aku belum sungguh-sungguh tidur. Aku bukan orang yang bisa terlelap dengan cepat. Jadi biar aku yang ceritakan." Ia memandang Daniel sebentar. "Pamanku menghilang setelah suatu malam dia dipaksa untuk ikut ke suatu tempat. Saat aku ke rumahnya, dia tidak membawa apapun, semua barangnya masih utuh."
"Pamanmu pernah terlibat suatu hal berbahaya ... kegiatan mata-mata, misalnya?"
Dengan hati-hati, Irena menjawab, "Ya."
"Suatu hari, dua minggu setelah dia menghilang, kami mendapat surat dari nama yang asing. Kami menyadari itu tulisan dari paman Irena karena di bagian pembuka dia menuliskan lelucon yang sangat Irena kenali."
"Dia memberitahu bahwa dia baik-baik saja di suatu tempat yang tidak bisa dia beritahukan, tetapi dia bilang dia terkurung. Dia mengetahui sesuatu yang dia sebut 'Penyelesaian Akhir', dan dia bilang hal ini adalah hal yang sangat berbahaya dan aku harus mencegah orang-orang terdekatku agar tidak dibawa dengan cara seperti itu. Tetapi aku tidak bisa tenang selama aku belum tahu apa itu 'Penyelesaian Akhir'."
Erzsi tertunduk sesaat. Ia menarik napas begitu panjang. "Kami juga, akhir-akhir ini mendengar hal-hal yang berbahaya seperti itu. Kami kira hal itu hanya gosip. Rupanya ... bukan rekaan, ya?"
Irena mengangkat bahu. "Untuk itulah kami pergi. Tetapi bukan berarti kami tidak ingin membantu, ya—kami berdua memang hidup di dunia medis dan mewarisi toko obat ayahku semenjak aku berusia dua belas tahun, jadi ... bohong jika kami tidak dekat dengan dunia seperti itu."
"Aku mengerti." Erzsi sedikit lebih tenang, tetapi pandangan menyelidiknya belum padam. "Siapa Natalya?"
Irena dan Daniel berpandangan tak percaya. "Na-Natalya?"
"Jangan kira kami tidak mendengar pembicaraan kalian saat mengepak barang."
"Dia sepupu jauh Irena. Mereka sudah sering bersurat-suratan sejak kecil. Ia setuju untuk menyelidiki hal yang sama bersama Irena karena Natalya juga kehilangan salah satu anggota keluarganya karena hal tersebut. Dia selamat karena dia sebelumnya tinggal di Amerika. Karena tunangannya harus pergi ke Pasifik untuk wajib militer, maka dia kembali ke negara asalnya. Terakhir kali dia mengirimiku telegram, dia sedang berada di selatan Polandia."
"Begitu ..." Erzsi mendapat anggukan dari Erika. Dia kemudian kembali lagi pada Daniel. "Sepupu Irena bukannya sepupumu juga? Caramu membicarakannya aneh." Erzsi terpaksa menahan tawa.
"Kami bukan saudara," bantah Irena enteng.
"Hah?"
"Juga bukan sepupu," geleng Daniel.
"Jangan bilang kalian suami-istri!" tunjuk Erzsi refleks.
"Cih—"
"Siapa juga yang mau jadi suami dari bocah seperti Irena? Aku tak bernafsu!"
"Memangnya aku bersedia jadi istrimu?! Tidur satu kasur denganmu? Hiii!"
Erzsi menoleh dengan berat pada Erika., mata membelalak dan mulut terbuka. Erika menggeleng menyerah.
"Jadi ... kalian cuma teman?"
"Dia menumpang tidur di rumahku!" tunjuk Irena ribut.
"Dia sendiri yang bilang akan menampungku! Jangan munafik, Irenaaa!"
Erzsi mengusap wajahnya. Lama-lama aku bisa gila kalau membawahi mereka.
Erika menyenggol Erzsi. Erzsi menatapnya heran, mencoba mengabaikan pertengkaran konyol di hadapannya. Sedikit-sedikit ia mulai mengerti hingga kemudian tersenyum dengan mudahnya.
"Barangkali sama seperti kau dan Lovino, ya?"
tbc.
trivia:
dalam kenyataannya, misi-misi di sini memang pernah dijalani luigi torelli sesungguhnya. bahkan sampai ke poin yang santander itu, tetapi kekacauan yang dinarasikan di sini adalah fiksional, ya. bacaannya ada di sini, di bagian tahun 1942 (karena alur utama fik ini memang kuambil dari sini): regiamarina (titik) net / detail_text_with_list . asp? nid=84&lid =1&cid=44.
.
a/n: hay. yah si irena dan daniel itu yep czech dan slovakia. i will put many roles for many charas here actually, and more to come hehehehe. as usual, thankies buat semua pembaca, yang meninggalkan jejak review, yang ngefave dan follow, semuanya, makasiiiih! i love you all! ;;u;;
