Tiba-tiba seorang wanita paruh baya muncul dari balik tirai yang terbuat dari rangkaian kerang itu. Wanita itu tidak seperti yang dibayangkan oleh Yixing maupun Joonmyeon. Mereka pikir, Madam Kim itu seperti peramal dengan baju aneh dan bola ajaib di tangannya, namun ini berbeda, Madam Kim hanya memakai baju kasual sesuai dengan usianya. "Aku tidak suka berpakaian seperti itu, anak kecil" ucap madam Kim tiba-tiba membuat kedua pelaku terkejut setengah mat.

"Jadi.. ada yang menjadi anak kecil ya disini?" sumpah Joonmyeon dan Yixing hampir tersedak ludahnya sendiri.

Be Children Again

Chapter 9

Xounicornxing Present

.

.

.

Happy reading

.

Madam Kim tersenyum penuh makna. Masih ada manusia yang terkena kutukan ini? Begitulah pikirnya. Ia mempersilahkan kedua anak kecil itu memasuki ruang praktiknya, sedangkan Sehun sendiri memilih tak ikut campur. Madam Kim menarik nafas panjang, ada benang merah diantara mereka. Ia yakin salah satu diantara mereka ada yang menyukai satu sama lain, sedangkan satunya masih tak mau mengakui. Sesampainya mereka pada ruang praktik Madam Kim, mereka duduk berdampingan. Madam Kim duduk di kursinya, ia memandang penuh arti pada dua anak adam yang berubah usianya ini.

"Apa kalian tidak mengenalku?" tanya Madam Kim tersenyum penuh arti. Joonmyeon mengerutkan dahinya sedangkan Yixing memiringkan kepalanya mengetuk-ketuk bibirnya. Dalam batin mereka tercipta satu kalimat yang padu.

Siapa Madam Kim? Memangnya kita pernah mengenalnya?

Madam Kim kembali tersenyum penuh arti, Madam Kim mengumpulkan rambutnya yang sedari tadi digerai kemudian menggelungnya menjadikan Joonmyeon dan Yixing menahan nafas.

"N-nenek?" cicit Joonmyeon. Madam Kim tersenyum penuh makna, sedangkan Yixing dan Joonmyeon saling berpandangan. Yixing mengerjabkan matanya, kembali menatap tak percaya Madam Kim. Madam Kim berganti tersenyum manis ke arah Yixing membuat anak laki-laki itu menundukkan kepalanya malu-malu.

"Kalian yakin ingin kembali ke usia asli kalian?" tanya Madam Kim tegas. Yixing tak langsung menjawab, ia justru menatap Joonmyeon yang dengan mantapnya mengangguk. Yixing menundukkan kepalanya, tindakannya membuat kedua orang yang berada di ruangan itu bertanya-tanya.

"Saat aku di usia dewasa. Aku jarang berhubungan dengan orang tuaku. Berbeda saat aku di usiaku yang masih kecil ini. Aku tidak tahu kenapa, tapi salah satu sebabnya karena kesibukan kami" Joonmyeon mendengus mendengar alasan Yixing. Sangat klasik, belum tahu saja bagaimana rasanya jika orang tuamu bertengkar terus, sungut Joonmyeon dalam hati. Madam Kim mengangguk paham, ia beranjak dari ruangan itu dan meminta Joonmyeon dan Yixing menunggu bersama Sehun di ruangan tamu.

Yixing tampak sibuk bercakap-cakap dengan Sehun, wajarlah, Sehun ingin sekali punya adik laki-laki seumuran mereka ini dan Yixing cukup penurut untuk menjadi adik laki-laki. Joonmyeon melirik pelan Yixing. Ia ingin mempunyai keluarga seperti Yixing. Tidak seperti keluarganya yang penuh dengan kericuhan tiap hari.

Joonmyeon menatap lurus jendela ruang tamu itu. Joonmyeon yakin pasti ada sisi positif yang kuat yang membuatnya tak lekas menjadi dewasa. Jikalau Yixing karena keluarganya, lalu Joonmyeon karena apa?

Belum sampai Joonmyeon menjawab argumennya dengan argumennya yang lain, Madam Kim sudah menghampiri mereka dengan menenteng keranjang. Madam Kim tersenyum cerah, lalu sebentar menatap Sehun agak intens. Ia kembali tersenyum penuh makna. Ia duduk di kursi dekat jendela.

"Jadi.. mengapa kau bisa bertemu dengan mereka anak muda?" tanya Madam Kim menatap Sehun. Sehun berjengit lalu menggaruk kepala belakangnya tak gatal, bingung mau berkata apa. Sebuah cengiran muncul di bibir tipis milik pemuda berkulit pucat itu.

"Bisa dibilang.. aku terdampar di sini" ucap Sehun meringis. Madam Kim masih menatap Sehun bertanya-tanya. Sedangkan Yixing dan Joonmyeon justru saling menyenggol satu sama lain memperebutkan kursi yang sebenarnya masih luas.

"Yah, aku bukan manusia biasa, terkadang aku tidur lama, tidak lama sih kalau di dunia nyata, tapi di dunia lain bisa berhari-hari, menemukan dunia aneh yang aku harus membantu menyelesaikan, hahh mungkin aku indigo, atau mungkin aku berbakat menjadi paranormal" Sehun menghela nafas pasrah. Bukan pertama kalinya Sehun kemari, namun sebelumnya dia diajak oleh temannya, bukan menyarankan orang agar kemari.

Madam Kim berdehem sejenak kemudian mengeluarkan sesuatu dari keranjang yang sedari tadi dibawanya. Madam Kim mengeluarkan dua buah cupcake yang kebetulan sekali mirip dengan cupcake yang pernah diterima Joonmyeon maupun Yixing. Madam Kim memberikan Joonmyeon dan Yixing masing-masing satu cupcake.

"Tentu kalian ingat cupcake itu. Makan dan kalian akan menjadi dewasa kembali. Namun ingat, sebelum kalian memakannya, kalian harus menemukan apa yang kalian cintai ketika masih kecil. Itulah yang namanya cinta masa kecil. Dan coba ingat mengapa kalian ingin menjadi dewasa kembali" Ucap Madam Kim panjang lebar.

Yixing dan Joonmyeon mengangguk paham kemudian menyimpan cupcake itu. Sedangkan Sehun hanya mengangguk-angguk mengerti. Madam Kim menerawang, mencoba mengingat apa yang harus diucapkan agar diikuti oleh kedua anak adam yang menjadi kecil kembali ini.

"Ah, jangan lupa kalian harus jujur satu sama lain sebelum memakan cupcake itu, makanlah bersama- sama"

.

.

.

Joonmyeon berjalan gontai memasuki halaman rumahnya yang luas. Bodohnya mengapa dia tak menyuruh Sehun mengantarnya hingga ke dalam rumah agar tak susah payah melangkah menuju pintu?

Baru beberapa langkah Joonmyeon memasuki rumahnya yang masih saja sunyi, tiba-tiba suara tegas dan dominan menyelimuti indra pendengarnya. Joonmyeon diam di tempat, tak berani melangkah ataupun mundur, hanya diam tak berani berulah. Ayah Joonmyeon kembali memanggil, pria bermarga Kim itu kini memanggil Joonmyeon dengan nada yang lebih bersahabat.

Joonmyeon kini bergerak melangkah lalu duduk di samping ayahnya yang sibuk menikmati kopi hitamnya. Tuan Kim menaruh cangkir kopinya lalu memandang putranya dengan mata elangnya. Wajahnya memang bak malaikat seperti putranya, namun matanya sangat tajam seperti ucapannya. Ia mengusak rambut halus putranya membuat Joonmyeon agak berjengit dengan skinship yang diberikan ayahnya. Ayahnya tak pernah memperlakukan dirinya seperti ini. Ia yakin ayahnya akan menasehatinya.

Karena ayahnya hanya akan bersikap baik ketika akan menyampaikan sesuatu yang harus dipikulnya nanti.

"Joonmyeon, suatu saat jadilah anak yang tangguh, menjadi penerus perusahaan ayah. Besar nanti kamu akan ayah latih menjadi pemimpin yang baik" ucap kepala keluarga Kim itu sambil mengelus sayang rambut putranya. Joonmyeon awalnya tersenyum mengangguk sekaligus bahagia. Tentu saja, kapan lagi ayahnya berperilaku lembut padanya seperti ini?

Namun kemudian sesuatu rasa-rasanya menyadarkannya dari sesuatu.

Joonmyeon menatap ayahnya yang sedang memasang raut penuh harap. Ia sadar mengapa ia mencintai masa kecilnya.

Dengan segera Joonmyeon berpamitan pada ayahnya dan melesat menuju kamarnya. Ia segera mengambil cupcake yang tersimpan rapi di sakunya tadi. Jangan tanya mengapa sakunya muat dengan cupcake itu. Joonmyeon memutar-putar cupcake itu di tangannya. Beberapa kilasan teringat jelas di otak pintar seorang ilmuwan itu.

Joonmyeon ingin meninggalkan dunia masa kecilnya karena pertengkaran orang tuanya yang tak kunjung padam. Seingat Joonmyeon, orang tuanya baru benar-benar bercerai saat ia menginjak sekolah menengah pertama.

Dan apa yang Joonmyeon cintai pada masa kecilnya? Joonmyeon tersenyum miris dan ingin tertawa rasanya. Ia kembali memutar cupcake itu di tangannya.

"Ya, aku sangat cinta hal ini pada masa kecilku" Joonmyeon menaruh cupcake itu pada meja kecil dekat kasurnya. Ia merapikan sprei yang agak berantakan lalu beranjak naik ke atas kasurnya. Joonmyeon memandang langit-langit kamarnya yang tembus pandang. Dari sini dia dapat melihat seribu bintang bertebaran.

"Aku selalu ingin tahu apa yang ada di balik langit, bereksperimen membuat berbagai alat. Bukan mengembangkan perusahaan dan berbisnis" Joonmyeon tersenyum miris. Bodohnya dia tak ingat atau bagaimana kalau cinta tak harus pada manusia, dia mencintai masa kecilnya dimana ia bebas bereksperimen kecil-kecilan, bukan ketika dia harus meninggalkan orang tuanya agar menjadi seorang ilmuwan.

Joonmyeon kembali tertawa kecil.

"Tapi aku juga suka sama seseorang sih. Bodohnya aku berpikir itu adalah cinta monyet" Joonmyeon tertawa, menertawakan dirinya. Besok dia berjanji pada diri dan hatinya bahwa ia harus jujur satu sama lain dengan Yixing, yah seperti yang Madam Kim katakan.

.

.

.

Sesampainya di rumah, entah apa yang merasuki Yixing, namun dirinya langsung bergegas memasuki kamar, Yixing langsung menyimpan cupcake miliknya pada laci meja belajarnya dan bergegas menuju ruang tengah dimana disitu terdapat VCD Player tempat memutar musik maupun film.

Sembari menari-nari kecil, anak laki-laki pecinta unicorn itu memutar satu lagu beat dan mulai meliukkan badan sesuai irama lagu yang berdentum menginvasi ruang keluarga itu.

Sejak ia menjadi anak kecil lagi, Yixing merindukan saat-saat ia berlatih dance bersama teman-temannya. Tubuhnya terasa amat kaku selama menjadi anak kecil lagi. Yixing rindu menari, tentu karena itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Tak hanya satu lagu yang mengalun, lagu terus berganti hingga Yixing tak sadar kini sudah lagu ketiga yang berputar mengitari tariannya. Yixing juga hampir tak sadar bahwa seorang wanita paruh baya mendekatinya dan mematikan musik yang berdentum, membuat tarian Yixing terhenti.

Yixing langsung berbalik menuju tempat dimana ibunya berdiri berkacak pinggang. Otaknya masih memproses apa yang sebenarnya terjadi. Yixing menatap bingung ibunya yang tampak geram sembari masih berkacak pinggang. Ia memasang muka innocentnya jaga-jaga jika ia membuat ibunya murka.

"Yixing! Kenapa kamu menari tak jelas seperti itu?" amuk sang ibu. Yixing seketika menjadi ciut, ia langsung beranjak dan memeluk ibunya.

"M-maaf mama.." ucap Yixing parau walau masih memberanikan diri mendekati ibunya. Amarah sang ibu sedikit mereda, wanita bermarga Zhang itu memeluk putranya erat-erat. Raut wajah Nyonya Zhang kembali teduh seperti sedia kala, namun dalam batinnya berkecamuk cara menghindari anaknya oleh kegemaran putranya dalam bidang tari.

Menari itu untuk perempuan, dan Yixing lebih pantas melanjutkan bisnis papanya daripada menari

"Jangan menari lagi Xingie, atau mama akan mencabut semua akses yang membuat kamu menari-nari tak jelas seperti tadi" titah ibu Yixing mutlak. Yixing mengerjab sekian kali, kemudian mengangguk pasrah dan berpamitan pada ibunya melesat menuju kamarnya.

Yixing terus-terusan menghentakkan kakinya ketika menaiki tangga menuju kamarnya, tak peduli bagaimana reaksi ibunya jika mendengar suara hentakan kakinya yang memekakan telinga itu. Setelah membuka pintu kamar dan membantingnya kembali, Yixing langsung beranjak menuju laci meja belajarnya tempat dirinya menaruh cupcake dan membuka cupcake itu.

Hampir saja Yixing menggingit cupcake itu, namun sesuatu membuatnya teringat pesan Madam Kim.

"Ah, jangan lupa kalian harus jujur satu sama lain sebelum memakan cupcake itu, makanlah bersama- sama"

Yixing terdiam lalu menatap tajam cupcake itu. Sembari menghela nafas, ia kembali membungkus cupcake itu dan menyimpannya di laci.

Dalam sekejap, Yixing langsung beranjak naik ke kasur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Hiks, Yixing mau jadi dewasa lagi, mama jahat" tangis anak kecil berlesung pipi itu.

.

.

.

Pagi itu pagi yang amat cerah, secerah hati Joonmyeon. Kini dia telah mantap untuk menjadi dewasa kembali. Joonmyeon mengedarkan pandangan ke sekitar kelasnya, teman-temannya sudah hadir berkeliling ataupun hanya duduk-duduk di kelas. Namun ada satu temannya yang belum datang,

Zhang Yixing belum datang. Joonmyeon cemas sendiri jadinya. Ia melirik cupcake yang masih terbungkus rapi itu berharap Yixing datang cepat, Joonmyeon cemas kalau Yixing tiba-tiba sakit.

Dan Joonmyeon harus berterima kasih karena kecemaasannya tak jadi berkelanjutan. Terlihat Yixing memasuki kelas dengan muka polosnya, namun Joonmyeon tak tertipu pada kedua bola mata yang menjadi sembab itu. Tak biasanya juga Yixing diam dengan pandangan polos, bahkan Joonmyeon sempat terheran ketika Yixing langsung duduk di sebelahnya.

"Habis nangis?" tanya Joonmyeon hati-hati ketika Yixing sudah menduduki bangku kosong di sampingnya. Yixing mengerjab lalu mengucek matanya.

"Masih kelihatan ya? Padahal tadi malam aku sudah mencuri-curi es batu di kulkas" Joonmyeon mengangguk dan Yixing langsung mencari-cari kaca untuk melihat pantulan wajahnya.

Joonmyeon menghela nafas lalu menepuk pelan bahu Yixing membuat anak lelaki berlesung pipi itu hampir melompat terkejut.

"Nanti istirahat mau makan cupcakenya?" tanya Joonmyeon lebih hati-hati dari sebelumnya. Kini Yixing tak hanya tersenyum namun juga mengangguk antusias layaknya dapat lotre. Joonmyeon agak terkejut dengan perubahan sikap Yixing, namun seulas senyum terpatri di bibir Joonmyeon.

Bel tiba-tiba berdering menandakan jam pelajaran pertama telah dimulai membuat Joonmyeon dan Yixing fokus pada pelajaran yang berlangsung.

.

.

.

Joonmyeon masih saja menggandeng tangan Yixing membuat anak laki-laki berlesung pipi itu mendumel sebal. Ia tidak sebal si digandeng oleh Joonmyeon, biasa saja. namun sayangnya Joonmyeon menggandengnya sembari menariknya membuat Yixing terseret-seret. Yixing akan minta ganti rugi pada Joonmyeon jika sepatunya rusak.

Sedangkan Joonmyeon si penarik, tak terlalu peduli pada keadaan Yixing yang tergopoh-gopoh menyamai langkahnya yang cepat. Atau mungkin justru Joonmyeon tak tahu keadaan Yixing?

Joonmyeon baru berhenti menarik tangan Yixing ketika keluar satu rintihan dari anak lelaki yang ditariknya tadi. Dengan sigap ia menoleh kebelakang menatap Yixing yang tengah menyumpah serapahi dirinya. Joonmyeon meringis sadar akan kekerasan yang dilakukannya. Ia mengajak Yixing duduk di gazebo yang terletak di taman belakang sekolahnya.

Sedangkan Yixing masih asik mendumel sembari melirik tajam si pelaku penarikan padanya. Ia duduk santai di gazebo dan mengeluarkan cupcake yang memang dibawanya dari kelas tadi. Joonmyeon juga melakukan hal yang sama dengan Yixing, tapi sebelum dia membuka cupcake seperti yang dilakukan Yixing, ia menepuk pelan bahu Yixing.

"Jangan dimakan dulu" Yixing menoleh, ia mengerjab pelan lalu mengangguk dan menaruh cupcake itu di sebelahnya. Yixing baru saja akan membuka mulut, namun suara Joonmyeon membuatnya terdiam dan mendengarkan.

"Aku sudah mantap untuk memakan cupcake ini dengan harapan menjadi anak kecil kembali. Aku sudah tahu apa yang membuatku ingin menjadi anak kecil dan menjadi dewasa kembali." Yixing mengangguk pelan mengiyakan perkataan Joonmyeon. Semalaman suntuk ia menangis dan berpikir kembali, kemudian ia teringat satu fakta yang menyakitkan.

Orang tuanya tak pernah mendukung hobinya, sialnya Yixing baru sadar hal itu, mungkin karena selama kembali menjadi anak kecil ia tak pernah berlatih menari.

"Aku juga begitu, kalau gitu ayo kita makan cupcakenya" ajak Yixing riang lalu mengambil cupcake di sampingnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Joonmyeon tersenyum lebar dan ikut-ikutan mengangkat cupcakenya.

"Sebenarnya aku juga sempat terjebak cinta monyet denganmu Xing" ucap Joonmyeon lirih namun pasti dan santai, ia membuka bungkus cupcake itu. Sedangkan Yixing langsung menoleh cepat ke arah Joonmyeon.

"Kamu tadi bilang apa? Aku nggak dengar" Joonmyeon buru-buru menggeleng.

Mereka mulai memakan cupcake itu bersama-sama hingga habis menyisakan bungkus dan dan serpihan kecil saja. sedetik setelah mereka selesai memakan cupcake itu mereka berdua terdiam, menunggu reaksi yang akan terjadi pada cupcake ini.

Namun hingga bel tanda masuk kelas berbunyi, mereka tak mendapatkan reaksi apapun. Mata Yixing mulai berkaca-kaca, mereka berdua mulai putus asa. Joonmyeon menggandeng lengan Yixing mengajak anak lelaki itu kembali ke kelas.

"Hiks.." satu isakan lolos dari bibir Yixing membawanya menuju tangisan kencang sarat akan rasa kecewa. Joonmyeon sejenak panik, ia langsung menghadiahi Yixing sebuah pukpuk dan menghapus air mata yang mengalir pada pipi yang memerah menahan tangis itu.

"Sudah, jangan kecewa, nanti kalau sudah waktunya kita pasti akan balik lagi jadi dewasa" Yixing mengangguki kata-kata Joonmyeon. Ia memandang anak lelaki yang tersenyum cerah layaknya malaikat itu, tangisnya agak mereda dan pasrah saja dibawa Joonmyeon kemana.

"Kita ke UKS saja ya" Yixing mengangguk lalu berbisik pelan nyaris tak terdengar.

"Aku juga pernah cinta monyet sama kamu"

.

.

.

TBC

01/07/2015

Dwe-Xounicornxing

Haaaiiiiiiiiii

Maaf aku late banget updatenya u.u sedang agak suntuk dengan menulis hehe tapi aku udah menyelesaikan chapter ini.

Ah iya, sebentar lagi Be Children Again akan tamat yeay! Dan disusul oleh 50 Yixing's Wish, tapi aku belum bisa pasti hingga chapter berapa kalo itu.

Aku harap sih aku bisa ngebut nulisnya kekeke soalnya habis lebaran pasti bakal disibukkan dengan kegiatan siswa baru :3

Q : kok sehun bisa kenal joonmyeon di wujud kecilnya?

A : nah jawabannya terjawab kan sekarang? Kalau masih belum jelas tanyakan saja di kolom review ya '-')/

Q : lolipop kok gak dibahas lagi?

A: ah itu Cuma sempilan hehe:3 tapi bakal dibahas di chapter akhir kalau aku gak lupa hehe

Big thanks to :

BangMinKi, laliceeuuu, nur991fah, Brigitta Bukan Brigittiw, lolamoet, Maple fujoshi2309 G.A.N, Tabifangirl , sycarp , xing mae30, diya1013 ,Guest, chenma, hunhanrakaisoo , 7D, exindira , younlaycious88, Queen Schweinsteiger, kerdus susu, pororopooh, Xiu's, heeriztator ,tuti handayani, Park Jong Hyun - ChanBaek, URuRuBaek, parkyoonie, exoo12, Green Shooter Nanodayo, seksibingo, BukanMakhlukTuhanPalingSeksi, marko-kreus, the-dancing-petals, LionXing, EXO Love EXO, choi arang, babyyming, 3K121418, , HealersXing, Choi Heewon, SodariBangYifan, Jaylyn Rui, ChenMinDongsaeng14, Shim Yeonhae, .9, SFA30, anis. , Xing1002,anoncikiw,herzana00kurnia, , 97,iridaescent,Kim Yun Mi,Xing1002,demiapa, lycheexiu, 94RiChan00, anoncikiciw, hyunie young,

Dan lain-lain