Sakura mengalihkan pandangannya ke atas saat dokter memeriksa matanya, Ia sudah ada di rumah sakit sejak 5 jam yang lalu. Tubuhnya masih lemas tapi menurut dokter kondisinya sudah lebih baik.

Sasori menghela napasnya saat Sakura kembali membalikkan tubuhnya dan membelakanginya, adiknya belum mau bicara sejak tadi. Pria itu kemudian mengelus rambut Sakura dari belakang, "Aku ke ruangan dokter dulu ya?" Dan Sakura lagi-lagi tidak menjawab.

Perempuan itu masih diam, bahkan setelah lima menit Sasori keluar dan meninggalkannya sendiri. "Aku benar-benar akan pergi." Gumamnya.

Mata Sakura terpejam meresapi kalimat penenang yang Itachi ucapkan padanya beberapa waktu lalu. Saat ini ia lebih memilih mengingat yang menyenangkan dan menenangkan.

"Sasuke akan baik-baik saja." Sakura kemudian memandang pria itu saat kalimat seringan tadi keluar dari mulut Itachi. Gaara yang sejak tadi berdiri juga sudah siap menghampiri Sakura saat mata sepupunya kembali berkaca-kaca dan siap untuk menangis—lagi. Mereka menunggu Sasuke di depan ruang operasi.

"Aku yang membuatnya begitu."

"Itu kecelakaan." Ucap Itachi lagi. "Kenapa kau bisa setenang itu?" Tanya Sakura, Itachi dengan mudah tersenyum dan menenangkannya, padahal ia tahu bagi Itachi Sasuke sama berharganya seperti Sakura bagi Sasori.

"Ini bukan salahmu, ini pilihannya. Adikku punya caranya sendiri untuk menjaga orang-orang yang dia sayang."

Seketika itu hati Sakura teduh, ada perasaan bahwa dirinya begitu berharga saat Itachi mengucapkan itu.

"Terimakasih."

"Hn, jadi jangan menangis, Sasuke akan merasa percuma menolongmu kalau kau begini."

"Ya."

Ia ingin percaya itu, tapi...

"Nii-san." Sasori menolehkan kepalanya saat Sakura memanggilnya setelah kembali dari ruangan dokter, akhirnya ia mendengar suara itu lagi—meski agak parau.

"Ya?" Tangannya mengelus rambut Sakura, wajah adiknya tampak agak pucat dari biasanya, tubuhnya juga agak hangat.

"Aku mau pulang."

"Tapi—"

"Aku mau istirahat dan tidur di rumah."

oooo

Ada yang aneh, ia merasa kurang saat kembali dari ketidaksadarannya. Sasuke sama sekali tidak menemukan muka cemas Sakura saat dirinya pertama kali membuka mata padahal menurutnya ia pantas mendapatkan itu, yang ada hanya Itachi dengan wajah dingin yang tidak biasa dilihatnya.

Perempuan itu, ah rasanya Sasuke rindu, rindu berdebat dengannya, rindu semuanya tentang Sakura. Rasanya terlalu aneh melewatkan tiga hari tanpa Akasuna Sakura, perempuan itu terlalu biasa berada disekitarnya akhir-akhir ini. Sakura harusnya ada disini menemaninya, cerita ini itu, dan mendebatnya saat dirinya bosan.

Sasuke menghela napasnya lagi, tangan kanannya agak sakit saat digerakkan. Dokter bilang tulang lengannya retak, bukan patah seperti yang ia duga saat jatuh.

Lihat keadaannya sekarang? Apa perempuan itu tidak mau khawatir atau sekedar berterimakasih padanya setelah apa yang Sasuke lakukan malam itu? Kemana sebenarnya Sakura? Ini rasanya menyesakkan, rasanya seperti de javu.

Srek.

Oh, hatinya tiba-tiba jadi teduh. Sakura datang dengan short dress dan cardigan kuning cerahnya. Perempuan itu kemudian duduk di samping ranjangnya.

"Kemana saja?" Sasuke akhirnya mulai bicara.

"Hm?—" Sakura menyentuh tangan kiri Sasuke lalu meremasnya ringan, jantungnya berdetak dua kali lipat saat kulitnya dan kulit Sasuke bersentuhan. Ia rindu dengan pria ini, sangat, saking rindunya ia bahkan tidak sadar kakinya membawanya kesini. "—aku ada."

Sasuke sama sekali tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Sakura, pandangannya terpaku terus di mata hijau milik perempuan itu, "Apa kabar?" tanyanya lagi, Sakura lalu mendongak menatap langsung lawan bicaranya sambil tersenyum, ini pertanyaan yang tidak pernah didengarnya dari Sasuke, selama itukah mereka tidak bertemu sampai Sasuke menanyakan kabarnya? Harusnya dirinya kan yang bertanya?

"Kau bisa lihat." Ucap Sakura sambil menaikkan kedua bahunya dan terkekeh canggung.

Keduanya lalu kembali diam, Sasuke tidak suka atmosfer ini, rasanya aneh dan terlalu canggung seperti bukan bersama Sakura.

"Aku—"

"Temani aku disini."

"Tapi aku tidak bisa lama-lama disini." Ucap Sakura kemudian, ia baru akan pamit tadi. Sakura tidak bisa lama-lama disini, makin lama dekat Sasuke malah akan membuat dadanya makin sesak.

"Temani aku disini sampai aku tidur."

"Tapi—" Sakura berhenti bicara saat Sasuke melepas genggaman tangannya, pria ini sepertinya mulai kesal, Sakura kemudian menatap Sasuke yang malah memandang arah lain.

"Aku pergi sekarang."

Sasuke kembali menoleh, Sakura benar-benar akan pergi. Perempuan ini sudah beranjak dari tempatnya duduk tadi, Sakura membalikkan tubuhnya sebelum membuka pintu. "Anggap tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, kau hanya kecelakaan dan itu bukan salahku." Selanjutnya Sakura benar-benar lenyap dibalik pintu meninggalkan Sasuke yang terpaku tak percaya.

Sasuke tidak percaya ini, Sakura benar-benar pergi meninggalkannya, saat dirinya sedang lemah. Setelah apa yang dilakukannya, Sakura meninggalkannya?

"Hiks.. hiks.." Menangis lagi, Sakura tidak ingat sejak kapan dirinya jadi selemah ini, tubuhnya merosot di depan kamar sasuke, kakinya terasa lemas untuk melangkah. Ia merasa jadi orang paling jahat di dunia bicara seperti tadi saat kondisi Sasuke sedang begini, padahal dia yang paling tahu karena siapa Sasuke begini.

"Haha hah.. hiks.." Saura tertawa miris, sebegitu kejamkah dirinya yang dulu sampai dapat karma seperti ini? Ia membayangkan dirinya sedang di dalam bersama Sasuke, menemani pria itu sampai tidur, menyuapinya makanan, memberinya obat, berdebat dengannya.

Sakura meremas dadanya, ia makin merasa sesak dibagian itu, kenapa ini malah makin rumit? Kenapa hidupnya tidak bisa sederhana saja? "Aku—"

Sasuke tidak mengerti, matanya masih terpaku memandang pintu, Sakura datang dan pergi secepat angin berhembus. Ini entah kenapa terasa ngilu, ada bagian dari dirinya yang serasa remuk. Jauh dalam hatinya saat ini ia menyesal pernah bilang ingin Sakura pergi dari hidupnya. "—merindukanmu—"

Sakura makin terisak, sekarang apa yang harus ia lakukan? Bahkan tubuh dan hatinya pun berkomplot untuk tidak pergi, "—sangat."

Sasuke tidak percaya mengucapkan tiga kata itu dari bibirnya—untuk Sakura yang bahkan tidak mendengarnya.

oooo

Kaki Sakura terpaku di atas lantai rumah sakit, ia baru akan masuk ke dalam tapi keberadaan Shion yang tertangkap netranya mengurungkan semuanya.

Sedang apa sahabatnya disini? Di kamar Sasuke?

Sakura tidak akan bertanya jika yang ditemui Shion adalah dirinya, tapi ini Sasuke, tunangannya. Mereka disini baru 5 jam yang lalu dan Sasuke sudah punya pengunjung baru? Ia lebih tertarik bertanya untuk apa Shion di dalam dibanding darimana Shion tahu mereka kecelakaan.

"Bangun, bangun dan beritahu Sakura tentang kita."

Sakura mengerutkan keningnya, "Keluarkan aku dari bayangan Sakura, Sasuke. Beritahu padanya ada aku di sampingmu."

Sakura diam, semuanya seakan berjalan sangat lambat, sangat pelan. Sasuke dan Shion? Sejak kapan?

Sasuke yang selingkuh adalah hal biasa untuknya, tapi ini? Ini sangat tidak biasa, bukan karena Shion sahabatnya, tapi karena Shion adalah satu-satunya perempuan yang Sasuke sembunyikan darinya.

"Sa-Sakura?"

Sakura menatap Shion dengan pandangan setengah ling-lung, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Mereka berhadapan di depan pintu.

"Kau dengar semuanya?"

"Tidak." Ucap Sakura tegas, ia baru akan pergi ketika tangan Shion menahannya. "Sakura."

"Aku mau istirahat, badanku masih lemas." Suara Sakura agak bergetar, jika ia bicara banyak mungkin Shion akan tahu bahwa dirinya nyaris menangis.

"Lepaskan dia."

Sakura membalikkan tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan Shion dan memandangnya tak mengerti. "Lepaskan Sasuke." Ucapnya lagi.

"Apa maksudmu?" Sakura bertanya tak terima, apa haknya menyuruh Sakura melakukan itu.

"Aku—" Shion menundukkan kepalanya lalu mendongak lagi, menatap Sakura berani, "Aku dan Sasuke punya hubungan yang lebih serius dari hubungun konyolmu."

Sakura menepis kasar tangan Shion, ia merasa berhak melakukannya, hubungan konyol katanya? "Aku tunangannya."

"Aku orang yang dicintainya."

Sakura seketika bungkam, ia harus jawab apa? Dia sendiri yang bilang Sasuke bisa pergi jika ia tidak berhasil, tapi ini belum sebulan kan?

"Aku dan Sasuke dalam satu hubungan bahkan sebelum kau kembali ke Jepang." Ucap Shion tegas. "Kau temanku, aku hanya mau memberitahumu bahwa Sasuke tidak hilang ingatan—" pandangan Sakura seketika penuh menatap Shion, "—ia hanya ingin membalasmu atas apa yang sudah kau lakukan dan aku mengetahuinya, kita akhirnya makin dekat dan—"

"Cukup."

"Kau harus dengar semuanya."

"Aku tidak mau."

Shion mencengkram pergelangan tangan Sakura agak kuat hingga perempuan musim semi itu meringis, "Terimalah kenyataan, kau harusnya jangan terlalu memaksakan semuanya, semuanya tidak seperti dulu lagi. Sasuke ku bukanlah Sasuke mu yang dulu."

"Berisik." Bentak Sakura, tubuhnya agak gemetar, ini bukan karena takut tapi karena hari ini terlalu banyak hal mengejutkan yang terpaksa harus diterimanya.

"Sakura."

Shion terkejut mendapati suara Itachi di belakang tubuhnya, perempuan itu hanya menunduk lalu pergi, "Aku permisi."

Itachi memandang Sakura khawatir, ada apa dengannya?

"Sakura?"

"A-aku mau kembali ke kamarku."

"Aku antar ya—" Sakura mengangguk kaku, Itachi kemudian memapahnya, ini aneh tadi Sakura sudah baik-baik saja kok. "Sasori masih mengurus ini-itu sekarang, mungkin aku bisa menungguimu sampai dia selesai."

.

Sakura menghirup dalam-dalam udara segar sore ini, tiap kali mengingat kejadian waktu itu membuat dadanya sesak.

Semilir angin sore menerbangkan anak rambut Sakura yang tak terikat, perempuan itu membuka kedua matanya saat merasakan handphonenya bergetar.

"Ya?"

"Semuanya sudah selesai nona, tuan Kozuna sudah bebas."

"Terimakasih Yamato-san."

Sakura memandang sekali lagi batu nisa di depannya, Kozuna Ayana.

Sakura tersenyum lalu mengelus nisan di depannya, "Aku pergi dulu, baasan."

"Sudah selesai?"

Sakura mengangguk dan membalas senyum Toneri yang memberikan senyum hangat padanya. "Ayo." Sakura tersenyum memandang punggung pria itu, tangan mereka bertautan. Jika tidak ada Toneri mungkin dirinya akan benar-benar berubah jadi zombie saking tidak pernah keluar kamar sejak pulang dari rumah sakit. Sasori bahkan sulit membujuknya, bisa membuat Sakura menelan makanan saja sudah membuat Sasori senang bukan main.

"Terimakasih sudah menemaniku." Ucap Sakura, mereka akan kembali ke San Franscisco malam ini setelah puas 'kabur' ke San Andreas selama lima hari, Toneri dari pekerjaannya, Sakura dari pikiran-pikiran kacaunya.

"Sudah siap untuk pulang? Sudah lebih baik?" Toneri tidak tahu sahabatnya punya masalah apa, yang ia tahu saat Sakura begini ia merasa perlu berada di samping gadis itu.

Sakura mengangguk sebagai jawaban, ia sudah jauh lebih baik dan tenang sekarang, masalah di depannya bukan jadi masalah lagi untuknya.

"Ini." Sakura mengembalikan handphone Toneri yang selama lima hari dipakai bersama, ia hanya menggunakannya untuk menghubungi Yamato dan kakaknya. Ia tidak mengaktifkan handphonenya sama sekali. Sakura sadar, dengan kondisinya yang kacau pada saat itu memegang ponsel sendiri bukan hal yang bagus.

Ia tidak terkejut dapat banyak panggilan masuk dan pesan dari Hinata yang mencemaskannya, tapi mendapati panggilan masuk dan pesan yang lebih banyak datang dari Sasuke membuatnya tidak bisa berkomentar.

Sakura menyandarkan kepalanya di jendela dan mengabaikan panggilan masuk baru yang muncul di layar handphonenya

Sasuke.

Toneri sesekali mencuri pandang pada orang di sampingnya, "Tidak dijawab?"

"Tidak, justru ini yang aku hindari."

Toneri menghela napasnya, "Apapun masalahmu selesaikan—" Sakura menatap Toneri dari tempatnya duduk, "—kau sudah membawanya jauh-jauh ke San Andreas." Perempuan di sampingnya ini kadang bertingkah seperti dunia hanya miliknya dan membuat orang-orang khawatir. Seperiang apapun Sakura, dia jauh tertutup daripada orang pendiam. Temannya yang paling dipercayanya pun kadang tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Termasuk Toneri.

"Iya."

Sakura tersenyum saat mengembalikan pandangannya ke arah jendela.

Hujan.

Panggilan dari Sasuke kembali masuk ke handponenya.

Hujan kali ini milik siapa? Tanyanya dalam hati. Hatinya tiba-tiba teduh, setidaknya langit kali ini mewakilinya menangis jadi Sakura tidak perlu capek-capek melakukannya.

oooo

Sasuke melonggarkan dasinya kesal, Sakura tidak menjawab panggilan telpon darinya. Ia baru saja senang saat sambungan telponnya hari ini terhubung, tapi nyatanya Sakura tidak menjawabnya sama sekali.

Sasuke sudah cukup dibuat frustasi sejak Sakura meninggalkannya di rumah sakit 3 minggu yang lalu. Gadis itu kemudian tidak ada kabar atau menghubunginya, tidak ada pesan, tidak ada telpon, atau ucapan selamat pagi yang biasa ia dapatkan. Ia langsung datang ke rumah Ruiz saat pulang dari rumah sakit tapi Sakura sudah pergi satu jam sebelumnya. Jika saja handphonenya aktif, Sasuke pasti bisa melacak keberadaannya dan menyusul ke tempatnya, tapi ini tidak sama sekali.

Sasuke menghubungi Sakura sekali lagi dan tersambung, tapi tetap tak ada jawaban. "Ayolah, Sakura—" Tangannya sudah menarik rambutnya ke belakang hingga acak-acakan.

"Sial."

Sambungan telpon kantor dari sekertarisnya lalu menginterupsi Sasuke.

"Jangan biarkan dia masuk, siapa pun jangan ganggu aku." Ucapnya saat diberitahu bahwa Shion berada di luar dan mendesak untuk bertemu dengannya, "Usir jika perlu." Sudah tiga minggu dirinya juga menghindari Shion, ia hanya ingin semuanya jelas dengan sendirinya tanpa campur tangan perempuan itu—lagi. Belakangan ini memori masa lalunya perlahan-lahan kembali.

Sasuke mendesah frustasi, ia bingung harus bagaimana lagi. Ia hanya ingin melihat sakura untuk sekedar menenangkan hatinya. "Jangan anggap semua yang sudah terjadi katanya? Cih." Sakura benar-benar mempermainkannya. Setelah membuatnya begini perempuan itu malah pergi.

Tidak ada yang normal-normal saja setelah kecelakaan itu, semuanya terasa aneh, perasaannya pada Sakura, juga ingatannya. Sasuke seperti terus diberi potongan-potongan adegan acak masa lalunya yang kadang membuatnya pusing.

Kadang berupa mimpi, kadang saat dirinya sedang melakukan sesuatu, bahkan saat dirinya melihat hujan! Hal itu tidak pernah sejelas ini sebelum dirinya kecelakaan—walaupun semuanya masih blur.

Ia merasa yakin Sakura ada hubungannya dengan masa lalunya, ia merasa begitu ketakutan saat Sakura bilang akan pergi, ia merasa sesak dan tiba-tiba ingat Sakura saat bangun dari mimpi-mimpinya, ada beberapa kebiasaan Sakura yang justru Sasuke rindukan darinya, seperti seremeh mengobrol dengan replika dunia misalnya. Sasuke merasa seseorang pernah melakukan hal yang sama di meja belajarnya dulu.

Ia merasa orang itu, orang yang ada di kepingan masa lalunya bukan Shion tapi orang lain. Jika pikirannya saat ini benar, lalu kenapa, kenapa Sakura tidak pernah memberitahunya?

Sasuke memejamkan matanya, ia berusaha untuk tenang kali ini, lama-lama Sakura bisa membuatnya gila saking frustasinya.

Helaan napas berat kembali keluar darinya, "Aku membutuhkanmu." Gumamnya.

oooo

Sasori kembali frustasi melihat Sakura yang kembali lebih banyak diam di kamar setelah pulang dari San Andreas, sepertinya Toneri juga gagal. Akira juga dibuat sedih dengan kelakuan Sakura, pasalnya anak itu tidak mendapat perhatian dari tantenya sama sekali. "Lain kali Akira." Adalah kata-kata kesukaan Sakura akhir-akhir ini, banyak lain kali yang Akira terima dan itu membuatnya tak bersemangat.

"Hey jagoan, ayo tidur besok lari pagi denganku dan boy." Akira menurut, akhirnya ia dan Sasori bisa akur juga. Mereka sedang senasib.

"Sakura." Lama Sasori berdiri di depan pintu kamar Sakura, Akira sudah berhasil ia buat tidur nyenyak olehnya malam ini. Ruiz dan Konan harus berterimakasih padanya karena malam ini bisa 'bulan madu'.

"Sakura buka pintunya aku tahu kau belum tidur."

Sasori masuk ke dalam saat Sakura membukakan pintu untuknya. Ia justru jadi bingung mau bicara apa dengan Sakura, sebelumnya tidak pernah secanggung ini, hubungan mereka tidak pernah canggung.

"Ada apa denganmu?"

"..."

Sakura tidur membelakanginya, sementara Sasori duduk di sisi ranjang.

"Kau tahu, kau bisa cerita apapun padaku." Walaupun ia tahu adiknya tidak pernah begitu.

"Termasuk bagaimana sakitnya saat pms?" Sasori terkekeh, akhirnya, "Ya, bisa termasuk itu juga." Mereka kemudian terdiam lagi, Sakura sama sekali tidak menimpali ucapan kakaknya lagi, "Sakura, besok kau datang ke rich ball ya, kau bawa undanganku."

Sakura seketika membalikkan tubuhnya ke arah Sasori, "Apa? Kenapa tidak Gaara?"

"Dia harus menyelesaikan urusan kuliahnya." Oh ya, setelah Sasori pulang dari Chicago sekarang gantian Gaara yang ada disana, sepupunya belum lulus kuliah, Gaara mengulur waktu ditahun-tahun terakhir, harusnya dia sudah lulus tahun kemarin.

"Dan aku sudah menulis namamu."

"Kenapa kau suka seenakya sih nii-chan?" Sasori tidak ingat sejak kapan sakura jadi emosian begini, adiknya tidak pernah menyahutnya dengan nada tinggi seperti sekarang.

"Diam di kamar kau pikir kau saja yang stres? Aku lebih stres melihatmu seperti ini, keluar kamar seperlunya, menolak bicara denganku, tidak mau cerita, menolak Akira yang tiap hari menunggumu."

Sakura terdiam mendengar kalimat panjang Sasori, ia tidak menjawab lagi. "Aku hanya ingin melihatmu sepeti biasanya, akhir-akhir ini aku merindukan adikku yang dulu." Ucap Sasori, rambut Sakura masih selembut dulu—saat Sakura kecil—ketika pria ini mengelusnya. Ia baru sadar adik kecilnya sudah sebesar ini.

oooo

Gaara menoleh kebelakang lalu balik badan lagi setelah memastikan perekam itu berhasil ia kecoh. Ia berhasil menyabotase 10 kamera keamanan. Pria ini masih berada di Frisco, di Transamerica Pyramid, gedung pencakar langit tertinggi di SF. Saat orang-orang mungkin sedang bersenang-senang di rich ball, dirinya malah menyusup kesini sendirian saat acara perkantoran selesai.

Ada sesuatu yang harus ia pastikan. Tentang sword tears yang baru-baru ini ia ketahui tempat ini punya banyak jawabannya. Orang yang menguntitnya bekerja disini, tempat yang sama dengan Sasori dan Sasuke datangi tiap harinya. Lalu kecelakaan fatal waktu itu menimpa Sakura dan Sasuke, yang ia yakini digawangi oleh orang yang sama.

Gaara menelan ludahnya, ini adalah ruangan terakhir yang akan ia 'sapu' setelah 10 ruang kerja pribadi lainnya.

Uchiha Sasuke.

Ia berharap segera menemukan sesuatu disini dengan cepat, agak paranoid juga berada di ruangan gelap begini.

"Baiklah langsung saja."

Penyapuannya di ruangan ini agak berbeda, Gaara langsung membuka Mac book Sasuke dan melacak emailnya. Ia mengernyit, email kedua Sasuke yang ini sepertinya jarang dibuka. Ada beberapa pesan yang belum dibaca, Sakura, ada nama sepupunya diurutan bawah. 5 tahun lalu? Gaara lagi-lagi mengernyit, ia berusaha mengingat-ingat kapan pertama kalinya Sakura dan Sasuke bertemu. Perhatiannya lalu tertuju pada pesan yang baru-baru ini masuk, urutannya ada di paling atas dengan nama alamat email yang diprotect.

A letter from angel

Night when you reverse into day

Night when you wake up

A dark day into your night when you are asleep

You know if i never sleep

I'll follow you anywhere

Until I arrived and can touch her

Move

So her death will be longer

And see when the knight night rescue

The lady rain

"Huh?" Isinya hanya sebuah puisi singkat yang judulnya manis. Dengan melakukan sesuatu akhirnya ia bisa dapat darimana email ini dikirim. Tubuh Gaara tiba-tiba tegang, komputer Sasuke belum selesai memproses data dan kini ia mendengar langkah kaki mendekat. Sepertinya hanya seorang, Gaara lalu maju ke depan pintu dengan kuda-kuda siap menyerang.

Persetan siapapun itu, kesempatan kali ini tidak akan ia sia-siakan, hanya tinggal sedikit lagi ia bisa tahu semuanya.

"Itachi?" Mata Gaara terbelalak lihat siapa yang datang ini.

"Gaara."

oooo

Sakura mematikan daya handphonenya sebelum turun dari mobil. Panggilan dari Sasuke masuk saat handphonenya akan mati, Sakura memandang datar nama itu sebelum layar ponselnya menggelap.

"Ayo."

Toneri mengulurkan tangannya di depan Sakura. Sakura tidak mau datang sendiri ke tempat ini, jadi akhirnya ia pergi dengan Toneri yang masih mengkhawatirkan kondisinya, sementara Hinata pasti pergi dengan Naruto. Semalam perempuan itu datang ke rumah Ruiz dan meginap di kamar Sakura setelah khawatir tidak mendapatkan kabar apapun darinya.

"Ya." Sakura menyambut tangan Toneri.

Sakura selalu jadi perhatian semua orang di tiap pesta, pembawaan kesan yang kalem selalu melekat dengan penampilannya, sederhana tapi memukau. Matanya memandang biasa saja ruangan yang jadi TKP utama pesta malam ini berlangsung, tidak seantusias biasnaya. Sungguh jika bukan karena Sasori, ia tidak akan datang kesini, ia butuh tempat yang tenang dan tempat dimana Sasuke tidak ada.

Dari ekor matanya ia bisa menangkap pria itu berdiri di ujung ruangan, sedang berbincang dengan beberapa orang dan membelakanginya.

"Aku cari tempat dulu." Sakura mengangguk menanggapi Toneri yang lalu pergi meninggalkannya sendiri. Bukan cari tempat sebenarnya, ia hanya ingin memberi ruang pada Sakura untuk menyelesaikan masalahnya yang ia yakini bersumber pada tunangannya.

Sasuke membalikkan tubuhnya saat melihat Hinata melambaikan tangan pada orang dibelakangnya. Jantungnya tiba-tiba berpacu makin cepat melihat siapa yang dipanggil Hinata, Sakura berdiri dengan kikuk di tengah ruangan. Sudah berapa lama Sasuke tidak melihat perempuan ini? Kenapa rindunya seperti bertahun-tahun tidak bertemu padahal baru hitungan minggu? Sasuke tidak ingat pernah punya perasaan begini saat Sakura menghilang selama sebulan.

Sakura berjalan ke arahnya dengan pandangan lurus, tatapan mata mereka sempat bertemu sebelum Sakura mengalihkan pandangannya. Sasuke mengernyit saat dengan entengnya Sakura berjalan melewatinya. Ia berjalan lurus ke tempat Hinata tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun. Sebenarnya ada apa dengan Sakura? Apa yang salah dengannya?

.

.

.

To be continue

Maaf mungkin akhir-akhir ini updatenya gaakan cepet ya, aku udah mulai bingung atur konfliknya hehe.. terimakasih untuk review, favorite, dan follow fict ini^^ seneng banget dapet respon yang baik disini.

Pengen banget baca fict SasuSaku yang di dunia ninja sebelum mereka punya Sarada terus nyambung ke gaiden tapi belum nemu kayaknya ceritanya, malah banyak nemu fict rate M yang makin lama makin banyak huhu...