"Hai hyung," Sapa Sehun ketika ia sampai di dalam ruangan Joonmyeon.
Ruangan tempat Joonmyeon bekerja cukup luas. Ada beberapa rak di sudut ruangan yang berisi banyak sekali buku, meja kerja di tengah salah satu sisi ruangan beserta kursinya, kemudian ada satu set sofa dan meja kopi di tengah ruangan juga beberapa dekorasi ringan lainnya.
Ia mengangguk paham, semua yang ada di ruangan Joonmyeon adalah jelmaan dari setting ruangan CEO yang biasa ada di drama-drama picisan yang ibunya nikmati.
Joonmyeon sendiri tengah sibuk menandatangani entah apa di balik meja kerjanya. Sapaan Sehun tadi juga tidak berpengaruh apa-apa jika melihat reaksinya sekarang —tetap fokus pada pekerjaannya.
Dengan inisiatif yang telah terlatih, Sehun berjalan pelan mendekati Joonmyeon. "Wah, kau bisa mati tersedak pulpen jika terus-terusan duduk disana hyung." Katanya tepat ditelinga Joonmyeon, suara sengaja dikeraskan.
"Sial Sehun! Jangan membuatku kaget!" Umpatnya berang. Ia melepas kacamatanya lalu menatap Sehun sengit.
"Apa maumu?" Tanyanya malas. Ini adalah hal yang sangat jarang Sehun mengunjunginya di tempat kerja. Oh, mungkin pertama kalinya? Entahlah, ia sendiri pun tidak ingat, yang jelas sangatlah langka melihat Sehun mau masuk ke dalam perusahaan seperti sekarang ini. Ia tahu ketidaksukaan Sehun atas instansi seperti ini.
"Santai saja hyung. Lagipula ini sudah sampai pada jam makan siang," Sehun mengendikkan bahunya. Ia menatap Joonmyeon lama.
"Jangan tertawa," Titahnya. Joonmyeon hanya menganggukan kepalanya setuju. "Aku akan segera bekerja di perusahaan abeoji."
Seketika, setelah Sehun menyelesaikan kalimatnya Joonmyeon jatuh dari kursinya.
"A-apa?"
Title: So My Wife Is A Guy?
Author: sunsehunee / seukkhy
Main Pairing: HunHan
Genre: Romance, family, comedy gagal, AU, Yaoi
Rating: T+ kayanya._.
Leght: Chaptered
Summary:
Hidup Oh Sehun berubah drastis setelah menemukan seorang anak -kandungnya- di pintu rumahnya. Dan parahnya, ibu dari anak itu seorang namja!
WARNING: INI CERITA BL, KALAU GA SUKA PLIS JANGAN BACA. DAN TOLONG REVIEW THANKS
A/N: Maaf untuk lamanya update. Semoga pintu maaf masih dibuka untuk saya T^T chit-chat ada dibawah, kalau berkenan baca :D last happy reading ya!
.
.
chapter 9: The Begining
.
.
Ada yang salah dengan kepala keluarganya.
Begitu pikir Sehun. Ia merasa kalau keputusannya untuk meneruskan usaha yang ayahnya rintis bukanlah sebuah kejahatan. Tapi melihat reaksi semua orang yang telah ia beritahu tentang rencananya itu tampak seperti dunia akan berakhir esok. Berlebihan.
Joonmyeon mengelus-elus bokongnya yang baru beberapa saat lalu mengecup mesra lantai marmer.
Ia menatap Sehun dengan tatapan paling menyelidik yang ia punya. Keningnya berkerut memikirkan kemungkinan yang paling logis bagi Sehun sampai mengubah pikiran yang mati-matian ia tolak dulu.
Ketika sebuah alasan muncul di otaknya, Joonmyeon memyeringai. Ada perasaan senang namun khawatir disaat yang bersamaan ketika alasan itu muncul.
Dan jika orang tuanya tidak bertanya lebih lanjut mengenai alasannya yang berubah pikiran, maka ada pengecualian bagi Joonmyeon. Ingat, disini Joonmyeon mengetahui hal yang menjadi masalah terbesar dalam hidup Sehun, jadi wajar saja jika ia merasa curiga.
Joonmyeon duduk di sofa ruangan kerjanya dengan wajah serius. Sehun sampai merasa tidak nyaman duduk di sofa mahal nan empuk itu jika tetap diberikan pandangan menyeramkan seperti itu.
"Katakan Sehun," Ulang Joonmyeon. Sehun mulai merasa ini seperti de javu. "Alasan kau berubah pikiran, apakah ada hubungannya dengan Luhan?"
Sehun menggaruk tengkuknya ragu. Ia meringis, "Y-yeah, bisa dibilang seperti itu."
Sebelah alis ia naikan, "Kenapa?"
"Jika tidak begitu Luhan tidak akan menerimaku dan kau akan membunuhku?" Jawab Sehun ragu, namun pada akhirnya ia mengendikkan bahunya tak tahu.
Joonmyeon menepuk dahinya dramatis, "Ya tuhan, bisakah kau sekali saja melakukan sesuatu dengan tulus?" Erangnya kesal. Selama ini, apa yang ada di otak Sehun hanya ada perintah saja?
Namun, otak Sehun tidak lebih berat dari kapas.
"Hah?"
.
.
Setelah berbincang dengan kakak sepupunya -atau mungkin saling berteriak satu sama lain karena suatu alasan yang Sehun tak ketahui kenapa- mereka telah mencapai sebuah kesepakatan, Joonmyeon setuju untuk membantu Sehun mengurus perusahaan untuk sementara waktu.
Dari percakapan Joonmyeon dan juga keluarganya hari ini, ia dapat menarik beberapa poin penting untuk satu minggu kedepan.
Ia akan mulai bekerja esok hari, hanya semacam acara pengenalan lingkungan kerja saja. Kemudian dilanjutkan dengan privat manajemen di rumah orang tuanya pada sore hari. Dan hari kerja sesungguhnya akan terjadi dua hari lagi.
.
Sepanjang hari itu Luhan kembali menjadi orang dengan emosi tidak stabil. Ia bahkan sampai menjambak rambut Jongdae saking kesalnya, yang dihadiahi dengan erangan malang pemuda itu. Dampak yang diberikan sebagai efek kekesalan terhadap kecerobohan dirinya berimbas pada orang lain. Dan sayang sekali orang lain tersebut adalah Jongdae.
Puncak kekesalannya adalah sore ini, sebelum kelas terakhir mereka, si keparat nan bodoh Oh Sehun -panggilan baru dari Luhan untuk Sehun sejak tadi pagi- itu mengiriminya pesan melalui Line. Hanya berisi sebuah stiker mengibaskan rambut saja sebenarnya, tapi baginya yang mengetahui maksud terselubung dari stiker tersebut, itu sama saja seperti sebuah ajakan perang.
Sehun mungkin sedang menyombongkan dirinya disana karena telah berhasil selangkah lebih maju untuk memenangkan taruhannya.
"Si sialan itu," Luhan bersungut, muffin blueberry yang ia pesan tadi sudah tidak terlihat menggiurkan entah kenapa. Ia dengan menggebu mengetik beberapa kata sebelum mengirimkannya pada Sehun.
'Mati saja kau sana'
Diikuti dengan beberapa emoticon marah.
Seharusnya, percakapan berhenti sampai disitu. Luhan tengah marah, biasanya ia akan mengabaikan siapapun yang membuatnya marah. Ya, seharusnya seperti itu. Tapi setelah beberapa menit kemudian, pemuda manis itu tidak sedikitpun ada niatan untuk menaruh ponselnya. Sebaliknya, ia malah semakin gencar membalas pesan-pesan yang dikirimkan oleh Sehun. Jongdae yang baru saja kembali dari toilet sampai menatapnya bingung.
Pemuda itu mencuri pandang ke layar ponsel Luhan dan keningnya semakin berkerut.
"Aku baru tahu kalau kalian akrab seperti itu," Ujarnya tiba-tiba. Ia mencomot sebuah macaroon lalu memakannya.
Luhan menghentikan kegiatannya lalu memandang Jongdae bingung. "Siapa?" Tanyanya. Ia menoleh ke belakang tubuhnya lalu menatap Jongdae lagi. Yah, siapa tahu pemuda itu tengah bicara pada orang lain selain dirinya.
Jongdae berdecak malas. Ia menunjuk Luhan dengan telunjuknya yang penuh dengan krim keju dari red velvet yang baru ia makan. Luhan menatapnya jijik karena kebiasaan Jongdae yang senang makan menggunakan tangan kosong. "Kau. Dan. Oh. Sehun." Katanya sengaja dilambatkan. Ternyata, intensitas kebodohan Luhan akan semakin bertambah jika telah berhubungan dengan Sehun sebelumnya.
Luhan menatapnya tajam. Apa-apaan Jongdae itu. Disini ia adalah yang paling tahu kalau ia sangat tidak menyukai Oh Sehun. Sebut saja pemuda albino itu adalah musuhnya.
Jadi, secara teknis, bagaimana mungkin ia bisa dikatakan akrab dengan musuhnya sendiri? Dikatakan mengenal Sehun saja Luhan belum tentu akan menerimanya, bagaimana dengan akrab. Membayangkannya saja ia sudah merinding tidak karuan.
Luhan menaruh ponselnya asal di atas meja.
"Kau melihat isi ponselku?" Tanyanya terus terang pada Jongdae yang masih sibuk dengan macam-macam makanan yang ia pesan tadi. Nadanya sarat akan ketidaksukaan. Yang ditanya hanya mengangkat bahunya tidak peduli.
"Tidak juga, aku hanya melihat kau sedang chatting dengan Sehun," Jongdae menjawab dengan tak acuh. Dan memang seperti itu kenyataannya, ketika ia mencuri pandang ke layar ponsel Luhan ada nama Sehun di kepala ruangan chattingnya. Ia tidak salah kan?
Luhan meniup poninya. Benar-benar kentara sekali jika ia tengah meredam emosinya.
"Kau tahu apa yang dinamakan privasi bukan?" Luhan bertanya dengan emosi yang ditekan dalam-dalam. Tangannya disilangkan di depan dada, ia menatap Jongdae dengan sangat serius.
Jongdae berhenti mengunyah makanannya. Ia balik menatap Luhan. Hanya saja yang ia lemparkan adalah tatapan keheranan.
"Serius Luhan, kenapa kau jadi sesensitif ini sekarang?" Komentarnya, mau tidak mau kini Jongdae pun ikut merasa kesal. Ia hanya sekedar memastikan dengan siapa sahabatnya bertukar pesan, bukan membaca seluruh pesan Luhan hingga matanya keluar.
"Demi Tuhan itu hanya Sehun, jangan menjadi kekanakan,"
Alis Luhan menukik. Sedikit banyak ucapan yang lebih muda menyinggung perasaannya.
"Baiklah, aku memang kekanakan. Terimakasih untuk mengingatkanku tuan 'dewasa'," Sindirnya.
Ia melihat Jongdae sekilas sebelum berdiri untuk pergi kembali ke universitas. Luhan tidak menghiraukan panggilan Jongdae di dalam kafe.
.
.
"Tidak, coba yang warna abu itu,"
Seorang pelayan wanita berjalan dengan gesit mengambil barang yang diinginkan kemudian menyerahkannya pada seorang pria yang berdiri di depan ruang ganti. Wajahnya sudah menunjukkan gurat kelelahan dengan rambut yang sudah tak tertata rapi. Ia menatap wanita yang duduk di depan ruang tunggu dengan wajah memelas.
Ini sudah yang ke 10 kali ia mencoba bermacam-macam jas formal, dan semuanya ditolak.
"Sudah yang ini saja, noona. Aku suka warnanya," Kata Sehun lelah. Namun Sekyung menggelengkan kepalanya tegas. Ia mengamati penampilan Sehun dari atas kebawah dengan pandangan menilai seperti seorang fashion stylish profesional.
Sebuah decakan keluar dari bibir tipisnya.
"Sehun, warna biru yang seperti itu sudah agak ketinggalan zaman. Apa kau tidak malu menggunakan yang sudah tidak diminati banyak orang?" Sekyung bertanya kembali dengan nada yang sinis. Ia berjalan ke rak dengan puluhan stel jas lalu mengambil dua diantaranya.
Dengan gerakan yang sangat anggun —menurut Sekyung, bagi Sehun kakaknya lebih terlihat seperti akan jatuh— ia meletakkan kedua jas itu di depan wajah Sehun.
"Aku suka yang dua ini, menurutmu mana yang lebih bagus?" Tanya Sekyung. Ia melirik kedua jas itu bergantian lalu menatap Sehun meminta jawaban.
Di tangan kanan Sekyung ada stelan jas hitam dengan aksen-aksen rumit dari bagian kerah depan sampai ke batas rusuk. Dan ditangan kirinya jas berwarna abu-abu dengan aksen yang sedikit lebih rumit dari sebelumnya.
Sehun mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Mungkin, bagi Sekyung dan orang-orang satu spesies dengannya, kedua jas itu memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Namun bagi seorang yang membenci pekerjaan dengan jas omong kosong sepertinya, semua jas adalah sama.
Sambil menggaruk pelipisnya, Sehun sudah punya jawabannya sendiri.
"Kurasa itu sam—"
"Kumohon jangan jawaban itu Sehun!" Sekyung memekik kesal. Ia melepar kedua jas itu pada pegawai di sampingnya lalu meraih wajah Sehun dengan jemarinya yang panjang.
Ia mengarahkan wajah adiknya untuk melihat sekeliling toko dengan mata elangnya.
"Lihatlah adikku sayang. Lihatlah dengan cermat. Jas jas ini sungguh berbeda. Benar-benar berbeda." Kata Sekyung penuh penekanan pada kalimat terakhir.
Sehun melepaskan cengkraman kakaknya lalu menatapnya marah. "Noona ini kenapa?!"
Sehun melepas jas yang tengah ia gunakan kemudian memberikannya pada pegawai disana. Ia masih menatap tajam kakaknya.
"Kenapa belanja sore hari ini menjadi lebih rumit dari perkiraanku. Kenapa tidak ambil beberapa potong lalu kita pulang?"
Kedua kakak beradik itu saling melayangkan tatapan sengit. Atmosfer yang tercipta jadi sangat canggung sekaligus mencekam. Para pegawai disana pun rasanya enggan untuk menggerakkan tubuh mereka walau hanya seinchi.
"Bukankah kau yang pertama kali mengajak dan meminta saranku? Yasudah kalau begitu kau lakukan pekerjaan ini sendiri," Dengan itu Sekyung langsung menyambar tas selempangnya yang bermerek Prada lalu meninggalkan Sehun sendirian di dalam toko. Pulang menuju rumahnya bersama kedua orang tua.
Sehun mendesah lelah. Ia melirik tumpukan jas yang tidak jadi ia beli tadi. Kemudian memanggil salah seorang pegawai yang melintas di dekatnya.
"Tolong kirimkan seluruh stel jas di katalog terbaru ke alamat ini," Ia menuliskan sesuatu di kertas kecil. Lalu menyerahkannya pada pegawai itu.
Wanita itu memasang wajah heran sekaligus ragu. "Maaf tuan tapi—"
"Aku akan membayarnya sekarang juga,"
.
Sehun memasuki rumah orang tuanya lagi. Rasanya setelah berhubungan dengan Luhan, frekuensi kunjungan ke rumah orang tuanya semakin sering. Entah ini adalah sesuatu yang patut disyukuri ataukah tidak, tapi mengingat tujuannya datang kesana bukanlah sebuah wujud kebaktian seorang anak terhadap orang tuanya, mungkin itu adalah sebuah kesialan.
Senyuman hangat ibunya adalah yang pertama kali menyambutnya ketika ia sampai di kediaman CEO Haemyung Industries.
Suasana yang tercipta di dalam rumah itu sangatlah hangat. Setidaknya sampai Sehun berdiri canggung di depan kamar kakaknya.
Terlihat ibunya yang baru menaruh nampan makan malam di laci dengat pintu kamar kakaknya. Ketika wanita itu melihat Sehun ia tersenyum.
"Semangat ya, anakku," Ibunya berkata seraya menepuk bahunya dramatis.
Sehun menatap punggung ibunya yang menjauh dengan pandangan aneh. Benar-benar ada yang salah dengan kepala keluarganya.
Tok Tok Tok.
Pintu diketuk tiga kali, setelah itu terdengar teriakan dari dalam yang menyuruhnya pergi. Tapi bukan Sehun lagi namanya jika langsung menyerah hanya karena di teriaki seperti itu.
"Noona, aku tahu aku salah. Aku minta maaf,"
Hening. Bahkan Sehun sendiri sampai bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri. Okay mungkin juga tidak.
Sehun sangat paham, kakaknya masih marah. Itulah sebabnya kenapa wanita itu enggan hanya untuk sekedar membalas perkataannya. Bukan mencoba untuk membela diri, tapi Sehun sendiri yakin jika kejadian tadi sore bukan sepenuhnya kesalahannya. Ia hanya mencoba untuk mencari jalan tengah karena mereka tidak mungkin akan menghabiskan waktu semalaman hanya untuk memilih satu atau dua pasang jas.
Sehun tak ingin pantang menyerah, ia mengetuk pintu itu berulang-ulang. Berharap jika kakaknya akan membukakan pintunya sekali saja dan mendengar permintaan maafnya.
Jika dipikir-pikir, kenapa hidupnya akhir-akhir ini hanya dipenuhi oleh memohon maaf juga kesempatan kepada orang-orang? Ah, tidak, ia tentu akan menolak jika kau bilang hidupnya menyedihkan. Mungkin istilah lebih halusnya untuk saat ini hanya 'kurang beruntung'.
.
.
"Seharusnya kau meminta maaf sejak tadi sore. Apa-apaan kau ini baru meminta maaf setelah berjam-jam?"
Tepat pada saat ini, detik ini, seorang Oh Sehun tengah mendapat semburan penuh kasih sayang dari kakaknya. Oh dan ya, kakaknya sudah mau berbicara dengannya, bahkan menatap wajahnya. Jangan tanya kenapa, mungkin karena tas Prada terbaru di tangannya. Bersyukurlah karena setidaknya Sehun mengingat 'kebiasaan' kakaknya yang satu ini, jika tidak, mungkin saja pelatihan gratis untuk menjalankan perusahaan tidak akan pernah tercapai sampai keberadaan Luhan beserta Ziyu ditemukan.
Hiperbolis.
"Tapi aku belum memaafkanmu," Ucap Sekyung tiba-tiba. Ia segera memeluk tas barunya erat-erat ketika melihat tangan Sehun terangkat hendak meraih tasnya itu.
Sehun memasang wajahnya kesal. Ada yang terlewatkan olehnya. Kakaknya itu sedikit licik untuk ukuran wanita cantik dari keluarga yang lebih dari sekedar berkecukupan. Dan ini sangat menyebalkan.
Sehun mengusap wajahnya frustasi.
"Yah, harusnya aku sudah mengetahuinya. Bernegosiasi denganmu memang tidak akan mudah,"
Sekyung mendecakkan lidahnya, setelah itu tersenyum miring.
"Wah," Decaknya kelewat heboh. "Aku tidak tahu setelah tidak bertemu sekian tahun kau malah semakin memgenalku," Sehun menatap Sekyung datar atas ucapannya. Yang Sehun tahu saat ini adalah kakaknya super duper menyebalkan dibanding yang lalu-lalu.
"Noona, hentikan. Lebih baik segera katakan apa yang kau inginkan,"
Senyum Sekyung semakin melebar. Sebuah indikasi tidak baik bagi Sehun —alarm biologis.
"Senang sekali bisa bernegosiasi denganmu adik kecilku,"
.
.
.
Ziyu memperhatikan wajah Luhan dengan seksama. Kepalanya ia miringkan ke kanan dan ke kiri bergantian dengan imutnya. Matanya berkedip beberapa kali ketika ibunya menjambaki rambutnya penuh keputus asaan.
Bukan tanpa alasan Luhan menjadi seperti itu. Malam itu, ketika ia tengah melakukan rutinitasnya mengecek kondisi kafenya lewat email —Luhan memantau hanya lewat email—, salah dua poin yang dilaporkan manager kafenya mengatakan jika kaca jendela pecah karena ada segerombol anak-anak yang bermain bola di dekat kafenya lalu kabur secepat kilat setelah memecahkan kaca. Yang kedua adalah supplier biji kopi langganan mereka terlambat mengirimkan barang karena cuaca yang buruk. Padahal, stok biji kopi mereka sudah menipis.
Dua permasalahan ini membuatnya sedikit lebih frustasi setelah ditimpa masalahnya bersama Sehun.
Luhan dapat langsung menyimpulkan jika ini adalah bencana besar. Ia ingin menangis, tapi harga dirinya mengatakan untuk tidak menangis. Tidak jika ada seseorang yang tengah memperhatikanmu dari balik matanya yang bulat dan indah.
Setelah membalas email manager kafenya dengam mengatakan bahwa ia akan mengunjungi kafe esok hari dan menghubungi pihak penyalur biji kopi malam ini, ia mendekati anaknya yang duduk di sofa. Mengamatinya dalam diam sedari tadi tidak membuat Luhan tak sadar kalau dirinya tengah diperhatikan.
Ia mengusak pelan rambut anaknya. "Kau belum tidur," Katanya retoris. Ziyu mendongak untuk menatap wajahnya.
"Kenapa eomma berwajah seperti itu?" Ziyu bertanya tiba-tiba. Ia kemudian meniru ekspresi keputusasaan Luhan beberapa saat yang lalu ketika jawaban yang ia dapatkan hanyalah sebuah wajah kebingungan Luhan.
Luhan tertawa renyah menanggapi pertanyaan anaknya. Ia membawa Ziyu duduk mendekat. "Eomma hanya sedang banyak pikiran," Luhan menjawab dengan santai. Dan seperti perkiraannya, Ziyu tentulah akan bertanya kembali padanya mengenai apa saja yang ia sedang pikirkan.
"Hanya beberapa pikiran mengenai pekerjaan dan—" Luhan memasang ekspresi bingung, haruskah ia memasukkan yang satu ini ke dalam jawaban? Tapi semuanya sudah terlanjur, mulutnya bahkan tak dapat diajak kompromi meski hanya beberapa detik. "—Oh Sehun,"
Wajah Ziyu terlihat lebih bersemangat daripada sebelumnya, tepat setelah ia mendengar nama ayahnya disebut-sebut.
"Benarkah? Apa yang eomma pikirkan tentang appa?" Tanyanya antusias. Ia naik ke atas sofa lalu mulai loncat-loncat di atasnya. Kelewat bahagia karena mengetahui ibunya sedang memikirkan ayahnya, padahal belum tentu yang ada dipikirannya sesuai dengan yang tengah Luhan pikirkan.
Yang jelas, apa yang kepala Ziyu pikirkan hanyalah jika ibunya memikirkan ayahnya maka itu adalah sesuatu yang baik dan patut untuk diapresiasi.
"Ziyu rindu pada appa. Appa sedang apa ya sekarang?" Gumamnya pelan di sela loncatan antusiasnya. Sedetik kemudian Ziyu berhenti, dilihat dari wajahnya ia seperti tengah berpikir mengenai sesuatu.
Anak kecil itu langsung turun dari sofa. Berlari kecil menuju kamarnya. Luhan memandangnya bingung. Kenapa ia terlihat sangat bersemangat seperti itu?
Tidak lama kemudian Ziyu kembali dengan selembar kertas HVS yang sekuat tenaga ia sembunyikan di balik tubuh mungilnya—meskipun itu sia-sia. Ia berjalan mendekat kearah Luhan dengan senyum tertahan.
Luhan tersenyum, ia akan mengikuti permainan anaknya. "Wah, Ziyu kenapa berlari ke kamar seperti itu?"
Anak itu cekikikan sebelum menggeleng polos. "Coba eomma tebak Ziyu bawa apa?"
Luhan tampak berpikir. Tidak mungkin ia akan langsung menjawab dengan benar, bisa-bisa Ziyu merengek karena mengira Luhan curang. Lagipula, ini kan namanya tebak-tebakan.
"Um... Tidak tahu, eomma sulit untuk menebaknya," Jawabnya dengan ekspresi kecewa. Terdengar kikikan imut Ziyu lagi. Anaknya dengan cepat mengeluarkan HVS yang tadi ia sembunyikan.
"Tada! Ziyu menggambar eomma, appa, dan Ziyu! Bagus tidak eomma?"
Ziyu menyodor-nyodorkan HVS itu dengan antusias. Di dalamnya ada 3 stick-man dengan ukuran yang berbeda. Disebelah kiri stick-man paling tinggi, lalu di tengah ada yang kecil, sedangkan sebelah kanan stick-man lebih pendek dari yang sebelah kiri. Semuanya tersenyum lebar sambil bergandengan tangan. Diatasnya sudah dilabeli dengan nama masing-masing; Sewun appa, Ziwu dan Lulu eomma. Sepertinya Ziyu masih berantakan dalam menulis.
Luhan bingung mau bereaksi apa. Hatinya berdetak hangat ketika melihat lukisan itu, tapi dengan segera ia tampik rasa aneh itu. Sinting, pikirnya.
Ia menatap Ziyu yang sudah menatapnya penuh pengharapan. Akhirnya dengan sedikit keterpaksaan Luhan mengelus surai Ziyu penuh kasih, ia tersenyum tulus. "Bagus sekali, Ziyu memang pintar,"
.
.
Pagi sekali, Sehun sudah bersiap dengan setelan kerjanya. Agendanya hari ini adalah meminta cuti kuliah lalu memfokuskan diri membina perusahaan. Mungkin ia bisa melanjutkan pendidikannya setelah mapan nanti. Toh ini perusahaan milik keluarganya, tidak akan ada yang berani protes mengenai akademiknya.
Ia berjalan turun menuju meja makan. Chanyeol dan Joonmyeon sudah menunggu disana dengan piring yang sudah hampir habis.
"Curang! Kalian tidak menungguku!" Sehun memekik tidak terima kepada dua kakak sepupunya itu. Joonmyeon sudah menoleh padanya kemudian mengendikan bahunya acuh. Sedangkan Chanyeol belum menatapnya sama sekali, baru setelah ia mencicipi kopinya ia hendak melancarkan niatnya mencemooh Sehun.
"Salahmu—UHUK," Matanya melotot manatap Sehun. Pandangnya ia sapu menilai pakaian Sehun dari atas ke bawah tanpa cela sedikitpun.
"Kau sering kerasukan apa sih akhir-akhir ini?" Tanya Chanyeol keheranan. Ia tahu Sehun itu ajaib, tapi tidak tahu kalau bisa sesinting itu.
Sehun menatapnya datar. Tidak berniat menjawab ataupun membalasnya dengan cemoohan yang menyakitkan. Sehun hanya duduk lalu memakan sarapannya dengan tenang. Ia harus segera menyelesaikan urusannya agar bisa bernafas lega.
Chanyeol beralih menatap Joonmyeon, meminta penjelasan atas kelakuan tidak masuk akal itu.
Tapi sepertinya Joonmyeon juga tidak ingin berkomentar banyak, ia hanya membalas tatapan Chanyeol seperti mengatakan 'nanti juga kau tahu'.
.
Ketika Sehun sedang berjalan di koridor universitas mereka, sedikit banyak ia berharap akan menemukan Luhan atau paling tidak hanya melihatnya sekilas jika keinginan yang pertama tidak terwujud. Sehun tidak tahu jadwal kuliah Luhan, tapi Kantor rektor satu gedung dengan fakultas Luhan.
Sehun tidak bisa memungkirinya, ia sering merasa jika ia merindukan Luhan. Ia tahu jika ia telah tertarik masuk ke dalam pesona Luhan. Siapa pula yang tidak akan terjerat pada pesonanya? Pria mungil itu manis, bahkan kelewat cantik untuk ukuran pria. Dan Sehun menyukainya. Apalagi ketika wajah itu tertekuk atau cemberut, sangat menggemaskan.
Tanpa sadar Sehun tersenyum seperti idiot. Ia sampai tidak menyadari jika objek khayalannya sekarang tengah menatapnya tajam dari jarak 5 meter.
"Wajahmu seperti orang mesum,"
Sindiran itu membuat Sehun terlempar kembali ke dalam dunia nyata. Di depannya kini sudah ada Luhan dengan pakaian casualnya berdiri sambil menyilangkan lengan di dada.
Sehun tersenyum 100watt.
"Hai, Luhan!" Nada yang digunakan dalam menyapa Luhan benar-benar terdengar sangat semangat. Niat awalnya, Sehun ingin memasang wajah paling bitch yang ia bisa. Membuatnya terlihat seperti bad boy lalu mencemooh Luhan hingga mereka bertengkar setelah itu dihukum lalu banyak menghabiskan waktu berdua kemudian hidup bahagia selamanya. Namun kemudian Sehun sadar diri, hidupnya bukan seperti drama picisan yang Joonmyeon tonton. Pada akhirnya ia hanya bisa bertingkah idiot karena ia tidak bisa menahan letupan-letupan yang menggelitik perutnya.
Luhan menatap penampilan Sehun yang kelewat rapi untuk datang ke universitas dan lagi gedung itu bukan gedung fakultasnya.
Terakhir kali ia bertemu Sehun di wilayah fakultasnya adalah karena pemuda itu sengaja mencarinya dan berakhir dengan mereka yang bersiteru karena lamaran bodoh.
Oh. Jangan-jangan—
Luhan menatap Sehun awas, "Apa yang kau lakukan disini? Ini bukan 'wilayahmu' kan?" Nadanya terdengar berbahaya. Tapi Sehun hanya tersenyum layaknya bocah. "Aku ada urusan disini," Jawab Sehun pendek.
"Urusan apa? Terakhir kau kesini hanya menambah beban pikiranku," Cela Luhan sinis. Ia menunjuk Sehun dengan tangannya, "Jangan-jangan kau mau melamarku lagi?" Tudingnya tidak tahu malu.
Sehun yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kau ingin aku menikahimu secepatnya ya?" Ledek Sehun. Ia mengangkat sudut bibirnya puas ketika mendapati wajah Luhan memerah karena malu. Sehun menepuk bahunya sekali. Ia sadar akan waktunya yang terbatas, jadi ia harus menyelesaikan pertemuannya dengan Luhan secepatnya.
"Daripada itu, kenapa tidak terpikirkan olehmu kalau aku kesini untuk mempercepat kemenanganku memenangkan taruhan itu?"
Itu adalah kalimat terakhir yang Sehun ucapkan. Lalu pemuda itu melenggang dengan santai melewati Luhan.
Tangan Luhan mengepal emosi. Ia menatap kepala belakang Sehun tajam, seolah-olah dapat melubanginya.
Tidak, Luhan harus menghentikannya. Ia tidak bisa membiarkan Sehun dengan mudahnya memenangkan semua ini.
.
.
.
Tu Bi Continyu
.
.
A/N:
Alohaaaaaa... Biarkan aku buang nafas lega dulu. Ini udah lama ada di draft tapi aku belum sempet publish. Baru kesampean sekarang :'
Ada yang masi inget sama ff ini? Jujur aja aku udah greget mau nyelesein ini tahun ini. Disusul ff lain juga. Doakan semoga bisa ya /cry/
Pertama-tama aku mau ngucapin makasih buat yang udah ingetin buat update, terus buat yang cape cape review—review kalian bikin aku inget biar ga ninggalin ff ini, yang fav/follow cerita absurd ini, juga buat sider yang udah baca juga. Aku sadar kalo sikap aku yg sering ninggalin ff-ffku itu bukan sikap yang baik, jadi aku mau minta maaf sebesar-besarnya. Azka emak minta maap epep ini belom gue selesein T^T
Lain dari itu, aku mau bilang untuk ff ini, I'm Not Cinderella juga 2 ff Chanbaek ku bakal aku pending dulu dan dilanjutkan kalau emang ada waktu. Engga janji update tiap minggu karena setelah lebaran aku mau fokus buat beresin ff Reign dan In My Room. Kalian bisa coba baca itu juga, dua duanya M lho /PLAK/ Jangan lupa review .g
Terakhir aku mau ingetin kalo ada waktu luang, boleh tinggalkan REVIEWNYA? Kecup basah dari anak HunHan ❤
P.S: KOTAK REVIEW SELALU MENUNGGU UNTUK DIBELAY :*
