Setidaknya membutuhkan waktu yang lama untuk tersadar dari apa yang baru saja dilakukannya. Sayup suara dari mulut ke mulut beberapa orang yang menyaksikan adegan bagaikan dalam drama masih saja berdengung berputar di dalam kepalanya. Menimbulkan sebuah gelombang bunyi yang memekakkan gendang telinganya. Akal sehatnya berteriak agar ia tersadar namun, egonya membiarkannya terbuai dalam lamunan semu disaat manusia lainnya memaki. Sehun masih terdiam, sedang seseorang yang lebih waras memilih untuk tersadar lebih dulu. Menyambar dengan cepat payung yang sempat merasakan tekstur kasar batu jalan. Bukan dengan sebuah tarikan lembut atau ajakan menyenangkan, namun bukan juga sebuah tindakan kasar yang akan melukai pergelangan tangannya. Jongin hanya menariknya dan membawanya menjauh bahkan sebelum ia sempat mengerti mengapa.

Sehun terdiam,

Masih tetap seperti itu.

.

.

.

Shoot Me!

Bagian sembilan

.

.

.

Sehun menolak, ketika lelaki yang menjadi alasannya berlari ditengah hujan, hendak membawanya memasuki sebuah garis tak kasat mata dihadapannya. Itu pintu apartemen Jongin. Bukan sebuah garis tak kasat mata, entah bersama ingatannya yang mana lagi, yang saat ini berbaur memenuhi kepalanya.

Sehun menahan dirinya, ketika Jongin menariknya sekali lagi.

"Aku tidak tau apa yang saat ini kau pikirkan," Jongin beralih menatap Sehun. "Setidaknya bersihkan tubuhmu, dan aku akan membiarkanmu melakukan apapun yang kau inginkan."

Jongin terhenyak dalam diam, ketika bias wajah Sehun yang menoleh padanya meskipun hanya beberapa detik bagaikan replika yang tidak pernah ia kenali sebelumnya.

.

.

.

.

Jongin sudah mengenal Sehun jauh sebelum Sehun tau siapa itu lelaki bernama Kim Jongin yang dalam persepsinya menjadi lelaki yang tiba-tiba datang dengan wajah datar sedatar aspal jalanan. Jongin sudah mengenal Sehun jauh sebelum pemuda itu tumbuh besar dengan tinggi yang hampir menyamai dirinya. Ia sudah mengenal Sehun jauh sebelum anak manja itu bahkan menginjakan kakinya di bangku Sekolah Dasar. Lelaki muda itu sudah mengenal Sehun jauh sebelum si pemilik kulit susu itu bisa membaca abjad dalam sebuah kalimat.

Jongin sudah mengenal Sehun jauh sebelum Sehun mengenalnya. Lelaki tan itu sudah lebih dulu memperhatikan Sehun dalam diam. Lelaki tan itu sudah lebih dulu menjaga pandangannya untuk terus tertuju pada pemuda belasan tahun itu.

Tanpa sedikitpun Sehun tau tentang itu.

.

Dan Sehun mengenal Jongin hanya ketika takdir membawa keduanya bertemu dalam sebuah hubungan tak terduga dengan Yifan sebagai ibu perinya.

.

.

.

Sehun menatap tumpukan baju yang Jongin letakan di sebuah bagian kering di dalam kamar mandinya. Sebuah baju putih polos dengan lengan kepanjangan dan sebuah celana Training besar yang juga panjang.

Kepalanya sakit. Ia tidak terbiasa dengan hujan, dan beberapa hari ini ia merasa seperti seorang bocah yang merengek untuk main hujan-hujanan pada ibunya. Ia menghela napas, menjilat bibirnya yang beberapa menit lalu dirasanya masih lembab. Sehun meringis, enggan meninggalkan kamar mandi. Bagaimana ia harus menghadapi Jongin?

Ia menghela napas sekali lagi, mau tidak mau ia memang harus menghadapinya.

Dan pemandangan yang pertama kali ditangkap kedua matanya ketika baru saja melewati pintu kamar mandi adalah bayangan Jongin dengan dua buah gelas lucu diatas counter dapurnya. Sehun sebut gelas lucu karena salah satu gelas itu bergambar larva kuning. Tiba-tiba teringat masa lalu, saat dengan bodoh ia merecoki Jongin seminggu penuh untuk ponsel kesayangannya.

Sehun mendekat dengan langkah perlahan, sampai saat dimana pergerakaannya tertangkap pandangan mata Jongin. Jongin menoleh, langkah Sehun terhenti. Kedua iris malam Jongin yang terlihat lelah memandangnya lekat. Sehun belum sempat menghindar. Ia tanpa sengaja menatap Jongin yang juga menatapnya. Namun, Sehun bukan Jongin. Ia menjadi pihak yang lebih dulu memutus kontak mata antara keduanya.

Hening menyergap datangnya malam, suara rintik yang sayup terdengar seolah menjadi musik pengiring lain diantara bunyi mendenging di dalam ruangan.

"Kau marah?" Sehun bertanya, entah pada Jongin atau jemari kakinya. Pandangannya lurus kebawah, menatap kakinya, namun bicara untuk Jongin.

"Menurutmu?" Jongin tidak menoleh pada Sehun, ia masih saja sibuk dengan dua buah gelas lucu dihadapannya. Membuat segelas coklat hangat dan segelas kopi.

"Kau marah." Sehun menunduk dalam-dalam. Memainkan jemari tangannya gelisah. Jongin pasti marah, siapapun pasti akan marah kalau di perlakukan seperti itu. Namun, bisakah Jongin lihat ketulusan dalam hatinya? Bisakah Jongin merasakannya?

"Lalu kenapa kalau aku marah?"

Kepala Sehun semakin tertunduk, dengan bibir yang dikatupkan rapat-rapat. Dan mata yang hampir memberat. Sehun terdiam, memilin ujung bajunya. "Ma—maaf.." ia bergumam takut-takut.

Jongin mengalihkan perhatiannya pada pemuda manis yang berdiri tak jauh darinya itu. Memandangannya sejenak, kemudian berjalan mendekatinya, berdiri tepat didepannya dengan sengaja membuat kedua ibu jari kaki mereka bertemu. "Kau cengeng sekali akhir-akhir ini." Ujarnya dengan nada rendah, ketika Sehun terdiam cukup lama.

Sehun menggeleng pelan membantah perkataan Jongin. Ia tidak pernah rela dibilang cengeng meskipun dalam keadaan berlumuran air mata dengan segukan tangis memenuhi gendang telinganya. Ia tidak cengeng.

"Aku hanya merasa bersalah, bukan berarti cengeng. Aku tidak cengeng!" Sehun cemberut. "Maaf.."

Jongin mengusak rambut Sehun, terdiam beberapa saat. "Tidak ingin memelukku?"

"Eh—" pipinya merona merah, "bo—bolehkah?" Ia bergumam lirih nyaris tak terdengar.

"Aku sudah berada sedekat ini 'kan?" Jongin menahan senyumnya. "Tidak berani memelukku, tapi berani menciumku ditengah keramaian?"

Sehun tidak ingat pernah merasakan suhu air yang mendidih atau tidak, tapi rasanya panas sekali sampai-sampai ia merasa kalau kepalanya sudah mengeluarkan asap tebal. Wajahnya memerah seperti warna merah yang paling merah.

Ia sempat merutuki Jongin ditengah rasa bersalahnya pada lelaki tan itu. Tapi, Jongin memang seperti itu 'kan? Ia tidak pernah mengatakan ia marah pada Sehun, tapi ia akan mendiamkannya untuk membuatnya merenungi sendiri apa yang telah ia lakukan.

Jadi, bagaimana mungkin Sehun rela berpisah dengan Jongin, jika lelaki tan itu seperti ini?

Kepalanya terjatuh diatas bahu Jongin, tangannya meraih kanan dan kiri sisi tubuh Jongin, meremat pakaian lelaki tan itu hingga kusut. Tidak benar-benar memeluknya, ia hanya butuh bersandar.

"Jongin tidak marah 'kan?" Sehun berkata pelan, nyaris tidak terdengar. Ia memejamkan matanya ketika merasakan Jongin menggeleng, sambil berbisik.

Diam-diam ingatannya membawa Sehun pada perkataan Yifan. Ia mencengkram baju Jongin kuat, napasnya memberat dan matanya memanas.

"Apa yang kau dengar dari, Yifan?"

Sehun tidak menjawab, hanya terdiam menekan permukaan bibirnya pada bahu Jongin. Menggeleng pelan.

.

.

.

.

.

Sedangkan jauh disana, Yifan terdiam menatap rintik air hujan yang jatuh membasahi jalan dari balik jendela kaca kamarnya. Berembun dan menguap.

Teringat masa lalu.

.

.

.

"London?" Sehun tersentak dengan mata melebar penuh. "Kenapa harus ke London?"

Jongin melirik Sehun yang kini menghadapkan tubuhnya pada Jongin. Menatapnya dengan tatapan menuntut.

"Kenapa harus ke London, Jongin!" Ia kembali bertanya tak sabaran, karena Jongin tak kunjung menjawabnya.

"Tidak ada hanya ingin melanjutkan sekolahku saja."

Sehun menghela napas. Jadi, dia berlari-lari seperti orang gila hanya untuk mendapatkan jawaban seperti itu. Sehun memeluk bantal yang dipangkuannya, meletakan dagunya diatas permukaan bantal itu. "Kalau hanya ingin melanjutkan sekolahmu di Seoul juga bisa 'kan? Kenapa harus jauh-jauh!"

Jongin terkekeh. Kemudian menahan tawanya saat Sehun menatapnya jengkel. "Memangnya kenapa?"

Sehun mengalihkan tatapannya, enggan berhadapan dengan Jongin.

Kenapa juga dia harus tanya? Bodoh sekali sih!

"Aku yang akan melanjutkan sekolahku kenapa kau yang repot?"

Sehun bungkam, lagi-lagi perasaan aneh itu menggelitik hatinya. Ribuan kosa kata yang berada diujung lidahnya terpaksa kembali ditelannya bulat-bulat. Sehun biasanya tidak pernah mau kalah jika sudah berdebat dengan Jongin. Tapi saat ini dia dibuat diam seribu bahasa dengan mudahnya.

"Kenapa kau repot-repot melarangku untuk pergi?"

Entah siapa yang bodoh. Sehun hanya terlalu malu untuk bilang, kalau dia menyukai Jongin. Seharusnya Jongin tau meskipun dia tidak mengatakannya 'kan! Jongin 'kan pintar. Tapi, Sehun lupa kalau Jongin bukan seseorang yang bisa menebak perasaan orang lain.

"Aku tidak tau, akan ada seseorang yang begitu takut kehilanganku saat ini." Lagi–lagi Jongin terkekeh.

Telinga Sehun panas. Maka dengan satu gerakan tangan ia melemparkan bantal sofa didadanya tepat ke wajah Jongin. Masa bodo' kalau Jongin jadi jelek setelahnya.

"MATI SAJA KAU SANA!"

Dan Sehun melangkah cepat menjauhi Jongin memasuki kamar lelaki tan itu, tidak lupa dengan membanting pintunya. Tapi, ia lupa satu hal. Kamar itu adalah kamar Jongin

"Galak sekali."

Sehun marah, bukan karena Jongin yang meledeknya. Ia marah karena jawaban yang harus dilontarkannya hanya iya dan iya saja. Ujung-ujungnya pasti masih alasan yang sama. Sehun tidak ingin Jongin pergi. Setidaknya setelah dia berhasil membuatnya merasakan ribuan kupu-kupu melayang di dalam tubuhnya untuk pertama kali dalam hidup.

Sehun jelas tidak ingin kehilangan figur Jongin, disaat perasaannya tengah meluap-luap seperti saat ini.

Sehun sudah siap dengan tangan di kenop pintu untuk menguncinya. Namun, dorongan tiba–tiba dari luar membuatnya terkejut setengah mati. Hampir terjungkal.

Sehun berteriak, merutuk tindakan Jongin. Belum sempat tersadar, tiba–tiba saja Jongin sudah berada di dalam satu ruangan dengannya. Tangan lelaki tan itu meraba pintu dibelakangnya kemudian menguncinya.

Mata Sehun melotot, firasatnya berkata sesuatu yang buruk akan terjadi. "YA! Kenapa kau kunci pintunya!"

Jongin tak menjawab, ia berjalan mendekati Sehun. Dan si pemuda manis itu malah beringsut mundur.

"Ada apa denganmu!" Sehun was-was. "Jangan macam-macam!"

Entah Sehun bermimpi atau tidak, tapi Jongin seperti mengeluarkan aura gelap, membuat jantungnya berdebar.

"Jangan mendekat lagi! Kau ini kenapa sih!" Sehun berteriak putus asa. Kakinya membentur meja nakas Jongin. Sehun menoleh, dan mengerang frustasi setelahnya. Siapa sih yang taruh meja disini!

Yang lebih muda menekan dada Jongin dengan telapak tangannya. Jongin sudah berdiri terlalu dekat. Hati Sehun mungkin meledak karena euforia menyenangkan ini.

Jongin mengulurkan sebelah tangannya ke sisi tubuh Sehun, menapak pada dinding dibelakang nakasnya. Sedangkan Sehun terduduk diatas nakas, mencoba mengikis sedikit saja jarak antara dirinya dan Jongin. Sehun sadar berdekatan dengan Jongin seintim itu tidak baik untuk kesehatan. Apalagi kesehatan jantungnya.

Tapi, Sehun terkejut ketika kepala Jongin justru terjatuh dibahunya. Memaki dirinya sendiri yang sempat berpikir bahwa Jongin mungkin akan menciumnya. Membuatnya merona sendiri hanya dengan memikirkannya.

Sebuah gumaman pelan dari Jongin membuatnya harus menajamkan pendengarannya. Jongin berbisik, membuat sebagian bulu kuduknya meremang.

"Empat tahun."

Dahi Sehun berkerut.

"Maukah kau menungguku?"

Sehun tersentak, meremas baju didada lelaki tan itu, kemudian menunduk sedih. Kepalanya terus mengulang perkataan Jongin, seperti kaset.

'Maukah kau menungguku?'

"Asalkan kau berjanji akan kembali." Sehun sedikit mendongak. Namun, Jongin tidak menatapnya, ia masih saja dengan lamunannya sendiri. Sehun jadi menerka-nerka apa yang mungkin tengah Jongin pikirkan atau apa yang menjadi beban Jongin?

Jongin kelihatan lelah akhir-akhir ini, seperti tengah memikul sesuatu yang berat. Dan Sehun kecewa saat ia sama sekali tidak tau apa alasannya. Jongin bukan seseorang yang akan mengumbar apa yang dirasakannya memang. Sehun diharuskan berjuang ekstra keras untuk tau, satu saja masalah Jongin.

"Mau tau sesuatu?"

"Tentang apa?"

Tangan Jongin berpindah memeluk Sehun.

"Kau hangat."

Sehun terbatuk singkat, memukul kepala Jongin. "Bodoh!" Wajahnya pasti sudah lelah untuk merona lagi. Aduh tapi hatinya yang berdebar terasa sulit dikendalikan lagi. Rasanya seperti akan melompat keluar karena terlalu lelah dipuji.

Hening sesaat, sebelum sebuah suara aneh yang diyakini berasal dari Sehun membuat Jongin mengeryit dan melepaskan pelukannya. Menatap Sehun yang saat ini sudah memerah sambil memegangi perutnya.

"Aku belum makan apapun." Dan anak itu nyengir aneh. Menggigit lidahnya malu. Dalam hati merutuk.

Dasar perut pengganggu suasana!

.

Keduanya terdiam, satu bersandar pada dinding dan yang satu lagi menumpukan wajahnya pada tangan yang tertekuk, terduduk dengan meja di hadapannya.

"Tapi, aku tidak bisa masak." Jongin bersidekap.

"Lalu selama ini kau makan apa?"

Jongin mengendikan bahunya, "Noonaku yang membawakannya."

"Noona?" Dahi Sehun mengeryit.

"Perempuan yang kau temui beberapa hari lalu di dalam apartemenku."

Sehun ingat, pada saat dimana dia berlari seperti gadis patah hati saat mendapati wanita lain di dalam apartemen Jongin, dalam keadaan tidak baik (read: berantakan). Matanya membesar setelahnya.

"Di–dia kakakmu?"

"Aku kira ada seseorang yang baru saja menyadari kesalahpahamannya saat ini." Jongin menatap Sehun.

Sehun menunduk malu. "Aku tidak tahu.." ujarnya dengan nada berayun lucu.

Jongin memang sudah terbiasa memaklumi perilaku absurd Sehun, tapi lelaki tampan itu masih belum cukup terbiasa mendengar dan menyaksikan betapa lucu dan manisnya anak itu sekarang.

"Aku bisa membuat ramyun." Jongin berbalik membelakangi Sehun, mengambil dua bungkus ramyun di dalam kulkasnya.

Sehun tersenyum cerah, mendekati Jongin. Beberapa saat kemudian, keduanya sudah terlibat dalam pertengkaran kecil seperti Jongin yang berteriak meminta Sehun untuk duduk manis saja dan Sehun yang bersikeras membantu Jongin.

"YA! Kau menumpahkan airnya, Sehun!"

Dahi Jongin berkedut kesal.

.

.

.

.

Malam semakin larut. Suara dedaunan yang terbang tertiup angin, atau dedaunan yang bergemerisik diantara ranting daun terdengar jelas. Polusi suara yang dihasilkan manusia teredam dalam alunan dawai angin. Diam-diam angin menelusup, memasuki celah ventilasi menembus tebalnya dinding batu. Angin bahkan selalu mampu menyelinap masuk hanya dengan setitik lubang sekecil pasir.

Sehun memandang lurus langit-langit kamar Jongin. Entah mengapa kantuk tak juga menjemputnya. Berbanding terbalik dengan tubuhnya yang lelah. Sehun mendesah. Menoleh pada Jongin yang terlelap memunggunginya.

Sedikit merasa bersalah, pasti Jongin lelah sekali seharian ini. Ditambah lagi dia datang dan mengganggunya.

Lelaki itu tidak mengatakan apapun, dia tidak bilang apapun tentang perasaannya. Hanya sebuah permintaan, agar Sehun menunggunya. Lantas apa yang Jongin inginkan setelah ia menunggu? Sehun tidak paham, ia tidak mengerti.

Apa maksud Jongin? Bagaimana perasaannya?

Empat tahun bukan waktu yang singkat. Itu lama, teramat lama bagi Sehun. Ia tidak pernah tau berpisah disaat rasa cintamu sudah mencapai atap seperti saat ini akan terasa berat.

Mungkin Jongin kembali, mungkin juga tidak.

Mungkin Jongin menepati janjinya, mungkin juga tidak.

Atau mungkin Jongin memang menyukainya, tapi mungkin juga... tidak.

Memikirkannya saja sudah membuat ia patah hati begini.

Tangannya terulur. Menulis sesuatu di punggung Jongin.

.

.

.

.

Dan Jongin tersenyum ketika tahu apa itu.

.

.

.

.

'Joahaeyo.'

.

.

.

.

.

tobecontinued.

.

.

.

A/N: ada yang bersedia baca a/n saya? /krik krik krik/ jangkrikpun menjawab.

Kalo mau ngelempar sesuatu ke saya yang plis jangan piso atau kawan2, sehun kek gitu atau mikaela. Ahh mikaela~

Saya mau nyengir aja deh, abis bingung mau ngapain. Alasan saya lagi2 sama karena writer's block. Karena sesungguhnya wahai readerku, saya mempunyai waktu luang yang banyak sekali. Ha ha ha ha ha.

Kenapa disini isinya cuman kaihun aja? Karena saya pengennya gitu.

Kenapa juga saya meletakan tbc disitu? Karena saya juga pengennya gitu.

Kenapa ini pendek? Karena saya pengennya gitu.

Dan kenapa saya potong bagian klimaksnya? Karena saya pengennya—WOY TURUNIN GUE WOY!

Oke oke saya serius.

Biar geregetan gitu yegaksih? /krik krik krik/

Gak ya? Eheh

AKHIR KATA GOMENASAI~~~~!

Ps: chap selanjutnya mungkin end mungkin juga tidak~ /ketularan sehun/

Pyong~!

.

[Rilakkumahun - 20 Desember 2015]