Silhouette

Hetalia itu milik ABANG KETJEH HIMARUYAAAAAAH

Saya MAH yang nistain #ditabok

Warning: Typo, gaje, garing, aneh, krenyes-krenyes, tidak sesuai EYD, bahasa ancur, bahasa asing yang ancur, rating naik mendadak, crossover mendadak, author masih newbie, karakter yang dinistain, OOC, OOT, dll.

Rombongan mobil SUV hitam legam dari Swedia Utara itu sampai di sebuah mansion tua yang sudah tidak terurus bahkan banyak barang yang sudah usang dimakan oleh waktu di sana. Mereka memasuki area mansion tua bergaya inggris abad pertengahan yang terletak di Nörkopping tersebut. Di sana terdapat beberapa mobil yang terparkir di depan pintu masuk ke bangunan tak bertuan itu.

Berwald melepas ikatan seatbelt yang membelit dirinya dan bersiap-siap turun. Melihat itu, Mathias yang duduk di kursi tengah juga ikut melepas ikatan seatbelt dan turun dari mobil. Setelah mereka berdua turun, Berwald berpesan, "Jangan ada yang turun selain kami berdua sebelum ada sinyal untuk turun! Mengerti?"

Orang-orang yang berada di dalam mobil mengangguk mengerti, kecuali Wilhelm. Ia masih melihat ke arah jendela dan menghembuskan asap yang dihasilkan oleh rokok elektriknya.

"Wilhelm, rokok elektrikpun tidak diperkenankan di dalam mobil ini!" kata sang supir mengingatkan. Pria berjambul tulip itu sedikit malu dan mematikan rokoknya. "Maaf," katanya.

Berwald, yang diikuti Mathias dibelakangnya, mendekat ke arah mobil sedan mewah dari Italia berwarna hitam yang terparkir di depan mobil miliknya. Pria berwajah stoic itu mengetuk jendela belakang mobil mewah itu. Kemudian, kaca jendela itu turun.

"Selamat siang, Tuan Oxenstierna," sambut lelaki dengan wajah khas latin yang ramah itu dengan bahasa spanyol. "Apakah bosku aman bersamamu?" tanya pria itu.

"Tentu saja, tuan Carriedo. Jangan terlalu formal. Panggil saja aku Berwald. Bagaimana dengan keadaan sekitar dan kunci cadangannya?"

"Mereka aman bersamaku, tidak perlu khawatir! Belum ada tanda-tanda dari organisasi beruang putih itu. Bawalah kunci-kunci ini! Hei, apakah dia si Mathias? Aku sangat menyukai permainan perannya di film-film!"

Mathias menjawab pelan, "Iya, benar, aku Mathias. Siapa Anda?"

"Aku Antonio Fernandez-Carriedo. Aku anggota mafia yang berbasis di Belanda. Karena permintaan tuan Oxenstierna... maksudku Berwald, kami datang kemari. Istriku masih di Belanda sih, tetapi aku kemari bersama anakku, Lovino. Istriku pasti sangat senang jikalau bertemu denganmu. Kapan-kapan, mainlah ke mansion kami," jawab Antonio dengan senyum ramah khasnya.

"Terima kasih atas basa-basinya dan kita harus gerak cepat! Karena kita sudah keluar dari zona aman, jadi kemungkinan bahaya akan datang. Sebaiknya kita harus cepat menyelesaikan permasalahan ini!" kata Berwald. Pria tinggi berkacamata itu memberikan sinyal aman dan sinyal agar semua personil turun.

Berwald membuka gembok dan pintu utama mansion tua yang terkunci itu. Ia mempersilahkan Mathias untuk masuk ke dalam bangunan tua itu lebih dulu.

"Kenapa aku?" tanya Mathias agak bingung sekaligus merinding. "Apakah kau takut, Ber?"

"Tidak, kau adalah 'kunci' dari semua ini. Berkat amnesiamu, 'kunci' itu aman. Hanya saja, akan agak susah untuk membukanya," jawab Berwald dengan ekspresi amat kalem. "Ikuti aku!" perintahnya kepada Mathias. Karena rasa ingin tahunya, akhirnya pria berjambul pirang itu memilih mengikuti rekannya. Mereka melewati lorong-lorong yang amat berantakan. Kertas-kertas wallpaper yang dulunya indah itu sekarang sudah robek dan mengelupas. Di salah satu ruang utama juga ada seonggok chandelier yang jatuh dan pecah.

"Min Gud(1)... Apa yang telah terjadi?" kata Mathias dengan lirih.

"Kau akan mengingatnya... cepat atau lambat. Yang jelas, kita di serang dan bangunan ini dirusak. Para peneliti, termasuk kau dan aku ditahan. Hanya data dan hasil penelitian yang kau simpan yang aman dan tertinggal disini. Berkat tragedi itu, kau terkena shock dan kau merasa kita kembali ke masa dimana kita masih kuliah. Maaf jika aku tidak pernah mengatakan 'selamat tinggal' yang semu karena aku akan menjemputmu," jelas Berwald dengan wajah yang ia palingkan.

"Ber..." tangan Mathias mencengkram kedua pundak pria berkacamata di depannya. "Ke-kena... kenapa kau t-tidak memberi t-tahuku?" kata Mathias dengan suara lirih dan terbata-bata.

"M-maaf... a-aku.."

"Untuk apa? Melindungiku? Apakah itu cara yang tepat untuk melindungi 'seseorang'? Menurutmu, apakah aku orang yang pantas kau lindungi? Tidak! Aku tidak pantas untuk dilindungi! Justru kamu yang perlu perlindungan! Jatuh ke dunia kegelapan adalah sebuah tindakan yang amat bodoh, dan kau tahu itu! Aku memang orang yang amat urakan, tetapi... aku masih mengkhawatirkanmu. Mengkhawatirkan kalian semua dan kau tahu itu! Ber... aku tahu... aku amnesia. Tetapi... aku tahu... kau terkena masalah amat berat. Dan aku disini untuk membantumu. Apakah itu adalah salah satu alasan hadirnya seorang teman?" teriak Mathias. Ia berteriak dengan air mata yang mengalir deras.

Berwald mulai membuka mulutnya. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu. Napas berat nan hangatnya menyapu rambut kaku milik pria berdarah Denmark itu. "Bodoh... jangan meminta maaf kepada diriku. Namun, minta maaflah kepada dirimu karena kau sudah membuat dirimu menderita. Aku bukanlah korban disini, tetapi, kamulah korbannya. Jangan berlagak kau tersangkanya atau orang yang kuat disini. Aku tahu sifatmu, Ber. Jika kau butuh bantuan, kenapa kau tidak bilang saja?" tanya Mathias dengan suara yang lirih.

"Karena... aku tidak bisa. Kau selalu membantuku walau aku tidak bilang sepatah katapun. Kau memang menyebalkan, tapi... kau pantas dihormati. Jujur saja hatiku amat sakit jika kau terluka. Kau adalah bagian dari keluargaku walau kita tidak sedarah. Omong-omong, apakah 'mata batin' mu sudah terbuka kembali?"

"Kurasa, sudah. Aku bisa melihat masa depan... dan isi hatimu. Baiklah, mana yang kau ingin tunjukan?" kata Mathias dengan wajah yang kembali cerah. Berwald menyunggingkan senyuman sok kerennya.

"Baiklah, ikuti aku! Tidak jauh dari sini!" kata pria berwajah stoic itu. Mathias membalas senyuman itu. Ia merasa kembali ke masa kuliah.

Mereka menyusuri lorong-lorong yang agak panjang hingga menemukan sebuah pintu. Pintu itu amat berbeda dengan pintu-pintu yang lainnya. Hanya pintu itu yang terbuat dari titanium dan hanya pintu itu yang memerlukan kunci khusus untuk membukanya. Mathias berbisik kepada Berwald yang berada di sampingnya, "Hei, apakah kau tahu kuncinya? Sepertinya bukan kunci biasa." Berwald menatap wajah ingin tahu kawan lamanya itu. Lalu, ia menunduk. Ia menjawab, "Aku... tidak memegang kuncinya. Jujur saja, aku tidak mengerti tentang kuncinya. Hanya kamu, Kirana, dan orang jepang itu saja yang tahu. Kalian bertiga adalah pemegang kunci ruangan ini; rumah ini."

"Tunggu... Kirana dan Kiku pernah bekerja disini?"

"Pernah, tetapi hanya waktu yang sebentar. Mereka hanya membantu mengamankan hasil penelitian dan membuat kode pengaktifannya. Sebenarnya bukan hanya itu, tetapi hanya itu yang dapat ku ceritakan. Gadis Asia Tenggara itu harus kembali ke Belanda dan laki-laki Jepang itu harus menyelesaikan deadline entah apa yang ia kerjakan saat itu," jawab Berwald dengan agak kalem.

Mathias geregetan. Ia tidak tahu kode apa yang ia tulis pada saat itu. Ia merasa kepalanya menjadi agak berat. Karena ia tidak mau ambil pusing, ia mencoba menuliskan nomor teleponnya secara terbalik. Tunggu, ia ingat sesuatu. Ia pernah tidak sengaja menemukan semacam kalung dengan bentuk liontin kunci. Mungkin itu cocok jika dimasukkan ke dalam keyhole di sebelah pemindai iris matanya. Ternyata benar. 'Kunci aneh' itu memang cocok. Ia heran mengapa ia bisa berpikiran dengan menggunakan nomor teleponnya dan liontin yang terlihat 'wah' itu menjadi kunci ruangan ini pada waktu itu.

Pintu titanium yang massanya kurang lebih 350 kilogram itu terbuka. Mereka berdua masuk ke ruangan dibalik pintu logam yang amat berat itu. Berbeda dengan ruangan yang lain, ruangan itu hanya berantakan berkat huru-hara saat tragedi itu. Kertas-kertas berhamburan dan beberapa gelas kimia yang kosong pecah. Ada komponen-komponen elektrik yang rusak, terbelah menjadi dua, dan bersebaran di dekat kardus penyimpan.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Berwald saat melihat wajah Mathias agak terkesima dengan keadaan ruangan itu. Pria berjambul itu menjawab, "Aku merasa belum pernah melihat ruangan sekeren ini. Aku merasa kenal dengan keadaannya; begitu familiar. Aku belum pernah merasa senyaman ini, bahkan, ini jauh sangat berantakan dan lebih nyaman dari kamarku sendiri. Aku merasa, jiwaku berada di sini."

Ia berjalan ke sebuah komputer dengan layar LED yang amat besar dengan keyboard yang amat banyak dan rumit. Ia memasukkan sebuah liontin kunci ke dalam sebuah kotak dan mengambil sebuah key card di dalam kotak itu. Ia mulai mengaktifkan komputer itu dan memasukkan sebuah kode yang tidak sengaja ia pikirkan dan... kata sandinya benar. Saat ia mulai mengecek data-data yang pernah ia tulis, ia menemukan sebuah denah di dekat tangan kanannya, dan ia baru menyadari keberadaan denah itu. Denah itu menunjukkan denah dan tata letak ruangan di dalam ruangan rahasia itu. Seketika, ia merasa amat pusing dan akhirnya, ia terjatuh.

Berwald mendengar suara yang amat keras itu lantas membalikkan badannya dan berlari ke arah pria bermata biru tersebut. "Hei, ada apa?" tanyanya khawatir.

"Kurasa... ku telah melihat sesuatu... dan mengingat sesuatu yang amat esensial," jawabnya dengan lirih. "Tolong... dengarkan... b-baik-baik!" lanjutnya dengan suara lirih. Ia membisikkan sesuatu kepada pria Swedia berkacamata itu.

"Apakah... kau mengerti... apa yang kubicarakan barusan?" tanya Mathias. Berwald mengangguk mengerti dengan wajah agak sedih karena ia terlalu khawatir dengan pria bodoh yang agak lemas ini. "Bagus. Aku sudah ingat dimana 'harta karunku' itu berada. Tolong, ambilkanlah untukku! Maaf jika aku harus mengorbankanmu,"

"Bodoh! Bagaimana dengan keadaanmu nanti? Sekarang saja kau sudah seperti ini, apalagi jika kau melakukan hal bodoh semacam itu!" teriak Berwald dengan rasa khawatir yang sangat tinggi.

"Kau akan selalu menjadi korban jika kau menjadi 'pemeran utama'. Biarkan aku menggantikanmu, walaupun nanti aku harus menghilang selamanya. Aku ingat sekarang... kau juga orang penting di ruangan ini dan 'harta karun' itu juga menjadi buktinya. Kau tahu apa yang perlu kau lakukan sekarang, kan?" Berwald mengangguk dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Ambil denah dan kunci-kunci ini, pergi dan beritahu seluruh personil untuk bersembunyi di tempat paling aman disini, dan pergilah dari tempat ini! Ada sesuatu yang perlu aku lakukan," perintah Mathias sambil berdiri walau masih terhuyung-huyung.

"Aku tidak peduli siapa bosnya disini. Memang, kau pemimpin dari organisasi gelap ini, dan seorang pemimpin harus bergerak cepat dan menentukkan pilihannya dengan cepat. Lalu, ia harus bisa mengemban amanah dengan baik dan mengayomi anak buahnya. Ini adalah amanahku kepadamu, jadi, tolong, pergi dan amankan dirimu!" kata Mathias sambil memakai sebuah jas laoratorium usang yang ia temukan di atas salah satu meja yang terjatuh dan ia berjalan ke arah komputer itu.

Berwald menghapus air mata saat ia melihat Mathias yang jalannya agak terhuyung itu berjalan ke arah komputer dan melakukan aksinya sebagai 'pemeran utama yang baru'. Ia bangkit dan berkata, "Aku sungguh mengagumi dirimu saat kau melakukan aktingmu, Mathias. Kau memang berbakat menjadi aktor dan itu tidak memerlukan bukti untuk memperkuat fakta itu. Aku harap ini bukanlah ucapan 'selamat tinggal' yang kau benci itu. Aku yakin aku akan menjemputmu lagi!" Berwald berlari keluar dari ruangan itu. Mathias hanya tersenyum kecut sambil meneteskan air mata saat mengetahui bahwa Berwald sudah meninggalkannya sendiri.

Setidaknya, kau bukanlah 'korban' mereka. Dan kodemu... sudah aku perbaharui sehingga kau dapat terbebas dari mereka. Pergi jauh dan ingatlah aku!

Yo.. Mijukieh disini! Setelah lama rehat dan terkena author's block dalam waktu yang lama, saiah dapat melanjutkan ini! Kali ini... halamannya sangat banyak, ya? :'v Yey! Maafkan saiah, ya! Saiah tidak bisa janji tetapi saiah akan berusaha akan meyelesaikan fanfict ini dengan cepat. Saiah tidak tahu mau ngomong apa lagi di pojok curhatan Mijookieh ini. Stay tune, yaaak!

Mini Dictionary:

Min Gud(1)... : OMG (Scandinavian (Danish and Swedish))

Omake:

Bunyi hentakan kaki itu terdengar keras di dalam bangunan tua di Nörkopping tersebut. Banyak orang mulai menghadang pintu titanium yang keras itu. Mathias seolah tidak mempedulikan tamu yang tak diundang ke wilayah kekuasaan yang tidak diakui secara de jure itu. Ia masih sibuk merombak data komputer sentral itu. Para tamu yang tak diundang itu menodongkan senapan dan laras panjang ke arah dirinya dan mengisyaratkan dirinya untuk menyerahkan diri.

Mathias mengangkat kedua tangan dan membalikkan tubuhnya ke arah para tamu itu. "Jadi... kau sudah datang... Tuan Braginski. Selamat datang di kediamanku yang sederhana ini," sambut Mathias dengan senyum angkuhnya.

Seorang pria tinggi berkulit pucat dengan jas musim dingin yang tebal, scarf yang melilit lehernya, dan Ushanka yang menghangatkan kepalanya serta sebuah pipa ledeng di tangannya berjalan ke arah Mathias. "Wah... sang aktor berbakat disini rupanya. Kami sangat beruntung dapat menemukanmu disini tanpa perlu berkeliling seluruh eropa," kata pria itu dengan nada yang tak kalah angkuhnya dari Mathias.

Mathias hanya tersenyum angkuh dan cekikikan seperti pemeran antagonis di opera sabun yang sering ditayangkan di tv. Matanya yang terlihat relaks tetapi sangat liar itu hampir dapat membius para personil yang kemungkinan besar datang dari wilayah siberia utara itu. "Apa yang kau inginkan hingga datang jauh-jauh dari Rusia ke sini, Ivan?" tanya Mathias dengan relaks namun nada angkuhnya terasa. Mata ungu mengintimidasi pria Rusia bernama Ivan Braginski itu mulai menyala seperti psikopat.

"Simpel saja, aku butuh kode-kode itu dan... hasil penelitianmu saat kamu masih menjadi ilmuwan terkemuka di seluruh eropa," jawabnya dengan wajah psikopat angkuh yang dapat membuat lawan bicaranya takut. Mathias dapat merasakan rasa takut yang luar biasa pada saat itu, tetapi, sebagai seorang professional, ia harus menutupinya.

Mathias harus tetap bersimpul angkuh walau sebenarnya ia bukan seorang yang sombong. Ia harus bisa menandingi lawan mainnya. Ia mulai membuka mulut dengan nada sombongnya yang khas, "Sayang sekali, aku lupa dengan kode-kode itu. Kode-kode mana yang kau maksud? Lalu, hasil penelitian apa yang kau maksud, tamuku tersayang?"

Ivan tertawa angkuh dan berkata, "Sayang sekali ilmuwan jenius sepertimu telah melupakan segalanya, bahkan kau telah melupakan masa-masa gemilangmu. Kau sangat naif, Mathias, atau... Profesor Mathias!"

"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Menculik seorang hacker profesional dan meng-hack segalanya? Atau membunuhku karena aku terlalu naif?" balasnya dengan ketus. Ivan menghampiri tubuh Mathias yang relatif lebih pendek darinya dan memukul perutnya dengan pipa ledeng. Mathias terbatuk dan memegangi perutnya yang sakit. Ivan mendekatkan mulutnya dan berkata, "Mungkin, aku akan menyiksamu terlebih dahulu hingga kau ingat segalanya, Profesor! Sekarang... beristirahatlah!"

Dan.. segalanya menjadi gelap.

Wanna gimme some reviews?