With You (Together)
Maincast :
Bang Yongguk
Kim Himchan
Other cast :
Jung Daehyun
Yoo Youngjae
Choi Zelo
Moon Jongup
(cast akan bertambah searah alur cerita)
Rating : T
Disclaimer :
BAP's cast TS Entertaiment and another cast their own agency. This FF are Mine (Miyu a.k.a Himkyu) ^^
A/N :
Finally comeback... Setelah perjuangan dalam ujian #halah
Kebetulan sekali ya kita sudah mencapai FF ch 10 ^^ terima kasih sudah berpatisipasi sampai sejauh ini :D
FF ini banyak berisi BANGTAN MOMENT. Hanya sementara waktu ini aja kok ! Mau mengikuti alur ^^
NO FLAME!
Lets Enjoy The FF!
.
.
.
.
.
.
**Sebelumnya**
"Tenanglah hyung... Aku akan membantumu. Kupastikan Zelo, menyadari kasih sayang di sekitarnya begitu berharga untuknya. Ia harus menyadari, bahwa ia tak sendiri, dan semua orang menyayanginya, termasuk memiliki sosok 'kakak sepupu' sehebat kau, Hyung."
Senyum Daehyun mengembang. Ia begitu bahagia saat ini. Sosok Kim Himchan yang memiliki sifat begitu perhatian pada Youngjae, rupanya cukup membekas juga pada Daehyun. Kata penuh penguatan diri, membuat Daehyun kembali bangkit dari keterpurukannya. Ia kembali menguatkan diri untuk membantu Zelo. Dengan bantuan Himchan juga.
.
.
.
.
.
"Zelo sedang jatuh cinta. Aku tau itu bisa membantu."
"MWO?! Dengan siapa , hyung?!"
"Entahlah... Yang pasti...
Orang itu ada di antara anak anak Jungjeon."
"MWOYAAA?!"
.
.
.
.
.
.
Himkyu present :
WITH YOU (TOGETHER) Ch. 10
*Flashback*
7 tahun lalu...
Himchan hanya dapat menatap kepergian melajunya mobil yang dikendarai sang appa. Mobil bercat hitam metalik itu, semakin menjauh dari pandangannya. Himchan menunduk lemas akan kepergian sang appa... Namun tidak untuk seorang wanita paruh baya yang segera berlutut mensejajarkan pandangannya pada Himchan kecil. Namja menggemaskan tersebut dengan erat memeluk boneka matoki berwarna merah mudanya tanpa mau mengangkat kepalanya membalas pandangan ramah nan indah si wanita paruh baya yang tengah memegang kedua bahu Himchan.
"Tak apa, Himchan-ah.. Kau akan baik baik saja disini. Banyak teman sebayamu yang akan menjagamu. Tak terkecuali ahjumma.." Wanita paruh baya itu merangkul hangat tubuh Himchan yang sedikit bergetar. Rasa takut masih menjalar pada ingatannya.
.
.
.
.
Seminggu telah berlalu..
Himchan semakin bisa beradaptasi dengan lingkungan yang setiap hari mulai terbiasa ia hadapai di panti asuhan ini. Sosok sang appa yang selalu ia rindukan dan ia panggil namanya agar membuatnya tak merasa takut, mulai jarang ia lakukan karena teman teman barunya begitu akrab dan mau menenangkannya. Meredakan rasa takut itu.
#Tap #Tap
"Kumohon jaga anak ini, ahjumma."
Himchan menghentikan langkah nya ketika dari kejauhan melihat sosok namja bertubuh gempal nan berpipi tembam, terus menunduk. Himchan bisa menangkap , sosok anak manis dan menggemaskan itu, tengah menangis terisak. Ahjumma meraih tubuh namja gempal itu. Lalu seperti yang pernah ia lakukan pertama kali pada Himchan, ia berlutut mensejajarkan pandangannya pada sang bocah. Mengusap air mata yang membasahi pipi tembam itu. Sementara seorang pria yang membawa bocah itu, sudah pergi entah kemana.
"Kau baik baik saja?" Ahjumma mulai mengajak bicara bocah yang terdiam itu. Suaranya agak samar terdengar oleh himchan. Namun namja manis itu bersih keras ingin mendengar percakapan antara ahjumma dan bocal gempal tersebut.
"Apa kau lapar? Ingin makan?" lanjut ahjumma setelah tak mendapat respon apapun dari sang bocah. Bocah itu hanya menunduk menyembunyikan raut kesedihannya. Himchan sangat terpukul, karena miris melihat nasib bocah itu yang kelihatannya lebih terpana dari Himchan sendiri.
"Junhong-ah..."
"Aku bukan anak appa dan umma..."
Ahjumma terdiam. Bocah itu mungkin mendengar ucapannya dan membalas. Namun apa yang diucapkan bocah tersebut, cukup memberikan sirat sejuta makna. Ada masalah apa dengan umma dan appa nya?
.
.
.
.
.
5 hari kemudian...
"Junsu-ya! TANGKAP!"
#Happp
#Duggg
"Hongbin-ah! Ini bolanyaa!"
#Dugg
#Singg
#GOLLLL
"Bagus ...Hongbin-ah!"
Himchan tertawa ketika tim sepak bolanya yang terdiri dari 8 bocah bocah dapat memenangkan pertandingan ronde pertama. Himchan mulai menyukai sepak bola ketika teman temannya ini mengajaknya bermain permainan ini setiap sore hari. Sangat menyenangkan!
"Suho! Lemparkan padaku!"
"Ambil Himchan-ah!" #Duggg
#Singg
Bola yang ditendang bocah tampan bertubuh pendek itu malah terpental jauh melewati jangkauan Himchan. Tentu saja hal itu membuat sang bocah tampan dimarahi oleh semua anggota timnya. Bocah tampan itu hanya melempar cengiran 3 jari sebagai tanda menyesal.
"Tak apa, Suho. Biar kuambil bolanya.." Himchan mengacak surai hitam bocah pendek itu. Lalu mulai melangkah menuju taman belakang tempat bola itu kemungkinan berada.
Matahari sore mulai merendah untuk bersembunyi diperaduannya. Himchan sedikit tak suka jika keheningan sore akan berganti menjadi keheningan malam. Malam hari adalah waktu yang dibencinya.
Ekor matanya begitu serius menelusuri taman sepi tersebut. Dan syukurlah sebelum matahari benar benar merendah, manik matanya menangkap sebuah bola mengelinding pelan hingga ke sebuah pohon besar. Himchan segera berlari meraih bola itu. Cepat kembali ke panti adalah keputusan tepat sebelum malam hari menyapanya.
"Hiks..."
Himchan menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan lagi merubah niatnya untuk kembali ke panti. Ia begitu penasaran dengan suara kesedihan terdengar begitu lemah. Himchan sedikit mendekat kepada sumber suara tersebut.
Seorang bocah bertubuh gempal tengah menenggelamkan kepalanya di antara lututnya. Dan yang pasti, isakan yang dilakukannya memberi tahu bahwa ia tengah menangis (lagi).
Himchan mendekat pada bocah itu. Ia tau siapa bocah itu karena ialah anak panti yang mengenalnya pertama kali. Bocah yang selalu menangis dan menyendiri. Choi Junhong.
"Hei, Junhong-ah.. Kenapa kau sendiri disini?"
Junhong menghentikan isakannya. Ia lalu mendongakkan kepalanya ketika seorang anak yang lebih tinggi darinya (dan yang ia tau lebih tua darinya) tengah memandang penuh keramahan. Senyum indah Himchan begitu membinarkan mata Junhong. Namun binaran itu tak terlalu jelas terlihat karena matanya begitu merah akan air matanya.
"Ingin main sepak bola bersamaku dan yang lainnya? Sangat seru, loh! Ayo.. Sebelum malam hari!"
"AKU TAK MAU!"
Himchan cukup tersentak dengan bentakan keras bocah gempal itu. Alis bocah itu yang turun, menandakan bahwa ia begitu marah. Himchan begitu salah tingkah. Apa salah mengajak bocah kesepian seperti Junhong untuk bermain bola bersama?
"TINGGALKAN AKU! AKU TAK MAU DIKASIHANI!"
Himchan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mulut bocah ini mulai dipenuhi kata kata tanpa dimengerti Himchan sendiri. Niat baiknya seolah hanya rasa kasihan? Himchan tak menganggapnya seperti itu... Ia memang suka mengajak orang yang tak dikenalnya untuk bermain bersama. Berusaha akrab.
"Kalian semua sama saja! Sok memperhatikanku! Lalu akan meninggalkanku ...hiks.."
"Junhong-ah... A-aku hanya..."
"AKU TAK PEDULI DENGAN MEREKA ! MEREKA TAK AKAN MEMPEDULIKANKU!"
#Happ
Junhong mendekap kedua telinganya. Terlihat frustasi ketika ia terus menerus mengerang marah. Sementara Himchan hanya membeku sembari memundurkan langkahnya melihat reaksi tak terduga tersebut.
#Pukk
"Himchan-ah! Apa yang kau lakukan disini?!"
Suho rupanya sudah berada di belakang Himchan. Menyadarkan Himchan kembali dari rasa takutnya akan reaksi Junhong. Ia lalu menarik Himchan menjauh dari Junhong. Membawanya sejauh mungkin...
"Kenapa kau mau saja meladeni orang itu,sih?" manik mata Suho melirik pada Junhong. Himchan hanya mengerjab polos. Ia pun tak tau kenapa...
"Anak itu berbahaya, Himchan-ah! Tidak seharusnya kau mendekatinya! Untung saja aku segera menyusulmu kemari. Atau tidak... Dia akan menyakitimu."
"Maksudmu, Suho?" Himchan menatap nanar bocah gempal itu. Junhong bisa dilihat dari kejauhan tengah melempar batu kesana kemari masih dengan dekapan di telinga kirinya. Tingkahnya seperti kerasukan..
"Dia itu anak psyco..."
"Mwoo?!" Himchan ingin mengakui bahwa ia tak percaya akan kalimat Suho. Tampang menggemaskan Junhong, sama sekali tak terlihat seperti anak berbahaya.
"Asalkan kau tau, Himchan-ah. Dia sangat suka mengamuk! Bahkan ia sering menyakitinya sendiri jika sudah frustasi. Ia sering menjambak rambutnya sendiri. Bahkan kau tak melihat plester plester di lengannya? Itu semua hasil dari ia menyakiti dirinya sendiri! Ahjumma bahkan kualahan menangani bocah itu.. Kau harus menjauhinya!"
Rahang Himchan jatuh bersamaan dengan angin malam yang langsung menerpa cepat bulu kuduknya seolah ikut terkejut akan pengakuan Suho. Itu...tak mungkin?!
Himchan jarang mengetahui info detail tentang kehidupan panti seutuhnya. Termasuk bocah yang baru masuk ke panti itu. Sikapnya selama ini tak mencurigakan sama sekali.
"Sudahlah.. Aku malas meladeni bocah aneh itu. Kemarikan bolanya!" Suho segera mengambil bola di tangan Himchan, daripada meladeni namja manis di hadapannya yang masih melamun tak karuan.
Sementara Himchan ditinggal sendiri oleh Suho (bersama Junhong), Himchan kembali memandangi bocah malang itu dari kejauhan. Himchan adalah tipe anak yang mudah penasaran dengan suatu hal. Termasuk tentang Junhong. Ia tak cepat mempercayai Junhong adalah anak Psyco. Dan jika sering menyakiti diri sendiri... Pasti ada alasannya.
"Setidaknya kau pantas mendapatkan seorang teman ,Junhong-ah. Aku mau berteman denganmu. Aku yakin suatu saat, akulah yang dapat mengubah sifatmu." Himchan lalu mendongak menatap langit yang mulai gelap berhiaskan bintang. "Umma... Bukankah membantu orang lain adalah suatu hal yang selalu kau tanamkan padaku?
.
.
.
.
.
*Unflashback*
"Aku telah berjanji... maka aku akan menepatinya. Tuhan telah mempertemukan kembali dengan Junhong agar aku dapat menunaikan janjiku." Himchan bergumam.
.
.
.
.
.
.
.
.
V, Jimin , maupun Jungkook berjalan lesu tak seperti biasanya -riang dan melompat kecil layaknya sekumpulan bocah berumur 5 tahun. V sebagai seorang kamera maniak, sama sekali tak mengangkat kameranya memotret keadaan sekitarnya yang bahkan tak ada pentingnya untuk dipotret. Jimin hanya menekuk bibirnya , sedangkan kedua mata sayunya memandang lurus ke bawah ubin yang dipijaki. Manik indah Jungkook lurus berhadapan dengan setiap orang yang dilewatinya.
"Jin hyung tidak mengerti sama sekali dengan kesulitan kita. Apa ia mengira mewawancarai Yongguk hyung semudah aku memuji diriku 'tampan'?" Bibir tebal V mengerucut kesal. Sementara Jimin di sampingnya mendengus menghadapi kepercayaan diri sang sahabat.
"Aku bahkan tak bisa tidur tenang semalaman membayangkan proyek ini. Wajah tampan Jin hyung menghantuiku, sedangkan para sunbae dengan wajah sombong seolah menatap mengancamku. Kita tak bisa memberikan proyek ini begitu saja pada para sunbae. Nama kelas dua akan tercemar!" Jimin mengacak surai hitamnya frustasi. Hatinya bergemuruh kesal membayangkan betapa mudahnya proyek ini berpindah tangan pada para sunbaenya karena sang hoobae seperti mereka terlalu 'lambat' menanggapi petuah sang ketua.
#Tapp #Tapp
V menghentikan langkahnya. Membuat kedua sahabatnya yang beriringan mengikutinya, juga mengerem langkah. Manik cokelat V menangkap sosok Namjoon tengah melambai akrab layaknya seorang raja pada setiap siswa yang ia temui. Merasa nama "Kim Namjoon" adalah pemilik nama seorang pangeran tampan sekelas Prince William.
V menyeringai mantap. Sementara kedua sahabat polosnya, hanya bisa mengernyit heran dahi mereka. Merasa sahabatnya itu overdosis obat diet.
"Aku tau bagaimana caranya menyelesaikan proyek ini lebih cepat." V memandang antusias kedua sahabatnya. Jimin maupun Jungkook ikut antusias ketika sebutan 'proyek' mereka disebut.
.
.
.
.
.
Namjoon mencuci tangannya. Setelah melakukan 'panggilan alam' , dirinya begitu percaya diri mematut di depan cermin. Memandang (yg ia anggap) begitu sempurna di hadapannya. Bayangannya sendiri.
#Ceklek
#Brakk
"SUNBAEEEE!"
"KYAAAAA!" Namjoon hampir saja terkena muncrat air keran. Bagaimana tidak? Sosok 3 hantu remaja (Namjoon menganggapnya seperti itu) muncul dari 3 bilik berbeda di toilet itu dan berhamburan bersama tepat di belakang Namjoon ketika dirinya masih memuji kesempurnaanya. Namjoon mencengkeram pakaian di bagian dadanya dengan nafas tersengal melihat hantu hantu remaja itu menyungging senyum bahagia /?
"YAKK! KALIAN INGIN MEMBUNUHKU,HAH?!" bentak Namjoon seraya menyundul dahi bocak tak berdosa di hadapannya.
"Hihi... Mianhae, hyung!" senyum merekah Jimin membuat Namjoon semakin menatap bengis pada ketiganya. Untung saja mereka hanya berempat di toilet tersebut. Jika tidak? Akan ada saksi melihat Namjoon siap menyiksa 3 bocah itu.
"Hyung, masih inget dengan janji hyung kan?" V mengedip penuh godaan seraya menggoyangkan kamera nya memberi ingatan terburuk Namjoon pada kalimat yang tak sengaja pernah ia sendiri utarakan demi menenangkan 3 bocah merengek kemarin.
Namjoon menggaruk tengkuknya. "Apa ya? Aku tak ingat." Namjoon dengan gaya sok kerennya bersiul sembari mengerling kemana mana. Bahkan tindakannya semakin membuat 3 namja yang menatapnya hendak murka.
"YAK! HYUNG HARUS INGAT KALAU HYUNG AKAN MERAYU YONGGUK HYUNG AGAR BISA KAMI WAWANCARAI!" Jungkook , seorang namja manis nan polos di antara tiga wartawan itu, rupanya bisa sangat galak dan menakutkan. Ia tak bisa mengelak dengan semangat membaranya, memukul kepala sunbaenya sendiri dan tatapan murka menghunus telak tatapan Namjoon. Bahkan Namjoon membeku di tempat. Bagaimana bisa membalas jika yg memukulnya adalah anak manis nan terlihat polos? Terkecuali Zelo. Ya, hanya Zelo. Ia mau saja menghajar anak itu. Tapi tinggi badannya membuatnya cepat bergidik.
V dan Jimin mengeluskan tangan mereka pada punggung datar Jungkook. Mereka akui, sebenarnya yang paling galak diantara ketiganya bukan V atau Jimin. Tapi Jungkook, yang merupakan 'magnae'. Jungkook adalah wartawan termuda di ekskul jurnalistik. Jungkook juga yang memiliki masalah dengan temperamental. Sifatnya sama seperti Zelo. Tapi tak sesadis Zelo. Tidak menghajar, atau pakai berkelahi.
"Lihat apa yang hyung lakukan dengan 'magnae' kami yang paling kalem kalau menghadapi masalah." tatapan penuh penghakiman menusuk rongga hati Namjoon. Sepertinya Namjoon sendiri mulai merasa bersalah.
#Ceklekk
"Rupanya kalian disini..."
.
.
.
#Degg
#Degg
#Degg
V, Jimin, maupun Jungkook yang tadi berada dalam suasana tegang bersama Namjoon, menoleh bersama pada sosok namja manis yang habis masuk ke dalam toilet.
Namja manis dengan kulit seputih susu. Mata bulat yang begitu indah. Rambut hitam tertata rapih di balik topi rajutan hitam tersebut. Serta lekukan bibir berbentuk ship"M". Cantik dan menawan...
"YOONGI-AH!?"
Min Yoongi. Tersenyum untuk pertama kalinya pada ketiga sahabatnya setelah kepulangannya dari Amerika. Membuat ketiga sahabatnya berurai air mata penuh keharuan. 1 bulan bukanlah waktu yang cepat bagi mereka.
"Yoongi!" ketiga namja manis tersebut segera melupakan beban pikiran mereka soal Namjoon dan beralih memeluk Yoongi dengan sangat erat. Mereka merengek bak sehabis bertemu sanak keluarga mereka yang hilang. Sementara Yoongi ikut membalas rangkulan ketiganya dengan sangat akrab. Kerinduannya terbayarkan sudah...
"Kukira kau tak kembali, bodoh! Aku sangat merindukanmu.. Tsk.." V mengusap air matanya dan mengerucut gemas bibirnya. Sebenarnya hatinya begitu senang melihat sosok yang telah lama menghilang, kembali padanya.
"Ishhh... Maafkan aku, teman-teman. Kalian tau kan betapa sibuknya aku di Amerika dan mengurusi pekerjaanku disana." Yoongi tersenyum merekah. Senyuman semanis gula itu tampak membinarkan mata ketiga sahabatnya yg begitu merindukannya.
V tersenyum remeh. "Jangan mentang mentang kau menjadi model terkenal sekarang, sampai 1 bulan meninggalkan kami tanpa kabar. Aku tak akan semudah itu dikalahkan olehmu, Yoongi. Suatu saat nanti aku akan menjadi model yang lebih terkenal sampai pelosok dunia! Huaahahaha"
#Pletakkk
"Tak lihat siapa yang baru datang,hah?!" Jimin memberi tatapan penuh penghakiman. Sementara V hanya meringis kesakitan mendapat pukulan tersebut.
Ketika Yoongi yang tertawa akibat tingkah kekanakan ketiga sahabatnya, Ia tak sadar bahwa sejak dari tadi (pertama ia masuk) seseorang memandangnya. Bukan pandangan antusias seperti tiga wartawan itu berikan. Tapi tatapan penuh keterkejutan. Tangannya bergetar memegangi marmer westafel... Jantungnya berdegup kencang.
"Su-suga..."
Yoongi menghentikan tawanya. Bibirnya mulai menekuk turun dengan mata yang membulat terkejut. Jantungnya berdegup tak karuan, dan kepalanya mulai mendongak hati hati... Mengarahkannya pada sosok namja disana, yang tengah terdiam kaku di depan wastafel. Panggilan itu tentu saja hanya 1 orang yang mengetahuinya...
#Deggg
Bibir bawahnya mulai turun , menganga tak percaya menatap seseorang yang sudah lama ia tak temui. Namja itu... Namja yang ia berusaha lupakan... Tengah memandangnya.
"Ada apa?" Jungkook memandang Suga lalu Namjoon bergantian. Ia tak mengerti dengan kedua respon yang saling membalas itu. Seperti ada kalimat saling bertukaran dari pandangan tersebut. "Ada yang salah dengan Namjoon hyung?"
"Kim-Kim Namjoon?" Suga berusaha menggerakkan bibirnya secara normal. Walaupun pada akhirnya , kalimat itu terbata dikeluarkan.
"Nee.. Hyung ini sangat menyebalkan! Dia tak mau membantu kami mendapat wawancara Yongguk hyung! Masih ingat dengan proyek yang diberikan Jin hyung,bukan?" Jimin menunjuk kesal pada Namjoon. Berusaha membuat hyung tersebut membalas kekesalannya hanya dengan umpatan. Namun namja yang memiliki lesung pipit itu masih memandang serius pada Suga.
V mengernyit heran , ia lelah terus menerus mengawasi arti pandangan tak percaya antara Suga dan Namjoon. V mengira, bahwa ada perasaan serius atau saling mengagumi dalam arti 'lebih dari sekedar kagum' dari pandangan tersebut. Ya, V yang paling tau soal arti lain 'kekaguman lebih' antara namja dengan namja, jika ia sendiri pun pernah merasakannya.
"Yoongi, aku ingin bicara padamu." V menarik Suga keluar dari toilet. Berusaha mencari jawaban dari pertanyaan di benaknya. Dan ia biarkan dahulu kedua temannya yang masih 'polos' di dalam toilet bersama dengan Namjoon. Mereka tak akan mengerti dengan percakapan V dan Suga nantinya.
Setelah kepergian Suga, Namjoon menurunkan manik hitamnya. Memandang ubin yg dipijakinya dengan sangat heran. Ia merasakan otaknya dibebani dengan nostalgia bak roll film yang terus berputar. Sulit sekali dihentikan.
"Hyung! Kau masih ingin berpura pura bahwa kau melupakan janjimu?!" Jungkook kembali dengan keadaan marahnya. Ia benar benar magnae yang sangat galak.
Namjoon tersentak, dan baguslah temperamental Jungkook menghentikan sementara 'roll film' di otaknya.
Kedua ujung bibir Namjoon terangkat menghasilkan sunggingan senyum yang indah dan berkarisma. Bukan senyum menyebalkan yang penuh sensasi.
"Baiklah.. Akan kulakukan dengan 1 syarat."
Jimin maupun Jungkook saling bertukar pandangan. Tak pernah melihat seorang hyung seserius ini pada mereka. Lalu membalas kembali pandangan Namjoon dengan anggukan nyata, bahwa mereka siap melakukan apapun asalkan proyek ini tak cepat menggilai mereka.
"Buat hyung bisa mendekati Min Yoongi..."
.
.
.
.
.
.
Suga terdiam. Ia mencebik bibir bawahnya dengan sangat cemas.
V telah menghujaninya dengan pertanyaan. Ia dibuat gila dari semua pertanyaan itu.
Kenapa tak memberi pertanyaan soal keadaannya selama di Amerika? Atau tentang liburan apa saja yang dilakukan disana?
Tapi kenapa semua pertanyaannya mengarah ke Kim Namjoon? Hanya karena pandangan yang saling bertukar itu?
"Kau tak bisa menjawab pertanyaanku? Apa memang benar, kau sudah mengenalnya?" V memandang selidik pada Suga. Masih saja namja di hadapannya itu tak merespon apapun. Kekesalan V naik drastis. "Oh ayolah.. Kalau kau terus terdiam. Bagaimana aku bisa selesai dengan percakapan ini?"
"Ya, Taehyung-ah.." Suga menatap sayu manik cokelat V. Gotcha! Setidaknya 1 fakta didapat oleh si 'mau-tau-apa-saja' Kim Taehyung.
"Ada hubungan apa antara-"
"Kumohon hentikan percakapan ini, Taehyung-ah. Aku lelah. Aku baru saja sampai di korea dan perlu beradaptasi kembali." Suga menepuk pundak V sembari tersenyum hambar. Tak ada keceriaan sama sekali dari senyuman itu. Ia tak mungkin puas dengan jawabannya maupun pertanyaan yang dilontarkan V ,bukan? Ia malas membahas 'masa lalu' nya.
Suga lalu melenggang pergi dan meninggalkan V yang masih terpaku di tempat. Rasa ingin tahu V semakin membara saja. Bagaimana pun ia harus mengetahui, ada apa dengan Suga juga dengan Namjoon?
.
.
.
.
.
Hari cepat sekali berlalu..
Tidak dengan pikiran Jongup. Selalu sama berjalan di otaknya.
Malam hari telah mengubah siang hari. Sedangkan Jongup masih melamun di kamarnya. Ia sama sekali tak tenang. Bagaimana bisa tenang? Seharian ini, dan hari sebelumnya , ia tak pernah bertemu Zelo. Namja itu seperti menghilang bak ditelan bumi. Setelah kejadian 'itu'... melihatnya berkelahi dengan sunbae dan hoobaenya, bertindak sewenangnya , atau bahkan melihat sehelai rambutnya saja, tak pernah ia temui.
#Ceklek
"Belum tidur, Jongup-ah?" Namja berkulit sedikit gelap itu melangkah mendekat pada ranjangnya. Di sebelah ranjang Jongup , dimana kini namja pendek itu berada ===merenung di hadapan jendela kamar. "Biasanya jam segini kau sudah tidur."
"Aku tak mengantuk, Jongin." Jongup menangkup kedua telapak tangannya di atas pangkuannya. Mata sayunya kini tak memandang ke arah jendela.
Jongin , atau biasa disebut Kai oleh beberapa temannya, mengernyit heran sembari mensejajarkan tubuhnya di atas ranjang. Siap untuk beristirahat. Namun tak tega saja membiarkan Jongup terjaga dalam keadaan tak nyaman begitu. Ada apa dengan namja seperjuangannya kini? Namja itu memang sangat pendiam dan jarang terbuka. Tapi setiap malam, ia tak pernah menggalau diri ===merenung di depan jendela. Itu bukan seorang Jongup. "Katakan padaku. Apa ini masalah Zelo?"
Kai tau betul apa yang tengah Jongup pendam. Ya! Teman sekamar Jongup inilah yang menjadi seseorang yang lebih baik sebagai tempat umbaran rahasianya daripada kepada orang lain. Walaupun Kai bukan sahabat terdekat Jongup , seperti Yongguk ,Himchan, dan Namjoon. Namun Jongup tau betul bahwa Kai adalah namja yang sangat tertutup dan tak suka mengumbar sesuatu hanya karena sensasi. Namja itu memiliki image pendiam dan kalem, sama seperti Jongup. Maka itulah keduanya sangat cocok bila sekamar.
"Sepertinya begitu.." Jongup ikut merebahkan tubuhnya seperti yang Kai lakukan. Keduanya kini menatap langit langit kamar di ranjang masing masing. Kai dengan senyum antusiasnya, dan Jongup dengan ekspresi murungnya. "Aku sepertinya berbuat dosa besar hingga Tuhan menghukumku agar aku tak mendapat kesempatan kedua."
Kai terkikik. Semakin seru saja arah pembicaraan ini. "Kesempatan kedua? Kukira kau telah mendapat banyak kesempatan."
"Maksudmu?" tanya Jongup masih dengan keadaan sebelumnya.
"Pertama kali kau bertatap muka dengan Zelo. Lalu bertemunya kembali di taman, lalu menyelamatkannya dari serangan preman sekolah lain, dan bahkan kau mendapat ciuman pertama darinya. Tuhan telah berikan banyak kesempatan untuk kau bisa dekat dengan Zelo. Sedangkan orang lain tak akan 2 kali berani mendekatinya. Ya..terkecuali Daehyun hyung yang notabene memang dekat dengan Zelo karena ia seorang dokter asrama." Kai menghela nafas. Bibirnya seakan sangat lancar mengutarakannya. Semua yang ia ucapkan adalah rahasia Jongup yang diumbar namja pendek itu secara terbuka sekali.
"Kau benar..." ucap Jongup. "jadi akankah aku mendapat kesempatan lainnya setelah kegagalan ini?"
Kai mengangkat kepalanya dan menopangnya di tangan. Agar ia bisa memandang Jongup di ranjang sebelahnya. "Kegagalan? Yang ada Tuhan baru memberikan awal untukmu dan akan memberikan kesempatan lainnya untukmu. Percayalah.. Kau beruntung, Jongup-ah"
"Kata penolakan yang diutarakan Zelo, kurasa bukanlah suatu kegagalan. Ia justru melakukannya untuk membuka kesempatan kau agar semakin mengejarnya. Ia tak akan menciummu jika ia membencimu. Atau ia berkata 'aku membencimu', dengar arti 'lain'. Kau tau sendiri Zelo itu seperti apa," lanjut Kai dengan senyum mengembang. Semakin memperlihatkan pesona ketampanannya.
"Haha.." tawa Jongup akhirnya pecah. "Kau seperti Tuhan saja. Kau seperti yang memberikan kesempatan lain itu padaku.."
"Hehe... Aku hanya menyadarkanmu. Itu yang Tuhan sepertinya bisikkan padaku."
Kai maupun Jongup tertawa bersama.
.
.
.
.
.
Youngjae menguap pelan. Matanya yang bulat mengarah pada jendela kamarnya. Gorden nya tertiup angin pagi. "Eh?" Youngjae tersentak ketika baru menyadari bahwa jendela kamarnya terbuka. Siapa yang membukanya?
Youngjae dengan kalap menoleh ke ranjang Zelo. Namun sosok tinggi itu selalu hilang tepat waktu sebelum ia membuka mata. Atau mungkin sejak kemarin malam tak tidur di kamar ==seperti biasa. Ia kembali menoleh kesana kemari. Mungkin saja sosok Daehyun, namja itu yang melakukannya. Namun haruskah datang hanya untuk membuka jendela? Tidak menunggunya dan memberikan segelas susu hangat seperti biasanya? Mengesalkan.
Tak mau ambil pusing dengan 'siapa yang membuka jendela', ia lalu bangkit dari ranjangnya. Merapikan sebentar ranjangnya. Ia siap menyambut pagi dengan hembusan nafas hangat. Musim semi yang indah.
Ia menyembulkan kepala keluar jendela dan menikmati kehangatan pagi. Wajahnya begitu mempesona terkena cahaya mentari, bahkan beberapa siswa yang sudah keluar dari asrama , melihat pesona tersebut dari lantai dasar. Mereka akan bersyukur berada di waktu yang tepat ketika sang namja mempesona memperlihatkan gemerlapan cahayanya.
Mata Youngjae yang sedari tadi terpejam , terbuka perlahan. Lalu manik matanya mengarah kepada...
#Degg
.
.
.
.
.
Daehyun menguap selebar lebarnya. Ia berjalan agak terhuyung karena masih dikuasai rasa kantuk. Di tengah perjalanannya keluar dari asrama untuk menghirup udara pagi , ia mengutuk tugas kuliahnya yang sangat banyak. Sampai semalaman ia kurang tidur. Persetan sekali dengan tugas kuliah dan pekerjaan sampingannya dikerjakan dalam waktu bersamaan, pikirnya.
Daehyun membuka jas putihnya. Hanya dengan kemeja rapih , ia lalu meregangkan punggungnya. Merentangkan kedua tangannya ke udara, dan siap untuk melakukan olahraga pagi yang sangat sederhana. Karena dia dokter, tentu olahraga pagi adalah tujuan untuk kesehatan. Memang menurutnya, tak akan banyak keringat yang keluar. Tapi setidaknya, pamer diri karena ia rajin berolahraga, agar beberapa siswa yang melihatnya tak meragukan bahwa ia adalah seorang dokter.
"Oppaaa!"
#Deggg
Suara itu?
Daehyun menoleh ke belakang. Tepat pada sosok manis yang tengah tersenyum. Eye smile nya memberikan tanda betapa bahagianya bisa bertemu dengan 'oppa' nya.
"Annyeong,oppa! Rindu padaku?!"
"J-Jung Eunji?!"
Eunji, gadis pemilik rambut bergelombang sebahu nan indah tersebut, tengah menyunggingkan senyum giginya yang khas. Daehyun tampak salah tingkah melihat kehadiran gadis manis itu, hingga ia tak sanggup menatap kedua mata Eunji. Melihat reaksi itu, Eunji seketika mengembungkan pipinya dengan gemas.
"Oppa, jahat! Tidak rindu padaku rupanya! Padahal aku jauh-jauh dari Inggris , demi bertemu kau yang paling kusayangi! PELUK AKU!" Eunji merentangkan kedua tangannya. Menginteruksi Daehyun untuk menghambur ke pelukannya.
"Ish.. Shireo! Ini sekolah! Apa yang akan mereka katakan jika aku memeluk seorang gadis?!"
"Berarti mereka mengira bahwa kau memiliki kekasih,bodoh!" Eunji menyundul dahi Daehyun dengan jari lentiknya. Daehyun membalas pandangan kesal pada gadis manis itu.
"Kenapa tak memberitahuku kalau kau akan kembali? Aku bisa menjemputmu di bandara." Daehyun meraih jas putih dan memakainya. "kau bisa memelukku disana."
"Ah, payah! Kudengar kau bekerja di sebuah asrama namja. Jadi aku datang kesini, biar aku bisa curi curi pandang pada namja namja disini. Daripada kau menjemputku di bandara, kau tak akan membawaku kemari." Eunji berkacak pinggang dan menunjukkan raut cemberut yang sangat menggemaskan. Daehyun menggeleng maklum melihat sikap kekanakan itu.
Ia lalu mengacak surai cokelat Eunji, "ya ampun.. Kau ini sebentar lagi lulus kuliah kedokteran, tapi tingkahmu masih seperti anak berumur 10 tahun."
"Kau sendiri masih menyebalkan seperti kau berumur 10 tahun dahulu. Tapi lebihhhh menyebalkannnnn!" Eunji melet. Lalu tanpa aba aba, memeluk tubuh tegap Daehyun. Kepala Eunji menyamankan diri di dada Daehyun.
Daehyun terkejut? Tentu saja! Sudah lama ia tak dipeluk oleh seorang gadis. Ia sangat merindukannya..Daehyun akhirnya membalas pelukan itu dengan mengelus rambut cokelat Eunji. Sangat menyebalkan sekali gadis ini... Tapi dia sangat 'menyayanginya'.
.
.
.
.
.
Dada Youngjae rasanya dipukul ribuan palu. Atau ada banyak paku menancap di hatinya. Ia terluka melihat pemandangan di depannya. Tak tepat di depan memang. Tapi melihat dari kejauhan pun sudah sangat menyakitkan. Apalagi dari dekat.
Youngjae segera membalikkan tubuhnya. Air matanya mulai turun berlinang. Ia meremas piyama kuningnya di bagian pinggang. Tentu saja ada rasa sakit seperti tercabik, dan berkedut di bagian tersebut. Ginjalnya..
Dan sepertinya hatinya juga...
"Hyung... Kurasa aku salah menilaimu." Youngjae menangkupkan kedua tangannya. Menampung air matanya yang tak berhenti berlinang.
Sosok yang dipercaya akan selalu menemaninya.
Selamanya ...
Itu hanya kebohongan bukan?
Karena pada akhirnya, Daehyun hanya namja 'normal' lainnya yang tak mungkin mencintai namja 'aneh' sepertinya. Ia akan meninggalkan Youngjae.
Mungkin bersama dengan yeoja itu?
.
.
.
.
.
Yongguk memandang lama kalender kelasnya. Ia mengetuk ngetuk dinding kelas dengan jari lentiknya, bersama kedua pandangannya yang lurus memandang pada 2 angka yang terpampang di kalender tersebut.
19 April.
Tak terasa sudah lebih dari 2 minggu ia sekamar dengan Himchan.
Ia lalu mengalihkan pandangannya pada sosok Himchan yang tengah mengobrol dengan Jongup. Sangat asik sekali. Tapi respon Yongguk hanya datar. Bukan?! Bukan karena dirinya tak suka , tak bisa ikut mengobrol dengan kedua sahabatnya itu. Tapi apa yang ia lihat di kalender, dan ia lihat dari Himchan, mengingatkannya sesuatu. Ia jadi lebih serius menanggapinya.
Ia jadi teringat dengan percakapannya bersama Namjoon kemarin.
.
.
.
.
.
*Flashback*
"Kenapa mukamu senang begitu?" Yongguk duduk di hadapan Namjoon. Menaruh semangkuk ramen di meja. "Apa kau belum memakan obatmu?"
"Ishh.. Kehadiranmu menganganggu nostalgiaku, Bang Yongguk!" Namjoon berdecak kesal sembari meneruskan makan siangnya yang tak tersentuh sedari tadi. Ya setidaknya, kehadiran Yongguk membuat Namjoon mengingat makan siangnya yang hampir menangis itu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Yongguk memandang selidik Namjoon. Selalu berhasil membuat orang yang ditatap begitu patuh juga.
"Kan aku sudah jawab kalau aku senang habis bernostalgia." Namjoon malas menatap tatapan itu lebih lama lagi dan beralih memakan Sup ikannya. "Ini rahasia orang. Kau tak usah ikut campur!"
Yongguk memutar bola matanya jengah. Malas juga berdebat dengan namja keras kepala sekelas Namjoon.
Lalu dikedamaian mereka menikmati makan siang, Namjoon melihat jamnya. Ia membeku cepat hingga tak sanggup menelan sup nya yang masih terjebak di mulutnya.
"lusa 19 Maret?! O ASTAGA!" Namjoon segera menelan supnya.
"Kenapa?" Yongguk mengalihkan kesibukan makannya dan beralih melihat tingkah Namjoon. "Ada acara kau di tanggal itu?"
Namjoon menganga lebar memandang Yongguk. Oh ayolah! Apakah Yongguk tengah berakting? Biasanya wajah serius dengan wajah penuh tipuan Yongguk , susah dibedakan.
"Kau yang sekamar pun, tak tau?!"
"Yak!" Yongguk mengetuk sumpitnya di meja. "Kau ingin bermain teka teki padaku?!"
Namjoon mengelap pasrah wajahnya. Lalu duduk tegap sembari menghela nafas. Ia berusaha menjadi orang bijak saat ini. "Oh, Bang Yongguk.." Namjoon menepuk bahu kiri Yongguk. Tentu Yongguk menepisnya. Ia tak mau disentuh oleh namja idiot di depannya. Nanti bisa ketularan.
"19 Maret adalah ulang tahun Kim Himchan. Biar kueja... K-I-M H-I-M-C-H-A-N. Namja yang sekamar denganmu dan sekelas denganmu."
Mata Yongguk membulat cepat. Namjoon berekspresi seperti 'sudah kuduga responmu begitu'.
"Dasar... Bahkan ultah teman sekamarmu sendiri, tak tau -_-"
"Aku benar benar tak tau. Bagaimana kau bisa ingat?! Himchan bahkan tak memberitahuku soal tanggal lahirnya."
"Mungkin dia takut kau akan melakukan hal aneh padanya di hari ultahnya. Kau ini kan menyebalkan baginya." Namjoon menyendok baso ikan ke mulutnya. "Taruhan bahwa kau tak akan membuat ultah Kim Himchan begitu mengesankan. Yang ada membosankan."
"ENAK SAJA! Aku tak akan biarkan kau berpikir begitu, Namjoon-ah! Perayaan ultah Himchan justru akan berkesan karena aku!" Yongguk mengenggam erat sumpitnya. Menekankan kesungguhan akan pemikirannya.
Namjoon menyeringai. Selalu ada ide licik dari otak kosong Namjoon. "Satu-satunya yang bisa membuat perayaan ulang tahun seseorang berkesan adalah... Ketika mereka mendapat hadiah ciuman."
Mata Yongguk semakin membelakak. Manik matanya menghunus tajam manik hitam Namjoon, seperti mengatakan 'dude.. Are you serious with what are you talking about?'
"Ma-maksudmu?"
"Ya... Aku akan menarik perkataanku bila kau bisa mencium himchan. That would be interesting. Ini akan menjadi perayaan terDAEBAKKKK dari semua ultah yang 17 tahun ia lewati." Namjoon membalas tatapan tak percaya Yongguk dengan pandangan menggoda. "Apakah seorang Bang Yongguk sanggup melakukannya?"
Yongguk bisa saja melayangkan mangkuk ramennya pada wajah menyebalkan Namjoon. Jika saja ia hanya berduaan di tempat itu bersama Namjoon. Namun , ada benarnya yang dikatakan Namjoon. Himchan mudah bosan. Yongguk tak ingin Himchan berpikiran sekamar dengannya akan sangat membosankan. Well.. Tak pernah terbersit dirinya mempertahankan teman sekamar. Biasanya ia justru sangat rela kalau ada orang yang menumpang di kamarnya, meminta pindah kamar. Tapi jika Himchan... Yonggguk agak keberatan.
"Huftt.." Yongguk melenguh pasrah. "Tentu saja aku sanggup."
"Baiklah. Kau harus melakukannya, dan berikan buktinya padaku!" Namjoon tertawa terbahak hingga ia tak sadar , Yongguk (saking gemasnya) menuangkan saus cabai sangat banyak ke mangkuk sup Namjoon. Dan ia melenggang pergi, meninggalkan ramennya terlantar di meja.
"Cih... Seharusnya kau berterima kasih padaku bila kalian saling jatuh cinta. Aku memang melakukannya agar suatu saat nanti , ketika aku kembali pada Suga, yang seorang gay bukan hanya aku." Namjoon menyendok bakso ikannya. Dan...
"UHUK UHUK! PEDASSSS!" Namjoon kalap mencari botol minumannya yang sedari tadi bertengger di samping mangkuknya. Kenapa ia baru sadar, botolnya sudah hilang entah kemana.
"HAH HUH HAH HUH! KURANG AJAR KAU BANG YONGGUKKKKKK!"
.
.
.
.
.
.
*Unflashback/Now*
"Hey!"
Yongguk terperanjat dan segera membalikkan tubuhnya. Tepat di hadapannya , Himchan tengah menatap curiga. Entah apa yang dilakukan Yongguk sampai seserius begitu.
"Kenapa dari tadi kau memperhatikan kalender?" tanya Himchan. Yongguk membuang pandangannya ke arah lain. Tak berani bertatap langsung pada sosok manis di hadapannya. Mengingat janji yang dibentuk bersama Namjoon, jantungnya jadi cepat berdetak setiap kali berhadapan dengan Himchan.
"A-aku hanya lupa sekarang tanggal berapa," Yongguk menggaruk tengkuknya. Himchan semakin menyipit heran. Melihat balasan seperti itu, Yongguk segera memandang Jongup dari kejauhan. "Oh ya, Jongup-ya! Apa kemarin ada PR?" Yongguk pun melenggang pergi tidak menghiraukan pandangan curiga Himchan. Menghindar lebih baik daripada bertemu pandang terlalu intens tadi.
Himchan mendesis. Kesal ketika dirinya tidak dihiraukan. Manik matanya memandang kalender kelas yang tergantung. "Ia tak mungkin tau hari ulang tahunku, kan?"
.
.
.
.
.
Namjoon melempar pandang pada ke seluruh penjuru tempat. Begitu bosan saja karena tak ada siapapun yang bisa ia ajak mengobrol. Yongguk tengah latihan reguler, Jongup berada di perpustakaan (yang pasti Namjoon tak sudi ikut anak kutu buku tersebut ke dalam ruangan mengerikan itu) , dan Himchan seperti biasa menjadi 'budak' Yongguk di lapangan.
Tak lama saat langkahnya menuju ke kantin, ya setidaknya mengisi perut untuk menghilangkan rasa bosan, manik hitamnya menangkap sosok yang tak asing. Ia terbelakak kaget, dan hendak memutar kembali tubuhnya menghindari mereka sebisa mungkin.
"HYUNGGG!"
Sh*t ... They catch me! -Namjoon mengumpat diri sendiri. Kenapa kakinya bisa sebodoh ini mau melangkah ke tempat dimana monster monster tak berdosa itu berada. Namjoon segera menghela nafas pasrah, sembari memutar kembali tubuhnya. Senyum merekah (tentu saja senyum penuh paksaan) mengarah pada ketiga bocah tak tau diri itu. Dan lagi lagi, kaki yang ia anggap bodoh , merespon untuk mendekati mereka.
Semakin dekat langkahnya, semakin jelaslah bahwa mereka tak hanya bertiga. Namjoon mengerem langkahnya kembali. Kakinya membeku di tempat ketika sosok itu...ya! Sosok manis itu kembali berjumpa dengannya. Dengan pandangan tak kalah kaget. Sementara Jimin dan Jungkook (yang memiliki suatu rencana) menggeser letak duduknya dan memberi ruang bagi Namjoon duduk di antara mereka. Yang pasti, agar ia bisa berhadapan langsung dengan Suga.
Namjoon tersenyum hambar. Lalu mengikuti arahan kedua namja tadi. Bukankah ini yang ia inginkan? Mendekati Suga kembali?
Suga memang tak apa melihat kehadiran Namjoon di tengah mereka. Namun kecanggungan yang tercipta, sedikit membuatnya tak nyaman.
"Kudengar hyung dan Yoongi sudah saling berkenalan ya? Kalau begitu, tak repot dong kami mendekatkan kalian berdua." Jimin mengedip genit beberapa kali pada Namjoon. Jungkook yang berada di sisi lain Namjoon, justru jijik melihat tingkah sok imut Jimin. /?
Suga hanya terdiam dengan manik matanya lurus memandangi gelas jusnya. Ia mengelus gelas tersebut, seakan ia tak tertarik dengan apapun yang tengah kedua sahabatnya rencanakan.
V menukar pandangan pada Namjoon dan Suga. Sama sekali tak menarik jika keduanya sama sama terdiam begini. Apalagi si Namjoon, dia itu kan orang nya SKSD (Sok Kenal dan Sok Dekat). Selalu tak pernah canggung dengan orang baru. Seharusnya, dengan Suga yang notabene adalah orang yang (mungkin) ia sudah kenal , tak mungkin secanggung ini.
Jungkook mulai melakukan reaksi tak biasa. Ia memegang 'bagian bawahnya' seperti menahan sesuatu yang ingin 'keluar'. Ia melirik pada Jimin, lalu pada V. Tingkah polos Jungkook, menutupi sesuatu yang ternyata hanyalah sebuah 'akting'.
"Aigooo... Sepertinya aku kebelet. Aku akan segera kembali, hyung!" Sebelum Jungkook benar benar pergi, Ia sudah menarik tangan V , agar mengikutinya. Sementara Jimin hanya perlu melakukan rencananya yang disusun untuk dirinya sendiri.
Ia menepuk kepalanya. "Astaga... Bagaimana bisa aku lupa mengembalikan bukuku ke perpustakaan! Hihihi.. Maaf Namjoon hyung! Bisakah aku menitip Yoongi sebentar. Aku juga akan segera kembali!" Jimin akhirnya melesat pergi meninggalkan namjoon dan Suga. Padahal langkah larinya tak mengarah ke perpustakaan sekalipun.
Ditinggal sendiri bersama Suga, bahkan dengan berhadapan gini, Jantungnya seakan dipompa penuh semangat. Antara senang,bahagia, takut,dan malu, bercampur aduk. Ia jadi ingat dimana ia pertama kali bertemu Suga.
"Ja-jadi..."Namjoon mulai angkat bicara. Walaupun ketika ia melirik, tak ada senyum apapun yang dibalas untuknya. Melainkan ekspresi datar yang tak bersemangat. "Kau sekolah disini?"
Suga mengangguk.
"Ehmm... Hehehe... Kebetulan sekali,ya! Aku memutuskan pindah ke asrama tempat kau juga tinggal." Namjoon tersenyum 3 jari. Berusaha larut dengan tingkah sok akrabnya. Padahal Suga pun tak sadar dengan senyuman yang diberikan Namjoon. "Bukankah ini jodoh, Suga?"
"Jangan panggil aku Suga." Suga mulai mendongak. Manik matanya sudah mulai berani memandang Namjoon. "Namaku Min Yoongi."
Namjoon tersentak. Ia tak pernah mendengar ucapan seserius itu dari Suga. Tatapan datar, meluncur telak menghantam tatapan kaget Namjoon. Dimana Suga yang terkenal manis, ceria, dan sangat manja? Apa karena perbuatan Namjoon, semua itu terenggut?
"Su-suga.. Aku tau kau masih marah." Namjoon meraih kepalan tangan Suga. Mencoba mengenggam kembali tangan tersebut setelah lama tak ia sentuh. Benar benar sama. Kulit mulus itu masih sama seperti 'dahulu'. "Tapi sungguh, aku tak bermaksud meninggalkanmu.."
Suga mengeraskan rahangnya. Menarik kembali tangannya yang disentuh Namjoon. Tak rela tangannya kembali disentuh oleh seseorang yang pernah berada di hatinya.
Dan pernah menyakitinya.
"Kumohon, lupakanlah... Kenapa kau hadir ketika aku berusaha melupakannya, Namjoon-ah?!" Suga mengigit bibir bawahnya. Hatinya bagai tercabik. Ia berusaha menahan air matanya.
Namjoon menunduk sesal. Ia tak kuat melihat Suga begitu menderita akan kesalahan yang pernah ia buat. "Maafkan aku.. Tapi percayalah padaku...
Aku masih mencintaimu."
Suga mengenggam erat gelasnya. Dingin mulai tersalurkan ke pori pori tangannya. Namun tak berhasil membekukan perasaannya. Justru ucapan Namjoon melelehkan pertahanannya. Ia ingin saja menangis. Tapi Suga telah berjanji sebelumnya. Bahwa menjadi namja, haruslah kuat dan tak menangis!
"YOONGI !?"
Seorang namja tampan dengan perawakan tegap bak seorang pangeran yang habis turun dari kuda putihnya, berlari mendekati meja tempat Namjoon dan Suga berada. Dengan ekspresi bergembira, segera saja ia memeluk Suga. Namja di rangkulannya kini terkejut setengah mati. Bahkan Namjoon yang melihat langsung pemandangan itu , tak sanggup menahan rahangnya yang sudah turun.
"AKU SANGAT MERINDUKANMU!"
Kim Seokjin berucap lirih akibat terharu di telinga Suga. Ya... Namja tampan tersebut sangat gemas memeluk tubuh Suga seakan ia tak rela melepasnya kembali. Sementara Suga membalas pelukan itu dengan elusan di punggung datar Jin. Ughhh.. Serasa hati Namjoon hancur berkeping keping.
Jin mengangkat tubuhnya kembali. Ia lalu duduk di samping Suga dan menggeser dudukannya agar semakin menempel pada Suga. Memang begitu cinta mati dengan Suga rupanya. Tak begitu dengan respon Namjoon seolah ia gerah melihatnya. "Ehemmm..." suara batuk Namjoon yang dipaksakan , menginterupsi pandangan antusias Jin pada Suga. Segera saja namja tampan itu menoleh dan tersentak karena ada Namjoon rupanya sedari tadi.
"Ehh.. Namjoon-ah. Aku tak tau kau disini." Namjoon akui bahwa dirinya ingin melemparkan bangkunya ke kepala Jin. Jika saja namja tampan itu bukan teman sekelasnya. "Sedang apa kalian berdua disini?"tanya Jin.
Namjoon memandang Suga. Seakan bertanya, apa ia boleh menjawab jujur pada Jin? Namun Suga segera mengalihkan pandangannya pada Jin.
"Kau tak bertanya padaku tentang liburanku di Amerika?"
Merasa diberi tawaran oleh seorang namja yang begitu dicintainya, Jin segera memandang Suga dan mencubit gemas kedua pipi mulus Suga. "Kau tega liburan tanpa mengajakku." Suga tertawa membalasnya.
#Jlebb
Seakan pedang menembus dadanya. Hati Namjoon berdenyut sakit. Tingkah mereka seolah pamer bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Ya... Tingkah manja serta tawa riang Suga, seharusnya ia dapat kembali seperti yang ia pernah dapat dari Suga dahulu.
Tapi apakah benar? Bahwa perkiraan 'Suga adalah kekasih Jin'?
.
.
.
.
Maka Namjoon lebih baik membunuh dirinya sendiri daripada menahan semua rasa sakit dan menahan rasa sesal ini lebih lama lagi...
.
.
.
.
.
Namjoon duduk begitu lemas. Bangku di hadapannya telah kosong tanpa penghuni. Suga dan Jin yang sedang bermesraan diri di hadapannya tadi, sudah pergi. Menetralkan suasana yang paling dibenci Namjoon.
#Tap #Tap
"HYUNG! Bagaimana?! Kau sudah dekat dengan Yoongi kan?" Jimin memandang antusias pada Namjoon. Namja itu segera duduk di bangku tempat Suga dan Jin berada tadi. Begitu juga Jungkook dan V mengikuti. Mereka ingin melihat respon Namjoon atas rencana yang dibuat mereka. Namjoon ingin jujur, bahwa bukan 'pendekatan' seperti ini yang ia inginkan. Arti 'pendekatan' yang ia perlukan adalah... Memperbaiki insiden yang pernah terjadi antara dia dan Suga.
Namun mau bagaimana lagi. Ia harus menerima kenyataan. Ketiga mahluk menyebalkan di hadapannya, sudah melakukan yang terbaik untuknya. Namjoon mengembangkan senyum. Tapi senyum yang begitu terpaksa. Hanya saja ekspresi gembiranya , cukup memudarkan sementara perasaan kecewanya. "Kalian berhasil melakukannya."
"YEYYY!" Ketiga namja manis itu berseru riang. Bahkan menyentakkan beberapa penghuni kantin. Namjoon terkikik. Melihat reaksi menggemaskan ketiga namja itu, seolah menjadi obat penenang untuknya. Oh , ia harus menarik julukan sebutan '3 hantu remaja' untuk mereka.
"Sekarang hyung juga harus menepati janji!" V berkoar. Ia mengangkat kameranya. Ia sudah siap mewawancarai Yongguk saat itu juga.
"Oke ...Oke... Sebaiknya kalian ikut aku ke lapangan. Ia sedang latihan sekarang. Tapi kalian harus siap dengan ekspresi memohon dan aegyo dan sejenis itulah... Kita harus buat Yongguk bertekuk lutut." Namjoon memerintah layaknya seorang guru TK.
"AYAYAII KAPTENNN!" dan 3 bocah layaknya anak TK itu sendiri, merentangkan semangat kedua tangannya ke udara.
.
.
.
.
.
.
"GYAAA!" Yongguk hampir saja jatuh dari salah satu bangku penonton. Kegiatan minumnya , terusik sudah karena 3 mahluk manis serta Namjoon sedang mengembangkan senyum serempak memandangi antusias padanya. Sejak kapan Namjoon jadi begitu kompak dengan 3 wartawan itu?
"Sedang duduk sendirian?" tanya Namjoon. Yongguk berdecak kesal dan membalasnya dengan anggukan. "Himchan sudah kembali ke kamarnya. Ia malas menungguiku." jawab Yongguk tak bersemangat.
"Yahhh... Padahal aku ingin ketemu Himchan hyung." V mengerucut sebal. Malah tatapan geram kedua sahabatnya yang V dapat. Jangan sampai tindakan 'fanboying' V membuat mood Yongguk down untuk di wawancarai.
"Ehmm begini, Yongguk-ah.." Namjoon menggaruk tengkuknya. "Aku sudah berjanji pada mereka agar aku membujukmu diwawancarai mereka."
#Glupp
Yongguk hampir saja tersedak. Ia mengarahkan pandangannya pada Namjoon lalu pada 3 bocah tadi bergantian. Seakan tatapan ngeri mengatakan 'kau serius?!'
"Kumohon , sunbae! Sekali ini saja..." pinta V dengan raut memohonnya.
"Kami tak akan tega mengumbar info pribadi ,hyung! Kami tau mana yang menjadi privasi mana yang tidak. Hyung tinggal bilang saja... Kami berjanji tak akan melakukan hal aneh aneh." jawab Jungkook seraya menunjukkan kedua jarinya membentuk huruf 'V'.
Namjoon pun tak mau kalah dengan sikap memohon ketiga hoobaenya itu. Ia bahkan berlutut memohon dan menaruh dagunya di lutut Yongguk. Raut memohon yang sama sekali tak menggemaskan, ia berani pertontonkan di hadapan Yongguk. "Jebal, Yongguk-ah. Kau tak lihat betapa kasiannya mereka mengejarmu terus selama berbulan bulan hanya untuk sekali wawancara." Namjoon menunjuk pada ketiga hoobae di belakang punggungnya. Yongguk mendongak dan memandang iba ketika pemandangan memohon dan raut kasihan dari ketiga hoobaenya itu.
Tak kuat melihat tindakan memohon hoobaenya itu serta tingkah menjijikkan Namjoon, ia angkat tangan. "Oke oke! Aku menyerah! Kalian boleh mewawancaraiku! Tapi aku tak akan jawab jika ini menyangkut privasi."
Namjoon serta 3 hoobae nya melompat kegirangan seraya memeluk satu sama lain. Perjuangan mereka akhirnya berakhir sampai disini. Yongguk hanya terkekeh melihat sikap kekanakan orang orang itu.
Ekor mata Yongguk tiba tiba terhenti pada suatu benda.
"Taehyung-ah.."
Pemilik nama yang dipanggil itu pun menoleh. Menghentikan segala perayaan suka cita tadi. "Nee?"
"Boleh hyung meminjam kameramu?" Jari Yongguk menunjuk pada benda yang sedari tadi tergantung di leher V.
V menurunkan pandangannya pada kamera kesayangannya. Lalu balik memandangi Yongguk. "Untuk apa, hyung? Aku ingin memakainya untuk wawancara nanti."
Yongguk menoleh pada Namjoon. Pandangan itu seolah memberi pesan pada Namjoon, dan namja yang diberi pandangan seperti itu mengangguk mengerti. "Ahhh... Yongguk meminjamnya untuk suatu tugas. Karena kami bukan dari ekskul jurnalistik, tentu kami tak memiliki kamera, bukan? Nanti Yongguk akan meminjamnya setelah wawancara selesai. Kau bisa mengambilnya besok. Benar bukan, Yongguk-ah?"
Yongguk mengangguk. Walaupun ia sendiri merasa keberatan dengan rencana tadi.
"Baiklah! Kami akan meminjamnya! Tapi hyung harus memberikannya besok! Arrachi (mengerti),hyung?!" V mengedip akrab pada Yongguk. Yongguk hanya tersenyum membalasnya.
"Ah... Sekarang mari kita lakukan wawancaranya!"
.
.
.
.
.
.
Sementara Yongguk diwawancari oleh V , Jimin, dan Jungkook. Namjoon dari bangku penonton (agak menjauh dari keempatnya) menyeringai antusias.
"Setidaknya melihat foto atau video ia berciuman dengan Himchan, akan memulihkan kondisiku tentang Suga." Namjoon pun terkikik.
.
.
.
.
.
END/TBC?
Miyu jujur gak terlalu tau soal couple official nya BTS (Bangtan Boys). Tapi yang Miyu udah agak kenal yaitu couple VHope dan TaeJin. (Apalagi VHope, Miyu cinta banget sama couple satu ini!). Nah couple lainnya gak tau deh xD jadi maaf kalau moment Bangtan menjurus ke Crack Couple ;)
Miyu ingin balas beberapa review dari readernim!
*Haha... Kayaknya Miyu menganggap Chapter sebelumnya panjang (padahal sih katanya pendek) karena Miyu ngetiknya dalam 2 malam saja -.- jadi terasa panjang gitu(?)
*Pedo? Haha,,, banyak yang bilang begitu. Tapi Miyu kok gak kepikiran ya sama sekali. xD Mungkin terbiasa karena mikirnya "Kalau Kyuhyun atau Himchan naksir Miyu?" , juga gapapa dibilang pedo. #digeplakMassal
*Nggak semaleman juga sih. Ngelanjutin dari sore ke malem '-' biar besoknya bisa belajar full buat ujian/? Kkkk #curhat
Maaf ya.. Padahal bentar lagi ultah Daehyun, tapi chapter depan nyeritain ultah Himchan xD Semoga readernim masih antusias membaca ff ini :)
Maaf juga kalau chapter ini kurang menarik atau bagaimana.. karena abis balik dari ujian, jadi mentok berimajinasi :D Chapter 11 , all BAP moment will include ;)
Tunjukkan antusiasme readernim di kotak review yuk!
.
.
.
.
Chapter 11?
MAY TO REVIEW?
