Gomen, update agak lama. ._.

Untuk ke depannya, update tergantung kesibukan saya. Kemungkinan semester ini pelajaran bakal ngebut, sih. :3

Yosh, enjoy!


KHR! © Akira Amano / Amano Akira

FFXII © Square Enix

Warning: Di sini, plot dan sifat chara FFXII agak saya ubek-ubek, bener-bener saya rombak. Jangan heran kalo ada karakter yang sifatnya agak berbeda jauh.

.

.

Chapter 10: The Empire of Archadian

.

.


Sebal.

Tsuna merasa sebal sekali.

Ayolah, ia sedang kelelahan saat ini, dan lagi, si kelinci mesum yang menjadi atasannya itu harus menggodanya. Sungguh saat yang tidak tepat. Bagaimana ia akan menahan dirinya agar tidak berserk?

Kepalanya yang pening sudah berdenyut dari tadi. Tangannya tidak bisa ia tahan agar tidak mengurut pelipisnya.

"Ah…Sudahlah, aku pulang," ucap Tsuna pasrah, satu tangan ia lambaikan pada sosok kelinci bernama Montblanc di belakangnya.

"Eh? Kenapa?" tanya Mon—dan Tsuna bisa mendengar nadanya yang dimanja-manjakan. Kalau saja tidak dilarang, ia bisa muntah saat ini juga. "Kumo-kun belum mencium bahumu…Nanti bahumu tidak sembuh…Kumohon, Oozora-kun…"

Tidak perlu menengok ke belakang untuk mengetahui bahwa Mon tengah memakai ekspresi memelas—puppy eyes. Atau malah, rabbit eyes? Yang jelas, Tsuna merasa jijik dengan sifat Mon yang mudah berubah itu.

Dan juga…apa maksud perkataannya barusan? Benar-benar tidak nyambung, kalau dipikir-pikir.

"Apa hubungannya? Dasar," gerutu Tsuna yang kedua alisnya tertekuk dengan kesal. Semakin lama, Mon semakin berbicara ngawur. Go home Mon, you are drunk. "Dengar ya, lukaku akan sembuh sendiri. Titik," kata Tsuna lagi dengan sewot. Siapa yang tidak kesal dikerjai begini saat sedang capek-capeknya, coba?

"E-Eh? Tapi—"

Tsuna membalikkan badannya, memilih untuk tidak mendengarkan segala kicauan makhluk pendek yang aksi kejahatannya menyerupai Reborn itu.

"—aku punya foto kalian berdua lagi 'chu~ chu~' lho."

Dan, langkahnya terhenti seketika.

"A-Apa!?" teriak Tsuna dengan horror. Apa yang dikatakan Mon memang fakta, karena kini ia tengah menggenggam sebuah foto yang menampilkan kegiatannya bersama Hibari—

Kemarin malam. Yang itu, yang ciuman. Mereka belum sampai tahap menganu, ingat?

Ukh. Tsuna tidak tahan melihat wajahnya sendiri yang benar-benar merah dan…uh, keenakan, pada foto itu.

Pokoknya, jangan sampai foto nista itu berada di tangan Mon. Entah bencana macam apa yang akan ditimbulkan makhluk yang satu itu dengan foto hot di tangannya, Tsuna tidak tahu dan tidak mau tahu.

"Ke-Kemarikan!"

Seakan mengejek Tsuna, Mon dengan kurang ajarnya mengibas-ngibaskan foto itu di depan wajah si pemuda bersurai cokelat. "Oh, tidak bisa~ Kumo harus mau mencium bahumu dulu~"

Memangnya, Hibari-san mau?

Sedari tadi, Hibari memang tidak mengeluarkan suara. Ia terus berdiam diri, berdiri pada tempatnya berada. Pandangannya meneliti Mon dan Tsuna. Kepalanya menunduk, sedang berpikir. Entah apa yang tengah melintas di kepala pemuda itu.

"Um…" Dengan ragu, Tsuna mencoba untuk memanggil Hibari. Dan ia tidak bisa menahan rasa syukurnya ketika tanpa harus menyebut namanya, Hibari telah lebih dulu mendongakkan kepalanya.

"Ada yang menggangguku," Hibari mengemukakan isi pikirannya. "Darimana kau bisa mendapat foto itu?"

"…Eh?"

Saat itu, Tsuna merasa luar biasa heran. Maksudnya, Hibari berbicara dengan santai seolah adegan 'hot' dirinya dengan Tsuna kemarin malam bukan masalah baginya. Tsuna sendiri merasa wajahnya memanas karena alasan yang tidak jelas melihat foto yang—'ahn~ ahn~' itu.

"Oh, ini?" Untuk memastikan, Mon kembali mengibaskan foto itu, seolah ia sedang mengatakan kepada dunia, 'Halo bung, lihatlah adegan hot ini~', dan itu benar-benar membuat Tsuna risih. "Aku mendapatkannya dari putriku yang mematai-mataimu."

"Oh. Putrimu."

Tsuna kira, Mon sendiri yang mematai-matai mereka. Kalau itu benar, tentu saja Tsuna menjadi semakin risih—

Eh. Apa katanya—'putriku'? Putri? Dia punya anak!?

"Ka-Kau punya anak, Mon-san!?" tanya Tsuna yang terperangah. Kakinya tanpa sadar mengambil satu langkah mundur.

"Tentu saja. Kau kira aku ini tidak laku, heh? Asal kau tahu saja, aku sudah punya istri sejak lama," terang Mon, menggunakan kesempatan tersebut untuk menyombongkan diri dan mengejutkan dua anggotanya yang manis itu.

"Ka-Kau? Menikah?" tanya Tsuna sekali lagi, masih belum mempercayai fakta baru di hadapannya. Mon mengangguk dengan angkuh.

"Dia manusia. Dan dia cantik. Ah, jangan lupa, putriku juga imut, lho," Mon memberi jeda sejenak, sebelum ia mendapat ide dan menambahkan, "Sama imutnya dengan kalian."

"…Err. Terima kasih."

Entah ia harus merasa senang atau bagaimana dengan kalimat itu.

"Kesampingkan hal itu," sela Tsuna, berusaha mengalihkan pikirannya yang mulai macam-macam. "Aku baru tahu kalau rasmu bisa kawin dengan ras manusia."

"Tentu saja. Ingat, Oozora. Aku bukan hewan—paling tidak, bukan sepenuhnya hewan," terang Mon seraya mengangguk-angguk pada dirinya sendiri. "Jadi, aku bisa dengan bebas menikahi seorang manusia."

"Jadi begitu…"

Bagaimanapun juga, Tsuna merasa jawaban yang baru saja diutarakan oleh ketuanya itu sedikit kurang jelas, ia menghilangkan beberapa detail. Apa mungkin kelinci biadap itu memang tidak tahu, tapi berlagak sok tahu? Toh, itu tidak penting.

Intinya, sekarang ia tahu kalau ras setengah manusia setengah hewan macam Mon bisa menikahi seorang manusia. Oke.

Ngomong-ngomong, mereka tadi bicara tentang apa?

Oh, benar. Foto mesum itu.

"Memangnya mau kau apakan foto itu kalau kami tidak menurut?" Tsuna bertanya seraya menunjuk Mon yang siul-siul sambil memasang muka watados.

"Um, nggak tahu, ya. Mungkin akan kusebarkan?"

Wajah kelinci itu…Tsuna tahu wajah super duper moe itu tidak seharusnya ia beri deathglare. Tapi, bodo amat. Dirinya yang teramat sabar ini, setelah mengalami berbagai rintangan sebagai Vongola Decimo, hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak melempar tubuh kecil itu dari tempat mereka berada ke bagian bawah markas—ingat bahwa mereka sedang berada di lantai atas.

"Mon-san, tolong—"

"Boss!"

Sebuah suara maskulin yang serak-serak basah menginterupsi pembicaraan hangat dan harmonis mereka. Ketika Tsuna menoleh ke arah sumber suara, ia menyadari kalau makhluk yang memanggil Mon dengan 'boss' barusan adalah seorang bangaa berkepala kadal dengan kulit hijau—ia sempat merinding jijay melihat kulit bersisiknya.

"Oh. Ada apa?" tanya Mon, memasuki mode kerennya dan berbalik menghadap bawahannya itu. Bangaa berupa kadal tersebut berjongkok untuk menyejajarkan tinggi badannya dengan Mon, lantas membisikkan sesuatu pada telinga si boss kelinci.

Duh, Tsuna jadi kepo ketika Mon mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ekspresi serius. Ada masalah kah? Kalau memang ada, ia ingin sekali membantu—tidak, bohong. Tsuna sudah terlalu lelah hari ini. Jika masalah itu tidak terlalu penting dan dapat Mon atasi sendiri, ia akan menghindar untuk malam ini dan tidur, mengistirahatkan tubuhnya.

"Aku tahu. Untuk sementara, psst, psst, psst…" Mon menjawab dan ganti berbisik pada kadal itu—yang Tsuna heran, kadal itu…punya telinga tidak, sih? Dan dengan pedenya Mon membisiki makhluk itu.

"Baiklah, Boss."

…Eh. Dia bisa dengar!?

Dengan patuh, kadal itu menuruni tangga untuk melakukan apa yang diperintahkan Mon kepadanya. Ini sempat membuat Tsuna berpikir—kalau para anggota begitu menghormati Mon, itu berarti Mon adalah orang yang hebat, ya?

Tapi otak Mon sudah sedikit miring, ia rasa.

"Mon-san…" panggil Tsuna dengan ragu, takut kalau ia akan digoda lagi. "Apa ada masalah?"

"Fuh. Tidak," balas Mon dengan nada rendah, menunjukkan mode seriusnya yang sangat kece itu di depan kedua anggota kesayangannya. Hibari menunjukkan seringai tipis—ia jadi ingat sosok bayi kuat bernama Reborn, sementara Tsuna mengerjapkan kedua matanya. Menghela nafas panjang, Mon berbalik untuk memberikan perintah berupa, "Hal pertama yang harus kalian lakukan setelah ini adalah, mengunjungi Old Dalan."

Old Dalan? Sepertinya Tsuna pernah mendengar nama itu di suatu tempat…

"Ah. Sesepuh dari Lowtown itu, ya?" tebak Tsuna, dan ia mendapat jawaban berupa senyuman simpul dari Mon.

"Tepat. Jangan lupa untuk mengunjunginya. Jangan sampai lupa," perintah Mon sekali lagi, dengan penekanan pada beberapa kata. Dengan begitu, Tsuna mengasumsi bahwa perkara ini ada kaitannya dengan masalah Mon. Dengan kata lain, ini adalah masalah yang cukup penting.

Mengangguk mantap, Tsuna lantas menjawab dengan nada yang tak kalah tegas dari sang kelinci, "Aku mengerti."

"Hmph," Diam-diam Hibari menyeringai dengan kedua mata tertutup—merasa bangga dan senang ketika mode boss Tsuna lagi-lagi keluar. Herbivora itu sudah tumbuh besar, pikirnya.

…Siapa elu, Hibari? Bapaknya Tsuna kah?

Sambil mengangguk puas, Mon memberi satu pesan terakhir kepada mereka.

"Hati-hati. Old Dalan lebih berbahaya dariku."

Berbahaya dalam artian apa, Tsuna sama sekali tak tahu. Yang jelas, ia punya firasat kalau malam ini akan jadi panjang.

.

.

Malam itu, Kota Rabanastre benar-benar ramai, berbeda dengan biasanya. Sebagian besar penduduk memilih untuk pergi keluar dari kediaman mereka. Beberapa pedagang yang tak ingin melewatkan kesempatan ini pun turut meramaikan Kota Rabanastre dengan ikut membuka bermacam-macam toko kecil.

Kalau semua orang menikmati kemeriahan malam itu, Hibari Kyoya malah merasa bad mood ketika ia melihat lautan manusia di depannya. Tsuna entah bagaimana berhasil mencegah prefek itu pergi—mereka masih ada urusan dengan Old Dalan. Dan di sinilah mereka berada sekarang, terjebak keramaian.

Kumpulan orang-orang itu membuat suhu udara memanas, mengalahkan dingin malam sekalipun. Tsuna sedang beristiharat di sebuah jalan kecil di antara bangunan-bangunan yang sepi, bersama Hibari dengan muka 'senggol-bacok' di belakangnya. Tanpa diperhatikan saja ia tahu kalau Hibari benar-benar bad mood lantaran ia memaksanya ikut berkerumun dengan penduduk herbivora itu.

Tapi kalau dipikir-pikir…Tsuna jadi melas juga kepada Hibari.

"Hibari-san…" panggil Tsuna dengan takut, punggungnya bersender pada tembok bangunan di belakangnya. Pemuda itu menjerit pelan ketika ia baru menyadari aura kegelapan yang tebal di sekitar Hibari—sungguh suram. "Ma-Maaf…Sudah memaksamu untuk…ini…"

Wajah moe itu, suara imut yang terbata-bata itu, mata berkaca-kaca itu—Moe Overload. Salah satu kemampuan jitu si Decimo yang digunakan untuk menenangkan mereka yang marah. Dan sampai saat ini, belum ada orang yang tidak terkena efek jurus itu.

Bagaimana dengan Hibari?

"Hie!"

Sebuah lengan kekar tiba-tiba menghantam tembok di belakang Tsuna, dengan sukses membuat pemuda bertubuh kecil itu terperangkap di antara tembok dan tubuh Hibari sendiri. Semburat merah pada wajah Tsuna semakin menjalar pada kedua telinganya ketika hembusan nafas Hibari yang hangat mengenai wajahnya.

Pose ini sungguh ambigu bagi hatinya yang rapuh.

"Omnivore," ucap Hibari tepat di depan wajahnya, dan Tsuna segera dapat merasakan bau nafas Hibari yang begitu wangi dan memabukkan. "Kau akan membayar semua ini. Malam ini."

Tung—otak Tsuna berhenti berputar mendengar kalimat ambigu tersebut. Hibari ambigu. Ambigu, ambigu, ambigu.

Ambigu dan imajinasi liar itu indah, ya.

"Un…Hibari-san…"

Jarak wajah mereka yang dekat menyebabkan manik cokelat Tsuna bertemu dengan milik Hibari yang berwarna kelabu. Dan untuk menambah rasa deg-degan Tsuna, Hibari semakin mendekatkan wajahnya, matanya perlahan menutup.

Jantung Tsuna ber-doki-doki. Seketika, dirinya merasa pasrah dengan apapun yang akan dilakukan oleh pemuda bersurai hitam itu, dan kedua matanya ikut terpejam.

Kepalanya membunyikan alarm 'Kyaaaa!' ketika kedua bibir mereka bertemu dengan lembut, namun sayangnya singkat. Dan saat itu juga, dadanya merasa meledak-ledak dengan aneh, seperti kembang api.

Sebelum Tsuna malu dengan dirinya sendiri, sang prefek menarik dirinya mundur. Lidahnya sempat menyapu bibir bawah Tsuna dengan—oh so sekseh dan menggoda.

Ahn, Tsuna jadi merinding keenakan.

"Jangan lupa, Omnivore. Atau, kamikorosu."

"E-Eh?" tanya Tsuna dengan inosen, pikirannya masih melayang-layang dan dirinya serasa nge-fly. Yah, ia memang mabuk sih. Mabuk oleh ciuman Hibari, ciat. Ia tahu kalau Hibari meminta suatu imbalan tersendiri karena Tsuna telah menariknya paksa ke dalam kerumunan para herbivora. Dan imbalan itu akan Hibari minta malam ini juga, entah berupa apa, Tsuna tidak tahu.

Tapi pikirannya mengarah pada—itulah. Tahu sendiri. Pikirannya jadi mesum semenjak Reborn mengajarkannya sesuatu yang tidak pantas untuk anak di bawah umur. Kata tutor sadis itu, "Buat nambah wawasan. Kau kan Boss Vongola. Masa' seperti ini tidak tahu."

"U-Um…Hibari-san…Kita harus ke…Um, Old Dalan."

Aduh. Awkward sekali suasananya. Tsuna jadi ingin terjun dari suatu jurang saat itu juga, merasakan betapa ekstrimnya ketinggian. Dan keinginannya tersebut akan terkabul ketika Hibari tiba-tiba mengangkat tubuhnya, meletakkannya dengan tidak so sweet di atas bahu tegapnya. Tsuna merasa jadi seperti karung saja, dipikul-pikul begitu.

"Hibari-san, apa yang kau lakukan!?" tanya—jerit Tsuna horror.

"Hn."

Hn? Hn? HN? Kalau boleh tahu, HN itu artinya apa, Hibari-san!?

"HIEE!"

Tanpa peringatan, Hibari melompat menuju atap bangunan terdekat, mendarat di atasnya. Oh. Keinginan Tsuna untuk menikmati ketinggian ekstrim pun dikabulkan oleh Hibari. Dengan begini, ia bisa melihat pemandangan kota dengan lebih luas.

"Whoa," Tsuna berdecak kagum melihat pemandangan di bawahnya. Begitu banyak orang di sana, jalan-jalan sangat padat, dipenuhi oleh semua orang yang ingin menyaksikan pawai yang ditunggu-tunggu. Jujur saja, banyaknya gemerlap lampu dari bawah sana sedikit berhasil mengurangi rasa takut Tsuna.

"Banyak sekali orang, seperti laut saja…"

Sekarang, Tsuna mengerti kenapa Hibari benar-benar mengamuk.

Hibari dengan cepat melompat dari satu atap ke atap lainnya, mencari jalan menuju Lowtown. Banyaknya herbivora di bawah sana membuatnya jijay dan ia ingin segera mengakhiri urusannya. Malam ini, ia benar-benar akan meminta imbalannya dari Tsuna.

Imbalan berupa apa ya, ngomong-ngomong?

"Ah!" Tsuna menunjuk ke arah suatu tempat di bawah sana. "Pawainya sudah sampai di sana…" Tiba-tiba saja Hyper Intuition mengatakan kepadanya bahwa ada sesuatu sangat penting yang ada di bawah sana. Sesuatu yang terlarang, namun diharuskan untuk diketahui.

Menoleh ke arah Hibari, Tsuna berkata dengan suara moe,"Hibari-san…To-Tolong berhenti sebentar…ya?" Jurus moe-nya terbukti kurang ampuh ketika Hibari belum juga memperlambat jalannya. Tanpa kenal putus asa, Tsuna mencoba sekali lagi—ia mendapat ide.

"Malam ini…aku akan memberikannya…pada Hibari-san seorang…"

Lho. Lho. LHO. Demi kolornya Lussuria, apa yang baru saja ia katakan? Pikiran Tsuna sepertnya sudah buntu. Ah, betapa indahnya ambigu dan imajinasi liar itu.

Tapi sebentar kemudian, Tsuna jadi malu sendiri.

—Abaikan hal itu, karena ia berhasil membuat Hibari menghentikan langkahnya, lalu menurunkan tubuhnya dengan sedikit tidak lembut. Punggungnya jadi sakit, kau tahu.

"Terima kasih…Hibari-san."

"Hn."

Uwo, tapi tetap saja…Hibari menuruti permintaannya? Berarti ia memang benar-benar berniat mengambil 'sesuatu' itu dari Tsuna malam ini. Tidak tahu, Tsuna lelah dengan semua keambiguan ini. Ia ingin cepat-cepat pulang dan istirahat.

Jadi, kembali ke topik.

Sambil berjongkok keren, Tsuna memusatkan pandangannya pada pawai yang tengah berhenti berjalan di bawah sana, tepat di depan sebuah tempat besar bernama katedral*. Dan, betapa shock-nya pemuda imut itu, ketika ia menyadari bahwa pawai yang dimaksud oleh penduduk adalah pawai-nya Imperial. Di antara banyaknya prajurit berkepala ember pada pawai itu, Tsuna melihat beberapa kereta besar yang kelihatan canggih dan mewah. Asumsinya sendiri mengatakan kalau di dalam kereta mewah itu terdapat orang-orang berpangkat besar dalam pasukan Imperial. Beberapa kereta kecil lainnya yang berbentuk aneh—seperti mangkok yang dibalik, dan terbang, kau tahu—mengekor di belakang.

"Jadi, di dunia ini memang ada teknologi canggih, begitu?" tanya Tsuna kepada dirinya sendiri, tidak mengharapkan jawaban dari siapapun. Hibari di sampingnya kemungkinan besar tidak akan mau repot-repot menjawab.

Kau tahu, berarti para penduduk ingin nonton ember-ember berjalan yang monoton itu dengan kurang kerjaan?

Tidak. Tsuna yakin mereka punya alasan lain. Dengan itu, kedua matanya kembali meneliti keadaan, dan tidak butuh waktu lama baginya untuk melihat seseorang yang tidak memakai helm jejadian seperti prajurit lainnya. Pria yang tengah berdiri di atas kereta mewah itu memiliki rambut panjang sebahu, dan dengan percaya diri dia melambaikan tangannya, mengabaikan segala sorakan penuh cela dari para penduduk.

"Apa yang akan orang itu lakukan?"

Seluruh prajurit beserta pria yang sepertinya merupakan orang penting itu turun dari kendaraan masing-masing, kemudian bersama-sama menaiki tangga yang mengantar mereka menuju halaman depan katedral kecil yang tak Tsuna ketahui namanya.

Untuk sejenak, seluruh penduduk terdiam. Oh—apakah ada sesuatu yang akan dimulai?

"Kita akan membangun Consul yang baru," seru salah satu prajurit berkepala helm itu dari bawah sana, suaranya menggema keras pada keheningan malam. "Yang Mulia Lord Vayne Solidor, Komandan Pasukan Kerajaan Archadian—"

Pria bernama Vayne Solidor itu dengan tiba-tiba berjalan maju, sehingga perkataan prajurit tersebut terputus. Langkahnya begitu tegap dan percaya diri. Tsuna tidak tahu kenapa, tetapi ia merasakan firasat buruk hanya dengan melihat sosok itu saja. Mengherankan, memang. Karena pria itu terlihat bijaksana sekali dari luar.

Masalahnya, Hyper Intuition tidak pernah membohonginya.

"—Yang Mulia!" panggil prajurit tadi, tercengang dengan aksi mengejutkan dari atasannya. Vayne dengan sumringah menaiki kereta terbang mewahnya yang tengah berhenti. Sebelum berbicara, ia menyorot semua penduduk di hadapannya, seperti meminta mereka untuk mengakui keberadaan dirinya saat itu.

"Penduduk Rabanastre!" seru komandan berambut sebahu itu, dengan kedua tangan yang terangkat naik. "Apakah pandangan benci yang kalian tujukan kepada Consul? Dengan kebencian kah kalian melihat Kerajaan Archadian?"

Sorak sorai penuh ejekan terdengar tanpa perlu menunggu. Tidak sedikit dari mereka yang melempari—setidaknya berusaha untuk melempari Vayne dengan batu atau benda lainnya. Beberapa kalimat penuh benci terlontar dari mulut mereka.

"Ludahi saja kerajaan busukmu itu!"

"Kami tidak membutuhkanmu! Pulanglah ke Archadian!"

"Setidaknya ganti model seragam prajuritnya kek, kasian mereka, tidak bisa bernapas!" Tsuna ikut berseru dari atas atap dengan tidak nyambung. Ah, ia tidak peduli, otaknya sudah benar-benar buntu kalau menyangkut masalah politik begini. Lagipula tidak ada yang bisa mendengarnya di atas sini, kecuali—Hibari.

"Pfft."

Apa. Apa itu. Apakah Tsuna baru saja mendengar suara 'pfft' kecil dari sebelahnya—dari Hibari?

Ia jadi geli karena Hibari yang berusaha menahan tawa itu imut sekali, namun ia juga merasa malu sendiri karena ditertawakan. Jadinya, Tsuna pura-pura tidak mendengar Hibari dan mencoba untuk tetap berkonsentrasi pada pertunjukan kecil di bawah sana yang lebih penting saat ini.

"Ketahuilah satu hal, wahai penduduk Rabanastre," Sang komandan kembali berucap dengan nada bijaksana di dalam kalimat yang diutarakannya. Vayne masih belum menunjukkan tanda-tanda ia marah—ternyata pria itu cukup sabar untuk bisa menahan diri terhadap cemoohan yang dilemparkan untuknya. Kalau Tsuna jadi orang itu, ia akan langsung pulang, bergumul selimut, kalau perlu nyemplung ke sumur.

"…Aku tidak memiliki satu pun niat untuk mengobarkan rasa benci itu, maupun meminta kalian mengabdikan bakti kalian," sambung pria itu lagi, ketenangan belum meninggalkan dirinya. "Kalian menyayangi Raja Raminas. Dan Raja Raminas, mencintai kalian, rakyatnya."

Mendengar nama Raja Raminas disebut, para penduduk terdiam seketika, ingatan ketika Raja Raminas yang penyayang masih hidup dan memimpin negeri itu datang dalam benak mereka.

"Beliau pantas untuk dicintai. Beliau adalah seseorang yang menginginkan kedamaian untuk rakyatnya. Dan sekarang pun, Raja Raminas masih hidup di antara kalian, melindungi kalian…" Vayne masih melanjutkan pidato kecilnya dengan tenang. Gejolak semua orang dapat ia redam begitu saja, menyisakan sebuah kesunyian, sangat kontras dengan suasana tadi. "Aku hanya menginginkan satu hal; mari menggenggam perdamaian yang dicita-citakan oleh Yang Mulai Raja Raminas. Dua tahun penuh peperangan di antara negaraku dan negara kalian telah berlalu, menyisakan akhir yang pahit."

Kedua mata Tsuna membulat—dua tahun penuh peperangan? Sebenarnya apa saja rahasia yang dunia ini simpan?

"Satu hal saja; kebencian kalian terhadapku, terhadap Kerajaan Archadian, tidak akan membuatku mundur. Aku akan berdiri tegak, menahan kebencian kalian, dan menerima panah dan tombak menyakitkan dari kalian," ucap Vayne dengan suara lantang, rasa percaya dirinya mulai meningkat. "Aku akan melindungi Dalmasca!"

Tunggu, tunggu. Archadian itu—sebenarnya orang-orang kerajaan itu berniat baik atau buruk? Mereka, singkatnya, adalah orang-orang yang seharusnya menjadi musuh, bukan? Tsuna sama sekali tidak paham, rasa peningnya muncul lagi.

"Aku akan membayar hutangku terhadap peperangan dua tahun silam. Aku bersumpah akan hal itu!"

Perkataan itu membuat nafas Tsuna tercekat—bagaimana bisa? Orang-orang yang ia cap sebagai penjahat itu baru saja bersumpah akan melindungi Rabanastre—tidak, bahkan seluruh Dalmasca. Dan lagi, suara lantang serta ekspresi yakin itu sama sekali tidak menunjukkan adanya kebohongan.

"Aku sangat menaruh harapan pada kalian," katanya lagi dengan lirih seraya menaruh tangan kanan pada dada kirinya, membungkuk hormat sebagai penutup yang dapat mengundang tepuk tangan riuh dari para penduduk. Bisa dibayangkan betapa bingungnya Tsuna melihat kebencian mereka berubah menjadi rasa hormat hanya dengan beberapa kalimat bijak dari Vayne.

"Sulit dipercaya…" bisik Tsuna, wajahnya semakin memucat. Begitu banyak fakta yang tidak dapat diterima begitu saja oleh otaknya.

"Selesai, Omnivore?" Sebuah suara bernada bosan menginterupsi pemuda bersurai cokelat itu dari segala pikirannya. Dengan lemah, Tsuna menganggukkan kepalanya. Yah—informasi yang ia dapat ini memang terdengar aneh dan tidak masuk akal. Tetapi ini lebih baik daripada ia tidak mengerti apapun.

Pikirannya tidak bisa lepas dari kalimat, 'Bagaimana jika mereka mencuci otak penduduk? Bagaimana jika di balik kata-kata manis mereka, terdapat sesuatu yang mengerikan?'

Sebuah helaan nafas panjang terdengar darinya.

"Maaf, Hibari-san. Bisakah kau mencari Gokudera-kun terlebih dahulu?"

Ya, masih ada hal yang jauh lebih penting yang harus ia lakukan sekarang. Jalanan sedang sepi untuk sementara berkat sebagian besar penduduk yang berkumpul pada halaman depan katedral tersebut.

"Omnivore. Imbalan nanti malam. Dua kali lipat."

Tsuna memelototkan matanya.

"Eh!? Kok bisa!? Apa salahku?"

Pada akhirnya, Tsuna memutuskan bahwa malam itu, terdapat begitu banyak hal yang tidak ia mengerti. Seperti urusan Kerajaan Archadian dengan Kerajaan Dalmasca, maupun Hibari yang tiba-tiba menginginkan imbalan dua kali lipat.

Hei, setidaknya bisakah ia tahu bentuk imbalannya?

Pfft—no. Sepertinya kau harus menunggu, Tsuna.


Waktu yang sama, di depan Katedral…

Lord Vayne Solidor menuruni kereta mewahnya dengan tenang dan penuh wibawa. Di bawah, beberapa bawahan dan prajurit telah menunggunya, memuji penampilan memukaunya barusan begitu ia nampak di hadapan mereka. Semua itu hanya Vayne balas dengan senyuman kecil.

"Bagaimana Rabanastre menurut Anda, Lord Vayne?" tanya salah seorang bawahan dengan jabatan cukup tinggi, terbukti dari pakaiannya yang agak berbeda dari prajurit lainnya.

"Hebat sekali," jawab Vayne sekaligus memuji. Pandangannya kemudian mengarah pada katedral di belakangnya. "Aku harap Lord Gramis bisa menyaksikan kota ini sendiri."

Seorang bawahan di depannya tertawa kecil. "Tetapi, putri beliau sedang menyaksikannya, sekarang."


Seorang perempuan berambut cokelat sepunggung dengan perawakan kecil sedang mengaduk-aduk minuman cokelat hangatnya dengan pandangan yang kerap kali berpindah-pindah. Bukan sebuah kebosanan yang melandanya, melainkan sebuah ketertarikan dan rasa ingin tahu.

"Hentikan itu, Lu. Minumanmu jadi terlihat menjijikkan," tukas seorang pemuda berambut hitam acak-acakan di depannya dengan kalem, dengan aneh berprilaku tidak seperti biasanya, brutal dan ugal-ugalan.

Lucy menggembungkan kedua pipinya. "Bukan urusanmu," balasnya sambil mengambil satu kentang goreng dari piringnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut. "Lagipula, Rasch, tidakkah kau tertarik dengan mereka—siapa itu, bangaa, ya?"

"Tidak. Menjijikkan," jawab Rasch seadanya. Jangan bilang kepada siapapun kalau sebenarnya ia sedang mengagumi Lucy dalam balutan baju kasualnya. Ya, dia mesum dan dia bangga.

Mereka berdua memang datang ke Rabanastre bersama pasukan Imperial, tapi bukan Rasch namanya kalau ia tidak memilih untuk menyeret Lucy kabur sebelum pawai kecil-kecilan itu dimulai. Tolong—ia benci jadi tontonan yang dijelek-jelekkan. Dirinya bukanlah Vayne Solidor yang dengan kata-katanya dapat mengubah pikiran seseorang, maupun Raja—calon Ayahnya sendiri yang dapat membuat seseorang yang memberontak terjatuh hanya dengan tatapan tajamnya.

Raschler hanyalah seseorang yang menginginkan kebebasan—bersama orang yang dikasihinya. Itu saja.

"Jadi, setelah ini bagaimana?"

Rasch menaikkan satu alisnya mendengar pertanyaan penuh ragu tersebut. "Bagaimana apanya?"

"Aku sedikit tidak yakin dengan…" Lucy menggantungkan kalimatnya, mengambil jeda sejenak untuk menyeruput sedikit minumannya. "Kau tahu, dengan rencana Sir Vayne."

"Hm, rencana itu?" Rasch bergumam singkat menanggapinya. Satu tangan ia gunakan untuk menumpu wajahnya, sedangkan tangannya yang menganggur mengambil salah satu kentang goreng milik Lucy—yang untungnya tidak diprotes oleh pemilik makanannya—kemudian memainkannya sebentar sebelum memasukannya ke dalam mulut. "Aku tidak peduli—"

"Hmph, kau memang tidak bisa diharapkan," gerutu Lucy dari seberangnya, kini melipat dua tangan di depan dada dengan ekspresi kesal pada \ wajahnya.

"Habisnya," Rasch mencoba membela diri, dengan bingung menggaruk belakang kepalanya. "…akhir-akhir ini sistem pemerintahan kita terlalu rumit dan merepotkan. Lama-lama aku jadi malas ikut campur—"

"Kesampingkan masalah pemerintahan," sela Lucy. "Rencana kali ini menyangkut banyak orang," Lucy mengangkat wajahnya ke atas, menghadap langit dengan pasrah, kedua lengan terkulai lemah pada kursi yang ditempatinya. "Ah, akhir-akhir ini orang-orang memang aneh. Dan aku merasa agak risih dengan Sir Vayne, kau tahu."

Rasch seketika menyipitkan matanya, genggamannya pada gelas minumannya mengerat—bersyukurlah gelas itu masih berwujud utuh.

Sedari dulu, ia tahu betul kalau insting Lucy tidak bisa diremehkan. Menurutnya, gadis itu seperti binatang lemah yang berinsting tajam, yang tahu harus bertindak bagaimana—menghadapi musuhnya atau melarikan diri. Rasch memang suka orang kuat. Tapi gadis seperti Lucy…

Kenapa ia bisa tertarik padanya? Perasaan lemah seperti serangga yang disebut cinta ini memang terjadi tanpa diduga-duga. Menyebalkan atau menyenangkan—kedua-duanya berjalan beriringan dalam cinta, Rasch rasa.

"Ayah seharusnya menolak rencana ini," ujar Lucy lagi, pandangannya semakin suram dan di kedua matanya terpatul harapan yang pupus. "Kenapa ia dengan mudahnya menyetujui? Kenapa Sir Vayne seolah sedang merencanakan sesuatu? Kenapa semua orang di Archadian menjadi aneh?"

"Entahlah," timpal Rasch sedapatnya. "Sesuatu yang tidak benar sedang terjadi saat ini, merangkak dalam kegelapan dan masih belum memunculkan diri. Paling tidak, kita harus tahu itu."

Sedikit rona merah menjalar pada wajah mungil Lucy mendengar kalimat yang diucapkan secara keren itu. Karena tidak tahu harus berbicara bagaimana, ia hanya bisa menunduk seraya mengepalkan kedua tangannya.

Dasar Rasch dan kekerenannya yang muncul tiba-tiba.

"Kenapa wajahmu memerah? Demam?" tanya Rasch dengan nada nakal, sebuah seringai muncul pada wajah galak namun tampan itu. "…Atau, kau terpesona diriku?"

'Ti-Tidak! Kata siapa!?' adalah kalimat yang semula ingin dikatakan oleh gadis berambut cokelat yang bersangkutan. Tapi tidak, ia sudah tahu betul kebiasaan Rasch yang suka menggodanya ini. Jika ia menjawab seperti tadi, itu sama saja ia terperangkap jebakannya. Ditambah lagi, ia bukanlah orang yang tsundere. Malah sebaliknya, Lucy cukup membenci sifat itu, sifat yang sok menyangkal, tetapi di dalam hati sebenarnya membenarkan.

Jadi, dengan sebuah senyum kecil dan mata menyipit, gadis itu menjawab, "Oh? Bagaimana kalau aku bilang 'iya'?"

Ho? Ada apa ini? Apakah Lucy sedang dalam mood menggodanya?

Rasch menaikkan sebelah alisnya sebelum membalas dengan, "Apakah wajahku setampan itu, sampai-sampai kau ingin melakukan," Rasch menghentikan perkataannya sejenak untuk menjilat bibirnya sendiri dengan gerakan sensual dan sekseh. "—hal-hal tidak sopan kepadaku?"

Penglihatan Rasch sedikit menangkap kedutan kecil pada ujung bibir Lucy. Merasa kepercayaan dirinya terkumpul, ia melanjutkan, "Kau ingin melakukan hal seperti itu, bukan? Seperti yang selalu kulakukan padamu…" Rasch tidak bisa menahan tawa kecilnya ketika ia melihat rona merah itu lagi pada wajah Lucy, serta bahu kecil miliknya yang bergetar karena suatu alasan.

"A-Ayo kembali, Rasch," jawab Lucy dengan pelan, wajahnya ia alihkan. "Aku yakin mereka sedang mencari kita."

Kedua sisi pipi Rasch tertarik untuk membentuk sebuah senyum kemenangan—satu poin kemenangan untuk dirinya.

"Baiklah. Lagipula, ada semakin banyak orang yang datang ke sini," jawab Rasch sembari melirik gerombolan kecil penduduk Rabanastre di lantai satu. Saat ini mereka berada di lantai dua, sehingga para serangga itu belum bisa melihat sosok mereka yang dapat dengan mudah dikenali.

"Itu berarti, pawainya sudah selesai?" tanya Lucy setelah meneguk sisa minumannya dengan cepat, lalu beranjak dari kursinya dan tak lupa membawa benda kesayangannya yang berukuran cukup panjang, masih terbungkus rapi dengan wadah kainnya.

Dan benda itu, adalah senjata kesayangannya—pedangnya.

Kau tahu, untuk jaga-jaga.

"Hn, mungkin."

Sebelum mereka dikenali dan dikerumuni, Rasch dan Lucy memutuskan untuk segera kembali menuju hotel tempat mereka menginap. Beberapa penduduk sempat mengenali mereka, dan Lucy hanya tersenyum manis, sementara Rasch memberikan tatapan 'apa-lo-liat-liat' dengan sadis dan tidak berperasaan.

Dan kini, saat mereka tengah melewati sebuah jalan yang sepi pun, Lucy merasa ada sesuatu yang akan terjadi, sesuatu yang tidak terlalu bermasalah maupun mengganggu, namun cukup penting.

Rasch berjalan dengan kedua tangan di dalam saku celananya, kelihatannya tidak merasakan apapun.

Si bodoh yang otaknya encer itu—yah, Tsuna tidak tahu harus berkata apa. Biarkan saja dia, jangan ganggu pemuda itu dengan pertanyaan-pertanyaan macam 'Rasch, kau merasa ada yang aneh?', karena jawaban diberikan olehnya pasti tidak meyakinkan. Dalam saat-saat tertentu, Lucy malah digoda, bukan mendapat jawaban.

Yah—mungkin ini hanya perasaannya saja. Sampai saat ini, belum ada sesuatu yang buruk yang menimpa mereka, dan Lucy bersyukur untuk itu.

"Gandengan tangan, Lu."

Gadis mungil itu memutar kedua matanya. Permintaan yang terdengar seperti perintah itu—dasar, ia jadi geli dan kesal di saat yang bersamaan. Geli karena Rasch bersikap seperti anak kecil yang memaksa dibelikan mainan. Dan kesal karena ia sedang dalam mood-mood 'Aku-ingin-begini-aku-ingin-begitu'.

Pada akhirnya, sebuah senyum lebar merekah pada bibir Lucy. Tanpa pikir panjang, ia meraih tangan tunangannya yang lebih besar darinya itu, menggenggamnya erat.

"…Baiklah."


Gokudera Hayato belum merasakan keasyikan dan kesenangan seperti malam itu. Jujur saja, ia bukanlah tipe orang yang suka hang out—kecuali dengan Juudaime-nya. Gokudera memilih untuk berdiam diri di apartemennya, atau berlatih dan terkadang iseng-iseng mengerjakan teka-teki silang.

Jadi malam ini adalah kali pertamanya ia hang out dengan seseorang tanpa ada Juudaime di sisinya.

Dan Gatsly adalah seseorang yang mengajaknya.

Dirinya sendiri mengakui kalau acara jalan-jalan mereka malam itu cukup mengasyikkan. Pemuda bersurai silver itu diajak oleh Gatsly ke sebuah tempat dengan makhluk-makhluk aneh dan langka di dalamnya, yaitu kebun binatang—Gokudera baru tahu kalau ada kebun binatang di Kota Rabanastre.

Yang berhasil membuatnya dekat dengan Gatsly adalah kecintaannya pada UMA, sama seperti dirinya—meskipun Gatsly hanya sekedar tertarik pada mereka dan bahkan mula-mula tidak tahu apa itu UMA. Kerisihannya pada Gatsly karena sifatnya agak mirip dengan seseorang pun sirna. Maka, meskipun telah mengetahui pawai yang akan diadakan malam itu, mereka berdua lebih memilih menghabiskan waktu bersama-sama dengan makhluk-makhluk UMA.

Di dalam kebun binatang, Gokudera tidak bisa menahan diri untuk membuka mulutnya lebar-lebar hanya untuk menggumam, "Hebat—mereka semua UMA?"

"Woo, iya dong," jawab Gatsly santai, sebuah jari jempol ia acungkan dan cengiran lebar muncul pada wajahnya.

Pertama, mereka mengunjungi kandang makhluk berbentuk kuda yang memiliki duri-duri panjang pada seluruh tubuhnya, seperti landak. Dan yang lebih membuatnya mengerikan lagi, kuda itu tidak punya mata, dan semua duri serta kulitnya berupa besi.

"Ku-Kuda yang mirip landak ini…benar-benar hebat," gumam Gokudera, kedua matanya berkaca-kaca, merasa luar biasa senang karena akhirnya ia bisa melihat apa yang ingin dilihatnya.

"Masih ada lagi," kata Gatsly sambil menarik Gokudera menuju kandang sebuah makhluk aneh lagi. Kali ini, berupa makhluk seperti burung berbulu kuning dengan sayap yang pendek. "Makhluk itu namanya Chocobo. Kedua sayapnya memang pendek, namun kakinya panjang. Kau tahu apa maksudnya?"

Gokudera yang memang berotak encer segera menyahut, "Dia adalah burung pelari?"

"Benar. Dan dia adalah hewan yang kita gunakan untuk bertransportasi," terang Gatsly layaknya seorang pemandu wisatawan. "Tapi tidak semua orang memiliki Chocobo. Jika ingin menaikinya, kau harus menyewanya."

"Jadi begitu," Gokudera mengangguk-angguk mengerti. Dalam hati, ia mencatat agar nanti ia akan menaiki makhluk itu. Akan ia tunjukkan kehebatannya sebagai penjinak hewan kepada Juudaime!

Beberapa jam ke depan, mereka masih tetap sibuk dengan observasi dan obrolan mereka tentang UMA, tidak menaruh sedikit pun rasa peduli ketika banyak orang mulai memenuhi kebun binatang yang semula sepi tersebut—Gokudera hanya sebatas mengasumsi bahwa pawai yang dibicarakan oleh semua penduduk itu telah selesai.

Dan itu berarti, Gokudera harus cepat-cepat mencari Juudaime dan kembali ke penginapan.

"Hari ini melelahkan. Aku pamit dulu, Gatsly-san," ucap Gokudera kepada Gatsly. Mereka berdua sedang berada di depan pintu keluar, dan sebelum Gatsly dapat menyeretnya ke sebuah tempat lagi, ia berpamitan.

"Oh? Ah, ya sudah. Besok hang out lagi, yuk!"

Untuk sesaat, ekspresi Gokudera berubah menjadi suram.

"…Ya."

Ekspresi penuh cengiran itu benar-benar mirip dengan seseorang, sialan.

Berusaha mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya, Gokudera buru-buru membungkukkan badannya sedikit, tersenyum kecil ketika ia melihat Gatsly melambaikan sebelah tangannya. Ketika tubuhnya berbalik, kedua mata hijau emerald-nya menangkap sesuatu.

Sesuatu yang mustahil.

Di seberang sana, ia melihat sepasang kekasih yang mesra—kedua wajah mereka menampakkan kebahagiaan, saling tertawa dan tersenyum, ditambah lagi mereka sedang bergandengan tangan. Bukan itu yang membuat perhatiannya tersita, melainkan—

"Juu…Juudaime?"

Pandangannya menangkap seorang gadis cantik berambut cokelat sepunggung dengan wajah yang mirip dengan Juudaime-nya. Mirip. Banget. Sebelas-dua belas dengan Juudaime-nya yang merupakan laki-laki.

Tunggu. Jangan bilang kalau…Juudaime sedang crossdressing!? Dan dia dipaksa kencan oleh seseorang!? Kegeraman Gokudera bertambah karena pasangan Juudaime—yang menurutnya tengah ber-crossdressing itu, adalah seorang pemuda dengan sebuah seringai khas yang terkenal akan tonfa-nya yang mematikan.

"…Hi-Hibari…" bisik Gokudera tidak percaya. Di samping kemesraan 'Juudaime' dan 'Hibari', hal yang membuat Gokudera tidak percaya adalah ekspresi sumringah pada wajah Hibari yang biasanya penuh hasrat membenci itu.

Hatinya panas. Kepalanya seperti hendak meledak.

Apa ini? Juudaime kencan dengan si sialan itu? Juudaime crossdressing? Hibari tersenyum ganteng? Apa ini. Apa itu. Di mana dirinya sekarang. Siapakah penemu crossdressing

Segala pikiran absurd-nya terhenti ketika pandangannya disambut dengan warna hitam.

.

.

TBC


Katedral = adalah gedung Gereja Kristen yang di dalamnya terdapat tempat duduk khusus bagi uskup. Adegan Vayne Sotoy itu ceramah sebenarnya ngambil dari scene di game-nya. Di belakangnya emang ada bangunan kayak istana, dan ternyata itu namanya katedral.

FINISH! ZEHAHAHA! /stress

Hibari minta imbalan apa ya? Saya juga nggak tau apa. *senyum lebar*

Jadi intinya, Archadian itu jahat. Dalmasca itu baik. Tapi kenapa semenjak Raja Dalmasca yang namanya Raja Raminas meninggal, Archadian jadi baik dan mau melindungi mereka? Kurang lebih, itu masalahnya.

Oh, dan mulai ada yg menyadari kemiripan RaschLu sama HibaTsuna nih. Malah dia nganggep mereka orang yang sama, hoho. Maklumilah, orang itu lagi galau karena lagi kangen seseorang. /dibom Gokudera

Hhh saya mau istirahat dulu. Mana besok ada pelajaran mendokusai, orz

.

Terima kasih untuk yang selama ini membaca, review, fav, follow.

Nee: Ahh, iya. Tentang obat biadap (?) itu, semoga Tsuna lupa mbuang ya. Supaya suatu saat obat itu pecah dan ngefek ke HibaTsuna. Dan yang terjadi seterusnya, if you know what I mean. Au ah, ini cuma harapan saya. XD | Btw, ini balesan nggak jelas banget, maaf ya. Makasih udh review!

Malachan12: Mungkin antara chapter ini sampai chapter 15. Mungkin lho. Tapi kayaknya bentar lagi deh. ;) | Lemon? Saya garing kalo buat lemon, orz. Tapi itu tergantung yg minta juga sih. Kalo misal ada, bakal ditaruh di sidestory-nya aja, krn ga semua orang suka lemon. XDD | Orang diangkut yg dimaksud itu Vayne Solidor bin Sotoy (?), bukan? Kalo iya, berarti pertanyaan yg ini udh kejawab. | Thanks udh review!

Guest/Wookie: Weleh, lupa kasih nama nih ye. XD | Yaaa, mereka kan masih 14 tahunan, masih seusia anak SMP labil. /plak | 5927 yg mbuat Hibari cemburu? Besok akan saya usahakan. Tapi di chapter ini kayaknya ada dikit. :))) | Makasih udh review!

Untuk yang log-in, sudah saya balas di PM masing-masing.

Berkenan untuk review? C: