One Night Stand [REMAKE]

Story belong to Chantiqe

GS for uke

KAISOO~

.

.

.

.

Part 10

.

.

.

.

Kyungsoo merebahkan kepalanya pada meja, sebagian besar teman kantornya sudah pulang dan lampu sudah padam kecuali lampu di mejanya dan ruangan Jonghyun. Kyungsoo merasa lelah luar biasa. Sudah tiga hari ini, Jongin menyiksanya. Sudah tiga hari ini Kyungsoo pulang di atas jam delapan. Jonghyun berkali-kali mengutuk Jongin. Selalu mengeluh akan berhenti jika Jongin masih saja bertindak kejam. Kyungsoo berulang kali meyakinkan Jonghyun, kalau inilah nasib karyawan. Berkali-kali mengulang lelucon garing tentang pasal 1 dan 2 tentang ketenagakerjaan.

"Pulanglah Kyung… ini sudah jam 9 malam." Jonghyun sudah berdiri di sebelahnya.

"Aku tidak bisa Jonghyun, besok pagi-pagi si tuan menyebalkan harus melihat draft majalah yang akan dicetak."

"Itu adalah tanggung jawabku!" Protes Jonghyun kemudian duduk di meja Kyungsoo. Kyungsoo mendongak. Jonghyun tidak kalah berantakan, lingkar hitam menghiasi wajahnya.

"Masalahnya jika pekerjaanku belum beres, kau tidak bisa melakukan apapun."

"Aku tahu, hanya saja aku tidak suka cara Jongin memanfaatkanmu, harusnya dia menekanku bukan kau Kyung." Protes yang sama selama tiga hari ini.

"Aku sudah mengirimkan draft terakhir ke dalam drop boxmu. Semoga saja si tuan menyebalkan menyukainya."

"Dia pasti menyukainya, aku sudah membacanya dan itu luar biasa Kyung. Kau jenius, aku akan merekomendasikanmu menjadi redaktur pelaksana." Puji Jonghyun, Kyungsoo senang bukan main.

"Aku sangat menginginkannya, tapi tuan menyebalkan itu belum melihat hasilnya. Jika seleranya dan selaramu sama mungkin aku aman."

"Dan tuan menyebalkan itu ingin melihatnya sekarang!" Kyungsoo dan Jonghyun sama-sama terlonjak. Pria itu bagai hantu, kedatangannya tak terlihat.

"Tentu saja tuan, saya akan mengirimnya ke dalam drop box anda." Kyungsoo kembali membuka laptopnya, email antara dirinya dengan Baekhyun terlihat. Jongin menaikkan sebelah alisnya. Untungnya Kyungsoo dengan cepat menutupnya.

"Hardcopy nona Kyungsoo, aku akan menunggu disini. Kita bisa merevisinya bersama-sama, bukankah begitu Jonghyun." Jongin melirik Jonghyun kemudian mengambil kursi Irene dan duduk di sebelah Kyungsoo. Mau tidak mau Jonghyun melakukan hal yang sama. Kyungsoo diapit dua orang pria tampan. Yang satu membuat gelisah tidak tentu dan yang satu adalah penawarnya. Bagai dua kutub baterai berlawanan.

Kyungsoo memiliki aroma tubuh yang khas yang membuat siapapun ingin berdekatan dengannya termasuk Jongin. Tangan jongin melonjak-lonjak serasa dipanggil untuk menyentuh lekuk tubuhnya yang sintal. Beberapa kali Jongin terlihat menghela nafas. Ia ingin mendudukkan Kyungsoo di pangkuannya dan mencium gadis itu habis-habisan lalu menenggelamkan wajahnya pada ikal halus rambut Kyungsoo yang harum. Sejujurnya Jongin merasa lelah dengan perang emosi antara dirinya dan Kyungsoo, merasa bersalah karena menekan Kyungsoo begitu keras. Tapi membayangkan Kyungsoo yang menolaknya dan lebih memilih Kris, kekesalannya memuncak.

"Ini tuan…" Kyungsoo mengulurkan hasil print out pada Jongin dan Jonghyun. Tidak seperti Jonghyun yang menggangguk puas, Jongin justru mencoret-coretnya. Membuat gambar abstrak bagai bocah. Ini lebih buruk dari bimbingan skripsi.

"Sangat kampungan! Tidak heran jika majalah ini tidak begitu dikenal publik. Kata-kata yang tidak menarik, gambar yang buruk. Kau harus lebih belajar untuk bisa menjadi editor yang baik Kyungsoo." Bahkan Jongin merobeknya. Mata Kyungsoo berkaca-kaca.

"Saya akan merevisinya lagi tuan." Kyungsoo mencoba untuk tidak menangis lagi. Menelan tangisnya sebisa mungkin. Ia tidak mau terlihat lemah di depan Jongin, tapi dia menyelesaikan pekerjaannya dengan menahan lelah yang teramat sangat. Paling tidak ia ingin dihargai. Rasa sesak menghimpit dadanya.

"Cukup tuan! Kau sudah keterlaluan! Jika kau tidak puas dengan kinerja staffku, kau hanya perlu memecatku!" Suara Jonghyun menggebu-gebu.

"Ini pelajaran juga untukmu Jonghyun, harusnya kau lebih keras pada staffmu." Suara Jongin begitu tenang, emosinya tidak terusik sedikitpun.

"Ini ketrelaluan! Aku melihat draft ini sudah sempurna. Jangan katakan padaku ini semua hanya karena benda yang berada di balik celanamu yang menginginkan Kyungsoo!"

"Jonghyun!" Kyungsoo memekik, airmatanya akhirnya tumpah. "Tidak masalah Jonghyun aku akan merevisinya." Kyungsoo menghapus air matanya dengan kasar.

"Dia sidah keterlaluan! Aku tahu pria ini sangat bernafsu padamu, aku bisa melihat air liurnya setiap melihatmu! Untungnya kau tidak menjadi budak seksnya, kau terlalu lugu untuk itu." Kata terakhir Jonghyun menghantam dada Kyungsoo. Kyungsoo mengambil tasnya dan berlari keluar. Memasuki mobil tuanya. Berkali-kali mencoba menyalakannya tapi tetap saja mobilnya tidak mau menyala. Kyungsoo memukul-mukul kepalanya pada setir mobil. Frustasi dan putus asa, godaan untuk kembali menjadi anak kesayangan Do Min Joon mengajaknya. Budak seks! Jonghyun benar, dirinya memang hanya budak seks Jongin, disaat ia menolak Jongin justru memusuhinya. Pintu penumpang terbuka, ternyata Jonghyun menyusul.

"Pergilah, aku tahu aku kekanak-kanakan. Aku hanya membutuhkan waktu sebentar untuk menenangkan diri."

"Aku akan mengundurkan diri Kyung, aku mendapatkan tawaran kerja di Fashion ikutlah bersamaku." Jonghyun menarik Kyungsoo kedalam pelukannya. Mengapa Jonghyun seorang gay. Jika saja Jonghyun pria normal, Kyungsoo yakin sudah bisa mengembangkan perasaannya pada Jonghyun.

"Apakah semudah itu kita bisa mengundurkan diri?" Walaupun sangat ingin lepas dari siksaan Jongin tapi Kyungsoo tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika tidak bisa melihat Jongin lagi. Hanya ini satu-satunya celah untuknya untuk berdekatan dengan Jongin.

"Mungkin kita akan terkena penalty karena melanggar kontrak, tapi itu bukan masalah aku akan membayarnya."

"Aku tidak tahu."

.

.

.

Perlu waktu setengah jam bagi Kyungsoo untuk kembali kedalam kantor. Jongin tidak menunjukkan emosi apapun. Tidak marah, kesal apalagi khawatir. Dia pria paling dingin tak berperasaan yang pernah Kyungsoo kenal. Jongin masih duduk di bangku dekat meja Kyungsoo. Jongin terlihat bermain-main dengan ponselnya. Kyungsoo menahan emosi, ia bekerja mati-matian sementara Jongin bermain-main. Kyungsoo bersumpah jika kelak ia memimpin perusahaan, ia akan lebih memanjakan karyawannya.

"Anda sudah tenang nona Kyungsoo?" Kyungsoo enggan menjawab pertanyaan Jongin, ia membuka kembali laptopnya. Memilih mengacuhkan Jongin. Menganggap Jongin tidak pernah ada. Tapi hatinya tidak bisa dibohongi, rasa marah dan panas yang menjalari sampai ke ubun-ubunnya justru menimbulkan gairah membara yang ingin ia habiskan dengan Jongin.

Jongin menggeser tempat duduknya agar bisa lebih dekat dengan Kyungsoo. Bukan niatnya untuk membuat Kyungsoo menangis. Jongin mengutuk sikapnya yang begitu bajingan, tapi apalah daya ia juga seorang pria yang penuh dengan harga diri. Jongin mengamati jari lentik Kyungsoo yang menekan tombol keyboard, membayangkan jari-jari itu menyentuh kulit telanjangnya. Jongin mendesah.

"Kau hanya perlu menambahkan gambar yang tepat." Suara Jongin mengalun begitu dekat dengan wajahnya, Kyungsoo bisa merasakan nafas Jongin di pipinya.

"Kita kekurangan tenaga tuan!" Ucap Jonghyun ketus dia berdiri dengan tangan dilipat, wajahnya masih terlihat emosi. "Setiap editor harusnya memegang rubrik tersendiri, tapi Kyungsoo memegang semua rubrik. Kyungsoo manusia bukan robot!"

"Aku tahu, ini justru kesempatan bagi Kyungsoo untuk memahami semua rubrik dalam majalah. Peluang seperti ini sangat langka, terlebih cita-cita Kyungsoo untuk menjadi seorang chief editor." Sahut Jongin dengan senyum setannya.

"Anda memang iblis berwajah malaikat!"

"Aku menghargai kau menyanjung ketampananku Jonghyun, tapi aku pria normal."

"Kalaupun anda satu-satunya pria gay selain aku di bumi, aku tidak akan pernah memandangmu!"

"Cukup Jonghyun, tuan Jongin benar ini kesempatanku. Tolonglah aku butuh konsentrasi untuk menyelesaikannya. Jika kau mempunyai tenaga lebih, bantu aku dan jangan layani bos besar kita. Bagaimanapun sudah sewajarnya dia bersikap arogan dan menjadikan kita sapi perah. Dengan itulah dia menjadi kaya dan berkuasa seperti sekarang."

"Aku rasa kita sepaham nona Kyungsoo." Sahut Jongin dengan seringai liciknya.

Selanjutnya suasana kembali hening. Tapi hanya sebentar, suara Jonghyun berkali-kali menggema disertai protes Jongin. Kyungsoo merasa lelah luar biasa, jam dinding Century menunjukkan pukul dua belas malam kurang lima belas menit. Kepalanya seolah ditimpa batu besar, tengkuknya tegang dan badannya pegal. Berkali-kali Kyungsoo mengerjap, karena matanya mulai berkunang-kunang. Ditambah dengan emosinya yang semakin lama semakin memuncak diiringi rasa letihnya. Kyungsoo serasa ingin meledak.

"Sudah cukup!" Teriak Kyungsoo. Jonghyun dan Jongin yang semula bertengkar mendadak diam dan mentap Kyungsoo. "Jongin kau menang, aku berhenti. Aku mengajukan resign sekarang juga, tidak peduli berapapun denda yang harus ku bayar. Aku sudah tidak sanggup!" Kyungsoo bangkit tapi tidak mempersiapkan dirinya yang sedang lemah. Kyungsoo terhuyung. Jongin seketika menangkap tubuh Kyungsoo.

"Lepaskan aku! Aku bisa berdiri!" Kyungsoo menghempaskan pegangan Jongin.

"Baby…"

"Jangan panggil aku dengan nama itu, aku bukan babymu. Aku hanya pelacur untukmu!" Air mata Kyungsoo kembali menetes. Jonghyun ternganga. "Aku tahu kau marah dan kecewa padaku, aku juga marah padamu. Jadi sekarang kita selesaikan saja, aku berhenti sehingga kau tidak perlu lagi melihatku dan aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi!" Kata-kata tajam Kyungsoo mengiris hati Jongin.

"Kyungsoo ini tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi kita." Sahut Jongin, tangannya berusaha menggapai Kyungsoo. Tapi Kyungsoo menepisnya.

"Tidak ada?" Kyungsoo menekan dada Jongin dengan telunjuknya. "Kau memberikan waktu tiga hari hanya untuk menyiapkan bahan majalah sedangkan majalah dilaunching dua minggu lagi. Apa ini buka kegilaan memberikan bagian percetakan waktu seminggu sedangkan mereka bisa mencetaknya dalam satu hari?"

"Aku memberimu waktu seminggu sayang bukan tiga hari, tapi selama tiga hari aku belum puas dengan hasilnya. Jika aku tidak menekanmu aku ragu itu akan selesai dalam waktu seminggu." Sebagian memang benar tapi tidak sampai menyiksa Kyungsoo sedemikian parah. Wajah letih Kyungsoo mengoyak hati Jongin. Kyungsoo terlihat lebih kurus dan layu.

"Jangan memangilku SAYANG!" Kemarahan Kyungsoo sudah melewati ubun-ubunnya.

"Tenangkan dirimu sayang."

"Jangan…!"

"Baiklah, aku tidak akan memanggilmu sayang. Kita bisa bicarakan ini baik-baik, kau tidak harus resign dari Century." Hanya sampai kalimat itu yang didengar Kyungsoo dari Jongin karena selanjutnya Kyungsoo tidak bisa mencerna apa yang Jongin ucapkan, kepalanya mulai berputar-putar. Pandangannya menguning, kakinya mulai lemas dan tiba-tiba saja semuanya gelap.

.

.

.

Kau puas Jongin? Kau sudah memebuatnya menderita. Jongin memandangi penuh penyesalan wajah Kyungsoo yang tengah terbaring diranjang apartemennya. Berkali-kali Jongin menyentuh wajah Kyungsoo, mengelus pipi gadis itu dengan lembut. Kyungsoo tetap bergeming, dokter mengatakan Kyungsoo hanya kelelahan. Dan itu semua dialah penyebabnya. Ponsel Jongin bergetar, pesan masuk dari Sehun.

Sehun : Kita harus bicara serius ini mengenai kyungsoo.

Tidak selang beberapa menit, ponselnya kembali berbunyi dan kali ini pesan dari Kris. Jongin tidak perlu repot-repot untuk membalasnya, ia belum ingin emosinya diusik oleh mereka. Saat ini yang terpenting, ia harus memiliki Kyungsoo dan memegang kendali atas Kyungsoo.

Kyungsoo masih merasa kepalanya berat. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Wangi pria sangat jelas tercium. Langit-langit ruangan tidak sama dengan kamar apartemennya apalagi dengan kamar di rumah keluarganya. Mungkinkah ia berada di kamar sepupunya? Itu tidak mungkin, kamar Sehun sedikit feminim dengan kehadiran Luhan. Begitu juga dengan Kris. Kyungsoo mengamati sekelilingnya dan melihat Jongin berdiri di hadapannya. Seketika Kyungsoo bangkit dan duduk. Hantaman rasa sakit menyerang kepalanya. Tapi sakit itu terlupakan dengan rasa marah.

"Sekarang apa maumu? Mengapa kau tidak membunuhku saja?"

"Baby…" Jongin duduk dipinggir jalan, meraih tangan Kyungsoo yang dingin dan menggenggamnya. "Berapa kali harus ku katakana jangan memanggilku baby!"

"Kau adalah Kyungsooku, aku akan memanggilmu dengan kata-kata yang ku suka."

"Kyungsoomu? Aku hanya budak seks untukmu, ketika aku menolak kau memusuhiku dan menyiksaku…"

"Jangan katakan hal seperti itu Kyungsoo…" Jongin menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya. Tubuh Kyungsoo terasa menemukan tempatnya. Walaupun marah tapi Kyungsoo menikmati setiap detik kehangatan yang ditawarkan tubuh Jongin.

"Aku tidak suka melihatmu mencium Kris." Jongin mencium bibir Kyungsoo, Kyungsoo tidak mampu menolak. Kemudian Jongin melanjutkan. "Aku tidak suka melihat setiap pria memandangmu. Aku tidak suka melihatmu berpakaian seksi di depan umum. Aku menginginkanmu hanya untukku, hanya aku yang boleh menciummu dan hanya aku yang boleh memandangmu."

"Jongin…" Kyungsoo tersentak, sama sekali tidak mengira Jongin akan mengatakan hal ini. Sesaat kemarahan Kyungsoo menguap tapi memikirkan Jessica yang selalu menjadi bayangan Jongin, Kyungsoo melepaskan diri.

"Bagaimana denganmu? Kau pikir aku suka melihatmu berjalan sedemikian mesranya dengan Jessica. Aku marah padamu kau juga membuatku benci pada Jessica!"

"Kau cemburu baby?" Senyum Jongin tersungging dan Kyungsoo merasa kesal untuk itu.

"Apa penting untukku cemburu saat ini? Mengapa kau tidak menjelaskan hubunganmu dengan Jessica." Wajah Kyungsoo memerah karena marah atau karena kondisi tubuhnya yang menurun. Tapi tetap saja Jongin merasa gemas. Ia mendaratkan sebuah ciuman di bibir Kyungsoo.

"Hentikan! Aku tidak butuh ciumanmu!" aku ketagihan ciumanmu. Kyungsoo menunjukkan wajah paling mematikan, tapi Jongin tahu Kyungsoo menyukainya.

"Dia bukan siapa-siapa, kami memang sempat berkencan tapi tidak lama. Dia tidak lebih sekedar pelarian untukku Kyung, aku ingin kau merasakan hal sama denganku jika aku melihatmu dengan Kris ataupun Sehun." Jongin menempelkan keningnya pada kening Kyungsoo. Ia menarik tengkuk Kyungsoo dan mencium bibir Kyungsoo. Sangat indah dan manis. "Aku merindukanmu baby…" Bisik Jongin. Kupu-kupu berterbangan di perut Kyungsoo. Betapa ia juga merindukan Jongin.

"Kau… kau… cemburu melihatku dengan Kris?" Tanyanya kemudian dipenuhi oleh keraguan.

"Aku tidak akan memungkirinya, ya aku cemburu melihatmu berjalan dengan laki-laki manapun."

"Jongin… apa.. apa.. kau jatuh cinta padaku?" Tanya Kyungsoo dengan polosnya. Sesaat jantung Jongin berhenti berdetak. Apakah ini cinta? Rasa posesif yang muncul dari dalam dirinya adalah perasaan menjaga yang begitu kuat. Jongin bisa memberikan apapun, segalanya yang ia punya demi Kyungsoo. Bersedia membunuh demi Kyungsoo. Dan semua perasaan gila yang ia rasakan pada Kyungsoo apakah disebut cinta?

"Kau membuatku gila baby. Jika itu cinta, aku jatuh cinta padamu… ya aku mencintaimu."

"Benarkah?" Kyungsoo tidak mengira, sesaat lalu ia rela mati karena malu menanyakan itu. Tapi ketika Jongin megakui perasaannya, Kyungsoo merasa melayang ke langit ketujuh. Jongin tidak tahu latar belakangnya. Apakah ia sudah menemukan laki-laki yang tepat?

"Tentu saja benar."

"Kau tidak memepermainkanku?"

"Kyungsoo." Jongin menangkupkan wajah Kyungsoo. "Aku tidak akan sanggup mempermainkanmu, katakan saja kau mencintaiku Kyungsoo."

"Jongin…" Euphoria kebahagiaan membuatnya sesak nafas. "Tapi… tapi... apa kau bisa menerima diriku yang seperti ini."

"Jangan menjadi gadis cerewet yang menyebalkan baby." Ucap Jongin tersenyum. "Jadilah milikku Kyungsoo, aku tidak akan menuntut seks darimu. Aku tidak akan memaksamu untuk bercinta denganku." Jongin mendekap Kyungsoo dengan erat.

"Kau tidak perlu berjanji, aku menyukai seks itu. Lagipula aku pernah katakan aku hanya akan bercinta dengan pria yang kucintai… aku mencintaimu Jongin." Sahut Kyungsoo malu, untungnya wajah Kyungsoo berada di dada Jongin jadi Jongin tidak akan tahu saat ini wajahnya merah bagai kepiting rebus, Kyungsoo sadar hatinya sudah milik Jongin sepenuhnya.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Thanks for reading.

Maaf kalo updatenya suka kependekan. Aku gak mengubah jumlah chapter jadi ini sama seperti cerita aslinya

Dan bener aja cerita aslinya udah didelete, tapi jangan khawatir cerita ini tetep sampai selesai kok hehehe

Terimakasih yang sudah follow, fav maupun review cerita ini~

Jangan lupa review, aku suka baca dan bales review kalian ^^

See you next chapter~