KUROKO NO BASKET milik FUJIMAKI TADATOSHI
STORY milik AUTHOR Levy Aomine Michaelis
SETTING: Unknown World
MAIN CHARACTER:
AKASHI SEIJUURO
KUROKO TETSUYA
GENERATION OF MIRACLES
READ AND REVIEW
~Happy Reading~
Dichapter sebelumnya, banyak kejadian yang terjadi. Dimulai dari tertangkapnya Kagami lalu Kise yang berhasil Aomine lepaskan dari deritanya. Lalu apakah kerajaan Seirin no Sato akan runtuh setelah kehilangan raja mereka?
Pagi dihari berikutnya merupakan pagi yang menghebohkan bagi rakyat Seirin, pasalnya panasnya sinar matahari yang biasa nya dimulai dari jam tujuh pagi kini tidak mereka rasakan lagi. Hanya tersisa hembusan angin dingin yang membuat beberapa orang mengigil, tapi ini adalah berkah setelah sekian tahun lamanya mereka tersiksa dari kekeringan yang melanda.
"Apa yang terjadi ya?"
"Entahlah sepertinya ada sesuatu yang terjadi diistana."
"Hei aku dengar Akashi-sama tiba-tiba menghilang, apa mungkin ada yang membunuhnya diam-diam?"
"Hush jangan bicara sembarangan, kau tak ingin dibakar hidup-hidup kan?"
Percakapan antar para penjaga disimak oleh Kagami diam-diam,
"Akashi raja? Dan kenapa mereka malah terlihat senang sekali saat Akashi hilang?" Pikir Kagami yang tumben otaknya jalan.
"Hoi, apa maksudmu Akashi menghilang? " Kata Kagami, salah satu penjaga itu menoleh.
"Oh iya aku hampir lupa denganku, apa mungkin ada hubungannya Akashi-sama menghilang dengan kedatanganmu?"
"Tentu saja tidak! Aku saja tidak tahu dunia apa ini!" Kagami nyolot, satu hentakan ujung tongkat mengenai perut Kagami.
Uhuk!
"Seorang tahanan tidak perlu marah-marah begitu"
Terdengar seperti ejekan bagi Kagami, ia geram lalu kepalanya terasa memanas saat mendengar penjaga lainnya tertawa atas apa yang barusan menimpanya. Kagami merasa ia tak bersalah jadi kenapa juga ia harus dikurung disini? Lagipula semua ini gara-gara di kepo sama Kuroko yang membawanya kedunia negeri dongeng ini.
Grr...
Gigi Kagami gemeretak saking inginnya ia menumpahkan kekesalannya melihat penjaga-penjaga itu, tak terasa rantai yang mengikat tubuhnya mengeluarkan asap lalu mencair seiring kemarahannya.
"Kalian.. LEPASKAN AKU SEKARANG JUGA!" Bentak Kagami, seketika rantai yang melilitnya meleleh seperti lilin , merasa sudah bebas bergerak Kagami meraih pintu sel kurungan yang juga meleleh saat disentuhnya. Ketiga penjaga itu langsung merinding ketakutan.
"M-MONSTER!" Salah satunya berteriak lalu berlari diikuti kedua lainnya,
Teriakan dari ketiga penjaga itu terdengar oleh seorang pria bersurai silver yang sedang berjalan melewati tempat itu, ia menghampiri salah satunya.
"Ada apa?" Kata pria itu, "A-ada monster!" Jawab pria itu singkat lalu kembali kabur bersama rekannya.
'Monster?' Laki-laki itu melihat kearah pintu ruang sel tahanan, disana ia melihat seorang pria bertubuh besar dengan wajah marah keluar dari tempat itu. tatapan pria itu beringas seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.
"Hei kau, apa kau melihat tiga orang penjaga disini?" Kagami menunjuk laki-laki itu.
"Tidak." Jawab lelaki itu datar, wajahnya menginggatkan Kagami pada seseorang.
"Kalau begitu kau menyingkirlah—" Kagami melihat telapak tangannya sendiri, 'sepertinya aku bisa melelehkan apapun.' Batinya.
"Tidak bisa, orang sepertimu tidak bisa dibiarkan sendirian." Ujar lelaki itu. Kagami yang tadi hendak melangkah masuk ke istana malah tercegat oleh ruang besar seukuran tubuhnya yang mengurung dirinya. Kagami tersenyum lalu menyentuh benda yang mengurungnya.
Deg! 'K-kenapa tidak meleleh?'
Seakan bisa membaca arti tatapan Kagami pria itu menjawab,
"Aku mengurungmu dengan Major Kristalku, dan benda itu tak akan meleleh oleh Major lava mu. Kagami Taiga." Kata lelaki itu. Kagami berbalik badan dan menatap lelaki yang menurutnya misterius tersebut.
"Kau .. Siapa?" Nada bicara Kagami terdengar berat karena menahan amarah.
"Kau bisa panggil aku,Mayuzumi."
Kuroko membereskan baju kotornya, ia bersyukur baju yang dipinjamkan Akashi padanya muat dan tak perlu keluar untuk membeli baju baru. Kuroko memeriksa ponselnya, tak ada notifikasi berarti kecuali sms teman-teman Seirinnya yang menyatakan bahwa Kuroko sedang bolos latihan.
"Akashi-kun, aku ingin kita menyelesaikan masalah ini secepatnya. Aku tidak ingin jika aku tiba-tiba menghilang ditengah pertandingan."
"Bukannya kau memang sering menghilang Tetsuya?" Ejek Akashi.
"Aku serius Akashi-kun." Gerutu Kuroko.
"Aku juga serius padamu Tetsuya" Jawab Akashi, sedangkan pandangannya tetap fokus pada ponselnya.
"Serius apa Akashi-kun?"
"Serius akan me-rape mu malam ini Tetsuya."
Kuroko sweetdrop, sekarang ia sangat yakin jika ada baut yang lepas dikepala Akashi.
"Akashi-kun, kau bilang jika aku ini bermajor es, itu berarti aku bisa menghentikanmu."
"Aku sudah menjelaskan mu sebelumnya kan Tetsuya." Kata Akashi, ia bangkit dari tidurnya lalu menyimpan ponsel dilaci, tiba-tiba sepasang tangan memeluk pinggangnya dari belakang.
"Loh kenapa Akashi-kun tidak beku?" Ujarnya polos.
"Kau berniat membeku kan ku Tetsuya? Lagipula kekuatanmu itu hanya bisa digunakan didunia mimpi itu." Akashi berbalik lalu memberikan kecupan didahi Kuroko.
"Oh.." Balas Kuroko.
"Jadi apa kau sudah siap ku-rape malam ini?" Lanjut Akashi.
"Akashi-kun hentai!"
Setelah melaksanakan kewajiban mandi dan makan malam Akashi dan Kuroko pun kembali kedunia fantasi mereka, namun disaat mereka datang yang dilihat oleh mereka bukanlah Seirin no Sato, melainkan sebuah negri yang terlihat suram mencekam. Langit diliputi awan mendung dan hampir semua penjuru pelosok negeri membeku oleh kristal biru.
"Ada apa ini!?" Sergah Akashi, ia keluar dari balkon kamarnya, Kuroko mengikutinya.
Akashi dapat melihat para prajuritnya telah terkurung didalam kubus kristal, bahkan disudut lain ia melihat Aomine dan Kise mati bersama dalam pelukan.
"Aomine-kun, Kise-kun!" Kuroko histeris.
"Tetsuya, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi sebaiknya kita kebawah sekarang." Kuroko terpaksa menahan rasa sedihnya, ia mengikuti Akashi dengan langkah terburu-buru. Akashi tidak bisa menemukan siapapun diistana hingga ia sampai dilantai dasar.
"Oh—Akashi-sama sudah kembali rupanya." Suara bariton itu terdengar memenuhi ruangan itu.
"Kau!"
"Mayuzumi-san!"
Kuroko yang baru tiba ikut kaget.
"Jadi semua ini ulahmu Chihiro?" Akashi mengaktifkan emperor eye-nya, kobaran api keluar disekitar tubuhnya.
"Hee, jika iya kau mau apa Akashi-sama?"
Grep!
Tiba-tiba dari tanah muncul bongkahan kristal yang mengelilingi Akashi lalu mengurungnya.
"Akashi-kun!" Sergah Kuroko,Mayuzumi menoleh padanya.
"Oh, jadi kau yang namanya Kuroko Tetsuya." Kata Mayuzumi dengan nada merendahkan.
"Mayuzumi-san, apa yang sebenarnya kau lakukan!?"
"Aku hanya ingin merebut tahta, dan tentunya membunuh dia." Mayuzumi kembali memandang Akashi.
"Me-membunuh Akashi-kun?" Kuroko tersentak.
"Ya, dia akan kehabisan nafas didalam kurungan kristalku. Dan asal kau tau, api akan redup jika tidak ada udara." Mayuzumi menyeringai.
"Hentikan Mayuzumi-san! "
Akashi mencoba membakar kristal yang sedang mengurungnya itu, namun sia-sia saja. Oksigen didalam sana sangat tipis dan semakin lama major api nya semakin redup dan tidak dapat dikeluarkan. Akashi merasakan nafasnya mulai sesak, ia hanya bisa melihat Kuroko yang untuk pertama kalinya mengeluarkan majornya untuk menyelamatkannya.
"Major es huh?" Mayuzumi melompat kebelakang menghindari serangan panah es milik Kuroko.
"Jika aku membunuhmu maka aku bisa menyelamatkan Akashi-kun." Ujar Kuroko dingin, ia sepenuhnya tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.
"Begitu, jadi kau belum pernah belajar cara mengendalikan majormu ya.." Mayuzumi menjebak Kuroko mendekat padanya, begitu Kuroko terjebak ia menahan gerakan Kuroko dengan membelit tubuh di bocah biru dengan kristalnya.
"Nah lawanmu bukan aku nak.." Mayuzumi menepuk kepala Kuroko pelan dengan tatapan merendahkan, tak lama kemudian dia memberi sebuah aba-aba pada seseorang yang berada diluar pintu.
"Masuklah, Mr. Lava.." Ujar Mayuzumi.
Tak sampai sedetik seseorang yang sangat Kuroko kenali masuk, tubuh orang itu berwarna kemerahan dengan tatapan sangar bak monster haus darah.
"Perkenalkan—ah aku pikir kau pasti sudah kenal bukan?"
"K-kagami-kun.." Kuroko terkejut dengan kehadiran Kagami, Akashi ikut melihat kedatangan Kagami.
"Nah Kagami-kun, kau bisa bersenang-senang sekarang. Bocah ini adalah salah satu dari penjaga tadi." Bohong Mayuzumi sambil mengarah pada Kuroko.
"Begitu ya, baiklah aku akan melelehkannya hingga tak berbekas." Suara serak Kagami menggema, ia melangkah mendekati Kuroko sambil menggemeretakan jari-jarinya. Kagami sudah dikendalikan sepenuhnya oleh Mayuzumi.
"TETSUYA!" Pekik Akashi melihat kekasihnya dalam bahaya, namun sayang diruang kedap suara itu teriakannya menjadi sia-sia.
BRUK!
Dengan sekali pukulan tinju diperut Kuroko langsung terpental diudara lalu menabrak dinding, Mayuzumi sengaja melonggarkan unsur kristal yang mengikat Kuroko agar menjadi mudah hancur.
"Tetsuya!" Pekik Akashi lagi, kini kemarahannya makin membuncah.
'Tidak ada pilihan lain' Batin Akashi, dengan sigap ia duduk bersilah didalam kristal kurungan itu lalu memejamkan mata dengan tenang, Mayuzumi yang melihat itu mengeryitkan dahi.
"Hei—hei, apa kau sedang memikirkan sesuatu hm? Atau mungkin kau memilih untuk tidak melihat cara calon istrimu akan mati." Mayuzumi tersenyum picik. Ia menyandarkankan lengannya dikurungan Akashi. Perhatiannya kembali pada pertarungan Kagami dan Kuroko.
Rasa sakit yang luar biasa menyerang ulu hati sang pemain bayangan, ia tidak pernah menerima pukulan seperti itu. dengan tubuh yang terjengkan ia mencoba mengeluarkan kekuatannya untuk menghentikan pergerakan Kagami. Beruntung ia bisa menahan Kagami dengan membekukannya kedua kakinya. Meski hanya dengan setengah kesadarannya, ia mampu mengingat Kagami.
"K-kagami-kun! Kagami-kun! Sadarlah Kagami-kun!" Kuroko berseru terengah-engah menahan sakit diperutnya.
"Grr!" Kagami malah memberontak, lava yang menjadi kekuatannya dengan mudah melelehkan es yang menahan pergerakannya.
"Dia memiliki major yang menjadi kelemahanmu.." sahut Mayuzumi.
Krak!
Kaki Kagami bebas dari penahan, ia langsung melancarkan tendangan pada Kuroko.
Buk!
Jdak! (gomen gak pandai bikin sfx)
Kagami menghantam tubuh Kuroko yang tak berdaya untuk melawan, Mayuzumi tersenyum senang melihat hal itu. tanpa ia sadari kurungan yang mengurung Akashi mulai retak.
Kuroko hampir hilang kesadarannya. Kagami tak henti menghajarnya, bahkan tak memberi Kuroko kesempatan untuk bernafas.
JDUAR!
Bunyi ledakan itu menghentikan pergerakan Kagami, Mayuzumi dan Kuroko ikut terkejut.
"Berani sekali kau menyentuh Tetsuya-ku, aku akan mengirim mu keneraka. Akan kupastikan itu dengan tanganku sendiri!" Cambuk api keluar dari kedua tangan Akashi, cambuk itu melilit leher Kagami dan Mayuzumi dengan cepat.
"Ukh!" Kagami langsung tercekik.
"..." Mayuzumi menyentuh cambuk itu untuk melonggarkannya namun sia-sia, tangannya malah terbakar kobaran api merah pekat.
Akashi mendekati mereka berdua, ia melirik Kuroko yang sudah pingsan. Keadaanya babak belur dihajar Kagami.
"Aku akan mengirimmu lebih dulu!" Akashi menarik cambuk apinya pada Kagami hingga membuat si alis cabang membara itu terjengkang kebelakang. Erangan Kagami terdengar tercekat, Akashi semakin mengeratkan cekikannya, tak puas dengan itu Akashi membuat panah dari api lalu menyerang Kagami hingga mengenai bagian vitalnya.
"Aku tidak akan pernah memaafkan kelakuanmu pada Tetsuya, Taiga!" Akashi mencengkram pundak Kagami dan seketika api berkobar diseluruh tubuh Kagami.
"Pergilah keneraka!"
"GYAAAAAAAAAAAA!"
Pekikan Kagami memenuhi ruangan itu, matanya terbelalak dan tubuh kekar itu perlahan meretak seperti gunung berapi yang siap meledak.
Krakk.. Krakk..
Seakan tak bisa menahan uap panas dari dalam tubuhnya, Kagami berteriak sekencangnya lalu ia pergi keluar mencari sesuatu yang bisa mendinginkannya.
"Satu orang telah menderita, sekarang giliranmu.." Akashi menoleh ke Mayuzumi.
"Che, kau meremehkanku." Mayuzumi masih bersikap tenang, tangannya yang terbakar tak melukai sedikitpun kulit putih pucatnya. Akashi menatapnya nya tajam dengan emperor eyenya.
"Nee Akashi, sebenarnya aku punya tujuan lain saat melakukan semua ini." Mayuzumi berjalan mendekati tubuh Kuroko yang terkapar dilantai tanpa menghiraukan cekikan api yang semakin kencang dilehernya.
"Jangan kau sentuh Tetsuya." Akashi menarik Mayuzumi agar menjauh, tapi malah ia yang tertarik mendekat ke Mayuzumi. Tangan Mayuzumi terjulur dan menarik cambuk api yang terikat balik ditangan kanan Akashi hingga membuat empunya terjengkang. Akashi terbelalak, siapa sangka ada yang bisa menyudutkannya hingga seperti ini.
"Aku akan mengakhiri cerita ini." Ujar Mayuzumi lirih hampir berbisik, namun dapat didengar Akashi.
"A-apa maksudmu Chihiro?"
"Aku akan membuat raja dan ratu mati, lalu membuat negeri ini beku selamanya didalam kristal ku. Maka tak akan ada lagi kehidupan yang bisa membuat dunia ini berubah dan tetap tenang." Kata Mayuzumi. Ia membekukan kaki dan tangan Akashi agar tak bisa bergerak.
" Mana bisa kau membuat hal seperti itu Chihiro, dunia tanpa perubahan itu mustahil. Manusia akan berevolusi dan terus berkembang. Jika kau hanya ingin ketenangan kenapa kau tidak mati saja." Ejek Akashi.
" Masih banyak yang ingin kulihat didunia ini," Mayuzumi membuat tongkat berujung runcing dari kristalnya. "Aku masih mengejar keinginanku.." Tongkat itu diangkat tepat diatas posisi jantung Akashi, dari kilauan nya Akashi tahu benda itu bisa langsung menembus jantungnya.
"Keinginan? Memangnya orang seperti mu masih punya hal yang seperti itu.." Akashi tertawa renyah. Tanpa mereka sadar Kuroko sudah kembali siuman. Dengan tenaga yang tersisa Kuroko menabrakkan dirinya pada tubuh Mayuzumi lalu melepaskan kristal yang menahan Akashi dengan major esnya. Akashi yang sudah lepas kembali membara.
Bruk!
Mayuzumi menubruk lantai, tanpa memberi celah ia langsung melesatkan tongkat runcing itu pada Kuroko.
CRASH!
Kuroko yang tak sempat membaca gerakan itu hanya bisa pasrah, matanya ia tutup agar tak merasakan sakit. Namun beberapa detik berlalu tapi ia tak merasakan apa-apa, hanya punggungnya saja terasa seperti terdorong lalu tersandar pada dinding. Kuroko membuka matanya.
Sepasang mata merah-emas menyala dihadapannya, wajah tampan dan bibir yang mengeluarkan darah. Surai merah dan senyuman hangat itu menyapa indera Kuroko. "Kau tidak apa-apa, Tetsuya?"
"AKASHI-KUN!" Jerit Kuroko. Akashi bergerak cepat melindunginya dari depan sehingga tongkat runcing itu mengenai organ vital Akashi. Tubuh Kuroko gemetar melihat kekasihnya berkorban untuk menyelamatkannya.
"Cih." Gerutu Mayuzumi ketika tembakannya tak mengenai sasaran, kali ini dia membuat dua tongkat yang sama.
"Tetsuya, aku mencintaimu." Lirih Akashi, terdengar seperti kata-kata terakhir.
"A-aku juga mencintaimu Akashi-kun."
Jarak wajah mereka semakin menipis, sebuah ciuman hangat dirasakan Kuroko dibibirnya. Ia memejamkan mata dan pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan pelan ia memeluk tubuh lemas didepannya itu.
"Aku akan terus disampingmu.. selamanya."
JLEB!
Serangan terakhir Mayuzumi mengenai jantung kedua pasangan kekasih tersebut.
"Tetsuya.. Hei Tetsuya.." Kuroko dapat mendengar suara itu, suara yang sangat familiar untuknya, suara yang sangat dirindukannya, suara seorang Akashi Seijuuro.
"Hei bangun Tetsuya, kenapa kau menangis dalam tidur seperti ini?" Suara bariton itu terdengar khawatir, celah-celah cahaya memasuki ruang pengelihatan Kuroko.
"Aka-shi-kun, aku dimana?" Kata pertama yang dikeluarkan Kuroko membuat orang didepannya bernafas lega, samar-samar Kuroko dapat melihat merahnya surai Akashi, ia tersenyum.
"Kau ada dirumah ku Tetsuya, tidurmu nyenyak sekali." Kuroko mencoba bangun, tapi tubunya terasa sangat lemah dan sakit.
"Berbaring saja, kau pingsan dilapangan. Aku menyuruh orang-orang untuk mengantarmu kerumahku." Kata Akashi. Kuroko diam sesaat,
"Jadi semuanya hanya mimpi.." Igau Kuroko, Akashi mendelik binggung.
"Memang kau mimpi apa Tetsuya?" Tanya Akashi. Kuroko menggeleng, ia kembali memejamkan matanya untuk bangun di lain jam saat tubuhnya mampu bergerak normal. Pertanyaan yang tak dijawab itu membuat Akashi kesal.
"Baiklah jika kau belum mau bercerita, istirahatlah." Sentuhan hangat menyentuh dahi Kuroko, Akashi memberi kecupan didahinya.
"Aku cinta—Akashi-kun."
OWARI
Terimakasih pada semua readers yang selalu setia menanti kelanjutan fanfict ini, tapi maaf jika saya sudah mengecewakan kalian dengan alur yang dipercepat seperti ini. Soalnya author punya project lain dan gak mau jika ada cerita yang menggantung. Saa, review?
OMAKE
Baru saja Akashi menyambut uluran Kuroko tiba-tiba tubuh si mungil itu ambruk dan berakhir pada dekapannya. Dengan sigap Akashi menyuruh unit kesehatan untuk memeriksa keadaan Kuroko. Ternyata si mungil biru itu hanya kelelahan akibat dari pertandingan mereka yang cukup sengit. Tanpa sepengetahuan siapapun Akashi membawa Kuroko kerumahnya, dengan alibi bahwa ia ingin menjaga Kuroko ditangannya sendiri.
Sudah dua jam berlalu setelah kejadian Kuroko belum siuman juga, ia terbaring diranjang besar milik anak tunggal ini.
"Hei Tetsuya, bagaimana jika aku membacakanmu cerita." Akashi berbicara pada Kuroko yang masih terpejam, ia mengusap sayang dahi si pemain bayangan, lalu mengambil sebuah buku yang cukup besar berjudul 'Major.'
REAL OWARI.
