JUNHUI ANAK HANCHUL

ANAK BIASSS GUEEEE~

TAPI GUE NAKSIRNYA SEKOP =_= #DHUAR

CHAP 10 RILIS

RCL YA~

DON'T LIKE DON'T READ

###########################################################################


###########################################################################

"Tidak, Hangeng-ssi," Leeteuk menahan tangan Hangeng, ia hendak melangkah menghampiri Heechul yang berbaring di tempat tidurnya. "Jangan kesana."

"Apa yang terjadi?!" Hangeng berteriak, ia marah karena tak bisa melihat kekasihnya. "Aku tak bisa merasakannya. Mengapa aku tak bisa merasakan Heechul?!"

"Tubuhnya kehabisan energi, ia mengeluarkan semua energinya untuk membantuku mengangkat Junhui. Aku minta maaf, aku tak bisa menyelamatkannya."

"Tidak, dia tidak mati!" Hangeng berteriak, ia mendorong Leeteuk dan menghampiri Heechul, "Chullie-ah, bangun. Kau tak ingin melihat Junhui? Junhui sudah lahir, ia selamat, begitupun aku. Kumohon Chullie jangan tinggalkan aku!"

"Kita harus pergi," ucap Sungmin sambil menggendong Junhui yang menangis. "Kita perlu mengamankan anakmu, Hangeng-ssi."

"Aku tidak bisa meninggalkannya," Hangeng menggeleng, ia menggenggam tangan Heechul. "Dia belum mati. Chullie sangat kuat. Dia akan bangun."

"Hangeng..." Eunhyuk menunjuk kearah api biru yang muncul di lorong kamar. "Dia kembali. Kita harus pergi."

"Aku takkan meninggalkannya!"

"Kau harus!" Leeteuk berteriak, "Anakmu membutuhkanmu dan hanya kau satu-satunya disini yang bisa teleport. Kau harus membawa Junhui pergi dari sini."

"Tapi..."

"Heechul hyung tidak ingin ia mati sia-sia melihat kau dan Junhui dalam bahaya." Sungmin mencoba meyakinkan, "Dia menyelamatkan hidupmu juga Junhui dan sekarang kau yang harus menyelamatkan Junhui. Tolong, demi Heechul hyung."

"Maafkan aku," bisik Hangeng, ia mencium bibir Heechul yang mulai dingin, ciuman lembut Hangeng membuat tattoo di tangan mereka berkilauan.

"Hangeng-ssi, bawa Junhui dan pergi," ucap Siwon dengan suara rendah, "Bawa dia ke bumi, itu satu-satunya tempat yang aman."

"Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya teleport. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya."

"Berkosentrasi pada tempat yang ingin kau tuju." Siwon menjelaskan, "Itulah bagaimana Chullie hyung melakukannya."

"Kami akan menemukanmu setelah itu," Leeteuk menjelaskan. "Dia semakin mendekat. Cepat Hangeng-ssi!"

"Bagaimana dengan Chullie? Kumohon, jangan tinggalkan dia disini." Hangeng memohon, ia melihat api biru mulai mendekat ke arah mereka.

"Pergi!" Siwon berteriak.

Sambil memeluk Junhui yang menangis, Hangeng memikirkan bumi. Dia melihat pantai, ombak dan udara laut. Hangeng melakukan seperti yang Siwon katakan, dengan sekejap Hangeng menghilang seperti asap di udara, terbang melalui langit hingga akhirnya ia tiba di tepi pantai.

###########################################################################


###########################################################################

Hangeng berdiri di wastafel dapur yang sedikit berantakan, ia sedang mencuci sayuran dan buah-buahan dari kebun. Dia sibuk mempersiapkan makan siang untuk teman-temannya. Dia melihat keluar lewat jendela, menyaksikan putranya tumbuh besar dan sedang bermain dengan sepupunya, Ryeowoon dan Jongri.

Rambut coklatnya sangat pas untuk kulitnya yang putih. Matanya perpaduan dari warna merah dan biru. Ia sangat sempurna. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, selama enam belas tahun mereka tinggal di bumi, dan ini tahun ke enam belas tanpa Heechul.

"Apa yang kau lamunkan?" Ryeowook bertanya sambil memotong beberapa sayuran. "Kau menatap kosong ke luar jendela."

"Aku hanya berpikir," jawab Hangeng, ia tersenyum lembut dan melihat Sungmin yang ingin bergabung bermain tapi diacuhkan oleh Junhui.

"Mengenai apa?"

"Heechul," jawab Hangeng dengan nada sedih. "Aku selalu merindukannya."

"Kau sudah melakukan hal yang membanggakan Heechul hyung, membesarkan Junhui." Ryeowook meyakinkan, "Dia sangat mencintai kalian berdua."

"Aku tidak percaya aku meninggalkannya seperti itu. Aku tidak percaya mereka juga meninggalkan Heechul."

"Ini sudah enam belas tahun. Kau tidak punya pilihan dan mereka juga. Heechul hyung tidak ingin ada yang terluka karenanya."

"Aku tahu," Hangeng memperhatikan Junhui yang sedang mencoba membakar rambut Sungmin, ia tersenyum kecil melihat kenakalan anaknya. Ia mengalihkan pandangannya dari jendela dan mengambil pisau, ia mulai memotong-motong mentimun untuk salad. "Kadang-kadang ketika aku tidur di malam hari, aku bisa merasakan kehadirannya disisiku. Perasaan itu semakin kuat beberapa hari ini. Aku pikir aku sudah gila."

"Kau hanya merindukannya. Kau pasti sulit membesarkan Junhui sendirian."

"Tidak. Kalian membantu banyak, Junhui senang tinggal dengan kalian." Hangeng tersenyum, "Aku senang kalian semua memutuskan untuk tinggal di bumi. Aku tahu ini mungkin sulit untuk kalian."

"Disini kami tidak bisa menggunakan kekuatan penuh kami, tapi kami tak punya tempat lain untuk pergi. Ini rumah sekarang. Aku akan terbiasa dengan penuaan nantinya. Ah~ tidak, aku sudah tua."

"Tidak, kau tidak tua," Hangeng tertawa, "Lihat, wajahmu tidak tua sedikitpun padahal sudah melewati enam belas tahun di bumi. Kau masih seperti dua puluh tahun."

"Hangeng-ssi!" suara panik Sungmin terdengar dari halaman, "Junhui menghilang!"

"Apa?!" Hangeng berteriak keluar jendela, matanya mencari-cari Junhui disana. "Apa yang terjadi?"

"Kami sedang bermain, dia mencoba membakar rambut Jongri, Jongri mengejarnya dan dia lari bersembunyi, tapi aku tidak bisa menemukannya." Jelas Sungmin.

"Aku harus pergi mencarinya."

###########################################################################


###########################################################################

Semua orang panik mencari Junhui. Ini bukan pertama kalinya mereka dibuat cemas olehnya. Dia memiliki sikap tak terduga dan sangat nakal, seperti Heechul. Hangeng khawatir tentang putranya, ia mencoba mencari di dekat pantai. Junhui satu-satunya penghubung dengan Heechul. Wajah dan sifatnya sangat mirip dengan Heechul, tapi ia tak bisa berenang sama seperti dirinya.

"Junhui!" Hangeng memanggil putranya saat ia mendekati pantai. "Dimana kau?!"

Junhui mencintai air, tapi ia juga takut. Ia bagian dari dewa api, maka ia tak bisa dekat dengan air. Istimewanya, ia bisa mengendalikan air dan menggabungkannya dengan api.

"Appa!" suara Junhui terdengar dari batu-batu di pantai. "Appa! Aku disini!"

Hangeng berbalik arah suara putranya memanggilnya, dan ia menemukan anaknya duduk di atas batu besar. Pakaian dan rambutnya basah kuyup, ia juga menggigil.

"Junhui, apa yang terjadi?" Hangeng bertanya, ia melepas jaketnya dan menempatkannya di tubuh anaknya. "Kenapa kau basah? Ayo kita pulang, dan ganti pakaianmu."

"Aku jatuh," jawab Junhui. "Aku berlari menghindari Jongri, dan mencoba bersembunyi, tapi aku terpeleset dan jatuh ke dalam air."

"Apa kau baik-baik saja?" Hangeng panik, "Kau kan tidak bisa berenang, kau bisa tenggelam."

"Seorang pria berambut merah menyelamatkanku." Junhui menjelaskan, "Aku tidak bisa ke permukaan. Dan dia menarikku keluar dari air."

"Pria? Dimana dia sekarang?" Hangeng bertanya, entah kenapa perasaannya sangat takut.

"Disana," jawab Junhui sambil menujuk ke laut. "Tapi ia sudah pergi sebelum appa datang,"

"Kita harus kembali kerumah." Hangeng membantu putranya, ia menggendong Junhui di punggungnya. "Jangan mendekatinya lagi jika kau melihat pria berambut merah itu. Mengerti?"

"Kenapa? Dia indah. Dia menarikku keluar dari air dan dia bilang wajahku mirip seseorang." Junhui menjelaskan, ia melihat liontin merah bentuk api dari sakunya. "Dan dia memberikanku ini."

"Apa itu, sini appa lihat," Hangeng mengambil liontin itu dari putranya. "Aku pikir kau tidak boleh menyimpan ini."

"Tapi, appa..."

"Tidak ada tapi-tapian," Hangeng memarahi, "Ryeowook ahjussi akan memberikanmu pakaian hangat dan air hangat untuk mandi. Bersihkan dirimu. Dan jangan nakal, kau membakar rambut Sungmin ahjussi kan?"

"Appa tidak seru, menyebalkan." Junhui cemberut, appa nya selalu protes soal kenakalannya.

"Appa punya kue dan hadiah untukmu dirumah, ingat ini hari apa?"

"Wah kue! Ini hari ulang tahunku! Tentu aku ingat!" Junhui berseru senang seperti anak kecil dan memberikan kecupan kecil di pipi appa nya, "Appa yang terbaik."

###########################################################################


###########################################################################

Junhui masuk ke dalam rumah dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Ia tak perduli dengan tatapan cemas dari dewa-dewa disekitarnya. Dan itu membuat semua orang menghela nafas.

"Ada dimana dia tadi?" Leeteuk bertanya, ia mendekati Hangeng dan duduk disampingnya. "Apa yang kau pegang itu?"

"Dia jatuh ke dalam air." Hangeng menjawab, ia menyerahkan liontinnya kepada Leeteuk. "Dia bilang seorang pria berambut merah menyelamatkannya dan memberinya ini. Apakah kau pikir itu adalah dewa api?"

"Apa?" Leeteuk mengamati liontin di tangannya. "Tapi, mengapa ia menyelamatkannya? Bukankah ia ingin Junhui mati?"

"Aku tidak tahu, aku pikir kita harus pergi dari sini."

"Aku setuju, tapi kita akan kemana?"

"Kota? Populasi manusia sebanyak itu, mungkin akan sulit jika dewa api menemukan kita."

"Kami demigod, dan anakmu? Temperamennya belum terkontrol, Bagaimana jika dia membakar seseorang atau menenggelamkannya? Bukankah itu alasanmu mengapa kau tidak menyekolahkan Junhui ke kota."

"Beri aku waktu. Kita tidak bisa tinggal disini lebih lama lagi. Ini terlalu berbahaya."

###########################################################################


###########################################################################

Junhui tertidur nyenyak setelah Hangeng menceritakan tentang umma nya. Hangeng merasa Junhui harus tahu seperti apa umma nya. Hangeng menatap liontin api di telapak tangannya. Mengapa dewa api telah menyelamatkan anaknya? Benarkah itu dia, atau hanya imajinasi Junhui? Tapi, darimana ia dapatkan liontin ini?

Hangeng seperti mencium bau asap, ia bangun dari duduknya dan bergegas keluar kamar. Ia melihat api biru sudah membakar pintu depan rumahnya. Siwon dan Kyuhyun mencoba memadamkannya dengan kekuatan mereka. Hanya ada satu orang yang menggunakan api biru, dewa api.

"Sial!" Hangeng mengumpat, ia berlari menuju kamarnya, dimana putranya tertidur.

"Apa yang terjadi?" tanya Ryeowook

"Aku harus membawa Junhui pergi dari sini." Ia menggendong Junhui yang tertidur pulas di punggungnya, ia bersiap untuk teleport.

"Tunggu, kemana kau akan pergi?"

"Aku tidak tahu," jawab Hangeng, dan ia pun menghilang.

###########################################################################


###########################################################################

Hangeng menghela nafas dan mengamati sekitar. Dimana dia sekarang, dia tidak yakin. Dia tidak memiliki lokasi yang digambarkan dalam pikirannya. Hal terakhir yang ia ingat adalah Heechul. Junhui memeluk lengannya kuat, ia terbangun dan ini adalah pertama kalinya ia teleport.

"Tidak apa-apa, kita aman Junhui." Hangeng meyakinkan putranya, "Maaf aku membangunkanmu."

"Dimana kita, appa?" tanya Junhui.

"Appa juga tidak tahu," jawab Hangeng, matanya mengamati ruangan sekali lagi.

Ruang yang gelap, dinding yang terbuat dari batu vulkanik dan lantai hitam yang dingin. Ada sebuah tempat tidur besar dari kaca vulkanik mengkilap dan terbungkus seprai sutra merah dan bantal merah. Furniture diruangan ini semua serba merah dan mengkilap. Sebuah sofa merah menyala terletak di depan perapian besar. Puluhan vas bunga mawar dengan aroma kelopak bunga menggoda menghiasi ruangan. Ada dua pintu di dalam ruangan, satu besar di sebelah kanan dan di satu sisinya sedikit lebih kecil.

"Tetap dekat dengan appa, Junhui." Ia mulai bergerak menuju pintu besar di sebelah kanan.

"Appa, mau kemana?"

"Appa hanya perlu melihat dimana kita berada."

Hangeng membuka pintu besar di hadapannya, ia mengintip sedikit. Ruangan di dalamnya juga terbuat dari dinding vulkanik. Ruangan itu diterangi oleh api merah tua, dengan obor api biru di sudut-sudut ruangan. Suara langkah kaki yang mendekat membuat Hangeng bersembunyi di dalam ruangan itu dan menarik Junhui bersamanya.

"Kau harus tenang, mengerti?" Hangeng meyakinkan putranya dan membuka lemari pakaian disana. Ia menempatkan Junhui didalam lemari pakaian. "Tidak peduli apa yang terjadi, jangan keluar sampai aku kembali."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian, lakukan apa yang appa katakan." Hangeng mendengar suara wanita yang menuju kemari.

"Aku mencintaimu, appa." Junhui berbisik, ia memberikan ciuman di pipi ayahnya sebelum menutup pintu lemari.

###########################################################################


###########################################################################

Wanita itu berhenti bicara, ia lalu keluar dari ruangan dan mengunci pintunya dari luar. Hangeng melebarkan matanya melihat orang yang kini tengah terduduk lemah di tempat tidurnya. Hangeng tak bisa bernafas seolah-olah ia berada di sebuah mimpi. Ini tidak nyata, kan?

"Chullie..."

###########################################################################

TO BE CONTINUED...