Disclaimer: Tsukiuta by Fujiwara dan jiku

Tidak ada keuntungan yang diambil dari pembuatan fanfiksi ini. Semuanya murni untuk senang-senang saja.

Notes:

- Mafia AU

- Warning for slight implication for human trafficking and prostitution.

- Sedikit deskripsi tentang kekerasan.

DLDR as usual.

X

「Hunter and Prey」

Mafia AU

Notes:

Famiglia: Keluarga mafia| Don: kepala pimpinan, ketua mafia | Signore: tuan

.

Enjoy Reading


Shun terbangun oleh derit keras pintu yang terbuka.

"Kali ini berapa orang?"

"Lima orang. Ada satu, laki-laki yang sepertinya bisa dijual mahal."

Shun mengatur napasnya seakan dia masih tertidur. Ia mendengar langkah orang semakin dekat padanya, lalu tangan kasar menarik dagunya. Dia merasakan kepalanya digerakkan beberapa kali dan tatapan seorang seperti menilainya.

"...hm.. Tidak ada cacat, dan apa ini dengan kulit dan rambutnya? Pucat sekali."

"Ya, Signore. Matanya pun warnanya pucat. Kami rasa dia bisa berharga mahal."

"Ya sudahlah. Yang lainnya perempuan seperti biasa?"

"Iya. Mari kami tunjukkan, Signore."

Orang itu melepaskan tangannya dari dagu Shun dan berjalan menjauh. Derit pintu kembali terdengar.

"Oh ya, hati-hati menangani yang itu. Dia pucat sekali, jangan sampai ada bekas. Bisa-bisa nilai jualnya berkurang."

"Si, Signore."

Shun membuka mata ketika pintu mengayun menutup. Perlahan dia bangkit ke posisi duduk dan memeriksa dirinya dan menghela napas puas menemukan tidak ada luka sama sekali di tubuhnya. Tangan dan kaki diikat dengan borgol, membuat Shun mendengus kecil. Shun kemudian melihat sekeliling, memastikan tidak ada kamera sedikitpun sebelum ia beringsut kecil, meraih ke rambutnya dan memastikan di sana ada bobby pin kecil. Dia menepuk pinggangnya, tersenyum kecil menemukan pisau lempar yang dia sembunyikan dalam kantung tersembunyi masih berada di sana.

Tidak ada kamera dan beberapa senjatanya masih ada. Orang-orang ini menganggapnya remeh.

.


.

Pintu menuju ruang lelang terbuka begitu lonceng jam menunjukkan pukul delapan malam berdentang. Bersama para undangan bertopeng masquerade, sebelas orang pemuda turut memasuki ruangan. Masing-masing mengenakan jas dan topeng, enam orang dengan warna hitam dan lima orang lainnya dengan warna putih, dengan potongan identikal kecuali aksen warnanya.

Koi beringsut tak nyaman dan sesekali menarik cemas rambutnya. Kakeru menepis tangannya, mendesis pelan mengingatkan Koi agar tak terus-terusan menarik wig yang dia kenakan. Hajime menghela napas kecil. Dari ujung mata dia melihat lima orang yang berjas putih menyebar. Haru di sebelahnya menatap agak cemas untuk Rui dan Yoru.

"...Kenapa Procella harus menyebar begitu sih.." Koi menghela napas kecil. "...Iya sih mereka yang bagian asasinasi… Tapi Rui dan Yoru-san kan biasanya membantu untuk mengumpulkan informasi."

"Kepala pink, kau ini bodoh ya?"

Koi menoleh sebal ke Arata, sementara yang memanggil hanya menatap Koi dengan tatapan datar setengah tidak percaya. Koi sudah gatal ingin menarik kerah Arata sampai Aoi menepuk pundak Koi.

"Arata, jangan begitu. Koi kan belum tahu."

"...Ah." Arata tampak menyadari sesuatu sebelum mengangguk. "Baiklah, aku tarik kata-kataku lagi. Kau setengah bodoh."

"Kau-!"

"Arata!" Aoi menegur kecil. "Sudah, sudah. Koi jangan dengarkan dia. Ah tapi Arata benar kok, tidak usah terlalu cemas untuk Yoru dan Rui."

"Tapi Aoi-san…" Kakeru yang mengucap kali ini, pemuda yang kedua paling muda di Gravi itu menatap cemas. "...Mereka'kan.."

"Kakeru." Aoi tersenyum kecil, menenangkan tapi juga seperti menyembunyikan sesuatu. "...Tidak usah cemas untuk Rui. Kau ingat'kan Rui dipanggil apa?"

Koi dan Kakeru tampak berpikir. "Dipanggil apa…"

"Itu loh…"

"'Petit Demon Lord''kan?"

Kakeru dan Koi menoleh pada Hajime yang menjawab sambil menarik sarung tangannya. Pemuda yang lebih tua menarik-narik dasinya sedikit sebelum menoleh pada mereka.

"Kalian tidak usah terlalu cemas pada Rui atau Yoru. Kalian pikir mereka bekerja di bawahnya siapa?"

"...Shun-san…"

"Shun-san sih…" Koi menjawab cemas. "...Tapi kan itu Shun-san….. Aduh Shun-san juga…"

"Koi, kau ini." Aoi terkekeh, "Procella tidak selemah itu kok."

"Tapi'kan-"

"Biarkan saja Aoi." Haru tersenyum. "Koi dan Kakeru belum pernah melihat Procella turun ke lapangan langsung."

Aoi, dan menakjubkannya, Arata, tertawa pelan bersama Haru. Hajime juga menyunggingkan senyum kecil, membuat kedua anggota paling muda Gravi itu makin kebingungan.

"Sudahlah kalian, jangan berisik." Hajime memberi isyarat ke mimbar. "Sebentar lagi acaranya dimulai."

.


.

Orang-orang itu datang tak lama kemudian. Mereka menarik Shun, membawanya ke sebuah ruangan berisi gadis-gadis lain yang tampak ketakutan. Shun mengenali beberapa dari mereka sebagai putri dari beberapa famiglia yang pernah mereka temui dalam pesta. Pemuda itu menghela napas dalam hati. Ah, betapa bodoh orang-orang famiglia yang menangkap mereka ini. Tidak pernahkah mereka memikirkan akan sebesar apa masalah yang mereka hadapi kalau sampai gadis-gadis ini buka mulut?

Seseorang datang dan kembali memeriksa wajah mereka satu demi satu. Dia berhenti agak lama ketika melihat Shun, sekali lagi meraih dagunya dan mengecek wajah Shun baik-baik.

"Siapa orang ini? Ini pertama kali aku melihat wajahnya."

"..Entahlah. Kalau dari daftar undangan mungkin seseorang dari famiglia Mutsuki?"

"Huh, Mutsuki? Orang dengan warna sepucat ini?"

"Apa dia bukan orang dari Shimotsuki?" Seseorang bertanya lagi. "Aku ingat Don mereka juga pucat begitu."

"Hee…" Shun merasakan wajahnya diperhatikan lagi lekat-lekat. "Mungkin sebaiknya kita lakukan pengecekan lagi.. Ah tapi siapa yang peduli begitu kau sudah dibeli."

Lelaki itu melepaskan dagu Shun dan mendorongnya. Ia tertawa mengasihani pada Shun dan gadis-gadis lain yang tangannya terikat.

"Toh begitu sudah dibeli kalian paling hanya jadi penghangat ranjang saja."

Dia tertawa lagi ketika gadis-gadis di samping Shun semakin ketakutan dan terisak. Shun sendiri hanya mengernyit, jijik mendengar apa yang diucapkan tadi. Penghangat ranjang? Maksudnya mereka mau dijual untuk prostitusi? Ugh, ini yang terburuk.

"Bawa mereka! Sebentar lagi acaranya dimulai."

Satu persatu mereka dipaksa berdiri. Shun hanya menurut, dan menyibukkan diri mengingat jalan yang mereka lewati. Dari ruangan kecil, kemudian naik ke lantai selanjutnya, dibawa berkelok melewati beberapa lorong sebelum mereka tiba di tempat yang tampak seperti belakang panggung.

"Tutupi mata mereka! Acara sudah mau dimulai."

Seseorang yang Shun kenali sebagai Don famiglia tersebut memerintah. Shun merasakan seseorang menariknya menunduk dan mengikatkan penutup mata, lalu ia didorong ke arah tertentu, dipapah menaiki panggung. Mereka dibuat menunggu selama sang Don muncul dan menyampaikan ucapan sambutan.

Shun hanya bisa menghela napas kecil.

Ugh, membosankan.

.


.

Mata mereka langsung menuju pada mimbar. Seseorang dengan topeng masquerade naik ke panggung. Pakaiannya tampak jauh lebih mewah. Hajime mengernyit sebelum mengucap pada Haru.

"...Dia anggota famiglia yang menjadi target?"

"...Iya." Haru melirik sekeliling, memerhatikan satu demi satu undangan yang datang. "...Hajime, Tsukishiro-san tidak bercanda saat bilang yang datang ke lelang ini kebanyakan musuh kita…"

"...Tsk." Hajime mendecak. "...Amor, Stella. Sepertinya gas tidur kalian akan bekerja lagi di sini…"

"Ah. Tes, tes."

Seluruh anggota Gravi mengerjap ketika mendengar suara Rui dari alat komunikasi berbentuk anting yang mereka kenakan.

"...Mm.. Sepertinya sudah tersambung. Gravi, kalian dengar?"

"Kami dengar. Ada apa?"

"Uun, perintah lanjutan dari Olivastro.." Rui mengucap pelan, menyebut nama alias Tsukishiro. "..Gravi fokus pada menolong yang tertangkap dan menahan Don famiglia ini… Procella akan membereskan sisanya."

Hajime mengernyit. "...Jadi kami hanya menolong yang lain?"

"Un. Petanya sudah kukirimkan pada Caelum."

"Begitu keributan di mulai, tolong langsung menuju mimbar dan masuk ke bagian belakang. Aku dan Pluvia akan memimpin untuk mencapai ke ruangan yang lain disekap." Suara Yoru menggantikan Rui. Pemuda yang biasanya gugup itu terdengar begitu serius dan tenang.

"Tunggu, apa baik-baik saja dengan Mare, Sol, dan Athletic hanya bertiga?"

"Tenang saja, tenang saja. Kami bertiga cukup kok."

"Lagipula kalau kami kesusahan kan ada Albion." Suara Kai terdengar. Tanpa melihat pun anggota Gravi bisa membayangkan anggota paling tua Procellarum itu menyeringai berbahaya ketika menyebut nama partnernya. "Orang itu pasti sudah bosan berpura-pura tidak bisa apa-apa."

"...Yah.."

Anggota Gravi tidak bisa mengelak, kendati Kakeru dan Koi masih tampak tidak yakin. Haru dan Hajime hanya bertukar senyum kecil.

"...Baiklah. Kalau kalian butuh bantuan, aku akan minta Cerasus dan Amor segera menyusul."

"Tentu, tentu."

Suara mikrofon diketuk mengalihkan perhatian mereka. Target di depan berdehem-dehem beberapa kali sambil beberapa bawahan mendorong lima orang naik ke panggung. Tangan kelima orang itu diikat, dan mata mereka ditutupi dengan secarik kain. Di antara kelimanya, mereka langsung melihat sosok pucat Shun dengan mudah.

"...Oh sudah mulai."

"Heh, Nox, Pluvia, jangan kecewakan Procella ya."

Biasanya Yoru akan langsung tertawa tak yakin kalau mendengar You bercanda seperti itu. Tapi kali ini jawaban Yoru terdengar sangat mantap.

"Tentu saja. Sol juga ya."

"Pluvia, akan berjuang."

"Semangat, Pluvia. Ingat yang sudah diajarkan kemarin."

"Un. Yang lain juga."

"Kalian siap-siap." Suara Kai terdengar. "Gravi, begitu keributan apapun dimulai, langsung ikuti Nox dan Pluvia."

"Roger." Haru membalas pelan. "Gravi sudah siap di posisi. Stella dan Amor akan membantu sedikit untuk pengalihan perhatian."

"Ok. Kalian semua, bersiap."

Hajime secara pribadi merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih kencang ketika Kai berbicara. Ucapan yang dikatakan pembawa acara di mimbar terasa tak terdengar. Mata Hajime terfokus pada Shun dan aba-aba yang akan disampaikan Kai. Tubuhnya terasa siap bergerak kapan saja.

"...Sekarang!"

.


.

Letusan pistol beruntun terdengar diikuti bunyi kaca pecah. Shun terkekeh ketika lampu ruangan padam seketika. Di kiri-kanannya suara gadis memekik dan beringsut mendekat, ketakutan ketika letusan pistol kembali terdengar bersama erangan sakit. Derap langkah kaki terdengar ribut menambah kekacauan bersama seruan perintah.

Shun memanfaatkan kesempatan untuk menarik bobby pin yang sudah ia simpan di lengan jas dan dengan cepat menggunakannya untuk membuka kunci borgol. Shun menyeringai ketika ia mendengar langkah yang familiar mendekat ke panggung kecil tempatnya berdiri dan bunyi pelatuk bersamaan dengan desing peluru melalui suppressor terdengar.

Teriak kesakitan dan bunyi tubuh yang ambruk ke lantai terdengar menutupi bunyi borgol yang jatuh. Shun menarik lepas penutup matanya, mengerjap pelan membiasakan matanya dengan suasana gelap, lalu bertatapan dengan Rui yang mengenakan wig hitam dan menyodorkan topeng dan anting alat komunikasi mereka padanya.

"Albion."

"Terima kasih, Pluvia."

Shun memakai topengnya dengan cepat, menghela napas lega ketika merasakan berat yang familiar di wajahnya. Ia menatap sekilas pada Gravi sebelum menoleh pada Yoru dan Rui.

"Kalian berdua kawal Gravi baik-baik. Aku akan bantu yang lain."

"Kami mengerti." Yoru mengangguk. "Aku serahkan yang disini pada Albion."

"Yep. Oh dan Nox, Pluvia? Jangan buat aku kecewa."

Nox dan Pluvia mengangguk, mata berkilat dengan determinasi. "Si, Signore."

"Yang lain, ayo!"

Hajime bertatapan dengan Shun, bersamaan keduanya mengangkat tangan dan menepukkan telapak tangan mereka sebelum Hajime berlari mengikuti Gravi.

"Nah… Aku mulai darimana ya…"

Shun menggumam sambil memasang alat komunikasinya, mengamati Kai, You, dan Iku berkelit lincah sambil membidik, menjatuhkan satu demi satu target mereka. Suasana ruangan kacau, beberapa sudah bergelimpangan, entah tewas atau hanya tidak sadar. Shun mengernyit ketika melihat beberapa orang menyelinap melalui pintu belakang dan berlari mengikuti Gravi, Nox, dan Pluvia.

"...Wah, wah."

"...Albion? Albion?"

"Haai, Albion di sini." Shun memanggil, dengan kasual melempar belati tepat mengenai tengkuk salah satu yang mendekat pintu belakang. Orang-orang yang mengikutinya seketika terkesiap ketika dia jatuh, tewas seketika. "Ma~re, kalian ini. Ada beberapa yang lolos mengejar Nox dan Pluvia, lho."

"Hah? Ada?" You mendecak, bersamaan dengan itu Shun bisa mendengar pekik dan tarikan napas terkejut Kakeru, Koi, dan Aoi. "Cih, ternyata ada juga yang lolos."

"Um… Seharusnya aman'kan? Soalnya ada Cerasus dan Caelum juga… Ah, Ver dan Initium juga!" Iku bertanya, samar suara tembakan terdengar, diikuti erang sakit, lalu kembali sunyi dari tempatnya.

"Cerasus.. Orang itu sniper, kau tahu? Dia bukan orang yang bisa meladeni mereka sambil dikejar-kejar begitu. Dan yang lain.. Mm, aku juga tak yakin mereka bisa menangani semuanya kalau harus sambil mengikuti Pluvia dan Nox…"

"Maa, menghabisi orang sambil mengikuti keduanya memang susah sih. Pluvia sering membawa kita lewat jalan pintas yang unik."

"JADI INI SERING TERJADI?"

"...Ah, benar kan." Kai tertawa mendengar suara kencang Kakeru.

"Kalau begitu aku yang mengejar mereka?" Shun bertanya, menginjak tangan salah satu bawahan yang masih hidup, meraih pistolnya dan menembak orang itu tepat di kepala. "Aku bisa serahkan yang di sini pada kalian."

"..Nn~ aah, baiklah. Albion, kau ikuti mereka untuk back up. Aku agak cemas juga pada Pluvia."

"Ya, ya, Dasar Mare ini, seperti papa yang cemas saja."

"...Mare… Aku bisa kok." Rui memprotes.

"..Yah, aku yang menemukan Pluvia'kan? Wajar aku cemas padamu. Aku yakin Sol juga sama saja, pasti cemas pada Nox."

Shun melihat Kai menghabisi lawannya dengan tiga tembakan di organ vital, dan satu tembakan lain menembus kening anggota famiglia musuh yang berniat menikamnya. Suara You kemudian terdengar.

"Mare! Kau ini jangan lengah ah! Dan apaan yang tadi?!"

"Oops! Maaf, maaf!"

"Albion, apa sudah ada senjata?" Suara Haru terdengar.

"Hmm… Selain pisau lempar tiga buah, tidak ada. Aku bisa mengambil beberapa pistol di sini sih, jadi tenang saja." Shun mengangguk kecil sambil mengambil beberapa pistol dan magazin. Ia menyelipkan beberapa ke sabuknya. "Aku kejar mereka sekarang ya. Nox, Pluvia, kalian fokus saja pada menemukan yang lain."

"Baik! Kami serahkan yang mengejar kami pada Albion!"

Shun terkekeh. Ia meregangkan tubuhnya sendiri sebelum mulai mengejar.

.

.

.

Nah, saatnya permainan dimulai.