"mama sudah bilang, jangan main hujan-hujanan. Sekarang kamu sakit, kan" Kata Naruto, ia menyelimuti tubuh kecil Menma dengan sebuah selimut bermotif spiderman, sambil sesekali mengusap sayang rambut raven Menma.

Menma merutuki kebodohannya ketika pulang sekolah tadi menuruti tantangan teman sekelasnya, Nagato, untuk main bola dalam keadaan hujan. Ini yang pertama dan terakhir kalinya Menma bertindak bodoh dan tidak mendengarkan nasihat sang mama.

Jam dinding sudah menunjukan pukul 9 malam, sudah waktunya Menma untuk tidur. Seharusnya anak itu sudah merapihkan persiapan barang-barangnya untuk sekolah besok pagi. Hanya saja Menma sedang demam, dan sepertinya besok pagi ia harus absen dari sekolahnya dengan alasan sakit.

Naruto ikut merebahkan tubuhnya di samping Menma. Sepulang dari Suna, dia memang tinggal di Mansion Uchiha bersama putranya dan juga beberapa saudara dekat suaminya atas permintaan sang kakek. Sementara Sasuke, saat ini ia lebih sering berada di rumah sakit menjaga Naruko yang sedang di rawat.

2 hari sudah Naruko tertidur dan belum juga membuka matanya kembali. Sara melarangnya untuk menjaga sang adik dan meminta Naruto lebih memperhatikan Menma mengingat putranya itu masih membutuhkan perhatian yang cukup darinya.

"mama"

"iya?" sahut Naruto, ia membuka matanya kembali begitu mendapati putra semata wayangnya masih terjaga.

"kata Mama Dei, saat di Suna, mama tinggal sama Paman Gaara ya? Paman Gaara itu seperti apa sih orangnya?" Tanya Menma. Anak itu sepertinya sudah melupakan rasa pusing di kepalanya.

Naruto mengulum senyum simpul, matanya menyipit. "paman Gaara itu orang yang baik, rambutnya merah, matanya hijau, nanti kapan-kapan mama ajak Menma ketemu sama paman Gaara"

Menma mengerucutkan bibirnya lucu, bocah berkulit putih pucat itu tampaknya tidak menyukai usul sang mama yang hendak mempertemukan dirinya dengan seseorang yang mereka sebut 'Paman Gaara'.

"gak usah! Menma tidak mau ketemu dengannya" kata Menma, kesal. Naruto terkekeh pelan, "padahal paman Gaara pengen banget lho ketemu Menma" ujar Naruto, berharap putra semata wayangnya ini tidak salah kaprah mengenai sahabatnya selama ia berada di Suna.

.

.

.

"apa mereka sudah tidur?"

Itachi menganggukan kepalanya pelan, dia heran sekali dengan adik kandungnya itu. seharusnya Sasuke lebih tahu tentang keluarga kecilnya kan dibandingkan dengan dirinya. Tapi kemudian dia tersenyum simpul, memaklumi keadaan keluarga sang adik yang telah beberapa tahun dibina.

Mereka sedang berada di ruang keluarga Uchiha, dimana banyak sekali moment-moment yang pernah mereka lewati ketika mereka masih terlalu muda. Itachi ingat, dulu ia sering menemani Sasuke belajar di ruangan ini kalau kedua orang tuanya tengah menghadiri acara kerabat dan pulang larut malam.

"bagaimana keadaan Naruko?" Itachi balik bertanya, ia turut berduka ketika mengetahui adik iparnya itu sedang berada di rumah sakit. "dia sudah sadar kemarin sore, hanya saja fisiknya masih terlalu lemah untuk menjalani operasi" jawab Sasuke.

Sulung Uchiha itu dapat melihat wajah lelah sang adik, bahkan kalau boleh ia berkomentar Sasuke terlihat lebih tua dibandingkan usia sebenarnya. Pipinya yang tirus semakin mempertegas bentuk rahang manly nya itu. memang masih terlihat tampan, Cuma saja dia Nampak sedikit lebih tua.

"ku harap ia bisa cepat sembuh" ucap Itachi, menyeruput teh hijau yang ia buat seorang diri di tengah malam. Itulah kebiasaan seorang Uchiha Itachi, ia adalah orang yang mandiri dan tidak terlalu suka membuat para maid kerepotan di malam hari. "ku harap juga begitu" Sasuke menyahut.

"ku dengar kau akan pergi ke New York ya" bungsu Uchiha itu berganti topik pembicaraan mengenai rencana Itachi dan kekasih gila—coret—Kyuubi, yang hendak pergi berlibur ke luar negeri. "Pasti paman Ebisu yang memberitahukan mu" tebak sang kakak.

"dia bilang besok kau akan berangkat jam 4 pagi" kata Sasuke, ia masih belum menyentuh kopi hangat miliknya.

"pukul 6 pesawat berangkat, pagi-pagi aku harus membantu Kyuubi membereskan semua barang-barangnya. Seperti kau tidak tahu kakak iparmu saja" sahut Itachi, ia mendengus geli bila mengingat kekasihnya yang manis itu kerepotan memasukan keperluannya ke dalam koper. Bila saja Itachi hanya membawa satu buah koper, mungkin Kyuubi bisa membawa minimal 2 atau pun 3 buah koper untuk memenuhi keperluannya di New York nanti.

"tidurlah, besok kau harus bekerja kan" ujar Itachi, memerintah sang adik agar pergi ke kamarnya dan segera tidur. Pasalnya, Itachi sudah mulai gerah melihat lingkar mata Sasuke yang kian hari makin terlihat karena kesibukannya bekerja dan mengurus istri mudanya itu.

"aku akan cuti beberapa hari, ada yang harus aku urus" Sasuke berkata, ia beranjak dari posisi duduknya dan berniat meninggalkan kakaknya seorang diri.

Itachi mengerutkan dahinya, kemudian berkata, "urusan? Soal urusan mu dan Naruto"

"ya, begitulah"

Itachi tersenyum simpul, mereka sudah membicarakan mengenai rencana perceraian Sasuke dan Naruto serta hak asuh putra mereka yang mungkin saja akan jatuh ke tangan Naruto. Itachi sudah meminta Sasuke untuk tidak bertindak egois dan membuat istri pertamanya itu 'down' seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya.

"ku harap kau tidak membangunkan Naruto dan membicarakan hal membosankan itu" Ujar Itachi, ia kembali menyeruput teh hijau miliknya yang sudah tidak terlalu hangat.

"kau sudah melarang ku dari awal" sahut Sasuke, ia kembali melenggangkan kedua kaki jenjangnya menaiki anak tangga.

"Oh iya, besok kau harus mengantar Menma ke sekolah!" seru Itachi.

.

.

.

.

Naruto sudah bangun dari tidurnya beberapa jam yang lalu, namun ia tidak menemukan siapapun di dapur kecuali paman Myura, seorang kepala pelayan yang bertugas menyiapkan sarapan untuk keluarga Uchiha yang tinggal di mansion itu.

Paman Myura adalah laki-laki tua yang baik hati, ia begitu dekat dengan Naruto karena ibunya Menma itu kerap kali membantu laki-laki paruh baya itu bekerja di dapur. Di mansion itu hanya ada Naruto, Menma, dan juga Sasuke. sementara beberapa majikannya yang lain sedang pergi ke luar kota untuk mengunjungi sanak saudara kecuali Itachi yang memang sedang liburan dan baru berangkat pagi buta tadi.

"ano, Nyonya Uchiha.. biar saya yang memasak, anda duduk saja. saya akan membuatkan nyonya teh hangat nanti" Paman Myura meminta Naruto untuk menghentikan kegiatan potong-memotong sayurnya secara halus. Beberapa hari yang lalu, Madara-sama menegur paman Myura supaya menghentikan cucu menantunya itu agar tidak memasak lagi.

Naruto tertawa pelan, pasti paman Myura ketakutan kalau ada beberapa maid yang mengadukan hal ini pada kakek Madara yang sedang berada di luar kota dua hari yang lalu. Tapi ia tetap menghiraukan laki-laki paruh baya itu, dia tidak mau menghentikan kegiatan favoritnya. Lagipula, kakek mertuanya itu sedang tidak ada di mansion ini kan.

"paman tidak usah khawatir! Kakek tidak ada di sini" sahut Naruto, meminta paman Myura untuk tidak perlu khawatir mengenai perintah sang kakek. Paman Myura terdiam beberapa saat, "jangan begitu, nyonya! Maafkan saya, saya hanya menjalankan perintah Madara-sama saja" ujar paman Myura.

"paman, aku hanya ingin membuatkan sarapan untuk putraku saja. aku janji, nanti siang aku tidak akan memasak. Boleh ya"

Paman Myura meneguk ludah, Nyonya muda nya ini mulai melancarkan puppy eyes andalannya yang mampu membuat siapapun sulit menolak wajah manis itu untuk berkata 'tidak'. Bahkan seingat Myura, mendiang Fugaku itu tidak pernah bisa menolak tatapan polos Naruto.

"b..baiklah, nyonya" Myura akhirnya pasrah, ia berjalan membungkuk hormat dan berjalan menjauhi dapur dan berniat mengerjakan pekerjaan lainnya.

Tidak lama paman Myura pergi, terdengar suara kursi yang digeser. Membuat ibu satu orang anak itu memutar tubuhnya hanya untuk melihat sosok tinggi berbalut stelan casual sedang duduk manis di sana. Naruto mulai bersikap sewajarnya, berpura-pura fokus pada sup tomat yang sedang ia masak.

"Selamat pagi, mama"

Suara manja Menma sudah mulai terdengar, mengalihkan Naruto dari kepura-puraannya. Ia mematikan kompor, dan memeluk tubuh kecil putranya tanpa repot-repot melepaskan apron berwarna biru di tubuhnya.

Putra semata wayang Uchiha Sasuke dan Uchiha Naruto itu sudah terlihat tampan dengan kemeja sekolah dasarnya dan sebuah tas gendong bergambar mobil di punggungnya. Sasuke bisa melihat interaksi keduanya yang begitu akrab. Ada satu khayalan dimana Sasuke ingin sekali Menma mengucapkan selamat pagi padanya, dan memberikan sebuah pelukan hangat untuknya di pagi hari.

"kau sudah sembuh? Kau yakin akan berangkat ke sekolah, sayang?" tanya Naruto—seraya mengusak sayang surai raven Menma.

"tentu saja! Menma kan anak yang kuat" Anak berusia 7,5 tahun itu mulai memuji dirinya sendiri. Naruto tertawa pelan, ia kecup kening sempit putranya seperti yang selalu ia lakukan setiap hari.

Menma berlari kecil menuju meja makan, sementara sang ibu sudah kembali berkutat menyiapkan peralatan makan yang akan ia tata di atas meja. Maniks biru nya menangkap sosok sang ayah yang sedang sibuk membaca seberkas dokumen yang ia tidak tahu dokumen apa itu. hanya saja ayahnya kelihatan serius sekali, sampai-sampai tidak menyadari sang ibu meletakan sebuah mangkuk di dekatnya.

"papa"

"iya?" sahut Sasuke, ia sedikit terkejut ketika menangkap wajah pucat putra semata wayangnya. "Menma, wajahmu pucat sekali" kata Sasuke, ia hendak menyentuh wajah kecil sang buah hati kalau saja tangan tan Naruto sudah terulur untuk meletakan sebuah kopi hangat tepat di atas meja.

"Menma demam tadi malam" jelas Naruto, ia mendudukan tubuhnya di samping Menma.

"seharusnya dia tidak sekolah, wajahnya masih terlalu pucat" sahut Sasuke, mengkhawatirkan sang buah hati.

Senyum seorang ibu terpatri di wajah Naruto. "seharusnya kau katakan itu padanya" timpal Naruto. Menma mengerucutkan bibirnya lucu, "papa, Menma mau sekolah" ia mulai merengek manja. Sasuke sedikit terkejut melihat tingkah ajaib putra semata wayangnya yang hanya akan ditunjukan jika ada sosok sang ibu di dekatnya.

"kau akan berangkat sekolah jika kau sudah benar-benar sehat" tegas sang ayah.

"dengarkan? Ayahmu sudah mengatakan tidak. Sekarang habiskan supnya" kata Naruto, menggeser mangkuk berisi sup tomat ke hadapan Menma.

.

.

.

.

Pukul 12 siang..

"Naruto-chan, dimana Menma?" tanya Deidara, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tamu mansion Uchiha yang besar itu. mata birunya agak kecewa saat tidak mendapati seorang anak kecil berambut raven yang sudah lumayan akrab dengannya dan juga sang suami.

Siang itu Deidara menyempatkan diri berkunjung ke mansion Uchiha setelah mengunjungi sebuah restoran milik keluarganya untuk memastikan bagaimana perkembangan restoran itu berjalan. Sudah menjadi kegiatan rutin satu bulan sekali, wanita Akasuna itu pasti akan pergi ke restoran tanpa suaminya.

Sebelumnya, sahabat dekat ibunya Menma itu memang sudah mengetahui rencana kembalinya Naruto ke Konoha. Naruto memang mengirimkan sebuah pesan berisi rencananya untuk pulang, dan Deidara selaku sahabat hanya bisa memberikan nasihat-nasihat dan support sebagai tanda kepeduliannya terhadap lelaki itu.

"dia sedang istirahat, kak. Anak itu demam tadi malam" jawab Naruto. dia merasa senang sekali ketika mendapati kehadiran wanita bertubuh semampai itu mengunjungi dirinya.

"kok bisa?" Deidara bertanya lagi, dia kelihatan cemas mendengarnya. Menma itu anak yang jarang sekali sakit, dan Deidara cukup tahu hal itu. Menma juga bukan anak yang selalu mengeluh bagian mana yang ia rasakan sakit, anak itu memang cukup bisa membuat para orang dewasa di sekitarnya khawatir.

"main hujan-hujanan, anak itu memang terlalu aktiv untuk anak seusianya" jawab Naruto, sedikit mengeluhkan keaktivan buah hatinya yang terlalu over. Sebagai seorang ibu, ada kalanya ia benar-benar merasa takut bilamana putra semata wayangnya itu jatuh sakit, meskipun hanya sekedar flu dan batuk.

"Menma itu jarang sekali sakit kan. tumben-tumbenan dia sakit" Deidara ikut menimpali. Ia berpikir sejenak, Menma memang anak yang aktiv Cuma sedikit pendiam dan selektiv dalam memilih orang-orang yang akan ia percayai. Dan Deidara merasa beruntung saja telah terpilih menjadi satu dari sedikit orang yang menjadi orang terdekat Menma setelah keluarganya.

Apalagi setelah Menma memanggilnya dengan sebutan 'mama'. Hati nurani seorang wanita yang selalu ingin menjadi seorang ibu pun tergerak, sehingga Deidara sangat bahagia karena Menma telah menganggapnya sebagai seorang ibu. Tuhan belum memberikan kepercayaan padanya untuk memiliki momongan, namun Deidara dan Sasori selalu tabah dan percaya jika suatu saat nanti mereka pasti memiliki seorang anak yang murni darah daging mereka sendiri.

Deidara tersenyum simpul ketika berhasil menebak jalan pikiran anak Uchiha itu. dia cukup tahu, Menma bukan anak yang bodoh dan membiarkan tubuh kecilnya bermain-main di bawah guyuran hujan. Anak itu sengaja main hujan-hujanan dan jatuh sakit, kemudian mama nya akan terus berada di dekatnya setiap saat, karena Menma tahu ibunya tidak akan membiarkan Menma sendirian ketika ia sakit.

"kakak, kenapa Kak Sasori tidak bersama kakak?" Tanya Naruto.

"oh itu, dia tadi mau ke sini. Cuma tiba-tiba ada rapat yang mendadak, jadi tidak sempat deh. tapi dia menitipkan ini buat Menma" Deidara menyerahkan sebuah bingkisan besar yang Naruto bisa tebak isinya adalah sebuah mainan mahal.

"aduh, ya ampun.. seharusnya kakak tidak usah repot-repot" Naruto merasa tidak enak saja kalau harus menerima mainan mahal pemberian Sasori untuk anaknya. Cuma kalau ditolak pun akan sama saja kan? Orang yang memberi pun pasti bisa menilai, jika Naruto adalah orang yang tidak bisa menghargai. Padahal bukan begitu maksudnya.

"tidak apa-apa, dan jangan berusaha untuk menolak" canda Deidara. Kemudian keduanya tertawa bersama. Semua terlihat baik-baik saja untuk sesaat, dan wanita Akasuna itu tahu bagaimana keadaan Naruto yang sebenarnya. Hatinya terguncang hebat, meskipun Naruto terus berpura-pura menutupi. Sesak itu kembali datang di hati Deidara, melas rasanya melihat sosok seorang adik yang ia sayangi harus menjalani kehidupan seperti ini.

.

.

.

.

Sasuke melihatnya, melihat istri tertuanya itu tertawa bersama seorang wanita Akasuna yang ia ketahui adalah sahabat dekat istrinya paska kecelakaan satu tahun yang lalu.

Ia sudah mengenal dekat pasangan suami istri Akasuna itu meskipun tidak terlalu dekat seperti Itachi, Menma, Kyuubi, dan juga Naruto. tapi ia tahu jika keluarga kecil itu adalah orang yang baik. Terlebih Deidara, wanita cantik bak model itu seolah sudah menjadi ibu kedua Menma setelah Naruto.

Kalau boleh ia berkomentar, bahkan Menma cenderung lebih dekat dengan Deidara dibandingkan Naruko, istri kedua sang ayah yang seharusnya sudah jelas di mata Negara adalah ibu kedua Menma atau dengan kata lain ibu tiri Menma.

Akan tetapi Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menerima semuanya dengan lapang dada meskipun kepahitan bak simalakama ia telan. Semua tidak seperti saat Menma masih harus memakai popok. Menma nya sudah tumbuh, ia sudah bisa berlari dan bisa memakai baju sendiri. Menma tidak bisa lagi dibohongi oleh kata-kata palsu yang dibuat oleh ayahnya sendiri.

"kenapa papa di sini?" tanya Menma, melihat ayahnya yang bersembunyi di balik dinding pembatas ruang tamu dengan ruang tengah. Menma kecil juga ikut bersembunyi dan menilik ke arah ruang tamu, dimana sosok mama Deidara sedang berbincang-bincang dengan mama kandungnya sendiri. Matanya seolah berbinar, namun ia merasa jika ia tidak boleh meninggalkan papanya sendirian di sini.

"papa ingin bicara denganmu, apa Menma keberatan?" Sasuke balik bertanya. Menma menggelengkan kepalanya pelan, "tidak..ayo, kita ke taman saja, pa" ajak Menma, anak itu mulai menggandeng tangan kanan sang ayah dan berjalan menuju taman belakang. Tempat favourite ayahnya bersama sang nenek, ketika sang ayah masih kecil.

.

.

"papa mau bicara apa?" tanya Menma.

Suasana taman belakang mansion Uchiha tidak berubah banyak, kecuali beberapa tatanan taman yang di rombak ulang atas permintaan mendiang Fugaku untuk merawat tempat favorit istrinya semasa hidup.

Bahkan kandang kelinci milik Sasuke sewaktu kecil pun masih terlihat rapih dan terawat berkat tangan-tangan pelayan setia mereka. kelinci-kelinci itu sudah beranak pinak, sehingga mereka pun bisa melihat beberapa kelinci yang sudah di lepas di alam liar itu berkeliaran dan menjadi penghuni tetap taman mansion yang luas itu.

"papa hanya ingin bermain bersama Menma di sini" kata Sasuke, ia berjalan ke arah kelinci berwarna putih yang sedang mencari makan di sekitar taman. Sasuke ingat, dulu kelinci nya hanya ada dua. Dan itu masih kecil-kecil, kemudian kelincinya itu kawin dan memiliki anak , begitu pun seterusnya. Hingga kelinci-kelinci itu sudah membangun rumahnya sendiri secara alami di taman belakang mansion nya itu.

Maniks biru Menma menatap tidak percaya ke arah sang ayah yang terlihat sedang memangku kelinci itu sambil duduk di atas rumput tanpa mempedulikan celana casual nya yang kotor. Tidak, bukan hanya itu, untuk pertama kalinya Sasuke mengajaknya bermain di taman bersama hewan-hewan kesukaannya (kelinci).

Dulu Menma hanya bisa bermain di taman belakang rumahnya bersama sang ibu (Naruto) dan juga dua kelinci nya yang mati beberapa bulan yang lalu. Untuk melupakan kesedihannya itu, Menma selalu berusaha untuk tidak bermain-main atau pun berniat memelihara kelinci lagi. karena hewan mamalia bertelinga panjang itu hanya akan mengingatkannya dengan masa-masa terindahnya bersama sang mama.

"dulu kau sangat suka kelinci, kau ingat?"

Menma mendudukan tubuh kecilnya di samping sang ayah yang sedang mengusap lembut kelinci itu. sambil memegang sebuah wortel yang digigit si kelinci, ayahnya tampak seperti menimang hewan lucu tersebut. "iya, tapi sekarang tidak" kata Menma, ia memungut sebuah batu kecil dan melemparnya ke sembarang arah.

"kenapa? dulu papa sangat menyukai kelinci. Papa ingat saat pertama kali kakekmu memberikan dua anak kelinci dihari ulang tahun papa yang ke-lima"

"Menma juga ingat saat mama memberikan Menma sepasang kelinci kecil dihari ulang tahun Menma yang ketiga" timpal Menma. Kenangannya kembali berputar ketika ibunya yang manis itu memberikan sebuah kandang berisi dua ekor anak kelinci yang manis dan juga menggemaskan. Untuk pertama kalinya Menma menyukai seekor binatang yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali jika ia akan jatuh hati pada makhluk imut itu.

"hehehe"

Sasuke menoleh ke arah putra kecilnya yang sedang tertawa tanpa sebab. "kenapa?" tanya nya. Ia melepaskan kelinci itu ketika wortel yang ia pegang sudah hampir habis dan membiarkan si kelinci memakannya sendiri.

"gigi mama mirip kelinci" Menma menjawab dengan tingkahnya yang lucu. Sasuke terkekeh pelan, "kau benar" sahutnya. Kemudian ia bisa membayangkan wajah manis istri pertamanya dengan dua gigi depan Naruto yang memang mirip seperti gigi depan kelinci. Dulu saat mereka masih sekolah, banyak teman-teman seangkatannya yang sering memuji wajah polos sang istri dengan senyum gigi kelinci nya yang membuat laki-laki pirang itu terlihat menggemaskan.

"papa, Menma mau tanya sama papa"

"hn?"

Menma menghela napas pelan, kemudian mulai bersuara. "apa papa pernah mencintai mama?"

Sasuke terdiam, dia tidak tahu jika pertanyaan itu terlontar dari bibir tipis sang buah hati. Apa dia pernah mencintai Naruto? dia tidak tahu harus menjawab apa. wajah manis dengan dua pipi bulat, senyum gigi kelinci yang manis, serta tubuh mungil, dan sifat polos Naruto yang tidak dibuat-buat. Seharusnya bisa membuatnya jatuh hati pada sosok pirang itu bukan?

Perasaan rindu ketika Naruto tidak lagi bersamanya. Dadanya sesak serta kepalanya sakit ketika melihat Naruto nya bersama laki-laki lain. Lalu rasa bersalah yang mulai menggerogoti rongga dadanya begitu menyadari betapa brengsek nya ia selama ini. apakah ia mencintai Naruto? seseorang yang telah menjadikan dirinya seorang ayah dari anak laki-laki pintar yang kini tengah menatap penuh harapan ke arahnya.

Untuk saat ini, biarkan ia jujur pada putra sendiri.. biarkan Menma tahu bagaimana perasaannya pada laki-laki pirang itu.

"pernah.."

Menma membulatkan matanya, apa papa nya sedang berbohong saat ini?

TIDAK!

Tidak ada tatapan palsu di maniks obsidian itu. tidak ada perasaan janggal ketika ayahnya menjawab 'Pernah'. Senyum kelegaan itu bisa ia lihat di wajah tampan ayahnya. Seakan ayahnya telah mengeluarkan beban dalam dirinya yang cukup berat untuk ia tanggung seorang diri.

"papa tahu ini terlambat, tapi seiring waktu berjalan. Papa sadar jika papa pernah mencintai mama mu" ujar Sasuke, dia berusaha untuk tidak menangis ketika mengatakan isi hatinya pada Menma.

"semua memang terlambat untuk diperbaiki, papa. Tapi kata Oji-sama, belum terlambat untuk mencoba lagi" kata Menma. Sasuke menoleh cepat dan mendapati sang buah hati yang tengah berkaca-kaca. "Menma tidak mau jadi anak broken home" anak itu memeluk sang ayah, menenggelamkan tangisnya di dada bidang ayah kandungnya sendiri.

"hiks.."

"papa akan berusaha lagi" hibur Sasuke, balas memeluk tubuh malaikat kecilnya dengan erat. Setetes air mata membasahi wajah tampannya. Namun ia tidak peduli, apapun pasti ia lakukan untuk kebahagian Menma. Meskipun harus mati sekalipun, jika itu bisa membuat Naruto percaya padanya, dia pasti akan melakukannya.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian..

Krieett..

Secara perlahan pintu ruangan itu terbuka, menyembul sosok raven dengan stelan jas kantoran berwarna hitam—terlihat cocok di tubuh tingginya itu.

Lelaki tampan itu melangkahkan kakinya mendekati ranjang pasien, dimana seorang wanita berambut pirang sedang tertidur di atasnya.

Tangannya hendak terjulur mengusap wajah cantik namun pucat itu, jika saja sang empunya tidak terbangun dan sedikit terkejut melihat kedatangan sang suami. Sasuke mengulum senyum, Naruko menundukan kepalanya merasa bersalah atas tindakannya tadi.

"maaf, aku tidak tahu jika Sasuke-kun yang datang" ujarnya, terdengar lirih. Dokter bilang kondisi fisiknya masih terlalu lemah untuk menjalani operasi. Mereka memang menunggu para dokter mengatakan 'ya' dan berharap usaha kesembuhan wanita cantik itu berjalan lancar.

"tidak apa-apa, seharusnya aku tidak membuat kau terkejut kan" sahut Sasuke, ia sudah duduk di kursi yang terletak di samping ranjang pasien sang istri. Ditatapnya wajah cantik yang kian hari semakin tirus termakan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Penyakitnya sudah terlalu komplikasi ditambah penyakit genetikal bawaan dari mendiang sang ibu.

"cepatlah sembuh" ucap Sasuke—menggenggam erat jemari Naruko yang lebih kecil dari jari-jemarinya.

Naruko terkekeh pelan, "aku akan sembuh, sayang" sahutnya. Ia menyipitkan matanya, memberikan senyum terbaiknya meskipun harus menahan sakit.

"bagaimana dengan Naruto?" tanya nya. dia sedikit merasa sedih ketika mengetahui, selama ia di rawat di rumah sakit, Naruto tidak pernah menjenguknya. Sasuke terdiam sejenak, kemudian ia kembali memamerkan senyum di wajah tampannya itu. ah, selama beberapa waktu Naruto kembali, laki-laki Uchiha itu semakin sering tersenyum saja.

"dia baik-baik saja. Begitu pun dengan Menma, hanya saja beberapa hari yang lalu anak itu demam. Tapi kau jangan khawatir, Naruto ada bersamanya" Ujar Sasuke, ada rasa bangga ketika ia mengatakan hal itu pada si istri muda. Naruko menutup kedua matanya, dia tentu tahu bagaimana perasaan suaminya saat ini. dan sekarang pun ia juga merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Naruto ketika melihat ia dan Sasuke bersama.

"dia memang ibu yang baik" kata Naruko—kembali membuka matanya dan menatap dalam dua maniks obsidian di depannya. Sasuke mengangguk setuju, "kau boleh memotong telingaku jika aku berbohong"

Naruko mengusap lembut telinga kanan Sasuke yang cukup mudah ia capai. "tidak, itu pasti akan menyakitkan" Naruko menyahut cepat. Sasuke mengecup singkat genggaman jemari sang istri. "tapi tidak sesakit perasaan Naruto dan juga kau yang tanpa sadar aku sakiti"

Menyentuh penuh kasih tangan Sasuke yang tengah menggenggam tangannya. "yang tersakiti itu Naruto, bukan aku" Naruko berkata lembut.

"pada awalnya, kita saling bergandengan tangan di setiap waktu. Saat itu kita terlihat indah. akan tetapi jika ada orang yang menangis di belakang kita, itu sangat menyakitkan. Keindahan yang tercipta akan terlihat semu. Kau pasti mengerti maksudku kan, Sasuke-kun"

"aku berusaha untuk memperbaikinya, Menma bilang aku belum terlambat. Tapi semakin aku mencoba, hatinya semakin sulit untuk ku dapatkan" Sasuke menundukan kepalanya, wajahnya terasa panas kalau mau tahu. Naruko berpikir sejenak, suaminya mungkin telah merasakan hal yang sama seperti perasaan Naruto selama ini.

Tapi itu belum cukup! Naruto cukup lama terluka karena sikap Sasuke padanya. Dan jika saat ini Naruto memilih untuk pergi, seharusnya Sasuke tidak menahannya dan menyekap hati Naruto dalam kehampaan dan kesendirian, kan? bukankah, akan lebih baik mereka berpisah supaya tidak ada lagi hati yang tersakiti.

"dia meminta cerai dan meminta hak asuh Menma" Sasuke mulai bercerita.

"lalu?" tanya Naruko, berusaha untuk tidak menjerit histeris mendengar cerita sang suami. "aku melakukannya" lanjut Sasuke, tampaknya dia tidak mau melanjutkan ceritanya lagi. karena intinya, Naruto meminta pisah darinya serta hak asuh Menma yang sudah semestinya memang jatuh ke tangannya.

"aku ingin kau membawa Naruto kemari, Sasuke-kun" pinta Naruko.

.

.

.

.

Wanita bersurai indigo itu terus tertawa terbahak-bahak ketika melihat sosok Gaara yang penuh dengan tepung, tidak, lebih tepatnya lemparan tepung yang dilakukan oleh putrinya sendiri yang sedang ngambek karena ayahnya lagi-lagi melanggar janji yang mereka buat.

Sakura juga ikut tertawa, malahan tangan kecilnya sudah siap dengan dua buah butir telur yang hendak ia lempar ke wajah tampan sang ayah. "aduhhh, Sakie..ampun!" ucap sang papa, cukup, ia benar-benar tidak kuat lagi dengan tingkah laku putrinya yang kian nakal.

"tidak..Sakie, tidak akan berhenti!" Sakura berteriak kesal.

"sudahlah sayang, jangan seperti itu. apa Sakie tidak lihat? Papa mu sudah terlihat jelek, sangat jelek" Hinata mengusap lembut surai merah jambu Sakura dan mengambil dua butir telur dari tangan kecil gadis itu. Sakura mengerucutkan bibirnya lucu, "habis papa selalu saja begitu" Ucapnya, kesal.

"ayolah, Sakie.. papa kan sudah minta maaf" Gaara terus meminta pengertian putri kecilnya yang cantik itu. Hinata mendengus pelan, kemudian ia menarik pergelangan tangan kecil Sakura dan membawa gadis kecil itu pergi dari dapur menuju ruang kerjanya.

"biarkan pria jelek itu bermonolog. Ayo, sayang! Bibi punya hadiah yang bagus untukmu" kata Hinata, sebelum menutup pintu dapur dan benar-benar meninggalkan Gaara serta tatapan para koki pembuat kue menahan tawa mereka.

"hey, kalian tidak bisa melakukan hal ini padaku!" seru Gaara.

.

.

.

.

"ku mohon mengertilah!" pinta Sasuke.

Lelaki itu terus meminta pengertian dari istri tertuanya yang kini sedang berkutat di dapur. Kelihatannya Naruto sedang membuat makanan untuk makan malam mereka, dan Sasuke baru saja pulang dari kantor. Naruto mengacuhkannya, meskipun Sasuke terus menerus mengikuti langkah Naruto dan melontarkan permintaan yang sama.

"Naruto, dia ingin kau menjenguknya, itu saja" Sasuke berkata lagi. Seharusnya Naruto tahu jika suaminya itu adalah orang yang keras kepala. Meskipun Naruto terus saja bungkam, itu tidak akan membuat Sasuke berhenti untuk meminta.

Naruto mencicipi sup buatannya, berpikir sejenak apa saja yang kurang. Kemudian ia berjalan ke arah kulkas. Maniks birunya itu terbelalak ketika tangan besar Sasuke sudah lebih dulu menahan pintu kulkas itu supaya tidak terbuka. Membalik tubuh mungil Naruto dengan begitu mudah dan menyandarkannya pada pintu kulkas.

Sasuke menatapnya tajam, terkungkung diantara kulkas dan suaminya itu benar-benar hal yang tidak diinginkan oleh Naruto. si pirang menoleh ke arah lain, berusaha lepas dari tatapan tajam kedua kelereng onyx di depannya itu.

"aku ingin kau menuruti permintaannya, Naruto. ku mohon" pinta Sasuke, ia menyentuh dagu Naruto dan membuat maniks sapphire itu menatap langsung padanya. tatapan mata hitamnya itu sudah melembut, Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. menempelkan keningnya pada kening laki-laki berkulit tan senada dengan nectar madu.

Mereka memang akan terlihat tidak bertegur sapa ketika tidak ada Menma di dekat mereka. namun mereka akan melakukan hal sebaliknya andai saja putra semata wayang mereka itu berada bersama mereka.

Sasuke ingin mengakhiri perang dingin ini dan memulai semuanya dari awal. Tapi berbanding balik dengan istri tertuanya itu. entah apa yang ada dalam pikiran Naruto mengenai pernikahan mereka. laki-laki pirang itu malah berpikir untuk berpisah, dan terlihat enggan memberikan Sasuke kesempatan yang kedua.

"aku tidak bisa" ucap Naruto, begitu lirih. Sasuke menggelengkan kepalanya pelan, dahi mereka masih saling bersentuhan. "ku mohon" pinta Sasuke, ia menutup kedua matanya sejenak.

"apa kau ingin melupakan semuanya, Naruto?" tanya Sasuke. Naruto mendorong tubuh Sasuke, sehingga terpisah sedikit jarak di antara mereka.

"aku hanya tidak ingin berbicara lebih banyak lagi, aku sudah tidak ingin membicarakan hal yang menyakitkan lagi, Sasuke" Ujar lelaki pirang itu. dia sudah tidak sekuat dulu lagi, wajah manisnya bahkan terlihat lelah. Seakan sulit baginya untuk menangis, ibarat air di dalam sumur, mungkin air mata Naruto sudah terkuras habis karena terlalu sering menangisi suaminya dalam diam.

Naruto tahu mengapa adik kembarnya itu memintanya agar datang ke rumah sakit. Pasti Sasuke sudah bercerita mengenai perceraian mereka serta hak asuh Menma. Dia sudah tidak ingin lagi mendengar permintaan adiknya, kemudian mengalah tanpa harus berbuat apa-apa. dia sudah tidak mau melihat tangisan permohonan Naruko sehingga ia terpaksa menghentikan langkahnya.

Sudah cukup sampai di sini! Dia sudah membicarakan semuanya pada sang ibu tiri (Sara). Wanita paruh baya itu tidak bisa menghentikan rencana gila Naruto untuk ke depannya. Sara hanya berharap, apapun yang dipilih olehnya semoga itu adalah jalan yang terbaik bagi Naruto dan juga Menma, putra kandungnya.

Untuk kali ini saja, biarkan Naruto bertindak sesuai dengan apa yang ia rencana kan tanpa harus meninggalkan buah hatinya seorang diri. Ayahnya sedang tergolek lemah di rumah sakit, Naruto sudah tidak perlu khawatir lagi. memang terlalu jahat jika berpikir seperti itu.

"sudahlah Sasuke, aku tidak mau membahas apapun lagi dengan dirimu kecuali saat di persidangan nanti" ujar Naruto, memalingkan wajahnya ke arah lain.

"tapi Naruto—"

"UNTUK KALI INI SAJA, SASUKE! TURUTI APA YANG AKU INGINKAN!" teriak Naruto, menghentikan kalimat yang hendak di lontarkan oleh Sasuke. Naruto berusaha menormalkan napasnya yang naik turun. Wajahnya terasa panas, ia berjalan ke arah kompor dan mematikan api biru itu tanpa mencicipi rasa sup yang ia buat untuk makan malam.

"aku mencintaimu" ujar Sasuke, membuat langkah Naruto terhenti. Matanya membulat dengan raut wajah terkejut, tidak percaya jika suaminya akan mengatakan hal yang tidak pernah ia katakan. Untuk pertama kalinya Sasuke mengatakannya. Dia tidak tahu harus membalas apa, lantas semua yang selama ini ia harapkan memang sudah terlontar dari bibir tipis pria Uchiha itu.

"kau mengatakannya hanya karena kau ingin aku melakukan apa yang kau inginkan. Bukankah begitu, Sasuke?"

Naruto berbalik badan, menatap angkuh ke arah sang suami. "tidak lagi, Sasuke..tidak lagi" detik itu juga tubuh Naruto ambruk ke lantai. Ia menangis tanpa air mata, dadanya terasa sesak entah karena apa. rasanya sulit bagi Naruto buat mengatakannya. Dia hanya manusia, manusia biasa yang lemah dan tidak ada apa-apanya.

Sasuke berlari cepat menghampir Naruto, memeluknya erat tanpa ada rontaan yang ia terima. "maafkan aku..aku benar-benar minta maaf" ucap Sasuke, mengusap punggung Naruto penuh kasih sayang. "aku juga tidak tahu harus berbuat apa..tapi aku memang mencintaimu, aku tidak bohong..aku mencintaimu, meskipun kau berusaha untuk menampiknya, tapi aku akan tetap mencintaimu" Sasuke berkata lagi.

"kau tidak mencintaiku, dan tidak akan pernah" sahut Naruto. "tolong jangan membuatku bingung, Sasuke" pinta Naruto.

.

.

TBC

.

A/N : Hey, AI Kembali..hehehe.. Maaf ya buat readers-readers yang belum sempat AI balas. AI gak bisa bales satu persatu, lebih tepatnya sih bingung mau balas apa:'( AI berterimakasih banyak buat yang udah review, kalian baik banget O.O AI gak tau harus bilang apa. Cuma terimakasih banyak buat yang udah kasih support. Maaf kalau alur ceritanya masih belum sesuai buat kalian. AI bukan seorang yang Pro, tapi AI bakalan terus berusaha buat nyelesein Fic ini. Soal cerita yang bakalan sedih sepanjang chapter berlangsung? Kayaknya enggak deh. ini yang terakhir chapter sedih, hehehe..AI gak pinter lho buat cerita sedih, soalnya AI sendiri juga jarang banget sedih. Namanya juga cewek kelewat gaje. Oh iya satu lagi, kemarin ada yg bilang tokoh Sasu itu plin plan ya? Hehe aslinya kan Sasuke memang orang yang plin plan. Gak niat bashing chara lho ya. Yaudah sih ya, sekian dulu curcol nya, lanjut chapter depan ya. Muaachhhhh:*

.