Bleach © Tite Kubo

Bleach Fanfic Story – Dragon Ice and Wolf of Black Snow

Soul Society Arc

-I do not own Bleach-

Don't Like, Don't Read

Warning : TYPO, OOC, OC, AU, Etc


- Chapter 9 -

Akatsuki kembali mengangkat kepalanya untuk mengendus. Dia mencium setiap bau yang ada atau yang terbawa oleh angin. Dengan shunpo dia mulai bergerak pada yang paling jauh, alasannya sangatlah mudah selain itu adalah yang terakhir. Bau ini adalah yang paling dia penasaran. Dia tidak tahu apa hubungannya dengan masalah Rukia. Tapi kalau seorang shinigami bertemu dengan orang semacam ini tandanya hal ini bukanlah hal yang biasa. Matanya dengan teliti memperhatikan setiap orang dan setiap sudut bangunan.

Perlahan dia juga mencium seorang dengan Reaitsu iblis, "sepertinya Zaraki-taichou juga mencarinya. Dia tidak pernah berhenti haus akan pertarungan."

Akatsuki melihat dua sosok yang bersembunyi dari kapten itu. Seorang pemuda berkacamata dan seorang gadis muda berambut orange. Dia perlahan melihat seorang shinigami mendekat dan mencoba menyerang si gadis tapi berhasil diselamatkan oleh temannya. Mata Akatsuki terlihat serius ketika pemuda itu mengeluarkan sarung tangan dan busur.

"Quincy..." gumam serigala itu.

Quincy adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi hollow. Mereka berlatih untuk berhadapan dengan hollow sama seperti shinigami. Walau begitu hingga lebih dari 200 tahun yang lalu mereka mencoba masuk ke seireitei dan para shinigami membunuh mereka dan membuat sebagian kecil mereka saja yang selamat.

Semenjak itulah, Shinigami dan Quincy saling membenci satu sama lain.

"Sepertinya dunia hidup semakin aneh saja..."Akatsuki mulai berpikir bagaimana Ichigo bisa berteman dengan seorang Quincy. Dia mengawasi dari jauh, 'tampaknya gadis itu seorang penyembuh...' Serigala itu melihat ke sekelilingnya memastikan tidak ada siapapun yang ada didekat mereka sebelum dia bertemu dengan mereka.

.

.

.

Akatsuki memperhatikan keduanya yang bersembunyi didalam sebuah gudang. Hari memang sudah hampir malam. Akatsuki masuk perlahan dan bersembunyi dibalik kegelapan. Dia melihat gadis dan Quincy tersebut tampak sedang mencari sesuatu. Gadis itu berkata kalau mereka harus menyamar dengan meminjam baju shinigami.

Akatsuki terdiam, dia tidak bisa ikut langsung membantu. Saat gadis itu menemukan sebuah baju shinigami yang pas dengan mereka, keduanya segera berganti baju.

"Ini sangat cocok! Kau juga tampak cocok, Ishida-kun!" kata gadis itu riang.

Ishida membetulkan kacamatanya, "tolong jangan keras-keras, Orihime-san. Kau akan membuat orang menemukan kita."

"Tak perlu khawatir, kalian cukup bersembunyi dan berpura-pura sebagai shinigami yang patroli."

Kedua remaja itu melompat terkejut dan melihat Akatsuki berjalan keluar dari bayangan di ujung ruangan. Ishida segera mengeluarkan busurnya, Akatsuki hanya duduk didepannya sambil menatap dengan serius. "Kalau kau melakukan itu, semua shinigami yang sedang berpatroli akan menyadari keberadaan kalian disini" kata Akatsuki langsung dengan tenang.

"Lalu siapa kau?" tanya Ishida tanpa menurunkan busur atau waspadanya.

"Kalian bisa memanggilku, Tsuki. Aku disini untuk menyelidiki tentang penyusup dibawah perintah tuanku. Aku tidak ada niat untuk melaporkan kalian atau bahkan menangkap kalian. Aku hanya melakukan perintah, tidak kurang dan lebih" Akatsuki menjelaskan singkat.

"Lalu kau ingin melakukan apa kemari?" tanya Orihime.

Akatsuki sedikit mengangkat satu alisnya, gadis berambut orange itu tidak terlihat aneh dengan serigala besar yang bisa berbicara berdiri didepannya. 'Mungkin karena Yoruichi' pikir Akatsuki mengingat mereka datang dengan kucing yang juga bisa berbicara. "Aku hanya akan menanyakan kalian beberapa hal. Tentu jika kalian mengijinkan atau mau menjawabnya. Kalau kalian tidak ingin atau ragu cukup katakan saja. Apa kalian mau?" tawar Akatsuki.

Orihime mengangguk langsung, Ishida terlihat ragu. Akatsuki tersenyum kecil melihat gadis seperti Orihime yang tampaknya memiliki intuisi yang bagus. "Baiklah, apa tujuan kalian kemari?" tanya Akatsuki pertama.

"Kami datang untuk menyelamatkan teman kami" jawab Ishida, dia tidak menyebutkan siapa karena tidak percaya dengan perkataan Akatsuki. Tapi serigala itu hanya mengangguk, "apa ini pertama kalinya kalian ke tempat ini?"

Orihime mengangguk sambil tersenyum "ya, kami datang bersama teman kami yang lain."

"Begitukah? Sepertinya itu cukup" Akatsuki bergerak sedikit dan berjalan pada sebuah kotak kayu. Dia membukanya sedikit dengan mulutnya, didalamnya terdapat beberapa tas dan beberapa tempat obat dan perban. "ini adalah tas dan beberapa obat untuk luka luar. Kalian bisa menggunakannya jika kalian mau. Bagaimana pun ini adalah ruang penyimpanan. Setiap divisi memiliki obat untuk mereka bawa sendiri. Kalian memakai baju dari divisi 12, aku harap kalian berhati-hati. Jangan sampai tertipu dengan trik divisi 12 dan kapten mereka."

Ishida dan Orihime memperhatikan baju mereka. Sebuah lambang terlihat pada baju itu, mereka baru saja menyadarinya.

"Dan satu hal lagi..." Akatsuki terdengar lebih serius sekarang. Kedua remaja itu terdiam ketika mata merahnya terpantul oleh cahaya. "Sebaiknya kalian tidak bertanya atau berkata apapun tentang kejadian ini. Walau kalian merasa sendirian sekali pun, banyak shinigami yang sangat kuat disini dan bisa menyembunyikan aura mereka seperti udara. Pertemuan ini tidak pernah terjadi."

Ishida menyipitkan matanya, "dan kenapa kami mau percaya padamu?"

"Quincy muda, Aku disini karena melakukan misi rahasia. Kepalaku dan kehormatan tuanku ada dalam taruhannya. Aku tidak meminta banyak, cukup kalian ingat pertemuan ini tidak pernah terjadi dan aku akan memberitahu kalian dimana Rukia Kuchiki." Mata kedua remaja itu melebar, Akatsuki kembali duduk. "aku akan mengatakannya dan ini tidak pernah terjadi, mengerti?"

Ishida terlihat terkejut mendengar serigala itu tahu tentang siapa dirinya. Dengan sudut matanya, Ishida melihat pada Orihime yang mengangguk kecil "baiklah" jawab Ishida.

Akatsuki tersenyum, "terima kasih... Rukia Kuchiki ditahan di menara Senzaikyuu. Menara putih yang ada ditengah Seireitei. Kalian tahu bangunan yang ada dipusat Seireitei dan terdapat bukit tinggi? Dia berada di salah satu menara walau aku tidak tahu dimana tapi disanalah dia berada."

"benarkah?!" Orihime terlihat senang.

Ishida masih curiga, "bagaimana aku tahu kalau itu bukan bohong?"

"Kau bisa bertanya pada beberapa shinigami lainnya. Terserah asal jangan yang menggunakan lencana atau memakai Haori putih. Orang-orang itu adalah shinigami yang sangat kuat. Mereka akan segera mengetahui siapa kalian hanya dengan sekali melihat." Akatsuki memberikan peringatan.

"Terima kasih! Etto... Tsuki-san!" kata Orihime.

Akatsuki mengangguk, "kalian adalah anak-anak yang baik. Aku sudah bertemu dengan teman-teman kalian sepanjang hari ini tapi aku buat mereka semua berjanji untuk pura-pura tidak mengenalku jika aku muncul didepan mereka lagi. Hanya kalian yang kuberitahukan ini, jadi jangan katakan apapun mengerti?"

"Hai! Kami sungguh berterima kasih!" kata Orihime sekali lagi dan membungkuk hormat.

Akatsuki berdiri, dia harus pergi sekarang. Waktu sudah sangat malam dan dia tidak bisa membiarkan tuannya menunggu terlalu lama. "Saatnya aku untuk kembali. Berhati-hatilah Nona muda. Tidak semua orang disini sama sepertiku, banyak dari mereka yang sangat penuh tipu daya. Apa yang kalian harus lakukan adalah cari teman-teman kalian dan selamatkan teman kalian. Jangan keluar dari itu, selamat tinggal."

Orihime mengangguk, "selamat tinggal, Tsuki-san!"

Akatsuki ber-shunpo keluar dari gudang tersebut. Dia berjalan dan mengawasi sekeliling untuk memastikan Kurotsuchi tidak ada disekitar itu. Semenjak tampaknya dia memiliki mata-mata dimana-mana, Akatsuki harus lebih waspada. Yakin semua telah aman untuknya. Serigala itu pun menghilang menjadi pecahan es hitam yang hancur seperti salju.

.


.