FREAK
Kim Jiwon, manusia dengan kemampuan supranaturalnya kini tinggal di rumah bekas keluarga Goo. Namun rumah besar itu berhantu, dan Kim Hanbin-lah salah satunya.
Tanpa alasan apapun, Hanbin begitu membencinya. Mendendam-nya.
Bagaimana usaha Jiwon untuk menghilangkan kesan buruk Hanbin terhadapnya?
.
.
this is a DoubleB story. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.
.
.
I'm back ladies, waha. sapa yang nungguin FF ini sampe lumutan? angkat jari kaki(?) ahaha, maaf ya. maklum baru ujian dan sibuk sama urusan sekolah lainnya#senyum lebar. talk less, happy read.
Beberapa menit berlalu sampai Jiwon menyadari bahwa di sampingnya ada seseorang yang menunggunya bicara dengan wajah malas.
" eum, apa yang terjadi dengan adikmu Mino hyung?"
" jangan tanya aku, dia tak pernah pulang selama 3 hari ini. Bocah itu, selalu membuat masalah. Tapi aku begitu menyayanginya, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."
" meski dia bilang sudah dewasa pun, aku akan tetap mengawasi dan menjaganya. Dia itu sebenarnya masih sangat polos"
Jiwon tersenyum, mungkin hanya kebetulan adik dari Mino ini memiliki nama dan rupa yang sama dengan Hanbin-nya. Ia tak merasakan ada aura Hanbin-nya di tubuh tadi.
" tapi aku ceroboh, aku malah ke-enakan dengan Jinwoo tanpa mengetahui Ia ada di mana. Untung tadi ada seseorang yang membawanya kesini, aku sedikit bersyukur. Kuharap Hanbin baik-baik saja"
Jiwon menunduk, " aku juga pernah mengalami hal seperti itu Mino hyung, aku ceroboh hanya karena aku lemah terhadapnya"
" nya.. siapa? Eh,tapi kenapa kau bisa tahu adikku?"
Jiwon memandang Mino bingung, " a-aku hanya-"
Pintu itu terbuka dan menampakkan rupa si dokter muda. " maafkan aku Mino-ya..,hiks! Hanbin.."
Tanpa menunggu kelanjutan dari perkataan istrinya, Mino menerobos masuk.
" ya.., Kwon Hanbin. Bukalah matamu dan bilang pada hyung kalau kau terlambat mengucapkan April mop."
Sang kakak mendekat sambil menggenggam erat tangan dingin adiknya. Namun tidak ada hal baik yang diharapkan Mino. Air matanya sudah menggenang dan mulai jatuh.
" KWON HANBIN JANGAN BERCANDA! HYUNG TIDAK MAU KAU MENINGGALKAN HYUNG! HYUNG TIDAK INGIN SENDIRI HANBINAA! Hiks..mianhaee.. Hanbinaa"
Jiwon menatap dari pintu, pemandangan Mino yang menangis mengingatkannya pada dirinya sendiri. Ia juga dapat melihat dengan jelas rupa adik ipar mantan dokternya itu.
' hyung.., aku di sini '
Jiwon menoleh ke samping, roh Hanbin yang tersenyum manis. Tangan halusnya menyentuh wajah Jiwon dan mulai mengusapnya rindu.
' aku kembali..Jiwon hyung'
Jiwon menatap roh Hanbin di hadapannya dan roh Kwon Hanbin yang mulai menghilang bergantian, " kau Kim Hanbin kan? Dan dia tadi Kwon-"
' Jiwon hyung, mianandae..hiks. Hado saranghae.."
Jiwon dengan cepat menarik tangan Hanbin masuk ke ruang operasi. Ia menyingkirkan alat-alat operasi itu dan tak menghiraukan tatapan bingung Jinwoo dan juga aura menusuk dari Mino.
' kuharap ini berhasil, mianhae Hanbin-ah..aku egois. Aku tak punya pilihan lain. Tuhan,bila kau menghendaki. Ijinkanlah aku menjalani hidupku bersama Hanbin sekali lagi, meskipun itu singkat'
Bibir dingin itu dihisap kuat oleh Jiwon, Ia mengecupnya dalam. Roh yang ditiupkannya pada raga Kwon Hanbin sudah mulai sempurna. Tapi entah kenapa rongga dadanya kembali sesak.
Hanbin menggenggam tangan Jiwon erat, jujur Ia takut. Jiwon memaksa roh-nya masuk ke dalam raga dingin Kwon Hanbin. Pengalamannya dengan Jiwon dulu tidaklah menyenangkan. Apalagi sekarang manusia itu melakukannya dengan kasar, Hanbin tidak suka Jiwon yang seperti ini. Tubuhnya berjengit sakit dan Ia memberontak. Tapi Jiwon tetap menahannya.
Mata itu menatap nyalang, tangannya menarik Jiwon paksa dan menghempaskannya jauh dari tubuh adikknya yang mulai kaku.
" BERANINYA KAU MELECEHKAN ADIKKU! APALAGI DENGAN KEADAANNYA SEKARANG, HAH?! DASAR GILA!"
Tubuh Jiwon menghantam pintu dengan keras, Ia mengerang pelan merasakan darah segar kembali mengalir dari bekas luka di kepalanya. Tangan itu meraba dahinya " akkh.., sial".
Mino segera memeluk raga adiknya, Ia tidak rela dengan apa yang diperbuat orang asing tadi.
" kau pikir bagaimana perasaanku..,kau melakukan hal serendah ini pada Hanbin eoh? KAU PIKIR ADIKKU INI MURAHAN?! KAU PIKIR KAU BISA BEBAS MELAKUKANNYA PADA HANBIN, HAH?! WHERE'S YOUR BRAIN FUCK!"
" Mino-ya sudahlah..,kasihan Hanbin. Kasihan juga dia.." Jinwoo mencoba menenangkan suaminya yang tersulut emosi.
"..hh-hyungg?"
Mino segera menghentikan makiannya dan menatap ke arah adiknya. Matanya membola tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Hanbin yang menggenggam erat tangannya sambil merengek tidak jelas.
" Hanbin-ah..,Kwon Hanbin? KAU SADAR?! KAU KEMBALI HIDUP ?!"
Pemuda itu menjawab dengan suara lemah, matanya nyaris menutup lagi. Tapi Mino dengan cepat memegang bahu adiknya dan mengguncangnya keras.
" Hanbin-ah?! Katakan sesuatu..jebal. maafkan hyung ok? Dan jangan seperti ini kumohon.."
"..hyuung."
Mino menahan tangisnya, Ia membelai sayang kepala adiknya.
" iya adik manisku.., hyung di sini"
".ahhk.., Jiwon hyung"
Mino membeku, Ia dengan cepat menoleh ke belakang dan melihat bahwa pemuda yang di lemparnya tadi sudah tergeletak tak sadarkan diri.
.
Jinwoo menempelkan plester dan perban baru di kepala Jiwon. Bocah itu masih saja tertidur di pelukkan Jinhwan. Mau tak mau membuat Jinhwan menahan berat tubuh adik kelasnya dulu.
" maafkan saya karena tidak bisa menghentikan Mino,dan membuat adik Anda kembali mengalami luka robek"
Jinhwan tersenyum, Ia mengusap wajah berpeluh milik Jiwon.
" gwenchana.., dia akan cepat sembuh. Aku yakin"
Jinwoo tersenyum canggung. Mino mengintip dari luar sambil mendorong kursi roda milik adiknya.
Tadi, sebelum menangani Jiwon. Jinwoo terlebih dulu membersihkan luka Hanbin dan mengobatinya. Lebam-lebam di sekujur tubuhnya juga sudah berangsur menghilang. Sungguh luar biasa..?
" permisi.."
Hanbin mengulurkan tanganya, Ia sentuh wajah itu ragu. Bibir nya digigit takut, dan nafasnya tak beraturan.
Hangat..
Hanbin merasakan hangat di permukaan tangannya. Berulang-kali Ia membelai sayang wajah Jiwon. Dan akhirmya mata itu membuka perlahan.
Jinhwan terkejut saat Jiwon tiba-tiba bergerak mundur. Rupanya Jiwon masih kaget dengan kehadiran sosok Hanbin dihadapannya.
" neo..,"
Bibir itu tersenyum manis, " Jiwon hyung, ini aku"
Mata sipit itu masih berkedip, " Jiwon hyuungg.."
Dan Jiwon akhirnya diam tak berkutik saat tubuhnya dipeluk hangat oleh Hanbin yang kini di ada hadapannya. Hanbin melepas pelukkannya dan Jiwon masih saja berkedip bodoh. Apalagi ucapan Mino sukses membuatnya menganga.
" Hanbin lupa ingatan, dari tadi dia hanya menyebut nama Bobby dan sesekali Jiwon. Ia tak mengenal siapapun termasuk aku. Dia hanya ingat kalau seseorang yang menolongnya tadi-"
" terimakasih sudah mengantarku kemari Jiwon hyung, aku tidak tahu kalau kau begitu baik"
Semua orang mendelik tak percaya mendengar ungkapan Hanbin, apalagi Jiwon yang masih memasang wajah bodoh.
" tapi aku-" Jiwon langsung diam membeku saat Mino melangkah maju.
" iya Jiwon-ah, aku juga minta maaf. Karena membuat jahitan lukamu robek dan telah menuduh yang tidak-tidak. Terimakasih karena sudah menyelamatkan adikku"
Jinhwan menepuk pipi Jiwon, " ayo katakan sesuatu, jangan buat aku malu!"
Jiwon tidak mampu mengatakan apapun, semua orang menatapnya lembut penuh terimakasih. Apalagi Hanbin, tapi sungguh, bukan dia yang menyelamatkan Hanbin!
Yang ada dihadapannya adalah Kwon Hanbin, adik Choi Minho. Lalu roh Hanbin yang Ia genggam tadi, sekarang ada di mana?
' yang ada di hadapanmu memang raga Kwon Hanbin, tapi kau berhasil menarik roh Kim Hanbin masuk ke dalamnya. Jadi, kau telah bertemu Hanbin-ku. Meski dia masih kehilangan ingatannya. Butuh waktu agak lama untuk memindahkan memori Hanbin ke tubuh dengan otak barunya'
Jiwon menunduk jengah, suara mengganggu macam apa ini?
' hei bodoh, aku bicara denganmu'
Kini kepalanya mendongak, mengelilingi ruangan sampai akhirnya menemui apa yang Ia cari.
'Bobby-ah?' inner Jiwon.
Sosok itu bersender di dinding dekat pintu masuk dengan gaya yang sama persis seperti Jiwon. Tangannya melambai ringan dengan senyum sombong khas Jiwon, sementara itu Jiwon sendiri masih berkedip lamban.
' hei tolol. Kau bisa bicara?'
Jiwon mengangguk ragu. Orang-orang menatap tak mengerti ke arah Jiwon. Bicara dengan siapa anak ini?
' geure, ini aku. Kau sudah melakukannya dengan cukup merepotkan. Tapi tak apa, yang penting aku bisa bertemu kembali dengan Hanbin'
Tangan itu menarik roh seseorang dari balik pintu, dan Jiwon kembali melotot.
' ya.., Wu Yifan, cepat minta maaf padaku dan ucapkan selamat tinggal'
'padamu?' tanya Yifan sambil menggaruk kepalanya bingung.
' iya, padaku..' Bobby mengulangi perkataannya dengan telunjuk mengarah pada Jiwon. Yifan semakin bingung, ' bicaralah dengan jelas, padamu atau padanya?!'
' kubilang padaku! Aish,' Bobby masih menunjuk Jiwon dengan sangar.
Yifan menatap geram, yang bodoh itu sebenarnya siapa di sini.
' geure. Mianhanda..Jiwon-ah Bobby-ah, aku akan pergi sekarang'
Selanjutnya roh itu menghilang, Bobby masih berdiri dengan keren di tempatnya sambil tersenyum. ' nikmati waktu kita bersama Hanbin, kuserahkan semuanya padamu'
Jiwon mengangguk lagi, Bobby sudah menghilang ditemani tatapan curiga dari orang-orang yang ada di kamar inap Jiwon. Satu persatu dari mereka bergantian menatap pintu. Tapi di sana tidak ada seorang pun, hanya beberapa yang berlalu lalang.
" ya! Kau ini berbicara dengan siapa huh? Jangan-jangan otakmu geser ya setelah menabrak pintu?"
Jiwon mendelik malas, Jinhwan malah berkata yang tidak-tidak tentangnya.
" ya Kim Jiwon! Jangan bengong"
Bocah itu berjengit saat dibentak Jinhwan. Akhirnya Ia membungkuk meminta maaf pada orang-orang di sana.
" iya, aku tidak apa-apa Mino hyung. Dan h-Hanbin, bukan aku yang menolongmu. Aku saja dari pagi selalu bersama Jinhwan hyung, iya kan hyung?"
" molla" Jinhwan menyahut cuek, membuat Jiwon lagi-lagi mendelik, kali ini Jinhwan begitu menyebalkan. Rupanya Junhoe memberi banyak pengaruh buruk bagi istrinya.
" sudahlah.., bolehkah aku beristirahat? Kepalaku rasanya mau lepas"
Hanbin segera menyela saat Jiwon akan membaringkan tubuhnya, " hyung, senang bertemu denganmu ^^"
Junhoe menyeret Jinhwan pelan. Setelah memasuki kamar, keduanya kini duduk.
" otteo hyung?"
" apanya?"
Junhoe menepuk dahinya keras, Jinhwan kembali lemot seperti saat masih menjadi teman kost Jiwon. Ia memasang tampang polosnya sambil terus menatap Junhoe.
" aish, hyung. Pertama bagaimana tadi Jiwon hyung bisa masuk rumah sakit lagi?"
" ah! ..dia meninggalkanku saat antre. Dan aku menemukannya sudah pingsan di salah satu kamar inap. Mino hyung bilang, dia telah menyelamatkan adikya. Tapi sebelumnya dia sempat salah sangka dan langsung membanting Jiwon ke pintu dan tada~, jahitannya robek"
Junhoe mengernyit, istrinya bercerita seperti sedang membacakan dongeng. Ia tak mengerti bagaimana Jinhwan bisa dengan santai menceritakannya. Padahal Jiwon kan sangat disayang oleh istrinya, bahkan Ia tak sebegitu diperhatikan' sudahlah, aku akan tahu sendiri nanti'
" lalu, yang kedua aegi"
Jinhwan tersenyum lebar" dia baik-baik saja! Aku senang sekali, tapi..kata uisa kelahirannya akan sedikit berbeda dari usia kandungan pada umumnya"
" maksudmu?" Junhoe menyipitkan matanya, Jinhwan sedikit menggeser mundur tubuhnya karena takut.
" aegi akan lahir lebih cepat, mungkin hanya 8 bulan usia kandungan"
Junhoe menunduk sedih, Ia menhela nafas berat. Bagaimana ini?
" gwenchana June-ah, aegi akan baik-baik saja-"
" lalu kau, berjanjilah untuk tetap baik!"
Jinhwan tersenyum dan mengangguk semangat, Junhoe membuatnya semangat lagi. Ia percaya, Junhoe akan selalu melindunginya dan bayi yang sedang dikandungnya. Meski dia terlalu muda untuk menjadi seorang ayah.
Jiwon sedang duduk menyendiri di balkon kamarnya. Ia memikirkan berbagai hal yang mungkin dan tidak mungkin terjadi padanya. Entah apa yang dipikirkannya sekarang, namun sontak Ia menggelengkan kepalanya kuat " AKH! Appo~ bodohnya aku. Jahitanku kan baru lepas!"
Setelah puas mengelus kepala mahalnya, Jiwon menoleh ke samping. Almari besar yang ada di gudang, kini sudah berpindah ke kamarnya. Ia lebih mudah melepas rindu dengan memandangi banyak ekspresi dari Hanbin. Mulai dari senyum manisnya, senyum imut, tidur menggemaskan, saat melamun dengan mulut membulat, sampai menangis pun ada. Dan Ia ingat sekarang, dia sendiri yang mengabadikan moment itu dengan kamera jadulnya dulu.
Flashback
" Hanbin-ah, maafkan aku.."
" kau ini! Sudah kubilang aku tidak suka difoto, dan kau masih saja melakukannya!"
Bobby menggenggam erat kameranya dan kemudian melemparnya sampai barang itu hancur.
" kau puas? Aku melakukannya juga untukmu, aku tidak akan menyebarkannya ke orang lain kok. Lagipula mana rela aku ekspresi langkamu dilihat orang selain aku hah?! Lalu kalau kau tidak suka, kenapa tak menolaknya sejak awal?!"
Bobby mengatur nafasnya yang terengah, tangannya mengusap wajah itu kasar lalu menatap lawan bicaranya." ..m-maaf Hanbin-"
Ia langsung pergi begitu saja saat melihat wajah terkejut Hanbin. Pasti pemuda itu membencinya sekarang, dan tanpa bisa melakukan apapun Bobby berlari meninggalkan tempat itu.
Hanbin berjalan ke arah kepingan kamera milik Bobby dan memungut sesuatu, sebuah rol film.
" maafkan aku hyung, aku memang tidak tahu apa-apa"
Malamnya Hanbin baru pulang dari mencucikan film tersebut, Ia memutuskan untuk memasang fotonya dan juga membeli kamera baru untuk Bobby sebagai hadiah ulang tahun. Tapi..mau dipasang di mana foto sebanyak ini? Tidak mungkin dinding kan?
Pemuda itu terduduk lemas, namun matanya berbinar senang saat menangkap beberapa tulisannya tertempel rapi di almari. " kenapa tidak?!"
Pagi itu Hanbin berjalan gugup ke lantai atas sekolahnya untuk menemui Bobby. Beberapa senior memandangnya dengan tatapan yang beraneka ragam. Salahkan kenapa Ia bangun kesiangan.
Kakinya telah sampai di depan kelas 11 B, semoga Bobby ada di kelas.
Teman sebangku Bobby yang menyadari Hanbin ada di depan kelasnya segera menyenggol lengan bocah itu. " hoi, dicari istri-mu tuh. Kasihan uda nunggu dari tadi"
Bobby tetap membaca bukunya, sedangkan teman sebangkunya yang ber-nametag Kim Namjoon hanya bisa meringis sungkan pada Hanbin. " Bobby-ah, ntar lu di cerai lho"
Akhirnya dengan helaan nafas kesal, Bobby berdiri dan melangkah menuju pintu. Hanbin tersenyum manis dan berharap Bobby mau menemuinya. Namun senyuman itu memudar bersamaan dengan Bobby yang terus melangkah menjauh melewati Hanbin begitu saja.
" Bobby hyung mianhae!"
Bobby terdiam di tempatnya, Ia menatap sepasang lengan yang melingkar di perutnya dengan senyum merekah. Dengan membalik tubuhnya, Ia mendapati kekasih manis-nya telah berurai air mata. " maafkan akuu~ hiks! Bobby hyunngg"
Bobby tertawa mendengar tangisan manja Hanbin. Ia akhirnya luluh, seperti apapun kesalahan Hanbin Ia tetap tak bisa marah. Sekarang lengannya telah merengkuh tubuh Hanbin hangat.
" ani, ini salah hyung. Seharusnya hyung menurutimu dari awal."
" hiks! Aniyo~ aku telah menyakiti perasaanmu dan-hiks! Merusak kameramu"
" hehe, tidak kok. Aku yang membanting kameraku sendiri, gwenchana"
" hyuuungg~ jangan terlalu baik padaku! Sudah jelas aku salah kan?! Mianhaee~"
" aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau memintanya Hanbin-ah"
Hanbin mendongak, Bobby menatapnya teduh. Hal ini membuat bibir Hanbin kembali bergetar dan tangisan itu pun kembali pecah. Bobby dengan sabar memeluk Hanbin dan mengusap puncak kepalanya lembut.
" a-aku… Saengil chukkae Bobby hyung"
" huh?" Bobby melepas pelukkannya dan menatap Hanbin bingung. Kekasihnya menyodorkan sekotak entah apalah itu sambil tersenyum malu.
" mulai sekarang, hyung boleh memfotoku. Lakukan sesukamu hyung, sepuas yang kau mau. A-aku tidak akan marah"
Bobby menyipitkan matanya, " kenapa tidak mengganti tawaran memfotomu dengan yang lebih bagus. Menciummu mungkin? Sesukaku? Sepuas yang kumau?"
" MWO?!"
Bobby segera menenggelamkan kekasihnya di dalam pelukkannya. Ia tahu Hanbin sedang malu karena banyak diperhatikan oleh teman-temannya.
Jiwon tersenyum mengingat itu, terimakasih atas benturan keras kemarin. Memorinya sebagai Bobby telah sepenuhnya Ia ingat. Dan lagi, ternyata dulu Ia juga semenyebalkan sekarang.
Hanbin mengunyah buburnya malas, Mino juga tidak menurunkan semangatnya untuk menyuapi adik tersayangnya. Kini mereka ada di rumah keluarga Choi. Mari kita berkenalan dengan anggota keluarga rumah sederhana ini.
Dimulai dari sang ayah, Choi Seunghyun. Laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan wajah tampan yang terkesan seram. Lalu istrinya Kwon Jiyong. Bertubuh lebih pendek, cantik dan menggemaskan seperti Hanbin. Mereka mempunyai dua putra, yang pertama adalah Choi Minho dan adiknya Kwon Hanbin. Ditambah istri Mino, Kim Jinwoo yang belum boleh membangun rumah sendiri oleh Jiyong eomma. Sehingga dipaksa tinggal di rumah ini.
" shirreo..,"
" ayolah Hanbin, hyung mohon.."
Hanbin diam, bukannya tidak mau. Tapi Ia masih belum mengetahui siapa-siapa ini yang ada di sekelilingnya. Apalagi rumah yang Ia tinggali sekarang, Ia sungguh tak mengingat apapun.
" apakah kau menginginkan sesuatu? Katakan baby.."ujar Seunghyun. Jiyong hanya menatap sendu pada anak bungsunya. Ia kasihan, tapi.. Ia merasa ada yang berbeda dengan Hanbinnya.
" a-aku ingin chococone.., a- appa"
Seunghyun membulatkan mulutnya, apa yang dikatakan anaknya tadi?
" k-kau mau apa? Chococone..?"
Hanbin mengangguk takut, Ia tidak mengenali siapapun orang di rumah ini. Dan berhari-hari yang dipikirkannya hanyalah Jiwon Jiwon dan Jiwon. Menyebalkan
Jiyong ikut membola, Ia segera menggoyangkan lengan suaminya dan menatapnya minta penjelasan. " bukannya Hanbin kita benci ice cream, eoh? Apalagi coklat.."
Seunghyun merenungkan perkataan istrinya yang memang benar. " tapi aku juga menyukai ice cream. Mungkin Hanbin baru menyukai benda manis menyejukkan itu sekarang?"
Jiyong memasang wajah datar, perkataan suaminya sangat tidak jelas.
" eung, eomma?"
Jiyong tersenyum manis mendengar menantunya memanggil, " iya, kenapa?"
" jika seseorang mengalami lupa ingatan pun, dia tidak akan mengalami perubahan pada apa yang menjadi kebiasaannya. Perkataan Seunghyun appa ada benarnya tapi, melihat perilaku Hanbin selama ini..kelihatannya dia memang membenci ice cream"
Mereka semua terdiam, termasuk Hanbin. Ini membingungkan..
" hiks.., kalau kalian tidak menurutiku aku akan pergi!"
Jiyong dan Seunghyun yang pertama kali kalang kabut dan tanpa sengaja saling menabrak. Mereka berebut kunci mobil untuk segera mencari benda bernama ice cream itu.
" umma! Belikan aku juga yang rasa vanilla dua!"
" cerewet! Dasar anak manja kau Mino-ya"
Setelah puas meneriaki orang tuanya, Mino kembali membujuk Hanbin. Kini Jinwoo ikut membantu Mino dengan kata-kata yang halus.
" ayolah Hanbin.., nanti ice cream-mu akan datang setelah kau menghabiskan makananmu"
"iya.., aku yakin Seunghyun appa akan membelikanmu yang banyak. Iyakan Mino-ya?"
Mino mengangguk antusias lalu kembali mendorong sesuap bubur ke mulut Hanbin.
" shirreoo! Aku kenyang, aku mau ice cream! Aku tidak mau makan!"
" KWON HANBIN!"
Hanbin terkejut kala Mino membentaknya, matanya kembali menggenangkan air mata dan..
" hiks.. Mino hyung jahaaatt! Pergiiii darii siniii, hiks"
Jinwoo segera memeluk Hanbin dan menendang Mino dengan kaki kecilnya.
" sana pergi! Dasar tidak berperasaan"
Hanbin meminum obatnya lalu bersandar, perutnya terasa benar-benar kenyang setelah Jinwoo menyuapinya. Rasanya sungguh berbeda dengan Mino yang menyuapinya.
" apa ada yang ingin kau katakan lagi?"
Begitulah jurus Jinwoo untuk menyuapi Hanbin, mengajaknya bicara tentang apa yang disukai pemuda itu. Bukannya memaksa dan membentak seperti yang dilakukan suaminya.
" hyung, siapa itu Jiwon hyung?"
TBC
N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.
Thanks to : Jikooki, LayChen Love Love, EunhyukJinyoung02, babykkuma.
mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.
