"Aku dengar kau memilih V bukan karena kau lebih mencintainya. Tapi karena hyungmu?"
"Tidak."
"Aku awalnya tidak percaya. Tapi setelah aku mengetahui bahwa hyungmu meninggal karena HIV, aku jadi berfikir semuanya masuk akal." Nafasnya berhembus pelan, "Kau takut menyesal lagi?"
"Tidak."
"Jangan berbohong, Jungkook-ah."
Jungkook yang sedaritadi hanya menatap ujung sepatunya kini beralih menatap lawan bicaranya. "Aku memang lebih mencintai V."
"V tidak akan suka jika mengetahui hal ini."
"Kau sebaiknya berhenti menghubungkan hal ini dengan kakak tiriku yang sudah tiada, Jimin-ssi!"
Jungkook bangkit dari duduknya, bersiap untuk pergi. Namun suara Jimin menghentikan langkahnya,
"Kau harus ingat, darah yang mengalir di tubuh Taehyung dan V adalah darah yang sama. Aku hanya tidak ingin kau menyesal."
Jungkook menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, sebelum memutuskan untuk melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Jimin.
.
.
Twister Relationship
Chapter 9: Far Away
.
.
"Aku ingin kau bahagia. Maka aku memutuskan untuk pergi sejauh yang aku bisa."
.
.
"Jadi, bagaimana menurutmu?"
V menggeleng keras, "Tidak." ucapnya tegas membuat dahi adiknya merengut.
"Kenapa?"
V menyentuh kening adiknya dengan jari telunjuknya, "Kau masih belum mendapatkan separuh ingatanmu. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk denganmu nanti."
Taehyung menepis pelan lengan kakaknya, lalu mengerang kesal, "Aku bukan anak kecil, hyung. Kau hanya lebih tua dua menit dariku." Nafasnya berhembus kasar, "Lagipula aku tidak akan hilang disana."
"Tetap tidak boleh."
Taehyung mendelik, merasa kesal dan marah dengan keputusan kakaknya. "Memang apa salahnya jika aku ingin berlibur ke hawai, hyung? Dulu kau dan eomma bahkan meninggalkanku ke Amerika selama bertahun-tahun."
V terhenyak. Ia menatap nanar adiknya. Pemuda Kim tau adiknya pasti merasa sangat kesepian saat orangtua mereka memilih ikut pergi ke amerika untuk menemaninya, namun ia tidak menyangka Taehyung akan mengatakannya semudah itu.
"Tapi Taehyung-ah —"
"Aku bahkan tidak pernah merengek saat kalian pergi meninggalkanku."
Setelahnya keheningan menyelimuti suasana diantara mereka. V merasa pikirannya begitu berkecambuk. Perasaan kesal, marah, terluka, bersalah semua menjadi satu dalam hatinya.
Nafasnya berhembus pelan sembari mengangguk, "Baiklah. Kau boleh pergi."
.
.
Malam ini Nyonya Kim memutuskan untuk makan malam bersama kedua putranya. Meski awalnya V menolak dengan alasan ia memiliki schedule beberapa jam lagi, namun akhirnya ia ikut duduk di depan meja makan.
"Apa yang ingin eomma bicarakan?"
Nyonya Kim mendengus kesal, "Setidaknya habiskan dulu makananmu, V. Setelah kita selesai makan, eomma akan membicarakannya."
V memutar bola matanya malas. Ibunya tidak pernah berubah.
"Ah— eomma, aku akan berlibur ke hawai. V hyung sudah menyetujuinya."
V mendelik kearah adiknya yang dengan polosnya hanya tersenyum lebar.
Nyonya Kim terlihat terkejut, namun mencoba menahan dirinya.
"Kau baru saja keluar dari rumah sakit, Taehyung-ah. V, kenapa kau menyetujui permintaan adikmu? Kau seharusnya tau—"
"Eomma, aku yakin Taehyung akan baik-baik saja. Biarkan dia berlibur, mungkin itu yang dibutuhkan tubuhnya."
Nyonya Kim menggeleng, "Tidak bisa." Ia menaruh sendok dan garpu ditangannya, merasa kenyang begitu mendengar berita mengejutkan ini.
"Kau tetap tidak bisa pergi, Taehyung-ah." Nyonya Kim menatap kedua putranya bergantian. "Tidak untuk bulan ini."
Taehyung dan V mengernyit bingung.
Nyonya Kim tersenyum. Senyum yang membuat perasaan V menjadi tak nyaman, dan ketika sang Ibu melanjutkan kalimatnya. V merasa jiwanya terhempas jauh tanpa sisa.
"Bulan ini, V dan Jungkook akan bertunangan. Kau harus hadir, Taehyung-ah."
.
.
Setelah makan malam yang seperti mimpi buruk baginya berakhir, ia segera meminta waktu untuk bicara dengan sang ibu, di taman belakang rumah mereka.
"Kenapa eomma tidak bicarakan ini denganku dulu?"
Nyonya Kim tersenyum, "Eomma memang ingin membuat kejutan untukmu, V."
V mendengus, "Persetan!" Bisiknya. Nafasnya berhembus kasar, "Lalu bagaimana dengan karirku?"
"Eomma sudah membicarakannya dengan agensimu. Tenang saja."
V menggeram, kedua tangannya meremat rambutnya keras. Kepalanya terasa akan pecah.
"KENAPA EOMMA SELALU SEPERTI INI PADAKU?"
Nyonya Kim tersentak, "V, Apa yang kau—"
"Eomma, aku mohon— aku mohon berhenti mengatur hidupku. Aku selalu melakukan apa yang kau inginkan agar kau tidak mengganggu kehidupan Taehyung. Tapi, untuk saat ini aku mohon— jangan lakukan ini padaku."
V menunduk dalam, air matanya mengalir deras, "Aku juga ingin hidup seperti anak normal lainnya." Bisiknya
"Aku tidak ingin menyakiti Taehyung lagi."
.
.
"Jadi menurutmu aku harus bagaimana, hyung?"
Taehyung menatap kakaknya yang berbaring di sampingnya. V hanya menatap langit-langit kamar mereka dengan tatapan dingin. Taehyung tau kakaknya sedang dalam masalah.
"Apa kau tidak ingin menikah dengan Jungkook, hyung?"
V menatap Taehyung sekilas, nafasnya berhembus pelan. "Entahlah."
"Aku pikir Jungkook orang yang cukup baik."
V memejamkan matanya erat, ia benci mendengar Taehyung mengatakan hal seperti ini.
"Jungkook terlihat sangat mencintaimu."
"Cukup."
"Lagipula kalian berdua terlihat—"
"Cukup! Kim Taehyung!"
Taehyung tersentak mendengar teriakan kakaknya. Ia tidak menyangka V akan membentaknya seperti ini.
"H-hyung—"
"Tinggalkan aku sendiri. Aku muak melihatmu, Kim Taehyung."
Pupilnya bergetar dengan air yang menumpuk di pelupuknya. V menatapnya begitu tajam, seolah melalui tatapan itu Taehyung dapat melihat seberapa seriusnya sang kakak saat mengucapkan kalimatnya.
Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan airmata yang bersiap mengalir.
"Baiklah, hyung, Aku akan pergi."
.
.
Pagi ini cuaca begitu cerah. Bahkan matahari terasa begitu hangat. Dengan senyuman lebar yang mengukir di wajahnya, ia menggendong ransel yang sudah disiapkannya semalaman penuh.
"Aku siap berlibur."
Nyonya Kim menghela nafasnya, "Coba pikirkan sekali lagi, Taehyung—ah."
Taehyung menggeleng keras, "Ayolah, eomma. 3 jam lagi pesawatku akan take off, tidak mungkin aku membatalkannya."
Sang Ibu mengangguk, akhirnya menyerah setelah membujuk anaknya puluhan kali.
"Kau tidak bertemu hyungmu dulu? Sebentar lagi mungkin dia akan pulang."
"Aku akan menghubungi hyung sebelum take off. Jadi aku akan pergi sekarang." Taehyung memeriksa ponselnya beberapa saat sebelum kembali menatap sang Ibu.
"Sampaikan salamku pada Jungkook." Bibirnya tersenyum lebar, "Aku pergi."
.
.
Ia menatap langit yang terlihat begitu cerah, bahkan awan tidak terlihat hari ini. Bukankan langit terlihat lebih indah tanpa awan?
Tangannya terangkat, mencoba menghalangi cahaya matahari yang mengganggu pengelihatannya. Rasanya lebih baik seperti ini setelah semalaman penuh ia mendengar sorak sorai dukungan dari penggemarnya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Nafasnya berhembus kasar begitu mendengar suara yang begitu familiar, "Tinggalkan aku sendiri, Jimin-ah."
Jimin mendengus, "Bukankah Taehyung berangkat ke hawai hari ini?"
V hanya berdehem pelan. Netranya tetap menatap langit yang begitu biru.
"Kau tidak ingin bertemu dengannya?"
"Tidak."
"Kenapa?"
V terdiam, ia bahkan tidak tahu mengapa ia begitu takut bertemu dengan Taehyung. Ia hanya takut kembali menorehkan luka pada adiknya.
"Aku harap dia akan baik-baik saja."
Jimin memutar bola matanya kesal, "Demi— V Kim kau tolol sekali. Setidaknya jadilah hyung yang baik untuknya sekali." Jimin merasa begitu muak dengan semuanya.
"Kau sudah merebut perhatian orang tua kalian, merebut Jungkook, merebut kebahagiaannya. Tidak bisakah sekali saja kau bersikap baik pada adikmu? Apa kau akan terus seperti ini?"
V menatap sekilas kawannya. Kepalanya menunduk dalam. "Jimin-ah."
"Aku tau selama ini aku tidak pernah menjadi kakak yang baik untuk Taehyung. Tapi mendengar seseorang yang aku anggap paling mengerti diriku mengatakan hal seperti ini membuatnya jauh lebih buruk."
Pupilnya melebar. Jimin terlihat begitu terkejut saat V menatapnya dengan air mata yang mengalir. "Kau sama saja seperti mereka. Kenapa kau tidak pernah mencoba melihat situasi dari sudut pandangku?"
"Aku juga terluka. Sekarang aku bahkan ketakutan setengah mati."
"Aku takut jika bertemu dengannya aku akan menggoreskan luka yang lain."
.
.
"Appa. Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku sering menginap di rumah sakit?"
Pria paruh baya yang semalaman duduk disisi ranjangnya tersenyum tipis, "Kau membutuhkan banyak vitamin agar tubuhmu kuat, Tae. Agar kau bisa melindungi adikmu nanti."
"Benarkah?"
Ayahnya mengangguk, "Jadilah hyung yang kuat untuk adikmu."
Anak berumur 8 tahun itu tersenyum lebar, "Baiklah. Kalau begitu aku tidak akan menolak jika dibawa ke rumah sakit lagi. Aku ingin melindungi Taetae."
"Setelah ini kau harus makan yang banyak, oke?"
Kepalanya mengangguk semangat. "Setelah ini apa aku bisa bertemu dengan Taetae?"
"Setelah kau keluar dari rumah sakit, Appa akan mengijinkanmu bertemu dengan Taetae."
"Yeay! Jadi aku boleh bermain sepak bola lagi dengan Taetae?"
"Tentu saja, Jagoan."
Sebanyak apapun ia tersenyum, tuan Kim tidak bisa menahan perasaannya yang begitu terluka melihat senyum polos anaknya.
Pintu ruang rawatnya terbuka pelan, menunjukkan figur perawat rumah sakit yang membawa nampan makanan untuk anak yang duduk di ranjang pesakitannya.
"Hello, V Kim. It's time to eat."
Anak kecil itu mengangguk semangat, "Aye aye! Captain!"
Ia melahap makanan yang tidak disukainya dengan semangat. Tidak peduli dengan apapun, ia hanya ingin cepat mendapatkan vitamin, menjadi kuat dan bisa melindungi adiknya. Kim Taehyun hanya ingin menjadi pelindung untuk adiknya, Kim Taehyung.
.
.
"Ey! V Kim, kenapa wajahmu merengut?"
V menatap anak laki-laki yang menjadi temannya selama di rumah sakit. "Aku merindukan adikku."
"Begitukah?" Bocah berumur 6 tahun itu duduk disebelah V, menatapnya lekat.
"Kalau begitu kembali ke korea."
"Tidak bisa. Aku belum mendapatkan vitamin."
"Jadi kau datang kesini untuk mendapatkan vitamin? Apa hyungku juga mendapatkan vitamin."
V merengut. "Tidak tau! Jangan ganggu aku, Justin. Aku ingin sendiri."
Bocah bernama Justin berdecih, "Apa adikmu betah dengan kakak galak sepertimu?"
"Pergi! Temani saja kakakmu. Jangan menggangguku."
"Iya! Iya! Aku pergi."
.
.
"Taehyun-hyung!"
Suara teriakan Taehyung yang bercampur dengan isak tangisnya saat melihat figur sang kakak yang terlelap di ranjang pesakitan. 2 hari yang lalu sang ibu dengan seorang dokter datang menjemputnya dan mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan sang kakak.
Taehyung tidak pernah tau kakaknya akan mengalami kejadian menyakitkan seperti ini. Terlalu banyak alat-alat medis yang dipasang pada tubuh kakaknya. Ia bahkan tidak boleh masuk kedalam ruangan untuk memeluk kakaknya.
Sayup-sayup ia mendengar ucapan dokter yang menjemputnya. Dokter yang berasal dari korea berbicara menggunakan Bahasa asing dengan dokter lainnya. Namun begitu melihat sang dokter mengangguk lalu beralih berbicara dengan kedua orangtuanya, hanya satu kalimat yang bisa dimengerti anak seumurannya.
"Kondisi Taehyun semakin melemah."
.
.
"V Kim?"
"Iya, jika di amerika kakakmu bernama V Kim."
"Kenapa?"
" Karena orang disini kesulitan mengucapkan namanya."
Taehyung merengut, "Lalu namaku jika disini apa?"
Nyonya Kim terdiam sejenak, sebelum kembali tersenyum. "Mungkin kau bisa memilihkan namamu sendiri."
"Setau eomma, nama kakakmu diberikan oleh seorang anak yang menemani kakaknya di ruang rawat sebelah. Kau bisa minta bantuannya untuk membuat satu nama untukmu."
"Benarkah?" Begitu melihat anggukan sang Ibu, Taehyung bergegas pergi. Ia ingin segera mendapatkan nama barunya.
.
.
"V, mana selangmu?"
Taehyung menggeleng, "Aku Kim Taehyung, saudara kembar V. Berikan aku nama juga."
Justin mengernyit, "Kalian mirip sekali."
"Berikan aku nama."
Justin mendengus, "Tidak ada bedanya. Sama-sama mengesalkan."
"Perkenalkan, aku Jeon Jungkook. Tapi disini aku dipanggil Justin."
"Baiklah. Lalu namaku?"
"Ish tidak sabaran sekali."
Justin mengetukan dagunya menggunakan telunjuk kecilnya, mencoba berfikir nama yang cocok untuk bocah dihadapannya.
"B."
Taehyung mengernyit, "B?"
"Tentu, B. Nama yang cocok. Kau tidak suka?"
Pupilnya melebar bersamaan dengan senyum yang merekah, "Aku suka. Sangat suka."
.
.
"Taehyung-ah, kau ingat anak bernama Justin yang pernah kau ceritakan padaku itu?"
Taehyung menyingkirkan novel yang dibacanya untuk menatap kakak sepupunya. "Justin?"
"Yang kau temui di Amerika saat bertemu dengan V."
Pupilnya membulat, "Ah. Aku ingat."
"Memangnya kenapa, Seokjin hyung?"
"Dia ternyata saudara tiri Namjoon, kekasihku. Aku pernah bertemu dengannya saat menjemputmu di amerika dulu. Jadi aku masih ingat sedikit wajahnya. Namun sepertinya dia tidak ingat apapun."
Taehyung mengernyit, "Mungkin karena sudah bertahun-tahun yang lalu kau terakhir kali bertemu dengannya. Aku bahkan hampir lupa wajah kecilnya."
"Aku bicara sedikit dengan Namjoon. Orangtua mereka meninggal karena kecelakaan dan Jungkook menyalahkan dirinya atas kejadian itu."
Taehyung menaruh novelnya sembarangan. Kini ia memusatkan perhatian pada pembicaraan kakak sepupunya.
"Namjoon bilang Jungkook depresi, berkali-kali mencoba bunuh diri. Sampai Namjoon memutuskan untuk menghapus ingatan adiknya dengan hipnotis, namun itu justru membuat Jungkook takut dengan semuanya. Ia takut karena tidak mengetahui apapun."
Taehyung meneguk ludahnya kasar, "Lalu bagaimana keadaannya?"
"Saat aku mengatakan bahwa aku pernah mengenal Jungkook sebelumnya, Namjoon meminta bantuanku untuk menyembuhkan Jungkook. Dan aku pikir kau bisa melakukannya, Taehyung-ah."
Netranya mengerjap bingung, "Kenapa aku?"
"Bukankah sejak kecil kau menyukainya? Bahkan setelah kembali dari amerika dan sampai saat ini kau masih menyimpan foto kecil kalian."
Taehyung menundukkan kepalanya, "Tapi Justin menyukai V hyung."
"Dia tidak mengingat apapun. Kau bisa merebut hatinya sekarang, Taehyung-ah."
.
.
"Aku pikir Taehyung akan pergi setelah pesta pertunangan V dan Jungkook."
Nyonya Kim tersenyum tipis, "Dia begitu semangat untuk berlibur, aku tidak bisa menahannya."
Beberapa orang yang berada di pesta makan malam itu tertawa kecil. Semua orang terlihat hadir dalam pesta pertunangan V dan Jungkook. Seluruh keluarga besar, kerabat dekat dan dokter pribadi keluarga turut hadir dalam pesta, bahkan sebelumnya media diberikan mengambil foto selama beberapa menit dan pergi sebelum acara dimulai. Semuanya hadir, kecuali Kim Taehyung.
"Taehyung pasti begitu tidak sabar melihat wanita-wanita cantik disana."
Ting.
Dentingan antara garpu dan piring mengalihkan seluruh perhatian. Dokter pribadi keluarga Kim yang kini menjadi pusat perhatian hanya tersenyum tipis.
Ia menaruh kembali garpunya, lalu menatap seluruh pasang mata yang menatapnya. "Aku ingin menahannya, tapi entah mengapa rasanya aku harus mengatakan ini."
Nyonya Kim memaksakan senyumnya, "Dokter, kita sedang—"
"Kim Taehyung."
Semua terdiam, menunggu lelaki yang menjabat sebagai dokter pribadi keluarga Kim selama lebih dari sepuluh tahun melanjutkan kalimatnya.
"Kim Taehyung memintaku merahasiakannya. Tapi aku tidak bisa menahannya. Dia. Anak itu. Dia mengingat semua kejadiaan sehari sebelum ia dinyatakan bisa keluar dari rumah sakit. Taehyung mengingat semua, tapi dia memintaku untuk tidak mengatakan ini."
Semuanya terkejut. Bahkan V merasa ia kesulitan bernafas. Dadanya terasa begitu sesak.
"Dan satu lagi rahasia yang ingin aku katakan. Kim Taehyung. Dia juga mengidap penyakit HIV seperti V. Bahkan kondisi Taehyung jauh lebih buruk. Aku bahkan tidak tau mengapa anak itu bisa menyembunyikan rasa sakitnya selama ini."
"Kim Taehyung tidak pernah baik-baik saja."
Saat mendengarkan kalimat terakhir dari lelaki yang berstatus sebagai dokter, tanpa terasa air mata mengalir membasahi pipinya. Jungkook menangis bersamaan dengan hatinya yang terasa hancur.
Semua kilas balik kenangan yang dilaluinya bersama Taehyung berputar dalam pikirannya. Tingkah bodohnya, senyum lebarnya, sikap kekanakannya. Jungkook bahkan tak melihat ada perasaan sakit disana. Jungkook pikir selama ini ia mengenal Taehyung. Ia pikir Taehyung akan baik-baik saja.
"Kim Taehyung tidak pernah baik-baik saja."
Sejak malam itu seluruh keluarga mereka mencoba menghubungi Taehyung, bahkan mengirim orang untuk melacak keberadaan Taehyung di Hawai. Namun bahkan setelah seminggu berlalu, tidak ada satupun yang dapat mengetahui keberadaan Taehyung. Pemuda itu seolah hilang ditelan bumi.
Mereka tidak pernah tau dimana Hawai yang dimaksud oleh pemuda itu.
.
.
If it was for you
I could pretend that I was happy even if I was sad
If it was for you
I could pretend that I was strong even if I was hurt
Wishing that love is perfect as itself
Wishing all my weakness is hidden
.
.
"Sial!"
Ia mengumpat untuk ke sekian kalinya.
"Setelah ini kau tidak boleh menggunakan obat ini lagi, Taehyung-ah. Kau akan semakin parah jika memaksakan diri."
Pemuda itu tersenyum tipis, "Aku tau batasku. Kau tidak perlu khawatir, Irene."
.
.
Bersambung..
.
.
Author's Note:
Hello, akhirnya aku punya inspirasi untuk lanjutin ff ini setelah nonton naruto dan denger lagu barunya bangtan.
Oiya aku sempet baca ada yg nanya, 'Kenapa overdosis obat tidur bisa amnesia?' yang aku baca amnesia bukan cuma disebabkan sama benturan, bisa disebabkan karena mengkonsumsi obat yang berlebihan. Tapi biasanya akan menimbulkan amnesia sementara atau alzheimer. Selebihnya bisa di searching di gugel.
Terakhir, sekitar seminggu lagi aku akan resmi setahun jadi author /padahal jarang update/ Jadi aku akan bikin 1 ff request dari kalian, kalau kalian pengen aku bikinin ff feel free to dm me. Tapi hanya aku pilih 1 cerita. Pairingnya musti Taekook ya hehe
Jangan lupa reviewnyaaaa
Thanks
Aii-nim
2018.05.19
