Summary: Sebuah kesalahan yang hanya bisa ditutupi dengan kesalahan lainnya, seperti sebuah kebohongan yang kemudian ditutupi dengan kebohongan lain. Sakura dan Naruto menikah, dan dalam waktu dekat mereka akan memiliki bayi. Semua itu berawal dari sebuah kesalahan besar... (Catatan pernikahan Naruto-Sakura AU)
WARNING: AU, OOC, PLOT TWIST, SEXUAL IMPLICATION, SUGESTIVE THEME
DISCLAIMER: STANDARD APPLIED
.
"Cinta bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, semua melalui proses." - my brother
.
.
9. Bittersweet HocusPocus
.
Mata hitam bulat itu balas menatapku dari balik kaca etalase. Mata hitam yang bulat dan berkilauan, seolah memanggilku. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Aku tahu aku harus melakukan sesuatu. Sudah hampir tiga puluh menit aku berdiri di sini dan sepasang mata hitam itu masih menatapku. Aku tidak bisa pulang begitu saja dan meninggalkannya di sana. Aku harus melakukan sesuatu...
Aku memejamkan mataku sesaat, mencoba untuk berpikir jernih, tapi saat aku kembali membuka mataku sepasang mata itu masih menatapku. Aku tahu, tidak ada gunanya melawan. Pada akhirnya aku akan kalah. Sepasang mata itu seperti memiliki kekuatan magis yang tidak bisa kulawan. Aku menghela napas yang entah sejak kapan kutahan. Aku menghitung sampai sepuluh dalam hati dan ketika sampai hitungan kesepuluh aku belum juga berubah pikiran, akhirnya aku melangkahkan kakiku memasuki toko itu.
Baiklah, Sakura akan marah padaku kali ini tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku kalah dengan tatapan mata itu.
Saat aku sampai di rumah malam itu, seperti yang sudah aku duga, Sakura marah besar. Ia tidak terlihat senang melihat apa yang kubawa pulang bersamaku. Dahinya berkerut dan kedua tangannya berkacak pinggang. Perutnya yang sudah semakin membesar memasuki bulan ketujuh membuatnya tampak tidak terlalu menyeramkan tapi itu tidak berarti aku kehilangan rasa takutku. Aku tahu apa yang bisa Sakura lakukan saat marah. Terakhir kali ia melemparkan sebuah cangkir ke arahku hanya karena aku lupa menutup pintu lemari es sehabis mengambil bir kalengku.
Aku sudah siap menghadapi kemarahan Sakura, aku tahu bahwa aku hanya perlu bersabar dan tidak membalas kata-katanya. Di usia kandungannya yg memasuki bulan ketujuh, Sakura semakin sering merasakan kram dan itu, ditambah dengan hormonnya, membuatnya mudah merasa kesal. Saat menemaninya melakukan check up rutin minggu lalu dokter yang biasa memeriksa kandungannya telah memperingatkanku untuk lebih banyak bersabar dan memberi perhatian lebih pada Sakura. Tentu saja lebih mudah bicara dibanding melakukan. Saat ini Sakura tengah menatapku dengan tatapan mata penuh kekesalan.
"Naru! Lagi-lagi?"
Aku hanya bisa tertawa kecil serba salah sambil menggaruk bagian belakang kepalaku. Boneka beruang besar dengan mata bulat berwarna hitam kini terduduk di sofa ruang keluarga kami seolah menonton pertengkaranku dengan istriku.
"Aku lewat di depan toko mainan saat pulang tadi," kataku jujur, "aku merasa boneka beruang itu seperti memanggilku untuk..."
"Jangan bercanda"
Aku menutup mulutku seketika saat Sakura memotong kata-kataku. Dengan kesal ia menunjuk ke sudut ruangan tempat begitu banyak mainan dan pernak-pernik bayi tergeletak, hampir semua dari benda-benda adalah benda yang kubeli tanpa pikir panjang, "Mau beli berapa banyak lagi? Kita bahkan tidak tahu harus meletakkan tempat tidur bayi dimana! Lagi pula kita masih belum tahu jenis kelamin bayinya kan?"
Aku menghela napas, "Mungkin sudah saatnya kamu pindah ke kamarku, kita bisa mengubah kamarmu untuk dijadikan kamar bayi..."
Aku baru sadar tentang apa yang kukatakan saat melihat wajah Sakura yang memerah. Bibirnya setengah terbuka dan ia kehilangan kata-kata. Aku sendiri terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan. Aku meminta Sakura untuk pindah ke kamarku?
Setelah terdiam selama nyaris semenit, dengan wajah merah padam Sakura berbalik dan meninggalkanku.
"Bodoh! Aku tidak mau tahu pokoknya hentikan kebiasaanmu membeli yang tidak perlu!" katanya sambil buru-buru meninggalkanku menuju kamarnya.
Aku mengerjapkan mataku setelah Sakura menutup pintu kamarnya.
Aku berjalan ke arah sofa dan duduk di sebelah boneka beruang besar berwarna cokelat madu yang baru kubeli malam ini.
"Tidak ada yang salah kan dengan tidur bersama suamimu..." gumamku sambil menatap beruang yang ada di sebelahku, "ya kan, tuan Beruang?"
Memasuki bulan ke tujuh pernikahan kami, hubunganku dan Sakura semakin membaik. Aku tidak menyangka kalau kami bisa kembali bersikap seperti biasa. Sesekali kami masih sering bertengkar, tapi kali ini aku tidak lagi membalas teriakannya dengan teriakan juga. Aku sudah cukup belajar untuk tidak melawan api dengan api. Dan setelah beberapa bulan, aku mulai terbiasa menghadapi Sakura. Kini aku mulai paham bagaimana cara mengatasi kemarahan Sakura.
Kalau kuingat-ingat lagi dulu sewaktu kami masih anak-anak, kami juga bertengkar sesekali. Tapi hampir setiap waktu, akulah yang akan meminta maaf. Sakura sudah keras kepala sejak kecil. Terlahir sebagai anak tunggal di lingkungan yang memanjakannya membuat Sakura terbiasa diperlakukan seperti seorang putri. Ia sering memintaku melakukan sesuatu yang tidak bisa kutolak. Menurut sebagian orang hubungan kami seperti tuan Putri dan pesuruhnya, menurut sebagian orang lagi hubungan kami seperti suami istri yang sudah bertahun-tahun menikah.
Kami tetap seperti itu sampai musim panas kelas dua SMP...
"Uzumaki-sensei, bagaimana kalau kita minum dulu?"
Aku yang sedang melamun sambil membereskan barang-barangku menoleh dan tersenyum ke arah guru-guru lainn yang sudah selesai membereskan perlengkapan mereka dan bersiap untuk minum-minum bersama sepulang mengajar.
"Maaf aku tidak bisa," aku menggeleng, "aku sudah janji pada istriku untuk pulang awal hari ini."
Mereka pun langsung bersiul dan menggodaku. Aku sudah terbiasa dengan reaksi seperti ini dan hanya tertawa menanggapinya. Aku lebih baik digoda oleh rekan-rekan kerjaku dibandingkan dengan harus menghadapi kemarahan istriku. Hari ini Sakura bilang ia akan memasak pasta untuk makan malam dan memintaku untuk pulang tepat waktu.
Seiring berjalannya waktu rasanya aku dan Sakura semakin seperti suami istri yang sesungguhnya. Meskipun kami tidak saling bersentuhan. Maksudku, hubungan kami saat ini tidak melibatkan nafsu seksual sama sekali...
Lagi pula Sakura sedang hamil...
Ah, aku memukul kepalaku sendiri. Berpikir seperti ini tentang orang yang seharusnya menjadi sahabatmu tidak benar. Aku tidak boleh berpikir macam-macam tentang Sakura.
Meskipun ia adalah istriku...
Ada satu suara kecil di dalam kepalaku yang mengatakan bahwa aku berhak berpikir seperti ini tentang Sakura, bagaimana pun ia adalah istriku. Suka atau tidak, aku memiliki hak atas dirinya.
Tentu saja aku tidak akan memaksanya melakukan apapun. Aku tidak ingin ia membenciku lebih dari ini.
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana tatapan mata Sakura hari itu saat kami bertemu untuk makan siang. Pertama kalinya aku bertemu dengannya setelah kejadian malam itu. Awalnya aku tidak tahu mengapa tiba-tiba ia menghubungiku setelah hari itu ia tampak begitu marah.
Saat melihat wajahnya, entah mengapa, aku mendapat firasat tentang apa yang akan dikatakannya.
"Ada apa?"
Sakura menunduk. Matanya seolah-olah tengah asyik menatap cangkir tehnya tapi aku tahu, saat ini di dalam kepalanya ada banyak hal yang sedang ia pikirkan. Ia menggigit bibir bawahnya dan menautkan jari-jari lentiknya dengan gugup. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya sebelum malam itu, namun aku sudah cukup lama mengenalnya. Aku tahu benar kebiasaan-kebiasaan yang ia lakukan saat sedang merasa cemas dan gugup.
"Sakura?" panggilku mulai merasa cemas saat ia tidak juga mengatakan apa-apa.
Aku menunggu beberapa saat lagi. Sebenarnya aku sudah merasa tidak sabar. Aku ikut merasa gugup dan tidak tenang. Semakin lama ia menunda mengatakannya, semakin aku yakin bahwa apa yang akan ia sampaikan padaku bukanlah berita baik.
Baru saja aku akan membuka mulutku untuk bicara, akhirnya Sakura mengangkat wajahnya dan menatapku. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya pucat. Bibirnya bergetar saat ia akhirnya berbicara padaku.
"Aku hamil..."
"Aku pulang!"
"Selamat datang!"
Kalau mengingat masa-masa awal pernikahan kami, saat ini terasa seperti sihir. Aku tengah melepaskan sepatuku saat Sakura berlari ke koridor depan untuk menghampiriku. Wajahnya terlihat cerah dan ia tersenyum lebar saat melihatku. Aku balas tersenyum. Sepertinya malam ini mood istriku sedang cukup baik dan aku bersyukur karenanya.
"Aku sudah memanaskan air," kata Sakura ceria, "mau mandi dulu atau makan?"
Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku.
Sakura menatapku dengan senyum mengembang di wajahnya. Tidak biasanya ia bersikap seperti ini.
"Aku akan mandi dulu," kataku sambil berjalan ke ruang tengah sambil melonggarkan dasiku, Sakura membantuku membawakan tasku, aku duduk di sofa sambil menatap Sakura yang masih berdiri sambil tersenyum di hadapanku. Aku menaikan sebelah dahiku, ada yang aneh, "ada apa?"
"Jadi," Sakura meletakan tasku di atas meja sambil berjalan dan duduk di sebelahku, "hari ini aku membaca majalah."
Aku mengerutkan dahiku, "oke, lalu?"
Kali ini Sakura menyeringai lebar, "Aku ingin liburan ke onsen!"
Aku menepuk dahiku.
Harusnya aku sudah bisa menduganya. Saat Sakura bersikap begini manis, ia pasti tengah menginginkan sesuatu.
"Aku melihat artikel tentang penginapan yang sangat bagus," Sakura melanjutkan, "kita belum pernah berbulan madu kan? Bagaimana kalau kita pergi berlibur? Dua malam saja sudah cukup, bagaimana?"
Aku menggelengkan kepalaku, tidak percaya bahwa ia mengatakannya, "Sakura, aku tidak bisa seenaknya mengambil libur... Apalagi selama beberapa hari..."
Sakura mengerutkan dahinya, "tapi kita tidak pernah berlibur kan?"
Aku menggeleng lagi, "Lagipula, kita tidak mungkin melakukan perjalanan dengan kondisimu yang seperti ini."
"Kenapa tidak?" tantang Sakura, lagi-lagi berkacak pinggang, "Aku tidak apa-apa kok... Lagi pula, pemandian air panas bagus untuk relaksasi kan! Anggap saja ini sebagai bulan madu kita!"
Aku menghela nafas dan berdiri, "tidak, maaf tapi tidak. Bahkan saat ini kita masih tidur di kamar terpisah," aku menahan senyum saat melihat wajahnya yang memerah, "bagaimana bisa kita berlibur ke penginapan berdua?"
Aku baru saja akan berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Sakura yang masih memerah saat ia berteriak menghentikanku.
"Baiklah! Aku mengerti!"
Aku menoleh dan menaikan sebelah alisku.
Mengerti?
"Mulai malam ini aku akan tidur di kamarmu!" kali ini ia melipat kedua tangannya di depan dadanya, wajahnya masih bersemu merah tapi matanya menunjukan keseriusannya.
Aku terdiam.
"Dengan begitu tidak akan jadi masalah saat kita berlibur nanti kan?"
Aku menelan ludah.
Sepertinya aku sudah menggali lubang kuburku sendiri.
Sejak kami menikah dan memutuskan untuk tinggal bersama kami telah memiliki kamar masing-masing. Kami sama-sama memiliki privasi masing-masing dan nyaman dengan pembagian seperti itu. Tidak pernah sekali pun aku memasuki kamar Sakura ataupun sebaliknya. Awalnya kupikir kami akan tetap seperti itu sampai... entah kapan. Yang jelas aku tidak pernah berpikir bahwa dalam waktu dekat ini akan berada di kamar Sakura atau sebaliknya.
"Apa kamu yakin?"
Sakura mengangguk.
Aku mengerutkan dahiku.
Di hadapanku telah berdiri istriku selama hampir tujuh bulan, kini tengah memeluk sebuah bantal dan mengenakan piyama. Wajahnya merah padam namun ia berusaha agar tampak tetap seperti biasa. Aku yang duduk di tepian tempat tidurku tidak mengerti tujuan semua ini tapi aku tahu, sekali Sakura telah memutuskan sesuatu, hampir mustahil untuk menolaknya.
"Dengar," kataku sambil memijat pelipisku, kepalaku terasa pusing, "Tempat tidurku terlalu kecil untuk kita berdua."
"Maksudmu aku terlalu besar?"
Aku menggeleng. Wanita hamil dan hormonnya...
"Maksudku, kamu tidak akan merasa nyaman tidur di sini."
Sakura mendengus, "Nyaman atau tidak biar aku yang memutuskan sendiri." Ia berjalan ke arahku, "Sekarang minggir, aku mau tidur!"
"Sakura..." aku memohon sekali lagi.
"Memangnya kenapa? Waktu menginap di rumah orang tuaku kita juga tidur bersama kan?"
Sakura tidak mengerti, saat itu kami berada di rumah orang tuanya dan sekarang ia berada di kamarku. Di tempat tidurku.
Sakura sama sekali tidak mengerti.
Lewat tengah malam aku masih belum bisa tidur. Aku berbaring terlentang di tempat tidurku dengan mata terbuka lebar dan dahi berkerut. Aku tidak mengantuk sama sekali padahal di sebelahku Sakura sudah tertidur dengan nyenyaknya. Ia tampak tidak peduli meskipun aku ada di sebelahnya.
Sejak dulu Sakura seperti ini, selalu saja tidak peka dengan apa yang ada di sekitarnya. Apa yang ada di kepalanya hanyalah dirinya sendiri. Ia selalu bersikap egois dan seenaknya. Seperti seorang tuan putri yang juga kekanak-kanakan.
Aku selalu berada di dekatnya dan memperhatikannya, karena itu aku tahu, Sakura tidak pandai memahami perasaan orang lain...
Aku menoleh ke arahnya yang tengah berbaring menghadapku. Kelopak matanya tertutup dan bibirnya sedikit terbuka. Meski dalam remang-remang aku bisa melihat bulu matanya yang panjang menyentuh pipinya. Entah apa yang tengah dimimpikannya saat ini.
"..suke."
Aku menaikan sebelah alisku.
"Sasuke..."
Aku menghela napas dan tersenyum. Rupanya ia memimpikan tentang laki-laki itu. Aku menggunakan sebelah tangan untuk perlahan menyingkirkan beberapa helai rambutnya yang menempel di pipinya. Bahkan saat tertidur seperti ini pun, aku harus mengakui, Sakura terlihat cantik.
Sakura masih mencintai Sasuke Uchiha.
Tentu saja.
Bahkan setelah ia menikah denganku.
"Jangan tinggalkan aku..."
Suara Sakura terdengar lirih dan alisnya saling bertaut. Ekspresi wajahnya yang tengah tidur kali ini tidak lagi tampak tenang seperti tadi.
Aku menarik napas panjang dan mengacak-acak bagian atas kepalanya perlahan.
Gadis bodoh.
Kali ini dua bulir air mata menetes dari matanya yang masih terpejam.
Entah apa yang tengah ia mimpikan saat ini.
Perlahan, aku mendekat ke arahnya den mengecup dahinya. Berusaha agar tidak membangunkannya dari tidurnya.
"Aku ada di sini..." aku berbisik, "aku ada di sini, Sakura..."
Seperti mantra aku mengulangi kata-kata itu berkali-kali hingga air mata Sakura terhenti dan perlahan, dalam tidurnya, ia tersenyum.
AUTHOR'S NOTE:
Sorry author's notenya kali ini sedikit OOT.
Berkaitan dengan cerita rating M saya yg Bored (yg saya publish di akun saya yg Recchinon18 ), sepertinya author's note saya sudah menyinggung banyak orang sehingga banyak yang meninggalkan FLAME untuk saya. TAPI banyak juga yang memahami maksud saya dan memberikan dukungan untuk saya, karena itu saya ucapkan terima kasih. Saya nggak keberatan sama sekali dengan FLAME yang saya terima dan saya juga tidak akan mencabut kata-kata saya. Kalau kata-kata saya menyakiti reader sekalian, saya mohon maaf, tapi bukan berarti kalian berhak mengatur apa yang saya katakan dan saya rasakan. Saya rasa saya telah menyampaikan pendapat saya dengan sesopan mungkin.
Saya tidak mau pusing2 menghapus anonim flame atau menghapus cerita saya. Kenapa? Karena suatu saat saat para flamer itu sudah lebih dewasa dalam berpikir dan kembali membaca FLAME yang mereka tinggalkan saya rasa mereka akan malu sendiri :D Karena baik dari pemilihan kata-kata dan isi dari FLAME mereka itu menunjukan kapasitas pemikiran mereka.
Awalnya saya sudah memutuskan untuk tidak menanggapi dan tidak membuat pernyataan apapun lebih jauh mengenai masalah ini karena ini hanya akan memperkeruh suasana. TAPI, saya rasa, ini akan jadi pernyataan terakhir saya, kalau masih akan menuai kecaman, saya cuma akan mengatakan: saya tidak peduli sama sekali. Saya membaca FLAME yang ditinggalkan sambil minum teh dan makan roti bakar, semacam hiburan tersendiri untuk saya.
Saya cuma mau bilang: Kalian perlu belajar bahwa kalian tidak bisa memaksakan apa yang kalian mau pada orang lain. Sama dengan saya yang tidak akan memaksa anda untuk membaca dan menyukai cerita yang saya tulis, kalian jg TIDAK berhak untuk memaksa saya menulis apa yang tidak saya sukai. Kenapa saya cantumkan di author's note waktu itu kalau saya tidak menulis NaruHina dan IchiRuki, karena saya CAPEK membalas satu persatu request yg saya dapat. Jadi saya tulis sekalian agar tidak lagi ada yg request hal yg sama karena sudah pasti saya tolak.
Mungkin saya memang termasuk Author yang keras kepala, tapi sekali lagi, saya menulis apa yang saya sukai, bukan apa yang saya pikir akan orang sukai.
Xoxo
Recchi
