Note: Sebelum memulai membaca chapter penuh lika-liku ini, sebaiknya Anda sekalian terlebih dahulu membaca cuap-cuap dari Lolicon Bijak yang tampan, baik, penyayang, humoris, dermawan, dan tidak sombong ini.
Dari chapter ini akan ada empat karakter yang akan mengisi peran. Naruto, Honoka, Sasuke, dan Hinata. Kenapa Sara tidak diikutkan? Itu nanti akan ada alasannya. Kemudian, kapan Tenten mulai masuk ke dalam cerita lagi? Saya akan menjawab: tidak lama lagi.
Oke, semua itu sudah jelas. Kemudian saya akan sedikit mendeskripsikan penampilan keenam main character di cerita ini.
Naruto Uzumaki/Namikaze.
Yang pasti sudah Anda sekalian ketahui kalau dia memiliki rambut berwarna pirang (memang masih tetap bergaya jabrik tapi masih ada sedikit poni dibagian depan), bermata biru, tanpa memiliki kumis kucing di pipi. Sifatnya pada kehidupan pertama [sebelum Honoka mati]: Kekanakan, berisik, ceroboh, bego, dan bodoh, meskipun terkadang bisa romantis. Dan pada kehidupan pertama [sesudah Honoka mati]: Sedikit pendiam, cerdas, dewasa, sedikit pemarah, kurang suka bersosialisasi, sedikit mesum, dan kaku (meskipun tanpa sadar sering ngelawak).
Kemampuan: Pengguna Time Loop.
Honoka Uzumaki.
Berbeda dengan gambaran pada Animenya, Honoka di cerita ini memiliki gaya rambut ekor kuda tanpa poni di dahinya. Sifatnya: terkadang pintar (bisa juga gagal paham), terkadang bisa feminim (bisa juga tomboy), emosional, egois, punya keingintahuan tinggi, hiperaktif, ceroboh, dan setia.
Kemampuan: Belum saatnya diberitahukan.
Sara Uzumaki.
Berbeda dengan gambaran pada Animenya, Sara di cerita ini selalu memakai sebuah bando berwarna putih pemberian Naruto saat ulang tahunnya, rambut merah panjangnya selalu digerai. Sifatnya pada kehidupan pertama [sebelum Honoka mati]: Manja, periang, sedikit hiperaktif, cerdas, sedikit emosional, kalem, dan gampang cemburu. Dan pada kehidupan pertama [setelah Honoka mati]: sedikit pendiam, cerdas, kalem (tingkatan dewasa), manja (jika dengan Naruto), berkepala dingin, dan setia.
Kemampuan: Masih menjadi sebuah rahasia di otak Lolicon Bijak ini.
Tenten.
Berbeda dengan gambaran di Animenya, Tenten di cerita ini memiliki gaya rambut ekor kuda (saat SMA) dengan poni di dahi, sementara (saat SMP) rambut coklatnya yang panjang digerai. Sifatnya (sewaktu SMP): Sangat pemalu, polos, punya keingintahuan tinggi, pintar, sopan, dan sangat feminim. Kemudian (sewaktu SMA): Terlalu berani, bukan pemalu lagi, emosional, egois, gampang penasaran, pintar, masih feminim, dan keras kepala.
Kemampuan: –
Sasuke Uchiha.
Gambaran sang bungsu Uchiha ini tak berbeda dengan Animenya, rambutnya masihlah bergaya seperti itu, dan lain-lainnya juga. Sifatnya: Tentu saja kalem, berkepala dingin, dan tak jauh dari sifat di Animenya, hanya saja gampang terpancing emosi saat diusili Naruto.
Kemampuan: Indigo.
Hinata Hyuuga.
Mungkin sewaktu kecil (di Anime) rambut Hinata itu pendek, namun di cerita ini rambut Hinata panjang. Perbedaan lainnya hanyalah dia memakai sebuah kacamata. Sifatnya: Tentu saja baik, terlalu sopan (karena didikan keluarga), sedikit polos, terlalu berani, pintar, kalem, terlalu feminim, emosional, dan sedikit keras kepala.
Kemampuan: Indigo.
...
Okelah, sekian penjelasan dari saya. Anda sekalian mungkin akan bertanya-tanya tentang kemampuan Sara setelah ini, dan tentu saja itu masih menjadi sebuah rahasia di dalam otak bejad yang saya miliki.
Akhir kata, selamat menikmati.
Naruto dan ketiga remaja lainnya menatap bangunan tua berukuran sekitar 12m x 15m dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
Mata biru Naruto kembali teralihkan ke arah kertas yang sedang ia pegang, "Jadi, ini yang kita dapat?" sepertinya mencari kepastian kepada ketiga temannya yang berada di deretan kanan, menjadi hal sia-sia yang Naruto lakukan. Karena jika dilihat, tidak ada satupun dari mereka yang tahu tentang bangunan terselubung di belakang gedung utama sekolah ini.
Jadi, setelah susah payah meminta izin kepada pihak sekolah untuk mendirikan klub ini, apakah ini balasan yang mereka terima? Sebuah bangunan tua yang terbuat dari kayu yang terpisah dari area yang terlihat dari luar sekolah? Tunggu, bukannya itu tidak adil?!
Sasuke menghela nafas, "Mungkin mereka memberikan kita ini karena tidak ada lagi ruangan yang tersisa untuk sebuah klub."
"Tidak mungkin seperti itu!" Honoka menimpali, "Jelas-jelas masih ada dua ruangan yang tak terpakai di area klub sekolah, aku dan Hinata-chan sudah mengeceknya saat istirahat tadi."
Hinata mengangguk memberi keyakinan.
"Sudahlah, tidak perlu ribut seperti ini." Naruto mendesah. "Ini masih lebih baik daripada kita tidak diberi izin untuk mendirikan klub, benar 'kan?"
Sasuke mendengus setuju, tetapi Honoka kelihatan masih bersikeras.
"Aku tidak suka perlakuan seperti ini, aku akan protes!" baru saja Honoka ingin beranjak dari sana, sebuah tangan ia rasakan di salah satu bahunya. Gadis bersurai merah itu melihat siapa pemilik tangan tersebut, "Jangan halangi aku, Naruto!"
Remaja pirang yang menjadi sepupunya itu tak lantas menjawab, dia hanya menatap Honoka lekat-lekat. "Honoka, jangan buat semua ini menjadi sia-sia. Kita sudah beruntung diberi izin, dan kita sudah beruntung masih dibela oleh Anko-sensei. Jujur saja aku juga sangat tidak menyukai hal itu, tapi untuk saat ini jangan bertindak egois."
Honoka hanya bisa terperangah untuk saat ini, melihat bagaimana kedua manik safir menatapnya dari jarak yang begitu dekat, dia jadi tidak bisa berucap apa-apa. "Na-Naruto-kun, k-kau terlalu dekat." Honoka akhirnya bisa bernafas dengan normal saat Naruto sudah menjauhkan diri.
"Maaf."
Di sisi lain, kedua insan lainnya sudah terlihat menjauh saat kedua saudara itu sedang bercekcok ria. Kemudian Sasuke menyenggol sedikit lengan Hinata agar gadis yang dimaksud memberi perhatian, "Sepertinya kita menjadi obat nyamuk nih!"
Gadis berkacamata itu menautkan kedua alisnya bingung, "Obat nyamuk? Apa maksudnya?"
Remaja yang menjadi bungsu Uchiha itu langsung memegang keningnya dan kemudian mendesah. Usahanya untuk mengerjai Naruto akhirnya tidak mendapatkan hasil, terima kasih atas kepolosan masa mudamu Hinata.
"Sebelum kita kembali melontarkan tuduhan yang sia-sia terhadap pihak sekolah, sebaiknya kita mengecek apa yang kita dapat di sini."
Ucapan Naruto membuat ketiga remaja lainnya mengangguk. Mereka akhirnya serempak mendekati pintu masuk bangunan itu, dengan Naruto yang menjadi pemimpin jalan. Satu-satunya remaja yang memiliki rambut pirang itu mencolek daun pintu yang penuh debu itu, dan kemudian dia mengetuk-ngetuknya.
Senyum terkembang di bibir Naruto, 'Bangunan ini terbuat dari kayu jati, aku tidak kaget kalau bangunan ini masih begitu kuat dan kokoh.'
"Naruto, kenapa kau senyum-senyum sendiri?"
Naruto menggeleng untuk menanggapi pertanyaan Honoka, kemudian dia menjulurkan tangannya ke gadis itu. "Kuncinya?"
Honoka segera memberikan benda yang dimaksud, dan saat Naruto membuka pintu tersebut secara cepat, dia dan ketiga remaja lainnya harus terbatuk-batuk karena kumpulan debu meledak dari dalam.
"Sial, bangunan ini seperti reruntuhan kuno saja!" Sasuke berkata disela-sela batuknya, tapi ketiga remaja lainnya tak sempat menanggapi karena masih sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Setelah kurang dari satu menit berselang, akhirnya kumpulan debu yang mengepul itu hilang terbawa angin, begitu juga dengan acara yang mereka lakukan serempak. Keempat remaja itu kembali berdiri tegap dan menghadap ke dalam ruangan, mereka kini hanya bisa terpaku pada ruangan gelap yang hanya mendapatkan penerangan di beberapa sudut.
"I-Ini... lebih dari apa yang kuharapkan." Satu tanggapan akhirnya tercetus dari mulut Honoka, dan itu membuat Sasuke yang berada di belakangnya mendengus.
"Kalau begitu cepatlah bergerak, jangan hanya berdiri dan mengomel seperti wanita tua."
Urat-urat kekesalan langsung mencuat di pelipis Honoka ketika Sasuke berjalan melewatinya dan masuk ke dalam ruangan. Oh, kalau saja tidak ada pemuda pirang yang ia sukai ada di sini, pasti Sasuke Uchiha hanya tinggal nama.
"Baiklah, semuanya." Panggil Naruto. "Untuk hari ini, kegiatan pertama klub Pemburu Misteri adalah membersihkan ruangan klubnya yang baru!"
[Time Loop]
Disclaim: I dont own anything
About Song: Im don't the owner of that's song
Kreator: Azriel and Aka na Yuki
Genre: Romance, Supernatural, Drama, Slice of Life, Humor, and etc.
Warning: AU, OOC, Typo, physicological, and etc.
Summary: Karena kecelakaan yang membuatnya koma itulah, Naruto terpaksa menjalani hidupnya lagi di masa lalu. Dengan kemampuan yang dia miliki, tercipta sebuah niat untuk mengubah tragedi yang menyebabkan kekasihnya tiada. Akankah Naruto berhasil? Ataukah tragedi yang lebih buruk akan terjadi? (Arc I)
.
Chapter 10: Loop and Loop!
(part I)
Hal yang pertama kali keempat remaja itu lakukan adalah membuka keenam jendela yang ada di sekeliling bangunan kayu itu. Udara yang masuk dari keenam jendela itu langsung menghilangkan sensasi pengap yang ada di dalam ruangan, membuat keempat remaja itu bisa menarik nafas dengan lega.
Ruangan itu jelas-jelas sudah terkubur oleh debu, entah sudah berapa lama bangunan yang terbuat dari kayu itu ditinggalkan oleh pihak sekolah. Sasuke berpikir kalau bangunan kayu ini adalah bekas bangunan yang digunakan untuk menyimpan perkakas di masanya, terlihat dari satu buah gantungan dan lemari yang berada di pojok ruangan. Sasuke lihat lagi, sepertinya Naruto juga memikirkan hal yang sama.
"Jadi, bagaimana sekarang?" Honoka bertanya untuk mencari kepastian, dan Naruto terlihat memikirkannya.
"Kita butuh empat masker, empat sapu, dua kemoceng, satu lap, dan satu botol semprotan pembersih kaca."
"Lalu, kita bisa mendapatkan itu semua darimana? Tidak mungkin 'kan kita meminjamnya dari kelas, karena itu memang tidak diperbolehkan." Ucap Sasuke.
Hinata mencubit dagunya, "Bagaimana kalau kita meminjamnya dari tukang kebun sekolah?"
"Benar juga!" Honoka menyetujui, membuat Naruto mengangguk.
"Baiklah, peralatan kebersihan akan kita pinjam dari tukang kebun." Naruto kemudian merogoh salah satu saku celananya, lalu menyodorkan dua buah uang seribu Yen ke arah Sasuke. "Kau yang bertugas membeli empat masker."
Dahi Sasuke mengerut, "Kaukira aku ini buruh?!"
"Hyuuga-san, temani pemuda manja ini."
Dengan senang hati Hinata menanggapi permintaan Naruto dengan anggukan, membuat Sasuke mendesah pasrah. Entah kenapa beberapa hari ini dirinya tak berkutik jika berdebat melawan Naruto.
Oh, andai Sasuke tahu kalau yang diajaknya berdebat merupakan remaja yang lebih dewasa darinya, mungkin dia akan berkata itu curang.
[...]
"Apa kau tidak kesulitan membawa itu semua? Aku tidak keberatan membantumu membawakan sebagian." Melihat bagaimana sepupunya memanggul empat sapu di bahu kanannya, disertai dengan tangan kiri yang membawa dua kemoceng, Honoka sedikit merasa kasihan padanya. Padahal dia 'kan baru sembuh dari kecelakaan, tapi kenapa malah dia yang memaksakan diri?
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." Naruto tersenyum. "Terlebih sebenarnya, aku tidak ingin gadis yang menyukaiku membawa beban seperti ini."
Honoka terperangah mendengar hal itu, cepat-cepat dia mengalihkan perhatiannya ke arah lain karena tidak ingin Naruto sampai melihat wajahnya yang memerah. "Dasar kepedean."
Senyuman Naruto sedikit melebar sampai rentetan gigi putihnya sedikit terlihat. Inilah yang paling ia sukai dari Honoka, wajah malunya yang tsundere yang terlihat sangat menggemaskan. Oh, andai saja kedua tangannya bebas dari barang-barang ini, pasti dia sudah menjewer kedua pipi yang menggembung itu.
Sangat menggemaskan. Seperti pipi Loli.
Tak beberapa lama, dirinya sudah kembali ke bangunan tempat dimana klubnya berkumpul. Naruto tak menyangka bahwasanya Sasuke dan Hinata telah lebih dulu sampai di sana, mereka berdua kini terlihat saling mengobrol di depan pintu masuk dengan duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu.
"Kalian berdua lama sekali." Cibir Sasuke, yang langsung dihadiahi sebuah tatapan datar dan kesal.
"Tidak usah banyak protes," Naruto menyodorkan dua kemoceng yang ada di tangan kirinya, "Cepat ambil ini dan bersihkan bagian dalam dengan Hyuuga-san."
"Hei, kenapa harus aku yang di dalam? Kenapa bukan kau saja?!" protes Sasuke.
Naruto tampak terdiam berpikir, tak selang beberapa detik otaknya langsung menemukan sebuah ide jahil yang pastinya akan membuat Sasuke mati kutu. Oleh sebab itulah dia menyeringai, membuat Sasuke mulai merasakan sebuah firasat buruk.
"Kalau kau ada di dalam 'kan, kau bisa berciu-ciu ria dengan Hyuuga-san." Sasuke langsung terperangah, sementara Hinata tak jauh beda dengan Sasuke namun wajahnya memerah. Membuat seringai Naruto bertambah lebar, "Terlebih Hyuuga-san itu manis, laki-laki mana yang tidak ingin menjadi kekasih Hyuuga-san? Dan kau termasuk di dalamnya, Sasuke Uchiha."
Beberapa detik kemudian, terlihat kedua remaja laki-laki saling kejar-kejaran seperti kucing dan anjing, terus memutari bangunan klub mereka yang baru yang membuat kedua gadis di sana tertawa lepas.
...
Anko Mitarashi, guru muda yang masih berusia 24 tahun yang kini akhirnya mempunyai jabatan sebagai pembimbing sebuah klub melihat bangunan kayu yang tampak bersih dari depan dengan sebuah senyuman yang bertengger di bibir ranumnya.
"Lumayan juga," Wanita yang rambutnya selalu disanggul itu melangkahkan kaki untuk membuka pintu masuk bangunan tua itu, dia kembali tersenyum saat melihat keempat remaja yang dua diantaranya sempat ia bela saat meminta izin untuk membuat klub ini sedang merayakan pesta perayaan klub baru mereka. Terlihat jelas beberapa bungkus camilan dan satu botol besar jus kemasan, "Hei, sedang merayakan pesta rupanya? Kenapa aku tidak diundang?" wanita itu melangkah mendekati keempat anak didiknya.
"Uh, Anko-sensei! Silahkan duduk!" Naruto berdiri dari tempatnya dan mempersilahkan agar wanita itu duduk di sana, setelahnya remaja pirang itu berjalan ke seberang meja dan berhadapan langsung dengan guru itu, lalu tanpa ragu dia membungkuk di depannya. "Anko-sensei, terima kasih sudah bersedia membela kami saat di kantor tadi, tanpa Anda kami tidak akan bisa mendirikan klub yang kami inginkan ini. Saya sangat berterima kasih, saat Anda dengan suka rela menawarkan diri untuk menajdi guru pembimbing klub ini. Sekali lagi, terima kasih!"
Mata Anko melebar sejenak sebelum pada akhirnya kembali seperti sedia kala, dengan sangat tenang wanita itu memakan keripik kentang yang terpampang di depannya. "Sudah-sudah, tidak perlu berlebihan seperti itu, aku juga pernah muda seperti kalian kok."
"Sensei terlihat masih sangat muda, memangnya umur Sensei berap –auwh!" belum selesai Sasuke bertanya dia sudah mendapatkan sebuah jentikan di dahi.
"Bocah, menanyakan umur perempuan itu merupakan hal yang tidak sopan."
"Benar-benar." Hinata dan Honoka manggut-manggut.
Kedua alis Sasuke saling bertautan, "Memangnya ada yang salah dengan hal itu?"
"Sasuke, Sasuke," Naruto yang sudah berada di samping kanan Sasuke bergeleng ria, "Sebagai seorang laki-laki kau itu seharusnya tahu apa saja hal tabu yang tidak boleh ditanyakan kepada perempuan. Pertama, menanyakan soal umur. Kedua, soal berat badan. Dan ketiga, soal ukuran dada mereka."
Penjelasan Naruto diberi anggukan serempak oleh ketiga perempuan di sana, namun kelihatannya Sasuke masih tampak kebingungan.
"Tunggu, kenapa kautahu semua itu?"
Naruto menegak jus yang sudah ia tuang ke dalam gelas terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya dia menjawab. "Jika kau tidak tahu ketiga hal tersebut, maka kenormalanmu patut dipertanyakan. Benar 'kan, Hyuuga-san?" sekali lagi, Hinata mengangguk.
Sasuke mendesah sambil memegang keningnya. Dan sekali lagi, dia kalah telak.
[...]
Sejujurnya, Naruto sedikit tidak rela jika Honoka ikut bergabung ke dalam klub Pemburu Misteri. Bukannya apa-apa, tapi dia sedikit khawatir dengan sifatnya yang sedikit kelebihan semangat itu. Ditambah lagi dengan tingkat penasaran sebesar gunung yang pasti akan membuat gadis itu gampang sekali melakukan hal ceroboh, terlebih lagi ini menyangkut hal astral yang tidak bisa dicerna oleh akal.
Yah, meskipun sebenarnya Naruto harus mengakui kalau dirinya juga termasuk hal yang unnormal, karena jiwa di dalam tubuhnya ini datang dari masa depan.
Tak bisa dipungkiri.
Miris sekali.
Namun apadaya, sifat kepala batu yang dimiliki Honoka sama sekali tidak bisa dirujuk, bahkan oleh dirinya sekalipun. Karena sekalinya gadis itu untuk memilih ini, maka dia tidak akan puas jika dia tidak menerima itu.
Hah, sepertinya sifat kalem Bibi Konan sama sekali tak menurun ke anaknya yang satu ini, malah sifat Ibunyalah yang lebih mendominasi pada diri Honoka. Emosional, kekanakan, dan lain-lain, dan lain-lain.
Mau bagaimana lagi? Inilah wanita, memang sangat merepotkan.
"Naruto, kaumelamun?"
Naruto mendesah mendengar pertanyaan dari Honoka yang berada di sisi kirinya, remaja pirang itu memijit batang hidungnya sebelum menjawab. "Tidak, aku hanya sedang memikirkan keegoisanmu."
Honoka langsung cemberut mendengar hal itu.
"Oh, benar juga. Hari ini Sara kemana? Kenapa dia tidak pulang denganmu?" kali ini Naruto bertanya, namun sepertinya dia salah memberikan pertanyaan kepada gadis itu, terbukti dari mulutnya yang semakin monyong ke depan. Naruto tahu kalau pasti ada yang salah sekarang, "Apa ada yang salah sampai-sampai kaumarah?"
Honoka membuang mukanya ke arah lain, "Aku nggak marah kok!"
"Jangan bohong, aku tahu dari raut wajahmu."
"Aku beneran gak marah!" Honoka membentak, tapi Naruto terlihat tidak kaget sama sekali. Remaja itu masih menatap Honoka dalam diam, "A-Aku hanya kesal saat kau menanyakan perempuan lain selagi aku ada di sini."
Naruto berkedip beberapa kali sebelum dia akhirnya berkata, "Sara itu adik kembarmu lho!" meskipun terdengar nada mengejek, namun wajahnya masih terlihat datar.
"Meskipun begitu, dia tetap perempuan." Honoka menunduk. "Terlebih lagi, dia menyukaimu." Suara gadis itu terdengar purau, seakan tak menyukai apa yang baru saja ia katakan.
Tapi meskipun begitu, kelihatannya Naruto sama sekali tidak peduli. Remaja pirang itu dengan cepat memegang kedua ujung bahu Honoka, kemudian mendorong pelan gadis itu ke dinding pinggir jalan. Tanpa ragu sedikitpun, Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Honoka, menempelkan keningnya ke kening gadis itu.
"Aku tahu kalau dia menyukaiku, tapi apadayaku jika hati ini lebih memilihmu?" Naruto tersenyum. "Honoka, kau itu tidak pernah membohongi diri sendiri dan selalu apa adanya. Itulah salah satu hal yang aku sukai darimu. Jadi, Honoka..." dengan sangat perlahan Naruto mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu, dan terlihat jelas pula kalau Honoka menantikan apa yang akan datang dengan menutup mata.
Sampai sebuah suara mengalihkan perhatian kedua insan itu.
Ceproot!
Naruto dan Honoka melihat sebuah es krim yang jatuh mengenaskan di atas datarnya aspal yang terlihat dingin dan tak berperasaan. Kemudian pandangan mereka berubah ke arah kaki seseorang, terus ke atas, terus ke atas, sampai pada akhirnya mereka menemukan kepala seorang gadis berambut coklat yang sedang memasang wajah terperangah sekaligus merona.
Gadis itu menunduk, kedua tangannya mencengkram ujung rok seragam sekolahnya. "A-Anu... m-maaf," gadis itu tiba-tiba saja berlari meninggalkan Naruto dan Honoka, "MAAF...!"
To be Continued...
.
A/N: Entah kenapa, dari sepuluh chapter terakhir, dan dari dua cewek yang berbeda, Naruto masih belum bisa mencium salah satu dari mereka. Buahahaha... poor Naruto.
Sedikit penjelasan, bahwa sebenarnya chapter ini saya potong sedimikian rupa karena saya ternyata memiliki kesibukan mendadak. Dan satu lagi, karena saya merasa tidak enak jika tidak mengupdate di hari jumat penuh berkah ini.
Dan apa kalian tahu siapa gadis yang berlari tadi? Memang tidak salah lagi, itu adalah Dia.
Pada chapter depan, kita akan meninggalkan sejenak drama-drama di cerita ini. Jadi persiapkan mental serta pikiran kalian, karena saya akan membuat kalian cepat-cepat ingin nonton anime Dedek Goblok :v Lolz.
Dasar Lolicon :v Lolz.
Oh, dari review terakhir yang Lolicon Bijak ini lihat, ada yang bersiteru kenapa saya memakai Hinata sebagai pair dari Sasuke.
Sebenarnya gak ada alasan khusus kenapa saya memakai Hinata, karena pada saat saya mengerjakan cerita ini, inti dari cerita ini bukanlah tentang crackpair antara karakter ini dengan karakter itu, tapi saya lebih mencondongkan jalan ceritanya.
Entah kalian suka ataupun tidak, itu terserah kalian.
Oke, sampai di sini saja. Salam Lolicon.
