New FanFiction

©BocahLanang

Bagi yang ingin berteman dengan BocahLanang, silakan add FB:

BocahLanang HunKai (The Real BocahLanang)

Thanks sudah mau berteman dengan BocahLanang! Yey!

Di akun itu biasanya BocahLanang posting summary ato draft FF baru

..

.


HunKai Fanfiction


Warn!:

boyslove│mystic│horror│reallife│rateM│ghost│supranatural

MainPair:

Sehun (seme) X Kai (uke)

OtherPair:

Baekhyun (seme) X Kai (uke)

Chanyeol (seme) X Kai (uke)

Other Cast:

Baekhyun

Kris

Luhan

Chanyeol

Based on Real Life..


Eat-this-Rose


FlashPlot:

Viana de Castelo-Portugal

...

Bertegur sapa pada tetangga yang ramah

Jarak antar rumah sangat berjauhan.

Masih bertanya mengapa neneknya memilih pindah

Dari Seoul-Korea ke daerah terpencil di Portugal.

...

Seiring berlalunya hari,

Mulai disadari bahwa sebenarnya

Semua orang menjauhinya.

Takut.

...


9_ Talk..


04 . 55 am..

"Ttidakkah kau mengantuk?" kedua mata Luhan menatap iba pada David yang masih saja termenung di sofa.

"..." tidak ada jawaban. Pemuda dengan rambut ungu itu masih diam dengan mata lesu berkantung. Luhan rasa, untuk kasus ini, Baekhyun tengah mengalami depresi, ketakutan, dan trauma masa lalu secara bersamaan yang menyerangnya hingga babak belur. Jiwanya.

"Bahkan sampai tidak dapat tidur seperti itu.." rutukan Luhan yang sarat akan iba, tak juga membuat Baekhyun bergeming. Akhirnya Luhan memilih beranjak dari samping Baekhyun, ia akan menilik keadaan pasutri yang barusaja izin untuk istirahat setelah perjalanan panjang mereka hingga sampai ke negara ini.

TOK-TOK-TOK-

"Excuse me, Mr and Mrs Kim.." suaranya ia pelankan begitu tidak mendapat balasan dari kamar utama yang pintunya ia ketuk tadi.

"Luhan?" pintu dibuka bersamaan dengan terlihatnya sosok lelaki dewasa bernama Kim Siwon.

"Ah, ternyata Anda belum tidur, Mr Kim" sedikit kaget Luhan tadi ketika ia tidak mendengar langkah kaki dari dalam kamar tetapi tiba-tiba pintu dibuka.

"Kami baru selesai menata barang-barang kami dan memindahkan posisi meja dan ranjang ruangan ini. Apakah ada sesuatu?" keterangan yang dikatakan Mr Kim membuat alis Luhan mengrenyit bingung. Tidak. Sungguh ia tidak mendengar suara decitan kaki-kaki ranjang yang bergesek dengan ubin ketika ranjang digeser.

"Apakah tadi Anda mengganjal kaki-kaki ranjang dengan kain?" memang, Luhan sendiri merasa pertanyaannya terlalu tidak sopan untuk ditanyakan pada seorang tamu yang bahkan mereka berdua memang berhak sepenuhnya atas rumah ini, karena rumah ini adalah milik ibu dari Mrs Kim.

"Tidak, kami langsung menggesernya karena kami sungguh kelelahan. Maaf kalau suaranya cukup bising. Kupikir kau datang kemari karena tidurmu terganggu decitan-decitan tadi, Luhan" jawaban Mr Kim sudah cukup untuk membuat Luhan menarik nafas dalam, mengisi penuh paru-parunya.

Menetralkan pemikirannya.

"Aha, tidak mungkin Mr Kim, saya hanya ingin menilik keadaan Anda. Kalau butuh sesuatu, saya siap ada di ruang tamu bersama Adken" berusaha ia mencairkan suasana dingin yang sempat ia rasa menghembus di belakangnya.

Bahkan untuk melihat kebawahpun Luhan tidak berani.

Ia merasa kedua pergelangan kakinya digenggam erat oleh tangan yang dingin dan kuku yang menancap tajam di kulitnya..

"Baiklah, kurasa sekarang belum" Mr Kim menjawab singkat dan sopan.

"Kalau begitu, saya permisi, Mr Kim. Semoga tidur Anda dan Mrs Kim nyenyak" setelahnya, Luhan ingin segera kembali ke ruang tamu, ia sudah merasakan hawa tidak mengenakkan di lorong panjang ini.

"Luhan" suara Mr Kim hampir saja membuat Luhan berteriak. Tadi benar-benar sepi mencekam saat ia hendak melangkah pergi, tetapi suara Mr Kim seolah memecah keheningan malam.

"Y-ya Mr Kim?" ragu-ragu Luhan menoleh pada lelaki dewasa berumur 36 tahun yang masih berdiri diambang pintu kamar, disampingnya.

"Apakah Kai tidur nyenyak?" pertanyaan ringan itu bahkan dirasa sangat sulit dijawab oleh Luhan.

Bagaimana mungkin ia menjawab 'Maaf Mr Kim.. Kai mati beberapa jam yang lalu, dan kini jasadnya sedang ditemani sosok orang yang mati 8 tahun lalu bernama Charles Brisshen'. Tidak mungkin Luhan menjawab seperti itu.

Sekarang hari mulai pagi, dan suasananya tidak mendukung.

Terlebih Baekhyun masih dalam keadaan bisu seperti sekarang. Luhan jelas tidak dapat mengatasi semuanya sendiri. Bukan bermaksud mengatakan kalau Baekhyun tidak berguna. Tapi sekarang itu benar merupakan kenyataan.

"Y-ya Kai tidur nyenyak.. S-sebaiknya Anda dan Mrs Kim segera tidur karena hari mulai pagi.." susah payah Luhan menjawab. Kedua mata rusanya tak lepas menatap lurus kearah Mr Kim.

"Ya, kau benar. Baiklah.. aku akan tidur. Kau juga beristirahatlah, Luhan" santai Mr Kim berujar, mengira Luhan yang sedikit bergetar tadi karena takut padanya yang memang memiliki tubuh sedikit lebih kekar.

Luhan masih menatap lurus pada Mr Kim.

Jawaban dokter muda itu hanyalah anggukan kepala yang kaku.

Karena kini Luhan dapat melihat sendiri, dibelakang kepala Mr Kim..

Sebuah tangan yang ditebas..

Mengeluarkan darah deras, melayang dengan kuku-kuku panjang..


05 . 00 am..

Matahari sudah menyinari ujung-ujung langit.

Gradasi warna diatas membuat Luhan terkagum. Ia jelas tidak bisa melihat pemandangan langit seindah ini, mengingat apatermennya di kota tanpa balkon sehingga untuk mengeluarkan kepala dari jendela dan melihat kelangit pun beresiko tinggi cedera berat karena tersambar burung-burung gereja yang terbang cepat dipagi hari.

Melihat ujung langit juga sulit karena gedung-gedung tinggi menjulang di kota, lampu yang baru dipadamkan pukul 7 pagi. Semuanya mengganggu cahaya indah matahari pagi.

"Bagaimana cara mengatakan keadaan Kai pada Mr dan Mrs Kim?" kedua tangan Luhan mengancingkan jas putih kerjanya ketika angin musim dingin sisa-sisa badai semalam berhembus padanya.

Tidak apa-apa. Sedari tadi malam ia sudah diberi pemandangan-pemandangan horror mengerikan. Bukan sembrono lagi baginya untuk keluar rumah mendiang Madam Kim sendirian, untuk sekedar mengambil jaket dan tas ranselnya.

Dibukanya kunci pengaman mobil dan pintu kemudi otomatis terbuka. Luhan sendirian di sini.

Karena ia sudah dewasa. Setakut apapun ia pada hantu, harusnya ia..

"Oh God! Ada mata busuk itu lagi di dashboard mobilku.. bagaimana itu bisa masuk.. tolong selamatkan aku Tuhan.." berusaha Luhan tidak menatap mata busuk yang bergerak mengamati gerak-geriknya mengambil ini dan itu di dalam mobilnya. Sesekali Luhan memohon pada Tuhan.

Segera Luhan keluar setelah semuanya ia masukkan kedalam ransel.

Sedikit bernafas lega karena tidak terjadi apa-apa padanya sampai detik ini. Luhan memakai ranselnya dan hendak menutup pintu mobil.

BLAM! CCCRRRAAATTT!

"AAAAA! BYUN BAEKHYUN! MATA BUSUK ITU TERGENCET PINTU MOBIL!" kedua kaki Luhan berlari kesetanan menuju pintu utama rumah mendiang Madam Kim ketika melihat jelas cairan kuning kental berbau busuk muncrat mengotori body mobil hitamnya ketika ia menutup pintu tadi.

Nafas Luhan terengah setelah berhasil duduk disamping Baekhyun.

Ia bahkan kelepasan sampai menggembok pintu utama saking takutnya tadi.

"Baek, aku tidak memiliki masalah sama sekali dengan rumah ini. Melihat mendiang Madam Kim saja belum pernah.. hah.. kenapa aku harus diperlihatkan juga? Lama-lama aku bisa kembali pingsan.." digeletakkan tubuh lemasnya disamping Baekhyun yang masih diam.

"Itu karena kau sama sepertiku. Kau.. juga mencintai miliknya.." semua perkataan Baekhyun benar adanya.

Terlihat jelas dari semua keadaan yang dialami mereka. Dan kemungkinan besar, kejadian serupa akan dialami oleh pasutri Kim yang terlelap di kamar utama.

Kamar..

Mendiang Madam Kim.


06 . 22 am..

Luhan barusaja keluar dari dapur untuk membawa beberapa piring berisi hidangan makan pagi.

Ia terbiasa membuat pie blueberry untuk paginya.

Jadi hanya itu yang ia bisa saat ini, meski kali ini agak sedikit gosong di bawahnya. Ia biasa memakai microwave. Tapi di rumah mendiang Madam Kim ini hanya ada oven tua yang memiliki temperatur lebih panas di bagian bawah.

Baekhyun juga barusaja selesai mengepel lantai.

Setelah semua hidangan disajikan di ruang tamu, Luhan menghampiri Adken.

"Bagaimana? Kita tengok keadaan Kai dulu?" sedikit ragu Luhan bertanya.

"Semalam Charless Brisshen tidak keluar dari kamar. Ada kemungkinan dia masih disana" dugaan Baekhyun tidak diiringi oleh ketakutan seperti semalam. Tapi kedua binnernya terlihat sendu.

"Baiklah kita ke kamarmu sekarang" lebih dulu Luhan menghampiri kamar tamu, kamar Baekhyun dimana tubuh pemuda Kim itu terbaring.

Disusul Beval yang berjalan gontai.

Ckleeeekk...

Lambat Luhan membuka pintu. Hanya sebelah matanya yang melirik mengarahkan visinya keberbagai penjuru ruangan melalui celah kecil pintu yang ia buka.

Ia masih sayang nyawa untuk sekedar menjulurkan kepalanya lalu Charless Brisshen akan menebas lehernya sehingga kepalanya menggelinding bebas dengan gaya freestyle plus efek air terjun darah mengucur dari venanya.

"Kau lama" tanpa pikir panjang, Beval masuk lebih dahulu dengan membuka lebar pintu. Meninggalkan Luhan yang berdiri bak kambing dungu di bingkai pintu.

"Kai?" pelan Baekhyun meletakkan sebelah telapak tangannya, mengusap helai poni rambut merah muda Kai yang lembut.

"Euh? Sudah pagi ya hyung?" suara lembut Kai membuat Luhan segera menghampiri ranjang dimana tubuh polos itu berbaring.

"Kai? Kau hidup?" pertanyaan tiba-tiba Luhan dihadiahi pelototan tajam dari Baekhyun.

"Nugu?" bibir penuh Kai berujar lirih sembari mata mengantuknya menatap penuh tanya pada Adken yang tersenyum tipis.

"Dia-"

"Oh iya. Aku bukan dokter yang mengurus check up di ruang inapmu, wajar kau tidak mengenalku. Aku dokter bedahmu, perkenalkan, namaku Luhan" tangan kanan Luhan terjulur untuk menjabat tangan pemuda manis yang sempat menjadi pasiennya.

"Ah, Kim Kai imnida. Terimakasih sudah menyelamatkanku, dokter Lu" disambutnya uluran tangan Luhan dan mereka berjabatan.

"Apa kau lapar, manis?" setelah menarik paksa tangan Luhan yang terlalu lama menggenggam tangan Kai, Baekhyun segera mencubit gemas pipi gemil Kai.

Wajah pemuda belia Kim itu sangat manis ketika bangun tidur seperti sekarang.

"Ya hyung.. aku lapaarr sekali.." kedua mata Kai menatap bak puppy. Luhan yang melihatnya sedikit merona. Berpikir keras bagaimana bisa anak berusia 15 tahun didepannya itu sangat manis?

"Luhan sudah membuatkan pie blueberry. Segeralah mandi, sebelum pienya mendingin" kembali Baekhyun mengusak rambut halus Kai.

Dibawah ranjang, tubuh lelaki dengan topi fedora menatap kosong keatas..

Beberapa bunga mawar terlihat layu..

Air mata darah mengalir dari ujung mata tajamnya..

"Aku akan segera menyusul, hyung" dengan senyuman manis Kai melambaikan tangannya pada kedua lelaki dewasa yang beranjak dari sisinya.

Keduanya kemudian meninggalkan Kai untuk membersihkan dapur.

Beberapa saat hening melingkupi ruangan itu.

Kai sendiri berusaha untuk tetap tenang meski jari-jari kakinya memutih ketakutan.

Beberapa tetes darah mengotori betis kaki jenjangnya.

Tes- Tes—Tes—

"H-hyung? B-bisakah kau tidak menakutiku..?" suara Kai bergetar ketika tetes darah dari atas langit-langit kamar semakin deras.

Jelas Kai tidak berani mendongak.

Tubuhnya terasa kaku, seakan kalau ia nekat lari keluar kamar, ia tidak akan selamat.

Pluks..

Sebuah kelopak mawar merah tua jatuh di pangkuan Kai. Wangi mawar seketika menyebar di ruangan itu. Entah mengapa perasaan Kai menjadi lega.

"Apakah tidurmu nyenyak, istriku?" sebuah suara berat dari belakang membuat perasaan Kai semakin menghangat.

Ia tidak tahu, pertanyaan sederhana itu bahkan terasa seperti perhatian penuh sayang padanya.

"I-iya hyung.. a-aku.." air mata tiba-tiba mengalir dari kedua mata Kai.

"Belum saatnya kau mati, aku akan melindungimu.." suara namja itu semakin membuat air mata Kai mengalir deras. Ia merasa begitu dicintai oleh sosok itu. Terlebih ketika ia merasakan tubuh tegap dingin menyentuh belakang tubuhnya, dan kedua lengan yang melingkari tubuhnya. Memeluknya erat dari belakang dan penuh rasa ingin memiliki.

"Terimakasih.." bibir merah Kai bergumam sebelum ia berbalik dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang yang terbalut kemeja hitam itu.

"Ingat.. aku suamimu.. kau milikku, sayang.." sebuah kecupan mendarat di pelipis Kai. Dingin.

Begitu juga ketika pelukan erat itu terlepas ketika kedua tangan itu beranjak, menyerka anak sungai air mata di pipi gemil Kai.

Kai bisa melihat ketika kedua tangan pucat itu lebih dingin dari sebelumnya, lebih pucat dari sebelumnya, dan dengan garis-garis nadi biru yang mencuat mengerikan, serta kuku-kuku hitam panjang yang tajam.. hanya berjarak satu senti dari kedua binnernya. Mampu dengan cepat kuku itu mencongkel kedua bola matanya. Kapanpun sosok itu mau.

"Suamiku.." ucap Kai bersamaan kedua mata indahnya terpejam ketika merasakan bibir dingin itu mengecup bibir hangatnya yang merah segar.

"Setialah padaku.. istriku.." setelah kecupan ringan itu selesai, kembali Kai merasakan dekapan erat dan aroma mawar merah yang semerbak disekitarnya.

Beberapa kelopak mawar berjatuhan di ranjang itu ketika Kai meremat bahu lebar itu perlahan. Beberapanya tidak lagi merah segar. Melainkan sedikit hitam layu.

Kedua tangan Kai semakin kuat meremat kemeja hitam pada bahu lebar sosok dingin itu. Kedua mata sayu Kai perlahan terbuka.

Ia merasa kalau semua ini semakin janggal. Terlebih perasaan sayang berlebih yang muncul di hatinya..

Dan perhatian yang tersirat diberikan lelaki bertopi fedora yang kini memeluknya posesif.

Seakan semuanya akan segera berakhir..

Seakan..

"Jangan tinggalkan aku.. aku.. mencintaimu.." dengan segala keberaniannya Kai mendongak, menarik tengkuk dingin lelaki pucat dihadapannya, dan mencium bibir tipis itu lebih dahulu.


07. 33 am..

Kai barusaja selesai mandi.

Tubuhnya bersih dengan handuk kecil mengalung di lehernya.

Ia berjalan riang keluar dari kamar dengan kaos hitam dan celana jean pendek selututnya. Rambut merah mudanya yang sedikit basah itu malah membuatnya semakin manis.

Sayup-sayup ia mendengar suara gelak tawa dan bincang-bincang seru di ruang tamu. Kai pikir ada teman Baekhyun hyung yang berkunjung, atau tetangga yang datang.

Tapi semakin dekat, Kai merasa familiar dengan suara itu.

Dua suara berbeda. Lelaki dan wanita.

Membuatnya semakin cepat melangkahkan kedua kaki jenjangnya menuju ruang tamu.

Dan benar saja..

"Dad? Mom?" suara Kai membeo dengan kedua matanya yang berkaca-kaca menatap dua pasutri yang sedang berbicara asik dengan Luhan dan Baekhyun.

Keempat orang yang sedaritadi berada diruang tamupun menengok kearah Kai.

"Kau sudah selesai mandi? Kemarilah" suara tenang Baekhyun mampu menina bobokan hati pemuda Kim yang meluap-luap bahagia bergetar ingin menangis rindu bertemu kedua orang tuanya.

Begitupula dengan kedua pasutri yang kini diam di tempat duduk masing-masing. Menatap putra semata wayang mereka yang ada didepan mereka.

Kai mengangguk dan duduk disamping Baekhyun.

"Kai?" Mr Siwon lah yang pertama kali memanggil nama anaknya.

"Ne, Dad?" air mata Kai akhirnya lolos juga.

Baekhyun segera mengusap pundak mungil Kai. Ia tahu betapa rindunya anak itu selama beberapa hari disini dan melalui berbagai kejadian mengerikan tanpa adanya orang tua disisinya.

"Kau.. baik-baik saja? Aku dan ibumu mencemaskanmu.." suara Siwon sedikit bergetar. Kedua matanya memerah menahan tangis. Sedangkan Mrs Kim Heechul sudah berlinang air mata disampingnya.

"Nak, kemarilah, Mommy sangat merindukanmu" sesenggukan Heechul merentangkan kedua tangannya dan pemuda belia Kim itu segera menghambur dalam pelukan hangat ibunya.

"Neomu bogoshipo.. Mom, Dad" suara tangis Kai teredam pelukan kedua orang tuanya.

Beval dan Luhan memandang dengan sorot mata lembut pada keluarga bahagia didepan mereka. Keduanya jadi merindukan keluarga mereka yang berada dikota.

"Jadi, bagaimana David?" kedua mata Luhan melirik pada Baekhyun yang menyesap susu hangatnya. Mereka memilih untuk bicara berbisik.

Baekhyun tahu, Luhan hendak meminta sarannya apakah sebaiknya ia membicarakan keadaan mati suri Kai semalam atau tidak.

Mereka tidak mau merusak momen keluarga Kim yang berpisah jauh kini bisa berkumpul didepan mereka.

"Hm.. kurasa tidak perlu dibicarakan" diletakkannya kembali gelas susunya yang sudah kandas setengahnya.

"Kupikir juga begitu. Kurasa sudah tenang untuk saat ini" kedua tangan Luhan mengambil gelasnya dan meminum susu didalamnya.

"Ya. Charless Brisshen akan menghilang, cepat atau lambat" kedua mata Baekhyun menyorot pada lorong samping ruang tamu. Dipojokan sana, tubuh tinggi tegap, berbalut kemeja dan jas hitam, bertopi fedora, tenang menatap diam kearah kelimanya.

"Kita anggap keadaan mati suri Kai sebagai mimpi di siang bolong semata" lanjut Beval sembari mengedipkan kedua matanya yang perih terus memandang sosok berkulit putih tinggi yang berpakaian serba hitam itu.

Dan saat ia selesai berkedip, sosok itu hilang. Raib diambil detik waktu.


09 . 30 am..

Hari ini terasa sangat menyenangkan bagi Jongin.

Bangun tidur paginya disambut oleh Baekhyun hyung sekaligus dokter yang menyelamatkan nyawanya di rumah sakit kala itu.

Ditambah kehadiran kedua orang tuanya yang sedang sibuk memasak hidangan besar pagi ini. Beberapa kantung plastik besar terlihat berjajar memenuhi meja makan satu-satunya di dapur.

Mereka sempat berbelanja cukup banyak bahan makanan, saat menunggu badai malam itu sedikir reda.

Pasangan suami istri itu kini terlihat sangat kompak memasak.

Kai dapat dikatakan sedikit iri, bagaimana bisa kedua orang tuanya itu bisa sangat handal memasak, sedangkan dirinya memasak air saja sulit.

Dua mata bulatnya melihat dari celah pintu dapur yang sedikit terbuka, kedua orang tuanya yang terlihat sibuk membuat hidangan utama setelah selesai membuat hidangan pembuka. Ayahnya sesekali menggoda ibunya, dan dibalas dengan senyuman manis dari bibir sang ibu.

Melihat keromantisan itu, Kai membatalkan niatnya untuk memasuki dapur dan memeluk kedua orang tuanya, mengucapkan salam selamat pagi.

Kai menyayangkan jika ia masuk ke dapur dan membuat moment romantis kedua orangtuanya terusik. Sesekali, Kai ingin kedua orang tuanya tidak perlu memikirkan dirinya sebagai anak.

Bagaimanapun juga, kedua orang tuanya akan bersikap dewasa ketika melihatnya. Mereka akan memperlihatkan sikap mereka sebagai ayah dan ibu yang menyayanginya, seolah dimata mereka, hanya ada dirinya untuk disayangi.

Mereka terlalu giat bekerja hingga pulang larut malam demi dirinya. Kapan mereka memikirkan kehidupan mereka? Cinta mereka sebagai pasangan? Kapan terakhir kali mereka berkencan setelah dirinya lahir? Kapan mereka terakhir kali berciuman mesra dan berkata cinta tanpa takut Kai akan mendengar atau melihat? Kapan mereka berbulan madu bulan ini? Sepertinya mereka tidak lagi mementingkan itu semua. Mereka benar-benar mementingkan dirinya sebagai buah hati mereka.

Pemuda Kim itu merasa, ia telah dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang sangat sempurna. Ia selalu bersyukur pada Tuhan untuk satu hal ini.

"Kai?" suara lelaki dibelakang pemuda Kim itu hampir saja membuatnya memekik.

Segera Kai memutar tubuhnya kebelakang dan mendapati hyung tampan berrambut ungunya itu tersenyum ramah padanya.

"Hyung kenapa tinggi sekali? Aku jadi paling pendek sekarang.." Kai menggerutu sembari bergelayut manja pada lengan Beval.

"Itu karena kau baru 15 tahun. Wajar anak 15 tahun sependek kau. Kalau kau sudah lebih dari dua puluh tahun, kau akan setinggi aku" jemari lentik Baekhyun mengacak surai merah muda Kai yang sedikit mulai panjang. Beberapa hampir menutupi kelopak mata sendu indahnya.

"Hyung mau kemana?" kedua mata sayu Kai mengamati dandanan Baekhyun yang biasa, tetapi lelaki tampan bak boneka barbie itu kini memakai celana selutut, jaket hitam dan topi.

"Mengantar Dokter Xi pulang" kembali diusaknya rambut Kai. Ia paling tidak kuasa kalau Kai sudah menatap polos seperti itu. Pemuda Kim itu sangat menggemaskan.

Dilangkahkan kakinya kembali menuju pintu utama. Niat awalnya ia kebelakang karena ingin menengok keadaan Kai yang katanya ingin ke dapur. Hanya itu saja. Beval sedikit was-was jika kejadian yang sama terulang kembali.

"Sampai ke kota? Itu lama sekali hyung" diluar dugaan, ternyata Kai menyusul langkahnya dan kini beriringan.

"Tentusaja tidak, manis. Aku hanya mengantarnya sampai depan. Dia kan bawa mobil sendiri semalam" keduanya berhenti setelah sampai di ruang tamu.

Kai mengerutkan keningnya.

"Bawa mobil sendiri? Kenapa aku tidak dengar?" bibir penuh merah itu bergumam. Sedang Beval berusaha diam saja. Berharap Kai tidak bertanya apa yang terjadi semalam.

"Yo. Aku sudah selesai berkemas" terlihat Luhan duduk di salah satu sofa ruang tamu. Ia masih berpakaian sama seperti semalam, tetapi wajahnya sudah lebih fresh terutama wangi tubuhnya. Ia menumpang mandi dirumah ini rupanya.

"Baiklah. Kuantar kau sampai mobilmu" Beval mengangkat kardus milik Luhan. Sedangkan sang pemilik berjalan santai bak bos. Hanya membawa jas dokter dan jaketnya.

Kai tidak ikut keluar menapak pada salju putih dengan sepatu boot kuningnya. Ia hanya berdiri diambang pintu utama, mengamati hyung tampannya dari jauh. Ia masih kedinginan. Sedikit heran karena ujung kakinya terasa kebas sejak bangun tidur tadi.

Ia hanya tidak tahu saja, jika itu adalah sebagian kecil efek dari kematiannya semalam.


10 . 21 am..

"Hyung.." akhirnya suara lembut Kai memecahkan keheningan yang tercipta diantara keduanya.

"Apa?" kedua tangan Adken masih memegangi papan pendorong khusus pembersih salju yang tadi ia dapatkan di bagian samping luar rumah. Altar depan rumah sudah setengahnya bersih dari tumpukan tebal salju putih, jadi Kai bisa berjalan-jalan tanpa takut terpeleset.

"Kenapa Luhan hyung pulang sebelum makan pagi? Apakah disini itu bukan termasuk sikap tidak sopan? Kalau di Korea, tidak pamit pada orang tua dan tidak makan sebelum pergi itu termasuk tidak sopan" rambut halus Kai bergerak bersamaan dengan gelengan pelan kepalanya.

"Haha, dia memang tidak sopan sejak di universitas" jawaban Baekhyun tidak menuntaskan penasaran Kai. Terlihat dari ekspresi mencebik yang tergambar di wajah pemuda tan berumur 15 tahun itu.

"Tapi bukan itu kok. Rumah sakit besar tempat kau sempat menginap itu barusaja menelfonnya. Ada cukup banyak pasien yang harus ditanganinya hari ini. Kalau tidak sempat, mungkin dia tidak pulang dan langsung ke rumah sakit" segera Baekhyun menambahkan.

"Beval? Dimana Dokter Luhan?" lelaki cantik berusia 36 tahun itu berada diambang pintu. Ditangannya terdapat selimut tebal berwarna biru dengan beberapa gambar beruang coklat.

"Dia sepertinya langsung ke rumah sakit. Ia mendapat panggilan praktik operasi tadi" dijawab dengan sopan dan didorongnya lembut pundak Kai.

Kai hanya menurut, berjalan menuju ibunya.

Benar saja, Mrs. Kim segera membungkus tubuh mungil Kai dengan selimut tebal bermotif beruang itu.

"Untukku, Mom?" Kai mendongak. Ia tampak mungil dalam balutan selimut tebal. Selimut itu terlihat baru. Mrs. Kim seperti membelikan khusus untuk Kai.

"Iya, lain kali kalau keluar pakailah jaket" ibu itu menggiring tubuh Kai kedalam dekapan hangatnya, lalu mengajak Beval ikut serta menuju ruang tamu.

Disana, Mr. Kim sudah menunggu bersama beragam hidangan lezat yang tertata rapih diatas meja.

Sarapan pagi kali ini terasa sangat menyenangkan. Meskipun keluarga Kai termasuk keluarga konglomerat yang kaya raya, tetapi bukan berarti mereka kolot. Beval awalnya tercengang, mereka bisa bergurau dan bercerita selama makan berlangsung, keluarga ini sungguh sederhana dan harmonis.

"Adken, bagaimana kuliahmu?" Mr. Kim bertanya dengan senyum tipisnya. Melihat itu, Baekhyun jadi teringat dengan ayahnya.

"Lancar, sebentar lagi saya ikut praktikum lapangan sebulan" bibir Baekhyun tersenyum ketika Mrs. Kim menaruhkan lauk lagi di piringnya.

"Kau harus makan banyak, sebulan itu lama loh.." Mrs. Kim mengusap pundaknya lembut. Kalau sudah begini, ia jadi benar-benar merindukan kedua orang tuanya di kota.

"Hyung akan pergi sebulan? Hyung tidak kasihan padaku?!" rengekan Kai membuat sebelah alis Baekhyun naik.

"Hm? Bukankah kau juga akan pulang bersama kedua orang tuamu?" diusaknya rambut peach Kai yang halus itu.

"Tidak, hyung. Daddy dan Mommy akan ke Delhi, ke Washington, lalu ke Darwin untuk bisnis. Mereka tidak mungkin membawaku. Karena aku jetlag untuk perjalanan jauh dan berpindah-pindah cepat seperti itu" anak Kim itu semakin cemberut dan memalingkan wajahnya dari Adken.

"Benar apa kata Kai, kami tidak tega membawanya berpindah-pindah negara setiap harinya. Ia masih kecil dan butuh banyak istirahat untuk tumbuh kembangnya. Untuk sementara waktu, Kai akan tinggal disini" Mr. Kim memeluk anaknya, ia merasa bangga, Kai mau mengerti akan keadaan keduanya.

"Bukankah terlalu berbahaya? Saya jelas tidak bisa kemari selama sebulan karena praktikum di salah satu rumah sakit di pusat kota. Apa tidak sebaiknya Kai mendapat tiket penerbangan kembali ke Korea? Terlebih ia sudah beberapa bulan tidak masuk sekolah.." diliriknya anak Kim yang kini kian cemberut setelah ia mengungkit soal sekolah.

Oh, ayolah.. anak seumuran Kai itu sedang dalam masa malas-malasnya sekolah. Bosan sekolah. Mereka belum tahu betapa pentingnya sekolah dan ilmu yang akan didapatkan.

"Kai biasa ikut homeschooling sejak kecil sampai junior high school. Kami berusaha memasukkannya ke formal school beberapa tahun ini, dan kurasa.. Anakku yang manis ini memang belum terbiasa? Manja.." Mrs. Kim mencubit pipi gemil Kai. Anak itu makin manis setelah menggembungkan pipinya.

"Mom, bisakah aku lebih lama disini? Aku tidak mau di Korea. Sepi. Sekolah juga membosankan. Disini aku mulai terbiasa, aku akan tetap menunggu Baekhyun hyung meski berbulan-bulan lamanya.. boleh kan, Mom?" Kai merengek manja memohon pada ibunya.

"Tapi tinggal disini cukup sepi dan berbahaya, Nak. Bagaimana kalau kau tinggal di mansion kita yang ada di Paris? Disana ada beberapa maid dan tangan kanan ayah yang bisa menjagamu 24 jam" Siwon menepuk pundak anak semata wayangnya.

"Tapi Dad.." kedua mata pemuda Kim itu memelas layaknya puppy.

"Benar kata ayahmu, Kai. Aku tidak bisa menjagamu atau sekedar menengok, karena aku pasti dapat jadwal jaga cukup sering. Mengingat rumah sakit pusat sangatlah besar" jemari tangan Baekhyun menyodorkan garpunya yang terdapat irisan daging panggang empuk pada Kai. Anak manis itu segera membuka mulutnya dan melahap daging suapan itu.

Membuatnya tidak bicara selama mengunyah. Mr. Dan Mrs. Kim tersenyum melihat Kai yang terjebak. Ia jadi tidak bisa merengek lagi selama mulutnya penuh.

"Apa ada yang punya ide lain?" Mr. Kim memandang Beval dan istrinya. Sedangkan Kai sibuk meminum susu coklat kesukaannya setelah haus akibat mengunyah daging cukup besar tadi.

"Bagaimana kalau rumah ini disewakan?" usul Mrs. Kim ternyata mendapat tatapan tidak percaya pada ketiga yang lain.

"Hei, kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa aku salah? Hehe" Kim Heechul tersenyum polos berusaha mengurangi kecanggungan dan tatapan aneh padanya itu.


12 . 34 pm..

Kai memakai pakaian bahan rajutan wol hangat berwarna merah muda yang serasi dengan rambutnya dan celana jean putihnya. Beannie hitam dikepalanya membuatnya semakin manis. Ia berdiri di gerbang pintu masuk bandara internasional di Portugal.

Barusaja lima menit yang lalu, pesawat yang mengantar kedua orang tuanya take off dari tanah yang berhadapan langsung dengan Lautan Atlantik ini.

Disampingnya, Baekhyun masih berdiri diam. Mengamati beragam ekspresi yang mungkin saja tercipta di wajah pemuda belia Kim itu.

Apakah Kai sudah biasa? Orang tuanya pulang malam, baru bertemu paginya dan siangnya sudah pergi lagi.

"Hyung, jangan tatap aku seperti itu.. aku kan anak mandiri" bibir Kai mengulas senyum tipis yang manis saat ia memergoki Baekhyun menatapnya intens.

"Eo? Why? Siapa yang menatapmu? Percaya diri sekali.. lagipula, mandiri apanya? Bukankah kau anak yang sangat manja padaku?" jemari lentik Baekhyun menjahili tubuh Kai. Memberikan beberapa gelitikan yang membuat anak tan manis itu tergelak dan berakhir mereka kejar-kejaran menuju parkiran bandara dimana mobil Baekhyun terparkir.

Keempatnya sempat mengembalikan mobil yang dikendarai Mr dan Mrs Kim kembali ke tempat penyewaan mobil, barulah Mr dan Mrs Kim diantar Adken ke bandara, bersama Kai yang terlihat senang dududk di kursi sisinya.

Anak itu baru pertama kalinya melihat bandara internasional negara ini.

Kini mobil Beval terasa sepi. Tidak tahu, mereka hanya berdua dan terasa canggung.

"Hyung.."

"Kai.."

Mereka memanggil bersamaan. Membuat keduanya saling bertatapan.

Pluks..

Beannie hitam pada kepala Kai jatuh begitu saja, membuat rambut peach Kai sedikit berantakan tapi indah.

Sejenak terjebak keduanya diantara binner indah yang saling menghipnotis.

Tanpa sadar, Baekhyun semakin mencondongkan wajahnya mendekati Kai. Kedua mata tajamnya meredup melihat tepat pada bibir merah Kai yang terlihat lembut dan segar.

"H-hyung.." kurang satu kilan lagi, tapi Kai segera memegang bahu kokok Baekhyun. Berusaha menahannya. Deru nafas lelaki matang itu benar-benar terdengar berat.

Kai bahkan merasakan panas disekelilingnya padahal udara diluar sangat dingin dan bersalju, terlebih, pemanas mobil ini belum dinyalakan sejak mereka menghantar ibu dan ayahnya sampai ke dalam bandara, bahkan menunggui hingga pesawat itu pergi.

"Kai.." suara Baekhyun menjadi serak. Ia penjarakan tubuh mungil Kai dalam kurungan kedua lengannya. Kai semakin mundur dan berakhir menyandarkan tubuhnya pada sisi dalam pintu masuk.

Tubuh Adken semakin panas, ia merasa semakin ingin menyentuh pemuda bersurai merah bunga sakura dalam kungkungannya itu.

"Adken hyung.." lirih suara Kai ketika hidung Beval mulai menyentuh leher jenjangnya. Hidung mancung Baekhyun bergerak perlahan, mengendus aroma bunga mawar merah yang ada pada tubuh Kai. Sesaat kemudian, Baekhyun merasakan sekitarnya menjadi sangat dingin. Hidungnya yang menyentuh leher jenjang Kai kini serasa menyentuh dinginnya dinding es.

Kedua mata tajam Beval akhirnya mau tidak mau membuka setelah merasakan keganjilan tersebut.

Begitu terkejut Baekhyun melihat leher dihadapannya menjadi putih pias dengan beberapa pembuluh hitam darah membusuk. Aroma mawar merah semakin menyengat menusuk indra penciumannya.

Baekhyun segera mengambil jarak cukup jauh dan tercengang melihat sosok didepannya kini bukan lagi Kai.

Melainkan seorang lelaki berkulit putih, tatapan tajam, bibir tipis, pakaian serba hitam, dan rambut cepak yang ditutupi oleh sebuah topi fedora.

"Kau telah lancang menyentuh istriku.." suara berat lelaki itu tak sempat dicerna seutuhnya oleh Adken yang diliputi takut dan kaget secara bersamaan.

"K-kau.. Charless Brisshen.. kau harusnya sudah mati sejak kehilanganmu!" teriakan Adken tidak membuat Charless merubah ekspresinya sedikitpun.

"Ya.. aku sudah lama mati.. demi keabadian.. demi menemui istriku.." pembuluh darah hitam pada tubuh Charles semakin menonjol dan terlihat mengerikan ketika nampak pada wajah tampannya.

"K-kau iblis! Pergilah!" Baekhyun mengusir tapi dirinya sendiri juga hendak kabur keluar dari mobil. Atmosfer dalam mobil telah membuatnya menggigil. Ia seperti diceburkan kedalam kolam es.

Cklek! Cklek! Cklek! Cklek!

Baekhyun dapat mendengar suara pintu mobilnya yang terkunci semuanya secara tiba-tiba.

"God! Aku akan mati disini! Someoene just help me!" kedua tangan Baekhyun berusaha tetap membuka dan sesekali memukul kencang kaca pintu, entah berusaha memecahnya atau memberikan pertanda pada setiap orang yang lalu-lalang di parkiran airport ini untuk mendekat dan membantunya.

Nihil.

Adken memutar kepalanya kebelakang, mendapati lelaki dingin itu masih duduk tenang menatapnya tajam.

Ini gila. Ia dihadapkan oleh seseorang yang telah mati dalam satu ruang mobil yang sama. Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang ingin dekat dengan mayat hidup atau segala jenis penampakannya dalam jarak seminim ini dengan aura membunuh yang dingin membekukan jemari kaki dan tangannya.

"Kuperingati kau sekali lagi.. jangan sentuh Kai.." bibir tipis Charless Brisshen bergerak menyuarakan kalimat yang terasa seperti ancaman dan perintah mutlak.

"Tidak ada makhluk tak bernyawa yang bisa memiliki makhluk hidup! Park Chany-" dengan segala kekuatannya Baekhyun berusaha menyangkal keadaan mengerikan ini. Ia berharap ia segera tersadar dan menemukan Kai kembali duduk di sisinya.

BRUGGGHHH!

"Aaaaarrrrggghh!" sebuah pukulan amat keras menimpa ubun-ubun Baekhyun layaknya dijatuhi seratus kilo. Kepalanya serasa pecah.

Lamat-lamat kedua mata Baekhyun yang terpejam menahan sakit itu terbuka. Semua yang sebelumnya buram kini semakin menjadi jernih.

Diedarkan pandangannya ke berbagai penjuru ruangan sempit ini. Ah.. ia masih berada di dalam mobil.

Sejauh mata memandang, ia hanya dapat melihat langit-langit mobilnya dan sepasang kaki yang familiar baginya.

Diliriknya tubuh itu. Sepatu hitam, celana jeans pendek selutut, jaket hitam.. dan pandangan Baekhyun semakin naik untuk melihat siapa sosok itu.

DEG!

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRGGGGGGGGGHHHH!" suara teriakan Baekhyun tiba-tiba terdengar. Begitu memekakkan bagi siapapun yang mendengar.

Kedua matanya melotot melihat tubuh yang sedari tadi dilihatnya.

Tubuh itu utuh, tetapi lehernya dipenggal begitu rapih, dengan kepala yang menggelinding entah kemana.

"God.. sakit.." rintihan Baekhyun sedikit hilang. Ia merasa udara yang ia hirup langsung keluar begitusaja, membuat pita suaranya sedikit sengau.

Baekhyun merasakan rasa sakit yang diderita tubuh itu. Sangat sakit.

Karena..

Tubuh itu adalah tubuh dari seorang Byun Baekhyun.

Tubuhnya sendiri.

Dan Baekhyun baru menyadari, kalau kini ia berada di kolong bawah dashboard mobil, melihat hanya dengan kepalanya yang menggelinding.


-TBC-

Eat This Rose


BocahLanang Fanfict..

Thanks for all review in ch 8:

Xinger XII, Athiyyah417, Oxe, roliepolie124, Vianna Cho, ParkDyobi, ariska, saya sayya, elidamia98, ismi. ryeosomnia, Ziyuu Exol988, egggyolk, kaikasoo8812, najmarsy9488, chanta614, Cho Hunjo, kaila, zyjizhang, wijayanti628, oxehun, liaoktaviani. joaseo, Dodomppa, ulfah. Cuttybeams, My Love Double B, iqlimaputrih, tokisaki, ohkim9488, Lkimkaaaaaa, NisrinaHunKai99, pinkupinkujjanggu, cute, novisaputri09, apple27

.

.

.

Readers: BocahLanang! Kenapa sih kok FF ini serasa lambat banget jalannya? Padahal ide pokok ceritanya cuma 53 baris.. kok sampe sembilan chapter blom selesai? Dan ini Sehunnya dimana?

BocahLanang: ehem.. hehe.. iya-ya? Padahal Cuma 53 baris.. kok bisa ya? Padahal inti ceritanya baru mau mulai.

Readers: itu ortunya Kai kok langsung pulang? Gimana nih? Jahat banget gak ada momment ortu anak?

BocahLanang: itu untuk mempersingkat cerita. Bagaimnapun juga, di ch ini BocahLanang berusaha bikin sepadet mungkin: Luhan pulang, Ortu Pulang, Baekhyun Diancam Charless, dan Pamitan Baekhyun. Pokoknya di CH kedepan, Baekhyun sama Luhan kayaknya udah mulai jarang keluar deh.. tinggal HunKai sama ChanKainya.

Readers: Woy! Woy! Ini Krisnya mana?! Masa' dia cuma dikasih peran sms Baekhyun doang?! *protes

BocahLanang: Kris bakal dateng kok.. tnang aja, ehehehe

.

.

.

So.. Jangan lupa review ya all, biar BocahLanang bisa tahu harus munculin sudut pandang dan ngejelasin semua pertanyaan yang ada di otak benak pikiran para readers HunKai shipper sekalian yang udah masuk FAMILY... apalagi genus dan spesies gue.. hehe

Gomawo ^^

Salam HunKai Shipper!