First Love ( Early Marriage )
.
.
Hari ini Siwon ikut dengan kami ke rumah kami, mau ngapain coba, tumben banget juga ini beruang mesum bolehin, tapi Siwon ke rumah kami dengan mobilnya sendiri, padahal tadi Siwon ajak bareng, tapi Yunho menolaknya.
"Si kuda ngapain Yun ke rumah?" tanya ku kembali KEPO, wajar O itu kepo keuleus.
"Kuda?"
"Siwon."
"Ck! Semua orang ada panggilan unik darimu ya? Bebek, Jidat, rakus, mak lampir." Bener juga sih, ahaha abis reflex sih.
"Itu panggilan sayang tau." Yunho pun mendelikan matanya
"Lalu untukku?"
"Beruang mesum." Ujar ku polos, oke, paman Yoo supir kami sudah tertawa mendengarnya, sementara Yunho hanya mendengus sebal, ih ambekan deh.
"Ayyooo kasih tau Yun, kasih tau." Manjaku, sambil menarik-narik lengannya.
"Nanti kau juga tau."
"Ahhh maunya sekarang, kasih tau kasih tau." Gimana ini, udah pake jurus apapun Yunho masih tidak mau kasih tau, aduh sumpah aku penasaran ni. Akhirnya kami sudah sampai di rumah, Mobil Siwon sudah ada di belakang mengikuti kami, Yunho merangkul pinggangku yang sudah sedikit membesar, duh mulai dah posesifnya. Kami pun masuk kedalam, di ikuti Siwon pula. Yunho menyuruh Bibi Lee memanggil Kibum, nah loh ada apa-apa ini pasti, aku menatap Siwon yang sedari tadi menunduk. Tak berapa lama Kibum turun.
"Ada apa hyung?" tanyanya pada Yunho.
"Duduklah." Aduh kok ini Beruang sok tua banget ya sifatnya. Kibum pun duduk bersebrangan dengan Siwon, sesekali aku perhatikan mereka saling melirik, aduh anak muda jaman sekarang ya, mainnya mata, wkwkw, lah terus aku anak muda jaman kapan dong?
"Siwon ingin bicara padamu, aku dan Jaejoong akan tinggalkan kalian berdua, semoga kalian bisa mengambil jalan terbaik." Duh sok bijak banget sih Yunho ini, jangan dong di sini aja biar aku tau.
"Ta-.." aku mau menolak tetapi aku kembali di lirik tajam oleh Yunho, itu tatapan seram jadi andalan bagetlah. Yunho pun menarik tanganku untuk meninggalkan Kibum dan Siwon berdua, yah ga asik ni, Yun aku nguping ya.
"Yun ada apa sih sebenarnya?"
"Aku ceritakan dikamar nanti, tapi janji, jangan jadi gajah ngamuk setelah ini." apaan? Gajah?
"Gajah? Menghina banget ya mentang-mentang badanku mulai bengkak." Yunho hanya terkekeh.
.
.
Normal Pov
Siwon dan Kibum hanya diam saja sedari tadi, Kibum hanya tertunduk, ia sendiri pun bingung harus berbicara apa. Padahal mah bicara gampang cuma aja kondisi yang ga mendukung.
"Hm, Kibum-ah." Ujar Siwon memulai pembicaraan
"Ya." Jawab Kibum singkat, padat, dan jelas.
"Aku minta maaf atas kejadian sebulan lalu, itu semua di bawah kesadaranku, aku mencarimu selalu setelah itu." Kibum hanya terdiam dan menggigit bibir bawahnya, coba ini Jaejoong pasti udah pose seksi biar di terjang Yunho, waks.
"Tidak apa, aku juga berterima kasih padamu hyung, jika tidak ada kau, tubuhku sudah di lecehkan teman-temanku."
"Tapi, aku pun-.."
"Sudahlah hyung kejadianku dan dirimu sudah berlalu, kita sama-sama tidak menyadarinya, aku tidak menuntutmu." Kibum menghela berat nafasnya.
"Karena aku hidupmu susah, aku tau dari Yunho kau di usir, dan kau pun sedang hamil, apa itu anakku?" tanya Siwon, Kibum pun mengangguk.
"Ya hyung, ini anakmu, tapi tenang saja, aku tidak akan memberitahu siapa pun, kau masih perlu bersekolah, aku tak apa, lagi pula, aku sudah dapatkan tempat tinggal dan pekerjaan."
"Kibum, jangan hadapi masalah ini sendiri, aku ikut andil dalam hal ini, kita temui orang tuamu bersama, aku akan pertanggung jawabkan semuanya."
"Sekolahmu?"
"Tak akan ada yang tau, aku akan jelaskan ini semua pada orangtuaku, aku yakin mereka bisa mengerti." Kini Siwon menghampiri Kibum, ia pun menggenggam tangan yang putih mulus tersebut, Kibum tersenyum kemudian.
.
.
Jaejoong Pov
APPPAAAAAAAAAAAA?!
Yunho menceritakan semuanya tentang hubungan Siwon dan Kibum, sumpeh loh? Aduh rasanya tangan gatel banget pengen nonjok tuh kuda.
"Jae, tenanglah. Biarkan mereka selesaikan berdua, jangan ikut campur." Kalau bukan Yunho menahan tanganku, aku sudah berlari kebawah dan mencakar habis Siwon saat ini juga, bisa-bisanya dia lakukan ini pada sepupuku.
"Yun! Pokoknya aku harus mencakarnya. Kalau kau anggap ini karena aku marah, yaudah anggap ini bawaan baby! Kau tidak mau bukan baby kita lahir dengan ngeces, duh amit-amit." Yunho hanya menghela nafasnya
"Jangan jadikan semua kehendakmu itu bawaan baby sayang." Ih, tau aja sih ini orang.
"Tapi."
"Baiklah, kita turun, tapi jangan emosi, kau sedang hamil, okay?" aku pun mengangguk pasrah, tapi ga janji ya. Yunho mengecup sekilas bibirku, aku hanya meliriknya malas kini.
"Senyum dong." Ujarnya, ngerayu ni yeee. Yunho mengajakku turun ke bawah kini, oke, kita lihat Siwon dan Kibum yang sedang bicara bersama, dan lagi itu ngapain si Kuda megang-megang tangan Kibum.
"Ekhem." Aku mengganggu aktivitasnya, maaf ya di sini yang boleh mesra-mesraan cuma aku dan Yunho aja, Siwon melepaskan tangan Kibum, aku lihat Yunho tersenyum, aku tau ni yang ada di otaknya, 'syukurlah Siwon sudah tidak menjadi orang yang aku waspadi.' 100 % pasti itu yang dia fikir. Aku menghampiri mereka kini, mereka hanya menunduk, kok aku udah kayak emak-emak yang mau ngomelin anaknya aja ya -_-.
"Jadi kau pelakunya?" ujarku, Siwon pun hanya menunduk, aku lihat Kibum menggenggam erat tangan Siwon, aduh, pliisss jangan lovey doveyan di depanku, jadi pengen ni.
"Ya." Ujar Siwon
"Bukan sepenuhnya salah Siwon hyung, hyung." Kibum membelanya, duh sudah sampai mana hubungan mereka? Yunho menghampiri dan mengusap bahuku kini.
"Aku sudah meminta maaf Jae, aku pun akan pertanggung jawabkan semuanya." Aku hanya melihat kesal kini terhadap Siwon, dasar cowok ya! Lupa -_- disini aku cowok juga, ganti. Dasar Seme ya!.
"Untung saja Yunho dan Kibum membelamu, coba kalau tidak! Punyamu sudahku potong sampai habis!" oke sekarang aku mendapat lirikan tajam dari Yunho dan Kibum, salah ngomong kah?
"Jangan bicara yang bukan-bukan Jae. Masalah mereka sudah selesai, tinggal keluarga mereka yang harus mereka hadapi kini." Aku rasa Yunho ada benarnya juga, toh mau aku bagaimana juga, yang terbaik untuk Kibum kali ini hanya Siwon. Aku menatap mereka berdua kini.
"Siwon, apa kau benar mau menikahi Kibum? Jika keluargamu menolak bagaimana?" tanyaku, okelah kini Yunho dan Kibum menatapku, kenapa? Ini pertanyaan benar bukan?
"Aku akan berusaha agar mereka menyetujuinya Jae, bagaimana pun aku tidak mau anakku lahir tanpa sosok ayah." Wwaahhhh jawabannya keren bingo lah, aku pun mengangguk.
"Yasudah, aku mendukung kalian, semoga Tuhan selalu melindungi kalian." Siwon dan Kibum pun tersenyum, kini Yunho merangkulku dengan riang.
"akhirnya." Ujar Yunho, aku pun melirik Yunho kini.
"Apa?"
"Lawan ku berkurang satu." Checkmate, sudah ku tebak, Jung Yunho, jadi kau membantu Kibum dan Siwon, ini alasannya? Aigoooo. Siwon tidak mau mengundur waktu, hari ini juga ia membawa Kibum ke rumahnya, semoga kau membantu mereka ya Tuhan, amin. Hahhh tidak aku sangka ya, Kibum bisa bertemu Siwon dengan cara seperti ini, emang ya, Jodoh itu mah kagak kemana, buktinya aku dan Yunho, sampai sekarang aku juga tidak percaya aku dan Yunho menjadi Suami-Istri, dan apalagi kini ada buah cinta kami, aaakkkk rasanya tuh mau teriak seneng dah.
.
.
First Love ( Early Marriage )
.
.
Malam ini Kibum belum juga pulang, mana tidak ada kabar, ya kali Siwon culik dia.
Ddrrtttt
Ponselku bergetar, ya ini dia yang aku tunggu, Kibum menghubungiku, aku pun langsung menerima panggilan tersebut.
"Bummie, udah dimana? Kok belum pulang?" tanyaku
"Yang benar lagi dimana hyung." Ck! Anak ini ya, sempat-sempatnya memprotes ku.
"Ya, maksudku itu."
"Aku di rumah, tadi sehabis dari rumah Siwon hyung aku langsung menemui appa."
"Terus gimana?"
"Dari pihak keluarga Siwon hyung tidak ada masalah, tapi tadi saat Siwon hyung berbicara dengan Appa, sedikit ada masalah, tapi untungnya semua beres, lusa kami menikah hyung." Aku mendengar Kibum sangat riang, rasanya ingin berteriak dan lompat-lompat, tetapi sebuah tangan melingkar di perutku kini, dan lagi ada kecupan-kecupan lembut pada bahuku.
"Bummie, sudah dulu ya, Yunho mengganggu. Bye, aku senang mendengarnya." Aku segera memutuskan komunikasi, dan aku melirik Yunho kemudian.
"Mereka mendapat lampu hijau." Kekehku, Yunho pun tersenyum. Aduh manis banget ya suamiku kalau senyum, diabetes nih lama-lama.
"Sudah malam, Kibum pun sudah menghubungimu, ayo tidur." Ujarnya, aku pun mengangguk.
"Gendong." Manjaku, Yunho pun terkekeh, dengan cepat ia mengangkat tubuhku dan merebahkannya ke kasur yang empuk, nyaman banget lah pokoknya. Yunho di sampingku kini dan melihatku tanpa berkedip, kenapa? Terpesona ya? Ahahha.
"Aku tampan ya? Sampai kau terpesona begitu." Yunho mengecup bibir ku sekilas.
"Kau cantik." Ya, ya, kapan Yunho akan mengakui aku tampan, sepertinya itu mustahil.
"Tidurlah, ini sudah cukup larut." Yunho mengecup keningku dengan sangat lembut, ah ini lah yang sangat aku sukai, Yunho yang begitu hangat. Aku menggangguk, mataku pun terpejam, sementara Yunho membelai lembut rambutku.
.
.
Keesokan harinya, kami sudah sampai di Sekolah, tidak ada mak lampir atau siapapun kan? Hari ini aku malas melihat wajah-wajah mereka, ya yang niatnya hanya untuk menggoda Yunho. Yunho menggenggam erat tangan ku, duh sifatnya yg sangat protect ini membuatku terkadang senang, loh? Jelaslah, itu tandanya Yunho mencintaiku bukan? malah sangat mencintaiku. Aku tersenyum melihatnya kini.
"Aku mencintaimu Yun, sangat, sampai kapan pun. Pokoknya lop yu pul lah"
"Aku lebih mencintaimu Jae." Oke, lihatlah mukamu kini seperti tomat Jae. Saat tiba di koridor seorang pun menghampiri kami dengan wajah yang benar-benar cemas.
"Y-yun, t-olong." Ujarnya dengan nafas terengah-engah seperti habis melihat hantu, ya kali ada hantu pagi-pagi begini.
"Apa?" tanya Yunho, jujur aku pun sedikit bingung.
"Jong In dan Min seok berkelahi, mereka ada di ruang organisasi sekarang, aku tak mau mereka sampai di ketahui guru, tolong Yun pisahkan mereka."
"APA?!" Yunho pun segera berlari, tapi sebelumnya Yunho melarangku ikut di karenakan situasi di sana bisa berbahaya untukku, yah ga asik, sepertinya melihat orang berkelahi itu menyenangkan, ahaha, tapi perasaanku tidak nyaman begini ya? Ya Tuhan, lindungi Yunho. Aku berjalan menuju kelas, hahhh mengapa posisi kelasku tidak di lantai satu saja, menaiki tangga dengan kondisi hamil ini sangat melelahkan pemirsa, ayo sayang kita pasti sampai, ujarku dengan mengusap perutku, sampai di pertengahan aku pun bertemu Ahra, jujur ya males nyebut namanya, apalagi kini ia sudah berkacak pinggang layaknya pemilik sekolah ini.
"Ck!" decakku kesal.
"Kim Jaejoong, kau sungguh tidak menyerah ya, jangan dekati Yunho! Yunho itu milikku!" aku hanya memutar bola mataku karena bosan dengan ucapannya. Habisnya itu mulu yang ia katakan.
"Dihh, mimpi? Yunho sudah jelas-jelas mencintaiku. Sudahlah menyerah saja, Yunho tidak akan melirikmu."
"Kurang ajar!" Aku lihat dia sangat kesal, bahkan kini ia sudah menamparku, duh, coba cowok, udah aku tinju ni orang, sayang nya dia…..
"Aku angkat tangan jika Yunho tau perlakuanmu ini. sudahlah, aku tidak mau terlambat masuk, Yunho akan marah." Aku pun mulai melanjutkan perjalananku, tapi…
Sreeettt…
Ahra menarikku, aku kehilangan keseimbanganku dan terjatuh.
"Aaakkkk." Aku hanya bisa meringis memegang perutku kini.
Sakit.
Ini sangat sakit.
Yun, aku membutuhkanmu. Aku tidak pedulikan jeritan dan orang-orang yang mengelilingiku kini, rasa sakit ini lebih mendominan.
.
.
Yunho Pov
.
Brengsek, murid itu sengaja mengerjaiku, gara-garanya aku harus membiarkan Jaejoong sendirian, ck! Aku tidak pernah membiarkan Jaejoong sendiri tanpa adanya Seunghyun, Yoochun, atau Junsu. Sial, ini semua pasti sudah di rencanakan, semoga tidak terjadi apapun. Aku melihat Boa noona berlari ke arahku kini.
"Yun, Jaejoong!"
Deg
Perasaanku sungguh tidak nyaman.
"Ada apa?"
"Jaejoong terjatuh dari tangga, seseorang melihat ia sempat ribut dengan Ahra." Fikiranku pun sungguh kacau kini, aku segera berlari untuk menemui Jaejoong, aku berharap tidak akan terjadi apapun dengan Jaejoong dan bayi kami, aku melihat Jaejoong sedang merintih memegangi perutnya, tau apa yang ku rasa? Perih, air mataku pun mulai terjatuh, aku menghampiri Jaejoong yang merintih, Keningnya pun terluka, aku tak mau mencari pelaku dalam hal ini, aku hanya ingin berlari dan membawa Jaejoong ke rumah sakit saat ini juga. Aku membopong Jaejoong yang terus meringis.
"bertahanlah sayang, ku mohon."
"Hikss, sa-kit Yun."
Aku pun memakai mobil Sekolah dan segera membawa Jaejoong ke rumah sakit, fikiranku sungguh kacau, aku benar-benar tak akan memaafkan orang yang berlaku ini pada keluargaku. Tidak cukup lama aku sudah sampai di rumah sakit, Jaejoong segera di bawa ke ruang UGD, ya Tuhan, selamatkan Jaejoong dan bayiku, hanya itu yang aku inginkan.
Ddrrtttt
Ponselku berbunyi, Umma, aku rasa pihak sekolah mengabarkan hal ini, aku pun segera menerima panggilan tersebut. Aku tarik nafas, air mata ku sudah banyak berlinang kini.
"Yun, ada Siwsa yang mencelakai Jaejoong? Apa itu benar?"
"Ya, Umma, Yunho sedang di rumah sakit kini, hiks, Yunho takut Umma." Aku benar-benar takut hal buruk terjadi pada Jaejoong kini, air mataku sungguh tidak bisa berhenti.
"Sabar sayang, Umma dan Appa akan ke Rumah Sakit sekarang, berdoa yang terbaik untuk Jaejoong dan bayi mu ya." Aku pun mengangguk, Umma memantikan komunikasi kami, tak berapa lama Dokter pun keluar.
"Dok, bagaimana kondisi Istri dan anak saya." Aku sangat berharap tidak terjadi apapun, aku mohon tuhan.
"Jadi anda Suaminya? Kita harus segera lakukan operasi, salah satu bayi anda sudah tidak bernyawa, untuk keselamatan Pasien dan salah satu bayinya kita harus melakukan operasi." Rasanya seperti ada batu yang menghantam dadaku kali ini? aku harus kehilangan salah satu bayiku, tanganku pun mengepal keras, aku tak akan membiarkan pelaku yang membuat Jaejoong seperti ini tenang. Karena dia aku harus kehilangan salah satu bayiku. Dokter menyuruhku menandatangani surat persetujuan operasi, air mataku tidak hentinya mengalir, tak berapa lama Seunghyun, YooSu, Sibum, dan Boa noona datang.
"Bagaimana Jaejoong?" tanya Seunghyun dengan cemas. Aku hanya mengusap kasar wajahku seraya menghapus air mata yang sudah membasahi wajahku sedari tadi.
"Dokter bilang, ka-kami kehilangan salah satu bayi kami."
"Apa?!"
"Bayi?" aku lihat Boa bingung dengan kondisi ini.
"Sebenarnya Yunho dan Jaejoong bukan pasangan kekasih, tapi mereka Suami-Istri, Yunho sengaja merahasiakannya." Aku dengar Yoochun menjelaskan semuanya, aku pun tidak menyangka kami akan mempunyai anak kembar, tapi harapan kini musnah, bayi kami sudah bersama Tuhan kini.
"Lalu Jaejoong, dan salah satu bayi nya?" Kini Siwon yang bertanya.
"Jaejoong harus melakukan operasi agar dia dan salah satu bayi kami selamat, aku takut terjadi sesuatu, aku sangat takut." Aku tidak pedulikan anggapan mereka apa kini, aku tidak bisa berhenti untuk tidak mengeluarkan air mataku, Aku lihat Jaejoong sudah siap di bawa ke ruang operasi, hatiku masih terasa ngilu melihatnya. Lampu ruang operasi telah menyala, kami hanya berharap yang terbaik untuk Jaejoong dan bayiku yang selamat. Orangtuaku dan Orangtua Jaejoong telah sampai, wajah mereka sangat begitu cemas, apalagi Umma kami yang telah menangis, aku merasa menjadi Suami tidak berguna di sini, saat ini aku benar-benar merasa takut Jaejoong pergi.
3 jam operasi berlangsung, Jaejoong dan bayi kami yang selamat dapat terselamatkan, tapi kondisi keduanya masih sangat lemah. Umma menyuruhku kembali ke sekolah bersama Appaku dan Appa Jaejoong, bersama teman-temanku, awalnya aku menolak tapi inilah yang terbaik, aku akan selesaikan masalah ini, Appa memintaku agar setelah ini Jaejoong mengikuti Home Schooling, sangat berbahaya bagi Jaejoong di sekolah saat kondisi hamil, apalagi janin Jaejoong sangat lemah karena salah satunya hilang, demi kebaikan Jaejoong aku pun menyetujuinya.
Saat ini seluruh Siswa di minta berkumpul di lapangan, Appa akan memberitahukan semuanya, aku masih tidak dapat menerima ini semua.
"Maaf mengganggu aktivitas kalian, aku hanya ingin meminta maaf jika Yunho atau pun Jaejoong punya salah pada kalian. Kejadian yang menimpa Jaejoong tadi pagi sungguh memukul kami, Aku harus kehilangan salah satu cucu yang aku nantikan." Ucapan Appa membuat seluruh siswa terkejut.
"Yunho dan Jaejoong sudah menikah, aku dan Hyun Joong menjodohkan mereka, kami sengaja merahasiakan ini demi kenyamanan sekolah dan juga Jaejoong, Jaejoong tengah hamil kini, maka dari itu aku meminta pihak sekolah tidak terlalu memberatkannya, tapi, karena kejadian tadi pagi, salah satu janin Jaejoong tidak dapat terselamatkan, aku hanya memohon pada kalian agar mendoakan untuk kesembuhan Jaejoong dan bayinya yang masih selamat kini, aku mohon." Aku melihat Appa sudah menitikkan air matanya, aku pun sudah meminta pihak sekolah mengurus Ahra dan yang terlibat dalam ulahnya tersebut, aku tidak akan membiarkan mereka tenang di sekolah ini.
.
.
Aku kembali ke rumah sakit, aku hanya dapat melihat Jaejoong yang masih terlelap dalam tidurnya, hanya ada satu harapan kami kini, aku harap Tuhan mengizinkan aku dan Jaejoong merawatnya. Aku menggenggam tangan Jaejoong yang rapuh, tidak ada wajahnya yang ceria, yang selalu membuatku tertawa, dan selalu membuatku kesal. Kini hanya mata yang terpejam dengan bibir pucat, aku mengecup tangan mulus tersebut, aku kembali terisak.
"Jae, bangunlah sayang, aku merindukanmu." Tangan lembut pun mengusap bahuku, itu Hwang Umma.
"Yun, Jaejoong itu kuat, percayalah." Aku hanya bisa menggangguk, dan menatap wajahnya yang tertidur cantik kini. Aku yakin kau mampu lewati ini sayang. Aku sangat Yakin.
TBC
Maaf mungkin part ini tidak banyak part Jaejoong yang bikin tertawa, mungkin.
Hohoho, maaf juga bahasaku sedikit Amburadul :p, oiya makasih yang suka sama cerita ini.
Makasih juga yang udah kasih saran, seneng banget deh.
Love u pul deh buat kalian.
