Summary

Dihari hujan Sehun kehilangan keluarganya.

Dihari hujan Sehun bertemu dengan orang yang dibencinya.

Dihari hujan Sehun memutuskan mengikuti kedua orang tuanya.

Dihari hujan juga Sehun mengetahui apa tujuan hidupnya.

.

.

Warning : It's YAOI! DLDR ! TYPO(s) ! NO BASHING! NO PLAGIAT!BAHASA TIDAK SESUAI EYD!

Cast : Oh Sehun, Kim Jongin, EXO member.

Cast milik diri mereka sendiri,orang tua dan agensinya. Tapi fict ini asli buatan otak author

Jika ada kesamaan unsur, alur,tema,konflik maupun kalimat itu adalah unsur ketidaksengajaan dan apabila terjadinya typo berlebihan itu adalah unsur kekeliruan -.-

Rated : T

Hope you like this story!

OohSehoonie present….

"On rainy days"

.

.

.

Author rasa di ff ini bakal banyak typo. Harap dimaklumin saja oke? Typo adalah hal wajib bagi author abal-abal macem author ini.. kkkk~

Ini telah memasuki tahun kelima Jongin tanpa pemuda putih pucat bernama Oh Sehun.

Lima tahun Jongin menebak-nebak bagaimana nasib Sehun semenjak kabar pesawat yang ditumpangi kekasihnya itu jatuh di tengah lautan.

Selama lima tahun juga Jongin berusaha mencari informasi apapun itu tentang Oh Sehun. Mulai dari rumah Sehun yang ditinggalkan dan sampai sekarang belum dihuni kembali.

Kantor tempat ayah Sehun dulu bekerja juga sekarang masih dipimpin oleh orang suruhan paman Sehun. Jongin sudah beberapa kali mengadakan rapat bersama pimpinan perusahaan tersebut setelah ia berhasil mengajak perusahaan itu untuk bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpinnya. Selama itu juga dia berharap Sehunlah yang muncul dan memimpin jalannya rapat bersamanya.

Hanya saja, harapan hanyalah harapan.

Jongin tidak tau sampai kapan harus menuggu Sehun. Yang dia tau hanyalah dia masih sangat mencintai pemuda bermarga Oh itu dan tidak akan melanggar janjinya untuk menunggu Sehun kembali.

"Jongin, kau ada rapat bersama pimpinan Oh Corp hari ini. Kita harus berangkat sekarang"

"Sebentar lagi Kyung. Atau suruh saja Chanyeol yang menggantikanku"

Sekedar informasi, Jongin telah bekerja di perusahaan ayahnya. Dan Kyungsoo juga Chanyeol kebetulan melamar kerja disana setelah menyelesaikan kuliah mereka langsung diterima oleh Jongin sendiri.

"Jangan menyusahkan Chanyeol. Kau bahkan menyuruhnya mengurus cabang perusahaan di Jeju" tegus Kyungsoo

"Aku hanya sedang malas Kyung"

"Bagaimana bisa kau memimpin perusahaan jika seperti ini? Bukankah dulu kau yang sangat bersemangat saat mengajak perusahaan ini bekerja sama?" marah Kyungsoo

"Kau tau sendiri alasannya"

"Jongin, sadarlah. Dia sudah tidak ada"

"Dia hilang Soo, bukan meninggal" ujar Jongin lirih

"Ya, hilang selama lima tahun Jongin. Kalaupun dia masih hidup, dia akan menghubungimu. Kalian tidak akan kehilangan kontak"

"Mungkin dia belum ingin menghubungiku"

"Kenapa? Bukankah itu sama saja dia tidak menginginkanmu lagi? Sadarlah Jongin, banyak yang memperdulikanmu, masih ada Chanyeol dan aku. Jangan terlarut pada Sehun, kau bahkan bisa mencari yang lebih baik darinya"

"Diamlah Kyungsoo. Memangnya dimana aku bisa menemukan yang lebih baik darinya? Aku tidak butuh omelanmu. Kau bisa keluar sekarang, nanti aku akan menyusul"

"Terserah saja" Kyungsoo membanting pintu ruang kerja Jongin. Tidak peduli Jongin itu merupakan atasan yang harus dihormatinya

.

.

.

"Permisi, bisa saya minta waktunya sebentar Tuan Lee?"

Saat ini Jongin tengah berbicara dengan sekretaris dari pimpinan perusahaan milik keluarga Sehun

"Ya, ada yang bisa saya bantu?"

"Saya dengar, anak dari pimpinan perusahaan ini akan datang besok, apa benar?"

"Ya, walaupun mereka bukan pemilik perusahaan yang sebenarnya, tapi mereka benar-benar membantu mendiang tuan Oh dalam memimpin perusahaan ini. Nona Xi sangat cantik kalau anda ingin tau"

"Nona?"

"Ya, saya permisi Presdir Kim"

Jongin hanya mengangguk mempersilakan Tuan Lee lewat. Ia masih bingung, bukankah Luhan itu namja? Kenapa Pak Lee malah mengatakannya cantik dan memanggilnya nona? Apa yang datang besok bukan Luhan?

"Hei, Jongin. Kyungsoo mencarimu daritadi. Malam ini kau harus ikut bersama kami berdua"

"Maaf Yeol, aku tidak ingin menjadi obat nyamuk kalian berdua"

"Ayolah, bukan hanya aku dan Kyungsoo. Teman Kyungsoo mengadakan pesta malam ini,dan kau harus datang. Kau benar-benar butuh bersenang-senang"

"Kalau kau menolak lagi, akan kuseret kau dari rumahmu Jong" Kyungsoo menyela saat Jongin baru akan membantah lagi

"Terserah kalian berdua saja, tapi asal kalian tau aku sedang tidak ingin berlama-lama di luar rumah. Aku akan pulang secepat yang kubisa"

.

.

.

Pesta yang dimaksud Chanyeol dan Kyungsoo rupanya merupakan pesta di dalam sebuah klub terkenal dan jauh dari jangkauan publik. Beruntung Jongin tidak memakai jas dan hanya memakai kemeja serta celana jeans.

"Kami baru akan bersiap ke rumahmu dan menyeretmu kesini Jongin"

"Aku hanya sebentar disini oke, kupikir ini pesta antara kalian berdua. Ternyata benar-benar pesta yah"

"Bersenang-senanglah Jong, aku dan Kyungsoo akan pergi sebentar"

Jongin melihat Chanyeol dan Kyungsoo pergi ke lantai atas. Cih, untuk apa mereka mengajak Jongin kalau pada akhirnya dia ditinggalkan sendiri disini.

"Mau minum?" tanya seorang bartender padanya saat Jongin duduk

"Jack Daniel's" ujar Jongin dan bartender itu langsung mengambilnya dan memberikan pada Jongin

Ia baru akan meminum pesanannya saat sebuah tangan menepuk pundaknya "Hei Jongin, lama tidak bertemu"

Itu Tao, Jongin hanya tersenyum saat namja itu duduk di sampingnya dan dengan seenaknya menuangkan minuman Jongin ke dalam sloki yang terdapat di meja.

"Apa kau sendirian?" tanya Tao

"Yah, kau bisa lihat sendiri kan? Bagaimana denganmu?"

"Dengan kekasihku, disana" Tao menunjuk kekasihnya dan melambai padanya

Jongin tersenyum, tapi ada yang aneh menurutnya.

"Er, itu. Bukankah kau dulu menyukai Kris?"

"Yeah, masa lalu. Aku sudah melupakannya kok, dan lihat aku mendapat yang jauh lebih baik darinya. Lihat Yixing, dia sangat manis bukan?"

Jongin hanya mengangguk. Tidak disangkanya Tao yang dulu terlihat manja sekarang menjadi manly, dan malah mendapat kekasih manis lagi.

"Jangan berpikir aku tidak bisa melupakan Kris. Hidup ini terus berjalan, aku tidak bisa terus-terusan menunggu Kris yang tidak pasti" ujar Tao sok menasehati Jongin, kemudian tertawa sendiri atas ucapannya.

"Ngomong-ngomong, apa kau sudah mendapat kabar dari Sehun?" tanya Tao pada Jongin

"Belum, anak itu seperti menghilang begitu saja" ujar Joingin lirih

"Minggu lalu aku dan Kris bertemu. Dia semakin keren " ujar Tao pada Jongin. Dasar, anak ini bilang dia telah melupakan namja itu. "Kami membahas tentang Sehun" ujar Tao lagi. Jongin hanya diam menyimak ucapan Tao

"Kris bilang, Sehun dan Luhan gege ternyata tidak naik pesawat itu" perkataan Tao membuat Jongin memiliki harapan bertemu Sehun lagi "Masalahnya, saat Kris pergi ke Beijing untuk mencari mereka, rumah Luhan telah kosong"

"Tao, bisa berikan aku alamat Kris? Atau apapun yang bisa mempertemukan aku dengannya"

"Sabar sedikit Jongin, kenapa kau terlihat terkejut begitu? Kupikir kau sudah tau bahwa Sehun dan Luhan gege tidak menaiki pesawat itu"

"Aku tidak tau. Hanya beranggapan Sehun masih hidup karena sampai sekarang belum ada konfirmasi siapa saja yang meninggal dalam pesawat itu"

"Apa kau tidak berusaha mencarinya?"

"Aku mencarinya, ke rumahnya dan berusaha mencari informasi dari perusahaan keluarga Sehun"

"Kris bahkan mencarinya sampai ke Beijing!"

"Itu karena Kris tau dimana rumah Sehun bukan? Bahkan Sehun tidak pernah memberitahuku" Jongin langsung bangkit meninggalkan Tao. Dia seperti sudah tidak peduli dengan dimana keberadaan Sehun. Jongin sudah lelah menunggu Sehun. Bahkan Tao saja sudah menyerah secepat itu pada Kris padahal mereka masih bertemu.

"Hei, kau sepertinya butuh teman?" Jongin tersenyum pada seorang namja manis yang berada di hadapannya. Mungkin Kyungsoo benar, ia harus melupakan Sehun.

.

.

.

Sore itu suasana terlihat ramai baik di dalam maupun di luar perusahaan berlabel Oh Corp.

"Kau gugup Sehun?"

"Sangat hyung. Kurasa jantungku akan meledak sekarang juga" jawab namja yang dipanggil Sehun

"Jangan berlebihan Sehun, kau hanya akan diangkat menjadi pemimpin perusahaan" ujar namja yang dipanggil hyung

"Mungkin dia terlalu gugup akan bertemu Jongin nanti Luhan"

"Diamlah Kris hyung, aku bahkan tidak tau dia dimana" Sehun mendelik melihat Kris

"Kemarin aku bertanya pada ayah Luhan, ternyata Jongin benar-benar mengajak perusahaanmu berkerja sama dengan perusahaan miliknya"

"Tapi kenapa dia tidak pernah bertanya pada paman dimana keberadaanku?" tanya Sehun

"Mungkin Jongin hanya ingin menunggumu kembali Sehun, percaya saja padanya"ucap Luhan sambil mengelus-elus pundak Sehun

"Jangan kembali padanya Sehun" ujar Tao. Sedari tadi dia memilih diam, namun ia tidak bisa menahannya lagi saat nama Jongin di sebut-sebut

"Tao, diamlah. Mungkin kemarin kita hanya salah lihat" kali ini namja berlesung pipi yang angkat bicara

"Tidak apa Yixing ge, Tao jelaskan apa maksudmu?"

"Sehun, jangan kembali padanya. Dia telah membohongimu berkali-kali" ujar Tao dingin

"Hei, hei. Hentikan itu Tao. Kau terlihat menyeramkan kalau sudah seperti ini"

Tao mendelik pada Kris "Aku tidak ingin kau kembali padanya, itu saja"

"Ayolah Tao, kau tidak bisa menyuruh Sehun tanpa alasan yang jelas. Setidaknya katakana alasannya"

"Tadi malam, aku dan Yixing melihat Jongin di klub milik Changmin hyung. Dia awalnya bersama Chanyeol dan Kyungsoo. Lalu aku coba menanyakan kabarmu, awalnya dia terlihat senang. Namun, saat kami keluar ternyata Jongin malah bersama namja lain"

Sehun menatap Yixing, berharap manja itu memberikan kepastian. "Ya Sehun, kita memang melihat Jongin semalam. Tapi, jangan salah sangka dulu. Mungkin saja mereka kenalan atau rekan kerja"

"Mereka berciuman Yixing ge" ucap Tao "Sehun, aku tau ini tidak ada hubungannya dengaku. Aku hanya tidak ingin dia menyakitimu lagi. Maaf telah mengacaukan suasana. Harusnya kita semua senang karena kau sudah berhasil menjadi pemimpin perusahaan"

"Tidak usah terlalu dipikirkan oke? Sekarang Sehun harus bersiap-siap untuk acara penyambutannya" Luhan yang mengerti suasana hati mereka saat ini langsung mengalihkan pembicaraan

"Ayo Sehun, kau sudah ditunggu di luar" Kris juga ikut membantu Luhan dalam mencairkan suasana

Sehun sedari tadi hanya menyalami orang-orang yang tidak di kenalinya, tangan dan wajahnya terasa kram karena terus berjabat tangan dan memasang senyum. Berbeda dengan Luhan hyung dan pamannya yang tampak sepenuh hati dalam menjalankan kegiatan mereka. Sehun bisa melihat Kris yang sejak tadi tidak berhenti melambaikan tangan padanya dan Luhan juga Tao serta Yixing gege yang sedang asik memilih makanan.

"Lakukan dengan sepenuh hati Sehun, mereka semua rekan kerjamu" bisik Luhan sambil menyikut Sehun

Sehun sendiri meringis saat siku Luhan mengenai pinggangnya yang masih lebam akibat terpeleset dari tangga pesawat tadi pagi

"Maaf, aku lupa" Luhan meringis karena telah membuat Sehun kesakitan

"Sehunie, paman tinggal sebentar. Rekan kerja kita ada disini, biar paman yang bicara dengannya" ujar Ayah Luhan tanpa tau Sehun sedang menahan sakitnya

"Hyung, aku ke toilet sebentar"

"Apa perlu aku temani Sehun?"

"Tidak perlu, hyung disini sana menemani mereka" Sehun langsung melesat ke toilet setelahnya.

.

.

.

Sehun melepas jasnya dan mengangkat kemeja putihnya perlahan sampai sebatas pinggangnya. Ia bingung siku Luhan benar-benar keras atau lebam di pinggangnya yang makin bertambah parah. Ia rasa tadi sehabis mandi lebamnya tidak terlalu biru dan tidak sebesar sekarang.

Dengan hati-hati Sehun mengambil sapu tangan di saku celananya dan membasahinya dengan air lalu menempelkannya di pinggangnya. Sehun mengigit bibirnya agar bisa menahan sakit dan perih yang dirasakannya.

"Apa yang kau lakukan?"

Sehun segera merapikan kembali pakaiannya saat tau ada orang lain selain dirinya di sana "Jongin?"

"Kenapa kau pergi saat aku datang?"

"Aku tidak melihatmu datang" jawab Sehun gugup

"Pamanmu bahkan tau aku datang, bukankah seorang pemimpin perusahaan harus menyambut rekannya?"

"Aku benar-benar tidak tau bahwa kau datang Jongin. Maaf"

"Lupakan saja, apa yang sedang kau lakukan tadi?" Jongin berusaha melihat apa yang Sehun sembunyikan di balik kemejanya

"Bukan apa-apa" Sehun berusaha menepis tangan Jongin, namun ia kalah kuat dari namja itu

"Apa ini Sehun?" tanya Jongin panik saat melihat memar yang lumayan besar di pinggang Sehun juga beberapa goresan kecil di sekitarnya

"Aku jatuh" jawab Sehun seadanya

"DImana?"

"Saat ingin turun dari pesawat tadi pagi"

"Dasar ceroboh" Jongin mencubit pipi Sehun "Kita ke dokter"

"Tapi bagaimana dengan acaranya?"

"Kau harus segera diobati Sehun. Jangan membantah" Jongin langsung menarik Sehun tanpa mendengarkan protes dari namja itu.

.

.

.

"Jadi ceritakan padaku kenapa kau tidak pernah menghubungi kekasihmu ini"

"Ponselku di curi saat dibandara. Bersama tiket untuk naik pesawat yang jatuh itu"

"Entah kenapa aku malah bersyukur orang itu mencuri darimu Sehun" Jongin memeluk Sehun erat. Dia tidak ingin membayangkan apa jadinya jika ponsel dan tiket Sehun tidak dicuri saat itu. Walaupun akhirnya ia tak bisa berkomunikasi dengan Sehun lagi.

"Lalu? Kenapa tidak berusaha menanyakanku pada pamanmu atau berusaha menghubungiku dengan sesuatu yang lain?" bagaimanapun Jongin tetap penasaran kenapa Sehun tidak berusaha sama sekali menghubunginya

"Luhan hyung bilang aku harus membiarkanmu yang mencariku. Tapi yang datang duluan malah Kris" Sehun mempoutkan bibirnya

"Maaf, aku tidak berusaha sekeras Kris"

"Tidak apa Jongin, yang penting kau sudah menungguku sampai kembali kesini" ujar Sehun sambil memeluk Jongin lagi.

"Aku benar-benar merindukanmu Sehun" Jongin memeluk Sehun lebih erat lagi

Sehun tiba-tiba teringat ucapan Tao tadi, tentang Jongin berciuman dengan namja lain

"Jongin, aku mau pulang. Luhan hyung dan yang lain pasti mencariku"

"Sudah kuhubungi mereka tadi, dokter bilang kau harus istirahat dulu"

"Ini hanya terbentur Jongin, aku mau istirahat di rumah saja"

"Tidak. Besok pagi baru kau boleh pulang"

"Ya sudah, kalau begitu aku akan pulang sendiri saja" ujar Sehun seraya bangkit dari sanjang rumah sakit

"Baik, baik. Kita pulang sekarang. Dasar keras kepala"

.

.

.

"Kupikir dia menculikmu Sehun" ujar Tao dingin saat Jongin dan Sehun sampai di rumah Sehun

"Shh Tao, jaga ucapanmu" Yixing berusaha mengontrol emosi Tao pada Jongin

"Apa masalahmu Tao? Dia kekasihku"

"Dia sahabatku"

"Apa pinggangmu tidak apa-apa Sehun?" tanya Luhan khawatir tanpa memperdulikan kedua manusia yang tengah berdebat

Sehun hanya menggeleng sambil menatap Luhan, pandangannya mengisyaratkan Luhan agar membantunya meredakan perkelahian antara Jongin dan Tao

"Hei kalian berdua berhentilah ribut di rumah orang" ujar Kris yang sedari tadi hanya diam memperhatikan keduanya

"Sehun, kau lebih baik tidur. Ayo hyung antar" Luhan segera menarik Sehun menuju kamar yang sudah ia bersihkan tadi

"Biar aku yang menemani Sehun" Jongin bergegas menyusul Sehun dan Luhan

"Jongin kita perlu bicara, biar Luhan saja yang menemani Sehun" Kris menahan Jongin dan menariknya keluar bersama Tao

.

.

.

Saat Sehun bangun, lebam di pinggangnya memang lebih kecil daripada sebelumnya hanya saja rasa sakitnya semakin bertambah. Apalagi saat dirinya harus duduk kemudian berdiri lagi.

"Jongin mana hyung?" tanya Sehun pada Luhan yang sedang menyantap sarapannya. Kemarin malam Jongin masuk ke kamarnya dan mengatakan ingin menginap disana

"Tadi pagi-pagi sekali ia pergi setelah menerima telpon"

Sehun mengangguk-angguk. Mungkin urusan kantor.

"Dari Kyungsoo" ujar Tao

"Zitao, sudah berapa kali kukatakan untuk mengontrol ucapanmu?"

"Maaf Yixing ge, tapi aku benar kan?"

Sehun sendiri merasa kaget saat Tao berkata seperti itu, hanya saja ia berusaha menutupinya "Kenapa kau bisa disini?"

"Mereka semua tidur disini semalam"

"Kris hyung juga?"

Luhan mengangguk mendengar perkataan Sehun

"Memangnya dimana mereka tidur? Bukannnya rumah ini belum kita rapikan?"

"Tenang saja,kami membersihkan rumah ini saat pemiliknya sibuk berkencan dengan sang kekasih" Kris datang menyodorkan roti pada Sehun

"Kris kau antar Sehun ke kantor hari ini, aku dan Yixing akan berbelanja dulu"

"Kalau begitu aku ikut bersama kalian saja hyung"

"Ini hari pertamamu Sehun, jangan mengacaukannya"

.

.

.

"Kau bilang aku harus datang tepat waktu, tapi kenapa malah mengajakku kesini hyung?" tanya Sehun saat Kris mengajaknya ke sebuah café di dekat sekolahnya dulu

"Biar Luhan yang mengurus semuanya, aku sedang malas bekerja juga"

"Apa hyung tidak kasihan pada Luhan hyung?" tanya Sehun sambil tersenyum pada Kris

"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"

"Hyung, aku sudah tau" Sehun makin melebarkan senyumnya

"Kemarin malam, kau dan Luhan hyung"

"Apa? Kenapa kemarin malam?" Kris terlihat gugup mendengar perkataan Sehun

"Sudah, lupakan. Sepertinya aku salah lihat"

"YA! Apa yang kau lihat Oh Sehun?"

"Santai hyung, kan aku hanya melihat wajahmu yang memerah karena Luhan hyung menyentuh kepalamu. Aih hyung, kau suka dengan yang lebih tua ya?" Sehun tertawa melihat wajah Kris mulai merah menahan malu

"Diamlah Sehun. Lebih baik kau cepat pesan sesuatu"

"Tidak perlu, kita baru saja makan di rumah ingat?" ujar Sehun "Tapi kalau hyung mau membelikanku segelas bubble tea juga tidak masalah" tambahnya dengan cepat

"Baiklah. Kau ini memang maniak, di suhu sedingin ini juga masih saja menginginkan bubble tea"

"Jadi hyung, jujur saja apa maksudmu mengajakku kesini?" ujar Sehun saat Kris menyodorkan segelas bubble padanya

"Tidak ada maksud apa-apa. Hanya ingin saja" Kris berkata dengan santai, tanpa melihat Sehun dan asik memainkan ponselnya

"Sehun, kau tunggu Jongin disini oke? Jangan kemana-mana. Banyak jalan yang telah berubah di sini. Hyung harus segera ke kantor"

"Aku ikut saja hyung"

"Tidak bisa, kantor kita berbeda. Kau tunggu saja Jongin disini" Kris pun berlari keluar sebelum Sehun sempat menjawabnya

Sehun sendiri mengomel tidak jelas dalam hatinya, Kris selalu seenaknya sendiri. Sehun kan paling tidak suka disuruh menunggu.

Akhirnya Sehun hanya bisa pasrah menunggu Jongin datang, walapun sampai lima jam kemudian Jongin belum menampakan dirinya.

Café tersebut mulai ramai, penuh dan sesak. Sehun mulai merasa tidak enak pada pelanggan lain dan pelayan café. Ia sudah duduk disana selama lima jam dan masih banyak pelanggan yang butuh tempat duduk, Sehun memilih untuk keluar dan menunggu Jongin di luar.

Sehun menggosok-gosok tangannya, berusaha menghangatkan dirinya yang kedinginan. Bisa-bisanya dia lupa bahwa di luar itu sangat dingin dan menunggu Jongin di luar dalam suhu sedingin ini merupakan sesuatu yang sangat disesali oleh Sehun. Harusnya ia tetap berada di dalam, tidak perduli walaupun ada pelanggan lain yang ingin duduk. Daripada harus kedinginan disini.

Ia memutuskan untuk menghubungi Jongin, tidak diangkat. Luhan hyung, juga diabaikan. Kris, Tao dan Yixing juga tidak bisa dihubungi. Sehun tidak mungkin menelpon pamannya bukan?

Jalan terakhir yang Sehun ambil ialah masuk kembali ke dalam kafe dan membeli segelas kopi panas lalu membawanya keluar karena memang kursi di dalam kafe tersebut masih saja penuh dan tak ada tempat tersisa bagi dirinya. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar sana sambil memegang gelas berisikan kopi itu. Hanya memegangnya agar terasa hangat, Sehun memang tidak menyukai kopi.

Sehun ingat kalau di sekitar sini ada taman, setidaknya dia bisa duduk disana sambil mengawasi kalau Jongin tiba di kafe yang baru saja di tinggalkannya. Ia menemukan sebuah bangku yang berhadapan dengan kafe, walaupun letaknya lumayan jauh tapi Sehun yakin dia bisa melihat kalau Jongin datang ke kafe itu.

Lama menunggu, akhirnya Sehun melihat Jongin datang. Anehnya Jongin berjalan kaki, dan lewat di seberang jalan berhadapan dengan taman tempat Sehun menunggu. Jongin bersama Kyungsoo. Tangan Kyungsoo memegang sebuket bunga mawar berwarna merah. Di tangan Jongin juga terdapat sebuket bunga mawar namun berwarna putih. Mereka tertawa berdua, Jongin mengusap rambut Kyungsoo dan Kyungsoo tersenyum manis. Sehun bisa melihat rona merah muncul di pipi Kyungsoo saat Jongin mengucapkan sesuatu yang tidak bisa di dengar Sehun. Akhirnya mereka berpisah tepat sebelum Jongin menyebrang jalan menuju kafe yang tadinya Sehun tempati.

Seperti dugaannya, Sehun bisa melihat Jongin masuk ke dalam kafe tersebut dan berkat kaca transparan yang menjadi dinding di kafe itu, ia bisa melihat Jongin yang kebingungan mencarinya. Sehun hanya diam memperhatikan gerak gerik Jongin yang sedang mencarinya. Ia memilih bangkit dari sana dan berjalan menuju kearah penjual es krim. Sedikit heran kenapa penjual itu berjualan di hari sedingin ini,Sehun yakin tidak akan ada yang membelinya. Namun, Sehun sendiri malah membeli sebuah es krim rasa coklat. Melupakan kopi yang belum sempat di minumnya sama sekali dan memilih merasakan dinginnya es krim sampai lidahnya terasa mati rasa.

"Kau disini rupanya Sehun" ini Jongin, pemuda itu akhirnya menemukannya. Entah kenapa walaupun lama tidak bertemu, ia masih mengingat bagaimana sensasi pelukan Jongin.

"Aku melihatmu saat keluar dari kafe, kenapa kau disini?"

"Kau terlalu lama" ujar Sehun sambil melepaskan pelukan Jongin

"Kenapa juga kau makan es krim di cuaca sedingin ini Sehun?" Jongin baru akan merebut es krim itu namun Sehun sudah melangkah menjauhi dirinya

"Maaf, ada rapat mendadak" Jongin tau Sehun sedang kesal padanya, namja berkulit pucat ini sudah menunggunya sejak pagi dan dia baru datang saat jam makan siang. Mau bagaimana lagi, ini semua demi keberhasilan rencananya

"Ya, rapat bersama Kyungsoo" desis Sehun

Jongin tersenyum, sepertinya Sehun melihat mereka berdua. Baguslah.

"Sepertinya kau sudah melihatnya, sekarang ikut aku"

Sehun sendiri tidak ingin menuruti Jongin begitu saja, ia sudah mencoba untuk memberontak namun tenaganya tidak bisa menyaingi tenaga Jongin. Akhirnya ia hanya bisa mengikuti Jongin yang terus menariknya masuk ke dalam bus yang entah kemana tujuannya.

Mereka terus duduk didalam sana, Sehun mulai mengantuk. Ia butuh tempat untuk menyandarkan kepalanya namun ia tidak mungkin menjadikan bahu Jongin sebagai sandaran. Sehun memutuskan menjadikan jendela di sampingnya sebagai sandaran walaupun kepalanya harus beberapa kali terbentur pada kaca. Ia tidak mau menurunkan harga dirinya di depan Jongin, dia kan sedang kesal dengan namja tan itu.

Jongin sendiri hanya menggelengkan kepalanya melihat Sehun, ia hanya bisa menunggu Sehun tertidur dan memindahkan kepala Sehun ke bahunya. Tidak lupa menyelimuti Sehun dengan mantel yang tadi dipakainya dan menggenggam tangan Sehun yang ternyata sangat dingin. Jongin menyesal telah mengikuti saran Kris, ia baru ingat kalau Sehun tidak tahan terhadap suhu yang rendah. Kekasih macam apa dia ini.

"Sehun, bangun" Jongin mengusap-usapkan jarinya pada pipi Sehun, berusaha membangunkan Sehun secara pelan saat mereka sampai di tempa tujuan

"Eum, sebentar lagi Lulu hyung" Jongin tersenyum melihat Sehun yang berbicara dalam tidurnya, tampak lucu

"Sehun, ayo bangun. Ini aku Jongin"

Saat mendengar nama Jongin, mata Sehun langsung terbuka lalu mengerjap-ngerjap lucu saat melihat wajah Jongin di hadapannya

"Ayo bagun, atau perlu kugendong?" ujar Jongin lembut

Sehun masih bingung, efek sehabis tidur. Jongin sendiri gemas melihat tingkah Sehun memilih mengecup bibir Sehun lalu membantu Sehun berdiri dan menuntunnya keluar dari bis tersebut.

"Jangan mengintip, tutup matamu sampai kusuruh kau membukanya" Jongin langsung menutup mata Sehun dengan tangannya begitu mereka turun dari bis

"Jalannya pelan-pelan. Disini sangat licin" Jongin berusaha menuntun Sehun sekaligus melindungi namja itu agar tidak tersandung batu atau semacamnya

Sehun sendiri yang merasa aneh dengan tingkah Jongin hari ini hanya membiarkan namja tan itu berbuat sesuka hati, ia masih kesal dengan Jongin karena jalan berdua dengan Kyungsoo, namun Sehun merasa ia tidak bisa marah pada Jongin.

"Apa aku sudahh boleh membuka mata Jongin?" tanya Sehun saat Jongin menyuruhnya berhenti dan diam

"Ya"

Sehun membiasakan diri dengan cahaya mentari saat senja, dia mendapati dirinya dan Jongin berada di depan dua buah pusara. Ini tempat peristirahatan kedua orang tuanya. Rasanya lama sekali semejak Sehun datang kesini.

Jongin meletakkan bunga mawar putih di atas pusara ibunya dan mawar merah di pusara ayahnya.

"Tn. dan Ny. Oh, terima kasih telah melahirkan anak seperti Sehun. saya berjanji akan menjaganya"

Sehun menahan tangisnya, Jongin ternyata benar-benar serius. Ia jadi merasa bodoh telah meragukan Jongin.

Hujan turun secara tiba-tiba saat Jongin dan Sehun selesai mendoakan mendiang orang tua Sehun. Air-air yang berjatuhan dari langit itu tak membiarkan Jongin dan Sehun sampai dengan keadaan kering di mobil Jongin. Mereka berdua basah, untung saja Jongin sudah menyuruh supirnya untuk menjemput mereka.

.

.

.

"Kupikir semuanya sia-sia. Sehun sudah pergi dari sana dan percuma aku membujuk Chanyeol agar mengijinkanku meminjam Kyungsoo untuk membuat Sehun kesal. Tapi ternyata Sehun malah melihat kami bahkan sebelum kami berpura-pura mesra"

"Jadi Sehun, bagaimana rasanya menunggu selama lima jam lebih?" Luhan terkikik setelah mendengar cerita Jongin yang berhasil menjahili adik sepupunya itu

"Uh, buruk. Aku kedinginan dan terkena hujan, akibatnya jadi flu seperti sekarang" Sehun menggosok-gosok hidungnya yang terlihat memerah, sesekali menyeka tisu ke hidungnya. Dia benar-benar terkena flu kemarin. "Kalian harus bertanggung jawab" Sehun mendelik menatap Kris dan Tao, dalang dari semua ini

"Sehuna, jangan begitu. Aku kan hanya berusaha membuatmu dengan Jongin bersama lagi"

"Huh, memangnya siapa yang memfitnah Jongin padaku?"

"Aku kan hanya salah paham, lagipula salah Jongin berkeliaran di klub seperti itu"

"Dia hanya memenuhi undangan kami, panda"

"Jangan memanggilnya panda Chanyeol, begitu-begitu Yixing gege tetap menyukainya" Sehun melirik Yixing yang wajahnya berubah merah. Yixing ge memang pemalu. Pikir Sehun

"Aku juga menyukaimu,menyayangimu bahkan mencintaimu Sehun"

Sehun mengernyitkan dahinya, dia kan awalnya ingin menggoda Yixing gege, kenapa Jongin malah ikut-ikutan menggodanya sih. Sehun kan jadi malu.

"Sepertinya kita harus meninggalkan mereka berdua ge" Tao menarik tangan Yixing yang masih asik berblushing ria. Diikuti dengan pasangan Chanyeol dan Kyungsoo.

"Kalian berdua tidak ingin meninggalkan kami?" Jongin terheran-heran menlihat Luhan dan Kris yang diam menatap mereka. Padahal yang lain saja sudah meninggalkan mereka

"Itu, aku ingin mengawasi Sehun. Kau bisa saja melakukan hal aneh padanya" Luhan menggaruk lehernya walaupun tidak gatal sama sekali

"Aku hanya menemani Luhan, siapa tahu dia butuh bantuan"

"Hyung, kurasa kau harus jujur pada Luhan hyung sekarang" Sehun jengah melihat tingkah Kris. Kalau suka yah bilang saja, apa susahnya sih

"Cepatlah Kris, sebelum semua terlambat" Jongin ikut menambahkan beban pada Kris yang sekarang terlihat kebingungan

Luhan sendiri tiba-tiba bangun dan berjalan keluar, menyusul pasangan ChanSoo dan TaoXing.

"Susul dia hyung, kau ini tidak manly" Sehun berusaha membujuk Kris.

Akhirnya Kris memutuskan untuk menyusul Luhan dan meninggalkan Jongin bersama Sehun

"Akhirnya kita berdua" Jongin mendekat dan menarik Sehun ke dalam pelukannya

"Terima kasih Jongin" Sehun menenggelamkan kepalanya di dada Jongin "Untuk hari ini. Maaf juga karena telah meragukanmu"

"Tidak apa, asalkan kau janji jangan pergi lagi Sehun" Jongin mengusap kepala Sehun "Kupikir kau sudah benar-benar pergi"

"Maafkan aku Jongin, tapi kau juga harus janji satu hal padaku" Sehun masih memeluk Jongin tapi kali ini ia menenggelamkan kepalanya di leher Jongin.

"Janji padaku, kau harus membantuku agar Luhan dan Kris hyung bisa bersama. Mereka berdua sudah banyak membantu kita dan kelihatannya tidak bisa jika kita mengharapkan usaha dari mereka berdua"

"Itu pasti Sehun,tapi jangan sekarang. Aku masih ingin seperti ini denganmu"

Sehun mengangguk. Dia juga masih ingin memeluk Jongin seperti ini. Kalau bisa ia tidak ingin melepas pelukannya pada leher Jongin.

Jongin mengangkat wajah Sehun lalu menundukkan kepalanya, kemudian melumat bibir Sehun dengan penuh cinta. Sehun merangkulkan lengannya pada leher Jongin,membalas ciuman Jongin.

Mereka terus berciuman dengan penuh cinta di sofa rumah Sehun, melupakan rencana akan Luhan dan Kris yang baru mereka buat. Mereka bahkan tidak tau Kyungsoo dan Yixing melihat adegan mereka saat dua namja itu memutuskan untuk memasak makan malam.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-FIN-

.

.

.

.

.

.

Ini udah end, beneran end. Sengaja post di malam tahun baru kayak gini supaya makin special/?/ walaupun author tau banyak reader yang gak tertarik sama FF buatan author. Cuman tetep berusaha namatin ini supaya gak ada utang lagi sama reader.

Sekali lagi maaf yah ini updatenya lama bener. Bahkan novel yang author remake lebih duluan end daripada ff ini yang udah author buat dari setahun lalu.

Author juga pengen ngeremake novel Kak Santhy Agatha yang judulnya "Sweet Enemy".

Gimana? Ada yang tertarik? Castnya udah pasti Kaihun dong. Cuman author lihat udah ada yang ngeremake cuman castnya bukan KaiHun. Kalo reader mau, author dengan senang hati bakal ngeremake novel itu, tapi kalo gak suka yaudah author bakal ngepost ff karya author aja.

Yaudah segini dulu oke?

Author cuman mau ngucapin

~ HAPPY NEW YEAR TO EVERY READERS WHO READ THIS STORY~

~ HAPPY NEW YEAR TO EVERY READERS WHO READ THIS STORY~

~ HAPPY NEW YEAR TO EVERY READERS WHO READ THIS STORY~

Semoga di tahun 2016 makin banyak FF KaiHun dan moment Kaihun~~! Yang pasti author lagi nungguin KaiHun di acara Yummy Yummy. Dari foto aja udah keliatan imutnya mereka berdua. Walaupun Sehun tetep paling imut dan si Jongin masih kelihatan manlynya.

.

.

.

Rnr please. PPyong~