Title: Jebal, Only Look At Me

Cast : Kim Jaejoong

Jung Yunho

Kim Hyun Joong

Kim Yunjae

Kim Jong Hyun

Jung Yong Hwa

And OC dan akan ada yg menyusul

Genre : Angst/Hurt/Comfort/Family/Romance/Drama

Rate : T maybe T+

Warning : GS for uke

Disclaimer : all the characters are not mine, they belong to management, parents, families, and God.

Summary : Kesalahan fatal itu seperti apa? Haruskah ditebus dengan siksaan seumur hidup? Lihatlah aku walaupun hanya 1 kedipan mata kalian saja.

.

.

Jebal, Only Look At Me

-Chapter 9-

.

.

.

Author pov

PRAK

Suara tabloid yang dihempas tepat keatas sebuah meja kaca itu menggema mengisi keheningan yang tercipta disebuah rumah. Rumah keluarga Kim lebih tepatnya. Orang yang melempar tabloid tadi tentu saja Hyunjoong yang sedang berada dalam modus kemarahan yang tinggi. Membaca sebuah headline tabloid dengan tulisan merah yang besar, dan foto seorang yeoja dan namja dengan gambar yang tak layak konsumsi bagi kalangan masyarakat dibawah umur membuat Hyunjoong serasa dihantam palu godam.

Ah, jangan lupakan juga tayangan dvd yang sedang menyala dihadapannya saat ini. Tepatnya dvd itu berisi tentang video yang mempertontonkan adegan dewasa yang dilakukan Jessica, putri kesayangannya.

Disebelahnya ada istrinya, Jung min yang menangis terisak dan Tiffanny yang menundukkan kepalanya. Tadi siang saat Jung min pulang dari arisan para istri-istri konglomerat, ia mendapatkan sebuah kiriman paket yang diserahkan pembantunya. Tapi, belum sempat ia membuka paket itu, Hyunjoong yang baru pulang juga, lebih dulu mengalihkan dunianya dengan cumbuan-cumbuan mesra. Sehingga Jung min membiarkan paket itu tergeletak diatas meja.

Dan malam harinya saat Tiffanny pulang dari 'kantor', ia yang penasaran dengan paket yang tergeletak di atas meja itu langsung membuka paket dan terkejut melihat isinya. Ia memanggil Hyunjoong dan Jung min untuk keluar dari kamar, dan menyerahkan paket itu kepada Hyunjoong. Dan yeah, tak perlu waktu lama untuk mengetahui apa isi dari paket itu.

"Yeobo..hiks..itu bukan putri kita kan? Hiks..hiks..Sicca tak mungkin hiks..hiks.." Jung min menangis meremas ujung roknya.

"Tenanglah Jung min! Aku juga tak yakin itu putri kita! Fanny kemana adikmu eoh?" bentak Hyunjoong.

"A..aku..mian appa, aku tak tahu" Tiffanny hanya bisa tertunduk.

"Aish kemana anak itu?! Fanny benar kau tak tahu siapa pengirim paket itu?" tanya Hyunjoong.

"Ani appa, pembantu kita juga mengatakan paket itu sudah ada didepan rumah kita saat dia membersihkan taman. Dan..dan.." ucapan Tiffanny terputus, ia tak tahu harus mengatakan sesuatu itu atau tidak pada Hyunjoong.

"Dan apa Tiffanny? Jangan berbelit-belit!" desak Hyunjoong.

"Dan..satu Korea sudah..sudah tahu hal ini appa" Tiffany tetap tak berani memandang wajah Hyunjoong, ia tetap menundukkan kepalanya. Emosi Hyunjoong semakin meningkat setelah mendengarkan penuturan anak pertamanya itu. Kilatan marah itu terpancar jelas dari kedua matanya. Sekilas ia melihat tabloid dan dvd yang masih menanyangkan adegan putrinya tersebut.

Kedua tangan terkepalnya semakin bergetar hebat. Ia ambil sebuah vas dari kaca krystal yang ada ditengah meja yang siap untuk dilemparkannya kelantai sebagai pelampiasannya.

"Yeobo!/ Appa!" seru Jung min dan Tiffanny melihat Hyunjoong yang siap melempar vas itu. Jung min berdiri dan berusaha menahan tangan Hyunjoong.

KRIET

BLAM

Seorang yeoja masuk kedalam rumah Hyunjoong saat tangan Hyunjoong hendak melempar vas itu kelantai.

"A..ap..appa.." Lirih seorang yeoja setelah menutup pelan pintu utama rumah tersebut. Yeoja itu yang ternyata adalah Jessica melihat dengan jelas sang ayah yang emosi dengan tangan yang sedang memegang vas tetapi tangannya ditahan oleh ibunya, dan Tiffanny hanya bisa menangis diam dibelakang ummanya.

PRANG

Vas krystal itu akhirnya dilempar tepat didepan kaki Jessica. Tiffanny segera menghampiri Jessica dengan langkah hati-hati. Ia peluk adiknya yang tengah shock itu. Dengan penampilan yang berantakan , mata sembab, rambut kusut, serta tubuh yang mengeluarkan bau tak sedap sebenarnya membuat Tiffanny sedikit ilfeel dengan Jessica, tapi situasi membuatnya untuk tidak jauh-jauh dengan sang adik.

"JELASKAN SEMUA PADAKU JESSICA!" bentakan Hyunjoong semakin membuat ketiga yeoja yang ada disana semakin menangis. Jung min yang merasa tubuhnya semakin lemas langsung mendudukan tubuhnya disofa. Tangannya menyentuh tangan Hyungjoong dengan pelan, seperti isyarat agar Hyunjoong mau menenangkan dirinya dan duduk disampingnya.

Tiffanny yang mulai tenang kini menggiring Jessica untuk duduk berhadapan dengan orangtua mereka.

Kesunyian ruangan, deru nafas menahan emosi dan suara isak tangislah yang saling mendominasi ruangan itu.

"Hiks..hiks..appa..mianhae..aku tidak tahu hiks..kenapa video itu hiks..tersebar" Jessica memberanikan diri untuk buka suara terlebih dulu, menjelaskan masalah yang tengah mereka hadapi.

"Jadi maksudmu, kau memang pelaku yang ada di video itu huh?" tanya Hyunjoong dengan nada tinggi sambil berdiri.

Jessica hanya menganggukan kepalanya pelan. Tubuhnya semakin bergetar dipelukan Tiffanny. Suara tinggi Hyunjoong semakin membuat nyalinya ciut.

PLAK

"Dasar anak tak tahu diri! Kenapa kau lakukan itu huh? Kau berniat membuat namaku hancur? Berniat membuat keluargamu hancur? KATAKAN!"

PLAK

"Dasar anak bodoh! Reputasi yang sudah kubangun susah payah kau hancurkan begitu saja? KURANG APA AKU SEBAGAI APPAMU JESSICA?"

PLAK

"Kau mencoreng nama baik keluarga Kim dimasyarakat. Mereka tahu bahwa kau itu anak yang alim dan sopan, tapi ini kelakuanmu yang sebenarnya HUH? JAWAB AKU!"

PLAK

PLAK

Tamparan dan cacian Hyunjoong tak bisa dihentikan oleh Jung min maupun Jessica. Mereka hafal betul bagaimana jika Hyunjoong emosi. Tiffanny hanya bisa memeluk dan mengelus pelan pipi bekas tamparan Hyunjoong pada Jessica dan membisikkan kata-kata yang menenangkan adiknya.

Sedangkan Jung min ia ikut beridiri dan mengelus-elus dada Hyunjoong agar tenang.

"Hhh...hhh...Junghh minnhhh.." Ternyata kejadian ini membuat dada Hyunjoong terasa sesak, terlihat dari dadanya yang seperti terpompa dengan cepat dari dalam dan terdengar suara sesak nafasnya. Ia bahkan tak sanggup berdiri, Jung min yang mengelus dadanya tadi pun langsung menghapus air matanya dengan kasar dan membantu Hyunjoong berjalan menuju kamar mereka meninggalkan Tiffanny dan Jessica.

Saat berjalan pun cengkraman tangan Hyunjoong pada tangan Jungmin semakin keras, sehingga membuat Jung min merintih kesakitan tapi ia tetap memapah tubuh Hyunjoong yang semakin lemas. Sesampainya dikamar, Jung min segera merebahkan tubuh Hyunjoong ketempat tidur dan memberinya sebuah pil untuk meredakan nyeri dadanya.

"Yeobo..tenangkan dirimu chagi, dan minum obat ini" perintah Jung min lembut. Hyunjoong pun meneguk pil dan air putih yang disorokan Jung min. Tak berapa lama efek obat itu bekerja, membuat dada Hyunjoong sekarang bernafas dengan tenang. Jung min yang menyelimuti tubuhnya pun tersenyum dan mengelus pipi suaminya.

"Yeobo..apakah ini awal kehancuran kita?" tanya Jung min pelan. Hyunjoong hanya bisa menggenggam erat tangan Jung min yang mengelus pipinya itu.

"Mengapa kau berkata demikian sayang? Semua baik-baik saja, ini hanya suatu kejadian yang memang tidak terprediksi dan tidak berkaitan dengan masa lalu kita" Hyunjoong berusaha menenangkan istrinya

"Tapi kotak itu hilang, dan sekarang..hiks..Jessica hiks..menjadi korban hiks.." tangis Jung min kembali pecah.

"Ssssttt tenanglah chagi, tetaplah berada disampingku dan kita lalui ini semua bersama ne? sekarang tidurlah disampingku" Jung min menanggukan kepala mendengar perkataan suaminya. Ia pun merebahkan dirinya untuk tidur di sebelah Hyunjoong dan memeluk suaminya sebelum merapatkan selimut untuk menghangatkan tidur mereka.

.

.

"Hiks..hiks..unnie, bagaimana ini? Appa marah besar padaku" tangis Jessica dikamarnya. Yeoja itu kini tengah duduk diranjangnya, memeluk boneka barbie kesayangannya. Tiffanny yang berdiri dihadapannya hanya mendecih tak peduli.

"Cih. Itu urusanmu, siapa suruh kau teledor" ucap Tiffanny.

"Kau kenapa tak membela dongsaengmu sendiri unnie? Hiks..kau tega padaku!"

"Darah raja tega memang mengalir pada tubuh kita Sicca sayang, jadi jangan terlalu berlebihan"

Jessica terdiam mendengar perkataan unnienya itu. Sedikit senyum meremehkan mulai tersungging dipipinya, ditatapnya lekat-lekat wajah kakaknya.

"Kau berniat membawaku 'bermain' kan unnie?" tanya Jessica.

"Tentu saja baby, cepat bersihkan tubuhmu!"

Jessica pun masuk kekamar mandi, sementara Tiffanny mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang yang mau diajak 'bermain' dengannya dan Jessica.

.

.

.

CKLEK

"Ciluk baa..."

"..."

Wajah ceria milik Yunjae langsung muram saat tak ada sahutan dari Jaejoong untuk menyambut kedatangannya. Saat tengah malam seperti ini memang tak ada pihak keluarga yang menjaga mereka, tapi bodyguardlah yang menjaga pintu kamar inap mereka. Tadi Yunjae merengek pada salah satu bodyguard untuk mengantarnya membeli susu, dan saat kembali Yunjae ingin memberi kejutan untuk Jaejoong, tapi ternyata Jaejoong masih tertidur dalam biusannya.

"Umma! Kenapa umma tidul teluc cih? Unjae kan kangen huufftt.." Yunjae mempoutkan bibirnya sambil berjalan keranjang Jaejoong. Saat akan menaikinya Yunjae kesulitan, tapi bodyguard yang mengantarnya tadi langsung sigap menggendong Yunjae keatas ranjang Jaejoong.

"Tuan muda ingin tidur disamping umma?" tanya boduguard itu setelah membantu Yunjae.

"Huum, Unjae ingin tidul dicamping umma, ahjuci keluar caja. Gomawo ahjucci"

Bodyguard itupun keluar dari ruang inap Yunjae dan Jaejoong. saat ini memang hanya selang infus dan selang oksigen saja yang melekat ditubuh Jaejoong, sehingga membuat Yunjae tidak terlalu sulit untuk memeluk tubuh Jaejoong yang semakin hari semakin kurus.

"Umma..bogochipo~" lirih Yunjae sambil memeluk Jaejoong, sedikit demi sedikit matanya meneteskan air mata.

"Umma ileonabwa(ireonabwa), Cu-ie umma cama Uchun appa belum pulang, Unjae kecepian huhuhu" adu Yunjae pada Jaejoong.

Jaejoong yang sebenarnya sudah terbangun sejak kedatangan Yunjae hanya terdiam tanpa sedikit pun membuka kedua kelopak matanya. Tapi, mendengar suara Yunjae yang mulai bergetar dan akan menangis, Jaejoong pun membuka kedua matanya perlahan.

Tangan Jaejoong yang tidak terinfus mengelus pelan surai hitam tebal milik Yunjae, membuat Yunjae yang mulai menangis tersentak kaget dan mendongakkan kepalanya.

"Umma! Umma cudah bangun? Holleeee~" girang Yunjae mendapati ummanya tersenyum kearahanya.

"Ne baby umma sudah bangun, Yunjae kangen umma?" tanya Jaejoong pelan tanpa melepas elusan dirambut Yunjae.

"Eum..eum..Unjae kangeeennn cekali cama umma hihi"

Dan malam itu pun diisi dengan canda tawa Yunjae dan Jaejoong yang melepas rasa rindu mereka.

.

.

PRAK

"Apa ini?" suara dingin Jonghyun menggema memenuhi ruang kerjanya.

"Jweosonghamnida tuan, maafkan kami jika tugas yang Anda berikan tidak kami kerjakan sesuai dengan keinginan Anda dan membuat Anda tidak puas." salah satu dari 3 anak buah Jonghyun membungkuk maaf mewakili teman-temannya.

"Ne, aku memang tidak puas dengan kerja kalian kalau hanya segini saja" ujar Jonghyun dingin.

"Maksud tuan apa?" tanya anak buah itu

"Kalian baru menghancurkan Jessica saja, bukan keluarga Kim seutuhnya"

"Maksud tuan nona Jaejoong juga?" tanya anak buah itu lagi

"Bodoh! Tentu saja dia tidak termasuk! Semua anggota keluarga Kim harus hancur terkecuali Jaejoong. dan aku mau semuanya berjalan dengan rapih".

"Baik tuan, kami akan melaksanakannya, kami permisi dulu" anak buah Jonghyun pergi meninggalkan ruangannya.

Jonghyun pun mengambil kembali laporan anak buahnya yang tadi ia lempar ke meja kerjanya. Dia menyeringai senang begitu mengetahui bahwa Jessica sudah menjadi korban pertama dalam misinya.

"Jessica si anak alim, menarik sekali dirimu. Cih" decihan disertai seringai kemenangan menghiasi wajah tampan Jonghyun. Ia pun berjalan ke sebuah brangkas yang terdapat diruangannya dan membuka brangkas itu.

"Kotak ini sangat bermanfaat sekali, terimakasih Hyunjoong ternyata kau merekam peristiwa hidupmu disini, dan tunggulah aku. Aku akan membawa kotak ini kehadapanmu kelak."

Jonghyun pun menutup kotak itu dan menyimpannya kembali ke brangkas.

.

.

Di sebuah ruangan, tepatnya di ruang kerja Mr. Jung yang ada dikediaman Jung, terdengar suara perdebatan antara ayah dan anak.

"Aniya appa! Aku sudah memutuskan untuk menceraikan yeoja itu setelah ia sadar. Kau tau dengan jelas bukan bahwa aku tidak mencintainya!" bentak Yunho pada sang appa.

"Dimana otak mu Jung? Bukankah kau penyebab ia berada di rumah sakit sekarang ini huh? Bertanggung jawablah jika kau benar-benar seorang pria!" tembak Mr. Jung. Perkataan Mr. Jung tak urung membuat Yunho diam.

"Ne, aku mengaku salah. Tapi tidakkah kau berfikir bahwa dengan kehadirannya hubunganku dengan Hyuna jadi bermasalah? Kami saling mencintai appa, dan semuanya hampir hancur saat yeoja itu datang dan terpaksa harus kunikahi. Aku hanya mencintai Hyuna appa!"

PRAK

Mr. Jung menaruh cerutunya kasr ke atas asbak. Wajah tegasnya terlihat tegang setelah mendengar penuturan anak yang selalu menjadi kebanggaannya.

"Jaga ucapanmu Jung. Kau saja yang tolol untuk tidak membuka matamu. Lihat Hyuna itu siapa, dia tak pantas untukmu! Hanya Jaejoong yang pantas untuk menadi menantu keluarga Jung!"

"Terserah appa untuk setuju atau tidak. yang jelas aku akan tetap menceraikan Jaejoong dan menkahi Hyuna, yeoja yang kucintai. Permisi"

Yunho pun keluar dari ruangan Mr. Jung dengan tangan terkepal menahan emosi. Mr. Jung yang ada diruangannya hanya bisa menyeringai melihat reaksi anaknya yang mati-matian membela hubungan cintanya dengan Hyuna.

"Sampai kapanpun kau hanya kuanggap bocah ingusan Jung Yunho" desis Mr. Jung

.

.

.

Semakin hari, keadaan Jaejoong dan Yunjae semakin baik. Kini Mereka berdua 'dipaksa' tinggal di kediaman keluarga Jung. Ms. Jung beralasan bahwa ia sudah mengetahui semua hal yang terjadi pada Jaejoong, tentunya setelah mengalami beberapa pemeriksaan dokter dan juga penjelasan dari mulut Junsu, yang sempat ditelefon Ms. Jung beberapa waktu lalu.

Di kediaman keluarga Jung, Jaejoong benar-benar merasakan sentuhan lembut danhangat sebuah keluarga. Ms. Jung selalu menemani masa-masa pemulihannya pasca operasi. Begitu pula Mr. Jung, walaupun Yunjae bukan cucu kandung tapi ia sudah amat menyayangi anak itu setulus hatinya.

Jung Yunho? Ahh, setelah mengatakan akan bercerai dengan Jaejoong ia belum kembali ke rumah keluarga Jung. Ia beralasan 'sibuk di kantor'. Tapi tuan Jung tak bisa ditipu bukan? Ia tahu dengan jelas apa saja yang dilakukan Yunho diluar sana. Bahkan surat cerai yang sudah tiga kali Yunho kirimkan pada Jaejoong selalu berhasil sampai ditangannya dan dengan sukses ia sobek.

Dan mungkin Yunho mengetahui hal itu sehingga ia jadi malas untuk pulang. Walaupun tak pulang, toh ada Hyuna sang 'pacar idaman' yang selalu menemaninya.

Lalu, bagaimana dengan kejadian yang menimpa Jessica tempo hari? Kejadian tentang kasus skandal asusilanya yang pada akhirnya membuat dirinya di cemooh oleh seluruh penduduk korea, bahkan mungkin 'fans'nya di luar negeri pun turut mencemoohnya. Tapi memang dasar otak iblis bukan? Disenggol sedikit saja tak masalah baginya, selama ia masih bisa menikmati kekayaan orangtuanya, ia tak masalah dengan perbuatan dan perkataan orang diluar sana.

Ya, berikanlah sedikit waktu untuk nona muda ini menghirup nafas segar sejenak, sebelum...

BRAK

"Kami dari kepolisian pusat Seoul, telah mengepung Anda Jessica Kim. Harap angkat tangan Anda dan segeralah menyerahkan diri"

Oh, ternyata nona Jessica kita ini sedang bersantai disebuah spa kecantikan ternama yang ada di Seoul. Bisa kalian bayangkan, saat dirimu sedang di pijit relaxasi tiba-tiba polisi datang mengepung dan siap menangkapmu? Hal itu lah yang terjadi pada Jessica.

"YA! APA-APAAN KALIAN? KALIAN TIDAK SOPAN! INI MELANGGAR PRIVASI ORANG!" bentak Jessica pada beberapa polisi yang ada diruangan tersebut.

"Tidak usah mengulur waktu nona Kim. Anda kami tangkap atas tuduhan kasus asusila. Dan sebaiknya Anda mempertanggung-jawabkannya di pengadilan nanti." seorang pimpinan tim polisi tadi langsung menyuruh anak buahnya untuk memborgol tangan Jessica. Jessica pun meronta dan histeris.

"LEPASKAN! AKU TIDAK BERSALAH! KALIAN JANGAN SEENAKNYA MENANGKAP ORANG! AKAN KUTUNTUT KALIAN! KYYAAA LEPASKAN!" amukan Jessica itu tidak digubris oleh para polisi. Untung saja kaki Jessica yang dipijit jadi mereka tak perlu repot-repot menunggu Jessica mengganti baju.

"LEPASKAN AKU. AKU TIDAK BERSALAH! LEPASKAN" teriakan Jessica semakin keras setelah keluar dari spa. Ternyata di depan spa sudah banyak orang yang menunggu Jessica untuk ditangkap, mereka menghujat, menghina, bahkan meludahi Jessica yang digiring ke mobil polisi.

"Dasar artis sok suci, ternyata kelakuan mu bejat bla bla bla"

"Cih, dasar sampah masyarakat bla bla bla"

Berbagai cacian diterima Jessica sampai akhirnya ia masuk mobil polisi.

.

.

.

Hiyaaa mian update lama, hilang berbulan-bulan..ini DC ya...

mian juga review readers belum bisa di bales..tapi GOMAWOYO udah review..

fanfiction skarang jadi bikin bingung buat post chapter mian itu jg salah satu faktor yg bikin lama update..

Review lagi ya readers...