~Author Speech~

Vices: Oke, part 2 di update. Dan sesuai janji gue, Rhea Matsushima tampil di chapter ini, meskipun gak terlalu sering. Dan berhubung gue udah ngantuk, hal yang jarang banget terjadi, langsung aja roll chapter. On The Go!

Disclaimer

Shugo Chara! itu punyanya Peach-Pit Sensei. Yang gue punya cuma fic ini, dan OC yang mungkin bakal gue masukin. Kalo kebetulan Peach-Pit Sensei khilaf dan ngasih lisensinya buat gue, Shugo Chara! bakalan gue bikinin episode yang ngalahin panjang episodenya sinetron jam 7 malem.

Warning

Bisa jadi fic ini susah dimengerti. Banyak OC insertion. OOT nya juga kayaknya banyak, belom juga grammar error yang bisa lebih banyak lagi. Hati-hati juga buat readers cewek, karena bisa dimodusin. Pokoknya lebih baik jangan dibaca kalo masih sayang mata kalian.


Second Quest:

Cinta Akan Menunjukkan Jalan Part 2

Nagihiko's POV

Kurasa sudah lama aku berdiri di depan cermin untuk mengamati seberapa baik penampilanku. Menurutku sih semuanya sudah bagus, tapi kurasa masih ada yang kurang. Apa sebaiknya aku potong rambut saja? Rambutku sudah terlalu panjang, dan tanpa dikuncir pun kurasa aku benar-benar kelihatan seperti anak perempuan.

"Nagi, mau sampai kapan kau di depan cermin? Kau 'kan janji menjemput Rima-chan jam 5 tepat," melalui cermin kulihat Rhythm menungguku sambil duduk di ranjangku dengan wajah bosan.

"Hei, aku 'kan akan tampil di tv. Penampilanku harus bagus, dong," sahutku sambil menaikkan retsleting jaket parka abu-abuku yang baru kubeli minggu lalu.

"Nagi benar, Rhythm. Dia tidak sepertimu yang urakan." Komentar Temari.

"Apa?!" Rhythm bangkit dari duduknya, dan sebelum mereka betengkar aku menarik mereka dan keluar dari kamarku.

"Okaa-san, aku berangkat!" seruku sebelum ibuku sempat menasihatiku macam-macam lalu bergegas keluar.

Matahari sore yang mulai terbenam mengiringi langkahku menuju rumah Rima. Di persimpangan jalan kulihat sehelai daun peach melayang diterpa angin musim semi di hadapanku. Aku berhenti untuk mengambilnya dan mengamatinya sambil berjalan.

"Kau tahu, Nagi? Daun peach ini mengingatkanku saat kau dan Rima -chan duduk berdua di taman sambil menjaga adiknya Yaya-chan, Tsubasa," ujar Rhythm yang duduk di bahuku.

Hal yang sama juga terlintas di benakku saat melihat daun peach ini. Warnanya yang lembut membuatku terbayang pada sosok anak perempuan yang sama lembutnya. Memang dari luar anak itu tampak sangat dingin, tapi di waktu itu dia menunjukkan sisi lainnya yang sama lembutnya dengan daun ini.

Aku tersenyum sendiri mengingat saat itu. Sudah lama sekali, ya. Sejak kami berdua lulus elementary, "Kuharap dia bisa terus selembut itu sepanjang waktu," tanpa sadar pikiranku terucap. Dan tiba-tiba kurasakan perasaan hangat di dalam dadaku.

"Kau membayangkan Rima-chan, 'kan?" tanya Temari.

"Yah, kalian tahu, lah. Kalian 'kan charaku," sahutku tersenyum padanya.

Temari mengangguk-angguk, "Tentu saja, perasaanmu padanya juga kami tahu, kok,"

Aku tertawa mendengarnya. Gak ada orang lain yang mengetahuinya selain kedua charaku. Bahkan pada ibuku pun aku gak cerita, dan sudah pasti juga dia gak mau dengar.

Dan akhirnya langkahku berakhir di depan rumah Rima. Kudengar suara orang bercakap-cakap yang menandakan ibu Rima sudah pulang. Sudah lama sejak orangtua mereka bercerai, Rima hanya hidup berdua dengan ibunya.

"Hei, Nagi. Gimana, nih? Ibunya sudah pulang, lho." Bisik Rhythm khawatir.

"Bagaimana kalau kita telepon saja Rima-chan dan memintanya untuk keluar?" timpal Temari.

Aku menggeleng, "Bicara apa kalian? Aku gak mau seperti anak-anak jaman sekarang lainnya yang takut pada orangtua teman mereka. Kupikir itu sama sekali gak jantan," ujarku lalu memencet bel. Dan tak lama kemudian Mashiro-san, ibu Rima, membukakan pintu,

"Oh, kau rupanya Nagihiko. Rima-chan sudah memberitahu kalian akan tampil di tv malam ini, benar?" sambut Mashiro-san.

"Benar, Mashiro-san. Kuharap anda tidak keberatan aku pergi bersama Rima-chan," ujarku sopan.

"Tentu saja aku tidak keberatan, kau dan Rima-chan 'kan sudah lama berteman. Tunggu sebentar, ya. Akan kuminta Rima-chan untuk keluar." Kata Mashiro-san ramah.

"Hai, Arigato gozaimasu." Sahutku. Kemudian Mashiro-san masuk memanggil Rima sementara aku menunggu sambil memainkan smartphone ku.

"Kuharap kau LAMA menungguku, kepala ungu," suara anak perempuan membuatku mengalihkan pandanganku dari smartphone ku dan beralih menatap sosok menakjubkan yang berdiri di depanku.

Rima memakai gaun putih bersih selutut dengan renda di bagian roknya. Rambutnya seperti biasa digerai dan dihiasi bando hitam, dan wangi harum dari rambutnya menandakan kalau dia baru saja keramas. Mataku gak bisa berpaling dari sosok mempesona yang terlihat lebih cantik dari biasanya itu. Aku melonggarkan retsleting parkaku karena tiba-tiba kurasakan hawa menjadi lebih panas dari sebelumnya.

"Apa yang kau lihat sih?" Rima terlihat terganggu lalu mengibaskan tangannya di depan wajahku.

Aku tersadar lalu berusaha berdiri tegap, "Oh, gak apa-apa, kok." Ujarku buru-buru. Lalu aku merasa perlu untuk mengucapkan sesuatu yang lebih pintar dari sekedar bilang gak apa-apa,

"Boleh aku bilang sesuatu?"

"Apa?"

"Kau kelihatan cantik." Sesaat kupikir itu bukan aku yang berbicara.

Rima terdiam sejenak. Kurasa beberapa saat lagi dia akan memukulku. Aku menutup mata bersiap-siap.

"Terima kasih." Ujarnya pelan. Aku membuka mata dan melihat Rima menunduk.

Aku menghembuskan napas lega, kupikir nyawaku akan hilang malam ini. Kurasa sekarang waktu yang tepat untuk pergi,

"Bisa kita berangkat sekarang?"

"Tentu."

Rhea's POV

Huaah capeknya~ padahal baru satu jam aku berlatih. Mungkin benar kata Rin-nee, minggu ini jadwalku terlalu padat. Harusnya aku terima saja tawaran jalan-jalannya minggu kemarin.

Dengan lemas aku memutuskan untuk duduk saja di lantai. Kurasakan keringat bercucuran banyak sekali di wajahku, "Akai, tolong ambilkan aku handuk, dong," ujarku pada charaku.

"Sebentar, kurasa aku menemukan cara untuk bernyanyi sambil menari tanpa capek. Coba lihat," sahutnya tanpa menoleh. Dia memutar tubuhnya dengan anggun sambil menyenandungkan beberapa nada.

Aku tertawa melihat tingkahnya. Kurasa urat capeknya sudah putus, "Aduh, Akai. Kalau begitu harusnya kau saja yang jadi artis, ya," ujarku lalu mengambil handuk dan menggunakannya untuk mengelap wajahku.

Lalu kudengar suara ketukan di pintuku, "Rhea, kau mau makan malam tidak?" suara Rin-nee memanggilku dari balik pintu.

"Iya, sebentar lagi aku turun," sahutku. "Kau mau ikut atau tetap berlatih?" tanyaku pada Akai.

"Kurasa aku pilih makan malam saja," sahut Akai lalu menghentikan tariannya. Aku tertawa kecil lalu mendahuluinya keluar kamar dan turun ke ruang makan.

Di ruang makan sudah ada Rin -nee yang sudah selesai memasak dan menyajikannya di meja makan, di sebelahnya duduk Yoru yang masih saja bermain dengan smartphone nya, "Duh, gomennasai, Rin-nee. Aku gak membantumu memasak." Ujarku menyesal.

"Sudahlah, Rhea. Aku tahu kau sibuk berlatih. Lagipula aku di tolong Yoru, Topaz dan Merodii tadi. Tapi sekarang makan dulu, ya. Kau berlatih hampir sepanjang waktu. Bahkan kau tak datang ke Royal Garden tadi," ujar Rin-nee tersenyum lalu menyodorkan mangkuk padaku.

"Wow, Yoru membantumu memasak? Keren," pujiku pada adik laki-lakiku satu-satunya itu. Aku mengambil sukiyaki yang jadi makan malam kami sampai memenuhi mangkukku dan mengambil mangkuk kecil untuk Akai, "Mana Nitsuki-nee?" tanyaku.

"Dia 'kan jadi bintang tamu di tv malam ini. Tadi sepulang sekolah dia sudah berangkat," ujar Yoru mengambil sukiyaki untuknya.

"Bintang tamu tv? Di acara lomba memasak, ya?" tanyaku sambil menyuap.

"Jangan bicara sambil makan. Dan, ya. Kau tahu darimana?" sahut Rin-nee.

Sebelum bicara aku menelan dulu makananku, "Gomen. Aku tahu dari produsernya. Jadwalku 'kan diubah karena acara itu." Jelasku. "Katanya yang berpartisipasi di lomba itu murid sekolah kita, ya?" tanyaku lagi.

"Iya, dua diantaranya adalah anggota Guardian. Kau kenal Rima Mashiro dan Nagihiko Fujisaki, 'kan?" aku mengangguk pada pertanyaan Rin-nee. "Tapi lawan mereka di lomba itu aku tak tahu," lanjutnya.

Hei, hal itu membuatku teringat akan sesuatu, "Rin -nee, kau kenal Alice Ichinomiya dan Makoto Higashi?"

"Ya, mereka murid Seiyo juga dan mereka dulunya pasangan selebritis. Kenapa?" tanya Rin-nee bangkit dan menyalakan tv.

"Kudengar lawan Mashiro-san dan Fujisaki -san di lomba itu adalah mereka." Ujarku sedikit khawatir.

"Oh begitu. Lalu?" Rin-nee sama sekali tidak khawatir sepertiku.

Sebelum menjelaskan aku meneguk segelas air putih dulu, "Menurut kabar yang beredar, setelah mereka putus mereka jadi saling membenci satu sama lain. Mereka sering tertangkap media sedang bertengkar. Dan saat di tv pun mereka saling mengejek, padahal mereka berlainan tempat." Jelasku sambil mengingat-ingat.

"Jadi maksud Rhea-nee, dia khawatir dua orang bodoh itu akan bertengkar di tv nanti dan mengacaukan acaranya. Begitu 'kan?" ujar Yoru memberi kesimpulan sambil menatap tv.

Rin-nee sepertinya mengerti maksud kata-kataku. Dia berpikir dengan menempelkan telunjuk ke bibirnya, "Kalau itu yang kau khawatirkan, kurasa semuanya akan baik-baik saja. Dan lagipula mereka akan lebih sibuk memasak daripada saling mengejek satu sama lain," ujar Rin-nee mengambil mangkuknya yang sudah kosong ke bak cuci.

Aku menggeleng tak setuju, "Ada hal lain yang lebih membuatku khawatir, onee -chan. Mereka itu juga suka membuat pasangan lain jadi saling membenci dengan memanas-manasi orang lain," tukasku sambil membantu Rin-nee mencuci peralatan makan.

"Lalu kenapa? Meskipun lomba itu untuk pasangan, tapi Mashiro-chan dan Fujisaki-kun bukan sepasang kekasih. Tak akan ada yang terjadi pada mereka," ujar Rin -nee dengan perhatian tetap terpusat pada cuciannya.

"Justru karena ini lomba untuk pasangan, dua orang itu 'kan gak tahu kalau Mashiro-san dan Fujisaki-san bukan pasangan," Yoru yang dari tadi menatap tv menyahut. "Aku mengerti kekhawatiran Rhea-nee. Mungkin kesimpulanku terlalu berlebihan, tapi kurasa mereka akan membuat Fujisaki-san dan Mashiro-san mempermalukan diri mereka dengan berkelahi di depan kamera." Ujarnya lalu menyusul kami berdua ke bak cuci dan menaruh mangkuknya.

Rin-nee mengeringkan tangannya dan sejenak terdiam. Kelihatannya dia sedang merenungkan kata-kata Yoru barusan, "Kurasa kalian benar. Di tambah lagi, Mashiro-chan dan Fujisaki-kun memang selalu bertengkar setiap kali bertemu." Ujarnya dengan wajah cemas.

"Kubilang juga apa." Sahut Yoru.

Rima's POV

"Silakan, Rima," Nagihiko turun lebih dulu dari bis yang kami naiki lalu mengulurkan tangannya padaku.

"Terima kasih," aku menyambut uluran tangannya lalu turun dari bis. Sepanjang perjalanan, dia selalu bersikap baik padaku. Bahkan dia rela menawarkan kursinya padaku dan memilih berdiri tadi.

Tapi semua itu gak mengubah pandanganku terhadapnya. Tetap saja dia seorang anak laki-laki crossdresser yang merebut teman baikku, Amu, "Jadi, apa kita terlambat? Kuharap iya karena aku sama sekali gak ingin memasak," ujarku sambil bersikap biasa.

Nagihiko tertawa lalu melihat jamnya, "Kabar buruknya, tidak. Kita gak terlambat, masih ada waktu setengah jam sebelum acara dimulai," sahutnya.

"Setengah jam lagi bersama orang menyebalkan sepertimu." Aku menghela napas bosan.

Nagihiko menggelengkan kepalanya, "Rima, bisakah kau bersikap sedikit baik padaku? Saat ini kita harus berpura-pura sebagai pasangan, kau tahu," katanya dengan nada kesal.

Aku mendengus, "Pertama, tidak. Aku gak bisa bersikap baik padamu. Kedua, jangan panggil aku tanpa honorific. Ketiga, aku benci berpura-pura menjadi pasanganmu!" tukasku sambil melipat tangan.

"Ya, ya. Kau bisa simpan kekesalanmu untuk nanti. Sekarang ada acara tv yang harus kita hadiri." Dia mengabaikan ucapanku lalu menarikku masuk ke dalam gedung stasiun tv yang bahkan aku gak tahu namanya.

"Hei, jangan tarik tanganku! Aku bukan hewan, tahu!" seruku sambil bersusah payah menyesuaikan langkahku dengannya. Tapi dia mengacuhkanku dan terus saja berjalan ke resepsionis. Mau tak mau aku mengikutinya.

"Permisi, kami akan mengikuti acara lomba memasak," ujar Nagihiko pada resepsionis. Aku membiarkannya bicara dan menunggunya di belakang sambil mengamatinya. Kuakui, cara bicaranya ramah sekali dengan orang yang belum di kenalnya. Kalau aku sih mana sudi seperti itu, bisa-bisa aku diculik lagi nanti.

"Rima-chan, Nagi-kun tampan sekali, ya, malam ini," bisik Kusukusu.

Sebenarnya aku berniat membantah ucapannya, tapi setelah kuamati apa yang dikatakannya memang benar. Postur tubuh Nagihiko terlihat lebih tegap sejak kami lulus elementary. Bahunya menjadi lebih bidang, kurasa karena dia sering main basket. Tapi dari semua itu dia jadi lebih kelihatan seperti seorang laki-laki. Beda jauh saat aku mengetahui kalau dia adalah seorang crossdresser.

Tiba-tiba dia menoleh ke arahku dan melemparkan senyum. Aku membuang muka, karena entah kenapa, kurasa wajahku memerah melihat senyumnya. Baka, Rima!

Akhirnya dia selesai mengurus urusannya di resepsionis lalu menghampiriku, "Oke, kita diminta menunggu di ruang tunggu sampai acara dimulai." Ujarnya.

"Oh begitu," sahutku gak bisa memikirkan kata-kata lain. "Ya sudah, ayo." Aku mendahuluinya berjalan. Tapi dia tetap di tempatnya.

Aku berbalik menghadapnya dengan bingung, "Apa yang kau tunggu?" tanyaku.

"Kita harus bersikap seperti sepasang kekasih, ingat?" sahutnya sambil menunjuk pergelangan tangannya. Rona merah di wajahku kurasakan kembali lagi tanpa bisa kukontrol.

"A−apa maksudnya?!" seruku bingung sekaligus panik.

"Maksudku? Bergandengan?" dia bertanya balik. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

Oh, sial. Dia pikir aku takut melakukannya? Baiklah, kalau dia bisa berpura-pura biasa saja kenapa aku gak bisa? Lalu dengan segenap kekuatanku aku berusaha bersikap biasa dan merangkulkan lenganku di pergelangan tangannya.

"Baik. Buatku bukan masalah." Ujarku dengan nada dingin andalanku.

Dia tertawa kecil lalu menatapku, "Kalau begitu, apa kau siap, Rima-koi?" katanya dengan penekanan di kata 'koi'.

Aku berusaha mengacuhkan pikiran-pikiran aneh karena kalimatnya itu, "Tentu saja, Nagi-koi." Sahutku dengan suaraku yang paling manis. Kami lalu melangkah menuju ruang tunggu yang gak jauh dari situ.

Kau pikir cuma kau saja yang bisa pura-pura, hah?

Makoto's POV

"Kumohon, bisakah kau berhenti bernyanyi? Suaramu membuatku sakit," aku menutup telingaku. Sudah sejak sampai Alice gak berhenti bernyanyi.

Akhirnya dia menghentikan nyanyiannya dan berpaling padaku dengan wajah sebal, "Aku ini penyanyi. Dan aku harus terus melatih suaraku, gak sepertimu yang hanya bisa naik sepeda dan berakrobat seperti simpanse," sahutnya ketus.

Aku tertawa mendengar kata-katanya, "Kau tahu, aku gak keberatan kau panggil simpanse, kok. Itu 'kan memang julukanku, Makoto si Simpanse." Ujarku sambil meminum sodaku.

"Dasar aneh," Alice menggelengkan kepalanya.

"Alice-chan, Makoto-kun. Lawan lomba kalian sudah datang," ujar kru tv masuk memberitahukan.

"Oh begitu, ya sudah suruh mereka masuk." Kataku pada kru tv itu, lalu dia menutup pintu. "Dengar Alice, di depan kamera kita boleh saja terlihat biasa. Tapi di depan lawan kita, kuharap kau menghayati peranmu sebagai pasanganku." Tegasku pada Alice.

Dia mengangguk, "Aku tahu itu. Kontrak sponsor itu 'kan benar-benar kuperlukan." sahutnya.

Lalu dua orang anak laki-laki dan perempuan berambut panjang masuk, "Sumimasen. Kami gak menggangu, 'kan?" ujar anak laki-laki itu sopan. Entah kenapa kurasa dia lebih kelihatan seperti perempuan, kalau saja bahunya tidak seatletis itu.

"Gak lah, ayo masuk. Santai saja," ujar Alice ramah. Mereka lalu masuk dan duduk berdampingan. "Boleh aku tahu nama kalian?" tanyaku berusaha bersahabat.

"Ah, namaku Nagihiko Fujisaki. Dan dia−" perkataanya dipotong oleh anak perempuan pirang itu, "Aku Rima Mashiro," ujarnya dingin. Wow, pasangan yang menarik, pikirku geli.

"Ah, aku kenal kalian. Kalian anggota Guardian, 'kan? Aku lihat kalian, lho, saat pidato penerimaan murid baru. Kau yang marah-marah itu, ya, Rima-chan?" tanya Alice.

Sesaat Rima sepertinya mau berkomentar, tapi dicegah oleh Nagihiko, "Ah, benar, Ichinomiya-san. Dia ini memang sedikit... temperamental," ujarnya tersenyum.

"Oh, aku mengerti. Mohon panggil aku Alice saja, lagipula 'kan aku lebih muda daripadamu," kata Alice. Nagihiko mengangguk.

"Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kalian pacaran?" tanyaku lagi.

Tiba-tiba mereka berdua terdiam, seperti sedang memikirkan jawaban apa yang harus mereka ucapkan. Lalu Rima yang menjawab, "Sudah enam tahun," katanya cepat.

Wow, keren juga. "Aku gak menyangka ada orang yang bisa pacaran selama itu," ujarku gak percaya.

"Benar, aku dan Makoto saja, kalau dihitung sebelum kami putus, baru satu tahun." Timpal Alice lalu memelukku dari belakang. Aktingnya bagus juga.

Nagihiko mengangguk-angguk mengerti, "Lalu sejak kapan kalian kembali berpacaran? Kudengar baru saja kalian putus sebulan lalu," tanyanya. Aku dan Alice berpandangan, memikirkan harus menjawab apa.

Ketukan di pintu menyelamatkan kami dari keharusan menjawab, "Masuk," kataku.

Kru tv tadi kembali, "Minna, lima menit lagi on air. Silakan bersiap di belakang pangung." Ujarnya.

Aku bangkit sambil mengulurkan tanganku pada Alice. Dia menyambutnya sambil tersenyum tipis, "Ayo teman-teman, kita akan masuk tv!" seruku pada dua orang teman baruku itu. Mereka berdiri dan mengikutiku keluar.

Lalu kami berempat mengikuti kru tv ke belakang panggung. Sesampainya di sana aku berbisik pada Alice, "Ingat, aku membencimu lebih dari apapun." Tegasku.

Dia tersenyum padaku dengan manis, senyum pura-pura pastinya, "Aku juga, Makoto-koi. Tapi di depan kamera harusnya stasiun tv inilah yang kita benci. Jangan lupa itu," ujarnya balas berbisik.

Aku mengabaikan ucapannya. Masa bodoh. Kau saja, deh, yang seperti itu. Lebih baik aku menjelek-jelekkanmu saja nanti, biar semua orang tahu betapa menyebalkannya kau, kataku dalam hati.

Amu's POV

"Ayo, onee -chan, kita nonton Happy Cooking!" Ami berseru tiba-tiba dan membuka pintu kamarku dengan keras.

"WAA!" buru-buru aku menutupi badanku dengan handuk yang baru kupakai mandi tadi. "Kalau mau masuk ketuk pintu dulu, dong!" teriakku marah.

"Ehehe, gomen. Tapi kita gak punya banyak waktu. Jadi, ayo cepat!" Ami menarik-narik tanganku. Sepertinya dia gak sungguh-sungguh minta maaf tadi.

"Iya, iya. Nanti dulu, ya. Biarkan aku pakai baju dulu," ujarku sambil dengan kesal membetulkan handukku yang hampir jatuh gara-gara Ami.

Dasar, kelakuan Ami gak berubah sama sekali. Bahkan setelah dia sekarang duduk di kelas tiga sekolah dasar, dia masih saja gak bisa lepas dariku. Untungnya dia masuk Seiyo elementary, dimana Tsukasa bisa memastikan dia gak terus mengikutiku dan melakukan segalanya sendiri. Kurasa adikku akan tumbuh dan menemukan jati dirinya dengan baik di sana.

Setelah mengenakan kaus lengan panjang merahku dan celana pendek hitam yang ditambah stoking putih selutut aku terpaksa merelakan tanganku ditarik-tarik Ami sepanjang perjalanan kami turun ke ruang keluarga. Keempat charaku mengiriku sambil menahan tawa mereka. Mengingat Ami sekarang sudah besar, dia sudah gak menganggap mereka sebagai mainan dan sekarang beralih menyiksaku. Dia sudah kuberitahu kalau dia akan punya chara sendiri suatu saat nanti, dan dengan gak sabar selalu tidur sambil berkata keras-keras 'kuharap aku punya chara'. Aku penasaran akan seperti apa charanya nanti.

Di ruang keluarga sudah ada Mama dan Papa yang duduk berangkulan di sofa sambil menonton tv. Mama berpaling ke arahku saat dia melihatku turun,

"Ayo sini, Amu-chan. Sekali-sekali kita berkumpul setelah makan malam. Selama ini biasanya kamu selalu langsung masuk kamar," ujar Mama tersenyum sambil menepuk sofa di sebelahnya.

"Kamu gak secara diam-diam berhubungan dengan cowok, 'kan?" selidik Papa saat aku duduk.

Aku menggeleng mendengar pertanyaanya yang konyol itu, "Ya gak lah, Papa. Aku tadi cuma mandi, kok." Jawabku capek. Kalau dilihat-lihat seluruh keluargaku sama sekali gak berubah. Papa masih saja sensitif kalau sudah dengar kata cowok.

"Tsumugu, Amu-chan 'kan sudah SMA. Memang sudah waktunya dia dekat dengan cowok. Ya, 'kan, Amu-chan?" ujar Mama sambil tersenyum padaku. Aku balas tersenyum. Untuk soal ini mama lah yang selalu membelaku.

"Tapi 'kan..." ucapan Papa yang sepertinya ingin membantah terputus karena suara bel pintu.

"Aku saja yang buka." Ujarku buru-buru bangkit menuju pintu. Aku gak mau Papa bertingkah macam-macam seandainya orang dibalik pintu itu adalah teman cowokku.

"Tunggu sebentar," aku merapikan rambutku yang belum sempat kusisir lalu membuka pintu. Begitu pintu terbuka Utau sudah menerjang dan memelukku sambil menangis begitu keras.

"U-Utau, ada apa?!" ujarku bingung melihatnya.

"Wah, Utau-chan!" seru Ami kagum dari belakangku. Papa dan Mama ikut melihat.

"Amu-chan, apa yang terjadi pada Utau-chan?" tanya Mama khawatir.

"Aku gak tahu, ma. Hei, Utau, kau kenapa?" aku berusaha menenangkan Utau yang terus menangis. Dan saat itu Kukai muncul dari belakangnya dengan wajah lesu.

"Kukai, Utau kenapa? Kalian gak berkelahi, 'kan?"

Kukai menggeleng, "Hinamori, sebaiknya kau ke rumah keluarga Tsukiyomi sekarang." Ujarnya serius.

"Apa yang terjadi?" tanyaku panik membayangkan kemungkinan buruk apa yang terjadi.

"Ikuto-kun diserang seseorang."