Akhirnya update juga! #Fuah... (Apa selelah itu thor?)

Untuk mendapat jawabannya, langsung scroll ke bawah! HIYAAAH!

Selamat membaca!

Pairing : Natsu D. & Lucy H.

Genre : Adventure-Rescuing

Disclaimer : Hiro Mashima

Warning : OOC, Genre ganti-ganti setiap chapter, alur kecepetan, dan lain-lain.

"Lacrima berasal dari nyawa orang yang sudah mati..." Jawab Juvia (Edolas). Semua melihat ke arahnya dengan mata membulat.

"Lacrima... adalah nyawa?" Ulang Lucy. Ia menggenggam erat lacrima yang ada di tangannya dan semua mata sekarang tertuju pada tumpukan lacrima yang ada di pangkuan Lucy.

"Ah, maksudku bukan saat kau mati, kau langsung berubah jadi lacrima... butuh waktu beratus-ratus tahun untuk menjadi lacrima..." Jelas Juvia (Edolas).

"Jadi maksudmu seperti fosil?" Tanya Juvia. "Bingo! Mungkin di sini kau menyebutnya fosil... " Jawab Juvia (Edolas) Sambil tersenyum dan menepuk pelan bahu Juvia.

"Ah... sebaiknya kita pergi dari sini... aku takut mereka tiba-tiba datang.. " Kata Natsu Dragion sambil memainkan telunjuknya. Dia tidak berani menatap Lucy.

"Pergi dari sini?" Tanya Lucy dengan wajah heran.

"T-tidak apa jika kau tidak setuju dengan usulku!" Kata Natsu Dragion sambil menutupi kepalanya. "Aah... aku tidak bilang kalau aku tidak setuju... " Gumam Lucy.

"J-jadi kau setuju... Lu... cy?" Tanya Natsu Dragion ragu-ragu. "Yaa... hanya saja... aku tidak punya firasat kalau kita harus kabur... " Kata Lucy sambil melihat langit. Natsu Dragion pun mengikuti arah pandang Lucy.

"Lebih baik kita bersembunyi atau menyamar jadi rakyat biasa..." Kata Zeref tiba-tiba. Semua tersentak dan kemudian melihat ke arah laki-laki berwajah kasihan ini.

"Caranya?" Tanya Mavis sambil mengadah ke atas. Melihat Zeref yang lebih tinggi darinya.

"Itu... " Zeref menunjuk jubah yang dipakai oleh Lucy. Lucy yang bingung menunjuk dirinya sendiri sambil tersentak mundur.

"Dimana kita bisa mendapatkan benda seperti itu?"


"Heee... ? kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang bergerak hah?" Tanya Lucy Ashley dengan pose mengancam. Begitu pun dengan mereka, orang-orang berjubah hitam. Dari tadi, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak sedikit pun.

"Apa kalian meminta aku untuk bergerak duluan? Baiklah kalau begitu... " Kata Lucy Ashley sambil mengangkat tangannya. Orang-orang itu makin memantapkan pose mereka. Bersiap jika sewaktu-waktu ada gerakan tidak terduga.

Lucy Ashley menutup matanya kemudian menarik nafas.

.

.

.

"HA!" Teriak Lucy Ashley tiba-tiba sambil menghentakkan salah satu kakinya ke depan. Orang-orang yang tegang itu pun tersentak kaget dan melompat kebelakang. Ada yang teriak juga, ada yang lata, dan ada yang berlari cukup jauh ke belakang.

Di situlah Lucy Ashley menggunakan kesempatannya untuk kabur bersama dengan Natsu, Gray, Jellal, dan Erza Knightwalker.

Saat berlari menjauhi kelompok itu, Natsu terus memperhatikan Lucy Ashley.

"Entah... mereka mirip... atau bahkan identik... tapi entah kenapa aku merasa kalau dia ini... " Natsu menghentikan pikirannya sejenak dan mengingat-ingat wajah Lucy.

"Lebih cerdas?" Lanjut Natsu sambil melihat ke atas. Kedua alisnya bertaut seperti orang berpikir.

"Hey, apa yang kau pikirkan?" Tanya Lucy Ashley tiba-tiba. Natsu tersadar dari lamunannya dan segera menggeleng.

"T-tidak ada!" Jawab Natsu sedikit gugup.

Lucy Ashley menatapnya dengan bingung.

"Kau tidak ada bedanya dengan Natsu... " Kata Lucy Ashley kembali menatap jalan di depannya. Natsu menengok dengan wajah heran. "Natsu? Ooh... maksudmu dia... " Natsu teringat dengan orang yang persis sama sepertinya, Natsu Dragion. Lalu ia terdiam sejenak.

"Sekarang mereka sedang apa ya?" Tanya Natsu sambil melihat tanah di bawahnya.


Lucy berjalan kembali ke rombongannya di sebuah gang sempit yang cukup gelap. Di sana, mereka sudah selesai mengenakan jubah putih yang sama seperti Lucy. Mereka melakukan ini sebagai penyamaran atas usul Zeref. Memang kebanyakan penduduk di sana memakai pakaian berwarna putih dan juga segaian dari mereka menutupi wajahnya dengan kain karena pasir sering beterbangan di mana-mana dan setiap saat.

"Bagaimana? Apa aku terlihat seperti Mavis?" Tanya Mavis yang wajahnya sudah tertutup dengan kerudung dan hanya menyisakan mulutnya saja.

"Memang tidak sih... tapi kau terlihat seperti orang mencurigakan... " Jawab Lucy.

"Lalu aku harus bagaimana?" Mavis melepas kerudungnya dan melihat ke arah Lucy yang sedang tampak berpikir.

"Gulung rambutmu ke atas, lalu bungkus dengan kain. Dan pakai kerudung itu, tapi jangan sampai menutupi wajahmu." Perintah Lucy.

Dengan bantuan Levy dan Erza, rambut Mavis digulung ke atas dan dibungkus oleh kain lalu diikat. Setelah itu dia memakai kerudungnya tetapi tidak menutupi wajahnya. Memang wajahnya terlihat, tapi dia tidak terlihat seperti Mavis.

"Lalu aku bagaimana?" Tanya Erza sambil menyodorkan selembar kain putih pada Lucy.

"Kau... " Lucy melihat ke arah Erza. "Ikat rambutmu dan lakukan hal yang sama seperti Mavis." Jawab Lucy sambil menunjuk kepala Erza. Erza pun pergi dan segeralah Levy dan Mavis menghampirinya.

"Kalau aku... " Lucy mulai mengambil seluruh rambutnya dan dipindahkannya ke salah satu bahunya. Lalu ia menggunakan selembar kain sebagai kerudung dan selembar kain yang cukup panjang untuk dibuat menjadi syal. "Selesai!" Gumam Lucy sambil tersenyum. Ia agak kecewa karena tidak ada cermin di sana.

"Hey. Lakukan sesuatu dengan diriku!" Mohon Juvia dan Juvia (Edolas) berbarengan. Lucy tersentak kaget.

"K-kalian bisa kan melakukannya sendiri?" Kata Lucy enggan. Juvia langsung berlari dengan cepat ke arahnya dan menatapnya dengan horror. "Kenapa kau mau membantu Erza dan Mavis sedangkan aku tidak?!" Tanya Juvia.

"E-eh... itu... ah! Begini saja... kau kan bisa merubah model rambutmu, rubah saja bentuknya!" Kata Lucy dengan wajah miris. Kemudian Juvia merubah model rambutnya menjadi panjang dan agak ikal. Lalu ia menggunakan kain putih untuk menutupi tubuhnya.

"Sayang sekali... aku tidak bisa melakukan hal seperti itu..." Kata Juvia (Edolas) sambil memasang kerudungnya. Sisanya, Gray Surge, Zeref, Natsu Dragion, dan Levy melakukan hal yang sama dengan Juvia (Edolas).

"Ayo kita cari tempat yang lebih nyaman... " Mereka pun keluar dari gang itu sambil membawa karung berisi lacrima itu. tentu saja, Lucy, yang membawa lacrima-lacrima itu diapit oleh yang lain untuk meminimalisir terkena serangan mendadak.

Tidak ada rasa kecurigaan penduduk terhadap mereka. Mereka beranggapan kalau mereka adalah penduduk kota yang baru pulang setelah bekerja. Orang yang berjalan rombongan sambil membawa karung itu sudah biasa di lingkungan mereka.


Lucy Ashley langsung berlari masuk ke dalam gang kecil diikuti dengan yang lain. Semua mengatur nafasnya. Sementara itu, tak lama terdengar suara orang yang berteriak-teriak mengejar mereka. Mereka berjalan mudur ke dalam gang itu perlahan.

"Ayo! Kejar mereka!" Teriak kelompok itu. tak lama, suara itu pun menjauh seiring dengan suara langkah kaki mereka.

Lucy Ashley duduk bersandar pada tembok di belakangnya sambil menghela nafas. "Ah... syukurlah... " Gumam Lucy Ashley. Sedetik kemudian, ia tersadar kalau Natsu memperhatikannya lagi. Dengan wajah yang serius pula.

"Ya! Tidak salah lagi! Dia lebih cerdas dari pada Lucy!" Batin Natsu sambil terus melihat Lucy Ashley.

Lucy Ashley merasakan wajahnya mulai memanas. "UNTUK APA KAU MELIHATKU TERUS!?" Teriaknya sambil menampar Natsu.

"Eeeh!?" Gray dan Jellal melihat Natsu dengan wajah kaget. Sementara Erza Knightwalker batuk-batuk karena kaget juga.

"T-tidak ada bedanya!" Teriak Natsu dalam batinnya dengan bekas telapak tangan di pipinya.

"Sekarang kita harus mencari di mana mereka bersembunyi. Kalau mereka sampai ditemukan... lacrimanya bisa... " Gumam Lucy Ashley. "Ayo!" Perintahnya sambil berdiri.


Lucy sedang berjalan santai dengan rombongannya agar tidak menimbulkan kesan mencurigakan. Tak lama, penduduk di sekitarnya mulai berbisik-bisik sambil menunjuk sesuatu di belakangnya.

"Cepat kejar mereka!" Teriak salah seorang berjubah hitam. Mereka berlari melewati rombongan Lucy. Memang pada awalnya mereka tidak mencurigai rombongan ini. Tapi setelah salah seorang anggotanya menabrak Lucy, Lucy goyah lalu terjatuh.

"A-ah! Maaf—" Kalimat orang itu terhenti ketika melihat lacrima-lacrima yang berceceran keluar dari karung yang Lucy bawa. Sementara Lucy masih meringis kesakitan.

"Ketua! Lacrimanya ada di sini!" Teriak orang itu. dengan cepat, anggota yang lain berbalik dan segera mengepung mereka.

Lucy bangkit dibantu oleh Levy. Kakinya menggeser serpihan lacrima yang sudah pecah itu. saat mini mereka sudah terkepung.

"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Mavis.

"Lacrima bisa melakukan apa saja bukan? Kalau begitu, Zeref, pakai saja sihirmu!" Perintah Juvia.

Zeref menggeleng. "Sihirku ini sangat berbahaya, makanya aku tidak menggunakannya lagi jika tidak terdesak. Apalagi dengan bantuan lacrima, bukan hanya mereka yang hancur, tapi kalian juga bisa hancur... " Jelas Zeref.

"Kalau begitu Juvia! Pakai sihirmu!" Perintah Lucy.

"Kau benar. " Lucy pun memindahkan sebuah lacrima ke tangan Juvia dengan hati-hati agar tidak menimbulkan rasa curiga.

Begitu pun dengan kelompok berjubah hitam itu. mereka sudah waspada kalau-kalau ada orang yang tiba-tiba menghentakkan kakinya ke depan dan membuat mereka bereaksi seperti sebelumya. Itu sungguh memalukan!

Juvia melipat tangannya ke belakang dan mulai menggabungkan sihirnya dengan lacrima itu. Juvia merasakan sesuatu pada sihirnya.

"Ini... " Gumam Juvia.

Ketika menyadarinya, mata Juvia langsung membulat dan ia segera melemparkan lacrima itu ke arah orang-orang berjubah hitam.

BUUM

Air bah langsung meledak saat itu juga. Dari lacrima yang dilempar Juvia. Seperti bom waktu.

"H-hebat... " Gumam Lucy. Orang-orang itu terlempar beberapa meter dari tempatnya semula. Ada yang nabrak gentong, ada yang nabrak temennya sendiri, ada juga yang terseret sampai masuk ke rumah orang yang kebetulan pintunya terbuka.

"Untung bukan aku yang pakai... " Gumam Zeref. Mavis, Lucy, Juvia, dan Erza melihat Zeref dengan ngeri.

"Karungnya!" Teriak Natsu Dragion. Semua melihat ke arah karung yang di bawa pergi oleh seorang berjubah hitam.

"Aah! Sial! Kenapa tidak dijaga!?" Kata Lucy frustasi. Mereka pun berlari mengejar orang itu.

"Berhenti!" Teriak Lucy.

"Percuma kau berteriak seperti itu! dia juga tidak akan mau berhenti! Yang namanya maling mana mau berhenti saat di suruh berhenti?" Kata Mavis sambil berlari. Lucy merasa perkataan Mavis benar, ia pun terdiam sambil berdehem.

Tiba-tiba muncul semburan api dari sebelah kiri orang itu. dan orang itu kena telak. Semburan itu terus menyembur seperti hendak membakar orang itu.

"Stop! Stop! Stop! Kau mau melelehkan lacrima ya?!" Teriak seorang perempuan yang belum terlihat wujudnya.

"Ehehe... maaf... " Jawab seorang laki-laki. Kemudian terdengar suara pasir yang diseret dan memperlihatkan Lucy Ashley, Natsu, Gray, Jellal, dan Erza Knightwalker dari balik tembok.

"Natsu!" Panggil Lucy.

"Whoa! Lucy!" Balas Natsu.

Levy, Juvia (Edolas), Natsu Dragion, Gray Surge, dan Erza Knightwalker menghampiri Lucy Ashley yang sedang memunguti lacrima-lacrima yang tercecer di sebelah orang yang sudah tidak berdaya itu.

"Hmph! Sebagian lacrimanya rusak!" Gerutu Lucy Ashley.

"Hey, cepat pergi dari sini, atau orang-orang itu akan kembali!" Kata Levy khawatir.

"Kau betul juga." Lucy Ashley melihat ke arah Lucy yang sedang berkelompok dengan rombongnnya.

"Hey, Lucy... " Panggil Lucy Ashley. Lucy menengok ke arahnya. Lucy Ashley berjalan menghampirinya sambil membawa sesuatu di tangannya.

"Ini, untukmu. Terima kasih karena sudah melindungi lacrima ini... walau sebagiannya meleleh...!" Kata Lucy Ashley sambil melihat sinis kepada Natsu.

"Ini kan... " Gumam Lucy sambil melihat benda yang ada di telapak tangan Lucy Ashley. Natsu dan yang lain berjalan mendekati Lucy. Begitu juga Natsu Dragion dan yang lain.

"Lacrima ini untukmu... " Kata Lucy Ashley sambil tersenyum.

"Tapi ini kan—"

"Tenang saja. Untuk menghidupkan Master kami tidak butuh sebanyak ini kok... lagi pula masih ada banyak di sana." Kata Lucy Ashley sambil menunjuk karung yang dibawa Natsu Dragion. Natsu Dragion melambai-lambai.

Entah ada serangan apa, Mavis tiba-tiba meneteskan air mata.

"Hiks... aku tidak tau kenapa aku menangis... hiks..." Gumam Mavis.

Erza, Zeref, Gray, dan Jellal menatapnya dengan tatapan jijik.

"Kami harus melanjutkan perjalanan kami... sampai ketemu lagi lain waktu... " Kata Lucy Ashley. Perlahan tubuh mereka memudar.

"Kalau kita ketemu lagi, aku pastikan kalian akan aku ajak ke rumahku..." Kata Lucy.

Lucy Ashley tersenyum. Setelah itu, mereka benar-benar menghilang.


"OOOOOHH! Pulau apa lagi selanjutnya!?" Teriak Natsu semangat.

"Kau ini... masih mau jalan-jalan lagi?" Tanya Lucy.

"Tentu saja! Dari pada kita pulang?" Kata Natsu sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala dan berjalan meninggalkan Lucy.

Mereka semua naik ke kapal mereka dan duduk-duduk sebentar.

"Apa kau mau makan?" Tanya Erza pada Jellal. Jellal terdiam, ia berpikir sejenak.

"Kalau tidak mau ya sudah... " Erza pun pergi. Sementara Jellal masih terdiam. Dia orang yang sabar bukan?

Sementara Mavis dan Zeref sedang duduk-duduk di pinggir kapal. Mavis melihat lacrima yang diberikan Lucy Ashley. "Ada sesuatu yang bergerak di dalamnya... " Gumam Mavis.

"Jangan sembarangan dengan benda itu. " Kata Zeref memperingatkan.

"Hey! Bagaimana kalau aku memohon pada lacrima ini?" Kata Mavis antusias.

"Aku harap ada pulau yang sangat menyenangkan untuk kita bermain di sana!" Kata Mavis sambil menutup matanya.

"Apa yang kau lakukan?!" Bentak Zeref. Ia segera mencengkram tangan Mavis sehingga Mavis terpekik dan menjatuhkan lacrima itu karena kuatnya cengkraman Zeref.

Lacrima itu terseret dan menghilang di laut. Mavis dan Zeref melihat ke arah Lacrima itu menghilang.

"Apa yang kau lakukan?!" Sekarang giliran Mavis yang bertanya pada Zeref. Zeref terdiam lalu berjalan berbalik.

"Itu salahmu... "

"A-apa!? Kau bilang itu salah ku?! Aaiih! Kalau saja wajahmu itu tidak tampan, aku pasti sudah membunuhmu!" Teriak Mavis sambil mengekor Zeref.

"Kau tidak bisa melakukan itu... " Kata Zeref santai. Mereka sudah ada di atas kapal. Dan seisi kapal memperhatikan mereka.

"Apa kau bilang!? Memangnya kau ini siapa!?" Tanya Mavis sambil berteriak dan mengangkat tangannya.

"Aku ini Zeref... " Jawab Zeref tidak peduli.

Jellal dan Gray mulai menjalankan kapal mereka sambil terus memperhatikan Mavis dan Zeref.

"HYIIIII! Menyebalkan!" Teriak Mavis.


Di sebuah tempat—tidak, tepatnya ruangan yang gelap.

"Heeey Nee-chan... " Panggil seorang gadis.

"Apa? Imoutou-chan?" Balas gadis lainnya.

"Kita dapat tontonan baru... ayo kita nonton... " Kemudian kedua gadis itu mengeluarkan sebuah remot mirip remot TV LCD yang mempunyai banyak tombol dan menekan tombol 'power'. "Yaa... kau benar... "

.

.

.

'BTZZZZZZZZZZZZ'

To Be Continued


Kyaaaaa akhirnya selesai juga! XD

Baiklah, ada yang mau request lagi untuk 2 chapter ke depan? Mari! Silahkan!

Daaaaaan... ngerasa gak kalo lama-lama fic ini keluar genre? Hey! Kenapa begitu? Genrenya kan Adventure dan setiap chapter beda-beda #tapi gak latar tempatnya juga yang beda thor!

Iih... tapi kan mereka keliling pulau, dan pulau itu kan bermacam-macam... yaaa memang aneh sih... tapi selama menghibur WHY NOT?

Akhir kata,

Jangan lupa review! :D