NARUTO Masashi Kishimoto
"The Revenge of Hinata Hyuuga in Akatsuki"
By Setshuko Mizuka
Rate T
Genre Friendship, Fantasy, Romance-nya nyempil dikit ^_^a
Pairing NaruHina *harus!*
Inspirated by NARUTO, KEKKASHI, BLEACH, and Fairy Tail.
Warning GaJe, AU, typo(s), OOC, and the other. If you don't like this fanfic, you can out from here.
*TRoHHiA*
By Mizuka
#Chap 10 She is...#
Sumarry: Sebenarnya siapa kau! Berani-beraninya kau mengambil tubuh Shion darinya! Hahaha, kurasa kau pasti tau siapa aku sebenarnya begitu kau ingat kejadian tiga atau empat tahun lalu. Author bangkit dari masa hiatusnya. :D
Chapter sebelumnya:
"Apa… di luar ada Hinata?"
Naruto melirik sebentar ke pintu. "Ya, dengan Sasuke."
"Oh, kalau gitu aku balik tidur lagi. Kukira Hinata kemana, di kamar nggak ada soalnya," ujarnya lalu berbalik, bermaksud untuk kembali tidur. "Dimana Hinata?" Suara datar yang entah dari siapa itu terdengar dari arah belakang Sakura. Ia pun berbalik menatap Naruto lagi. Yang ditatap malah nengok ke arah dapur. Sakura ikut menengok ke dapur dan melihat sesosok perempuan berambut panjang tengah berdiri tanpa kaki di depan ruang dapur Hinata.
"H-hantu!" pekik Naruto.
"KYAAA!"
TRoHHiA^
"Sakura-chan, kau tak apa-apa?" Pertanyaan dari Hinata untuk gadis berambut merah muda di hadapannya itu tak dijawab olehnya karena kepalanya tiba-tiba sedikit pening. Gadis yang dipanggil Sakura itu memegang kepalanya sambil memposisikan tubuhnya untuk duduk dari kasur Hinata.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya Sakura pada Hinata.
Bukannya Hinata yang jawab malah spiritnya, Marun. "Kau pingsan setelah berteriak 'Kyaa!' dan untung saja Naruto menangkapmu sebelum kau jatuh ke lantai."
Semua yang ada di sana menahan ketawa termasuk Hinata saat melihat Marun memperagakan kejadian soal Sakura berteriak tadi. Sakura melirik Naruto yang tengah menahan ketawanya lalu ia pun tersenyum sendiri. "Terima kasih, Naruto." Ucapan Sakura membuat Naruto berhenti menahan tawa.
"Sama-sama. Ngomong-ngomong soal tadi…."
"Apa?" tanya Hinata memotong ucapan Naruto.
"Y-yang buat Sakura pingsan itu, a-adalah h-hantu."
"HAAH! HANTU!" teriak semuanya kecuali Neji, Gaara, Sasuke, dan Sakura. "Kau serius, Naruto?" tanya Chouji yang ada di samping Naruto. "Serius! Nggak mungkin aku bohong. Iya 'kan, Sakura?" tanya Naruto pada Sakura yang dibalas anggukan lemah oleh Sakura.
'Hantu katanya? Jangan-jangan….'
Tanpa aba-aba, Hinata langsung melesat keluar dari kamarnya. "Hime-sama! Ikuuut!" teriak Chiu seraya terbang mengikuti majikannya itu. "Oi, Hinata! Mau kemana!" tanya Naruto sambil mengejar Hinata. "Jangan ikuti aku!" Bukannya berhenti, Naruto malah terus mengejar Hinata yang sudah menuruni tangga. Dengan terpaksa Hinata berhenti berlari lalu membalikan tubuhnya.
"Yameru! #Berhenti!#"
"Eeeh!"
"Naruto, jangan ikuti aku. Mengerti?" Naruto yang sudah berhenti berlari itu menyahuti ucapan Hinata. "Ini sudah larut malam, Hinata. Kalau terjadi apa-apa gimana?"
"Aku sudah biasa pergi malam. Ini urusan privasi, kau tak boleh ikut."
Naruto hanya diam menatap kepergian Hinata yang sudah berlari ke gerbang apartemen. Ada sedikit perasaan yang mengganjal di hati Naruto. "Ayo, kejar mereka." Naruto menengok ke samping kirinya dan terlihat Kyuubi tengah melayang sambil menatap lurus ke depan. Namikaze bungsu itu pun membuat segel dengan tangan kirinya. "Kekkai!" Dan dengan sekejap Naruto serta Kyuubi tak terlihat lagi.
TRoHHiA^
"Hosh! Hosh! Hosh!" Seorang gadis berambut indigo dengan pakaian piyama putih dibaluti jaket lepis yang panjangnya sampai selutut itu tengah membungkukkan tubuhnya di hadapan sebuah bangku panjang yang tak ditempati orang. Lagipula, tak mungkin orang-orang pergi ke taman yang dituju gadis itu karena jam juga sudah lewat dari jam 12 malam. Di atas kepalanya, makhluk jadi-jadian tengah duduk di sana.
"Hinata…."
Gadis yang dipanggil Hinata oleh sosok transparan yang sedang duduk di kursi panjang itu pun berdiri tegap lalu duduk di samping kanannya. "Shion, apa kau tadi ke apartemenku?" tanya Hinata to the point. Dilihatnya Shion mengangguk. "Sudah kubilangkan kemarin-kemarin, jangan ke apartemenku."
"Aku hanya ingin mencarimu karena kau tak datang kemari."
"Maaf, soal itu… aku malas pergi kemana-mana di hari ulang tahunku. Lagipula, sejak pagi, adikku ada di apartemen. Kalau aku mengusirnya, dia jadi sakit hati," jelas Hinata. "Oh, begitu." Hinata terdiam sesaat lalu menengok ke atas langit. Alisnya mengernyit ketika dilihatnya tak ada bintang-bintang yang beberapa menit masih berbinar-binar di sana. "Aneh," gumamnya.
"CTAAAR!"
"Uwaaa! Bruk!"
"Eeeh!" Kedua gadis yang sudah berbeda dunia itu menengok ke semak-semak yang ada di bawah pohon sakura. Namun tak terlihat seorang pun di sana. "A~h, aku tau siapa dia," gumam Chiu dengan wajah malasnya. "Naruto, kau 'kah itu?" tanya Hinata datar. Shion hanya menatap Hinata dengan wajah datarnya.
"Ketahuan juga." Naruto bersama Kyuubi pun terlihat tengah berusaha berdiri.
Naruto menatap sejenak Shion yang tubuhnya terlihat transparan itu. 'Sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi dimana ya?' pikir Naruto. "Sudah kubilang tadi untuk tidak mengikutiku, baka!" Mendengar seruan Hinata membuat Naruto teringat pada kejadian barusan. "H-Hinata, dia itu… s-siapa?"
Hinata menengok ke Shion lalu menengok lagi ke Naruto. "Namanya Shion. Dialah hantu yang kau maksud tadi."
"Hantu?" ulang Kyuubi yang masih melayang di samping Naruto.
Hinata mengangguk.
"H-hantu katamu?" Dalam hitungan detik, Naruto sudah pingsan. Hinata, Chiu, dan Kyuubi sweatdrop. "Dasar payah," gumam Kyuubi. Ia dibantu Hinata dan Chiu mencoba untuk menyenderkan Naruto di bawah pohon, tempat ia dan Naruto bersembunyi tadi.
Mata amethyst Hinata menerawang ke langit-langit malam. Langit itu terlihat cerah namun beberapa kilat dan petir juga terlihat di sana. "Ini aneh," gumam Hinata sambil berdiri dan membelakangi Naruto. Hinata menengok ke bangku panjang yang tadi diduduki Shion. Tapi gadis transparan itu tak ada di sana. "Shion, ka-."
"Aku di sini."
"BRUUUSSHH!"
Hinata menengok ke depan lagi bersamaan dengan Shion setelah menatap Shion yang sudah ada di belakangnya. Kini terlihat Chiu dengan wujud aslinya tengah membelakanginya.
"Tap, tap, tap."
Terdengar suara langkah kaki mendekat. Hinata pun berjalan beberapa langkah untuk melihat siapa orang yang malam-malam begini masih berkeliaran di taman. Begitu sejajar dengan posisi Chiu berdiri, Hinata menyipitkan matanya. "Siapa kau?" tanya Hinata dengan nada tinggi pada seseorang yang berpakaian baja serta memakai rok berwarna hitam sebatas lutut di depannya. Wajahnya –yang pastinya adalah seorang perempuan– itu tak terlihat karena memakai helm yang terbuat dari baja juga. Di sisi kiri tubuhnya terlihat pedang besar seperti pedang ksatria pada umumnya.
Hinata bisa merasakan aura aneh keluar di sekeliling tubuh tersebut. "Siapa kau?" tanyanya dengan nada tinggi agar orang itu bisa mendengarnya karena jarak mereka cukup jauh.
"Hinata, dia..."
Gadis berambut indigo itu menengok ke belakang dan terlihat wajah kaget Shion di balik wajahnya yang datar. Mata Shion terpaku pada sosok di depannya dan hal itu membuat Hinata menengok lagi ke depan. "Kau!" ujarnya kaget begitu melihat sosok itu sudah membuka helm-nya.
"Selamat malam, nona-nona."
Emosi Hinata naik seketika begitu melihat wajah sosok tersebut yang serupa dengan Shion. Hinata yakin, orang itulah yang mengambil tubuh Shion. Kedua tangan Hinata terkepal. Matanya menatap tajam ke arah orang tersebut yang dengan santainya memegang helm di tangan kanannya. "Sebenarnya siapa kau! Berani-beraninya kau mengambil tubuh Shion darinya!"
Hening seketika lalu tak lama kemudian sosok tersebut tertawa dengan keras.
"Hahaha, kurasa kau pasti tau siapa aku sebenarnya begitu kau ingat kejadian tiga atau empat tahun lalu," ujarnya dan hal itu membuat Hinata mengingat kejadian itu.
Flashback mode on
"Kaa-san, Hana capek. Istirahat dulu ya?" ajak Hanabi, adik Hinata yang umurnya lebih muda 3 tahun dari Hinata. Muka Hanabi terlihat melas sekali. "Iya, Kaa-san. Nata juga capek jalan-jalan terus dari tadi. Mana bawa belanjaan pula lagi. Huh! Andai saja mobil Kaa-san tidak diservis, pasti nggak bakal capek kayak gini," ujar sang kakak, Hinata menimpali ucapan Hanabi dengan nada menggerutu.
"Baiklah, Kaa-san minta maaf soal itu. Ayo, kita duduk dulu di taman itu."
Mereka pun berjalan ke taman kota yang Harumi tunjuk barusan pada Hinata. "Kaa-san, malam ini cerah sekali ya?" tanya Hinata yang waktu itu berumur 13 tahun dengan nada ceria pada sang ibu sambil duduk di kursi panjang yang berhadapan langsung dengan air mancur. Wajahnya menengadah ke atas sambil tersenyum lalu menatap Harumi, ibunya.
"Iya, cerah sekali."
Lalu mata amethyst Hinata menatap Hanabi yang sedang duduk sambil memakan kue jahe khas hari Natal di samping kanannya. Seperti teringat sesuatu, tangan Hinata merogoh ke saku mantel coklatnya dan dikeluarkannya permen lolipop berbentuk bulat yang masih terbungkus plastik itu. Ia pun langsung membuka plastik itu dan memasukan lolipopnya ke dalam mulut.
"Nata, buang sampahnya ke tempat sampah dulu," ujar Harumi mengingatkan.
Gadis itu pun mengangguk.
Hinata menatap ke tempat sampah yang ada di ujung taman, berdekatan dengan gedung perpustakaan pusat kota. Ia pun berjalan menghampiri tempat sampah tersebut. Hinata merasakan firasat buruk yang lagi-lagi menguasai hatinya, memang sejak ia serta adik dan ibunya keluar rumah itu perasaannya sudah seperti ini. "Aduh, kenapa nggak e-mmph!" Hinata terkejut saat tangan seseorang menutup mulutnya.
Mata amethyst-nya berusaha melihat wajah pelaku. Matanya terbelalak begitu tahu, seorang perempuan berambut merah panjang yang membekapnya. "Mmph! Mmph!"
Hinata terus meronta ketika perempuan itu membekapnya sambil menyeret mendekati Harumi dan Hanabi yang tiba-tiba saja dikepung oleh tiga manusia yang entah datang dari mana dan untuk pertama kalinya Hinata melihat hal itu. Dilihatnya Harumi sudah berdiri menghadap dirinya, di belakangnya tampak Hanabi dengan wajah yang ketakutan. "Mmmph! Hks!" Tanpa disadari Hinata, air matanya sudah keluar dari pelupuk mata. Tubuhnya terus saja di dorong oleh wanita yang membekapnya untuk mendekati Harumi.
"HINATA!"
Air mata Hinata meluncur dengan bebasnya ketika sang ibu memanggil.
"Ckckck, lihatlah drama yang kubuat ini! Terlalu mengharukan, bukan?"
Ucapan wanita tersebut disahuti seringaian dari keempat makhluk aneh yang mengelilingi Harumi. Terlihat Harumi memundurkan kakinya dengan tangan kanan direntangkan sementara tangan kiri terkepal di sisi tubuhnya. Barang-barang belanjaan yang dibawa Hinata, Hanabi, serta Harumi itu tergeletak begitu saja di kursi yang diduduki mereka tadi.
"Siapa kau! Berani-beraninya menyentuh anakku!"
Hinata menatap Harumi yang tengah emosi itu.
"Ouuh, jangan marah-marah begitu dong." Wanita yang membekap Hinata tiba-tiba saja mengeluarkan pedang panjang dan tajam itu lalu mengarahkannya ke leher Hinata. "Lihat, wajah anakmu ini ketakutan melihatmu yang marah-marah begitu. Oh iya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Tayuya dan kau pasti tau apa tujuanku ke sini," ujarnya dengan pedang yang masih mengarah pada leher Hinata.
Hinata menatap pedang itu dengan wajah ketakutan.
"Hinata! Tenanglah, Kaa-san akan melepaskanmu!" janji Harumi.
Hal itu tentu saja membuat Hinata tenang dalam bekapan wanita yang bernama Tayuya itu. Dalam benak Hinata, ia bertanya-tanya 'Sebenarnya, ada urusan apa mereka dengan Kaa-san?'
"Kau akan melepaskan anak ini katamu? Sungguh berani kau ini, Harumi."
Harumi menatap Tayuya yang membekap Hinata dengan tatapan emosi. "Jangan berani-beraninya kau sentuh leher serta tubuh anakku dengan pedang kotor itu! Jika kau berani menyentuhkannya, aku tak segan-segan untuk membunuhmu!"
"Oh, baiklah. Tapi berikan dulu kalung itu, aku takkan menyentuhkan pedang ini ke anakmu bahkan aku akan melepaskannya," ujar Tayuya sambil menatap pedangnya.
Tubuh Hinata bergetar. "Mmph, hik."
"?" Tayuya menatap Hinata.
"Ouuh, lihatlah anakmu ini, Harumi. Sangat ketakutan sekali." Tayuya menyeringai dengan lebarnya. "Jadi cepatlah, kau serahkan kalungmu padaku dan aku akan melepaskannya."
Harumi tampak berpikir sejenak sambil menatap tajam ke arah Tayuya.
"Apa kau tak sayang dengan anakmu ini, Harumi? Sampai-sampai harus berpikir?"
Hinata yang dibekap hanya bisa menangis sejadi-jadinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap Harumi yang tengah berpikir. Ia bermaksud untuk bilang jangan, jika yang mereka mau adalah barang berharga bagi ibunya, ia rela menukar dengan barang tersebut dengan nyawanya bila perlu.
"Baiklah."
Harumi berjalan mendekati Tayuya dengan Hanabi yang terus memegangi ujung mantelnya. Tangan kanannya bergerak ke arah leher untuk mencari kalung sementara tangan kiri memegangi pergelangan tangan Hanabi. Dilihatnya Hanabi menengok ke belakang tepatnya ke arah empat makhluk yang berbeda bentuk itu dengan tatapan ketakutan.
"Mmmph! Hk, mmph."
Hinata terus menggelengkan kepalanya begitu melihat sebuah kalung yang dilepaskan oleh Harumi. Gadis itu ingat, kalung tersebut adalah pemberian dari neneknya sebelum ia meninggal. Ia tahu, kalung itu sangat berharga bagi Harumi tapi kenapa mereka –Tayuya serta empat makhluk tersebut– menginginkannya? 'Kaa-san….'
Harumi berhenti melangkahkan kakinya tak jauh dari tempat Hinata dan Tayuya berdiri. "Serahkan Hinata dulu baru aku akan memberikanmu kalung ini," suruh Harumi.
"Cih, kau kira aku tak tau. Kita melakukannya bersama-sama."
"Haha. Kau kira aku akan berbohong. Oke, kita lakukan bersama-sama."
Harumi melangkahkan kakinya untuk mendekati Tayuya, begitu pun Tayuya. "Bisakah kau suruh mereka tidak mengikutiku? Anakku ketakutan melihatnya," pinta Harumi seraya berhenti melangkah. Tayuya menyuruh keempat makhluk itu untuk berdiri di belakangnya lewat tatapan mata. Keduanya berjalan kembali untuk mendekat satu sama lain. Begitu keduanya hanya berjarak dua langkah, mereka pun berhenti.
Hinata bernapas lega melihat pedang milik Tayuya diturunkan. Dilihatnya Harumi menyerahkan kalung itu dengan tangan kiri sementara tangan kanannya mencoba meraih tangan kiri Hinata. Hinata yang mengerti langsung meraihnya.
Keduanya –Harumi dan Tayuya– menarik barang (emang Hinata juga barang ya?#Plak!# yang sudah dijadikan pertukaran tersebut. Dilihatnya Harumi tersenyum, tapi Hinata merasa senyuman itu bukan senyuman yang biasanya.
"Hahaha, akhirnya kudapatkan juga kalung ini. Pasti Orochimaru-sama a-."
"WHUUSH!"
"!"
Seekor naga biru kecil tiba-tiba mengambil kalung berbandul ungu itu dari tangan kanan Tayuya dan sialnya tangan milik Tayuya juga hampir tergigit lalu ia pun terjatuh dengan posisi duduk. Matanya terbelalak begitu melihat kalungnya sudah dirampas oleh seekor naga yang kini berubah menjadi besar.
"DOOR!"
Sebuah tembakan hampir mengenai kaki Tayuya dan membuat si empunya kaki itu menengok dan ternyata arah tembakan tersebut berasal dari pistol Mini Cooper 1275S milik Harumi.
"Kurang ajar," desis Tayuya.
"Hinata. Hanabi! Cepat pergi dari sini!" perintah Harumi.
"T-tapi Kaa-san…." Hinata yang kini ada di samping kanan Harumi mencoba membantah. "Nggak ada tapi-tapian! Kalau kalian tetap di sini, kalian akan terbunuh! Larilah sejauh mungkin!" Hinata yang dibentak lalu mengajak Hanabi menjauh dari tempat Harumi berdiri. Selama Hinata mencari tempat persembunyian, terdengar berkali-kali suara tembakan yang pastinya dari Harumi.
Hinata mengajak Hanabi ke balik tembok sebuah gang kecil yang letaknya tak terlalu jauh dari taman. "Untuk sementara, kau diam di sini dulu, Hanabi. Aku akan ke sana melihat apa yang terjadi." Dilihatnya Hanabi yang ketakutan mengangguk.
Kakinya melangkah pergi untuk mendekati taman tanpa sedikit pun rasa takut. Dalam benaknya yang ia pikirkan hanya keadaan Harumi, ia khawatir dengan keadaan ibunya tersebut. Dilihatnya sebuah gang kecil (lagi?) yang jadi pembatas antara taman dengan gedung perpustakaan pusat kota. Ia menengok ke jalanan dan tak ada seorang pun di sana. Toko-toko yang tadinya masih buka, kini sudah tutup semua. 'Apa semuanya tutup karena mendengar tembakan Kaa-san? Kalau benar, lalu siapa yang harus aku pintai bantuan untuk menyelamatkan Kaa-san!' ujar Hinata dalam hati setengah panik.
Sebuah lampu tiba-tiba menyala di atas kepalanya yang menandakan kalau Hinata dapat ide. Ia pun langsung mencari sesuatu yang ternyata adalah ponsel miliknya dari saku jaket. Hinata bermaksud untuk menelpon sang ayah, Hiashi.
"DOR! DOR! DOR!"
Rentetan tembakan dari taman membuat Hinata terkejut dan ponselnya pun terlempar ke dalam sebuah selokan yang ada di depan kakinya.
"Haha, ketemu mangsa di sini."
Belum lepas rasa kaget Hinata, tiba-tiba saja bulunya bergedik ketika mendengar suara dari belakang. Dengan gerakan patah-patah, ia pun menengok dan terlihat seorang manusia dengan akar-akar pohon yang bergerak-gerak bagaikan ular itu keluar dari balik punggungnya. Hal pertama yang muncul di benak Hinata adalah dia bukan manusia dan dia adalah salah satu pengikut dari wanita yang bernama Tayuya itu.
"K-kau m-mau a-apa, hah!"
"Haha, tenanglah. Aku hanya ingin bermain-main denganmu saja."
Hinata memundurkan kakinya begitu melihat manusia jadian tersebut berjalan mendekatinya. Wajahnya sudah pucat, tubuhnya pun bergetar.
'S-siapa pun itu, tolong selamatkan aku!'
'Deg!'
Seperti sebuah roh keluar dari tubuhnya, Hinata terdorong ke belakang dan terjatuh dengan posisi duduk seperti Tayuya tadi. Tangan kanannya menahan tubuhnya agar tidak terjatuh telentang. Matanya terbelalak begitu melihat sesosok makhluk aneh tengah berdiri di hadapannya dengan posisi membelakanginya. Hinata menelan ludah begitu melihatnya. Ia baru lihat makhluk yang memiliki tubuh seperti anak ayam tapi anehnya dia –makhluk di depan Hinata tersebut– memiliki telinga yang panjang seperti kelinci namun tidak tegak.
'Makhluk apa ini?' tanyanya dalam hati.
"Aku adalah spiritmu, Hime-sama."
Hinata terkejut mendengar ucapan sosok tersebut. "Jangan takut, aku akan melindungi Hime-sama semampuku." Sedikit rasa tenang dan lega menyelimuti hatinya.
"Che, ternyata ada pengganggu muncul."
"Nggak usah banyak omong, lebih baik cepat selesaikan ini!"
"DOR! DOR!"
Hinata menengok ke arah taman dan terlihat sang ibu sedang terengah-engah di belakang sosok naga biru yang sudah merampas kalung milik Harumi dari Tayuya. "Kaa-san!" seru Hinata tanpa sadar dan membuat Harumi menengok ka arahnya. "Cerewet!" Hinata menengok lagi. Terlihat akar-akar pohon bergerak ke arahnya dan langsung ditepis oleh sosok di depannya dengan tubuhnya sendiri. Hinata menutup matanya.
"Brruuush!"
Terdengar suara air dari depannya, ia pun langsung membuka matanya lagi. Terlihat manusia berakar pohon (?) itu mundur sambil memegangi dadanya di tengah-tengah kepulan asap atau embun itu. "Apa ya-. Lho! K-kau kenapa?" tanya Hinata begitu melihat si penyalamatnya terengah-engah sambil memegang telinganya yang panjang.
"A-aku tidak apa-apa. Hanya kelelahan."
Sosok tersebut mendorong Hinata untuk mundur dengan sayap kanannya.
"Tolong, Hime-sama naik ke punggungku," pintanya yang membuat Hinata sedikit terkejut mendengarnya. Tiba-tiba ada sesuatu (Syahrini kali sesuatu. Eeeh?) yang melilit di kaki kanannya begitu ia akan menaiki punggung si ayam kelinci jadi-jadian itu. "HUAAA!"
"Haha, kalian mau lari kemana, hm?"
Makhluk penyelamat Hinata itu berusaha membantu melepasnya dengan mengepakkan telinga panjangnya sementara Hinata terus berpegangan dengan bulu-bulu makhluk tersebut.
"A-aku tak bisa menahannya! Akar ini terus menarikku!" ujar Hinata.
"Haha, keras kepala!"
Dengan sekali tarikan, Hinata berhasil direbutnya.
"Himeee!"
Hinata terjatuh ke tanah dengan kerasnya. Kepalanya sedikit pening setelah terbentur tanah. Dirasakannya sebuah akar pohon yang tadi berada di kaki kanannya kini perlahan naik menuju lehernya. Hinata terlalu lemas untuk melawan, ia hanya pasrah sekarang. 'Seharusnya aku menurut tadi pada Kaa-san untuk tetap bersembunyi.'
"Ugh!"
Sosok makhluk yang mencengkik Hinata dengan akar pohon yang keluar dari tubuhnya itu tersenyum puas. "Gadis manis sepertimu sangat cocok untuk kujadikan tumbal hari ini. Hahaha!"
Hinata terus berusaha melepaskan dirinya dari jeratan makhluk itu. Dirasakannya kakinya sudah tak berpijak lagi ke tanah. Cekikan di lehernya semakin kuat. "L-lepaskan a-aku!" pinta Hinata dengan susah payah.
"Apa? Aku tidak dengar?"
Makhluk itu mendekatkan Hinata pada dirinya.
"L-lepaskan a-aku, B-BODOH!"
"Hahaha! Kau itu ter-"
ZRAAT! CRAAASH!
Mata Hinata tertutup begitu tahu badannya akan terhempas ke tanah lagi setelah si penyelamat memotong akar tersebut dengan kepalanya. Dan BRUUK! Untuk kali ini, tubuh Hinata tidak terjatuh ke tanah melainkan ke punggung 'penyelamat'nya.
"Apa Hime baik-baik saja?"
Hinata hanya mengangguk lemah.
"Kau takkan bisa lari dariku!"
Akar-akar itu kembali menyerang mereka, si penyelamat terus terbang sambil menghindar. Tiba-tiba ia berhenti menghindar dan berbalik menghadap lawan mereka itu. Dengan masih mengepakkan telinga panjangnya, ia menggerakan tubuhnya seperti tengah menarik napas. Hinata terbelalak begitu air yang volumenya beribu-ribu liter itu keluar dari mulutnya.
BRUUSH!
"Dia..." Hinata makin terbelalak saat melihat lawannya membuat penghalang agar air itu tak mengenainya dengan akar-akarnya.
Penyelamat Hinata tak mau kalah, air terus menyembur dan berhasil! Lawannya sedikit bergerak mundur dan akhirnya terjatuh. "Sekarang! BEKU!" Hinata menatap tak percaya begitu melihat air yang disemburkan berubah menjadi beku. Lawan mereka kaget namun terlambat. Air yang membaluti tubuhnya berubah menjadi beku.
"Pegangan yang erat Hime-sama."
Hinata menurut dengan tampang shock lalu penyelamat itu terbang menukik ke arah lawannya yang sudah membeku. Tiba-tiba kepala penyelamatnya itu bercahaya bagaikan sebuah meteor yang jatuh menuju bumi.
Dengan sekejap lawan itu hancur berkeping-keping begitu bertabrakan dengan kepalanya.
"S-sugoi," gumam Hinata.
Mata amethyst-nya terbelalak saat makhluk yang mengaku-ngaku sebagai spiritnya itu jatuh tersungkur ke tanah dan mengenai tembok. "H-hei! A-apa kau tidak apa-apa?" Hinata panik begitu tak terdengar jawaban. "Hei!" Gadis itu pun turun dari punggung makhluk tersebut.
Sosok itu berubah jadi kecil. Hinata terkejut saat melihat tubuh itu menyusut dan tingginya seperti seekor ayam pada umumnya, walau telinga serta wajahnya tak berubah.
Seperti teringat sesuatu, ia cepat-cepat menggendong penyelamatnya itu dan berlari menuju taman. Ia baru ingat kalau ibunya tengah melawan orang jahat di taman. Hinata berlari kecil menuju taman. Begitu sampai, ia terkejut begitu melihat tiga makhluk lain yang jadi pengikut Tayuya itu sudah terkapar di depannya. Matanya menangkap sosok Harumi yang terengah-engah sambil memegang pistol. Naga biru yang tubuhnya sebesar penyelamatnya tadi itu juga sudah tak berdaya di samping Harumi, namun ia yakin naga itu masih hidup.
"Kaa-san!"
Harumi menengok ke belakang. "Hinata! Apa yang kau lakukan di sini! Sudah Kaa-san bilang jangan ke sini!"
"A-aku..." Hinata tak bisa menjawab. Wajahnya kaget begitu mendengar suara Harumi yang meninggi. Gadis itu mendekap penyelamatnya yang tengah tak sadarkan diri.
"Hinata! Cepat pergi dari sini!"
"Tidak mau! Hinata akan tetap di sini!" teriak Hinata.
Harumi tak bisa berkutik lalu menatap Tayuya yang tengah memegang mata sebelah kirinya sementara tangan kanan terus memegang pedang prajuritnya. Harumi menodongkan pistolnya ke arah Tayuya.
DOR!
Tembakan Harumi yang hampir mengenai kaki kirinya berhasil di tepis Tayuya dengan pedangnya. "Tak akan kubiarkan kau menghancurkan tubuhku lagi!" teriak Tayuya. Hinata yang melihat Tayuya berlumuran darah di hampir seluruh tubuhnya itu jadi nyeri. Ia tak bisa bayangkan jika posisinya berada di Tayuya.
"Hosh, hosh, hosh."
Bruk!
"Kaa-san!" Hinata berlari menghampiri Harumi yang tengah berlutut. Keadaan ibunya juga hampir sama namun tidak separah Tayuya yang mata kirinya pasti tertembak Harumi.
"Jangan mendekat!"
Hinata berhenti berlari beberapa meter dari tempat Harumi.
"Aaargh! Siaaal!" Tayuya menjerit kesakitan sambil memegangi matanya. "Kurang ajar kau Harumi! Kau apa kan mataku! Aaargh!"
Dilihatnya Harumi yang masih terengah-engah itu tersenyum. "Aku hanya menembakmu dan –hosh– tepat mengenai mata kirimu," jelasnya sambil berusaha berdiri. Dan sekali lagi ia menodongkan pistolnya ke Tayuya. "Sebenarnya kau itu hebat, masih bisa bertahan beberapa menit ini setelah matamu kutembak," aku Harumi. "Tapi kurasa cukup sampai di sini pertarungan kita."
"Heh? Jangan kira aku bisa mati dengan mudahnya di tanganmu!"
Tayuya menyeringai sambil menatap ke arah Hinata yang masih berdiri di belakang Harumi. Tangan kirinya ikut memegang pedangnya sementara mata kirinya yang tertembak dibiarkan terbuka karena tak bisa tertutup.
Hinata terkejut begitu tahu Tayuya sudah berada beberapa meter di depannya. Pedang prajuritnya tertodong ke arahnya.
"Hiaaah!"
ZRAASH! (Mizuka ga tau tulisan suara tertusuk T_T)
"K-Kaa-san!"
Yap! Hinata selamat dari tusukan Tayuya namun sang ibu yang malah menjadi korban pedang prajurit Tayuya. Pedang itu tepat mengenai daerah jantung. Tidak tanggung-tanggung pedang itu juga sampai menembus ke belakang tubuh Harumi. Darah keluar dari luka tersebut.
"Hahaha! Lihat! Siapa yang akan mati sekarang!"
Tanpa belas kasihan Tayuya mencabut pedangnya.
"Kaa-saaan!"
Dengan sigap Hinata menaruh 'penyelamat'nya ke tanah secara hati-hati lalu menahan tubuh Harumi yang terhuyung ke belakang. Bruuk! Harumi pun jatuh di pelukan Hinata. Gadis itu pun menangis kencang begitu melihat sang ibu kesakitan dengan luka menganga di dadanya.
"Kaa-san! Kaa-san!"
Hinata terus memanggil Harumi sambil menangis.
Harumi tersenyum getir. "Hinata." Tangannya yang lemah memegang pipi Hinata, berusaha menghapus air mata Hinata. "Biarkan a-aku di sini, Hinata. K-kau h-harus pergi sejauh m-mungkin dari s-sini sebelum dia m-membunuhmu." Harumi memberikan sebuah kalung yang sejak awal jadi rebutan ia dengan Tayuya. "B-bawa kalung ini j-juga. T-tolong, j-jangan sampai k-kalung ini, d-diambil o-oleh orang s-seperti Tayuya, H-Hinata." Hinata mengambil kalung itu dan Harumi pun menutup matanya. Tangan kanan yang ia gunakan untuk menghapus air mata Hinata kini terjatuh dengan bebas di atas lukanya.
"Kaa-san?" Tak ada jawaban dari sang ibu. "Kaa-san?" Lagi, Hinata memanggil Harumi dan berharap ia akan menjawab panggilannya. Namun nihil. Air mata turun dari kelopak matanya seperti hujan yang tiba-tiba mengguyur tubuhnya.
"KAA-SAAAN! BANGUUUN! Hiks."
Tap, tap, tap.
Hinata menatap sosok wanita yang tengah berjongkok di hadapannya dengan penuh kebencian. "Kau," geramnya.
"Ck! Dia pantas untuk mati karena sudah melukai tubuh juga mataku!"
Kalung yang digenggam Hinata sudah berpindah tangan ke tangan Tayuya. Wanita itu berdiri dan membelakangi Hinata sambil menggenggam kalung itu di tangan kanannya sementara tangan kiri terus memegangi pedang prajurit yang kini kotor oleh darah Harumi.
Saat Tayuya berjalan, tanpa pikir panjang Hinata mengambil pistol Mini Cooper milik Harumi yang digenggam Harumi di tangan kirinya dan mengarahkannya ke Tayuya. Dengan mata pembunuh, gadis itu menembakan peluru tepat ke punggung Tayuya. Hinata berusaha mengenai jantung wanita itu agar ia bisa merasakan sakit yang dirasakan oleh sang ibu. Walaupun Hinata akui, sakitnya tidak separah Harumi yang kini sudah tertidur untuk selama-lamanya.
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!
"Tak akan kubiarkan kau hidup!" Hinata menghapus air matanya.
CTAAR!
Gadis itu menidurkan Harumi lalu berjalan mendekati Tayuya yang tengah terkapar tak jauh dari tempat Harumi. Kemudian Hinata berjongkok tepat di depan Tayuya yang tengah kesakitan. Tubuhnya basah akibat hujan yang semakin lama semakin deras. Tak sedikit pun ia merasa iba melihat keadaan Tayuya. Tak sedikit pun juga tubuhnya bergetar akibat air hujan dan hawa dingin. Saat ini yang ada di pikirannya hanya satu, yaitu 'membunuh Tayuya'.
Srak!
Hinata mengambil kalung itu secara paksa lalu –sekali lagi– gadis itu menodongkan pistol yang kini jadi peninggalan sang ibu tepat ke kening Tayuya.
"A-apa yang mau k-kau lakukan, bocah!"
'Aku tak peduli apa pun yang akan terjadi ke depannya setelah aku membunuh wanita ini! Yang terpenting dia harus membayar semuanya dengan nyawa! Nyawa harus dibayar dengan nyawa juga!' Tekad membunuh dari gadis yang masih berumur 13 tahun itu tak bisa dibendung lagi.
"Nyawa harus dibayar dengan nyawa!" ujar Hinata dingin.
"K-kau terlalu b-berani untuk m-membunuhku, bocah!"
"Oh ya?"
DOR! DOR! DOR!
Dengan tiga kali tembakan yang tepat mengenai kepalanya, ia pun langsung mati. Hinata berdiri. Wajahnya terlihat datar dan dingin bagaikan seorang pembunuh bertangan dingin.
Flashback mode off
"Jadi kau... Ta-yu-ya."
Hinata menggeram begitu tahu siapa sosok di hadapannya itu. Tangan kanannya terkepal. Emosi dan amarah menjadi satu. "Akhirnya, setelah bertahun-tahun aku mencarimu karena tiba-tiba menghilang, sekarang kau datang padaku dengan sendirinya. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membunuhmu!"
"Hahaha! Kau masih berani untuk membunuhku, bocah? Jangan bermimpi!"
Hinata menatap tajam Tayuya.
To Be Continued
Hei hei hei! Mizuka kembali dengan chap 10! #plak!# haduuuh! Maaf semuanya, Mizuka nggak ada maksud untuk tidak melanjutkan fic ini. sungguh! Maaf juga karena lama update. Mizuka harus belajar untuk menghadapi UN dan tes masuk sekolah lanjutan, jadi nggak bisa update cepat. (u_u) maaf juga karena hiatus tanpa pemberitahuan di awal! Hehe... gomen!
Naruto Oi, Thor! Kenapa aku jadi pingsan! Aku ini kan laki-laki! Memalukan!
Mizuka Oh, laki-laki? Mizuka kira Naru-chan perempuan.
(Dirasengan Naruto, Author tepar)
Naruto Enak saja! Jantan begini dibilang perempuan!
Mizuka Oh, iya deh. Lagian Naru-chan kan punya satu fakta yang nggak akan Mizuka lupa yaitu Naru-chan takut hantu. :p
Naruto Sialan!
Mizuka Baiklah, hontou ni arigatou gozaimasu untuk atas review-nya. Maaf, Mizuka nggak bisa balas review-nya satu persatu. Sekali lagi Mizuka ucapkan terima kasih karena sudah mampir ke fic Mizuka yang satu ini. Ilham S'EyeShield Akatsuki, Billy, Wulan-chan, Namikaze, Shyoul lavaen, Asahi, Anang kun, Yamashita Hyuuga untuk review-nya. Makasih juga untuk ramdhan-kun yang sudah review untuk mengingatkan. Maaf, kalau chapter 9 10 ini mengecewakan kalian semua.
Yosh! Masih berminatkah untuk meninggalkan REVIEW untuk Author yang satu ini? flame diterima dengan berat hati. *lho?
