Warning : GAJE, OOC, [miss]TYPO, AU, adegan kekerasaan, dll.

Flame jangan tapi kalau concrit sangat boleh^^

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : M

Pairing : SasuSaku

Genre : Hurt/comfort & Romance

.

.

.

Chapter 10: A little not over you.

Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat saat merasakan seberkas cahaya masuk menyusup kedalam ruangan yang menjadi tempat persitirahatannya hingga membuat tidurnya terusik. Terdengar kicau burung di luar sana. Badai telah berhenti. Sasuke masih tidak bergerak saat merasakan berat tubuh Sakura menimpanya, tidur dalam keadaan memeluk gadisnya, belum lagi tubuhnya mulai terasa sakit karena tertidur di lantai marmer keras yang hanya beralaskan karpet tebal.

"Eengghh…." Naruto bangun sambil mengerang memegangi kepalanya yang terasa sakit.

"Apa yang terjadi? Dan apa yang kalian lakukan di sini?" entah Naruto bertanya kepada siapa berhubung karena memang hanya Sasuke yang sudah bangun.

"Kau kecelakaan, kau lupa,"

Otak di kepala Naruto seakan berputar mencari jawabannya, dia ingat persis kejadian yang dialaminya tadi malam. Wajah Hinata yang pucat karena merasa khawatir, hujan badai, lalu ada pohon yang tumbang, mobil yang bergerak tidak stabil dan kemudian semuanya menjadi gelap

"Oohhh… apakah Hinata baik-baik saja?"

Mata Naruto bergerak-gerak gelisah, memindai seluruh ruangan, mencari keberadaan kekasihnya. Naruto menghembuskan napas lega saat mendapati Hinata tidur dengan bersandar di dada Neji. Sepertinya gadis itu baik-baik saja, pasalnya Naruto tidak mendapati adanya luka di tubuh gadis itu.

Semua orang yang tertidur di ruangan itu sontak terbangun saat mendengar ban mobil berdecit pelan di halaman. Ada yang datang.

Tidak berapa lama Ebisu-san, dan juga Iruka yang merupakan asisten kepercayaan keluarga Namikaze datang dengan beberapa orang pria berjas hitam formal.

"Sasuke-Sama. Apakah anda dan Sakura-Sama baik-baik saja?" tanya Ebisu sambil membungkukan tubuhnya penuh hormat.

"Aku baik-baik saja." Sasuke masih tetap tidak melepaskan Sakura bahkan hingga gadis itu terbangun dan memandang seorang laki-laki dengan luka melintang di hidung menghampiri Naruto.

"Siapa dia.?" tanya Sakura sambil menatap Sasuke penuh rasa ingin tahu. Dia belum pernah melihat salah satu teman Sasuke begitu dekat dengan orang lain selain sasuke dan teman-temannya. Kalau pun pria berkuncir itu adalah asisten kepercayaan Sasuke seperti Ebisu-san, maka kenapa laki-laki itu tidak bersikap seperti layaknya seorang pelayan memperlakukan majikan mereka. Pasalnya sekarang Naruto sedang dimarahi, lebih tepatnya omelan yang mengandung unsur kecemasan yang amat sangat.

"Dia Iruka. Asisten kepercayaan Naruto."

"Tapi kenapa Naruto dimarahi?" tanya Sakura polos.

Sasuke tersenyum. "Iruka sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Dan Iruka lah yang merawat Naruto dari kecil."

Sakura hanya ber-oh ria mendengarkan penjelasan Sasuke. Tidak heran kalau lelaki itu bersikap seperti orang tua yang sangat cemas saat tau anak mereka tidak pulang ke rumah saat malam yang berbadai dan lalu kemudian kecemasan itu berubah menjadi rasa marah yang berarti bentuk dari rasa kasih sayang saat tau ternyata anak mereka mengalami kecelakaan.

"Sudahlah Iruka-sensei. Aku tidak apa-apa." Naruto berusaha menenangkan asisten pribadinya yang sedang berang.

"Kau itu sangat ceroboh. Hingga hampir saja membahayakan keselamatan dirimu sendiri, para tuan muda dan juga Hinata-Sama. Bagaimana kalau Minato-Sama tahu tentang hal ini."

Naruto malah menunjukan cengiran khasnya. "Maafkan aku Iruka-sensei. Lain kali aku akan lebih berhati-hati." ucapnya sambil membungkukan tubuhnya dengan penuh penyesalan.

Iruka menghela nafas berat. "Baiklah. Aku memaafkanmu. Tapi kau harus memberitahukan kejadian ini pada orangtuamu."

"Baik," Naruto mengangguk patuh.

Hinata yang duduk di samping Naruto terkekeh pelan saat mendapati pemuda yang sering kali tidak bisa diam itu menjadi sangat patuh seperti anak anjing yang menurut pada perkataan tuannya. Sebenarnya siapa majikan dan siapa yang pelayan. Tapi memang seperti itulah Naruto dihadapan iruka, pemuda itu akan dengan mudah menuruti segala perkataan iruka yang telah dianggap seperti paman sendiri, yang memang selain dengan kedua orangtuanya, Hinata dan teman-temannya, Iruka lah yang menjadi orang terdekat Naruto selama ini.

-SAKURA-

Selama perjalanan pulang, Sakura memperhatikan tanah hijau dan aspal yang tertutupi salju tebal dengan wajah penuh kebahagiaan dari balik kaca mobil yang tertutup. Dia sangat menyukai salju yang terlihat seperti gumpalan kapas putih yang menutupi setiap pucuk pepohonan. ada juga gumpalan es yang terbentuk akibat air yang meleleh di batang pohon dan berbentuk runcing.

"Kami sudah menyuruh para pelayan menyiapkan air panas kalau-kalau Sasuke-sama atau pun Sakura-Sama ingin berendam." ucap seorang pelayan Sasuke yang sekarang Sakura tahu bernama Ayase. Dia dalah kepala pelayan disini dan hal itu terlihat dari cara berpakaiannya yang terlihat seperti wanita karir dan bukannya kepala pelayan.

"Hn."

Wanita berseragam formal itu tidak bertanya lagi sementara Sasuke mulai menuntun Sakura menaiki anak tangga menuju lantai dua, kekamar pribadinya, atau kalau bisa dibilang sebagai kamar mereka. Kamar mereka? Wajah Sakura merona saat mendapati fakta kalau selama ini dia tidur dan melakukan aktifitas sehari-hari dikamar Sasuke.

"Kau mau mandi bersamaku?" Sasuke bertanya dengan gaya menggoda sambil memeluk pinggang Sakura saat mereka sudah sampai di kamar dan hanya tinggal berdua saja.

Sakura terkekeh geli. "Boleh aku menolak?"

Sasuke mengulum senyum. "Ya sudah kalau tidak mau. Aku mandi sendiri saja." ucap Sasuke, sengaja berpura-pura merajuk.

"Maaf. Sasuke-kun." Senyuman semakin lebar menghiasi wajah Sakura. Beginikah rasanya memiliki seorang kekasih yang mencintaimu, membuatmu merasa seperti seorang yang paling bahagia di dunia ini.

Sasuke mengecup singkat pipi Sakura lalu kemudian melepaskan pelukannya dan beranjak masuk kedalam kamar mandi. Sasuke melepaskan seluruh pakaian dari tubuhnya yang terasa sangat lengket. Merendam tubunya di dalam bak mandi yang telah diisi dengan air panas beraroma terapi oleh pelayannya.

Mata Sakura langsung berbinar saat melihat balkon kamar Sasuke yang dipenuhi oleh benda meleleh cair yang berbentuk seperti kapas putih. Sakura membuka pintu ganda terbuat dari kaca dengan semangat, senyumannya semakin lebar saat merasakan tumpukan salju yang sepertinya belum dibersihkan atau-pun memang lupa dibersihkan oleh para pelayan Sasuke mengenai kakinya yang beralaskan sepatu.

Sakura segera menghempaskan tubuhnya di atas tumpukan salju tebal dan membuat gerakan menggunakan kaki dan tangannya membentuk peri salju, lalu kemudian bangkit duduk, mengumpulkan gumpalan salju ketangannya dan mulai menumpuknya menjadi bulatan. Dia ingin membuat boneka salju. Sejak dulu dia sangat ingin melakukannya, tapi tidak punya kesempatan, kepala panti tidak mengizinkannya bermain di luar sementara anak panti yang lain bersenang-senang karena dia harus tetap bekerja membantu di dapur untuk menghidangkan makanan terutama saat natal.

Setelah berendam selama lebih dari sejam untuk menenangkan diri dan kembali menyegarkan tubuhnya yang terasa sangat lelah setelah kegiatan semalam. Sasuke keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan celana putih panjang dan sweter hitam berkerah tinggi yang terbuat dari bahan yang sangat lembut dan cukup hangat . Air menetes-netes dari sela-sela rambutnya yang basah. Ada handuk kecil yang diletakkan di lehernya untuk mengeringkan rambutnya yang sekarang jatuh menutupi permukaan wajahnya.

Sasuke berlari dengan tergesa-gesa saat matanya mendapati Sakura terbaring pingsan di balkon kamarnya dengan posisi membelakangi dirinya. Ditepuk-tepuknya perlahan pipi gadis itu. Tapi tetap tetap tidak ada reaksi. Perasaan panik mulai menderanya.

"Sakura. Sakura."

Oke. Sasuke benar-benar panik sekarang.

Tapi tiba-tiba ada gumpalan salju yang mendarat diwajahnya dibarengi dengan suara kekehan geli yang sangat dikenalnya.

"Kau kena," Sakura terkekeh geli.

Ternyata dia dikerjai.

"Dasar nakal. Berani sekali kau mempermainkan seorang Uchiha." Tangan Sasuke bergerak untuk menggelitiki pinggang Sakura hingga gadis itu menggeliat-geliat meminta untuk dilepaskan.

Mereka bercanda dengan diselingi canda tawa. berguling-guling di atas tumpukan salju yang akan mencair. Belum pernah Sasuke merasa begitu lepas dan terbuka seperti ini selama hidupnya. Sambil sesekali saling melemparkan gumpalan salju yang dingin.

"Ampun-ampun. Maafkan aku Sasuke-Sama!" nafas Sakura masih memburu.

Mereka masih tertawa sampai Sakura merasakan adanya denyutan dibagian belakang kepalanya. Tanganya reflek memegangi keningnya yang terasa sakit, pandangan matanya mulai kabur. Sakura menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan kabut yang mulai menutupi matanya, tapi nihil, kepalanya semakin terasa berat.

Sasuke terkekeh pelan. "Ayolah Sakura. Jangan bercanda terus." Sasuke masih menganggap ini adalah salah satu dari kejahilan Sakura yang berupaya membuatnya terjebak untuk yang kedua kalinya.

Sasuke mulai meragukan kata-katanya sendiri saat melihat ada darah yang meluncur dari sela-sela hidung Sakura dan jatuh di atas butiran salju yang segera berubah menjadi merah karenanya. Wajah gadis itu sangat pucat, ada keringat dingin yang merembes keluar dari pelipis wajahnya.

"Sakura," gadis itu kembali pingsan dalam pelukannya.

-SAKURA-

Tenten mendengus kesal. Entah kenapa hari ini dia merasa sangat kesepian, biasanya selalu ada Neji yang usil mengganggunya dan membuat dirinya berteriak-teriak heboh sambil menuding wajah pemuda itu dengan kasar menggunakan jari telunjuknya. Sekarang justru malah terasa seperti siksaan yang tidak berujung, tidak ada hal yang bisa dia lakukan. Menyebalkan. Kenapa dia jadi merasa sedikit merindukan pemuda beriris perak itu. Hah? Merindukan Neji. Yang benar saja. Tidak mungkin.

Gadis dicepol dau itu bisa saja mengingkari perasaannya tapi tetap saja sang hati tidak bisa dibantah dan justru malah berkata lain, kalau dia memang merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya saat melihat Neji tidak ada di sampingnya. Seperti sekarang ini.

Tenten menarik nafas berat dan berguling kesamping. Menelungkupkan tubuhnya diatas tempat tidurnya yang besar. Telinganya mendengar suara pintu yang terbuka tanpa menolehkan kepalanya Tenten sudah tau kalau yang datang pastilah pelayan pribadinya. Memangnya siapa lagi yang berani lancang masuk ke dalam kamarnya kalau bukan Nagane atau kedua orang tuanya.

"Pergilah Nagane. Aku sedang tidak ingin diganggu." ucap Tenten tanpa membalikkan tubuhnya untuk sekedar melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya.

"Siapa itu Nagane?"

Tenten reflek membalikan tubuhnya begitu mendengar suara baritone yang sudah sangat dikenalnya. Neji berdiri di ambang pintu dengan cengiran menggoda di wajahnya.

"Sedang apa kau di sini? Dan apa yang kau lakukan di kamarku? Siapa yang menyuruhmu masuk?" serentetan pertanyaan dari mulut Tenten langsung membrondong pendengaran Neji.

Neji hanya tersenyum. "Sebaiknya kau berdandan sekarang. Aku akan tunggu di bawah."

"Memangnya siapa kau berani memerintahku."

Neji tidak menghiraukan kata-kata Tenten, pemuda itu kembali menutup pintu.

"Huh… dasar… seenaknya saja menyuruhku." Tenten menggerutu tidak jelas, tapi lalu kemudian masuk kedalam kamar mandi. Percuma saja kalau mau berusaha membantah Neji, dia tidak akan pernah menang beradu argument dengan pemuda yang satu itu.

"Kita mau ke mana?" tanya Tenten pada pemuda yang sekarang duduk di sampingnya, berkonsentrasi mengendalikan setir mobil di tengah padatnya jalanan kota.

"Kau tidak usah banyak bertanya. Kau hanya tinggal ikut saja." ucapnya tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalanan yang ada di hadapannya.

Wajah Tenten mengernyit heran saat mereka berhenti didepan sebuah toko yang bertuliskan Florist. Untuk apa Neji membawanya ke toko bunga. Apa pria itu bermaksud membelikan dirinya bunga? Tanpa sadar wajah Tenten merona. Tapi itu tidak mungkin, kalau memang Neji ingin membelikan dirinya bunga, lantas kenapa dirinya diajak kemari. Atau jangan-jangan, pemuda itu ingin minta pendapatanya untuk membelikan seorang wanita yang telah menjadi kekasihnya. Tapi sejak kapan Neji punya kekasih. Kenapa dia merasa sakit dan kecewa saat memikirkan kemungkinan yang terburuk. Kalau iya Neji punya pacar, lantas kenapa. Mereka toh tidak punya hubungan apa-apa. Jadi kenapa dia harus merasa tersisih atau cemburu? Tenten tersentak kaget saat menyadari pemikirannya. Mana mungkin dia cemburu.

Tenten menyaksikan bagaimana wajah para gadis merona saat melihat ketampanan pemuda yang sekarang berjalan di sampingnya, terdengar bisik-bisik yang sanggup membuat Tenten semakin terbakar. Ingin rasanya dia jambaki wajah para gadis itu satu persatu. Tetapi kemudian wajah gadis itu berubah menjadi sumeringah saat para gadis itu mendesah kecewa ketika mereka melihat Neji menggandeng dirinya.

"Kelihatanya yang ini bagus. Menurutmu dia akan menyukainya?" Neji bertanya pada Tenten sambil menunjukkan sebuket bunga mawar merah muda yang telah dirangkai dengan cantik.

"Tentu. Dia pasti akan sangat menyukainya." Suara Tenten sedikit bergetar saat mengucapkannya. Dia lupa kalau kemungkinan mereka kesini karena Neji ingin memberikan bunga pada kekasih barunya.

"Kalau begitu aku ambil yang ini saja."

Neji berjalan kearah kasir, sementara Tenten meneruskan acara cuci matanya. Toko ini sangat besar dan mewah, jenis toko yang sering menjadi pilihan pemuda kaya untuk membeli bunga, dan kebanyakan tentu saja untuk merayu kekasih mereka. Matanya tertuju pada kumpulan bunga tulip yang disusun di atas rak-rak kaca, entah kenapa sejak dulu dia memang sangat menyukai bunga tulip. Kerena kata ibunya, bunga tulip adalah lambang pernikahan yang berarti cinta sejati dan kesetiaan, setiap warna memiliki makna tersendiri, dan lagi sewaktu akan menikah, ayahnya melamar ibunya dengan hanya memberikan sebuket bunga tulip dan bukannya bunga mawar. Sangat romantis.

"Kau sudah selesai.?"

Tenten menolehkan kepalanya saat mendapati Neji telah berada di sampingnya. Gadis itu hanya mengangguk.

"Apa yang kau lihat?" Neji bertanya saat menyadari Tenten memandang lekat barisan bunga tulip yang tersusun rapi di rak dan sepertinya sangat sulit untuk mengalihkan matanya ke tempat lain.

Wajah Tenten seketika merona saat menyadari ternyata wajah Neji sangat dekat dengan wajahnya. Kurang dari beberapa centi lagi hidung mereka akan bersentuhan.

"Bukan apa-apa." Jawabnya ketus.

Lagi-lagi Tenten harus dibuat kesal saat mendapati wajah pelayan kasir wanita yang merona disertai dengan lirikan penuh maksud ke arah Neji yang sepertinya tidak tau akan lirikan itu, atau memang pemuda itu sengaja tidak mau tau atau tidak perduli. Kasian sekali. Sekarang Tenten bisa bersimpati dengan tulus.

"Kau tunggu di sini sebentar." ucap Neji saat Tenten sedang berusaha memasang sabuk pengamannya. "Ada barangku yang ketinggalan."

Tbc.

R

E
V
I
E
W

Special thanks.

Animea Lover Ya-Ha. Poetri Chan. Eet gitu. Chaca D'black angel. Naomi azurania belle. Yue-chan. Uchiruno. Tabita pinkybunny. Uchiharuno proper. SS SK. Kamikaze ay. Uchiha Hime is poetry celemot. Sandy si kucing pink. Liu'z ly'y chen'z. afi. Eunike Yuen. Fifah kyew. Me. Sung rae ki. Ma samba. Hasni kazuyakamenashi strateels. No name. uchiha elfsparyo. Vanilla yummy. Riestiyani aurora. Dan juga untuk semua silent reader.

Mohon maaf atas keterlambatan update. mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan nama.