SYMBOL OF REVENGE
Chapter#10
Kasus pencurian jantung para penyihir part 2
Rate: M
.
.
.
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], High School DxD [Ichie Ishibumi]
Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance, Drama, Martial Art
Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC
Pairing: ?
Summary:
Penyelamat? Pahlawan? Ksatria? Tidak… Aku tidak tertarik menjadi sesuatu semacam itu… Hanya dendam.. Dendam yang kubawa sejak perang besar antara Kerajaan Kerajaan besar.. Perang yang menghancurkan kebahagiaanku… Dendam ini berubah menjadi sumber kekuatan.. Dan dengan kekuatan ini, akan kutuliskan namaku di kepala para Raja itu.. diriku sebagai symbol pembalasan dendam..
Don't Like Don't Read
Ide ini muncul setelah author mendengarkan lagu opening No Game No Life.. Entah kenapa.. Padahal gak ada hubungannya sama cerita ini..
Jangan lupa review, favorite follow!
.
.
.
.
.
Setelah pertarungan selama istirahat makan siang yang berakhir dengan lolosnya Kakuzu, Naruto dan yang lainnya segera bergegas menuju ke ruang Dewan Siswa tanpa menghiraukan bahwa sudah saatnya mereka kembali ke kelas. Karena keadaan ini bisa sangat berbahaya setelah jam Akademi selesai. Kakuzu dipastikan akan menyerang murid murid Akademi Aincrad ketika jam pelajaran selesai, terlebih lagi…, tidak mungkin bagi pihak Akademi maupun Grigori untuk mengawal seluruh siswa nya hingga sampai ke rumah mereka masing masing. Oleh karena itu, Naruto berniat membicarakan hal ini dengan Dulio serta Kepala Sekolah Azazel.
"Dulio-senpai… semoga dia masih ada ruangan Dewan Siswa.." kata Kyuubi.
"Dia tidak akan kemana mana, sebagai Ketua Dewan Siswa yang sudah memegang sebagian kekuasaan di Akademi ini.. dia sudah tidak diwajibkan untuk mengikuti pelajaran karena Akademi sendiri juga sudah mengakui pengetahuan Dulio-senpai.." kata Kaguya yang berjalan di depan Kyuubi.
Naruto, Kaguya, Kyuubi dan Issei sekarang sedang berlari menuju ruangan Dewan Siswa sedangkan Ulquiorra dan Ultear sedang mengantarkan Samui dan Gaara menuju ke ruang kesehatan untuk memberikan mereka pertolongan dan pengobatan. "Naruto-kun, bagaimana menurutmu mengenai situasi nya saat ini?" tanya Kaguya menoleh ke samping kanannya.
"Sebenarnya situasinya tidak begitu buruk… yang mesti kita laporkan kepada Dulio-senpai sekarang bukanlah situasinya namun adalah informasi yang kita dapatkan setelah pertarungan melawan Kakuzu yang berlangsung tadi. Informasi ini akan sangat berguna untuk pihak kita membuat sebuah antisipasi saat harus berhadapan melawan Kakuzu,"
Dan ketika mereka sampai di depan pintu masuk ruang Dewan Siswa, Naruto langsung mengetuk pintu masuk.
TOK TOK TOK
"Hmm?"
Dulio yang masih sibuk dengan semua tugas Dewan Siswa yang dikerjakannya langsung menoleh ke arah pintu masuk saat terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk…"
Naruto membuka pintu masuk memperlihatkan Dulio yang sedang duduk di kursi Ketua Dewan dengan setumpuk tugas yang diletakkan di meja yang ada di depannya. "Dulio-senpai, kami datang untuk melapor!"
"Naruto-kun, Kaguya-chan, Kyuubi-chan dan Issei-kun…"
Kata Dulio dengan sedikit terkejut begitu melihat keempat orang itu yang masuk ke dalam ruangannya.
"Apa yang ingin kalian laporkan hingga harus datang kesini saat jam pelajaran masih berlangsung?" tanya Dulio sambil melihat jam.
"Ini mengenai Kakuzu.." jawab Naruto dengan ekspresi dingin namun terlihat begitu serius.
Dulio cukup terkejut mendengar Naruto dan ketiga orang yang bersamanya datang untuk melaporkan sesuatu mengenai Kakuzu. Kedua bola mata Dulio menajam lalu ekspresi nya berubah menjadi serius ketika mendengar nama Kakuzu disebut.
"Apa dia muncul di Akademi?"
Naruto mengangguk pelan menandakan sebuah jawaban 'Ya' dari pertanyaan Dulio barusan.
"Dia muncul saat istirahat makan siang yang baru saja selesai beberapa menit yang lalu," kata Issei maju selangkah mensejajarkan dirinya di samping Naruto.
Dulio berdiri dari kursinya kemudian menengok keluar jendela besar yang berada di belakangnya. "Tutup pintunya… dan jelaskan dimana serta bagaimana bisa Kakuzu muncul di hadapan kalian?"
Kaguya yang mendengar perintah Dulio segera menutup pintu ruangan kemudian berjalan menyusul Naruto, Kyuubi dan Issei yang sudah lebih dulu duduk di ruang tamu yang ada di dalam ruang Dewan Siswa. "Kalau begitu siapa dari kalian yang akan menjelaskan mengenai kemunculan Kakuzu saat istirahat tadi?" tanya Dulio menatap keempatnya dengan tatapan serius.
"Kurasa aku yang akan menjelaskannya, senpai.." kata Naruto mengajukan diri.
"Selama pelajaran sebelum istirahat makan siang, kepalaku selalu terganggu dengan kemunculan Kakuzu hingga akhirnya aku memikirkan sebuah rencana untuk memancing Kakuzu keluar pada saat istirahat berlangsung. Oleh karena itu, aku meminta bantuan Kyuubi, Samui dan Gaara untuk membantuku memancingnya keluar…"
"Hmm, jadi semua ini berawal dari rencanamu Naruto? Lalu dimana Gaara dan Samui sekarang? Jangan katakan…" sebelum Dulio menyelesaikan kalimatnya, Naruto sudah memintanya untuk tidak berspekulasi.
"Mereka berdua sekarang aman bersama Ulquiorra dan juga Ultear.. Mereka ada di ruang kesehatan sedang menerima perawatan. Mereka tidak mendapatkan luka yang parah dari pertarungan mereka melawan Kakuzu.." jawab Naruto sambil menghela nafas.
Dulio mengangkat satu alisnya begitu mendengar pernyataan Naruto barusan. "Apa itu artinya… Samui dan Gaara lah yang sebenarnya berhadapan dengan Kakuzu?"
"Benar…, Dalam rencana yang kubuat, mereka berdua kuminta untuk bersama duduk seperti sepasang kekasih di taman belakang Akademi yang kujadikan sebagai tempat untuk memancing keluar Kakuzu sedangkan aku, Kyuubi dan Kaguya berada di tempat lain yang cukup sepi dan kucurigai bahwa Kakuzu juga akan datang di tempat itu. Namun ternyata dia datang ke tempat Samui dan Gaara berada,"
"Jadi, kalian menjadikan diri kalian umpan untuk memancing keluarnya Kakuzu?" tanya Dulio sambil menatap mereka berempat dengan tatapan serius.
"Benar, pada akhirnya Kakuzu muncul di tempat Samui dan Gaara berada… Lalu dengan sihirku, aku merasakan kehadirannya disana lalu kami bertiga segera berlari menuju tempat Samui dan Gaara sedang bertarung. Namun ketika sampai di lorong, aku merasakan sebuah hawa kehadiran lain dari arah yang berbeda, oleh karena itu…, aku meminta Hyoudou agar dia yang pergi ke tempat Samui dan Gaara,"
Lalu singkat cerita, Naruto menjelaskan mengenai pertarungan mereka masing masing melawan Kakuzu dan makhluk makhluk hitam yang keluar dari tubuhnya serta menjelaskan juga mengenai kemampuan Kakuzu dari info yang mereka dapat saat berakhirnya pertarungan. Dulio sendiri juga menerima dengan baik penjelasan Naruto barusan dan paham mengenai keputusan yang Naruto ambil untuk tidak meminta bantuannya saat dia menjalankan rencananya.
"Hah~… Baiklah.."
Dulio menghela nafas setelah mendengar semua penjelasan Naruto barusan. Hanya saja ada satu hal yang tidak dia mengerti mengenai Kakuzu. "Jadi, Kakuzu juga memiliki kemampuan untuk menyembunyikan keberadaannya di tempat ini?" tanya Dulio.
"Ya… Aku sangat yakin, jika dia tidak memiliki sihir semacam itu…, seharusnya Hyuuga Neji bisa mendeteksi dari dalam kelas hingga jarak cakupan 5 kilometer. Sesuai keterangan pagi tadi, saat Hyuuga-san diminta untuk melakukan pemeriksaan menggunakan [Byakugan] dan ternyata dia tak menemukan apapun lalu saat siang hari Kakuzu muncul entah darimana dan menggigit umpan yang kita berikan,"
Ucap Kaguya menjawab pertanyaan Dulio dengan nada yang cukup serius.
"Itu masuk akal… Tidak mungkin Kakuzu bersembunyi di tempat lain yang jaraknya lebih dari 5 kilometer jauhnya dari Akademi.. Jika dia bersembunyi di tempat sejauh itu, tidak mungkin baginya untuk muncul saat istirahat siang tadi. Sesuai teori kalian, dia memiliki kekuatan untuk menyembunyikan keberadaannya bahkan menyembunyikan dirinya dari sihir kekuatan mata pendeteksi sekaliber [Byakugan].." kata Dulio sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan terlihat berpikir keras saat mengatakannya.
Tak lama kemudian, terdengar beberapa langkah kaki mendekat ke ruang tamu di dalam ruangan Dewan Siswa. Karena saking bingungnya harus apa, Dulio, Naruto, Kaguya, Kyuubi dan Issei bahkan tak memperhatikan beberapa orang yang baru saja tiba disana dan tengah menatap mereka dengan tatapan kebingungan.
"Ada apa ini?"
Tanya seorang pria dengan suara yang cukup berat. Dulio, Naruto dan yang lainnya segera menoleh ke asal datangnya suara, kemudian mereka melihat di sana berdiri beberapa orang yang tengah menatap mereka bingung.
"Azazel-sensei, Sairaorg Bael, Rias Gremory dan Sona Sitri.."
Panggil Dulio ketika melihat kedatangan mereka berempat.
"Ehmm.. Tidak usah memanggil nama lengkap kami, Dulio-san.." kata Rias dengan senyum masam.
Kemudian tatapan mata Azazel-sensei dan yang lainnya tertuju kepada tiga murid Akademi Aincrad dan satu murid Akademi Kuou yang sedang duduk di ruang tamu bersama Dulio. Mereka semua terlihat serius disana sebelum mereka berempat menyadari kedatangan Azazel-sensei dan ketiga murid perwakilan Kuou. "Sedang apa kalian berempat disini?"
Naruto dan ketiga orang yang bersamanya tampak terlihat masih ragu ragu untuk menjawab pertanyaan Azazel. Dan tingkah mereka tersebut, juga membuat Azazel semakin penasaran.
"Ini mengenai Kakuzu…" jawab Dulio.
.
.
.
.
.
xxx0xxx
"Jadi begitu ceritanya…"
Setelah mendengarkan semua penjelasannya dari Dulio dan Naruto.., Azazel-sensei juga turut hanyut dalam kebingungan saat memikirkan bagaimana mengatasi kemampuan Kakuzu yang bisa menghilangkan keberadaannya tersebut bahkan lepas dari sihir pendeteksi sekelas [Byakugan] milik Hyuuga.
"Tapi setelah mendengarkan penjelasan kalian mengenai kemampuan Kakuzu, tidakkah kalian mengira kalau kemampuannya dalam menghilangkan keberadaan mungkin di dapatnya dari kekuatan sebuah artefak sihir atau peralatan sihir?"
Kata Sairaorg yang langsung mendapat perhatian dari Naruto. Teringat akan kemungkinan itu membuat Naruto segera menggali ke dalam pikirannya mencoba mencari nama nama serta kemampuan kemampuan artefak atau peralatan sihir legendaris yang dia ketahui. Tak lama kemudian…, ketika yang lainnya masih sibuk berpikir ulang dengan kemungkinan yang disebutkan Sairaorg, Naruto justru sudah menemukan darimana asalnya kemampuan Kakuzu…
"Hmm.. apa kira kira peralatan sihir yang bahkan bisa menghilangkan keberadaan dari [Byakugan] sekalipun," kata Kaguya berpikir.
"[Lost Presence]…"
Naruto menyebutkan sesuatu yang langsung menarik perhatian Azazel-sensei yang sejak tadi masih belum menemukan petunjuk apapun. Raut wajah Azazel langsung berubah, matanya melebar dan sekaligus kagum dengan pengetahuan Naruto.
"A-Apa itu, Naruto-kun?" tanya Kyuubi dengan wajah yang terlihat bingung.
Bukan Naruto yang menjawab pertanyaan Kyuubi namun Azazel yang tampaknya sudah tahu.. "[Lost Presence] merupakan salah satu sihir yang dianggap sudah hilang, sebuah sihir kuno yang katanya berasal dari gulungan sihir kegelapan [Apocalypse Magic Scroll]
"Sihir kegelapan dari [Apocalypse Magic Scroll] anda bilang?" tanya Sona sedikit terkejut mendengarnya.
Sairaorg, Dulio, Rias dan yang lainnya turut terkejut mendengar nama daratan tersebut. Issei yang tidak pernah mendengar nama tersebut tentu hanya melihat ke sekitar nya dengan tatapan bingung. "Sensei… kau bilang barusan sihir yang disebutkan Naruto berasal dari [Apocalypse Magic Scroll]? Aku juga pernah mendengar nama sihir tersebut di dalam buku yang ada di perpustakaan, tapi kukira sihir itu sudah lama hilang?" tanya Dulio mengerutkan keningnya sekarang.
"Memang mungkin tidak ada lagi yang tahu cara penggunaan sihir tersebut di dunia ini.. akan tetapi, dengan gulungan sihir tersebut di tangan Kakuzu bukan tak mungkin dia mempelajarinya," kata Naruto masih dengan wajahnya yang penuh pemikiran.
Azazel-sensei mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Naruto barusan. Dia berjalan ke arah jendela besar di ruangan tersebut sambil memandangi apa yang ada di luar. "Kemungkinan besar… Kakuzu memiliki gulungan sihir dari [Lost Presence] yang asli…"
"T-Tapi.. D-Darimana dia mendapatkannya!? Itu tidak masuk akal… [Apocalypse Magic Scroll]… sihir kegelapan legendaris itu hanyalah legenda semata dan tak ada yang tahu kebenaran mengenai sihir kegelapan tersebut.." kata Sona menyangkal semua yang dikatakan Naruto dan Azazel.
"Tapi… Legenda tersebut berasal dari kisah nyata…" ucap Sairaorg sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memasang ekspresi yang serius.
Mendengar pernyataan tersebut keluar dari mulut Sairaorg, Rias nampaknya akan membela Sona atas sangkalannya barusan karena bagaimanapun juga semua itu hanyalah legenda menurutnya. "Sairaorg! Itu-!"
Namun sebelum Rias sempat mengemukakan pendapatnya, Dulio berbicara..
"Semua itu mungkin saja…"
Rias dan Sona segera menoleh ke arah Dulio.
"Apa..?"
Dulio kemudian menoleh ke arah Rias dan Sona. "Apa kalian tidak tahu darimana asalnya kekuatan Hidan Sang Manusia Abadi?" tanya Dulio.
Rias dan Sona justru kebingungan kenapa Dulio justru membahas Hidan saat ini. Sairaorg yang mendengar nama Hidan disebutkan, langsung melebarkan matanya dan menatap Naruto. "Jangan jangan…"
Naruto hanya memasang ekspresi datar ketika mendapat tatapan terkejut dari Sairaorg. "Seperti yang kuduga kalau kalian kekurangan informasi mengenai darimana asalnya kemampuan Hidan… Kukira setelah mendengar Hidan dibunuh oleh Naruto-kun, kalian juga tahu darimana kemampuan Hidan berasal,"
Rias dan Sona hanya terdiam mendengarkan.
"Kekuatan abadi milik Hidan berasal dari cincin yang ditelannya… [Immortal Curse Ring] yang konon berasal dari [Holy Ground]," kata Naruto mengejutkan Sona dan Rias begitu saja. Sairaorg yang sudah menyadarinya masih menatap Naruto dengan tatapan yang tidak percaya lalu sedetik kemudian dia merubahnya menjadi senyuman tertantang.
"[Holy Ground] merupakan salah satu dari 4 Legenda Terbesar di dunia selain [Apocalypse Magic Scroll].."
Saat Dulio kembali mengatakannya, Rias dan Sona kini hanya mendengarkan masih dengan ekspresi yang penuh dengan ketidakpercayaan. Sedangkan di dalam ruangan tersebut hanya Issei yang masih tidak mengerti apa yang mereka bicarakan saat ini.
"…Terlebih dia juga memiliki salah satu sihir kegelapan… [Suicide Curse].. salah satu sihir dari [Apocalypse Magic Scroll] dan hebatnya, kemampuan ini sangat pas bila dipadukan dengan [Immortal Curse Ring]. Dia bisa melukai dirinya sendiri bahkan memenggal kepalanya dan membuat lawannya merasakan rasa sakit dan dampak yang sama seperti yang dirasakannya dengan kemampuan tersebut.. Gulungan sihir kegelapan itu sejenis dengan [Lost Presence] dan kalian masih menyebutnya tidak mungkin?"
Rias dan Sona sudah benar benar terdiam kehabisan kata kata. Mereka menoleh ke arah Naruto sambil memikirkan mengenai pertarungannya melawan Hidan. Apa itu artinya Naruto bertarung melawan orang yang menggunakan dua sihir yang berasal dari 4 Legenda Terbesar di dunia? Itulah yang mereka pikirkan. Bagaimana Naruto bisa selamat dari sihir semacam itu? Sihir yang mungkin bisa membuat pengguna Rias dan Sona tak bisa berbuat banyak.
"Dengan ini mungkin 80% bisa dipastikan darimana asalnya kekuatan Kakuzu untuk menyembunyikan keberadaannya…"
Ucap Azazel membalikkan tubuhnya menghadap mereka semua.
"Ya… Mungkin saja, Kakuzu menemukan sihir tersebut saat dia masih bersama Hidan.. Mereka berdua menemukan benda benda dan gulungan sihir yang berharga lalu membaginya.. dan sihir berharga itu merupakan harta karun besar,"
Kata Dulio dengan nada yang sedikit malas. Setelah lama membahas mengenai kekuatan Kakuzu dan sejenisnya, mereka akhirnya kembali kepada topik utama mengenai rencana penangkapan Kakuzu.
"Apakah salah satu dari kalian ada yang memiliki rencana bagus untuk menangkap Kakuzu..?" tanya Dulio.
Tak satupun dari mereka yang memiliki rencana yang cukup bagus untuk menangkap Kakuzu apalagi jika mengingat Kakuzu yang setidaknya masih memiliki 7 makhluk hitam lagi untuk digunakan. "Kita membutuhkan sebuah umpan lagi untuk diserang oleh Kakuzu.." kata Sairaorg.
"Tapi umpan itu pastinya tidak akan se efektif sebelumnya… Naruto sudah menggunakan umpan sebelumnya untuk menarik keluar Kakuzu dan kurasa dia tidak akan mudah tertarik menangkap umpan yang kita berikan untuk yang kedua kalinya,"
Ucapan Dulio barusan memang benar. Efektifitas dari umpan yang akan mereka pasang untuk menarik Kakuzu akan berkurang pada rencana yang kedua ini. Kakuzu sudah jelas bisa melihat bahwa Akademi Aincrad akan memberikannya umpan lagi untuk ditangkap.
"Apa anda juga tidak memiliki rencana, Azazel-sensei?" tanya Kaguya yang tampaknya mulai khawatir.
Azazel tidak menjawab namun juga tak merespon sama sekali. Dia masih terlihat memikirkan sesuatu di kepalanya dan itu membuat mereka semua semakin cemas. Lalu muncul layaknya orang penting dalam situasi seperti ini, Naruto berujar..
"Sebenarnya aku memiliki sebuah rencana yang kukira akan berhasil,"
Mereka semua segera menoleh ke arah Naruto yang sedang memasang ekspresi serius sambil mengingat ingat kembali berapa persen kemungkinan rencana ini berhasil.
"N-Naruto-kun!" panggil Kyuubi.
"Kau memiliki rencana lagi?" tanya Sairaorg dengan sedikit senyum lebar saat menatap ke arah Naruto.
Naruto menoleh ke arah Azazel, Dulio dan Sairaorg sebelum akhirnya dia menatap ke arah kedua tangannya. "Kurasa rencana ini akan berhasil…"
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Kakuzu sekarang berjalan dengan tubuh yang tak dapat dilihat oleh siapapun. Sihir [Lost Presence] yang dikuasai nya memungkinkan dirinya untuk menghilangkan keberadaan bahkan dari mata [Byakugan]. Dia bisa menghilangkan keberadaan dari pandangan lawannya namun banyak harga yang harus dia bayar setiap menggunakan sihir tersebut. Oleh karena itu, dia tak pernah menggunakannya saat berada dalam pertarungan. Dia bisa saja menghindari seluruh serangan dengan menggunakan sihir tersebut, namun harga yang harus dibayarkannya atas penggunaan sihir kegelapan tersebut juga semakin besar. Sihir tersebut memotong jangka hidupnya, oleh sebab itu dia mengumpulkan banyak jantung dari para penyihir [Elemental Magic] karena selain bisa menambah jangka hidupnya dengan sihir terlarang, jantung jantung tersebut juga semakin memperkuat dirinya.
Langkah Kakuzu tiba tiba terhenti ketika dia merasakan banyak sekali para penyihir [Elemental Magic] dalam satu area. Bahkan jumlahnya sangat mengejutkan Kakuzu. Mereka semua memiliki kekuatan [Elemental Magic] dengan standar rata rata penyihir biasa tapi dengan jumlah yang begitu banyak. Tentu saja dia mengira bahwa saat ini Akademi sedang mengumpulkan semua penyihir pengguna [Elemental Magic] untuk diamankan. Baginya yang cukup penasaran, dia segera mengikuti arah datangnya kekuatan besar itu.
'Mereka berniat mengamankan semua penyihir itu rupanya? Lalu melindungi mereka…'
Batin Kakuzu ketika dia sampai di depan sebuah bangunan besar yang ada di Akademi Aincrad. Bangunan yang ada di depannya ini merupakan aula besar milik Akademi Aincrad yang sebenarnya sering dipakai untuk latihan dan lawan tanding murid murid Akademi. Dia merasakan bahwa hanya ada beberapa orang yang ada di dalam bangunan tersebut yang kekuatannya cukup besar.
'Aku tak merasakan sensasi yang begitu besar… Beberapa penyihir yang ada di dalam sana sanggup mendesakku, namun jika aku berhasil memakan semua jantung orang orang yang ada di dalam…'
Kata Kakuzu dalam hati sambil memasang ekspresi licik. Dia rupanya berniat mengendap endap masuk ke dalam dan menyamar sebagai salah satu orang yang di evakuasi lalu perlahan membunuh mereka satu persatu dan menelan bulat bulat jantung para murid yang ada di dalam.
Tanpa berpikir panjang, dia masuk melalui pintu lain dan mengendap endap. Namun yang aneh baginya ketika ia memasuki aula tersebut, dia tak melihat satupun murid disana…
"Apa ini..? Tak ada satupun orang disini… Lalu darimana asalnya kekuatan dalam jumlah banyak yang terbagi bagi ini?"
Dia berjalan ke tengah tengah aula besar namun juga tak menemukan siapapun hingga akhirnya terdengar sebuah suara yang mengejutkannya…
VOOOOOM
"Celaka!"
Tiba tiba saja di sekeliling aula terpasang semacam kekkai atau penghalang sihir yang membuat orang orang yang berada di dalam nya tak bisa keluar dari sana. Tentu saja Kakuzu terkejut melihatnya, dia tak menyangka bahwa akan terpasang sebuah sihir yang membuatnya terjebak di dalam. Dia langsung menoleh ke segala arah dan akhirnya dia menemukan seseorang yang keluar dari balik tirai.
"Siapa!?"
PLOK PLOK PLOK PLOK
"Wah, tak kusangka rencana Naruto-kun akan berjalan semulus ini.. Dia benar benar bisa membaca pikiranmu meski dia bahkan belum bertarung langsung denganmu,"
Suara itu berasal dari Dulio. Dia muncul sambil menepukkan tangannya beberapa kali kagum dengan suksesnya rencana yang dibuat Naruto.
Dan betapa terkejutnya Kakuzu karena tiba tiba saja, kekuatan dalam jumlah besar dari banyak murid murid yang dirasakan oleh Kakuzu terkumpul menjadi satu ke dalam tubuh Dulio…, orang yang muncul di hadapannya pertama kali. "Kekuatan ini… Semuanya berkumpul menjadi satu bagian…?" kata Kakuzu yang sedikit tidak mempercayainya saat melihat ke arah Dulio.
Dulio hanya tersenyum begitu melihat ekspresi menyedihkan dari Kakuzu.
"Siapa kau sebenarnya!?" tanya Kakuzu kepada Dulio.
Dulio berjalan sedikit mendekat ke arah Kakuzu dengan ketenangan yang luar biasa meski di hadapannya ada seorang buronan kelas S. "Namaku Dulio Gesualdo… Aku adalah Ketua Dewan Siswa Akademi Aincrad. Pada rencana yang dibuat oleh Naruto-kun ini, aku berperan sebagai sumber kekuatan yang memecah kekuatan ku hingga ke puluhan atau bahkan ratusan bagian.. lalu menjebakmu hingga kau mengira kalau bagian bagian dari kekuatanku itu merupakan kekuatan dari banyaknya murid murid yang berkumpul disini untuk diamankan.."
Kata Dulio menjelaskan semua rencana yang Naruto buat hingga mengejutkan Kakuzu secara sepihak. Dia cukup terkejut mendengar bahwa semua kekuatan itu berasal dari pria di hadapannya. Jumlah kekuatan yang dia rasakan begitu besar, tapi semuanya hanyalah tipu daya dari laki laki di depannya bahkan dia mengatakan kalau semua kekuatan itu berasal darinya. Kakuzu semakin bertanya tanya, seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh Dulio?
"Kau… Jangan bercanda! Tidak mungkin seorang manusia biasa memiliki kekuatan [Elemental Magic] sebesar itu hingga bisa memecah kekuatannya ke dalam ratusan bagian."
Kata Kakuzu sambil mengerutkan keningnya ketika menatap Dulio.
Naruto, Sairaorg, Azazel-sensei, Issei, Kiba, Saji dan Ulquiorra keluar dari persembunyian mereka masing masing sambil mengepung Kakuzu. Tentunya Kakuzu sudah mengira kalau dia benar benar terjebak dan takkan bisa lari lagi dari tempat ini. Namun sekarang yang menjadi perhatiannya adalah pria yang dikiranya telah menipu dirinya.
"Sayangnya aku memang bukan manusia biasa… Aku lahir dengan sebuah artefak kuno legendaris dalam tubuhku.."
Kakuzu semakin menajamkan matanya mendengarkan Dulio…
"Salah satu dari [Longinus]… sebuah kekuatan yang mampu mengendalikan kelima elemen serta mengendalikan cuaca.. kau pasti juga tahu mengenai [Zenith Tempest] kan?.."
Kakuzu terkejut mendengarnya. Siapa yang mengira bahwa dirinya akan dijebak oleh seorang pengguna [Longinus]. Kakuzu merupakan penyihir dengan pengetahuan yang luas jadi dia sudah pasti mengetahui nama artefak kuno tersebut. Dia nampak tak begitu panik. Mungkin alasannya adalah karena dia memang sudah tak bisa berbuat apa apa. Dari segala arah, berdiri para penyihir yang sanggup menahannya meski tak semua dari mereka memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan dirinya.
"Hmm.. Ada kata kata terakhir..?" tanya Azazel sambil menyalakan api rokoknya.
Naruto dan yang lainnya sudah bersiap dengan sihir dan senjata mereka masing masing sedangkan Kakuzu yang sudah tak memiliki langkah apapun mulai mengeluarkan seluruh makhluk hitamnya. "Kurasa tidak ada yang bisa kukatakan kepada kalian…"
"Hmm begitu… Bagaimana dengan kau beritahu saja kepada kami… Bagaimana caramu dan Hidan mendapatkan sihir kegelapan itu?"
Tanya Azazel yang nampaknya sudah menahan pertanyaan tersebut dari tadi.
Begitu mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Azazel, Kakuzu langsung teringat akan sesuatu yang berbahaya ketika dia mendapatkan sihir tersebut. Dia terdiam selama beberapa saat sambil terpejam sebelum akhirnya dia terlihat bahagia dan tertawa keras dengan sendirinya tanpa alasan yang cukup jelas. "HAHAHAHAHA.."
Azazel dan yang lainnya saling menatap bingung saat melihat Kakuzu tertawa sendiri hanya Naruto dan Ulquiorra yang entah kenapa masih terdiam dengan ekspresi dingin saat melihat Kakuzu tertawa.
"…Kau pikir aku akan memberitahukannya kepada kalian?" tanya Kakuzu dengan nada yang berubah menjadi semakin serius entah kenapa. Dan tiba tiba saja dia berubah jadi bersemangat untuk bertarung.
Azazel menajamkan matanya begitu mendengar jawaban Kakuzu.
"Lebih baik aku mati daripada harus memberitahukannya kepada kalian…"
Kakuzu langsung melesat ke arah Dulio dan memberikannya sebuah pukulan keras meski dapat ditahan oleh Dulio dengan satu tangan kanannya. Makhluk makhluk hitam Kakuzu segera berpencar melawan Naruto, Azazel dan yang lainnya. Sesuai dengan perkiraan Naruto, jumlahnya bahkan lebih dari 7.. terhitung ada 14 makhluk hitam yang keluar dari tubuh Kakuzu. Meski begitu semua makhluk hitam itu nampaknya tak begitu memiliki dampak besar dalam pertarungan ini. Terbukti Azazel yang memang seorang penyihir kelas atas dengan cepat bisa membunuh dua makhluk hitam itu sendirian meski menggunakan serangan yang cukup brutal pula kepada mereka.
"Terima ini!"
Sairaorg nampaknya juga tak mau kalah. Dengan sebuah pukulan dahsyat tanpa adanya bantuan sihir dan hanya bermodalkan kekuatan fisik, dia mampu membunuh satu makhluk hitam lagi dalam beberapa pukulan. Ulquiorra dan Naruto disini sebenarnya tak begitu mempedulikan pertarungan mereka tapi lebih memperhatikan kemampuan Sairaorg dan ketiga murid Kuou lainnya yang kemungkinan juga akan menghadang mereka di masa depan.
BLAAARRR
Sebuah serangan elemen petir dasar yang dilepaskan salah satu makhluk hitam itu mengenai Sairaorg. Dan mengejutkannya, dia bisa menahan serangan tersebut hanya dengan lengan kirinya.
"Ini bahkan tak membuatku gatal sedikit pun!"
Pria itu kembali berlari menghajar salah satu makhluk hitam yang barusan menyerangnya. Pandangan Naruto dan Ulquiorra kembali berubah, mereka melirik ke arah ketiga orang seumuran mereka yang berasal dari Kuou. "[Sword Birth]…"
Kiba, itulah namanya. Laki laki pemilik rambut pirang yang memiliki keahlian dengan pedang pedang yang diciptakannya melalui sihir spesial miliknya. Kemampuannya juga diatas rata rata murid biasa meski dia masih jauh dibawah Naruto dan Ulquiorra. Kemudian mereka berpindah lagi ke arah Saji. Salah satu bawahan Sona Sitri yang memiliki kekuatan dari salah satu 5 Dragon King. Kekuatannya memang menakjubkan untuk orang seusianya tapi semua itu tak lain dan tak bukan hanya karena faktor kekuatan dari Vritra salah satu 5 Dragon King. Lalu yang terakhir adalah, Issei. Pemilik [Boosted Gear] yang merupakan salah satu [Longinus] dan menyimpan kekuatan serta jiwa [Red Dragon Emperor] di dalamnya. Dari segi kekuatan sempurnanya bangkit mungkin dia bisa menyamai kekuatan Naruto atau Ulquiorra tapi cara bertarungnya terlalu sembrono.
"[Flame Dragon Breath]!"
Kakuzu melepaskan sihir elemen api berupa nafas naga api kepada Dulio namun dengan mudahnya Dulio melenyapkan nafas naga api itu dengan sebuah lingkaran sihir elemen air yang mana muncul semacam meriam air yang cukup besar dari sana.
"Apa hanya itu saja kemampuan seorang buronan kelas S? Bahkan kurasa Hidan jauh lebih baik darimu!" kata Naruto menyulut amarah dari Kakuzu yang masih bertarung dengan Dulio.
Kakuzu yang mendengarnya tentu langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Naruto yang barusan bermulut besar. Di bawah kedua kakinya muncul semacam percikan elemen petir bersamaan dengan kedua tangannya yang memunculkan gelombang api.
"Tolong jangan mencuri mangsaku, Naruto-kun.." kata Dulio sambil menciptakan sebuah tombak elemen petir dengan ukuran yang bisa dikatakan lebih besar dari ukuran tombak yang asli.
"Jangan sombong, bocah!"
Kakuzu melesat cepat dengan bantuan elemen petirnya ke arah Naruto. Mereka semua bahkan Dulio sendiri cukup terkejut melihat kecepatan itu. Tak satupun disana yang siap membantu Naruto karena mereka disibukkan dengan makhluk makhluk hitam Kakuzu yang nampaknya bisa beregenerasi meski dengan kecepatan yang lambat. Kakuzu memberikan sebuah pukulan yang diselimuti gelombang api kepada Naruto tapi dapat ditahan oleh Naruto dengan menyilangkan kedua tangannya di depan kepala.
"Boleh juga kau, bocah!"
"Ha..?"
Kakuzu nampaknya meremehkan Naruto pada awalnya. Namun begitu dia melihat sorot mata dari Naruto, sebuah hawa tak menyenangkan tiba tiba menyengat tubuhnya. Naruto kemudian memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberikan sebuah tendangan kaki kanan yang hanya bermodalkan kekuatan fisik saja. Hasilnya cukup mengejutkan karena dia bisa membuat Kakuzu terlempar hingga belasan meter sebelum akhirnya Kakuzu mendapatkan keseimbangannya kembali dengan kedua kakinya.
"Urrgghh.."
Kakuzu merintih kesakitan menahan sakit pada bagian perutnya yang baru saja menerima sebuah tendangan dari Naruto.
'Apa apaan bocah ini!? Dia tidak terlihat sekuat ini… Terlebih lagi… serangan barusan bukanlah serangan yang menggunakan sihir sebagai tenaga pendorongnya namun hanya sebuah serangan fisik biasa!'
Dari arah lain, Kakuzu kemudian merasakan adanya bahaya yang akan datang kepadanya. Dia segera menoleh ke arah Dulio dan menemukan kalau pemuda itu tengah bersiap siap melemparkan tombak petir kepada dirinya. Dilihat sekilas, kekuatan tombak elemen petir itu bahkan puluhan kali lebih kuat dari tombak petir yang bisa dibuat oleh Kakuzu sendiri. Dulio kemudian melemparkannya sekuat tenaga ke arah Kakuzu yang masih sibuk membentuk sebuah lingkaran sihir elemen petir.
"Jangan kau kira kau bisa mengalahkan ku dengan mudah..!"
Tak lama kemudian berdiri sebuah dinding elemen petir yang dibuat Kakuzu sekuat tenaga untuk menghentikan serangan Dulio barusan. Dan cukup mengejutkan bagi Dulio karena ternyata serangannya barusan dapat dihentikan oleh Kakuzu menggunakan dinding elemen petirnya. "Lawan mu bukan hanya, Dulio-san!"
Tepat ketika Kakuzu berhasil menahan serangan Dulio, Issei sudah berdiri di samping Kakuzu sambil mengepalkan tangannya yang terbungkus [Boosted Gear] dan siap memberikan Kakuzu sebuah pukulan.
"Maaf saja… Serangan yang sama tidak akan berpengaruh untuk yang kedua kalinya!"
Kata Kakuzu menghindar ke belakang dengan sebuah langkah elemen petir. Namun yang menunggunya disana justru sama berbahayanya karena tepat di belakangnya, Kiba sudah bersiap dengan dua pedang yang barusan muncul dari dalam lingkaran sihir [Sword Birth] miliknya.
"Kalau begitu, biar kuberikan kau serangan baru yang sama menyakitkannya!"
"Seperti itukah!?"
Kakuzu membalikkan tubuhnya menghadap Kiba sambil menciptakan sebuah lingkaran sihir dari segala arah. Lalu dari dalam lingkaran sihir tersebut, keluar semacam anjing mengerikan yang langsung menerkam Issei dan Kiba. Kiba dan Issei segera meresponnya dengan menghindar. "Makhluk apalagi yang barusan kau keluarkan ini!?" tanya Issei menghindari setiap serangan anjing anjing yang lebih mirip seperti monster itu.
"Hmm..?"
Azazel yang masih terlihat berdiri tenang sambil menghadapi 3 makhluk hitam sendirian kemudian menoleh ke arah Issei dan Kiba. Kedua bola matanya menajam begitu dia melihat dua anjing bagaikan monster yang sedang bertarung melawan Issei dan Kiba. Tak hanya itu, beberapa anjing yang mirip seperti monster itu muncul lagi dari dalam lingkaran sihir yang dikeluarkan Kakuzu.
"Kau berniat memotong hidupmu hanya untuk memanggil para [Cerberus], hah?"
Tanya Azazel masih dengan tenang ketika harus berhadapan dengan makhluk hitam sambil berbicara kepada Kakuzu.
"Aku sudah tak berniat mati atau tertangkap di tangan kalian…, Aku akan meloloskan diri dari sini dengan bantuan para [Cerberus] lalu aku bisa mengumpulkan jantung jantung lagi dan memperpanjang hidupku lagi.."
Ujar Kakuzu dengan kedua mata yang menatap tajam ke arah Azazel. Azazel sendiri hanya meresponnya dengan sebuah decihan. Lalu beberapa saat kemudian, senyum terukir di wajah Azazel. "Kurasa aku akan sedikit lebih serius…"
Azazel membuka kedua matanya dan seketika gelombang kekuatan hitam putih yang menyelimuti tubuhnya berkobar melenyapkan satu makhluk hitam yang datang kepadanya. Lantai aula bergetar kuat hingga terasa ke luar…, lalu sebuah suara gemuruh dahsyat datang dari dalam aula yang sumbernya sendiri adalah Azazel. Dia kini tengah mengeluarkan sebagian kekuatannya dan memamerkannya kepada lawan serta murid muridnya.
"Aura sihir yang sungguh menakutkan untuk dilihat…" kata Dulio dengan senyuman panik.
"Dulio-san! Apa ini tidak apa apa? Dia bisa saja menghancurkan seluruh Akademi jika dibiarkan.." kata Sairaorg menoleh ke arah Dulio.
"A-Aku tahu itu."
Jawab Dulio yang semakin panik melihat Azazel-sensei yang masih belum menurunkan kekuatannya bahkan terus meningkatkannya hingga ke batas dimana dia bisa menghancurkan aula ini meski hanya dengan gelombang kekuatannya saja. Dan sejujurnya kekuatannya sekarang masih belum mencapai dua puluh persen kekuatan aslinya namun dia sudah bisa menggetarkan tempat ini. Naruto dan Ulquiorra tentu saja tak membuang waktu mereka, dan memperhatikan baik baik kekuatan pemimpin Grigori ini yang mungkin suatu saat akan berhadapan melawan mereka.
"Naruto… Ini gawat, jika sampai Kakuzu tewas di tangan Azazel-sensei.. kita tidak bisa merebut gulungan sihir [Lost Presence] dari tangan Kakuzu karena hanya dia yang tahu tempat dia menyimpannya," kata Ulquiorra sedikit berbisik kepada Naruto.
Naruto yang masih menatap ke arah Azazel kemudian memindahkan tatapannya kepada Kakuzu.
"Hmm.. Aku akan gunakan kemampuan dari [Perfect Illusion] lalu kita segera amankan Kakuzu lalu pergi dari sini," ucap Naruto tanpa mengalihkan tatapannya dari Kakuzu.
"Dimengerti.."
Sedangkan itu, [Cerberus] masih terus bermunculan dari dalam lingkaran sihir yang diciptakan Kakuzu hingga tak hanya membuat Issei dan Kiba saja yang terdesak namun juga Saji yang masih sibuk berhadapan dengan dua makhluk hitam. Sedangkan di situasi lainnya, Dulio dihadang tiga [Cerberus] yang datang kepadanya dan Sairaorg masih berhadapan dengan beberapa makhluk hitam dan dua [Cerberus].
"Kakuzu.. kau menggunakan sebuah [Summon Magic] terlarang semacam pemanggilan [Cerberus]! Terkutuk kau…" ucap Azazel memberikan sebuah serangan sinar laser putih bercampur hitam yang langsung memusnahkan [Cerberus] yang berada di sekitarnya dan kembali melepaskannya lagi hingga menghancurkan lingkaran sihir dari [Summon Magic] yang diaktifkan Kakuzu.
"Kau…!"
Kakuzu benar benar terlihat geram pada saat itu, dia melepaskan maskernya memperlihatkan mulutnya yang juga tersambung lewat sebuah jahitan.
"Kuakhiri semuanya disini!"
BLAAAAAAARRRRR
Sihir Azazel baru saja dia lepaskan kepada Kakuzu namun anehnya dia merasa sihir tersebut terhalang akan sesuatu. Dia tidak bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya kepada Kakuzu. Kepulan asap dari sihir yang barusan dia lepaskan membuat pandangan semua orang menjadi sulit. "Gawat…!" Dulio yang merasakan hilangnya kehadiran Kakuzu pun langsung menggunakan elemen angin miliknya dan menghilangkan semua asap yang ada.
Dan hasilnya… Kakuzu lagi lagi menghilang…
Mereka semua terkejut melihat Kakuzu yang sudah hilang. Sairaorg yang barusan menghabisi semua makhluk hitam dan [Cerberus] langsung berlari ke arah Azazel dan melihat bahwa target mereka sudah hilang.
"B-Bagaimana mungkin!?" tanya Saji tidak percaya.
"Azazel-sensei… Ini…" kata Dulio terputus.
Mereka semua langsung menatap ke arah Azazel menunggu perintah dari Sang Kepala Sekolah. Dengan wajah yang sedikit panik begitu melihat penghalang sihir yang diciptakannya sudah hancur, Azazel memberikan sebuah perintah…
"Kita akan mencarinya ke seluruh Akademi sekarang! Dia tidak mungkin jauh dari sini!"
"Baik!"
Naruto dan Ulquiorra yang sejak tadi tak banyak mengambil peran hanya menatap Azazel dengan ekspresi datar…
.
.
.
.
.
.
xxx0xxx
NARUTO POV
Beruntungnya [Perfect Illusion] yang baru saja kugunakan dapat menggantikan keberadaan kami dan menipu seluruh orang yang ada disana. Aku dan Ulquiorra tidak memiliki banyak waktu… Kami berdua harus segera kembali dalam dua jam sebelum salah satu dari mereka menyadari kalau kami berdua serta segalanya yang ada disana adalah ilusi yang sudah kuatur untuk dua jam ke depannya. Kami berdua berhasil mengamankan Kakuzu, dan saat ini kami tengah pergi jauh dari Akademi sambil membawa Kakuzu yang sadar meski dia sudah kami lumpuhkan.
"Kalian berdua…"
"Sebenarnya siapa kalian berdua ini?"
Dia menanyakan sesuatu yang tidak penting disaat seperti ini. Kurasa aku akan menjawabnya setelah kami sampai ke tempat dimana kami akan menanyakannya.
*Cough Cough
"Kau tidak apa apa, Naruto?" tanya Ulquiorra menatapku dengan ekspresi datar.
Sihir ini sangat membebani tubuhku. Meski aku bilang bahwa aku sudah menguasainya ternyata tetap saja sulit untuk tak mengeluarkan darah disaat saat pemakaiannya.
"Ukh.. Aku tidak apa apa… Kita harus cepat tanpa ketahuan membawanya menuju tempat yang cocok.."
END OF NARUTO POV
.
.
.
.
.
xxx0xxx
BRUUKKK
Ulquiorra menjatuhkan tubuh Kakuzu dan menyandarkannya di dinding meski mereka masih membuatnya lumpuh. Mereka telah menemukan tempat yang cocok untuk membuat Kakuzu membuka mulutnya. Banyak sekali pertanyaan yang akan diajukan oleh Naruto dan Ulquiorra sebenarnya tapi karena masalah waktu dan efek dari sihir Naruto yang sekaligus melingkup satu Akademi dalam ilusi yang diciptakannya selama dua jam…, mereka harus buru buru. Oleh karena itu, Naruto dan Ulquiorra hanya akan memaksa Kakuzu untuk mengatakan dimana dia menyimpan gulungan sihir [Lost Presence].
"Ukhh… sungguh menyebalkan karena aku harus menerima kenyataan bahwa aku telah dilumpuhkan oleh anak anak seusia kalian,"
BUAAAKHHH
Ulquiorra langsung memberi Kakuzu sebuah tendangan pembuka salam sebelum mereka memulai sesi tanya jawab tersebut. "Cih.." Kakuzu memuntahkan darah dari mulutnya.
"Kami membawamu kesini bukan untuk menyelamatkanmu, Kakuzu.. Kami membawamu kesini hanya untuk membuatmu menyerahkan gulungan sihir [Lost Presence] pada kami,"
Ucap Naruto dengan ekspresi dingin di wajahnya. Sejujurnya Kakuzu sedari awal saat dia melihat sorot mata Naruto di pertarungan tadi sudah menyadari bahwa dia bukanlah orang biasa. Kakuzu sudah banyak melihat orang orang dengan sorot mata yang sama sepertinya… Jatuh dalam kegelapan… Membenci adanya takdir… Dan menginginkan kehancuran dunia lalu menciptakan yang baru.
"Kurasa aku juga sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi… Kalian sudah melumpuhkanku… Setidaknya katakan padaku siapa kalian dan apa tujuan kalian..? Setelahnya akan kuberikan kalian apa yang kalian inginkan..."
Ucapan Kakuzu barusan membuat Naruto dan Ulquiorra saling memberikan tatapan. Naruto kembali melihat ke arah Kakuzu dengan ekspresi yang masih sama dinginnya.
"Untuk apa? Kenapa kau ingin tahu mengenai identitas kami?"
Mendengarnya, Kakuzu hanya tersenyum sebelum kembali memuntahkan darah dari mulutnya.
"Apapun tujuan kalian… Aku bisa memberitahu kalian, kalau kalian mau tahu…, sebenarnya aku sudah hidup selama seratus tahun.. Aku mengetahui banyak hal bahkan rahasia sebuah Kerajaan sekalipun.."
Naruto dan Ulquiorra yang tadinya tenang sekarang menjadi cukup terkejut mendengarnya. Bahkan orang yang mereka tangkap ini mengetahui rahasia besar sekelas rahasia Kerajaan. "Apa yang kau dapatkan dengan memberitahu kami informasi apa yang kau punya?"
Tanya Naruto masih sedikit curiga dengan Kakuzu meski kecurigaannya tidak beralasan karena apapun yang terjadi juga…, kali ini Kakuzu tidak akan bisa meloloskan dirinya.
"Huh… Anggap saja aku sedang berbaik hati, bocah…"
Ulquiorra dan Naruto mengerutkan keningnya.
"Mata yang kau miliki itu… sama persis dengan mata yang kumiliki saat memikul banyak kebencian dan dendam puluhan tahun yang lalu…"
Mendengar kata kata kebencian dan dendam barusan membuat Naruto dan Ulquiorra semakin penasaran sejujurnya namun mereka tak ingin pria ini semakin mengulur waktu mereka. "Rupanya kau tahu persis apa yang kualami hanya dengan melihat mataku.."
Kakuzu tersenyum mendengar jawaban Naruto.
"Hmm.. Jadi benar karena dendam.."
Kakuzu menghela nafas saat kembali mengucapkan kata kata tersebut. "Sudah lama aku tidak mendengar kata tersebut…, jadi dendam macam apa yang kalian miliki dan siapa target kalian?"
Pertanyaan Kakuzu barusan tak langsung dijawab oleh Naruto. Mereka berdua saling menatap seakan mereka sudah saling lama mengenal mungkin ini karena keduanya pernah mengalami hal yang sama.
"Target kami adalah dunia ini…"
"H-Ha?"
Kakuzu yang mendengarnya langsung melebarkan matanya hingga tak lama berselang dia mengeluarkan gelak tawa karena dia rasa jawaban Naruto barusan cukup lucu di telinganya. Dia awalnya merasa bahwa itu hanya lelucon belaka, namun begitu dia kembali melihat sorot mata tajam pemuda itu…, dia terdiam.
"Apa yang terjadi hingga dunia ini membentuk pribadi sepertimu yang bahkan kurasa jauh lebih terkutuk dariku?"
Naruto hanya tertawa jahat mendengarnya lalu setelah cukup, dia kembali menatap Kakuzu dan menceritakan semuanya kepada pria di hadapannya…
"…Ini semua berawal dari perang Kerajaan Aincrad dan Kerajaan Silver.. kami tinggal di panti asuhan yang ada di sebuah desa di perbatasan yang menjadi medan tempur, kau bisa menebak sisanya…, kami berhasil selamat… menjalani hidup layaknya di neraka…, dan perlahan pikiran serta dendam kami mendorong adanya perubahan pada diri kami sekaligus memberikan kami kekuatan besar selama kami masih memegang dendam tersebut.."
Kakuzu tak bisa berkomentar apapun mendengarnya. Dia adalah seorang buronan dan sudah hidup selama seratus tahun tanpa ada yang mengetahuinya meski sudah beberapa tahun ini identitasnya terbongkar di dunia sihir. Dia sudah melihat beragam anak anak yang tersiksa, mati mengenaskan di perjalanan hidupnya. Dia bahkan tak bisa membayangkan anak anak yatim piatu yang bisa bertahan hidup dari kejamnya neraka dunia ini…
"Jadi pada intinya.. kau ingin membalas dendam pada Kerajaan Aincrad dan Kerajaan Silver yang memulai perang?" tanya Kakuzu dengan nada yang lebih pelan.
"Kami berpikiran seperti itu pada awalnya hingga akhirnya kami menemukan sebuah tujuan lain…"
Naruto menatap telapak tangan kanannya dan teringat dengan segala siksaan yang ia dapat saat masih kecil ketika dia, Ultear dan Ulquiorra harus bertahan hidup di wilayah pinggiran perbatasan, serta tempat tempat perbudakan.
"…Kami akan menciptakan sebuah dunia baru… Dan aku akan menjadi sebuah symbol nyata dari apa yang disebut sebuah balas dendam. Lalu ketika hari itu datang suatu hari nanti…, orang orang yang terlibat di dalamnya akan menyebut hari bersejarah itu sebagai Hari Pembalasan.."
Kakuzu melebarkan kedua matanya terkejut. Dia melihat Naruto seperti seseorang yang nampak terkubur jauh dalam kegelapan namun juga bersinar di saat yang bersamaan. Lalu seakan dia sudah menemukan seseorang yang tepat, dia memejamkan matanya…
"Bisa kau buat tanganku lepas dari sihir yang melumpuhkan tubuhku ini?"
Naruto yang mendengar permintaan itu, langsung mengangkat tangannya dan melepaskan sihir yang mengekang Kakuzu. Kakuzu pun langsung mengeluarkan beberapa perkamen serta data data miliknya dari dalam sihir penyimpanannya. "Semua itu adalah benda dan data data yang kukumpulkan selama hidupku… Aku harap itu bisa membantu proses terjadinya Hari Pembalasan yang kalian sebutkan…"
Naruto sedikit terkejut melihat Kakuzu memberikan semua itu kepada mereka. Dia menatap Kakuzu dengan tatapan bingung meski ia masih sangat yakin untuk membunuhnya disini.
"Gulungan yang kalian cari ada di situ.. Di salah satu gulungan yang ada disini juga menunjukkan lokasi persembunyianku, disana terdapat lebih banyak data yang lebih lengkap.."
Naruto kembali menatap Kakuzu sambil mengernyitkan alisnya. "Kenapa kau memberikan semua itu…?"
Kakuzu yang mendengar pertanyaan tersebut juga entah kenapa bingung harus menjawab seperti apa. Dia hanya tersenyum ketika Naruto bertanya kepadanya sebelum akhirnya dia memandang ke langit. "Hmm… Aku hanya berharap kau dan temanmu bisa meneruskan keinginanku untuk balas dendam…"
Jawabnya tenang yang terlihat sudah siap menemui kematian.
"Senju…"
Kata Kakuzu tiba tiba menyebutkan nama salah satu dari tiga bangsawan besar di Kerajaan Aincrad.
"Hmm? Kau menyebutkan nama Senju barusan.." kata Ulquiorra.
Kakuzu melirik ke arah Naruto dan Ulquiorra sebelum kesadarannya menghilang. "Senju… Mereka adalah klan yang telah membunuh keluargaku.. mereka juga yang paling setuju akan adanya perang beberapa tahun yang lalu dengan Kerajaan Silver… Jika kalian benar berasal dari pinggir Kerajaan, maka tak salah lagi… Kalian harus membantai habis keluarga Senju… Ingatlah…"
Naruto dan Ulquiorra melebarkan mata mereka sebelum akhirnya tatapan mereka menajam. Tiba tiba di kepala mereka timbul banyak sekali pertanyaan, namun sebelum mereka sempat menanyakan semuanya, Naruto dan Ulquiorra sadar bahwa orang yang ada di hadapannya sudah menghembuskan nafas terakhirnya beberapa detik setelah dia mengatakan hal tersebut kepada Naruto dan Ulquiorra. Naruto dan Ulquiorra terduduk memeriksa apakah Kakuzu sudah benar benar mati atau belum. Dan sesuai perkiraan mereka bahwa pria itu sudah mati. Mereka terdiam cukup lama disana sebelum akhirnya Naruto bangkit berdiri…
"Kakuzu…"
"Mungkin tidak seharusnya aku mengatakan ini… tapi… aku juga pasti akan meneruskan dendam yang kau titipkan padaku…"
Ujarnya membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan jasad Kakuzu disana disusul oleh Ulquiorra di belakangnya.
"Ulquiorra… Hari ini kita sudah tahu keluarga pertama yang akan kita bantai…"
Ulquiorra melirik ke arah Naruto dan kemudian kembali menatap ke depan. "Hmm.. Sepertinya begitu.."
Naruto dengan ekspresi yang semakin dingin jauh lebih dingin dari sebelumnya mengalihkan pandangannya ke arah Istana Kerajaan yang cukup jauh dari tempat mereka sekarang.
"Segera susun rencana untuk membantai habis keluarga Senju…"
TBC
.
.
.
Wuhh, capek bro.. 6600 word.. Maaf kalau terlihat dipaksakan tapi ane bener bener pengen nyelesaiin di chapter ini buat lawan Kakuzu. Sebenernya ane juga lagi kehabisan inspirasi dan untungnya kemaren dapat inspirasi saat membaca salah satu fic lemon karya author Mecha-hentai wkwkwkwk. Jadi terima kasih buat fic nya yang membangkitkan semangat gua hahaha. Gak usah ane sebut judulnya, ntar malah kek ngiklan.
Chapter ini adalah akhir dari Kakuzu serta penentu keluarga mana duluan yang bakal gua bantai.. sry.. Naruto dkk bantai maksudnya. Jadi jangan kepikiran kalo Naruto bakal lupa ama balas dendamnya.. santai gan! Ini baru dimulai, belum juga si Naruto ngumpulin pasukan.. Gimana mau hadapin satu Kerajaan penuh kalo Azazel aja udah sekuat itu. Satu persatu aja gan,,
Kalau kalian nanya kapan pembantaiannya? Fufufu.. Yang jelas antara chap 14-18 an mungkin lah. Ane gak bisa prediksiin pas nya karena ane nulis juga cuma ikutin alur cerita yang ada di otak dan yang jari jari ane ketik. Ane lagi mood ngetik SOR jadi kemungkinan update berikutnya juga update SOR bukan WFTH. Buat yang nungguin WFTH, sabar bro.. ane juga lagi usaha.
Silahkan yang mau komen dan kritik ane terima selalu… flame? Ane udah gk begitu peduli ama adanya flame. Ane 17 tahun dan gak mau pensiun atau berhenti cuma gara gara flame..
Itu aja kali di chapter ini, yang mau tanya silahkan.. ane jawab di PM
See you in next chap
Jangan lupa tinggalkan review!
