[DISCLAIMER]
The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.
.
DATING WITH THE DARK
어둠과 데이트하기
[ChanBaek GS]
.
Remake story by Santhy Agatha
.
.
CHAPTER NINE
Mandi?
Apakah maksud lelaki ini, dia akan mandi di sini. Bersama Baekhyun?? Wajah Baekhyun merah padam, selain karena uap hangat air mandinya juga karena perkataan Chanyeol yang seolah tidak peduli itu. "Jangan kau kira kau bisa melecehkanku seenaknya!" Baekhyun memandang Chanyeol dengan marah, "Keluar!"
Tetapi rupanya kemarahan Baekhyun tidak mengganggu Chanyeol, lelaki itu hanya berdiri dengan nyaman di sana, tampak tidak peduli dengan ketelanjangannya, sementara Baekhyun semakin tidak nyaman, berusaha mengalihkan pandangannya dari bagian tubuh Chanyeol itu... dia tidak boleh melihat! Meskipun kemudian dia tidak bisa menahan diri dan menyadari bahwa lelaki itu sedang sangat terangsang! Oh Tuhan, apakah dia akan berakhir diperkosa di kamar mandi oleh Chanyeol?
"Tidakkah engkau tertarik untuk merasakan nikmatnya mandi bersamaku, Baekhyun? Aku akan memijat punggungmu." Lelaki itu malahan melangkah, mulai masuk ke dalam kolam mandi itu, membuat Baekhyun panik, dia langsung beringsut ke ujung yang paling jauh dari Chanyeol menyadari dilema yang dirasakannya, kalau dia berdiri, dia dalam keadaan telanjang bulat dan Chanyeol akan melihat semuanya...
Chanyeol makin masuk ke kamar mandi dan melangkah mendekat, membuat Baekhyun tidak bisa berpikir panjang, dia langsung berdiri, berusaha tidak mempedulikan ketelanjangannya dan hendak melompat dari kolam mandi itu dan melarikan diri.
Sayangnya, Chanyeol lebih sigap, dengan cepat lelaki itu mencekal lengan Baekhyun dan kemudian menarik tubuh Baekhyun yang membelakanginya hingga punggung Baekhyun menempel di dadanya. Baekhyun langsung gemetar ketika jemari Chanyeol mencekal kedua lengannya dengan mudahnya dan menjadikannya satu di depan tubuhnya. Chanyeol bisa dibilang memeluk Baekhyun dengan eratnya dari belakang. Seluruh punggung Baekhyun menempel ke bagian tubuh depan Chanyeol yang keras, dan Baekhyun bisa merasakan bagaimana kejantanan Chanyeol yang keras mendesak di lekukan panggul atasnya.
"Lepaskan aku." Baekhyun bergumam, berusaha menyembunyikan gemetar di suara dan tubuhnya.
Chanyeol yang berdiri di belakangnya menumpukan dagunya di puncak kepala Baekhyun, Baekhyun bisa merasakan lelaki itu tersenyum mengejeknya.
"Kita tidak perlu bertingkah seperti ini, Baekhyun... aku ingin memperlakukanmu dengan baik, seharusnya kau menerimanya begitu saja, dengan begitu mungkin aku akan mengampunimu."
"Kau mengejarku karena ingin membunuhku." Baekhyun menggertakkan giginya, "Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja? Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Kenapa kau menyekap dan melecehkanku?"
Chanyeol mengetatkan pelukannya, memastikan Baekhyun tidak bisa menggerakkan tubuhnya, "Aku tidak ingin melecehkanmu."
Lelaki itu menundukkan kepalanya dan kemudian bibirnya merayap ke samping kepala Baekhyun, Baekhyun bisa merasakan hembusan napas panas di sana, yang membuatnya meremang, sebelum kemudian bibir Chanyeol melumat telinganya, mengecup dan memainkan lidahnya di sana, penuh rayuan, "Aku cuma ingin memujamu."
Baekhyun langsung meronta, berusaha melepaskan diri dari pengaruh hipnotis rayuan Chanyeol. Tetapi lengan lelaki itu masih kuat memeluknya, membuatnya tidak berdaya.
"Baekhyun..." tiba-tiba saja suara Chanyeol terdengar sedih, membuat Baekhyun tertegun. Lelaki itu menundukkan kepalanya, memeluk Baekhyun erat-erat dari belakang, dan menenggelamkan kepalanya di cekungan di antara leher dan pundak Baekhyun.
Baekhyun membeku dipeluk dengan penuh perasaan seperti itu, sehingga tanpa sadar dia terdiam dan membiarkannya. Sampai lama kemudian, Chanyeol mengecup lembut pundaknya dan melepaskan pelukannya.
"Mandilah." Lelaki itu menjauh, dari sudut matanya Baekhyun melihat Chanyeol meraih jubah mandi yang tersedia di rak samping kamar mandi dan mengenakannya, lalu tanpa kata, seolah-olah sudah menjadi kebiasaannya, dia melangkah pergi.
Baekhyun menghela napas panjang setelah pintu itu di tutup. Jemarinya memegang dadanya, berusaha menghentikan debaran di sana.
.
.
.
Chanyeol keluar dari kamar mandi itu dengan marah, marah kepada dirinya yang lemah, marah karena tidak mampu melaksanakan maksudnya. Dia masuk ke kamar mandi itu, telanjang, jelas-jelas untuk memaksa Baekhyun melayani nafsunya.
Chanyeol sangat bergairah ketika memasuki kamar mandi itu, membayangkan bagaimana paha Baekhyun akan terbuka untuknya dan dia bisa menenggelamkan dirinya dalam kehangatan yang manis tubuh Baekhyun, mencapai kepuasannya sendiri dan memberikan kepuasan untuk Baekhyun. Dia akan memiliki Baekhyun!
Tetapi kemudian, ketika dia memeluk Baekhyun dari belakang, merasakan seluruh tubuh Baekhyun gemetar dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, Chanyeol tiba-tiba saja merasa luruh dan tidak mampu.
Itulah yang membuatnya marah, Baekhyun selalu berhasil membuatnya lemah bahkan ketika perempuan itu tidak menyadarinya.
.
.
.
Jongin yang sedang mengunjungi rumah Chanyeol duduk di ruang tamu yang mewah itu dan mengamati sekelilingnya penuh penilaian. Chanyeol kaya, tentu saja, dan ketika memilih rumah sebagai tempat tinggalnya, dia tetap saja menunjukkan selera tingginya.
Tak lama kemudian, Chanyeol keluar, tampak muram meskipun segar sehabis mandi, dia mandi di kamar mandi lain dengan marah dan masih mengutuk dirinya sendiri, rambutnya basah dan lelaki itu mengenakan kemeja sutera warna hitam yang dipadu dengan celana jeans warna senada. Penampilannya santai karena sedang berada di rumah.
Jongin melihat ekspresi wajah Chanyeol dan mengangkat alisnya, "Kau sudah mendapatkan Baekhyun, dan ekspresimu tetap saja muram." Lelaki itu menggoda sahabatnya, membuat bibir Chanyeol menipis karena kata-kata Jongin tepat mengenai sasaran.
"Aku belum mendapatkannya." Chanyeol menyimpulkan sendiri. Tidak. Belum. Dia belum sepenuhnya mendapatkan Baekhyun. Perempuan itu sudah jelas tertarik kepadanya, tetapi rasa tertariknya itu tertutup oleh rasa takut dan waspada yang mendominasi, seluruh penjelasan Sehun tentangnya kepada Baekhyun sudah pasti membawa pengaruh besar bagi pandangan Baekhyun kepada Chanyeol, perempuan itu ketakutan. Takut bahwa Chanyeol akan membunuhnya.
Chanyeol memandang jemarinya dan tercenung, Akankah dia membunuh Baekhyun dengan tangannya sendiri? Waktu itu gagal melakukannya... dan sekarangpun alasannya menyekap Baekhyun bukanlah untuk memperbaiki reputasinya.
"Aku kemari untuk mengabarkan bahwa semuanya sudah siap." Jongin bergumam, memecah keheningan karena Chanyeol hanya tercenung dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Chanyeol menganggukkan kepalanya, "Terima kasih Jongin."
Lelaki itu melangkah pelan menuju bar yang tersedia di sudut ruangan, menuang brendi tua berwarna keemasan dari botol ke dua buah gelas lalu membawanya kepada Jongin.
Jongin menerima gelas itu dan mengernyit, "Segelas brendi di siang bolong?" tetapi tak urung disesapnya minuman itu sambil mengernyit.
Chanyeol menyesap gelasnya, "Agen itu, seorang agen yang sempat menyusup ke perusahaanmu demi mendekati Baekhyun, dia pasti sedang berusaha melacak jejakku. Rumah ini terlalu mencolok, karena itu aku memerlukan bantuanmu."
Jongin mengangkat bahunya, "Sehun. Aku sudah melihat berkasnya di kantorku, penyamarannya sangat bagus hingga aku tidak menyangka bahwa dia seorang agen khusus. Kau tidak perlu kuatir Chanyeol, lelaki itu tidak akan berhasil melacakmu dan Baekhyun, mereka tidak akan bisa mengaitkanmu dengan keluarga Kim."
Chanyeol terkekeh, "Ayahmu pasti akan membunuhmu kalau tahu kau melibatkan diri ke dalam hal berbahaya seperti ini."
"Mungkin." Jongin tersenyum mengingat ayahnya yang luar biasa. Ayahnya adalah panutan, Jongin ingin menjadi seperti ayahnya di usia matangnya nanti, seorang ayah dan lelaki yang sempurna. "Tetapi kalau dia tahu aku melakukannya untuk menolong sahabatku, kurasa dia akan mengerti."
Chanyeol mengangguk dan tersenyum, "Kau beruntung memiliki ayah seperti dia." Lelaki itu lalu duduk di depan Jongin, "Jadi kemana aku bisa membawa Baekhyun?"
"Ke sebuah pulau." Jongin menyandarkan tubuhnya di sofa, tampak puas, "Pulau itu bukan milik keluargaku, tetapi milik keluarga Choi, mungkin kau pernah mendengarnya, Choi Siwon adalah sahabat ayahku."
"Aku pernah mendengarnya." Tiba-tiba wajah Chanyeol tampak misterius, "Sungguh suatu kebetulan."
Jongin menatap Chanyeol dengan bingung, "Kebetulan? Apa maksudmu?"
Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Bukan apa-apa." Ada sebuah penyelidikan yang dilakukan Chanyeol berkaitan dengan keluarga Choi, tetapi penyelidikan itu masih mentah dan Chanyeol memutuskan untuk menyimpannya dulu sambil memastikan bahwa semuanya sudah bisa dibuktikan.
Lama Jongin menatap Chanyeol penuh ingin tahu, tetapi kemudian dia sadar bahwa tidak ada gunanya memaksa Chanyeol berbicara, sahabatnya itu selalu penuh rahasia, dan ketika dia memutuskan untuk berahasia, tidak akan ada apapun yang bisa memaksanya untuk berbicara.
"Kau bisa membawanya ke sana kapan saja, aku sudah meminjam pulau itu dari paman Siwon dan beliau mempersilahkanku menggunakannya sesukanya, pulau itu biasanya hanya dikunjungi setahun sekali ketika keluarga Choi berlibur. Jadi sekarang kau bisa leluasa menggunakannya."
"Aku tidak akan lama di sana." Chanyeol tersenyum, "Segera setelah seluruh persiapan beres, aku akan kembali ke Italia."
Ya. Chanyeol tidak sabar menunggu waktunya tiba, dan dia bisa kembali pulang...
.
.
.
"Kami sudah menyelidiki seluruh rumah di sekitar sini yang dibeli atas nama pengusaha asing, ada banyak sekali, tetapi kami sudah mengerucutkan hanya kepada rumah-rumah yang dibeli beberapa bulan terakhir." Kyungsoo, salah seorang anak buah Sehun menatap atasannya itu dengan gugup, "Datanya terlalu luas, kami tidak tahu harus melacak nama siapa. Tanpa spesifikasi data yang pasti, kita harus melakukan pengecekan terhadap beribu-ribu rumah."
Sehun menghela napas panjang, "Dan itupun belum tentu berhasil, bisa saja 'Sang Pembunuh' membeli atau menyewa rumah atas nama orang lain, atau menggunakan orang lokal, sehingga kita tidak akan bisa melacaknya." Pandangan Sehun menerawang, menatap foto samar-samar sang pembunuh yang dipasang di white board kantornya. "Oke Kyungsoo, kau bisa pergi. Kabari aku hasil penyelidikan team nanti."
Kyungsoo melempar pandangan penuh rasa kagum kepada bosnya itu sedetik sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan Sehun. Sehun adalah atasannya yang paling tampan, dan masih muda. Biasanya lelaki itu selalu tampak tenang dan terkendali, membuat Kyungsoo kagum. Tetapi sekarang lelaki itu tampak begitu gusar, seolah kasus ini telah begitu mempengaruhinya. Kenapa? Apakah karena perempuan yang dianggap sebagai kunci itu? Perempuan bernama Baekhyun?
Tiba-tiba Kyungsoo merasa cemburu sekaligus iri, dia belum pernah berjumpa dengan perempuan bernama Baekhyun itu, yang selalu menjadi pusat perhatian bagi misi mereka. Tetapi dia pernah melihat fotonya, Baekhyun perempuan yang cantik dan tampak lembut, dengan rambut panjang dan senyum yang menawan. Mungkin senyum itu pulalah yang membuat Sehun begitu terpengaruh atas hilangnya Baekhyun.
Sehun bukannya mencemaskan data penting yang mungkin ada di ingatan Baekhyun yang hilang, yang mungkin bisa jatuh ke tangan sang pembunuh, Sehun sepertinya mencemaskan Baekhyun sendiri. Perempuan itu sepertinya telah mengambil hati atasannya.
Kyungsoo memegang dadanya yang berdenyut oleh perasaan yang mirip cemburu, kemudian dia menghela napas dan melangkah menjauh.
Perempuan itu mengoleskan lipstick merah menyala di bibirnya, menatap puas pada bayangannya di cermin. Dia tampak amat sangat cantik, seperti yang diharapkannya.
Dia sudah meng-highlight rambutnya menjadi berwarna kemerahan, dan membungkus tubuhnya dengan gaun merah yang sangat seksi. Semuanya serba merah, mengirimkan pesan tantangan kepada
Chanyeol, menyiratkan makna bahwa dia menantang Chanyeol untuk memilikinya.
Park Chanyeol adalah cinta sejatinya, satu-satunya lelaki sempurna yang dipujanya. Dia akan tetap memuja Chanyeol meskipun dia tahu bahwa lelaki itu saat ini sedang tidak fokus kepadanya. Chanyeol masih disilaukan oleh Baekhyun, tetapi dia yakin, akan ada saatnya dimana Chanyeol bisa menyadari kehadirannya dan kemudian memahami betapa beruntungnya diri Chanyeol, karena dicintai perempuan seperti dirinya.
Matanya bersinar marah ketika membayangkan Baekhyun, perempuan itu benar-benar merepotkan. Dia mau menerima tugas dari Chanyeol bukan karena ingin mendekatkan Chanyeol kepada Baekhyun, itu adalah hal terakhir yang di inginkannya! Dia melakukan semua ini lebih karena keinginannya untuk mengawasi Chanyeol dan mengetahui semua perkembangan terbaru menyangkut Baekhyun, dan jilkalau dia menemukan bahwa Baekhyun akan terlalu dekat dengan Chanyeol, dia akan langsung bergerak untuk menjauhkan Chanyeol.
Chanyeol adalah miliknya dan akan selalu begitu, Lelaki itu harus disadarkan bahwa tidak akan ada perempuan yang bisa mencintainya sedalam dia mencintai Chanyeol.
Sambil menatap dirinya sendiri di cermin untuk terakhir kalinya, perempuan itu tersenyum, membayangkan masa depannya yang indah, bersama lelaki yang dipujanya.
.
.
.
Ketika Chanyeol memasuki kamar itu, Baekhyun sedang duduk dengan tatapan mata menerawang, dia hanya mengangkat kepalanya sedikit ketika melihat Chanyeol, tatapan matanya, seperti biasa, tampak marah yang berlumur dengan ketakutan, "Ada apa?"
Mau tak mau Chanyeol merasa geli akan sikap Baekhyun yang penuh antisipasi negatif terhadapnya, dia lalu bersandar di lemari tempat meletakkan berbagai hiasan di depan Baekhyun, tampak santai, "Bisakah kau tidak berlaku defensif terhadapku, Baekhyun? Aku tidak akan melukaimu, belum akan." Tatapannya berubah menjadi berbahaya, "Meskipun tidak akan menutup kemungkinan aku bisa melukaimu kalau kau mencoba bertindak bodoh, melarikan diri misalnya."
Baekhyun menatap kesal ke arah Chanyeol, "Bagaimana bisa aku melarikan diri? Kau mengunci satu-satunya pintu jalan keluar dari kamar ini, dan jendela itu dipasang gerendel yang sangat besar." Baekhyun mendesah jengkel, "Aku tidak tahu kenapa kau mengejarku, mereka semua bilang ini ada hubungannya dengan ayahku, dan juga dengan reputasimu." Tiba-tiba tatapan Baekhyun menajam penuh kebencian ketika menemukan setitik kebenaran. "Apakah kau yang membunuh ayahku?"
Chanyeol memasang wajah datar tanpa ekspresi, menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Apakah menurutmu begitu?" Lelaki itu membalikkan pertanyaan Baekhyun dengan sebuah pertanyaan pula.
Napas Baekhyun mulai terengah ketika menyadari bahwa mungkin saja dia sedang berhadapan dengan pembunuh ayahnya!
"Kau yang membunuh ayahku ya? Katanya kau disewa oleh organisasi jahat itu untuk melenyapkan ayahku."
Chanyeol tidak menjawab, hanya menatap Baekhyun dengan tajam, "Itu yang mereka katakan kepadamu?" Lelaki itu tersenyum tipis, "Kalau begitu kau bisa mempercayai apapapun yang kamu mau." Baekhyun langsung meradang mendengar jawaban yang sangat tidak berperasaan itu, dia tanpa sadar melonjak dan menerjang Chanyeol.
Dengan marah dia melemparkan telapak tangannya, menampar pipi lelaki itu, "Betapa kejamnya hatimu!" Mata Baekhyun mulai berkaca-kaca, menatap Chanyeol penuh emosi, "Kau membunuh orang tanpa hati, tanpa menyadari bahwa setiap orang punya kehidupan yang berhak dijalaninya! Manusia sepertimu lah yang seharusnya mati! Bukan ayahku!"
Dengan histeris Baekhyun memukul-mukulkan tangannya, menyerang Chanyeol, menampar sebisanya, tetapi Chanyeol menanggapinya dengan sangat dingin dan tenang, lelaki itu kemudian menggerakkan tangannya dan menggenggam pergelangan tangan Baekhyun dengan kedua tangannya.
"Order Kecil." Chanyeol bergumam parau, matanya berkilat, "Begitulah aku menyebutmu, kau adalah tugas yang paling mudah yang pernah kujalankan, aku meremehkanmu dan menganggapmu sambil lalu, bahkan dengan aku memejamkan matapun, aku pasti bisa menjalankan tugas itu." Mata Chanyeol tampak semakin pekat menatap Baekhyun, "Tapi aku salah, kau adalah tugas paling sulit yang pernah kujalankan, satu-satunya kegagalanku."
Tiba-tiba saja lelaki itu menarik tubuh Baekhyun yang masih terpana dan mencoba menelaah kata-kata Chanyeol, mendekatkan tubuh Baekhyun sehingga menabrak tubuhnya dan kemudian melumat bibirnya dengan penuh gairah.
Ciuman itu kasar, penuh dengan gairah yang sudah tidak ditahantahan lagi. Bibir Chanyeol melumat bibir Baekhyun tanpa ampun, tanpa ampun. Lelaki itu merenggut punggung Baekhyun, dan merapatkannya semakin rapat ke tubuhnya, Baekhyun merasakan tubuh Chanyeol yang keras dan kuat menekannya, membuat kehangatan tubuh masing-masing saling menembus dan menimbulkan gelenyar aneh dalam tubuh Baekhyun, gelenyar yang berusaha diusirnya sekuat tenaga.
Dan secepat dimulainya, secepat itu pula Chanyeol mengakhiri ciumannya, lelaki itu menjauhkan kepalanya, masih memeluk Baekhyun, napas keduanya terengah-engah dan mata mereka saling membakar, kemudian, lelaki itu melepaskan Baekhyun.
"Kita akan pergi dari sini segera," Gumamnya tenang. Kemudian melangkah ke arah pintu, "bersiap-siaplah Baekhyun." Gumamnya sambil menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Baekhyun ditinggalkan seorang diri di dalam kamar yang terkunci itu dalam kebingungan...
Pergi? Kemana? Akankah Chanyeol membawanya ke sebuah tempat terpencil, tempat dimana dia bisa dibunuh dan jasadnya tidak akan bisa ditemukan oleh siapapun?
Pikiran itu membuatnya ngeri...
.
.
.
Chanyeol bersandar di pintu kamarnya yang besar, pintu tempat Baekhyun terkurung di baliknya. Dia memejamkan matanya, merasakan bibirnya yang membara, dan meredakan gairahnya yang membuncah, merindukan sentuhan itu.
Hanya sebuah ciuman dan Chanyeol langsung tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.
"Kau menyekapnya di dalam kamarmu."
Sebuah suara yang sangat familiar, membuat Chanyeol menoleh. Wanita itu berdiri di sana, dengan gaun merah yang menonjolkan lekuk tubuhnya, buah dadanya hampir tumpah di belahannya yang sangat rendah, rambutnya yang baru di highlight kemerahan tergerai menyala dengan indahnya. Penampilan perempuan itu tampak sangat berbeda ketika dia menjalankan tugasnya dan memaksanya tampil sedikit sederhana. Sekarang perempuan itu benar-benar siap, tidak sedang dalam tugas dan berusaha berdandan secantik mungkin, demi lelaki yang dipujanya: Park Chanyeol.
Chanyeol menatap perempuan itu dan mengerutkan kening, dia merasakan hasrat yang mendalam, perempuan itu jelas-jelas berusaha menggoda dan merayunya, Chanyeol bisa menangkap pandangan memuja yang dalam, tergila-gila. Well... kebanyakan perempuan memang menatapnya seperti itu, tetapi perempuan ini berbeda, dia perempuan yang berbahaya. Chanyeol harus berhati-hati kepadanya,
"Kenapa kau datang kemari?" Chanyeol memilih untuk tidak menanggapi perkataan perempuan itu, tentang dia yang menempatkan Baekhyun di kamarnya.
"Untuk menagih janjimu. Kau bilang kau akan mengajakku makan malam setelah kau berhasil menangkap Baekhyun."
Chanyeol mengangkat alisnya, tentu saja dia tidak pernah berjanji semacam itu. Tetapi perempuan ini dengan tidak tahu malu, sengaja mengatakan kebohongan ini di depannya, menantangnya untuk membantah. Sejenak Chanyeol berpikir untuk menolak mentah-mentah dan meninggalkan perempuan ini. Tetapi kemudian dia menelaah kembali, dia masih membutuhkan perempuan ini dan kesetiaan perempuan ini kepadanya masih diperlukan, lelaki itu lalu mengangkat bahunya dan tersenyum sinis,
"Kurasa kau akan mendapatkan apa yang kau mau, Yerin."
.
.
.
[ To Be Continued ]
.
.
.
Jangan lupa Review ya!
